Modul AjarPertemuan 6Bab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 8: Membandingkan Kata Bermakna Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fiksi

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 8 dengan topik "Membandingkan Kata Bermakna Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fiksi". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 8: Membandingkan Kata Bermakna Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fiksi

Bahasa Indonesia - Kelas 8

Bab 4 - Pertemuan 6

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Membandingkan Kata Bermakna Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fiksi

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikMembandingkan Kata Bermakna Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fiksi
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat mengidentifikasi dan membandingkan kata bermakna denotasi dan konotasi dalam cerpen yang dibaca dengan menjelaskan perbedaan makna secara tepat.
  2. Murid dapat menyusun kalimat baru yang menggunakan kata bermakna denotasi dan konotasi yang ditemukan dalam karya fiksi secara tepat dan kontekstual.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian mendengar seseorang berkata 'dia dibawa ke meja hijau'? Apa yang kalian bayangkan pertama kali — meja berwarna hijau, atau sesuatu yang lain?
  2. Mengapa penulis cerpen sering memilih kata-kata seperti 'wajahnya sekusut kain lap' daripada sekadar 'wajahnya kusut'? Apa bedanya bagi pembaca?
  3. Kalau kalian ingin menceritakan kesedihan seseorang dengan cara yang paling berkesan, kira-kira kata-kata seperti apa yang akan kalian pilih?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengajak murid menyiapkan diri secara fisik dan mental (duduk nyaman, buku terbuka di halaman yang relevan).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: menampilkan dua kalimat di papan tulis — (1) 'Jalanan sepi sekali pagi ini.' dan (2) 'Jalanan sesunyi kuburan pagi ini.' — lalu meminta murid dengan cepat menuliskan di selembar kertas kecil: mana yang terasa lebih hidup dan mengapa. Jawaban dikumpulkan sebagai data awal pemahaman murid.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini secara singkat: murid akan belajar membedakan makna denotasi dan konotasi dalam cerpen, lalu berlatih menyusun kalimat sendiri menggunakan kedua jenis makna tersebut.
  • Guru melontarkan pertanyaan pemantik secara lisan untuk membangun rasa ingin tahu: 'Pernahkah kalian mendengar ungkapan dibawa ke meja hijau? Apa yang kalian bayangkan?' Beri waktu 1-2 menit untuk respons spontan murid.
  • Guru menyampaikan alur kegiatan hari ini secara singkat agar murid tahu apa yang akan mereka lakukan.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menjelaskan konsep denotasi dan konotasi secara ringkas menggunakan contoh visual di papan tulis atau slide: pasangan kalimat denotasi-konotasi dari konteks nyata (contoh: 'Sopir mengendarai bus dengan kencang.' vs. 'Sopir mengendarai bus seakan sedang di arena balapan.') disandingkan agar perbedaannya langsung terasa.
  • Guru menunjukkan contoh dari buku siswa halaman 150 — tabel kalimat denotasi dan konotasi — dan mengajak murid membaca bersama sambil guru mengarahkan perhatian ke perbedaan 'makna faktual' versus 'makna yang memicu perasaan/gambaran tertentu'.
  • Murid membaca penggalan cerpen pendek yang telah disiapkan guru (±1 halaman, dipilih dari cerpen yang familiar atau dari buku siswa). Saat membaca, murid diminta memberikan tanda garis bawah pada kata atau frasa yang terasa 'berbeda dari makna biasanya' — ini melatih kesadaran membaca (berkesadaran).
  • Guru memfasilitasi diskusi kelas singkat: beberapa murid diminta menyebutkan kata/frasa yang mereka tandai dan menjelaskan mengapa. Guru memberikan umpan balik langsung untuk meluruskan atau memperkuat pemahaman.
  • Murid mengisi tabel identifikasi mandiri: mencatat kata/frasa dari cerpen ke dalam dua kolom — Denotasi dan Konotasi — disertai penjelasan singkat makna masing-masing. (Prinsip bermakna: konteks diambil dari karya fiksi nyata yang relevan dengan kehidupan remaja.)

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memperkenalkan tantangan 'Tukar Rasa': murid memilih 3 kata/frasa denotasi dari tabel identifikasi mereka, lalu mengubahnya menjadi kalimat konotasi — dan sebaliknya, 2 kalimat konotasi dari cerpen diubah menjadi kalimat denotasi. Ini melatih pemahaman dua arah.
  • Murid bekerja secara mandiri selama ±10 menit menyusun minimal 5 kalimat baru (kombinasi denotasi dan konotasi) yang kontekstual — artinya kalimat yang mereka buat terasa wajar dipakai dalam cerita atau percakapan sehari-hari, bukan sekadar definisi.
  • Setelah selesai, murid berpasangan dan saling membacakan kalimat buatan masing-masing. Pasangannya menebak: apakah kalimat itu bermakna denotasi atau konotasi? Jika tebakan salah, pembuat kalimat menjelaskan maksudnya. Kegiatan ini menggembirakan sekaligus memperkuat pemahaman melalui interaksi.
  • Guru berkeliling memantau dan memberikan umpan balik formatif langsung kepada pasangan-pasangan yang membutuhkan bimbingan — dicatat sebagai data asesmen proses.
  • Beberapa pasangan diminta berbagi satu kalimat terbaik mereka ke seluruh kelas. Kelas memberikan respons: 'Sudah tepat' atau 'Masih bisa diperkuat' disertai alasan singkat.

Merefleksi (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Guru mengajak murid berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: 'Dari semua kalimat yang sudah saya buat hari ini, mana yang paling saya banggakan dan mengapa?' Murid menuliskan jawabannya dalam 2-3 kalimat di buku catatan mereka.
  • Guru memfasilitasi refleksi bersama: 'Setelah hari ini, ketika kalian membaca cerpen lagi, apa yang akan kalian perhatikan berbeda dibanding sebelumnya?' Beberapa murid berbagi secara sukarela.
  • Murid melakukan penilaian diri (self-assessment) dengan mengisi lembar centang sederhana: (1) Saya dapat membedakan kata denotasi dan konotasi dalam cerpen. (2) Saya dapat menyusun kalimat denotasi dengan tepat. (3) Saya dapat menyusun kalimat konotasi yang kontekstual. Skala: Sudah bisa sendiri / Masih butuh bantuan / Belum paham.
  • Guru mengumpulkan lembar penilaian diri sebagai bahan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: denotasi adalah makna faktual/sebenarnya dari sebuah kata, sedangkan konotasi adalah makna yang mengandung nilai emosional dan gambaran tambahan. Penulis fiksi memanfaatkan konotasi untuk membuat cerita lebih hidup dan berkesan.
  • Guru melaksanakan asesmen akhir singkat: murid mengerjakan 3 soal tertulis di selembar kertas — (1) identifikasi apakah kalimat X bermakna denotasi atau konotasi disertai alasan, (2) ubah satu kalimat denotasi menjadi kalimat konotasi, (3) ubah satu kalimat konotasi menjadi kalimat denotasi. Dikumpulkan sebelum pulang.
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi murid hari ini dan menyampaikan keterkaitan materi ini dengan pertemuan berikutnya (langkah penulisan resensi karya fiksi).
  • Guru menutup pembelajaran dengan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan dukungan tambahan diberikan cerpen yang lebih pendek (±setengah halaman) dengan kosakata lebih sederhana, disertai daftar kata kunci yang perlu diidentifikasi. Murid yang sudah mahir diberikan cerpen dengan kosakata lebih kaya dan diminta mengidentifikasi lebih banyak contoh konotasi yang bersifat kiasan (majas).
  • Proses: Murid yang lebih lambat dalam memahami dapat bekerja berpasangan bersama teman sebaya yang lebih cepat pada tahap Memahami, sebelum bekerja mandiri di tahap Mengaplikasi. Murid yang lebih cepat dapat langsung melanjutkan ke tantangan lanjutan: menganalisis efek pemilihan kata konotasi terhadap suasana cerita.
  • Produk: Murid dengan kemampuan dasar menyusun minimal 3 kalimat (campuran denotasi dan konotasi). Murid dengan kemampuan lebih tinggi menyusun minimal 6 kalimat dan diminta membuat satu paragraf pendek cerpen yang secara sadar memadukan kata denotasi dan konotasi.

ASESMEN

Awal:

  • Di awal pendahuluan, guru menampilkan dua kalimat (denotasi vs. konotasi) dan meminta murid menuliskan di kertas kecil: mana yang terasa lebih hidup dan mengapa. Hasilnya digunakan guru untuk mengukur prior knowledge dan mengelompokkan murid secara informal.

Proses:

  • Observasi saat murid mengisi tabel identifikasi kata denotasi-konotasi dari cerpen — guru mencatat akurasi dan kelengkapan.
  • Pemantauan saat kegiatan tebak-makna berpasangan — guru menilai kemampuan menjelaskan pilihan kata.
  • Umpan balik lisan guru saat beberapa pasangan mempresentasikan kalimat terbaik mereka ke kelas.

Akhir:

  • Tiga soal tertulis dikerjakan secara mandiri di akhir pembelajaran: (1) identifikasi apakah kalimat yang diberikan bermakna denotasi atau konotasi beserta alasan, (2) mengubah satu kalimat denotasi menjadi kalimat konotasi yang kontekstual, (3) mengubah satu kalimat konotasi menjadi kalimat denotasi. Dinilai menggunakan rubrik 4 level.

Formatif:

  • Pengamatan guru saat murid memberikan tanda pada kata/frasa dalam cerpen (tahap Memahami) — guru mencatat murid yang tepat dan yang masih keliru.
  • Kegiatan tebak-makna berpasangan pada tahap Mengaplikasi — guru memantau ketepatan dan kemampuan murid menjelaskan pilihan kata mereka.
  • Penilaian diri (self-assessment) pada lembar centang di akhir tahap Merefleksi.

Sumatif:

  • Tiga soal tertulis asesmen akhir: (1) identifikasi jenis makna dengan alasan, (2) mengubah kalimat denotasi menjadi konotasi, (3) mengubah kalimat konotasi menjadi denotasi — dikumpulkan di akhir pertemuan.
  • Kalimat-kalimat baru yang disusun murid pada tahap Mengaplikasi dinilai berdasarkan ketepatan dan kontekstualitas penggunaan.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi dan Membandingkan Kata Denotasi dan Konotasi dalam CerpenMurid belum dapat membedakan kata bermakna denotasi dan konotasi, atau penjelasan yang diberikan tidak relevan dengan makna kata.Murid dapat mengidentifikasi beberapa kata denotasi atau konotasi, tetapi penjelasan perbedaan maknanya masih kurang tepat atau belum lengkap.Murid dapat mengidentifikasi dan membandingkan kata denotasi dan konotasi dalam cerpen dengan penjelasan yang sebagian besar tepat.Murid dapat mengidentifikasi dan membandingkan kata denotasi dan konotasi dalam cerpen secara tepat dan lengkap, disertai penjelasan perbedaan makna yang jelas dan akurat.
Menyusun Kalimat Baru Bermakna Denotasi dan KonotasiKalimat yang disusun tidak mencerminkan pemahaman tentang denotasi atau konotasi, atau kalimat tidak dapat dipahami maknanya.Murid menyusun kalimat yang menunjukkan pemahaman awal tentang denotasi atau konotasi, tetapi kalimat kurang tepat atau kurang kontekstual.Murid menyusun kalimat bermakna denotasi dan konotasi dengan tepat, meskipun beberapa kalimat konotasinya masih terasa kurang alami dalam konteks fiksi.Murid menyusun kalimat bermakna denotasi dan konotasi secara tepat dan kontekstual — kalimat terasa wajar, natural, dan sesuai jika digunakan dalam karya fiksi.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat mencapai kedua tujuan pembelajaran hari ini? Kelompok mana yang masih perlu perhatian khusus?
  • Apakah contoh-contoh cerpen dan pasangan kalimat yang digunakan cukup relevan dan menarik bagi murid kelas 8?
  • Apakah alokasi waktu untuk setiap tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah seimbang? Tahap mana yang perlu disesuaikan di pertemuan serupa?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah efektif menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda?

Refleksi Murid:

  • Apa satu hal baru yang kamu pelajari hari ini tentang kata denotasi dan konotasi yang belum kamu ketahui sebelumnya?
  • Kalimat konotasi mana yang paling kamu sukai — milikmu atau milik temanmu — dan apa yang membuatnya berkesan?
  • Setelah belajar hari ini, bagian mana yang masih terasa membingungkan dan ingin kamu pelajari lebih lanjut?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VIII (Edisi Revisi) — Elly Delfia & Maya Lestari Gusfitri, halaman 150 (tabel Kegiatan 8: Mengidentifikasi Kata Denotasi dan Konotasi)
  2. Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi), halaman 132–134 (subbab d: Membandingkan Kata Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fiksi)
  3. Teks cerpen pendek pilihan guru (1 halaman, disesuaikan dengan level kelas 8 dan relevan dengan kehidupan remaja)
  4. Lembar kerja tabel identifikasi denotasi-konotasi (disiapkan guru)
  5. Lembar asesmen akhir berisi 3 soal (disiapkan guru)
  6. Lembar penilaian diri murid (self-assessment checklist)
  7. Papan tulis / slide presentasi untuk menampilkan contoh pasangan kalimat denotasi-konotasi

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.