Modul AjarBab 3Fase DSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 7 untuk Bab 3 "Hal yang Baik bagi Tubuh", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh

Bahasa Indonesia - Kelas 7

Bab 3

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 3 — Hal yang Baik bagi Tubuh

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 3 — Hal yang Baik bagi Tubuh
Alokasi Waktu30 JP (30 x 40 menit = 1200 menit)
Jumlah Pertemuan12
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.3.1 Menganalisis arahan dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang petunjuk hidup sehat
  2. TP 7.3.2 Menganalisis arahan dari teks visual infografik tentang kebiasaan hidup sehat untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
  3. TP 7.3.3 Mengevaluasi kualitas dari berbagai tipe teks berwujud teks visual panduan kesehatan menggunakan sumber informasi lain
  4. TP 7.3.4 Mempresentasikan arahan untuk tujuan pemberian solusi dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif mengenai rutinitas kesehatan remaja
  5. TP 7.3.5 Menulis arahan dalam teks prosedur secara logis dan kritis mengenai cara menjaga kebugaran tubuh

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Ketika seseorang membacakan petunjuk hidup sehat, bagaimana kita membedakan kalimat yang berisi arahan tindakan dengan kalimat yang hanya berupa informasi penjelas?
  2. Mengapa kita perlu menganalisis maksud dan tujuan dari setiap arahan kesehatan yang kita dengarkan?
  3. Saat kalian mendengarkan panduan kesehatan yang panjang, bagaimana cara membedakan rincian arahan yang pokok dengan arahan pendukung?
  4. Mengapa kita perlu menganalisis secara cermat urutan dan syarat dalam arahan lisan agar manfaat sehatnya tercapai maksimal?
  5. Pernahkah kalian membaca poster atau gambar petunjuk kesehatan yang memuat teks dan gambar sekaligus?
  6. Bagaimana cara kita menemukan arahan yang tertulis langsung (tersurat) dalam sebuah infografik kesehatan?
  7. Ketika sebuah infografik menyatakan 'Kalian mengurangi peluang masuk berita sebagai korban keracunan makanan', arahan tersembunyi apa yang sebenarnya ingin disampaikan pembuat infografik kepada pembaca?
  8. Mengapa teks arahan kesehatan pada infografik sering kali tidak menuliskan larangan secara gamblang melainkan melalui sindiran halus atau simpulan tersirat?
  9. Bagaimana kita membuktikan bahwa petunjuk gerakan peregangan pada sebuah poster atau infografik benar-benar jelas dan aman untuk diikuti?
  10. Mengapa kita perlu membandingkan teks visual panduan kesehatan dengan sumber rujukan medis atau artikel kesehatan lain sebelum memercayai kejelasannya?
  11. Bagaimana kita mengetahui bahwa sebuah infografik panduan kesehatan sudah menyajikan informasi secara lengkap dan tidak ada langkah penting yang terlewat?
  12. Mengapa kita perlu membandingkan sebuah teks visual panduan kesehatan dengan sumber informasi lain seperti artikel medis atau panduan resmi pemerintah?
  13. Bagaimana cara kita menyampaikan arahan solusi rutinitas kesehatan secara mandiri dalam bentuk monolog agar teman sebaya terdorong untuk mempraktikkannya?
  14. Mengapa dalam memberikan arahan solusi kesehatan, kita perlu menghubungkan alasan yang kritis dengan gagasan langkah yang kreatif?
  15. Bagaimana caramu menyampaikan sebuah solusi kesehatan agar teman sebayamu langsung tergerak untuk mengubah rutinitas hariannya secara nyata?
  16. Mengapa sebuah monolog arahan kesehatan remaja harus menyajikan gagasan yang kritis serta pilihan solusi yang kreatif?
  17. Mengapa teks prosedur yang baik harus merumuskan tujuan yang jelas sebelum memberikan langkah-langkah?
  18. Bagaimana cara menyusun pokok-pokok arahan agar pembaca dapat menjaga kebugaran tubuhnya secara aman dan masuk akal?
  19. Mengapa urutan langkah dalam teks prosedur kebugaran tubuh harus ditulis secara logis dan berurutan dari pemanasan hingga pendinginan?
  20. Apa risiko yang dapat terjadi jika seseorang melakukan gerakan olahraga inti tanpa mengikuti arahan tahapan persiapan terlebih dahulu?
  21. Mengapa urutan langkah arahan dalam teks prosedur kebugaran jasmani harus tersusun secara logis dan runtut?
  22. Bagaimana cara kita mengkritisi arahan latihan fisik yang masih berisiko menimbulkan cedera atau rancu agar menjadi aman dan tepat sasaran?
  23. Bagaimana kita membuktikan bahwa arahan hidup sehat yang kita dengar, baca, dan tulis benar-benar bermanfaat serta dapat dipertanggungjawabkan?
  24. Mengapa menyampaikan solusi rutinitas kesehatan remaja secara monolog memerlukan penalaran yang kritis dan penyampaian yang kreatif?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Arahan Langkah Awal Hidup Sehat dari Teks Nonsastra Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.1 Menganalisis arahan dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang petunjuk hidup sehat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid menyiapkan catatan menyimak (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis arahan langkah awal hidup sehat dari teks nonsastra berbentuk teks aural yang dibacakan guru (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal dengan membacakan 2 kalimat pendek: (1) 'Minumlah air putih minimal delapan gelas sehari agar tubuh tidak dehidrasi' dan (2) 'Air adalah komponen terbesar dalam tubuh manusia'. Murid diminta menuliskan kalimat mana yang merupakan arahan dan mana yang merupakan informasi umum beserta alasannya (acuan: Kalimat 1 = arahan/petunjuk tindakan karena memuat kata kerja imperatif 'minumlah' dan tindakan nyata; Kalimat 2 = informasi fakta/penjelas karena hanya menyatakan kondisi) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membacakan teks nonsastra aural berjudul 'Langkah Awal Memulai Pagi Sehat' sebanyak dua kali dengan artikulasi jelas (isi teks aural: 'Memulai hari dengan sehat sangat menentukan kebugaran tubuhmu. Pertama, minumlah segelas air putih hangat segera setelah bangun tidur untuk mengaktifkan organ pencernaan. Kedua, lakukan peregangan otot ringan selama lima menit guna melancarkan sirkulasi darah. Ketiga, konsumsilah sarapan bernutrisi seimbang seperti telur dan buah sebelum pukul delapan pagi agar energimu tercukupi. Jangan langsung membuka gawai saat membuka mata agar pikiranmu tidak mudah terbebani stres sejak dini.') (10 menit).
  • Murid menyimak dan mencatat kata kerja tindakan serta tujuan yang terkandung dalam teks aural tersebut ke dalam tabel simakan di buku catatan (10 menit).
  • Guru memandu telaah bersama mengenai konsep arahan: bahwa arahan dalam teks aural memuat tindakan yang wajib dilakukan/dihindari serta alasan/tujuan dari tindakan tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan aktivitas ceria berpasangan 'Tebak Arahan Cepat', di mana guru membacakan 3 pernyataan aural cepat secara acak lalu tiap pasangan mengangkat kartu simbol tindakan/bukan tindakan untuk melatih kejelian analisis arahan secara tanggap (10 menit).
  • Guru membacakan teks nonsastra aural kedua berjudul 'Panduan Memulai Kebiasaan Makan Sehat': 'Banyak remaja mengabaikan pola sarapan. Berikut arahan langkah awal yang perlu kamu terapkan: (1) Kunyahlah makanan perlahan hingga lumat agar lambung dapat mencerna dengan optimal. (2) Batasi konsumsi minuman manis kemasan maksimal satu kali seminggu untuk mencegah penumpukan gula berlebih. (3) Tambahkan porsi sayuran hijau di setiap piring makanmu guna memenuhi asupan serat harian. (4) Hindari melewatkan sarapan pagi supaya konsentrasi belajarmu tidak menurun di sekolah.' (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis 4 arahan dari teks aural kedua tersebut pada Lembar Analisis Arahan Aural dengan menguraikan: tindakan yang diarahkan, jenis arahan (anjuran/larangan), serta tujuan arahan (kunci acuan: Butir 1: Tindakan = mengunyah makanan perlahan hingga lumat, Jenis = anjuran, Tujuan = agar lambung mencerna optimal; Butir 2: Tindakan = membatasi minuman manis kemasan maksimal seminggu sekali, Jenis = anjuran/pembatasan, Tujuan = mencegah penumpukan gula berlebih; Butir 3: Tindakan = menambahkan porsi sayuran hijau di setiap piring makan, Jenis = anjuran, Tujuan = memenuhi asupan serat harian; Butir 4: Tindakan = tidak melewatkan sarapan pagi, Jenis = larangan/pantangan, Tujuan = menjaga konsentrasi belajar di sekolah) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membandingkan hasil analisisnya dengan acuan kunci yang dipaparkan guru, menandai analisis yang sudah tepat dan bagian yang masih keliru memahami hubungan tindakan-tujuan (10 menit).
  • Guru memfasilitasi murid merumuskan simpulan tentang pentingnya ketelitian menyimak saat memilah arahan dan tujuan dalam teks petunjuk hidup sehat (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik klasikal terkait kemampuan murid membedakan arahan tindakan dan tujuan tindakan dari teks aural (10 menit).
  • Guru menyampaikan agenda lanjutan pada pertemuan berikutnya (menganalisis rincian arahan petunjuk lanjutan) dan menutup sesi dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan teks aural dengan jeda yang lebih lambat pada tiap butir arahan; bagi murid yang cepat paham, teks dibacakan dengan kecepatan wajar alami tanpa pengulangan berlebih.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan dipandu menggunakan lembar berstruktur rumpang (menjodohkan tindakan dengan tujuan); murid mahir menuliskan analisis tindakan, jenis arahan, dan tujuan secara mandiri tanpa template rumpang.
  • Produk: Semua murid menghasilkan analisis 4 butir arahan yang sama, dengan kedalaman uraian tujuan sesuai tingkat pemahaman bahasa murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid mendengarkan 2 kalimat aural yang dibacakan guru: (1) 'Minumlah air putih minimal delapan gelas sehari agar tubuh tidak dehidrasi' dan (2) 'Air adalah komponen terbesar dalam tubuh manusia'. Murid menentukan kalimat mana yang merupakan arahan dan penjelasannya (Acuan benar: Kalimat 1 merupakan arahan karena berisi perintah/anjuran tindakan spesifik menggunakan kata kerja imperatif 'minumlah' dengan tujuan pencegahan dehidrasi; Kalimat 2 adalah kalimat penjelas/fakta karena hanya memberikan informasi tanpa instruksi tindakan).

Proses:

  • Tugas analisis teks aural 'Panduan Memulai Kebiasaan Makan Sehat' pada Lembar Analisis Arahan Aural. Kriteria penilaian: ketepatan menganalisis 4 butir arahan (tindakan, jenis anjuran/larangan, dan tujuan). Kunci acuan: (1) Mengunyah makanan perlahan hingga lumat -> anjuran -> lambung mencerna optimal; (2) Membatasi minuman manis kemasan maksimal sekali seminggu -> pembatasan/anjuran -> mencegah gula berlebih; (3) Menambahkan sayuran hijau di tiap piring -> anjuran -> memenuhi serat harian; (4) Hindari melewatkan sarapan -> larangan -> agar konsentrasi belajar tidak turun.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat: Murid menuliskan satu kalimat simpulan reflektif mengenai perbedaan antara tindakan arahan dengan tujuan arahan berdasarkan hasil analisis teks aural hari ini (Kriteria penerimaan: murid menuliskan dengan jelas bahwa tindakan arahan adalah perbuatan fisik/langkah yang diminta untuk dilakukan atau dihindari, sedangkan tujuan arahan adalah manfaat atau dampak kesehatan yang hendak dicapai).

Formatif:

  • Tes lisan/tulis singkat asesmen awal identifikasi kalimat arahan
  • Lembar Analisis Arahan Aural saat kegiatan inti mengaplikasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menganalisis Arahan dari Teks AuralMenganalisis kurang dari 2 butir arahan dengan tepat dari 4 butir teks aural yang diperdengarkan (acuan butir 1-4).Menganalisis 2 butir arahan dengan tepat (memuat tindakan dan tujuannya) dari 4 butir teks aural yang diperdengarkan (acuan butir 1-4).Menganalisis 3 dari 4 butir arahan dengan tepat (memuat tindakan, jenis arahan, dan tujuannya) sesuai acuan butir 1-4.Menganalisis seluruh 4 butir arahan dengan tepat dan lengkap (memuat tindakan, jenis anjuran/larangan, dan tujuannya) secara mandiri sesuai acuan butir 1-4.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pelafalan dan kecepatan membaca teks aural sudah memfasilitasi murid menangkap arahan secara fokus?
  • Bagian mana dari analisis arahan (tindakan vs tujuan) yang paling sering membingungkan bagi murid?

Murid:

  • Bagian mana dari teks petunjuk kesehatan yang dibacakan tadi yang paling mudah kamu kenali arahannya?
  • Strategi apa yang membantumu mengingat dan menganalisis arahan saat mendengarkan teks tadi?

Pertemuan 2 — Menganalisis Rincian Arahan Petunjuk Hidup Sehat Lanjutan dari Teks Nonsastra Aural — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.1 Menganalisis arahan dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang petunjuk hidup sehat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam pembuka, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran dengan pertemuan sebelumnya mengenai arahan langkah awal hidup sehat, lalu menyampaikan fokus pertemuan hari ini yaitu menganalisis rincian arahan petunjuk hidup sehat lanjutan (syarat, durasi, dan batasan) dari teks nonsastra aural (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: guru membacakan rekaman lisan 1 kalimat panduan ('Minumlah air putih minimal dua liter per hari dan hindari minuman berpemanis buatan') lalu meminta murid menuliskan 2 butir rincian arahan yang disimak pada secarik kertas (acuan jawaban: 1) minum air putih minimal 2 liter per hari; 2) menghindari minuman berpemanis buatan) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang cara menganalisis rincian arahan lanjutan dalam teks aural nonsastra yang mencakup: tindakan yang diarahkan, rincian teknis (takaran/durasi/waktu), serta batasan atau larangan yang menyertai arahan tersebut (10 menit).
  • Guru memperdengarkan teks aural panduan kesehatan lanjutan berjudul 'Petunjuk Pola Istirahat dan Pemulihan Fisik Remaja': 'Remaja membutuhkan waktu tidur malam teratur antara 8 hingga 9 jam setiap hari. Matikan seluruh perangkat gawai setidaknya 30 menit sebelum tidur agar produksi hormon melatonin tidak terganggu. Usahakan suhu kamar sejuk dan kondisi ruangan gelap gulita untuk mencapai tidur lelap. Hindari mengonsumsi minuman berkafein atau makanan berat dalam rentang waktu 3 jam sebelum waktu tidur.' (10 menit).
  • Murid bersama bimbingan guru menganalisis rincian arahan dari teks aural percontohan tersebut dengan menguraikan 4 rincian arahan: 1) durasi tidur malam 8-9 jam; 2) mematikan gawai minimal 30 menit sebelum tidur; 3) mengatur suhu kamar sejuk serta ruangan gelap gulita; 4) batasan tidak mengonsumsi kafein atau makanan berat 3 jam sebelum tidur (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan aural interaktif 'Tantangan Detektif Arahan' untuk melatih kejelian menyimak: guru membacakan secara lisan 4 butir pernyataan cepat dan murid secara berpasangan saling menguji cepat apakah pernyataan tersebut memuat rincian tindakan, takaran/waktu, atau batasan (Pernyataan: 1. 'Lakukan peregangan otot selama 10 menit setiap pagi', acuan: tindakan dan durasi; 2. 'Jangan mengonsumsi garam lebih dari 1 sendok teh per hari', acuan: batasan dan takaran; 3. 'Jalan kaki 5.000 langkah sebelum pukul sembilan pagi', acuan: tindakan, target, dan batas waktu; 4. 'Hindari tidur larut malam melampaui pukul 22.00', acuan: batasan dan batas waktu) (15 menit).
  • Guru memperdengarkan/membacakan teks nonsastra aural utama sebanyak dua kali berjudul 'Panduan Aktivitas Fisik dan Pengaturan Cairan Saat Berolahraga': 'Sebelum memulai olahraga berat, lakukan pemanasan dinamis selama 10 sampai 15 menit untuk mencegah cedera otot. Minumlah air putih sebanyak 200 hingga 250 mililiter setiap 20 menit saat berolahraga tanpa menunggu rasa haus datang. Apabila berolahraga di bawah terik matahari, gunakan pelindung kepala dan batasi durasi latihan maksimal 60 menit per sesi. Segera hentikan aktivitas dan beristirahatlah di tempat teduh jika merasa pusing atau detak jantung berdegup tidak teratur.' (15 menit).
  • Secara mandiri, murid menganalisis rincian arahan petunjuk hidup sehat dari teks aural yang didengarnya dan menuliskannya ke dalam Lembar Analisis Arahan yang mencakup 4 butir arahan spesifik (acuan jawaban: 1) Melakukan pemanasan dinamis selama 10-15 menit sebelum olahraga berat; 2) Meminum air putih 200-250 ml setiap 20 menit saat latihan tanpa menunggu haus; 3) Menggunakan pelindung kepala dan membatasi durasi latihan maksimal 60 menit saat terik; 4) Menghentikan aktivitas dan istirahat di tempat teduh jika pusing atau detak jantung tidak teratur) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan hasil analisis rincian arahan masing-masing berdasarkan kunci acuan rincian yang dibacakan kembali oleh guru, menandai rincian yang sudah tepat dan yang terlewat (10 menit).
  • Murid merenungkan kendala saat menyimak rincian arahan aural (seperti angka takaran, durasi, atau syarat tindakan) dan merumuskan cara agar dapat menangkap rincian arahan lisan secara utuh pada kegiatan berikutnya (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan penguatan atas hasil analisis rincian arahan teks nonsastra aural yang telah dikerjakan murid (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi terhadap kemandirian murid saat menyimak, mengingatkan pentingnya menerapkan arahan kesehatan dalam keseharian, lalu mengakhiri sesi dengan doa bersama dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, teks aural utama dibacakan dengan tempo lebih lambat dan jeda antarkalimat lebih panjang. Untuk murid yang lebih cepat, teks diperdengarkan dengan kecepatan bicara normal tanpa pengulangan berlebih.
  • Proses: Murid yang memerlukan scaffolding diberikan lembar pemandu dengan kolom rincian yang telah terbagi menjadi kategori (Tindakan - Takaran/Waktu - Batasan). Murid cepat menganalisis rincian secara mandiri pada lembar kerja terbuka tanpa petunjuk kolom pemilah.
  • Produk: Semua murid menghasilkan analisis rincian arahan teks aural yang sama; murid yang berkembang lebih cepat dapat menuliskan seluruh rincian tambahan kondisi khusus (misal kondisi terik dan kondisi pusing) secara utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid menyimak 1 kalimat panduan lisan: 'Minumlah air putih minimal dua liter per hari dan hindari minuman berpemanis buatan.' Murid menuliskan 2 butir rincian arahan yang disimak. Kunci acuan: 1) Minum air putih minimal dua liter per hari; 2) Menghindari minuman berpemanis buatan. Ketuntasan: tepat menuliskan kedua rincian.

Proses:

  • Analisis mandiri lembar kerja menyimak teks aural 'Panduan Aktivitas Fisik dan Pengaturan Cairan Saat Berolahraga'. Kunci acuan 4 rincian arahan: 1) Melakukan pemanasan dinamis selama 10-15 menit sebelum olahraga berat; 2) Meminum air putih 200-250 ml setiap 20 menit saat latihan tanpa menunggu haus; 3) Menggunakan pelindung kepala dan membatasi latihan maksimal 60 menit jika berada di bawah terik matahari; 4) Menghentikan aktivitas serta beristirahat di tempat teduh jika timbul pusing atau detak jantung tidak teratur. Kriteria: diukur dari jumlah dan ketepatan rincian arahan yang berhasil dianalisis (maksimal 4 butir).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menyebutkan secara tertulis 1 batasan utama saat berolahraga terik matahari berdasarkan teks aural yang telah dianalisis (acuan: membatasi durasi latihan maksimal 60 menit per sesi dan memakai pelindung kepala).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi 2 rincian arahan dari 1 kalimat aural panduan minum air putih.
  • Asesmen proses (LKPD analisis aural mandiri): menganalisis 4 rincian arahan petunjuk hidup sehat dari teks lisan 'Panduan Aktivitas Fisik dan Pengaturan Cairan Saat Berolahraga'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menganalisis rincian arahan dari teks auralMenganalisis 1 dari 4 rincian arahan petunjuk hidup sehat dari teks aural secara tepat sesuai kunci acuan, masih membutuhkan bimbingan penuh guru.Menganalisis 2 dari 4 rincian arahan petunjuk hidup sehat dari teks aural secara tepat sesuai kunci acuan dengan sedikit bantuan guru.Menganalisis 3 dari 4 rincian arahan petunjuk hidup sehat dari teks aural secara tepat sesuai kunci acuan secara mandiri.Menganalisis seluruh 4 rincian arahan petunjuk hidup sehat (tindakan, durasi/takaran, dan batasan) dari teks aural secara lengkap dan tepat sesuai kunci acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah artikulasi dan tempo pembacaan teks nonsastra aural sudah memadai bagi semua murid untuk menganalisis rincian arahan?
  • Bagian rincian mana (takaran, waktu, atau syarat/batasan) yang paling sering terlewat oleh murid saat menyimak?

Murid:

  • Rincian arahan apa yang paling mudah dan paling sulit saya tangkap saat menyimak petunjuk kesehatan tadi?
  • Strategi apa yang membantu saya mengingat rincian angka atau batasan saat teks aural dibacakan?

Pertemuan 3 — Menganalisis Makna Tersurat Arahan Kebiasaan Hidup Sehat pada Infografik — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.2 Menganalisis arahan dari teks visual infografik tentang kebiasaan hidup sehat untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis makna tersurat arahan kebiasaan hidup sehat pada teks visual infografik (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid membaca infografik mini 'Minum Air Putih' yang memuat teks 'Minum air 8 gelas sehari untuk menjaga cairan tubuh' lalu menjawab 2 pertanyaan tertulis: (1) Apa arahan yang tertulis langsung tentang jumlah air yang harus diminum? (acuan: minum 8 gelas sehari); (2) Untuk apa arahan itu dilakukan menurut teks? (acuan: menjaga cairan tubuh) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagikan salinan infografik 'Tip Waktu Makan Ideal' (Gambar 3.2 Buku Siswa) yang memuat teks tertulis: 'Waktu ideal makan siang', 'Jangan lebih dari jam 16.00 sore', dan 'Jarak ideal makan pagi dan makan siang adalah 4 jam' (10 menit).
  • Murid menyimak pemodelan guru tentang cara menemukan makna tersurat, yaitu arahan atau petunjuk yang tertera secara eksplisit dan tertulis langsung pada teks visual tanpa perlu menafsirkan arti tersembunyi (10 menit).
  • Murid bersama teman sebangku melakukan aktivitas 'Detektif Tersurat' yang menggembirakan: beradu cepat menemukan dan menggarisbawahi 3 kalimat/klausa arahan yang tertulis persis pada lembar infografik latihan (acuan: (1) Waktu ideal makan siang; (2) Jangan lebih dari jam 16.00 sore; (3) Jarak ideal makan pagi dan makan siang adalah 4 jam) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Analisis Infografik Kebiasaan Hidup Sehat yang memuat infografik 'Tip Lebih Baik Bawa Bekal' (Gambar 3.3 Buku Siswa) yang berisi 4 poin tertulis: Sehat (menjauhkan dari boraks, formalin, dan mengurangi peluang keracunan makanan), Hemat (uang jajan bisa ditabung untuk membeli barang yang dibutuhkan), Keren (menyiapkan bekal makan siang sendiri), dan Berbagi (bawalah bekal berlebih untuk dibagi kepada teman) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis 4 butir arahan tersurat pada infografik tersebut dengan melengkapi tabel rincian informasi tersurat: (1) Alasan kesehatan membawa bekal (acuan: menjauhkan dari ancaman boraks, formalin, zat berbahaya/mengurangi peluang keracunan makanan); (2) Manfaat hemat membawa bekal (acuan: uang jajan bisa ditabung untuk membeli barang yang dibutuhkan); (3) Arahan berbagi bekal (acuan: membawa bekal berlebih untuk dibagi kepada teman); (4) Alasan keren membawa bekal (acuan: menyiapkan bekal makan siang sendiri) (10 menit).
  • Guru berkeliling mengamati pengerjaan murid, memberikan bimbingan bagi yang membutuhkan perancah, serta mencatat ketercapaian analisis makna tersurat murid (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis makna tersurat lembar kerja berdasarkan acuan kunci jawaban eksplisit pada infografik untuk mengevaluasi ketepatan analisis masing-masing (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran tentang cara menemukan makna tersurat dari arahan teks visual infografik hidup sehat (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir soal singkat tertulis, menyampaikan rencana materi pertemuan berikutnya (makna tersirat), dan menutup kelas dengan doa serta salam (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan infografik dengan teks berpenanda visual warna tebal bagi murid yang membutuhkan panduan visual lebih nyata.
  • Proses: Memberikan bimbingan terfokus pada baris teks tertentu bagi murid yang kesulitan, serta memberikan tantangan menganalisis detail angka/istilah tersurat tambahan pada infografik bagi murid yang selesai lebih cepat.
  • Produk: Format pengisian tabel analisis dapat berupa kutipan kalimat utuh langsung dari teks visual atau poin rincian kata kunci yang tepat sesuai teks.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik tertulis membaca teks infografik mini 'Minum Air Putih' (Teks: 'Minum air 8 gelas sehari untuk menjaga cairan tubuh'): Butir 1: Sebutkan arahan yang tertulis mengenai takaran minum sehari! (acuan: 8 gelas sehari); Butir 2: Sebutkan manfaat yang tertulis langsung dari meminum air tersebut! (acuan: menjaga cairan tubuh).

Proses:

  • Observasi pengerjaan Lembar Kerja Analisis Makna Tersurat Infografik 'Tip Lebih Baik Bawa Bekal' (4 butir target: (1) Sehat: menjauhkan dari boraks, formalin, zat berbahaya/mengurangi peluang keracunan; (2) Hemat: uang jajan ditabung untuk barang yang dibutuhkan; (3) Berbagi: membawa bekal berlebih untuk dibagi kepada teman; (4) Keren: menyiapkan bekal makan siang sendiri).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 2 butir tertulis dari teks infografik 'Tip Waktu Makan Ideal' (Teks: 'Jangan lebih dari jam 16.00 Sore; Jarak ideal makan pagi dan makan siang adalah 4 jam'): Butir 1: Jam berapakah batas maksimal makan siang yang tertulis pada teks? (acuan: jam 16.00 sore / pukul 4 sore); Butir 2: Berapa jam jarak ideal antara makan pagi dan makan siang menurut teks? (acuan: 4 jam).

Formatif:

  • Penilaian kinerja analisis lembar kerja makna tersurat infografik
  • Cek pemahaman tertulis pada asesmen akhir penutup

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Makna Tersurat Arahan Hidup Sehat pada InfografikMenganalisis tepat 1 dari 4 rincian arahan tersurat pada infografik 'Tip Lebih Baik Bawa Bekal' sesuai acuan (acuan: sehat, hemat, berbagi, keren).Menganalisis tepat 2 dari 4 rincian arahan tersurat pada infografik 'Tip Lebih Baik Bawa Bekal' sesuai acuan.Menganalisis tepat 3 dari 4 rincian arahan tersurat pada infografik 'Tip Lebih Baik Bawa Bekal' sesuai acuan.Menganalisis seluruh 4 rincian arahan tersurat pada infografik 'Tip Lebih Baik Bawa Bekal' secara tepat sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu menemukan informasi dan arahan yang tertulis langsung (tersurat) pada infografik kebiasaan hidup sehat?
  • Bagian mana dari infografik yang paling membuat murid keliru antara informasi tersurat dan penafsiran pribadi?

Murid:

  • Apakah saya dapat menemukan arahan hidup sehat yang tertulis secara langsung pada gambar infografik?
  • Bagian mana dari membaca infografik tadi yang paling mudah dan paling sulit saya temukan jawabannya?

Pertemuan 4 — Menganalisis Makna Tersirat Arahan Kebiasaan Hidup Sehat pada Infografik — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.2 Menganalisis arahan dari teks visual infografik tentang kebiasaan hidup sehat untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kesiapan fisik serta mental murid untuk belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu menganalisis arahan tersirat dalam infografik kebiasaan hidup sehat (lanjutan dari analisis makna tersurat pada pertemuan sebelumnya) (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid membaca satu pernyataan dari infografik 'Jangan biarkan piringmu hanya diisi karbohidrat' lalu memilih makna tersirat yang tepat di antara dua pilihan jawaban yang dibagikan guru (acuan: pilihan A benar, yaitu 'harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan sayur dan lauk pauk'; pilihan B salah, yaitu 'piring harus selalu kosong sebelum dicuci') untuk memetakan kesiapan menafsirkan pesan implisit (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memandu murid mencermati infografik 'Lebih Baik Bawa Bekal' dan membedah perbedaan antara pernyataan tersurat (langsung tertulis) dan arahan tersirat (makna tersembunyi/maksud yang harus disimpulkan pembaca di balik fakta atau kalimat bujukan) (10 menit).
  • Murid bersama guru membedah contoh kalimat arahan pada infografik: 'Uang jajan bisa ditabung untuk membeli barang-barang yang kalian butuhkan' (tersurat: uang saku bisa disimpan; tersirat: arahan untuk menghemat pengeluaran dan hidup hemat dengan tidak membeli jajanan di luar secara boros) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengikuti tantangan berpasangan menggembirakan 'Detektif Pesan Tersirat': setiap pasangan menerima lembar kerja yang memuat 4 cuplikan teks/gambar arahan dari infografik 'Lebih Baik Bawa Bekal' dan 'Tip Waktu Makan Ideal' untuk membongkar maksud tersembunyi di baliknya (15 menit).
  • Murid secara mandiri dalam kelompok kerja menganalisis makna tersirat dari 4 butir teks infografik berikut: (1) Pernyataan 'Kalian mengurangi peluang masuk berita sebagai korban keracunan makanan' (acuan tersirat: arahan agar berhati-hati dan menghindari membeli makanan sembarangan di luar yang tidak terjamin kebersihan serta keamanannya); (2) Pernyataan 'Bawalah bekal makanan berlebih untuk dibagi kepada teman-teman kalian' (acuan tersirat: anjuran menumbuhkan kepedulian sosial, keakraban pertemanan, dan empati di lingkungan sekolah); (3) Pernyataan 'Jarak ideal makan pagi dan makan siang adalah 4 jam' (acuan tersirat: arahan untuk menjaga metabolisme tubuh dan mencegah gangguan pencernaan seperti maag akibat telat makan); (4) Pernyataan 'Membawa bekal menjauhkan kalian dari ancaman boraks, formalin, dan zat berbahaya lainnya' (acuan tersirat: arahan untuk memilih makanan rumahan yang higienis serta bebas dari bahan pengawet berbahaya) (25 menit).
  • Guru berkeliling mengamati proses kerja murid, memeriksa ketepatan analisis makna tersirat pada lembar kerja, dan memberikan bimbingan bagi murid yang masih menyalin makna tersurat secara harfiah (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil telaah makna tersirat pada 4 butir teks infografik dengan membandingkannya terhadap kriteria penarikan kesimpulan logis yang disajikan guru di papan tulis (acuan 4 butir teks: nomor 1 menjauhi jajan sembarangan, nomor 2 berbagi dan peduli kawan, nomor 3 menjaga keteraturan jam metabolisme, nomor 4 memilih makanan sehat tanpa zat kimia berbahaya) (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai cara menganalisis arahan tersirat dalam infografik kesehatan, yaitu dengan mengaitkan pernyataan visual/teks dengan dampak kesehatan dan maksud penulis (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan atas hasil analisis murid, menginformasikan materi pertemuan berikutnya mengenai evaluasi kualitas kejelasan teks visual panduan kesehatan, dan menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar infografik dengan penanda visual (lingkaran warna pada bagian teks yang mengandung implikasi kesehatan) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual.
  • Proses: Bagi murid yang masih menyalin makna harfiah, guru memberikan pertanyaan penuntun (scaffolding): 'Jika hal ini terjadi, bahaya apa yang sebenarnya ingin dicegah penulis?'; bagi murid yang mahir, mereka diminta mengaitkan keterkaitan antara dua arahan tersirat yang saling mendukung.
  • Produk: Format penyampaian analisis tertulis dalam lembar kerja tabel analisis makna tersurat vs tersirat dengan kedalaman simpulan yang bervariasi sesuai kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik awal: Murid membaca kutipan teks infografik 'Jangan biarkan piringmu hanya diisi karbohidrat' dan memilih makna tersirat yang tepat dari 2 opsi yang disediakan: Opsi A 'Harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan sayur dan lauk pauk' (benar) atau Opsi B 'Piring harus selalu kosong sebelum dicuci' (salah). Guru memetakan murid yang sudah mampu membedakan makna tersirat dari makna harfiah.

Proses:

  • Tugas analisis makna tersirat pada LKPD berpasangan/mandiri yang menilai ketepatan menafsirkan 4 arahan tersirat: (1) Pernyataan 'Kalian mengurangi peluang masuk berita sebagai korban keracunan makanan' -> acuan jawaban: arahan agar menghindari jajan sembarangan di luar yang rentan cemaran berbahaya; (2) Pernyataan 'Bawalah bekal makanan berlebih untuk dibagi kepada teman-teman kalian' -> acuan jawaban: arahan membangun keakraban sosial dan empati berbagi makanan sehat kepada teman; (3) Pernyataan 'Jarak ideal makan pagi dan makan siang adalah 4 jam' -> acuan jawaban: arahan mengatur ritme pencernaan dan mencegah kelaparan berlebih atau maag; (4) Pernyataan 'Membawa bekal menjauhkan kalian dari ancaman boraks, formalin, dan zat berbahaya lainnya' -> acuan jawaban: anjuran menjaga higienitas dengan mengonsumsi pangan rumah yang terbebas dari zat kimia berbahaya. Kriteria: tepat bila simpulan memuat maksud tersembunyi yang logis dan relevan dengan kesehatan, bukan sekadar memparafrase teks tersurat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir pembelajaran: Murid menuliskan satu kalimat makna tersirat dari cuplikan teks infografik 'Kalian bisa bercerita ke teman kalian bahwa kalian menyiapkan bekal makan siang kalian sendiri' pada selembar kertas keluar (exit slip). Kriteria penerimaan: jawaban dinyatakan tepat jika memuat gagasan tersirat tentang menumbuhkan kemandirian hidup sehat atau kebanggaan mengonsumsi makanan olahan sendiri (bukan sekadar menyebut pamer atau bercerita ke teman).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja analisis makna tersirat dari 4 cuplikan teks infografik kesehatan
  • Observasi diagnostik pemahaman makna tersirat pada kegiatan pendahuluan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menganalisis arahan tersirat teks visual infografik kebiasaan hidup sehatBelum mampu menyimpulkan makna tersirat (hanya menyalin ulang teks tersurat secara harfiah untuk seluruh 4 butir target).Tepat menyimpulkan makna tersirat pada 1 sampai 2 dari 4 butir teks infografik target sesuai acuan jawaban.Tepat menyimpulkan makna tersirat pada 3 dari 4 butir teks infografik target sesuai acuan jawaban.Tepat menyimpulkan seluruh 4 butir makna tersirat teks infografik target sesuai acuan jawaban secara mandiri dan logis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi yang diberikan sudah cukup memandu murid untuk membedakan antara informasi tersurat dengan makna tersirat pada infografik?
  • Bagian mana dari infografik yang paling banyak memicu miskonsepsi saat murid menarik simpulan tersirat?

Murid:

  • Apa perbedaan utama yang kamu rasakan antara mencari informasi tersurat (pertemuan lalu) dengan menemukan arahan tersirat hari ini?
  • Dari 4 butir arahan infografik yang dipelajari, pesan tersirat mana yang paling relevan untuk kebiasaan hidup sehatmu sehari-hari?

Pertemuan 5 — Mengevaluasi Kualitas Kejelasan Teks Visual Panduan Kesehatan Menggunakan Sumber Informasi Lain — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.3 Mengevaluasi kualitas dari berbagai tipe teks berwujud teks visual panduan kesehatan menggunakan sumber informasi lain

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama untuk mengawali kegiatan belajar (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menayangkan kutipan arahan visual: 'Lakukan peregangan leher secukupnya', lalu meminta murid menjawab secara tertulis apakah kalimat tersebut jelas atau ambigu dan menyebutkan alasannya (acuan diagnostik: dinilai jelas/ambigu bila murid menunjukkan bahwa kata 'secukupnya' tidak jelas/ambigu karena tidak memuat durasi/hitungan pasti seperti 10-15 detik) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu mengevaluasi kualitas kejelasan teks visual panduan kesehatan 'Tetap Rileks Saat di Kelas' dengan membandingkannya terhadap teks pembanding 'Panduan Peregangan Kementerian Kesehatan' (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati teks visual utama berupa infografik panduan kesehatan 'Tetap Rileks Saat di Kelas' (memuat 3 arahan: Gerakan 1 Peregangan Leher, Gerakan 2 Peregangan Bahu, Gerakan 3 Peregangan Punggung Duduk) (15 menit).
  • Murid membaca teks rujukan pembanding berupa artikel ringkas 'Panduan Peregangan di Tempat Kerja/Sekolah Kemenkes RI' untuk menemukan rincian baku mengenai kejelasan instruksi (arah gerakan, durasi hitungan, dan posisi napas yang benar) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Dalam format permainan detektif teks berpasangan 'Uji Kejelasan Instruksi', murid memeriksa kejelasan 3 gerakan visual pada teks utama menggunakan teks rujukan pembanding pada lembar evaluasi (20 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan hasil evaluasi kejelasan pada 3 aspek evaluasi: (1) Kejelasan arah tarikan leher pada Gerakan 1 (acuan: teks visual kurang jelas karena hanya menyebut 'miringkan kepala', sedangkan teks Kemenkes menegaskan 'tarik perlahan ke arah bahu kanan/kiri hingga terasa regangan ringan tanpa menyentak'); (2) Kejelasan durasi pada Gerakan 2 (acuan: teks visual ambigu dengan kata 'tahan sebentar', sedangkan teks pembanding jelas memuat 'tahan selama 10-15 detik'); (3) Kejelasan pengaturan napas pada Gerakan 3 (acuan: teks visual tidak menyebut napas, sedangkan teks pembanding menegaskan 'hembuskan napas saat membungkuk dan tarik napas saat kembali tegak') (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali catatan evaluasi kejelasan yang telah dibuat dengan mencocokkan kelengkapan bukti tekstual dari kedua teks rujukan (10 menit).
  • Murid menyimpulkan kriteria kejelasan sebuah teks visual panduan kesehatan (harus memuat arah gerak yang spesifik, satuan durasi pasti, dan peringatan teknis yang tepat) berdasarkan perbandingan sumber (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pembelajaran mengenai cara mengevaluasi kejelasan teks visual panduan kesehatan menggunakan sumber informasi pembanding yang valid (5 menit).
  • Guru memberikan lembar asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir pernyataan evaluatif, mengumpulkan lembar evaluasi murid, serta menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan melanjutkan evaluasi kualitas pada aspek kelengkapan informasi teks visual (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual dengan penandaan warna (highlight) pada kata-kata instruksi yang ambigu, sedangkan murid mahir menganalisis teks visual tanpa penandaan.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan panduan bertahap per butir gerakan, sedangkan murid yang cepat menyelesaikan lembar kerja secara mandiri dan menambahkan evaluasi kejelasan pada ilustrasi visual pendukung.
  • Produk: Murid menyusun catatan evaluasi kejelasan teks visual dengan tabel terstruktur sederhana atau deskripsi analisis mendalam sesuai tingkat kesiapan belajarnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik tertulis singkat di awal pelajaran: Murid membaca kutipan arahan visual 'Lakukan peregangan leher secukupnya', lalu menjawab apakah arahan tersebut jelas atau ambigu disertai 1 alasan (Acuan jawaban: Dinyatakan ambigu/kurang jelas karena kata 'secukupnya' tidak mencantumkan takaran durasi/hitungan waktu yang pasti seperti 10-15 detik sehingga berisiko menimbulkan cedera jika berlebihan).

Proses:

  • Penilaian formatif lembar kerja evaluasi kejelasan teks visual 'Tetap Rileks Saat di Kelas' terhadap teks rujukan pembanding Kemenkes RI pada 3 butir gerakan: (1) Kejelasan arah tarikan leher; (2) Kejelasan durasi peregangan bahu; (3) Kejelasan pengaturan napas peregangan punggung (Acuan penilaian: Murid tepat mengevaluasi minimal 2 dari 3 aspek dengan menyertakan bukti pembanding yang tepat sesuai acuan materi).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 2 butir evaluasi kejelasan pada penutup: Butir 1: 'Mengapa arahan tahan sebentar pada infografik peregangan dinilai memiliki kejelasan rendah dibandingkan rujukan medis?' (Acuan jawaban: Karena kata 'sebentar' bermakna relatif/tidak terukur, sedangkan rujukan medis memberi patokan hitungan pasti 10-15 detik). Butir 2: 'Sebutkan 1 bukti dari teks rujukan Kemenkes yang menunjukkan arahan napas pada peregangan punggung wajib dicantumkan!' (Acuan jawaban: Arahan 'hembuskan napas saat membungkuk dan tarik napas saat tegak' untuk menjaga kestabilan tekanan darah dan mencegah kram).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja evaluasi kejelasan 3 gerakan teks visual berdasarkan teks rujukan pembanding
  • Catatan observasi ketepatan murid dalam membandingkan instruksi visual dengan rujukan pembanding selama sesi mandiri

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Kejelasan Teks Visual Panduan Kesehatan Menggunakan Sumber Informasi LainBelum mampu mengevaluasi kualitas kejelasan arahan teks visual atau hanya menyalin isi teks visual tanpa membandingkannya dengan sumber informasi lain (0 dari 3 aspek tepat).Mengevaluasi kualitas kejelasan teks visual panduan kesehatan dengan membandingkan 1 dari 3 aspek gerakan secara tepat terhadap sumber informasi lain dengan bimbingan guru.Mengevaluasi kualitas kejelasan teks visual panduan kesehatan dengan membandingkan 2 dari 3 aspek gerakan secara tepat terhadap sumber informasi lain secara mandiri.Mengevaluasi kualitas kejelasan teks visual panduan kesehatan dengan membandingkan seluruh 3 aspek gerakan (arah gerakan, durasi hitungan, dan pengaturan napas) secara tepat terhadap sumber informasi pembanding secara mandiri dan rinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks visual panduan kesehatan dan teks rujukan pembanding yang disediakan cukup jelas perbedaannya sehingga mempermudah murid mengevaluasi kejelasan instruksi?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama pengerjaan evaluasi mandiri, dan bagian kejelasan mana yang paling banyak disalahpahami?

Murid:

  • Bagian instruksi mana dari teks visual panduan kesehatan yang menurutmu paling sulit dipahami sebelum membaca teks rujukan pembanding?
  • Mengapa penting bagi kita untuk selalu memeriksa kejelasan panduan kesehatan visual dengan rujukan kesehatan resmi?

Pertemuan 6 — Mengevaluasi Kualitas Kelengkapan Teks Visual Panduan Kesehatan Menggunakan Sumber Informasi Lain — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.3 Mengevaluasi kualitas dari berbagai tipe teks berwujud teks visual panduan kesehatan menggunakan sumber informasi lain

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kelas dalam suasana berkesadaran untuk belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu mengevaluasi kualitas kelengkapan teks visual panduan kesehatan dengan membandingkannya terhadap sumber informasi rujukan lain (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat menggunakan 2 pertanyaan lisan terarah untuk memeriksa kesiapan mengevaluasi kelengkapan teks visual: (1) 'Jika sebuah poster cuci tangan hanya memuat langkah memakai sabun dan membilas tanpa durasi waktu, apakah informasinya lengkap? Mengapa?' (acuan: belum lengkap karena durasi minimal 20 detik penting untuk membunuh kuman); (2) 'Bagaimana cara membuktikan ada langkah yang kurang pada poster itu?' (acuan: membandingkannya dengan panduan resmi Kementerian Kesehatan/WHO) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati Teks Visual Utama berupa infografik 'Panduan Pola Makan Sehat Remaja' yang memuat 3 komponen: (a) porsi karbohidrat dan protein, (b) anjuran minum air putih, dan (c) anjuran sarapan pagi (10 menit).
  • Murid membaca Teks Pembanding berupa artikel rujukan Kementerian Kesehatan RI 'Pedoman Gizi Seimbang Remaja' yang memuat 5 komponen lengkap: (1) porsi karbohidrat dan sayur/buah seimbang (Isi Piringku), (2) kecukupan hidrasi 8 gelas air per hari, (3) pentingnya sarapan bernutrisi, (4) pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta (5) anjuran aktivitas fisik minimal 30 menit sehari (10 menit).
  • Murid dipandu memahami kriteria evaluasi kelengkapan informasi: mengidentifikasi informasi apa yang sudah ada, informasi esensial apa yang belum termuat pada teks visual, serta dampak ketiadaan informasi tersebut bagi pembaca (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan detektif kelengkapan 'Uji Komparasi 4 Fakta': murid secara berpasangan mencocokkan 4 kartu informasi dari teks rujukan ke tabel periksa teks visual untuk menemukan 2 fakta yang hilang (15 menit). [Isi 4 kartu: Kartu A: 'Anjuran minum air putih minimal 8 gelas sehari'; Kartu B: 'Batasan maksimal konsumsi gula 4 sendok makan, garam 1 sendok teh, lemak 5 sendok makan'; Kartu C: 'Porsi karbohidrat dan lauk pauk pada piring makan'; Kartu D: 'Aktivitas fisik teratur minimal 10 menit per hari'. Kunci pencocokan: Kartu A dan C ada pada teks visual; Kartu B dan D hilang/belum tercantum].
  • Secara mandiri pada Lembar Kerja Evaluasi, murid menuliskan evaluasi kualitas kelengkapan teks visual panduan kesehatan berdasarkan hasil pembandingan dengan sumber rujukan: menuliskan 2 informasi yang sudah lengkap (porsi karbohidrat/lauk dan anjuran air putih), 2 informasi esensial yang hilang/belum lengkap (pembatasan GGL dan aktivitas fisik 30 menit), serta memberikan simpulan mutu kelengkapan teks visual (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan refleksi diri terarah mengenai proses mengevaluasi kelengkapan teks visual panduan kesehatan: menyadari pentingnya sikap kritis memeriksa kelengkapan informasi kesehatan agar tidak salah menerapkan panduan dalam kehidupan sehari-hari (15 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan cara mengevaluasi kualitas kelengkapan teks visual menggunakan sumber rujukan terpercaya (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja evaluasi kelengkapan yang dikerjakan murid dan menyampaikan gambaran materi pertemuan ke-7 mengenai penyampaian solusi kesehatan, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks rujukan dengan penandaan warna/garis bawah pada poin-poin utama gizi seimbang; murid cepat diberikan teks rujukan yang memuat rincian mikronutrien tambahan.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru saat membandingkan poin per poin antara infografik dan teks rujukan; murid mahir menganalisis implikasi hilangnya informasi pembatasan gula, garam, dan lemak secara mandiri.
  • Produk: Seluruh murid mengisi lembar kerja evaluasi kualitas kelengkapan yang sama dengan fokus pada identifikasi data yang ada versus data yang belum termuat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan mengevaluasi kelengkapan teks visual panduan kesehatan: Butir 1: 'Jika sebuah poster cuci tangan hanya memuat langkah memakai sabun dan membilas tanpa durasi waktu, apakah informasinya lengkap? Mengapa?' (Acuan jawaban: Belum lengkap, karena durasi cuci tangan minimal 20 detik adalah informasi esensial agar kuman mati); Butir 2: 'Bagaimana cara membuktikan ada langkah yang kurang pada poster itu?' (Acuan jawaban: Membandingkannya dengan sumber informasi resmi lain, seperti panduan Kemenkes/WHO).

Proses:

  • Observasi formatif saat latihan 'Uji Komparasi 4 Fakta' menggunakan 4 kartu informasi: Kartu A: 'Anjuran minum air putih minimal 8 gelas sehari'; Kartu B: 'Batasan maksimal konsumsi gula 4 sendok makan, garam 1 sendok teh, lemak 5 sendok makan'; Kartu C: 'Porsi karbohidrat dan lauk pauk pada piring makan'; Kartu D: 'Aktivitas fisik teratur minimal 30 menit per hari'. (Acuan penilaian: Murid tepat memilah bahwa Kartu A dan C sudah ada pada infografik, sedangkan Kartu B dan D merupakan informasi yang belum lengkap/hilang dari infografik).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan hasil Lembar Kerja Evaluasi Kelengkapan Teks Visual: Murid menuliskan evaluasi perbandingan antara infografik dan artikel rujukan Kemenkes. Kriteria penerimaan operasional: (1) Menyebutkan secara tepat 2 informasi yang sudah termuat pada teks visual (porsi karbohidrat/lauk dan air putih); (2) Menyebutkan secara tepat 2 informasi esensial yang belum termuat pada teks visual berdasarkan artikel rujukan (pembatasan konsumsi gula, garam, lemak serta anjuran aktivitas fisik 30 menit); (3) Menyimpulkan kelengkapan teks visual (teks visual belum lengkap karena menghilangkan aspek pembatasan konsumsi zat berlebih dan aktivitas fisik).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan 'Uji Komparasi 4 Fakta' dan Lembar Kerja Evaluasi Kelengkapan Teks Visual Panduan Kesehatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Kualitas Kelengkapan Teks Visual Menggunakan Sumber RujukanBelum mampu mengidentifikasi informasi yang ada maupun yang belum termuat pada teks visual panduan kesehatan saat dibandingkan dengan sumber informasi lain.Mampu mengidentifikasi 1 informasi yang ada dan 1 informasi yang belum termuat pada teks visual panduan kesehatan dibandingkan sumber informasi rujukan dengan bimbingan guru.Mampu mengidentifikasi secara tepat seluruh 2 informasi yang ada (porsi karbohidrat/lauk, air putih) dan seluruh 2 informasi esensial yang belum termuat (pembatasan GGL, aktivitas fisik 30 menit) serta menyimpulkan kelengkapan teks visual secara mandiri.Mampu mengidentifikasi secara tepat seluruh informasi yang ada dan yang belum termuat pada teks visual serta mengevaluasi dampak ketiadaan informasi pembatasan GGL dan aktivitas fisik terhadap perilaku kesehatan pembaca secara mendalam dan kritis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan teks pembanding dari Kementerian Kesehatan efektif membantu murid mengenali informasi yang hilang pada teks visual panduan kesehatan?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas permainan komparasi kartu fakta berlangsung?

Murid:

  • Apa langkah baru yang saya pelajari hari ini untuk membuktikan apakah suatu infografik kesehatan informasinya sudah lengkap atau masih kurang?
  • Mengapa penting bagi saya untuk selalu memeriksa sumber rujukan lain sebelum mempercayai kelengkapan sebuah panduan kesehatan?

Pertemuan 7 — Mempresentasikan Arahan Pemberian Solusi Rutinitas Kesehatan Remaja dalam Bentuk Monolog Berpemandu — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.4 Mempresentasikan arahan untuk tujuan pemberian solusi dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif mengenai rutinitas kesehatan remaja

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran, menyapa murid, dan memfasilitasi hening sejenak untuk melatih kesadaran diri перед belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu mempresentasikan arahan solusi rutinitas kesehatan remaja secara monolog berpemandu, serta mengaitkannya dengan pentingnya menjaga rutinitas fisik remaja (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menyajikan 1 masalah rutinitas kesehatan remaja: 'Banyak remaja melewatkan sarapan karena terburu-buru berangkat sekolah'. Murid diminta mengidentifikasi rumusan arahan solusinya (acuan: arahan solusi yang tepat memuat tindakan konkret mengatasi waktu sempit, seperti menyiapkan bekal praktis malam sebelumnya atau memilih menu cepat saji sehat seperti telur rebus/susu/pisang, bukan sekadar imbauan umum) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati lembar panduan kerangka monolog berpemandu yang disediakan guru, yang memuat 3 bagian terstruktur: (1) Pernyataan masalah rutinitas kesehatan, (2) Arahan solusi kritis (tindakan bertahap beserta alasan logisnya), dan (3) Penutup ajakan kreatif (8 menit).
  • Murid mengamati peragaan pemodelan monolog berpemandu oleh guru mengenai 'Mengatasi Kebiasaan Begadang Main Gawai', lalu bersama guru membedah keselarasan antara masalah yang disorot dengan arahan solusi yang diajukan berdasarkan kerangka pemandu (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti aktivitas interaktif 'Tantangan Kotak Solusi Remaja' secara berpasangan: setiap murid memilih 1 dari 3 kartu skenario masalah kesehatan remaja berikut: Kartu A ('Kurang minum air putih saat jam sekolah'), Kartu B ('Konsumsi jajanan manis/tinggi gula berlebih saat istirahat'), atau Kartu C ('Duduk membungkuk terlalu lama saat belajar') untuk diisi ke dalam lembar kerangka monolog berpemandu (kriteria isi: memuat minimal 2 butir arahan solusi yang logis dan relevan dengan kartu masalah yang dipilih) (10 menit).
  • Murid menyusun draf arahan solusi dan kalimat pembuka-penutup monolog dengan memanfaatkan kalimat pemandu pada lembar kerja: 'Masalah yang kita hadapi adalah... Untuk mengatasinya, arahan solusi yang saya tawarkan pertama adalah... karena... Kedua, kita perlu... sehingga... Mari kita wujudkan rutinitas sehat dengan...' (12 menit).
  • Murid secara bergantian mempresentasikan monolog arahan solusinya di depan pasangannya menggunakan panduan kerangka yang telah dilengkapi, sementara pasangannya menyimak keterpenuhan butir arahan solusi sesuai kriteria (15 menit).
  • Beberapa perwakilan murid mempresentasikan monolog arahan solusi rutinitas kesehatan remaja secara berpemandu di depan kelas (7 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan keberhasilan presentasi monolog berpemandu: mengevaluasi apakah arahan solusi yang disampaikan sudah kritis (beralasan logis) dan kreatif (mudah dipraktikkan remaja) (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap penampilan presentasi murid dan menyimpulkan pentingnya kejelasan arahan solusi dalam monolog kesehatan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya, yaitu mempresentasikan arahan solusi kesehatan dalam bentuk monolog mandiri tanpa lembar kerangka pemandu (30 detik).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa dan salam penutup (30 detik).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kerangka monolog dengan pemandu frasa rumpang yang lebih terstruktur bagi murid yang memerlukan bimbingan bertahap, serta lembar kerangka panduan poin kunci terbuka bagi murid yang siap menyusun kalimat mandiri.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah (scaffolding) saat pengisian butir solusi bagi murid yang masih kesulitan merumuskan alasan logis, dan memberi tantangan menghubungkan dua langkah solusi bertahap bagi murid yang lebih cepat.
  • Produk: Variasi keluaran monolog berpemandu berfokus pada kedalaman analisis alasan solusi rutinitas kesehatan yang dipilih dari 3 kartu skenario masalah.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemberian 1 kasus diagnostik: 'Banyak remaja melewatkan sarapan pagi karena terburu-buru berangkat sekolah'. Murid diminta merumuskan 1 arahan solusi konkret. Acuan jawaban benar: Arahan solusi harus memuat tindakan praktis untuk mengatasi keterbatasan waktu (contoh yang diterima: menyiapkan menu sarapan praktis sejak malam sebelumnya seperti roti isi atau telur rebus; menyiapkan bekal sehat yang dapat dikonsumsi di sekolah; atau menggeser jam bangun 15 menit lebih awal untuk makan buah/susu; jawaban tidak diterima bila hanya berupa anjuran kosong tanpa cara praktis seperti 'jangan lupa sarapan').

Proses:

  • Penilaian formatif unjuk kerja saat murid mempresentasikan monolog berpemandu berdasarkan 3 pilihan kartu masalah kesehatan: Kartu A ('Kurang minum air putih saat jam sekolah' - acuan solusi: membawa botol minum isi ulang bertanda jam target minum dan menetapkan jadwal minum setiap pergantian jam pelajaran); Kartu B ('Konsumsi jajanan manis/tinggi gula berlebih saat istirahat' - acuan solusi: mengganti uang jajan dengan membawa camilan buah/kacang dari rumah serta membatasi jajan minuman kemasan maksimal 1 kali seminggu); Kartu C ('Duduk membungkuk terlalu lama saat belajar' - acuan solusi: mempraktikkan peregangan ringan setiap 30-40 menit dan mengatur posisi sandaran kursi tegak). Kriteria keberhasilan: mempresentasikan minimal 2 arahan solusi yang relevan dengan skenario, memuat alasan logis (kritis), serta menggunakan kalimat pembuka-penutup pemandu.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menyebutkan 1 komponen utama yang wajib ada saat mempresentasikan arahan solusi dalam monolog (acuan: adanya uraian masalah rutinitas kesehatan remaja, langkah tindakan arahan solusi yang logis/kritis, dan kalimat ajakan solutif yang kreatif).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal lisan ketercapaian identifikasi arahan solusi
  • Lembar observasi unjuk kerja presentasi monolog berpemandu arahan solusi kesehatan remaja

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Arahan Solusi Rutinitas KesehatanArahan solusi yang dipresentasikan belum relevan dengan masalah kesehatan yang dipilih pada kartu skenario (0 dari 2 arahan sesuai).Mempresentasikan 1 arahan solusi yang relevan dengan masalah kartu skenario, namun belum memuat alasan logis yang jelas.Mempresentasikan 2 arahan solusi yang relevan dengan masalah kartu skenario beserta alasan logisnya secara terstruktur melalui kerangka pemandu.Mempresentasikan 2 arahan solusi yang sangat relevan dengan masalah kartu skenario, memuat alasan logis yang mendalam dan langkah praktis yang terbukti mudah diterapkan remaja secara runtut dan mandiri.
Penyajian Monolog Berpemandu secara Kritis dan KreatifMempresentasikan monolog tanpa mengikuti urutan kerangka pemandu (tidak ada pembuka masalah, isi solusi, atau penutup).Mempresentasikan monolog dengan kerangka pemandu namun hanya membaca teks tanpa menunjukkan penalaran kritis pada gagasan solusi.Mempresentasikan monolog secara kritis dan kreatif menggunakan kerangka pemandu (memuat pembuka masalah, 2 arahan solusi beralasan logis, dan kalimat ajakan solutif).Mempresentasikan monolog secara kritis dan kreatif dengan kerangka pemandu secara mengalir, memadukan variasi kalimat ajakan yang orisinal dan meyakinkan tanpa bergantung penuh pada teks lembar panduan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah format monolog berpemandu efektif membantu murid kelas 7 yang belum percaya diri berbicara sendiri di depan orang lain?
  • Bagaimana ketercapaian murid dalam menghubungkan masalah kesehatan dengan arahan solusi yang logis dan kritis?

Murid:

  • Bagian mana dari panduan kerangka monolog yang paling membantuku merumuskan arahan solusi kesehatan?
  • Apakah arahan solusi yang kupresentasikan hari ini sudah cukup nyata untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertemuan 8 — Mempresentasikan Arahan Pemberian Solusi Rutinitas Kesehatan Remaja dalam Bentuk Monolog Mandiri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.4 Mempresentasikan arahan untuk tujuan pemberian solusi dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif mengenai rutinitas kesehatan remaja

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu mempresentasikan monolog mandiri pemberian solusi rutinitas kesehatan remaja (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid menyusun cepat 1 kalimat masalah rutinitas kesehatan remaja beserta 1 kalimat arahan solusinya pada secarik kertas (acuan penerimaan: masalah kesehatan remaja spesifik, misalnya 'sering begadang main gawai', dan arahan solusinya realistis, misalnya 'menetapkan alarm berhenti menatap layar pukul 21.00') (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati kembali struktur isi monolog mandiri pemberian solusi yang mencakup: (1) pernyataan masalah rutinitas kesehatan remaja, (2) arahan solusi berbasis penalaran kritis, dan (3) simpulan ajakan kreatif (10 menit).
  • Murid memainkan permainan bahasa interaktif 'Sambung Solusi Berantai' secara antusias: guru menyebutkan 1 masalah kesehatan remaja ('sering melewatkan sarapan pagi') dan murid yang ditunjuk secara bergilir menyebutkan 1 arahan solusi kreatif secara langsung tanpa teks (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri melakukan latihan monolog pemberian solusi rutinitas kesehatan remaja dengan durasi 1,5 hingga 2 menit berdasarkan draf yang telah disusun sebelumnya tanpa bergantung penuh pada teks (15 menit).
  • Setiap murid mempresentasikan arahan pemberian solusi rutinitas kesehatan remaja dalam bentuk monolog mandiri di depan kelas secara kritis (menjelaskan alasan logis solusi) dan kreatif (menggunakan analogi/ajakan yang menarik) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan refleksi mandiri secara tertulis mengenai keberhasilan penyampaian arahan solusi dan tingkat kemandirian yang dicapai saat melakukan monolog di depan kelas (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran mengenai pentingnya menyampaikan arahan solusi rutinitas kesehatan dengan kritis, kreatif, dan mandiri (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian presentasi mandiri murid dan menyampaikan topik pertemuan berikutnya yaitu menulis kerangka arahan dan tujuan teks prosedur kebugaran tubuh (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Topik rutinitas kesehatan remaja dapat dipilih murid sesuai konteks kesehariannya (pola tidur, konsumsi air putih, kebiasaan gerak fisik, atau manajemen stres belajar).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diperbolehkan membawa kartu panduan berisi kata kunci pokok arahan, sedangkan murid yang mahir mempresentasikan monolog secara lepas tanpa kartu panduan dan menambahkan analogi kreatif.
  • Produk: Penyajian monolog disesuaikan dengan gaya bicara personal masing-masing murid, baik bergaya orasi motivasi, siniar (podcast), maupun edukasi praktis langsung.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Menuliskan 1 masalah rutinitas kesehatan remaja beserta 1 arahan solusi operasional pada kartu awal belajar (Kriteria penerimaan: masalah teridentifikasi nyata pada kehidupan remaja, misal 'kurang konsumsi air putih', dan arahan solusi logis, misal 'membawa botol minum 1 liter ke sekolah dan menghabiskannya sebelum jam pulang').

Proses:

  • Observasi unjuk kerja presentasi monolog mandiri yang dinilai berdasarkan: (1) kejelasan pernyataan masalah dan arahan solusi rutinitas kesehatan remaja, (2) penalaran kritis dalam pemberian alasan solusi, (3) kreativitas pilihan ajakan/gaya monolog, dan (4) kemandirian presentasi tanpa ketergantungan membaca naskah.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan lembar refleksi diri: murid menilai kemandirian dan daya bujuk arahan solusi monolognya sendiri melalui 2 pertanyaan terbuka (Kriteria ketercapaian: murid menuliskan dengan tepat bagian solusi yang paling logis menurut nalar serta bagian ajakan yang paling kreatif dalam monolog yang telah disajikannya).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja presentasi monolog mandiri menggunakan rubrik ketercapaian kritis, kreatif, dan kemandirian penyampaian arahan solusi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyampaian Arahan Solusi Rutinitas Kesehatan secara Kritis dan Kreatif dalam Monolog MandiriMempresentasikan monolog dengan arahan solusi yang belum spesifik terhadap rutinitas kesehatan remaja, argumen kurang logis, belum menunjukkan ajakan kreatif, dan membaca teks secara penuh.Mempresentasikan monolog dengan arahan solusi yang sesuai masalah kesehatan remaja namun alasan solusi masih sederhana, ide ajakan kreatif minim, dan masih sering membaca teks panduan.Mempresentasikan monolog arahan pemberian solusi rutinitas kesehatan remaja secara kritis dengan penalaran logis, menggunakan ide ajakan yang kreatif, serta menyajikan monolog secara mandiri dengan sesekali melihat kata kunci.Mempresentasikan monolog arahan pemberian solusi rutinitas kesehatan remaja secara sangat kritis dengan penalaran mendalam dan runtut, menyajikan solusi inovatif/kreatif yang memikat pemirsa, serta menyampaikannya secara mandiri penuh tanpa membaca naskah.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid telah mendapatkan kesempatan mempresentasikan monolog solusinya secara mandiri?
  • Bagaimana variasi solusi dan gagasan kreatif yang ditampilkan murid mengenai rutinitas kesehatan remaja?

Murid:

  • Bagian mana dari monolog solusi kesehatan yang paling berhasil saya sampaikan dengan percaya diri dan kritis?
  • Hal apa yang perlu saya tingkatkan agar presentasi monolog mandiri saya berikutnya menjadi jauh lebih menarik dan kreatif?

Pertemuan 9 — Menulis Kerangka Arahan dan Tujuan Teks Prosedur Cara Menjaga Kebugaran Tubuh — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.5 Menulis arahan dalam teks prosedur secara logis dan kritis mengenai cara menjaga kebugaran tubuh

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengajak murid memusatkan perhatian (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merumuskan tujuan teks prosedur dan menyusun kerangka pokok arahan tentang cara menjaga kebugaran tubuh secara logis dan kritis (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 rumusan tujuan di papan tulis: Kalimat A ('Teks ini dibuat agar kamu tahu tentang olahraga') dan Kalimat B ('Panduan ini bertujuan memberikan arahan latihan peregangan statis selama 10 menit setiap pagi guna melancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan otot'). Murid diminta mengangkat kartu kode A atau B untuk memilih rumusan yang paling spesifik dan logis sebagai pembuka teks prosedur kebugaran (acuan: Kalimat B benar karena mencantumkan jenis aktivitas spesifik, durasi, dan manfaat kebugaran yang nyata) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati model struktur pembuka dan kerangka teks prosedur kebugaran 'Cara Melakukan Latihan Peregangan Mandiri di Rumah' yang mencakup: judul, 1 kalimat tujuan spesifik, dan 3 poin pokok arahan (persiapan fisik, inti gerakan bertahap, serta pendinginan/pemulihan) (7 menit).
  • Murid mengikuti permainan mini 'Uji Kritis Kerangka Logis': Murid secara berpasangan menganalisis 4 kartu alur arahan kebugaran yang disajikan acak (Kartu 1: 'Langsung lari cepat tanpa pemanasan'; Kartu 2: 'Lakukan pemanasan sendi 3 menit'; Kartu 3: 'Lari santai bertahap 15 menit'; Kartu 4: 'Peregangan statis dan minum air putih') untuk membuang kartu yang tidak kritis/membahayakan (Kartu 1 pengalih/salah) serta menyusun urutan yang logis: Kartu 2 -> Kartu 3 -> Kartu 4 (8 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memilih 1 fokus topik kebugaran tubuh remaja yang ingin disusun kerangkanya: (A) Latihan Kekuatan Otot Sederhana Tanpa Alat, (B) Rutinitas Jalan Cepat Harian Remaja, atau (C) Senam Peregangan Otot Pasca Belajar Duduk Lama (5 menit).
  • Murid menuliskan 1 kalimat perumusan tujuan teks prosedur secara spesifik pada lembar kerja, memuat aktivitas kebugaran dan target manfaat fisiknya secara kritis (15 menit).
  • Murid menuliskan kerangka pokok arahan teks prosedur yang terdiri atas minimal 3 butir arahan berurutan secara logis (tahap persiapan/keselamatan tubuh, tahap pelaksanaan aktivitas utama, dan tahap penutup/pemulihan kondisi tubuh) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ulang draf kerangka arahannya secara mandiri menggunakan daftar periksa berkesadaran: apakah tujuan sudah terukur dan apakah urutan arahan tidak menimbulkan risiko cedera bagi pembaca (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya kejelasan tujuan dan keruntutan logika sebelum menuliskan langkah-langkah rinci teks prosedur kebugaran pada pertemuan berikutnya (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap ketepatan perumusan tujuan dan kerangka pokok arahan yang telah ditulis murid (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan templat kerangka rumpang dengan pemandu kata kerja aksi keselamatan (misal: 'Pastikan...', 'Mulai dengan...', 'Akhiri dengan...'). Murid mahir diminta merumuskan kerangka arahan dengan pertimbangan intensitas latihan (rendah ke sedang).
  • Proses: Murid yang masih bingung merumuskan tujuan mendapat bimbingan terfokus dengan pertanyaan pemantik langsung dari guru.
  • Produk: Murid bebas memilih satu dari tiga topik kebugaran yang disediakan asalkan menghasilkan rumusan tujuan dan minimal 3 pokok arahan yang runtut.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi perumusan tujuan teks prosedur: Memilih antara Kalimat A ('Teks ini dibuat agar kamu tahu tentang olahraga') dan Kalimat B ('Panduan ini bertujuan memberikan arahan latihan peregangan statis selama 10 menit setiap pagi guna melancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan otot') (acuan jawaban: Kalimat B, kriteria penerimaan: memilih Kalimat B karena memuat jenis aktivitas spesifik, durasi terukur, dan manfaat fisik yang jelas).

Proses:

  • Uji Kritis Kerangka Logis (berpasangan): Memilah kartu arahan yang berbahaya dan mengurutkan kartu logis. Bahan: Kartu 1 ('Langsung lari cepat tanpa pemanasan'), Kartu 2 ('Lakukan pemanasan sendi 3 menit'), Kartu 3 ('Lari santai bertahap 15 menit'), Kartu 4 ('Peregangan statis dan minum air putih'). Acuan: Murid membuang Kartu 1 (pengalih yang membahayakan otot) dan menyusun urutan logis: Kartu 2 -> Kartu 3 -> Kartu 4.
  • Tugas Menulis Kerangka Arahan Mandiri: Menulis 1 kalimat tujuan spesifik dan minimal 3 pokok arahan teks prosedur kebugaran. Kriteria penerimaan tujuan: memuat nama aktivitas fisik dan manfaat kebugaran terukur. Kriteria penerimaan kerangka: memuat 3 pokok arahan berurutan logis (persiapan/keamanan, pelaksanaan inti, dan pemulihan/pendinginan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman/refleksi akhir lembar kerja: Murid menuliskan catatan perbaikan mandiri satu kalimat mengenai mengapa urutan tahapan kerangka yang ditulisnya sudah logis dan aman bagi tubuh remaja (kriteria penerimaan: catatan menunjukkan alasan kronologis keselamatan fisik, misal pentingnya pemanasan sebelum latihan inti).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja penulisan rumusan tujuan dan kerangka pokok arahan teks prosedur kebugaran tubuh berdasarkan kriteria ketepatan logika urutan dan kekritisan aspek kesehatan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penulisan Rumusan Tujuan Teks Prosedur Kebugaran TubuhBelum mampu merumuskan tujuan teks prosedur atau rumusan tujuan tidak berkaitan sama sekali dengan topik kebugaran tubuh.Menuliskan rumusan tujuan teks prosedur yang berkaitan dengan kebugaran tubuh, tetapi redaksinya masih sangat umum (belum memuat aktivitas spesifik atau manfaat fisik yang dituju).Menuliskan rumusan tujuan teks prosedur secara logis dengan menyebutkan jenis aktivitas fisik dan target kebugaran tubuh secara jelas dengan sedikit bimbingan guru.Menuliskan rumusan tujuan teks prosedur secara mandiri, logis, dan kritis dengan memuat jenis aktivitas fisik yang terukur serta target manfaat kesehatan tubuh yang spesifik tanpa bimbingan.
Penulisan Kerangka Pokok Arahan Teks Prosedur KebugaranBelum mampu menuliskan pokok arahan teks prosedur, atau pokok arahan yang ditulis tidak runtut dan membahayakan keselamatan fisik.Menuliskan 1-2 pokok arahan teks prosedur kebugaran tubuh, namun urutannya belum sepenuhnya runtut secara logis (misal: tahap pemulihan mendahului pemanasan).Menuliskan minimal 3 butir pokok arahan teks prosedur kebugaran secara logis dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga pendinginan, dengan bantuan perbaikan alur dari guru.Menuliskan secara mandiri minimal 3 butir pokok arahan teks prosedur kebugaran dengan alur berpikir yang sangat logis dan kritis memperhatikan tahapan keselamatan fisik (persiapan, pelaksanaan bertahap, dan pemulihan).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur pemodelan dan permainan kartu mampu membantu murid memahami logika urutan penulisan teks prosedur kesehatan?
  • Bagian mana dari penulisan kerangka arahan yang masih paling sering memicu kekeliruan logika pada murid?

Murid:

  • Apakah tujuan teks prosedur kebugaran yang saya tulis sudah cukup jelas dan dapat dipahami oleh orang lain?
  • Apakah pokok-pokok arahan yang saya susun sudah berurutan dari tahap paling aman hingga pendinginan?

Pertemuan 10 — Menulis Draf Rangkaian Langkah Arahan Teks Prosedur Menjaga Kebugaran Tubuh — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.5 Menulis arahan dalam teks prosedur secara logis dan kritis mengenai cara menjaga kebugaran tubuh

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memfasilitasi murid menyadari kesiapan fisik serta mental sebelum memulai aktivitas menulis draf (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-10, yaitu menulis draf rangkaian langkah arahan teks prosedur menjaga kebugaran tubuh yang logis dan kritis berdasarkan kerangka yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 kalimat arahan kebugaran acak di papan tulis: (1) Lakukan lari santai atau senam inti selama 20 menit, (2) Lakukan peregangan pendinginan untuk menurunkan denyut nadi, (3) Lakukan pemanasan sendi selama 5 menit. Murid diminta menuliskan nomor urutan langkah yang logis pada selembar kertas kecil (acuan urutan logis: 3 - 1 - 2) untuk mengidentifikasi kesiapan awal logika berurutan (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan analisis logika urutan langkah arahan kebugaran yang diproyeksikan guru pada teks 'Latihan Kebugaran Mandiri di Rumah', membedakan kalimat arahan yang logis (runtut dan aman bagi otot tubuh) dengan arahan yang tidak logis/melompat (10 menit).
  • Murid bersama pasangannya mengikuti tantangan permainan logika 'Susun Rantai Arahan' menggunakan lembar kerja kecil berisi 4 kartu langkah latihan daya tahan tubuh yang diacak: Kartu A (Lakukan gerakan squat dan push-up sebanyak 2 set), Kartu B (Minum air putih dan atur napas perlahan untuk mengembalikan detak jantung normal), Kartu C (Lakukan jalan santai dan putar persendian tangan-kaki), Kartu D (Periksa kesiapan pakaian dan sepatu olahraga yang aman). Murid menyusun urutan logis kartu tersebut (acuan: urutan D - C - A - B) dan mendiskusikan alasan kritis mengapa kartu C harus mendahului kartu A demi mencegah cedera (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyiapkan kerangka arahan dan tujuan menjaga kebugaran tubuh yang telah dibuat pada Pertemuan 9, kemudian mulai menulis draf rangkaian langkah arahan teks prosedur secara mandiri minimal 4 langkah berurutan (15 menit).
  • Murid mengembangkan setiap butir draf langkah arahan dengan menyertakan detail operasional yang logis (seperti durasi gerakan, frekuensi pengulangan, atau batasan intensitas) serta pertimbangan kritis terkait keselamatan dan kebugaran tubuh (contoh: menjaga posisi punggung tetap lurus, tidak menahan napas saat bergerak) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang draf rangkaian langkah yang telah ditulisnya menggunakan lembar periksa mandiri (self-assessment) untuk memverifikasi apakah urutan langkah sudah logis dari awal hingga akhir dan mencakup arahan keselamatan kebugaran tubuh (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik klasikal terhadap kekuatan draf tulisan murid serta mengonfirmasi bahwa seluruh murid telah menghasilkan draf rangkaian langkah arahan (5 menit).
  • Guru mengajak murid menyimpulkan pentingnya kelogisan urutan arahan demi efektivitas dan keamanan latihan fisik, lalu mengingatkan murid untuk membawa draf ini pada Pertemuan 11 guna proses penyempurnaan teks (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan struktur langkah latihan fisik (tahap persiapan, pemanasan, inti, pendinginan). Murid yang mahir diarahkan memilih topik kebugaran tubuh yang lebih spesifik (misalnya peningkatan kelenturan tubuh atau ketahanan kardiorespirasi).
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru dengan panduan pertanyaan berurutan saat menyusun draf langkah; murid yang mandiri menulis draf secara langsung tanpa intervensi.
  • Produk: Draf tulisan memuat minimal 4 langkah arahan logis; bagi murid yang cepat dapat mengembangkan hingga 6-8 langkah arahan yang memuat detail intensitas dan rambu keselamatan gerakan secara mendalam.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman logika urutan langkah arahan kebugaran: Murid mengurutkan 3 kalimat acak: (1) Lakukan lari santai atau senam inti selama 20 menit, (2) Lakukan peregangan pendinginan untuk menurunkan denyut nadi, (3) Lakukan pemanasan sendi selama 5 menit. Kriteria ketercapaian: jawaban benar tepat pada urutan (3) - (1) - (2) berdasarkan prinsip latihan fisik logis (pemanasan -> inti -> pendinginan).

Proses:

  • Observasi dan pemeriksaan lembar kerja draf tulisan murid: Memeriksa draf rangkaian langkah arahan teks prosedur menjaga kebugaran tubuh berdasarkan dua kriteria: (1) Kelogisan urutan tahapan (langkah runtut berurutan secara fungsional tanpa ada tahapan esensial yang terbalik), (2) Kekritisan isi arahan kebugaran (menyertakan batasan intensitas/durasi/frekuensi dan arahan pencegahan cedera/postur tubuh yang aman). Acuan minimal: draf memuat sekurang-kurangnya 4 langkah arahan terstruktur.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan kelengkapan draf akhir sesi: Murid mengisi lembar periksa mandiri berisi 2 indikator: (1) Draf memuat minimal 4 langkah arahan kebugaran yang berurutan secara logis (Ya/Tidak), (2) Draf memuat instruksi kritis tentang cara atau batasan melakukan gerakan dengan aman (Ya/Tidak). Kriteria penerimaan: kedua indikator tercentang 'Ya' dan terbukti ada pada lembar draf tulisan murid.

Formatif:

  • Penilaian asesmen awal mengurutkan nomor langkah latihan kebugaran
  • Penilaian proses menulis draf rangkaian langkah arahan teks prosedur kebugaran tubuh menggunakan rubrik ketercapaian logis dan kritis

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelogisan Rangkaian Langkah ArahanMenuliskan langkah arahan kebugaran tubuh yang tidak berurutan, melompat, atau susunan tahapannya saling bertentangan.Menuliskan minimal 4 langkah arahan kebugaran tubuh, namun urutannya masih memiliki 1-2 kesalahan penempatan tahapan sehingga kurang logis.Menuliskan minimal 4 langkah arahan kebugaran tubuh dengan urutan yang logis dan runtut dari awal hingga akhir.Menuliskan lebih dari 4 langkah arahan kebugaran tubuh dengan urutan yang sangat logis, koheren, dan transisi antarbutir langkah terhubung secara sistematis.
Kekritisan Arahan Menjaga Kebugaran TubuhKalimat arahan hanya berupa perintah umum tanpa rincian cara, ukuran waktu/repetisi, maupun peringatan keselamatan gerak.Kalimat arahan memuat rincian tindakan sederhana, namun belum disertai pertimbangan kritis seperti rambu pencegahan cedera atau takaran gerak yang aman.Kalimat arahan ditulis secara kritis dengan menyertakan rincian operasional (durasi/repetisi) dan arahan keselamatan gerak tubuh secara tepat.Kalimat arahan ditulis secara mendalam dan kritis, menyertakan rincian operasional lengkap, panduan postur tubuh yang benar, serta antisipasi keselamatan latihan fisik.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu menulis mandiri selama 30 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk menyelesaikan draf rangkaian langkah arahan?
  • Bagian mana dari draf arahan kebugaran murid yang paling sering mengalami kekeliruan logika berpikir atau ketidaklengkapan instruksi?

Murid:

  • Apakah langkah-langkah kebugaran yang saya tulis sudah cukup jelas dan runtut sehingga dapat dipraktikkan orang lain tanpa bahaya cedera?
  • Bagian arahan mana yang menurut saya paling menantang untuk dirumuskan secara kritis dan masuk akal?

Pertemuan 11 — Menulis Penyempurnaan Arahan Teks Prosedur Menjaga Kebugaran Tubuh secara Logis dan Kritis — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.5 Menulis arahan dalam teks prosedur secara logis dan kritis mengenai cara menjaga kebugaran tubuh

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran menulis penyempurnaan arahan teks prosedur menjaga kebugaran tubuh secara logis dan kritis (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat 'Detektif Logika Kebugaran' di papan tulis: murid diminta mengidentifikasi kelemahan logis/kritis pada 2 contoh instruksi acak (acuan butir 1: 'Lari cepat sejauh 5 km tanpa pemanasan' -> tidak logis dan tidak kritis terhadap keamanan karena memicu cedera otot tanpa peregangan; acuan butir 2: 'Minum 3 liter air dingin sekaligus tepat sebelum melompat tali' -> tidak logis karena menyebabkan kram perut saat melompat) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan telaah kritis dan logis terhadap draf teks prosedur kebugaran tubuh bertajuk 'Panduan Latihan Kardio Ringan di Rumah' yang disajikan guru, dengan fokus pada 2 kriteria: (1) kelogisan urutan langkah (pemanasan - inti latihan - pendinginan), dan (2) kekritisan arahan (kejelasan batasan durasi/repetisi, faktor keselamatan tubuh, dan eliminasi langkah yang kontradiktif) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti permainan cepat 'Benahi Arahan': menganalisis kartu bermasalah 'Lakukan pendinginan lalu lakukan sprint maksimal selama 20 menit' untuk diubah secara tertulis menjadi arahan yang logis dan kritis (acuan perbaikan: 'Lakukan pemanasan dinamis 5 menit, lakukan sprint interval sesuai kemampuan tubuh selama 10 menit, lalu akhiri dengan pendinginan untuk menurunkan denyut nadi') (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membuka kembali draf rangkaian langkah teks prosedur menjaga kebugaran tubuh yang telah ditulis pada Pertemuan 10 (misalnya draf latihan push-up mandiri, peregangan otot meja belajar, atau joging bertahap) (5 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan draf perbaikan dan menyempurnakan setiap butir arahan teks prosedur kebugaran tubuhnya: memastikan urutan tahapan logis tidak terbalik, mengganti kalimat yang rancu dengan arahan presisi (durasi, frekuensi), serta menyisipkan pertimbangan kritis keselamatan fisik (seperti jeda napas, hidrasi cukup, atau sikap tubuh yang benar agar tidak cedera) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil tulisan teks prosedur kebugaran tubuh yang telah disempurnakan menggunakan lembar periksa mandiri (self-check): memeriksa apakah 100% langkah sudah berurutan logis dan memuat arahan kritis keamanan gerak tubuh (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan prinsip utama dalam menuliskan arahan teks prosedur kebugaran tubuh secara logis (runtut bertahap) dan kritis (memperhatikan keselamatan serta dampak fisiologis bagi tubuh) (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas draf penyempurnaan yang telah diselesaikan serta menginformasikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 12) yaitu pelaksanaan asesmen sumatif bab, lalu menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan daftar tilik kelogisan dan kekritisan teks kebugaran tubuh (contoh kata penanda urutan waktu dan kata peringatan keselamatan) bagi murid yang membutuhkan scaffolding.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan tambahan mendapat pemodelan langsung cara merevisi kalimat arahan yang rancu, sedangkan murid yang sudah mahir diarahkan menyempurnakan rincian parameter intensitas latihan (beban/denyut nadi/frekuensi) secara mandiri.
  • Produk: Seluruh murid menghasilkan teks prosedur menjaga kebugaran tubuh hasil penyempurnaan; variasi terletak pada tingkat kompleksitas jenis aktivitas kebugaran tubuh yang dipilih (kebugaran dasar sederhana versus variasi sirkuit kebugaran bertahap).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman logika instruksi kebugaran melalui 2 butir pernyataan rancu: (1) 'Lari cepat sejauh 5 km tanpa pemanasan' (acuan jawaban: tidak logis/kritis karena memicu cedera otot); (2) 'Minum 3 liter air dingin sekaligus tepat sebelum melompat tali' (acuan jawaban: tidak logis/kritis karena memicu kram perut saat melompat).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja dan verifikasi draf tulisan saat murid menyempurnakan arahan teks prosedur: memeriksa keruntutan logis (pemanasan, inti, pendinginan) serta kekritisan arahan (batasan keamanan gerak, durasi realistis, dan pencegahan cedera).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan kelayakan draf akhir penyempurnaan teks prosedur kebugaran tubuh: murid mengumpulkan teks akhir yang memuat minimal 4 langkah arahan yang telah disempurnakan secara logis (urutan runtut) dan kritis (terdapat rambu keselamatan gerak tubuh) (kriteria penerimaan: alur arahan tidak terbalik dan memuat peringatan/takaran fisik yang jelas).

Formatif:

  • Penilaian proses menulis penyempurnaan teks prosedur kebugaran tubuh menggunakan rubrik kelogisan urutan dan kekritisan arahan keselamatan/kebugaran

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelogisan Urutan Arahan Kebugaran TubuhMenulis arahan teks prosedur kebugaran tubuh dengan urutan tahapan yang melompat-lompat dan belum membentuk alur logis (misalnya langkah inti mendahului pemanasan).Menulis arahan teks prosedur kebugaran tubuh dengan alur umum yang terbaca, tetapi masih terdapat minimal 1 perpindahan langkah yang kurang runtut.Menulis arahan teks prosedur kebugaran tubuh dengan urutan tahapan yang runtut dan logis dari awal hingga akhir.Menulis arahan teks prosedur kebugaran tubuh secara runtut, logis, dan menyertakan hubungan sebab-akibat tahapan latihan jasmani secara utuh dan mandiri.
Kekritisan Arahan Prosedur Menjaga KebugaranMenulis arahan kebugaran tubuh tanpa mempertimbangkan batasan keamanan gerak tubuh, durasi, atau potensi risiko fisik.Menulis arahan kebugaran tubuh dengan mencantumkan durasi/takaran latihan, namun belum memuat rambu keselamatan atau peringatan pencegahan cedera.Menulis arahan kebugaran tubuh secara kritis yang memuat takaran latihan terukur dan peringatan keselamatan fisik untuk mencegah cedera.Menulis arahan kebugaran tubuh secara kritis dengan ketepatan takaran gerak, pertimbangan keselamatan tubuh yang komprehensif, serta solusi adaptasi fisik secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid berhasil mengidentifikasi dan membenahi ketidaklogisan serta kelemahan arahan dalam draf teks prosedur kebugaran mereka?
  • Bagian mana dari bimbingan menulis kritis yang paling efektif membantu murid menyadari faktor keselamatan gerak jasmani?

Murid:

  • Apakah urutan langkah latihan kebugaran yang saya tulis sudah benar-benar runtut dan masuk akal untuk dipraktikkan?
  • Apakah arahan yang saya sempurnakan sudah cukup kritis dalam menjaga tubuh dari risiko cedera atau kelelahan berlebih?

Pertemuan 12 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.1 Menganalisis arahan dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang petunjuk hidup sehat
  • TP 7.3.2 Menganalisis arahan dari teks visual infografik tentang kebiasaan hidup sehat untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
  • TP 7.3.3 Mengevaluasi kualitas dari berbagai tipe teks berwujud teks visual panduan kesehatan menggunakan sumber informasi lain
  • TP 7.3.4 Mempresentasikan arahan untuk tujuan pemberian solusi dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif mengenai rutinitas kesehatan remaja
  • TP 7.3.5 Menulis arahan dalam teks prosedur secara logis dan kritis mengenai cara menjaga kebugaran tubuh

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, mengecek kesiapan fisik dan meja belajar murid, serta menyampaikan bahwa hari ini adalah asesmen sumatif akhir Bab 3 yang menguji pemahaman teks aural, visual, evaluasi teks, penulisan prosedur kebugaran, dan pengumpulan artefak monolog solusi kesehatan (3 menit).
  • Guru membagikan lembar tes tertulis terpadu membaca-menyimak dan lembar kerja menulis teks prosedur, lalu menjelaskan tata tertib asesmen sumatif, batasan waktu pengerjaan setiap bagian, serta mekanisme pengumpulan berkas rekaman monolog mandiri (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak arahan dan petunjuk teknis pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 3 secara saksama, memastikan tidak ada kendala keterbacaan naskah infografik maupun lembar penulisan teks prosedur (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1 (45 menit): Murid mengerjakan tes tertulis serentak pemahaman teks aural, infografik, dan evaluasi teks. Langkah 1: Murid menyimak pembacaan teks aural 'Petunjuk Mengatur Jam Istirahat Tubuh' oleh guru (dibacakan 2 kali: paragraf 1 tentang pembatasan gawai 1 jam sebelum tidur; paragraf 2 tentang durasi tidur 8 jam bagi remaja), lalu murid menganalisis 2 butir arahan teks aural [Soal 1: sebutkan 2 arahan utama; Kunci: (a) menghentikan penggunaan gawai minimal 60 menit sebelum tidur, (b) mencukupi waktu tidur malam selama 8 jam]. Langkah 2: Murid menganalisis infografik visual 'Isi Piringku dan Pola Minum Sehat' untuk menjawab 2 butir soal makna tersurat dan tersirat [Soal 2 tersurat: proporsi porsi sayur dan buah; Kunci: setengah piring terdiri atas sayuran dan buah-buahan; Soal 3 tersirat: dampak jika melewatkan minum air putih saat bangun pagi; Kunci: metabolisme tubuh lambat aktif dan tubuh berisiko mengalami dehidrasi ringan setelah tidur semalaman]. Langkah 3: Murid mengevaluasi kualitas teks panduan kesehatan visual 'Panduan Olahraga Ringan' berbasis teks pembanding jurnal medis remaja [Soal 4: telaah kejelasan langkah pemanasan; Kunci: teks visual kurang jelas karena tidak memuat durasi menit tiap gerakan pemanasan, sedangkan teks pembanding merinci 10-15 detik per gerakan; Soal 5: telaah kelengkapan informasi bahaya tanpa pemanasan; Kunci: teks visual tidak lengkap karena hanya menyebut 'lakukan pemanasan' tanpa menyebut risiko cedera otot yang dipaparkan rinci pada teks pembanding] (42 menit).
  • Tugas 2 (20 menit): Murid secara mandiri menulis draf teks prosedur individual bertema 'Cara Menjaga Kebugaran Tubuh' pada lembar kerja berstruktur baku. Naskah wajib memuat: (1) Tujuan teks secara lugas, (2) Alat dan bahan/syarat kebugaran (misal: pakaian olahraga, air minum, sepatu), (3) Rangkaian minimal 4 langkah arahan yang disusun secara logis dan kritis menggunakan kalimat perintah/ajakan dan adverbia (contoh alur: pemanasan dinamis, latihan inti kardio/kekuatan 20 menit, hidrasi teratur, pendinginan bertahap), serta (4) Penutup yang menegaskan manfaat kebugaran (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Tugas 3 & Refleksi Proses (5 menit): Murid menyerahkan lembar tes tertulis dan lembar naskah teks prosedur kepada guru, kemudian memastikan bukti tautan/berkas rekaman video/audio monolog mandiri berdurasi 1-2 menit (berisi arahan pemberian solusi rutinitas kesehatan remaja yang direkam mandiri sesuai instrumen) telah terunggah atau tercatat pada daftar inventaris artefak kelas (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru merangkum pencapaian seluruh tujuan pembelajaran pada Bab 3, menegaskan pentingnya pembiasaan hidup sehat dan kecakapan literasi kesehatan dalam kehidupan nyata (3 menit).
  • Guru menutup sesi asesmen sumatif dengan memberikan apresiasi atas kedisiplinan dan integritas seluruh murid, menginformasikan jadwal penyampaian umpan balik asesmen sumatif, serta menutup pelajaran dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan salinan cetak infografik dengan kontras dan ukuran teks yang lebih besar bagi murid dengan hambatan penglihatan tanpa mengubah substansi isi teks panduan kesehatan.
  • Proses: Memberikan pendampingan posisi duduk di barisan depan saat teks aural dibacakan agar audio terdengar jelas, dengan tetap mengerjakan tugas secara mandiri tanpa bantuan pengisian jawaban.
  • Produk: Format penyerahan rekaman monolog solusi kesehatan dapat diserahkan dalam bentuk rekaman video MP4 atau rekaman suara murni MP3/M4A bagi murid yang memiliki keterbatasan perangkat kamera.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • tes tertulis terpadu membaca-menyimak dan portofolio unjuk kerja menulis teks prosedur serta rekaman monolog solusi kesehatan: lembar jawaban analisis teks aural dan visual kebiasaan sehat, draf teks prosedur menjaga kebugaran tubuh, serta artefak rekaman audio/video monolog solusi rutinitas kesehatan remaja
  • tes tertulis serentak: lembar jawaban murid berisi telaah arahan teks aural yang diperdengarkan guru, tabel analisis informasi tersurat-tersirat dari infografik kebiasaan hidup sehat, dan evaluasi kualitas teks panduan kesehatan berbasis teks pembanding yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; kelompok; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian analitik pemahaman teks)
  • unjuk kerja menulis serentak: lembar draf teks prosedur individual berisi arahan langkah menjaga kebugaran tubuh yang disusun secara logis, kritis, dan berstruktur lengkap (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian menulis teks prosedur (struktur, kelogisan arahan, dan kaidah kebahasaan))
  • penugasan unjuk kerja monolog mandiri: berkas rekaman audio/video monolog individual berdurasi 1-2 menit berisi arahan dan pemberian solusi mengenai rutinitas kesehatan remaja yang direkam mandiri di sekolah/luar jam tatap muka dan diserahkan sebagai artefak digital untuk dinilai guru secara akuntabel bagi setiap murid (10 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi monolog (kejelasan gagasan, ketepatan solusi, dan kekritisan penyampaian))

Sumatif:

  • tes tertulis terpadu membaca-menyimak dan portofolio unjuk kerja menulis teks prosedur serta rekaman monolog solusi kesehatan: lembar jawaban analisis teks aural dan visual kebiasaan sehat, draf teks prosedur menjaga kebugaran tubuh, serta artefak rekaman audio/video monolog solusi rutinitas kesehatan remaja
  • tes tertulis serentak: lembar jawaban murid berisi telaah arahan teks aural yang diperdengarkan guru, tabel analisis informasi tersurat-tersirat dari infografik kebiasaan hidup sehat, dan evaluasi kualitas teks panduan kesehatan berbasis teks pembanding yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; kelompok; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian analitik pemahaman teks)
  • unjuk kerja menulis serentak: lembar draf teks prosedur individual berisi arahan langkah menjaga kebugaran tubuh yang disusun secara logis, kritis, dan berstruktur lengkap (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian menulis teks prosedur (struktur, kelogisan arahan, dan kaidah kebahasaan))
  • penugasan unjuk kerja monolog mandiri: berkas rekaman audio/video monolog individual berdurasi 1-2 menit berisi arahan dan pemberian solusi mengenai rutinitas kesehatan remaja yang direkam mandiri di sekolah/luar jam tatap muka dan diserahkan sebagai artefak digital untuk dinilai guru secara akuntabel bagi setiap murid (10 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi monolog (kejelasan gagasan, ketepatan solusi, dan kekritisan penyampaian))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Teks Aural Petunjuk Hidup Sehat (TP 7.3.1)Belum mampu menemukan arahan utama dari teks aural yang diperdengarkan (0 jawaban tepat dari 2 arahan acuan: setop gawai 60 menit sebelum tidur; tidur 8 jam).Mampu menemukan 1 dari 2 arahan utama teks aural sesuai acuan kunci jawaban.Mampu menganalisis 2 arahan utama teks aural secara tepat sesuai acuan kunci jawaban dengan bantuan pengulangan pembacaan khusus.Mampu menganalisis seluruh (2) arahan utama teks aural secara tepat dan mandiri sesuai acuan kunci jawaban (setop gawai 60 menit sebelum tidur; tidur 8 jam).
Analisis Makna Tersurat dan Tersirat Infografik (TP 7.3.2)Belum mampu mengidentifikasi makna tersurat maupun tersirat pada infografik (0 butir tepat dari 2 butir acuan).Hanya mampu menjawab tepat butir makna tersurat (porsi sayur dan buah setengah piring), namun belum tepat pada butir makna tersirat.Mampu menjawab tepat butir makna tersurat dan memaknai butir tersirat secara umum namun penjelasannya kurang operasional.Mampu menganalisis makna tersurat (porsi sayur-buah setengah piring) dan makna tersirat (metabolisme lambat aktif & dehidrasi pascatidur) secara tepat dan lengkap sesuai acuan.
Evaluasi Kualitas Teks Visual Kesehatan (TP 7.3.3)Belum mampu mengevaluasi kejelasan maupun kelengkapan teks visual menggunakan teks pembanding (0 dari 2 telaah acuan tepat).Mampu mengevaluasi 1 dari 2 aspek (hanya kejelasan durasi pemanasan ATAU hanya kelengkapan risiko cedera otot).Mampu mengevaluasi kejelasan durasi pemanasan dan kelengkapan risiko cedera otot namun perbandingannya dengan teks rujukan belum sepenuhnya eksplisit.Mampu mengevaluasi kualitas kejelasan (durasi 10-15 detik) dan kelengkapan informasi (risiko cedera otot) teks visual secara kritis dan tepat berdasarkan teks rujukan pembanding.
Presentasi Monolog Solusi Kesehatan Remaja (TP 7.3.4)Artefak monolog belum menyajikan solusi konkret atau durasi monolog kurang dari 30 detik.Menyampaikan masalah kesehatan remaja tetapi arahan solusi yang dipaparkan belum logis atau kurang terarah.Mempresentasikan arahan solusi rutinitas kesehatan remaja secara runtut dan kreatif berdurasi 1-2 menit.Mempresentasikan arahan pemberian solusi kesehatan remaja dalam bentuk monolog secara sangat kritis, kreatif, terstruktur runtut, dan persuasif dalam durasi 1-2 menit.
Menulis Teks Prosedur Kebugaran Tubuh (TP 7.3.5)Teks prosedur hanya memuat kurang dari 2 struktur atau langkah-langkah arahan tidak tersusun logis (kurang dari 3 langkah).Memuat 3 struktur teks prosedur dan 3-4 langkah arahan, namun keterkaitan antarlangkah kurang logis atau kalimat perintah belum tepat.Memuat lengkap 4 struktur (tujuan, alat/bahan, langkah, penutup) dengan minimal 4 langkah arahan yang logis dan menggunakan kalimat perintah.Menulis teks prosedur kebugaran tubuh dengan struktur lengkap, minimal 4 langkah tersusun sangat logis, kritis dalam memilih aktivitas yang aman, serta menggunakan kaidah kebahasaan (kalimat perintah/ajakan dan adverbia) secara tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk tes tertulis dan 20 menit untuk menulis teks prosedur cukup memadai bagi seluruh murid?
  • Bagaimana variasi capaian kompetensi murid dalam menganalisis informasi aural-visual dibandingkan keterampilan produktif berbicara dan menulis?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif Bab 3 ini yang paling menantang untuk saya kerjakan?
  • Bagaimana keterampilan memahami teks prosedur dan menganalisis panduan kesehatan ini membantu saya menjaga kesehatan tubuh sehari-hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023)
  2. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Bab 3 (Kemendikbudristek, 2023)
  3. Naskah teks aural hidup sehat 'Langkah Awal Memulai Pagi Sehat' dan 'Panduan Memulai Kebiasaan Makan Sehat'
  4. Lembar Kerja Analisis Arahan Teks Aural
  5. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh
  6. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh
  7. Naskah teks aural panduan kesehatan: 'Petunjuk Pola Istirahat dan Pemulihan Fisik Remaja' dan 'Panduan Aktivitas Fisik dan Pengaturan Cairan Saat Berolahraga'
  8. Lembar Kerja Analisis Arahan Aural
  9. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Revisi, Kemendikbudristek 2023.
  10. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Revisi, Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Gambar 3.2 dan 3.3).
  11. Lembar Kerja Murid Analisis Teks Visual Infografik Kesehatan.
  12. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023, Bab 3 Hal yang Baik bagi Tubuh
  13. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023, Bab 3 Halaman 82-85
  14. Infografik 'Tip Waktu Makan Ideal' dan 'Lebih Baik Bawa Bekal' (Buku Siswa Bab 3)
  15. Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Detektif Pesan Tersirat'
  16. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek RI, 2023) Bab 3
  17. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek RI, 2023) Bab 3 Halaman 88-91 (Teks visual 'Tetap Rileks Saat di Kelas')
  18. Lembar teks pembanding rujukan: Lembar Informasi 'Panduan Peregangan di Tempat Kerja dan Sekolah' adaptasi materi resmi Kementerian Kesehatan RI
  19. Lembar Kerja Evaluasi Kejelasan Teks Visual Berpasangan/Mandiri
  20. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Kemendikbudristek 2023, Bab 3: 'Hal yang Baik bagi Tubuh'
  21. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Infografik 'Tip Sehat dan Bugar di Masa Remaja'
  22. Artikel rujukan Kemenkes RI: 'Pedoman Gizi Seimbang dan Pola Hidup Bersih Sehat Remaja'
  23. Kartu Komparasi 4 Fakta dan Lembar Kerja Evaluasi Kelengkapan Informasi Teks Visual
  24. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 3
  25. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 3
  26. Lembar Kerangka Monolog Berpemandu Arahan Rutinitas Kesehatan Remaja
  27. Kartu Masalah Kesehatan Remaja (Kartu A: Air Putih, Kartu B: Gula/Jajanan Manis, Kartu C: Postur Belajar)
  28. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh)
  29. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh)
  30. Lembar pengamatan presentasi monolog mandiri dan pengatur waktu (stopwatch)
  31. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs (Kemendikbudristek RI 2023, Bab 3)
  32. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs (Kemendikbudristek RI 2023, Bab 3: Hal yang Baik bagi Tubuh)
  33. Lembar Kerja Menulis Kerangka Teks Prosedur Kebugaran Tubuh
  34. Kartu Alur Logis Latihan Fisik
  35. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023, Halaman 110-112)
  36. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023, Bab 3 Hal yang Baik bagi Tubuh, Halaman 78-105)
  37. Lembar Kerja Menulis Draf Teks Prosedur Kebugaran Tubuh
  38. Kartu Permainan Susun Rantai Arahan Kebugaran
  39. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek Edisi Revisi 2023
  40. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek Edisi Revisi 2023 Bab 3
  41. Lembar Periksa Mandiri (Self-Check) Logika & Kekritisan Teks Prosedur Kebugaran Tubuh
  42. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 2023. Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Buku Siswa & Buku Guru Bab 3 'Hal yang Baik bagi Tubuh').
  43. Naskah Teks Aural Guru: 'Petunjuk Mengatur Jam Istirahat Tubuh'.
  44. Lembar Soal Asesmen Sumatif Bab 3: Infografik 'Isi Piringku dan Pola Minum Sehat' serta Teks Visual Pembanding 'Panduan Olahraga Ringan'.
  45. Lembar Kerja Menulis Teks Prosedur Kebugaran Tubuh.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.