MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 9 (Fase D) Topik: Bab 2 — Belajar Berpantun INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 9 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Belajar Berpantun |
|---|
| Alokasi Waktu | 34 JP (34 x 40 menit = 1360 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 14 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 9.2.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berupa pantun berbentuk teks aural
- TP 9.2.2 Menganalisis informasi berupa pesan dari teks visual pantun untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
- TP 9.2.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dari berbagai tipe teks berwujud teks visual pantun
- TP 9.2.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari berbagai tipe teks pantun secara lisan
- TP 9.2.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam berbagai tipe teks berupa teks pantun yang menarik dan indah
- TP 9.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan untuk menulis pantun
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Ketika kamu menyimak seseorang melisankan pantun, bunyi apa di akhir baris yang membuat bunyinya terdengar selaras dan berirama?
- Mengapa pantun yang kita dengar biasanya memiliki ketukan baris yang terasa seimbang dan tidak terlalu panjang atau terlalu pendek?
- Saat kalian menyimak pembacaan pantun, bagaimana kalian membedakan bagian pengantar dan bagian pesan intinya?
- Mengapa pantun membutuhkan bagian sampiran sebelum menyampaikan bagian isi?
- Ketika menyimak pantun secara lisan, bagaimana hubungan bunyi antara larik sampiran dan larik isi membantu kalian memahami keutuhan maknanya?
- Mengapa larik ketiga dan keempat pantun tidak bisa dipisahkan ketika kita ingin menangkap satu makna yang utuh?
- Ketika membaca pantun, bagian baris mana yang secara langsung menyampaikan isi atau nasihat kepada pembaca?
- Bagaimana cara kita membuktikan bahwa suatu pesan pantun benar-benar tertulis jelas (makna tersurat) dan bukan sekadar tafsiran kita sendiri?
- Mengapa dalam pantun nasihat sering digunakan ungkapan perumpamaan atau kiasan, bukan kata-kata langsung?
- Bagaimana cara kita membongkar pesan tersirat yang tersembunyi di balik kata kiasan dalam larik isi pantun?
- Bagaimana cara kita membedakan pesan moral yang langsung tertulis jelas (tersurat) dengan pesan yang tersembunyi di balik kata atau ungkapan (tersirat) dalam sebuah bait pantun?
- Mengapa dalam kumpulan pantun nasihat, ada pesan moral yang diungkapkan secara gamblang dan ada pula yang harus dipahami maknanya secara mendalam?
- Bagaimana sebuah pantun dapat menyampaikan pesan ajakan untuk membantu sesama?
- Mengapa kita perlu menginterpretasi makna di balik larik isi pantun sebelum menyimpulkan wujud kepedulian sosialnya?
- Bagaimana sebuah pantun dapat menyampaikan ajakan nyata untuk menjaga kelestarian alam di sekitar kita?
- Informasi kepedulian lingkungan apa yang dapat kita tafsirkan ketika membaca bait pantun bertema alam?
- Apa perbedaan arti kata 'hulu' saat kita berbicara tentang sungai dibanding saat kita mengatakan 'berakit-rakit ke hulu'?
- Bagaimana sebuah kata yang bermakna kias atau kiasan membuat larik pantun terasa lebih berbobot dan berkesan?
- Mengapa dalam pantun orang sering menggunakan ungkapan kiasan seperti 'lapang dada' atau 'ringan tangan' daripada kata harfiahnya?
- Bagaimana sebuah kosakata bermakna kiasan dapat membuat pesan nasihat dalam bait pantun terasa lebih halus dan mendalam?
- Bagaimana kita menuangkan rasa peduli kepada sesama atau alam ke dalam larik-larik pantun yang indah?
- Mengapa dalam menulis pantun kita sebaiknya menentukan larik isi terlebih dahulu sebelum merangkai larik sampiran?
- Bagaimana cara kita menyunting draf pantun agar ungkapan kepedulian di dalamnya terasa lebih menyentuh, indah, dan menarik bagi pembaca?
- Mengapa keselarasan rima akhir dan ketepatan jumlah suku kata sangat memengaruhi keindahan sebuah bait pantun?
- Bagaimana cara membacakan pantun secara lisan agar pesan kepedulian di dalamnya dapat tersampaikan dengan jelas kepada pendengar?
- Mengapa pelafalan kata yang jelas dan intonasi yang tepat sangat menentukan penyampaian isi pantun?
- Bagaimana pemahaman struktur sampiran, isi, serta rima membantu kita menangkap pesan tersurat dan tersirat dalam sebuah pantun?
- Bagaimana cara merangkai kosakata denotatif, konotatif, dan kiasan agar pantun kepedulian yang kita tulis terdengar menyentuh saat dilisankan?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menganalisis Unsur Rima Akhir dan Suku Kata Pantun Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berupa pantun berbentuk teks aural
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis unsur rima akhir dan jumlah suku kata pantun yang disimak (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik secara aural dengan membacakan nyaring dua baris teks: (1) 'Berakit-rakit ke hulu' dan (2) 'Berenang-renang ke tepian'. Murid diminta menyebutkan bunyi suku kata terakhir dari kedua baris tersebut (acuan jawaban: baris 1 berakhiran bunyi '-lu' / vokal 'u', baris 2 berakhiran bunyi '-an') serta menghitung jumlah suku kata pada baris 1 (acuan: Be-ra-kit ra-kit ke hu-lu = 8 suku kata) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperdengarkan rekaman audio/pembacaan nyaring Bait Pantun 1: 'Berakit-rakit ke hulu / Berenang-renang ke tepian / Bersakit-sakit dahulu / Bersenang-senang kemudian' (10 menit).
- Dengan bimbingan berkesadaran, murid menyimak pemodelan guru tentang cara membedah unsur intrinsik aural pantun: menandai pola rima akhir larik 1–4 berskema a-b-a-b (ujung larik: hu-lu [-u], te-pi-an [-an], da-hu-lu [-u], ke-mu-di-an [-an]) serta menghitung rentang suku kata tiap larik (larik 1: 8 suku kata, larik 2: 9 suku kata, larik 3: 8 suku kata, larik 4: 9 suku kata; berada dalam batas lazim 8–12 suku kata) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru menyajikan aktivitas tantangan menggembirakan 'Tebak Pola Ketukan dan Rima': guru membacakan 2 bait teks aural dan murid mengangkat kartu kode rima (a-b-a-b atau a-a-a-a) serta menyebutkan jumlah suku katanya secara berpasangan. Bait A: 'Membeli jamu di ujung kampung / Beli lempuyang di tempat rehat / Janganlah kamu ikut mendukung / Pada orang yang berniat jahat' (acuan rima: a-b-a-b [-ung, -at, -ung, -at]; acuan suku kata: L1=10, L2=9, L3=10, L4=10). Bait B: 'Pohon jati tumbuh di taman / Daunnya rindang lebat nian / Mari kawan jalin berteman / Jangan suka cari musuhan' (acuan rima: a-a-a-a [-an, -an, -an, -an]; acuan suku kata: L1=9, L2=8, L3=9, L4=9) (20 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Analisis Pantun Aural berdasarkan Bait Pantun 2 yang dibacakan guru: 'Buah cempedak di luar pagar / Ambil galah tolong jolokkan / Saya budak baru belajar / Kalau salah tolong tunjukkan'. Murid menuliskan: (a) bunyi akhir dan pola rima 4 larik (acuan: L1=-gar, L2=-kan, L3=-jar, L4=-kan; pola rima: a-b-a-b), (b) jumlah suku kata per larik (acuan: L1=9, L2=9, L3=8, L4=9), dan (c) simpulan kesesuaian unsur rima dan suku kata dengan kaidah pantun (acuan: berima silang a-b-a-b dan seluruh larik memenuhi batas 8–12 suku kata) (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil analisisnya secara berkesadaran menggunakan lembar kunci ceklist unsur intrinsik aural yang dibacakan guru untuk mengukur ketepatan penentuan suku kata dan rima (15 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik klasikal atas analisis rima akhir dan suku kata pantun aural, kemudian murid menyimpulkan bahwa ciri intrinsik bunyi pantun ditentukan oleh rima akhir (umumnya a-b-a-b) serta keteraturan 8–12 suku kata per larik (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan menyimak teks pantun aural dengan tempo pembacaan lebih lambat dan artikulasi jeda antarsuku kata yang diperjelas; murid yang sudah mahir menyimak teks aural pantun dengan ragam dialek/kecepatan wajar.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dibantu dengan ketukan jari saat menghitung suku kata larik; murid yang mahir langsung menghitung dan menganalisis mandiri.
- Produk: Semua murid menghasilkan laporan analisis rima akhir dan suku kata dari teks pantun aural pada lembar kerja.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Guru melisankan 2 baris 'Berakit-rakit ke hulu' dan 'Berenang-renang ke tepian'. Soal 1: Sebutkan bunyi akhir kedua baris! (Acuan jawaban: baris 1 berakhiran bunyi '-lu' / vokal 'u'; baris 2 berakhiran bunyi '-an'). Soal 2: Hitung berapa jumlah suku kata pada baris 1! (Acuan jawaban: 8 suku kata: Be-ra-kit ra-kit ke hu-lu).
Proses:- Penilaian pengerjaan Lembar Analisis Pantun Aural mandiri berdasarkan teks aural yang dibacakan guru: 'Buah cempedak di luar pagar / Ambil galah tolong jolokkan / Saya budak baru belajar / Kalau salah tolong tunjukkan'. Aspek yang dinilai: ketepatan identifikasi 4 bunyi akhir dan pola rima (acuan: L1 -gar, L2 -kan, L3 -jar, L4 -kan; pola a-b-a-b), serta ketepatan perhitungan jumlah suku kata pada 4 larik (acuan: L1=9 suku kata, L2=9 suku kata, L3=8 suku kata, L4=9 suku kata).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan satu refleksi singkat mengenai pola rima dan jumlah suku kata pantun yang ideal berdasarkan kriteria intrinsik aural (acuan kriteria: rima berpola a-b-a-b dan suku kata berkisar 8–12 per baris).
Formatif:- Asesmen diagnostik aural rima dan suku kata di pendahuluan
- Kuis berpasangan 'Tebak Pola Ketukan dan Rima'
- Lembar Analisis Pantun Aural mandiri (analisis rima akhir dan pemenggalan suku kata)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Rima Akhir Pantun Aural | Belum tepat menentukan bunyi rima akhir pada seluruh larik teks pantun aural (0-1 larik tepat dari 4 larik acuan: L1 -gar, L2 -kan, L3 -jar, L4 -kan). | Tepat menentukan bunyi rima akhir pada 2 dari 4 larik teks pantun aural sesuai acuan. | Tepat menentukan bunyi rima akhir pada 3-4 larik serta pola rima a-b-a-b pada teks pantun aural sesuai acuan dengan sedikit bimbingan. | Tepat menentukan bunyi rima akhir pada seluruh 4 larik (-gar, -kan, -jar, -kan) dan merumuskan pola rima a-b-a-b pada teks pantun aural secara mandiri. | | Menganalisis Jumlah Suku Kata Pantun Aural | Belum tepat menghitung jumlah suku kata pada seluruh larik teks pantun aural (0-1 larik tepat dari 4 larik acuan: L1=9, L2=9, L3=8, L4=9). | Tepat menghitung jumlah suku kata pada 2 dari 4 larik teks pantun aural sesuai acuan. | Tepat menghitung jumlah suku kata pada 3 dari 4 larik teks pantun aural sesuai acuan (rentang 8–12 suku kata). | Tepat menghitung jumlah suku kata pada seluruh (4) larik teks pantun aural (L1=9, L2=9, L3=8, L4=9) secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah strategi pemodelan ketukan dan penyimakan berulang efektif membantu murid menganalisis rima dan suku kata pantun aural?
- Bagian mana dari analisis intrinsik aural (rima vs suku kata) yang masih menjadi kendala bagi sebagian murid?
Murid:- Bagian mana yang lebih mudah bagiku saat mendengarkan pantun: mencocokkan bunyi rima akhir atau menghitung jumlah suku kata per larik?
- Strategi apa yang membantuku menghitung suku kata dengan tepat saat pantun dibacakan?
Pertemuan 2 — Menganalisis Struktur Sampiran dan Isi Pantun Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berupa pantun berbentuk teks aural
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kelas agar kondusif untuk kegiatan menyimak (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis struktur sampiran dan isi pada pantun berbentuk teks aural (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan satu bait pantun lisan: 'Pohon jati tumbuh di bukit / Diambil kayu untuk papan / Bila ilmu bertambah sedikit / Hati-hati jangan sombongkan'. Murid diminta menuliskan nomor larik yang berfungsi sebagai sampiran dan isi pada secarik kertas (acuan jawaban: Larik 1 dan 2 adalah sampiran; Larik 3 dan 4 adalah isi) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan interaktif guru mengenai hakikat struktur intrinsik pantun: larik 1 dan 2 sebagai sampiran (pengantar rima yang belum memuat inti pesan) serta larik 3 dan 4 sebagai isi (bagian yang memuat inti gagasan/pesan pemantun) (10 menit).
- Guru membacakan Pantun Contoh 1 secara aural: 'Kayu jati dibuat peti / Peti ditaruh di tepi jalan / Bersihkan hati sucikan pekerti / Agar hidup penuh ketenteraman'. Murid bersama guru menganalisis dan mengidentifikasi mana yang termasuk sampiran dan mana yang termasuk isi (acuan: sampiran = 'Kayu jati dibuat peti / Peti ditaruh di tepi jalan'; isi = 'Bersihkan hati sucikan pekerti / Agar hidup penuh ketenteraman') (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi menjadi kelompok berpasangan untuk memainkan tantangan 'Detektif Larik Pantun' guna menganalisis struktur sampiran dan isi dari teks pantun yang dibacakan secara aural (10 menit).
- Guru memperdengarkan Pantun Latihan A secara lisan sebanyak dua kali: 'Bunga melati harum baunya / Jatuh sekuntum di atas tikar / Hormati guru muliakan ilmunya / Supaya masa depanmu bersinar terang'. Pasangan murid menyimak dan mencatat pemilahan sampiran dan isi pada Lembar Analisis (acuan: sampiran = 'Bunga melati harum baunya / Jatuh sekuntum di atas tikar'; isi = 'Hormati guru muliakan ilmunya / Supaya masa depanmu bersinar terang') (15 menit).
- Guru memperdengarkan Pantun Latihan B yang dibacakan dengan posisi larik teracak: (a) 'Rajinlah belajar wahai kawan', (b) 'Pergi ke pasar membeli kurma', (c) 'Kelak berguna bagi nusa bangsa', (d) 'Kurma dimakan bersama paman'. Setiap pasangan menganalisis secara aural susunan struktur sampiran dan isi yang benar (acuan: sampiran = baris b dan d; isi = baris a dan c; urutan bait utuh = b - d - a - c) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid membandingkan hasil analisis kelompoknya dengan kunci acuan yang dibacakan kembali oleh guru, lalu mengecek ketepatan identifikasi fungsi larik pada kedua pantun latihan aural (acuan ketepatan: pemisahan sampiran di baris 1-2 dan isi di baris 3-4 secara runtut) (15 menit).
- Perwakilan pasangan mengutarakan hasil analisisnya tentang karakteristik sampiran dan isi yang mereka temukan saat menyimak secara saksama (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil analisis murid mengenai perbedaan fungsi sampiran dan isi dalam pantun aural (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menyampaikan gambaran materi pertemuan berikutnya, yaitu menganalisis keterkaitan larik dan makna utuh pantun aural, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diperdengarkan pantun aural dengan tempo pembacaan lebih lambat dan penekanan intonasi berbeda antara sampiran dan isi. Murid yang mahir diperdengarkan pantun aural dengan susunan larik acak yang lebih variatif.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu dengan panduan pertanyaan pengarah fokus simak (misal: 'larik mana yang menceritakan alam/benda dan mana yang memberi nasihat?'), sedangkan murid mahir langsung menganalisis struktur secara mandiri berpasangan.
- Produk: Tidak ada diferensiasi produk karena kegiatan fokus pada hasil analisis struktur sampiran dan isi lembar kerja aural yang sama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru membacakan 1 bait pantun secara aural: 'Pohon jati tumbuh di bukit / Diambil kayu untuk papan / Bila ilmu bertambah sedikit / Hati-hati jangan sombongkan'. Murid menuliskan nomor larik sampiran dan isi (acuan jawaban benar: Sampiran adalah larik 1 dan 2; Isi adalah larik 3 dan 4).
Proses:- Analisis Pantun Latihan A yang disimak secara aural (acuan: Sampiran = 'Bunga melati harum baunya / Jatuh sekuntum di atas tikar'; Isi = 'Hormati guru muliakan ilmunya / Supaya masa depanmu bersinar terang').
- Analisis Pantun Latihan B yang disimak dengan larik teracak (acuan: Sampiran adalah larik b 'Pergi ke pasar membeli kurma' dan d 'Kurma dimakan bersama paman'; Isi adalah larik a 'Rajinlah belajar wahai kawan' dan c 'Kelak berguna bagi nusa bangsa').
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Guru membacakan satu bait pantun aural penutup: 'Anak nelayan menangkap ikan / Ikan ditaruh di dalam wadah / Nasehat baik mari amalkan / Agar hidup beroleh berkah'. Murid secara mandiri menuliskan teks larik mana yang berkedudukan sebagai isi pantun (acuan jawaban benar: 'Nasehat baik mari amalkan / Agar hidup beroleh berkah').
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi nomor larik sampiran dan isi dari 1 bait pantun yang dibacakan secara aural.
- Asesmen proses: lembar kerja analisis struktur sampiran dan isi serta rekonstruksi susunan struktur pantun aural berpasangan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Struktur Sampiran dan Isi Pantun Aural | Belum mampu membedakan larik sampiran dan larik isi dari teks pantun yang diperdengarkan secara aural. | Mampu mengidentifikasi sebagian larik sampiran atau isi (hanya 1 bagian benar dari 2 pantun aural) dengan bimbingan guru. | Mampu menganalisis seluruh larik sampiran dan isi pada Pantun Latihan A dan Pantun Latihan B secara tepat sesuai acuan kunci jawaban. | Mampu menganalisis seluruh larik sampiran dan isi pada teks pantun aural secara tepat, mandiri, serta mampu menjelaskan perbedaan fungsi kedua bagian tersebut secara tepat tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah strategi membacakan pantun secara aural sudah cukup jelas membantu murid membedakan sampiran dan isi?
- Bagian mana dari analisis struktur pantun yang masih membingungkan murid saat menyimak?
Murid:- Apakah saya dapat dengan mudah membedakan larik sampiran dan larik isi saat mendengarkan pantun dibacakan?
- Ciri apa yang paling membantu saya menentukan bahwa suatu larik merupakan bagian isi?
Pertemuan 3 — Menganalisis Keterkaitan Larik dan Makna Utuh Pantun Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berupa pantun berbentuk teks aural
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan suasana ruang kelas yang nyaman (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menganalisis keterkaitan antarlarik (sampiran dan isi) serta menentukan makna utuh dari pantun yang disimak secara aural (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperdengarkan rekaman lisan satu bait pantun: 'Pohon jati tumbuh di bukit, / Daunnya gugur ditiup angin. / Jangan mengeluh saat sakit, / Tetaplah ikhtiar lahir dan batin.' Murid secara lisan diminta menyebutkan larik mana yang berpasangan rima dengan larik 1 dan apa makna utuh dari larik 3-4 (acuan: larik 1 berpasangan rima akhir '-kit' dengan larik 3; larik 2 berpasangan '-ngin' dengan larik 4; makna utuhnya adalah ajakan untuk bersabar dan tidak putus asa berikhtiar saat menghadapi sakit) (12 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membacakan nyaring satu bait pantun permodelan secara aural sebanyak dua kali: 'Ikan gabus di rawa basah, / Lompat ke darat terkena duri. / Bila belajar bersusah-susah, / Kelak cerah di kemudian hari.' Murid menyimak dengan berkesadaran tanpa melihat teks tertulis (10 menit).
- Guru memandu pemodelan analisis unsur keterkaitan larik secara interaktif: menghubungkan pasangan bunyi larik 1 ('basah') dengan larik 3 ('bersusah-susah'), larik 2 ('duri') dengan larik 4 ('hari'), serta menganalisis bagaimana larik 3 dan 4 menyatu membentuk makna utuh (acuan: makna utuhnya adalah ketekunan dan kerja keras saat belajar akan mendatangkan kesuksesan hidup di masa depan) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagi murid dalam pasangan kerja dan memberikan tantangan permainan aural menggembirakan bertajuk 'Tebak Tautan & Makna Pantun': guru memperdengarkan rekaman/pembacaan nyaring Pantun A dan Pantun B secara aural dengan jeda (5 menit).
- Murid secara berpasangan menyimak Teks Pantun A yang dibacakan guru: 'Kayu cendana harum aromanya, / Dibawa pedagang ke Pulau Bangka. / Hormati guru seluas-luasnya, / Agar ilmu membawa berkah.' Pasangan menganalisis keterkaitan larik 1-3 dan 2-4 serta merumuskan makna utuhnya pada lembar kerja analisis aural (18 menit).
- Murid menyimak Teks Pantun B yang dibacakan guru: 'Pergi berlayar ke Selat Malaka, / Singgah sejenak membeli kelapa. / Jauhi sifat dengki dan murka, / Hidup damai tenteram dirasa.' Murid menganalisis keterkaitan larik serta menyimpulkan makna utuhnya (acuan Pantun A: keterkaitan rima larik 1-3 akhiran '-nya' dan larik 2-4 akhiran '-ka'; makna utuh: anjuran memuliakan guru agar ilmu yang diperoleh bermanfaat dan berkah. Acuan Pantun B: keterkaitan rima larik 1-3 akhiran '-ka' dan larik 2-4 akhiran '-pa'; makna utuh: anjuran menghindari rasa iri hati dan amarah agar batin merasa tenang dan rukun dengan sesama) (22 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri menyimak pembacaan Teks Pantun Refleksi: 'Buah durian berduri tajam, / Jatuh sebiji di semak belukar. / Belajar tekun siang dan malam, / Supaya menjadi insan terpelajar.' Murid menuliskan satu kalimat simpulan mengenai bagaimana bunyi sampiran mengantarkan pesan isi pantun secara utuh (acuan: keterkaitan rima '-jam' dengan '-lam' serta '-kar' dengan '-jar' menjadi pengikat struktural yang menegaskan pesan bahwa belajar terus-menerus mengantarkan seseorang menjadi pribadi berpengetahuan) (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan prinsip analisis intrinsik pantun aural: larik sampiran dan isi terikat secara rima fonetis, sementara larik isi (larik 3 dan 4) terikat secara semantis membentuk satu kesatuan pesan utuh (10 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja aural yang dikerjakan murid, mengapresiasi keaktifan kolaborasi berpasangan, dan mengingatkan persiapan untuk pertemuan berikutnya tentang teks visual pantun tanpa mengakhiri keseluruhan bab (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, rekaman/pembacaan aural pantun diperdengarkan sebanyak 3 kali dengan tempo pembacaan lebih lambat. Untuk murid yang mahir, pantun aural dibacakan 1-2 kali dengan struktur diksi kiasan yang lebih kaya.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu dengan panduan identifikasi kata ujung tiap larik secara bertahap. Murid yang mahir langsung diminta merumuskan hubungan logis pengikat makna antarlarik 3 dan 4 secara mendalam.
- Produk: Seluruh murid menyajikan hasil analisis keterkaitan larik dan rumusan makna utuh pada lembar kerja analisis aural.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes lisan diagnostik menyimak 1 bait pantun aural: 'Pohon jati tumbuh di bukit, / Daunnya gugur ditiup angin. / Jangan mengeluh saat sakit, / Tetaplah ikhtiar lahir dan batin.' Soal 1: Sebutkan pasangan larik yang memiliki persamaan bunyi akhir! Soal 2: Tentukan makna utuh dari isi pantun tersebut! (Acuan Soal 1: Larik 1 berpasangan dengan larik 3 [rima -kit], larik 2 berpasangan dengan larik 4 [rima -ngin]; Acuan Soal 2: Makna utuhnya adalah nasihat agar bersabar dan terus berikhtiar lahir batin saat ditimpa sakit, tanpa mengeluh).
Proses:- Observasi formatif terhadap lembar kerja analisis aural Pantun A ('Kayu cendana harum aromanya...') dan Pantun B ('Pergi berlayar ke Selat Malaka...'). Kriteria ketepatan: (1) Menentukan pasangan keterkaitan rima larik 1-3 dan 2-4 secara tepat; (2) Menentukan makna utuh dari larik isi (3 dan 4) secara tepat sesuai acuan materi kegiatan inti.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis individu dari pantun aural refleksi: 'Buah durian berduri tajam, / Jatuh sebiji di semak belukar. / Belajar tekun siang dan malam, / Supaya menjadi insan terpelajar.' Soal: Tuliskan keterkaitan pasangan rima antarlarik dan makna utuh bait pantun tersebut! (Acuan: Pasangan rima larik 1-3 berbunyi '-jam'/'-lam', larik 2-4 berbunyi '-kar'/'-jar'; Makna utuh: Anjuran untuk tekun dan sungguh-sungguh belajar sepanjang waktu demi meraih cita-cita menjadi orang berilmu/terpelajar).
Formatif:- Penilaian kinerja analisis aural keterkaitan larik dan makna utuh pantun berpasangan
- Lembar cek pemahaman individu menyimak pantun refleksi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Keterkaitan Larik Pantun Aural | Belum mampu menentukan pasangan keterkaitan rima antarlarik (larik 1 dengan 3, larik 2 dengan 4) dari pantun yang disimak secara aural. | Mampu menentukan 1 pasangan keterkaitan rima antarlarik (larik 1-3 atau larik 2-4 saja) dari pantun yang disimak secara aural. | Mampu menentukan 2 pasangan keterkaitan rima antarlarik (larik 1-3 dan larik 2-4) secara tepat dari pantun yang disimak secara aural. | Mampu menentukan seluruh pasangan keterkaitan rima antarlarik (larik 1-3 dan 2-4) secara tepat dan konsisten pada seluruh teks pantun aural yang diperdengarkan. | | Menganalisis Makna Utuh Pantun Aural | Belum mampu merumuskan makna utuh isi pantun dari larik 3 dan 4 yang disimak secara aural. | Mampu merumuskan makna salah satu larik isi secara terpisah, tetapi belum menyatukannya menjadi makna utuh pantun. | Mampu menganalisis dan merumuskan keterpaduan larik 3 dan 4 menjadi satu kesatuan makna utuh pantun yang disimak secara tepat sesuai acuan. | Mampu menganalisis dan merumuskan keterpaduan larik 3 dan 4 menjadi makna utuh pantun secara tepat, runtut, dan mendalam pada seluruh teks pantun aural secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah strategi pemutaran/pembacaan teks aural dengan intonasi terjaga efektif memfasilitasi murid menganalisis keterkaitan larik dan makna pantun?
- Apakah seluruh murid berpartisipasi aktif dalam kegiatan kolaborasi analisis keterkaitan larik pantun aural?
Murid:- Bagian mana dari menyimak keterkaitan bunyi larik dan makna pantun yang paling mudah atau paling menantang bagimu?
- Bagaimana caramu menghubungkan pesan pada larik ketiga dan keempat agar maknanya terdengar utuh?
Pertemuan 4 — Menganalisis Makna Tersurat Berupa Pesan dalam Teks Visual Pantun — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.2 Menganalisis informasi berupa pesan dari teks visual pantun untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memandu doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu menganalisis informasi berupa pesan tersurat dalam teks visual pantun melalui kegiatan membaca dan memirsa (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan menayangkan satu bait pantun visual di papan tulis: 'Pohon jati tumbuh di bukit / Daun gugur jatuh berserakan / Jangan suka berbuat sakit / Mari jaga kerukunan'. Murid menuliskan pesan yang tertulis secara langsung pada larik isi (acuan: pesan tersurat terdapat pada larik 3 dan 4, yaitu larangan menyakiti orang lain dan ajakan menjaga kerukunan) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memirsa dan mencermati penjelasan guru tentang konsep makna tersurat dalam teks visual pantun, yaitu pesan/nasihat yang tertulis secara eksplisit dan langsung pada larik ke-3 dan ke-4 (bagian isi pantun) tanpa memerlukan penafsiran lambang (15 menit).
- Murid membaca teks visual pantun percontohan: 'Pagi hari memetik kelapa / Buah dijual ke pasar raya / Hormati selalu kedua orang tua / Agar hidupmu beroleh bahagia'. Guru membimbing murid menandai bukti tekstual larik 3-4 dan merumuskan pesan tersuratnya (acuan bukti tekstual: 'Hormati selalu kedua orang tua / Agar hidupmu beroleh bahagia'; rumusan pesan tersurat: nasihat untuk menghormati orang tua agar mendapatkan kebahagiaan hidup) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan memainkan aktivitas tantangan menggembirakan 'Detektif Pesan Tersurat' dengan mencocokkan 3 kartu bait pantun visual dengan kartu kutipan pesan tersuratnya: Bait 1 ('Burung camar terbang melayang / Hinggap sebentar di dahan ara / Jadilah anak yang rajin sembahyang / Jiwa tenang hati gembira' -> acuan kutipan: ajakan rajin sembahyang agar jiwa tenang dan hati gembira), Bait 2 ('Beli mangga di pasar kaget / Manis rasanya berbiji rapat / Janganlah jajan sembarangan / Supaya perut tidak berpenyakit' -> acuan kutipan: larangan jajan sembarangan agar terhindar dari penyakit perut), Bait 3 ('Pergi berlayar ke Pulau Seribu / Ombak berdebur menerpa sampan / Dengarkan nasihat bapak dan ibu / Kelak hidupmu penuh harapan' -> acuan kutipan: anjuran mendengarkan nasihat orang tua agar masa depan berpengharapan) (20 menit).
- Murid secara mandiri membaca Lembar Latihan 4 yang memuat 3 bait teks visual pantun untuk dianalisis pesan tersuratnya dengan menuliskan larik isi serta rumusan pesannya: Bait A ('Anak nelayan memancing ikan / Ikan didapat di tepi muara / Ilmu dicari jangan lupakan / Bekal utama di hari tua' -> acuan: larik 3-4; pesan tersurat: anjuran menuntut ilmu sebagai bekal menghadapi masa tua), Bait B ('Kayu cendana harum baunya / Dibawa pedagang ke kota tua / Jika berjanji tepati segera / Agar dipercaya sesama manusia' -> acuan: larik 3-4; pesan tersurat: keharusan menepati janji agar dipercaya orang lain), Bait C ('Air jernih di dalam kendi / Dingin segar pelepas dahaga / Bangunlah pagi lekaslah mandi / Badan sehat segar terasa' -> acuan: larik 3-4; pesan tersurat: anjuran bangun pagi dan lekas mandi agar badan sehat dan segar) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengoreksi mandiri hasil pekerjaannya berdasarkan kunci acuan telaah pesan tersurat yang ditampilkan guru, lalu menandai ketepatan penentuan larik isi dan perumusan pesan (10 menit).
- Murid menuliskan satu kesadaran belajar di buku catatan tentang ciri khas pesan tersurat pada teks pantun, yakni pesan moralnya tertera secara jelas dan langsung pada larik ke-3 dan ke-4 (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara menemukan pesan tersurat dalam teks pantun melalui identifikasi larik isi secara cermat (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan analisis murid serta menyampaikan rencana pembelajaran pertemuan ke-5 tentang menganalisis makna tersirat/kiasan pada teks visual pantun, kemudian menutup sesi dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks pantun dengan larik ke-3 dan ke-4 yang dicetak tebal sebagai penanda visual larik isi, sedangkan murid yang sudah mahir diberikan teks pantun dengan kalimat isi yang lebih panjang tanpa penanda khusus.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing langsung dalam merumuskan kalimat pesan tersurat dari kutipan larik isi, sedangkan murid yang telah menguasai kompetensi bekerja secara mandiri penuh menganalisis 3 bait teks visual pantun.
- Produk: Semua murid menghasilkan laporan analisis pesan tersurat dari teks visual pantun; murid cepat dapat menambahkan identifikasi kata kunci yang menjadi inti amanat tersurat pada setiap bait.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis: Murid membaca bait pantun visual 'Pohon jati tumbuh di bukit / Daun gugur jatuh berserakan / Jangan suka berbuat sakit / Mari jaga kerukunan' dan menuliskan pesan langsung yang terbaca (acuan: larik 3-4 memuat pesan larangan menyakiti sesama dan ajakan menjaga kerukunan).
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan murid saat kegiatan berpasangan 'Detektif Pesan Tersurat' mencocokkan 3 kartu pantun dan kartu pesan tersurat (acuan: Bait 1 pasangannya ajakan rajin sembahyang; Bait 2 pasangannya larangan jajan sembarangan; Bait 3 pasangannya anjuran mendengarkan nasihat orang tua).
- Pemeriksaan Lembar Latihan 4: Menganalisis bukti larik isi dan rumusan pesan tersurat dari 3 bait pantun visual (Bait A: anjuran menuntut ilmu sebagai bekal masa tua; Bait B: keharusan menepati janji agar dipercaya; Bait C: anjuran bangun pagi dan mandi agar badan sehat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri akhir sesi: Murid membaca satu bait pantun 'Pergi ke pasar membeli nangka / Nangka matang manis dirasa / Jauhilah sifat dengki dan murka / Supaya hidup tentram sentosa' lalu menuliskan pesan tersuratnya (acuan jawaban: larangan memiliki sifat dengki dan murka agar hidup tenteram sentosa berdasarkan bukti larik 3-4).
Formatif:- Penilaian kinerja analisis pesan tersurat teks visual pantun pada Lembar Latihan 4 (menganalisis bukti larik dan rumusan pesan tersurat dari 3 bait pantun)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menganalisis bukti larik dan pesan tersurat dalam teks visual pantun | Belum mampu menemukan larik isi dan belum mampu merumuskan pesan tersurat dari 3 bait pantun pada Lembar Latihan 4 secara tepat (0 bait tepat). | Mampu menemukan larik isi dan merumuskan pesan tersurat dengan tepat hanya pada 1 dari 3 bait pantun pada Lembar Latihan 4 (acuan: tepat pada Bait A, B, atau C). | Mampu menemukan larik isi dan merumuskan pesan tersurat dengan tepat pada 2 dari 3 bait pantun pada Lembar Latihan 4 (acuan: tepat pada 2 kombinasi bait A, B, atau C). | Mampu menemukan larik isi dan merumuskan pesan tersurat dengan tepat pada seluruh 3 bait pantun pada Lembar Latihan 4 secara mandiri (acuan: tepat pada Bait A, Bait B, dan Bait C). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan dengan jelas antara makna yang tersurat (langsung tertulis) dan tafsiran bebas saat membaca teks visual pantun?
- Apakah alokasi waktu 120 menit cukup memfasilitasi murid berlatih mandiri menganalisis pesan tersurat teks pantun?
Murid:- Bagian mana dari langkah membaca teks pantun yang paling membantumu menemukan pesan tersurat secara tepat?
- Apakah kamu masih merasa kesulitan merumuskan kembali pesan yang tertulis langsung pada larik ke-3 dan ke-4 pantun?
Pertemuan 5 — Menganalisis Makna Tersirat Berupa Pesan Kiasan dalam Teks Visual Pantun — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.2 Menganalisis informasi berupa pesan dari teks visual pantun untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini yaitu menganalisis makna tersirat berupa pesan kiasan dalam teks visual pantun (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid membaca satu bait teks pantun di papan tulis ('Pohon kelapa tumbuh berjajar / Lebat buahnya dipetik paman / Jangan takut berpayah belajar / Kelak hidupmu seharum melati') lalu menjawab secara tertulis pada secarik kertas apa arti kiasan 'seharum melati' dan pesan tersiratnya (acuan: arti kiasan 'seharum melati' adalah hidup yang mulia, terhormat, atau bahagia; pesan tersiratnya adalah kesungguhan dan kerja keras belajar saat ini akan membawa masa depan yang membanggakan atau sukses) (10 menit).
- Guru mengaitkan hasil asesmen awal dengan tujuan pembelajaran dan menjelaskan pentingnya menalar pesan kiasan dalam tradisi pantun Melayu (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid memirsa dan membaca teks visual pantun klasik yang disajikan pada salindia: 'Berakit-rakit ke hulu / Berenang-renang ke tepian / Bersakit-sakit dahulu / Bersenang-senang kemudian' (5 menit).
- Murid mencermati penjelasan guru dan teks panduan mengenai pembedahan makna: kata kiasan 'bersakit-sakit' melambangkan perjuangan/kerja keras penuh kesabaran, sedangkan 'bersenang-senang' melambangkan pencapaian hasil atau kebahagiaan sejati setelah perjuangan (10 menit).
- Murid bermain tantangan tebak cepat 'Bongkar Kiasan' secara berpasangan dengan mencocokkan 3 kartu ungkapan kiasan pantun ke makna kontekstualnya: Kartu 1 'emas bertatah permata' -> kemuliaan budi pekerti; Kartu 2 'layar terkembang' -> kesiapan memulai perjuangan; Kartu 3 'batu karang di lautan' -> keteguhan hati menghadapi cobaan (acuan: pasangan tersebut) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menerima Lembar Kerja Analisis Teks Pantun yang memuat 3 bait teks visual pantun berkiasan: Pantun A ('Anak nelayan membawa jala / Jala ditebar ke dalam muara / Janganlah silau kilau tembaga / Emas sejati simpan di dada'), Pantun B ('Ranting patah ditiup taufan / Jatuh sehelai daun melayang / Bila perahu tiada pedoman / Ombak membentur karang menghadang'), dan Pantun C ('Burung pipit hinggap di pagar / Mematuk padi di ujung jerami / Jika tunas tak kunjung mekar / Siramlah air sejukkan bumi') (10 menit).
- Murid secara mandiri menganalisis kata kiasan dan merumuskan pesan tersirat dari ketiga pantun tersebut pada tabel analisis lembar kerja dengan acuan: (1) Pantun A: kiasan 'kilau tembaga' = hal duniawi/godaan semu, 'emas sejati' = kebaikan budi/integritas; pesan tersirat: jangan mudah tergiur oleh hal materiil atau pujian semu, utamakan menjaga ketulusan dan keluhuran budi; (2) Pantun B: kiasan 'perahu tiada pedoman' = hidup tanpa prinsip/tuntunan agama, 'ombak membentur karang' = kehancuran/kesengsaraan akibat salah arah; pesan tersirat: manusia wajib berpegang pada prinsip hidup dan moral agar tidak tersesat serta binasa; (3) Pantun C: kiasan 'tunas tak kunjung mekar' = potensi diri yang belum berkembang atau situasi sulit, 'siramlah air sejukkan bumi' = usaha memberi kesabaran, bimbingan, dan kasih sayang; pesan tersirat: bila menghadapi kesulitan atau potensi yang terhambat, atasilah dengan kesabaran, ketekunan, dan kelembutan hati (30 menit).
- Murid saling menukarkan lembar kerja dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian uraian pesan kiasan berdasarkan daftar kriteria acuan penafsiran yang ditampilkan guru di layar (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi hasil telaahnya sendiri dengan menuliskan catatan refleksi: satu hal yang paling menantang saat menerjemahkan kata kiasan menjadi pesan moral utuh dan langkah berpikir yang diambil untuk menyelesaikannya (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan alur menafsirkan pesan tersirat dalam pantun: mengidentifikasi kata kiasan pada larik isi, mencari lambang/makna perumpamaannya, lalu merangkai pesan moral yang dimaksud penyair (10 menit).
- Guru memberikan umpan balik umum terhadap ketepatan analisis lembar kerja kelas serta menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya analisis akan diperluas pada pesan moral tersurat dan tersirat dari kumpulan teks visual pantun bertema beragam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks pantun yang kata kiasannya telah ditebalkan (bold) beserta glosarium kata kiasan dasar; murid yang telah mahir diberikan bait pantun klasik tanpa bantuan penandaan kata.
- Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis dibimbing langsung oleh guru melalui pertanyaan penuntun per larik pantun; murid yang mandiri menganalisis secara individual.
- Produk: Uraian pesan tersirat murid yang mahir mencakup perbandingan antara makna harfiah kiasan dengan konteks etika kehidupan sehari-hari, sedangkan murid yang berkembang cukup merumuskan pesan kiasan inti sesuai acuan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tertulis singkat di awal pertemuan: Murid membaca teks pantun 'Pohon kelapa tumbuh berjajar / Lebat buahnya dipetik paman / Jangan takut berpayah belajar / Kelak hidupmu seharum melati' dan mengidentifikasi arti kiasan 'seharum melati' serta pesan tersiratnya (acuan jawaban: arti kiasan 'seharum melati' adalah kehidupan yang mulia, terhormat, harum namanya, atau sukses; pesan tersirat adalah ketekunan dan kerja keras dalam belajar saat muda akan menghasilkan masa depan yang sukses dan terhormat).
Proses:- Pemeriksaan kinerja mandiri pada Lembar Kerja Analisis Teks Pantun: Ketepatan murid dalam mengidentifikasi 3 pasangan kata kiasan dan merumuskan pesan tersirat dari Pantun A ('kilau tembaga' vs 'emas sejati' -> acuan pesan: jangan tergiur godaan semu, utamakan keluhuran budi), Pantun B ('perahu tiada pedoman' vs 'ombak membentur karang' -> acuan pesan: pentingnya memiliki prinsip/pedoman hidup agar tidak celaka), dan Pantun C ('tunas tak kunjung mekar' vs 'siramlah air sejukkan bumi' -> acuan pesan: mengatasi hambatan atau mendidik potensi harus dengan kelembutan dan kesabaran).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid menjawab satu pertanyaan tiket keluar (exit ticket) berdasarkan pantun kilat di layar: 'Bunga mawar berduri tajam / Jangan dipetik di waktu senja / Pedang tajam mudah berkarat / Ilmu berguna kekal di badan'. Murid menuliskan makna kiasan 'pedang tajam mudah berkarat' (acuan: kekuatan fisik/senjata materiil bersifat fana/mudah sirna) dan pesan tersiratnya (acuan: kekuatan fisik atau harta benda duniawi tidak akan bertahan lama, sedangkan ilmu pengetahuan akan abadi menyertai kehidupan manusia).
Formatif:- Penilaian lembar kerja mandiri analisis makna kiasan dan pesan tersirat dari 3 teks visual pantun
- Observasi diagnostik asesmen awal
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Makna Tersirat Berupa Pesan Kiasan dalam Teks Visual Pantun | Belum mampu menemukan kata kiasan pada larik isi teks visual pantun dan merumuskan pesan tersirat masih sebatas arti harfiah (harfiah/denotatif semata). | Mampu menemukan kata kiasan pada larik isi tetapi rumusan pesan tersiratnya tepat hanya pada 1 dari 3 pantun acuan tugas (Pantun A, B, atau C). | Mampu menemukan kata kiasan dan merumuskan pesan tersirat secara tepat pada 2 dari 3 pantun acuan tugas (Pantun A, B, atau C) sesuai acuan penafsiran. | Mampu menemukan seluruh kata kiasan dan merumuskan pesan tersirat secara utuh dan tepat pada ketiga teks pantun (Pantun A, B, dan C) sesuai seluruh acuan penafsiran secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks pantun visual yang dipilih memiliki tingkat metafora/kiasan yang cukup menantang namun dapat dijangkau oleh kemampuan nalar murid kelas 9?
- Bagian mana dari kegiatan yang paling efektif membantu murid membedakan pesan harfiah (tersurat) dengan pesan kiasan (tersirat)?
Murid:- Apa perbedaan utama yang saya rasakan antara membaca pesan pantun yang langsung (tersurat) dengan pantun yang menggunakan bahasa kiasan?
- Langkah apa yang paling membantu saya ketika menafsirkan maksud tersembunyi dari kata kiasan dalam bait pantun?
Pertemuan 6 — Menganalisis Pesan Moral Tersurat dan Tersirat dari Kumpulan Teks Visual Pantun — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.2 Menganalisis informasi berupa pesan dari teks visual pantun untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu menganalisis informasi berupa pesan moral yang tersurat dan tersirat dari kumpulan teks visual pantun (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam membedakan pesan moral tersurat dan tersirat menggunakan tayangan satu bait pantun visual (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati pemodelan analisis pesan moral tersurat dan tersirat melalui 2 teks pantun visual yang ditampilkan di papan tulis: Pantun A berbunyi 'Kayu cendana di dalam peti, / Harum semerbak ke ruang tamu. / Hormati ibu setulus hati, / Doanya jalan keselamatanmu.' dan Pantun B berbunyi 'Pohon beringin rindang daunnya, / Tempat berteduh musafir lelah. / Rendahkan ranting elakkan badai, / Agar tak tumbang tersapu arah.' (15 menit).
- Murid mengidentifikasi ciri perbedaan pesan moral: pesan moral tersurat langsung tertulis pada baris isi (misal larik 'Hormati ibu setulus hati'), sedangkan pesan tersirat disimpulkan dari analogi/makna kata isi (misal larik 'Rendahkan ranting elakkan badai' bermakna tersirat anjuran bersikap rendah hati agar selamat dari cobaan) dengan panduan pertanyaan berkesadaran dari guru (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan mengikuti aktivitas menggembirakan 'Tantangan Detektif Pesan Moral', yaitu berlomba menganalisis pesan moral tersurat atau tersirat dari 3 kartu bait visual pantun: Kartu 1 'Buah cempedak di luar pagar, / Ambil galah tolong jolokkan. / Jadilah murid rajin belajar, / Jangan suka bermalas-malasan.'; Kartu 2 'Pergi ke pasar membeli nangka, / Nangka dibelah di atas meja. / Jangan menepuk air di dulang, / Nanti terpercik muka sendiri.'; Kartu 3 'Bunga melati putih berseri, / Harum baunya di taman sari. / Janganlah sombong meninggi diri, / Bagai pohon menantang badai.' (25 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja analisis untuk menguraikan pesan moral tersurat dan tersirat dari kumpulan 3 teks pantun visual mandiri: Pantun I 'Anak rusa di tepi kali, / Mati tertembak seorang pemburu. / Patuhilah nasihat ayah dan ibu, / Agar hidupmu penuh berkah.'; Pantun II 'Tanam padi tumbuh ilalang, / Burung pipit hinggap di batang. / Berjalan pelan di tepi jurang, / Jangan terpeleset membawa beban.'; Pantun III 'Ikan gabus di dalam rawa, / Dipancing anak saat petang. / Jika bicara menjaga lidah, / Senjata tajam takkan memotong.' (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis terhadap acuan kunci jawaban lembar kerja, menandai ketepatan identifikasi pesan moral tersurat dan tersirat pada teks masing-masing (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap konsep penemuan pesan moral tersurat dan tersirat dalam kumpulan pantun serta memberikan apresiasi terhadap ketelitian kerja murid (5 menit).
- Guru menutup pertemuan pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks pantun dengan baris isi yang telah digarisbawahi untuk memudahkan pemisahan pesan tersurat dan tersirat; murid yang mahir diberikan kumpulan pantun dengan ungkapan kiasan yang lebih abstrak.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan panduan langsung berupa pertanyaan penuntun makna dari guru pada saat menganalisis makna tersirat; murid cepat bekerja mandiri menganalisis seluruh bait tanpa bantuan.
- Produk: Format pelaporan analisis pesan moral disajikan dalam tabel klasifikasi tersurat dan tersirat yang sama bagi semua murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid membaca 1 bait teks visual pantun di papan tulis: 'Pagi hari memetik selasih, / Diikat rapi dengan tali. / Jagalah lisan bertutur bersih, / Bagaikan cermin jangan bernoda.' Murid diminta menuliskan: (1) Pesan moral yang tertulis langsung (tersurat); (2) Pesan moral yang tersembunyi di balik perumpamaan (tersirat). Acuan jawaban benar: (1) Pesan tersurat: Anjuran/nasihat untuk menjaga tutur kata atau perkataan agar tetap bersih/baik (tertera pada larik 'Jagalah lisan bertutur bersih'); (2) Pesan tersirat: Hendaknya menjaga kehormatan dan kebaikan diri agar tidak tercela atau rusak oleh perkataan sendiri yang buruk, sebagaimana cermin dijaga agar tidak bernoda (disimpulkan dari larik 'Bagaikan cermin jangan bernoda').
Proses:- Lembar Kerja Analisis Mandiri terhadap kumpulan 3 teks pantun visual: (1) Pantun I: Murid menentukan pesan tersurat dan tersirat. Acuan jawaban: Pesan tersurat = kewajiban mematuhi nasihat kedua orang tua (ayah dan ibu) agar hidup mendapat berkah; Pesan tersirat = keharusan bersikap berbakti kepada orang tua merupakan landasan keselamatan hidup manusia. (2) Pantun II: Murid menentukan pesan tersurat dan tersirat. Acuan jawaban: Pesan tersurat = larangan bersikap sembrono saat berada di dekat bahaya (berjalan pelan di tepi jurang agar tidak jatuh); Pesan tersirat = nasihat untuk selalu berhati-hati, waspada, dan mengendalikan nafsu atau beban hidup agar tidak terjerumus ke dalam kehancuran/kesulitan. (3) Pantun III: Murid menentukan pesan tersurat dan tersirat. Acuan jawaban: Pesan tersurat = keharusan menjaga lidah atau perkataan saat berbicara; Pesan tersirat = perkataan yang tidak terjaga dapat melukai orang lain atau mencelakakan diri sendiri melebihi tajamnya senjata.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid membaca kembali bait pantun cepat: 'Air jernih di dalam cawan, / Tempat membasuh jari jemari. / Janganlah ingkar janji setia, / Bagai pagar makan tanaman.' Murid menuliskan pesan moral tersurat dan tersirat dalam 1 kalimat ringkas. Acuan jawaban benar: Pesan tersurat = larangan untuk mengingkari janji setia (tertera pada larik 3); Pesan tersirat = larangan untuk berkhianat atau merusak pihak sendiri yang telah memercayai kita (disimpulkan dari kiasan pagar makan tanaman pada larik 4).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi pesan moral tersurat dan tersirat pada 1 bait pantun stimulus.
- Asesmen proses: lembar kerja analisis pesan moral tersurat dan tersirat dari kumpulan 3 teks pantun visual.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Pesan Moral Tersurat dari Teks Visual Pantun | Belum mampu menemukan pesan moral tersurat dari teks pantun yang dianalisis. | Mampu menemukan pesan moral tersurat secara tepat pada 1 dari 3 bait teks pantun visual yang dianalisis sesuai acuan. | Mampu menganalisis dan merumuskan pesan moral tersurat secara tepat pada 2 dari 3 bait teks pantun visual yang dianalisis sesuai acuan. | Mampu menganalisis dan merumuskan pesan moral tersurat secara tepat pada seluruh (3 bait) teks pantun visual yang dianalisis secara mandiri sesuai acuan. | | Menganalisis Pesan Moral Tersirat dari Teks Visual Pantun | Belum mampu menyimpulkan pesan moral tersirat di balik kiasan/analogi baris isi pantun. | Mampu menyimpulkan pesan moral tersirat secara tepat pada 1 dari 3 bait teks pantun visual yang dianalisis sesuai acuan. | Mampu menganalisis dan menyimpulkan pesan moral tersirat secara tepat pada 2 dari 3 bait teks pantun visual yang dianalisis sesuai acuan. | Mampu menganalisis dan menyimpulkan pesan moral tersirat secara tepat dan mendalam pada seluruh (3 bait) teks pantun visual yang dianalisis secara mandiri sesuai acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks visual pantun yang dipilih sudah cukup variatif dalam menyajikan pesan moral tersurat maupun kiasan tersirat bagi murid?
- Bagian mana dari langkah bimbingan analisis makna tersirat yang masih membutuhkan scaffolding tambahan bagi murid yang lambat?
Murid:- Bagian mana yang lebih mudah saya temukan saat membaca kumpulan pantun, pesan moral yang tersurat (tertulis langsung) atau yang tersirat (tersembunyi)? Mengapa?
- Langkah apa yang saya lakukan ketika menemukan kata kiasan dalam baris pantun untuk menyimpulkan pesan moralnya?
Pertemuan 7 — Menginterpretasi Informasi Kepedulian Sosial dari Teks Visual Pantun — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dari berbagai tipe teks berwujud teks visual pantun
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran membaca pantun untuk menginterpretasi kepedulian sosial (3 menit).
- Guru memberikan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan satu bait pantun visual di papan tulis: 'Pohon randu daunnya lebat / Tumbuh subur dekat dermaga / Bila melihat kawan terhambat / Mari ulurkan tangan kita'. Murid diminta menuliskan informasi kepedulian sosial yang termuat di buku catatan masing-masing (acuan jawaban benar: kepedulian sosial berupa ajakan menolong atau membantu kawan yang sedang menghadapi hambatan/kesulitan) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memirsa dan membaca 3 bait pantun visual bertema sosial yang disajikan guru pada lembar bahan bacaan: Bait 1 ('Bunga mawar harum baunya / Mekar indah di taman kota / Jika tetangga kena musibah / Ringankan beban sedekah harta'), Bait 2 ('Pergi ke pasar membeli nangka / Nangka dibungkus daun kelapa / Santun menyapa warga yang duka / Tanda peduli sesama kita'), dan Bait 3 ('Perahu berlayar menuju pulau / Ombak berdebur tepian karang / Hiburlah kawan bersedih galau / Tunjukkan kasih sayang dan lapang') (10 menit).
- Guru memandu murid membedah larik isi (larik 3 dan 4) pada ketiga bait tersebut untuk mengidentifikasi situasi sosial dan bentuk tindakan kepedulian sosial yang dimaksud (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam aktivitas permainan kelompok berpasangan 'Tebak Kartu Kepedulian', murid secara bergembira mencocokkan 4 kartu pantun visual dengan 4 kartu interpretasi isu kepedulian sosial berikut: (1) Pantun 'Beli selasih di warung bu Ani / Wadahi mangkuk simpan di meja / Tetangga sakit sepekan ini / Mari jenguk dan bawakan doa' berpasangan dengan kartu 'Kepedulian menjenguk tetangga yang tertimpa sakit'; (2) Pantun 'Kain tenun corak celup / Kain dipakai upacara adat / Ada yang lapar susah hidup / Bagikan makan agar kuat' berpasangan dengan kartu 'Kepedulian berbagi makanan kepada warga miskin/lapar'; (3) Pantun 'Anak rusa lari ke rimba / Kena jerat kakinya terikat / Ada bencana datang melanda / Himpun bantuan warga sepakat' berpasangan dengan kartu 'Kepedulian menggalang bantuan donasi bagi korban bencana'; (4) Pantun 'Layang-layang putus benangnya / Jatuh melayang di semak berduri / Teman sedih kehilangan ibunya / Rangkul kuatkan tenangkan diri' berpasangan dengan kartu 'Kepedulian memberikan dukungan emosional kepada sahabat yang berduka' (acuan kunci: kartu 1-1, 2-2, 3-3, 4-4) (15 menit).
- Murid mengerjakan lembar latihan interpretasi secara mandiri berisi 2 teks visual pantun baru: Teks A ('Burung merpati hinggap di dahan / Mematuk jagung di dalam wadah / Jangan mencela orang kesusahan / Bantu selesaikan urusan mudah') dan Teks B ('Menjahit baju benang merah / Dipakai rapi saat perayaan / Jangan kikir sisihkan nafkah / Bantu yatim penuh keikhlasan'), dengan menguraikan: (a) kondisi sosial sasaran dan (b) interpretasi wujud tindakan kepedulian (acuan Teks A: kondisi = orang yang sedang kesusahan, wujud kepedulian = tidak mencela dan membantu menyelesaikan kesulitannya; acuan Teks B: kondisi = anak yatim/warga miskin yang membutuhkan nafkah, wujud kepedulian = menyisihkan rezeki/harta dengan ikhlas tanpa kikir) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama teman sebangku saling menukar lembar kerja dan membandingkan hasil interpretasi informasi kepedulian sosial berdasarkan acuan kunci jawaban guru (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan cara menginterpretasi informasi kepedulian sosial dari teks pantun dengan berfokus pada larik isi (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar membaca pantun dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, pantun disajikan dengan larik isi yang dicetak tebal. Untuk murid berkemampuan cepat, disajikan pantun dengan kosakata kiasan yang membutuhkan pemahaman makna kontekstual lebih mendalam.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru membaca larik isi per baris dengan panduan pertanyaan arahan. Murid berkemampuan cepat bekerja mandiri menginterpretasi implikasi sosialnya tanpa scaffolding tambahan.
- Produk: Semua murid menghasilkan tabel interpretasi informasi kepedulian sosial pada teks visual pantun sesuai tingkat kemandirian masing-masing.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Menuliskan interpretasi informasi kepedulian sosial dari 1 bait pantun visual pembuka: 'Pohon randu daunnya lebat / Tumbuh subur dekat dermaga / Bila melihat kawan terhambat / Mari ulurkan tangan kita' (acuan kunci jawaban benar: kepedulian sosial berupa membantu/menolong kawan yang sedang mengalami hambatan atau kesusahan).
Proses:- Observasi ketepatan murid dalam mencocokkan 4 pasang kartu pantun dengan kartu isu kepedulian sosial pada aktivitas 'Tebak Kartu Kepedulian'. Seluruh 4 pasangan acuan: Pantun 1 (tetangga sakit -> kepedulian menjenguk tetangga), Pantun 2 (lapar susah hidup -> kepedulian berbagi makanan), Pantun 3 (bencana melanda -> kepedulian menggalang bantuan donasi), Pantun 4 (kehilangan ibu -> kepedulian memberikan dukungan emosional). Kriteria tuntas: minimal 3 dari 4 pasang tepat.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan hasil interpretasi mandiri pada 2 bait pantun visual (Teks A dan Teks B). Kriteria ketepatan: Teks A tepat menyebutkan kondisi orang kesusahan dan tindakan menolong/tidak mencela; Teks B tepat menyebutkan kondisi anak yatim/warga kurang mampu dan tindakan menyisihkan sebagian rezeki/nafkah dengan ikhlas.
Formatif:- Pemeriksaan lembar kerja pencocokan kartu pantun dan interpretasi teks pantun mandiri menggunakan kunci jawaban acuan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menginterpretasi Informasi Kepedulian Sosial dari Teks Visual Pantun | Belum mampu menginterpretasi informasi kepedulian sosial dari teks pantun visual atau salah menafsirkan isi pantun. | Mampu menginterpretasi informasi kepedulian sosial secara tepat pada 1 teks visual pantun dengan bantuan bimbingan guru. | Mampu menginterpretasi informasi kepedulian sosial secara tepat pada kedua teks visual pantun (Teks A dan Teks B) sesuai acuan kunci jawaban. | Mampu menginterpretasi informasi kepedulian sosial secara tepat, terperinci pada kedua teks visual pantun (Teks A dan Teks B) secara mandiri, serta mampu menjelaskan keterkaitan konteks sosialnya tanpa bantuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks pantun visual bertema kepedulian sosial yang disajikan cukup relevan dan mudah dipahami murid?
- Bagian mana dari langkah interpretasi informasi kepedulian sosial yang masih membutuhkan bimbingan tambahan bagi murid?
Murid:- Apakah kamu dapat menemukan pesan kepedulian sosial yang tersurat dan tersirat dalam larik isi pantun?
- Wujud kepedulian sosial apa yang paling mengesankan bagimu dari pantun-pantun yang dibaca hari ini?
Pertemuan 8 — Menginterpretasi Informasi Kepedulian Lingkungan dari Teks Visual Pantun — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dari berbagai tipe teks berwujud teks visual pantun
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memandu doa pembuka (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menginterpretasi informasi kepedulian lingkungan dari teks visual pantun (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan menayangkan satu bait pantun visual di papan tulis: 'Pohon jati tumbuh di taman, / Daunnya gugur ditiup topan. / Buanglah sampah jangan sembarangan, / Agar bersih aliran selokan.' lalu menanyakan: 'Apa bentuk kepedulian lingkungan yang disampaikan pantun tersebut?' (acuan jawaban: menjaga kebersihan saluran air/selokan dengan tidak membuang sampah sembarangan) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati teks visual Pantun Model 1 di papan tulis: 'Bunga mawar harum baunya, / Mekar indah di sudut kota. / Rawatlah pohon dan hutannya, / Udara segar milik bersama.' (5 menit).
- Murid berdiskusi terpimpin bersama guru menganalisis larik isi (larik 3 dan 4) untuk menginterpretasikan fakta lingkungan yang disorot (keberadaan pohon/hutan) dan tindakan kepedulian lingkungan yang dituntut (merawat pohon dan hutan demi menjaga udara bersih bersama) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan tantangan berpasangan menggembirakan 'Detektif Lingkungan Pantun' di mana setiap pasangan menerima Lembar Kerja berisi 3 teks visual pantun berikut: Teks A: 'Anak nelayan memancing ikan, / Ikan melompat ke tepian batu. / Kurangi plastik dalam kehidupan, / Laut pun bersih setiap waktu.'; Teks B: 'Pergi berburu ke bukit tinggi, / Melihat rusa berlari pelan. / Jangan tebang pohon di lereng lagi, / Bencana longsor mari hentikan.'; Teks C: 'Burung pipit hinggap di pagar, / Terbang tinggi menyambut mentari. / Hematlah air secara sadar, / Agar tak kering di kemudian hari.' (5 menit).
- Murid secara berpasangan menginterpretasikan bentuk kepedulian lingkungan pada Lembar Kerja untuk ketiga pantun tersebut: Teks A (acuan: pengurangan penggunaan sampah plastik untuk menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem laut), Teks B (acuan: larangan penebangan pohon di lereng bukit demi mencegah bencana tanah longsor), dan Teks C (acuan: perilaku hemat dalam pemakaian air bersih demi menghindari krisis kekeringan di masa mendatang) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil interpretasi informasi kepedulian lingkungan dari ketiga pantun terhadap kunci jawaban acuan (10 menit).
- Murid mengevaluasi pemahamannya sendiri tentang bagaimana pantun dapat dipakai menyuarakan isu perlindungan alam secara padat dan bermakna (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil interpretasi murid mengenai isi dan pesan kepedulian lingkungan dalam pantun (5 menit).
- Guru menyampaikan rencana kegiatan menulis pantun dengan kosakata baru pada pertemuan berikutnya dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual pantun dengan penandaan warna khusus pada larik isi (larik 3 dan 4), sedangkan murid yang mahir menginterpretasi teks pantun yang memuat kiasan lingkungan yang lebih kompleks.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu langkah demi langkah menemukan kata kunci isu lingkungan pada larik isi, sedangkan murid mahir bekerja secara mandiri mengaitkan sebab-akibat isu lingkungan dalam pantun.
- Produk: Semua murid mengisi tabel interpretasi kepedulian lingkungan dengan kedalaman uraian analisis hubungan sebab-akibat lingkungan sesuai tingkat kemandirian masing-masing.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat: Murid membaca teks visual pantun 'Pohon jati tumbuh di taman, / Daunnya gugur ditiup topan. / Buanglah sampah jangan sembarangan, / Agar bersih aliran selokan.' lalu menginterpretasi bentuk kepedulian lingkungan yang dimaksud (acuan: menjaga kebersihan saluran air/selokan dengan tidak membuang sampah sembarangan).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja interpretasi kepedulian lingkungan dari 3 teks visual pantun: (1) Teks A - kepedulian: pengurangan pemakaian plastik untuk menjaga kebersihan laut; (2) Teks B - kepedulian: menghentikan penebangan pohon di lereng agar tidak terjadi longsor; (3) Teks C - kepedulian: penghematan air bersih untuk mencegah kekeringan. Kriteria ketepatan: minimal tepat menginterpretasikan inti isu dan tindakan kepedulian pada 2 dari 3 teks secara benar sesuai acuan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 1 butir: Murid membaca teks pantun 'Ke ladang luas memetik tomat, / Tomat merah masak di ranting. / Matikan lampu gunakan hemat, / Kurangi energi hal terpenting.' dan menuliskan interpretasi informasi kepedulian lingkungan (acuan: penghematan energi listrik dengan mematikan lampu saat tidak diperlukan).
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja interpretasi informasi kepedulian lingkungan teks pantun visual (Teks A, B, dan C)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menginterpretasi Informasi Kepedulian Lingkungan | Belum mampu mengidentifikasi isu maupun tindakan kepedulian lingkungan dari ketiga teks visual pantun yang disajikan. | Mampu menginterpretasi informasi kepedulian lingkungan secara tepat hanya pada 1 dari 3 teks visual pantun sesuai acuan. | Mampu menginterpretasi informasi kepedulian lingkungan secara tepat pada 2 dari 3 teks visual pantun sesuai acuan. | Mampu menginterpretasi informasi kepedulian lingkungan secara lengkap dan tepat pada ketiga teks visual pantun (Teks A, B, dan C) sesuai acuan secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks visual pantun bertema kepedulian lingkungan yang disajikan cukup kontekstual dan mudah dipahami murid?
- Bagian mana dari proses interpretasi informasi lingkungan yang masih memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?
Murid:- Isu kepedulian lingkungan apa yang paling jelas dan mudah kamu temukan saat membaca teks pantun tadi?
- Bagaimana caramu menemukan hubungan antara baris isi pantun dengan masalah kelestarian lingkungan?
Pertemuan 9 — Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Denotatif dan Konotatif untuk Menulis Pantun — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan untuk menulis pantun
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu memilih serta menggunakan kosakata bermakna denotatif dan konotatif untuk menulis larik pantun (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid membaca dua kalimat di papan tulis: (1) 'Adik makan buah manis di kebun' dan (2) 'Senyum manisnya menyejukkan suasana', lalu murid mengidentifikasi mana kata 'manis' yang bermakna denotatif dan mana yang bermakna konotatif (acuan: kalimat 1 = denotatif/rasa gula sebenarnya; kalimat 2 = konotatif/menyenangkan hati) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati penjelasan guru dan contoh pantun legendaris: 'Berakit-rakit ke hulu / Berenang-renang ke tepian / Bersakit-sakit dahulu / Bersenang-senang kemudian' untuk membedakan kosakata berpasangan: kata 'hulu' dan 'tepian' bermakna denotatif (bagian pangkal sungai dan pinggir daratan), sedangkan frasa 'bersakit-sakit' dan 'bersenang-senang' memiliki lapis makna konotatif perjuangan dan hasil manis (10 menit).
- Secara berpasangan, murid memainkan tantangan cepat 'Pilah Kartu Kata' dengan mengelompokkan 4 kartu kata ke dalam kolom denotatif atau konotatif: (1) 'bunga mawar merah di taman' -> Denotatif, (2) 'bunga desa yang diperebutkan' -> Konotatif, (3) 'panas matahari membakar kulit' -> Denotatif, (4) 'hati yang panas terbakar amarah' -> Konotatif (acuan: kartu 1 dan 3 denotatif; kartu 2 dan 4 konotatif) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran):- Murid menerima lembar latihan berisi 4 kosakata target: (1) ombak, (2) karang, (3) pelita, (4) lentera (5 menit).
- Murid menyusun larik pantun secara mandiri dengan ketentuan menggunakan kosakata tersebut: murid memilih minimal 2 kata untuk larik sampiran bermakna denotatif literal, dan minimal 2 kata untuk larik isi bermakna konotatif/kiasan (kriteria penerimaan operasional: kata pada sampiran dipakai sesuai wujud fisik/alam seperti ombak di laut atau batu karang di pantai; kata pada isi dipakai melambangkan nilai ketabahan, penuntun jalan hidup, atau ilmu penerang) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling menukar lembar draf pantun dengan teman sebangku untuk memeriksa ketepatan penggunaan kata target: menandai apakah kosakata pada sampiran berstatus denotatif dan kosakata pada isi berstatus konotatif sesuai kriteria (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid tentang bagaimana perpaduan kata denotatif pada sampiran dan kata konotatif pada isi membentuk keindahan pantun (5 menit).
- Murid menuliskan satu kalimat refleksi ringkas tentang kata baru yang paling mereka sukai beserta maknanya, lalu guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya tanpa menutup bab (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan glosarium makna denotatif dan konotatif untuk kosakata alam bagi murid yang membutuhkan pendampingan; menyediakan daftar kosakata arkais/klasik bermakna kiasan bagi murid cepat.
- Proses: Murid yang masih kesulitan membedakan dibimbing langsung dengan pemodelan kalimat literal vs kias; murid cepat langsung menulis bait utuh 4 larik dengan rima yang selaras secara mandiri.
- Produk: Murid lambat cukup menyusun 2 larik terpisah (1 larik sampiran denotatif dan 1 larik isi konotatif); murid reguler menyusun bait utuh 4 larik menggunakan minimal 2 kosakata target; murid cepat menyusun bait utuh dengan 4 kosakata target secara tepat.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik lisan/tulis singkat membedakan makna kata 'manis' pada 2 kalimat pemantik di papan tulis (acuan: kalimat 1 'buah manis' = denotatif/rasa fisik; kalimat 2 'senyum manis' = konotatif/menyenangkan hati).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pemilahan 4 kartu kata denotatif-konotatif pada permainan berpasangan (acuan: kartu 1 mawar merah & kartu 3 panas matahari = denotatif; kartu 2 bunga desa & kartu 4 hati panas = konotatif).
- Pemeriksaan draf larik pantun murid saat menggunakan 4 kosakata target (ombak, karang, pelita, lentera) sesuai fungsi denotatif pada sampiran dan konotatif pada isi.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan draf akhir pantun murid: memastikan minimal 1 kosakata denotatif dan 1 kosakata konotatif dari daftar target digunakan secara tepat konteks maknanya pada larik pantun.
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja menyusun larik pantun menggunakan kosakata bermakna denotatif dan konotatif sesuai acuan rubrik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menggunakan Kosakata Bermakna Denotatif dalam Larik Pantun | Belum mampu menggunakan kosakata target (ombak/karang/pelita/lentera) sesuai makna denotatif sebenarnya pada larik sampiran. | Mampu menggunakan 1 kosakata target sesuai makna denotatif sebenarnya pada larik sampiran dengan bimbingan guru. | Mampu menggunakan minimal 2 kosakata target tepat sesuai makna denotatif sebenarnya pada larik sampiran secara mandiri. | Mampu menggunakan seluruh kosakata target (ombak dan karang) tepat sesuai makna denotatif sebenarnya pada konteks larik sampiran secara mandiri dan variatif. | | Ketepatan Menggunakan Kosakata Bermakna Konotatif dalam Larik Pantun | Belum mampu menggunakan kosakata target (ombak/karang/pelita/lentera) sesuai makna konotatif/kiasan pada larik isi pantun. | Mampu menggunakan 1 kosakata target sesuai makna konotatif/kiasan pada larik isi pantun namun konteks kiasannya masih belum padu. | Mampu menggunakan minimal 2 kosakata target tepat sesuai makna konotatif/kiasan pada larik isi pantun secara mandiri. | Mampu menggunakan seluruh kosakata target (pelita dan lentera) tepat sesuai makna konotatif/kiasan yang mendalam dan harmonis pada konteks larik isi pantun secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan pilah kartu efektif membantu murid memahami perbedaan nyata antara makna denotatif dan konotatif sebelum menulis?
- Bagian mana dari draf pantun murid yang paling banyak mengalami kekeliruan penempatan makna kiasan?
Murid:- Apakah kamu sudah bisa membedakan kapan sebuah kata bermakna sebenarnya (denotatif) dan kapan bermakna kiasan (konotatif)?
- Kata baru mana yang menurutmu paling menarik untuk digunakan dalam larik pantun yang kamu buat?
Pertemuan 10 — Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Kiasan untuk Menulis Pantun — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan untuk menulis pantun
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menggunakan kosakata baru bermakna kiasan untuk menulis pantun (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 kalimat berkiasan di papan tulis: (1) 'Pak Joko dikenal berlapang dada menerima kekalahan', (2) 'Adik menjadi anak emas di keluarga', (3) 'Rina selalu ringan tangan membantu tetangga'. Murid diminta secara lisan menentukan arti kiasan dari frasa tersebut dengan acuan jawaban: lapang dada = sabar/ikhlas; anak emas = anak kesayangan; ringan tangan = suka menolong/membantu (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pantun permodelan di lembar belajar: 'Pohon randu daunnya lebat / Tumbuh subur dekat dermaga / Jadi orang kuatkan tekad / Lapang dada menjaga warga'. Murid membedah posisi kata bermakna kiasan 'lapang dada' pada larik isi pantun (10 menit).
- Guru menyajikan permainan tebak cepat 'Pasangan Kiasan Pantun' berhadiah poin bintang di papan tulis. Murid menjodohkan 4 ungkapan kiasan dengan maknanya: (1) lapang dada -> ikhlas/sabar, (2) ringan tangan -> suka menolong, (3) rendah hati -> tidak sombong, (4) lurus hati -> jujur (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menerima lembar latihan melengkapi 2 bait pantun rumpang dengan memilih kosakata kiasan yang tepat dari daftar pilihan: [lapang dada, rendah hati, ringan tangan, lurus hati]. Bait 1: 'Sungguh harum bunga melati / Mekar setangkai di taman kota / Tetaplah santun dan [rendah hati] / Jangan takabur mengumbar harta'. Bait 2: 'Ke pasar pagi membeli ketan / Membeli sukun diikat tali / Jadilah insan yang [ringan tangan] / Membantu warga berbaik hati' (15 menit).
- Murid secara mandiri menulis 1 bait pantun orisinal bertema kepedulian yang menggunakan minimal satu kosakata bermakna kiasan baru dari daftar target (pilihan: lapang dada, rendah hati, ringan tangan, lurus hati, atau besar hati) secara tepat pada larik isi pantun (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menukar draf pantunnya dengan teman sebangku untuk memeriksa ketepatan penggunaan kosakata kiasan pada larik isi pantun serta kesesuaian konteks maknanya berdasarkan panduan acuan makna kiasan yang tersedia (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil tulisan pantun murid dengan meninjau ketepatan penerapan makna kiasan dalam bait yang telah dikerjakan (5 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan fungsi makna kiasan dalam memperindah larik pantun, kemudian menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan arti kiasan (glosarium mini berisi kata kiasan dan definisinya), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan opsi memilih dari perbendaharaan kiasan yang lebih bervariasi (misalnya: 'besar hati', 'tangan terbuka', 'tahan banting').
- Proses: Murid yang masih kesulitan menulis bait pantun mandiri dibantu dengan panduan larik sampiran yang sudah disediakan setengah jadi, sedangkan murid yang mahir langsung merancang bait utuh secara mandiri.
- Produk: Murid yang memerlukan bimbingan cukup melengkapi 2 pantun rumpang dan menulis 1 bait pantun dengan 1 kata kiasan, sedangkan murid mahir menulis 2 bait pantun menggunakan 2 kosakata kiasan berbeda secara tepat.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Murid menentukan arti 3 frasa bermakna kiasan berikut: (1) 'lapang dada' (acuan: sabar/ikhlas menerima keadaan), (2) 'anak emas' (acuan: anak kesayangan/yang diistimewakan), (3) 'ringan tangan' (acuan: suka membantu/menolong sesama).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian 2 bait pantun rumpang pada tahap aplikasi (acuan kunci: Bait 1 = 'rendah hati', Bait 2 = 'ringan tangan').
- Pemeriksaan produk penulisan 1 bait pantun mandiri: memastikan larik isi memuat minimal 1 kosakata bermakna kiasan (pilihan acuan: lapang dada = ikhlas/sabar; rendah hati = tidak sombong; ringan tangan = suka menolong; lurus hati = jujur; besar hati = bangga/senang/percaya diri) dengan konteks pemakaian kalimat yang logis dan tepat arti.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menyebutkan kosakata kiasan yang mereka gunakan dalam draf pantunnya serta menjelaskan makna kiasan tersebut secara kontekstual (kriteria penerimaan: kata kiasan yang ditulis pada bait pantun benar-benar digunakan sesuai definisi kiasan rujukannya, bukan dimaknai secara harfiah/denotatif).
Formatif:- Penilaian proses pengerjaan latihan melengkapi pantun rumpang dan penulisan mandiri 1 bait pantun menggunakan kosakata kiasan melalui lembar observasi dan rubrik.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Kiasan dalam Menulis Pantun | Belum mampu memasukkan kosakata bermakna kiasan ke dalam bait pantun, atau kata yang dimasukkan masih dimaknai secara denotatif/harfiah. | Mampu memasukkan 1 kosakata bermakna kiasan ke dalam pantun dengan bimbingan guru, tetapi konteks kalimat pada larik isi belum sepenuhnya selaras dengan makna kiasan tersebut. | Mampu menggunakan 1 kosakata bermakna kiasan secara mandiri ke dalam larik isi pantun dengan konteks pemakaian makna kiasan yang tepat dan logis sesuai acuan. | Mampu menggunakan lebih dari 1 kosakata bermakna kiasan ke dalam larik pantun secara tepat, mandiri, dan seluruh konteks maknanya sangat padu dengan tema pantun. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan tebak kiasan efektif membantu murid memahami perbedaan makna kiasan sebelum menerapkannya dalam penulisan pantun?
- Bagian mana dari langkah menulis bait pantun berkiasan yang paling banyak membutuhkan bimbingan individual?
Murid:- Apakah saya sudah memahami arti kiasan dari kosakata baru yang saya gunakan dalam pantun saya?
- Tantangan apa yang saya hadapi saat menyisipkan kosakata kiasan ke dalam baris isi pantun agar maknanya tetap tepat?
Pertemuan 11 — Menulis Draf Bait Pantun Bertema Ungkapan Kepedulian — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam berbagai tipe teks berupa teks pantun yang menarik dan indah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa singkat, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menulis draf bait pantun bertema ungkapan kepedulian (sosial atau lingkungan) dengan struktur bait 4 larik berpola rima a-b-a-b (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: murid diberikan 1 lembar kartu berisi 2 larik isi bertema kepedulian: (Larik 3) 'Bila teman sedang berduka', (Larik 4) 'Mari ulurkan tangan membantu' dan diminta menentukan pola rima akhir dari kedua larik tersebut serta menyebutkan tema kepeduliannya (acuan jawaban: rima akhir larik 3 adalah suku kata '-ka' berbunyi /a/ dan larik 4 adalah suku kata '-tu' berbunyi /u/; tema adalah kepedulian sosial membantu sesama) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru tentang tahapan menulis draf pantun: menentukan gagasan ungkapan kepedulian pada larik 3 dan 4 (isi), menentukan rima akhir larik isi, lalu menyusun larik 1 dan 2 (sampiran) dengan rima akhir silang (a-b-a-b) serta jumlah suku kata 8-12 per larik (7 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti aktivitas 'Tantangan Rima Sambung' yang menggembirakan: guru menampilkan satu larik isi 'Mari rawat alam lestari' (-ri), kemudian setiap pasangan berlomba menuliskan 2 pilihan kata rima sampiran berakhiran '-ri' (contoh kata: 'negeri', 'matahari', 'berlari') pada secarik kertas tercepat (8 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memilih satu fokus tema ungkapan kepedulian yang diminati: Tema A (Kepedulian Sosial: empati pada teman, berbagi rezeki) atau Tema B (Kepedulian Lingkungan: menjaga kebersihan alam, merawat pohon) (5 menit).
- Murid menuliskan draf larik 3 dan 4 (isi pantun) terlebih dahulu pada lembar kerja menulis draf pantun, memastikan pesan ungkapan kepedulian tertuang secara jelas dan santun dengan 8-12 suku kata per larik (10 menit).
- Murid merangkai draf larik 1 dan 2 (sampiran pantun) yang memuat rima akhir bersilang a-b-a-b selaras dengan larik isi yang telah dibuat, sehingga tersusun draf 1 bait pantun utuh (4 larik) (15 menit).
- Murid memeriksa draf bait pantun buatannya sendiri menggunakan daftar cek mandiri: memverifikasi kesesuaian tema ungkapan kepedulian, rima akhir a-b-a-b, dan batas 8-12 suku kata per larik (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bertukar lembar draf bait pantun dengan rekan sebangku untuk saling membaca draf teks pantun dan memberikan tanggapan tertulis berupa satu hal yang paling indah pada pilihan rima/isi dan satu saran penyesuaian suku kata atau rima (5 menit).
- Murid mencatat refleksi perbaikan pada kolom catatan draf untuk dipersiapkan pada tahap penyempurnaan di pertemuan berikutnya (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap proses penulisan draf pantun kepedulian dan mengapresiasi upaya kreatif murid dalam menyusun rima serta pesan kepedulian (3 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan tahapan inti menulis draf pantun: mengunci pesan ungkapan kepedulian pada isi terlebih dahulu sebelum menyelaraskan bunyi sampiran, lalu guru menutup pelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan pilihan tema ungkapan kepedulian (sosial atau lingkungan) serta bank kata bantu rima akhir bagi murid yang membutuhkan inspirasi rima.
- Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru memberikan template kerangka larik berpola rima; bagi murid yang cepat selesai, murid ditantang menulis draf bait pantun kedua dengan variasi tema kepedulian yang berbeda.
- Produk: Draf bait pantun bertema kepedulian minimal 1 bait (4 larik) dengan rima a-b-a-b dan 8-12 suku kata per larik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemahaman teknis pra-menulis: Murid diberikan cuplikan 2 larik isi: (3) 'Bila teman sedang berduka', (4) 'Mari ulurkan tangan membantu'. Murid diminta menuliskan bunyi suku kata akhir kedua larik tersebut dan menyebutkan tema kepeduliannya (acuan jawaban: bunyi rima akhir larik 3 adalah /-ka/ dan larik 4 adalah /-tu/; tema kepedulian adalah kepedulian sosial/menolong sesama).
Proses:- Pengamatan dan umpan balik langsung saat murid menyusun larik isi dan menyelaraskan larik sampiran pada lembar kerja draf pantun kepedulian (acuan: larik 1-2 berupa sampiran, larik 3-4 berupa isi ungkapan kepedulian sosial/lingkungan, rima a-b-a-b, 8-12 suku kata per larik).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman draf tertulis: Murid mengumpulkan lembar draf 1 bait pantun bertema kepedulian (kriteria penerimaan operasional: memuat 4 larik utuh, larik 3 dan 4 memuat ungkapan kepedulian sosial atau lingkungan, larik 1-2 berfungsi sebagai sampiran dengan rima akhir berpola a-b-a-b, serta tiap larik terdiri atas 8-12 suku kata).
Formatif:- Penilaian proses menulis draf bait pantun bertema ungkapan kepedulian menggunakan lembar draf murid dan rubrik analitik (aspek tema ungkapan kepedulian, struktur bait & rima akhir a-b-a-b, serta kesesuaian jumlah suku kata).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Tema Ungkapan Kepedulian pada Larik Isi (Larik 3 dan 4) | Larik 3 dan 4 belum memuat gagasan ungkapan kepedulian sosial maupun lingkungan. | Larik 3 dan 4 memuat gagasan kepedulian tetapi pesannya belum jelas atau hanya termuat pada salah satu larik. | Larik 3 dan 4 secara jelas memuat ungkapan kepedulian sosial atau lingkungan secara runtut. | Larik 3 dan 4 secara mendalam, santun, dan menyentuh memuat ungkapan kepedulian sosial atau lingkungan secara runtut. | | Struktur Bait dan Pola Rima Akhir Sampiran-Isi | Bait pantun belum berstruktur 4 larik dan pola rima akhir tidak bersilang a-b-a-b. | Bait terdiri atas 4 larik (sampiran dan isi), namun rima akhir hanya berpasangan pada salah satu pasang larik (misal a-a-b-c atau a-b-a-c). | Bait terdiri atas 4 larik dengan pembagian 2 larik sampiran dan 2 larik isi yang berpola rima akhir silang a-b-a-b secara konsisten. | Bait terdiri atas 4 larik (sampiran dan isi) dengan pola rima akhir silang a-b-a-b yang sangat harmonis serta keterkaitan bunyi antarlarik sangat rapi. | | Kesesuaian Jumlah Suku Kata Tiap Larik | Sebagian besar larik (3-4 larik) memiliki jumlah suku kata di luar rentang 8-12 suku kata. | Terdapat 1-2 larik yang jumlah suku katanya kurang dari 8 atau lebih dari 12 suku kata. | Seluruh larik (4 larik) tepat memiliki rentang 8-12 suku kata. | Seluruh larik (4 larik) tepat dan ideal memiliki rentang 9-11 suku kata per larik secara proporsional. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah strategi menyusun larik isi terlebih dahulu efektif membantu murid menuangkan pesan kepedulian dalam pantun?
- Bagian mana dari proses pembuatan sampiran yang paling banyak menimbulkan kendala bagi murid dalam menyelaraskan rima akhir a-b-a-b?
Murid:- Apa hal paling menantang saat merangkai sampiran agar rimanya cocok dengan isi pantun kepedulian yang kamu buat?
- Bagian mana dari draf pantunmu yang menurutmu paling berhasil menyampaikan pesan kepedulian?
Pertemuan 12 — Menulis dan Menyempurnakan Teks Pantun Ungkapan Kepedulian yang Menarik dan Indah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam berbagai tipe teks berupa teks pantun yang menarik dan indah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran, menyapa murid, dan memimpin doa bersama secara khidmat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-12, yaitu menyempurnakan dan menulis teks pantun ungkapan kepedulian dari draf pertemuan sebelumnya agar semakin menarik dan indah (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 1 bait pantun yang rima larik isinya belum selaras pada papan tulis: 'Pohon randu daunnya lebat / Tumbuh subur dekat dermaga / Mari bantu sahabat yang penat / Agar beban tak lagi berat'. Murid diminta secara cepat mengidentifikasi ketidakselarasan rima larik ke-3 dan ke-4 lalu memberikan usulan perbaikan rimanya (acuan jawaban: larik 1 rima -bat, larik 2 rima -ga, larik 3 rima -nat [tidak cocok dengan larik 1], larik 4 rima -rat [tidak cocok dengan larik 2]; perbaikan yang tepat menyelaraskan rima a-b-a-b misalnya mengubah larik 3 menjadi 'Mari bantu saudara sahabat' dan larik 4 menjadi 'Agar hidup bahagia bersama') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati panduan penyempurnaan pantun kepedulian yang menarik dan indah, berfokus pada dua aspek estetika: (1) ketepatan struktur puitik (rima akhir persilangan a-b-a-b dan rentang 8-12 suku kata per larik) serta (2) keindahan pilihan kata dan daya sentuh ungkapan kepedulian pada larik isi (larik 3 dan 4) (7 menit).
- Murid mengikuti permainan menggembirakan 'Tantangan Poles Kata': guru membagikan lembar tantangan kilat berisi 2 draf larik isi yang terasa kaku/datar: (1) 'Bantulah kawan yang sedang susah' dan (2) 'Janganlah kita berbuat serakah'. Murid berlomba memilih/mengganti kata agar lebih puitis dan indah (acuan jawaban yang diterima: (1) diubah menjadi 'Ulurkan tangan bagi yang gundah' atau 'Ringankan lara sahabat yang resah' [8-10 suku kata]; (2) diubah menjadi 'Tumbuhkan cinta taburlah ramah' atau 'Jalinlah kasih seatap berkah' [9-10 suku kata]) (8 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membuka kembali draf pantun kepedulian (minimal 1 bait) yang telah dirancang pada Pertemuan 11 untuk dilakukan swasunting terpandu (self-editing) (5 menit).
- Murid secara mandiri menyunting dan menyempurnakan draf pantun tersebut dengan memeriksa keterpenuhan 4 syarat keindahan pantun: (1) tema ungkapan kepedulian sosial/lingkungan jelas pada larik 3-4, (2) rima akhir bersilang a-b-a-b sempurna, (3) setiap larik terdiri atas 8-12 suku kata, dan (4) sampiran (larik 1-2) harmonis membentuk bayangan bunyi isi (15 menit).
- Murid menuliskan kembali naskah akhir pantun kepedulian yang telah disempurnakan secara rapi dan bersih pada Kartu Pantun Estetis yang disediakan guru (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid melakukan periksa silang berpasangan (peer-review) untuk mengecek ketepatan rima akhir (a-b-a-b), kesesuaian jumlah suku kata (8-12), serta daya gugah ungkapan kepedulian pada teks pantun final rekan sebangku (10 menit).
Penutup:- Guru dan murid menyimpulkan bahwa keindahan dan daya pikat pantun kepedulian lahir dari kepatuhan pada aturan rima dan suku kata yang dipadukan dengan pilihan kata yang menyentuh nurani (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil tulisan akhir pantun murid serta menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (Pertemuan 13) yaitu melisankan pantun dengan pelafalan dan intonasi tepat, lalu menutup kelas dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan suku kata dan daftar padanan rima (misalnya pasangan akhiran -ur/-ir, -ang/-ing), sedangkan murid yang mandiri langsung menyunting draf bebas.
- Proses: Murid berpencapaian cepat didorong menyempurnakan 2 bait pantun kepedulian bersambung dengan variasi kata puitis, sedangkan murid yang membutuhkan bimbingan fokus memantapkan 1 bait pantun hingga tuntas dan indah.
- Produk: Hasil akhir berupa 1 hingga 2 bait teks pantun kepedulian utuh yang memenuhi kaidah rima a-b-a-b, 8-12 suku kata, dan pilihan kata puitis pada Kartu Pantun Estetis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik identifikasi ketidakselarasan rima dan perbaikan rima larik pada bait pantun di papan tulis: 'Pohon randu daunnya lebat / Tumbuh subur dekat dermaga / Mari bantu sahabat yang penat / Agar beban tak lagi berat' (kriteria penerimaan: murid mampu menemukan bahwa rima akhir larik 3 [-nat] tidak sepadan dengan larik 1 [-bat] dan larik 4 [-rat] tidak sepadan dengan larik 2 [-ga], serta memberikan alternatif larik berima selaras a-b-a-b seperti larik 3 berakhiran -at dan larik 4 berakhiran -ga).
Proses:- Pengamatan dan pembimbingan langsung saat murid menyunting draf dan menulis teks pantun kepedulian pada lembar kerja (Kartu Pantun Estetis). Kriteria ketercapaian: draf mengalami penyempurnaan suku kata (8-12 suku kata per baris), rima akhir bersilang a-b-a-b tepat, serta isi memuat ungkapan kepedulian yang bermakna mendalam.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan teks pantun final pada Kartu Pantun Estetis berdasarkan pemenuhan target: bait pantun terdiri dari 4 larik (2 sampiran, 2 isi), pola rima akhir a-b-a-b, jumlah suku kata tiap larik berada dalam rentang 8-12, dan larik isi mengungkapkan kepedulian secara puitis/menarik.
Formatif:- Penilaian proses penyuntingan dan penulisan teks pantun menggunakan rubrik analitis penulisan pantun indah dan menarik
- Pemeriksaan mandiri (self-check) dan tinjauan sejawat (peer-review) pada draf teks pantun
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Struktur Rima dan Suku Kata Pantun | Menulis pantun dengan rima akhir tidak bersilang (misal a-a-a-a atau tidak beraturan) dan sebagian besar larik kurang dari 8 atau lebih dari 12 suku kata. | Menulis pantun dengan rima akhir mendekati bersilang (terdapat 1 larik yang menyimpang) dan terdapat 2 larik yang belum memenuhi rentang 8-12 suku kata. | Menulis pantun dengan pola rima akhir a-b-a-b tepat secara konsisten dan seluruh larik terdiri atas 8-12 suku kata secara mandiri. | Menulis lebih dari 1 bait pantun dengan seluruh larik berima akhir a-b-a-b sempurna, rentang 8-12 suku kata tepat, serta sampiran dan isi memiliki kemerduan bunyi yang sangat padu. | | Keindahan dan Daya Tarik Ungkapan Kepedulian (Larik Isi) | Larik isi belum memuat pesan kepedulian yang jelas dan pilihan kata terkesan kaku seperti kalimat tuturan biasa. | Larik isi memuat pesan kepedulian sosial/lingkungan secara tersurat namun pilihan kata masih sederhana dan belum memperlihatkan unsur keindahan puitik. | Larik isi memuat ungkapan kepedulian sosial/lingkungan yang jelas, indah, dan menarik menggunakan pilihan kosakata yang puitis dan bermakna mendalam. | Larik isi memuat ungkapan kepedulian yang sangat indah, menggugah emosi pembaca, menggunakan perpaduan kosakata bermakna kiasan/konotatif yang amat padu dan orisinal. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu menyunting mandiri dan menulis akhir pada Kartu Pantun Estetis sudah mencukupi bagi murid yang membutuhkan bimbingan?
- Bagaimana efektivitas permainan 'Tantangan Poles Kata' dalam membantu murid memilih kosakata yang lebih indah untuk teks pantun mereka?
Murid:- Bagian mana dari draf pantunku yang paling banyak mengalami perubahan agar menjadi lebih berima dan indah?
- Apakah teks pantun yang telah kutulis sudah berhasil mengungkapkan rasa kepedulianku terhadap sesama atau lingkungan sekitar?
Pertemuan 13 — Menyajikan Ungkapan Kepedulian dari Teks Pantun secara Lisan dengan Pelafalan dan Intonasi Tepat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari berbagai tipe teks pantun secara lisan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam dan presensi, lalu menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-13 yaitu menyajikan ungkapan kepedulian dari teks pantun secara lisan dengan pelafalan dan intonasi tepat (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta 2 perwakilan murid membacakan contoh larik pantun bertema kepedulian: 'Kala sahabat bermuram durja / Ulurkan tangan bantulah dia' untuk memeriksa kejelasan artikulasi huruf vokal/konsonan dan ketepatan naik-turunnya intonasi (acuan: pelafalan kata jelas tanpa gumaman, intonasi naik pada larik sampiran/larik pertama isi dan intonasi melandai/turun tegas di akhir larik penutup) (6 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan demonstrasi perbandingan pelafalan (artikulasi vokal a, i, u, e, o dan konsonan jelas) serta intonasi nada bicara (jeda antarlarik dan modulasi nada) saat melisankan pantun kepedulian (10 menit).
- Murid menandai jeda dan intonasi pada teks pantun ungkapan kepedulian hasil karya mereka masing-masing menggunakan tanda garis miring tunggal (/) untuk jeda pendek antarkata dan garis miring ganda (//) untuk jeda antarlarik (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Aktivitas 'Estafet Suara Berpantun' (menggembirakan): murid berlatih secara berpasangan saling melisankan 1 bait pantun kepedulian secara bergantian dan saling memberi tanda jempol bila pelafalan terdengar lantang dan intonasinya tepat (12 menit).
- Setiap murid secara mandiri maju menyajikan secara lisan 1 bait teks pantun bertema ungkapan kepedulian yang telah ditulis pada pertemuan sebelumnya di depan kelas secara bergiliran dengan pelafalan tiap kata yang artikulatif dan intonasi larik yang tepat (24 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mereviu pengalaman melisankan pantun, mengidentifikasi kata-kata yang pelafalannya paling menantang, serta menyadari pentingnya intonasi lisan dalam menyampaikan pesan kepedulian kepada orang lain (8 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap keberanian dan teknik berbicara murid serta mengonfirmasi ketercapaian indikator pelafalan dan intonasi (4 menit).
- Guru mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri menghadapi pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 2 pada pertemuan berikutnya (pertemuan 14) dan menutup sesi dengan salam (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan menyajikan teks pantun 4 larik dengan kosakata sederhana dan tanda jeda eksplisit; murid yang lebih mahir menyajikan teks pantun dengan kosakata kiasan bertema kepedulian yang lebih mendalam.
- Proses: Murid yang masih ragu diberi kesempatan berlatih mandiri dengan berbisik terlebih dahulu di dekat guru sebelum tampil di depan kelas; murid yang percaya diri langsung menyajikan secara lisan tanpa teks bantuan penuh.
- Produk: Tingkat kerumitan teks pantun yang dilisankan disesuaikan dengan draf pantun kepedulian yang telah disiapkan masing-masing murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Uji petik lisan terhadap 2 murid membaca larik: 'Kala sahabat bermuram durja / Ulurkan tangan bantulah dia' (acuan ketercapaian: pengucapan tiap fonem vokal dan konsonan terdengar utuh/jelas, jeda antarlarik terjaga, intonasi akhir larik melandai turun secara wajar).
Proses:- Pengamatan performa lisan murid saat melisankan 1 bait pantun kepedulian di depan kelas menggunakan lembar observasi yang mencatat: (1) ketepatan pelafalan setiap kata dalam bait; (2) ketepatan intonasi dan pemenggalan jeda larik pantun.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: guru meminta 2 murid menyebutkan 2 hal pokok yang menentukan keberhasilan penyampaian pantun kepedulian secara lisan (acuan jawaban: pelafalan/artikulasi yang jelas dan intonasi/lagu kalimat yang tepat).
Formatif:- Unjuk kerja pembacaan pantun lisan (lembar observasi performa lisan berfokus pada pelafalan dan intonasi)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pelafalan (Artikulasi Kata) | Melafalkan kata-kata dalam bait pantun secara bergumam, artikulasi vokal/konsonan tidak jelas pada sebagian besar kata sehingga pesan sulit ditangkap. | Melafalkan sebagian kata dalam bait pantun dengan jelas, tetapi masih terdapat beberapa kata yang terucap samar atau tertelan. | Melafalkan seluruh kata dalam 4 larik pantun kepedulian secara jelas, fasih, dan artikulatif. | Melafalkan seluruh kata dalam 4 larik pantun kepedulian secara sangat jelas, fasih, artikulatif, dan vokal terdengar mantap tanpa ada kata yang keliru secara konsisten. | | Intonasi dan Jeda Lisan | Membacakan pantun secara datar (monoton) tanpa jeda pembeda antarlarik seperti membaca teks biasa. | Menerapkan intonasi berirama tetapi jeda antarlarik belum teratur atau penekanan nada belum selaras dengan struktur pantun. | Menerapkan intonasi dan jeda antarlarik pantun secara tepat (nada naik pada sampiran dan turun tuntas pada larik penutup isi kepedulian). | Menerapkan intonasi, modulasi nada, dan pemenggalan jeda antarlarik secara tepat, luwes, dan berirama indah sehingga ungkapan kepedulian tersampaikan dengan sangat kuat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 24 menit cukup untuk memberikan giliran seluruh murid menyajikan pantun secara bergiliran?
- Bagaimana respons murid terhadap kegiatan 'Estafet Suara Berpantun' dalam membangun kepercayaan diri sebelum tampil mandiri?
Murid:- Bagian kata atau larik mana yang paling sulit kamu lafalkan dengan intonasi yang pas?
- Apa yang kamu rasakan setelah berhasil menyajikan pantun ungkapan kepedulianmu secara lisan di hadapan teman-teman?
Pertemuan 14 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.1 Menganalisis unsur intrinsik teks sastra berupa pantun berbentuk teks aural
- TP 9.2.2 Menganalisis informasi berupa pesan dari teks visual pantun untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
- TP 9.2.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan kepedulian dari berbagai tipe teks berwujud teks visual pantun
- TP 9.2.4 Menyajikan ungkapan kepedulian dari berbagai tipe teks pantun secara lisan
- TP 9.2.5 Menulis ungkapan kepedulian dalam berbagai tipe teks berupa teks pantun yang menarik dan indah
- TP 9.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, konotatif, dan kiasan untuk menulis pantun
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas secara hening, memimpin doa bersama, memeriksa kehadiran murid, serta membagikan Lembar Asesmen Sumatif Bab 2 yang terdiri atas Bagian 1 (Analisis Teks Pantun) dan Bagian 2 (Menulis Pantun) (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru menjelaskan tata tertib dan petunjuk pengerjaan asesmen sumatif: murid akan mengerjakan tes tertulis simakan dan visual, menulis 1 bait pantun kepedulian secara mandiri, lalu menyajikan pelisanan pantun di meja guru secara bergiliran (2 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1 (25 menit): Murid menyimak pantun aural yang dibacakan guru sebanyak dua kali dengan lafal jelas: 'Pohon jati tumbuh di bukit / Daunnya gugur ditiup angin / Bila kawan merasa sakit / Mari jenguk ringankan beban'. Murid secara serentak dan mandiri mengisi lembar analisis Bagian 1 dengan butir soal berikut: (1) Menentukan rima akhir bait aural (acuan: pola rima a-b-a-b, baris 1 berima 'kit', baris 2 berima 'gin', baris 3 berima 'kit', baris 4 berima 'ban'); (2) Menentukan baris sampiran dan baris isi (acuan: baris 1-2 sampiran, baris 3-4 isi); (3) Menganalisis makna tersurat dari teks visual pantun 'Pergi ke pasar membeli beras / Singgah sebentar membeli ketan / Jangan biarkan sampah tergilas / Jagalah selalu kebersihan lingkungan' (acuan tersurat: larangan membiarkan sampah berserakan dan ajakan menjaga kebersihan lingkungan); (4) Menganalisis makna tersirat pantun visual tersebut (acuan tersirat: kepedulian terhadap lingkungan mencerminkan tanggung jawab moral bersama agar terhindar dari bencana/penyakit); (5) Menginterpretasikan tindakan nyata kepedulian sosial yang dapat dilakukan di sekolah berdasarkan pesan pantun (acuan: tindakan gotong royong membersihkan kelas/sekolah dan membuang sampah pada tempatnya) (25 menit).
- Tugas 2 (20 menit): Murid menuliskan 1 bait teks pantun karya sendiri bertema kepedulian sosial pada lembar Bagian 2 dengan ketentuan: terdiri atas 4 larik, larik 1-2 sampiran, larik 3-4 isi, rima akhir silang a-b-a-b, tiap larik 8-12 suku kata, serta melengkapi tabel penggunaan kosakata baru yang memuat minimal 1 kata denotatif, 1 kata konotatif, dan 1 kata kiasan beserta penjelasannya (acuan kriteria: rima dan struktur tepat, isi memuat kepedulian sosial, serta kata denotatif [mis. membantu, beras], konotatif positif [mis. tangan terbuka, sejuk], dan kiasan [mis. bunga desa, buah tangan, ringan tangan] digunakan sesuai konteks) (20 menit).
- Tugas 3 (27 menit): Murid secara bergiliran maju ke meja guru untuk melisankan 1 bait pantun kepedulian hasil ciptaannya masing-masing selama maksimal 1 menit per anak (mencakup 27-28 murid), dinilai langsung oleh guru menggunakan rubrik pelisanan (lafal konsonan/vokal jelas, intonasi naik-turun selaras sampiran dan isi, jeda antarkata tepat tanpa terputus-putus, serta ekspresi wajah ramah dan bersungguh-sungguh), sementara murid lain yang menunggu giliran merapikan draf dan memeriksa kelengkapan identitas lembar kerja (27 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja tertulis murid dan memfasilitasi refleksi penutup singkat mengenai pengalaman belajar sepanjang Bab 2 Belajar Berpantun secara berkesadaran (2 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas integritas dan ketertiban seluruh murid selama menempuh asesmen sumatif bab, menyampaikan informasi tindak lanjut hasil penilaian, dan menutup pertemuan dengan doa (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Memberikan kertas lembar soal dengan ukuran fon lebih besar atau pembacaan teks simakan tambahan bagi murid dengan hambatan penglihatan/pendengaran tanpa mengubah teks maupun butir soal.
- Proses: Memberikan urutan giliran pelisanan yang fleksibel atau jeda napas bagi murid yang mengalami kecemasan bicara di depan pendidik tanpa mengubah indikator penilaian lafal dan intonasi.
- Produk: Format penulisan pantun disediakan dalam bentuk lembar bergaris pemandu suku kata bagi murid yang memerlukan bantuan visual spasial tulisan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan alat tulis dan lembar jawab, serta penegasan kembali pemahaman instruksi simakan teks pantun oleh guru.
Proses:- Observasi keteraturan dan kemandirian murid selama mendengarkan teks aural pantun dan mengerjakan lembar analisis tertulis secara mandiri.
Sumatif Bab:- kombinasi tes tertulis-simakan, penulisan teks pantun, dan unjuk kerja pelisanan bergiliran: lembar asesmen tertulis yang memuat hasil analisis rima dan struktur sampiran-isi pantun aural, makna tersurat-tersirat, analisis kepedulian sosial, serta karya tulis 1 bait pantun kepedulian dengan variasi kosakata denotatif-konotatif-kiasan; disertai unjuk kerja pelisanan pantun karya sendiri dengan lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi yang tepat
- tes tertulis dan simakan terpandu serentak: lembar analisis murid berisi identifikasi rima akhir dan sampiran-isi dari pantun aural yang dibacakan guru, uraian makna tersurat dan tersirat dari teks visual pantun, serta penjelasan interpretasi pesan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari (25 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik analisis teks pantun)
- tugas menulis terarah serentak: lembar karya tulis berupa 1 bait teks pantun bertema kepedulian sosial yang memenuhi struktur sampiran-isi dan rima a-b-a-b, dilengkapi tabel penandaan/keterangan penggunaan kosakata bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penulisan pantun (struktur bait, rima, pesan kepedulian, ketepatan diksi))
- unjuk kerja pelisanan bergiliran: pelisanan pantun kepedulian karya sendiri berdurasi 1 menit per murid yang dinilai bergantian di meja guru saat murid lain merapikan lembar kerja (30 menit / 1 menit = 30 murid, mencakup kapasitas 28 murid satu kelas) (30 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja pelisanan (lafal, jeda, intonasi, ekspresi))
Sumatif:- kombinasi tes tertulis-simakan, penulisan teks pantun, dan unjuk kerja pelisanan bergiliran: lembar asesmen tertulis yang memuat hasil analisis rima dan struktur sampiran-isi pantun aural, makna tersurat-tersirat, analisis kepedulian sosial, serta karya tulis 1 bait pantun kepedulian dengan variasi kosakata denotatif-konotatif-kiasan; disertai unjuk kerja pelisanan pantun karya sendiri dengan lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi yang tepat
- tes tertulis dan simakan terpandu serentak: lembar analisis murid berisi identifikasi rima akhir dan sampiran-isi dari pantun aural yang dibacakan guru, uraian makna tersurat dan tersirat dari teks visual pantun, serta penjelasan interpretasi pesan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari (25 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik analisis teks pantun)
- tugas menulis terarah serentak: lembar karya tulis berupa 1 bait teks pantun bertema kepedulian sosial yang memenuhi struktur sampiran-isi dan rima a-b-a-b, dilengkapi tabel penandaan/keterangan penggunaan kosakata bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penulisan pantun (struktur bait, rima, pesan kepedulian, ketepatan diksi))
- unjuk kerja pelisanan bergiliran: pelisanan pantun kepedulian karya sendiri berdurasi 1 menit per murid yang dinilai bergantian di meja guru saat murid lain merapikan lembar kerja (30 menit / 1 menit = 30 murid, mencakup kapasitas 28 murid satu kelas) (30 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja pelisanan (lafal, jeda, intonasi, ekspresi))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Unsur Rima dan Struktur Pantun Aural (TP 9.2.1) | Keliru menentukan rima akhir dan tidak mampu memisahkan baris sampiran dengan baris isi pantun aural. | Tepat menentukan pola rima a-b-a-b namun keliru membedakan baris sampiran dan baris isi, atau sebaliknya. | Tepat menentukan pola rima akhir a-b-a-b serta tepat mengidentifikasi baris 1-2 sebagai sampiran dan baris 3-4 sebagai isi dengan sedikit bimbingan konfirmasi. | Tepat dan mandiri mengidentifikasi pola rima silang a-b-a-b secara terperinci (bunyi suku kata akhir tiap larik) serta tepat menentukan fungsi sampiran dan isi secara utuh. | | Menganalisis Makna Tersurat dan Tersirat Teks Visual Pantun (TP 9.2.2) | Belum mampu menemukan makna tersurat dan makna tersirat yang terkandung dalam bait pantun visual. | Hanya mampu menuliskan kembali makna tersurat teks pantun tanpa mampu menggali pesan tersiratnya. | Mampu menjelaskan makna tersurat (ajakan menjaga kebersihan) dan makna tersirat (tanggung jawab moral bersama mencegah bencana) secara tepat. | Mampu menjelaskan makna tersurat dan tersirat secara komprehensif, logis, dan mengaitkan pesan moral pantun dengan realitas kehidupan. | | Menginterpretasi Informasi Ungkapan Kepedulian Sosial (TP 9.2.3) | Belum mampu mengaitkan informasi pantun dengan wujud tindakan kepedulian dalam kehidupan nyata. | Menyebutkan tindakan kepedulian yang masih sangat umum dan kurang relevan dengan isi teks pantun. | Tepat menginterpretasikan pesan pantun menjadi usulan tindakan kepedulian sosial yang konkret dan dapat diterapkan di lingkungan sekitar. | Menginterpretasikan pesan pantun menjadi ragam tindakan kepedulian sosial yang mendalam, kontekstual, dan solutif bagi lingkungan sekolah/masyarakat. | | Menulis Pantun Kepedulian dan Kosakata Denotatif, Konotatif, Kiasan (TP 9.2.5 & TP 9.2.6) | Pantun belum memenuhi kaidah (bait kurang 4 baris, rima tidak berpola) serta tidak memuat tabel kosakata baru. | Pantun memenuhi 4 baris dan bertema kepedulian, namun rima belum a-b-a-b dan baru mengisi 1 jenis kosakata secara tepat. | Pantun memenuhi struktur 4 baris (2 sampiran, 2 isi), berima silang a-b-a-b, bertema kepedulian sosial, serta tepat menggunakan dan menandai ketiga jenis kosakata (denotatif, konotatif, kiasan). | Pantun sangat indah dan padu (panjang larik 8-12 suku kata, rima akhir konsisten a-b-a-b, tema kepedulian mendalam) serta seluruh kosakata denotatif, konotatif, dan kiasan digunakan secara tepat dan kreatif. | | Menyajikan Pantun secara Lisan (TP 9.2.4) | Membaca pantun dengan suara tidak terdengar, pelafalan tidak jelas, dan intonasi datar tanpa jeda. | Melisankan pantun dengan lafal terdengar namun intonasi kaku, jeda antarlarik belum tepat, dan ekspresi tegang. | Melisankan pantun dengan lafal konsonan-vokal jelas, intonasi pembeda sampiran dan isi tepat, jeda teratur, serta ekspresi bersungguh-sungguh. | Melisankan pantun dengan artikulasi sangat jernih, variasi intonasi memikat, jeda sangat pas, serta ekspresi wajah sangat hidup dan meyakinkan pendengar. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 80 menit berjalan efektif dalam mengukur seluruh TP Bab 2 secara komprehensif?
- Bagian tugas manakah yang paling banyak membutuhkan penguatan kompetensi pada pembelajaran remedi mendatang?
Murid:- Keterampilan mana yang paling saya kuasai dalam Bab 2 ini: menganalisis struktur, menulis pantun kepedulian, atau melisankannya di hadapan guru?
- Bagaimana perasaan saya setelah berhasil menciptakan dan membacakan pantun ungkapan kepedulian buatan sendiri?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi 2025)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi 2025) Bab 2 Belajar Berpantun
- Rekaman audio pembacaan teks pantun / teks pelafalan guru
- Kartu respon rima (a-b-a-b dan a-a-a-a)
- Lembar Analisis Pantun Aural
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi 2025) Bab 2
- Naskah teks aural pantun yang disiapkan guru
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi 2025)
- Rekaman audio/pembacaan nyaring bait-bait pantun nusantara
- Lembar kerja analisis simakan aural pantun
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI 2025
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI 2025 (Bab II: Belajar Berpantun)
- Lembar Kerja Murid (LKPD) Lembar Latihan 4 Teks Visual Pantun
- Set kartu bait pantun visual dan kartu pesan tersurat tantangan 'Detektif Pesan Tersurat'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Balai Pustaka/Kemendikdasmen 2025
- Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikdasmen 2025, Bab 2 'Belajar Berpantun'
- Salindia contoh teks visual pantun nasihat klasik dan lembar kerja analisis kata kiasan
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2025)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2025) Bab 2 Belajar Berpantun
- Kartu teks pantun visual dan Lembar Kerja Analisis Pesan Pantun
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI 2025
- Set kartu teks pantun dan kartu interpretasi kepedulian sosial
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2025)
- Lembar Kerja Siswa 'Detektif Lingkungan Pantun' berisi kumpulan teks visual pantun bertema lingkungan hidup
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi 2025), Subbab C Kegiatan 7
- Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi 2025), Bab II Belajar Berpantun
- Kartu kata berpasangan (makna denotatif dan konotatif)
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring/luring
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi 2025 (Kemendikdasmen), Subbab C Kegiatan 7
- Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi 2025 (Kemendikdasmen), Bab II Belajar Berpantun
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring untuk rujukan arti kata kiasan/ungkapan
- Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Kosakata Kiasan dalam Pantun'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2025, Bab II Subbab C
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2025, Bab II
- Lembar Kerja Murid: Menulis Draf Bait Pantun Bertema Ungkapan Kepedulian
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi 2025 (Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi 2025 (Halaman 67-72 Subbab C Belajar Menulis Pantun)
- Lembar Kerja Kartu Pantun Estetis untuk penulisan karya akhir pantun
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), 2025, Penulis: Yeti Islamawati dan Maman, Subbab E: Melisankan Pantun
- Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), 2025, Bab II 'Belajar Berpantun'
- Kumpulan teks pantun karya murid bertema kepedulian
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2025.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Bab II Belajar Berpantun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2025.
- Lembar Soal Asesmen Sumatif Bab 2 (Teks Simakan Pantun Aural, Teks Pantun Visual, dan Format Penulisan Pantun Kepedulian).
|