Modul AjarPertemuan 6Bab 2Fase DSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Berlatih Menulis Pantun Sesuai Struktur dan Kaidah

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 9 dengan topik "Berlatih Menulis Pantun Sesuai Struktur dan Kaidah". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Berlatih Menulis Pantun Sesuai Struktur dan Kaidah

Bahasa Indonesia - Kelas 9

Bab 2 - Pertemuan 6

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Berlatih Menulis Pantun Sesuai Struktur dan Kaidah

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikBerlatih Menulis Pantun Sesuai Struktur dan Kaidah
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui kegiatan latihan terbimbing, murid dapat menulis pantun sesuai struktur (sampiran dan isi) dan kaidah (empat baris, pola rima a-b-a-b) dengan benar
  2. Melalui kegiatan menulis pantun, murid dapat menggunakan kosakata baru bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan untuk memperindah pantun yang ditulis

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian menulis pantun sendiri? Apa tantangan terbesar saat membuat pantun?
  2. Bagaimana caranya agar sampiran dan isi pantun kita terdengar indah dan bermakna?
  3. Kosakata apa yang bisa membuat pantun kita lebih menarik dan berkesan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengajak murid berdoa bersama
  • Guru melakukan asesmen awal dengan meminta murid menyebutkan ciri-ciri pantun yang telah dipelajari sebelumnya
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan berlatih menulis pantun dengan struktur dan kaidah yang benar serta menggunakan kosakata yang indah
  • Guru melontarkan pertanyaan pemantik: 'Pernahkah kalian menulis pantun sendiri? Apa tantangan terbesar saat membuat pantun?'
  • Guru menjelaskan manfaat belajar menulis pantun dalam kehidupan sehari-hari (pidato, ceramah, acara adat)

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menayangkan contoh pantun dan mengajak murid mengidentifikasi struktur (sampiran-isi) dan kaidah (4 baris, rima a-b-a-b)
  • Guru menjelaskan perbedaan kosakata denotatif (makna sebenarnya), konotatif (makna kiasan), dan kiasan (majas) dengan contoh konkret dalam pantun
  • Murid mencermati tabel perbandingan kosakata denotatif dan konotatif yang disajikan guru (contoh: 'bunga' sebagai tanaman vs 'bunga' sebagai anak perempuan)
  • Guru membimbing murid menganalisis pantun contoh: manakah kosakata denotatif, konotatif, atau kiasan yang digunakan
  • Murid berdiskusi kelompok kecil (3-4 orang) untuk menemukan contoh kosakata bermakna konotatif dan kiasan yang cocok untuk pantun

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memberikan tema pantun yang kontekstual (kepedulian lingkungan, persahabatan, semangat belajar, atau cita-cita)
  • Murid secara individu menentukan isi pantun terlebih dahulu (2 baris berisi pesan/maksud)
  • Murid membuat sampiran yang sesuai dengan rima a-b-a-b (2 baris pertama yang berima dengan isi)
  • Guru membimbing murid memilih kosakata denotatif, konotatif, atau kiasan untuk memperindah pantun yang ditulis
  • Murid menulis minimal 2 pantun dengan tema berbeda, menggunakan variasi kosakata
  • Guru melakukan asesmen proses dengan berkeliling mengamati dan memberikan umpan balik langsung pada pantun yang sedang ditulis murid

Merefleksi (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid saling bertukar pantun dengan teman sebangku untuk saling memberikan masukan (peer assessment)
  • Beberapa murid (5-6 orang) membacakan pantun karya mereka di depan kelas dengan percaya diri
  • Guru dan murid lain memberikan apresiasi dan masukan konstruktif terhadap pantun yang dibacakan
  • Murid merefleksi proses belajarnya: 'Apa tantangan yang saya hadapi saat menulis pantun? Bagaimana saya mengatasinya?'
  • Murid menuliskan refleksi di buku tugas: 'Kosakata apa yang paling sulit saya gunakan? Mengapa?'

Penutup:

  • Guru melakukan asesmen akhir dengan meminta murid menulis satu pantun utuh (tema bebas) dengan struktur dan kaidah yang benar serta menggunakan minimal satu kosakata konotatif atau kiasan
  • Guru dan murid menyimpulkan bersama kunci sukses menulis pantun: tentukan isi dulu, cari sampiran yang berima, gunakan kosakata yang indah
  • Guru memberikan penguatan positif atas usaha dan kreativitas murid dalam menulis pantun
  • Guru memberikan tugas pengayaan: menulis 3 pantun dengan tema berbeda untuk dipublikasikan di mading kelas atau media sosial sekolah
  • Guru menutup pelajaran dengan pantun penutup dan doa bersama

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang sudah mahir dapat mencoba menulis pantun kilat atau pantun berkait (berbalas), sedangkan yang membutuhkan bimbingan diberikan kerangka pantun (isi sudah disediakan, tinggal melengkapi sampiran)
  • Proses: Murid yang cepat menangkap dapat langsung menulis pantun secara mandiri, sedangkan yang lambat dibimbing secara bertahap (latihan terbimbing dengan guru/tutor sebaya)
  • Produk: Murid dapat memilih bentuk publikasi pantun mereka: ditulis di kertas karton berwarna, direkam video pembacaan pantun, atau diketik dengan desain menarik

ASESMEN

Awal:

  • Tanya jawab lisan: murid menyebutkan ciri-ciri pantun (4 baris, sampiran-isi, rima a-b-a-b)
  • Guru mencatat murid yang masih belum hafal struktur dan kaidah pantun untuk diberi perhatian khusus

Proses:

  • Observasi saat murid berdiskusi kelompok menemukan kosakata konotatif dan kiasan
  • Umpan balik langsung saat guru berkeliling mengamati proses menulis pantun murid
  • Penilaian sejawat: murid saling memberikan masukan terhadap pantun yang ditulis teman sebangku
  • Catatan anekdot untuk murid yang menunjukkan kreativitas tinggi atau membutuhkan bimbingan tambahan

Akhir:

  • Tes tertulis: murid menulis satu pantun utuh dengan tema bebas, memenuhi struktur (sampiran-isi), kaidah (4 baris, rima a-b-a-b), dan menggunakan minimal satu kosakata bermakna konotatif atau kiasan
  • Penilaian produk pantun menggunakan rubrik dengan aspek: struktur pantun, kaidah rima, penggunaan kosakata, dan kreativitas
  • Pembacaan pantun di depan kelas (opsional) untuk menilai kemampuan komunikasi lisan

Formatif:

  • Observasi aktivitas diskusi kelompok saat menemukan kosakata bermakna konotatif dan kiasan
  • Umpan balik langsung saat murid menulis pantun (guru berkeliling)
  • Penilaian sejawat (peer assessment) saat murid saling bertukar pantun

Sumatif:

  • Tes tertulis: menulis satu pantun utuh dengan struktur, kaidah, dan kosakata yang tepat
  • Penilaian produk pantun menggunakan rubrik (struktur, kaidah rima, penggunaan kosakata, kreativitas)

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Struktur Pantun (Sampiran dan Isi)Pantun tidak memiliki pembagian jelas antara sampiran dan isi, atau hanya terdiri dari 1-2 barisPantun memiliki 4 baris tetapi pembagian sampiran dan isi belum tepat (isi tercampur dengan sampiran)Pantun memiliki 4 baris dengan pembagian sampiran (2 baris pertama) dan isi (2 baris terakhir) yang tepat, tetapi keterkaitan kurang jelasPantun memiliki struktur sempurna: 4 baris dengan sampiran dan isi yang jelas, serta sampiran mendukung suasana isi pantun
Kaidah Rima (Pola a-b-a-b)Pantun tidak memiliki rima atau pola rima tidak beraturanPantun memiliki rima tetapi polanya tidak tepat (misal a-a-b-b atau a-b-c-d)Pantun memiliki pola rima a-b-a-b tetapi masih ada 1 baris yang rimannya kurang pasPantun memiliki pola rima a-b-a-b yang sempurna dan enak didengar
Penggunaan Kosakata (Denotatif, Konotatif, Kiasan)Pantun hanya menggunakan kosakata sehari-hari tanpa variasi, tidak ada kosakata konotatif atau kiasanPantun menggunakan satu kosakata konotatif tetapi penggunaannya kurang tepat atau kurang indahPantun menggunakan kosakata konotatif atau kiasan dengan tepat, membuat pantun lebih menarikPantun menggunakan kosakata konotatif dan kiasan secara kreatif, membuat pantun sangat indah dan berkesan
Kreativitas dan Kesesuaian TemaIsi pantun tidak sesuai tema atau ide yang disampaikan tidak jelasIsi pantun sesuai tema tetapi penyampaiannya masih biasa, kurang orisinalIsi pantun sesuai tema dengan ide yang cukup orisinal dan menarikIsi pantun sangat orisinal, kreatif, menyentuh, dan menyampaikan pesan dengan cara yang unik

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid berhasil menulis pantun dengan struktur dan kaidah yang benar?
  • Strategi mana yang paling efektif untuk membantu murid memilih kosakata konotatif dan kiasan?
  • Murid mana yang membutuhkan bimbingan tambahan, dan bagaimana tindak lanjutnya?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah mengakomodasi kebutuhan semua murid?

Refleksi Murid:

  • Apa tantangan terbesar yang saya hadapi saat menulis pantun hari ini?
  • Kosakata apa yang paling sulit saya gunakan? Mengapa?
  • Apa yang saya pelajari dari pantun teman-teman saya?
  • Bagaimana saya bisa menulis pantun yang lebih baik lagi?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi), Bab II Belajar Berpantun
  2. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas IX Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi), Panduan Khusus Bab II
  3. Contoh pantun dari berbagai tema (lingkungan, persahabatan, pendidikan, adat)
  4. Tabel kosakata denotatif, konotatif, dan kiasan
  5. Kertas karton berwarna untuk menulis pantun (opsional)
  6. Papan tulis dan spidol untuk menampilkan contoh pantun
  7. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk mencari variasi kosakata

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.