Modul AjarBab 1Fase DSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Bab 1: Jelajah Nusantara

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 7 untuk Bab 1 "Jelajah Nusantara", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Bab 1: Jelajah Nusantara

Bahasa Indonesia - Kelas 7

Bab 1

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 1 — Jelajah Nusantara

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 1 — Jelajah Nusantara
Alokasi Waktu30 JP (30 x 40 menit = 1200 menit)
Jumlah Pertemuan12
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.1.1 Menganalisis gagasan dan pandangan dari teks deskripsi nonsastra berbentuk teks aural tentang objek wisata nusantara
  2. TP 7.1.2 Menganalisis informasi berupa gagasan dari teks deskripsi visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
  3. TP 7.1.3 Mengevaluasi kualitas dari teks deskripsi berwujud teks visual menggunakan sumber informasi lain
  4. TP 7.1.4 Mempresentasikan gagasan untuk tujuan pengajuan usul dan pemberian solusi pengelolaan objek wisata dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif
  5. TP 7.1.5 Menulis pengalaman dalam teks deskripsi secara logis, kritis, dan menarik dengan menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Saat kalian mendengarkan pemandu wisata berbicara, bagaimana cara kalian mengetahui hal utama yang sedang ia jelaskan?
  2. Mengapa kita perlu membedakan antara informasi utama dan kalimat penjelas ketika menyimak teks deskripsi lisan?
  3. Ketika seorang pemandu wisata mendeskripsikan suatu tempat, bagaimana kita mengetahui sikap atau keberpihakan perasaannya terhadap tempat tersebut?
  4. Apakah kata sapaan dan pilihan kata yang digunakan penutur dapat menunjukkan siapa sasaran pendengarnya serta tujuan penutur berbicara?
  5. Saat membaca brosur atau pamflet wisata yang memuat teks dan gambar, bagaimana kalian mengetahui informasi yang tertulis secara langsung?
  6. Mengapa kita perlu mencermati rincian fakta tersurat dalam teks deskripsi visual sebelum mempercayai keindahan suatu tempat?
  7. Apa perbedaan antara informasi yang tertulis jelas (tersurat) dengan pesan tersembunyi yang disimpulkan dari petunjuk visual atau kalimat (tersirat)?
  8. Jika sebuah pamflet wisata menampilkan gambar kabut tebal dan pendaki berjaket tebal tanpa menuliskan kata 'dingin', kesimpulan apa yang tersirat tentang tempat tersebut?
  9. Ketika membaca pamflet wisata dengan gambar yang buram atau tulisan yang ambigu, apakah informasi tersebut dapat langsung kalian percayai?
  10. Bagaimana cara kita membuktikan kejelasan informasi suatu teks visual wisata menggunakan sumber bacaan lain?
  11. Saat kalian membaca sebuah brosur atau teks visual wisata, pernahkah kalian merasa ada informasi penting yang belum dicantumkan?
  12. Bagaimana cara kita mengetahui kelengkapan rincian sebuah tempat wisata jika hanya mengandalkan satu teks visual saja?
  13. Apa masalah nyata yang kerap kalian jumpai saat berkunjung ke tempat wisata dan mengapa masalah itu penting segera diatasi?
  14. Bagaimana cara menyampaikan usulan perbaikan tempat wisata secara runtut dan meyakinkan melalui monolog singkat?
  15. Bagaimana cara menyampaikan gagasan solusi untuk mengatasi masalah di objek wisata agar terdengar logis, kritis, dan menarik bagi pendengar?
  16. Ide kreatif apa yang dapat kamu tawarkan secara mandiri untuk menjaga kenyamanan dan kelestarian objek wisata nusantara?
  17. Bagaimana cara kita menyusun kerangka pengalaman berkunjung ke suatu tempat agar urutan kejadiannya logis?
  18. Mengapa penggunaan kosakata bermakna denotatif (makna sebenarnya) sangat penting saat mendeskripsikan ciri fisik objek pengalaman kita?
  19. Bagaimana pilihan kata konotatif membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan keindahan tempat yang pernah kamu kunjungi?
  20. Apa perbedaan kesan antara kalimat 'pantai itu sangat ramai' dengan kalimat 'pantai itu dibanjiri lautan manusia'?
  21. Bagaimana pilihan kata bermakna denotatif dan konotatif dapat membuat teks deskripsi pengalaman wisata terasa lebih hidup dan memikat pembaca?
  22. Bagian mana dari draf deskripsimu yang masih terasa datar dan perlu disempurnakan agar rincian pengalamannya lebih logis dan berdaya pikat?
  23. Bagaimana membuktikan pemahaman menyeluruh kalian tentang keindahan dan pengelolaan objek wisata Nusantara melalui tulisan dan tuturan lisan?
  24. Mengapa penilaian mandiri secara jujur dan tertib penting untuk mengukur capaian belajar kita selama satu bab?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Gagasan Pokok dari Teks Deskripsi Nonsastra Aural tentang Objek Wisata — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Menganalisis gagasan dan pandangan dari teks deskripsi nonsastra berbentuk teks aural tentang objek wisata nusantara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai analisis gagasan pokok dari teks deskripsi aural tentang objek wisata nusantara (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan satu paragraf pendek deskripsi aural tentang Pantai Kuta: 'Pantai Kuta terkenal dengan panorama matahari terbenamnya yang memukau di Pulau Bali. Langit sore yang perlahan jingga dan ombak tenang memanjakan mata para pelancong yang duduk di tepi pantai.' Guru meminta murid menuliskan gagasan pokok paragraf tersebut pada selembar kertas (acuan jawaban benar: keindahan panorama matahari terbenam di Pantai Kuta) (10 menit).
  • Guru memberikan apersepsi pemantik mengenai peran pendengaran aktif saat menyimak informasi objek wisata serta menjelaskan alur kegiatan dan kriteria keberhasilan pembelajaran hari ini (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak pembacaan teks deskripsi aural nonsastra berjudul 'Pesona Wae Rebo' yang dibacakan oleh guru secara perlahan dan artikulatif sebanyak dua kali (Teks Paragraf 1: 'Desa Wae Rebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, berada di lembah pegunungan terpencil yang asri. Pemandangan perbukitan hijau yang memeluk desa menciptakan suasana damai tanpa polusi bising kendaraan. Udara pegunungan yang menusuk kulit terasa sangat menyegarkan.' Paragraf 2: 'Keunikan utama Desa Wae Rebo terletak pada arsitektur rumah adat Mbaru Niang yang berbentuk kerucut tinggi. Tujuh rumah kerucut beratap ijuk hitam ini berdiri melingkari halaman tanah lapang tempat upacara adat diselenggarakan. Desain atap menjulang tersebut mencerminkan harmoni kehidupan suku Manggarai dengan alam semesta.') (15 menit).
  • Murid secara berkesadaran mengidentifikasi perbedaan antara gagasan pokok (ide inti yang menjiwai suatu paragraf deskripsi) dan gagasan pendukung (rincian pengembang yang menjelaskan ide inti) melalui pembedahan terpandu pada teks 'Pesona Wae Rebo' (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Detektif Gagasan Pokok' yang menggembirakan: guru membacakan 3 kutipan teks aural singkat objek wisata nusantara secara acak, kemudian tiap pasangan beradu cepat mencocokkan kutipan dengan kartu gagasan pokok yang tepat di mejanya (Kutipan 1: 'Candi Borobudur di Magelang memiliki relief batu yang sarat kisah sejarah di setiap tingkatan dindingnya.' -> Kartu A: Keberadaan relief batu bersejarah di Candi Borobudur; Kutipan 2: 'Kawasan Danau Toba menyuguhkan keindahan danau vulkanik raksasa dengan Pulau Samosir di tengahnya.' -> Kartu B: Keindahan bentang alam danau vulkanik Danau Toba; Kutipan 3: 'Taman Nasional Bunaken menyimpan terumbu karang warna-warni yang kaya biota laut langka di perairan Sulawesi Utara.' -> Kartu C: Kekayaan terumbu karang dan biota laut Bunaken) (15 menit).
  • Murid secara mandiri menyimak pembacaan teks deskripsi aural kedua berjudul 'Jelajah Alam Raja Ampat' yang dibacakan guru sebanyak 2 kali (Paragraf 1: 'Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas sebagai surga wisata bahari kelas dunia. Gugusan pulau karang zamrud yang terapung di perairan toska menawarkan pemandangan magis yang tiada duanya di kepulauan nusantara.' Paragraf 2: 'Perairan Raja Ampat merupakan habitat alami bagi ribuan jenis ikan karang dan terumbu karang terlengkap di bumi. Penyelam dari berbagai belahan dunia dapat menjumpai pari manta raksasa serta kawanan barakuda yang melintas bebas di celah karang.' Paragraf 3: 'Aktivitas wisata berkelanjutan diterapkan secara ketat oleh masyarakat lokal Raja Ampat guna melindungi kelestarian laut. Zona konservasi adat melarang penangkapan ikan di lokasi karang tertentu agar keasrian ekosistem bawah air tetap terjaga utuh.') (15 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Analisis Gagasan Pokok secara mandiri untuk merumuskan gagasan pokok dari Paragraf 1, Paragraf 2, dan Paragraf 3 teks 'Jelajah Alam Raja Ampat' yang telah disimak (acuan jawaban: Gagasan pokok Paragraf 1 = Keindahan Kepulauan Raja Ampat sebagai surga wisata bahari nusantara; Gagasan pokok Paragraf 2 = Kekayaan keanekaragaman biota dan terumbu karang di perairan Raja Ampat; Gagasan pokok Paragraf 3 = Penerapan wisata berkelanjutan/konservasi adat untuk menjaga ekosistem laut Raja Ampat) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ketepatan rumusan gagasan pokok masing-masing secara berkesadaran dengan membandingkannya terhadap kunci acuan yang dipandu guru serta mencatat letak kekeliruan jika masih tertukar dengan kalimat penjelas (15 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan strategi menemukan gagasan pokok pada teks deskripsi aural, yaitu mendengarkan fokus subjek utama yang dibicarakan dan kata kunci yang berulang di tiap paragraf (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh atas hasil analisis murid, menginformasikan materi aural berikutnya mengenai pandangan penutur, dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan teks dengan jeda intonasi lebih jelas di setiap pergantian kalimat. Bagi murid cepat, teks dibacakan dengan kecepatan wajar pemandu wisata tanpa penekanan buatan.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan membedakan gagasan pokok diberi panduan menemukan subjek yang paling sering disebut, sedangkan murid mahir langsung diminta merumuskan gagasan pokok secara mandiri menggunakan kalimatnya sendiri.
  • Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan diperbolehkan menuliskan gagasan pokok persis seperti kalimat utama dalam teks yang disimak, sedangkan murid yang lebih cepat diarahkan untuk memparafrasakan gagasan pokok secara padat dan mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru membacakan teks lisan: 'Pantai Kuta terkenal dengan panorama matahari terbenamnya yang memukau di Pulau Bali. Langit sore yang perlahan jingga dan ombak tenang memanjakan mata para pelancong yang duduk di tepi pantai.' Murid menuliskan gagasan pokok teks tersebut (acuan: keindahan panorama matahari terbenam di Pantai Kuta).

Proses:

  • Observasi partisipasi aktif dan ketepatan murid dalam mencocokkan 3 kartu gagasan pokok dengan kutipan lisan pada aktivitas Detektif Gagasan Pokok (acuan: Kutipan 1 = Relief bersejarah Candi Borobudur; Kutipan 2 = Keindahan danau vulkanik Danau Toba; Kutipan 3 = Kekayaan terumbu karang dan biota laut Bunaken).
  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Analisis Gagasan Pokok dari teks aural 'Jelajah Alam Raja Ampat' untuk 3 paragraf (acuan: P1 = Keindahan Raja Ampat sebagai surga wisata bahari nusantara; P2 = Kekayaan keanekaragaman biota laut/karang Raja Ampat; P3 = Penerapan konservasi/wisata berkelanjutan masyarakat lokal Raja Ampat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif-analitis tertulis: 'Tuliskan perbedaan mendasar antara gagasan pokok dan kalimat penjelas berdasarkan teks aural yang telah kalian simak!' (Kriteria penerimaan operasional: jawaban menyebutkan bahwa gagasan pokok memuat inti atau ide utama pembicaraan suatu paragraf, sedangkan kalimat penjelas memuat perincian, bukti, atau pendukung ide utama tersebut).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal menyimak gagasan pokok Pantai Kuta
  • Pengamatan unjuk kerja permainan mencocokkan kutipan lisan dan kartu gagasan pokok
  • Penilaian lembar kerja analisis mandiri gagasan pokok 3 paragraf teks aural 'Jelajah Alam Raja Ampat'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Gagasan Pokok Teks Deskripsi AuralBelum mampu menentukan gagasan pokok dari teks deskripsi aural yang diperdengarkan (0 dari 3 paragraf teks 'Jelajah Alam Raja Ampat' dianalisis tepat).Mampu menganalisis gagasan pokok teks deskripsi aural secara tepat pada 1 dari 3 paragraf teks 'Jelajah Alam Raja Ampat' sesuai acuan.Mampu menganalisis gagasan pokok teks deskripsi aural secara tepat pada 2 dari 3 paragraf teks 'Jelajah Alam Raja Ampat' sesuai acuan.Mampu menganalisis seluruh (3 dari 3) gagasan pokok teks deskripsi aural pada teks 'Jelajah Alam Raja Ampat' secara tepat dan mandiri sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah kecepatan dan intonasi pembacaan teks deskripsi aural sudah memfasilitasi seluruh murid untuk menyimak dengan baik?
  • Bagian mana dari langkah analisis gagasan pokok yang masih membingungkan murid yang membutuhkan bimbingan?

Murid:

  • Apakah saya dapat menangkap inti gagasan pokok dari teks deskripsi lisan yang dibacakan guru?
  • Strategi apa yang paling membantu saya saat menyimak agar tidak tertukar antara ide pokok dan kalimat penjelas?

Pertemuan 2 — Menganalisis Pandangan Penutur dari Teks Deskripsi Nonsastra Aural tentang Objek Wisata Nusantara — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Menganalisis gagasan dan pandangan dari teks deskripsi nonsastra berbentuk teks aural tentang objek wisata nusantara

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini, yaitu menganalisis pandangan penutur dari teks deskripsi aural (10 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik dengan menyimak satu kutipan tuturan lisan singkat guru: 'Halo Sahabat Petualang! Jalur kawah Ijen ini luar biasa menantang tapi pemandangan api birunya benar-benar magis dan sepadan dengan rasa lelah kita!' lalu murid menjawab 2 pertanyaan pemetaan kesiapan: (1) Kepada siapa tuturan ditujukan? (Acuan: Sahabat Petualang/remaja/penjelajah muda); (2) Bagaimana sikap/perasaan penutur terhadap kawah Ijen? (Acuan: Sangat kagum/positif/antusias terhadap keindahannya) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan terarah mengenai konsep pandangan penutur dalam teks deskripsi aural, yaitu sikap, perasaan, tujuan penutur, serta target audiens yang dapat dikenali melalui kata sapaan dan kata emotif (15 menit).
  • Guru membacakan teks aural 1 berjudul 'Jelajah Wae Rebo': 'Selamat siang, Kakak-Kakak dan Bapak/Ibu! Selamat datang di Desa Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Saat ini kita berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Rumah adat Mbaru Niang yang menjulang ini adalah bukti kearifan leluhur yang luar biasa anggun dan wajib kita jaga dengan penuh rasa hormat.' Murid menyimak dengan berkesadaran tanpa membuat catatan terlebih dahulu (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan memainkan aktivitas tantangan tebak pandangan 'Detektif Penutur' yang menggembirakan: guru membacakan teks aural 2 berjudul 'Jelajah Rasa di Lampung': 'Hai teman-teman pencinta kuliner! Kalian wajib banget coba keripik pisang cokelat lumer khas Lampung ini. Gigitan pertamanya renyah luar biasa dan cokelatnya melimpah, dijamin bikin kalian ketagihan dan ingin balik lagi ke Lampung!', lalu murid berlomba mencocokkan kartu analisis pandangan penutur dengan cepat (15 menit).
  • Murid secara mandiri menyimak pembacaan teks aural pembanding 3 berjudul 'Keheningan Danau Ranau': 'Selamat pagi para peneliti dan pemerhati lingkungan. Danau Ranau yang terbentang di perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan ini menawarkan ketenangan yang langka. Kami memandang kawasan perairan ini bukan sekadar destinasi liburan, melainkan benteng ekologi penting yang membutuhkan kehati-hatian kita semua agar ekosistem alaminya tidak rusak oleh polusi.' (15 menit).
  • Murid menganalisis dan menuliskan pandangan penutur dari teks aural 3 pada lembar analisis berdasarkan 4 unsur: (1) Sasaran pendengar (Acuan: peneliti dan pemerhati lingkungan); (2) Kata sapaan yang digunakan (Acuan: para peneliti dan pemerhati lingkungan); (3) Sikap/perasaan penutur terhadap objek (Acuan: peduli, cermat, hormat, menghargai nilai ekologis dan ketenangan danau); (4) Tujuan penutur menjelaskan objek (Acuan: mengajak pendengar menjaga keaslian ekosistem dan melindungi danau dari kerusakan) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mendiskusikan ketepatan hasil analisis lembar kerja dengan mencocokkan bukti kata-kata penutur yang terdengar dalam teks aural (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan analisis pandangan penutur yang telah dikerjakan murid dan menegaskan bahwa pilihan kata penutur mencerminkan sikap serta tujuannya (10 menit).
  • Murid dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini dan guru menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya pembelajaran akan beralih ke analisis informasi tersurat dari teks deskripsi visual (5 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan ulang teks aural 3 dengan intonasi yang memberi penekanan pada kata sapaan dan kata kunci sikap penutur; bagi murid yang cepat paham, diberikan tantangan tambahan untuk mengidentifikasi 2 bukti frasa emotif spesifik yang memperkuat pandangan penutur dari teks aural 3.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Simak kutipan lisan guru: 'Halo Sahabat Petualang! Jalur kawah Ijen ini luar biasa menantang tapi pemandangan api birunya benar-benar magis dan sepadan dengan rasa lelah kita!' Jawab 2 pertanyaan: (1) Kepada siapa tuturan ditujukan? (Kunci/Acuan: Sahabat Petualang, remaja, atau wisatawan penjelajah); (2) Bagaimana sikap penutur terhadap objek wisata tersebut? (Kunci/Acuan: Sangat kagum/positif/antusias terhadap keindahan dan tantangan kawah Ijen).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja analisis teks aural 3 'Keheningan Danau Ranau' dengan 4 indikator ketepatan: (1) Menentukan sasaran pendengar (Kunci: peneliti dan pemerhati lingkungan); (2) Menentukan kata sapaan (Kunci: para peneliti dan pemerhati lingkungan); (3) Menentukan sikap/perasaan penutur (Kunci: peduli, cermat, hormat terhadap kelestarian alam, tidak semata rekreasi); (4) Menentukan tujuan penutur (Kunci: mengajak menjaga kelestarian ekologi Danau Ranau).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan singkat di penutup: sebutkan perbedaan utama nada sikap penutur antara teks 'Jelajah Rasa di Lampung' (promotif, santai, mengajak menikmati makanan) dengan teks 'Keheningan Danau Ranau' (serius, peduli lingkungan, mengajak konservasi) berdasarkan pilihan kata yang disimak.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal menyimak tuturan singkat dan menjawab 2 pertanyaan pemetaan target pendengar dan sikap penutur.
  • Asesmen formatif unjuk kerja lembar analisis pandangan penutur dari teks aural 3 (mencakup 4 unsur: sasaran pendengar, kata sapaan, sikap penutur, dan tujuan penutur).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Pandangan Penutur Teks Deskripsi AuralMenganalisis 1 unsur pandangan penutur secara tepat dari 4 unsur acuan (sasaran pendengar, kata sapaan, sikap penutur, tujuan penutur) pada teks deskripsi aural.Menganalisis 2 unsur pandangan penutur secara tepat dari 4 unsur acuan pada teks deskripsi aural.Menganalisis 3 unsur pandangan penutur secara tepat dari 4 unsur acuan pada teks deskripsi aural.Menganalisis seluruh 4 unsur pandangan penutur secara tepat sesuai acuan (sasaran pendengar: peneliti/pemerhati lingkungan; sapaan: para peneliti dan pemerhati lingkungan; sikap: peduli kelestarian alam/ekologis; tujuan: menjaga danau dari kerusakan) pada teks deskripsi aural secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks aural yang dibacakan terdengar jelas oleh seluruh murid di ruang kelas?
  • Apakah kegiatan tantangan tebak pandangan 'Detektif Penutur' efektif membantu murid mengidentifikasi sikap dan audiens penutur?

Murid:

  • Bagian mana dari tuturan penutur yang paling mudah membantumu mengenali sikap atau perasaannya terhadap tempat wisata?
  • Apa kesulitan yang kamu temui saat membedakan tujuan penutur yang santai dengan penutur yang bernada formal/serius?

Pertemuan 3 — Menganalisis Informasi Berupa Gagasan Tersurat dari Teks Deskripsi Visual tentang Tempat Wisata — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.2 Menganalisis informasi berupa gagasan dari teks deskripsi visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menganalisis informasi berupa gagasan tersurat dalam teks deskripsi visual tempat wisata (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan singkat terkait kutipan pamflet wisata: (1) Apa nama objek wisata pada kalimat 'Pantai Senggigi terletak di Lombok Barat'? (acuan: Pantai Senggigi); (2) Berapa tinggi tebing pada kalimat 'Tebing karang setinggi 15 meter berdiri kokoh'? (acuan: 15 meter) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memirsa dan membaca teks deskripsi visual berjudul 'Taklukkan Puncak Papandayan' yang dilengkapi gambar kawah dan hutan mati (10 menit).
  • Guru memberikan pemodelan cara menemukan gagasan tersurat dengan teknik menandai kata kunci faktual (angka, lokasi, ciri fisik) yang tertulis langsung pada teks visual (10 menit).
  • Murid berpasangan memainkan kuis cepat 'Tersurat Tangkas': guru membacakan 3 pernyataan dan murid mengangkat kartu 'Ada di Teks' atau 'Tidak Ada di Teks' dengan butir: (1) Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2.662 mdpl; (2) Pengunjung dilarang mendirikan tenda; (3) Terdapat kawah belerang dan hutan mati (acuan: butir 1 Ada di Teks, butir 2 Tidak Ada di Teks, butir 3 Ada di Teks) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menerima Lembar Analisis Visual yang berisi teks deskripsi visual 'Pesona Danau Laut Tawar Takengon' beserta foto lanskap dan infografis ringkas (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis teks tersebut untuk menemukan 4 informasi gagasan tersurat dengan menjawab 4 butir pertanyaan faktual pada lembar kerja: (1) Lokasi Danau Laut Tawar (acuan: Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah); (2) Luas permukaan danau (acuan: sekitar 5.472 hektare); (3) Jenis ikan khas yang hidup di danau (acuan: ikan depik); (4) Daya tarik visual perbukitan di sekeliling danau (acuan: perbukitan hijau yang mengelilingi danau) (20 menit).
  • Murid memeriksa ulang hasil analisisnya dengan mencocokkan kutipan kalimat langsung dari teks yang menjadi bukti tersurat (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meninjau kembali ketepatan hasil analisis gagasan tersurat mereka melalui pencocokan terbimbing bersama panduan kunci guru di papan tulis (10 menit).
  • Murid menuliskan satu kalimat refleksi mandiri di buku catatan mengenai kemudahan atau kesulitan membedakan fakta yang tertulis langsung (tersurat) dengan perkiraan pribadi (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan kembali cara menemukan gagasan tersurat pada teks deskripsi visual, yaitu berpatokan pada kalimat dan data yang tertulis jelas pada teks/gambar (8 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir singkat berupa cek pemahaman 1 butir tertulis: Murid membaca kutipan 'Air Terjun Coban Rondo memiliki ketinggian 84 meter dan berada di ketinggian 1.135 mdpl' lalu menuliskan ketinggian air terjun tersebut (acuan: 84 meter) (5 menit).
  • Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya tentang menganalisis makna tersirat pada teks deskripsi visual dan menutup sesi dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual dengan kata kunci penting yang telah dicetak tebal, sedangkan murid yang mahir diberikan teks visual dengan kepadatan informasi lebih tinggi tanpa penanda visual tambahan.
  • Proses: Murid yang belum lancar mengidentifikasi informasi tersurat mendapatkan bimbingan terfokus dari guru melalui panduan pertanyaan penuntun (apa, di mana, berapa), sementara murid yang mandiri langsung menuntaskan analisis secara penuh.
  • Produk: Semua murid menghasilkan analisis gagasan tersurat pada lembar kerja; murid mahir menuliskan kutipan kalimat pendukung secara lengkap beserta nomor paragrafnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan membaca kutipan singkat brosur wisata di awal pelajaran: (1) Menentukan nama objek wisata pada 'Pantai Senggigi terletak di Lombok Barat' (acuan jawaban: Pantai Senggigi); (2) Menentukan ukuran tinggi pada 'Tebing karang setinggi 15 meter berdiri kokoh' (acuan jawaban: 15 meter)

Proses:

  • Formatif analisis mandiri 4 butir gagasan tersurat teks 'Pesona Danau Laut Tawar Takengon' pada Lembar Analisis Visual: (1) Lokasi (acuan: Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah); (2) Luas permukaan (acuan: sekitar 5.472 hektare); (3) Jenis ikan khas (acuan: ikan depik); (4) Ciri perbukitan sekeliling (acuan: perbukitan hijau mengelilingi danau)

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 1 butir tertulis di akhir pertemuan: Menentukan ketinggian air terjun berdasarkan kutipan visual 'Air Terjun Coban Rondo memiliki ketinggian 84 meter dan berada di ketinggian 1.135 mdpl' (acuan jawaban benar: 84 meter)

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja analisis 4 gagasan tersurat teks deskripsi visual 'Pesona Danau Laut Tawar Takengon'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menganalisis gagasan tersurat dari teks deskripsi visualMenganalisis dengan tepat paling banyak 1 dari 4 butir gagasan tersurat berdasarkan teks deskripsi visual acuan.Menganalisis dengan tepat 2 dari 4 butir gagasan tersurat berdasarkan teks deskripsi visual acuan.Menganalisis dengan tepat 3 dari 4 butir gagasan tersurat berdasarkan teks deskripsi visual acuan secara mandiri.Menganalisis dengan tepat seluruh 4 butir gagasan tersurat (lokasi, luas, jenis ikan, ciri perbukitan) berdasarkan teks deskripsi visual acuan secara mandiri dan lengkap.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 120 menit mencukupi bagi murid untuk membedakan fakta tersurat langsung dengan interpretasi?
  • Bagian mana dari langkah pemodelan teks visual yang paling efektif membantu murid menemukan bukti tersurat?

Murid:

  • Bagian mana dari teks deskripsi visual yang paling mudah kamu temukan informasi tersuratnya?
  • Langkah apa yang membantumu membuktikan bahwa jawabanmu memang tertulis langsung di dalam teks?

Pertemuan 4 — Menganalisis Makna Tersirat pada Informasi Teks Deskripsi Visual tentang Tempat Wisata — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.2 Menganalisis informasi berupa gagasan dari teks deskripsi visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis gagasan untuk menemukan makna tersirat dari teks deskripsi visual tempat wisata (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 1 kalimat deskripsi visual: 'Jalan setapak menuju puncak tertutup lumut basah dan para pengunjung berjalan berpegangan pada tali tambang.' Murid diminta menyimpulkan makna tersiratnya (acuan jawaban: kondisi medan jalan licin/curam/berbahaya) untuk memetakan kesiapan memahami makna tersirat (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks deskripsi visual pamflet wisata 'Taklukkan Puncak Papandayan' yang memuat data visual: foto kawah belerang mengepul, vegetasi hutan mati yang menghitam, serta teks suhu rata-rata 10–25 derajat Celcius dan curah hujan tinggi (15 menit).
  • Guru memodelkan teknik inferensi makna tersirat dengan membedah petunjuk tersurat: data tersurat 'temperatur 10–25 derajat Celcius dan kabut tebal' melahirkan makna tersirat 'pengunjung wajib mengenakan pakaian hangat/jaket tebal saat berkunjung' (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Detektif Makna Tersirat' yang menggembirakan: setiap pasangan menerima lembar tantangan berisi 4 petunjuk visual pamflet wisata dan berlomba menganalisis makna tersiratnya secara kritis dan tepat (20 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Analisis Makna Tersirat yang memuat 4 butir informasi visual dari teks pamflet wisata: (1) Foto jalur berbatu terjal dengan tanda peringatan jurang; (2) Keterangan 'hutan mati dengan sisa batang pohon menghitam akibat letusan'; (3) Gambar ladang edelweiss disertai rambu 'Dilarang Memetik Bunga Bentuk Apapun'; (4) Visual kabut pekat yang menutupi jalur pendakian pada sore hari (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis dengan acuan makna tersirat, lalu murid menandai tingkat ketepatan penemuannya secara mandiri (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan cara menemukan makna tersirat pada teks deskripsi visual yaitu menghubungkan bukti tersurat (fakta/gambar) dengan logika penafsiran (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan penafsiran bukti visual serta menginformasikan kegiatan pertemuan berikutnya yaitu mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual menggunakan sumber pembanding (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pamflet visual dengan panduan kata kunci visual bertanda panah penjelas bagi murid yang memerlukan perancah (scaffolding).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langkah inferensi petunjuk visual bertahap; murid mahir menganalisis 4 butir secara mandiri dengan elaborasi bukti visual pendukung.
  • Produk: Format penyajian lembar kerja disamakan pada kompetensi menemukan 4 makna tersirat, murid mahir menambahkan simpulan korelasi antargambar.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jalan setapak menuju puncak tertutup lumut basah dan para pengunjung berjalan berpegangan pada tali tambang. Apa makna tersirat dari situasi tersebut?' (Acuan jawaban: Jalur pendakian licin, curam, atau rawan terpeleset sehingga pengunjung perlu berhati-hati).

Proses:

  • Observasi kinerja dan pemeriksaan hasil Lembar Kerja Analisis Makna Tersirat pada 4 butir visual: Butir 1 (Visual jalur berbatu terjal dan tanda jurang -> acuan: Jalur memerlukan kehati-hatian ekstra/kondisi fisik prima karena rawan kecelakaan); Butir 2 (Teks/visual hutan mati pohon menghitam -> acuan: Kawasan tersebut pernah terkena dampak fatal letusan lahar/awan panas yang dahsyat); Butir 3 (Visual rambu larangan memetik edelweiss -> acuan: Bunga edelweiss merupakan tumbuhan langka yang dilindungi kelestariannya); Butir 4 (Visual kabut pekat sore hari -> acuan: Waktu pendakian disarankan pagi/siang hari atau pendaki berisiko kehilangan arah jalur).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir sesi terhadap 4 butir makna tersirat: murid memeriksa apakah simpulan makna tersiratnya bersandar logis pada fakta tersurat dalam teks visual (skor 4 dari 4 butir sesuai acuan = tuntas).

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja analisis makna tersirat melalui Lembar Kerja 4 butir informasi visual teks deskripsi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menganalisis Makna Tersirat Teks Deskripsi VisualMenganalisis makna tersirat kurang dari 2 butir dengan tepat berdasarkan acuan 4 butir teks deskripsi visual tempat wisata.Menganalisis 2 dari 4 butir makna tersirat dengan tepat berdasarkan acuan butir teks deskripsi visual tempat wisata.Menganalisis 3 dari 4 butir makna tersirat dengan tepat berdasarkan acuan butir teks deskripsi visual tempat wisata.Menganalisis seluruh 4 butir makna tersirat dengan tepat secara mandiri berdasarkan acuan butir teks deskripsi visual tempat wisata.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah petunjuk visual pada pamflet wisata yang disajikan cukup jelas untuk memandu murid menarik simpulan makna tersirat?
  • Bagian mana dari langkah bimbingan inferensi yang masih membuat murid keliru membedakan informasi tersurat dan tersirat?

Murid:

  • Bagaimana caramu membuktikan bahwa simpulan makna tersembunyi yang kamu temukan benar-benar didukung oleh fakta visual pada pamflet?
  • Tantangan apa yang kamu hadapi saat harus menafsirkan arti dari gambar atau rambu dalam teks deskripsi visual wisata?

Pertemuan 5 — Mengevaluasi Kualitas Kejelasan Teks Deskripsi Visual Menggunakan Sumber Informasi Pembanding — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.3 Mengevaluasi kualitas dari teks deskripsi berwujud teks visual menggunakan sumber informasi lain

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual objek wisata menggunakan teks pembanding (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat dengan menampilkan cuplikan teks visual A (pamflet wisata buatan) berisi kalimat 'Lokasi wisata berada di ketinggian yang sangat sejuk dekat kota' dan bertanya: 'Apakah kalimat ini cukup jelas memberikan petunjuk lokasi? Mengapa?' (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati Teks Deskripsi Visual Utama berupa pamflet wisata 'Pantan Terong yang Instagramable' (Teks 1: memuat deskripsi gardu pandang, ketinggian tempat, rute jalan, fasilitas foto) (15 menit).
  • Murid membandingkan Teks 1 dengan Sumber Informasi Pembanding berupa teks artikel ulasan geografi resmi 'Pesona Dataran Tinggi Pantan Terong Takengon' (Teks 2: memuat data ketinggian eksak 1.830 mdpl, rute 7,5 km dari pusat Takengon, kontur jalan menanjak terjal, rincian biaya tiket) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid membentuk kelompok berpasangan untuk memainkan 'Tantangan Detektif Kejelasan': mencocokkan 4 aspek rincian pada Teks Visual Utama terhadap Teks Pembanding guna menentukan apakah deskripsi visual sudah jelas, kurang jelas, atau keliru (15 menit).
  • Setiap pasangan mengisi Lembar Evaluasi Kejelasan yang memuat 4 butir analisis berikut: (1) Kejelasan rincian ketinggian objek: Pamflet menyebut 'sangat tinggi di atas awan', Pembanding menyebut '1.830 meter di atas permukaan laut' -> evaluasi: pamflet kurang jelas karena bersifat kiasan tanpa angka pasti; (2) Kejelasan rincian rute tempuh: Pamflet menyebut 'hanya beberapa menit dari pusat kota', Pembanding menyebut 'berjarak 7,5 km dengan tanjakan curam yang butuh kendaraan prima' -> evaluasi: pamflet kurang jelas dan berpotensi menyesatkan pengendara; (3) Kejelasan rincian fasilitas gardu pandang: Pamflet menyebut 'banyak spot foto berbentuk balkon kaca mengarah ke Danau Laut Tawar', Pembanding menyebut 'tersedia anjungan kaca dengan batas kapasitas 10 orang sekali masuk' -> evaluasi: pamflet cukup jelas mendeskripsikan wujud visual namun kurang informasi batas kapasitas; (4) Kejelasan rincian waktu kunjungan terbaik: Pamflet menyebut 'kapan saja indah', Pembanding menyebut 'pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB untuk melihat lautan kabut' -> evaluasi: pamflet tidak jelas memberikan panduan waktu terbaik (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid dan guru memeriksa bersama hasil evaluasi kejelasan ke-4 butir dengan mengacu pada lembar pembanding, lalu murid menyimpulkan tingkat kejelasan teks deskripsi visual yang dianalisis (15 menit).
  • Murid menuliskan refleksi kesadaran kritis: pentingnya membandingkan informasi visual promosi dengan sumber rujukan data agar tidak mudah keliru dalam memahami fakta objek wisata (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan cara mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual menggunakan sumber rujukan pembanding (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kerja evaluasi murid dan menyampaikan rencana pertemuan berikutnya mengenai kelengkapan teks deskripsi, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks pembanding dengan garis bawah penanda data kunci; murid mahir diberikan teks visual yang memiliki kontradiksi informasi lebih terselubung.
  • Proses: Murid yang belum terbiasa membandingkan dibimbing langkah demi langkah menggunakan tabel komparasi berdampingan; murid mandiri langsung menuliskan catatan kritis perbandingan.
  • Produk: Tingkat kedalaman argumentasi evaluasi disesuaikan dengan kesiapan murid, dengan minimal mengevaluasi kesesuaian fakta pada 3 butir bagi yang memerlukan bimbingan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan menganalisis kejelasan deskripsi: Murid menjawab pertanyaan guru mengenai kejelasan kutipan kalimat 'Lokasi wisata berada di ketinggian yang sangat sejuk dekat kota'. Kriteria/Acuan: Jawaban dinilai tepat jika murid mampu mengidentifikasi bahwa kalimat tersebut 'kurang jelas' karena tidak menyebutkan ukuran pasti ketinggian (meter di atas permukaan laut) dan jarak/arah tempuh eksak dari kota.

Proses:

  • Observasi formatif saat murid membandingkan 4 butir rincian kejelasan antara Teks Deskripsi Visual Utama dan Teks Pembanding pada lembar kerja.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan ketercapaian pada Lembar Evaluasi Kejelasan yang mencakup 4 butir: (1) rincian ketinggian objek, (2) rincian rute tempuh, (3) rincian fasilitas gardu pandang, dan (4) rincian waktu kunjungan terbaik. Acuan jawaban benar: Butir 1 dievaluasi kurang jelas karena hanya kiasan tanpa angka 1.830 mdpl; Butir 2 dievaluasi kurang jelas/bias karena tidak memuat data jarak 7,5 km dan tanjakan terjal; Butir 3 dievaluasi cukup jelas visualnya namun kurang pembatasan kapasitas 10 orang; Butir 4 dievaluasi tidak jelas karena tidak memuat rekomendasi pukul 06.00-08.00 WIB.

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja pengisian Lembar Evaluasi Kejelasan Teks Deskripsi Visual menggunakan instrumen kunci/rubrik evaluasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Kejelasan Teks Deskripsi Visual Berdasarkan Sumber PembandingMampu mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual pada 1 dari 4 butir rincian secara tepat sesuai teks pembanding dengan bimbingan penuh.Mampu mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual pada 2 dari 4 butir rincian secara tepat sesuai teks pembanding.Mampu mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual pada 3 dari 4 butir rincian secara tepat sesuai teks pembanding secara mandiri.Mampu mengevaluasi kejelasan teks deskripsi visual pada seluruh 4 butir rincian secara tepat dan objektif berdasarkan fakta pada teks pembanding secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks pembanding yang disediakan cukup jelas dan memudahkan murid menemukan tolok ukur ketidakjelasan pamflet visual?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat membedah fakta yang tersaji secara visual versus teks informasi pembanding?

Murid:

  • Bagian mana dari teks deskripsi visual tadi yang menurutmu paling membingungkan sebelum membaca teks pembanding?
  • Langkah apa yang akan kamu lakukan jika di masa mendatang melihat pamflet wisata dengan deskripsi yang terlalu umum?

Pertemuan 6 — Mengevaluasi Kualitas Kelengkapan Teks Deskripsi Visual Menggunakan Sumber Informasi Lain secara Mandiri — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.3 Mengevaluasi kualitas dari teks deskripsi berwujud teks visual menggunakan sumber informasi lain

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama untuk kesiapan mental murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni mengevaluasi kualitas kelengkapan teks deskripsi visual tentang objek wisata menggunakan sumber informasi pembanding secara mandiri (5 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik singkat secara tertulis mengenai konsep kelengkapan informasi teks deskripsi (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks deskripsi visual utama berjudul 'Pesona Pantai Ora' yang menyajikan informasi dasar (keindahan pemandangan laut, terumbu karang, dan penginapan di atas air) (10 menit).
  • Murid menyimak pemodelan guru tentang cara mengidentifikasi kekurangan informasi pada teks visual utama dengan membandingkannya terhadap teks pembanding 'Panduan Perjalanan Pulau Seram' (fokus pada aspek akses transportasi, tarif tiket masuk, dan fasilitas penunjang) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan tebak rincian 'Detektif Kelengkapan Informasi' di mana murid mencocokkan kartu kekurangan rincian teks visual dengan sumber pembanding secara cepat dan antusias (15 menit).
  • Secara mandiri, murid membaca lembar teks deskripsi visual 'Taman Nasional Baluran' dan teks rujukan pembanding 'Pusat Informasi Konservasi Baluran' (20 menit).
  • Murid secara mandiri mengevaluasi kelengkapan teks deskripsi visual 'Taman Nasional Baluran' dengan mengisi tabel evaluasi yang mencakup 3 aspek kelengkapan informasi: (1) rute perjalanan, (2) jam operasional dan tiket, (3) daftar fauna yang dapat diamati (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil evaluasi mandirinya secara cermat menggunakan panduan kriteria kelengkapan teks untuk menyadari ketelitian analisis yang telah dilakukan (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan kriteria penting dalam mengevaluasi kelengkapan teks deskripsi visual berdasarkan sumber pembanding (5 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen akhir berupa cek pemahaman tertulis 2 butir soal evaluasi kelengkapan (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses kerja mandiri murid dan menutup sesi pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks pembanding dengan penanda garis bawah pada poin-poin kelengkapan kunci, sedangkan murid yang siap diberikan teks pembanding utuh tanpa penanda.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan diberikan templat tabel evaluasi dengan kalimat pemandu, sedangkan murid mahir langsung merumuskan evaluasi kelengkapan secara mandiri.
  • Produk: Murid menuangkan hasil evaluasi kelengkapan teks visual secara mandiri dalam format tabel evaluasi kelengkapan informasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik tertulis singkat: Murid menjawab 2 pertanyaan berikut: (1) 'Jika teks deskripsi hanya menyebutkan bahwa candi itu megah tanpa menuliskan lokasi kabupatennya, apakah teks tersebut lengkap?' (acuan jawaban: Belum lengkap, karena lokasi spesifik merupakan informasi identitas penting); (2) 'Mengapa kita membutuhkan teks rujukan lain saat membaca teks deskripsi visual?' (acuan jawaban: Untuk memeriksa apakah ada data/informasi penting yang terlewat atau belum disajikan dalam teks visual).

Proses:

  • Formatif proses: Guru mengamati ketercapaian murid dalam mengisi tabel evaluasi kelengkapan teks visual 'Taman Nasional Baluran' berdasarkan teks pembanding 'Pusat Informasi Konservasi Baluran' yang memuat 3 aspek: (1) Rute perjalanan (acuan: teks visual tidak memuat rute angkutan umum dari Banyuwangi/Situbondo, sedangkan sumber pembanding memuat rincian bus dan travel); (2) Jam operasional dan tiket (acuan: teks visual tidak memuat jam buka gerbang dan tarif masuk, sedangkan sumber pembanding memuat jam operasional pukul 07.30-16.00 WIB serta tarif tiket Rp16.000); (3) Rincian fauna yang diamati (acuan: teks visual hanya menyebut banteng, sedangkan sumber pembanding melengkapi dengan keberadaan merak hijau, ajag, dan rusa timor).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan evaluasi singkat atas cuplikan teks brosur: Brosur A hanya menampilkan foto padang savana dan tulisan 'Savana Bekol yang Indah'. Sumber B menjelaskan bahwa Savana Bekol berjarak 12 km dari gerbang masuk dan terbaik dikunjungi saat fajar. Pertanyaan: (1) Sebutkan 1 informasi penting yang belum lengkap pada Brosur A berdasarkan Sumber B! (acuan: jarak tempuh 12 km dari gerbang atau waktu kunjungan terbaik saat fajar); (2) Simpulkan status kelengkapan Brosur A! (acuan: Brosur A belum lengkap karena hanya menyajikan visual dan judul tanpa informasi petunjuk kunjungan).

Formatif:

  • Penilaian asesmen awal diagnostik pemahaman kelengkapan teks deskripsi.
  • Penilaian lembar kerja evaluasi mandiri kelengkapan teks deskripsi visual Taman Nasional Baluran menggunakan rubrik ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Kelengkapan Aspek Rute PerjalananBelum mampu mengidentifikasi kekurangan informasi rute perjalanan pada teks visual berdasarkan teks pembanding.Mengidentifikasi kekurangan informasi rute perjalanan pada teks visual tetapi belum mampu menunjukkan data rute spesifik dari teks pembanding secara tepat.Mengevaluasi kelengkapan informasi rute perjalanan pada teks visual secara tepat menggunakan rujukan data rute dari teks pembanding dengan sedikit bimbingan.Mengevaluasi kelengkapan informasi rute perjalanan pada teks visual secara tepat, rinci, dan mandiri menggunakan rujukan data angkutan/rute dari teks pembanding.
Mengevaluasi Kelengkapan Aspek Jam Operasional dan TiketBelum mampu mengidentifikasi ketiadaan data jam operasional dan tarif tiket pada teks visual.Menyebutkan ketiadaan informasi jam operasional atau tiket namun keliru dalam mengutip rincian data pembandingnya.Mengevaluasi ketiadaan informasi jam operasional dan tarif tiket pada teks visual secara tepat menggunakan rujukan data dari teks pembanding.Mengevaluasi kelengkapan informasi jam operasional dan tarif tiket pada teks visual secara tepat, lengkap, dan mandiri berdasarkan rujukan teks pembanding.
Mengevaluasi Kelengkapan Aspek Rincian Objek/FaunaBelum mampu mengevaluasi ketidaklengkapan daftar rincian objek/fauna pada teks visual melalui teks rujukan.Mengidentifikasi ketidaklengkapan objek fauna pada teks visual namun hanya menyebutkan 1 jenis fauna tambahan dari sumber pembanding.Mengevaluasi kelengkapan rincian objek fauna pada teks visual dengan melampirkan minimal 2 jenis fauna tambahan dari sumber pembanding secara tepat.Mengevaluasi kelengkapan rincian objek fauna pada teks visual secara komprehensif dan mandiri dengan menunjukkan seluruh rincian fauna tambahan pembanding (merak hijau, ajag, rusa timor).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 120 menit cukup bagi murid untuk membaca dua teks pembanding dan mengevaluasi kelengkapannya secara mandiri?
  • Apakah ragam diferensiasi proses yang disiapkan efektif membantu murid yang mengalami kendala dalam menemukan kekurangan informasi pada teks visual?

Murid:

  • Langkah apa yang paling membantuku menemukan informasi yang belum lengkap dalam teks deskripsi visual?
  • Bagian mana dari kegiatan mengevaluasi teks yang paling menantang untuk aku selesaikan secara mandiri?

Pertemuan 7 — Mempresentasikan Gagasan Pengajuan Usul Pengelolaan Objek Wisata dalam Bentuk Monolog Kritis Terbimbing — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.4 Mempresentasikan gagasan untuk tujuan pengajuan usul dan pemberian solusi pengelolaan objek wisata dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu mempresentasikan gagasan pengajuan usul pengelolaan objek wisata dalam bentuk monolog kritis secara terbimbing (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa tanggapan usul pengelolaan: 'Jika fasilitas tempat sampah di Pantai Baron rusak dan sampah berserakan, apa usulan tindakan paling logis untuk pengelola?' (acuan jawaban dapat diterima: pengadaan tempat sampah terpilah baru, penambahan jadwal pengangkutan, atau penetapan sanksi/denda buang sampah sembarangan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan guru tentang struktur monolog kritis pengajuan usul pengelolaan objek wisata yang memuat 3 komponen: identifikasi masalah faktual, rumusan usulan pengelolaan, dan alasan kritis/dampak perbaikan (10 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan cepat 'Pasang Solusi Wisata': guru membacakan 2 kasus masalah wisata ('1: Antrean loket Candi Prambanan mengular tak tertib', '2: Jalur tangga pendakian Air Terjun Grojogan Sewu licin dan membahayakan'), lalu murid secara bergiliran cepat mengajukan 1 usul tindakan perbaikan berbasis kartu masalah (acuan usul: Kasus 1 = penambahan loket elektronik/pembelian daring; Kasus 2 = pemasangan pegangan pengaman besi dan semen anti-selip) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Dengan bimbingan panduan terstruktur (scaffolding lembar panduan monolog), murid menyusun kerangka monolog pengajuan usul untuk satu objek wisata pilihan (berisi: salam pembuka, nama objek wisata, 1 masalah pengelolaan, 1 rumusan usul kritis, dan 1 dampak positif usul) (15 menit).
  • Murid berlatih mempresentasikan monolog pengajuan usul pengelolaan objek wisata secara terbimbing di hadapan guru atau kelompok kecil beranggotakan 3 orang, di mana tiap murid menyajikan monolognya selama 1-2 menit sesuai kerangka (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan refleksi terbimbing mengenai ketepatan gagasan usul yang telah dipresentasikan, mengevaluasi apakah gagasan solusinya logis dan tepat sasaran terhadap masalah yang diangkat (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan unsur pokok presentasi monolog usul pengelolaan objek wisata yang kritis (masalah, usul solusi, dan alasan logis) (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan umpan balik terhadap presentasi murid serta menginformasikan kegiatan pertemuan berikutnya, yaitu presentasi monolog secara mandiri (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu pilihan masalah dan opsi alternatif solusi wisata siap pakai; murid yang mahir diberikan kebebasan menganalisis masalah kompleks dari objek wisata lokal.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih monolog dengan panduan kalimat rumpang terbimbing dari guru; murid mahir mempresentasikan monolog tanpa kartu bantuan kalimat.
  • Produk: Murid menyajikan monolog pengajuan usul pengelolaan objek wisata berdurasi 1 hingga 2 menit dengan cakupan komponen yang sama sesuai tingkat kesiapan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Guru memberikan stimulus masalah 'Toilet di Taman Hutan Kota kotor dan air sering mati'. Murid diminta menyebutkan 1 usulan konkret untuk pengelola (kriteria penerimaan operasional: jawaban memuat tindakan perbaikan yang logis dan relevan, seperti penyediaan tandon cadangan air, pembersihan berkala per jam, atau penggantian pipa rusak).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat latihan presentasi monolog terbimbing dengan lembar amatan: (1) kelengkapan komponen monolog (masalah, usul, alasan/dampak), (2) ketajaman/kritisnya gagasan usul perbaikan terhadap masalah objek wisata (kriteria penerimaan: usul secara realistis dapat menyelesaikan masalah yang diangkat tanpa melenceng).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan satu kalimat simpulan usulan yang baru saja mereka presentasikan pada secarik kertas kendali refleksi dengan format: 'Saya mengusulkan [tindakan] untuk objek wisata [nama tempat] agar [manfaat nyata]' (kriteria penerimaan operasional: kalimat memuat tindakan konkret, objek wisata yang jelas, dan manfaat logis).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal lisan keterkaitan masalah-solusi pengelolaan objek wisata
  • Lembar observasi unjuk kerja presentasi monolog pengajuan usul pengelolaan objek wisata terbimbing

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Gagasan Pengajuan Usul Pengelolaan Objek WisataGagasan usul belum memuat solusi perbaikan konkret atau usul tidak relevan dengan masalah objek wisata yang disampaikan walau telah dibimbing.Menyampaikan usulan perbaikan pengelolaan objek wisata, namun hubungan antara masalah dan usul solusi masih kurang logis serta membutuhkan bimbingan intensif guru.Mempresentasikan gagasan pengajuan usul pengelolaan objek wisata yang logis dan relevan dengan masalah yang diangkat secara runtut dengan bimbingan terstruktur.Mempresentasikan gagasan pengajuan usul pengelolaan objek wisata yang sangat kritis, logis, terperinci, dan solutif disertai argumentasi dampak perbaikan yang meyakinkan secara terbimbing.
Penyajian Monolog Kritis TerbimbingBelum mampu menyajikan monolog terstruktur, berbicara terputus-putus di luar alur pengajuan usul kendati dibantu lembar panduan.Menyajikan monolog pengajuan usul tetapi hanya mencakup 1-2 komponen (hanya masalah atau hanya usul), alur presentasi masih melompat-lompat dengan bimbingan.Menyajikan monolog pengajuan usul secara runtut mencakup seluruh komponen (masalah, usul, alasan) sesuai lembar panduan monolog terbimbing.Menyajikan monolog pengajuan usul secara utuh, runtut, kritis, dan mengalir lancar dari pembuka hingga penutup sesuai panduan monolog terbimbing tanpa keraguan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah format perancah (scaffolding) lembar panduan monolog efektif membantu murid memformulasikan usulan kritis?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama latihan monolog berpasangan/kelompok kecil dalam menyampaikan usulan perbaikan wisata?

Murid:

  • Bagian mana dari penyampaian monolog usul pengelolaan wisata tadi yang menurutmu paling meyakinkan?
  • Kesulitan apa yang kamu rasakan saat merangkai masalah wisata menjadi usulan perbaikan yang logis?

Pertemuan 8 — Mempresentasikan Solusi Pengelolaan Objek Wisata Nusantara dalam Bentuk Monolog Kreatif secara Mandiri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.4 Mempresentasikan gagasan untuk tujuan pengajuan usul dan pemberian solusi pengelolaan objek wisata dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, dan mengondisikan kelas untuk pembelajaran presentasi monolog mandiri (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 1 masalah di objek wisata: 'Jika tempat wisata pantai penuh sampah plastik karena minimnya tempat sampah, usulan solusi apa yang kritis dan kreatif?' Murid menjawab langsung untuk memeriksa kesiapan mengajukan solusi logis yang sesuai masalah (acuan: solusi relevan dengan akar masalah sampah, misalnya sistem pilah sampah berhadiah suvenir lokal atau penambahan tempat sampah tematik ramah lingkungan) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8, yaitu mempresentasikan gagasan pengajuan usul dan solusi pengelolaan objek wisata nusantara dalam bentuk monolog secara mandiri, kritis, dan kreatif (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati panduan struktur monolog mandiri solusi wisata yang mencakup 3 bagian: (1) pernyataan masalah objek wisata, (2) usulan solusi logis-kritis berbasis akar masalah, dan (3) gagasan inovasi kreatif pengelolaan objek wisata nusantara (10 menit).
  • Murid memainkan kuis cepat 'Solusi Jitu atau Meleset' yang menggembirakan: guru membacakan 3 kartu masalah wisata: (1) 'Antrean tiket mengular di Candi Prambanan', (2) 'Terumbu karang rusak akibat jangkar kapal di Labuan Bajo', (3) 'Fasilitas toilet kotor di Gunung Bromo'. Murid berlomba mengangkat tangan memberikan 1 solusi cepat yang tepat sasaran (acuan penerimaan: kartu 1 dijawab dengan sistem tiket daring/kuota waktu; kartu 2 dijawab dengan pemasangan pelampung tambat/mooring buoy resmi; kartu 3 dijawab dengan pembentukan unit sanitasi berkala dan sistem denda/retribusi kebersihan) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri menyusun lembar draf poin monolog solusi pengelolaan 1 objek wisata pilihan (opsi objek: Pantai Kuta, Candi Borobudur, Danau Toba, atau Kawah Ijen) yang memuat usulan kritis dan ide kreatif pengelolaan tanpa bergantung pada bimbingan guru (15 menit).
  • Secara bergantian di depan kelas/forum kelas, setiap murid mempresentasikan gagasan usulan dan solusi pengelolaan objek wisata nusantara dalam bentuk monolog kreatif secara mandiri selama 2 menit per penampil (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengisi lembar refleksi diri untuk mengevaluasi monolog yang baru saja disajikannya: apakah solusi yang dipresentasikan sudah kritis (menjawab akar masalah) dan kreatif (memiliki kebaruan ide pengelolaan) (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari penyampaian monolog solusi pengelolaan objek wisata yang kritis dan kreatif (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kemandirian seluruh murid dalam berani tampil monolog dan menginformasikan rencana kegiatan pertemuan 9 tentang menulis kerangka teks deskripsi (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid bebas memilih 1 dari 4 objek wisata nusantara (Pantai Kuta, Candi Borobudur, Danau Toba, Kawah Ijen) sebagai bahan telaah solusi.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu diberikan kartu pengarah poin monolog (masalah -> usul logis -> inovasi kreatif), sedangkan bagi murid mahir ditantang menambahkan analisis dampak jangka panjang dari solusi yang diusulkan.
  • Produk: Monolog disampaikan secara mandiri dengan gaya penyampaian kreatif masing-masing (misal: gaya pemandu wisata, gaya duta pariwisata, atau gaya pengelola kawasan wisata).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: 'Jika tempat wisata pantai penuh sampah plastik karena minimnya tempat sampah, usulan solusi apa yang kritis dan kreatif?' (Kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan usulan dengan penyediaan sarana/sistem pengelolaan sampah yang solutif, bukan sekadar larangan normatif; acuan: penambahan fasilitas tong sampah pilah tematik atau insentif penukaran botol plastik dengan suvenir khas wisata setempat).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja monolog mandiri pada tahap Mengaplikasi dengan fokus pada 3 kriteria: (1) ketepatan pengajuan usul sesuai masalah wisata, (2) kekritisan penalaran solusi (logis dan menyasar penyebab), serta (3) kreativitas gagasan solusi pengelolaan objek wisata nusantara.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan umpan balik di akhir pembelajaran melalui lembar refleksi diri: murid menilai ketercapaian aspek kritis dan kreatif dalam monolog yang telah disajikan secara mandiri berdasarkan catatan penampilan.

Formatif:

  • Performa unjuk kerja: Presentasi monolog mandiri solusi pengelolaan objek wisata nusantara menggunakan rubrik penilaian monolog kritis dan kreatif.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kekritisan Usulan dan Solusi PengelolaanGagasan solusi yang diajukan dalam monolog belum logis dan belum relevan dengan masalah objek wisata nusantara yang dipilih.Gagasan solusi yang diajukan dalam monolog sudah relevan dengan masalah objek wisata, tetapi penalarannya masih bersifat umum dan belum menyentuh akar masalah.Gagasan solusi yang diajukan dalam monolog logis, terarah pada akar masalah objek wisata, dan menyajikan pertimbangan usulan yang jelas secara mandiri.Gagasan solusi yang diajukan dalam monolog sangat tajam, logis, terperinci menyasar akar masalah objek wisata, serta memuat pertimbangan dampak nyata secara mandiri tanpa keraguan.
Kreativitas Penyampaian MonologMonolog disajikan tanpa gagasan kebaruan/inovasi pengelolaan objek wisata nusantara.Monolog memuat usulan baru untuk pengelolaan objek wisata, namun cara penyampaian monolog masih sangat kaku dan meniru pola standar.Monolog menyajikan gagasan solusi inovatif untuk pengelolaan objek wisata nusantara secara mandiri dengan penyampaian yang kreatif dan menarik.Monolog menyajikan gagasan solusi yang sangat inovatif, orisinal untuk pengelolaan objek wisata nusantara secara mandiri dengan pendekatan penyajian monolog yang khas, hidup, dan memikat pendengar.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 2 menit per murid cukup efektif untuk menyajikan monolog solusi wisata secara mandiri?
  • Bagaimana variasi solusi kreatif yang diajukan murid, apakah sudah menunjukkan penalaran kritis terhadap pengelolaan objek wisata nusantara?

Murid:

  • Bagian mana dari monolog solusiku yang paling menarik dan kreatif bagi orang lain?
  • Apakah solusi yang saya presentasikan sudah benar-benar menjawab persoalan nyata di objek wisata yang saya pilih?

Pertemuan 9 — Menulis Kerangka Pengalaman Teks Deskripsi Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Denotatif — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.5 Menulis pengalaman dalam teks deskripsi secara logis, kritis, dan menarik dengan menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menulis kerangka teks deskripsi berdasarkan pengalaman pribadi dengan menerapkan kosakata baru bermakna denotatif (3 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik singkat: membedakan 3 kalimat apakah menggunakan kata bermakna denotatif (lugas/sebenarnya) atau konotatif (kiasan), yaitu: (1) 'Air danau itu sangat dingin menusuk kulit' [denotatif], (2) 'Pemandangan itu membuat hatinya sejuk' [konotatif], dan (3) 'Jalan setapak menuju puncak memiliki tanjakan terjal' [denotatif] (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati pemodelan bagan kerangka teks deskripsi pengalaman yang terdiri atas: identifikasi objek (nama tempat & lokasi), deskripsi bagian fisik (pemandangan, sarana, suasana teramati), dan simpulan kesan (8 menit).
  • Murid mengidentifikasi 4 kosakata baru bermakna denotatif dari kartu percontohan beserta maknanya dalam KBBI: (1) 'panorama' = pemandangan alam bebas dan luas; (2) 'vegetasi' = ragam kehidupan tumbuh-tumbuhan; (3) 'topografi' = keadaan muka bumi pada suatu kawasan; (4) 'kontur' = garis bentuk ketinggian permukaan tanah (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan tantangan berpasangan 'Tangkas Denotatif': mencocokkan kartu situasi fisik dengan kosakata denotatif yang tepat secara bergantian dan menyenangkan (contoh: kondisi tanah berbukit dicocokkan dengan 'topografi', hamparan hutan teh dengan 'vegetasi') (10 menit).
  • Murid secara mandiri memilih satu pengalaman pribadi mengunjungi objek tertentu (tempat wisata, taman, pantai, bukit, atau sudut lingkungan tempat tinggal) lalu menyusun kerangka karangan teks deskripsi ke dalam lembar bagan (identifikasi, bagian-bagian fisik, dan kesan) (15 menit).
  • Murid melengkapi kerangka tersebut dengan menuliskan rencana rincian deskripsi menggunakan minimal 4 kosakata baru bermakna denotatif yang relevan dengan fakta fisik objek pengalamannya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali bagan kerangka buatannya secara mandiri menggunakan daftar periksa keteraturan alur logis (identifikasi ke bagian fisik) dan ketepatan makna literal kosakata denotatif yang dicantumkan (5 menit).
  • Murid menuliskan satu catatan perbaikan pada kerangka miliknya jika masih menemukan rincian deskripsi yang melompat atau kosakata denotatif yang belum pas konteksnya (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil draf kerangka dan menegaskan pentingnya akurasi makna denotatif dalam deskripsi faktual (3 menit).
  • Murid dan guru menyimpulkan alur penyusunan kerangka pengalaman yang logis serta menutup pembelajaran dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Disediakan daftar bank kosakata denotatif tematik (wisata bahari, pegunungan, taman kota) bagi murid yang membutuhkan inspirasi kata baru.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format bagan rumpang dengan panduan pertanyaan penuntun pada setiap bagian fisik objek; murid yang mahir diarahkan merinci minimal 6 kosakata denotatif spesifik.
  • Produk: Kerangka teks deskripsi pengalaman dapat disajikan dalam bentuk bagan alur linier, peta pikiran (mind map), atau tabel rincian deskripsi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik singkat klasifikasi makna pada 3 kalimat: (1) 'Air danau itu sangat dingin menusuk kulit' (Kunci: Denotatif - makna fisik suhu rendah); (2) 'Pemandangan itu membuat hatinya sejuk' (Kunci: Konotatif - makna kiasan rasa tenang); (3) 'Jalan setapak menuju puncak memiliki tanjakan terjal' (Kunci: Denotatif - makna fisik sudut kemiringan tajam). Kriteria: murid dikelompokkan siap jika mampu menjawab minimal 2 dari 3 butir dengan benar.

Proses:

  • Pemeriksaan lembar bagan kerangka deskripsi pengalaman murid: dinilai dari kelengkapan struktur kerangka (identifikasi, bagian fisik, kesan) dan penempatan minimal 4 kosakata baru bermakna denotatif sesuai konteks objek yang dideskripsikan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir sesi: murid menuliskan 1 kalimat penjelas pada bagian fisik kerangkanya dengan memasukkan salah satu kosakata denotatif pilihan (Kriteria penerimaan: kalimat secara logis menggambarkan aspek fisik nyata dari tempat pengalaman dan kosakata dipakai tepat sesuai makna sebenarnya/literal tanpa makna kias).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja kerangka deskripsi pengalaman dan ketepatan penempatan kosakata bermakna denotatif.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelogisan Struktur Kerangka Teks Deskripsi PengalamanMenulis kerangka pengalaman yang belum tersusun teratur (bagian identifikasi dan deskripsi fisik bercampur aduk tanpa alur yang jelas).Menulis kerangka pengalaman dengan memuat identifikasi dan deskripsi fisik, tetapi perpindahan antarbagian masih melompat.Menulis kerangka pengalaman secara runtut dan logis dari identifikasi objek, rincian bagian fisik, hingga penutup kesan.Menulis kerangka pengalaman secara runtut, sangat logis, dan terperinci dengan pembagian fokus fisik objek yang terstruktur rapi.
Ketepatan Penggunaan Kosakata Bermakna DenotatifMencantumkan kurang dari 2 kosakata denotatif baru, atau kosakata yang dipakai keliru konteks maknanya.Mencantumkan 2-3 kosakata denotatif baru dalam kerangka dengan sebagian makna literal masih kurang tepat konteks.Mencantumkan minimal 4 kosakata denotatif baru dalam kerangka dan seluruhnya digunakan tepat sesuai makna leksikal/sebenarnya.Mencantumkan lebih dari 4 kosakata denotatif baru secara mandiri dan seluruhnya tepat serta memperjelas deskripsi fisik objek pengalaman.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah panduan pemodelan bagan kerangka deskripsi memudahkan murid menuangkan pengalaman pribadinya secara terstruktur?
  • Apakah murid sudah mampu membedakan dan memilih kosakata denotatif yang lugas untuk menggambarkan rincian fisik objek?

Murid:

  • Bagian mana dari pengalaman yang paling mudah dan paling menantang untuk saya buatkan kerangka deskripsinya?
  • Apakah kosakata denotatif yang saya pilih sudah benar-benar melukiskan kenyataan fisik tempat yang saya deskripsikan?

Pertemuan 10 — Menulis Pengalaman dalam Draf Teks Deskripsi Logis dan Menarik dengan Kosakata Konotatif — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.5 Menulis pengalaman dalam teks deskripsi secara logis, kritis, dan menarik dengan menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menulis draf teks deskripsi pengalaman yang logis dan menarik dengan memanfaatkan kosakata bermakna konotatif (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid membaca dua kalimat di papan tulis: Kalimat 1: 'Hawa di puncak gunung itu sangat dingin' dan Kalimat 2: 'Hawa dingin di puncak gunung menusuk tulang'. Murid diminta menentukan kata yang bermakna konotatif pada Kalimat 2 beserta maknanya (acuan: kata 'menusuk tulang' bermakna konotatif sangat dingin hingga terasa ngilu/sakit, bukan berarti menusuk fisik secara harfiah) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan pengubahan kalimat deskripsi denotatif menjadi kalimat yang menarik dengan kosakata konotatif menggunakan 3 contoh: (1) 'Matahari mulai terbit' menjadi 'Sang surya tersenyum menyapa bumi' (makna konotatif: cerah dan menghangatkan); (2) 'Air laut itu jernih' menjadi 'Air laut sebening kristal memanjakan mata' (makna konotatif: sangat transparan dan indah); (3) 'Hutan itu lebat' menjadi 'Pohon-pohon raksasa berbaris memagari bukit' (makna konotatif: pepohonan sangat rapat dan rimbun) (10 menit).
  • Permainan Cepat 'Sulap Kata' (Joyful): Secara berpasangan murid menerima kartu kata denotatif lalu berlomba mengubahnya menjadi frasa/kata konotatif yang menarik. Tersedia 3 kata: 'panas' -> konotatif 'membakar kulit/membara'; 'angin' -> konotatif 'membelai lembut/berbisik'; 'sunyi' -> konotatif 'senyap membisu' (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengambil kerangka teks pengalaman yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya, lalu mulai menulis draf teks deskripsi pengalaman yang logis (runtut menggambarkan objek/suasana yang dialami) dan menarik dengan menyisipkan minimal 3 kosakata/frasa baru bermakna konotatif (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menandai (menggarisbawahi) kata bermakna konotatif pada draf masing-masing dan memeriksa apakah penggunaannya logis serta mendukung gambaran pengalaman yang ditulis (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bagaimana penggunaan kosakata bermakna konotatif mampu memperkaya daya ungkap teks deskripsi pengalaman menjadi lebih menarik (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas draf yang telah ditulis dan menyampaikan bahwa draf ini akan disempurnakan pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bank kata konotatif (misal: membelai, membakar, menusuk, memagari, bermandikan cahaya) bagi murid yang membutuhkan inspirasi tambahan pilihan kata.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung bagi murid yang kesulitan menghubungkan pengalaman nyata dengan kata konotatif, sedangkan murid yang mahir didorong mengeksplorasi variasi asosiasi makna secara mandiri.
  • Produk: Draf tulisan minimal 1 paragraf utuh untuk murid yang memerlukan dukungan, dan 2-3 paragraf bagi murid yang cepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes lisan/tulis singkat: Murid menentukan kata konotatif dari kalimat 'Hawa dingin di puncak gunung menusuk tulang' beserta maknanya (acuan jawaban: kata 'menusuk tulang' bermakna konotatif sangat dingin hingga terasa ngilu, bukan menusuk secara fisik).

Proses:

  • Pemeriksaan draf tulisan murid selama kegiatan menulis terbimbing: memastikan murid menuliskan pengalaman secara logis dan menyertakan minimal 3 kosakata konotatif (kriteria penerimaan: kosakata konotatif dipakai secara kontekstual untuk memperkuat gambaran objek/suasana pengalaman, seperti 'angin membelai', 'lautan manusia', 'senja merayap').

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menyebutkan 1 kosakata/frasa konotatif yang berhasil dituliskan ke dalam drafnya beserta makna kias/asosiasi yang dimaksudkan dalam konteks pengalamannya (kriteria penerimaan: kata konotatif memiliki keterkaitan asosiatif yang masuk akal dengan objek deskripsi).

Formatif:

  • Penilaian proses menulis draf teks deskripsi pengalaman dengan fokus pada kelogisan alur deskripsi dan ketepatan penggunaan minimal 3 kosakata bermakna konotatif.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelogisan Teks Deskripsi PengalamanDraf teks deskripsi belum menunjukkan kelogisan penggambaran pengalaman nyata (gagasan melompat-lompat dan tidak runtut).Draf teks deskripsi menggambarkan pengalaman secara sebagian logis namun masih terdapat bagian yang membingungkan alur pengamatannya.Draf teks deskripsi menggambarkan pengalaman secara logis, runtut, dan mudah dipahami alur perincian objeknya.Draf teks deskripsi menggambarkan pengalaman secara sangat logis, padu, runtut, dan kritis dalam merinci detail objek pengalaman.
Penggunaan Kosakata KonotatifBelum menyertakan kosakata bermakna konotatif pada draf teks deskripsi pengalaman (seluruh kata bermakna harfiah/denotatif).Menyertakan 1-2 kosakata bermakna konotatif namun pemakaiannya kurang tepat dalam konteks kalimat deskripsi.Menyertakan minimal 3 kosakata baru bermakna konotatif secara tepat dan menarik sesuai konteks kalimat deskripsi pengalaman.Menyertakan lebih dari 3 kosakata baru bermakna konotatif secara tepat, variatif, dan sangat menarik dalam memperkuat imajinasi pembaca.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu menulis draf selama 30 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk mengembangkan gagasannya?
  • Apakah contoh pengubahan kata denotatif ke konotatif cukup jelas memandu murid dalam memperkaya teks deskripsinya?

Murid:

  • Kosakata konotatif mana dalam tulisan saya yang paling berhasil menggambarkan keindahan pengalaman saya?
  • Bagian mana dari pengalaman saya yang paling menantang untuk digambarkan secara menarik?

Pertemuan 11 — Menulis dan Menyempurnakan Teks Deskripsi Pengalaman Utuh Berdasarkan Ketepatan Makna Denotatif dan Konotatif — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.5 Menulis pengalaman dalam teks deskripsi secara logis, kritis, dan menarik dengan menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak murid memusatkan perhatian pada kelanjutan penulisan teks deskripsi pengalaman (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-11: menyempurnakan draf menjadi teks deskripsi pengalaman yang utuh, logis, kritis, dan menarik dengan ketepatan kosakata bermakna denotatif dan konotatif (3 menit).
  • Asesmen Awal: Murid mengerjakan kuis singkat diagnostik 2 butir di papan tulis untuk menguji kesiapan membedakan ketepatan makna denotatif dan konotatif: Butir 1: 'Tentukan kata denotatif untuk suhu rendah: (a) dingin, (b) beku hati' (Acuan benar: a); Butir 2: 'Tentukan kata konotatif bernuansa indah/megah untuk pemandangan: (a) luas, (b) memesona bak permadani' (Acuan benar: b) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati model perbandingan kutipan paragraf draf mentah dan hasil penyempurnaan teks deskripsi pengalaman wisata yang ditampilkan guru di layar/papan tulis, fokus pada ketepatan penempatan kosakata denotatif (fakta fisik terukur) dan kosakata konotatif (kesan emosional/imajinatif yang menarik) (10 menit).
  • Permainan Cepat 'Poles Kata Menggembirakan': Murid secara interaktif berlomba menyempurnakan 2 kalimat datar yang disajikan guru di papan tulis menjadi kalimat deskripsi yang logis dan memikat dengan memilih kosakata konotatif yang tepat: Kalimat 1: 'Air laut itu biru sekali' diubah menjadi 'Air laut itu biru jernih berkilau memanjakan mata'; Kalimat 2: 'Angin di bukit bertiup kencang' diubah menjadi 'Semilir angin bukit membelai lembut menyejukkan raga' (Acuan: kalimat hasil polesan memuat minimal 1 kata konotatif estetis yang selaras dengan makna denotatif objek) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri memeriksa kembali draf teks deskripsi pengalaman wisata nusantara yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya, menandai bagian rincian yang belum utuh, uraian yang kurang logis, atau pilihan kata yang masih kaku (10 menit).
  • Murid menulis dan menyempurnakan draf menjadi teks deskripsi pengalaman yang utuh (minimal 3 paragraf: identifikasi/pengenalan objek pengalaman, deskripsi bagian/rincian indrawi yang logis dan kritis, serta simpulan/kesan penutup yang menarik) dengan mengintegrasikan minimal 3 kosakata bermakna denotatif dan 3 kosakata bermakna konotatif secara tepat (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan penyuntingan swaperiksa (self-editing) berkesadaran pada teks deskripsi akhirnya menggunakan daftar cek mandiri untuk memastikan alur deskripsi runtut logis serta seluruh kosakata denotatif dan konotatif yang digunakan tidak menimbulkan kerancuan makna (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya keharmonisan kosakata denotatif dan konotatif dalam membangun teks deskripsi pengalaman yang kredibel sekaligus memikat (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas ketekunan murid menuntaskan naskah teks utuh, memberikan konfirmasi bahwa naskah ini siap dijadikan portofolio unjuk kerja penulisan pada asesmen sumatif bab di pertemuan mendatang, dan menutup kelas dengan doa/salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar bank kosakata pendukung yang mengelompokkan 6 pasangan kata denotatif-konotatif (misal: sejuk - membelai, tinggi - menjulang agung, luas - sejauh mata memandang), sedangkan murid yang sudah mahir dapat mengeksplorasi kosakata mandiri yang lebih variatif.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan individual berkala bagi murid yang kesulitan merangkai paragraf logis, sementara murid mahir langsung menulis dan memoles teks secara mandiri penuh.
  • Produk: Semua murid menghasilkan teks deskripsi pengalaman utuh minimal 3 paragraf; murid cepat dapat memperkaya kedalaman variasi kosakata konotatif tanpa menambah tuntutan di luar TP.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik 2 butir pilihan kata di papan tulis: Butir 1: 'Tentukan kata denotatif untuk suhu rendah: (a) dingin, (b) beku hati' (Acuan jawaban benar: a - dingin); Butir 2: 'Tentukan kata konotatif bernuansa indah/megah untuk pemandangan: (a) luas, (b) memesona bak permadani' (Acuan jawaban benar: b - memesona bak permadani).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dan ketepatan penyempurnaan draf teks deskripsi pengalaman utuh minimal 3 paragraf dengan integrasi minimal 3 kosakata denotatif (fakta objek riil/terukur) dan minimal 3 kosakata konotatif (daya pikat/imajinatif sesuai konteks) tanpa kerancuan makna.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman/swaperiksa teks akhir: Murid memberi garis bawah tunggal pada minimal 3 kosakata denotatif dan garis bawah ganda pada minimal 3 kosakata konotatif dalam teks deskripsinya, lalu guru memeriksa kesesuaian konteks penggunaannya (Kriteria penerimaan: kosakata denotatif menyatakan fakta objek sebenarnya dan kosakata konotatif memberikan nuansa rasa/keindahan yang selaras).

Formatif:

  • Penilaian diagnostik awal berupa identifikasi makna denotatif dan konotatif (2 butir)
  • Penilaian unjuk kerja proses penulisan dan penyempurnaan teks deskripsi pengalaman utuh melalui lembar rubrik pengamatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keutuhan dan Kelogisan Teks Deskripsi PengalamanTeks deskripsi belum utuh (kurang dari 3 paragraf) dan hubungan antar-kalimat atau rincian pengalaman belum tersusun secara logis.Teks deskripsi utuh 3 paragraf, namun paparan rincian pengalaman pada beberapa bagian masih melompat dan kurang logis.Teks deskripsi pengalaman utuh (3 paragraf: pengenalan, rincian indrawi, kesan penutup) dengan penyajian gagasan yang runtut, kritis, dan logis.Teks deskripsi pengalaman utuh lebih dari 3 paragraf dengan alur penggambaran yang sangat terpadu, runtut, logis, kritis, dan berdaya pikat tinggi secara mandiri.
Ketepatan Kosakata Bermakna DenotatifMenggunakan kurang dari 2 kosakata denotatif atau penggunaannya tidak tepat menggambarkan objek secara faktual.Menggunakan 2 kosakata denotatif dengan tepat, tetapi penjelasan fakta objek masih terbatas.Menggunakan minimal 3 kosakata denotatif secara tepat sesuai dengan karakteristik fakta fisik objek pengalaman.Menggunakan lebih dari 3 kosakata denotatif secara tepat, presisi, dan konsisten memperkuat rincian nyata objek pengalaman.
Ketepatan Kosakata Bermakna KonotatifBelum menggunakan kosakata konotatif atau pilihan kata konotatif yang dipakai menimbulkan kerancuan makna konteks.Menggunakan 1-2 kosakata konotatif, namun efek daya pikat atau kesesuaian maknanya dengan objek masih canggung.Menggunakan minimal 3 kosakata konotatif secara tepat, wajar, dan menarik sehingga teks lebih hidup dan imajinatif.Menggunakan lebih dari 3 variasi kosakata konotatif yang kaya, puitis-estetis, sangat memikat, dan harmonis dengan konteks deskripsi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi pemodelan draf dan permainan cepat poles kata berhasil membantu murid menyempurnakan pilihan kosakata denotatif dan konotatif?
  • Bagian mana dari bimbingan menulis ini yang paling berdampak pada kelogisan alur teks deskripsi pengalaman murid?

Murid:

  • Kosakata konotatif baru apa yang paling kamu sukai saat menyempurnakan teks deskripsi pengalamanmu hari ini?
  • Apakah teks deskripsi yang kamu selesaikan sudah mampu menggambarkan pengalaman wisatamu secara jelas dan memikat pembaca?

Pertemuan 12 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Menganalisis gagasan dan pandangan dari teks deskripsi nonsastra berbentuk teks aural tentang objek wisata nusantara
  • TP 7.1.2 Menganalisis informasi berupa gagasan dari teks deskripsi visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
  • TP 7.1.3 Mengevaluasi kualitas dari teks deskripsi berwujud teks visual menggunakan sumber informasi lain
  • TP 7.1.4 Mempresentasikan gagasan untuk tujuan pengajuan usul dan pemberian solusi pengelolaan objek wisata dalam bentuk monolog secara kritis dan kreatif
  • TP 7.1.5 Menulis pengalaman dalam teks deskripsi secara logis, kritis, dan menarik dengan menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kesiapan fisik serta perlengkapan alat tulis dan gawai/alat perekam murid (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 1 yang mencakup tiga bagian tugas: tes tertulis pemahaman deskripsi (TP 1, 2, 3), unjuk kerja penulisan pengalaman (TP 5), dan unjuk kerja monolog lisan terekam (TP 4) dengan prinsip kejujuran dan kemandirian penuh (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak pembacaan petunjuk pengerjaan dan pembagian naskah tes tertulis serta lembar kerja penulisan oleh guru secara seksama (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas 1 (Tes Tertulis serentak pemahaman dan evaluasi teks deskripsi, durasi 32 menit): Murid menyimak teks aural 'Pesona Pantai Ora' yang dibacakan guru sebanyak dua kali, lalu menjawab Butir 1 (gagasan pokok teks aural; acuan benar: Keindahan alam bawah laut dan ketenangan Pantai Ora di Maluku Tengah) dan Butir 2 (pandangan penutur; acuan benar: Penutur memandang Pantai Ora sebagai surga tersembunyi yang wajib dijaga kelestarian terumbu karangnya). Selanjutnya, murid membaca pamflet visual 'Wisata Air Terjun Tumpak Sewu' dan teks informasi pembanding artikel ulasan resmi, lalu mengisi tabel Butir 3 berupa makna tersurat (acuan benar: Air terjun berketinggian 120 meter yang memiliki formasi tirai melingkar), makna tersirat (acuan benar: Jalur lembah air terjun membutuhkan kehati-hatian ekstra dan fisik prima karena medan licin), serta Butir 4 evaluasi kualitas kejelasan pamflet dibanding teks pembanding (acuan benar: Pamflet visual sangat jelas menampilkan tata letak dan estetika air terjun, namun kurang memuat rincian estimasi waktu tempuh trekking yang justru lengkap dijelaskan pada artikel pembanding) (30 menit).
  • Murid mengerjakan Tugas 2 (Unjuk kerja penulisan teks deskripsi mandiri serentak, durasi 25 menit): Murid menulis teks deskripsi pengalaman menjelajah suatu objek/tempat secara logis dan menarik sepanjang 2-3 paragraf, memadukan rincian konkret serta minimal 2 kosakata denotatif (misal: jernih, curam, pasir) dan 2 kosakata konotatif (misal: memeluk, menyapa, surga tersembunyi) secara mandiri (25 menit).
  • Murid mengerjakan Tugas 3 (Unjuk kerja penyajian monolog lisan terekam, durasi 12 menit): Murid secara mandiri menuju sudut kelas/ruang yang telah diatur untuk merekam monolog lisan berdurasi tepat 1 menit menggunakan alat perekam/gawai, menyampaikan gagasan pengajuan usul kritis dan solusi kreatif terhadap pengelolaan objek wisata (kriteria: memuat usul perbaikan fasilitas kebersihan/sampah dan solusi tata kelola ramah lingkungan secara runtut, kritis, dan logis) (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali kelengkapan identitas lembar jawaban tes tertulis, naskah tulisan, serta memastikan rekaman audio monolog 1 menit telah tersimpan dan terunggah/terkumpul ke meja guru (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban tes tertulis, naskah deskripsi tertulis, serta mengonfirmasi penerimaan berkas rekaman monolog seluruh murid (2 menit).
  • Guru bersama murid melakukan refleksi singkat penutupan Bab 1 tentang proses belajar yang telah dilalui, memberikan apresiasi atas kerja mandiri murid, dan menutup sesi dengan doa penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks aural dibacakan dengan artikulasi jelas dan jeda teratur sebanyak 2 kali untuk seluruh murid; teks visual dicetak dengan kontras jelas dan ukuran font terbaca.
  • Proses: Akomodasi akses: murid yang memerlukan bantuan akses visual dapat duduk di baris depan saat pemaparan bahan pandang, tanpa mengubah tuntutan kompetensi dan batas waktu pengerjaan.
  • Produk: Format bukti sumatif seragam sesuai acuan ATP: lembar jawaban tertulis Butir 1-4, naskah deskripsi 2-3 paragraf, dan berkas audio monolog lisan berdurasi 1 menit.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • tes tertulis terpadu pemahaman deskripsi, unjuk kerja penulisan teks deskripsi mandiri, dan penyajian monolog lisan usul solusi terfokus: lembar jawaban analisis aural-visual-evaluatif, draf teks deskripsi pengalaman individual bersudut pandang personal dengan kosakata denotatif-konotatif, serta rekaman audio performa monolog lisan individual berdurasi 1 menit berisi pengajuan usul solusi pengelolaan objek wisata
  • tes tertulis serentak pemahaman dan evaluasi teks deskripsi: lembar jawaban murid yang memuat isian analisis gagasan dan pandangan penutur dari teks aural yang diperdengarkan guru, tabel perbandingan makna tersurat-tersirat dari teks deskripsi visual, dan telaah evaluasi kualitas kejelasan teks visual dibandingkan teks informasi pembanding yang dikerjakan serentak seluruh kelas (35 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penskoran analitis)
  • unjuk kerja penulisan teks deskripsi serentak: naskah teks deskripsi karya mandiri murid sepanjang 2-3 paragraf tentang pengalaman menjelajah tempat/objek yang memadukan rincian konkret logis serta pilihan kata bermakna denotatif dan konotatif secara menarik (30 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian teks deskripsi (struktur deskripsi, kerincian logis, ketepatan kosakata denotatif dan konotatif))
  • unjuk kerja penyajian monolog lisan terekam: rekaman audio monolog berdurasi tepat 1 menit per murid yang direkam serentak secara mandiri menggunakan gawai/alat perekam sekolah di sudut ruang kelas yang tenang, berisi gagasan pengajuan usul kritis dan solusi kreatif perbaikan fasilitas/pengelolaan objek wisata nusantara (15 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja monolog lisan (kejelasan gagasan usul, kelogisan solusi, keruntutan monolog, intonasi dan artikulasi))

Sumatif:

  • tes tertulis terpadu pemahaman deskripsi, unjuk kerja penulisan teks deskripsi mandiri, dan penyajian monolog lisan usul solusi terfokus: lembar jawaban analisis aural-visual-evaluatif, draf teks deskripsi pengalaman individual bersudut pandang personal dengan kosakata denotatif-konotatif, serta rekaman audio performa monolog lisan individual berdurasi 1 menit berisi pengajuan usul solusi pengelolaan objek wisata
  • tes tertulis serentak pemahaman dan evaluasi teks deskripsi: lembar jawaban murid yang memuat isian analisis gagasan dan pandangan penutur dari teks aural yang diperdengarkan guru, tabel perbandingan makna tersurat-tersirat dari teks deskripsi visual, dan telaah evaluasi kualitas kejelasan teks visual dibandingkan teks informasi pembanding yang dikerjakan serentak seluruh kelas (35 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penskoran analitis)
  • unjuk kerja penulisan teks deskripsi serentak: naskah teks deskripsi karya mandiri murid sepanjang 2-3 paragraf tentang pengalaman menjelajah tempat/objek yang memadukan rincian konkret logis serta pilihan kata bermakna denotatif dan konotatif secara menarik (30 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian teks deskripsi (struktur deskripsi, kerincian logis, ketepatan kosakata denotatif dan konotatif))
  • unjuk kerja penyajian monolog lisan terekam: rekaman audio monolog berdurasi tepat 1 menit per murid yang direkam serentak secara mandiri menggunakan gawai/alat perekam sekolah di sudut ruang kelas yang tenang, berisi gagasan pengajuan usul kritis dan solusi kreatif perbaikan fasilitas/pengelolaan objek wisata nusantara (15 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja monolog lisan (kejelasan gagasan usul, kelogisan solusi, keruntutan monolog, intonasi dan artikulasi))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Gagasan dan Pandangan Teks Aural (TP 7.1.1)Belum mampu mengidentifikasi gagasan pokok maupun pandangan penutur dari teks aural yang diperdengarkan (skor butir 1 dan 2 salah seluruhnya).Mampu mengidentifikasi 1 dari 2 butir (hanya gagasan pokok atau hanya pandangan penutur) secara tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mampu menganalisis gagasan pokok (keindahan bawah laut dan ketenangan Pantai Ora) dan pandangan penutur (Pantai Ora sebagai surga tersembunyi yang wajib dijaga) dengan tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mampu menganalisis gagasan pokok dan pandangan penutur dari teks aural secara amat tepat, mendalam, dan terperinci melampaui rumusan minimal kunci jawaban.
Menganalisis Makna Tersurat dan Tersirat Teks Visual (TP 7.1.2)Belum tepat menganalisis makna tersurat maupun makna tersirat dari teks pamflet visual yang dibaca.Mampu menemukan 1 dari 2 makna (hanya makna tersurat atau hanya makna tersirat) secara tepat sesuai pamflet visual.Mampu menganalisis makna tersurat (ketinggian air terjun 120 m dengan formasi tirai melingkar) dan makna tersirat (jalur lembah memerlukan kehati-hatian ekstra dan fisik prima) secara tepat.Mampu menganalisis makna tersurat dan makna tersirat teks visual secara utuh, komprehensif, dan disertai penunjukan bukti visual yang sangat rinci.
Mengevaluasi Kualitas Teks Visual dengan Sumber Pembanding (TP 7.1.3)Belum mampu memberikan telaah evaluasi kualitas kejelasan teks pamflet visual dibandingkan teks pembanding.Menyebutkan perbandingan namun belum menunjukkan aspek kejelasan informasi secara kritis (hanya membandingkan tampilan fisik luar).Mampu mengevaluasi kualitas kejelasan teks visual secara tepat menggunakan sumber informasi pembanding (mengidentifikasi kelebihan estetika pamflet visual dan kekurangannya pada rincian estimasi waktu trekking dibanding ulasan artikel).Mampu mengevaluasi kualitas kejelasan dan kelengkapan teks visual secara objektif, kritis, dan memberikan pertimbangan perbaikan yang logis berdasarkan teks pembanding.
Mempresentasikan Monolog Gagasan Usul dan Solusi Pengelolaan Wisata (TP 7.1.4)Rekaman monolog belum menyampaikan gagasan usul yang jelas maupun solusi pengelolaan objek wisata.Monolog menyampaikan usul pengelolaan tetapi belum disertai solusi yang logis, atau durasi rekaman menyimpang jauh dari batasan 1 menit.Mempresentasikan monolog lisan berdurasi tepat 1 menit berisi gagasan pengajuan usul kritis (perbaikan fasilitas kebersihan) dan pemberian solusi kreatif pengelolaan objek wisata secara logis dan runtut.Mempresentasikan monolog lisan 1 menit secara runtut, kritis, dan amat meyakinkan dengan gagasan usul serta solusi inovatif yang terstruktur rapi.
Menulis Pengalaman dalam Teks Deskripsi (TP 7.1.5)Teks deskripsi kurang dari 2 paragraf, rincian pengalaman tidak logis, dan belum menggunakan kosakata denotatif dan konotatif dengan tepat.Menulis teks deskripsi 2 paragraf, namun kerincian objek masih terbatas dan hanya memuat salah satu jenis kosakata (denotatif saja atau konotatif saja).Menulis teks deskripsi pengalaman 2-3 paragraf secara logis dan menarik, memadukan rincian konkret serta minimal 2 kosakata bermakna denotatif dan 2 kosakata bermakna konotatif secara tepat.Menulis teks deskripsi pengalaman 3 paragraf secara sangat logis, hidup, dan memikat dengan variasi rincian konkret serta perpaduan kaya kosakata denotatif dan konotatif yang tepat konteks.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk ketiga tugas sumatif (tes tertulis 32 menit, penulisan 25 menit, monolog 12 menit) terlaksana dengan tertib dan memadai bagi seluruh murid?
  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 7 secara keseluruhan pada kelima TP Bab 1 berdasarkan hasil asesmen sumatif ini untuk perumusan strategi bab berikutnya?

Murid:

  • Bagian tugas mana dari asesmen sumatif Bab 1 yang paling berhasil saya kerjakan dengan mandiri dan percaya diri?
  • Keterampilan berbahasa apa (menyimak, membaca visual, menulis deskripsi, atau monolog lisan) yang masih perlu saya tingkatkan pada bab-bab berikutnya?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 1 'Jelajah Nusantara'
  2. Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 1 'Jelajah Nusantara'
  3. Naskah teks deskripsi aural 'Pesona Wae Rebo' dan 'Jelajah Alam Raja Ampat'
  4. Set kartu kutipan dan gagasan pokok permainan 'Detektif Gagasan Pokok'
  5. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Revisi 2023 (Kemendikbudristek), Bab 1 Jelajah Nusantara.
  6. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Revisi 2023 (Kemendikbudristek), Bab 1 Subbab D 'Menganalisis Informasi Lisan'.
  7. Transkrip teks aural objek wisata ('Jelajah Wae Rebo', 'Jelajah Rasa di Lampung', 'Keheningan Danau Ranau') yang dibacakan guru.
  8. Lembar kerja analisis pandangan penutur dan kartu detektif penutur.
  9. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023
  10. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 1
  11. Pamflet visual wisata 'Taklukkan Puncak Papandayan' dan teks visual 'Pesona Danau Laut Tawar Takengon'
  12. Lembar Kerja Murid (LKPD) Analisis Visual Gagasan Tersurat
  13. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Edisi Revisi (Kemendikbudristek, 2023)
  14. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Edisi Revisi Bab 1 Jelajah Nusantara Halaman 16–17 (Kemendikbudristek, 2023)
  15. Pamflet Deskripsi Wisata Visual 'Taklukkan Puncak Papandayan'
  16. Lembar Kerja Detektif Makna Tersirat
  17. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SMP Kelas VII (Kemendikbudristek 2023)
  18. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Bab 1 'Jelajah Nusantara' (Kemendikbudristek 2023)
  19. Pamflet visual wisata 'Pantan Terong yang Instagramable'
  20. Artikel pembanding 'Pesona Dataran Tinggi Pantan Terong Takengon'
  21. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 (Bab 1: Jelajah Nusantara)
  22. Lembar Teks Deskripsi Visual 'Pesona Pantai Ora' dan 'Taman Nasional Baluran'
  23. Lembar Teks Rujukan Pembanding 'Panduan Perjalanan Pulau Seram' dan 'Pusat Informasi Konservasi Baluran'
  24. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek Revisi 2023 Bab 1
  25. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek Revisi 2023 Bab 1 Hal. 24-34
  26. Lembar Perancah Kerangka Monolog Pengajuan Usul Wisata
  27. Kartu Masalah Fasilitas Objek Wisata Nusantara
  28. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 1 'Jelajah Nusantara'
  29. Kartu masalah objek wisata (Candi Prambanan, Labuan Bajo, Gunung Bromo, Pantai Kuta, Candi Borobudur, Danau Toba, Kawah Ijen)
  30. Lembar draf poin presentasi monolog mandiri
  31. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring / Luring
  32. Kartu Kosakata Denotatif Tematik Objek Wisata dan Lingkungan
  33. Kartu Kata Sulap Bahasa (kata denotatif dan padanan konotatifnya)
  34. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII Kemendikbudristek 2023, Bab 1 'Jelajah Nusantara'
  35. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring/luring
  36. Contoh perbandingan teks deskripsi draf mentah dan draf hasil penyempurnaan karya guru
  37. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 2023. Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII. Penulis: Eugenia Rakhma Subarna, dkk.
  38. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi).
  39. Naskah Audio/Teks Aural 'Pesona Pantai Ora' (dibacakan guru).
  40. Lembar Soal dan Pamflet Visual Wisata 'Air Terjun Tumpak Sewu' beserta Teks Pembanding Artikel Ulasan.
  41. Lembar Kerja Penulisan Teks Deskripsi Pengalaman dan Alat Perekam Audio/Gawai Sekolah.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.