Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9 Bab 4: Meneladani Pesan Moral dalam Legenda

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 9 untuk Bab 4 "Meneladani Pesan Moral dalam Legenda", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9 Bab 4: Meneladani Pesan Moral dalam Legenda

Bahasa Indonesia - Kelas 9

Bab 4

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Meneladani Pesan Moral dalam Legenda

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikBab 4 — Meneladani Pesan Moral dalam Legenda
Alokasi Waktu37 JP (37 x 40 menit = 1480 menit)
Jumlah Pertemuan15
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 9.4.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berbentuk teks aural berupa legenda
  2. TP 9.4.2 Menganalisis pesan dari teks legenda berwujud teks visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
  3. TP 9.4.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dan/atau pendapat pro/kontra dari teks legenda berwujud teks visual
  4. TP 9.4.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari teks legenda berbentuk teks multimodal
  5. TP 9.4.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam teks legenda berbentuk teks multimodal menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa dalam menyimak cerita kita perlu membedakan antara tema pokok cerita dengan sekadar judul cerita?
  2. Bagaimana cara kita mengetahui sifat dan watak tokoh cerita rakyat yang hanya kita dengarkan tanpa melihat gambarnya?
  3. Bagaimana urutan peristiwa (tahapan awal, tengah, dan akhir) membangun ketegangan dalam sebuah cerita legenda?
  4. Mengapa latar tempat, waktu, dan suasana sangat memengaruhi jalannya alur cerita yang kita dengar?
  5. Bagaimana tindakan atau sifat seorang tokoh dalam legenda mempengaruhi akhir cerita yang dialaminya?
  6. Apakah pesan moral atau amanat dalam cerita legenda selalu berhubungan langsung dengan masalah yang dihadapi tokoh?
  7. Bagaimana kita mengenali pesan moral yang tertulis secara langsung (tersurat) dalam kalimat atau nasihat pada sebuah cerita legenda?
  8. Mengapa sebuah peristiwa tragis atau keberhasilan tokoh dalam legenda sengaja diceritakan secara gamblang oleh pengarang?
  9. Mengapa pesan penting dalam cerita rakyat terkadang tidak diucapkan langsung oleh tokohnya?
  10. Bagaimana cara kita mengetahui maksud tersembunyi atau nilai moral dari tindakan yang dilakukan oleh seorang tokoh cerita?
  11. Apa perbedaan antara pesan moral yang tertulis langsung dengan pesan moral yang harus kita simpulkan sendiri dari peristiwa cerita?
  12. Mengapa kita perlu membandingkan makna tersurat dan makna tersirat saat membaca teks legenda?
  13. Bagaimana sebuah penderitaan atau kemalangan tokoh dalam teks legenda dapat menggugah rasa peduli kita terhadap sesama?
  14. Apa bentuk kepedulian sosial yang dapat kita rumuskan setelah membaca kisah ketidakadilan dalam cerita rakyat?
  15. Ketika seorang tokoh dalam legenda melakukan tindakan yang merugikan orang lain demi membela harga dirinya, apakah tindakannya tersebut dapat dibenarkan?
  16. Bagaimana cara kita menimbang sisi positif (pro) dan sisi negatif (kontra) dari keputusan yang diambil oleh tokoh cerita rakyat?
  17. Apakah semua tindakan tokoh orang tua atau penguasa dalam cerita legenda selalu tepat untuk ditiru?
  18. Bagaimana cara kita mengkritisi nilai atau tindakan tokoh dalam legenda agar kita bijak menerapkannya dalam kehidupan masa kini?
  19. Bagaimana sebuah gambar poster atau potongan video dapat memperkuat ungkapan rasa peduli kita terhadap peristiwa dalam legenda?
  20. Unsur apa saja yang perlu kita siapkan sebelum menyajikan tanggapan terhadap legenda secara multimodal agar pesan kepedulian tersampaikan utuh?
  21. Bagaimana cara menyampaikan rasa simpati atau kepedulian kita terhadap nasib tokoh dalam legenda menggunakan media suara dan gambar?
  22. Mengapa ungkapan kepedulian lisan terasa lebih menyentuh ketika dipadukan dengan unsur visual atau teks multimodal?
  23. Apa perbedaan makna kata 'dingin' pada kalimat 'Air telaga itu sangat dingin' dengan 'Sikap pemuda itu sangat dingin kepada orang tuanya'?
  24. Mengapa penulis teks legenda sering menggunakan ungkapan kiasan seperti 'lapang dada' atau 'gelap mata' dalam menggambarkan perasaan tokoh?
  25. Bagaimana pilihan kata kiasan dapat memperdalam rasa simpati dan kepedulian saat kita menulis ulang pesan moral legenda?
  26. Mengapa perpaduan teks visual atau multimodal membuat ungkapan kepedulian yang kita tulis menjadi lebih menyentuh?
  27. Bagaimana ketepatan pemilihan kata denotatif dan konotatif dapat memperkuat pesan kepedulian dalam teks legenda multimodal?
  28. Mengapa proses menyunting draf tulisan penting dilakukan sebelum menghasilkan karya final ungkapan kepedulian?
  29. Bagaimana unsur-unsur cerita legenda dan pesan moral di dalamnya dapat membantu kita mengevaluasi tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari?
  30. Bagaimana memadukan kata denotatif, konotatif, dan kiasan dalam teks multimodal agar ungkapan kepedulian terhadap nilai legenda tersampaikan secara mendalam kepada pendengar?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Unsur Intrinsik Tema, Tokoh, dan Penokohan dalam Teks Legenda Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berbentuk teks aural berupa legenda

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan ruang lingkup kegiatan menyimak unsur tema, tokoh, serta penokohan cerita legenda (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik menyimak melalui pembacaan kutipan singkat legenda 'Asal-Usul Rawa Pening' (cuplikan: 'Baru Klinting yang berwujud naga menjelma anak laki-laki penuh luka, namun warga desa sombong mengusirnya kecuali Mbok Rondo yang murah hati'): murid diminta menuliskan 1 tema pokok (acuan: balasan atas kesombongan/kerendahan hati) dan 2 karakter tokoh beserta buktinya (acuan: Baru Klinting = sabar/tabah; warga desa = angkuh/sombong; Mbok Rondo = penolong/baik hati) pada lembar diagnostik (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang konsep unsur intrinsik teks sastra aural yang dibatasi pada: (1) tema sebagai gagasan sentral yang melandasi cerita (membedakannya dari judul), (2) tokoh utama dan tokoh pendukung, serta (3) penokohan/watak tokoh melalui metode analitik (langsung disebutkan narator) dan dramatik (tersirat lewat dialog/perilaku) (15 menit).
  • Murid mengikuti permainan menggembirakan 'Tebak Sifat Tokoh': guru membacakan 3 kutipan tuturan dialog aural, murid mengangkat kartu kode watak yang tepat: (1) 'Ambillah beras ini, Nek, simpan untuk makan esok' (acuan watak: murah hati/peduli); (2) 'Jangan sentuh barangku, dasar pengemis kotor!' (acuan watak: sombong/kasar); (3) 'Meskipun lelah dan dicemooh, aku tetap melangkah mendaki puncak demi kesembuhan ibuku' (acuan watak: gigih/pantang menyerah dan berbakti) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak pembacaan teks legenda 'Asal Usul Danau Toba' putaran pertama secara utuh dengan berfokus mencatat kata kunci peristiwa, dialog antartokoh, dan penggambaran sifat tokoh (15 menit).
  • Murid menyimak kembali pembacaan putaran kedua dan mengisi Lembar Kerja Analisis Unsur Intrinsik Aural untuk menemukan: (1) tema cerita (acuan: pengingkaran janji membawa bencana/penyesalan), (2) identifikasi 3 tokoh (acuan: Toba, Istri Toba/Putri Ikan, Samosir), dan (3) penokohan beserta bukti kutipan aural (acuan: Toba = tidak sabar/ingkar janji terbukti melanggar sumpah memaki anaknya; Istri Toba = setia namun teguh pada pendirian terbukti menuntut janji ditepati; Samosir = ceroboh/mudah tergoda lapar terbukti memakan bekal ayahnya) (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mencocokkan hasil analisisnya secara berpasangan terhadap kriteria acuan kelengkapan unsur intrinsik (ketepatan tema, kesesuaian penokohan ketiga tokoh, dan adanya bukti kutipan teks aural) guna memeriksa ketelitian pemahaman mandiri (15 menit).
  • Murid menuliskan refleksi metakognitif singkat di lembar kerja mengenai strategi menyimak yang efektif untuk menangkap watak tokoh yang tidak diucapkan secara gamblang oleh pencerita (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan cara menentukan tema dan menganalisis karakter tokoh secara tepat dari teks legenda yang diperdengarkan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik pencapaian kompetensi menyimak hari ini dan menginformasikan bahwa materi pertemuan berikutnya adalah analisis unsur alur, latar, dan sudut pandang pada teks legenda aural (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan menyimak, guru menyediakan penggalan rekaman audio per babak peristiwa; untuk murid cepat, teks aural diperdengarkan dengan kecepatan intonasi wajar tanpa jeda bertahap.
  • Proses: Murid berkesiapan rendah dibantu dengan format tabel pemandu yang menyediakan pilihan kata sifat perwatakan, sedangkan murid berkesiapan tinggi menganalisis penokohan dan menguraikan bukti kalimat kutipan secara mandiri penuh.
  • Produk: Format penyajian lembar kerja analisis dapat berupa bagan pemetaan karakter visual atau tabel analisis tertulis standar dengan target komponen ketepatan unsur yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes menyimak diagnostik lisan 1 penggalan teks legenda 'Asal-Usul Rawa Pening'. Murid menuliskan: (1) Tema cerita (acuan kunci: kesombongan berbuah bencana / kebaikan yang terbalas); (2) Karakter tokoh (acuan kunci: Baru Klinting = sabar/tabah; warga desa = sombong/angkuh; Mbok Rondo = dermawan/penolong) beserta 1 bukti tuturan yang disimak.

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja pengerjaan analisis menyimak saat teks legenda 'Asal Usul Danau Toba' diperdengarkan. Butir yang dinilai: (1) Ketepatan perumusan tema (acuan: akibat fatal melanggar janji/amanah); (2) Ketepatan analisis tokoh dan perwatakan 3 tokoh utama (acuan: Toba berwatak ingkar janji/emosional; Istri Toba berwatak penyabar dan teguh berprinsip; Samosir berwatak lalai/polos); (3) Kesesuaian bukti kalimat kutipan aural untuk setiap perwatakan tokoh.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri tertulis 2 butir: (1) Tuliskan perbedaan antara tema cerita dan judul cerita (acuan: judul adalah nama/label kepala karangan, tema adalah ide/gagasan pokok dasar yang menjiwai seluruh isi cerita); (2) Sebutkan 2 cara seorang pendengar mengetahui watak tokoh legenda yang disimaknya (acuan: dari penjelasan langsung narator dan dari ucapan/tindakan/reaksi tokoh dalam cerita).

Formatif:

  • Tes tertulis formatif berupa Lembar Analisis Unsur Intrinsik Aural (Tema, Tokoh, dan Penokohan) berdasarkan rekaman/pembacaan teks legenda 'Asal Usul Danau Toba'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Tema Teks Legenda AuralBelum mampu menentukan tema, masih menyamakan tema dengan judul teks legenda yang disimak.Menyebutkan gagasan cerita namun belum menyentuh tema pokok yang melandasi teks legenda aural.Menganalisis tema pokok cerita legenda yang disimak secara tepat sesuai acuan (akibat pelanggaran janji).Menganalisis tema cerita secara komprehensif dan tepat disertai rumusan gagasan pokok yang mendalam berdasarkan teks aural.
Menganalisis Tokoh dan Penokohan Teks Legenda AuralMenganalisis kurang dari 2 tokoh dan salah menentukan perwatakan serta tidak menyertakan bukti tuturan aural.Menganalisis 2 tokoh dan wataknya dengan tepat, namun belum menyertakan bukti kutipan kalimat aural yang relevan.Menganalisis ketiga tokoh (Toba, Istri Toba, Samosir) dan wataknya secara tepat sesuai acuan disertai bukti tuturan aural pendukung.Menganalisis ketiga tokoh dan perwatakannya secara tepat, lengkap dengan kutipan tuturan aural serta mengidentifikasi teknik penggambarannya (analitik/dramatik) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah artikulasi pembacaan dan kejelasan audio teks legenda sudah cukup memfasilitasi murid membedakan watak antartokoh?
  • Bagian mana dari langkah menyimak bertahap yang paling membantu murid menemukan perbedaan antara judul dan tema?

Murid:

  • Strategi apa yang paling membantumu menangkap sifat tokoh saat hanya menyimak tanpa melihat teks tulisan?
  • Kesulitan apa yang masih kamu hadapi saat membedakan antara tema pokok cerita dengan jalan peristiwa legenda?

Pertemuan 2 — Menganalisis Unsur Intrinsik Alur, Latar, dan Sudut Pandang dalam Teks Legenda Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berbentuk teks aural berupa legenda

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memeriksa kehadiran (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis unsur intrinsik alur (tahap awal, tengah, akhir), latar (tempat, waktu, suasana), dan sudut pandang dalam teks legenda aural (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperdengarkan rekaman kutipan audio sepanjang 1 menit: 'Malam itu, di tepi Danau Toba yang sunyi dan berkabut, Toba merasa gelisah mengingat janjinya pada sang istri.' Guru mengajukan 2 pertanyaan lisan: (1) Sebutkan latar tempat, waktu, dan suasana dalam kutipan tersebut! (acuan: tempat di tepi Danau Toba; waktu malam hari; suasana sunyi/gelisah/berkabut); (2) Siapakah kata ganti pengamat yang dipakai pencerita? (acuan: orang ketiga/nama tokoh Toba/dia) (9 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui bagan alur mengenai tahapan alur (awal: pengenalan tokoh/latar; tengah: pemunculan konflik dan klimaks; akhir: penyelesaian/peleraian), jenis-jenis latar (tempat, waktu, suasana), serta sudut pandang (orang pertama pelaku utama/sampingan menggunakan kata ganti 'aku/saya' dan orang ketiga serbatahu/pengamat menggunakan kata ganti 'dia/ia/mereka/nama tokoh') (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti kuis pemanasan cepat 'Tebak Unsur Aural': guru membacakan 3 kutipan pendek secara aural, lalu pasangan murid secara bergembira mengangkat kartu jawaban bertuliskan 'Alur', 'Latar', atau 'Sudut Pandang' yang paling dominan dianalisis dari kutipan tersebut: (1) 'Tiba-tiba seekor naga raksasa muncul membelah ombak dan menyemburkan api ke arah perahu nelayan' (acuan: Alur - tahap tengah/konflik); (2) 'Pagi merekah di Lembah Baliem, embun dingin menyelimuti bebatuan terjal' (acuan: Latar - waktu pagi, tempat Lembah Baliem, suasana dingin); (3) 'Aku hanya bisa terpaku melihat keajaiban batu menangis itu dari kejauhan' (acuan: Sudut pandang - orang pertama/aku) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperdengarkan rekaman teks aural legenda 'Asal Mula Ake To Lahi (Air Permintaan)' sebanyak dua kali secara utuh dan terarah (15 menit).
  • Murid bekerja berpasangan menganalisis unsur alur, latar, dan sudut pandang dari legenda aural yang diperdengarkan pada Lembar Analisis Intrinsik Aural (30 menit). [Kunci acuan analisis: (1) Alur Awal: Pengenalan Kerajaan Ternate yang makmur, Raja Sadik dan Ratu Gumira yang merindukan anak hingga lahir Pangeran Aditya; (2) Alur Tengah: Pangeran Aditya tumbuh menjadi manja dan menuntut kalung permata langka saat pesta ulang tahun, lalu ia melempar kalung tersebut hingga pecah berantakan saat permintaannya dinasihati ratu; (3) Alur Akhir: Bumi terbelah memancarkan air mata ratu dan menenggelamkan istana menjadi danau yang jernih (Ake To Lahi); (4) Latar Tempat: Kerajaan Ternate / istana / tepi danau; (5) Latar Waktu: Zaman dahulu / hari ulang tahun pangeran; (6) Latar Suasana: Makmur dan bahagia di awal, tegang dan haru saat pangeran merusak kalung, sedih/penyesalan di akhir; (7) Sudut Pandang: Orang ketiga serbatahu (pencerita di luar cerita menyebut nama tokoh Raja Sadik, Ratu Gumira, Pangeran Aditya dan mengetahui isi hati/keadaan istana)].

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap pasangan saling menukarkan lembar analisis dengan pasangan lain untuk memeriksa kesesuaian hasil identifikasi alur, latar, dan sudut pandang berdasarkan pemaparan klarifikasi guru di papan tulis (10 menit).
  • Murid merefleksikan proses menyimak mereka: strategi mencatat kata kunci penting saat menyimak teks aural yang membantu mengidentifikasi tahapan peristiwa dan latar secara tepat (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali bagaimana tahapan alur (awal, tengah, akhir), rincian latar (tempat, waktu, suasana), dan sudut pandang saling terhubung membangun keutuhan cerita legenda aural (6 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian menyimak murid serta menyampaikan rencana topik pertemuan berikutnya (menganalisis amanat dan keterkaitan antarunsur intrinsik teks legenda aural) tanpa memberikan tugas sumatif atau menutup bab (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan rekaman audio aural legenda dengan pelafalan berkecepatan normal untuk kelompok reguler, serta opsi mendengarkan kembali bagian audio tertentu (rekaman dibagi per babak: awal, tengah, akhir) bagi murid yang membutuhkan pengulangan.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format lembar isian dengan panduan pemandu pertanyaan alur (kapan konflik memuncak, di mana peristiwa terjadi), sedangkan murid yang sudah mahir menganalisis bukti hubungan sebab-akibat antarperistiwa pada tahapan alur.
  • Produk: Hasil analisis dituangkan dalam lembar kerja tertulis tabel pemetaan unsur intrinsik (alur 3 tahap, latar 3 dimensi, dan sudut pandang beserta buktinya dari teks yang disimak).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan berdasarkan kutipan audio 1 menit ('Malam itu, di tepi Danau Toba yang sunyi dan berkabut, Toba merasa gelisah mengingat janjinya pada sang istri'): (1) Sebutkan 3 latar dalam kutipan! Acuan jawaban: tempat = Danau Toba, waktu = malam hari, suasana = sunyi/gelisah/berkabut; (2) Apa sudut pandang yang dipakai? Acuan jawaban: orang ketiga (menggunakan nama tokoh Toba/kata ganti dia).

Proses:

  • Observasi partisipasi dan ketepatan respons murid saat kuis pemanasan 3 kutipan aural: Kutipan 1 (acuan: Alur), Kutipan 2 (acuan: Latar), Kutipan 3 (acuan: Sudut pandang).
  • Pemeriksaan lembar kerja analisis teks aural legenda 'Asal Mula Ake To Lahi': memeriksa ketepatan analisis pada 7 butir acuan (Alur awal, Alur tengah, Alur akhir, Latar tempat, Latar waktu, Latar suasana, dan Sudut pandang).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan singkat di akhir kegiatan: Murid menyebutkan fungsi tahapan alur tengah dalam cerita legenda (acuan jawaban benar: memunculkan konflik/masalah dan peristiwa yang dihadapi tokoh hingga mencapai puncak masalah/klimaks).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran mengenai latar dan kata ganti sudut pandang dari kutipan aural
  • Kuis pemanasan cepat mengangkat kartu kategori unsur intrinsik aural
  • Penilaian lembar analisis unsur intrinsik alur (tahap awal, tengah, akhir), latar (tempat, waktu, suasana), dan sudut pandang dari teks aural legenda 'Asal Mula Ake To Lahi'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Alur (Tahap Awal, Tengah, Akhir)Menganalisis kurang dari 2 tahapan alur secara tepat dari teks legenda aural yang disimak.Menganalisis 2 dari 3 tahapan alur (awal, tengah, atau akhir) secara tepat sesuai acuan teks legenda aural.Menganalisis seluruh tahapan alur (awal, tengah, dan akhir) secara tepat dan lengkap sesuai acuan peristiwa teks legenda aural.Menganalisis seluruh tahapan alur (awal, tengah, akhir) secara tepat dan runtut serta merinci hubungan sebab-akibat perpindahan antartahap alur dari teks legenda aural.
Analisis Latar (Tempat, Waktu, Suasana)Menganalisis hanya 1 dimensi latar secara tepat dari teks legenda aural yang disimak.Menganalisis 2 dimensi latar (misal tempat dan waktu saja) secara tepat sesuai acuan teks legenda aural.Menganalisis ketiga dimensi latar (tempat, waktu, dan suasana) secara tepat sesuai acuan teks legenda aural.Menganalisis ketiga dimensi latar secara lengkap, tepat sesuai acuan, dan menyertakan rincian bukti tekstual aural perubahannya di sepanjang cerita legenda.
Analisis Sudut PandangBelum tepat menentukan jenis sudut pandang dari teks legenda aural yang disimak.Menentukan jenis sudut pandang (orang ketiga) namun belum menyertakan bukti penggunaan kata ganti/nama tokoh dari teks aural.Menganalisis sudut pandang orang ketiga serbatahu secara tepat disertai bukti penggunaan kata ganti/nama tokoh dari teks aural legenda.Menganalisis sudut pandang orang ketiga serbatahu secara tepat disertai bukti penggunaan kata ganti/nama tokoh serta penjelasan fungsi pencerita serbatahu dalam teks aural legenda.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan teks aural legenda mampu melatih daya simak dan konsentrasi murid dalam menangkap rincian latar dan tahapan peristiwa?
  • Bagian tahapan alur atau unsur latar manakah yang paling banyak mengalami kekeliruan analisis oleh murid?

Murid:

  • Strategi menyimak apa yang paling membantuku menangkap urutan alur awal, tengah, dan akhir saat mendengarkan legenda?
  • Apakah aku sudah dapat membedakan latar suasana dengan perasaan tokoh dalam cerita yang kudengar?

Pertemuan 3 — Menganalisis Amanat dan Keterkaitan Antarunsur Intrinsik dalam Teks Legenda Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berbentuk teks aural berupa legenda

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menganalisis amanat dan keterkaitan antarunsur intrinsik dalam legenda yang disimak (4 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memperdengarkan rekaman ringkasan singkat Legenda Danau Toba (1 menit): 'Toba melanggar sumpahnya untuk tidak mengungkit asal-usul istrinya yang jelmaan ikan saat memarahi Samosir. Akibatnya, bencana banjir besar menenggelamkan desa.' Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan: (1) Apa amanat utama dari penggalan tersebut? (Acuan jawaban benar: Kita harus menepati janji/sumpah yang telah diucapkan); (2) Unsur apa yang menyebabkan munculnya bencana banjir? (Acuan jawaban benar: Tindakan tokoh Toba yang melanggar janji memicu konflik puncak/penyelesaian alur) (8 menit).
  • Guru mengelompokkan kesiapan murid berdasarkan respon diagnostik dan mengarahkan fokus menyimak pada keterkaitan antarunsur (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak pemaparan guru mengenai cara menganalisis amanat (pesan tersirat/nasihat pengarang) serta keterkaitan kausalitas antarunsur intrinsik (bagaimana watak tokoh memicu konflik alur, bagaimana latar membentuk tindakan tokoh, dan bagaimana penyelesaian memunculkan amanat) (12 menit).
  • Guru membacakan teks aural model berjudul 'Legenda Batu Menangis': 'Di sebuah bukit terpencil, hiduplah janda miskin dan putrinya yang sangat manja dan sombong bernama Darmi. Ketika berjalan ke pasar desa di bawah terik matahari, sang anak meminta ibunya berjalan di belakang dan mengakuinya sebagai pembantu. Sang ibu yang teramat sedih berdoa agar Tuhan menghukum anaknya, hingga perlahan tubuh Darmi membatu sambil meneteskan air mata penyesalan.' (6 menit).
  • Tantangan Menyenangkan 'Jejak Tiga Titik': Dalam pasangan sebangku, murid bermain mencocokkan kartu keterkaitan unsur dari teks 'Legenda Batu Menangis' yang disimak: Kartu Tokoh ('Darmi sombong & durhaka'), Kartu Alur ('Ibu berdoa memohon keadilan -> tubuh membatu'), dan Kartu Amanat ('Jangan durhaka kepada orang tua'). Pasangan yang paling cepat menempelkan urutan logis saling mengoreksi bersama bimbingan guru (12 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Guru memperdengarkan rekaman audio Legenda Maluku Utara 'Asal Mula Ake To Lahi' secara utuh dan jelas (10 menit).
  • Murid secara berpasangan berkolaborasi menganalisis unsur intrinsik pada lembar kerja analisis keterkaitan unsur (LKPD) yang memuat 3 butir analisis keterkaitan: (1) Keterkaitan watak tokoh Pangeran Aditya dengan konflik cerita, (2) Keterkaitan latar tempat/suasana dengan peristiwa pencarian air, dan (3) Rumusan amanat cerita beserta buktinya dari peristiwa akhir alur (15 menit).
  • Setiap pasangan murid membandingkan hasil analisis mereka dengan pasangan sebelah dalam kegiatan 'Pemeriksaan Silang Kemitraan' untuk memverifikasi ketepatan logika hubungan antarunsur (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi hasil analisisnya dengan mencocokkan terhadap acuan kunci keterkaitan unsur yang dibacakan guru: Kunci (1) Sifat Pangeran Aditya yang manja/keras kepala memicu ia melarikan diri ke hutan sehingga timbul kepanikan istana; Kunci (2) Latar hutan lebat dan kemarau berkepanjangan memicu pencarian mata air suci; Kunci (3) Amanat: Pemimpin dan anak harus patuh pada nasihat demi keselamatan bersama, dibuktikan saat air permintaan muncul setelah doa dan ketundukan hati (13 menit).
  • Murid menuliskan satu kesadaran mandiri di lembar refleksi: bagaimana pemahaman keterkaitan antarunsur membantu mereka menemukan pesan moral cerita secara utuh dan terbukti logis (7 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh mengenai ketepatan analisis keterkaitan antarunsur intrinsik yang dikerjakan murid (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran pertemuan ini bahwa amanat sebuah legenda merupakan simpul akhir dari interaksi tokoh, latar, dan peristiwa dalam alur (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan bertahap, disediakan pemutaran ulang rekaman audio pada bagian klimaks cerita dan panduan berupa kalimat pemandu rumpang untuk menghubungkan sebab-akibat antarunsur. Bagi murid yang telah mahir, disediakan teks aural tanpa pengulangan pemutaran.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan mengerjakan analisis hubungan 2 unsur utama (tokoh-alur) terlebih dahulu sebelum menghubungkan ke amanat. Murid mahir menganalisis jejaring keterkaitan seluruh unsur (tokoh, latar tempat, alur, dan amanat) secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menuangkan analisis keterkaitan antarunsur dalam bentuk peta konsep alur sebab-akibat atau paragraf eksplanasi analisis hubungan unsur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik berdasarkan rekaman ringkasan 'Legenda Danau Toba' (2 butir): (1) 'Apa amanat dari cuplikan tersebut?' (Acuan jawaban benar: Kewajiban menjaga amanah/janji dan tidak mengingkarinya); (2) 'Bagaimana hubungan tindakan tokoh Toba dengan peristiwa akhir cerita?' (Acuan jawaban benar: Kemarahan Toba yang melanggar janji secara langsung menyebabkan istrinya kembali menjadi ikan dan memicu banjir bandang).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja analisis teks aural 'Asal Mula Ake To Lahi' mencakup 3 butir: Butir 1: Analisis hubungan watak tokoh Pangeran Aditya terhadap pemicu konflik cerita (Acuan: Watak keras kepala/manja Pangeran Aditya memicu peristiwa kaburnya pangeran dan konflik kesedihan keluarga kerajaan); Butir 2: Analisis pengaruh latar terhadap alur (Acuan: Latar wilayah yang kekeringan/hutan mendorong peristiwa pencarian sumber air); Butir 3: Analisis rumusan amanat berdasarkan penyelesaian cerita (Acuan: Kepatuhan dan ketulusan doa membawa berkah/penyelamatan rakyat, dibuktikan dengan keluarnya air Ake To Lahi).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir): 'Tuliskan hubungan kausalitas antara konflik tokoh dengan amanat yang kamu peroleh dari legenda aural yang baru disimak!' (Kriteria penerimaan operasional: Jawaban harus menyebutkan tindakan/konflik spesifik tokoh dalam cerita dan menjelaskan bagaimana penyelesaian atas konflik tersebut melahirkan nasihat/amanat moral cerita secara logis).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja analisis keterkaitan antarunsur intrinsik teks legenda aural 'Asal Mula Ake To Lahi'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Hubungan Tokoh terhadap Alur Cerita Legenda AuralBelum mampu mengaitkan watak tokoh dengan peristiwa dalam alur legenda aural yang disimak.Menyebutkan watak tokoh dan peristiwa alur secara terpisah, namun belum menunjukkan hubungan sebab-akibat yang logis.Menganalisis hubungan sebab-akibat antara tindakan/watak tokoh dengan pemicu peristiwa konflik dalam alur legenda aural secara tepat.Menganalisis secara komprehensif dan rinci bagaimana watak dan keputusan tokoh menggerakkan seluruh dinamika alur (awal, konflik, hingga penyelesaian) pada legenda aural.
Analisis Keterkaitan Alur dan Peristiwa terhadap Amanat Cerita Legenda AuralBelum mampu merumuskan amanat atau mengaitkannya dengan peristiwa legenda aural yang disimak.Merumuskan amanat legenda aural secara umum tanpa membuktikan keterkaitannya dengan peristiwa penyelesaian konflik.Menganalisis dan merumuskan amanat legenda aural dengan menunjukkan bukti keterkaitannya secara tepat pada peristiwa akhir alur.Menganalisis dan merumuskan amanat legenda aural secara mendalam dengan membuktikan keterkaitan logis dari keseluruhan jalinan peristiwa alur dari awal hingga akhir.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media audio teks legenda diperdengarkan dengan kejelasan artikulasi dan intonasi yang memadai untuk disimak seluruh murid?
  • Apakah instruksi analisis keterkaitan antarunsur intrinsik dapat dipahami murid tanpa tertukar dengan sekadar menyebutkan unsur secara terpisah?

Murid:

  • Bagian mana dari hubungan antarunsur cerita legenda yang paling mudah dan paling menantang untuk saya temukan saat menyimak tadi?
  • Bagaimana cara saya memastikan bahwa amanat yang saya simpulkan benar-benar didukung oleh alur peristiwa dalam legenda yang saya dengar?

Pertemuan 4 — Menganalisis Pesan Moral Tersurat dari Peristiwa Teks Legenda Visual — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.2 Menganalisis pesan dari teks legenda berwujud teks visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran membaca teks legenda visual untuk menganalisis pesan moral yang tersurat (5 menit).
  • Guru melaksanakan diagnostik awal singkat: murid membaca satu kutipan legenda 'Asal Mula Danau Toba' ('Samosir memakan bekal ayahnya hingga habis, lalu sang ayah murka dan bersumpah melanggar janjinya') dan menjawab pertanyaan: 'Pesan tersurat apa yang secara langsung tertulis dalam larangan menjaga amanah pada penggalan tersebut?' (acuan jawaban: kewajiban menepati janji dan menahan amarah) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemaparan konsep tentang pesan moral tersurat, yaitu amanat atau nasihat yang disampaikan secara eksplisit melalui kalimat langsung tokoh, narasi pengarang, atau petuah tertulis dalam teks legenda (15 menit).
  • Murid membaca mandiri teks visual legenda 'Asal Mula Selat Bali' yang dibagikan guru, lalu menandai kalimat-kalimat yang memuat nasihat atau peringatan tertulis secara langsung oleh tokoh Dang Hyang Sidi Mantra kepada Manik Angkeran (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam suasana kuis berpasangan 'Tebak Kutipan Tersurat', murid mencocokkan 4 kutipan peristiwa teks legenda dengan pesan tersuratnya: (1) 'Janganlah engkau berjudi karena harta akan musnah' -> pesan: larangan berjudi; (2) 'Ingatlah selalu budi baik orang tuamu' -> pesan: kewajiban berbakti kepada orang tua; (3) 'Keserakahan akan membutakan mata hatimu' -> pesan: menjauhi sifat serakah; (4) 'Mintalah maaf dengan tulus jika berbuat keliru' -> pesan: pentingnya mengakui kesalahan (acuan: pasangan di atas) (20 menit).
  • Secara mandiri, murid menganalisis lembar kerja analisis pesan moral tersurat berdasarkan teks legenda 'Asal Mula Selat Bali' dengan menuliskan kutipan kalimat langsung/narasi dan merumuskan pesan tersuratnya pada 3 peristiwa: (1) Manik Angkeran menghabiskan harta orang tua untuk sabung ayam; (2) Naga Besukih memotong ekor dan memberi emas; (3) Sidi Mantra membuat batas garis tongkat membelah daratan (acuan jawaban: (1) pesan tersurat: jangan menghabiskan harta keluarga untuk berjudi/sabung ayam; (2) pesan tersurat: bersyukur atas pertolongan orang lain dan jangan membalas kebaikan dengan khianat; (3) pesan tersurat: setiap perbuatan buruk ada konsekuensi pemisah/hukumannya) (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berkesadaran memeriksa kembali hasil temuannya dan membandingkan ketepatan bukti kutipan teks yang mendukung pesan tersurat bersama rekan sebangku (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan cara menemukan pesan moral tersurat melalui kalimat teks yang gamblang dan eksplisit (5 menit).
  • Guru memberikan cek pemahaman akhir dan menyampaikan fokus pertemuan berikutnya tentang pesan moral yang tersirat (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, teks visual dilengkapi tanda tebal (bold) pada kalimat kunci yang memuat pesan eksplisit; bagi murid yang cepat, disediakan teks utuh tanpa penanda.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih mengidentifikasi 2 pesan tersurat dengan panduan tabel rumpang; murid mahir menganalisis seluruh peristiwa secara mandiri.
  • Produk: Rumusan pesan tersurat murid boleh disajikan dalam bentuk poin uraian teks atau bagan pohon pesan peristiwa.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik membaca kutipan legenda dan mengidentifikasi pesan tertulis: murid membaca kutipan 'Samosir memakan bekal ayahnya hingga habis, lalu sang ayah murka dan melanggar sumpah' lalu menyebutkan pesan tersurat yang ada (acuan jawaban: larangan melanggar sumpah/janji dan larangan menuruti amarah secara langsung).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid dalam kuis berpasangan mencocokkan 4 kutipan peristiwa legenda dengan pesan moral tersuratnya (acuan jawaban: 1-larangan berjudi, 2-kewajiban berbakti, 3-menjauhi sifat serakah, 4-mengakui kesalahan).
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri menganalisis pesan tersurat dari 3 peristiwa legenda 'Asal Mula Selat Bali' disertai bukti kutipan teks yang tepat (acuan jawaban: (1) peristiwa judi -> pesan tersurat: jangan menghabiskan harta untuk sabung ayam/judi; (2) peristiwa pemotongan ekor -> pesan tersurat: jangan mengkhianati penolong demi keserakahan; (3) peristiwa pemisahan daratan -> pesan tersurat: menerima batas hukuman akibat kelalaian hidup mandiri).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid membaca kutipan akhir teks 'Maka hiduplah Manik Angkeran di seberang sana dan berjanji memperbaiki perilakunya' lalu menuliskan pesan tersuratnya (acuan jawaban: kesediaan memperbaiki perilaku buruk secara nyata).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja analisis pesan tersurat teks legenda visual
  • Kuis berpasangan pencocokan kutipan peristiwa dan pesan tersurat

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menganalisis pesan moral tersurat dari peristiwa teks legenda visualBelum mampu menemukan kalimat kutipan dan keliru merumuskan pesan moral tersurat dari peristiwa yang dibaca.Mampu menemukan 1 bukti kalimat kutipan dan merumuskan 1 pesan moral tersurat dari peristiwa legenda secara tepat sesuai teks acuan.Mampu menemukan 2 bukti kalimat kutipan dan merumuskan 2 pesan moral tersurat dari peristiwa legenda secara tepat sesuai teks acuan.Mampu menemukan seluruh (3) bukti kalimat kutipan dan merumuskan seluruh (3) pesan moral tersurat dari peristiwa legenda secara tepat dan lengkap sesuai teks acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan secara tegas antara pesan yang tertulis langsung (tersurat) dengan simpulan tafsiran pribadi?
  • Apakah aktivitas kuis berpasangan efektif memicu pemahaman murid sebelum mengerjakan analisis mandiri?

Murid:

  • Bagian mana dari teks legenda yang paling mudah membantumu menemukan pesan moral tersurat?
  • Apa tanda utama dalam kalimat teks yang menunjukkan bahwa pesan tersebut bersifat tersurat?

Pertemuan 5 — Menganalisis Pesan Moral Tersirat Berdasarkan Perilaku Tokoh dalam Teks Legenda Visual — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.2 Menganalisis pesan dari teks legenda berwujud teks visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, dan memandu doa bersama untuk menyiapkan suasana belajar yang tenang dan berkesadaran (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis pesan moral tersirat berdasarkan perilaku tokoh dalam teks legenda visual (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan kutipan perilaku tokoh: 'Mande Rubayah selalu menatap laut dan membawakan makanan kesukaan anaknya setiap kapal merapat'. Murid diminta menuliskan pesan tersirat dari perilaku tersebut pada secarik kertas kecil (acuan: kasih sayang seorang ibu yang tulus dan tidak pernah padam sepanjang waktu) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan guru tentang cara menelusuri pesan tersirat melalui analisis relasi 'Tindakan Tokoh -> Dampak Tindakan -> Pesan Tersirat di Balik Tindakan' menggunakan kutipan visual legenda (15 menit).
  • Murid membaca mandiri teks legenda visual 'Asal Mula Ake To Lahi' yang disajikan dalam bentuk lembar bacaan berilustrasi, menandai tindakan atau keputusan penting yang diambil para tokohnya (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam suasana yang menggembirakan, murid mengikuti tantangan berpasangan 'Detektif Makna' untuk memecahkan 3 teka-teki perilaku tokoh dan memasangkannya dengan kartu pesan moral tersirat yang disediakan guru (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis pesan tersirat dari teks visual 'Asal Mula Ake To Lahi' untuk 3 peristiwa perilaku tokoh berikut: (1) Perilaku: Tokoh utama rela membelah hutan dan menghadapi bahaya demi mencari sumber air untuk desanya; (2) Perilaku: Tokoh antagonis menimbun mata air untuk dirinya sendiri saat kemarau; (3) Perilaku: Penduduk desa membagi rata air yang ditemukan tanpa berebut (acuan: (1) pengorbanan dan tanggung jawab demi kepentingan bersama membawa kebaikan; (2) keserakahan dan mementingkan diri sendiri akan menuai kehancuran/isolasi sosial; (3) persatuan dan keadilan menciptakan kedamaian) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan dan kedalaman analisis pesan tersirat yang telah mereka rumuskan dengan mencocokkan bukti perilaku tokoh dari teks (15 menit).
  • Murid menuliskan satu kesimpulan pribadi tentang bagaimana mengaitkan pesan moral tersirat dalam legenda dengan prinsip hidup sehari-hari (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari langkah menganalisis pesan moral tersirat dari tindakan tokoh pada teks legenda visual (10 menit).
  • Guru memberikan arahan tindak lanjut untuk pembelajaran berikutnya (perbandingan makna tersurat dan tersirat) dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan teks visual dengan penanda visual khusus (garis bawah) pada bagian perilaku tokoh kunci, sedangkan murid yang siap membaca teks visual utuh tanpa penanda.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar dasar menggunakan panduan pertanyaan pemantik relasi sebab-akibat perilaku, sedangkan murid yang mandiri langsung menganalisis ketiga bukti perilaku secara utuh.
  • Produk: Murid dapat menuliskan rumusan pesan tersirat dalam bentuk bagan relasi sebab-akibat maupun narasi uraian ringkas sesuai lembar kerja yang disediakan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman makna tersirat: Murid menganalisis satu kutipan perilaku: 'Mande Rubayah selalu menatap laut dan membawakan makanan kesukaan anaknya setiap kapal merapat'. Instrumen cek kesiapan: Apakah murid mampu menemukan pesan tersirat di balik perilaku tanpa ada pernyataan langsung di teks (acuan: kasih sayang ibu yang tidak pernah padam/kesetiaan seorang ibu menanti anaknya).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan analisis lembar kerja individu murid terhadap 3 butir perilaku tokoh legenda visual 'Asal Mula Ake To Lahi' beserta acuan jawabannya: Butir 1 (Rela berkorban menembus hutan mencari air -> acuan: pengorbanan demi kemaslahatan bersama membawa berkah/kebaikan); Butir 2 (Menimbun air sendiri -> acuan: keserakahan merugikan orang banyak dan mencelakakan diri); Butir 3 (Membagi rata air temuan -> acuan: keadilan dan persatuan melahirkan kerukunan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri: Murid merumuskan secara tertulis 1 pesan tersirat dari salah satu perilaku tokoh pendukung dalam cerita yang sama (acuan: pesan yang dirumuskan bersumber logis dari perilaku tokoh dan tidak tertulis eksplisit/tersurat di dalam teks).

Formatif:

  • Penilaian proses melalui Lembar Kerja Analisis Pesan Tersirat Berdasarkan Perilaku Tokoh pada teks visual legenda 'Asal Mula Ake To Lahi'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Analisis Pesan Moral Tersirat Berdasarkan Perilaku TokohBelum mampu menemukan pesan tersirat; hanya mengutip ulang kalimat tersurat mengenai perilaku fisik tokoh pada teks legenda visual tanpa inferensi makna.Mampu menemukan 1 pesan moral tersirat dari 3 bukti perilaku tokoh yang dianalisis secara tepat sesuai acuan teks legenda visual.Mampu menemukan 2 pesan moral tersirat dari 3 bukti perilaku tokoh yang dianalisis secara tepat sesuai acuan teks legenda visual.Mampu menemukan seluruhnya (3 dari 3) pesan moral tersirat berdasarkan perilaku tokoh yang dianalisis secara tepat dan mendalam sesuai acuan teks legenda visual.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi pemodelan relasi tindakan-dampak membantu murid membedakan pesan tersurat dengan pesan tersirat secara mandiri?
  • Bagian mana dari analisis perilaku tokoh yang paling memicu perbedaan interpretasi pada murid dan bagaimana cara memfasilitasinya?

Murid:

  • Langkah apa yang paling membantumu menemukan pesan tersembunyi di balik perbuatan tokoh dalam cerita legenda tadi?
  • Apakah kamu menemukan kesulitan saat membedakan apa yang tertulis langsung (tersurat) dengan makna yang harus disimpulkan sendiri (tersirat)?

Pertemuan 6 — Menganalisis Perbandingan Makna Tersurat dan Tersirat dalam Teks Legenda Visual — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.2 Menganalisis pesan dari teks legenda berwujud teks visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai perbandingan makna pesan tersurat dan tersirat dalam teks legenda visual (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid membaca kutipan visual pendek legenda 'Malin Kundang': 'Ibu Malin berdoa sambil menangis agar anaknya yang sombong diberi pelajaran.' Murid mengidentifikasi: (1) Makna tersurat dan (2) Makna tersirat (acuan jawaban: Makna tersurat = Ibu Malin berdoa memohon agar anaknya yang sombong mendapat pelajaran; Makna tersirat = Doa seorang ibu yang teraniaya didengar Tuhan / kedurhakaan anak berakibat buruk) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bagan perbandingan konsep makna tersurat (pesan yang tertera gamblang pada kata-kata/kalimat teks) dan makna tersirat (makna tersembunyi yang disimpulkan dari dialog, tindakan, atau simbol peristiwa) yang ditampilkan guru (15 menit).
  • Secara berpasangan, murid memainkan tantangan cepat 'Tebak Sifat Pesan': guru memperlihatkan 3 kartu kalimat peristiwa legenda visual: Kartu 1: 'Roro Jonggrang meminta seribu candi selesai dalam satu malam', Kartu 2: 'Sangkuriang menendang perahu buatannya hingga terbalik karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi', Kartu 3: 'Mande Rubayah memeluk Malin yang telah memakai pakaian saudagar mewah'. Murid menentukan apakah pesan yang disebut guru tersurat atau tersirat beserta buktinya (acuan: Kartu 1 bermakna tersurat penolakan tak langsung terhadap pinangan, Kartu 2 bermakna tersurat kemarahan yang meluap / tersirat ketidakmampuan menerima kegagalan dan hawa nafsu, Kartu 3 bermakna tersurat rasa rindu ibu / tersirat kasih sayang orang tua yang tak memandang status) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid membaca mandiri teks legenda visual 'Legenda Danau Toba' (kisah Toba yang melanggar sumpah merahasiakan asal-usul istrinya kepada anaknya saat marah) (15 menit).
  • Murid mengisi Lembar Analisis Perbandingan Makna Tersurat dan Tersirat yang memuat 3 peristiwa utama: Peristiwa 1: Sumpah Toba untuk merahasiakan asal-usul putri ikan; Peristiwa 2: Kemarahan Toba yang mengumpat anaknya 'dasar anak ikan!'; Peristiwa 3: Terjadinya banjir besar yang menenggelamkan desa menjadi danau (acuan jawaban: Peristiwa 1 tersurat = janji harus dijaga secara harfiah, tersirat = komitmen dan kepercayaan adalah fondasi relasi; Peristiwa 2 tersurat = kata makian terlontar saat emosi, tersirat = hilangnya kendali diri merusak sumpah suci dan melukai martabat keluarga; Peristiwa 3 tersurat = bencana alam menenggelamkan daratan, tersirat = pengingkaran janji membawa kehancuran bagi diri sendiri dan lingkungan) (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan hasil analisis makna tersurat dan tersirat miliknya dengan rubrik mandiri, lalu menandai ketepatan interpretasi pesan moral yang telah ditemukan (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai cara membandingkan makna tersurat dan tersirat dalam teks legenda visual (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketelitian murid dalam membaca makna tersirat dan mengakhiri sesi pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks legenda visual dengan tanda garis bawah pada bagian kutipan yang memuat peristiwa penting; murid cepat menganalisis teks utuh tanpa penanda visual.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan membedakan tersurat dan tersirat dibimbing dengan pertanyaan penuntun ('Apa yang tertulis?' vs 'Apa arti di balik peristiwa tersebut?'); murid mahir bekerja mandiri penuh.
  • Produk: Format penyajian perbandingan makna tersurat dan tersirat disesuaikan dengan lembar kerja analisis perbandingan tabular yang terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik membaca kutipan singkat teks legenda visual 'Malin Kundang': Murid menentukan 1 makna tersurat dan 1 makna tersirat. (Acuan: Tersurat = teks menyatakan ibu berdoa agar anaknya yang sombong diberi pelajaran; Tersirat = perbuatan durhaka mengundang murka dan bencana).

Proses:

  • Observasi pengerjaan Lembar Analisis Perbandingan Makna Tersurat dan Tersirat teks 'Legenda Danau Toba' pada 3 peristiwa utama: (1) Sumpah menjaga rahasia, (2) Umpatan amarah Toba, (3) Bencana banjir danau. (Acuan: Peristiwa 1 tersurat = janji tak boleh dibocorkan, tersirat = kepercayaan adalah amanah mutlak; Peristiwa 2 tersurat = makian kata 'anak ikan', tersirat = ketidakmampuan menahan emosi melanggar komitmen moral; Peristiwa 3 tersurat = tenggelamnya desa jadi danau, tersirat = konsekuensi fatal dari pengingkaran janji).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menuliskan kembali perbandingan kontras antara makna tersurat dan makna tersirat dari peristiwa puncak kemarahan tokoh Toba dalam 1-2 kalimat ringkas (Acuan: Makna tersurat menunjukkan kata umpatan harfiah yang keluar dari mulut tokoh, sedangkan makna tersirat menunjukkan pelanggaran sumpah akibat ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu amarah).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar analisis perbandingan pesan moral tersurat dan tersirat pada 3 peristiwa teks legenda visual 'Legenda Danau Toba'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Perbandingan Makna Tersurat dan Tersirat Pesan Legenda VisualBelum mampu menemukan makna tersurat dan tersirat secara tepat dari ketiga peristiwa teks legenda visual yang dianalisis sesuai acuan.Mampu menganalisis makna tersurat dan tersirat secara tepat hanya pada 1 dari 3 peristiwa teks legenda visual sesuai acuan dengan bimbingan guru.Mampu menganalisis perbandingan makna tersurat dan makna tersirat secara tepat pada sekurang-kurangnya 2 dari 3 peristiwa teks legenda visual sesuai daftar acuan secara mandiri.Mampu menganalisis perbandingan makna tersurat dan makna tersirat secara tepat, lengkap, dan mendalam pada seluruh (3 dari 3) peristiwa teks legenda visual sesuai daftar acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu membedakan dengan jelas antara fakta/pesan yang tersurat langsung dengan makna moral tersirat dalam teks visual legenda?
  • Bagian kegiatan mana yang paling efektif dalam membantu murid menarik simpulan makna tersirat dari peristiwa tokoh legenda?

Murid:

  • Bagian mana dari teks legenda visual tadi yang paling mudah kamu temukan makna tersuratnya?
  • Apa kesulitan yang kamu hadapi ketika harus menyimpulkan makna tersirat di balik tindakan tokoh legenda?

Pertemuan 7 — Menginterpretasi Informasi Teks Legenda Visual untuk Mengungkapkan Kepedulian Sosial — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dan/atau pendapat pro/kontra dari teks legenda berwujud teks visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7 mengenai interpretasi informasi teks legenda visual untuk mengungkapkan kepedulian sosial (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan cuplikan situasi dari teks legenda: 'Seorang janda tua hidup sebatang kara dan jatuh sakit tanpa ada tetangga yang memperhatikan.' Murid diminta menuliskan 1 bentuk kepedulian sosial yang relevan (acuan jawaban: membantu merawat, memberi makanan, atau menjenguk janda tua tersebut) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati dan membaca teks legenda visual 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' yang disajikan dalam bentuk lembar bacaan bergambar (15 menit).
  • Dalam aktivitas ceria 'Tebak Isyarat Peduli', murid secara berpasangan menebak 3 kartu kutipan peristiwa teks: (1) 'Tokoh ibu menangis kelaparan di gubuk lapuk', (2) 'Penduduk desa berpesta pora tanpa membagi makanan ke fakir miskin', (3) 'Anak durhaka menghina pakaian ibunya yang compang-camping'. Murid memilih kartu dan menyebutkan informasi masalah sosial di dalamnya secara tepat (acuan: (1) kelaparan/kemiskinan lansia, (2) ketimpangan sosial/ketidakpedulian warga, (3) perlakuan buruk terhadap orang tua) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri membaca kembali teks legenda visual dan mencatat informasi peristiwa yang mencerminkan penderitaan atau masalah sosial tokoh (20 menit).
  • Murid mengisi Lembar Interpretasi Kepedulian Sosial dengan merumuskan ungkapan kepedulian sosial tertulis berdasarkan 3 peristiwa dalam teks 'Asal Usul Gunung Batu Banawa': (1) Peristiwa penolakan ibu oleh sang anak kaya -> kriteria kepedulian: empati terhadap perasaan ibu yang terluka dan ajakan menghormati martabat orang tua; (2) Peristiwa kelaparan ibu di pesisir -> kriteria kepedulian: bantuan pemenuhan kebutuhan pangan bagi warga rentan; (3) Peristiwa warga yang membiarkan perselisihan keluarga terjadi -> kriteria kepedulian: inisiatif mediasi dan kerukunan warga sekitar (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil interpretasinya menggunakan lembar cek mandiri apakah seluruh ungkapan kepedulian yang dirumuskan bertumpu langsung pada bukti informasi peristiwa dalam teks visual yang dibaca (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil interpretasi murid mengenai hubungan antara peristiwa teks dan nilai kepedulian sosial (5 menit).
  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya menginterpretasi informasi bacaan untuk menumbuhkan kepekaan sosial dalam kehidupan nyata, lalu guru menutup pelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks legenda visual dengan penanda visual (garis bawah/stabilo) pada bagian peristiwa ketidakadilan sosial, sedangkan murid cepat diberikan teks utuh tanpa penanda.
  • Proses: Murid dengan pemahaman awal rendah didampingi guru dengan pertanyaan pemandu langsung saat mengaitkan peristiwa dengan kepedulian sosial, sedangkan murid mahir menginterpretasi secara mandiri.
  • Produk: Murid cepat menginterpretasi dan merumuskan kepedulian sosial untuk 4 peristiwa dalam teks (menambahkan peristiwa sikap abai nahkoda kapal), sedangkan murid reguler menyelesaikan 3 peristiwa wajib.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman awal: Murid membaca cuplikan teks satu kalimat ('Seorang janda tua hidup sebatang kara dan jatuh sakit tanpa ada tetangga yang memperhatikan') lalu menuliskan 1 bentuk kepedulian sosial yang tepat (acuan: membantu merawat, memberi makanan, atau menjenguk janda tua tersebut).

Proses:

  • Formatif pada tahap mengaplikasi: Penilaian ketepatan murid menginterpretasi 3 peristiwa teks visual 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' menjadi ungkapan kepedulian sosial sesuai kriteria penerimaan (acuan kriteria: (1) empati/penghormatan pada ibu, (2) bantuan pangan/santunan lansia, (3) mediasi kerukunan warga).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif penutup: 'Sebutkan 1 bukti informasi peristiwa dalam legenda Banawa yang paling menggugah kepedulian sosialmu dan jelaskan alasan kepedulian tersebut' (kriteria: jawaban menyebutkan peristiwa konkret dari teks dan menguraikan fokus kepedulian sosial yang logis).

Formatif:

  • Penilaian tertulis pada Lembar Interpretasi Kepedulian Sosial berdasarkan teks legenda visual

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menginterpretasi Informasi Teks untuk Kepedulian SosialBelum mampu menginterpretasi informasi peristiwa teks legenda visual menjadi ungkapan kepedulian sosial (0 dari 3 peristiwa tepat sesuai kriteria acuan).Mampu menginterpretasi informasi teks legenda visual menjadi ungkapan kepedulian sosial secara tepat pada 1 dari 3 peristiwa sesuai kriteria acuan.Mampu menginterpretasi informasi teks legenda visual menjadi ungkapan kepedulian sosial secara tepat pada 2 dari 3 peristiwa sesuai kriteria acuan.Mampu menginterpretasi informasi teks legenda visual menjadi ungkapan kepedulian sosial secara tepat pada seluruh (3) peristiwa sesuai kriteria acuan secara mandiri.
Kesesuaian Bukti Tekstual Visual dengan Isu KepedulianUngkapan kepedulian sosial tidak merujuk sama sekali pada bukti peristiwa dalam teks legenda visual.Ungkapan kepedulian sosial hanya didukung oleh bukti peristiwa teks legenda visual pada 1 peristiwa.Ungkapan kepedulian sosial didukung oleh bukti peristiwa teks legenda visual secara logis pada 2 peristiwa.Ungkapan kepedulian sosial didukung oleh bukti peristiwa teks legenda visual secara rinci dan tepat pada seluruh (3) peristiwa.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks visual legenda yang disediakan mampu membantu murid menemukan isu sosial dengan jelas?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat menghubungkan peristiwa dalam teks dengan kepedulian di kehidupan nyata?

Murid:

  • Peristiwa mana dalam legenda yang paling menyentuh rasa kemanusiaan dan kepedulianmu?
  • Apakah kamu dapat menemukan bukti peristiwa dalam teks sebelum merumuskan bentuk kepedulian sosial?

Pertemuan 8 — Menginterpretasi Informasi Tindakan Tokoh Legenda Visual Berupa Pendapat Pro dan Kontra — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dan/atau pendapat pro/kontra dari teks legenda berwujud teks visual

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menginterpretasi informasi tindakan tokoh dalam teks legenda visual berupa pendapat pro dan kontra (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa kuis cepat tertulis 2 butir pernyataan tindakan tokoh pada kartu bacaan singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam membedakan argumen yang mendukung (pro) dan menentang (kontra) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca teks visual cuplikan legenda 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' yang berfokus pada dua tindakan tokoh: (1) Tindakan Saudagar Intobu yang mengutuk kapal putranya (Intobu) karena durhaka, dan (2) Tindakan Intobu yang menolak mengakui ayahnya yang miskin demi menjaga wibawanya di depan istrinya (10 menit).
  • Murid mengamati model perumusan pendapat pro dan kontra berbasis bukti informasi teks: memahami bahwa argumen pro menyoroti pembenaran/alasan logis tindakan, sedangkan argumen kontra menyoroti dampak buruk/kesalahan etika dari tindakan tokoh (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan tantangan berpasangan 'Kartu Timbangan Sikap' (Joyful Game): secara bergantian mengambil kartu situasi tindakan tokoh legenda lalu mencocokkan alasan pro atau kontra yang paling tepat secara cepat (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Interpretasi Pro-Kontra: membaca 2 tindakan tokoh legenda visual lain ('Roro Jonggrang': tindakan Bandung Bondowoso meminta bantuan jin menaklukkan syarat seribu candi, dan tindakan Roro Jonggrang membakar jerami untuk menggagalkan jin), kemudian menuliskan masing-masing 1 argumen pro dan 1 argumen kontra yang didukung bukti tersurat/tersirat dari teks (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksi proses penalaran: meninjau kembali apakah argumen pro dan kontra yang dirumuskan murni didasarkan pada penafsiran tindakan tokoh di teks atau sekadar asumsi pribadi (10 menit).

Penutup:

  • Guru memfasilitasi penarikan simpulan bersama tentang cara menginterpretasi tindakan tokoh legenda dari dua sudut pandang (pro dan kontra) secara objektif (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas hasil lembar kerja interpretasi murid serta menyampaikan pengantar ringkas topik pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan teks visual dengan penanda kutipan tindakan tokoh yang telah digarisbawahi; murid mahir diberikan teks visual lengkap tanpa penanda.
  • Proses: Murid berkesiapan sedang didampingi dengan pertanyaan pemandu (scaffolding) untuk menemukan argumen pembanding, sedangkan murid cepat langsung merumuskan analisis pro dan kontra secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menghasilkan tabel interpretasi pendapat pro dan kontra; murid yang berkembang lebih cepat menambahkan perbandingan kekuatan alasan antara kedua sudut pandang.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis tertulis diagnostik awal 2 butir: Murid membaca kutipan 'Malin Kundang melarang pengawalnya mengizinkan wanita tua naik ke kapalnya'. Murid menentukan: (1) Pernyataan Pro: Malin menjaga ketertiban kapal dari orang asing yang tak dikenal (acuan: pro karena membenarkan tindakan demi ketertiban/keamanan kapal); (2) Pernyataan Kontra: Malin tidak menghormati orang tua dan melupakan jasa ibu yang membesarkannya (acuan: kontra karena menolak tindakan karena melanggar etika bakti anak).

Proses:

  • Formatif proses melalui Lembar Kerja Interpretasi 2 Tindakan Tokoh Legenda 'Roro Jonggrang'. Butir 1: Tindakan Bandung Bondowoso meminta bantuan pasukan jin (Acuan Pro: Usaha maksimal memenuhi syarat mustahil tepat waktu; Acuan Kontra: Menggunakan cara licik/kekuatan gaib di luar kemampuan manusiawi). Butir 2: Tindakan Roro Jonggrang membakar jerami menipu ayam berkokok (Acuan Pro: Siasat cerdik membela diri agar tidak diperistri penakluk ayahnya; Acuan Kontra: Perbuatan ingkar janji/curang terhadap kesepakatan sayembara).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup (exit slip) 1 butir: 'Sebutkan 1 alasan pro dan 1 alasan kontra atas tindakan Saudagar Intobu mengutuk kapal anaknya.' (Kriteria penerimaan: Argumen pro wajib memuat alasan penegakan keadilan/pelajaran bagi anak durhaka; argumen kontra wajib memuat alasan hukuman terlalu kejam membinasakan nyawa anak sendiri).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar diagnostik awal identifikasi pro/kontra
  • Observasi unjuk kerja permainan Kartu Timbangan Sikap
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Interpretasi Pendapat Pro dan Kontra terhadap Tindakan Tokoh Legenda Visual

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menginterpretasi Informasi Tindakan Tokoh Berupa Pendapat ProBelum mampu merumuskan pendapat pro yang sesuai dengan fakta tindakan tokoh dalam teks legenda visual.Mampu merumuskan pendapat pro terhadap 1 dari 2 tindakan tokoh legenda visual dengan argumen yang logis berdasarkan informasi teks.Mampu merumuskan pendapat pro terhadap 2 tindakan tokoh legenda visual secara tepat dengan argumen yang didukung informasi teks.Mampu merumuskan pendapat pro terhadap 2 tindakan tokoh legenda visual secara tepat, mendalam, dan didukung rincian informasi teks yang utuh tanpa bimbingan.
Ketepatan Menginterpretasi Informasi Tindakan Tokoh Berupa Pendapat KontraBelum mampu merumuskan pendapat kontra yang sesuai dengan fakta tindakan tokoh dalam teks legenda visual.Mampu merumuskan pendapat kontra terhadap 1 dari 2 tindakan tokoh legenda visual dengan argumen yang logis berdasarkan informasi teks.Mampu merumuskan pendapat kontra terhadap 2 tindakan tokoh legenda visual secara tepat dengan argumen yang didukung informasi teks.Mampu merumuskan pendapat kontra terhadap 2 tindakan tokoh legenda visual secara tepat, mendalam, dan didukung rincian informasi teks yang utuh tanpa bimbingan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas menganalisis tindakan tokoh legenda membantu murid memahami konsep pro dan kontra secara objektif?
  • Bagian mana dari langkah bimbingan interpretasi yang masih memerlukan penguatan pada pertemuan selanjutnya?

Murid:

  • Apakah saya dapat melihat sisi positif dan negatif dari tindakan yang dilakukan seorang tokoh legenda tanpa memihak secara terburu-buru?
  • Tindakan tokoh mana dalam cerita yang paling menantang untuk dicari argumen pembenarannya (pro)?

Pertemuan 9 — Menginterpretasi Nilai Kehidupan dalam Teks Legenda Visual untuk Merumuskan Sikap Kritis — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dan/atau pendapat pro/kontra dari teks legenda berwujud teks visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menginterpretasi nilai kehidupan dalam teks legenda visual untuk merumuskan sikap kritis pro dan kontra serta ungkapan kepedulian (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid membaca satu kutipan singkat legenda 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' yang ditampilkan di layar: 'Sang ibu yang merasa sakit hati dan malu karena anaknya tidak mengakui dirinya di hadapan para saudagar, langsung memanjatkan doa agar kapal sang anak karam dan anaknya membeku menjadi batu.' Guru mengajukan pertanyaan pemantik kesiapan: 'Apakah tindakan sang ibu mengutuk anaknya patut didukung sepenuhnya, atau ada alasan untuk menolaknya?' Murid mengangkat kartu hijau (setuju/pro) atau kartu merah (tidak setuju/kontra) disertai 1 kalimat alasan lisan singkat (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid membaca teks legenda visual 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' pada lembar bacaan dan mencermati 3 peristiwa kunci yang memuat pertentangan nilai moral: (1) Intan menolak mengakui ibunya yang miskin demi menjaga gengsi di depan saudagar; (2) Ibu Intan yang terhina melontarkan sumpah serapah kutukan hingga kapal karam; (3) Warga kampung yang membiarkan perselisihan itu terjadi tanpa melerai (10 menit).
  • Murid mengikuti permainan telaah cepat 'Sudut Pandang Kritis' secara berpasangan: murid mencocokkan potongan kartu peristiwa dengan kartu argumen kritis (pro/kontra) dan ungkapan kepedulian yang tersedia di meja untuk memahami bahwa satu peristiwa legenda dapat dinilai dari berbagai perspektif moral (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Secara mandiri atau berpasangan, murid menginterpretasi nilai kehidupan dari 3 peristiwa kunci tersebut dengan mengisi Lembar Kerja Kritis yang memuat: (a) rumusan pandangan pro/setuju beserta bukti teks, (b) rumusan pandangan kontra/tidak setuju beserta bukti teks, dan (c) kalimat simpulan sikap kritis berupa ungkapan kepedulian sosial terhadap situasi tersebut (25 menit).
  • Murid melakukan 'Galeri Berjalan': murid menempelkan lembar interpretasinya di dinding kelas, lalu berkeliling membaca karya teman dan memberikan tanda centang apresiasi atau catatan kecil mengenai ketajaman argumen bukti teks (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru membahas hasil interpretasi kritis terhadap teks legenda visual, menyimpulkan bagaimana nilai moral dalam cerita rakyat harus disikapi secara bijak dan kritis agar relevan dengan nilai kemanusiaan masa kini (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil interpretasi dan perumusan sikap kritis pro/kontra murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya mengenai perancangan ungkapan kepedulian berbasis multimodal (bukan akhir bab) dan menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks legenda visual yang dilengkapi tanda garis bawah pada bagian kutipan dialog/tindakan tokoh serta format panduan kalimat (sentence stems) pro dan kontra; murid yang mahir diberikan teks lengkap tanpa bantuan penanda visual.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal didampingi guru melalui scaffolding dalam menyusun kalimat alasan kritis berdasarkan bukti teks; murid yang sudah mahir diarahkan merumuskan sikap kritis mandiri yang membandingkan dua perspektif sekaligus secara berimbang.
  • Produk: Murid dapat merumuskan sikap kritis dan interpretasi pro/kontra dalam bentuk tabel analisis berstruktur atau dalam bentuk paragraf ulasan kritis mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik respon cepat kartu merah-hijau berdasarkan kutipan peristiwa kutukan dalam legenda 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' (Kriteria penerimaan: murid mampu mengemukakan 1 alasan logis apakah ia setuju/pro terhadap tindakan ibu sebagai balasan anak durhaka [acuan: setuju karena anak melanggar bakti dan bersikap sombong], atau kontra/tidak setuju [acuan: tidak setuju karena doa kutukan terlalu kejam dan mematikan kesempatan bertobat]).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja Kritis Interpretasi Nilai Teks Legenda Visual dengan 3 butir analisis: (1) Peristiwa penolakan anak terhadap ibu kandung (Acuan pro: mempertahankan status sosial di hadapan relasi bisnis; Acuan kontra: melanggar etika moral, durhaka, dan mengabaikan kasih sayang orang tua); (2) Peristiwa kutukan ibu berujung petaka karamnya kapal (Acuan pro: bentuk keadilan spontan dan ketegasan sanksi moral; Acuan kontra: melampiaskan kemarahan tanpa ampun dan meniadakan ruang maaf); (3) Sikap warga sekitar (Acuan kepedulian kritis: seharusnya warga melerai atau mengingatkan anak agar tidak durhaka dan meredakan amarah ibu).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis reflektif singkat (tiket keluar) berisi 1 rumusan sikap kritis: 'Tuliskan 1 ungkapan sikap kritismu terhadap hukuman abadi dalam legenda Nusantara bila dikaitkan dengan penegakan nilai kemanusiaan saat ini!' (Kriteria penerimaan: memuat interpretasi yang menimbang sisi moral pembelajaran agar tidak durhaka sekaligus sisi kepedulian kemanusiaan untuk mengedepankan pembinaan/pengampunan).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja interpretasi nilai kehidupan dan perumusan sikap kritis (pro/kontra) berdasarkan teks visual
  • Observasi partisipasi dan penalaran kritis saat aktivitas Galeri Berjalan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menginterpretasi Informasi Pro dan Kontra dari Teks Legenda VisualBelum mampu menemukan pandangan pro maupun kontra dari 3 peristiwa kunci dalam teks legenda visual, atau penjelasan tidak relevan dengan isi teks.Mampu menginterpretasi pandangan pro ATAU kontra secara tepat pada minimal 1 dari 3 peristiwa kunci teks legenda visual berdasarkan bukti teks.Mampu menginterpretasi pandangan pro DAN kontra secara berimbang dan tepat pada 2 dari 3 peristiwa kunci teks legenda visual disertai rujukan peristiwa.Mampu menginterpretasi pandangan pro DAN kontra secara tajam, objektif, dan berimbang pada seluruh (3) peristiwa kunci teks legenda visual secara mandiri disertai bukti teks yang kuat.
Perumusan Sikap Kritis dan Ungkapan Kepedulian terhadap Nilai Kehidupan Teks LegendaBelum mampu merumuskan sikap kritis maupun ungkapan kepedulian yang logis terhadap nilai kehidupan dalam teks legenda visual.Mampu merumuskan sikap kritis atau ungkapan kepedulian pada 1 peristiwa, namun argumen masih bersifat penghakiman sepihak tanpa pertimbangan konteks.Mampu merumuskan sikap kritis dan ungkapan kepedulian yang logis serta relevan dengan nilai kemanusiaan pada 2 peristiwa kunci.Mampu merumuskan sikap kritis dan ungkapan kepedulian yang komprehensif, bijak, dan kontekstual terhadap seluruh (3) peristiwa kunci teks legenda visual secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan telaah kartu sudut pandang kritis efektif membantu murid memahami logika pro dan kontra sebelum mengisi lembar kerja?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengevaluasi peristiwa legenda secara kritis tanpa menghilangkan rasa hormat pada kearifan lokal?

Murid:

  • Bagian mana dari peristiwa legenda yang paling membuatmu tertantang untuk menentukan sikap pro atau kontra?
  • Pelajaran apa yang kamu peroleh tentang cara bersikap kritis terhadap pesan cerita masa lalu agar bisa diterapkan dengan bijak saat ini?

Pertemuan 10 — Menyusun Rancangan Ungkapan Kepedulian Berbasis Teks Multimodal dari Kisah Legenda — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari teks legenda berbentuk teks multimodal

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid menyadari kesiapan belajar menyusun sajian ungkapan kepedulian (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merancang kerangka penyajian ungkapan kepedulian berbasis teks multimodal (mengombinasikan teks lisan/naskah dan visual poster/video) berdasarkan kisah legenda yang telah dipelajari (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemetaan moda multimodal: (1) Sebutkan 2 ragam moda yang dapat digabungkan dalam teks multimodal! (acuan: moda teks tertulis/lisan dan moda visual/gambar/grafis); (2) Tuliskan 1 bentuk kepedulian terhadap sosok ibu dalam kisah 'Batu Menangis' atau 'Asal Usul Gunung Batu Banawa'! (kriteria penerimaan: pernyataan memuat simpati, penghormatan, atau pembelaan terhadap perasaan ibu) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan format rancangan multimodal ungkapan kepedulian yang ditampilkan guru, mencakup 3 komponen inti: (a) isu/peristiwa legenda yang ditanggapi, (b) kalimat ungkapan kepedulian, dan (c) rencana elemen visual (sketsa poster atau storyboard video 1-2 menit) (7 menit).
  • Murid memainkan kuis ceria 'Pasangan Multimodal' secara berpasangan: murid mencocokkan 3 kartu kalimat kepedulian dengan 3 konsep visual yang sesuai: Kartu 1 'Jangan abaikan jerit hati seorang ibu yang berkorban demi kita' -> Konsep Visual A (sketsa tangan anak menggenggam tangan ibu yang renta); Kartu 2 'Kesombongan hanya akan melahirkan penyesalan yang membatu' -> Konsep Visual B (sketsa siluet anak menangis di depan batu cadas terbelah); Kartu 3 'Mari hargai jerih payah orang tua sebelum terlambat' -> Konsep Visual C (sketsa ibu memikul bakul di jalan terjal diiringi teks ajakan menghormati orang tua) (acuan ketepatan: 1->A, 2->B, 3->C) (8 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memilih salah satu kisah legenda Nusantara (misalnya 'Batu Menangis' atau 'Asal Usul Gunung Batu Banawa') lalu menetapkan fokus tokoh atau nilai kepedulian yang akan diangkat (5 menit).
  • Secara mandiri, murid menyusun lembar draf rancangan multimodal pada kertas kerja yang memuat: (1) judul tayangan/karya, (2) sasaran tokoh yang dipedulikan, (3) draf narasi ungkapan kepedulian lisan (3-4 kalimat menyentuh hati), dan (4) tata letak elemen visual (gambar/sketsa poster atau alur adegan video singkat 3 frame) (20 menit).
  • Murid duduk berpasangan untuk saling meninjau rancangan (peer-review) menggunakan lembar panduan kelengkapan: memastikan keterpaduan narasi lisan kepedulian dengan elemen visual yang dirancang (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi draf rancangannya sendiri: menandai apakah teks ungkapan kepedulian telah menggambarkan empati yang tulus dan visualnya mendukung pesan tersebut sebagai bekal sajian pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan komponen pokok dalam merancang penyajian ungkapan kepedulian berbasis teks multimodal (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil rancangan murid serta mengumumkan agenda pertemuan berikutnya yaitu menyajikan secara lisan rancangan tersebut (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan struktur naskah kepedulian rumpang (berisi pemandu pembuka, isi empati, dan ajakan) serta pola template poster 3 kolom; murid yang telah mahir diarahkan merancang storyboard multimodal terperinci 4-5 frame adegan.
  • Proses: Guru memberikan scaffolding terarah dalam merumuskan kalimat empati kepada murid yang kesulitan, sementara murid mahir meninjau draf secara mandiri bersama rekan sejawat.
  • Produk: Rancangan penyajian multimodal dapat berwujud naskah berpadu sketsa poster manual atau rancangan storyboard video digital singkat berdurasi 1-2 menit.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik singkat di awal pembelajaran: (1) Sebutkan 2 ragam moda dalam teks multimodal! (acuan: moda teks/lisan dan moda visual/gambar); (2) Tuliskan 1 bentuk kepedulian terhadap sosok ibu dalam legenda 'Batu Menangis' atau 'Asal Usul Gunung Batu Banawa'! (kriteria penerimaan: pernyataan memuat empati, simpati, atau ajakan menghormati perasaan ibu yang terluka).

Proses:

  • Pemeriksaan draf rancangan penyajian multimodal murid: keterisian 4 komponen (fokus tokoh, narasi ungkapan kepedulian 3-4 kalimat, konsep elemen visual sketsa/storyboard, dan keselarasan antar-elemen).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: murid melengkapi 1 lembar tiket keluar berisi pertanyaan: 'Tuliskan kalimat pembuka ungkapan kepedulian yang akan kamu sajikan pada pertemuan berikutnya beserta elemen visual utama yang menyertainya!' (kriteria penerimaan: kalimat menunjukkan sikap peduli terhadap konflik/tokoh legenda dan visual yang disebutkan relevan dengan isi kalimat).

Formatif:

  • Penilaian proses terhadap lembar draf rancangan penyajian multimodal ungkapan kepedulian legenda (memuat narasi kepedulian dan konsep visual pendukung)
  • Observasi partisipasi dan ketepatan pada permainan 'Pasangan Multimodal'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Komponen Rancangan Sajian MultimodalRancangan hanya memuat 1 komponen (narasi lisan saja atau sketsa visual saja tanpa keterkaitan topik).Rancangan memuat narasi kepedulian dan sketsa visual, namun belum selaras dalam menyampaikan fokus kepedulian cerita legenda.Rancangan memuat narasi kepedulian 3-4 kalimat dan elemen visual yang saling melengkapi serta sesuai dengan konteks cerita legenda.Rancangan memuat narasi kepedulian yang mendalam, rincian konsep visual yang sangat terpadu (sketsa poster/storyboard terperinci), serta siap disajikan secara mandiri.
Muatan Ungkapan Kepedulian dalam Rancangan TeksDraf teks belum memuat pernyataan rasa peduli, empati, atau pembelaan terhadap nilai/tokoh legenda.Draf teks memuat ungkapan kepedulian secara tersurat namun masih terbatas pada 1 kalimat umum.Draf teks menyajikan ungkapan kepedulian secara runtut (3-4 kalimat) yang memperlihatkan empati jelas terhadap tokoh atau nilai legenda.Draf teks menyajikan ungkapan kepedulian yang komprehensif, menggugah empati dengan alasan pendukung yang relevan terhadap situasi tokoh legenda.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk menyusun rancangan multimodal dan sketsa visual mencukupi bagi seluruh murid?
  • Bagaimana efektivitas scaffolding yang diberikan kepada murid yang kesulitan menuangkan ide kepedulian ke dalam bentuk multimodal?

Murid:

  • Apakah rancangan yang kubuat sudah cukup jelas untuk kupresentasikan pada pertemuan selanjutnya?
  • Bagian mana dari draf ungkapan kepedulianku yang paling kuat menyampaikan rasa empati terhadap tokoh legenda?

Pertemuan 11 — Menyajikan Ungkapan Kepedulian Berbentuk Teks Multimodal Legenda secara Lisan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari teks legenda berbentuk teks multimodal

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menyajikan ungkapan kepedulian dari teks legenda multimodal secara lisan (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan singkat: murid diminta merespons 2 situasi cuplikan legenda multimodal secara lisan. Situasi 1: Gambar ilustrasi ibu menangis karena diabaikan anaknya pada legenda Batu Menangis (acuan respons kepedulian: empati terhadap kesedihan ibu dan ajakan menghormati orang tua); Situasi 2: Gambar ilustrasi penyesalan Bagawan Durna atau tokoh tertimpa musibah karena kesombongan (acuan respons kepedulian: simpati atas penderitaan batin tokoh dan ajakan saling mengingatkan dalam kebaikan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati contoh teks multimodal berupa cuplikan video/tayangan berdurasi 1 menit tentang legenda Batu Menangis yang memadukan unsur visual (gambar adegan ibu dan anak) serta teks ungkapan kepedulian (10 menit).
  • Guru memandu murid membedah 2 komponen utama sajian multimodal tersebut: (1) pernyataan empati terhadap tokoh/kondisi dalam legenda, dan (2) pesan kepedulian sosial/moral yang relevan dengan kehidupan nyata (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid menyiapkan produk multimodal (poster digital/manual atau slide visual berisi gambar dan kutipan pesan kepedulian dari legenda Batu Menangis atau legenda nusantara lain) yang telah dirancang pada pertemuan sebelumnya (10 menit).
  • Aktivitas 'Panggung Suara Peduli': Setiap murid secara bergiliran menyajikan ungkapan kepedulian secara lisan berdurasi 1-2 menit di depan kelas atau dalam kelompok kecil dengan memamerkan media visual pendukungnya, mengungkapkan rasa empati kepada tokoh serta pesan moralnya (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menilai sajian lisan rekannya menggunakan lembar ceklis observasi yang memuat 2 kriteria: (1) ketepatan isi ungkapan empati pada cerita legenda dan (2) keterpaduan antara lisan dan media visual pendukung (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran mengenai cara efektif menyajikan ungkapan kepedulian secara lisan dengan bantuan teks multimodal (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap penampilan lisan murid, mengapresiasi keberanian berbicara di depan umum, serta menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (mengidentifikasi kosakata baru denotatif, konotatif, dan kiasan) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid dapat memilih bahan sajian lisan berbasis teks multimodal yang sudah disiapkan sebelumnya (poster sederhana, slide tayang, atau infografik legenda).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berbicara lisan diberikan kartu panduan struktur bicara (pernyataan empati -> pesan kepedulian), sedangkan murid yang mandiri langsung menyajikan presentasi lisan secara utuh.
  • Produk: Sajian lisan dapat disampaikan secara langsung di depan kelas atau melalui rekaman video monolog singkat bagi murid yang memiliki kecemasan berbicara di muka umum.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan singkat pada tahap pendahuluan menggunakan 2 stimulus situasi gambar legenda: (1) Gambar ibu yang diabaikan anaknya pada legenda Batu Menangis (acuan respons tepat: menyampaikan ungkapan simpati/empati terhadap kepedihan ibu dan imbauan berbakti), (2) Gambar tokoh yang menyesal akibat keangkuhan (acuan respons tepat: mengungkapkan keprihatinan atas nasib tokoh dan ajakan rendah hati).

Proses:

  • Penilaian performa lisan murid saat menyajikan ungkapan kepedulian dari teks multimodal legenda dengan kriteria: penyampaian ungkapan empati terhadap tokoh legenda dan keselarasan sajian lisan dengan teks multimodal yang ditunjukkan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui penyerahan lembar ceklis rekan sejawat mengenai penyajian lisan ungkapan kepedulian (kriteria penerimaan: terpenuhinya komponen empati isi legenda dan keterkaitan dengan media visual).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penyajian ungkapan kepedulian secara lisan berbasis teks multimodal menggunakan lembar amatan/ceklis ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyajian Isi Ungkapan KepedulianMenyajikan ungkapan lisan tanpa memuat rasa empati atau kepedulian terhadap tokoh maupun peristiwa dalam teks legenda.Menyajikan ungkapan lisan yang memuat kepedulian terhadap teks legenda secara parsial atau terbatas.Menyajikan ungkapan kepedulian secara lisan secara jelas mencakup empati terhadap tokoh dan pesan moral relevan dari legenda.Menyajikan ungkapan kepedulian secara lisan secara mendalam, utuh, dan menyentuh hati mencakup empati tokoh serta ajakan kepedulian nyata.
Pemanfaatan Unsur Teks Multimodal dalam Penyajian LisanMenyajikan secara lisan tanpa mengaitkan atau memanfaatkan media visual/multimodal yang dibawa.Menyajikan secara lisan dengan menunjukkan media visual/multimodal tetapi belum terpadu dengan isi tuturan.Menyajikan secara lisan dengan memadukan unsur visual/teks multimodal secara selaras mendukung ungkapan kepedulian.Menyajikan secara lisan dengan memadukan unsur visual/multimodal secara sangat padu, efektif, dan memperkuat pesan kepedulian.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan yang adil untuk menyajikan ungkapan kepedulian secara lisan?
  • Bagaimana respons dan rasa percaya diri murid saat memadukan presentasi lisan dengan karya teks multimodalnya?

Murid:

  • Bagian mana dari penyajian ungkapan kepedulian lisan tadi yang paling saya sukai?
  • Hal apa yang masih perlu saya tingkatkan saat berbicara di depan orang lain menggunakan media visual?

Pertemuan 12 — Mengidentifikasi Kosakata Baru Bermakna Denotatif, Konotatif, dan Kiasan untuk Teks Legenda — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam teks legenda berbentuk teks multimodal menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pertemuan ke-12 yaitu mengidentifikasi kosakata baru bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan sebagai persiapan menulis ungkapan kepedulian (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid membaca 3 kalimat berikut lalu menentukan jenis maknanya: (1) 'Pohon beringin itu memiliki akar yang besar' (acuan: denotatif), (2) 'Pemuda serakah itu menutup mata dari penderitaan rakyat' (acuan: konotatif/kiasan), (3) 'Danau Toba menyimpan keindahan yang memikat' (acuan: denotatif) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati kutipan teks cuplikan legenda berikut: 'Rawa Pening tercipta dari cucuran air mata dan ketulusan Baru Klinthing yang berhati emas, sedangkan para penduduk desa yang berhati batu dan gelap mata tenggelam dalam amarah air bah'. Murid menyimak penjelasan konsep makna denotatif (makna lugas/sebenarnya), konotatif (makna tambahan/tautan rasa), dan kiasan (makna kias/bukan sebenarnya/figuratif) (12 menit).
  • Murid dalam tantangan berpasangan 'Tebak Makna Gembira' mengklasifikasikan 3 frasa dari teks: 'air bah' (makna lugas/denotatif: banjir besar), 'berhati emas' (makna kiasan: sangat baik hati), dan 'berhati batu' (makna kiasan: keras kepala/tidak punya belas kasihan) secara cepat dan tepat (8 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Kerja Kosakata Legenda berisi 6 butir kata/frasa target: (1) 'mata air', (2) 'berlapang dada', (3) 'keras kepala', (4) 'gugur bunga', (5) 'tangan hampa', (6) 'membakar semangat'. Murid mengelompokkan jenis maknanya dan menuliskan arti masing-masing (acuan: (1) 'mata air' = denotatif [sumber air]; (2) 'berlapang dada' = kiasan [ikhlas/sabar]; (3) 'keras kepala' = konotatif negatif [tidak mau menurut]; (4) 'gugur bunga' = kiasan [pahlawan wafat/mati]; (5) 'tangan hampa' = kiasan [tidak membawa apa-apa/gagal]; (6) 'membakar semangat' = konotatif positif [membangkitkan kemauan]) (20 menit).
  • Murid memilih minimal 2 kata dari daftar yang sudah diidentifikasi (misal: 'berlapang dada' dan 'mata air'), lalu menuliskan 2 kalimat sederhana yang memuat ungkapan kepedulian terhadap tokoh/lingkungan legenda (kriteria: kalimat mengandung unsur kepedulian dan kosakata digunakan tepat sesuai maknanya) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling bertukar lembar kerja untuk memeriksa kecocokan jenis makna 6 kata target dan ketepatan penggunaan kata dalam 2 kalimat ungkapan kepedulian yang telah disusun (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan perbedaan esensial antara makna denotatif, konotatif, dan kiasan dalam teks legenda (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid dan menginformasikan bahwa kosakata yang telah diidentifikasi akan digunakan untuk menulis draf ungkapan kepedulian teks legenda multimodal pada pertemuan ke-13 (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan daftar kosakata yang dilengkapi glosarium arti kamus, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan bahan 6 kata target langsung untuk dianalisis jenis maknanya.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu guru dalam mengenali ciri makna lugas vs kiasan, sedangkan murid yang mandiri langsung mengidentifikasi dan menyusun kalimat ungkapan kepedulian.
  • Produk: Murid dengan kesiapan dasar menuliskan 2 kalimat ungkapan kepedulian dengan memilih kata yang paling mudah (misal: mata air, keras kepala), sedangkan murid berkemampuan tinggi membuat 2 kalimat ungkapan kepedulian kompleks dengan memadukan kata bermakna kiasan dan konotatif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi makna pada 3 kalimat contoh: (1) 'Pohon beringin itu memiliki akar yang besar' (acuan: denotatif), (2) 'Pemuda serakah itu menutup mata dari penderitaan rakyat' (acuan: konotatif/kiasan), (3) 'Danau Toba menyimpan keindahan yang memikat' (acuan: denotatif).

Proses:

  • Formatif LKS: Identifikasi 6 butir kata/frasa target teks legenda beserta maknanya: (1) 'mata air' -> denotatif (sumber air alami), (2) 'berlapang dada' -> kiasan (ikhlas atau sabar), (3) 'keras kepala' -> konotatif negatif (sukar dinasihati), (4) 'gugur bunga' -> kiasan (meninggal dunia di medan juang), (5) 'tangan hampa' -> kiasan (tidak memperoleh hasil/tanpa bawaan), (6) 'membakar semangat' -> konotatif positif (mengobarkan antusiasme). Kriteria: tepat mengidentifikasi jenis makna minimal 4 dari 6 butir target.
  • Formatif Menulis Kalimat: Penulisan 2 kalimat ungkapan kepedulian berbasis kosakata legenda. Kriteria keberhasilan: setiap kalimat memuat kata target terpilih dan maknanya sesuai dengan konteks ungkapan kepedulian moral/sosial.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menyebutkan klasifikasi 1 kata uji 'berhati dingin' (acuan: konotatif/kiasan, bermakna tidak memiliki rasa iba/kejam) dan menuliskan alasan klasifikasinya (kriteria: menjelaskan bahwa kata dingin di sini tidak merujuk pada suhu).

Formatif:

  • Penilaian tes tertulis identifikasi jenis makna (denotatif, konotatif, kiasan) pada 6 kata target di lembar kerja
  • Penilaian unjuk kerja menulis 2 kalimat ungkapan kepedulian menggunakan kosakata denotatif, konotatif, atau kiasan yang telah diidentifikasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Mengidentifikasi Kosakata Bermakna Denotatif, Konotatif, dan KiasanMengidentifikasi 1-2 jenis makna dari 6 kata target secara tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mengidentifikasi 3 jenis makna dari 6 kata target secara tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mengidentifikasi 4-5 jenis makna dari 6 kata target secara tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mengidentifikasi seluruh (6 dari 6) jenis makna kata target secara tepat sesuai acuan kunci jawaban secara mandiri.
Penggunaan Kosakata Baru dalam Kalimat Ungkapan KepedulianBelum mampu menyusun kalimat ungkapan kepedulian yang memuat kosakata target sesuai maknanya.Menyusun 1 kalimat ungkapan kepedulian dengan penggunaan kosakata yang tepat sesuai maknanya dengan bimbingan guru.Menyusun 2 kalimat ungkapan kepedulian dengan penggunaan kosakata target tepat sesuai maknanya.Menyusun 2 kalimat ungkapan kepedulian secara mandiri dengan memadukan variasi kosakata denotatif, konotatif, dan kiasan secara tepat konteks.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan berpasangan 'Tebak Makna Gembira' efektif membedakan konsep makna denotatif, konotatif, dan kiasan bagi seluruh murid?
  • Bagian mana dari klasifikasi makna yang masih sering membingungkan murid (misal pembeda konotatif dengan kiasan)?

Murid:

  • Bagaimana caramu membedakan apakah suatu kata dalam teks legenda bermakna sebenarnya (denotatif) atau bermakna kiasan?
  • Kata kiasan atau konotatif baru apa yang paling menarik perhatianmu hari ini dan ingin kamu gunakan dalam tulisan kepedulianmu?

Pertemuan 13 — Menulis Draf Ungkapan Kepedulian dalam Teks Legenda Multimodal Berpilihan Kata Kiasan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam teks legenda berbentuk teks multimodal menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu menyusun draf tulisan ungkapan kepedulian berbasis teks legenda multimodal dengan pilihan kata kiasan (3 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen diagnostik singkat dengan mengidentifikasi makna dari 2 contoh kata kiasan dalam konteks kepedulian legenda: (1) 'berlapang dada' (acuan: ikhlas/sabar menerima keadaan) dan (2) 'ringan tangan' (acuan: suka menolong) secara lisan/cepat (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta alur aktivitas menulis draf yang akan dikerjakan murid secara bertahap (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati model draf multimodal berupa perpaduan draf narasi legenda dan rancangan visual poster/infografik yang memuat ungkapan kepedulian serta kata kiasan seperti 'hati yang beku', 'uluran tangan', dan 'batu sandungan' (10 menit).
  • Murid mengikuti permainan cepat 'Tebak Pasangan Kiasan': secara berpasangan, murid memasangkan 3 frasa kiasan dengan makna kepedulian yang tepat: (1) 'berpangku tangan' -> tidak mau peduli/membantu; (2) 'murah hati' -> suka memberi/peduli; (3) 'berhati emas' -> sangat baik budinya (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri memilih satu tokoh atau peristiwa legenda yang telah dipelajari sebelumnya (misalnya Malin Kundang atau Roro Jonggrang) untuk dijadikan fokus ungkapan kepedulian (5 menit).
  • Murid menulis draf teks narasi/pesan kepedulian yang memadukan elemen teks dan rencana visual multimodal (sketsa letak gambar pendukung atau keterangan ilustrasi) dengan mengintegrasikan minimal 2 kata kiasan yang relevan secara bermakna (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang draf tulisannya secara sadar untuk memeriksa ketepatan penggunaan kata kiasan dan kejelasan ungkapan kepedulian terhadap situasi tokoh legenda (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bagaimana pemilihan kata kiasan memperkuat empati dan makna pesan kepedulian dalam teks legenda multimodal (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan atas draf yang telah disusun, mengingatkan bahwa draf ini akan disunting dan difinalisasi pada pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan glosarium berisi 5 pilihan kata kiasan beserta maknanya, sedangkan murid yang mahir diarahkan memilih kosakata kiasan yang lebih bervariasi.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan menyusun draf dengan panduan kerangka kalimat rumpang, sedangkan murid yang mahir menyusun draf secara mandiri penuh.
  • Produk: Draf tulisan berfokus pada kedalaman ungkapan kepedulian dan ketepatan minimal 2 kata kiasan dalam teks multimodal legenda sesuai tingkat kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman makna kata kiasan: Murid menentukan makna dari 2 kata kiasan berikut: (1) 'berlapang dada' (acuan: ikhlas atau sabar menerima cobaan); (2) 'ringan tangan' dalam konteks menolong (acuan: suka membantu sesama).

Proses:

  • Observasi keterlibatan dan pemeriksaan berkala terhadap draf tulisan murid: memeriksa ketersediaan ungkapan kepedulian terhadap tokoh/peristiwa legenda, keterpaduan rancangan teks multimodal, serta penggunaan minimal 2 kata kiasan yang sesuai konteks.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan draf tulisan di akhir sesi: Murid mengumpulkan draf tulisan dengan kriteria penerimaan operasional: (1) memuat tulisan ungkapan empati/kepedulian terhadap tokoh/konflik legenda; (2) memuat rancangan tata letak teks dan visual multimodal; (3) memuat minimal 2 kata kiasan yang maknanya logis dan mendukung pesan cerita.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar draf tulisan ungkapan kepedulian teks legenda multimodal berpilihan kata kiasan menggunakan rubrik analitis.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penulisan Ungkapan Kepedulian dalam Teks Legenda MultimodalDraf tulisan belum memuat ungkapan kepedulian terhadap tokoh legenda dan belum menyertakan rancangan elemen teks multimodal.Draf tulisan memuat ungkapan kepedulian terhadap tokoh legenda secara sederhana, namun rancangan elemen teks multimodal belum padu.Draf tulisan memuat ungkapan kepedulian terhadap tokoh legenda secara jelas serta memadukan rancangan elemen visual dan teks multimodal secara padu.Draf tulisan memuat ungkapan kepedulian terhadap tokoh legenda secara mendalam, menggugah empati, serta memadukan seluruh rancangan elemen multimodal secara harmonis dan mandiri.
Penggunaan Kosakata KiasanBelum menggunakan kata kiasan dalam draf tulisan ungkapan kepedulian legenda.Menggunakan 1 kata kiasan dalam draf tulisan ungkapan kepedulian legenda secara tepat sesuai konteks.Menggunakan minimal 2 kata kiasan dalam draf tulisan ungkapan kepedulian legenda secara tepat sesuai konteks.Menggunakan lebih dari 2 kata kiasan dalam draf tulisan ungkapan kepedulian legenda secara tepat, variatif, dan selaras dengan nuansa emosional cerita.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu penulisan draf sudah memadai bagi seluruh murid untuk mengeksplorasi kata kiasan?
  • Bagaimana efektivitas bimbingan kerangka rumpang dalam membantu murid yang mengalami kesulitan menuangkan ungkapan kepedulian?

Murid:

  • Apakah kata kiasan yang saya pilih sudah berhasil menggambarkan rasa kepedulian saya terhadap tokoh legenda?
  • Bagian mana dari draf multimodal saya yang paling jelas menyampaikan pesan empati kepada pembaca?

Pertemuan 14 — Menulis Final dan Menyunting Teks Legenda Multimodal Bermuatan Kosakata Denotatif dan Konotatif — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam teks legenda berbentuk teks multimodal menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menyunting draf dan menulis naskah final ungkapan kepedulian dalam teks legenda multimodal dengan fokus ketepatan kosakata bermakna denotatif dan konotatif (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan 2 kalimat rumpang di papan tulis: (1) 'Penduduk desa hidup makmur karena tanah di lereng gunung itu sangat ... (subur/kaya)' dan (2) 'Tokoh yang serakah itu akhirnya menjadi ... (buah bibir/telinga panjang) masyarakat karena perilakunya'. Murid diminta menuliskan pilihannya di secarik kertas (acuan jawaban: 1 = 'subur' [denotatif], 2 = 'buah bibir' [konotatif/kiasan]) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati panduan penyuntingan mandiri dan lembar panduan cek kata: fokus pada pembedaan kosakata denotatif (makna lugas/sebenarnya, contoh: 'membantu warga miskin') dan kosakata konotatif/kiasan (makna kiasan/tafsiran rasa, contoh: 'mengulurkan tangan', 'berhati emas') dalam teks ungkapan kepedulian legenda (10 menit).
  • Murid berpasangan mengikuti tantangan ceria 'Detektif Kata' untuk menandai secara tepat 2 kata bermakna denotatif ('tanah tandus', 'memberi makan') dan 2 kata bermakna konotatif ('berhati batu', 'ringan tangan') dari 1 paragraf contoh pendek yang disajikan guru di lembar panduan (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid membuka kembali draf teks legenda multimodal bertema ungkapan kepedulian yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya, lalu melakukan penyuntingan mandiri (swasunting) dengan memeriksa ketepatan penggunaan minimal 2 kosakata bermakna denotatif dan 2 kosakata bermakna konotatif/kiasan (15 menit).
  • Murid menuliskan versi final teks ungkapan kepedulian legenda secara utuh dan terpadu dengan rancangan visual/multimodal (kombinasi narasi teks kepedulian, tata letak panel cerita/ilustrasi, dan takarir visual) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali karya finalnya menggunakan daftar periksa mandiri: memastikan ungkapan kepedulian tertulis jelas, memuat minimal 2 kata bermakna denotatif dan 2 kata bermakna konotatif secara tepat konteks (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap ketelitian murid dalam menyunting dan memadukan pilihan kata denotatif serta konotatif pada teks final (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan proses kepenulisan hari ini dan menutup sesi dengan rasa syukur serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan glosarium daftar pasangan kata denotatif dan konotatif siap pakai, sedangkan murid yang sudah mahir diarahkan memilih kosakata konotatif yang lebih beragam dan berbobot sastrawi.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menyunting diberikan panduan langkah demi langkah oleh guru, sedangkan murid yang mandiri langsung menyunting dan menulis naskah final secara leluasa.
  • Produk: Format penyajian multimodal disesuaikan dengan minat murid (dapat berupa komik berdialog naratif kepedulian, poster narasi berilustrasi, infografik legenda, atau naskah takarir storyboard visual).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid mengisi 2 kalimat rumpang dengan pilihan kata yang tepat di awal pembelajaran. Soal: (1) 'Penduduk desa hidup makmur karena tanah di lereng gunung itu sangat ... (subur/kaya)', (2) 'Tokoh yang serakah itu akhirnya menjadi ... (buah bibir/telinga panjang) masyarakat'. (Acuan jawaban: 1 = subur, 2 = buah bibir).

Proses:

  • Pemeriksaan proses swasunting murid pada draf masing-masing dengan kriteria ketercapaian: menandai dan memperbaiki minimal 2 kosakata denotatif serta 2 kosakata konotatif/kiasan secara tepat konteks cerita legenda.
  • Observasi pengerjaan naskah final teks ungkapan kepedulian legenda berbasis multimodal dengan instrumen lembar cek keterpaduan teks dan unsur multimodal.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir penulisan naskah final melalui lembar verifikasi murid terhadap keterpenuhan 3 kriteria operasional: (1) teks memuat gagasan ungkapan kepedulian terhadap tokoh/isu dalam legenda, (2) menggunakan minimal 2 kosakata bermakna denotatif yang tepat, dan (3) menggunakan minimal 2 kosakata bermakna konotatif/kiasan yang tepat konteks (acuan: keterpenuhan ketiga indikator pada naskah final).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar penyuntingan kata denotatif dan konotatif saat swasunting.
  • Penilaian produk naskah final teks legenda multimodal bermuatan ungkapan kepedulian dengan rubrik ketepatan kosakata.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penulisan Ungkapan Kepedulian dalam Teks Legenda MultimodalBelum menuliskan teks ungkapan kepedulian legenda dalam format multimodal.Menuliskan teks ungkapan kepedulian legenda dalam format multimodal, tetapi fokus pesan kepedulian belum jelas.Menuliskan teks ungkapan kepedulian legenda dalam format multimodal dengan pesan kepedulian yang jelas dan terpadu secara visual.Menuliskan teks ungkapan kepedulian legenda dalam format multimodal dengan pesan kepedulian yang sangat mendalam, lugas, dan terpadu padu secara visual secara mandiri.
Penggunaan Kosakata Bermakna DenotatifBelum menggunakan kosakata bermakna denotatif secara tepat dalam teks.Menggunakan 1 kosakata bermakna denotatif secara tepat konteks dalam teks.Menggunakan minimal 2 kosakata bermakna denotatif secara tepat konteks dalam teks legenda.Menggunakan lebih dari 2 kosakata bermakna denotatif secara tepat konteks, variatif, dan konsisten di sepanjang teks.
Penggunaan Kosakata Bermakna Konotatif dan KiasanBelum memadukan kosakata bermakna konotatif atau kiasan dalam teks ungkapan kepedulian.Menggunakan 1 kosakata bermakna konotatif atau kiasan secara tepat konteks dalam teks.Menggunakan minimal 2 kosakata bermakna konotatif atau kiasan secara tepat konteks untuk menguatkan ungkapan kepedulian.Menggunakan lebih dari 2 kosakata bermakna konotatif dan kiasan secara tepat, variatif, dan menggugah rasa kepedulian secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi swasunting berpasangan efektif memandu murid membedakan kosakata denotatif dan konotatif?
  • Bagian mana dari integrasi multimodal teks legenda yang masih memerlukan bimbingan lebih intensif pada murid?

Murid:

  • Kosakata konotatif dan kiasan apa yang paling tepat menggambarkan rasa kepedulianmu dalam teks legenda yang kamu tulis?
  • Apakah naskah final yang kamu selesaikan sudah mencerminkan pesan kepedulian secara utuh?

Pertemuan 15 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berbentuk teks aural berupa legenda
  • TP 9.4.2 Menganalisis pesan dari teks legenda berwujud teks visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
  • TP 9.4.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dan/atau pendapat pro/kontra dari teks legenda berwujud teks visual
  • TP 9.4.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari teks legenda berbentuk teks multimodal
  • TP 9.4.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam teks legenda berbentuk teks multimodal menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, mengajak murid berdoa, mengecek kehadiran, serta mengondisikan meja kelas secara rapi dan tertib (3 menit).
  • Guru menjelaskan struktur pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 4 yang mencakup 3 bagian utama: Tugas 1 Tes Tertulis Analisis Teks Aural & Visual secara individual, Tugas 2 Penulisan Fragmen Teks Multimodal secara kelompok, dan Tugas 3 Presentasi Lisan Multimodal secara kelompok (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Asesmen Sumatif Tugas 1 kepada setiap murid, lalu membacakan petunjuk teknis pengerjaan tes analisis teks aural dan visual secara berkesadaran agar murid memahami kriteria capaian tanpa membuka catatan (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas 1 (TP 1, TP 2, TP 3) secara individual selama 38 menit: Murid menyimak rekaman audio legenda 'Asal-Usul Rawa Pening' yang diputar 2 kali (teks aural berkisah tentang Baru Klinthing yang dianiaya warga desa Pathok saat mencari makan, pesta warga yang tamak, lidi yang ditancapkan, dan tenggelamnya desa menjadi rawa kecuali seorang janda tua yang menolongnya), lalu menganalisis tema (acuan: ketamakan berbalas kehancuran/menghargai sesama), tokoh dan penokohan (acuan: Baru Klinthing sabar/sakti, Warga Desa sombong/kejam, Nyi Latung dermawan/penolong), alur (alur maju: penghinaan warga - sayembara cabut lidi - banjir bandang), latar (Desa Pathok, suasana pesta, tepi rawa), sudut pandang (orang ketiga serba tahu), amanat (acuan: jangan menghina orang lemah; sifat serakah membawa petaka). Selanjutnya, murid membaca teks visual legenda 'Putri Kemarau' yang tertera pada lembar kerja, menganalisis pesan tersurat (acuan: pengorbanan sang putri demi menyelamatkan rakyat dari kekeringan panjang), pesan tersirat (acuan: pemimpin sejati rela mengesampingkan kepentingan pribadi demi keselamatan orang banyak), serta menuliskan 1 pendapat pro/kontra terhadap tindakan tokoh (acuan: setuju/pro karena wujud tanggung jawab moral pemimpin, atau kontra karena pengorbanan nyawa seharusnya bisa dicegah dengan ikhtiar rasional lain) dan 1 rumusan ungkapan kepedulian sosial (acuan kriteria: menyatakan empati terhadap beban penderitaan rakyat dan perlunya solidaritas sosial di masa krisis). Lembar kerja Tugas 1 dikumpulkan tepat waktu (38 menit).
  • Murid berkumpul dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid) untuk mengerjakan Tugas 2 (TP 5): menyusun naskah fragmen adaptasi legenda (1-2 paragraf adegan kunci) yang memuat pesan kepedulian sosial, dilengkapi rancangan tata letak elemen visual pendukung multimodal, serta wajib memadukan minimal 1 kata bermakna denotatif (acuan: kata dengan makna lugas/literal, mis. 'matahari terik membakar tanah kering'), 1 kata bermakna konotatif (acuan: kata bermakna kultural/tambahan nilai rasa, mis. 'haus kekuasaan' atau 'berlapang dada'), dan 1 kata kiasan/figuratif (acuan: majas/metafora/idiom, mis. 'urat nadi kehidupan' atau 'tangan hampa') secara kontekstual (18 menit).
  • Setiap kelompok secara bergiliran menampilkan Tugas 3 (TP 4): unjuk kerja presentasi lisan ungkapan kepedulian berbasis naskah dan rancangan teks multimodal yang telah disusun di hadapan kelas, dengan alokasi waktu maksimal 2,5 menit per kelompok (7 kelompok x 2,5 menit = 17,5 menit) dengan pembagian peran terstruktur dalam menyajikan kepedulian terhadap pesan legenda (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri mengisi 2 butir angket refleksi proses belajar dan asesmen pada lembar refleksi yang disediakan guru: mengevaluasi penguasaan kompetensi analisis legenda dan kerja sama dalam menyajikan teks multimodal (1 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan, integritas, dan kesungguhan seluruh murid selama menyelesaikan rangkaian Asesmen Sumatif Bab 4 (1 menit).
  • Guru merangkum ketercapaian Bab 4 'Meneladani Pesan Moral dalam Legenda', menyampaikan tindak lanjut umpan balik hasil penilaian, serta menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam (0 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan teks legenda visual dengan ukuran huruf lebih besar atau menyediakan pengeras suara yang jernih saat pemutaran rekaman legenda aural untuk murid yang memerlukan akomodasi sensori tanpa mengubah isi dan butir soal.
  • Proses: Menyediakan lembar kerja dengan format garis bantu berjarak renggang bagi murid yang membutuhkan akomodasi motorik halus saat menulis, dengan alokasi waktu dan tuntutan kompetensi yang tetap setara.
  • Produk: Rancangan visual multimodal pada Tugas 2 dan 3 dapat disajikan dalam bentuk lembar sketsa grafis manual atau bagan tata letak visual dua dimensi tanpa mengubah pemenuhan kaidah kosakata dan pesan kepedulian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek kesiapan instrumen asesmen dan konfirmasi pemahaman prosedur penilaian sumatif 3 tahap (tes tertulis mandiri, naskah fragmen multimodal kelompok, presentasi lisan) melalui tanya jawab singkat mengenai aturan waktu dan rubrik capaian.

Proses:

  • Pemantauan kemandirian dan integritas murid saat mengerjakan tes tertulis individual, observasi kolaborasi perancangan fragmen teks multimodal kelompok, dan pencatatan unjuk kerja presentasi lisan menggunakan lembar observasi guru.

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi tes tertulis analisis teks legenda, penulisan fragmen multimodal kepedulian, dan penyajian lisan kelompok: Lembar analisis mandiri unsur intrinsik aural dan pesan moral visual, naskah fragmen legenda multimodal bermakna denotatif-konotatif-kiasan, serta performa presentasi lisan ungkapan kepedulian per kelompok
  • tes tertulis analisis teks aural dan visual serentak: lembar kerja analisis mandiri yang dikerjakan serentak oleh setiap murid memuat rincian unsur intrinsik dari rekaman legenda yang diperdengarkan (TP 1), identifikasi pesan tersurat dan tersirat disertai kutipan teks legenda visual (TP 2), serta rumusan pendapat kritis pro/kontra dan kepedulian sosial terhadap tindakan tokoh (TP 3) (40 menit; individual; instrumen: rubrik analitik penilaian pemahaman teks sastra)
  • penulisan fragmen teks legenda multimodal: naskah fragmen adaptasi legenda (1-2 paragraf adegan kunci) yang memuat pesan kepedulian sosial, dilengkapi rancangan ilustrasi/elemen visual pendukung, serta memadukan kosakata bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan secara kontekstual yang dikerjakan kolaboratif per kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid) (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian teks multimodal dan variasi makna kata)
  • unjuk kerja presentasi multimodal kelompok: penyajian lisan ungkapan kepedulian berbasis teks multimodal yang telah disusun, ditampilkan oleh 7 kelompok secara bergantian dengan alokasi 2,5 menit per kelompok di hadapan kelas (7 kelompok x 2,5 menit = 17,5 menit, tuntas dalam 20 menit untuk seluruh 28 murid) (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian presentasi lisan kepedulian multimodal)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi tes tertulis analisis teks legenda, penulisan fragmen multimodal kepedulian, dan penyajian lisan kelompok: Lembar analisis mandiri unsur intrinsik aural dan pesan moral visual, naskah fragmen legenda multimodal bermakna denotatif-konotatif-kiasan, serta performa presentasi lisan ungkapan kepedulian per kelompok
  • tes tertulis analisis teks aural dan visual serentak: lembar kerja analisis mandiri yang dikerjakan serentak oleh setiap murid memuat rincian unsur intrinsik dari rekaman legenda yang diperdengarkan (TP 1), identifikasi pesan tersurat dan tersirat disertai kutipan teks legenda visual (TP 2), serta rumusan pendapat kritis pro/kontra dan kepedulian sosial terhadap tindakan tokoh (TP 3) (40 menit; individual; instrumen: rubrik analitik penilaian pemahaman teks sastra)
  • penulisan fragmen teks legenda multimodal: naskah fragmen adaptasi legenda (1-2 paragraf adegan kunci) yang memuat pesan kepedulian sosial, dilengkapi rancangan ilustrasi/elemen visual pendukung, serta memadukan kosakata bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan secara kontekstual yang dikerjakan kolaboratif per kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid) (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian teks multimodal dan variasi makna kata)
  • unjuk kerja presentasi multimodal kelompok: penyajian lisan ungkapan kepedulian berbasis teks multimodal yang telah disusun, ditampilkan oleh 7 kelompok secara bergantian dengan alokasi 2,5 menit per kelompok di hadapan kelas (7 kelompok x 2,5 menit = 17,5 menit, tuntas dalam 20 menit untuk seluruh 28 murid) (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian presentasi lisan kepedulian multimodal)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Unsur Intrinsik Teks Legenda Aural (TP 1)Menganalisis kurang dari 3 unsur intrinsik secara tepat dari 6 unsur target teks aural Rawa Pening (tema, tokoh-penokohan, alur, latar, sudut pandang, amanat).Menganalisis 3-4 unsur intrinsik secara tepat sesuai acuan teks aural Rawa Pening.Menganalisis 5 unsur intrinsik secara tepat sesuai acuan teks aural Rawa Pening (tema: ketamakan berbalas kehancuran; tokoh: Baru Klinthing, Warga, Nyi Latung; alur maju; latar desa & rawa; sudut pandang orang ketiga; amanat: jangan merendahkan sesama).Menganalisis seluruh (6) unsur intrinsik (tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat) secara lengkap dan tepat sesuai daftar acuan teks aural Rawa Pening secara mandiri.
Menganalisis Pesan Tersurat dan Tersirat Teks Visual (TP 2)Belum mampu menemukan pesan tersurat maupun tersirat dari teks visual legenda 'Putri Kemarau' secara tepat.Hanya mampu menemukan pesan tersurat (pengorbanan putri mengatasi kemarau) atau pesan tersirat (pemimpin rela berkorban demi rakyat) secara tepat, namun belum keduanya.Menganalisis pesan tersurat (pengorbanan sang putri demi menyelamatkan rakyat dari kekeringan) dan pesan tersirat (pemimpin sejati mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi) secara tepat sesuai acuan teks visual.Menganalisis pesan tersurat dan pesan tersirat secara tepat disertai bukti kutipan peristiwa teks visual yang relevan secara komprehensif.
Menginterpretasi Informasi untuk Pendapat Pro/Kontra dan Kepedulian (TP 3)Belum mampu merumuskan pendapat pro/kontra yang logis atau belum menunjukkan ungkapan kepedulian sosial terhadap peristiwa dalam teks.Merumuskan salah satu antara pendapat pro/kontra ATAU ungkapan kepedulian sosial terhadap tindakan tokoh dengan alasan yang berterima.Merumuskan pendapat pro/kontra yang logis terhadap tindakan tokoh DAN mengungkapkan kepedulian sosial yang kontekstual terhadap penderitaan rakyat dalam legenda.Merumuskan argumentasi pro dan kontra secara seimbang dan kritis serta menyajikan ungkapan kepedulian sosial yang mendalam dan solutif terhadap situasi tokoh.
Menulis Ungkapan Kepedulian Multimodal Bermuatan Kosakata (TP 5)Menulis naskah fragmen legenda tanpa muatan ungkapan kepedulian dan belum memadukan ketiga jenis kosakata (denotatif, konotatif, kiasan) secara tepat.Menulis naskah fragmen bermuatan kepedulian, tetapi hanya memadukan 1-2 jenis kosakata (denotatif, konotatif, atau kiasan) secara tepat.Menulis naskah fragmen legenda (1-2 paragraf) yang memuat pesan kepedulian sosial, dilengkapi rancangan elemen visual, serta memadukan minimal 1 kata denotatif, 1 kata konotatif, dan 1 kata kiasan secara tepat sesuai konteks.Menulis naskah fragmen legenda multimodal yang memuat pesan kepedulian sosial secara runtut dan menggugah, dengan perpaduan variatif kata denotatif, konotatif, dan kiasan yang sangat harmonis dan tepat makna.
Menyajikan Ungkapan Kepedulian Teks Multimodal secara Lisan (TP 4)Menyajikan ungkapan secara lisan tanpa keterkaitan dengan naskah multimodal yang disusun dan pesan kepedulian belum tersampaikan kepada audiens.Menyajikan ungkapan kepedulian secara lisan dengan merujuk teks multimodal, namun pembagian penyampaian belum terstruktur dan pesan kurang fokus.Menyajikan ungkapan kepedulian dari teks multimodal secara lisan dengan runtut, pesan kepedulian tersampaikan jelas, dan memanfaatkan elemen visual pendukung secara efektif.Menyajikan ungkapan kepedulian teks multimodal secara lisan dengan artikulasi sangat lugas, meyakinkan, terstruktur harmonis antarangggota kelompok, serta memanfaatkan media visual secara optimal.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit untuk tes tertulis individual, 20 menit penulisan naskah, dan 20 menit presentasi kelompok terlaksana secara presisi dan kondusif?
  • Bagaimana tingkat penguasaan murid pada pembedaan makna denotatif, konotatif, dan kiasan dalam teks multimodal berdasarkan hasil kerja sumatif?
  • Aspek kompetensi mana di antara TP 1 hingga TP 5 yang masih memerlukan program remedial bagi murid tertentu?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini (analisis teks aural, analisis teks visual, menulis multimodal, atau presentasi lisan) yang paling berhasil saya selesaikan dengan baik?
  • Nilai moral dan kepedulian sosial apa dari legenda yang telah dipelajari yang paling bermakna untuk saya terapkan dalam pergaulan sehari-hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2024), Bab IV.
  2. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2024), Bab IV.
  3. Naskah bacaan aural teks legenda 'Asal-Usul Rawa Pening' dan 'Asal Usul Danau Toba'.
  4. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2023.
  5. Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Bab IV Meneladani Pesan Moral dalam Legenda.
  6. Berkas rekaman audio legenda Nusantara 'Asal Mula Ake To Lahi (Air Permintaan)' (Maluku Utara).
  7. Lembar Kerja Analisis Unsur Intrinsik Legenda Aural.
  8. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  9. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Bab IV Subbab A, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  10. Rekaman audio teks sastra legenda 'Asal Mula Ake To Lahi' (Cerita Rakyat Maluku Utara).
  11. Kartu permainan 'Jejak Tiga Titik' keterkaitan unsur intrinsik legenda.
  12. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek)
  13. Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek)
  14. Teks Legenda Visual 'Asal Mula Selat Bali' dan 'Asal Mula Danau Toba'
  15. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek 2023)
  16. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek 2023)
  17. Teks legenda visual bergambar 'Asal Mula Ake To Lahi'
  18. Kartu tantangan 'Detektif Makna' dan lembar kerja analisis pesan tersirat
  19. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  20. Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  21. Teks visual cerita legenda 'Legenda Danau Toba' dan 'Legenda Malin Kundang'.
  22. Kartu pemantik kalimat peristiwa legenda visual dan lembar kerja analisis perbandingan.
  23. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas IX SMP/MTs Revisi
  24. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX SMP/MTs Revisi (Bab 4, Subbab C)
  25. Lembar teks visual legenda 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' disertai ilustrasi gambar adegan
  26. Lembar Kerja Siswa: Tabel Interpretasi Kepedulian Sosial
  27. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek, Subbab C)
  28. Teks visual Legenda 'Asal Usul Gunung Batu Banawa' dan Legenda 'Roro Jonggrang'
  29. Kartu Timbangan Sikap Pro-Kontra Tokoh Legenda
  30. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2023
  31. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Subbab C: Menginterpretasi Informasi dari Teks Legenda, Kemendikbudristek 2023
  32. Lembar teks visual cerita legenda 'Asal Usul Gunung Batu Banawa'
  33. Kartu Sudut Pandang Kritis (peristiwa, pro/kontra, dan ungkapan kepedulian)
  34. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
  35. Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
  36. Contoh lembar draf rancangan storyboard video dan sketsa poster kepedulian legenda
  37. Teks legenda 'Batu Menangis' dan 'Asal Usul Gunung Batu Banawa'
  38. Video legenda Nusantara (Batu Menangis/Gunung Batu Banawa)
  39. Media presentasi multimodal buatan murid (poster/infografik/slide tayang)
  40. Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX SMP/MTs Revisi
  41. Lembar Kerja Kosakata Legenda (Denotatif, Konotatif, dan Kiasan)
  42. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI daring/luring)
  43. Lembar Kerja Menulis Draf Teks Legenda Multimodal Berpilihan Kata Kiasan
  44. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Bab IV Subbab E Halaman 189-191
  45. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Latihan 10 dan 11 Halaman 172-175
  46. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring VI
  47. Lembar Panduan Swasunting dan Cek Kosakata Denotatif-Konotatif
  48. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas IX SMP/MTs Revisi (Kemendikbudristek, 2023)
  49. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX SMP/MTs Revisi (Kemendikbudristek, 2023) Bab IV Meneladani Pesan Moral dalam Legenda
  50. Rekaman audio teks aural legenda 'Asal-Usul Rawa Pening' dan Lembar Naskah Bacaan visual 'Putri Kemarau'
  51. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bab 4 dan Kertas Kerja Perancangan Multimodal

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.