MODUL AJAR Ekonomi — Kelas 11 (Fase F) Topik: Bab 2 — Ketenagakerjaan INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Ekonomi |
|---|
| Fase / Kelas | Fase F / Kelas 11 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Ketenagakerjaan |
|---|
| Alokasi Waktu | 42 JP (42 x 45 menit = 1890 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 17 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 11.2.1 Menjelaskan konsep ketenagakerjaan berdasarkan konsep dasar ekonomi
- TP 11.2.2 Mengamati kondisi dan masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.3 Mengumpulkan informasi berkaitan dengan kondisi dan permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.4 Menganalisis masalah ketenagakerjaan yang sedang terjadi berdasarkan konsep yang sudah dipelajari
- TP 11.2.5 Menarik kesimpulan terkait faktor penyebab masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.6 Memberikan solusi atas permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.7 Mengomunikasikan hasil penarikan kesimpulan atas masalah ketenagakerjaan serta solusi mengatasinya
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apakah seorang siswa SMA berusia 16 tahun yang hanya bersekolah dapat disebut sebagai tenaga kerja atau angkatan kerja?
- Mengapa peningkatan produksi barang di sebuah pabrik dapat menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat?
- Mengapa seorang dokter memerlukan ijazah profesi untuk bekerja, sedangkan seorang montir bengkel mengandalkan keterampilan praktik?
- Bagaimana membedakan pekerjaan yang mengandalkan kemampuan berpikir (rohani) dengan pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik (jasmani)?
- Pekerjaan apa saja yang kalian lihat di lingkungan sekitar sekolah setiap hari?
- Kondisi apa saja yang menunjukkan adanya kendala atau masalah ketenagakerjaan pada usaha di sekitar sekolah?
- Bagaimana perbedaan kondisi ketenagakerjaan antara daerah perkotaan industri dengan daerah perdesaan agraris di Indonesia?
- Masalah ketenagakerjaan apa saja yang paling tampak ketika kita mengamati data angkatan kerja di tingkat provinsi dan nasional?
- Di mana kita bisa mendapatkan data resmi dan tepercaya mengenai tingkat pengangguran di Indonesia?
- Informasi apa saja yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait profil penganggur di negara kita?
- Di mana masyarakat bisa memperoleh informasi resmi mengenai kebijakan pelatihan kerja dan aturan upah minimum pemerintah?
- Informasi apa saja terkait dinamika ketenagakerjaan yang dapat kita kumpulkan dari kanal resmi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)?
- Apakah seseorang yang bekerja paruh waktu hanya 15 jam seminggu dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak memiliki masalah ketenagakerjaan?
- Apa perbedaan mendasar antara seseorang yang sama sekali tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan dengan seseorang yang bekerja di bawah jam kerja normal?
- Mengapa banyak lowongan pekerjaan di bidang teknologi dan industri modern sulit terisi padahal jumlah pencari kerja di Indonesia sangat melimpah?
- Bagaimana tingkat keahlian tenaga kerja dan mekanisme penawaran-permintaan menentukan besaran upah yang diterima pekerja di berbagai wilayah?
- Mengapa otomatisasi atau perubahan dari sektor agraris ke industri dapat menyebabkan tenaga kerja kehilangan pekerjaan?
- Apa faktor mendasar yang menyebabkan seseorang mengalami pengangguran struktural meskipun lowongan kerja di sektor lain tersedia?
- Mengapa seseorang yang baru lulus kuliah atau baru mengundurkan diri untuk mencari gaji lebih tinggi tetap terhitung menganggur sementara waktu?
- Mengapa petani atau pekerja di sektor wisata pantai mengalami masa-masa tidak bekerja pada bulan-bulan tertentu dalam setahun?
- Mengapa banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi masih kesulitan terserap di dunia kerja meskipun lowongan pekerjaan tersedia?
- Bagaimana pelatihan keterampilan teknis dan sertifikasi profesi dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi masalah rendahnya kualitas tenaga kerja?
- Bagaimana penciptaan iklim investasi dan kemudahan izin usaha mikro dapat memperluas kesempatan kerja baru?
- Mengapa penentuan upah minimum perlu mempertimbangkan inflasi serta pertumbuhan ekonomi agar tidak memicu pemutusan hubungan kerja?
- Bagaimana cara menyampaikan kesimpulan penyebab pengangguran struktural agar mudah dipahami oleh masyarakat umum?
- Mengapa usulan solusi seperti pelatihan vokasi dan penyesuaian kurikulum perlu dikomunikasikan secara runtut dan berbasis bukti?
- Bagaimana cara menyampaikan kesimpulan masalah kesenjangan keterampilan kerja dan upah agar dipahami dengan jelas oleh pihak lain?
- Mengapa gagasan solusi atas kesenjangan ketenagakerjaan perlu dikomunikasikan secara runtut dan terstruktur?
- Bagaimana keterkaitan antara pengamatan langsung di lapangan dengan angka statistik ketenagakerjaan yang dirilis lembaga resmi?
- Mengapa analisis ekonomi memerlukan perpaduan antara data empiris dan fakta riil masalah ketenagakerjaan agar akurat?
- Bagaimana keterkaitan antara faktor penyebab masalah ketenagakerjaan dengan ketepatan perumusan solusi yang ditawarkan?
- Mengapa satu solusi ketenagakerjaan belum tentu efektif jika faktor penyebab dasarnya tidak diidentifikasi secara tepat?
- Bagaimana penguasaan konsep dasar ketenagakerjaan membantu kita menelaah data riil masalah pengangguran di Indonesia?
- Mengapa penarikan kesimpulan faktor penyebab dan perumusan solusi ketenagakerjaan harus didasarkan pada bukti data yang valid?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menjelaskan Konsep Tenaga Kerja, Angkatan Kerja, dan Kesempatan Kerja — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menjelaskan konsep ketenagakerjaan berdasarkan konsep dasar ekonomi
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama untuk kesiapan belajar (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan konsep tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja berdasarkan konsep dasar ekonomi (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 3 pertanyaan lisan cepat: (1) Siapa yang disebut tenaga kerja menurut UU? (acuan: setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang/jasa untuk kebutuhan sendiri/masyarakat, usia kerja 15 tahun ke atas); (2) Apakah ibu rumah tangga termasuk angkatan kerja? (acuan: bukan angkatan kerja, karena mengurus rumah tangga dan tidak sedang mencari pekerjaan); (3) Apa arti kesempatan kerja? (acuan: ketersediaan lapangan kerja atau permintaan terhadap tenaga kerja) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks bahan ajar mengenai definisi tenaga kerja (UU No. 13/2003: penduduk usia 15 tahun ke atas yang mampu bekerja menghasilkan barang/jasa), angkatan kerja (penduduk usia kerja yang bekerja atau sedang mencari kerja/menganggur), bukan angkatan kerja (sekolah, mengurus rumah tangga, penerima pensiun), serta kesempatan kerja (permintaan tenaga kerja oleh produsen sebagai turunan dari permintaan barang/jasa) (25 menit).
- Murid dalam kelompok berpasangan memainkan kuis cepat 'Tebak Status Ketenagakerjaan' menggunakan 4 kartu profil: Kartu 1: Pak Joko (42 tahun, bekerja di pabrik sepatu) -> Angkatan kerja (bekerja); Kartu 2: Sari (16 tahun, murid SMA kelas 11 purnawaktu) -> Bukan angkatan kerja (bersekolah); Kartu 3: Bu Lina (38 tahun, mengurus rumah tangga penuh waktu) -> Bukan angkatan kerja (mengurus rumah tangga); Kartu 4: Doni (23 tahun, lulusan kuliah sedang aktif melamar pekerjaan) -> Angkatan kerja (pengangguran/mencari kerja) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara berkelompok mengerjakan Lembar Kerja Ketenagakerjaan yang berisi 3 tugas klasifikasi dan penjelasan hubungan: Tugas 1: Menentukan status 3 orang berikut: (a) Rudi usia 19 tahun sedang kursus dan mencari lowongan -> Angkatan kerja; (b) Kakek Harun usia 68 tahun pensiunan -> Bukan angkatan kerja; (c) Mira usia 28 tahun dokter di RS -> Angkatan kerja (bekerja); Tugas 2: Menjelaskan perbedaan konsep tenaga kerja, angkatan kerja, dan bukan angkatan kerja; Tugas 3: Menjelaskan keterkaitan peningkatan permintaan output perusahaan dengan peningkatan kesempatan kerja (35 menit).
- Perwakilan kelompok membacakan hasil klasifikasi dan penjelasan konsep di hadapan kelompok lain untuk saling memeriksa kecocokan jawaban dengan acuan konsep (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan refleksi terbimbing dengan mengidentifikasi status ketenagakerjaan dirinya sendiri saat ini (kategori: bukan angkatan kerja karena bersekolah) dan merumuskan pemahaman tentang pentingnya kesempatan kerja bagi penduduk usia produktif (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai batasan tenaga kerja, pemilahan angkatan kerja dan bukan angkatan kerja, serta konsep kesempatan kerja (5 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman akhir secara tertulis singkat dan menyampaikan agenda pertemuan berikutnya tentang jenis-jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian dan sifatnya, lalu menutup dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan bagan alur klasifikasi penduduk usia kerja (tenaga kerja -> angkatan kerja vs bukan angkatan kerja), sedangkan murid mahir menelaah data ringkas penduduk usia kerja dengan angka riil.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dalam membedakan kriteria angkatan kerja dan bukan angkatan kerja, sedangkan murid yang cepat bekerja mandiri dalam menjelaskan hubungan kesempatan kerja dan permintaan agregat.
- Produk: Seluruh murid menyelesaikan lembar kerja klasifikasi konsep dengan kedalaman penjelasan hubungan konsep ekonomi yang disesuaikan kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran mengenai: (1) Definisi tenaga kerja menurut UU Ketenagakerjaan (acuan: penduduk 15 tahun ke atas yang mampu bekerja menghasilkan barang/jasa); (2) Penggolongan ibu rumah tangga dalam ketenagakerjaan (acuan: bukan angkatan kerja); (3) Konsep kesempatan kerja (acuan: ketersediaan lapangan kerja atau permintaan tenaga kerja oleh produsen).
Proses:- Observasi partisipasi dan ketepatan murid menyelesaikan Lembar Kerja klasifikasi 3 profil ketenagakerjaan: (a) Rudi usia 19 tahun aktif mencari kerja -> angkatan kerja; (b) Kakek Harun 68 tahun pensiunan -> bukan angkatan kerja; (c) Mira 28 tahun bekerja dokter -> angkatan kerja (bekerja), serta kejelasan penjelasan hubungan kesempatan kerja dengan permintaan barang/jasa.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir pada penutup: (1) Sebutkan 2 contoh penduduk usia kerja yang tergolong bukan angkatan kerja! (acuan: pelajar/murid sekolah, pengurus rumah tangga, atau penerima pensiun); (2) Mengapa bila permintaan baju di pasar melonjak, kesempatan kerja di industri garmen meningkat? (acuan: produsen membutuhkan tambahan tenaga kerja untuk menaikkan output produksi guna memenuhi permintaan pasar).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja diskusi dan lembar kerja klasifikasi konsep tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Konsep Ketenagakerjaan (Tenaga Kerja, Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja, dan Kesempatan Kerja) | Mampu menjelaskan kurang dari 2 konsep ketenagakerjaan dengan tepat sesuai acuan konsep dasar ekonomi. | Mampu menjelaskan 2 konsep ketenagakerjaan dengan tepat sesuai acuan konsep dasar ekonomi. | Mampu menjelaskan 3 konsep ketenagakerjaan (tenaga kerja, angkatan kerja/bukan angkatan kerja, dan kesempatan kerja) dengan tepat secara mandiri. | Mampu menjelaskan seluruh 4 konsep ketenagakerjaan (tenaga kerja, angkatan kerja, bukan angkatan kerja, dan kesempatan kerja) serta keterkaitan antar-konsep secara tepat dan komprehensif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran dan permainan kartu efektif membantu murid membedakan angkatan kerja dan bukan angkatan kerja?
- Bagian penjelasan konsep manakah yang masih memerlukan scaffolding tambahan bagi murid yang kesulitan?
Murid:- Apakah saya sudah dapat membedakan dengan jelas antara tenaga kerja, angkatan kerja, dan bukan angkatan kerja?
- Bagaimana pemahaman konsep kesempatan kerja ini membantu saya memahami hubungan antara pabrik/perusahaan dan para pencari kerja?
Pertemuan 2 — Menjelaskan Jenis-Jenis Tenaga Kerja Berdasarkan Keahlian dan Sifat Kerjanya — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menjelaskan konsep ketenagakerjaan berdasarkan konsep dasar ekonomi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan ruang belajar agar rapi dan siap digunakan (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan jenis-jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian dan sifat kerjanya dalam kerangka konsep ketenagakerjaan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: 'Sebutkan contoh profesi yang wajib menempuh pendidikan formal tinggi!' dan 'Sebutkan profesi yang mengandalkan kekuatan fisik!' (acuan jawaban: terdidik seperti dokter/guru/akuntan; jasmani seperti buruh angkut/kuli bangunan) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati bagan klasifikasi tenaga kerja: (a) Berdasarkan keahlian: tenaga kerja terdidik (membutuhkan pendidikan formal reguler/tinggi), tenaga kerja terlatih (membutuhkan latihan/kursus dan keterampilan khusus), serta tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih (mengandalkan kebiasaan/kemampuan fisik tanpa syarat pendidikan atau keahlian khusus); (b) Berdasarkan sifat kerja: tenaga kerja jasmani (menitikberatkan tenaga fisik) dan tenaga kerja rohani (menitikberatkan proses berpikir, gagasan, dan mental) (20 menit).
- Murid secara mandiri membaca uraian materi pada Buku Siswa halaman 58-62 mengenai pengertian dan kriteria masing-masing jenis tenaga kerja serta mencatat kata kunci definisi setiap kategori (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk memainkan tantangan cepat kartu kerja 'Klasifikasi Cepat Profesi' di mana tiap pasangan mengelompokkan 6 kartu profesi: (1) Dokter Spesialis, (2) Montir Mobil, (3) Buruh Angkut Pelabuhan, (4) Arsitek Perancang Gedung, (5) Penjahit Busana, (6) Petugas Kebersihan Jalan (acuan jawaban: 1 = Terdidik & Rohani; 2 = Terlatih & Jasmani; 3 = Tidak Terdidik/Tidak Terlatih & Jasmani; 4 = Terdidik & Rohani; 5 = Terlatih & Jasmani; 6 = Tidak Terdidik/Tidak Terlatih & Jasmani) (25 menit).
- Murid mengerjakan Lembar Penjelasan Konsep secara tertulis dengan menjelaskan alasan klasifikasi untuk masing-masing dari 4 profesi yang dipilih: Dokter, Montir, Kuli Angkut, Manajer Keuangan berdasarkan kriteria keahlian dan sifat kerjanya (acuan jawaban: Dokter = terdidik karena butuh kuliah kedokteran & profesi rohani karena analisis medis; Montir = terlatih karena butuh kursus otomotif/praktik & profesi jasmani karena perbaikan mekanik; Kuli Angkut = tidak terdidik-tidak terlatih karena tanpa syarat ijazah/kursus & jasmani karena beban fisik; Manajer Keuangan = terdidik karena butuh studi ekonomi/akuntansi & rohani karena perencanaan anggaran) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama pasangannya memeriksa kembali kesesuaian penjelasan yang telah ditulis dengan acuan konsep kriteria keahlian dan sifat kerja, lalu mengoreksi jika terdapat kekeliruan pemahaman (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bersama kriteria pembeda jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian (terdidik, terlatih, tidak terdidik/terlatih) dan sifat kerja (jasmani, rohani) (10 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas hasil pengerjaan lembar kerja dan mengingatkan agenda pertemuan berikutnya mengenai pengamatan kondisi ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, lalu menutup kelas dengan doa bersama (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata bantu berisi daftar definisi dan kata kunci ciri keahlian/sifat kerja, sedangkan murid yang cepat diberikan 2 variasi profesi tambahan yang lebih kompleks (seperti data analyst dan atlet profesional).
- Proses: Pada tahap aplikasi, murid yang masih kesulitan didampingi guru dengan bimbingan bertahap memilah syarat pendidikan dan dominasi aktivitas kerjanya, sedangkan murid yang cepat menyelesaikan tugas secara mandiri berpasangan.
- Produk: Format penyajian penjelasan alasan klasifikasi dapat dituliskan dalam bentuk tabel uraian komparasi atau bagan ringkasan berpenjelasan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan mengenai konsep awal tenaga kerja: (1) Sebutkan profesi yang wajib menempuh pendidikan tinggi formal? (acuan: dokter, akuntan, guru); (2) Sebutkan profesi yang mengandalkan kekuatan otot/fisik? (acuan: buruh panggul, kuli bangunan)
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan murid dalam mengklasifikasikan 6 kartu profesi ke dalam kategori keahlian dan sifat kerjanya (acuan kunci: Dokter = terdidik & rohani; Montir = terlatih & jasmani; Buruh Angkut = tidak terdidik/tidak terlatih & jasmani; Arsitek = terdidik & rohani; Penjahit = terlatih & jasmani; Petugas Kebersihan = tidak terdidik/tidak terlatih & jasmani)
- Penilaian Lembar Penjelasan Konsep (tertulis) menguraikan alasan klasifikasi 4 profesi (Dokter, Montir, Kuli Angkut, Manajer Keuangan) berdasarkan konsep dasar ekonomi (acuan kunci: penjelasan memuat kriteria pendidikan formal/pelatihan/tanpa syarat dan pembebanan fisik/pikiran secara tepat)
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (2 soal): (1) Jelaskan perbedaan tenaga kerja terdidik dan tenaga kerja terlatih! (acuan kunci: tenaga kerja terdidik mensyaratkan jalur pendidikan formal terstruktur/tinggi, sedangkan tenaga kerja terlatih mengandalkan jalur kursus, pelatihan vokasi, atau pengalaman praktik keterampilannya); (2) Jelaskan perbedaan tenaga kerja jasmani dan tenaga kerja rohani! (acuan kunci: tenaga kerja jasmani lebih banyak mengerahkan aktivitas fisik/tenaga tubuh, sedangkan tenaga kerja rohani lebih banyak mengerahkan aktivitas daya pikir/mental/ide)
Formatif:- Pemeriksaan ketepatan klasifikasi 6 kartu profesi pada aktivitas berpasangan
- Penilaian tertulis Lembar Penjelasan Konsep mengenai alasan klasifikasi jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian dan sifat kerjanya
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Jenis Tenaga Kerja Berdasarkan Keahlian | Belum mampu menjelaskan perbedaan konsep tenaga kerja terdidik, terlatih, serta tidak terdidik dan tidak terlatih secara tepat | Mampu menjelaskan konsep 1 jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian dengan kriteria yang tepat secara terbimbing | Mampu menjelaskan konsep ke-3 jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian (terdidik, terlatih, tidak terdidik/terlatih) beserta contohnya secara tepat | Mampu menjelaskan konsep ke-3 jenis tenaga kerja berdasarkan keahlian secara komprehensif, tepat, dan memberikan alasan rasional sesuai konsep ekonomi secara mandiri | | Penjelasan Jenis Tenaga Kerja Berdasarkan Sifat Kerjanya | Belum mampu membedakan konsep tenaga kerja jasmani dan tenaga kerja rohani | Mampu membedakan konsep tenaga kerja jasmani dan rohani namun belum dapat menjelaskan kriteria dasar pembedanya | Mampu menjelaskan konsep tenaga kerja jasmani dan rohani secara tepat berdasarkan pengerahan tenaga fisik versus proses berpikir | Mampu menjelaskan konsep tenaga kerja jasmani dan rohani secara terperinci, tepat, serta menguraikan keterkaitannya pada beragam profesi secara mandiri |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah permainan kartu profesi berpasangan efektif membantu murid memahami perbedaan klasifikasi keahlian dan sifat tenaga kerja?
- Bagian penjelasan mana yang masih membuat murid keliru antara tenaga kerja terlatih dan tidak terdidik/terlatih?
Murid:- Apakah saya sudah bisa membedakan dengan jelas antara tenaga kerja terdidik dan tenaga kerja terlatih?
- Bagaimana saya menentukan apakah suatu pekerjaan lebih tergolong ke dalam tenaga kerja jasmani atau rohani?
Pertemuan 3 — Mengamati Kondisi dan Masalah Ketenagakerjaan di Lingkungan Sekitar Sekolah — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.2 Mengamati kondisi dan masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan tujuan pertemuan yaitu mengamati kondisi serta masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menandai mana di antara 3 situasi berikut yang merupakan 'kondisi kerja' dan mana yang merupakan 'masalah ketenagakerjaan': (1) Toko kelontong mempekerjakan 2 orang kasir dengan jam kerja tetap, (2) Warung makan kekurangan tenaga juru masak terampil saat jam makan siang, (3) Pedagang kaki lima berjualan mandiri selama 8 jam sehari (acuan: nomor 1 dan 3 adalah kondisi kerja; nomor 2 adalah masalah ketenagakerjaan) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mencermati panduan lembar observasi yang memuat 4 aspek pengamatan ketenagakerjaan di lingkungan sekolah: (1) jenis bidang usaha dan pekerjaan, (2) kondisi status kerja, (3) jam dan lingkungan kerja, serta (4) kendala/masalah ketenagakerjaan yang tampak (15 menit).
- Dalam format permainan tantangan kilat 'Detektif Lapangan', murid secara berpasangan menebak 2 contoh masalah ketenagakerjaan nyata yang sering terlihat pada sektor informal sekitar sekolah: (1) pekerja bekerja melebihi jam wajar tanpa perlindungan K3, (2) anak usia sekolah membantu menjaga dagangan saat jam belajar (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Murid secara berkelompok berkeliling ke lingkungan sekitar sekolah (kantin, koperasi, atau kios/pedagang sekitar gerbang sekolah) untuk mengamati kondisi ketenagakerjaan dan mencatat minimal 3 fakta kondisi nyata pada lembar pengamatan: jenis pekerjaan, perkiraan jam operasional, dan beban kerja (35 menit).
- Murid melanjutkan pengamatan langsung untuk mendeteksi masalah ketenagakerjaan yang ditemui di lokasi tersebut dan mendokumentasikan minimal 2 masalah konkret (misalnya: ketiadaan perlengkapan keselamatan kerja dasar atau fluktuasi kebutuhan tenaga kerja yang tidak menentu) ke dalam lembar kerja (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memverifikasi hasil lembar pengamatan kelompok dengan mencocokkan kelengkapan 3 fakta kondisi dan 2 temuan masalah ketenagakerjaan yang telah dicatat (15 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan alur kegiatan pengamatan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah yang telah dilakukan (10 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap ketelitian hasil pengamatan murid dan menyampaikan bahwa data pengamatan ini akan menjadi dasar pengamatan lanjutan di tingkat regional pada pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar observasi dengan petunjuk centang terstruktur bagi kelompok yang memerlukan bantuan, serta lembar observasi format terbuka bagi kelompok yang mandiri.
- Proses: Guru memberikan pendampingan terarah pada kelompok yang kesulitan mengidentifikasi masalah ketenagakerjaan saat berkeliling.
- Produk: Kelompok dapat menyusun catatan observasi dalam bentuk tabel checklist ringkas atau catatan lapangan naratif.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis lisan identifikasi kondisi vs masalah: memilah 3 skenario ketenagakerjaan: (1) Toko kelontong mempekerjakan 2 orang kasir dengan jam kerja tetap [kondisi kerja], (2) Warung makan kekurangan tenaga juru masak terampil [masalah ketenagakerjaan], (3) Pedagang kaki lima berjualan mandiri selama 8 jam sehari [kondisi kerja].
Proses:- Observasi keterlibatan murid dalam pengamatan langsung di area sekitar sekolah menggunakan lembar cek pengamatan (target: minimal mencatat 3 fakta kondisi dan 2 masalah ketenagakerjaan).
Akhir Pertemuan:- Cek lembar observasi murid: pemeriksaan keterisian lembar pengamatan lapangan dengan kriteria penerimaan: memuat minimal 3 data kondisi faktual (jenis pekerjaan, jam/beban, lingkungan kerja) dan minimal 2 masalah ketenagakerjaan riil di sekitar sekolah.
Formatif:- Penilaian kinerja lembar pengamatan lapangan (memeriksa ketepatan pencatatan kondisi dan masalah ketenagakerjaan di sekitar sekolah)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengamatan Kondisi Ketenagakerjaan | Mencatat kurang dari 2 fakta kondisi ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah dengan bimbingan penuh guru. | Mencatat 2 fakta kondisi ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah dengan arahan guru. | Mencatat minimal 3 fakta kondisi ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah secara tepat dan mandiri. | Mencatat lebih dari 3 fakta kondisi ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah secara detail, tepat, dan mandiri. | | Pengamatan Masalah Ketenagakerjaan | Belum menemukan masalah ketenagakerjaan atau hanya mencatat 1 masalah tanpa bukti pengamatan konkret. | Mencatat 1 masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah yang disertai fakta teramati. | Mencatat minimal 2 masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah yang didukung fakta teramati secara tepat. | Mencatat lebih dari 2 masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar sekolah yang didukung fakta teramati secara komprehensif dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pengamatan di luar kelas (lingkungan sekolah) berjalan efektif dan aman?
- Bagian mana dari lembar observasi yang paling dipahami atau paling membingungkan bagi murid?
Murid:- Fakta kondisi kerja apa yang paling menarik perhatianmu saat melakukan pengamatan di sekitar sekolah?
- Kendala apa yang kamu temui saat mencari dan mengamati masalah ketenagakerjaan secara langsung?
Pertemuan 4 — Mengamati Kondisi dan Ragam Masalah Ketenagakerjaan Tingkat Regional dan Nasional — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.2 Mengamati kondisi dan masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengamati kondisi dan ragam masalah ketenagakerjaan pada skala regional dan nasional (5 menit).
- Asesmen Awal: Murid mengerjakan kuis singkat diagnostik berupa pencocokan 3 fenomena ketenagakerjaan dengan skala cakupannya: (1) Tingkat pengangguran terbuka nasional mencapai 5,32%; (2) Penumpukan pencari kerja lulusan SMK di kawasan industri Cikarang-Karawang; (3) Gelombang pemutusan hubungan kerja di industri tekstil Pulau Jawa (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara berpasangan mengamati Lembar Infografis Profil Ketenagakerjaan yang memuat 4 cuplikan data resmi BPS: (A) Data disparitas Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) antarprovinsi; (B) Proporsi pekerja sektor informal nasional sebesar 59%; (C) Data kesenjangan upah minimum regional antarprovinsi; (D) Data pekerja muda (usia 15-24 tahun) yang belum bekerja di tingkat nasional (20 menit).
- Murid menandai fakta penting mengenai kondisi ketenagakerjaan dan mengidentifikasi ragam masalah yang termuat dalam infografis tersebut secara mindful (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Tantangan 'Detektif Ketenagakerjaan': Murid dalam kelompok beranggotakan 4 orang menerima 'Peta Masalah Ketenagakerjaan Indonesia' berisi 4 kartu data kasus regional/nasional untuk dikelompokkan ke dalam kategori ragam masalah: Kasus 1 (Tingginya TPT Banten & Jawa Barat akibat otomatisasi pabrik -> Kategori: Masalah Pengangguran Terbuka Regional); Kasus 2 (Dominasi 60% pekerja nasional berpendidikan SMP ke bawah -> Kategori: Masalah Rendahnya Kualitas Tenaga Kerja Nasional); Kasus 3 (Perbedaan UMR tertinggi di DKI Jakarta Rp5,06 juta dan terendah Jawa Tengah Rp2,03 juta -> Kategori: Masalah Kesenjangan Upah Regional); Kasus 4 (Maraknya status kerja kontrak alih daya/outsourcing tanpa jaminan pensiun -> Kategori: Masalah Perlindungan/Kesejahteraan Tenaga Kerja Nasional) (25 menit).
- Setiap kelompok menuliskan hasil pengamatan mereka pada Format Pengamatan Ketenagakerjaan, mencakup rincian kondisi yang tampak dan ragam masalah ketenagakerjaan yang ditemukan dari keempat kasus (25 menit).
- Permainan Adu Cepat Cek Fakta: Guru membacakan satu kondisi ketenagakerjaan dan perwakilan kelompok mengangkat kartu kategori masalah yang tepat secara serentak dan menggembirakan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali lembar pengamatan kelompoknya untuk memastikan seluruh indikator kondisi dan ragam masalah ketenagakerjaan regional dan nasional tercatat lengkap tanpa tertukar (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan ragam masalah ketenagakerjaan regional dan nasional yang berhasil diamati hari ini (5 menit).
- Murid menyelesaikan lembar cek pemahaman individu akhir dan guru memberikan apresiasi atas kerja sama seluruh kelompok (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu data dengan poin kata kunci yang sudah ditebalkan; murid yang siap diberikan data tabel statistik BPS dengan ragam provinsi yang lebih lengkap.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibantu guru melalui panduan terarah saat mengelompokkan ragam masalah; murid mahir mengamati disparitas kondisi antarprovinsi secara mandiri.
- Produk: Format pengamatan dapat disajikan dalam bentuk tabel isian terstruktur atau diagram pengelompokan masalah.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis diagnostik pencocokan 3 fenomena ketenagakerjaan dengan skala cakupannya: (1) Tingkat pengangguran terbuka nasional 5,32% (acuan: Skala Nasional); (2) Penumpukan pencari kerja SMK di kawasan industri Cikarang-Karawang (acuan: Skala Regional/Kawasan); (3) Gelombang PHK industri tekstil Pulau Jawa (acuan: Skala Regional/Wilayah). Kriteria kesiapan: mampu mencocokkan minimal 2 dari 3 fenomena secara benar.
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan pengelompokan 4 kasus data pada Peta Masalah Ketenagakerjaan: (1) Kasus TPT Banten/Jabar dinilai dari ketepatan menetapkan ragam masalah pengangguran regional; (2) Kasus 60% pekerja lulusan SMP dinilai dari ketepatan menetapkan masalah kualitas tenaga kerja nasional; (3) Kasus disparitas UMR DKI vs Jateng dinilai dari ketepatan menetapkan masalah kesenjangan upah regional; (4) Kasus pekerja alih daya tanpa jaminan dinilai dari ketepatan menetapkan masalah perlindungan tenaga kerja nasional.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu mengamati data ringkas: Murid mengamati pernyataan 'Tingginya angka angkatan kerja di Kalimantan Timur yang belum terserap di sektor pertambangan' lalu menentukan skala (Regional) dan ragam masalah (Pengangguran/Keterbatasan Penyerapan Kerja). Acuan: skala regional, ragam masalah pengangguran/penyerapan tenaga kerja.
Formatif:- Penilaian kinerja pengamatan ragam masalah ketenagakerjaan regional dan nasional pada lembar kerja kelompok
- Kuis singkat diagnostik awal dan cek pemahaman akhir
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengamatan Kondisi dan Ragam Masalah Ketenagakerjaan Regional dan Nasional | Mengamati kondisi dan menetapkan ragam masalah secara tepat pada paling banyak 1 dari 4 kasus yang disediakan. | Mengamati kondisi dan menetapkan ragam masalah secara tepat pada 2 dari 4 kasus yang disediakan dengan bimbingan penuh guru. | Mengamati kondisi dan menetapkan ragam masalah secara tepat pada 3 sampai 4 kasus yang disediakan secara mandiri. | Mengamati kondisi dan menetapkan ragam masalah secara tepat pada seluruh (4 dari 4) kasus yang disediakan beserta perincian bukti data pendukung dari infografis secara konsisten dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah bahan data infografis BPS dan kartu kasus kontekstual memudahkan murid dalam mengamati ragam masalah ketenagakerjaan?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas kolaboratif 'Detektif Ketenagakerjaan' selama pembelajaran berlangsung?
Murid:- Apakah kamu dapat membedakan dengan jelas antara masalah ketenagakerjaan di tingkat regional dan skala nasional?
- Data ketenagakerjaan mana yang menurutmu paling mengejutkan saat kamu amati hari ini?
Pertemuan 5 — Mengumpulkan Informasi Permasalahan Tingkat Pengangguran dari Publikasi BPS — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.3 Mengumpulkan informasi berkaitan dengan kondisi dan permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, berdoa bersama, memeriksa presensi, dan menciptakan kesiapan belajar murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek kesiapan murid mengidentifikasi sumber dan indikator data ketenagakerjaan BPS melalui 2 pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Apa kepanjangan dari BPS?' (acuan: Badan Pusat Statistik); (2) 'Sebutkan indikator utama pengangguran yang biasa dirilis BPS!' (acuan: Tingkat Pengangguran Terbuka / TPT) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu melatih keterampilan mengumpulkan informasi data indikator pengangguran dari publikasi resmi BPS, serta menjelaskan alur aktivitas yang akan dilakukan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi terbimbing dari guru mengenai cara menavigasi publikasi BPS (Berita Resmi Statistik / BRS Ketenagakerjaan) serta mengenali 4 elemen informasi penting: periode rilis data, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional, TPT menurut wilayah (perkotaan vs perdesaan), dan TPT menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan (20 menit).
- Murid berpasangan mengikuti tantangan cepat 'Jelajah Data BPS' (joyful challenge) untuk menemukan dan mencocokkan 3 data acuan pada cuplikan infografis BRS BPS yang dibagikan guru: (1) Periode rilis data BPS (acuan: Februari 2024); (2) Angka TPT nasional (acuan: 4,82%); (3) Tingkat pendidikan dengan TPT tertinggi (acuan: SMK sebesar 8,62%) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Murid secara mandiri atau berpasangan membuka dokumen/lembar kerja publikasi BRS BPS Ketenagakerjaan yang disediakan untuk mengumpulkan informasi data spesifik permasalahan pengangguran (35 menit).
- Murid mencatat dan mengompilasi 4 butir informasi permasalahan pengangguran ke dalam Lembar Kerja Pengumpulan Data BPS: (1) Angka TPT nasional periode terbaru (acuan: 4,82%); (2) Perbandingan angka TPT perkotaan dan perdesaan (acuan: perkotaan 5,14% dan perdesaan 4,37%); (3) Dua jenjang pendidikan dengan TPT tertinggi (acuan: SMK 8,62% dan SMA 6,73%); (4) Jumlah total penganggur terbuka nasional (acuan: 7,20 juta orang) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan verifikasi silang (cross-check) hasil kompilasi data dengan pasangan sebangku untuk memastikan keakuratan angka dan sumber informasi yang dikumpulkan dari publikasi BPS (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti kegiatan pengumpulan informasi ketenagakerjaan dari publikasi BPS (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik ketercapaian pengumpulan data, mengapresiasi ketelitian murid, dan menginformasikan topik pertemuan ke-6 mengenai pengumpulan informasi kebijakan dari laman Kemnaker tanpa tugas rumah (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kutipan infografis BPS yang sudah ditandai bagian datanya, sedangkan murid yang mahir diberikan dokumen utuh BRS BPS Ketenagakerjaan lengkap dengan tabel lampiran.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara terfokus dalam membaca tabel data, sedangkan murid yang lebih cepat mengumpulkan data diperbolehkan menambah pencatatan variasi TPT berdasarkan jenis kelamin (laki-laki vs perempuan) dari dokumen yang sama.
- Produk: Pencatatan hasil kompilasi informasi data dapat disajikan dalam format tabel isian terstruktur atau format kartu ringkasan data statistik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan membaca data ketenagakerjaan: (1) Lembaga resmi pemerintah penyedia data statistik ketenagakerjaan (acuan: Badan Pusat Statistik / BPS); (2) Istilah singkatan persentase pengangguran resmi BPS (acuan: Tingkat Pengangguran Terbuka / TPT).
Proses:- Cek keakuratan pengumpulan data pada Lembar Kerja Pengumpulan Data BPS saat tahap Mengaplikasi, dinilai berdasarkan ketepatan pencatatan 4 target data: (1) TPT nasional (4,82%); (2) TPT perkotaan (5,14%) dan perdesaan (4,37%); (3) Dua TPT jenjang pendidikan tertinggi (SMK 8,62% dan SMA 6,73%); (4) Jumlah penganggur terbuka (7,20 juta orang).
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan lembar hasil pengumpulan data murid dengan kriteria ketuntasan: tepat mencatat minimal 3 dari 4 target data indikator pengangguran BPS sesuai acuan publikasi BRS Februari 2024.
Formatif:- Penilaian proses pengumpulan data menggunakan lembar observasi ketelitian dan kelengkapan kompilasi data BPS
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Keterampilan Mengumpulkan Informasi Pengangguran dari Publikasi BPS | Mengumpulkan kurang dari 2 butir data indikator pengangguran dari publikasi BPS secara tepat sesuai acuan dokumen. | Mengumpulkan 2 butir data indikator pengangguran dari publikasi BPS secara tepat sesuai acuan dokumen. | Mengumpulkan 3 butir data indikator pengangguran dari publikasi BPS secara tepat sesuai acuan dokumen. | Mengumpulkan seluruh 4 butir data indikator pengangguran dari publikasi BPS secara tepat dan lengkap sesuai acuan dokumen secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 135 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk membaca dan menemukan data dalam publikasi resmi BPS?
- Bagian mana dari dokumen statistik BPS yang paling menantang bagi murid saat mencari informasi?
Murid:- Apakah kamu dapat menemukan data tingkat pengangguran pada publikasi BPS dengan mudah?
- Kendala apa yang kamu hadapi saat membaca angka statistik dalam publikasi BPS?
Pertemuan 6 — Mengumpulkan Informasi Kebijakan dan Dinamika Ketenagakerjaan dari Laman Kemnaker — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.3 Mengumpulkan informasi berkaitan dengan kondisi dan permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengumpulkan informasi resmi mengenai program, kebijakan, dan dinamika ketenagakerjaan melalui publikasi/laman resmi Kemnaker (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek kesiapan murid dalam membedakan sumber informasi resmi dan jenis informasi ketenagakerjaan pemerintah (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru melalui tayangan panduan mengenai struktur laman resmi kemnaker.go.id, khususnya menu regulasi ketenagakerjaan, program pelatihan vokasi (SIAPkerja), dan berita penanganan dinamika tenaga kerja (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti kuis cepat pencarian kategori informasi: guru menyebutkan 3 topik informasi (1: Program Kartu Pra-Kerja/Pelatihan Vokasi, 2: Penetapan Upah Minimum, 3: Mediasi Hubungan Industrial/PHK) dan murid dengan cepat menunjuk menu/kanal yang sesuai di simulasi tampilan portal (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Pencatatan Informasi Ketenagakerjaan Kemnaker yang memuat 4 butir penelusuran informasi kebijakan dan dinamika ketenagakerjaan: (1) Nama program pelatihan/peningkatan kompetensi tenaga kerja resmi pemerintah, (2) Dasar kebijakan penetapan regulasi upah tenaga kerja, (3) Informasi layanan penyelesaian sengketa/pemutusan hubungan kerja (PHK), dan (4) Kanal/portal resmi integrasi layanan ketenagakerjaan digital (10 menit).
- Murid secara mandiri menelusuri laman resmi Kemnaker (atau lembar cetak ringkasan warta/arsip resmi portal Kemnaker yang disediakan guru) untuk mencatat fakta dan data terkait 4 butir informasi tersebut (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali kelengkapan dan kesesuaian 4 butir informasi yang telah dicatat berdasarkan lembar kriteria verifikasi yang ditampilkan guru di papan tulis (20 menit).
Penutup:- Guru memfasilitasi penarikan simpulan bersama terkait pentingnya merujuk portal resmi pemerintah dalam menghimpun data kebijakan dan permasalahan ketenagakerjaan (15 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid, memberikan gambaran materi pertemuan berikutnya, serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan navigasi langkah-demi-langkah (URL langsung ke direktori program pelatihan dan regulasi upah), sedangkan murid yang cepat diberikan akses ke dokumen siaran pers/laporan tahunan lengkap.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan bekerja dengan penelusuran terarah per butir, sementara murid yang telah mahir dapat menghimpun rincian data regulasi secara mandiri.
- Produk: Format pencatatan informasi tetap seragam pada 4 butir inti lembar pencatatan informasi Kemnaker.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik: Murid diminta menentukan apakah 2 pernyataan berikut benar/salah terkait kanal informasi pemerintah: (1) 'Informasi pelatihan kerja pemerintah dan lowongan resmi terintegrasi dalam platform digital SIAPkerja Kemnaker' (acuan: Benar), (2) 'Regulasi upah minimum provinsi diterbitkan secara perorangan oleh perusahaan swasta' (acuan: Salah, ditetapkan oleh gubernur berdasarkan regulasi kebijakan ketenagakerjaan pemerintah).
Proses:- Observasi saat kegiatan inti penelusuran mandiri: Guru memeriksa kelengkapan pengisian Lembar Pencatatan Informasi Ketenagakerjaan Kemnaker pada 4 butir target informasi: (1) Program pelatihan vokasi/Balai Latihan Kerja/SIAPkerja, (2) Kebijakan regulasi upah minimum (PP No. 51/2023 atau Permenaker terkait), (3) Layanan mediasi hubungan industrial/informasi mitigasi PHK, (4) Platform digital terpadu Kemnaker (portal SIAPkerja/kemnaker.go.id).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan Lembar Pencatatan Informasi Ketenagakerjaan: Murid mengumpulkan lembar pencatatan yang memuat data terverifikasi dari 4 butir fokus informasi. Kriteria penerimaan operasional: (1) Menyebutkan minimal 1 nama program pelatihan kerja pemerintah (misal: Pelatihan Vokasi BLK/BPVP atau Kartu Prakerja), (2) Menyebutkan minimal 1 regulasi/kebijakan pengupahan resmi, (3) Mencatat informasi layanan penanganan sengketa ketenagakerjaan/PHK, (4) Menyebutkan alamat/nama portal resmi layanan terintegrasi Kemnaker.
Formatif:- Penilaian kinerja penelusuran dan pencatatan 4 butir informasi kebijakan dan dinamika ketenagakerjaan pada Lembar Pencatatan Kemnaker.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan dan Ketepatan Pengumpulan Informasi Kebijakan Kemnaker | Mengumpulkan kurang dari 2 butir informasi dari laman Kemnaker dengan tepat sesuai acuan kriteria. | Mengumpulkan 2 butir informasi dari laman Kemnaker dengan tepat sesuai acuan kriteria. | Mengumpulkan 3 butir informasi dari laman Kemnaker dengan tepat sesuai acuan kriteria secara mandiri. | Mengumpulkan seluruh 4 butir informasi dari laman Kemnaker dengan tepat dan lengkap sesuai acuan kriteria secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah perangkat teknologi atau lembar arsip informasi Kemnaker yang disiapkan berfungsi optimal dalam memfasilitasi murid mengumpulkan informasi?
- Apakah seluruh murid mampu menemukan butir informasi kebijakan ketenagakerjaan yang ditargetkan secara mandiri?
Murid:- Bagian mana dari penelusuran laman resmi Kemnaker yang paling mudah dan paling menantang untuk saya temukan informasinya?
- Bagaimana informasi ketenagakerjaan resmi ini membantu saya mengetahui hak dan program peningkatan keterampilan dari pemerintah?
Pertemuan 7 — Menganalisis Masalah Pengangguran Terbuka dan Setengah Pengangguran Berdasarkan Konsep Ekonomi — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.4 Menganalisis masalah ketenagakerjaan yang sedang terjadi berdasarkan konsep yang sudah dipelajari
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam dan presensi, lalu menyampaikan fokus pertemuan yaitu menganalisis masalah pengangguran terbuka dan setengah pengangguran (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta mengidentifikasi status ketenagakerjaan dari 2 kasus cepat: (1) Doni, lulusan SMK yang tidak bekerja dan aktif mengirim lamaran kerja setiap hari; (2) Pak Rahmat, buruh tani yang hanya bekerja 18 jam seminggu karena sawah sedang menunggu musim panen. Acuan jawaban benar: Kasus 1 adalah Pengangguran Terbuka; Kasus 2 adalah Setengah Pengangguran (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak ulasan konsep ekonomi mengenai definisi pengangguran terbuka (angkatan kerja yang sama sekali tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan/mempersiapkan usaha) dan setengah pengangguran (pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal yaitu kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari/bersedia menerima pekerjaan tambahan) (15 menit).
- Dalam aktivitas cepat bernuansa ceria 'Tebak Status Kerja', guru menampilkan 3 profil mini: (1) Siti, sarjana akuntansi yang belum pernah bekerja dan sedang mendaftar CPNS; (2) Joko, pengemudi ojek daring yang hanya bekerja 20 jam seminggu dan bersedia menambah jam kerja bila ada order; (3) Anton, teknisi bengkel yang bekerja 42 jam seminggu. Murid mengangkat kartu kode 'PT' (Pengangguran Terbuka), 'SP' (Setengah Pengangguran), atau 'BP' (Bukan Penganggur/Pekerja Penuh). Acuan jawaban benar: Profil 1 = PT, Profil 2 = SP, Profil 3 = BP (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membentuk kelompok berpasangan untuk menganalisis 4 kasus masalah ketenagakerjaan pada Lembar Analisis Kasus berdasarkan konsep ekonomi yang dipelajari: Kasus A (Hendra lulusan universitas yang 8 bulan menganggur dan rutin mengikuti bursa kerja), Kasus B (Bu Warsi buruh petik teh yang bekerja 14 jam seminggu karena keterbatasan giliran lahan petik), Kasus C (Rian yang membuka lapak makanan hanya 3 hari seminggu dengan total 18 jam seminggu dan mencari pekerjaan tambahan), dan Kasus D (Alfi yang baru di-PHK dan sedang menunggu panggilan wawancara kerja) (30 menit).
- Setiap pasangan menuliskan analisis konseptualnya: mengelompokkan jenis pengangguran (Kasus A = Pengangguran Terbuka, Kasus B = Setengah Pengangguran, Kasus C = Setengah Pengangguran, Kasus D = Pengangguran Terbuka) beserta alasan analisis berbasis indikator jam kerja normal (< 35 jam/minggu) atau ketiadaan pekerjaan sama sekali pada angkatan kerja (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis dari keempat kasus tersebut dengan kunci acuan konsep ekonomi, mengidentifikasi perbedaan kunci antara pengangguran terbuka dan setengah pengangguran (15 menit).
Penutup:- Guru membagikan asesmen akhir berupa lembar cek pemahaman berformat 2 butir pernyataan analisis untuk dikerjakan secara mandiri guna memverifikasi penguasaan konsep masalah ketenagakerjaan (10 menit).
- Guru memberikan penguatan materi pembedaan pengangguran terbuka dan setengah pengangguran serta menutup pertemuan dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan kriteria konsep (batasan 35 jam kerja dan status keaktifan mencari kerja), sedangkan murid yang cepat diberikan 2 kasus analisis tambahan yang melibatkan situasi pekerjaan musiman dan kerja paruh waktu sukarela.
- Proses: Pada tahap Mengaplikasi, murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam membaca data jam kerja, sementara murid yang telah mahir menganalisis secara mandiri.
- Produk: Analisis dituangkan dalam lembar kerja tabel klasifikasi dengan kedalaman penjelasan alasan ekonomi yang proporsional.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik singkat di awal pertemuan: Murid menentukan status 2 kasus ketenagakerjaan: (1) Doni, lulusan SMK yang tidak bekerja dan aktif mengirim lamaran kerja setiap hari; (2) Pak Rahmat, buruh tani yang hanya bekerja 18 jam seminggu karena sawah sedang menunggu musim panen. Acuan jawaban benar: Kasus 1 = Pengangguran Terbuka (karena sama sekali tidak bekerja dan aktif mencari kerja); Kasus 2 = Setengah Pengangguran (karena bekerja tetapi di bawah 35 jam seminggu).
Proses:- Penilaian analisis kelompok pada Lembar Analisis 4 Kasus: Kasus A (Hendra tidak bekerja, rutin ikut bursa kerja), Kasus B (Bu Warsi bekerja 14 jam/minggu), Kasus C (Rian bekerja 18 jam/minggu dan mencari tambahan), Kasus D (Alfi di-PHK, menunggu panggilan wawancara). Acuan jawaban: Kasus A = Pengangguran Terbuka; Kasus B = Setengah Pengangguran; Kasus C = Setengah Pengangguran; Kasus D = Pengangguran Terbuka. Penskoran: Tiap kasus bernilai 25 poin (10 poin ketepatan jenis pengangguran, 15 poin ketepatan analisis konsep jam kerja/status kerja), total skor maksimal 100.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri di akhir sesi: Murid menganalisis 2 butir kasus: (1) Dimas berstatus angkatan kerja, tidak memiliki pekerjaan apa pun, dan telah melamar ke 5 perusahaan bulan ini; (2) Lina bekerja sebagai kasir toko hanya 20 jam seminggu dan bersedia mengambil shift tambahan jika tersedia. Acuan jawaban: Butir 1 dianalisis sebagai Pengangguran Terbuka (alasan: angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari kerja); Butir 2 dianalisis sebagai Setengah Pengangguran (alasan: jam kerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari/bersedia menambah kerja).
Formatif:- Asesmen awal diagnostik identifikasi 2 kasus cepat pengangguran terbuka dan setengah pengangguran.
- Asesmen proses melalui Lembar Analisis Kasus Ketenagakerjaan (4 kasus analisis berpasangan).
- Asesmen akhir cek pemahaman mandiri tertulis 2 butir kasus.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Analisis Pengangguran Terbuka dan Setengah Pengangguran | Menganalisis kurang dari 2 dari 4 kasus secara tepat berdasarkan konsep ekonomi (acuan: Kasus A = Pengangguran Terbuka, Kasus B = Setengah Pengangguran, Kasus C = Setengah Pengangguran, Kasus D = Pengangguran Terbuka). | Menganalisis tepat 2 dari 4 kasus secara tepat berdasarkan konsep ekonomi (acuan: Kasus A = Pengangguran Terbuka, Kasus B = Setengah Pengangguran, Kasus C = Setengah Pengangguran, Kasus D = Pengangguran Terbuka). | Menganalisis tepat 3 dari 4 kasus secara tepat berdasarkan konsep ekonomi (acuan: Kasus A = Pengangguran Terbuka, Kasus B = Setengah Pengangguran, Kasus C = Setengah Pengangguran, Kasus D = Pengangguran Terbuka). | Menganalisis seluruh 4 dari 4 kasus secara tepat berdasarkan konsep ekonomi (acuan: Kasus A = Pengangguran Terbuka, Kasus B = Setengah Pengangguran, Kasus C = Setengah Pengangguran, Kasus D = Pengangguran Terbuka) dengan alasan konsep jam kerja normal dan status keaktifan angkatan kerja. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mampu membedakan konsep jam kerja normal (< 35 jam per minggu) pada setengah pengangguran dengan kondisi sama sekali tidak bekerja pada pengangguran terbuka?
- Bagian studi kasus mana yang paling sering menimbulkan miskonsepsi pada analisis murid?
Murid:- Apa indikator utama yang saya gunakan untuk membedakan seseorang yang mengalami pengangguran terbuka dengan setengah pengangguran?
- Mengapa seseorang yang sudah bekerja selama 20 jam seminggu tetap digolongkan mengalami masalah setengah pengangguran menurut konsep ekonomi?
Pertemuan 8 — Menganalisis Masalah Kesenjangan Keterampilan Tenaga Kerja dan Upah Berdasarkan Konsep Ekonomi — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.4 Menganalisis masalah ketenagakerjaan yang sedang terjadi berdasarkan konsep yang sudah dipelajari
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, mengajak murid berdoa sesuai keyakinan masing-masing, memeriksa kehadiran, dan memastikan kesiapan fisik serta ruang belajar yang kondusif (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8 yaitu menganalisis masalah kesenjangan keterampilan (skill mismatch) dan penetapan sistem upah berdasarkan konsep penawaran dan permintaan tenaga kerja (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan interaktif berisi 2 pertanyaan: (1) 'Apa yang dimaksud dengan skill mismatch?', dan (2) 'Faktor ekonomi apa yang menyebabkan upah seorang pekerja terampil lebih tinggi dibandingkan pekerja tidak terampil?' untuk mengukur kesiapan pemahaman konsep dasar murid (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak pemaparan guru dan infografik singkat mengenai kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja, konsep kesenjangan keterampilan struktural (kualifikasi lulusan vs kebutuhan industri), serta perbedaan sistem pengupahan (upah minimum, upah berbasis produktivitas) (15 menit).
- Murid berpasangan memainkan aktivitas tantangan tebak cepat 'Pasang Konsep' menggunakan kartu istilah dan definisi ekonomi: memadukan konsep 'Kesenjangan Keterampilan Vertikal' (ketidaksesuaian tingkat pendidikan), 'Kesenjangan Keterampilan Horizontal' (ketidaksesuaian bidang keahlian), dan 'Keseimbangan Upah Pasar' (titik temu permintaan dan penawaran tenaga kerja) untuk membangun pemahaman yang menyenangkan (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membagi murid ke dalam kelompok kerja (beranggotakan 4-5 orang) dan membagikan Lembar Kerja Analisis Masalah Ketenagakerjaan yang memuat 2 studi kasus kontekstual: Kasus A (industri manufaktur otomotif mengalami kekurangan teknisi robotik meski pelamar kerja lulusan umum melimpah) dan Kasus B (disparitas upah minimum antar-daerah dan pengaruh upah terhadap penawaran tenaga kerja terampil) (10 menit).
- Murid dalam kelompok menganalisis Kasus A dengan mengidentifikasi jenis ketidaksesuaian keterampilan, faktor pemicunya dari sisi kurikulum pendidikan vs kebutuhan industri, serta menganalisis dampaknya terhadap pengangguran friksional/struktural menggunakan konsep elastisitas penawaran tenaga kerja (15 menit).
- Murid dalam kelompok menganalisis Kasus B dengan menguraikan hubungan antara tingkat upah dengan produktivitas marjinal tenaga kerja, serta menganalisis konsekuensi penetapan upah minimum terhadap kelebihan penawaran tenaga kerja (surplus penawaran/pengangguran) menggunakan analisis kurva upah (20 menit).
- Perwakilan kelompok menempelkan lembar hasil analisis di papan informasi kelas, lalu setiap kelompok berkeliling mengamati hasil analisis kelompok lain dan memberikan catatan konseptual tertulis (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama murid memvalidasi hasil analisis kelompok dengan mengaitkan kembali temuan kasus ke teori penawaran-permintaan tenaga kerja dan disparitas upah berdasarkan kompetensi (10 menit).
- Murid menuliskan refleksi pribadi berkesadaran pada jurnal belajar mengenai kesiapan keterampilan yang perlu mereka asah di era digital agar memiliki daya tawar ekonomi yang tinggi di pasar tenaga kerja (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap ketajaman analisis ekonomi murid dan mengonfirmasi pencapaian kompetensi pada pertemuan ini (5 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 9: Menarik Kesimpulan Faktor Penyebab Struktural Masalah Pengangguran) dan menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama serta salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan alur analisis yang memuat panduan diagram penawaran-permintaan tenaga kerja sederhana, sedangkan murid yang mahir diberikan data tambahan tabel tren upah regional riil BPS untuk dianalisis disparitasnya.
- Proses: Pada tahap Mengaplikasi, kelompok dengan pemahaman konsep dasar yang masih berkembang didampingi langsung oleh guru melalui scaffolding terstruktur per pertanyaan kasus, sementara kelompok yang mandiri langsung melakukan analisis mendalam secara kolaboratif.
- Produk: Format penyajian hasil analisis dapat berupa bagan matriks masalah-konsep atau narasi esai terstruktur sesuai kesepakatan kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran dengan 2 pertanyaan acuan: (1) 'Apa yang dimaksud dengan kesenjangan keterampilan (skill mismatch)?' (Acuan jawaban: Ketidaksesuaian antara keterampilan atau kualifikasi yang dimiliki oleh pencari kerja dengan keterampilan atau kualifikasi yang dibutuhkan oleh pemberi kerja di pasar tenaga kerja); (2) 'Mengapa upah tenaga kerja dengan keahlian khusus cenderung lebih tinggi?' (Acuan jawaban: Karena penawaran tenaga kerja terampil jumlahnya relatif terbatas/inelastis sementara permintaannya tinggi, sehingga titik keseimbangan upah pasar terbentuk pada tingkat yang lebih tinggi).
Proses:- Penilaian unjuk kerja analisis pada Lembar Kerja Masalah Ketenagakerjaan kelompok yang memeriksa 2 aspek: (1) Analisis Kasus A: ketepatan mengidentifikasi jenis kesenjangan keterampilan (horizontal/vertikal) dan mengaitkannya dengan ketidakseimbangan penawaran-permintaan tenaga kerja terampil; (2) Analisis Kasus B: ketepatan menguraikan mekanisme pembentukan upah berdasarkan produktivitas/keahlian dan dampak upah minimum terhadap keseimbangan pasar kerja.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di akhir sesi berupa 1 soal tiket keluar (exit ticket): 'Jelaskan secara singkat menggunakan konsep permintaan dan penawaran tenaga kerja, mengapa lulusan baru yang tidak memiliki keahlian digital mengalami hambatan upah dan penyerapan kerja!' (Kriteria penerimaan: Jawaban memuat bahwa penawaran tenaga kerja non-digital melimpah/surplus sedangkan permintaan industri bergeser ke keahlian digital, sehingga harga keseimbangan upah bagi tenaga kerja tanpa keahlian digital menjadi rendah atau mereka tidak terserap di pasar kerja).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di pendahuluan pembelajaran mengenai konsep skill mismatch dan upah
- Penilaian proses observasi diskusi dan ketercapaian pengisian Lembar Kerja Analisis Masalah Ketenagakerjaan (Kasus A dan Kasus B) menggunakan rubrik analitik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Kesenjangan Keterampilan Tenaga Kerja | Belum mampu mengidentifikasi bentuk kesenjangan keterampilan dan belum mampu mengaitkannya dengan konsep penawaran atau permintaan tenaga kerja. | Mampu menyebutkan bentuk kesenjangan keterampilan (vertikal/horizontal), tetapi analisis keterkaitannya dengan konsep penawaran dan permintaan tenaga kerja masih belum tepat. | Mampu menganalisis masalah kesenjangan keterampilan secara tepat dengan mengaitkannya pada ketidakseimbangan penawaran dan permintaan tenaga kerja di pasar kerja. | Mampu menganalisis masalah kesenjangan keterampilan secara mendalam dan komprehensif, mengaitkannya secara tepat dengan dinamika pergeseran kurva permintaan-penawaran tenaga kerja serta dampaknya terhadap pengangguran struktural secara mandiri. | | Analisis Masalah Upah Berdasarkan Konsep Ekonomi | Belum mampu menguraikan faktor penentu upah dan keterkaitannya dengan konsep pasar tenaga kerja. | Mampu menyebutkan faktor penentu upah (seperti upah minimum atau keahlian), tetapi analisis dampaknya terhadap keseimbangan pasar tenaga kerja belum tepat. | Mampu menganalisis penetapan upah dan disparitas upah secara tepat berdasarkan konsep keseimbangan penawaran-permintaan tenaga kerja dan produktivitas. | Mampu menganalisis dinamika penetapan upah dan implikasi kebijakan upah minimum terhadap kurva keseimbangan pasar tenaga kerja (surplus/defisit tenaga kerja) secara tepat, rinci, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 135 menit mencukupi untuk memfasilitasi murid menganalisis kedua studi kasus (kesenjangan keterampilan dan upah) secara mendalam?
- Bagian mana dari konsep ekonomi tenaga kerja (kurva upah atau kesenjangan keterampilan) yang masih dirasa rumit oleh murid?
- Apakah diferensiasi scaffolding kelompok telah berjalan efektif membantu murid yang belum berkembang?
Murid:- Konsep ekonomi apa yang paling membuka wawasan saya mengenai alasan terjadinya perbedaan upah di dunia kerja?
- Keterampilan atau keahlian apa yang paling perlu saya persiapkan sejak sekarang agar terhindar dari masalah kesenjangan keterampilan di masa depan?
Pertemuan 9 — Menarik Kesimpulan Faktor Penyebab Struktural Masalah Pengangguran — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.5 Menarik kesimpulan terkait faktor penyebab masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, memimpin doa, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-9, yaitu menarik kesimpulan terkait faktor penyebab struktural masalah pengangguran (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 2 pertanyaan untuk mengecek kesiapan murid membedakan jenis pengangguran berdasarkan penyebab: (1) 'Apakah pengangguran akibat pergantian mesin manual menjadi mesin digital disebut friksional atau struktural?' (acuan: struktural); (2) 'Apakah penolakan tawaran kerja karena ingin mencari gaji lebih tinggi termasuk struktural atau friksional?' (acuan: friksional) (4 konfirmasi jawaban benar) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan konsep esensial dan contoh kasus pengangguran struktural, yaitu kondisi ketika pencari kerja tidak mampu memenuhi kualifikasi keterampilan yang dibutuhkan akibat pergeseran struktur ekonomi atau kemajuan teknologi (10 menit).
- Secara berpasangan, murid memainkan permainan tebak cepat kartu skenario penyebab pengangguran; guru membagikan 3 kartu kasus berikut: Kasus A: 'Penjaga gerbang tol kehilangan pekerjaan karena sistem gardu tol otomatis'; Kasus B: 'Petani tidak bisa memanen padi karena musim kemarau panjang'; Kasus C: 'Pabrik tekstil konvensional tutup karena beralih ke mesin pemintal robotik terkomputerisasi sehingga pekerja lama yang tidak mahir komputer dirumahkan'. Pasangan murid mengidentifikasi kartu mana yang merupakan pengangguran struktural beserta alasannya (acuan benar: Kasus A dan Kasus C adalah pengangguran struktural karena dipicu penggantian teknologi dan perubahan struktur keahlian kerja; Kasus B adalah musiman) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid berkumpul dalam kelompok kecil beranggotakan 4 orang untuk menelaah Lembar Kerja Studi Kasus Struktural yang memuat 3 data kasus riil: Kasus 1: Perubahan kawasan agraris menjadi kawasan industri manufaktur teknologi tinggi di Jawa Barat di mana pemuda lokal belum memiliki kompetensi teknis mesin; Kasus 2: Digitalisasi layanan perbankan yang mengurangi teller fisik; Kasus 3: Penutupan tambang batu bara konvensional di suatu kabupaten yang bertransisi ke energi terbarukan (15 menit).
- Setiap kelompok berdiskusi menarik kesimpulan mengenai 3 faktor utama penyebab struktural terjadinya masalah pengangguran pada lembar kerja: (1) pergeseran struktur ekonomi (agraris/ekstraktif ke industri/jasa modern), (2) perkembangan teknologi/otomatisasi yang menggantikan peran tenaga kerja manual, dan (3) ketidakcocokan keterampilan (skills mismatch) antara kompetensi angkatan kerja dan kebutuhan kualifikasi baru (acuan: ketiga faktor tersebut harus tercantum dalam penarikan kesimpulan) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara berkesadaran menghubungkan faktor penyebab struktural yang telah disimpulkan dengan persiapan kompetensi diri mereka masing-masing dalam menghadapi perubahan pasar kerja di masa depan (8 menit).
- Perwakilan murid menyampaikan intisari penarikan kesimpulan kelompok tentang faktor penyebab struktural, sementara kelompok lain menyamakan catatan kesimpulan di bawah panduan verifikasi guru (7 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali poin inti faktor penyebab pengangguran struktural (pergeseran struktur ekonomi, disrupsi teknologi, dan mismatch keterampilan) (5 menit).
- Guru memberikan penguatan dan menyampaikan gambaran materi pertemuan berikutnya mengenai faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman, lalu menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan pengarah berupa daftar kata kunci faktor penyebab (teknologi, keahlian, struktur ekonomi); murid cepat diberikan artikel pengayaan mengenai studi kasus otomasi kecerdasan buatan (AI) di industri kreatif.
- Proses: Pada tahap diskusi kelompok, guru mendampingi secara intensif kelompok murid yang lambat memahami transisi struktur ekonomi, sementara kelompok mandiri mengeksplorasi data kasus secara mandiri.
- Produk: Penarikan kesimpulan dituangkan dalam bentuk bagan alur hubungan sebab-akibat atau paragraf simpulan terstruktur sesuai kesepakatan kelompok tanpa mengubah tuntutan ketiga faktor penyebab struktural.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di pendahuluan: (1) 'Apakah pengangguran akibat pergantian mesin manual menjadi mesin digital disebut friksional atau struktural?' (acuan jawaban: struktural); (2) 'Apakah penolakan tawaran kerja karena ingin mencari gaji lebih tinggi termasuk struktural atau friksional?' (acuan jawaban: friksional).
Proses:- Observasi keterlibatan murid dalam menarik kesimpulan dari 3 studi kasus pada lembar kerja (kriteria: murid mampu mengidentifikasi kaitan antara otomasi/pergeseran sektor dengan ketidaksesuaian keahlian kerja)
- Pengecekan isian penarikan kesimpulan faktor struktural kelompok terhadap 3 kriteria acuan: faktor pergeseran struktur ekonomi, faktor otomasi/perkembangan teknologi, dan faktor ketidakcocokan keterampilan (skills mismatch).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di lembar refleksi: Menuliskan 1 kalimat kesimpulan inti mengenai apa penyebab utama seseorang mengalami pengangguran struktural (acuan jawaban benar: Pengangguran struktural disebabkan oleh ketidakmampuan tenaga kerja menyesuaikan keterampilan dengan perubahan teknologi atau pergeseran struktur perekonomian).
Formatif:- Penilaian performa diskusi kelompok saat menarik kesimpulan faktor penyebab struktural pengangguran menggunakan lembar observasi dan rubrik
- Pemeriksaan lembar kerja kelompok penarikan kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penarikan Kesimpulan Faktor Penyebab Pengangguran Struktural | Belum mampu menarik kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural, atau kesimpulan yang ditulis tidak memuat satupun dari 3 faktor acuan (pergeseran struktur ekonomi, perkembangan teknologi/otomasi, ketidakcocokan keterampilan). | Mampu menarik kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural dengan tepat memuat 1 dari 3 faktor acuan (pergeseran struktur ekonomi, perkembangan teknologi/otomasi, atau ketidakcocokan keterampilan) dengan bimbingan guru. | Mampu menarik kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural secara tepat memuat 2 dari 3 faktor acuan (pergeseran struktur ekonomi, perkembangan teknologi/otomasi, ketidakcocokan keterampilan) secara mandiri. | Mampu menarik kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural secara lengkap dan tepat mencakup seluruh 3 faktor acuan (pergeseran struktur ekonomi, perkembangan teknologi/otomasi, dan ketidakcocokan keterampilan) secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan faktor penyebab struktural dengan faktor penyebab pengangguran lainnya secara mandiri?
- Apakah alokasi waktu pada tiap tahap pembelajaran (khususnya saat telaah studi kasus) berjalan efektif dan mencukupi?
Murid:- Apa hal baru yang saya pahami tentang alasan mengapa teknologi dapat memicu terjadinya pengangguran struktural?
- Keterampilan apa yang perlu saya persiapkan agar tidak terdampak risiko pengangguran struktural di masa mendatang?
Pertemuan 10 — Menarik Kesimpulan Faktor Penyebab Friksional dan Musiman Masalah Ketenagakerjaan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.5 Menarik kesimpulan terkait faktor penyebab masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan fokus pertemuan hari ini yaitu menarik kesimpulan faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat menggunakan 2 pertanyaan tertulis: (1) Apa yang membedakan pengangguran karena menunggu panggilan kerja dengan pengangguran akibat pergantian musim tanam/panen? (acuan: menunggu panggilan kerja = friksional karena jeda pencocokan informasi/waktu tunggu; musim tanam/panen = musiman karena perubahan siklus alam/musim kerja); (2) Sebutkan 1 contoh nyata masing-masing pengangguran tersebut di lingkungan sekitar! (acuan: contoh friksional seperti sarjana baru lulus sedang melamar kerja; contoh musiman seperti buruh tani menunggu musim panen) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati dan membedah 2 studi kasus singkat yang disajikan guru: Kasus 1 (Pak Danu mengundurkan diri dari kantor lama karena ingin mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi dan lokasi lebih dekat, saat ini sedang menjalani proses seleksi di 2 perusahaan baru); Kasus 2 (Pak Joko dan buruh tani di Desa Sukamaju tidak memiliki pekerjaan selama 3 bulan di musim kemarau panjang sambil menunggu musim tanam berikutnya) (10 menit).
- Dalam kelompok berpasangan, murid berpartisipasi dalam kuis kilat interaktif 'Tebak Faktor Cepat' dengan menganalisis 4 kartu situasi: Kartu A (Lulusan SMK sedang menunggu pengumuman tes kerja BUMN), Kartu B (Pemandu wisata arung jeram menganggur saat sungai surut di musim kemarau), Kartu C (Karyawan pindah domisili antarprovinsi dan mencari lowongan baru), Kartu D (Petani cengkih menunggu masa panen raya tahun depan). Pasangan murid mengelompokkan faktor penyebab ke dalam friksional (Kartu A dan C: faktor jeda waktu pencarian/informasi) atau musiman (Kartu B dan D: faktor siklus musim/alam) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bekerja dalam kelompok berpasangan mengerjakan Lembar Kerja Menarik Kesimpulan yang menyajikan 4 narasi permasalahan riil: Narasi 1 (Wulan lulusan baru sarjana akuntansi 2 bulan belum bekerja karena menyeleksi tawaran kerja bergaji sesuai ekspektasi); Narasi 2 (Pekerja pembuat garam di pesisir utara berhenti produksi selama 4 bulan musim hujan lebat); Narasi 3 (Rian berhenti dari perusahaan logistik karena ingin mencari posisi manajemen di kota lain); Narasi 4 (Pemetik teh di pegunungan diliburkan sebulan akibat penurunan produksi pada musim kering ekstrem) (25 menit).
- Setiap murid menarik kesimpulan tertulis pada lembar kerja mengenai faktor utama penyebab masalah ketenagakerjaan pada tiap narasi: Narasi 1 dan 3 disimpulkan bersumber dari faktor friksional (kesenjangan informasi lowongan, proses rekrutmen, dan preferensi mencari kompensasi/posisi lebih baik); Narasi 2 dan 4 disimpulkan bersumber dari faktor musiman (ketergantungan pada siklus cuaca/musim berkala yang menghentikan aktivitas produksi sementara) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali secara mandiri rumusan kesimpulan yang telah ditarik, memastikan alasan ekonomi yang mendasari kategorisasi faktor friksional dan musiman sudah tepat serta tidak tertukar dengan faktor struktural (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir soal uraian singkat: (1) Tarik kesimpulan faktor apa yang menyebabkan pemetik buah apel di Batu menganggur pada bulan April-Juni! (acuan: faktor musiman akibat siklus masa panen buah selesai); (2) Tarik kesimpulan faktor apa yang menyebabkan seorang programmer yang baru resign belum bekerja selama 1 bulan! (acuan: faktor friksional akibat waktu tunggu proses negosiasi dan seleksi pekerjaan baru) (4 menit).
- Guru menyampaikan umpan balik hasil penarikan kesimpulan murid dan mengingatkan materi pertemuan berikutnya mengenai solusi peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan dan sertifikasi (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata kunci pemandu faktor (faktor friksional: 'jeda waktu/informasi/pencarian gaji lebih baik'; faktor musiman: 'siklus musim/cuaca/masa panen'). Murid yang berpencapaian tinggi diberikan narasi tambahan kasus pekerja sektor perhotelan di kawasan wisata pegunungan saat musim sepi pengunjung (low season).
- Proses: Murid yang masih kesulitan menarik kesimpulan dibimbing guru dengan teknik scaffolding bertahap dari pemisahan kata kunci narasi, sedangkan murid mahir langsung menarik kesimpulan keterkaitan faktor secara mandiri.
- Produk: Format penarikan kesimpulan dapat berupa tabel ringkasan faktor penyebab atau uraian argumentatif 2 paragraf terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tertulis 2 butir soal: (1) Jelaskan perbedaan penyebab pengangguran friksional dan musiman (acuan: friksional disebabkan waktu tunggu/pencarian kerja baru yang lebih baik; musiman disebabkan perubahan musim/siklus alam); (2) Berikan masing-masing 1 contoh di lingkungan sekitar (acuan: friksional = pencari kerja baru lulus; musiman = buruh tani di masa jeda panen).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan kesimpulan pada Lembar Kerja Menarik Kesimpulan untuk 4 narasi kasus: Narasi 1 (faktor friksional: proses penyesuaian/pencarian tawaran terbaik), Narasi 2 (faktor musiman: curah hujan menghentikan pembuatan garam), Narasi 3 (faktor friksional: perpindahan tempat/waktu tunggu proses lamaran), Narasi 4 (faktor musiman: musim kering menurunkan produksi daun teh). Kriteria ketuntasan: minimal 3 dari 4 narasi ditarik kesimpulan faktornya secara tepat sesuai acuan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman 2 butir penarikan kesimpulan: (1) Penarikan kesimpulan faktor pada kasus buruh petik apel (acuan: faktor musiman karena bergantung pada siklus panen tahunan); (2) Penarikan kesimpulan faktor pada programmer resign (acuan: faktor friksional karena jeda waktu proses seleksi dan transisi kerja baru).
Formatif:- Penilaian Lembar Kerja Menarik Kesimpulan (menilai ketepatan murid menyimpulkan faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman pada 4 narasi kasus).
- Observasi unjuk kerja saat kuis berpasangan mengidentifikasi faktor penyebab pada 4 kartu situasi.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Penarikan Kesimpulan Faktor Penyebab Pengangguran Friksional dan Musiman | Menarik kesimpulan secara tepat pada 1 dari 4 narasi kasus faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman. | Menarik kesimpulan secara tepat pada 2 dari 4 narasi kasus faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman sesuai acuan. | Menarik kesimpulan secara tepat pada 3 dari 4 narasi kasus faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman sesuai acuan. | Menarik kesimpulan secara tepat pada seluruh 4 narasi kasus faktor penyebab pengangguran friksional dan musiman secara lengkap dan mandiri sesuai acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu penarikan kesimpulan kasus nyata friksional dan musiman berjalan efektif sesuai rencana?
- Apakah variasi narasi kasus lokal cukup memudahkan murid membedakan faktor friksional dengan faktor musiman?
Murid:- Apa indikator utama yang mempermudah saya mengenali bahwa suatu masalah pengangguran disebabkan oleh faktor musiman versus faktor friksional?
- Bagian penarikan kesimpulan kasus mana yang masih membuat saya ragu atau membutuhkan klarifikasi lebih lanjut?
Pertemuan 11 — Memberikan Solusi Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja melalui Pelatihan dan Sertifikasi — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.6 Memberikan solusi atas permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar kondusif (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-11, yaitu merumuskan solusi atas permasalahan kualitas tenaga kerja melalui program pelatihan dan sertifikasi kompetensi (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat dengan menampilkan 3 contoh kasus masalah ketenagakerjaan di papan tulis: (1) Tenaga kerja minim penguasaan teknologi mesin otomotif modern, (2) Lulusan baru belum memiliki standar keahlian pengelasan industri, (3) Pekerja administrasi belum menguasai pengolahan data digital; murid diminta menuliskan bentuk solusi yang tepat: pelatihan atau sertifikasi (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan konsep tentang bentuk-bentuk solusi peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan kerja (up-skilling, re-skilling di Balai Latihan Kerja/BLK) dan sertifikasi kompetensi profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk memenuhi standar industri (15 menit).
- Murid dalam kelompok berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Pencocok Solusi Ketenagakerjaan': menghubungkan 4 profil kesenjangan keterampilan kerja dengan bentuk program pelatihan dan sertifikasi yang paling tepat secara cepat dan tepat (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menerima Lembar Kerja Studi Kasus Ketenagakerjaan yang memuat 3 skenario permasalahan riil kualitas tenaga kerja: Skenario 1 (Tingginya angka pengangguran lulusan SMK teknik karena mesin praktik di sekolah tertinggal dari standar pabrik otomotif terkini); Skenario 2 (Rendahnya daya saing tenaga kerja juru las lokal dalam proyek konstruksi nasional karena ketiadaan pengakuan standar keahlian resmi); Skenario 3 (Pekerja sektor ritel terdampak digitalisasi dan otomatisasi kasir sehingga terancam pemutusan hubungan kerja) (10 menit).
- Murid secara mandiri menyusun solusi spesifik dan realistis untuk setiap skenario permasalahan kualitas tenaga kerja tersebut dengan menentukan bentuk intervensi: program pelatihan (jenis materi dan lembaga penyelenggara) serta jenis skema sertifikasi profesi yang relevan (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid meninjau kembali kecocokan antara solusi peningkatan kualitas tenaga kerja yang telah mereka rumuskan dengan akar penyebab masalah kesenjangan keterampilan pada lembar kerja (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap solusi pelatihan dan sertifikasi kerja yang telah dirumuskan murid serta menyampaikan umpan balik hasil cek pemahaman (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya sinkronisasi keterampilan kerja dengan kebutuhan industri dan menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan daftar panduan jenis-jenis program Balai Latihan Kerja (BLK) dan skema sertifikasi BNSP; murid yang telah mahir diberikan kasus kesenjangan keterampilan industri tingkat lanjut berbasis teknologi otomatisasi.
- Proses: Murid yang memerlukan perancah (scaffolding) dibimbing langkah demi langkah dalam menentukan lembaga pelatihan yang sesuai; murid mahir merumuskan solusi mandiri dengan analisis dampak langsung terhadap daya serap kerja.
- Produk: Format rumusan solusi dapat berupa matriks pemecahan masalah sederhana bagi murid reguler atau matriks terperinci dengan tahapan implementasi bagi murid berkinerja tinggi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik kesiapan kompetensi: Murid menentukan solusi awal (pelatihan atau sertifikasi) terhadap 3 butir masalah keterampilan kerja: (1) Masalah: Tenaga kerja tidak mampu mengoperasikan mesin bubut CNC modern -> Acuan jawaban: Pelatihan kejuruan teknik mesin/up-skilling; (2) Masalah: Pekerja terampil kayu belum diakui keahliannya secara resmi oleh asosiasi industri -> Acuan jawaban: Uji kompetensi sertifikasi profesi BNSP; (3) Masalah: Buruh pabrik tekstil yang terkena PHK butuh keahlian baru di bidang tata boga -> Acuan jawaban: Pelatihan re-skilling wirausaha/BLK.
Proses:- Formatif perumusan solusi: Pemeriksaan ketepatan rumusan solusi peningkatan kualitas tenaga kerja pada 3 skenario tugas mandiri dengan acuan: Skenario 1 solusinya adalah program pelatihan magang kemitraan industri/up-skilling teknologi otomotif terkini di BLK dan uji sertifikasi keahlian teknisi otomotif; Skenario 2 solusinya adalah fasilitasi uji kompetensi dan sertifikasi juru las berstandar BNSP/internasional; Skenario 3 solusinya adalah pelatihan alih keterampilan (re-skilling) literasi digital/layanan pelanggan e-commerce dan sertifikasi pemasaran digital.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir sesi: Murid menuliskan satu solusi konkret pelatihan dan satu sertifikasi untuk mengatasi masalah penumpukan pencari kerja muda yang belum memiliki keahlian kerja di daerahnya (Kriteria penerimaan: Solusi pelatihan menyebutkan keterampilan teknis terapan yang relevan secara logis dengan kebutuhan lapangan kerja dan solusi sertifikasi menyebutkan pengujian atau pembuktian lisensi standar kompetensi kerja).
Formatif:- Penilaian kinerja perumusan solusi pada Lembar Kerja Studi Kasus Masalah Ketenagakerjaan
- Kuis diagnostik pencocokan bentuk solusi pelatihan dan sertifikasi pada awal pembelajaran
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan dan Kelengkapan Rumusan Solusi Kualitas Tenaga Kerja | Belum mampu memberikan solusi permasalahan kualitas tenaga kerja yang sesuai, atau solusi yang diajukan tidak relevan dengan pelatihan maupun sertifikasi. | Mampu memberikan solusi peningkatan kualitas tenaga kerja yang relevan pada 1 dari 3 skenario permasalahan yang diberikan. | Mampu memberikan solusi peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan dan sertifikasi secara tepat dan realistis pada 2 dari 3 skenario permasalahan yang diberikan. | Mampu memberikan solusi peningkatan kualitas tenaga kerja melalui program pelatihan dan sertifikasi secara tepat, operasional, dan realistis pada seluruh (3) skenario permasalahan yang diberikan secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah skenario permasalahan kualitas tenaga kerja yang disajikan mampu memantik murid berpikir kritis dalam merumuskan program solusi pelatihan dan sertifikasi yang realistis?
- Apakah durasi waktu 90 menit mencukupi bagi setiap murid untuk menyelesaikan analisis dan perumusan solusi secara mandiri?
Murid:- Apakah saya sudah memahami perbedaan fungsi program pelatihan kerja (up-skilling/re-skilling) dan sertifikasi profesi dalam mengatasi masalah pengangguran?
- Langkah solusi mana yang menurut saya paling mendesak diterapkan untuk mengatasi rendahnya mutu tenaga kerja di lingkungan sekitar saya?
Pertemuan 12 — Memberikan Solusi Perluasan Kesempatan Kerja dan Penataan Kebijakan Upah Minimum — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.6 Memberikan solusi atas permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan mengondisikan kelas secara berkesadaran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-12, yaitu memberikan solusi perluasan kesempatan kerja dan penataan kebijakan upah minimum untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat mengenai instrumen kebijakan ketenagakerjaan dan rumus penyesuaian upah minimum (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak paparan ringkas dan studi kasus faktual mengenai dua masalah utama ketenagakerjaan: defisit lapangan kerja formal serta polemik penentuan upah minimum yang belum seimbang antara kesejahteraan buruh dan kelangsungan usaha (12 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Cepat Cocok Solusi' dengan menempelkan kartu solusi ke papan masalah; tersedia 4 kartu masalah: (1) Sempitnya lapangan kerja di pedesaan, (2) PHK akibat ketidakmampuan UMKM membayar upah standar industri, (3) Lesunya investasi pabrik padat karya, (4) Perbedaan biaya hidup antar-daerah yang menimbulkan kesenjangan daya beli buruh; beserta 4 kartu solusi: (A) Padat karya tunai desa & pendampingan wirausaha lokal, (B) Pengecualian upah minimum bagi usaha mikro-kecil berbasis kesepakatan rasional, (C) Insentif pajak & deregulasi perizinan investasi padat karya, (D) Penyesuaian UMP/UMK berkala berbasis formula inflasi dan pertumbuhan ekonomi daerah (acuan kecocokan: 1-A, 2-B, 3-C, 4-D) (13 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Murid duduk dalam kelompok kerja (4-5 murid) dan menerima lembar tugas analisis skenario ketenagakerjaan Daerah X yang menghadapi tingkat pengangguran terbuka 8,5% dan gejolak penolakan kenaikan upah minimum oleh asosiasi pengusaha (10 menit).
- Setiap kelompok merumuskan solusi atas masalah ketenagakerjaan pada lembar kerja yang mencakup: (a) minimal 2 solusi perluasan kesempatan kerja konkret dan (b) minimal 2 solusi penataan kebijakan upah minimum yang realistis dan adil (17 menit).
- Perwakilan kelompok bertukar lembar kerja untuk saling memeriksa kelayakan solusi menggunakan rubrik panduan yang disediakan guru (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri merefleksikan nilai keadilan ekonomi dan tantangan nyata dalam merumuskan solusi ketenagakerjaan di buku catatan masing-masing (8 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap solusi-solusi perluasan kesempatan kerja dan penataan upah minimum yang telah dirumuskan murid (4 menit).
- Murid mengerjakan asesmen akhir berupa 2 butir cek pemahaman solusi ketenagakerjaan, lalu pembelajaran ditutup dengan doa bersama (6 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci kebijakan (deregulasi, insentif fiskal, padat karya, tripartit dewan pengupahan), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan data tambahan indikator pertumbuhan ekonomi dan inflasi regional untuk mempertajam perumusan solusi.
- Proses: Pada tahap perumusan solusi, guru memberikan pendampingan terstruktur bagi kelompok yang lambat dalam memisahkan solusi jangka pendek dan jangka panjang, sementara kelompok yang mahir bekerja mandiri merumuskan solusi terperinci.
- Produk: Kelompok yang berkembang merumuskan solusi dalam tabel matriks kebijakan standar, sedangkan kelompok mahir menambahkan simulasi dampak ekonomi dari solusi yang mereka tawarkan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 2 contoh program pemerintah untuk memperluas lapangan kerja dan 1 faktor penentu upah minimum!' (Acuan jawaban: program perluasan kerja antara lain bursa kerja/job fair, program padat karya, bantuan modal UMKM, kemudahan investasi; faktor upah minimum adalah inflasi dan pertumbuhan ekonomi).
Proses:- Penilaian lembar kerja kelompok perumusan solusi ketenagakerjaan. Acuan solusi yang diterima mencakup: (1) Solusi Perluasan Kesempatan Kerja: deregulasi izin usaha padat karya, insentif pajak industri penyerap tenaga kerja lokal, alokasi program padat karya tunai infrastruktur publik, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) wirausaha; (2) Solusi Penataan Upah Minimum: penghitungan formula upah berbasis data riil inflasi dan pertumbuhan ekonomi daerah, optimalisasi perundingan tripartit (pemerintah, serikat buruh, pengusaha) melalui Dewan Pengupahan, fleksibilitas penerapan upah bagi pelaku usaha mikro dan kecil.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir: (1) Berikan 1 solusi konkret perluasan kesempatan kerja untuk mengatasi pengangguran terdidik! (Acuan: insentif bagi industri teknologi/kreatif baru atau program kemitraan inkubasi wirausaha rintisan), (2) Berikan 1 solusi penataan kebijakan upah minimum agar tidak terjadi PHK massal pada perusahaan yang sedang terdampak inflasi! (Acuan: penerapan penetapan upah berbasis kesepakatan bipartit khusus atau formula penyesuaian bertahap dengan subsidi pemerintah).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik awal pembelajaran mengenai konsep perluasan kerja dan upah minimum
- Observasi unjuk kerja kelompok saat merumuskan solusi ketenagakerjaan pada lembar kerja
- Pemeriksaan lembar kerja perumusan solusi perluasan kesempatan kerja dan penataan upah minimum
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memberikan solusi perluasan kesempatan kerja | Belum mampu memberikan solusi konkret perluasan kesempatan kerja yang relevan dengan permasalahan. | Mampu memberikan 1 solusi perluasan kesempatan kerja namun belum sepenuhnya relevan dengan kondisi ekonomi kasus. | Mampu memberikan minimal 2 solusi perluasan kesempatan kerja secara tepat, logis, dan relevan mengatasi masalah ketenagakerjaan (acuan: program padat karya, kemudahan perizinan usaha, insentif investasi padat karya, atau permodalan wirausaha). | Mampu memberikan lebih dari 2 solusi perluasan kesempatan kerja yang komprehensif, tepat sasaran, serta logis ditinjau dari sisi permintaan dan penawaran tenaga kerja. | | Memberikan solusi penataan kebijakan upah minimum | Belum mampu memberikan solusi penataan upah minimum yang adil bagi pekerja maupun pengusaha. | Mampu memberikan 1 solusi penataan upah minimum tetapi hanya menitikberatkan pada salah satu pihak tanpa dasar konsep ekonomi. | Mampu memberikan minimal 2 solusi penataan kebijakan upah minimum yang berimbang dan relevan (acuan: formula berbasis inflasi & pertumbuhan ekonomi daerah, penguatan perundingan tripartit/Dewan Pengupahan, atau diferensiasi aturan bagi usaha mikro). | Mampu memberikan lebih dari 2 solusi penataan upah minimum yang sangat seimbang, operasional, serta mempertimbangkan kesejahteraan pekerja dan kelangsungan dunia usaha secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur pembelajaran Memahami-Mengaplikasi-Merefleksi membantu murid memahami dilema penentuan upah minimum dan penciptaan lapangan kerja secara realistis?
- Apakah variasi aktivitas permainan pencocokan solusi cukup membangkitkan keterlibatan aktif murid dalam memecahkan masalah ekonomi?
Murid:- Bagian mana dari perumusan solusi ketenagakerjaan tadi yang paling menantang untuk diselesaikan secara adil?
- Bagaimana pemahaman tentang kebijakan upah minimum dan perluasan kesempatan kerja ini membantuku memahami dinamika dunia kerja di sekitarku?
Pertemuan 13 — Mengomunikasikan Penarikan Kesimpulan Masalah Pengangguran Struktural dan Solusi Mengatasinya — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.7 Mengomunikasikan hasil penarikan kesimpulan atas masalah ketenagakerjaan serta solusi mengatasinya
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu mengomunikasikan hasil kesimpulan pengangguran struktural beserta solusinya (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal berupa kuis kilat lisan membedakan 2 pernyataan kesimpulan pengangguran struktural dan 2 pernyataan solusinya (acuan: pernyataan 1 dan 2 adalah kesimpulan penyebab; pernyataan 3 dan 4 adalah solusi peningkatan kompetensi/pelatihan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta alur aktivitas 'Galeri Presentasi Komunikasi Solusi Ketenagakerjaan' (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mencermati lembar panduan komunikasi penarikan kesimpulan pengangguran struktural dan solusinya yang mencakup struktur penyampaian: (1) pernyataan kesimpulan faktor struktural (pergeseran struktur ekonomi/teknologi yang tidak diimbangi keahlian), (2) data/alasan pendukung, dan (3) rekomendasi solusi yang relevan (pelatihan kerja/re-skilling) (10 menit).
- Murid menyusun draf ringkas lembar paparan komunikasi kelompok berdasarkan materi kesimpulan dan solusi pengangguran struktural yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Setiap kelompok melaksanakan simulasi permainan bertukar peran 'Juru Bicara Ketenagakerjaan' di mana 1 perwakilan kelompok mengomunikasikan kesimpulan penyebab pengangguran struktural dan solusi mengatasinya kepada perwakilan kelompok lain yang bertamu secara bergantian (20 menit).
- Setiap kelompok menyampaikan secara langsung pesan komunikasi penarikan kesimpulan dan solusinya di hadapan kelas menggunakan format terstruktur: menyebutkan kesimpulan faktor struktural dan memaparkan minimal 2 solusi konkret (misalnya: Balai Latihan Kerja/pelatihan vokasi industri dan pembaruan kurikulum vokasi) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompok lain saling mengevaluasi kejelasan penyampaian kesimpulan dan ketepatan rincian solusi yang telah dikomunikasikan menggunakan daftar cek kelengkapan pesan (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil komunikasi kelompok mengenai keterkaitan antara pengangguran struktural dan solusi re-skilling tenaga kerja (5 menit).
- Murid menyelesaikan lembar cek pemahaman akhir mengenai unsur utama komunikasi kesimpulan dan solusi ketenagakerjaan, lalu kelas ditutup dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang memerlukan pendampingan diberikan kartu panduan alur komunikasi siap pakai (template rumpang pesan kesimpulan dan solusi), sedangkan kelompok mahir diberikan tantangan menambahkan konteks dampak otomatisasi industri digital pada pesan komunikasinya.
- Proses: Guru memberikan bimbingan intensif pada kelompok yang kesulitan merangkai kesimpulan dan solusi menjadi pesan lisan/tulisan yang terpadu.
- Produk: Media komunikasi penarikan kesimpulan dan solusi dapat berupa lembar bagan visual, kartu infografik ringkas, atau poin paparan lisan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat: Murid mengidentifikasi kategori 4 pernyataan berikut: (1) 'Peralihan sektor pertanian ke industri manufaktur menyebabkan tenaga kerja tanpa keahlian mesin kehilangan pekerjaan' (Acuan: Kesimpulan Masalah Pengangguran Struktural); (2) 'Penerapan teknologi digital di perbankan mengurangi kebutuhan teller' (Acuan: Kesimpulan Masalah Pengangguran Struktural); (3) 'Penyelenggaraan pelatihan re-skilling berbasis teknologi otomasi' (Acuan: Solusi); (4) 'Kerja sama sertifikasi keahlian antara SMK dengan asosiasi industri' (Acuan: Solusi).
Proses:- Penilaian formatif saat kelompok mengomunikasikan hasil kesimpulan: mengamati kelengkapan 2 komponen utama yaitu penyampaian kesimpulan penyebab pengangguran struktural (perubahan struktur/teknologi vs keterampilan) dan penyampaian minimal 2 solusi relevan (pelatihan keahlian baru, sertifikasi vokasi, atau pembaruan kurikulum sekolah kejuruan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan kembali 2 pesan kunci yang wajib ada dalam mengomunikasikan penanganan pengangguran struktural (Acuan jawaban: (1) Pernyataan kesimpulan bahwa pengangguran struktural disebabkan oleh ketidaksesuaian keahlian tenaga kerja dengan perkembangan kebutuhan industri/teknologi; (2) Solusi berupa program pelatihan vokasi/re-skilling dan penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja).
Formatif:- Observasi unjuk kerja mengomunikasikan kesimpulan pengangguran struktural dan solusinya saat sesi Juru Bicara Ketenagakerjaan dan presentasi kelas
- Daftar cek kelengkapan penyampaian pesan komunikasi kelompok
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengomunikasikan Penarikan Kesimpulan Masalah Pengangguran Struktural | Belum mampu menyampaikan kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural secara tepat dan belum memuat alasan ketidaksesuaian keahlian dengan kebutuhan industri. | Mampu mengomunikasikan kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural secara sederhana namun belum menjelaskan kaitan antara perubahan struktur industri dengan keahlian kerja. | Mampu mengomunikasikan kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural secara runtut, jelas, dan memuat kaitan antara perubahan struktur industri/teknologi dengan kebutuhan keahlian tenaga kerja. | Mampu mengomunikasikan kesimpulan faktor penyebab pengangguran struktural secara runtut, mendalam, dan didukung analogi atau data relevan secara mandiri. | | Mengomunikasikan Solusi Mengatasi Pengangguran Struktural | Belum mampu mengomunikasikan usulan solusi yang relevan dengan pengangguran struktural. | Mampu mengomunikasikan 1 usulan solusi untuk mengatasi pengangguran struktural (misalnya: mengadakan pelatihan). | Mampu mengomunikasikan minimal 2 usulan solusi relevan untuk mengatasi pengangguran struktural secara runtut dan jelas (misalnya: pelatihan re-skilling di BLK dan pembaruan kurikulum vokasi berbasis kemitraan industri). | Mampu mengomunikasikan lebih dari 2 usulan solusi relevan secara komprehensif, runtut, dan menjelaskan mekanisme keterlaksanaan solusinya secara terperinci. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur aktivitas 'Juru Bicara Ketenagakerjaan' efektif melatih keterampilan murid dalam mengomunikasikan kesimpulan dan solusi ekonomi?
- Bagian mana dari draf komunikasi murid yang paling banyak membutuhkan bimbingan artikulasi ide?
Murid:- Apa hal paling menantang saat merangkum kesimpulan pengangguran struktural dan solusinya ke dalam bahasa yang mudah dipahami orang lain?
- Bagaimana masukan dari teman membantu menyempurnakan cara saya menyampaikan solusi ketenagakerjaan?
Pertemuan 14 — Mengomunikasikan Penarikan Kesimpulan Masalah Kesenjangan Kerja Serta Solusi Mengatasinya — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.7 Mengomunikasikan hasil penarikan kesimpulan atas masalah ketenagakerjaan serta solusi mengatasinya
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengomunikasikan penarikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja serta perumusan solusinya (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai 2 unsur pesan: kesimpulan kesenjangan keterampilan/upah dan usulan solusinya (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati panduan penyampaian pesan komunikasi hasil penarikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja (skills gap dan ketimpangan upah) serta solusi penyelesaiannya dalam 3 bagian pokok: simpulan masalah, faktor penyebab kesenjangan, dan rekomendasi solusi (10 menit).
- Murid bersama kelompoknya memeriksa kembali catatan simpulan masalah kesenjangan kerja dan draf solusi yang telah dirumuskan pada pertemuan sebelumnya untuk disusun ke dalam lembar ringkasan komunikasi kelompok (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Melalui simulasi mini sidang ketenagakerjaan yang menggembirakan, setiap kelompok secara bergantian mengomunikasikan penarikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja dan tawaran solusinya di hadapan forum kelas dengan durasi terstruktur (30 menit).
- Kelompok audiens memberikan umpan balik komunikasi terkait kejelasan pesan simpulan kesenjangan kerja dan keterkaitan solusi yang diusulkan oleh kelompok penampil (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu merefleksikan efektivitas penyampaian pesan kesimpulan dan solusi ketenagakerjaan yang telah mereka lakukan di kelas (5 menit).
Penutup:- Guru dan murid menyimpulkan intisari komunikasi pesan ketenagakerjaan mengenai kesenjangan kerja dan solusinya (5 menit).
- Guru menyampaikan tindak lanjut untuk sesi penelaahan keterkaitan data pada pertemuan berikutnya serta menutup sesi dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar bantu struktur pesan komunikasi (alur: simpulan kesenjangan -> faktor penyebab -> solusi kebijakan) bagi kelompok yang membutuhkan panduan bertahap.
- Proses: Kelompok mandiri dapat langsung menyimulasikan komunikasi tanpa bantuan kartu alur, sedangkan kelompok yang membutuhkan pendampingan dipandu langkah demi langkah oleh guru saat menyusun urutan pesan.
- Produk: Komunikasi dapat disampaikan dalam bentuk paparan lisan langsung menggunakan poin-poin papan tulis atau lembar bagan alur ringkas.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 2 unsur utama yang wajib ada saat mengomunikasikan hasil kajian kesenjangan kerja!' (Kriteria penerimaan: jawaban memuat unsur kesimpulan masalah/akar penyebab kesenjangan kualifikasi atau upah dan usulan tindakan solusi/pemecahannya).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja mengomunikasikan pesan hasil penarikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja dan solusi mengatasinya dengan kriteria: memuat simpulan inti kesenjangan kerja (ketidakcocokan keahlian/disparitas upah) dan menyampaikan minimal 1 solusi yang relevan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi berupa penulisan intisari pesan pada lembar refleksi: Murid menuliskan kembali 1 pesan kunci kesimpulan masalah kesenjangan kerja dan 1 pesan solusi yang paling tepat dikomunikasikan hari ini (Kriteria penerimaan: pesan kesimpulan menunjuk pada masalah kesenjangan kualifikasi/upah tenaga kerja dan solusi memuat perbaikan kompetensi/kebijakan upah).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan pada pendahuluan untuk mengecek kesiapan mengomunikasikan simpulan dan solusi kesenjangan kerja
- Lembar observasi proses saat simulasi mengomunikasikan penarikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja serta solusinya
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengomunikasikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja dan solusinya | Belum mampu menyampaikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja maupun solusinya secara terstruktur. | Mampu mengomunikasikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja, tetapi belum menyampaikan solusi penyelesaiannya. | Mampu mengomunikasikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja serta solusinya secara terstruktur dan jelas. | Mampu mengomunikasikan kesimpulan masalah kesenjangan kerja secara mendalam dan menyampaikan solusi yang runtut, terstruktur, serta kontekstual tanpa keraguan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur kegiatan simulasi berhasil mendorong seluruh murid aktif mengomunikasikan hasil kesimpulan dan solusinya?
- Bagian mana dari struktur penyampaian pesan murid yang paling membutuhkan penguatan artikulasi konsep?
Murid:- Apakah pesan kesimpulan dan solusi masalah kesenjangan kerja yang saya sampaikan sudah dipahami dengan mudah oleh teman lain?
- Hal apa yang perlu saya tingkatkan dalam menyusun urutan pesan agar gagasan solusi ketenagakerjaan tersampaikan lebih efektif?
Pertemuan 15 — Menelaah Keterkaitan Pengamatan, Data Informasi, dan Analisis Masalah Ketenagakerjaan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.2 Mengamati kondisi dan masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.3 Mengumpulkan informasi berkaitan dengan kondisi dan permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.4 Menganalisis masalah ketenagakerjaan yang sedang terjadi berdasarkan konsep yang sudah dipelajari
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-15, yaitu menelaah benang merah antara hasil pengamatan masalah ketenagakerjaan, data informasi yang telah dihimpun, dan analisis masalah berdasarkan konsep ekonomi (4 menit).
- Guru memberikan asesmen diagnostik singkat berupa 2 pertanyaan apersepsi untuk mengukur kesiapan menghubungkan fakta pengamatan dengan data pengangguran (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak ulasan guru mengenai metode penelaahan terpadu: menyandingkan catatan pengamatan lapangan (kondisi riil), data statistik rujukan BPS/Kemnaker (angka dan tren), serta pisau analisis konsep ekonomi (teori ketenagakerjaan, jenis pengangguran, dan pasar kerja) secara berkesadaran (10 menit).
- Secara berpasangan, murid menelaah lembar percontohan matriks triangulasi yang berisi 3 elemen: (1) Fenomena pengamatan lulusan SMK/SMA mengantre lowongan di bursa kerja lokal; (2) Data BPS berupa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terdidik yang relatif tinggi; dan (3) Analisis konsep mismatch keahlian (pengangguran struktural/friksional) untuk memahami alur konseptual keterkaitannya secara bermakna (12 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan pencocokan kartu cepat 'Teka-Teki Triangulasi Data' secara berpasangan untuk melatih ketangkasan menghubungkan 3 set kartu acak: Set Kartu A (Pengamatan Lapangan: Kasus buruh tani menganggur saat jeda tanam; Buruh pabrik tekstil kena PHK massal akibat otomatisasi mesin; Antrean panjang pendaftar ojek online dari kalangan sarjana), Set Kartu B (Data Statistik Informasi: Data BPS persentase setengah pengangguran musiman perdesaan; Data Kemnaker kenaikan PHK sektor industri manufaktur; Data BPS rasio sarjana di sektor informal), dan Set Kartu C (Analisis Konsep Ekonomi: Pengangguran musiman akibat siklus tanam; Pengangguran struktural akibat perubahan teknologi dan pergeseran struktur industri; Pengangguran terselubung/setengah pengangguran akibat underemployment lulusan) dengan aturan pasangan yang tepat: A1-B1-C1, A2-B2-C2, A3-B3-C3 secara menggembirakan (18 menit).
- Murid bekerja secara mandiri mengisi Lembar Telaah Keterkaitan Ketenagakerjaan dengan memadukan data pengamatan portofolio sebelumnya (Pertemuan 3-4), data sekunder BPS/Kemnaker (Pertemuan 5-6), dan analisis konsep ekonomi (Pertemuan 7-8) ke dalam tabel telaah terpadu 3 kolom: (Kolom 1: Hasil Pengamatan Kondisi Masalah, Kolom 2: Informasi Data Statistik Pendukung, Kolom 3: Analisis Berdasarkan Konsep Ekonomi) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan verifikasi mandiri menggunakan panduan cek silang untuk memeriksa apakah analisis ekonomi yang ditulisnya telah didukung oleh data informasi valid dan pengamatan faktual yang konsisten (8 menit).
- Murid menuliskan refleksi kesadaran metakognitif pada jurnal belajar mengenai kendala dalam menyelaraskan antara apa yang teramati di lapangan dengan data angka serta analisis konsep ekonominya (3 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pola keterkaitan antara pengamatan empiris, data kuantitatif, dan analisis masalah ketenagakerjaan (4 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir singkat (exit ticket), menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan ke-16 (merumuskan simpulan dan solusi terpadu), dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu bantu matriks keterkaitan dengan petunjuk penghubung bagi murid yang memerlukan perancah (scaffolding), serta menyajikan tabel data statistik multi-indikator yang lebih kompleks bagi murid yang berpikiran cepat.
- Proses: Memberikan bimbingan terfokus pada murid yang kesulitan menghubungkan angka statistik dengan konsep ekonomi, sementara murid yang mahir diarahkan menelaah keterkaitan lebih dari dua dimensi masalah sekaligus secara mandiri.
- Produk: Format pengisian lembar telaah dapat disajikan dalam bentuk matriks tabel berurutan sederhana atau diagram jejaring sebab-akibat (fishbone) keterkaitan data-konsep.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan/tulis singkat di awal: (1) 'Jika kalian melihat banyak sarjana melamar pekerjaan kasir toko, data BPS apa yang perlu kalian cari untuk memvalidasi masalah ini?' (Acuan jawaban: Data Tingkat Pengangguran Terbuka terdidik / lulusan universitas atau data setengah pengangguran/underemployment); (2) 'Konsep ekonomi apa yang menjelaskan fenomena ketidakcocokan keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri?' (Acuan jawaban: Pengangguran struktural / mismatch keterampilan / kesenjangan kualifikasi kerja).
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan tantangan 'Teka-Teki Triangulasi Data' dengan rubrik kelengkapan pasangan 3 kartu acuan: Pasangan 1 (A1: Kasus buruh tani jeda tanam -> B1: BPS setengah pengangguran musiman -> C1: Pengangguran musiman), Pasangan 2 (A2: Buruh pabrik tekstil kena PHK mesin -> B2: Kemnaker kenaikan PHK industri manufaktur -> C2: Pengangguran struktural teknologi), Pasangan 3 (A3: Antrean sarjana daftar ojek online -> B3: BPS rasio sarjana di sektor informal -> C3: Setengah pengangguran/underemployment).
- Pemeriksaan keterisian matriks 3 kolom keterkaitan portofolio murid berdasarkan kelengkapan fakta pengamatan, ketersediaan data pembanding angka, dan ketepatan konsep ekonomi yang digunakan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman (exit ticket) berupa penelaahan 1 kasus ringkas: 'Sebutkan keterkaitan antara pengamatan banyaknya lulusan baru yang belum bekerja selama 3 bulan pertama, data BPS tentang pengangguran pemuda (youth unemployment), dan analisis konsep ekonominya!' (Acuan kriteria ketepatan: Mengaitkan pengamatan lulusan mengantre/mencari kerja dengan data TPT usia muda BPS serta menganalisisnya secara tepat menggunakan konsep pengangguran friksional/masa transisi pencarian kerja).
Formatif:- Penilaian performa pengerjaan 'Teka-Teki Triangulasi Data' berpasangan
- Pemeriksaan lembar kerja penelaahan keterkaitan pengamatan, data statistik, dan analisis konsep ekonomi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Keterkaitan Pengamatan dan Data Informasi | Belum mampu memasangkan hasil pengamatan kondisi masalah dengan data informasi statistik yang relevan. | Mampu memasangkan 1 dari 3 komponen pengamatan lapangan dengan data statistik yang relevan namun belum konsisten. | Mampu menelaah dan menyandingkan 2-3 hasil pengamatan masalah ketenagakerjaan dengan data statistik secara tepat dan sesuai acuan rujukan. | Mampu menelaah seluruh keterkaitan antara fakta pengamatan dan data statistik secara komprehensif, tepat, dan mendalam secara mandiri. | | Analisis Masalah Ketenagakerjaan Berdasarkan Konsep Ekonomi | Belum mampu menganalisis masalah ketenagakerjaan menggunakan konsep dasar ekonomi yang relevan. | Menganalisis masalah ketenagakerjaan menggunakan konsep ekonomi namun penentuan jenis/kategori masalahnya masih keliru. | Menganalisis masalah ketenagakerjaan secara tepat berdasarkan konsep ekonomi (seperti jenis pengangguran, pengupahan, atau pasar kerja) yang dipelajari. | Menganalisis masalah ketenagakerjaan secara tepat, mendalam, dan mampu membedakan keterkaitan konsep struktural, friksional, maupun musiman secara rinci dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit efektif memfasilitasi murid menyandingkan data pengamatan dan konsep ekonomi?
- Bagian penelaahan mana yang paling banyak memicu miskonsepsi pada murid saat menghubungkan data statistik dengan konsep ekonomi?
Murid:- Bagian mana dari kegiatan menelaah hubungan data pengamatan dan konsep ekonomi yang paling memperjelas pemahaman saya?
- Apakah saya sudah mampu membuktikan masalah ketenagakerjaan yang saya amati menggunakan rujukan data dan teori ekonomi yang tepat?
Pertemuan 16 — Menyusun Penarikan Kesimpulan Terpadu Faktor Masalah Ketenagakerjaan dan Perumusan Solusinya — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.5 Menarik kesimpulan terkait faktor penyebab masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.6 Memberikan solusi atas permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan pertemuan 16 yaitu menyusun penarikan kesimpulan faktor masalah ketenagakerjaan serta merumuskan solusinya secara terpadu (5 menit).
- Guru melakukan asesmen diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan pengelompokan faktor dan solusi kepada murid: 'Jika faktor penyebab pengangguran adalah otomatisasi teknologi yang meniadakan keterampilan lama, solusi apa yang tepat dan relevan?' (acuan jawaban: faktor struktural berupa ketidaksesuaian keterampilan/skill mismatch; solusi yang tepat adalah reskilling/upskilling, pelatihan vokasi, atau sertifikasi kompetensi kejuruan baru) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati kembali ringkasan sintesis hasil telaah pertemuan sebelumnya mengenai 3 domain masalah ketenagakerjaan: (1) Pengangguran akibat pergeseran teknologi industri manufaktur ke mesin digital; (2) Kesenjangan upah minimum dan rendahnya produktivitas tenaga kerja; serta (3) Pengangguran musiman di sektor pertanian pedesaan (15 menit).
- Murid dalam kelompok kecil mengkaji kerangka kerja penarikan kesimpulan terpadu untuk menghubungkan faktor penyebab (struktural, friksional, siklis, atau regulasi) dengan solusi yang tepat sasaran (pelatihan vokasi, pembenahan upah, padat karya, atau bursa kerja digital) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berkolaborasi dalam permainan tantangan kelompok 'Matriks Solusi Terpadu' di mana tiap kelompok menarik kesimpulan faktor penyebab dan merumuskan solusi atas lembar kasus ketenagakerjaan secara tepat dan kreatif (5 menit).
- Setiap kelompok menyelesaikan pengisian lembar kerja integratif yang memuat penarikan kesimpulan faktor penyebab dan perumusan solusi spesifik untuk 2 kasus: Kasus A (Pengangguran akibat otomatisasi pabrik) dan Kasus B (Kesenjangan keterampilan lulusan sekolah dengan kebutuhan industri lokal) (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan proses penarikan kesimpulan dan perumusan solusi, memeriksa keselarasan logis antara akar masalah dan tindakan pemecahannya (10 menit).
Penutup:- Murid menyelesaikan asesmen akhir berupa 2 butir cek penarikan kesimpulan faktor dan perumusan solusi pada lembar penilaian mandiri (acuan tercantum pada asesmen akhir) (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil kerja integratif murid, mengapresiasi kerja kolaboratif kelas, dan menyampaikan rencana asesmen sumatif pada pertemuan berikutnya tanpa menutup bab secara keseluruhan (15 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan berisi daftar pilihan kategori faktor penyebab dan ragam opsi kebijakan solusi; murid mahir menganalisis studi kasus terpadu dengan faktor ganda (struktural dan regulasi upah sekaligus).
- Proses: Guru memberikan scaffolding terarah pada kelompok yang kesulitan merumuskan solusi operasional yang selaras dengan akar faktor penyebabnya.
- Produk: Format rumusan penarikan kesimpulan dan solusi dapat disajikan dalam bentuk matriks tabel analisis sebab-solusi atau bagan alur hubungan sebab-akibat-solusi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika terjadi penutupan pabrik tekstil konvensional akibat kalah bersaing dengan mesin otomatis modern, apa kesimpulan faktor penyebab pengangguran tersebut dan solusi kebijakan apa yang tepat?' (Acuan jawaban: Faktor penyebab adalah pengangguran struktural akibat perubahan struktur ekonomi/teknologi dan ketidaksesuaian kompetensi; solusi tepat adalah pelatihan vokasi/pelatihan ulang/reskilling tenaga kerja terdampak).
Proses:- Penilaian proses diskusi dan pengerjaan LKPD Matriks Solusi Terpadu dengan kriteria ketepatan penarikan kesimpulan faktor penyebab dan kelayakan perumusan solusi untuk Kasus A dan Kasus B. Acuan Kasus A (Pengangguran akibat otomatisasi pabrik): Kesimpulan faktor penyebab = faktor struktural (pergeseran teknologi dan skill mismatch); Solusi tepat = program reskilling tenaga kerja dan sertifikasi keahlian digital industri. Acuan Kasus B (Kesenjangan keterampilan lulusan lokal): Kesimpulan faktor penyebab = ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan spesifikasi kebutuhan industri (link and match); Solusi tepat = penyelarasan kurikulum vokasi bersama dunia industri dan penguatan program pemagangan bersertifikat.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (2 butir): (1) Tuliskan kesimpulan faktor penyebab terjadinya fenomena lulusan baru yang belum bekerja karena sedang memilih pekerjaan yang gajinya sesuai (Acuan: faktor pengangguran friksional/proses pencarian kerja); (2) Berikan 1 solusi tepat untuk mengatasi faktor tersebut (Acuan: penyediaan bursa kerja terintegrasi/job fair digital/transparansi informasi lowongan kerja).
Formatif:- Observasi unjuk kerja penyusunan kesimpulan faktor penyebab dan perumusan solusi pada LKPD Matriks Solusi Terpadu
- Pemeriksaan lembar kerja keterpaduan faktor masalah dan solusi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penarikan kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan | Belum mampu menarik kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan dari kasus yang disajikan secara tepat. | Mampu menarik kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan pada 1 kasus secara tepat dengan bantuan guru. | Mampu menarik kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan pada 2 kasus (Kasus A: faktor struktural/teknologi; Kasus B: kesenjangan kompetensi link and match) secara tepat. | Mampu menarik kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan pada 2 kasus secara tepat, rinci, dan mandiri tanpa bantuan. | | Perumusan solusi atas masalah ketenagakerjaan | Belum mampu memberikan solusi yang relevan dengan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan. | Mampu memberikan solusi pada 1 kasus, namun belum sepenuhnya selaras dengan faktor penyebab yang disimpulkan. | Mampu memberikan solusi yang relevan dan selaras dengan faktor penyebab pada 2 kasus (Kasus A: pelatihan reskilling/upskilling; Kasus B: kerja sama vokasi dan industri/pemagangan). | Mampu memberikan solusi yang terpadu, operasional, dan selaras sempurna dengan faktor penyebab pada 2 kasus secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur perumusan kesimpulan faktor penyebab dan perumusan solusi terpadu berhasil dipahami murid secara logis?
- Bagian mana dari studi kasus terpadu yang paling menantang bagi murid saat merumuskan solusi yang realistis?
Murid:- Apakah saya sudah dapat menarik kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan secara tepat berdasarkan konsep ekonomi?
- Apakah solusi yang saya rumuskan sudah benar-benar menjawab akar permasalahan dan dapat diterapkan secara nyata?
Pertemuan 17 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menjelaskan konsep ketenagakerjaan berdasarkan konsep dasar ekonomi
- TP 11.2.2 Mengamati kondisi dan masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.3 Mengumpulkan informasi berkaitan dengan kondisi dan permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.4 Menganalisis masalah ketenagakerjaan yang sedang terjadi berdasarkan konsep yang sudah dipelajari
- TP 11.2.5 Menarik kesimpulan terkait faktor penyebab masalah ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.6 Memberikan solusi atas permasalahan ketenagakerjaan di lingkungan sekitar, regional, atau nasional
- TP 11.2.7 Mengomunikasikan hasil penarikan kesimpulan atas masalah ketenagakerjaan serta solusi mengatasinya
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab Ketenagakerjaan serta membacakan tata tertib pengerjaan 3 komponen evaluasi: tes tertulis individual, finalisasi laporan studi kasus kelompok, dan unjuk kerja presentasi (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai petunjuk teknis Lembar Tes Tertulis Individual yang memuat 4 butir soal konsep ketenagakerjaan dan kriteria penilaiannya (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Tugas 1: Tes Tertulis Individual secara mandiri dan serentak selama 25 menit untuk menjawab 4 soal uraian: (1) Menjelaskan perbedaan konsep tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja (acuan: Tenaga kerja = penduduk usia kerja 15 tahun ke atas yang mampu memproduksi barang/jasa; Angkatan kerja = penduduk usia kerja yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan/menganggur; Kesempatan kerja = ketersediaan lowongan/lapangan kerja yang siap diisi oleh pencari kerja); (2) Menjelaskan 3 penggolongan tenaga kerja berdasarkan kualitas keahlian (acuan: Tenaga kerja terdidik = menempuh pendidikan formal tertentu seperti dokter/guru/akuntan; Tenaga kerja terlatih = memiliki kemahiran lewat pelatihan/pengalaman kerja seperti sopir/montir/tukang las; Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih = mengandalkan tenaga fisik tanpa syarat pendidikan khusus seperti kuli panggul/buruh kasar); (3) Mengidentifikasi jenis tenaga kerja berdasarkan sifat kerjanya (acuan: Tenaga kerja jasmani = menitikberatkan tenaga fisik; Tenaga kerja rohani = menitikberatkan proses berpikir, gagasan, dan manajerial); (4) Menghitung dan menjelaskan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) bila diketahui data penduduk usia kerja dan angkatan kerja (acuan rumus: TPAK = [Jumlah Angkatan Kerja / Jumlah Penduduk Usia Kerja] x 100%) (25 menit).
- Murid dalam 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) mengerjakan Tugas 2: Finalisasi dan pengumpulan Laporan Tertulis Analisis Kasus Portofolio terstruktur selama 25 menit yang memuat: catatan pengamatan masalah ketenagakerjaan lingkungan/regional, data BPS/Kemnaker mengenai pengangguran terbuka atau setengah pengangguran, analisis konsep ekonomi faktor penyebab, penarikan kesimpulan akar masalah, serta lembar rekomendasi solusi konkret peningkatan kualitas/kebijakan kerja (25 menit).
- Murid dalam 6 kelompok secara bergantian melaksanakan Tugas 3: Unjuk Kerja Presentasi Kelompok di depan kelas berdurasi masing-masing 4,5 menit per kelompok (total 27 menit untuk 6 kelompok) untuk mengomunikasikan penarikan kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan dan rekomendasi solusi konkret yang telah dirumuskan (27 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara hening selama 2 menit merefleksikan proses belajar dan pengalaman mengerjakan seluruh rangkaian asesmen bab Ketenagakerjaan pada lembar refleksi diri (2 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban individual dan dokumen portofolio kelompok, memberikan apresiasi atas kedisiplinan serta ketuntasan seluruh rangkaian asesmen sumatif bab, lalu menutup pembelajaran dengan doa (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses berupa format teks soal dengan ukuran font yang disesuaikan atau pembacaan instruksi bagi murid dengan hambatan penglihatan tanpa mengubah substansi butir asesmen.
- Proses: Penyediaan meja pengerjaan individual yang tenang dan pengaturan giliran presentasi kelompok yang terstruktur agar seluruh kelompok mendapatkan alokasi waktu setara.
- Produk: Format penyajian laporan portofolio dapat dikumpulkan dalam bentuk cetak dokumen fisik atau dokumen digital terstruktur sesuai kesiapan perangkat kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan asesmen sumatif: Guru menanyakan kesiapan murid terkait kelengkapan berkas portofolio kelompok dan pemahaman teknis terhadap rubrik sumatif yang akan digunakan.
Proses:- Observasi ketertiban dan kemandirian pengerjaan tes tertulis individual, kepatuhan batas waktu finalisasi laporan kelompok, serta pengamatan performa lisan saat presentasi sumatif.
Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi: tes tertulis uraian individual dan analisis studi kasus berbasis portofolio secara kelompok yang dikomunikasikan di depan kelas: Lembar jawaban uraian konsep ketenagakerjaan, dokumen laporan tertulis hasil telaah data kasus pengangguran dan perumusan solusi, serta performa presentasi kelompok dalam menyampaikan kesimpulan dan solusi ketenagakerjaan
- tes tertulis serentak: Lembar jawaban tertulis individual mengenai penjelasan konsep tenaga kerja, angkatan kerja, kesempatan kerja, dan penggolongan jenis-jenis tenaga kerja yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (30 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik jawaban uraian)
- analisis studi kasus dan penugasan portofolio terstruktur: Laporan tertulis kelompok yang memuat catatan pengamatan masalah ketenagakerjaan, kompilasi data pendukung dari sumber resmi, analisis faktor penyebab pengangguran, penarikan kesimpulan akar masalah, serta lembar rekomendasi solusi konkret (30 menit; kelompok; instrumen: rubrik analitik pemecahan masalah dan analisis data ekonomi)
- unjuk kerja presentasi kelompok: Penyampaian lisan kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan dan rekomendasi solusi oleh 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) secara bergantian berdurasi 5 menit per kelompok (6 kelompok x 5 menit = 30 menit, seluruh kelas selesai) (30 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi dan komunikasi lisan)
Sumatif:- Asesmen kombinasi: tes tertulis uraian individual dan analisis studi kasus berbasis portofolio secara kelompok yang dikomunikasikan di depan kelas: Lembar jawaban uraian konsep ketenagakerjaan, dokumen laporan tertulis hasil telaah data kasus pengangguran dan perumusan solusi, serta performa presentasi kelompok dalam menyampaikan kesimpulan dan solusi ketenagakerjaan
- tes tertulis serentak: Lembar jawaban tertulis individual mengenai penjelasan konsep tenaga kerja, angkatan kerja, kesempatan kerja, dan penggolongan jenis-jenis tenaga kerja yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (30 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik jawaban uraian)
- analisis studi kasus dan penugasan portofolio terstruktur: Laporan tertulis kelompok yang memuat catatan pengamatan masalah ketenagakerjaan, kompilasi data pendukung dari sumber resmi, analisis faktor penyebab pengangguran, penarikan kesimpulan akar masalah, serta lembar rekomendasi solusi konkret (30 menit; kelompok; instrumen: rubrik analitik pemecahan masalah dan analisis data ekonomi)
- unjuk kerja presentasi kelompok: Penyampaian lisan kesimpulan faktor penyebab masalah ketenagakerjaan dan rekomendasi solusi oleh 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) secara bergantian berdurasi 5 menit per kelompok (6 kelompok x 5 menit = 30 menit, seluruh kelas selesai) (30 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi dan komunikasi lisan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Konsep Ketenagakerjaan (TP 11.2.1 - Tes Tertulis Individual) | Menjawab dengan tepat 1 dari 4 acuan konsep: konsep dasar ketenagakerjaan, jenis keahlian, sifat kerja, atau TPAK. | Menjawab dengan tepat 2 dari 4 acuan konsep: konsep dasar ketenagakerjaan, jenis keahlian, sifat kerja, atau TPAK. | Menjawab dengan tepat 3 dari 4 acuan konsep: konsep dasar ketenagakerjaan, jenis keahlian, sifat kerja, atau TPAK. | Menjawab dengan tepat seluruh 4 acuan konsep secara lengkap: (1) pembedaan tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja; (2) 3 jenis tenaga kerja berdasar keahlian; (3) klasifikasi tenaga kerja berdasar sifat kerja; (4) rumus dan penghitungan TPAK. | | Pengamatan, Data, dan Analisis Masalah Ketenagakerjaan (TP 11.2.2, TP 11.2.3, TP 11.2.4 - Laporan Portofolio) | Memuat catatan pengamatan atau data atau analisis masalah secara terbatas (hanya 1 dari 3 komponen terpenuhi). | Memuat 2 dari 3 komponen secara tepat: catatan pengamatan empiris kondisi kerja, kompilasi data valid BPS/Kemnaker, atau analisis masalah berdasarkan konsep ekonomi. | Memuat ketiga komponen secara tepat: catatan pengamatan empiris, kompilasi data valid BPS/Kemnaker, dan analisis masalah pengangguran/kesenjangan upah secara runtut. | Memuat ketiga komponen secara utuh, mendalam, dan terpadu: catatan pengamatan empiris kontekstual, penyajian data statistik BPS/Kemnaker akurat, serta analisis komprehensif akar masalah ekonomi pengangguran. | | Penarikan Kesimpulan Faktor Penyebab dan Solusi (TP 11.2.5, TP 11.2.6 - Laporan Portofolio) | Hanya memuat salah satu dari kesimpulan faktor penyebab atau usulan solusi tanpa keterkaitan logis dengan masalah yang dianalisis. | Memuat kesimpulan faktor penyebab dan usulan solusi ketenagakerjaan, namun solusi masih bersifat umum dan belum terhubung erat dengan akar penyebab masalah. | Menarik kesimpulan faktor penyebab (struktural/friksional/musiman) secara tepat dan memberikan rekomendasi solusi konkret (pelatihan/kebijakan upah/perluasan kerja) yang relevan. | Menarik kesimpulan akar faktor penyebab secara mendalam berbasis bukti data serta memberikan paket rekomendasi solusi konkret yang aplikatif, terukur, dan realistis. | | Komunikasi Lisan Hasil Kesimpulan dan Solusi (TP 11.2.7 - Presentasi Kelompok) | Menyampaikan kesimpulan masalah atau solusi secara terbata-bata dan melebihi batas alokasi waktu yang ditentukan. | Menyampaikan kesimpulan masalah dan rekomendasi solusi secara lisan namun alur penyampaian kurang terstruktur atau tidak selesai tepat waktu. | Mengomunikasikan penarikan kesimpulan masalah ketenagakerjaan serta rekomendasi solusi secara lisan dengan alur runtut dan tepat waktu (4,5 menit). | Mengomunikasikan penarikan kesimpulan masalah ketenagakerjaan dan rekomendasi solusinya secara lisan dengan sangat runtut, jelas, terstruktur, serta tepat dalam alokasi waktu 4,5 menit. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit efektif memfasilitasi 3 komponen asesmen sumatif (tes individual, portofolio, dan presentasi lisan)?
- Tujuan pembelajaran mana dari Bab Ketenagakerjaan yang pencapaian muridnya paling menonjol dan bagian mana yang memerlukan penguatan remedial?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif bab ini (tes konsep, telaah data kasus, atau presentasi solusi) yang paling menantang bagiku?
- Bagaimana pemahaman bab Ketenagakerjaan ini menyadarkan diriku akan pentingnya mempersiapkan keahlian kerja di masa depan?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024, Bab 2 Ketenagakerjaan
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024, Bab 2 Ketenagakerjaan Halaman 56-60
- Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
- Lembar Kerja Murid dan Kartu Profil Ketenagakerjaan
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024 (Bab 2, hal. 58-62)
- Set Kartu Profesi untuk aktivitas 'Klasifikasi Cepat Profesi'
- Lembar Kerja Penjelasan Konsep Tenaga Kerja
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi)
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI
- Lingkungan usaha di sekitar sekolah (kantin, koperasi, kios perdagangan sekitar gerbang sekolah)
- Lembar Panduan Observasi Lapangan Ketenagakerjaan
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2023)
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Bab 2 (Kemendikbudristek 2023)
- Publikasi Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia (BPS)
- Lembar Kerja Siswa dan Kartu Kasus Ketenagakerjaan Regional-Nasional
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024
- Kutipan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Ketenagakerjaan Indonesia (rilis Februari 2024)
- Laman resmi BPS (https://buku.kemdikbud.go.id/s/BPS)
- Portal resmi Kementerian Ketenagakerjaan RI (https://kemnaker.go.id)
- Buku Panduan Guru Ekonomi SMA/MA Kelas XI Revisi
- Buku Siswa Ekonomi SMA/MA Kelas XI
- Komputer/gawai dengan koneksi internet atau lembar cetak arsip warta kebijakan ketenagakerjaan Kemnaker
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024, Bab II Ketenagakerjaan.
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2024, Bab II Ketenagakerjaan.
- Lembar Analisis Kasus Pengangguran Terbuka dan Setengah Pengangguran.
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023) Bab 2: Ketenagakerjaan
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023)
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Analisis Studi Kasus Kesenjangan Keterampilan dan Upah
- Infografik Tren Ketenagakerjaan dan Kebutuhan Keterampilan Industri (BPS dan Kemnaker RI)
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2023), Bab II Ketenagakerjaan
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2023), Aktivitas 2.8 dan Aktivitas 2.9
- Lembar Kerja Siswa: Kartu Skenario Pengangguran dan Lembar Kasus Pengangguran Struktural
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI, Bab 2 Ketenagakerjaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
- Lembar Kerja Kasus Ketenagakerjaan (Narasi Friksional dan Musiman).
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Revisi (Kemendikbudristek 2023)
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2023 Bab 2 Ketenagakerjaan)
- Lembar Kerja Studi Kasus Masalah Ketenagakerjaan dan Kebutuhan Keterampilan
- Informasi publik program pelatihan vokasi dan sertifikasi kompetensi (Kementerian Ketenagakerjaan RI dan BNSP)
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2023, Bab Ketenagakerjaan)
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2023, Aktivitas 2.10 dan 2.12)
- Lembar Kerja Murid (LKPD) Studi Kasus Ketenagakerjaan Daerah X
- Kartu Masalah dan Solusi Ketenagakerjaan
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2023, Bab II Ketenagakerjaan)
- Buku Teks Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2023, Aktivitas 2.10 Kebijakan Mengatasi Pengangguran)
- Lembar Panduan Komunikasi Hasil Analisis Ketenagakerjaan
- Buku Panduan Guru Ekonomi Kelas XI SMA/MA (Kemendikbudristek)
- Buku Siswa Ekonomi Kelas XI SMA/MA (Kemendikbudristek)
- Lembar Kerja Ringkasan Komunikasi Ketenagakerjaan
- Buku Teks Siswa Ekonomi Kelas XI Bab 2 Ketenagakerjaan (Kemendikbudristek 2023)
- Data Statistik Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik (BPS)
- Laman Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)
- Lembar Kerja Siswa: Matriks Triangulasi Pengamatan, Data, dan Analisis Konsep
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI, Bab 2 Ketenagakerjaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Matriks Analisis Terpadu Faktor Penyebab dan Solusi Ketenagakerjaan
- Buku Panduan Guru Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2023.
- Buku Siswa Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI, Bab 2: Ketenagakerjaan, Kemendikbudristek 2023.
- Lembar Soal Asesmen Sumatif Bab Ketenagakerjaan dan Rubrik Penilaian Portofolio/Presentasi.
- Publikasi Data Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Laman Resmi Kementerian Ketenagakerjaan RI.
|