Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Informatika Kelas 8 Bab 4: Jejak Bermedia Digital

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Informatika kelas 8 untuk Bab 4 "Jejak Bermedia Digital", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Informatika Kelas 8 Bab 4: Jejak Bermedia Digital

Informatika - Kelas 8

Bab 4

MODUL AJAR

Informatika — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Jejak Bermedia Digital

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranInformatika
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 4 — Jejak Bermedia Digital
Alokasi Waktu14 JP (14 x 40 menit = 560 menit)
Jumlah Pertemuan7
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.4.1 Menganalisis pentingnya menjaga rekam jejak digital pada aktivitas bermedia sosial
  2. TP 8.4.2 Mengamalkan toleransi di dunia digital dalam berinteraksi di media sosial
  3. TP 8.4.3 Mengamalkan empati di dunia digital saat memberikan komentar pada media sosial
  4. TP 8.4.4 Mengidentifikasi dampak perundungan digital dalam interaksi ruang publik virtual

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian mencoba mengetikkan nama lengkap kalian sendiri di mesin pencari internet, lalu apa yang muncul?
  2. Mengapa foto atau status yang pernah kita unggah di media sosial beberapa tahun lalu masih bisa ditemukan oleh orang lain?
  3. Apakah unggahan atau komentar candaan yang kita tulis 3 tahun lalu di media sosial masih bisa dilihat dan memengaruhi masa depan kita?
  4. Mengapa perusahaan atau sekolah sering memeriksa riwayat jejak digital seseorang sebelum menerimanya?
  5. Apa yang biasanya kamu lakukan ketika melihat postingan teman di media sosial yang pendapatnya berbeda dengan pendapatmu?
  6. Mengapa kita perlu menghargai perbedaan pandangan saat berinteraksi di ruang media sosial?
  7. Bagaimana perasaanmu ketika hasil karyamu yang diunggah di media sosial mendapat komentar pedas dari orang lain?
  8. Mengapa kita perlu memikirkan perasaan orang lain sebelum menekan tombol kirim komentar di ruang digital?
  9. Apa perbedaan antara candaan biasa antarteman dengan tindakan perundungan di ruang publik virtual?
  10. Mengapa tindakan mengirim pesan jahat atau mempermalukan seseorang secara berulang di media sosial dikategorikan sebagai perundungan digital?
  11. Mengapa perundungan di ruang siber dapat menyerang ketenangan seseorang bahkan saat ia sedang berada di dalam kamarnya sendiri?
  12. Apa yang terjadi pada kondisi mental dan relasi sosial seseorang ketika ia terus-menerus menerima ujaran kebencian di internet?
  13. Bagaimana setiap unggahan dan komentar yang kita tinggalkan di internet membentuk reputasi diri kita di masa depan?
  14. Mengapa kita perlu tetap bersikap toleran dan berempati ketika melihat unggahan yang berbeda pandangan atau memancing emosi di media sosial?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Jenis dan Keberadaan Rekam Jejak Digital Pribadi pada Media Sosial — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menganalisis pentingnya menjaga rekam jejak digital pada aktivitas bermedia sosial

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan alur pembelajaran analisis jejak digital pribadi (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mendiagnosis pemahaman dasar murid mengenai klasifikasi jejak digital aktif dan pasif melalui 2 pertanyaan lisan terarah (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menyimak pemaparan materi konsep jejak digital berupa perbedaan jejak digital aktif (data yang sengaja diunggah seperti postingan status, foto, video, komentar) dan jejak digital pasif (data yang tertinggal tanpa disadari seperti riwayat penelusuran, alamat IP, metadata lokasi, cookie web) (10 menit).
  • Murid mengikuti permainan tebak cepat 'Aktif vs Pasif' di mana guru membacakan 4 contoh aktivitas digital dan murid mengangkat kartu kode A (Aktif) atau P (Pasif): (1) Mengunggah foto di Instagram -> Aktif; (2) Server merekam alamat IP saat membuka web sekolah -> Pasif; (3) Menulis ulasan di Google Maps -> Aktif; (4) Riwayat pencarian tersimpan di browser -> Pasif (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri melakukan aktivitas penelusuran mandiri (Aktivitas JBD-K8-01) menggunakan perangkat/komputer dengan mengetikkan nama lengkap sendiri atau nama akun media sosial di mesin pencari untuk melacak jejak digital pribadi yang tertinggal di internet (15 menit).
  • Murid mengisi Lembar Kerja Analisis Jejak Digital dengan menganalisis 4 aspek temuan: (1) Bentuk jejak digital yang ditemukan (aktif/pasif), (2) Platform tempat data ditemukan, (3) Keterbukaan akses (privat/publik), dan (4) Potensi risiko atau penafsiran yang timbul dari data tersebut bagi dirinya (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali daftar analisis jejak digitalnya untuk menyimpulkan pentingnya menjaga dan membatasi data pribadi yang diunggah ke media sosial agar tidak merugikan privasi diri di masa depan (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan materi tentang jenis jejak digital aktif dan pasif serta pentingnya kehati-hatian dalam meninggalkan jejak digital di media sosial (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik terhadap hasil analisis lembar kerja murid dan menginformasikan fokus pertemuan berikutnya mengenai analisis konsekuensi jejak digital bagi reputasi diri (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum menemukan jejak digital pribadi diizinkan menganalisis profil akun publik sekolah atau akun figur publik edukatif yang disediakan guru.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan diberikan panduan bertahap menggunakan kata kunci pencarian spesifik, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan tantangan menganalisis jejak digital berupa metadata gambar.
  • Produk: Murid dapat menyajikan lembar kerja analisis dalam bentuk tabel terstruktur tertulis maupun format digital pada dokumen pengolah kata.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik klasifikasi jejak digital dengan 2 pertanyaan: (1) Sebutkan perbedaan data yang sengaja kamu unggah dengan data yang terekam otomatis oleh sistem! (Acuan: data sengaja diunggah = jejak digital aktif seperti posting foto/status; data terekam otomatis = jejak digital pasif seperti histori pencarian/IP address). (2) Dari tindakan berikut, manakah yang merupakan jejak aktif: mengetik komentar atau riwayat penelusuran browser? (Acuan: mengetik komentar adalah jejak aktif, riwayat penelusuran browser adalah jejak pasif).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Kerja Analisis Jejak Digital Pribadi yang memuat 4 aspek analisis: (1) Klasifikasi jenis jejak (aktif/pasif), (2) Platform keberadaan jejak, (3) Status aksesibilitas informasi (publik/privat), (4) Analisis potensi risiko penafsiran terhadap data tersebut bagi privasi pribadi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui 1 butir evaluasi reflektif: Jelaskan mengapa jejak digital pasif (seperti riwayat pencarian atau lokasi) sama pentingnya untuk dijaga sebagaimana jejak digital aktif! (Kriteria penerimaan: murid menjelaskan bahwa jejak pasif dapat merekam kebiasaan/profil pribadi pengguna secara otomatis tanpa disadari sehingga berpotensi disalahgunakan untuk pelacakan identitas atau peretasan data).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal klasifikasi jejak digital
  • Observasi unjuk kerja penelusuran jejak digital pribadi
  • Penilaian Lembar Kerja Analisis Jejak Digital Pribadi (Aktivitas JBD-K8-01)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Jenis dan Keberadaan Jejak Digital PribadiHanya mampu mengidentifikasi 1 dari 4 aspek analisis jejak digital pribadi (jenis jejak, platform, status akses, atau potensi risiko) dengan bimbingan penuh guru.Mampu menganalisis 2 dari 4 aspek analisis jejak digital pribadi dengan tepat secara mandiri.Mampu menganalisis 3 dari 4 aspek analisis jejak digital pribadi dengan tepat secara mandiri.Mampu menganalisis seluruh 4 aspek analisis jejak digital pribadi (jenis jejak aktif/pasif, platform keberadaan, status aksesibilitas publik/privat, dan analisis potensi risiko privasi) secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 15 menit untuk penelusuran mandiri jejak digital pribadi cukup efektif bagi seluruh murid?
  • Bagaimana respons murid terhadap variasi jejak digital aktif dan pasif saat latihan tebak cepat?

Murid:

  • Jejak digital pribadi apa saja yang ternyata masih bisa ditemukan di internet saat kamu melakukan pencarian?
  • Langkah pencegahan apa yang akan kamu lakukan mulai hari ini sebelum mengunggah sesuatu ke media sosial?

Pertemuan 2 — Menganalisis Konsekuensi dan Pentingnya Menjaga Rekam Jejak Digital bagi Reputasi Diri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menganalisis pentingnya menjaga rekam jejak digital pada aktivitas bermedia sosial

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memandu doa singkat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis konsekuensi dan pentingnya menjaga rekam jejak digital bagi reputasi diri dalam bermedia sosial (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan 1 pertanyaan pilihan ganda di papan tulis: 'Jika seseorang mengunggah keluhan penuh kata kasar tentang sekolahnya di media sosial publik, apa dampak jangka panjang yang paling mungkin terjadi bagi reputasi dirinya? Pilihan: A. Akunnya otomatis bertambah pengikut positif; B. Reputasi dirinya dinilai buruk oleh pihak luar seperti penyelenggara beasiswa atau sekolah lanjutan; C. Unggahan tersebut akan hilang sendiri dalam 24 jam tanpa rekam jejak sama sekali' (kunci: B). Murid menuliskan pilihannya di secarik kertas untuk memetakan kesiapan awal murid mengenai dampak jejak digital terhadap reputasi (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan materi inti melalui tayangan slide/bagan mengenai sifat rekam jejak digital (bersifat permanen, dapat disalin, dan dapat ditelusuri) serta keterkaitannya secara langsung dengan pembentukan reputasi diri di masa depan (12 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru tentang perbedaan jejak digital positif (prestasi, karya, kontribusi edukatif) yang menguntungkan reputasi dan jejak digital negatif (umpatan, konten kebencian, keluhan tidak pantas) yang merugikan reputasi (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan memainkan kuis tantangan singkat 'Pilah Cepat Reputasi': guru membacakan 4 cuplikan aktivitas media sosial berikut secara bertahap: (1) Mengunggah video dokumentasi proyek daur ulang sampah sekolah; (2) Menulis komentar makian di unggahan selebritas saat sedang marah; (3) Membagikan tangkapan layar percakapan pribadi teman tanpa izin untuk bahan lelucon; (4) Menulis ulasan apresiatif terhadap karya ilmiah rekan. Pasangan murid mengangkat kartu bertuliskan 'Membangun Reputasi' atau 'Merusak Reputasi' (Acuan: Aktivitas 1 = Membangun Reputasi; Aktivitas 2 = Merusak Reputasi; Aktivitas 3 = Merusak Reputasi; Aktivitas 4 = Membangun Reputasi) (10 menit).
  • Guru membagikan Lembar Kerja Analisis Kasus Jejak Digital yang memuat 2 skenario konkret: Skenario A (Seorang calon ketua OSIS gagal terpilih karena jejak digital 2 tahun lalu yang berisi komentar mengejek adik kelas viral kembali); Skenario B (Seorang siswa mendapatkan rekomendasi beasiswa berkat rekam jejak digitalnya di media sosial yang konsisten mendokumentasikan proyek robotika dan berbagi materi belajar). Secara mandiri, setiap murid menganalisis kedua skenario tersebut dengan menjawab 2 pertanyaan per skenario: mengidentifikasi konsekuensi tindakan terhadap reputasi diri dan menganalisis mengapa menjaga jejak digital sangat penting dalam konteks kasus tersebut (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi sesi refleksi terarah di mana murid mengevaluasi lembar kerja mandirinya dengan membandingkan hasil analisisnya terhadap kriteria konsekuensi reputasi yang dijelaskan guru, lalu menuliskan satu komitmen pribadi mengenai tindakan nyata untuk menjaga rekam jejak digitalnya sendiri mulai hari ini (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan simpulan pembelajaran bahwa setiap ketukan dan unggahan di media sosial adalah investasi atau ancaman bagi reputasi diri kita di masa depan (3 menit).
  • Guru menginformasikan topik untuk Pertemuan 3, yaitu mengamalkan sikap toleransi terhadap perbedaan pandangan dalam interaksi media sosial, lalu menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kasus dengan kosakata lugas disertai glosarium istilah untuk murid yang memerlukan bimbingan, serta menyediakan studi kasus tambahan tentang rekrutmen magang industri digital untuk murid yang berpencapaian tinggi.
  • Proses: Memberikan panduan pertanyaan berstruktur (scaffolding: sebab -> akibat langsung -> dampak reputasi masa depan) bagi murid yang membutuhkan bimbingan bertahap saat menganalisis skenario.
  • Produk: Murid berpencapaian tinggi menganalisis kedua skenario disertai perumusan alternatif langkah mitigasi risiko reputasi, sedangkan murid yang membutuhkan bimbingan menganalisis minimal 1 skenario secara lengkap sesuai panduan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Soal diagnostik awal (1 butir pilihan ganda): 'Jika seseorang mengunggah keluhan penuh kata kasar tentang sekolahnya di media sosial publik, apa dampak jangka panjang yang paling mungkin terjadi bagi reputasi dirinya? Pilihan: A. Akunnya otomatis bertambah pengikut positif; B. Reputasi dirinya dinilai buruk oleh pihak luar seperti penyelenggara beasiswa atau sekolah lanjutan; C. Unggahan tersebut akan hilang sendiri dalam 24 jam tanpa rekam jejak sama sekali' (kunci: B; kriteria: murid yang memilih B dianggap memiliki kesiapan memahami konsep dampak reputasi, murid yang memilih A atau C diberi perhatian khusus dalam tahap Memahami).

Proses:

  • Observasi respon cepat pada kuis 'Pilah Cepat Reputasi' dengan 4 butir acuan: (1) Mengunggah video proyek daur ulang = Membangun Reputasi; (2) Menulis komentar makian = Merusak Reputasi; (3) Membagikan tangkapan layar privat tanpa izin = Merusak Reputasi; (4) Menulis ulasan apresiatif = Membangun Reputasi.
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Analisis Kasus Jejak Digital: menganalisis konsekuensi jejak digital bagi reputasi diri pada Skenario A (Acuan analisis: konsekuensi Skenario A adalah kehilangan kepercayaan pemilih OSIS dan mencoreng nama baik karena rekam jejak penghinaan bersifat permanen; alasan pentingnya menjaga jejak: agar tidak merugikan peluang kepemimpinan/karier di masa depan) dan Skenario B (Acuan analisis: konsekuensi Skenario B adalah memperoleh kepercayaan dan citra positif dari pemberi beasiswa; alasan pentingnya menjaga jejak: jejak positif menjadi portofolio autentik atas kompetensi dan karakter diri).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi tertulis pada penutup: Murid menuliskan 1 alasan utama mengapa menjaga rekam jejak digital sangat penting bagi reputasi diri (Kriteria penerimaan: jawaban memuat hubungan logis antara sifat permanen jejak digital dengan persepsi/penilaian pihak lain terhadap karakter atau peluang masa depan diri murid).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: Kuis pilihan ganda 1 butir tentang dampak jejak digital terhadap reputasi.
  • Asesmen formatif proses: Kuis interaktif 'Pilah Cepat Reputasi' (4 cuplikan aktivitas bermedia sosial) dan Lembar Kerja Analisis Kasus Jejak Digital (Skenario A dan Skenario B).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis konsekuensi dan pentingnya menjaga rekam jejak digital bagi reputasi diriBelum mampu mengidentifikasi konsekuensi jejak digital terhadap reputasi diri atau analisis keliru pada kedua skenario kasus.Mampu menganalisis konsekuensi jejak digital dan pentingnya menjaga rekam jejak bagi reputasi diri secara tepat pada 1 dari 2 skenario kasus dengan bantuan guru.Mampu menganalisis konsekuensi jejak digital dan pentingnya menjaga rekam jejak bagi reputasi diri secara tepat dan logis pada kedua skenario kasus (Skenario A dan Skenario B) secara mandiri.Mampu menganalisis konsekuensi jejak digital dan pentingnya menjaga rekam jejak bagi reputasi diri pada kedua skenario kasus secara mandiri, tepat, mendalam, serta mampu mengaitkan hubungan sebab-akibat jangka panjang antara tindakan digital saat ini dengan peluang masa depan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario kasus yang disajikan cukup relevan dan mudah dipahami murid kelas 8 dalam menggambarkan dampak reputasi diri?
  • Bagian mana dari kegiatan analisis kasus di mana murid paling memerlukan panduan tambahan dari guru?

Murid:

  • Setelah belajar hari ini, bagaimana caramu memeriksa kembali kelayakan konten sebelum menekan tombol 'unggah' atau 'kirim' di media sosial?
  • Mengapa reputasi digital yang rusak sangat sulit untuk diperbaiki kembali?

Pertemuan 3 — Mengamalkan Sikap Toleransi terhadap Perbedaan Pandangan dalam Interaksi Media Sosial — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.2 Mengamalkan toleransi di dunia digital dalam berinteraksi di media sosial

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi pembelajaran, memeriksa kehadiran murid, serta menyiapkan suasana belajar yang nyaman (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengamalkan toleransi di dunia digital dalam berinteraksi di media sosial (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang 2 situasi interaksi digital berikut: Situasi 1: Teman memiliki genre musik favorit yang berbeda dan mengunggahnya di media sosial (acuan toleran: menghargai pilihannya tanpa mencela); Situasi 2: Teman memiliki opini berbeda mengenai tugas kelompok di grup percakapan (acuan toleran: mendengarkan pendapatnya dengan kepala dingin dan tidak memaksakan kehendak) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati paparan mengenai prinsip toleransi dalam bermedia digital berdasarkan netiket interaksi, yaitu menghargai perbedaan pendapat, tidak menyerang pribadi (ad hominem), dan menjadi pembawa damai dalam diskusi digital (10 menit).
  • Murid mengamati 3 contoh interaksi di kolom komentar media sosial berikut untuk membedakan respon toleran dan intoleran: (1) Komentar: 'Pendapatmu aneh dan salah total, hapus postingan ini!' (intoleran); (2) Komentar: 'Aku punya pandangan berbeda dari sudut pandang lain, tapi aku menghargai pendapatmu' (toleran); (3) Komentar: 'Semua orang berhak berpendapat sesuai pengalamannya masing-masing' (toleran) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid berpasangan mengikuti aktivitas permainan 'Tantangan Respon Bijak', di mana setiap pasangan saling melempar skenario perbedaan pandangan di media sosial dan berlatih merespon secara toleran secara bergantian (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Respon Toleran Digital yang berisi 3 skenario perbedaan pandangan: Skenario 1: Teman mengunggah ulasan film yang berbeda 180 derajat dengan film favoritmu (tindakan toleran: menghargai selera pribadinya tanpa merendahkan); Skenario 2: Terjadi perdebatan hangat di grup percakapan kelas tentang pilihan warna kaos kelas (tindakan toleran: menerima hasil musyawarah dan menghargai usulan teman lain); Skenario 3: Seseorang mengemukakan pendapat di forum belajar yang menurutmu kurang tepat secara konsep (tindakan toleran: menyampaikan koreksi secara santun dengan data tanpa mencemooh) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mengevaluasi respon toleran yang telah disusun pada ketiga skenario, memeriksa keselarasan sikap dengan nilai toleransi digital (10 menit).

Penutup:

  • Murid menyimpulkan esensi mengamalkan toleransi saat menghadapi perbedaan pandangan di media sosial (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap praktik respon toleran murid, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan pilihan frasa toleran bagi murid yang membutuhkan scaffolding tambahan.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih merespon dengan bantuan kartu frasa bantu, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan skenario perbedaan opini yang lebih kompleks.
  • Produk: Murid menuangkan amalan toleransi dalam bentuk respon tertulis langsung pada lembar kerja sesuai 3 skenario yang diberikan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan sikap toleransi digital dengan 2 situasi: (1) Perbedaan selera musik yang diunggah di media sosial (acuan respon toleran: menghargai pilihan/tidak menghina); (2) Perbedaan opini tugas kelompok di grup percakapan (acuan respon toleran: menyimak dan tidak memaksakan pendapat).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja Respon Toleran Digital pada 3 skenario: Skenario 1 ulasan film berbeda (acuan: menghormati selera teman); Skenario 2 beda pilihan kaos kelas di grup percakapan (acuan: menghargai pilihan yang berbeda tanpa memaksakan kehendak); Skenario 3 opini konsep kurang tepat di forum belajar (acuan: meluruskan dengan santun dan objektif tanpa mencemooh).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman respon akhir sesi: murid memilih 1 dari 2 respon paling toleran pada kasus silang pendapat di media sosial: Pilihan A: 'Pendapatmu salah, jangan sok tahu di internet'; Pilihan B: 'Aku punya sudut pandang yang berbeda, tetapi mari kita saling menghargai' (kunci jawaban benar: Pilihan B).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat permainan tantangan respon bijak berpasangan
  • Penilaian Lembar Kerja Respon Toleran Digital (3 skenario)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengamalan Sikap Toleransi terhadap Perbedaan Pandangan di Media SosialBelum mampu menentukan respon yang mengamalkan toleransi pada ketiga skenario perbedaan pandangan yang disajikan.Mampu menentukan respon yang mengamalkan toleransi pada 1 dari 3 skenario perbedaan pandangan sesuai acuan.Mampu menentukan respon yang mengamalkan toleransi pada 2 dari 3 skenario perbedaan pandangan sesuai acuan.Mampu menentukan respon yang mengamalkan toleransi pada seluruh 3 skenario perbedaan pandangan secara tepat sesuai acuan (menghargai selera pada Skenario 1, menghargai pilihan kelompok pada Skenario 2, serta meluruskan santun tanpa mencemooh pada Skenario 3).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan tantangan respon bijak efektif memfasilitasi murid memahami praktik toleransi digital?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam menunjukkan respon toleran saat menghadapi perbedaan opini?

Murid:

  • Bagaimana caraku bersikap toleran jika melihat teman media sosial memiliki pandangan yang berbeda denganku?
  • Mengapa bersikap toleran di media sosial membuat suasana pertemanan menjadi lebih damai?

Pertemuan 4 — Mengamalkan Empati dalam Memberikan Komentar Positif dan Santun pada Media Sosial — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.3 Mengamalkan empati di dunia digital saat memberikan komentar pada media sosial

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamalkan empati di dunia digital saat memberikan komentar pada media sosial (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai 2 contoh komentar: (1) "Gambarmu jelek sekali, bikin malu saja!" dan (2) "Konsep gambarmu sudah menarik, semangat terus berlatih ya!"; murid diminta mengacungkan jempol ke atas jika komentar mencerminkan empati santun atau jempol ke bawah jika nir-empati kasar (acuan jawaban: nomor 1 = jempol ke bawah/nir-empati kasar; nomor 2 = jempol ke atas/empati santun) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak paparan guru tentang hakikat empati di dunia digital, yakni kemampuan membayangkan perasaan pembuat konten/pengunggah sebelum menuliskan komentar, serta kriteria komentar positif dan santun (bahasa santun, fokus mengapresiasi/memberi dukungan membangun, tidak menyerang pribadi) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Pilah Kartu Komentar': setiap pasangan menerima 4 kartu komentar tiruan media sosial untuk dipilah ke dalam kotak 'Komentar Berempati/Santun' atau 'Komentar Nir-Empati/Kasar'. Kartu 1: 'Karyamu bagus, idenya unik banget!' (Kunci: Berempati/Santun); Kartu 2: 'Gak usah sok pamer deh, masih amatir!' (Kunci: Nir-Empati/Kasar); Kartu 3: 'Terima kasih tipsnya, sangat bermanfaat dan membantuku belajar' (Kunci: Berempati/Santun); Kartu 4: 'Suaramu fals banget, mending berhenti nyanyi' (Kunci: Nir-Empati/Kasar) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menerima Lembar Kerja Praktik Empati Digital yang berisi 3 skenario unggahan media sosial: Skenario A: Seorang teman mengunggah foto kue hasil eksperimen memasak pertamanya yang bentuknya agak bantat; Skenario B: Seorang teman membagikan video rekaman pidato lomba di mana ia sempat terbata-bata karena gugup; Skenario C: Seorang teman mengunggah pengumuman bahwa ia belum berhasil lolos seleksi tim futsal sekolah (5 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan 1 komentar berempati yang positif dan santun untuk masing-masing dari ketiga skenario tersebut (kriteria penerimaan: komentar Skenario A mengapresiasi usaha mencoba/memberi semangat mencoba resep kembali; komentar Skenario B mengapresiasi keberanian tampil/memberi dorongan agar tidak patah semangat; komentar Skenario C memberikan dukungan emosional/penyemangat agar terus berlatih dan bangkit kembali) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling bertukar lembar kerja dengan teman sebangkunya untuk membaca komentar yang telah ditulis, lalu memeriksa apakah kalimat temannya sudah menghadirkan rasa hangat dan dukungan positif (10 menit).
  • Murid melakukan perenungan berkesadaran mandiri dengan menjawab di lembar refleksi: 'Apa yang akan saya rasakan jika saya berada di posisi pemilik unggahan yang membaca komentar santun tersebut?' (kriteria penerimaan: murid mengaitkan komentar positif santun dengan perasaan dihargai, terhibur, atau termotivasi) (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik umum atas kalimat komentar positif yang telah disusun murid, menekankan bahwa komentar yang santun adalah cerminan empati digital (3 menit).
  • Guru mengingatkan murid untuk selalu mempraktikkan empati saat berinteraksi di media sosial pada kehidupan nyata (1 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu contoh diksi positif (misal: 'keren usahanya', 'semangat berproses', 'terima kasih sudah berbagi') bagi murid yang memerlukan panduan kosakata.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kalimat terstruktur (rumpang) untuk merangkai komentar empati, sedangkan murid yang cepat langsung menuliskan komentar secara mandiri dan variatif.
  • Produk: Murid yang telah terampil menyusun komentar empati santun secara mandiri menuliskan tanggapan alternatif kedua untuk variasi konteks situasi unggahan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid diminta merespons 2 contoh kalimat komentar media sosial dengan isyarat jempol ke atas (komentar berempati/santun) atau jempol ke bawah (komentar nir-empati/kasar). Butir 1: 'Gambarmu jelek sekali, bikin malu saja!' (Acuan: jempol ke bawah / nir-empati kasar); Butir 2: 'Konsep gambarmu sudah menarik, semangat terus berlatih ya!' (Acuan: jempol ke atas / empati santun).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pemilahan 4 kartu komentar tiruan media sosial (Kunci: Kartu 1 dan Kartu 3 = Berempati/Santun; Kartu 2 dan Kartu 4 = Nir-Empati/Kasar).
  • Pemeriksaan produk penulisan komentar berempati pada 3 skenario unggahan media sosial (Skenario A kue bantat, Skenario B pidato gugup, Skenario C gagal lolos seleksi futsal) menggunakan rubrik pengamalan empati berkomentar.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi tertulis: Murid menuliskan satu kalimat refleksi empati mengenai dampak komentar santun terhadap perasaan pemilik unggahan (Kriteria penerimaan: murid menyatakan bahwa komentar positif santun membangkitkan semangat, membuat merasa dihargai, atau meredakan kesedihan/kekecewaan pemilik unggahan).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan respons cepat (jempol ke atas/bawah) pada 2 contoh komentar
  • Observasi unjuk kerja pemilahan 4 kartu komentar (santun vs nir-empati)
  • Penilaian produk penulisan komentar berempati, positif, dan santun pada Lembar Kerja Praktik Empati Digital (3 skenario)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengamalan Empati dalam Menuliskan Komentar Positif dan Santun pada Media SosialBelum mampu menuliskan komentar yang berempati dan santun; komentar yang ditulis pada ketiga skenario masih bernada menyalahkan, mencela, atau menyinggung perasaan pemilik unggahan.Mampu menuliskan komentar berempati yang positif dan santun pada 1 dari 3 skenario unggahan media sosial yang diberikan sesuai kriteria penerimaan.Mampu menuliskan komentar berempati yang positif dan santun pada 2 dari 3 skenario unggahan media sosial yang diberikan sesuai kriteria penerimaan secara mandiri.Mampu menuliskan komentar berempati yang positif dan santun secara tepat dan utuh pada seluruh 3 skenario unggahan media sosial (Skenario A kue bantat, Skenario B pidato gugup, Skenario C gagal seleksi futsal) sesuai kriteria penerimaan secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain peran memilah komentar dan penulisan komentar skenario berhasil memfasilitasi murid memahami perasaan orang lain di media sosial?
  • Bagaimana respons dan kepekaan rasa bahasa murid saat menyusun kalimat komentar yang positif dan santun?

Murid:

  • Apakah saya sudah membiasakan diri memikirkan perasaan orang lain sebelum mengetikkan komentar di media sosial?
  • Bagaimana perasaan saya setelah berhasil menuliskan komentar yang menyemangati teman yang sedang mengalami kegagalan?

Pertemuan 5 — Mengidentifikasi Bentuk dan Praktik Perundungan Digital dalam Interaksi Ruang Publik Virtual — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.4 Mengidentifikasi dampak perundungan digital dalam interaksi ruang publik virtual

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengajak murid berdoa sejenak untuk menumbuhkan suasana belajar yang tertib (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi bentuk-bentuk dan praktik perundungan digital dalam interaksi ruang publik virtual (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat dengan menampilkan 2 contoh interaksi digital di layar/papan tulis: Kasus A: 'Komentar: Bajumu warnanya cerah sekali hari ini!' dan Kasus B: 'Komentar berulang dari akun anonim setiap hari: Kamu jelek, tidak pantas ikut lomba, semua orang membencimu!'. Murid diminta mengidentifikasi kasus mana yang termasuk perundungan digital (acuan: Kasus B merupakan perundungan digital karena ada unsur agresif, merendahkan, dan dilakukan berulang) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memberikan paparan konsep esensial mengenai pengertian dan bentuk-bentuk perundungan digital (cyberbullying) di ruang publik virtual sesuai Buku Siswa: flaming (perang kata-kata penuh emosi), trolling (mengirim pesan jahat/mengancam untuk memancing amarah), pengucilan (exclusion dari grup pertemanan digital), dan impersonation (membuat akun tiruan/palsu untuk mencemarkan nama baik seseorang) (10 menit).
  • Guru menyelenggarakan kuis interaktif 'Tebak Praktik Siber' yang menggembirakan: guru membacakan secara cepat 4 skenario tindakan, lalu murid serentak mengangkat kartu kode nama bentuk perundungan (Flaming, Trolling, Pengucilan, atau Akun Tiruan). Skenario: (1) Menulis hinaan kasar saling sahut di kolom komentar terbuka (Flaming); (2) Membuat akun palsu memakai foto teman untuk menyebarkan fitnah (Akun Tiruan); (3) Sengaja mengeluarkan satu orang dari grup kelas tanpa alasan agar tidak dapat informasi (Pengucilan); (4) Sengaja membanjiri pesan provokasi yang memancing amarah di ruang obrolan gim (Trolling) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja 'Identifikasi Bentuk Perundungan Digital' yang berisi 4 kutipan kasus interaksi di ruang publik virtual (5 menit).
  • Murid bekerja secara mandiri menganalisis teks kutipan kasus dan mengidentifikasi bentuk serta praktik perundungan digital yang terjadi pada lembar kerja: Teks 1: Riko membuat akun media sosial palsu mengatasnamakan Dina lalu mengirim pesan kasar ke teman-teman sekelas; Teks 2: Sekelompok pemain sengaja mengeluarkan dan melarang Andi bergabung ke room pertemanan gim daring secara terencana; Teks 3: Dua pengguna saling melempar caci maki dan kata-kata kotor di kolom komentar video publik selama berjam-jam; Teks 4: Seseorang berulang kali mengirimkan meme wajah teman yang diedit merendahkan ke kolom obrolan grup publik untuk memancing kemarahan (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu pemeriksaan bersama terhadap lembar kerja; murid mencocokkan hasil identifikasi masing-masing dengan acuan kunci jawaban (acuan: Teks 1 = Impersonation/Akun Tiruan; Teks 2 = Pengucilan/Exclusion; Teks 3 = Flaming/Perang kata; Teks 4 = Trolling/Pelecehan visual) (10 menit).
  • Murid secara berkesadaran menuliskan satu poin refleksi pribadi di buku catatan: bagaimana mengenali batas agar interaksi yang semula dianggap candaan tidak tergelincir menjadi praktik perundungan digital di ruang publik virtual (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali bentuk-bentuk perundungan digital yang kerap ditemui dalam interaksi ruang publik virtual (Flaming, Trolling, Pengucilan, Akun Tiruan) (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan nilai etika bermedia, mengingatkan materi pertemuan berikutnya mengenai dampak psikologis dan sosial perundungan digital bagi korban, serta menutup kelas dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja yang dilengkapi tabel glosarium definisi kata kunci bentuk perundungan digital; murid berkemampuan cepat diberikan teks kasus narasi panjang tanpa petunjuk kata kunci.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan mengidentifikasi diberikan scaffolding berupa pertanyaan penuntun terfokus pada pelaku dan platform tindakan; murid cepat langsung mengerjakan identifikasi secara mandiri penuh.
  • Produk: Seluruh murid menyajikan hasil identifikasi dalam lembar kerja tertulis yang sama sesuai acuan bentuk perundungan digital yang valid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Menjawab pertanyaan diagnostik di awal pembelajaran untuk membedakan interaksi wajar versus perundungan digital dari 2 kasus: Kasus A: pujian warna baju (bukan perundungan); Kasus B: hinaan berulang dari akun anonim yang menyebut jelek dan tidak pantas ikut lomba (perundungan digital karena ada agresi dan keberulangan). Kriteria kesiapan: murid mampu menunjuk Kasus B secara tepat.

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan lembar kerja mandiri yang memuat 4 butir analisis kasus: Butir 1 (Kasus Riko membuat akun palsu Dina -> acuan: Akun Tiruan/Impersonation); Butir 2 (Kasus melarang dan mengeluarkan Andi dari room grup -> acuan: Pengucilan/Exclusion); Butir 3 (Kasus saling mencaci maki di komentar terbuka -> acuan: Flaming); Butir 4 (Kasus mengirim meme ejekan diedit untuk memprovokasi kemarahan -> acuan: Trolling).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: murid menyebutkan kembali secara lisan/tulisan singkat 4 bentuk perundungan digital di ruang publik virtual sesuai acuan yang dipelajari (acuan jawaban: flaming/perang kata, trolling/provokasi pesan jahat, pengucilan/exclusion dari grup, dan pembuatan akun tiruan/impersonation).

Formatif:

  • Penilaian lembar kerja mandiri 'Identifikasi Bentuk Perundungan Digital' berisi 4 teks kutipan kasus interaksi ruang publik virtual
  • Observasi ketepatan respons murid pada kegiatan kuis interaktif 'Tebak Praktik Siber'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Mengidentifikasi Bentuk Perundungan DigitalMampu mengidentifikasi 0-1 dari 4 teks kasus perundungan digital secara tepat sesuai acuan (acuan kunci: Teks 1 = Akun Tiruan; Teks 2 = Pengucilan; Teks 3 = Flaming; Teks 4 = Trolling).Mampu mengidentifikasi 2 dari 4 teks kasus perundungan digital secara tepat sesuai acuan kunci.Mampu mengidentifikasi 3 dari 4 teks kasus perundungan digital secara tepat sesuai acuan kunci secara mandiri.Mampu mengidentifikasi seluruh 4 teks kasus perundungan digital secara tepat sesuai acuan kunci secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur kegiatan dan contoh kasus konkret membantu murid mengenali ragam praktik perundungan digital di ruang publik virtual?
  • Apakah seluruh murid berpartisipasi aktif dalam kegiatan kuis dan pengerjaan lembar kerja mandiri?

Murid:

  • Bentuk perundungan digital apa yang paling sering saya jumpai di media sosial atau ruang virtual lainnya?
  • Bagaimana cara saya memastikan agar ucapan atau tindakan saya di grup pertemanan daring tidak termasuk tindakan perundungan?

Pertemuan 6 — Mengidentifikasi Dampak Psikologis dan Sosial Perundungan Digital bagi Korban di Ruang Publik Virtual — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.4 Mengidentifikasi dampak perundungan digital dalam interaksi ruang publik virtual

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam, menyapa murid, dan mengajak murid memusatkan kesadaran pada ruang belajar yang aman (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengidentifikasi dampak psikologis dan dampak sosial dari perundungan digital bagi korban di ruang publik virtual (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta murid menuliskan pilihan pada papan kecil/kertas respon cepat untuk memilah contoh dampak: 'Rasa cemas berlebihan saat membuka gawai' dan 'Menarik diri dari pertemanan kelas' ke dalam dampak psikologis atau dampak sosial (acuan kunci: cemas berlebihan = dampak psikologis; menarik diri dari pertemanan = dampak sosial) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati pemaparan konsep tentang klasifikasi dampak cyberbullying bagi korban di ruang publik virtual: (1) Dampak psikologis/mental mencakup rasa malu, stres, cemas berlebih, hilangnya rasa percaya diri, dan ketakutan; (2) Dampak sosial mencakup penarikan diri dari lingkungan, pengucilan, kehilangan teman, dan keengganan berinteraksi (12 menit).
  • Murid secara mandiri membaca narasi studi kasus singkat mengenai seorang siswa bernama Rian yang mengalami flaming dan pemfitnahan di ruang obrolan gim daring hingga memengaruhi kehidupannya sehari-hari (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Kerja Klasifikasi Dampak Kasus Rian yang memuat 6 butir kutipan peristiwa nyata: (1) 'Rian merasa takut dan panik setiap kali mendengar notifikasi ponsel berdering'; (2) 'Rian memutuskan keluar dari grup belajar kelas dan berhenti menyapa teman sebangkunya'; (3) 'Rian merasa tidak berharga dan terus menyalahkan dirinya sendiri'; (4) 'Teman-teman sekelas mulai menghindari Rian saat jam istirahat karena takut ikut dibicarakan di media sosial'; (5) 'Rian mengalami sulit tidur dan sering merasa cemas tanpa sebab'; (6) 'Rian menolak hadir dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah karena takut bertemu anggota grup daring' (15 menit).
  • Secara bergembira melalui aktivitas tantangan kartu cerdas 'Detektif Dampak', murid berpasangan saling menguji dan mencocokkan setiap butir kutipan ke dalam kategori yang tepat: Dampak Psikologis atau Dampak Sosial (acuan kunci: butir 1, 3, 5 = Dampak Psikologis; butir 2, 4, 6 = Dampak Sosial) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid memeriksa hasil identifikasi dan pencocokan kartu mereka berdasarkan kunci jawaban acuan (5 menit).
  • Murid mengevaluasi pemahamannya tentang bagaimana perundungan digital di ruang publik virtual dapat merusak kesejahteraan mental dan interaksi nyata korban, serta menuliskan satu kesimpulan identifikasi di lembar kerjanya (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan murid bahwa perundungan digital nyata berdampak pada ranah kejiwaan (psikologis) sekaligus hubungan bermasyarakat (sosial) korban (5 menit).
  • Guru dan murid melakukan refleksi singkat mengenai pentingnya mengenali dampak tersebut agar tidak menjadi pelaku atau saksi yang pasif, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja dengan petunjuk kata kunci (misal: kata kunci emosi/perasaan untuk dampak psikologis; kata kunci hubungan/teman/lingkungan untuk dampak sosial). Murid yang siap menerima tantangan diberikan 2 butir kutipan tambahan mengenai dampak perundungan yang saling berkelindan.
  • Proses: Pengerjaan kartu dapat dilakukan dengan panduan bertahap untuk kelompok yang membutuhkan perancah (scaffolding), sementara kelompok mahir bekerja mandiri secara cepat.
  • Produk: Format pelaporan klasifikasi dapat berupa tabel centang kategori atau penempelan kartu berkode warna kategori dampak.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan/tulis: 'Tentukan apakah peristiwa berikut termasuk dampak psikologis atau dampak sosial korban perundungan virtual: (1) Merasa cemas berlebihan saat membuka gawai; (2) Menarik diri dari pertemanan kelas.' Acuan jawaban benar: (1) Dampak psikologis; (2) Dampak sosial.

Proses:

  • Observasi ketepatan murid dalam mengidentifikasi dan mengelompokkan 6 kutipan dampak perundungan digital pada studi kasus Rian: butir (1) 'Rian merasa takut dan panik setiap kali mendengar notifikasi ponsel berdering' [Psikologis]; butir (2) 'Rian memutuskan keluar dari grup belajar kelas dan berhenti menyapa teman sebangkunya' [Sosial]; butir (3) 'Rian merasa tidak berharga dan terus menyalahkan dirinya sendiri' [Psikologis]; butir (4) 'Teman-teman sekelas mulai menghindari Rian saat jam istirahat karena takut ikut dibicarakan di media sosial' [Sosial]; butir (5) 'Rian mengalami sulit tidur dan sering merasa cemas tanpa sebab' [Psikologis]; butir (6) 'Rian menolak hadir dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah karena takut bertemu anggota grup daring' [Sosial].

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat tertulis (2 butir): Identifikasi kategori dampak dari: A. Korban kehilangan rasa percaya diri (Acuan: Dampak psikologis); B. Korban dikucilkan oleh kelompok belajarnya (Acuan: Dampak sosial).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: mengklasifikasikan 2 pernyataan pemantik dampak cyberbullying ke dalam kategori psikologis dan sosial.
  • Asesmen proses pengerjaan Lembar Kerja Klasifikasi Dampak Kasus Rian (6 butir kutipan).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Dampak Psikologis Perundungan DigitalBelum tepat mengidentifikasi dampak psikologis dari kutipan studi kasus yang disajikan (0-1 dari 3 butir benar: butir 1, 3, 5).Mengidentifikasi sebagian dampak psikologis dari kutipan studi kasus dengan tepat (2 dari 3 butir benar: butir 1, 3, 5).Mengidentifikasi seluruh dampak psikologis dari kutipan studi kasus dengan tepat (3 dari 3 butir benar: butir 1, 3, 5).Mengidentifikasi seluruh dampak psikologis dari kutipan studi kasus (3 butir) dengan tepat secara mandiri serta tepat mengidentifikasi 1 butir pengayaan tambahan.
Identifikasi Dampak Sosial Perundungan DigitalBelum tepat mengidentifikasi dampak sosial dari kutipan studi kasus yang disajikan (0-1 dari 3 butir benar: butir 2, 4, 6).Mengidentifikasi sebagian dampak sosial dari kutipan studi kasus dengan tepat (2 dari 3 butir benar: butir 2, 4, 6).Mengidentifikasi seluruh dampak sosial dari kutipan studi kasus dengan tepat (3 dari 3 butir benar: butir 2, 4, 6).Mengidentifikasi seluruh dampak sosial dari kutipan studi kasus (3 butir) dengan tepat secara mandiri serta tepat mengidentifikasi 1 butir pengayaan tambahan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pada kegiatan Mengaplikasi cukup memfasilitasi murid dalam mengidentifikasi perbedaan dampak psikologis dan sosial?
  • Bagaimana respons emosional murid saat mendiskusikan contoh kasus dampak perundungan digital di ruang publik virtual?

Murid:

  • Apa perbedaan utama yang paling mudah kamu kenali antara dampak psikologis dan dampak sosial perundungan digital?
  • Setelah mengenali beratnya dampak perundungan digital, apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga interaksi di ruang virtual tetap aman bagi sesama?

Pertemuan 7 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menganalisis pentingnya menjaga rekam jejak digital pada aktivitas bermedia sosial
  • TP 8.4.2 Mengamalkan toleransi di dunia digital dalam berinteraksi di media sosial
  • TP 8.4.3 Mengamalkan empati di dunia digital saat memberikan komentar pada media sosial
  • TP 8.4.4 Mengidentifikasi dampak perundungan digital dalam interaksi ruang publik virtual

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kesiapan fisik serta tempat duduk murid untuk pengerjaan mandiri (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-7 sebagai sesi asesmen sumatif portofolio lembar kerja studi kasus interaksi digital terintegrasi yang mencakup TP 1 s.d. TP 4, serta membacakan tata tertib asesmen mandiri (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan berkas Portofolio Lembar Kerja Studi Kasus Interaksi Digital Terintegrasi yang terdiri atas dua bagian tugas, lalu membimbing murid memeriksa kejelasan petunjuk pengerjaan dan alokasi waktu masing-masing bagian (3 menit).
  • Guru menjelaskan kriteria penilaian portofolio dan menegaskan bahwa seluruh analisis, telaah, perumusan respon, serta jawaban uraian dikerjakan secara individual tanpa komunikasi antarmurid (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas 1: Penugasan analisis risiko jejak digital dan tes tertulis uraian bentuk serta dampak perundungan digital secara mandiri pada lembar kerja individual. Soal 1 (Analisis Jejak Digital): Diberikan skenario 'Rian mengunggah foto rekannya yang sedang tertidur di kelas dengan keterangan bernada mengejek dan membiarkannya dapat diakses publik'. Murid menganalisis 2 risiko jangka panjang bagi reputasi Rian (Acuan: [1] Rekam jejak digital tersimpan permanen/dapat diarsip pihak lain dan menjadi bumerang etika saat seleksi sekolah/beasiswa/kerja; [2] Menurunnya kepercayaan lingkungan sosial dan hilangnya citra integritas pribadi) serta 1 alasan pentingnya menjaga rekam jejak digital (Acuan: Jejak digital bersifat abadi, sulit dihapus sepenuhnya, dan mencerminkan karakter serta kredibilitas pemilik akun di masa depan). Soal 2 (Uraian Perundungan Digital): Murid mengidentifikasi 2 bentuk perundungan digital pada ruang publik virtual (Acuan: memilih dari flamming/komentar kasar, cyber harassment/pelecehan pesan berulang, doxing/penyebaran data pribadi, impersonation/akun palsu mencemarkan, atau exclusion/pengucilan sengaja dari grup daring) serta mengidentifikasi 2 dampak perundungan digital bagi korban di ruang publik virtual (Acuan: dampak psikologis berupa trauma/kecemasan/depresi/penurunan rasa percaya diri, dan dampak sosial berupa penarikan diri dari pergaulan/kehilangan relasi pertemanan) (33 menit).
  • Murid mengerjakan Tugas 2: Penilaian unjuk kerja studi kasus toleransi dan simulasi respon berempati secara mandiri pada lembar kerja individual. Studi Kasus 1 (Toleransi Opini): Diberikan skenario unggahan 'Forum diskusi hobi meributkan perbedaan pendapat mengenai cara belajar daring yang efektif; kubu A menganggap belajar mandiri lewat video paling baik, kubu B menganggap diskusi kelompok daring yang terbaik'. Murid menyajikan telaah etika dan argumentasi bertoleransi tertulis (Kriteria penerimaan: Memuat pengakuan hak berbeda pendapat tanpa merendahkan kubu lawan, fokus pada argumen bukan menyerang pribadi/ad hominem, dan menggunakan bahasa santun yang mendinginkan suasana). Studi Kasus 2 (Simulasi Respon Empati): Diberikan skenario unggahan 'Sinta mengunggah hasil karya desain grafis pertamanya yang sederhana namun ia merasa sedih karena dikritik pedas oleh netizen'. Murid merumuskan 1 draf narasi komentar positif dan santun yang berempati (Kriteria penerimaan: Mengakui keberanian/proses belajar Sinta, memberikan dorongan semangat yang tulus tanpa nada mengejek, dan menggunakan pilihan kata yang santun serta tidak menghakimi) (32 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru menginstruksikan murid berhenti menulis, memeriksa kelengkapan identitas pada portofolio lembar kerja, dan mengumpulkan berkas secara tertib ke meja guru (2 menit).
  • Murid secara berkesadaran mengisi 2 pertanyaan refleksi singkat ketercapaian belajar pada lembar refleksi akhir bab mengenai proses menyelesaikan tugas portofolio mandiri (1 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan, kemandirian, dan integritas seluruh murid dalam menuntaskan asesmen sumatif Bab 4 'Jejak Bermedia Digital' (1 menit).
  • Guru merangkum esensi Bab 4 tentang pentingnya menjadi warganet yang bijak dalam mengelola jejak digital, mengedepankan toleransi serta empati, dan menolak segala bentuk perundungan digital di ruang publik virtual, lalu menutup pertemuan dengan salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: Bagi murid yang memiliki hambatan penglihatan diberikan lembar soal dengan ukuran huruf lebih besar (14-16 pt) dan waktu pembacaan instruksi yang jelas tanpa mengubah substansi soal, tingkat kesulitan, atau kriteria penilaian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek kesiapan asesmen: Guru menanyakan pemahaman petunjuk pengerjaan portofolio dan memastikan seluruh murid siap mengerjakan secara mandiri tanpa menggunakan gawai/bantuan eksternal.

Proses:

  • Pemantauan keterlibatan dan kepatuhan prosedur asesmen: Guru mengamati kemandirian dan integritas murid selama menyelesaikan penugasan analisis, tes uraian, telaah kasus, dan simulasi respon.

Sumatif Bab:

  • Portofolio Lembar Kerja Studi Kasus Interaksi Digital Terintegrasi: Lembar kerja analisis dan simulasi respon digital individual murid yang memuat analisis dampak jejak digital, telaah etika respon toleran, simulasi respon komentar berempati, serta identifikasi contoh dan dampak perundungan digital pada ruang publik virtual
  • penugasan analisis dan tes tertulis uraian serentak: Lembar analisis tertulis yang memuat telaah risiko jejak digital pada skenario media sosial serta jawaban uraian mengenai bentuk dan dampak perundungan digital di ruang publik virtual yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (40 menit; individual; instrumen: rubrik analitik analisis jejak digital dan pedoman penskoran uraian perundungan digital)
  • penilaian unjuk kerja studi kasus dan simulasi tertulis serentak: Lembar telaah etika dan draf simulasi respon tertulis murid yang menyajikan argumentasi bertoleransi atas perbedaan opini serta narasi komentar berempati terhadap unggahan rekan sebaya yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja studi kasus toleransi dan simulasi empati digital)

Sumatif:

  • Portofolio Lembar Kerja Studi Kasus Interaksi Digital Terintegrasi: Lembar kerja analisis dan simulasi respon digital individual murid yang memuat analisis dampak jejak digital, telaah etika respon toleran, simulasi respon komentar berempati, serta identifikasi contoh dan dampak perundungan digital pada ruang publik virtual
  • penugasan analisis dan tes tertulis uraian serentak: Lembar analisis tertulis yang memuat telaah risiko jejak digital pada skenario media sosial serta jawaban uraian mengenai bentuk dan dampak perundungan digital di ruang publik virtual yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (40 menit; individual; instrumen: rubrik analitik analisis jejak digital dan pedoman penskoran uraian perundungan digital)
  • penilaian unjuk kerja studi kasus dan simulasi tertulis serentak: Lembar telaah etika dan draf simulasi respon tertulis murid yang menyajikan argumentasi bertoleransi atas perbedaan opini serta narasi komentar berempati terhadap unggahan rekan sebaya yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja studi kasus toleransi dan simulasi empati digital)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Risiko dan Pentingnya Menjaga Rekam Jejak Digital (TP 1)Menyebutkan kurang dari 1 risiko jejak digital secara tepat atau uraian alasan pentingnya menjaga jejak digital tidak sesuai konteks reputasi diri.Menyebutkan tepat 1 risiko jejak digital (Acuan: tersimpan abadi/bumerang masa depan atau penurunan reputasi) dan alasan pentingnya menjaga jejak digital belum mendalam.Menyebutkan tepat 2 risiko jejak digital (Acuan: [1] tersimpan abadi/menjadi bumerang saat seleksi masa depan; [2] merusak citra dan reputasi sosial) dan menuliskan 1 alasan pentingnya menjaga jejak digital secara logis.Menyebutkan tepat 2 risiko jejak digital (Acuan: [1] arsip digital permanen/bumerang karir; [2] hilangnya kepercayaan sosial) disertai analisis komprehensif mengenai hubungan jejak digital dengan integritas diri serta 1 alasan pentingnya menjaga rekam jejak digital secara mendalam.
Pengamalan Toleransi dalam Perbedaan Pandangan Digital (TP 2)Argumentasi telaah etika membenarkan sikap intoleran atau menggunakan kata-kata yang menyerang pribadi salah satu pihak.Argumentasi telaah etika memuat ajakan menghargai perbedaan pandangan, namun pilihan bahasanya masih memihak atau kurang santun.Menyajikan telaah etika dan argumentasi bertoleransi yang tepat: mengakui hak berbeda opini, fokus pada argumen tanpa menyerang pribadi (bebas ad hominem), dan menggunakan bahasa santun.Menyajikan telaah etika dan argumentasi bertoleransi yang sangat runtut dan objektif: mengakui hak berbeda pandangan, memberikan jalan tengah/solusi damai, bebas serangan pribadi, serta menggunakan bahasa santun yang persuasif.
Pengamalan Empati dalam Komentar Media Sosial (TP 3)Draf komentar tidak menunjukkan empati, bernada menyalahkan, atau mengandung ejekan terhadap unggahan rekan.Draf komentar memuat dorongan semangat namun belum memvalidasi perasaan/usaha rekan, atau pilihan kata masih bernada menasehati secara kaku.Merumuskan narasi komentar berempati yang memenuhi seluruh kriteria: mengakui/menghargai karya atau usaha rekan, memberikan dorongan positif yang tulus, dan menggunakan kalimat santun serta tidak menghakimi.Merumuskan narasi komentar berempati yang sangat konstruktif: memvalidasi perasaan dan menghargai proses rekan, menyampaikan apresiasi spesifik, memberi dukungan emosional yang tulus, dengan bahasa santun dan menghangatkan suasana.
Identifikasi Bentuk dan Dampak Perundungan Digital (TP 4)Menyebutkan kurang dari 1 bentuk perundungan digital atau keliru dalam mengidentifikasi dampak bagi korban di ruang publik virtual.Mengidentifikasi tepat 1 bentuk perundungan digital dan 1 dampak bagi korban sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi tepat 2 bentuk perundungan digital (Acuan: flamming, pelecehan/harassment, doxing, impersonation, exclusion) dan tepat 2 dampak bagi korban (Acuan: dampak psikologis berupa trauma/stres/cemas dan dampak sosial berupa penarikan diri/isolasi pertemanan).Mengidentifikasi tepat 2 bentuk perundungan digital (Acuan: flamming, pelecehan/harassment, doxing, impersonation, exclusion) serta menjelaskan secara komprehensif keterkaitan kedua bentuk tersebut dengan 2 dampak (psikologis dan sosial) bagi korban secara mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 8 dalam menganalisis jejak digital, mengamalkan toleransi, mengekspresikan empati, dan mengidentifikasi dampak perundungan secara mandiri pada asesmen sumatif ini?
  • Apakah instrumen lembar kerja studi kasus terintegrasi dan alokasi waktu 2x40 menit sudah efektif mengukur capaian seluruh TP Bab 4?

Murid:

  • Bagian tugas mana pada lembar kerja tadi yang paling membuat saya sadar akan pentingnya menjaga etika dan jejak bermedia digital?
  • Komitmen nyata apa yang akan saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saat menulis unggahan dan komentar di media sosial?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Informatika SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024), Bab IV: Jejak Bermedia Digital
  2. Buku Siswa Informatika SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024), Aktivitas JBD-K8-01: Analisis Jejak Digital di Sekitar Kita
  3. Komputer/Gawai dengan peramban web dan koneksi internet
  4. Lembar Kerja Analisis Jejak Digital Pribadi
  5. Buku Panduan Guru Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), Penerbit Kemendikbudristek 2024, Bab IV Jejak Bermedia Digital.
  6. Buku Siswa Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), Penerbit Kemendikbudristek 2024, Bab IV Jejak Bermedia Digital.
  7. Lembar Kerja Kasus Jejak Digital dan Reputasi Diri (Skenario A dan B) yang disiapkan guru.
  8. Kartu respon kuis 'Membangun Reputasi' dan 'Merusak Reputasi'.
  9. Buku Panduan Guru Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024), Kemendikbudristek
  10. Buku Siswa Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024), Kemendikbudristek
  11. Lembar Kerja Respon Toleran Digital (3 Skenario Kasus)
  12. Buku Panduan Guru Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
  13. Buku Siswa Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
  14. Set 4 Kartu Komentar Tiruan Media Sosial
  15. Lembar Kerja Praktik Empati Digital (3 Skenario Unggahan)
  16. Buku Panduan Guru Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021)
  17. Buku Siswa Informatika untuk SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021) Bab 4 Jejak Bermedia Digital
  18. Lembar Kerja Murid 'Identifikasi Bentuk Perundungan Digital'
  19. Buku Panduan Guru Informatika SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), Bab IV Jejak Bermedia Digital
  20. Buku Siswa Informatika SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), Bab IV Jejak Bermedia Digital
  21. Lembar Kerja Siswa: Kasus Studi Rian & Kartu Tantangan 'Detektif Dampak'
  22. Buku Panduan Guru Informatika SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2024), Bab IV: Jejak Bermedia Digital
  23. Buku Siswa Informatika SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2024), Bab IV: Jejak Bermedia Digital
  24. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Interaksi Digital Terintegrasi (Soal Analisis Jejak Digital, Uraian Cyberbullying, Studi Kasus Toleransi, dan Simulasi Respon Empati)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.