Modul AjarPertemuan 4Bab 1Fase ESemester 1

Modul Ajar IPA Kelas 10: Komponen dan Cara Penggunaan Jangka Sorong

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran IPA kelas 10 dengan topik "Komponen dan Cara Penggunaan Jangka Sorong". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPA Kelas 10: Komponen dan Cara Penggunaan Jangka Sorong

IPA - Kelas 10

Bab 1 - Pertemuan 4

MODUL AJAR

IPA — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Komponen dan Cara Penggunaan Jangka Sorong

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPA
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikKomponen dan Cara Penggunaan Jangka Sorong
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat mengidentifikasi komponen-komponen jangka sorong beserta fungsinya, termasuk skala utama, skala nonius, dan nilai skala terkecil
  2. Murid dapat membaca dan mencatat hasil pengukuran panjang, tebal, dan diameter benda menggunakan jangka sorong secara akurat

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian melihat teknisi mengukur diameter baut atau mur? Alat apa yang mereka gunakan?
  2. Mengapa penggaris biasa tidak cukup akurat untuk mengukur ketebalan benda-benda kecil?
  3. Bagaimana cara membaca hasil pengukuran pada alat yang memiliki dua skala berbeda?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam dan mengajak murid untuk mengingat kembali pengalaman mengukur benda menggunakan penggaris
  • Guru menampilkan gambar atau video singkat tentang penggunaan jangka sorong dalam dunia industri atau bengkel
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: mengidentifikasi komponen jangka sorong dan membaca hasil pengukuran dengan akurat
  • Guru melakukan asesmen awal dengan menanyakan: Apa saja komponen alat ukur yang kalian ketahui? Pernahkah melihat jangka sorong?

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan jangka sorong ke setiap kelompok (4-5 murid per kelompok)
  • Murid mengamati jangka sorong secara langsung, memegang, dan mengidentifikasi bagian-bagiannya secara mandiri selama 3 menit
  • Guru memfasilitasi diskusi kelompok: murid mengisi lembar kerja untuk mengidentifikasi nama dan fungsi setiap komponen jangka sorong (rahang luar, rahang dalam, tangkai ukur kedalaman, skala utama, skala nonius, pengunci)
  • Guru menjelaskan konsep nilai skala terkecil dengan menunjukkan langsung pada alat: skala utama (cm) dan skala nonius (mm)
  • Murid menghitung nilai skala terkecil jangka sorong dan menentukan nilai ketidakpastian pengukuran tunggal menggunakan rumus: Δx = ½ × nilai skala terkecil
  • Guru memberikan penguatan dengan menayangkan diagram komponen jangka sorong dan fungsinya di layar proyektor

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pengukuran: membuka rahang, menempatkan benda, mengunci, membaca skala utama lalu skala nonius
  • Murid mempraktikkan cara mengukur diameter luar, diameter dalam, dan kedalaman benda secara berurutan dengan bimbingan guru
  • Setiap kelompok melakukan pengukuran pada 3 benda berbeda (misal: diameter pensil, ketebalan buku, kedalaman tutup botol)
  • Murid membaca hasil pengukuran dengan teliti: mencatat angka skala utama, mencari garis skala nonius yang berhimpit dengan skala utama, menjumlahkan kedua nilai
  • Murid mencatat hasil pengukuran lengkap dengan nilai ketidakpastian dalam format: (hasil ± ketidakpastian) satuan
  • Guru berkeliling memantau proses pengukuran dan memberikan umpan balik langsung jika terjadi kesalahan pembacaan

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi diskusi kelas: Apa tantangan yang kalian hadapi saat membaca skala nonius? Bagaimana cara mengatasinya?
  • Murid merefleksikan pengalaman belajar dengan menjawab pertanyaan: Mengapa ketelitian pengukuran penting dalam kerja ilmiah? Kapan kita perlu menggunakan jangka sorong dibanding penggaris?
  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengukuran satu benda dan menjelaskan proses pembacaan skalanya
  • Guru mengajak murid mengidentifikasi kesalahan umum yang terjadi dan cara menghindarinya di pengukuran selanjutnya
  • Murid menuliskan refleksi pribadi di buku catatan: Apa yang sudah saya kuasai? Apa yang masih perlu saya pelajari lebih lanjut?

Penutup:

  • Guru merangkum pembelajaran: komponen jangka sorong, cara membaca skala utama dan nonius, penulisan hasil pengukuran dengan ketidakpastian
  • Guru memberikan penguatan: pengukuran yang akurat memerlukan ketelitian dan latihan yang konsisten
  • Guru melakukan asesmen akhir dengan memberikan 2 soal: membaca hasil pengukuran dari gambar jangka sorong dan menentukan nilai ketidakpastian
  • Guru memberikan penugasan: mencari 3 benda di rumah dan mengukurnya menggunakan jangka sorong (jika tersedia) atau merancang prosedur pengukurannya
  • Guru menyampaikan rencana pertemuan berikutnya: penggunaan mikrometer sekrup

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang sudah paham cepat diberikan tantangan untuk membaca hasil pengukuran dengan posisi skala yang lebih rumit atau mengukur benda dengan bentuk tidak beraturan. Murid yang membutuhkan bimbingan lebih diberikan gambar skala yang diperbesar dan panduan langkah demi langkah.
  • Proses: Murid yang cepat dapat bekerja mandiri lebih awal dan membantu teman sekelompoknya. Murid yang lambat mendapat pendampingan intensif dari guru saat membaca skala nonius dan diberikan waktu tambahan untuk berlatih.
  • Produk: Murid yang sudah mahir dapat membuat video tutorial singkat cara mengukur dengan jangka sorong. Murid yang masih belajar cukup membuat catatan terstruktur dengan diagram dan contoh hasil pengukuran.

ASESMEN

Awal:

  • Tanya jawab lisan: Apa yang kalian ketahui tentang jangka sorong? Pernahkah melihat atau menggunakannya?
  • Guru menunjukkan jangka sorong dan menanyakan: Bagian mana yang menurut kalian digunakan untuk membaca hasil pengukuran?

Proses:

  • Observasi keterampilan mengidentifikasi komponen jangka sorong saat diskusi kelompok
  • Observasi cara murid melakukan pengukuran: posisi tangan, pembacaan skala, pencatatan hasil
  • Memberikan umpan balik langsung saat murid mengalami kesulitan membaca skala nonius
  • Memeriksa hasil pencatatan di lembar kerja: apakah lengkap dengan satuan dan ketidakpastian

Akhir:

  • Tes tertulis: 2 soal membaca skala jangka sorong dari gambar (skor masing-masing 25 poin)
  • Tes praktik: mengukur 1 benda dan menuliskan hasil lengkap (skor 30 poin)
  • Penilaian presentasi hasil kelompok menggunakan rubrik (skor 20 poin)

Formatif:

  • Observasi keterampilan murid saat mengidentifikasi komponen jangka sorong
  • Observasi proses pengukuran: cara memegang alat, menempatkan benda, membaca skala
  • Tanya jawab lisan selama diskusi kelompok tentang fungsi komponen dan cara pembacaan
  • Pemeriksaan hasil pencatatan pengukuran di lembar kerja

Sumatif:

  • Tes tertulis: membaca hasil pengukuran dari 2 gambar jangka sorong dengan posisi skala berbeda
  • Tes praktik: melakukan pengukuran 1 benda dan menuliskan hasilnya lengkap dengan ketidakpastian
  • Penilaian laporan hasil pengukuran kelompok

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi komponen jangka sorongHanya dapat menyebutkan 1-2 komponen jangka sorong tanpa menjelaskan fungsinyaDapat menyebutkan 3-4 komponen jangka sorong dengan penjelasan fungsi yang kurang lengkapDapat menyebutkan 5-6 komponen jangka sorong dengan penjelasan fungsi yang tepatDapat menyebutkan semua komponen jangka sorong (minimal 6 komponen) dengan penjelasan fungsi yang lengkap dan akurat, termasuk skala utama, skala nonius, dan nilai skala terkecil
Membaca hasil pengukuranBelum dapat membaca skala utama dan skala nonius dengan benar, atau hanya membaca salah satu skalaDapat membaca skala utama dengan benar tetapi masih kesulitan menentukan garis skala nonius yang berhimpitDapat membaca skala utama dan skala nonius dengan benar, tetapi masih ada kesalahan minor dalam penjumlahan atau penulisan satuanDapat membaca skala utama dan skala nonius dengan tepat, menjumlahkan keduanya dengan benar, dan menuliskan hasil lengkap dengan ketidakpastian dan satuan yang sesuai
Keterampilan melakukan pengukuranBelum dapat menggunakan jangka sorong dengan benar, benda tidak terjepit dengan tepat atau alat tidak terkunciDapat menempatkan benda di antara rahang tetapi posisi belum tegak lurus atau masih ragu saat mengunciDapat melakukan pengukuran dengan prosedur yang benar, benda terjepit tegak lurus, tetapi masih perlu bimbingan untuk memastikan ketelitianDapat melakukan pengukuran secara mandiri dengan prosedur yang tepat, benda terjepit tegak lurus, alat dikunci dengan baik, dan hasil pengukuran akurat
Penalaran kritis dalam menganalisis hasilHanya mencatat hasil pengukuran tanpa mempertimbangkan ketidakpastian atau ketelitian alatMenuliskan hasil pengukuran dengan ketidakpastian tetapi belum memahami maknanyaDapat menjelaskan konsep ketidakpastian dan mengaitkannya dengan ketelitian pengukuranDapat menganalisis hasil pengukuran, menjelaskan konsep ketidakpastian, mengidentifikasi sumber kesalahan, dan memberikan saran perbaikan untuk pengukuran yang lebih akurat

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid dapat mengidentifikasi komponen jangka sorong dengan baik? Bagian mana yang masih perlu penjelasan tambahan?
  • Apakah strategi pembelajaran dengan praktik langsung efektif untuk membangun keterampilan pengukuran murid?
  • Kendala apa yang muncul saat murid membaca skala nonius? Bagaimana cara mengatasinya di pembelajaran berikutnya?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan murid yang beragam?
  • Apa yang perlu diperbaiki dalam pengelolaan waktu dan alat agar pembelajaran lebih efektif?

Refleksi Murid:

  • Apa yang paling sulit dalam menggunakan jangka sorong? Bagaimana saya mengatasinya?
  • Mengapa ketelitian pengukuran penting dalam kerja ilmiah?
  • Apa perbedaan mengukur dengan penggaris dan jangka sorong? Kapan saya perlu menggunakan jangka sorong?
  • Hal baru apa yang saya pelajari hari ini tentang pengukuran?
  • Bagaimana saya bisa berlatih lebih lanjut agar lebih mahir membaca skala nonius?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa IPA Kelas X SMA/MA (Kemendikbudristek, 2021) Bab 1: Sistem Pengukuran dalam Kerja Ilmiah
  2. Buku Guru IPA Kelas X SMA/MA (Kemendikbudristek, 2021) Bab 1: Sistem Pengukuran dalam Kerja Ilmiah
  3. Jangka sorong (1 buah per kelompok, minimal 6 buah untuk kelas)
  4. Benda-benda untuk diukur: pensil, buku, tutup botol, koin, baut, mur, pipa kecil
  5. Lembar kerja siswa: tabel identifikasi komponen dan tabel pencatatan hasil pengukuran
  6. Diagram komponen jangka sorong (poster atau tayangan digital)
  7. Video tutorial penggunaan jangka sorong (opsional, durasi 3-5 menit)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.