Modul AjarPertemuan 3Bab 2Fase CSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 6: Nusantara Berjuta Cerita: Pengenalan Jenis-Jenis Cerita Rakyat Nusantara

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 6 dengan topik "Nusantara Berjuta Cerita: Pengenalan Jenis-Jenis Cerita Rakyat Nusantara". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 6: Nusantara Berjuta Cerita: Pengenalan Jenis-Jenis Cerita Rakyat Nusantara

Bahasa Indonesia - Kelas 6

Bab 2 - Pertemuan 3

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Nusantara Berjuta Cerita: Pengenalan Jenis-Jenis Cerita Rakyat Nusantara

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikNusantara Berjuta Cerita: Pengenalan Jenis-Jenis Cerita Rakyat Nusantara
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu mengidentifikasi dan menjelaskan jenis-jenis cerita rakyat Nusantara (mite, legenda, dongeng, fabel, hikayat) beserta contoh judulnya secara lisan.
  2. Murid mampu menuliskan judul-judul cerita rakyat yang diketahui dan mengidentifikasi jenis cerita rakyat tersebut secara tertulis.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu mendengar cerita tentang asal-usul suatu tempat di daerahmu? Cerita apa itu, dan siapa yang menceritakannya kepadamu?
  2. Menurutmu, apa bedanya cerita tentang Malin Kundang dengan cerita tentang Kancil dan Harimau? Mengapa keduanya disebut cerita rakyat?
  3. Kalau kamu ingin memperkenalkan satu cerita rakyat dari daerahmu kepada teman dari daerah lain, cerita apa yang akan kamu pilih dan mengapa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru mengucapkan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai pembelajaran.
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengkondisikan kelas agar siap belajar.
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: murid diminta menyebutkan satu judul cerita rakyat yang pernah mereka dengar atau baca, lalu menuliskannya di selembar sticky note atau di buku tulis. Guru memantau respons untuk mengetahui pengetahuan awal murid.
  • Guru memunculkan pertanyaan pemantik pertama dan kedua untuk memancing rasa ingin tahu murid tentang keberagaman cerita rakyat Nusantara.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: murid akan belajar mengenal jenis-jenis cerita rakyat Nusantara beserta contoh judulnya, kemudian mempresentasikannya secara lisan dan menuliskannya secara tertulis.
  • Guru menjelaskan alur kegiatan secara singkat sehingga murid tahu apa yang akan mereka lakukan selama pelajaran berlangsung.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan infografik jenis-jenis cerita rakyat (mite, legenda, dongeng, fabel, hikayat) yang ada di Buku Siswa halaman 56–58, bisa menggunakan proyektor, papan tulis, atau lembar cetak.
  • Guru membacakan penjelasan singkat tentang definisi cerita rakyat secara lantang, lalu murid membaca bersama-sama dalam hati.
  • Guru memandu murid mencermati setiap jenis cerita rakyat pada infografik: definisi singkat dan contoh judul yang tersedia. Murid diajak berhenti sejenak di setiap jenis dan diminta bertanya dalam hati, 'Apakah aku pernah mendengar cerita ini sebelumnya?' (prinsip berkesadaran).
  • Guru memberikan penjelasan tambahan untuk memperjelas perbedaan antara mite dan legenda, serta antara dongeng dan fabel, karena keduanya sering membingungkan murid.
  • Murid mencatat ringkasan lima jenis cerita rakyat beserta satu contoh judul untuk masing-masing jenis di buku tulis mereka. Format catatan bebas: boleh tabel, peta pikiran, atau daftar bernomor sesuai gaya belajar masing-masing (prinsip bermakna).
  • Guru melakukan tanya-jawab lisan singkat: 'Siapa yang tahu contoh lain untuk legenda selain Legenda Danau Toba?' — untuk mengaktifkan pengetahuan awal murid dan mengecek pemahaman awal.

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi menjadi 5 kelompok kecil (4–5 orang per kelompok). Setiap kelompok mendapat satu jenis cerita rakyat sebagai tanggung jawabnya: Kelompok 1 = Mite, Kelompok 2 = Legenda, Kelompok 3 = Dongeng, Kelompok 4 = Fabel, Kelompok 5 = Hikayat.
  • Setiap kelompok berdiskusi dan bertugas: (a) menuliskan minimal 3 judul cerita rakyat yang termasuk jenis mereka — boleh dari buku, ingatan, atau hasil diskusi antar teman; (b) menentukan alasan singkat mengapa judul-judul tersebut termasuk jenis tersebut.
  • Guru menyediakan buku-buku cerita rakyat, lembar referensi, atau gambar sampul buku sebagai sumber tambahan yang bisa dijadikan rujukan kelompok (prinsip bermakna — belajar dari sumber nyata).
  • Setelah diskusi kelompok (±8 menit), setiap kelompok menuliskan hasil kerja mereka pada selembar kertas besar atau kartu yang ditempel di papan/dinding kelas. Format penulisan: nama jenis cerita rakyat, definisi singkat dengan kalimat sendiri, dan daftar judul beserta alasan.
  • Satu perwakilan dari setiap kelompok maju ke depan kelas dan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya secara lisan dalam waktu 2–3 menit per kelompok. Anggota kelompok lain boleh menambahkan (prinsip menggembirakan — berbagi penemuan seperti ekspedisi).
  • Selama presentasi, murid yang mendengarkan mengisi lembar pengamatan sederhana: menuliskan satu judul cerita rakyat baru yang mereka dengar dari kelompok lain beserta jenisnya. Ini sekaligus menjadi latihan menulis individual (TP 6.2.3.2).
  • Guru memberikan umpan balik langsung setelah setiap kelompok presentasi: mengonfirmasi kebenaran pengelompokan, meluruskan jika ada kekeliruan, dan menambahkan contoh judul yang relevan.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Setelah semua kelompok presentasi, murid secara mandiri melengkapi tabel rekapitulasi di buku tulis mereka: lima kolom untuk lima jenis cerita rakyat, masing-masing berisi minimal 2 judul cerita rakyat yang sudah mereka ketahui atau baru mereka pelajari hari ini. Ini adalah produk tertulis individual untuk TP 6.2.3.2.
  • Guru mengajukan pertanyaan refleksi untuk seluruh kelas: 'Dari semua jenis cerita rakyat yang sudah kalian pelajari hari ini, mana yang paling banyak kalian temukan contohnya? Menurutmu, mengapa begitu?'
  • Murid menjawab secara lisan bergantian (cukup 3–4 murid), mendorong mereka mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman pribadi dan konteks budaya daerah asal mereka (prinsip bermakna — menghubungkan materi dengan kehidupan nyata).
  • Guru memfasilitasi murid merefleksi proses belajar: 'Apa yang menurutmu paling menarik dari kegiatan hari ini? Apakah ada jenis cerita rakyat yang masih terasa membingungkan?' Murid menuliskan jawaban singkat di buku tulis atau sticky note (prinsip berkesadaran — murid mengevaluasi proses belajarnya sendiri).
  • Guru menegaskan kembali pentingnya cerita rakyat sebagai warisan budaya Nusantara yang perlu dikenal dan dijaga oleh generasi muda.

Penutup:

  • Guru bersama murid merangkum materi hari ini: lima jenis cerita rakyat (mite, legenda, dongeng, fabel, hikayat) beserta ciri khas dan contoh judulnya.
  • Guru melakukan asesmen akhir singkat: murid menjawab 3 soal tertulis di buku tulis — (1) tuliskan definisi singkat satu jenis cerita rakyat pilihanmu, (2) tuliskan 2 judul cerita rakyat yang termasuk jenis tersebut, (3) jelaskan apa yang membedakan fabel dengan dongeng.
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif seluruh murid selama pembelajaran.
  • Guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya: nilai-nilai dalam cerita rakyat, sehingga murid bisa membaca cerita rakyat apapun di rumah sebagai persiapan.
  • Pembelajaran ditutup dengan doa bersama.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum mengenal cerita rakyat diberikan lembar referensi bergambar berisi 10 judul cerita rakyat populer beserta jenisnya sebagai scaffolding. Murid yang sudah memiliki banyak pengetahuan awal didorong untuk mencari cerita rakyat dari daerah yang kurang dikenal atau dari luar Jawa.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan tambahan ditempatkan dalam kelompok dengan teman yang bisa membimbing, dan guru meluangkan waktu lebih untuk mendampingi kelompok tersebut saat diskusi. Murid yang cepat memahami diberi tantangan tambahan: menjelaskan perbedaan antara dua jenis cerita rakyat yang mirip (misalnya mite vs. legenda) dengan kalimat mereka sendiri sebelum presentasi dimulai.
  • Produk: Murid yang lebih lambat cukup mengisi tabel dengan 1–2 judul per jenis cerita rakyat. Murid yang lebih cepat diminta menambahkan kolom 'alasan' di tabel rekapitulasi mereka, menjelaskan singkat mengapa setiap judul masuk ke jenis tersebut.

ASESMEN

Awal:

  • Sebelum kegiatan inti dimulai, murid diminta menyebutkan atau menuliskan satu judul cerita rakyat yang mereka ketahui. Guru mencatat respons untuk memetakan pengetahuan awal: murid yang belum bisa menyebut judul apapun perlu scaffolding lebih, murid yang sudah menyebut judul perlu diarahkan untuk mengidentifikasi jenisnya.

Proses:

  • Observasi diskusi kelompok: guru menggunakan daftar cek sederhana untuk mencatat apakah murid mampu memberikan contoh judul yang tepat untuk jenis cerita rakyat yang menjadi tanggung jawab kelompoknya.
  • Penilaian presentasi lisan: guru mencatat apakah perwakilan kelompok mampu menjelaskan jenis cerita rakyat dan menyebutkan contoh judul dengan benar, lancar, dan percaya diri.
  • Lembar pengamatan individual saat menyimak presentasi kelompok lain: murid menulis judul dan jenis cerita rakyat yang mereka dengar — digunakan guru untuk mengecek pemahaman lintas kelompok.

Akhir:

  • Tabel rekapitulasi tertulis individual di buku tulis: berisi lima jenis cerita rakyat dengan masing-masing minimal 2 judul cerita rakyat yang sudah diidentifikasi jenisnya. Dinilai menggunakan rubrik ketepatan identifikasi dan kelengkapan judul.
  • 3 soal tertulis singkat di sesi penutup: (1) tuliskan definisi singkat satu jenis cerita rakyat pilihanmu, (2) tuliskan 2 judul cerita rakyat yang termasuk jenis tersebut, (3) jelaskan perbedaan antara fabel dan dongeng.

Formatif:

  • Tanya-jawab lisan selama tahap Memahami untuk mengecek pemahaman awal murid tentang definisi setiap jenis cerita rakyat.
  • Observasi diskusi kelompok: guru berkeliling dan mencatat partisipasi, kebenaran pengelompokan judul, dan kemampuan murid memberikan alasan.
  • Lembar pengamatan saat presentasi: murid menuliskan judul cerita rakyat baru yang mereka dengar dari kelompok lain beserta jenisnya.
  • Pertanyaan refleksi lisan dan tertulis di akhir tahap Merefleksi.

Sumatif:

  • Tabel rekapitulasi tertulis individual: murid menuliskan minimal 2 judul cerita rakyat untuk setiap jenis (5 jenis x 2 judul = 10 judul) beserta identifikasi jenisnya.
  • 3 soal tertulis singkat di penutup: definisi, contoh judul, dan perbedaan dua jenis cerita rakyat.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi jenis cerita rakyat secara lisan (TP 6.2.3.1)Murid belum mampu menyebutkan jenis cerita rakyat dengan benar, atau hanya menyebutkan 1 jenis tanpa definisi dan contoh judul.Murid mampu menyebutkan 2–3 jenis cerita rakyat dengan definisi yang kurang tepat dan contoh judul yang terbatas (1 judul per jenis).Murid mampu menjelaskan 4 jenis cerita rakyat dengan definisi yang cukup tepat dan menyebutkan minimal 2 contoh judul untuk sebagian besar jenis.Murid mampu menjelaskan semua 5 jenis cerita rakyat dengan definisi yang tepat, menyebutkan minimal 2 contoh judul untuk setiap jenis, dan menyampaikannya secara lisan dengan lancar dan percaya diri.
Menuliskan judul cerita rakyat dan mengidentifikasi jenisnya secara tertulis (TP 6.2.3.2)Murid menuliskan kurang dari 5 judul cerita rakyat dan sebagian besar identifikasi jenisnya tidak tepat.Murid menuliskan 5–7 judul cerita rakyat, namun identifikasi jenis pada beberapa judul masih kurang tepat atau tidak konsisten.Murid menuliskan 8–9 judul cerita rakyat dari minimal 4 jenis yang berbeda, dan sebagian besar identifikasi jenisnya sudah tepat.Murid menuliskan 10 atau lebih judul cerita rakyat yang mencakup kelima jenis, seluruh identifikasi jenis tepat, dan penulisan rapi serta terstruktur.
Partisipasi dalam diskusi dan presentasi kelompokMurid tidak berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok dan tidak berkontribusi saat presentasi berlangsung.Murid berpartisipasi sebatas mendengarkan dan sesekali memberikan respons singkat dalam diskusi kelompok.Murid aktif berdiskusi, memberikan kontribusi berupa contoh judul atau pendapat, dan mampu mengikuti alur presentasi dengan baik.Murid sangat aktif dalam diskusi, menginisiasi ide atau contoh judul, dan mampu mempresentasikan atau menambahkan penjelasan secara jelas dan percaya diri di hadapan kelas.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid berhasil mengidentifikasi kelima jenis cerita rakyat dengan benar? Jika tidak, jenis mana yang paling banyak membingungkan murid?
  • Apakah alokasi waktu untuk setiap tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah proporsional? Bagian mana yang perlu diperpanjang atau diperpendek di pertemuan berikutnya?
  • Apakah diferensiasi yang diterapkan (scaffolding untuk murid yang belum mengenal cerita rakyat, tantangan tambahan untuk murid yang cepat) sudah berjalan efektif?
  • Apakah pertanyaan pemantik berhasil memancing rasa ingin tahu dan keterlibatan murid di awal pembelajaran?

Refleksi Murid:

  • Dari kelima jenis cerita rakyat yang kamu pelajari hari ini, mana yang paling mudah kamu ingat? Apa yang membuatnya mudah diingat?
  • Apakah ada jenis cerita rakyat yang masih terasa membingungkan bagimu? Apa yang ingin kamu tanyakan atau pelajari lebih lanjut tentangnya?
  • Cerita rakyat dari daerah mana yang ingin kamu ceritakan kepada teman-temanmu? Mengapa kamu memilih cerita itu?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia 'Anak-Anak yang Mengubah Dunia' (Edisi Revisi) untuk SD/MI Kelas VI — halaman 56–59 (teks cerita rakyat dan infografik jenis-jenis cerita rakyat)
  2. Buku Guru Bahasa Indonesia 'Anak-Anak yang Mengubah Dunia' (Edisi Revisi) untuk SD/MI Kelas VI — Bab II Nusantara Berjuta Cerita
  3. Koleksi buku cerita rakyat Nusantara yang disediakan Kemendikdasmen sebagai sumber referensi kelompok
  4. Infografik cerita rakyat (dapat dicetak dari Buku Siswa atau dibuat ulang di papan tulis/kertas poster)
  5. Kertas besar/karton dan spidol warna untuk menulis hasil kerja kelompok
  6. Sticky note untuk asesmen awal dan refleksi murid
  7. Lembar kerja sederhana berisi tabel rekapitulasi lima jenis cerita rakyat (opsional, dapat disiapkan guru)
  8. Proyektor atau papan tulis untuk menampilkan infografik jenis cerita rakyat

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.