Modul AjarPertemuan 1Bab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Mengenal Legenda: Definisi, Ciri, dan Perbedaannya dengan Dongeng

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 9 dengan topik "Mengenal Legenda: Definisi, Ciri, dan Perbedaannya dengan Dongeng". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Mengenal Legenda: Definisi, Ciri, dan Perbedaannya dengan Dongeng

Bahasa Indonesia - Kelas 9

Bab 4 - Pertemuan 1

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Mengenal Legenda: Definisi, Ciri, dan Perbedaannya dengan Dongeng

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikMengenal Legenda: Definisi, Ciri, dan Perbedaannya dengan Dongeng
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat mengonstruksi pengertian legenda berdasarkan ciri-ciri kebahasaan dan membedakannya dengan dongeng setelah membaca dua contoh teks yang disediakan. (elemen: Membaca dan Memirsa)
  2. Murid dapat mengemukakan persamaan dan perbedaan antara legenda dan fabel secara lisan dengan alasan yang logis. (elemen: Berbicara dan Mempresentasikan)

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian mendengar cerita tentang asal-usul suatu tempat, misalnya Danau Toba atau Tangkuban Perahu? Menurut kalian, apakah cerita itu nyata atau rekaan? Mengapa?
  2. Apa yang membedakan sebuah legenda dengan dongeng seperti Cinderella atau Bawang Merah Bawang Putih yang pernah kalian baca atau tonton?
  3. Jika sebuah cerita rakyat mengisahkan seekor kancil yang cerdik, apakah cerita itu bisa disebut legenda? Apa alasannya?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengecek kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (2 menit).
  • Guru meminta murid memejamkan mata sejenak dan membayangkan sebuah tempat yang namanya berasal dari sebuah kisah, lalu membuka mata dan berbagi gambaran singkat kepada teman sebangku — mengaktifkan skema awal dan menghadirkan suasana berkesadaran (2 menit).
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik secara lisan dan menampung 2–3 respons spontan murid tanpa menilai benar/salah (3 menit).
  • Asesmen awal (diagnostik): Guru menampilkan dua judul teks di papan tulis, yaitu 'Asal Mula Ake To Lahi' dan 'Bangau dan Kepiting', kemudian bertanya secara lisan, 'Mana yang menurut kalian legenda dan mana yang bukan? Tuliskan satu alasan di secarik kertas.' Guru mengumpulkan kertas dan membaca sekilas untuk memetakan pemahaman awal murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 9.4.1.1 dan 9.4.1.2 secara ringkas dan menjelaskan alur kegiatan hari ini (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan teks legenda 'Asal Mula Ake To Lahi' (atau teks legenda Nusantara lain yang tersedia) dan teks fabel 'Bangau dan Kepiting'. Murid membaca kedua teks secara individual dengan tenang selama 7 menit. Guru mengingatkan untuk membaca aktif: tandai kata atau kalimat yang menarik perhatian (prinsip Berkesadaran).
  • Setelah membaca, guru menyajikan pernyataan pemantik terstruktur di papan tulis untuk memandu murid menganalisis isi teks legenda: 'Legenda ini bercerita tentang tokoh bernama.... Cerita terjadi di daerah.... Hal yang dialami tokoh adalah.... Untuk mengatasi masalahnya, tokoh melakukan.... Akhir cerita, sang tokoh....' Murid mengisi pernyataan tersebut secara individu di buku tulis (5 menit).
  • Guru memfasilitasi diskusi kelas singkat: beberapa murid berbagi temuan mereka dari pernyataan pemantik. Guru melakukan penguatan dengan menjelaskan pengertian legenda, jenis-jenis legenda (legenda alam gaib, legenda keagamaan, legenda setempat, legenda perseorangan), dan ciri-cirinya: mengisahkan asal-usul suatu tempat atau benda, tokoh bersifat manusia atau makhluk nyata, dianggap pernah terjadi, latar waktu dan tempat spesifik (8 menit, prinsip Bermakna).
  • Murid mencatat definisi dan ciri-ciri legenda hasil diskusi di buku catatan mereka dengan kata-kata sendiri — bukan menyalin verbatim — untuk mengonstruksi pemahaman pribadi (3 menit, prinsip Berkesadaran).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dibagi menjadi kelompok 4–5 orang. Setiap kelompok mendapat tabel perbandingan kosong dengan kolom: Aspek | Legenda | Fabel. Aspek yang harus diisi: (1) tokoh utama, (2) latar, (3) sumber cerita, (4) apakah dianggap nyata, (5) pesan moral, (6) ciri khas teks. Kolom 'Persamaan' juga disediakan (prinsip Menggembirakan — kerja tim yang aktif).
  • Setiap kelompok berdiskusi mengisi tabel berdasarkan dua teks yang sudah dibaca. Guru berkeliling, memberikan umpan balik formatif, dan mendorong murid menggunakan bukti tekstual saat mengisi tabel (8 menit, prinsip Bermakna).
  • Satu wakil dari setiap kelompok mempresentasikan hasil tabel secara lisan di depan kelas (atau dari tempat duduk jika waktu terbatas) selama 1–2 menit per kelompok. Murid lain boleh menambahkan atau mengajukan pertanyaan singkat. Guru mencatat poin penting di papan tulis (8 menit, prinsip Menggembirakan — presentasi lisan aktif).
  • Guru meluruskan miskonsepsi yang muncul dan memastikan seluruh kelas memahami perbedaan utama: legenda mengisahkan asal-usul tempat/benda nyata dengan tokoh manusia/makhluk nyata, sedangkan fabel menggunakan tokoh hewan dengan pesan moral tanpa klaim keterjadian nyata (3 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara individual menulis 2–3 kalimat di buku tulis menjawab pertanyaan: 'Apa yang sebelumnya kamu kira tentang legenda, dan apa yang kamu pahami sekarang setelah kegiatan tadi? Apakah ada yang masih membingungkan?' (4 menit, prinsip Berkesadaran).
  • Guru mengajak 2–3 murid berbagi refleksi singkat secara lisan. Guru merespons dengan apresiasi dan memperjelas hal yang masih membingungkan (3 menit, prinsip Bermakna).
  • Murid mengisi kartu 'Penilaian Diri' singkat: memberi tanda centang pada pernyataan — 'Saya sudah bisa menjelaskan pengertian legenda' dan 'Saya sudah bisa menyebutkan perbedaan legenda dan fabel dengan alasan.' Kartu dikumpulkan ke guru sebagai data asesmen proses (2 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: pengertian legenda, ciri-ciri legenda, dan perbedaan pokok legenda dengan fabel (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir singkat (sumatif pertemuan): murid secara individu menuliskan definisi legenda dengan kata-katanya sendiri dan menyebutkan minimal dua perbedaan antara legenda dan fabel di selembar kertas (5 menit).
  • Guru memberikan tindak lanjut: murid diminta mencari satu judul legenda Nusantara yang belum pernah mereka baca dan menuliskan dari daerah mana legenda itu berasal — sebagai tugas ringan untuk memantik rasa ingin tahu di pertemuan berikutnya.
  • Guru menutup pembelajaran dengan salam dan apresiasi singkat atas partisipasi murid.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang sudah sangat familiar dengan legenda dapat diberikan teks legenda yang lebih panjang atau lebih kompleks (misalnya legenda dari luar Nusantara) untuk dibandingkan, sehingga analisis mereka lebih menantang. Murid yang belum familiar dapat diberikan teks legenda versi ringkas atau disertai glosarium kosakata sulit.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan dapat menggunakan tabel perbandingan yang sudah diisi sebagian (scaffolding) untuk membantu mereka memulai analisis. Murid yang lebih cepat dapat diminta menulis analisis komparatif tambahan secara mandiri tanpa panduan tabel.
  • Produk: Murid dapat memilih cara mempresentasikan hasil perbandingan: secara lisan langsung, melalui tabel tertulis yang diperjelas dengan catatan singkat, atau melalui sketsa visual/bagan yang menggambarkan persamaan dan perbedaan legenda dan fabel.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan dua judul teks ('Asal Mula Ake To Lahi' dan 'Bangau dan Kepiting') dan meminta murid menuliskan di secarik kertas: mana yang merupakan legenda dan satu alasan singkat mengapa. Guru membaca sekilas untuk memetakan pengetahuan awal sebelum pembelajaran inti dimulai.

Proses:

  • Observasi aktif guru saat murid membaca teks dan mengisi pernyataan pemantik — guru memperhatikan ketepatan identifikasi informasi teks.
  • Pemantauan diskusi kelompok saat pengisian tabel perbandingan: guru mencatat kualitas argumen yang disampaikan murid dan memberikan umpan balik langsung.
  • Kartu penilaian diri: murid mencentang dua pernyataan indikator ketercapaian tujuan pembelajaran, dikumpulkan ke guru sebagai data pemantauan proses.

Akhir:

  • Tulisan individu: murid menuliskan definisi legenda dengan bahasanya sendiri dan menyebutkan minimal dua perbedaan legenda dengan fabel beserta alasan — dikerjakan di akhir pertemuan tanpa membuka catatan.
  • Presentasi lisan: wakil kelompok menyampaikan hasil perbandingan legenda dan fabel secara lisan — dinilai dengan rubrik ketepatan isi dan kelancaran penyampaian.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: murid menuliskan di secarik kertas teks mana yang merupakan legenda beserta satu alasan — digunakan untuk memetakan pemahaman awal sebelum pembelajaran inti dimulai.
  • Observasi guru selama diskusi kelompok pengisian tabel perbandingan: guru mencatat murid yang aktif memberikan alasan berbasis teks dan yang masih memerlukan bimbingan.
  • Kartu penilaian diri di akhir tahap Merefleksi: murid menilai sendiri ketercapaian dua indikator pembelajaran.

Sumatif:

  • Murid menuliskan definisi legenda dengan kata-katanya sendiri dan menyebutkan minimal dua perbedaan antara legenda dan fabel — dikerjakan secara individu di akhir pertemuan sebagai bukti ketercapaian TP 9.4.1.1.
  • Presentasi lisan hasil tabel perbandingan legenda dan fabel oleh wakil kelompok — dinilai menggunakan rubrik komunikasi lisan sebagai bukti ketercapaian TP 9.4.1.2.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengonstruksi Pengertian Legenda (TP 9.4.1.1)Murid belum dapat menjelaskan pengertian legenda atau penjelasannya tidak relevan dengan ciri-ciri teks yang dibaca.Murid dapat menyebutkan pengertian legenda secara umum tetapi belum mengaitkannya dengan ciri-ciri kebahasaan yang ditemukan dalam teks.Murid dapat mengonstruksi pengertian legenda berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan dalam teks dengan bahasa yang cukup jelas dan logis.Murid dapat mengonstruksi pengertian legenda secara lengkap dan tepat berdasarkan bukti tekstual yang spesifik, serta menjelaskannya dengan bahasa yang jelas, runtut, dan mandiri.
Membedakan Legenda dengan Fabel (TP 9.4.1.1)Murid belum dapat menyebutkan perbedaan antara legenda dan fabel, atau perbedaan yang disebutkan tidak tepat.Murid dapat menyebutkan satu perbedaan antara legenda dan fabel tetapi tanpa disertai alasan yang logis.Murid dapat menyebutkan minimal dua perbedaan antara legenda dan fabel disertai alasan yang logis.Murid dapat menyebutkan tiga atau lebih perbedaan legenda dan fabel dengan alasan yang logis, spesifik, dan didukung bukti dari teks yang dibaca.
Mengemukakan Persamaan dan Perbedaan secara Lisan (TP 9.4.1.2)Murid tidak dapat mengemukakan persamaan atau perbedaan legenda dan fabel secara lisan, atau penyampaiannya tidak dapat dipahami.Murid dapat menyampaikan persamaan atau perbedaan secara lisan dengan bahasa yang masih terbata-bata dan alasan yang belum jelas.Murid dapat mengemukakan persamaan dan perbedaan legenda dan fabel secara lisan dengan bahasa yang cukup lancar dan alasan yang cukup logis.Murid dapat mengemukakan persamaan dan perbedaan legenda dan fabel secara lisan dengan bahasa yang lancar, alasan yang logis dan spesifik, serta mampu merespons pertanyaan tambahan dari teman atau guru.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah pertanyaan pemantik yang saya gunakan berhasil mengaktifkan rasa ingin tahu murid? Bagian mana yang perlu saya perbaiki?
  • Seberapa efektif penggunaan dua teks (legenda dan fabel) dalam membantu murid memahami perbedaan keduanya secara mandiri?
  • Apakah seluruh murid mendapat kesempatan yang cukup untuk berpartisipasi aktif, baik dalam diskusi kelompok maupun presentasi lisan?
  • Berdasarkan hasil asesmen awal dan akhir, seberapa banyak murid yang telah mencapai TP 9.4.1.1 dan 9.4.1.2? Apa tindak lanjut yang perlu saya siapkan untuk pertemuan berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Apa hal paling menarik yang kamu pelajari hari ini tentang legenda? Mengapa hal itu menarik bagimu?
  • Sebelum pelajaran ini, apa yang kamu kira tentang legenda? Setelah pelajaran ini, apa yang berubah dari pemahamanmu?
  • Apakah kamu sudah bisa membedakan legenda dan fabel dengan alasan yang jelas? Bagian mana yang masih terasa sulit?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi) — Bab IV 'Meneladani Pesan Moral dalam Legenda', termasuk teks legenda 'Asal Mula Ake To Lahi', 'Pohon Enau', dan teks fabel 'Bangau dan Kepiting'.
  2. Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi) — Bab IV, termasuk panduan kegiatan, formatif awal, dan penguatan teori legenda.
  3. Tabel perbandingan legenda dan fabel (lembar kerja yang disiapkan guru — dapat dicetak atau ditampilkan di papan tulis).
  4. Kartu penilaian diri murid (disiapkan guru — berisi dua pernyataan indikator ketercapaian TP).
  5. Papan tulis atau media tayang (proyektor/TV) untuk menampilkan pernyataan pemantik terstruktur dan rangkuman ciri-ciri legenda.
  6. Buku tulis dan alat tulis murid.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.