Modul AjarPertemuan 12Bab 2Fase CSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 6: Makna Denotatif dan Konotatif dalam Cerita Rakyat: Menemukan Makna dalam 'Legenda Telaga Sarangan'

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 6 dengan topik "Makna Denotatif dan Konotatif dalam Cerita Rakyat: Menemukan Makna dalam 'Legenda Telaga Sarangan'". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 6: Makna Denotatif dan Konotatif dalam Cerita Rakyat: Menemukan Makna dalam 'Legenda Telaga Sarangan'

Bahasa Indonesia - Kelas 6

Bab 2 - Pertemuan 12

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Makna Denotatif dan Konotatif dalam Cerita Rakyat: Menemukan Makna dalam 'Legenda Telaga Sarangan'

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikMakna Denotatif dan Konotatif dalam Cerita Rakyat: Menemukan Makna dalam 'Legenda Telaga Sarangan'
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu menemukan dan membedakan kalimat bermakna denotatif dan konotatif dalam teks cerita rakyat 'Legenda Telaga Sarangan' dengan tepat.
  2. Murid mampu menjelaskan makna denotatif dan konotatif dari kalimat-kalimat yang ditemukan dalam cerita rakyat secara tertulis menggunakan kalimat yang jelas.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata 'hatinya dingin' untuk menggambarkan seseorang? Menurutmu, apakah hati itu benar-benar dingin? Apa yang sebenarnya dimaksud?
  2. Jika ada kalimat 'air mata si miskin tumpah' dan 'air tumpah dari ember', menurutmu mana yang kata-katanya punya makna berbeda dari arti sesungguhnya?
  3. Mengapa pengarang cerita rakyat sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang maknanya tidak langsung? Apa untungnya bagi pembaca?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru mengucapkan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran.
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: menampilkan dua kalimat di papan tulis — (1) 'Bunga itu mekar di taman.' dan (2) 'Ia adalah bunga desa yang dikagumi semua orang.' — lalu bertanya kepada beberapa murid: 'Apakah kata bunga di kedua kalimat itu punya arti yang sama? Mengapa?' Guru mencatat respons murid sebagai pemetaan pemahaman awal.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: murid akan membaca cerita rakyat 'Legenda Telaga Sarangan', menemukan kalimat bermakna denotatif dan konotatif, lalu menuliskan penjelasan maknanya.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemantik pertama untuk membangkitkan rasa ingin tahu murid: 'Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata hatinya dingin? Apakah hatinya benar-benar dingin?'
  • Guru menjelaskan alur kegiatan secara singkat: membaca cerita bersama → memahami konsep → menemukan contoh dalam cerita → menulis penjelasan makna.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menayangkan atau membagikan teks 'Legenda Telaga Sarangan' (teks cerita rakyat yang memuat kalimat-kalimat dengan pilihan kata kaya, sebagai adaptasi dari konteks Legenda Telaga Pasir dalam buku siswa). Murid membaca teks secara mandiri dalam hati selama 5 menit.
  • Guru membacakan ulang beberapa penggalan teks dengan intonasi ekspresif agar murid merasakan nuansa bahasa sastra dalam cerita rakyat tersebut.
  • Guru menampilkan dua kolom di papan tulis: DENOTATIF (makna sebenarnya/harfiah) dan KONOTATIF (makna kias/tambahan). Guru memberikan satu contoh kalimat dari teks untuk masing-masing kolom beserta penjelasan maknanya secara singkat dan jelas. Contoh: 'Air memancar deras dari dalam tanah' (denotatif — air sungguh-sungguh memancar) vs. 'Hatinya bagai batu karang, tak goyah oleh rayuan' (konotatif — hati yang teguh dan kuat, bukan batu sungguhan).
  • Guru mengajak murid berdiskusi kelas singkat: 'Dari dua contoh tadi, apa perbedaan utama makna denotatif dan konotatif menurut kalian?' Beberapa murid diminta menjawab lisan untuk mengonstruksi pemahaman bersama.
  • Guru memberikan satu kalimat latihan cepat dari teks: murid mengacungkan tangan jika menurut mereka kalimat itu konotatif, dan diam jika denotatif. Guru memberi umpan balik langsung.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menerima lembar kerja (LK) yang berisi tabel dua kolom: 'Kalimat Denotatif yang Saya Temukan' dan 'Kalimat Konotatif yang Saya Temukan'. Di bawah setiap kalimat yang ditemukan, murid juga menuliskan 'Penjelasan Makna' dalam satu hingga dua kalimat dengan kata-katanya sendiri.
  • Murid membaca kembali teks 'Legenda Telaga Sarangan' secara mandiri dan mencari minimal lima kalimat bermakna denotatif dan minimal lima kalimat bermakna konotatif dari teks tersebut, lalu menuliskannya di LK beserta penjelasan maknanya.
  • Guru berkeliling kelas memantau proses kerja murid, memberikan pertanyaan pancingan bagi murid yang tampak kesulitan: 'Coba baca kalimat ini pelan-pelan — apakah kata ini bisa diartikan secara harfiah atau ada makna lain yang ingin disampaikan pengarang?'
  • Setelah selesai, murid berpasangan dengan teman sebangku untuk saling memeriksa hasil temuan: apakah kalimat yang dikategorikan sudah tepat? Pasangan memberikan masukan singkat secara lisan (asesmen sejawat).
  • Perwakilan dua hingga tiga murid mempresentasikan satu contoh kalimat konotatif dan penjelasan maknanya di depan kelas. Kelas merespons: setuju atau punya pendapat berbeda?

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid berhenti sejenak dan bertanya secara lisan: 'Kalimat mana yang paling menarik menurutmu — denotatif atau konotatif? Mengapa pengarang cerita rakyat sering memilih kata-kata dengan makna konotatif?'
  • Murid menuliskan jawaban refleksi singkat di bagian bawah LK: (1) Satu hal baru yang aku pelajari hari ini tentang makna konotatif/denotatif. (2) Satu pertanyaan yang masih ada di pikiranku. (3) Satu contoh kalimat konotatif dari kehidupanku sehari-hari yang pernah aku dengar atau ucapkan.
  • Beberapa murid berbagi contoh kalimat konotatif dari kehidupan sehari-hari mereka. Guru menanggapi dengan hangat dan menghubungkan kembali ke teks cerita rakyat: 'Nah, ternyata kita juga sering memakai bahasa konotatif tanpa sadar, ya!'
  • Guru merangkum perbedaan denotatif dan konotatif secara lisan bersama kelas, dengan mengajak murid melengkapi kalimat rumpang: 'Makna denotatif adalah makna yang... sedangkan makna konotatif adalah makna yang...'

Penutup:

  • Guru mengumpulkan lembar kerja murid sebagai asesmen akhir.
  • Guru mengajukan dua pertanyaan penutup secara lisan untuk mengecek pemahaman akhir: 'Apa perbedaan makna denotatif dan konotatif? Berikan satu contoh dari cerita tadi!'
  • Guru memberikan umpan balik umum atas proses belajar hari ini: mengapresiasi usaha murid dan menyebutkan satu hal yang sudah berjalan baik secara kelas.
  • Guru menyampaikan tindak lanjut: murid diajak untuk mencatat satu kalimat konotatif yang mereka temukan di rumah (dari percakapan, lagu, atau bacaan) sebagai tugas pengamatan ringan yang tidak dikumpulkan, melainkan akan dibagikan di awal pertemuan berikutnya.
  • Guru menutup pembelajaran dengan mengajak murid merapikan meja, berdoa bersama, dan mengucapkan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan dukungan lebih (belum lancar membaca makna kias) diberikan daftar kata/frasa bantuan beserta petunjuk singkat 'kata ini bisa bermakna kias' untuk membantu mereka memulai pencarian. Murid yang sudah mahir diberikan tantangan tambahan: menemukan kalimat konotatif yang mengandung nilai-nilai moral dari cerita dan menjelaskan nilai apa yang terkandung.
  • Proses: Murid yang kesulitan dapat bekerja berpasangan sejak awal tahap Mengaplikasi dengan bimbingan guru. Murid yang cepat dapat langsung menulis penjelasan makna lebih dari satu kalimat per temuan dan mendiskusikan mengapa pengarang memilih kata tersebut.
  • Produk: Murid yang sudah berkembang pesat dapat diminta membuat tabel dengan kolom tambahan: 'Efek penggunaan kata konotatif terhadap pembaca' — satu kalimat singkat per baris. Murid yang masih berkembang cukup memenuhi minimal lima kalimat denotatif dan lima konotatif beserta penjelasan maknanya.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan dua kalimat di papan tulis: (1) 'Bunga itu mekar di taman.' dan (2) 'Ia adalah bunga desa yang dikagumi semua orang.' Murid diminta menjawab secara lisan: apakah kata 'bunga' di dua kalimat tersebut punya makna yang sama, dan mengapa. Respons murid dipakai guru untuk memetakan siapa yang sudah punya intuisi tentang makna kias dan siapa yang belum, sebagai dasar diferensiasi selama proses pembelajaran.

Proses:

  • Observasi langsung saat murid mengerjakan LK secara mandiri: guru memperhatikan proses berpikir murid, memberikan pertanyaan pancingan kepada murid yang kesulitan, dan mencatat perkembangan pemahaman.
  • Asesmen sejawat saat berpasangan: murid memberikan masukan lisan kepada pasangannya tentang ketepatan kategorisasi kalimat.
  • Presentasi singkat perwakilan murid: guru menilai kemampuan murid menjelaskan alasan kategorisasi kalimat yang dipilih.

Akhir:

  • Pengumpulan lembar kerja tertulis: murid menyerahkan LK yang berisi minimal lima kalimat denotatif dan lima kalimat konotatif dari teks 'Legenda Telaga Sarangan', lengkap dengan penjelasan makna tiap kalimat secara tertulis dalam kalimat yang jelas dan mandiri.
  • Guru menilai LK menggunakan rubrik dua aspek: ketepatan identifikasi dan membedakan makna, serta kejelasan penulisan penjelasan makna.

Formatif:

  • Observasi guru saat murid membaca teks dan diskusi kelas (tahap Memahami): guru mencatat murid yang aktif merespons dan yang tampak bingung.
  • Asesmen sejawat saat berpasangan: murid saling memeriksa ketepatan kategorisasi kalimat denotatif dan konotatif temannya.
  • Kuis lisan: guru menyebut satu kalimat dari teks, murid menjawab denotatif atau konotatif dengan mengacungkan tangan.

Sumatif:

  • Lembar kerja tertulis: murid menemukan minimal lima kalimat denotatif dan lima kalimat konotatif dari teks 'Legenda Telaga Sarangan', dilengkapi penjelasan makna masing-masing kalimat dalam kalimat yang jelas.
  • Dinilai menggunakan rubrik 4 level berdasarkan dua aspek: (1) ketepatan mengidentifikasi dan membedakan kalimat denotatif-konotatif, dan (2) kejelasan penulisan penjelasan makna.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menemukan dan Membedakan Kalimat Denotatif-KonotatifMurid belum mampu membedakan kalimat denotatif dan konotatif; sebagian besar kategorisasi salah atau tidak ada kalimat yang ditemukan.Murid menemukan kurang dari lima kalimat untuk masing-masing jenis dan masih banyak kategorisasi yang keliru (lebih dari separuh salah).Murid menemukan minimal lima kalimat denotatif dan lima konotatif dengan sebagian besar kategorisasi tepat (empat dari lima atau lebih benar).Murid menemukan minimal lima kalimat denotatif dan lima konotatif dengan seluruh kategorisasi tepat dan mampu menjelaskan alasan perbedaannya dengan percaya diri.
Kejelasan Penulisan Penjelasan Makna secara TertulisMurid tidak menuliskan penjelasan makna, atau penjelasan tidak dapat dipahami sama sekali.Murid menuliskan penjelasan makna untuk sebagian kalimat, namun penjelasan masih sangat singkat, tidak jelas, atau hanya menyalin ulang kalimat dari teks.Murid menuliskan penjelasan makna untuk sebagian besar kalimat yang ditemukan dengan kalimat yang cukup jelas dan menggunakan kata-katanya sendiri.Murid menuliskan penjelasan makna untuk semua kalimat yang ditemukan dengan kalimat yang jelas, runtut, dan menggunakan pilihan kata yang tepat serta mudah dipahami.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah murid sudah mampu membedakan kalimat bermakna denotatif dan konotatif setelah pembelajaran hari ini? Bagian mana yang masih perlu diperkuat?
  • Apakah contoh-contoh yang saya gunakan cukup kontekstual dan mudah dipahami murid kelas 6?
  • Murid mana yang menunjukkan kesulitan dan memerlukan pendampingan lebih lanjut pada pertemuan berikutnya?
  • Apakah alokasi waktu sudah cukup untuk tiga tahap kegiatan inti? Tahap mana yang perlu disesuaikan durasinya?

Refleksi Murid:

  • Apa satu hal baru yang kamu pelajari hari ini tentang makna denotatif dan konotatif?
  • Bagian mana yang masih terasa sulit atau membingungkan bagimu?
  • Dapatkah kamu menyebutkan satu contoh kalimat konotatif yang pernah kamu dengar atau ucapkan dalam kehidupan sehari-hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi) untuk SD/MI Kelas VI — Nisa Yustisia, Darwanto, M. Arif (Kemendikbudristek, 2025), Bab 2 Subbab E Aktivitas 2.15–2.16
  2. Buku Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi) untuk SD/MI Kelas VI — panduan Aktivitas 2.15 dan 2.16
  3. Teks cerita rakyat 'Legenda Telaga Sarangan' (dicetak atau ditayangkan guru, adaptasi kontekstual dari teks Legenda Telaga Pasir dalam buku siswa)
  4. Lembar Kerja (LK) tabel dua kolom: Kalimat Denotatif dan Kalimat Konotatif beserta kolom Penjelasan Makna (disiapkan guru)
  5. Papan tulis atau layar proyektor untuk menampilkan contoh kalimat dan tabel konsep
  6. Alat tulis murid

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.