Modul AjarPertemuan 5Bab 5Fase DSemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 8: Menggunakan Kosakata Konotatif dan Kiasan dalam Puisi

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 8 dengan topik "Menggunakan Kosakata Konotatif dan Kiasan dalam Puisi". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 8: Menggunakan Kosakata Konotatif dan Kiasan dalam Puisi

Bahasa Indonesia - Kelas 8

Bab 5 - Pertemuan 5

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Menggunakan Kosakata Konotatif dan Kiasan dalam Puisi

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikMenggunakan Kosakata Konotatif dan Kiasan dalam Puisi
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat membedakan makna denotatif, konotatif, dan kiasan dari kosakata yang ditemukan dalam puisi.
  2. Murid dapat menggunakan kosakata baru bermakna konotatif dan kiasan dalam latihan menulis larik-larik puisi pendek sebagai persiapan menciptakan puisi.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian mendengar seseorang berkata 'hatinya sekeras batu'? Apakah orang itu benar-benar punya hati dari batu? Lalu, apa maksud sebenarnya?
  2. Mengapa penyair tidak menulis langsung 'aku sedih', melainkan memilih kata-kata seperti 'langit kelabu menghimpit dadaku'?
  3. Kata apa yang paling berkesan pernah kalian baca dalam sebuah puisi, dan mengapa kata itu terasa berbeda dari kata biasa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengajak murid untuk duduk nyaman, lalu mengecek kehadiran (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: menampilkan dua kalimat di papan tulis — (a) 'Bunga itu merah' dan (b) 'Pipinya bak bunga mekar di musim semi' — kemudian meminta murid secara lisan menjawab: mana yang bermakna lugas dan mana yang bermakna kias, serta mengapa (3 menit).
  • Guru mencatat respons murid sebagai peta awal pemahaman kelas tentang makna denotatif, konotatif, dan kiasan.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: membedakan makna denotatif, konotatif, dan kiasan, serta melatih menulis larik puisi menggunakan kosakata konotatif dan kiasan (2 menit).
  • Guru melontarkan pertanyaan pemantik: 'Pernahkah kalian mendengar seseorang berkata hatinya sekeras batu? Apa maksud sebenarnya?' dan mengajak 2–3 murid berbagi pendapat singkat (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan penggalan puisi pendek (misalnya 2–3 bait dari puisi karya Chairil Anwar atau W.S. Rendra yang ada dalam buku siswa) melalui papan tulis atau tayangan. Murid diminta membaca dalam hati dengan penuh perhatian (mindful reading) selama 2 menit.
  • Guru memandu diskusi kelas: murid menandai kata atau frasa yang menurut mereka 'terasa kuat/berbeda' dan menuliskannya di buku catatan masing-masing.
  • Guru menjelaskan konsep tiga jenis makna secara ringkas dengan contoh kontekstual dari puisi yang sudah dibaca: (1) Denotatif — makna kamus/faktual, contoh: 'tangan' = anggota tubuh; (2) Konotatif — makna tambahan/emosional, contoh: 'tangan dingin' = kemampuan istimewa; (3) Kiasan — ungkapan perbandingan/gambaran, contoh: 'senyumnya adalah matahari pagiku'.
  • Murid mengisi Tabel Identifikasi Kata (format tiga kolom: Kata/Frasa | Jenis Makna | Alasan) menggunakan kata-kata yang mereka tandai dari puisi tadi. Dikerjakan secara individu selama 5 menit.
  • Guru memfasilitasi konfirmasi jawaban bersama kelas: beberapa murid membacakan hasil tabel mereka, guru memberi penguatan dan koreksi secukupnya (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memperkenalkan 'Tantangan Larik Puisi': setiap murid akan menulis minimal 4 larik puisi pendek bertema bebas (perasaan, alam, pengalaman sehari-hari) dengan syarat menggunakan minimal satu kosakata bermakna konotatif dan satu ungkapan kiasan.
  • Sebagai jembatan, guru membagikan Kartu Kata Konotatif — selembar kertas (atau tayang di layar) berisi 10–15 kata pilihan yang memiliki makna konotatif kuat (contoh: 'luka', 'badai', 'cahaya', 'bisu', 'berbunga', 'langkah', 'angin', 'gelap', 'malam', 'mekar'). Murid boleh memilih dari kartu ini atau menggunakan kata temuan sendiri.
  • Murid menulis larik-larik puisi pendek mereka secara mandiri di buku tulis selama 10 menit. Guru berkeliling, memantau proses, dan memberi dorongan serta umpan balik singkat kepada murid yang tampak kesulitan.
  • Diferensiasi proses: Bagi murid yang cepat selesai, mereka ditantang menambah 2 larik dengan jenis kiasan berbeda (misal: yang tadi metafora, sekarang simile). Bagi murid yang kesulitan memulai, guru menyediakan kalimat pembuka siap pakai sebagai 'pancing larik' (contoh: 'Hatiku bagaikan ___').
  • Murid yang bersedia secara sukarela membacakan larik puisinya di depan kelas (3–4 orang). Kelas memberi respons positif dengan tepuk tangan dan guru memberi komentar apresiatif serta menunjukkan kosakata konotatif/kiasan yang berhasil digunakan (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid membandingkan dua versi larik: versi awal mereka (bila ada) sebelum menggunakan kosakata konotatif/kiasan dengan versi akhir yang sudah ditulis. Pertanyaan refleksi: 'Apa yang berubah dari larikmu setelah kamu pilih kata konotatif atau kiasan? Apa yang terasa berbeda?'
  • Murid menuliskan jawaban refleksi singkat (2–3 kalimat) di buku catatan: (1) satu kata konotatif atau kiasan yang paling mereka sukai dari hasil tulisan hari ini, dan (2) alasan mengapa kata itu terasa tepat untuk mengungkapkan perasaan atau gambaran yang dimaksud.
  • Guru memandu diskusi singkat: mengaitkan pengalaman menulis larik hari ini dengan tujuan besar bab — menciptakan puisi utuh yang mengungkapkan isi hati. Guru menegaskan bahwa kosakata konotatif dan kiasan adalah alat ekspresi yang membuat puisi hidup dan berkesan.
  • Guru meminta 2–3 murid berbagi satu kalimat kesimpulan: 'Hari ini saya belajar bahwa …' sebagai penutup tahap refleksi.

Penutup:

  • Guru bersama murid merangkum poin kunci pembelajaran: perbedaan makna denotatif, konotatif, dan kiasan; pentingnya pilihan kata dalam puisi (2 menit).
  • Guru menyampaikan asesmen akhir: murid mengumpulkan buku tulis (atau selembar kertas) berisi Tabel Identifikasi Kata dan 4 larik puisi yang sudah ditulis sebagai portofolio proses pertemuan ini.
  • Guru memberikan tindak lanjut: murid diminta membaca satu puisi pilihan mereka sendiri di rumah dan menandai minimal 2 kata bermakna konotatif atau kiasan untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
  • Guru menutup pembelajaran dengan apresiasi atas usaha murid hari ini dan mengingatkan bahwa pertemuan berikutnya akan melanjutkan ke tahap menciptakan puisi utuh (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum familiar dengan konsep konotasi dapat diberi teks puisi yang lebih sederhana (puisi diafan) sebagai bahan analisis, sementara murid yang sudah lebih mahir diberi penggalan puisi prismatis dengan bahasa yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang cepat menangkap materi ditantang mengidentifikasi jenis kiasan (metafora, simile) pada kata-kata yang mereka temukan. Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat menggunakan Kartu Kata Konotatif dan kalimat pancing larik yang disediakan guru, atau berdiskusi dengan teman sebangku sebelum menulis mandiri.
  • Produk: Murid menghasilkan minimal 4 larik puisi pendek. Murid yang ingin mengembangkan lebih jauh dipersilakan menulis 6–8 larik atau menambahkan judul dan memberi penjelasan tertulis mengapa mereka memilih kata-kata tersebut.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan dua kalimat di papan tulis — (a) 'Bunga itu merah' dan (b) 'Pipinya bak bunga mekar di musim semi' — dan meminta murid secara lisan menjelaskan mana yang bermakna lugas dan mana yang bermakna kias serta alasannya. Respons murid digunakan guru untuk memetakan sejauh mana kelas sudah mengenal konsep denotatif dan konotatif sebelum pembelajaran dimulai.

Proses:

  • Tabel Identifikasi Kata: guru mengecek ketepatan murid dalam mengklasifikasikan kata/frasa dari puisi ke dalam tiga jenis makna (denotatif, konotatif, kiasan) beserta alasannya.
  • Observasi saat penulisan larik puisi: guru memantau apakah murid mampu menggunakan kosakata konotatif dan kiasan secara mandiri dalam konteks larik puisi yang mereka tulis.
  • Sesi berbagi larik puisi: guru mencatat murid yang berhasil menggunakan kosakata dengan tepat dan yang masih perlu bimbingan, sebagai dasar penyesuaian instruksi di sisa waktu.

Akhir:

  • Murid mengumpulkan portofolio proses berisi: (1) Tabel Identifikasi Kata yang sudah diisi, dan (2) minimal 4 larik puisi pendek yang memuat setidaknya satu kosakata bermakna konotatif dan satu ungkapan kiasan. Karya dinilai menggunakan rubrik empat aspek: ketepatan identifikasi makna, kesesuaian penggunaan kosakata konotatif, kualitas ungkapan kiasan, dan keutuhan larik sebagai ekspresi puitis.

Formatif:

  • Observasi lisan saat diskusi pertanyaan pemantik dan konfirmasi Tabel Identifikasi Kata: guru mencatat murid yang sudah mampu membedakan ketiga jenis makna secara tepat.
  • Pemantauan proses saat murid menulis larik puisi: guru berkeliling dan memberi umpan balik lisan (komentar singkat, pertanyaan pendorong) kepada individu.
  • Pembacaan larik puisi sukarela: guru menilai secara informal kemampuan murid menggunakan kosakata konotatif dan kiasan secara tepat dan orisinal.

Sumatif:

  • Pengumpulan portofolio proses: Tabel Identifikasi Kata (3 kolom: Kata/Frasa | Jenis Makna | Alasan) dan 4 larik puisi pendek yang memuat minimal satu kosakata konotatif dan satu ungkapan kiasan, dinilai menggunakan rubrik 4 level.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Identifikasi Makna (Denotatif, Konotatif, Kiasan)Murid tidak dapat membedakan ketiga jenis makna, atau jawaban pada tabel identifikasi tidak relevan dengan kata/frasa yang dianalisis.Murid dapat membedakan denotatif dari konotatif/kiasan secara umum, tetapi penjelasan alasan masih sangat singkat atau kurang tepat untuk sebagian besar kata.Murid dapat mengklasifikasikan sebagian besar kata/frasa dengan benar ke dalam tiga jenis makna dan memberikan alasan yang cukup logis.Murid mengklasifikasikan seluruh kata/frasa dengan tepat, memberikan alasan yang jelas dan logis, serta mampu menjelaskan nuansa emosional atau artistik dari kata bermakna konotatif dan kiasan.
Penggunaan Kosakata Bermakna Konotatif dalam Larik PuisiLarik puisi tidak memuat kosakata bermakna konotatif, atau kata yang dipilih digunakan dengan makna denotatif semata.Larik puisi memuat satu kosakata bermakna konotatif, namun penggunaannya terasa dipaksakan atau kurang menyatu dengan konteks larik.Larik puisi memuat satu atau lebih kosakata bermakna konotatif yang digunakan dengan tepat dan cukup memperkuat ekspresi dalam puisi.Larik puisi memuat beberapa kosakata bermakna konotatif yang dipilih dengan cermat, digunakan secara alami dan efektif untuk membangun suasana atau perasaan yang kuat dalam puisi.
Penggunaan Ungkapan Kiasan dalam Larik PuisiLarik puisi tidak memuat ungkapan kiasan sama sekali, atau ungkapan yang ditulis adalah kalimat bermakna lugas.Larik puisi memuat satu ungkapan kiasan, tetapi ungkapan tersebut klise (terlalu umum/sering digunakan) atau kurang sesuai dengan konteks larik.Larik puisi memuat satu ungkapan kiasan yang cukup tepat dan mampu memberi gambaran atau perbandingan yang bermakna dalam puisi.Larik puisi memuat ungkapan kiasan yang orisinal, tepat, dan efektif dalam membentuk citra atau perasaan; murid mampu menjelaskan alasan pemilihan ungkapan tersebut.
Keutuhan Larik sebagai Ekspresi PuitisLarik yang ditulis kurang dari 4 baris, atau larik-larik tidak membentuk kesatuan ekspresi yang bermakna; terkesan ditulis asal-asalan.Larik yang ditulis berjumlah 4 baris, namun antarsatu larik dan larik lain belum menunjukkan kesatuan tema atau suasana yang jelas.Larik yang ditulis berjumlah 4 baris atau lebih, membentuk kesatuan ekspresi yang cukup jelas, dan mencerminkan upaya sungguh-sungguh dalam mengungkapkan perasaan atau gambaran.Larik yang ditulis berjumlah 4 baris atau lebih, membentuk kesatuan ekspresi yang kuat, memperlihatkan kepekaan diksi, dan berhasil menyampaikan perasaan atau gambaran secara menarik dan berkesan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah dapat membedakan ketiga jenis makna (denotatif, konotatif, kiasan) pada akhir sesi Memahami? Siapa yang masih perlu penguatan dan bagaimana saya akan menindaklanjutinya?
  • Apakah alokasi waktu untuk tahap Mengaplikasi (menulis larik puisi) sudah cukup, atau perlu disesuaikan pada pertemuan serupa berikutnya?
  • Apakah Kartu Kata Konotatif dan kalimat pancing larik cukup membantu murid yang mengalami kesulitan? Apa yang bisa saya perbaiki dari diferensiasi yang saya berikan hari ini?
  • Sejauh mana suasana kelas selama sesi berbagi larik puisi terasa aman dan apresiatif? Apa yang perlu saya jaga atau tingkatkan agar murid lebih berani mengekspresikan diri?

Refleksi Murid:

  • Dari tiga jenis makna yang kamu pelajari hari ini (denotatif, konotatif, kiasan), mana yang paling mudah kamu pahami dan mana yang masih membingungkan? Mengapa?
  • Kata konotatif atau ungkapan kiasan mana yang kamu pilih dalam larik puisimu? Mengapa kata atau ungkapan itu terasa paling tepat untuk mengungkapkan apa yang ingin kamu sampaikan?
  • Bagaimana perasaanmu saat menulis larik puisi hari ini? Apa yang terasa sulit dan apa yang terasa menyenangkan?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII (Penulis: Elly Delfia, Maya Lestari Gusfitri, Kemdikbudristek 2024) — Bab 5: Menciptakan Puisi Mengungkapkan Isi Hati
  2. Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII Edisi Revisi (Kemdikbudristek)
  3. Penggalan puisi karya penyair Indonesia (misal: Chairil Anwar, W.S. Rendra, atau Sapardi Djoko Damono) yang relevan untuk analisis makna konotatif dan kiasan
  4. Kartu Kata Konotatif: lembar cetak atau tayangan berisi 10–15 kata pilihan bermakna konotatif kuat (disiapkan oleh guru)
  5. Papan tulis / proyektor / layar untuk menampilkan puisi contoh dan dua kalimat diagnostik pada asesmen awal
  6. Buku tulis / kertas untuk menulis Tabel Identifikasi Kata dan larik puisi murid

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.