Modul AjarBab 2Fase CSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 6 Bab 2: Nusantara Berjuta Cerita

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 6 untuk Bab 2 "Nusantara Berjuta Cerita", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 6 Bab 2: Nusantara Berjuta Cerita

Bahasa Indonesia - Kelas 6

Bab 2

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Bab 2 — Nusantara Berjuta Cerita

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikBab 2 — Nusantara Berjuta Cerita
Alokasi Waktu48 JP (48 x 35 menit = 1680 menit)
Jumlah Pertemuan24
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 6.2.1 Menganalisis isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita rakyat yang didengarkan
  2. TP 6.2.2 Membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari teks sastra cerita rakyat
  3. TP 6.2.3 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra cerita rakyat berwujud teks visual
  4. TP 6.2.4 Menyampaikan perasaan berdasarkan imajinasi secara indah dan menarik dalam bentuk teks sastra cerita rakyat dengan penggunaan kosakata secara kreatif
  5. TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif
  6. TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana cara kita mengetahui sifat seorang tokoh dalam cerita yang hanya kita dengarkan tanpa melihat teksnya?
  2. Petunjuk apa saja dalam cerita lisan yang membantu kita membayangkan tempat dan suasana terjadinya peristiwa?
  3. Bagaimana urutan peristiwa yang dialami Mira sejak menemukan kepompong hingga melepaskan kupu-kupu?
  4. Apa masalah utama yang dihadapi Mira dalam memelihara kupu-kupu di rumah susun?
  5. Apa yang biasanya kamu pelajari setelah menyimak tindakan tokoh utama dalam sebuah cerita rakyat?
  6. Mengapa sebuah peristiwa buruk yang dialami tokoh dalam cerita dapat memberikan pelajaran berharga bagi kita?
  7. Bagaimana cara membunyikan kata yang memiliki dua konsonan bersambung di awal seperti 'kl-', 'pr-', atau 'tr-' agar terdengar jelas dan tidak tersendat?
  8. Mengapa kita perlu membaca kata berkombinasi konsonan secara utuh tanpa mengeja hurufnya satu per satu?
  9. Bagaimana caramu melafalkan kata yang memiliki dua huruf vokal berdampingan seperti 'pulau' atau 'daun' tanpa terbata-bata?
  10. Apa perbedaan bunyi saat kamu membaca kata dengan diftong (seperti 'danau') dibandingkan dengan vokal rangkap biasa (seperti 'saat')?
  11. Apa yang biasanya kalian lakukan saat menemukan kata yang sangat panjang dalam sebuah cerita rakyat?
  12. Bagaimana cara membaca kata yang memiliki tiga atau empat suku kata agar terdengar lancar dan tidak terbata-bata?
  13. Sikap baik apa yang dapat kita temukan dari perilaku tokoh Apapuhang saat menghadapi kesulitan?
  14. Bagaimana kita membuktikan bahwa suatu tindakan tokoh mencerminkan nilai budi pekerti dalam cerita?
  15. Mengapa masyarakat adat membuat aturan larangan mengambil ikan di sungai pada waktu tertentu?
  16. Apa yang terjadi pada lingkungan sungai dan persediaan ikan jika tidak ada aturan adat seperti Lubuk Larangan?
  17. Bagaimana kita bisa menemukan bukti bahwa seorang tokoh dalam cerita rakyat memiliki sifat jujur atau bekerja keras?
  18. Tindakan apa dalam cerita yang menunjukkan bahwa kejujuran membawa kebaikan dan kerja keras membuahkan hasil?
  19. Bagaimana caramu menyampaikan rasa sedih seorang tokoh cerita agar terdengar menyentuh hati dan indah?
  20. Pilihan kata puitis apa saja yang dapat melukiskan perasaan haru ketika seorang tokoh berkorban untuk keluarganya?
  21. Bagaimana kita menggambarkan perasaan tokoh cerita rakyat yang sangat kagum atau luar biasa berani tanpa hanya berkata 'dia kagum' atau 'dia berani'?
  22. Ungkapan kiasan apa yang terpikir olehmu saat membayangkan seorang tokoh cerita rakyat berdiri tegak menantang bahaya di puncak gunung?
  23. Bagaimana caramu membayangkan dan mengungkapkan perasaan seorang tokoh cerita rakyat yang sedang terombang-ambing di tengah badai agar terdengar indah?
  24. Kosakata kreatif apa saja yang dapat kita rangkai untuk melukiskan perasaan hati tokoh dalam cerita rakyat?
  25. Apakah kata 'bintang' selalu berarti benda penerang di langit malam?
  26. Apa perbedaan arti kata 'hancur' pada kalimat 'rumahnya hancur tertimpa pohon' dan 'hatinya hancur mendengar kabar itu'?
  27. Pernahkah kalian mendengar kata 'bintang' yang berarti benda langit dan yang berarti murid terpandai?
  28. Bagaimana kita bisa mengetahui apakah sebuah kata dalam cerita rakyat bermakna sebenarnya (denotatif) atau bermakna kiasan (konotatif)?
  29. Apa perbedaan arti kata 'bintang' pada kalimat 'Bintang bersinar di langit malam' dengan 'Ahmad menjadi bintang di kelasnya'?
  30. Bagaimana kita bisa tahu apakah sebuah kata dalam kalimat narasi bermakna lugas (sebenarnya) atau bermakna kiasan?
  31. Apa arti lugas atau makna sebenarnya (denotatif) dari kata 'masyhur' dan 'bilik'?
  32. Bagaimana cara kita menggambarkan ciri fisik atau tempat tinggal seorang tokoh cerita rakyat secara tepat menggunakan kosakata baru bermakna denotatif?
  33. Bagaimana kita menggambarkan perasaan tokoh yang sangat marah atau sangat sedih tanpa sekadar menulis kata 'marah' atau 'sedih'?
  34. Apa perbedaan kesan pembaca saat membaca kalimat 'Hatinya hancur berkeping-keping' dibandingkan 'Dia merasa sedih'?
  35. Bagaimana kita bisa menggabungkan dua kejadian dalam cerita rakyat agar terbaca runtut dan masuk akal?
  36. Kata penghubung apa saja yang dapat kita gunakan untuk menunjukkan urutan waktu dan alasan terjadinya peristiwa dalam cerita?
  37. Bagaimana kita menggabungkan dua peristiwa cerita yang saling berlawanan agar menjadi satu kalimat yang padu?
  38. Kata penghubung apa yang harus digunakan jika suatu peristiwa dalam cerita hanya bisa terjadi apabila ada syarat tertentu yang terpenuhi?
  39. Bagaimana cara kita memperkenalkan tokoh imajinasi dan tempat tinggalnya dalam cerita rakyat agar langsung memikat pembaca sejak kalimat pertama?
  40. Bagaimana kita bisa menggabungkan keterangan waktu, tempat, dan sifat tokoh ke dalam satu kalimat kompleks yang padu?
  41. Bagaimana sebuah cerita rakyat bisa membuat pembacanya ikut tegang saat tokoh utamanya menghadapi masalah besar?
  42. Mengapa penggunaan kata kiasan (makna konotatif) membuat suasana konflik dan puncak masalah dalam cerita terasa lebih hidup dan dramatis?
  43. Bagaimana sebuah masalah atau perselisihan dalam cerita rakyat akhirnya dapat terselesaikan secara damai dan bermakna?
  44. Bagaimana kita memadukan kata bermakna sebenarnya (denotatif) dan kiasan (konotatif) dalam kalimat kompleks agar akhir cerita rakyat yang kita tulis terasa menyentuh?
  45. Bagaimana menggabungkan bagian awal, tengah, dan akhir cerita rakyat hasil imajinasimu agar menjadi sebuah teks yang utuh?
  46. Bagaimana rangkaian kalimat kompleks dan variasi kosakata bermakna denotatif serta konotatif dapat membuat cerita imajinasi menjadi lebih hidup?
  47. Bagaimana kita membuktikan bahwa kita mampu menyimak, membaca, dan menggali nilai-nilai budi pekerti dari cerita rakyat Nusantara?
  48. Bagaimana kita menuangkan imajinasi dan perasaan tokoh cerita rakyat menggunakan kalimat kompleks serta pilihan kata denotatif dan konotatif?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Tokoh dan Latar Cerita Rakyat Aural "Kupu-Kupu Mira" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menganalisis isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita rakyat yang didengarkan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemusatan fokus untuk menyimak cerita lisan (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyimak cerita yang dibacakan untuk menganalisis tokoh beserta perwatakannya serta latar tempat, waktu, dan suasana kejadian (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan penggalan mikro 2 kalimat: 'Di tengah hutan yang gelap gulita, Kancil berjalan berjingkat-jingkat menghindari kejaran Serigala yang lapar.' Murid diminta mengidentifikasi tokoh (Kancil, Serigala) dan latar tempat/suasana (hutan yang gelap gulita/mencekam) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak pembacaan teks aural 'Kupu-Kupu Mira' bagian 1 yang dibacakan oleh guru secara jelas dan ekspresif, berfokus mencatat secara mandiri informasi tokoh dan latar (10 menit).
  • Guru memfasilitasi tanya jawab pemahaman berbasis bukti aural dari teks: Siapa tokoh yang muncul dalam cerita? Di mana peristiwa itu terjadi? Bagaimana keadaan di tempat tinggal tokoh? (acuan: Tokoh utama adalah Mira, tokoh pendukung adalah Mama; Latar tempat adalah rumah susun lantai tujuh di Kota S dan kamar Mira; Latar suasana adalah tenang saat membaca, lalu sedih dan cemas saat kupu-kupu dimangsa cecak) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan 'Detektif Cerita': guru membacakan 4 kutipan kalimat aural dari cerita 'Kupu-Kupu Mira', lalu murid mengangkat kartu A/B/C/D secara serentak untuk mencocokkan kutipan dengan unsur tokoh atau latar yang tepat (Kutipan 1: 'Mira dan keluarganya tinggal di sebuah rumah susun di lantai tujuh' -> latar tempat; Kutipan 2: 'Gadis 10 tahun itu sangat suka membaca' -> perwatakan/ciri tokoh Mira gemar membaca; Kutipan 3: 'Dengan tangan gemetar, Mira meraih akuarium mini' -> latar suasana sedih/cemas tokoh Mira; Kutipan 4: 'Mama selalu membelikan Mira buku baru' -> tokoh pendukung Mama penyayang) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis isi teks aural 'Kupu-Kupu Mira' yang memuat 4 butir analisis: (1) Tokoh utama dan bukti karakternya; (2) Tokoh pendukung dan hubungannya; (3) Latar tempat beserta bukti kalimat auralnya; (4) Latar suasana beserta bukti peristiwanya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengoreksi hasil analisis lembar kerja secara mandiri berdasarkan panduan kunci analisis yang dibacakan guru, lalu mencatat unsur mana yang paling mudah atau paling menantang untuk disimak bukti auralnya (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan cara menemukan bukti tokoh dan latar dari cerita yang didengarkan (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses menyimak mandiri murid dan menyampaikan topik pertemuan berikutnya mengenai analisis alur dan masalah utama cerita 'Kupu-Kupu Mira' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci fokus simakan (nama tokoh, nama tempat, kata sifat perasaan). Murid dengan kesiapan tinggi menganalisis hubungan perwatakan tokoh terhadap perubahan latar suasana.
  • Proses: Teks aural dibacakan dengan artikulasi jelas dan pengulangan bagian kunci sebanyak dua kali bagi kelompok yang membutuhkan dukungan.
  • Produk: Murid dapat menuliskan bukti analisis tokoh dan latar dalam bentuk peta pikiran visual atau daftar isian tabel terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik menyimak singkat: Guru membacakan mikro-teks 'Di tengah hutan yang gelap gulita, Kancil berjalan berjingkat-jingkat menghindari kejaran Serigala yang lapar.' Murid menyebutkan tokoh dan latar teks. Acuan jawaban benar: Tokoh = Kancil dan Serigala; Latar tempat = tengah hutan; Latar suasana/waktu = gelap gulita/mencekam.

Proses:

  • Formatif proses melalui Lembar Analisis Isi Teks Aural 'Kupu-Kupu Mira' berisi 4 butir: (1) Tokoh utama dan perwatakannya (Acuan: Mira, rajin membaca/penyayang binatang); (2) Tokoh pendukung (Acuan: Mama, perhatian/peduli); (3) Latar tempat (Acuan: Rumah susun lantai tujuh di Kota S, kamar Mira); (4) Latar suasana (Acuan: Cemas/sedih saat kupu-kupu diterkam cecak, hening/tenang saat membaca buku).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Menjawab 2 pertanyaan cek pemahaman secara tertulis singkat pada tiket keluar: (1) Sebutkan 1 latar tempat spesifik dalam cerita 'Kupu-Kupu Mira' beserta bukti auralnya! (Acuan: Rumah susun lantai tujuh di Kota S / Kamar tidur Mira); (2) Bagaimana perasaan/suasana batin tokoh Mira di akhir cerita yang kamu dengarkan? (Acuan: Sedih/gundah/cemas karena kupu-kupunya mati diserang cecak sehingga memutuskan melepaskan yang tersisa).

Formatif:

  • Kuis respon cepat 'Detektif Cerita' pencocokan kutipan aural dengan unsur tokoh/latar
  • Lembar analisis mandiri isi teks sastra aural (identifikasi tokoh utama, pendukung, latar tempat, dan latar suasana berserta buktinya)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Tokoh (Utama dan Pendukung)Belum mampu menyebutkan tokoh utama dan pendukung dari cerita aural secara tepat.Mampu menyebutkan tokoh utama (Mira) namun belum mampu menyebutkan tokoh pendukung (Mama) atau belum menyertakan bukti karakter dari teks aural.Mampu menganalisis tokoh utama (Mira) dan tokoh pendukung (Mama) disertai bukti karakter yang tepat dari teks aural secara mandiri.Mampu menganalisis tokoh utama dan pendukung secara lengkap beserta bukti tindakan dan dialog aural secara mendalam dan terperinci.
Menganalisis Latar (Tempat dan Suasana)Belum mampu mengidentifikasi latar tempat maupun latar suasana dari teks aural secara tepat.Mampu mengidentifikasi latar tempat (rumah susun) namun belum tepat menganalisis latar suasana atau belum disertai bukti kalimat teks aural.Mampu menganalisis latar tempat (rumah susun lantai 7 Kota S) dan latar suasana (tenang lalu cemas/sedih) dengan bukti aural yang tepat secara mandiri.Mampu menganalisis latar tempat, waktu, dan suasana beserta hubungan keterkaitan perubahan latar terhadap situasi tokoh secara utuh dan tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah kecepatan dan intonasi pembacaan teks cerita aural sudah memungkinkan seluruh murid menangkap detail tokoh dan latar?
  • Bagian mana dari analisis tokoh dan latar yang masih membutuhkan perancah (scaffolding) tambahan bagi murid?

Murid:

  • Petunjuk kata apa dalam cerita yang paling membantumu mengetahui tempat terjadinya cerita?
  • Apakah kamu dapat membayangkan perasaan tokoh Mira ketika mendengarkan cerita tadi? Apa buktinya?

Pertemuan 2 — Menganalisis Alur dan Masalah Utama Cerita Rakyat Aural "Kupu-Kupu Mira" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menganalisis isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita rakyat yang didengarkan

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memimpin doa bersama sebelum memulai pembelajaran (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yakni menganalisis alur (kejadian awal, tengah, akhir) dan masalah utama dari cerita aural 'Kupu-Kupu Mira' (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan membacakan narasi singkat 3 kalimat: 'Rani menanam biji bunga di pot. Seminggu kemudian, tunas layu karena lupa disiram air. Rani pun segera menyiram dan memindahkannya ke tempat teduh.' Murid diminta menuliskan masalah utama cerita tersebut pada selembar kertas kecil (acuan: tunas layu karena tidak disiram) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memperdengarkan rekaman atau membacakan kembali teks aural cerita 'Kupu-Kupu Mira' dengan fokus pada urutan kejadian dan konflik cerita (5 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terarah mengenai isi teks aural: apa kejadian pembuka, apa persoalan yang muncul di tengah cerita, dan bagaimana penyelesaian di akhir cerita (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan memainkan permainan tantangan urutan 'Alur Tepat': setiap pasangan menerima 4 strip potongan peristiwa acak: (1) Mira memelihara kepompong di akuarium mini di kamarnya; (2) Kepompong menetas menjadi kupu-kupu yang indah; (3) Seekor cecak besar menerkam salah satu kupu-kupu hingga mati; (4) Mira memutuskan membawa sisa kupu-kupu keluar rumah susun untuk dilepaskan ke alam bebas (acuan urutan kronologis tepat: 1-2-3-4) (10 menit).
  • Setiap pasangan berdiskusi menganalisis masalah utama dan penyebabnya dalam cerita berdasarkan 4 strip yang telah diurutkan (acuan masalah utama: kupu-kupu peliharaan Mira terancam bahaya cecak/mati dan lingkungan rumah susun tidak aman bagi kupu-kupu; acuan penyebab: adanya aturan larangan memelihara hewan dan masuknya pemangsa alami cecak ke dalam kamar) (15 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan hasil analisis isi teks aural pada Lembar Analisis Cerita yang mencakup 3 bagian alur (awal, puncak masalah/tengah, penyelesaian/akhir) serta 1 rumusan masalah utama (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan pasangan membacakan hasil analisis alur dan masalah utama, sementara pasangan lain saling mencocokkan ketepatan analisis peristiwa berdasarkan isi cerita yang didengarkan (acuan: awal = Mira merawat kepompong di rusun; tengah/konflik = kupu-kupu diterkam cecak; akhir = Mira melepaskan kupu-kupu yang tersisa ke alam bebas; masalah utama = kupu-kupu mati diserang cecak di kamar) (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap ketepatan identifikasi alur sebab-akibat dan masalah utama dalam teks aural (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara menemukan alur peristiwa (awal, tengah, akhir) dan merumuskan masalah utama dalam teks cerita yang didengarkan (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman lisan/tulis singkat mengenai alur puncak dan penyelesaian cerita 'Kupu-Kupu Mira', lalu menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, guru menyediakan strip peristiwa yang dilengkapi kata kunci penanda waktu (mula-mula, kemudian, tiba-tiba, akhirnya). Bagi murid berpencapaian tinggi, strip peristiwa disajikan tanpa kata bantu penanda urutan.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara langsung dalam menentukan letak puncak masalah, sedangkan murid yang mandiri langsung menganalisis hubungan sebab-akibat antar-peristiwa.
  • Produk: Murid dapat menuangkan analisis alur dalam bentuk bagan alir berurutan atau tabel kronologis 3 bagian peristiwa (awal, tengah, akhir).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid mendengarkan cerita singkat 3 kalimat yang dibacakan guru: 'Rani menanam biji bunga di pot. Seminggu kemudian, tunas layu karena lupa disiram air. Rani pun segera menyiram dan memindahkannya ke tempat teduh.' Murid menuliskan masalah utama cerita tersebut pada kertas kerja (acuan: tunas layu/mati karena tidak disiram air).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja berpasangan menyusun 4 strip peristiwa: (1) Mira memelihara kepompong; (2) Menetas jadi kupu-kupu; (3) Kupu-kupu dimangsa cecak; (4) Mira melepaskan kupu-kupu ke alam (acuan ketepatan: urutan 1-2-3-4).
  • Pemeriksaan Lembar Analisis Cerita mandiri: ketepatan menganalisis 3 bagian alur (awal, tengah, akhir) dan 1 rumusan masalah utama cerita 'Kupu-Kupu Mira' (acuan alur awal: Mira merawat kepompong di akuarium mini kamar rusun; alur tengah: cecak memangsa kupu-kupu hingga mati; alur akhir: Mira membawa sisa kupu-kupu keluar untuk dilepaskan; acuan masalah utama: kupu-kupu peliharaan Mira terancam/mati dimangsa cecak).

Akhir Pertemuan:

  • Murid menjawab 2 pertanyaan cek pemahaman akhir: (1) Apa peristiwa yang menjadi puncak masalah dalam cerita 'Kupu-Kupu Mira'? (acuan: kupu-kupu Mira ditangkap/dimangsa oleh cecak besar); (2) Bagaimana penyelesaian masalah yang diambil Mira di akhir cerita? (acuan: Mira membawa sisa kupu-kupu keluar dari rusun dan melepaskannya ke alam/langit).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal mengidentifikasi masalah utama narasi pendek.
  • Tantangan berpasangan menyusun 4 strip alur kronologis peristiwa cerita.
  • Lembar Analisis Alur dan Masalah Utama Cerita Rakyat Aural 'Kupu-Kupu Mira'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Alur Teks Aural (Awal, Tengah, Akhir)Menganalisis tepat 1 dari 3 bagian alur (awal, tengah, akhir) cerita 'Kupu-Kupu Mira' berdasarkan teks aural yang didengarkan.Menganalisis tepat 2 dari 3 bagian alur (awal, tengah, akhir) cerita 'Kupu-Kupu Mira' berdasarkan teks aural yang didengarkan.Menganalisis tepat seluruh 3 bagian alur (awal: merawat kepompong di rusun; tengah: kupu-kupu diserang cecak; akhir: melepaskan kupu-kupu ke alam) dengan bimbingan.Menganalisis tepat seluruh 3 bagian alur (awal, tengah, akhir) secara mandiri dan runtut sesuai teks aural yang didengarkan.
Menganalisis Masalah Utama Teks AuralBelum mampu menentukan masalah utama cerita 'Kupu-Kupu Mira' (jawaban di luar konteks peristiwa konflik cerita).Menyebutkan peristiwa masalah secara parsial tanpa mengaitkan dengan ancaman terhadap kupu-kupu (hanya menyebut ada cecak).Menganalisis masalah utama secara tepat (kupu-kupu peliharaan mati/terancam dimangsa cecak di lingkungan rusun) dengan arahan guru.Menganalisis masalah utama beserta penyebabnya secara tepat dan mandiri (kupu-kupu mati diserang cecak karena kamar rusun bukan tempat yang aman bagi serangga).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan strip peristiwa acak efektif membantu murid menelusuri alur kronologis teks aural?
  • Bagian mana dari analisis masalah utama yang masih membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?

Murid:

  • Peristiwa mana dalam cerita 'Kupu-Kupu Mira' yang paling mudah dan paling sulit kamu tentukan letak alurnya?
  • Bagaimana caramu mengenali masalah utama saat menyimak cerita yang dibacakan guru?

Pertemuan 3 — Menganalisis Pesan Pokok Cerita Rakyat Aural "Doa-Doa dalam Sumur Tua" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menganalisis isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita rakyat yang didengarkan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan doa bersama, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran menganalisis pesan pokok dari isi cerita rakyat yang didengarkan (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik menyimak berupa satu kutipan peristiwa aural singkat: 'Kancil berjanji tidak akan mencuri ketimun Pak Tani lagi setelah kakinya terjerat getah pulut' dengan pertanyaan: 'Berdasarkan akibat perbuatannya, apa pesan pokok yang ingin disampaikan cerita tersebut?' (acuan jawaban: jangan mencuri/jangan berbuat curang karena akan merugikan diri sendiri) untuk memetakan pemahaman awal murid (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak dengan saksama audio/pembacaan teks sastra cerita aural 'Doa-Doa dalam Sumur Tua' karya Darwanto yang diperdengarkan guru sebanyak dua kali, berfokus pada tindakan Si Murai Kecil yang terbang jauh tanpa berpamitan hingga terhempas ke dalam sumur tua kering (15 menit).
  • Murid mencermati pemodelan guru tentang cara menelusuri isi cerita (peristiwa sebab: Murai Kecil lupa berpamitan kepada ibunya dan nekat terbang jauh saat angin kencang; akibat: Murai Kecil terjatuh ke sumur tua dan sayapnya terluka) untuk merumuskan pesan pokok cerita (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam permainan seru 'Detektif Pesan Cerita', murid menerima lembar analisis isi cerita aural dan memilih 1 pesan pokok paling tepat dari 4 opsi kartu bukti yang disediakan berdasarkan peristiwa cerita yang didengar: Kartu A ('Kita harus selalu patuh dan berpamitan kepada orang tua sebelum bepergian agar tidak tertimpa celaka'); Kartu B ('Kita harus terbang setinggi mungkin saat musim kemarau'); Kartu C ('Sumur tua adalah tempat bermain yang aman bagi burung kecil'); Kartu D ('Jangan menolong teman yang sedang kesakitan di dasar sumur') (acuan jawaban benar: Kartu A) (15 menit).
  • Murid menuliskan analisis isi berupa 2 bukti peristiwa dari cerita aural yang mendukung pesan pokok Kartu A tersebut: Bukti 1 = Si Murai Kecil terbang jauh dari sarang dan lupa berpamitan kepada ibunya; Bukti 2 = Si Murai Kecil kelelahan, terhempas angin kencang, dan terluka di dasar sumur tua (acuan: memuat kedua peristiwa sebab-akibat tersebut) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis pesan pokok dengan bukti isi cerita aural yang telah disimak secara terbuka dan terarah (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik penegasan bahwa pesan pokok sebuah cerita dapat dianalisis secara akurat dari hubungan sebab-akibat tindakan tokoh dalam isi cerita (3 menit).
  • Murid menjawab 1 pertanyaan cek pemahaman lisan penutup: 'Peristiwa mana yang menunjukkan Murai Kecil menyesali kelalaiannya?' (acuan: saat ia sendirian, kesakitan, dan ketakutan di dasar sumur tua yang gelap), lalu guru menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan audio dengan pemutaran ulang bagian cerita saat Murai Kecil mengalami kecelakaan di sumur.
  • Proses: Murid cepat menganalisis hubungan sebab-akibat secara mandiri dan menuliskan bukti kalimat pendukung cerita secara rinci, sedangkan murid berkembang dibimbing dengan format panduan sebab-akibat terstruktur.
  • Produk: Analisis disajikan pada lembar analisis teks aural dengan tingkat kedalaman bukti peristiwa sesuai kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan berdasarkan kutipan aural Kancil: 'Berdasarkan akibat perbuatannya, apa pesan pokok yang ingin disampaikan cerita tersebut?' (acuan: jangan mencuri/berbuat curang karena akan mencelakai atau merugikan diri sendiri).

Proses:

  • Penilaian lembar analisis isi cerita aural: menentukan 1 pilihan pesan pokok yang tepat dari 4 pilihan kartu (A, B, C, D) dan menyertakan 2 bukti peristiwa konkret dari teks aural (acuan: pilihan benar Kartu A; bukti 1 = lupa berpamitan kepada ibu; bukti 2 = terhempas angin dan jatuh terluka di sumur tua).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: 'Peristiwa mana yang menunjukkan Murai Kecil menyesali kelalaiannya?' (acuan: saat Murai Kecil sendirian, kesakitan, ketakutan, dan tidak bisa terbang di dasar sumur tua yang gelap).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang pesan pokok dari kutipan aural
  • Penugasan tertulis lembar 'Detektif Pesan Cerita' menganalisis pesan pokok beserta 2 bukti peristiwa teks aural 'Doa-Doa dalam Sumur Tua'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Pesan Pokok Cerita AuralBelum mampu menentukan pesan pokok dari cerita aural yang didengarkan.Menentukan pesan pokok cerita aural dengan tepat (Kartu A) namun belum mampu menyertakan bukti peristiwa dari isi cerita.Menentukan pesan pokok cerita aural dengan tepat (Kartu A) disertai 1 bukti peristiwa isi cerita secara tepat (lupa berpamitan atau jatuh terhempas di sumur tua).Menentukan pesan pokok cerita aural dengan tepat (Kartu A) disertai 2 bukti peristiwa isi cerita secara lengkap dan tepat (lupa berpamitan dan terhempas jatuh ke sumur tua).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu menangkap keterkaitan antara tindakan tokoh dan pesan pokok melalui media aural?
  • Bagian mana dari langkah menyimak yang membutuhkan pengulangan audio lebih banyak?

Murid:

  • Bagian isi cerita aural mana yang paling membantumu menemukan pesan pokok cerita?
  • Pelajaran apa yang kamu dapatkan dari kisah Si Murai Kecil?

Pertemuan 4 — Membaca Fasih Kata Pola Kombinasi Konsonan Bergabung (kl-, pr-, tr-) dalam Teks Cerita Rakyat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.2 Membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari teks sastra cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid dan memeriksa kesiapan belajar secara tertib (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 3 kartu kata di papan tulis: (1) kliring, (2) prajurit, (3) tradisi. Guru meminta 3 perwakilan murid membaca nyaring satu per satu untuk memetakan kefasihan membaca kombinasi kl-, pr-, tr- tanpa mengeja atau menyisipkan vokal liar (acuan: dibaca /kli-ring/, /pra-ju-rit/, /tra-di-si/ secara langsung dan lancar) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membaca kata-kata berpola kombinasi konsonan bergabung (kl-, pr-, tr-) dalam teks cerita rakyat secara fasih (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan penggalan teks cerita rakyat pendek di papan tulis yang memuat kata berkombinasi konsonan: 'Sang pangeran memimpin prajurit melintasi klan seberang demi menjaga tradisi luhur kerajaan.' Guru memodelkan cara melafalkan kluster /kl-/, /pr-/, dan /tr-/ secara fasih dan menyatu tanpa jeda ragu atau penambahan vokal sisip (misal bukan 'perajurit' atau 'teradisi') (8 menit).
  • Murid secara bersama-sama menirukan pelafalan 6 kata model di papan tulis: (1) klasik, (2) klarifikasi, (3) pribadi, (4) prasasti, (5) tragedi, (6) terompet/tribun hingga bunyinya terdengar utuh dan fasih (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru membagikan lembar bacaan cuplikan cerita rakyat berjudul 'Prajurit Klan Teratai' yang memuat 6 kata target kombinasi konsonan: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi (5 menit).
  • Permainan Menggembirakan 'Estafet Kata Fasih': Murid dalam kelompok beranggotakan 4 orang secara bergiliran membaca cepat kartu kata target (klan, prajurit, tradisi, klasik, pribadi, tragedi); setiap murid yang membaca satu kata dengan fasih tanpa mengeja berhak meneruskan giliran ke teman berikutnya hingga kartu habis (15 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid membaca nyaring daftar 6 kata target di lembar kerja di hadapan guru atau teman sebangku dengan kriteria kefasihan: dibaca langsung, tanpa mengeja suku kata, tanpa mengulang, dan tanpa jeda ragu (acuan 6 kata: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi kemandirian membacanya dengan memeriksa apakah masih ada kata berkonsonan gabung yang tadi sempat dieja atau tersendat saat dibaca (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap pelafalan gugus konsonan kl-, pr-, tr- yang sudah fasih dan memotivasi murid agar membiasakan membaca langsung kata berpola serupa dalam teks sastra (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan cara membaca fasih kata dengan pola konsonan bergabung (kl-, pr-, tr-) yaitu menyatukan bunyi konsonan tanpa menyisipkan bunyi vokal di antaranya (3 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya mengenai membaca pola diftong dan menutup pembelajaran dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks dengan cetak tebal pada huruf konsonan gabung (kl-, pr-, tr-), sedangkan murid yang sudah mahir membaca teks tanpa bantuan cetak tebal.
  • Proses: Murid dengan hambatan kefasihan diberi kesempatan membaca berulang terbimbing sebelum membaca mandiri; murid yang fasih membaca langsung 6 kata target dengan tempo normal.
  • Produk: Semua murid membaca nyaring 6 kata target; murid yang lebih cepat diberikan tantangan membaca 3 kata tambahan berkombinasi konsonan (klinik, praktis, traksi) secara mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes membaca lisan diagnostik pada awal pembelajaran menggunakan 3 kartu kata: (1) kliring, (2) prajurit, (3) tradisi. Acuan: dibaca fasih /kli-ring/, /pra-ju-rit/, /tra-di-si/ langsung tanpa mengeja dan tanpa menyisipkan vokal tengah.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja membaca nyaring 6 kata target pada teks cerita rakyat: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi. Indikator kefasihan: kata dibaca utuh tanpa mengeja huruf, tanpa pengulangan, dan tanpa jeda ragu lebih dari 2 detik per kata.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman membaca fasih 3 kata penutup: (1) klasik, (2) pribadi, (3) tragedi. Acuan ketepatan: dibaca utuh dan lancar tanpa mengeja (/kla-sik/, /pri-ba-di/, /tra-ge-di/).

Formatif:

  • Unjuk kerja membaca nyaring kata berpola konsonan bergabung (kl-, pr-, tr-) menggunakan lembar observasi kefasihan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan Membaca Kata Pola Kombinasi Konsonan Bergabung (kl-, pr-, tr-)Membaca fasih kurang dari 3 kata target dari total 6 kata (kata masih dieja huruf per huruf atau terhenti lama). Acuan 6 kata: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi.Membaca fasih 3 sampai 4 kata target dari total 6 kata secara mandiri tanpa mengeja. Acuan 6 kata: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi.Membaca fasih 5 kata target dari total 6 kata secara tepat tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu. Acuan 6 kata: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi.Membaca fasih seluruh 6 kata target secara tepat, lancar tanpa mengeja, tanpa pengulangan, dan mandiri sepenuhnya. Acuan 6 kata: (1) prajurit, (2) klan, (3) prasasti, (4) tradisi, (5) proklamasi, (6) tragedi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah dapat melafalkan gugus konsonan kl-, pr-, dan tr- secara menyatu tanpa menyisipkan vokal bantu?
  • Bagian mana dari aktivitas estafet kata yang paling efektif membantu murid yang masih sering mengeja?

Murid:

  • Kata berkombinasi konsonan mana yang terasa paling menantang untuk dibaca secara langsung?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil membaca kata-kata berkonsonan ganda tanpa mengeja?

Pertemuan 5 — Membaca Fasih Kata Pola Diftong dan Vokal Rangkap dalam Teks Cerita Rakyat "Lembah Apapuhang" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.2 Membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari teks sastra cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kemampuan membaca fasih kata-kata berpola diftong (-au, -ai, -oi) dan vokal rangkap (aa, ua, ia, ai terpisah suku kata) yang terdapat dalam kutipan cerita rakyat 'Lembah Apapuhang' (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta 3 murid secara bergantian membaca nyaring 3 kata di papan tulis: 'danau', 'sungai', dan 'laut' untuk mengecek kesiapan membaca lancar tanpa mengeja (acuan: dibaca lancar langsung utuh 'da-nau', 'su-ngai', 'la-ut' tanpa mengeja huruf demi huruf) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan 6 kartu kata di papan tulis yang memuat kata berpola diftong dan vokal rangkap: (1) 'sungai' [diftong -ai], (2) 'kerbau' [diftong -au], (3) 'amboi' [diftong -oi], (4) 'keadaan' [vokal rangkap -aa-], (5) 'lautan' [vokal rangkap -au-], (6) 'luas' [vokal rangkap -ua-] (5 menit).
  • Guru mencontohkan pelafalan fasih keenam kata tersebut secara berkesadaran tanpa terbata-bata, membedakan luncuran bunyi pada diftong dan pemisahan ketukan suku kata pada vokal rangkap, lalu murid menirukannya bersama-sama secara serempak (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru membagikan lembar kutipan teks cerita rakyat 'Lembah Apapuhang' yang di dalamnya memuat 8 kata target berpola diftong dan vokal rangkap berikut: (1) 'pantai', (2) 'danau', (3) 'lembah', (4) 'sepoi', (5) 'saat', (6) 'suara', (7) 'daun', (8) 'tiap' (6 menit).
  • Murid memainkan tantangan membaca menggembirakan 'Roda Kata Apapuhang': secara berpasangan, murid bergantian memutar roda kata/mengambil kartu acak dari 8 kata target tersebut dan membacanya secara langsung, tepat, dan fasih tanpa mengeja kepada pasangannya (15 menit).
  • Murid secara mandiri membaca nyaring 4 kalimat kutipan cerita rakyat 'Lembah Apapuhang' yang memuat kata target di hadapan guru secara bergiliran: Kalimat 1 memuat kata 'pantai' dan 'danau'; Kalimat 2 memuat kata 'sepoi'; Kalimat 3 memuat kata 'saat' dan 'suara'; Kalimat 4 memuat kata 'daun' dan 'tiap' (acuan kefasihan: melafalkan seluruh 8 kata target secara utuh, benar pengucapan diftong/vokal rangkapnya, tanpa jeda ragu dan tanpa mengeja) (14 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu murid mencermati kata mana di antara 8 kata target yang paling menantang untuk dibaca secara fasih tanpa ragu serta mendiskusikan letak hambatannya secara berkesadaran (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan kembali cara membaca kata berpola diftong dan vokal rangkap secara fasih dalam teks cerita rakyat (4 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kelancaran membaca murid, menyampaikan rencana pembelajaran membaca kata berulang tiga suku kata untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata bertanda jeda suku kata (misal: da-nau, sa-at), sedangkan murid yang sudah mahir membaca teks cerita rakyat utuh yang memuat diftong dan vokal rangkap tanpa pemenggalan.
  • Proses: Murid dengan kecepatan membaca lebih lambat berlatih membaca terbimbing berpasangan dengan bimbingan langsung guru, sedangkan murid cepat membaca mandiri dengan tantangan kecepatan pelafalan 8 kata target tanpa jeda.
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan pembacaan nyaring fasih pada 8 kata target teks cerita rakyat 'Lembah Apapuhang' sesuai rubrik kefasihan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik membaca nyaring 3 kata uji di papan tulis: (1) 'danau', (2) 'sungai', (3) 'laut' untuk mengidentifikasi kefasihan awal murid dalam membaca kata diftong/vokal rangkap tanpa mengeja huruf demi huruf (acuan: lancar membaca 'da-nau', 'su-ngai', 'la-ut' langsung tanpa terbata-bata).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid membaca 8 kata target dalam 4 kalimat kutipan 'Lembah Apapuhang': (1) pantai, (2) danau, (3) sepoi, (4) saat, (5) suara, (6) daun, (7) tiap, (8) keadaan (acuan kefasihan: membaca tiap kata target secara tepat bunyi bunyiannya, tanpa mengulang, dan tanpa mengeja).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman membaca cepat: murid membaca kartu cek yang memuat 4 kata target pilihan: 'danau', 'pantai', 'suara', 'saat' secara mandiri (acuan: minimal 3 dari 4 kata dibaca dengan fasih tanpa ragu/tanpa mengeja).

Formatif:

  • Unjuk kerja membaca nyaring kata berpola diftong dan vokal rangkap dalam teks cerita rakyat menggunakan lembar amatan kefasihan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan Membaca Kata Pola Diftong dan Vokal RangkapMembaca kata pola diftong dan vokal rangkap dengan masih mengeja per huruf, sering mengulang, atau hanya melafalkan 1-2 kata dengan tepat dari 8 kata target acuan.Membaca 3-4 kata dengan fasih tanpa mengeja dari 8 kata target acuan, namun masih sering jeda ragu atau terbata-bata pada kata lainnya.Membaca 5-7 kata dari 8 kata target acuan dengan fasih, lancar, tanpa jeda ragu, dan tanpa mengeja.Membaca seluruh 8 kata target acuan (pantai, danau, sepoi, saat, suara, daun, tiap, keadaan) dengan sangat fasih, lancar tanpa jeda ragu, tanpa mengulang, dan konsisten mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah mampu melafalkan kata berpola diftong dan vokal rangkap tanpa mengeja?
  • Bagian pola bunyi mana (diftong atau vokal rangkap terpisah) yang masih memicu keraguan membaca pada sebagian murid?

Murid:

  • Kata mana dari cerita 'Lembah Apapuhang' yang terasa paling mudah dan paling menantang saat kamu baca nyaring?
  • Apa yang membantumu bisa membaca kata-kata tersebut secara langsung tanpa terbata-bata?

Pertemuan 6 — Membaca Fasih Kata Pola Kompleks Tiga Suku Kata atau Lebih dalam Kalimat Teks Cerita Rakyat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.2 Membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari teks sastra cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kemampuan membaca fasih kata-kata berpola kompleks yang memiliki tiga suku kata atau lebih dalam kalimat teks cerita rakyat (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan menampilkan 3 kata pada kartu papan tulis: (1) ke-sak-ti-an, (2) pe-nga-wa-lan, (3) ke-se-jah-te-ra-an. Tiga perwakilan murid diminta membaca kata-kata tersebut secara langsung tanpa mengeja untuk memetakan kesiapan membaca fasih kata bersuku kata banyak (acuan pelafalan lancar langsung: kesaktian, pengawalan, kesejahteraan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati pemodelan guru tentang teknik memenggal dan membaca kata berpola kompleks tiga suku kata atau lebih pada 4 contoh kata teks cerita rakyat berikut: (1) per-mu-ka-an (4 suku kata), (2) ke-ku-a-sa-an (5 suku kata), (3) me-nying-kir-kan (4 suku kata), (4) pe-rin-tah-kan (3 suku kata) (7 menit).
  • Murid secara bergiliran menirukan pelafalan keempat kata tersebut secara utuh dan langsung tanpa mengeja huruf satu per satu (acuan: pelafalan lancar tanpa jeda ragu untuk permukaan, kekuasaan, menyingkirkan, perintahkan) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan bahasa 'Tantangan Kata Beruntun': secara berpasangan, murid bergantian mengambil kartu dan membaca nyaring 5 kata pola kompleks tiga suku kata atau lebih secara cepat dan fasih (kartu memuat: 1. meng-han-cur-kan; 2. pe-ri-la-ku; 3. per-tem-bu-ran; 4. ke-bi-jak-sa-na-an; 5. men-da-tang-kan; acuan keterbacaan: dibaca utuh tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu) (18 menit).
  • Murid membaca secara mandiri lembar kutipan teks cerita rakyat yang memuat 5 kalimat bergaris bawah dengan target kata pola kompleks: (1) 'Rakyat hidup dalam ke-mak-mur-an yang melimpah.' (kata: kemakmuran); (2) 'Sang raja mem-per-ta-han-kan wilayahnya dari musuh.' (kata: mempertahankan); (3) 'Prajurit itu mem-per-ing-at-kan bahaya lahar dingin.' (kata: memperingatkan); (4) 'Ia me-la-ri-kan diri ke dalam hutan lebat.' (kata: melarikan); (5) 'Penduduk men-ja-lan-kan perintah dengan setia.' (kata: menjalankan). Guru menyimak kefasihan membaca murid satu per satu (acuan: tepat dan fasih membaca kelima kata bergaris bawah tanpa mengeja) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mengevaluasi proses membaca: kata mana yang paling menantang untuk diucapkan secara fasih dan apa strategi yang berhasil dilakukan untuk melancarkannya (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian murid dalam membaca kata panjang tiga suku kata atau lebih secara fasih (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya kelancaran membaca kata kompleks agar pemahaman terhadap isi kalimat cerita rakyat menjadi lebih mudah (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan membaca kata kompleks dengan bantuan penanda tanda hubung antar-suku kata terlebih dahulu, sedangkan murid yang sudah mahir langsung membaca kalimat utuh tanpa pemenggalan visual.
  • Proses: Murid yang masih ragu diberi kesempatan berlatih membaca kata berulang 2-3 kali secara terbimbing bersama guru, sedangkan murid yang sudah fasih berlatih membaca mandiri dengan tempo yang lebih stabil.
  • Produk: Seluruh murid membaca kata target yang sama; ketercapaian dinilai berdasarkan jumlah kata berpola kompleks tiga suku kata atau lebih yang dibaca secara tepat dan fasih.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes membaca cepat lisan 3 kata bergaris bawah pada kartu awal: (1) ke-sak-ti-an, (2) pe-nga-wa-lan, (3) ke-se-jah-te-ra-an. Kriteria: murid dikategorikan siap jika mampu membaca minimal 2 dari 3 kata secara langsung tanpa mengeja (acuan: pelafalan langsung lancar kesaktian, pengawalan, kesejahteraan).

Proses:

  • Pengamatan keterbacaan fasih saat murid membaca 5 kata pola kompleks bergaris bawah dalam kalimat teks cerita rakyat: (1) kemakmuran, (2) mempertahankan, (3) memperingatkan, (4) melarikan, (5) menjalankan. Guru mencatat apakah kata dibaca utuh langsung tanpa terbata-bata, tanpa mengulang, dan tanpa jeda ragu.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman membaca di akhir tahap inti pada lembar kalimat: murid membaca 5 target kata pola kompleks: (1) kemakmuran, (2) mempertahankan, (3) memperingatkan, (4) melarikan, (5) menjalankan (acuan: terbaca fasih minimal 4 dari 5 kata tanpa mengeja).

Formatif:

  • Unjuk kerja membaca nyaring kata-kata berpola kompleks tiga suku kata atau lebih dalam kalimat teks cerita rakyat menggunakan lembar observasi kefasihan membaca.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan membaca kata pola kompleks tiga suku kata atau lebihMembaca kurang dari 2 kata dari 5 target kata (kemakmuran, mempertahankan, memperingatkan, melarikan, menjalankan) secara fasih; masih mengeja suku kata demi suku kata dengan jeda panjang.Membaca 2 sampai 3 kata dari 5 target kata secara fasih tanpa mengeja, namun masih terbata-bata atau mengulang pada kata lainnya.Membaca 4 dari 5 target kata secara fasih, lancar, tanpa mengeja, dan tanpa jeda ragu secara mandiri.Membaca seluruh (5 dari 5) target kata secara fasih, lancar tanpa mengeja, tanpa pengulangan, dan tanpa jeda ragu secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pemodelan pemenggalan suku kata cukup membantu murid yang mengalami kendala kelancaran membaca?
  • Bagian pola suku kata mana yang masih sering membuat murid tersendat saat membaca nyaring?

Murid:

  • Kata panjang mana yang tadi paling mudah dan paling menantang untuk kamu baca secara lancar?
  • Apakah pemenggalan suku kata membantumu membaca kata panjang dengan lebih fasih?

Pertemuan 7 — Menganalisis Nilai Budi Pekerti dalam Teks Cerita Rakyat Visual "Lembah Apapuhang" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.3 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra cerita rakyat berwujud teks visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis nilai budi pekerti dalam teks cerita rakyat visual "Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil" (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid membaca kutipan: "Meskipun tubuh mereka kecil, orang-orang Apapuhang bahu-membahu mengangkat batu besar untuk membuat bendungan bersama demi kampung mereka." Murid diminta menyebutkan nilai budi pekerti dan bukti tindakan tokoh pada kutipan tersebut (acuan jawaban: nilai budi pekerti gotong royong/kerja sama; bukti tindakan: bahu-membahu mengangkat batu besar bersama demi kampung) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memirsa dan membaca teks visual "Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil" pada Buku Siswa (halaman 50-51) secara cermat dengan memperhatikan tindakan, ucapan, dan sikap tokoh (10 menit).
  • Guru memodelkan cara menganalisis nilai budi pekerti melalui tabel analisis yang menghubungkan kutipan tindakan tokoh dengan nilai budi pekerti yang tercermin (contoh: tindakan tidak mudah menyerah saat mencari jalan keluar mencerminkan nilai ketabahan/kegigihan) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan berpasangan "Detektif Budi Pekerti": secara berpasangan murid saling melempar petunjuk kutipan tindakan tokoh dan mencocokkan nilai budi pekerti yang tepat dalam waktu cepat secara menyenangkan (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis 3 kutipan tindakan tokoh dalam teks "Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil" pada lembar kerja analisis untuk mengidentifikasi nilai budi pekerti beserta penjelasannya: (1) Kutipan: Apapuhang saling berbagi hasil panen umbi-umbian secara adil tanpa ada yang serakah (acuan: nilai kejujuran/keadilan); (2) Kutipan: Tetua Apapuhang menasihati warganya untuk memaafkan kesalahan kelompok tetangga yang merusak saluran air tanpa sengaja (acuan: nilai pemaaf/kebijaksanaan); (3) Kutipan: Anak-anak Apapuhang selalu mencium tangan orang tua sebelum turun ke lembah mencari buah (acuan: nilai hormat/santun kepada orang tua) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisisnya dan mencocokkan ketepatan pasangan kutipan tindakan dengan nilai budi pekerti yang dianalisis (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan murid dalam mengaitkan bukti kutipan teks visual dengan nilai budi pekerti (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai analisis nilai budi pekerti dalam teks sastra visual dan menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual dengan penandaan warna (highlight) pada bagian tindakan tokoh. Murid yang mahir diberikan teks lengkap tanpa bantuan visual tambahan.
  • Proses: Murid yang belum berkembang dibimbing dengan pertanyaan penuntun untuk menghubungkan perbuatan tokoh dengan sifat baiknya. Murid yang mahir menganalisis bukti tambahan dari teks secara mandiri.
  • Produk: Format penyajian lembar kerja berupa tabel analisis hubungan tindakan tokoh dan nilai budi pekerti dapat diisi secara ringkas berpoin (bagi yang memerlukan bimbingan) atau uraian lengkap berargumen (bagi murid mahir).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes lisan/tulis singkat diagnostik di awal pembelajaran berupa kutipan: "Meskipun tubuh mereka kecil, orang-orang Apapuhang bahu-membahu mengangkat batu besar untuk membuat bendungan bersama demi kampung mereka." Murid menentukan nilai budi pekerti dan bukti kutipannya (acuan: nilai kerja sama/gotong royong; bukti: tindakan bahu-membahu mengangkat batu besar bersama demi kepentingan kampung).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam permainan 'Detektif Budi Pekerti' dan penilaian ketepatan pengerjaan 3 butir lembar kerja analisis nilai budi pekerti teks "Lembah Apapuhang" dengan acuan: Butir 1 (Kutipan Apapuhang berbagi umbi secara adil -> nilai keadilan/kejujuran); Butir 2 (Kutipan Tetua memaafkan kerusakan saluran air -> nilai pemaaf/kebijaksanaan); Butir 3 (Kutipan anak-anak Apapuhang mencium tangan orang tua -> nilai santun/hormat pada orang tua).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui 1 butir penguatan: Murid menentukan nilai budi pekerti dari kutipan tindakan: "Orang-orang Apapuhang tetap sabar menata kembali bebatuan rumah mereka yang runtuh terkena angin tanpa mengeluh sedikit pun" (acuan: nilai budi pekerti kesabaran/ketabahan/pantang mengeluh; bukti: menata kembali bebatuan runtuh tanpa mengeluh).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja tertulis analisis nilai budi pekerti berdasarkan kutipan tindakan tokoh pada teks visual cerita rakyat menggunakan rubrik analitis.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis nilai budi pekerti dalam teks sastra visualBelum mampu menentukan nilai budi pekerti atau bukti tindakan tokoh dari ketiga kutipan teks cerita rakyat visual yang diberikan (0 dari 3 butir tepat sesuai acuan).Mampu menentukan 1 dari 3 nilai budi pekerti beserta bukti tindakan tokoh dalam teks cerita rakyat visual secara tepat sesuai acuan.Mampu menentukan 2 dari 3 nilai budi pekerti beserta bukti tindakan tokoh dalam teks cerita rakyat visual secara tepat sesuai acuan.Mampu menganalisis seluruh (3 dari 3) nilai budi pekerti beserta bukti tindakan tokoh dalam teks cerita rakyat visual secara tepat sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah analisis teks visual cerita rakyat telah membantu murid membedakan tindakan tokoh dan nilai budi pekerti yang terkandung di dalamnya secara tepat?
  • Apakah alokasi waktu pada permainan berpasangan dan pengerjaan lembar kerja mandiri sudah efektif mencapai target pemahaman murid?

Murid:

  • Bagian mana dari tindakan tokoh Apapuhang yang paling mudah atau paling menantang untuk kamu temukan nilai budi pekertinya?
  • Nilai budi pekerti apa dari tokoh cerita rakyat hari ini yang paling berkesan bagi dirimu?

Pertemuan 8 — Menganalisis Nilai Kepedulian Lingkungan dalam Teks Cerita Rakyat Visual "Hikayat Lubuk Larangan" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.3 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra cerita rakyat berwujud teks visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan mengondisikan suasana kelas (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menampilkan 1 cuplikan visual singkat tentang aturan sungai bersih dan menanyakan kepada murid apa nilai kepedulian lingkungan yang terkandung dalam aturan tersebut (acuan: nilai menjaga kebersihan sungai/ekosistem air agar ikan tidak punah) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis nilai kepedulian lingkungan dalam teks cerita rakyat visual 'Hikayat Lubuk Larangan' (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati dan membaca teks cerita rakyat visual 'Hikayat Lubuk Larangan' pada Buku Siswa halaman 70 yang memuat ilustrasi kearifan lokal masyarakat Mandailing Natal menjaga ekosistem sungai (12 menit).
  • Guru membimbing murid menelusuri unsur-unsur aturan adat pelestarian alam dalam teks melalui tanya jawab terarah tentang pantangan, akibat pelanggaran, dan manfaat aturan (8 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid secara mandiri melengkapi tabel analisis nilai kepedulian lingkungan pada Lembar Aktivitas 2.11 dengan menganalisis 3 aspek: (1) Pantangan Lubuk Larangan (acuan: dilarang menangkap/mengambil ikan di zona lubuk yang ditentukan sebelum waktu pembukaan adat), (2) Akibat melanggar pantangan (acuan: mendapat sanksi/hukuman adat dan merusak populasi ikan sungai), dan (3) Manfaat aturan adat Lubuk Larangan (acuan: kelestarian ikan dan kebersihan sungai terjaga sehingga kebutuhan pangan masa depan terlindungi) (15 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan edukatif berpasangan 'Cocok Kartu Nilai Lingkungan', yaitu memasangkan 4 kartu kutipan peristiwa teks dengan kartu nilai kepedulian lingkungan yang sesuai: (a) 'Ikan di zona lubuk dilarang dipancing sembarangan' -> menjaga kelestarian bibit ikan; (b) 'Hanya boleh menangkap ikan saat waktu panen adat dibuka bersama' -> keadilan pemanfaatan sumber daya alam; (c) 'Bagian sungai lain di luar lubuk tetap boleh dimanfaatkan harian' -> keseimbangan kebutuhan hidup dan konservasi; (d) 'Masyarakat menjaga kejernihan air sungai bersama' -> pencegahan pencemaran ekosistem sungai (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisisnya dan menuliskan 1 kesimpulan tertulis mengenai pentingnya nilai kepedulian lingkungan dalam kearifan lokal Lubuk Larangan bagi kelestarian alam saat ini (acuan: kearifan lokal mendidik manusia agar tidak serakah dan merawat alam demi keberlanjutan masa depan) (7 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik langsung terhadap ketepatan analisis murid mengenai nilai kepedulian lingkungan pada teks cerita visual (5 menit).
  • Guru memandu murid melakukan refleksi singkat kegiatan dan menutup pelajaran dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual dengan penandaan warna (highlight) pada kalimat-kalimat kunci mengenai aturan lubuk, sedangkan murid mahir membaca teks visual versi lengkap melalui tautan katalog buku Jagapati Bumi.
  • Proses: Murid yang kesulitan dipandu dengan pertanyaan pemantik bertahap per kolom isian, sedangkan murid yang cepat langsung menganalisis ketiga aspek dan kaitan nilainya secara mandiri.
  • Produk: Semua murid mengisi 3 aspek analisis nilai kepedulian lingkungan; murid mahir menambahkan analisis perbandingan pemanfaatan zona larangan dan zona bebas konsumsi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik di awal pembelajaran: 'Perhatikan gambar papan larangan meracun ikan di sungai. Apa nilai kepedulian lingkungan di balik larangan tersebut?' (acuan: nilai menjaga kelestarian ekosistem air dan populasi ikan dari kepunahan akibat racun kimia).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja analisis nilai kepedulian lingkungan teks 'Hikayat Lubuk Larangan' (3 aspek terisi tepat: pantangan, akibat pelanggaran, manfaat aturan).
  • Observasi ketepatan menjodohkan 4 kartu kutipan peristiwa dengan kartu nilai lingkungan: (1) dilarang memancing sembarangan -> pelestarian bibit; (2) panen bersama -> keadilan pemanfaatan alam; (3) pemanfaatan zona luar lubuk -> keseimbangan konservasi dan kebutuhan; (4) menjaga kejernihan sungai -> pencegahan pencemaran.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis pada penutup: 'Tuliskan 1 nilai kepedulian lingkungan utama yang diajarkan dalam cerita Hikayat Lubuk Larangan!' (kriteria penerimaan: jawaban memuat nilai pelestarian alam/sungai, larangan merusak ekosistem air, atau pemanfaatan sumber daya ikan secara bijak dan berkelanjutan).

Formatif:

  • Penugasan tertulis mengisi tabel analisis nilai kepedulian lingkungan (3 aspek: pantangan, akibat pelanggaran, manfaat aturan)
  • Unjuk kerja berpasangan permainan mencocokkan 4 kutipan peristiwa dengan kartu nilai kepedulian lingkungan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis nilai kepedulian lingkungan dalam teks cerita rakyat visualMurid belum tepat mengidentifikasi nilai kepedulian lingkungan (hanya mengisi 1 aspek dengan tepat atau memerlukan bimbingan penuh untuk memahami pantangan/manfaat).Murid mampu menganalisis 2 aspek nilai kepedulian lingkungan secara tepat berdasarkan teks cerita rakyat visual dengan sedikit arahan guru.Murid mampu menganalisis seluruh 3 aspek nilai kepedulian lingkungan (pantangan, akibat melanggar, manfaat aturan adat) secara tepat dan mandiri sesuai acuan isi teks cerita rakyat visual.Murid mampu menganalisis seluruh 3 aspek nilai kepedulian lingkungan secara tepat, mandiri, serta menyimpulkan makna kearifan lokal bagi keberlanjutan alam masa kini secara utuh dan mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan teks visual 'Hikayat Lubuk Larangan' efektif membantu murid mengidentifikasi nilai kepedulian lingkungan?
  • Bagian analisis mana yang paling menantang bagi murid saat menghubungkan pantangan adat dengan manfaat kelestarian alam?

Murid:

  • Apa hal baru yang kamu pelajari tentang cara masyarakat adat menjaga kelestarian sungai?
  • Nilai kepedulian lingkungan apa dari cerita ini yang dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekitarmu?

Pertemuan 9 — Menganalisis Nilai Kerja Keras dan Kejujuran dalam Teks Cerita Rakyat Visual Pilihan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.3 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra cerita rakyat berwujud teks visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan murid untuk siap belajar (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menampilkan 2 cuplikan kalimat perilaku tokoh di papan tulis: (1) 'Pak Tani bangun sebelum fajar untuk mencangkul sawah tanpa mengeluh' dan (2) 'Jaka mengembalikan dompet saudagar yang terjatuh di jalan', lalu meminta murid menentukan nilai yang tercermin pada masing-masing cuplikan (acuan: cuplikan 1 = nilai kerja keras; cuplikan 2 = nilai kejujuran) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menganalisis nilai kerja keras dan kejujuran dalam teks cerita rakyat visual pilihan beserta bukti peristiwanya (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks cerita rakyat visual pilihan berjudul 'Kisah Petani Jujur dan Peri Hutan' yang dibagikan guru, memperhatikan ilustrasi dan membaca teks secara saksama (8 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai cara menganalisis nilai cerita melalui tindakan tokoh, dialog, serta akibat peristiwa yang dialami tokoh (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan 'Detektif Nilai': murid memasangkan 4 kartu kutipan tindakan tokoh berikut dengan kartu kategori nilai yang tepat: Kartu A 'Setiap hari ia membelah kayu bakar dari pagi hingga petang demi menafkahi keluarga', Kartu B 'Saat menemukan kapak emas milik peri di dasar sungai, ia mengaku bahwa itu bukan miliknya', Kartu C 'Ia tidak pernah menyerah menggali saluran air meskipun tangannya lecet', Kartu D 'Ia menceritakan jumlah panen yang sebenarnya kepada kepala desa tanpa mengurangi takaran' (acuan pasangan benar: Kartu A dan C = Nilai Kerja Keras; Kartu B dan D = Nilai Kejujuran) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis untuk menganalisis 2 nilai utama (kerja keras dan kejujuran) dalam teks 'Kisah Petani Jujur dan Peri Hutan' dengan menuliskan nilai yang ditemukan beserta bukti kutipan tindakan tokoh dan penjelasannya (acuan: Nilai 1 Kerja Keras, bukti: tokoh tetap mengumpulkan kayu bakar tanpa kenal lelah meski cuaca dingin; Nilai 2 Kejujuran, bukti: tokoh menolak mengambil kapak emas dan perak yang bukan miliknya) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisisnya bersama guru berdasarkan kriteria ketepatan penentuan nilai dan kecocokan bukti tindakan tokoh dalam teks (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan cara menemukan nilai kerja keras dan kejujuran berdasarkan tindakan dan peristiwa dalam teks sastra visual (6 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses belajar murid, menyampaikan topik pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan teks dengan penandaan visual (garis bawah) pada bagian tindakan tokoh; murid yang sudah mahir menganalisis teks visual utuh tanpa penanda.
  • Proses: Murid yang memerlukan dukungan diberikan panduan pertanyaan terbimbing saat mengisi lembar analisis; murid yang mandiri langsung menganalisis secara mandiri.
  • Produk: Murid yang mahir menuliskan analisis disertai dampak tindakan tokoh terhadap penyelesaian cerita; murid lainnya menuliskan nilai beserta bukti tindakan tokoh sesuai format lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman nilai: Murid mengidentifikasi nilai pada 2 cuplikan kalimat: (1) 'Pak Tani bangun sebelum fajar untuk mencangkul sawah tanpa mengeluh' dan (2) 'Jaka mengembalikan dompet saudagar yang terjatuh di jalan' (acuan jawaban: kalimat 1 mencerminkan nilai kerja keras; kalimat 2 mencerminkan nilai kejujuran).

Proses:

  • Formatif 1 (Tantangan Detektif Nilai): Memasangkan 4 kartu kutipan: Kartu A 'Setiap hari ia membelah kayu bakar dari pagi hingga petang demi menafkahi keluarga', Kartu B 'Saat menemukan kapak emas milik peri di dasar sungai, ia mengaku bahwa itu bukan miliknya', Kartu C 'Ia tidak pernah menyerah menggali saluran air meskipun tangannya lecet', Kartu D 'Ia menceritakan jumlah panen yang sebenarnya kepada kepala desa tanpa mengurangi takaran' (acuan: A=Kerja Keras, B=Kejujuran, C=Kerja Keras, D=Kejujuran).
  • Formatif 2 (Lembar Analisis Teks): Menganalisis nilai kerja keras dan nilai kejujuran dalam teks cerita 'Kisah Petani Jujur dan Peri Hutan' (acuan: Nilai Kerja Keras dibuktikan oleh tindakan tokoh bekerja membabat semak dan mengumpulkan kayu bakar tanpa henti; Nilai Kejujuran dibuktikan oleh tindakan tokoh menolak mengakui kapak emas/perak yang bukan kepunyaannya saat ditanya peri).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menyebutkan 1 bukti tindakan dalam teks yang membuktikan bahwa kejujuran membawa hasil baik bagi petani (acuan: peri menghadiahkan kapak asli beserta perhiasan karena petani tidak berbohong mengakui barang yang bukan miliknya).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja mencocokkan kartu pada permainan tantangan 'Detektif Nilai'
  • Penilaian tertulis analisis nilai kerja keras dan kejujuran beserta bukti teks pada lembar kerja mandiri

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Nilai Kerja Keras dan Kejujuran dalam Teks Cerita Rakyat VisualBelum mampu menentukan nilai kerja keras maupun nilai kejujuran dalam teks secara tepat walau diberi panduan.Mampu menentukan 1 dari 2 nilai (kerja keras atau kejujuran) dalam teks secara tepat, tetapi belum dapat menyertakan bukti tindakan tokoh yang sesuai.Mampu menganalisis kedua nilai (kerja keras dan kejujuran) dalam teks secara tepat disertai bukti tindakan tokoh yang sesuai acuan teks secara mandiri.Mampu menganalisis kedua nilai (kerja keras dan kejujuran) secara sangat lengkap dan tepat, disertai bukti tindakan tokoh dan penjelasan kaitan tindakan tersebut terhadap alur cerita secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan bukti tindakan yang mencerminkan nilai kerja keras dan kejujuran dalam teks visual?
  • Bagian kegiatan mana yang paling efektif membantu murid menemukan nilai budi pekerti dalam bacaan?

Murid:

  • Bagaimana caraku menemukan bukti bahwa tokoh cerita bersikap jujur atau bekerja keras?
  • Pelajaran apa dari sikap tokoh cerita hari ini yang ingin kutiru dalam kehidupan sehari-hari?

Pertemuan 10 — Menyampaikan Perasaan Haru dan Sedih Tokoh Cerita Rakyat secara Indah Menggunakan Kosakata Puitis — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.4 Menyampaikan perasaan berdasarkan imajinasi secara indah dan menarik dalam bentuk teks sastra cerita rakyat dengan penggunaan kosakata secara kreatif

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-10, yaitu menyampaikan ungkapan perasaan haru dan sedih tokoh cerita rakyat secara indah dan menarik dengan kosakata puitis (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menampilkan 2 frasa sederhana: (1) 'Aku sangat sedih' dan (2) 'Air mataku menetes deras'. Murid diminta memilih atau mengganti kata sederhana tersebut menjadi kosakata puitis berdasar bank kata di papan tulis: [pilu, remuk redam, sembap, gulita]. Acuan jawaban: frasa (1) diganti menjadi 'Hatiku pilu' atau 'Jiwaku remuk redam'; frasa (2) diganti menjadi 'Air mata membasahi pipi yang sembap' (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati kutipan situasi haru dari cerita rakyat 'Kupu-Kupu Mira' saat Mira harus berpisah demi menyelamatkan desanya (5 menit).
  • Murid bersama guru membedah 4 kosakata puitis untuk perasaan haru dan sedih: (1) 'pilu' (rasa sedih yang menusuk), (2) 'lara' (duka mendalam), (3) 'sembilu' (perih bagai tersayat), dan (4) 'runtuh' (hancurnya ketegaran hati) serta membandingkan kalimat biasa ('Mira menangis karena berpisah') dengan kalimat indah puitis ('Hati Mira dirundung lara bagai teriris sembilu saat menatap lambaian tangan ibunda') (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan tantangan 'Estafet Kata Puitis': dalam pasangan sebangku, satu murid mengambil kartu skenario sedih lalu pasangannya menyusun 1 kalimat puitis secara lisan menggunakan kosakata puitis pilihan. Empat skenario yang disiapkan: Skenario A (Seorang anak terpisah dari ibunya di tengah samudra), Skenario B (Seorang kakek tua melihat perahu peninggalan anaknya yang tak kunjung pulang), Skenario C (Putri raja mengikhlaskan kepergian sahabatnya demi perdamaian negeri), Skenario D (Penduduk desa meratapi tanah kelahiran yang luluh lantak). Setiap murid bergantian melisankan ungkapan perasaan berdasarkan imajinasi atas skenario tersebut (15 menit).
  • Secara mandiri, murid memilih satu situasi tokoh (antara tokoh Mira yang berkorban atau tokoh anak yang terpisah dari orang tua) lalu menyampaikan ungkapan lisan berupa 2-3 tuturan puitis yang menggambarkan kepedihan atau keharuan tokoh secara indah dan menarik dengan memanfaatkan kosakata puitis secara kreatif (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Dua perwakilan murid melisankan tuturan puitisnya di depan kelas, kemudian teman dan guru memberikan konfirmasi terhadap keindahan pilihan kata yang digunakan tanpa menilai volume suara atau gestur (5 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa penggunaan kosakata puitis (seperti pilu, lara, sembilu, runtuh) membuat penyampaian perasaan sedih tokoh terasa lebih menyentuh dan bermakna (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat: murid melengkapi tuturan rumpang: 'Melihat air mata ibunda, batinku terasa ...' menggunakan kosakata puitis yang tepat. Kriteria penerimaan: diisi kosakata puitis yang melambangkan kesedihan/keharuan mendalam seperti 'pilu', 'teriris sembilu', 'hancur berkeping', atau 'remuk redam' (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan atas keberanian murid berimajinasi dan menggunakan kosakata puitis, lalu menutup pembelajaran dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan glosarium mini kosakata puitis (duka, lara, pilu, sembilu, gulita, remuk) beserta contoh konteks kalimat bagi murid yang membutuhkan perancah.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan menyusun tuturan lisan dengan panduan kalimat rumpang, sedangkan murid yang mahir ditantang memadukan minimal dua kosakata kias/puitis sekaligus dalam satu tuturan.
  • Produk: Penyampaian perasaan dilakukan secara lisan dalam bentuk 2 tuturan puitis untuk kelompok reguler dan 3 tuturan puitis yang lebih variatif untuk kelompok pengayaan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan mengubah 2 frasa sedih sederhana ('Aku sangat sedih' dan 'Air mataku menetes deras') menjadi frasa puitis menggunakan daftar kata [pilu, remuk redam, sembap, gulita]. Acuan jawaban: frasa (1) menjadi 'Hatiku pilu'/'Jiwaku remuk redam'; frasa (2) menjadi 'Air mata mengalir di pipi yang sembap'.

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid melisankan ungkapan perasaan haru/sedih tokoh berdasarkan 4 skenario (Skenario A: terpisah di samudra; Skenario B: perahu anak yang tak pulang; Skenario C: pengorbanan putri raja; Skenario D: ratapan desa luluh lantak) dengan memeriksa penggunaan kosakata puitis secara kreatif.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup melengkapi kalimat rumpang: 'Melihat air mata ibunda, batinku terasa ...'. Kriteria penerimaan: dilengkapi dengan kosakata puitis bermakna sedih/haru (misalnya: pilu, teriris sembilu, hancur berkeping, remuk redam).

Formatif:

  • Unjuk kerja lisan penyampaian perasaan tokoh cerita rakyat menggunakan kosakata puitis (pertemuan 10)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyampaian Perasaan secara Indah dan MenarikMenyampaikan perasaan tokoh hanya dengan kata sedih biasa tanpa sentuhan keindahan imajinasi sastra.Menyampaikan perasaan tokoh dengan imajinasi sederhana namun tuturan masih dominan menggunakan ungkapan sehari-hari.Menyampaikan perasaan tokoh berdasarkan imajinasi secara indah dan menarik dalam tuturan yang mengalir runtut.Menyampaikan perasaan tokoh berdasarkan imajinasi secara sangat indah, menyentuh, dan menarik secara konsisten pada seluruh tuturan.
Penggunaan Kosakata Puitis secara KreatifBelum menggunakan kosakata puitis (hanya menggunakan kata dasar 'sedih' atau 'menangis').Menggunakan 1 kosakata puitis namun penggunaannya dalam tuturan belum tepat konteks.Menggunakan minimal 2 kosakata puitis (seperti pilu, lara, sembilu, runtuh) secara tepat dan kreatif dalam tuturan perasaan tokoh.Menggunakan lebih dari 2 kosakata puitis secara tepat, kreatif, dan bervariasi dalam membangun suasana haru dan sedih tokoh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah konteks skenario cerita rakyat yang diberikan mampu memantik imajinasi murid untuk merasakan emosi tokoh?
  • Bagaimana respons murid terhadap penggunaan kosakata puitis dalam tuturan lisan mereka?

Murid:

  • Kata puitis apa yang paling kamu sukai saat menggambarkan kesedihan tokoh hari ini?
  • Bagian mana yang paling menantang ketika kamu mencoba mengungkapkan rasa haru secara indah?

Pertemuan 11 — Menyampaikan Perasaan Kagum dan Berani Tokoh Cerita Rakyat secara Menarik Menggunakan Kosakata Kiasan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.4 Menyampaikan perasaan berdasarkan imajinasi secara indah dan menarik dalam bentuk teks sastra cerita rakyat dengan penggunaan kosakata secara kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid dan mengondisikan kesiapan belajar (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-11, yaitu menyampaikan perasaan kagum dan berani tokoh cerita rakyat secara menarik menggunakan kosakata kiasan berdasarkan imajinasi (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan: murid diminta memilih kosakata kiasan yang tepat untuk melengkapi kalimat 'Melihat istana emas menjulang megah, hati sang pemuda bergetar ... (terpukau takjub / berjiwa baja)' dan 'Menghadapi naga raksasa, kesatria itu maju dengan ... (lapang dada / berjiwa baja)' (acuan: kalimat 1 = 'terpukau takjub', kalimat 2 = 'berjiwa baja') (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Guru menyajikan kutipan situasi tokoh cerita rakyat: (1) Tokoh Malin terpana melihat kapal megah di tengah samudra; (2) Tokoh Putri Mandalika dengan gagah berani melompat ke laut demi kedamaian bangsanya (5 menit).
  • Murid menelaah 4 kosakata kiasan bermakna kagum ('terpukau takjub', 'bagai tersihir pesona') dan berani ('berjiwa baja', 'berdarah ksatria') yang digunakan untuk menyampaikan luapan perasaan tokoh tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan kartu kiasan 'Kotak Kata Sakti' di mana murid mengambil kartu situasi imajinatif lalu secara lisan merangkai ungkapan perasaan kagum atau berani menggunakan kosakata kiasan pilihan (10 menit).
  • Murid secara mandiri memilih salah satu dari 2 situasi imajinasi tokoh cerita rakyat berikut: Situasi A (Tokoh pengelana mengagumi lembah berkilau emas) atau Situasi B (Tokoh pejuang muda menghadapi badai laut selatan), lalu menyampaikan secara lisan perasaan kagum atau berani tokoh tersebut minimal 2 kalimat dengan menyertakan minimal 2 kosakata kiasan (misal: 'matanya membelalak kagum laksana memandang surga', 'langkahnya mantap berjiwa baja menerjang ombak') (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali apakah penyampaian lisannya sudah menggunakan kosakata kiasan yang tepat memancarkan rasa kagum atau berani tokoh cerita rakyat (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap keindahan dan daya tarik pilihan kata kiasan yang disampaikan murid (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan fungsi penggunaan kosakata kiasan dalam menyampaikan perasaan kagum dan berani tokoh agar cerita rakyat tersaji lebih hidup dan menarik (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penutup dan menyampaikan gambaran materi pertemuan berikutnya mengenai penyampaian perasaan imajinatif secara berpasangan (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bank kosakata kiasan bergambar (seperti kiasan keberanian: 'berurat kawat', 'berjiwa baja'; kiasan kekaguman: 'terbius pesona', 'matanya berpendar bintang') untuk membantu murid yang membutuhkan referensi tambahan.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih menyusun 1 kalimat kiasan dengan panduan frasa rumpang, sedangkan murid yang cepat menyusun narasi lisan ekspresi perasaan tokoh dengan 3 kiasan atau lebih.
  • Produk: Penyampaian lisan perasaan tokoh dapat berupa ujaran langsung monolog tokoh ('Aku...') atau narasi pengamat ('Sang ksatria...').

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan melengkapi 2 kalimat ekspresi perasaan: (1) 'Melihat istana emas menjulang megah, hati sang pemuda bergetar ...' dan (2) 'Menghadapi naga raksasa, kesatria itu maju dengan ...' (pilihan jawaban: terpukau takjub, berjiwa baja; acuan: butir 1 = terpukau takjub [kagum], butir 2 = berjiwa baja [berani]).

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja lisan: guru mengamati ketepatan dan kemenarikan penyampaian lisan murid dalam mengekspresikan perasaan kagum atau berani tokoh cerita rakyat pada Situasi A atau Situasi B menggunakan minimal 2 kosakata kiasan (acuan kriteria: mencakup minimal 2 kosakata kiasan yang selaras dengan rasa kagum seperti 'terpukau takjub', 'terbius pesona' atau rasa berani seperti 'berjiwa baja', 'berdarah ksatria').

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: menyebutkan 1 ungkapan kiasan untuk perasaan kagum dan 1 ungkapan kiasan untuk perasaan berani (acuan jawaban: kagum = terpukau takjub / terpesona memandang langit / terbius pesona; berani = berjiwa baja / pantang undur / berdarah ksatria).

Formatif:

  • Unjuk kerja lisan menyampaikan perasaan kagum dan berani tokoh cerita rakyat dengan kosakata kiasan
  • Pengamatan keterlibatan dalam permainan kartu kiasan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyampaian Perasaan Tokoh Berdasarkan ImajinasiBelum mampu menyampaikan perasaan kagum atau berani tokoh cerita rakyat secara lisan meskipun dipandu.Menyampaikan perasaan kagum atau berani tokoh secara lisan namun makna emosi tokoh belum tergambar jelas atau masih mengulang kata harfiah ('sangat kagum', 'sangat berani').Menyampaikan perasaan kagum atau berani tokoh secara menarik berdasarkan imajinasi situasi cerita rakyat.Menyampaikan perasaan kagum dan berani tokoh secara sangat indah, hidup, dan menarik berdasarkan imajinasi situasi cerita rakyat secara mandiri.
Penggunaan Kosakata KiasanBelum menggunakan kosakata kiasan dalam menyampaikan perasaan tokoh.Menggunakan 1 kosakata kiasan tetapi maknanya belum tepat mewakili perasaan kagum atau berani tokoh.Menggunakan minimal 2 kosakata kiasan secara tepat sesuai perasaan kagum atau berani tokoh (misal: 'terpukau takjub', 'berjiwa baja').Menggunakan 3 atau lebih kosakata kiasan secara tepat, indah, dan variatif dalam menyampaikan perasaan kagum dan berani tokoh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan contoh kosakata kiasan perasaan kagum dan berani memudahkan murid dalam berimajinasi?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam permainan kartu kiasan saat melatih penyampaian lisan secara menarik?

Murid:

  • Ungkapan kiasan baru apa yang paling kamu sukai untuk menggambarkan perasaan gagah berani seorang tokoh?
  • Bagian mana yang paling menantang saat merangkai kata kiasan untuk menggambarkan rasa kagum?

Pertemuan 12 — Menyampaikan Perasaan Berdasarkan Imajinasi Tokoh Cerita Rakyat Berpasangan Menggunakan Kosakata Kreatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.4 Menyampaikan perasaan berdasarkan imajinasi secara indah dan menarik dalam bentuk teks sastra cerita rakyat dengan penggunaan kosakata secara kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menyampaikan perasaan tokoh cerita rakyat berdasarkan imajinasi berpasangan dengan kosakata kreatif secara indah dan menarik (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal dengan membacakan 2 kalimat perasaan: (1) 'Aku sangat takut di hutan gelap'; (2) 'Jantungku berdegup kencang bagai genderang perang di tengah rimba gulita'. Murid diminta menentukan kalimat mana yang lebih puitis/kreatif (acuan: kalimat 2 lebih kreatif karena menggunakan perumpamaan/majas) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak pemodelan guru tentang cara membayangkan perasaan tokoh cerita rakyat (misal: tokoh Purbasari saat diasingkan) menggunakan bank 4 kosakata kreatif: 'gundah gulana', 'hancur berkeping-keping', 'cahaya pengharapan', dan 'membuncah bahagia' (10 menit).
  • Murid berkesadaran mengidentifikasi bagaimana imajinasi batin tokoh dapat diungkapkan menjadi untaian tuturan sastra yang indah dan menarik melalui pengamatan kartu contoh ungkapan emosi (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam permainan interaktif 'Gema Rasa Tokoh', murid duduk berpasangan dan memilih salah satu dari 2 skenario imajinasi tokoh cerita rakyat yang disediakan: Skenario A (Imajinasi perasaan tokoh nelayan miskin saat kapalnya pecah dihempas ombak raksasa) atau Skenario B (Imajinasi perasaan tokoh putri raja saat menemukan telaga ajaib yang menyembuhkan lukanya) (10 menit).
  • Secara berpasangan, murid bergantian menyampaikan tuturan lisan pengungkapan perasaan tokoh sesuai skenario pilihannya menggunakan minimal 2 kosakata kreatif (pilihan kata: 'luluh lantak', 'buncahan nestapa', 'secercah fajar', 'kelam pekat', 'melangit syukur') secara indah dan menarik ke hadapan pasangannya (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap pasangan saling memberikan umpan balik berbasis rubrik sederhana mengenai pemilihan kosakata kreatif dan keindahan imajinasi perasaan yang disampaikan pasangannya (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan cara menyampaikan perasaan imajinatif tokoh sastra dengan kosakata kreatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen akhir lisan cepat dan menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan berisi daftar kosakata kreatif perumpamaan emosi bagi pasangan yang membutuhkan inspirasi kata.
  • Proses: Pasangan yang telah mahir diberikan tantangan menyampaikan perasaan tokoh dengan menghubungkan 3 perpaduan emosi kontras (misal: takut namun bertekad baja) menggunakan minimal 3 kosakata puitis/kreatif.
  • Produk: Penyampaian perasaan tokoh dilakukan secara lisan berpasangan berupa monolog batin tokoh atau dialog pengungkapan perasaan antartokoh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat membedakan 2 contoh kalimat ekspresi perasaan tokoh: (1) 'Aku sangat takut di hutan gelap' vs (2) 'Jantungku berdegup kencang bagai genderang perang di tengah rimba gulita'. (Acuan: kalimat 2 adalah kalimat yang indah dan menggunakan kosakata kreatif berupa kiasan/imajinatif).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja berpasangan: Mengamati kemampuan murid menyampaikan tuturan perasaan imajinasi tokoh cerita rakyat menggunakan minimal 2 kosakata kreatif secara indah dan menarik sesuai skenario (Skenario A: kapal pecah; Skenario B: telaga ajaib; Kriteria: ekspresi perasaan selaras dengan konteks imajinasi situasi tokoh dan memuat kosakata kreatif seperti 'luluh lantak', 'buncahan nestapa', 'secercah fajar', 'kelam pekat', atau 'melangit syukur').

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Meminta 2 orang murid secara acak menyebutkan 1 kalimat pengungkapan perasaan imajinatif seorang tokoh saat meraih kemenangan dalam cerita rakyat dengan 1 kosakata kreatif. (Kriteria penerimaan: kalimat menggambarkan perasaan bahagia/bangga tokoh dengan menyertakan kosakata kreatif/kiasan seperti 'membuncah', 'fajar kemenangan', 'terbang melayang').

Formatif:

  • Unjuk kerja penyampaian perasaan tokoh cerita rakyat berpasangan menggunakan kosakata kreatif secara lisan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan Kosakata Kreatif dalam Menyampaikan Perasaan Imajinasi TokohMenyampaikan tuturan perasaan tokoh tanpa menggunakan kosakata kreatif/kiasan (hanya menggunakan kata emosi dasar sehari-hari seperti sedih, senang, takut).Menyampaikan tuturan perasaan imajinasi tokoh dengan menyematkan 1 kosakata kreatif, namun masih membutuhkan bimbingan guru dalam menyusun kalimatnya.Menyampaikan tuturan perasaan imajinasi tokoh secara indah dan menarik menggunakan minimal 2 kosakata kreatif secara tepat dan mandiri.Menyampaikan tuturan perasaan imajinasi tokoh secara sangat indah dan memikat menggunakan 3 atau lebih variasi kosakata kreatif/kiasan yang harmonis dan kontekstual secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas berpasangan 'Gema Rasa Tokoh' efektif memberi ruang bagi setiap anak melatih imajinasi dan kosakata kreatifnya?
  • Bagian mana dari bimbingan penggunaan kosakata kreatif yang masih perlu diperkuat pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Kosakata kreatif apa yang paling kamu sukai saat menyampaikan perasaan tokoh tadi?
  • Apakah kamu merasa terbantu saat saling mendengarkan ungkapan perasaan bersama pasangan belajarmu?

Pertemuan 13 — Mengidentifikasi Makna Denotatif dan Konotatif Kata dalam Kalimat Teks Cerita Rakyat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengidentifikasi kata bermakna denotatif (makna sebenarnya/lugas) dan konotatif (makna kiasan/tambahan) dalam kalimat teks cerita rakyat (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 kalimat di papan tulis: (1) 'Malam hari bintang bersinar di langit' dan (2) 'Ahmad adalah bintang di kelas ini'. Murid secara lisan menunjukkan mana kata 'bintang' yang bermakna sebenarnya dan mana yang kiasan (acuan: kalimat 1 bermakna sebenarnya/benda langit; kalimat 2 bermakna kiasan/anak terpandai) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui pemodelan contoh perbandingan kalimat berpasangan: kata 'manis' pada 'Teh buatanku manis' (makna denotatif: rasa gula) vs 'Adik tersenyum manis' (makna konotatif: enak dilihat), serta kata 'tangan kanan' pada 'Tangan kananku tergores' (denotatif: anggota tubuh kanan) vs 'Patih itu menjadi tangan kanan raja' (konotatif: orang kepercayaan) (10 menit).
  • Murid membaca 4 kalimat kutipan cerita rakyat di papan tulis dan menganalisis maknanya secara terbimbing: (1) 'Batu besar itu hancur berkeping-keping' (denotatif: pecah/rusak), (2) 'Hati sang putri hancur mendengar tipu muslihat itu' (konotatif: sangat sedih/kecewa), (3) 'Ksatria itu berlapang dada menerima kekalahan' (konotatif: ikhlas/sabar), (4) 'Ksatria itu memiliki dada yang bidang' (denotatif: bagian tubuh depan) (acuan: kalimat 1 dan 4 denotatif; kalimat 2 dan 3 konotatif) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain 'Tantangan Kartu Makna Berpasangan' dalam kelompok beranggotakan 4 orang secara menggembirakan: tiap kelompok mencocokkan 4 kartu kata target ('bunga', 'gelap', 'pahit', 'jatuh') dengan pasangan kartu makna denotatif dan konotatif yang tepat (15 menit). Acuan pencocokan kartu: (1) Kata 'bunga' -> Denotatif: 'bagian tumbuhan bakal buah', Konotatif: 'gadis tercantik di desa'; (2) Kata 'gelap' -> Denotatif: 'tidak ada cahaya/kelam', Konotatif: 'tidak jelas/penuh rahasia'; (3) Kata 'pahit' -> Denotatif: 'rasa seperti jamu/empedu', Konotatif: 'keadaan menyedihkan/getir'; (4) Kata 'jatuh' -> Denotatif: 'terhempas ke bawah', Konotatif: 'kehilangan kedudukan/bangkrut'.
  • Secara mandiri, murid mengerjakan lembar kerja identifikasi menentukan tanda D (Denotatif) atau K (Konotatif) serta menuliskan maknanya untuk 5 kalimat cuplikan cerita rakyat (15 menit). Teks dan acuan jawaban: (1) 'Pangeran menunggang kuda hitam' -> D (makna: warna hitam); (2) 'Ia dijadikan kambing hitam oleh prajurit licik' -> K (makna: orang yang disalahkan); (3) 'Raja memiliki mata-mata di setiap perbatasan' -> K (makna: pengawas rahasia/penyelidik); (4) 'Mata kiri pemuda itu tertutup kain' -> D (makna: indra penglihatan); (5) 'Kata-katanya yang kotor membuat warga marah' -> K (makna: kata-kata buruk/kasar).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru membahas jawaban lembar kerja, mengevaluasi ketepatan pembedaan makna lugas dan kiasan, serta menyimpulkan ciri pembeda kata bermakna denotatif dan konotatif dalam kalimat (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid melakukan refleksi singkat mengenai pentingnya memahami makna kata denotatif dan konotatif saat membaca dan menulis cerita rakyat agar tidak salah menafsirkan maksud cerita (3 menit).
  • Guru menyampaikan rencana tindak lanjut untuk Pertemuan 14 (menemukan kosakata baru denotatif dan konotatif dalam teks cerita rakyat 'Legenda Telaga Sarangan') dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci (kata lugas/sebenarnya vs kiasan), sedangkan murid yang cepat diberikan 2 kalimat pengayaan dengan tingkat kiasan lebih mendalam ('darah biru' dan 'meja hijau').
  • Proses: Pada tugas mandiri, murid yang memerlukan bantuan didampingi guru melalui scaffolding petunjuk konteks kalimat, sedangkan murid mahir langsung menganalisis secara mandiri.
  • Produk: Seluruh murid menyelesaikan lembar kerja identifikasi 5 kalimat target yang sama untuk menjaga kesetaraan pencapaian kompetensi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat di pendahuluan menggunakan 2 kalimat perbandingan kata 'bintang': 'Malam hari bintang bersinar di langit' dan 'Ahmad adalah bintang di kelas ini'. (Acuan: kalimat 1 adalah makna denotatif/sebenarnya yaitu benda penerang di langit; kalimat 2 adalah makna konotatif/kiasan yaitu anak paling pandai/unggul).

Proses:

  • Observasi keterlibatan kelompok dalam 'Tantangan Kartu Makna Berpasangan' memasangkan 4 kata ('bunga', 'gelap', 'pahit', 'jatuh') ke makna denotatif dan konotatif yang tepat.
  • Pemeriksaan lembar kerja pengerjaan mandiri identifikasi 5 kalimat teks cerita rakyat menentukan tanda D/K dan maknanya (Acuan: butir 1=D/warna hitam; butir 2=K/orang yang disalahkan; butir 3=K/pengawas rahasia; butir 4=D/indra penglihatan; butir 5=K/kata-kata buruk).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir tahap inti: murid mengidentifikasi status 1 kalimat penutup 'Pintu hatinya telah tertutup rapat' (Acuan: konotatif/K, maknanya tidak mau lagi menerima/memaafkan).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan pada pendahuluan
  • Pengamatan unjuk kerja permainan pencocokan kartu kata dan makna
  • Lembar kerja identifikasi makna denotatif dan konotatif 5 kalimat

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Mengidentifikasi Makna Denotatif dan Konotatif dalam KalimatTepat mengidentifikasi status makna (D/K) dan arti kata pada paling banyak 1 dari 5 kalimat target.Tepat mengidentifikasi status makna (D/K) dan arti kata pada 2 sampai 3 dari 5 kalimat target.Tepat mengidentifikasi status makna (D/K) dan arti kata pada 4 dari 5 kalimat target secara mandiri.Tepat mengidentifikasi status makna (D/K) dan arti kata pada seluruh (5 dari 5) kalimat target secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan makna denotatif dan konotatif dengan mengamati konteks kalimat secara tepat?
  • Apakah aktivitas permainan kartu makna efektif meningkatkan keterlibatan dan pemahaman murid terhadap ragam makna kata?

Murid:

  • Apa yang menjadi petunjuk utama bagiku saat menentukan bahwa sebuah kata bermakna kiasan (konotatif)?
  • Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling membantuku memahami arti kata dalam cerita?

Pertemuan 14 — Menemukan Kosakata Baru Bermakna Denotatif dan Konotatif dalam Teks "Legenda Telaga Sarangan" — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menemukan kosakata baru serta membedakan makna denotatif dan konotatif dalam kutipan teks 'Legenda Telaga Sarangan' (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 kalimat di papan tulis: (1) 'Nyai Pasir memasak telur ayam di dapur' dan (2) 'Kyai Pasir menjadi tangan kanan kepala desa'. Murid diminta menentukan mana kata yang bermakna sebenarnya dan mana kiasan (acuan: kalimat 1 bermakna denotatif/sebenarnya pada kata telur; kalimat 2 bermakna konotatif/kiasan pada kata tangan kanan yang berarti orang kepercayaan) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan guru mengenai makna denotatif (makna lugas/sebenarnya sesuai kamus) dan makna konotatif (makna kiasan/tambahan berdasarkan perasaan atau asosiasi tertentu) (7 menit).
  • Murid membaca bersama kutipan teks 'Legenda Telaga Sarangan' pada Buku Siswa (fokus pada peristiwa Kyai dan Nyai Pasir menemukan telur aneh hingga berubah wujud) untuk menandai kosakata baru yang digunakan (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid berpartisipasi dalam permainan 'Tebak Makna Kata' berpasangan: murid mencocokkan 4 kartu kata dari teks dengan label maknanya: (1) 'telur' -> denotatif (benda bulat bercangkang bakal anak unggas/hewan); (2) 'bergetar hebat' -> denotatif (bergoyang cepat karena takut/sakit); (3) 'gelap mata' -> konotatif (hilang akal sehat/mengamuk); (4) 'tangan kanan' -> konotatif (orang kepercayaan) (acuan: pasangan kartu 1 & 2 adalah denotatif, pasangan 3 & 4 adalah konotatif) (10 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan lembar kerja menemukan 4 kosakata baru dari teks 'Legenda Telaga Sarangan' dan mengelompokkannya ke dalam tabel: 2 kata bermakna denotatif ('telaga' = danau/kolam besar alamiah; 'berguling' = bergolek-golek di tanah) dan 2 kata/frasa bermakna konotatif ('bersemayam' = tinggal/menetap secara mistis; 'memakan asam garam' = memiliki banyak pengalaman hidup) beserta maknanya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukar lembar kerja dengan teman sebangku dan memverifikasi ketepatan identifikasi jenis makna kata berdasarkan panduan jawaban yang dibahas guru (acuan: kata lugas masuk kolom denotatif, ungkapan/kiasan masuk kolom konotatif) (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan ciri kata bermakna denotatif (makna sebenarnya) dan konotatif (makna kiasan) dalam teks narasi (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses kerja mandiri murid dan menyampaikan topik lanjutan untuk pertemuan berikutnya yaitu membedakan penggunaan kedua jenis makna ini dalam konteks kalimat narasi yang lebih luas (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata dengan petunjuk visual/konteks kalimat langsung; murid mahir menganalisis kosakata yang konteks maknanya lebih tersirat.
  • Proses: Murid yang belum lancar membedakan makna dibimbing dengan pertanyaan penuntun (apakah artinya bisa dilihat langsung atau kiasan?); murid mandiri langsung mengidentifikasi dari teks.
  • Produk: Tingkat kedalaman penjelasan arti kata pada tabel LKPD disesuaikan dengan kesiapan murid, dengan kriteria inti pengelompokan makna denotatif dan konotatif tetap sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan di awal pembelajaran: Murid membedakan mana makna sebenarnya dan kiasan dari 2 contoh kalimat guru: (1) 'Nyai Pasir memasak telur ayam di dapur' dan (2) 'Kyai Pasir menjadi tangan kanan kepala desa'. (Acuan: kalimat 1 bermakna denotatif/sebenarnya pada kata 'telur'; kalimat 2 bermakna konotatif/kiasan pada kata 'tangan kanan' yang berarti orang kepercayaan).

Proses:

  • Formatif kinerja individu saat mengisi lembar klasifikasi 4 kosakata dari teks 'Legenda Telaga Sarangan': (1) 'telaga' (denotatif), (2) 'berguling' (denotatif), (3) 'bersemayam' (konotatif), (4) 'memakan asam garam' (konotatif) beserta penjelasan artinya.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan mandiri di akhir kegiatan inti: Murid menentukan jenis makna dari 2 kata uji: (1) 'batu karang' dalam kalimat 'Hatinya sekeras batu karang' (acuan: konotatif/tidak mudah goyah/teguh); (2) 'batu karang' dalam kalimat 'Nelayan menabrak batu karang di laut' (acuan: denotatif/batu besar di laut).

Formatif:

  • Penilaian kinerja unjuk kerja pada lembar kerja klasifikasi kosakata baru bermakna denotatif dan konotatif dari teks 'Legenda Telaga Sarangan'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menemukan dan mengelompokkan kosakata bermakna denotatif dan konotatifMenemukan dan mengelompokkan 1 dari 4 kosakata target dengan benar sesuai acuan makna denotatif dan konotatif.Menemukan dan mengelompokkan 2 dari 4 kosakata target dengan benar sesuai acuan makna denotatif dan konotatif.Menemukan dan mengelompokkan 3 dari 4 kosakata target dengan benar sesuai acuan makna denotatif dan konotatif.Menemukan dan mengelompokkan seluruh 4 kosakata target ('telaga', 'berguling' sebagai denotatif; 'bersemayam', 'memakan asam garam' sebagai konotatif) dengan tepat sesuai acuan makna secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks 'Legenda Telaga Sarangan' efektif membantu murid menemukan variasi kata denotatif dan konotatif?
  • Bagian mana dari penjelasan makna denotatif dan konotatif yang masih membingungkan bagi sebagian murid?

Murid:

  • Bagaimana caramu membedakan apakah suatu kata dalam cerita bermakna sebenarnya atau kiasan?
  • Kata baru apa yang paling menarik yang kamu temukan dari cerita 'Legenda Telaga Sarangan' hari ini?

Pertemuan 15 — Membedakan Penggunaan Kata Bermakna Denotatif dan Konotatif dalam Konteks Kalimat Narasi — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu membedakan penggunaan kata bermakna denotatif (makna lugas/sebenarnya) dan konotatif (makna kiasan) dalam konteks kalimat narasi (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 kalimat di papan tulis: Kalimat A: 'Lantai bilik itu kotor terkena lumpur.' dan Kalimat B: 'Pencuri itu tidak boleh berkata kotor kepada warga.' Murid diminta mengidentifikasi kalimat mana yang bermakna sebenarnya (denotatif) dan kiasan (konotatif) [acuan: Kalimat A = denotatif/lugas makna banyak sampah/tanah kotor; Kalimat B = konotatif/kiasan makna kata-kata buruk/kasar] (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mengamati dan membandingkan 3 pasangan kalimat narasi yang disajikan guru di papan tulis untuk memahami konteks makna denotatif dan konotatif: Pasangan 1: (D) 'Malam hari bintang bersinar di langit' vs (K) 'Ahmad adalah bintang di kelas ini'; Pasangan 2: (D) 'Teh buatanku rasanya terlalu manis' vs (K) 'Adik tersenyum manis saat ibu datang'; Pasangan 3: (D) 'Tangan kananku terluka saat terjatuh' vs (K) 'Patih itu adalah tangan kanan sang raja' (7 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru secara terfokus bahwa makna denotatif merujuk pada arti kata yang sebenarnya sesuai kamus/keadaan nyata, sedangkan makna konotatif adalah arti kiasan atau makna tambahan yang bergantung pada konteks cerita narasi (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid berpartisipasi dalam permainan cepat 'Tebak Kartu Makna Narasi': guru membacakan 4 kalimat narasi secara bertahap, dan murid mengangkat kartu huruf 'D' untuk denotatif atau 'K' untuk konotatif: Kalimat 1: 'Prajurit itu memiliki hati sekeras batu saat menghadapi musuh.' (acuan: K - konotatif); Kalimat 2: 'Batu besar menggelinding dari puncak bukit menutupi jalan.' (acuan: D - denotatif); Kalimat 3: 'Matahari pagi mulai menyinari desa yang asri itu.' (acuan: D - denotatif); Kalimat 4: 'Wajah sang putri bersinar cerah mendengar kabar gembira.' (acuan: K - konotatif) (12 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Latihan yang memuat 4 pasangan kata target (bunga, terbang, hancur, dingin) dalam kalimat narasi rumpang, dengan tugas melengkapi dan menandai (D) atau (K) pada kalimat yang tepat: Butir 1: (a) 'Kumbang hinggap di atas kelopak ... mawar' [bunga] (acuan: D) dan (b) 'Gadis cantik itu menjadi ... desa yang masyhur' [bunga] (acuan: K); Butir 2: (a) 'Burung elang itu ... tinggi di angkasa' [terbang] (acuan: D) dan (b) 'Kesempatan emas untuk menang kini telah ...' [terbang] (acuan: K); Butir 3: (a) 'Dinding rumah batu itu ... akibat gempa bumi' [hancur] (acuan: D) dan (b) 'Hati pemuda itu ... setelah usahanya gagal' [hancur] (acuan: K); Butir 4: (a) 'Udara malam di lereng gunung terasa sangat ...' [dingin] (acuan: D) dan (b) 'Sikap raja yang ... membuat para prajurit merasa cemas' [dingin] (acuan: K) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis dari lembar latihan dan membahas kata kunci konteks narasi yang membuktikan apakah kata tersebut bermakna denotatif atau konotatif (8 menit).
  • Murid menyimpulkan cara membedakan makna kata dalam narasi dengan melihat apakah kata tersebut merujuk pada benda fisik/sifat nyata atau kiasan situasi perasaan/keadaan (5 menit).

Penutup:

  • Murid mengerjakan asesmen akhir berupa 2 butir pernyataan verifikasi cepat: menentukan jenis makna dari kata bergaris bawah: Butir 1: 'Kyai Pasir berlapang _dada_ menerima nasibnya' (acuan: konotatif); Butir 2: 'Dokter memeriksa detak _dada_ pasien yang terluka' (acuan: denotatif) (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil cek pemahaman, mengingatkan pentingnya ketelitian membaca konteks, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu bantu petunjuk makna leksikal bagi murid yang membutuhkan pendampingan konteks kalimat.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan membedakan makna dibimbing dengan menghubungkan kata ke objek konkret terlebih dahulu; murid yang cepat menganalisis diberikan kalimat narasi tambahan yang lebih kompleks.
  • Produk: Bagi murid reguler membedakan 4 pasangan kalimat target; bagi murid berkemampuan cepat dapat menentukan makna tersirat pada kalimat narasi tambahan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman makna kata: Guru menyajikan 2 kalimat: (1) 'Lantai bilik itu kotor terkena lumpur' dan (2) 'Pencuri itu tidak boleh berkata kotor kepada warga'. Murid diminta menentukan kalimat yang bermakna denotatif dan konotatif. Acuan ketepatan: Kalimat 1 = makna denotatif (kotor fisik/terkena sampah/lumpur); Kalimat 2 = makna konotatif (ucapan buruk/kasar).

Proses:

  • Formatif Mengaplikasi: Tugas mandiri lembar kerja membedakan dan melengkapi 4 pasangan kata dalam kalimat narasi: (1) kata 'bunga' untuk bunga mawar (D) dan bunga desa (K); (2) kata 'terbang' untuk burung elang terbang (D) dan kesempatan terbang (K); (3) kata 'hancur' untuk dinding rumah hancur (D) dan hati hancur (K); (4) kata 'dingin' untuk udara lereng gunung dingin (D) dan sikap dingin sang raja (K). Acuan penilaian: ketepatan klasifikasi label D (denotatif) dan K (konotatif) pada seluruh 4 pasang butir (total 8 kalimat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Menentukan jenis makna kata 'dada' pada 2 kalimat narasi: (1) 'Kyai Pasir berlapang dada menerima nasibnya' [acuan: konotatif / ikhlas / sabar] dan (2) 'Dokter memeriksa detak dada pasien yang terluka' [acuan: denotatif / bagian tubuh nyata]. Kriteria: murid tepat mengidentifikasi kedua kalimat secara benar.

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal pembedaan kalimat denotatif dan konotatif
  • Observasi unjuk pemahaman respons cepat dalam permainan kartu 'D' dan 'K'
  • Penilaian tugas lembar kerja mandiri membedakan kata bermakna denotatif dan konotatif dalam 4 pasang kalimat narasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Membedakan Penggunaan Kata Bermakna Denotatif dan Konotatif dalam Konteks Kalimat NarasiHanya tepat membedakan 1–2 dari 8 butir kalimat denotatif dan konotatif pada kata target (acuan: bunga, terbang, hancur, dingin) dengan bimbingan penuh.Tepat membedakan 3–5 dari 8 butir kalimat denotatif dan konotatif pada kata target (acuan: bunga, terbang, hancur, dingin) dengan sedikit bantuan.Tepat membedakan 6–7 dari 8 butir kalimat denotatif dan konotatif pada kata target (acuan: bunga, terbang, hancur, dingin) secara mandiri.Tepat membedakan seluruh 8 butir kalimat denotatif dan konotatif pada kata target (acuan: bunga, terbang, hancur, dingin) secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan makna denotatif dan konotatif secara tepat melalui analisis petunjuk konteks kalimat narasi?
  • Langkah pembelajaran mana yang paling efektif membantu murid memahami perbedaan makna lugas dan makna kiasan?

Murid:

  • Bagian mana dari kalimat narasi yang membantumu mengetahui bahwa sebuah kata bermakna kiasan (konotatif)?
  • Apakah kamu sudah dapat membedakan kapan suatu kata bermakna sebenarnya dan kapan bermakna kiasan dalam cerita?

Pertemuan 16 — Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Denotatif dalam Kalimat Deskripsi Tokoh Cerita Rakyat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, serta memeriksa kehadiran murid secara tertib (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menentukan makna denotatif (makna sebenarnya/lugas) dari dua kata yang ditampilkan di papan tulis: (1) 'masyhur' (acuan jawaban: terkenal), dan (2) 'bilik' (acuan jawaban: ruangan atau kamar kecil) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menggunakan 4 kosakata baru bermakna denotatif ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') ke dalam kalimat deskripsi tokoh cerita rakyat (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati daftar 4 kosakata baru berserta makna denotatifnya dari teks cerita rakyat: (1) masyhur = terkenal, (2) bilik = ruangan/kamar, (3) cangkang = kulit keras penutup tubuh hewan/telur, (4) lubuk = bagian sungai/danau yang dalam (acuan: Buku Siswa Bab 2) (7 menit).
  • Murid menelaah contoh kalimat deskripsi tokoh cerita rakyat yang memuat kata bermakna denotatif: 'Patih Gajah Mada adalah kesatria yang masyhur di seluruh Nusantara karena keberaniannya.' Guru menegaskan bahwa makna denotatif adalah makna lugas/sebenarnya tanpa kiasan (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan permainan bahasa berpasangan 'Tebak Kartu Kosakata Denotatif': satu murid memegang kartu bertuliskan kata dan definisi lugasnya, sementara rekannya merangkai kalimat lisan deskripsi tokoh secara cepat dan tepat sesuai makna kata tersebut (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja menulis 4 kalimat deskripsi tokoh cerita rakyat Nusantara dengan menggunakan 4 kosakata baru sesuai makna denotatifnya: (1) 'masyhur', (2) 'bilik', (3) 'cangkang', dan (4) 'lubuk' (kriteria penerimaan: setiap kata digunakan tepat sesuai makna sebenarnya dalam mendeskripsikan ciri fisik, pakaian, benda, atau kondisi tokoh cerita rakyat; contoh acuan: 1. Raja itu sangat masyhur ke berbagai negeri; 2. Nenek tua itu beristirahat di dalam bilik bambunya; 3. Putri Jelita mengumpulkan cangkang kerang di tepi pantai; 4. Raksasa itu menyelam ke lubuk sungai untuk mencari makan) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukar lembar kerja dengan teman sebangku untuk memeriksa apakah keempat kata baru ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') sudah digunakan sesuai makna denotatif (bukan makna kiasan) pada kalimat deskripsi tokoh yang ditulis (7 menit).
  • Beberapa perwakilan murid membacakan satu kalimat deskripsi tokoh terbaik buatannya, dan guru memberikan konfirmasi serta umpan balik penguatan makna denotatif (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali pentingnya ketepatan memilih kata denotatif agar penggambaran tokoh dalam cerita rakyat menjadi jelas dan mudah dipahami pembaca (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas ketelitian murid dan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan berisi kosakata dan arti denotatifnya ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk'); murid yang cepat dapat langsung menulis tanpa kartu bantu.
  • Proses: Murid dengan hambatan belajar didampingi guru dengan bimbingan terarah saat menyusun kalimat deskripsi; murid berkemampuan tinggi menulis kalimat deskripsi tokoh secara mandiri penuh.
  • Produk: Murid dengan kemampuan dasar menyusun 4 kalimat deskripsi tokoh tunggal; murid mahir menyusun kalimat deskripsi yang lebih kaya detail karakter tokoh dengan tetap menggunakan 4 kosakata denotatif target.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat: menentukan arti sebenarnya (denotatif) dari kata 'masyhur' dan 'bilik' (acuan jawaban benar: 'masyhur' = terkenal; 'bilik' = kamar/ruangan kecil).

Proses:

  • Pengamatan dan pemeriksaan hasil pengerjaan lembar kerja: menulis 4 kalimat deskripsi tokoh cerita rakyat menggunakan kata 'masyhur', 'bilik', 'cangkang', dan 'lubuk' sesuai makna denotatif (kriteria penerimaan: (1) 'masyhur' bermakna terkenal/dikenal luas; (2) 'bilik' bermakna ruang/kamar; (3) 'cangkang' bermakna kulit keras pembungkus telur/hewan; (4) 'lubuk' bermakna bagian air/sungai yang dalam; seluruhnya ditempatkan dalam kalimat deskripsi tokoh cerita rakyat).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan akhir pemahaman melalui telaah silang antarteman terhadap ketepatan penggunaan 4 kata bermakna denotatif pada kalimat deskripsi tokoh (acuan: keempat kata target 'masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk' tertulis dan bermakna lugas/sebenarnya).

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja menulis 4 kalimat deskripsi tokoh cerita rakyat menggunakan kosakata baru bermakna denotatif ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') dengan rubrik penilaian ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan Kosakata Baru Bermakna Denotatif dalam Kalimat Deskripsi TokohMenggunakan 1 kosakata baru target ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') sesuai makna denotatifnya dalam kalimat deskripsi tokoh dengan bimbingan penuh guru.Menggunakan 2 dari 4 kosakata baru target ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') dengan tepat sesuai makna denotatifnya dalam kalimat deskripsi tokoh.Menggunakan 3 dari 4 kosakata baru target ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') dengan tepat sesuai makna denotatifnya dalam kalimat deskripsi tokoh secara mandiri.Menggunakan seluruh (4) kosakata baru target ('masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk') dengan tepat sesuai makna denotatifnya dalam kalimat deskripsi tokoh secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dengan jelas bahwa kata target yang dipakai harus bermakna lugas (denotatif) dan bukan makna kiasan?
  • Apakah instruksi penulisan deskripsi tokoh cerita rakyat sudah cukup terarah sehingga seluruh murid berhasil membuat 4 kalimat tepat waktu?

Murid:

  • Kosakata denotatif mana di antara 'masyhur', 'bilik', 'cangkang', dan 'lubuk' yang paling mudah atau paling menantang kamu gunakan dalam kalimat deskripsi tokoh?
  • Bagaimana kamu memastikan bahwa kata yang kamu tuliskan bermakna sebenarnya (denotatif), bukan kiasan?

Pertemuan 17 — Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Konotatif dalam Kalimat Situasi Emosional Cerita Rakyat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar murid (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menentukan makna kiasan dari 2 ungkapan situasi emosional yang ditampilkan di papan tulis: (1) 'gelap mata' (acuan: sangat marah hingga hilang akal sehat/mengamuk); (2) 'berlapang dada' (acuan: ikhlas/sabar menerima keadaan). Murid menuliskan jawaban singkat pada lembar memo (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menggunakan kosakata baru bermakna konotatif dalam menyusun kalimat situasi emosional cerita rakyat (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati 4 contoh kosakata baru bermakna konotatif yang menggambarkan situasi emosional dalam cerita rakyat: (1) 'berdarah dingin' (kejam/tidak berperasaan), (2) 'lapang dada' (menerima dengan ikhlas/sabar), (3) 'gelap mata' (sangat marah/hilang kendali), (4) 'hancur luluh' (sangat sedih/kecewa mendalam) (7 menit).
  • Murid membandingkan dua kutipan situasi emosional: Kalimat A: 'Raja marah melihat pengkhianatan itu.' vs. Kalimat B: 'Raja gelap mata melihat pengkhianatan itu hingga menghunus pedangnya.' Murid menyadari bahwa makna konotatif memberi bobot emosional yang lebih kuat dan hidup pada narasi cerita rakyat (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan cepat 'Tangga Emosi Kata': guru membagikan kartu kata bermakna konotatif (tersedia: 'membatu', 'membakar dada', 'terbang melayang', 'makan hati') dan murid secara berpasangan mencocokkan kata dengan situasi emosional yang tepat (acuan pasangan: 'membatu' -> terkejut kaku tanpa gerak; 'membakar dada' -> amarah membara; 'terbang melayang' -> rasa gembira/bahagia luar biasa; 'makan hati' -> rasa perih menahan dongkol/sedih) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menyusun 4 kalimat situasi emosional cerita rakyat menggunakan 4 kosakata baru bermakna konotatif berikut: (1) 'gelap mata', (2) 'lapang dada', (3) 'hancur luluh', (4) 'membakar dada'. Setiap kalimat wajib menempatkan kosakata tersebut secara tepat sesuai konteks situasi emosional cerita rakyat (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukarkan hasil kalimat dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian makna konotatif pada konteks situasi emosional yang dibuat (menggunakan daftar acuan makna: gelap mata = amarah tak terkendali; lapang dada = kesabaran/keikhlasan; hancur luluh = duka mendalam; membakar dada = kemarahan/semangat membara) (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan penggunaan kosakata konotatif dalam kalimat yang telah disusun murid (5 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya kosakata bermakna konotatif untuk menghidupkan suasana emosional tokoh dalam cerita rakyat, lalu kelas ditutup dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu bantuan berisi arti harfiah dan kiasan dari kosakata konotatif target; murid yang telah mahir diberikan daftar tambahan kosakata konotatif yang lebih variatif ('rendah hati', 'panas hati').
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan menyusun kalimat dengan bantuan kerangka pemicu situasi tokoh ('Saat rahasianya terbongkar, Sang Patih ...'); murid mahir menyusun kalimat situasi emosional secara mandiri sepenuhnya.
  • Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan cukup menghasilkan minimal 3 kalimat dengan makna konotatif yang tepat; murid mahir menyusun 4 kalimat dengan situasi emosional yang lebih kompleks.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes tertulis singkat mengidentifikasi makna konotatif dari 2 ungkapan emosional pada awal sesi: (1) 'gelap mata' (acuan jawaban: sangat marah hingga hilang pertimbangan/mengamuk); (2) 'berlapang dada' (acuan jawaban: ikhlas/sabar menerima kenyataan).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri menyusun 4 kalimat situasi emosional menggunakan kosakata konotatif: (1) 'gelap mata', (2) 'lapang dada', (3) 'hancur luluh', (4) 'membakar dada'. Kriteria penerimaan operasional: setiap kosakata konotatif digunakan sesuai makna kiasannya dalam menggambarkan perasaan, reaksi, atau suasana batin tokoh cerita rakyat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir sesi: murid mengidentifikasi satu kalimat emosional yang tepat menggunakan kata 'membatu' dari dua opsi yang diberikan: Opsi A: 'Pematung itu sedang memahat batu kali menjadi patung harimau.'; Opsi B: 'Mendengar kutukan sang ibu, anak durhaka itu terdiam dan membatu di tepi pantai.' (Acuan jawaban benar: Opsi B, karena 'membatu' bermakna konotatif kaku/diam terpaku karena syok).

Formatif:

  • Penilaian kinerja tertulis: menyusun 4 kalimat situasi emosional cerita rakyat menggunakan kosakata baru bermakna konotatif ('gelap mata', 'lapang dada', 'hancur luluh', 'membakar dada') menggunakan rubrik ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan Kosakata Baru Bermakna Konotatif dalam Kalimat Situasi Emosional Cerita RakyatMenggunakan 1 kosakata konotatif ('gelap mata', 'lapang dada', 'hancur luluh', 'membakar dada') secara tepat dalam kalimat situasi emosional cerita rakyat dengan bimbingan penuh guru.Menggunakan 2 kosakata konotatif ('gelap mata', 'lapang dada', 'hancur luluh', 'membakar dada') secara tepat dalam kalimat situasi emosional cerita rakyat.Menggunakan 3 kosakata konotatif ('gelap mata', 'lapang dada', 'hancur luluh', 'membakar dada') secara tepat dalam kalimat situasi emosional cerita rakyat secara mandiri.Menggunakan seluruhnya (4 kosakata konotatif: 'gelap mata', 'lapang dada', 'hancur luluh', 'membakar dada') secara tepat sesuai konteks situasi emosional cerita rakyat secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah contoh situasi emosional cerita rakyat yang disajikan berhasil mempermudah murid memahami perbedaan makna denotatif dan konotatif?
  • Bagian mana dari langkah bimbingan penulisan kalimat konotatif yang masih memerlukan scaffolding tambahan bagi murid yang kesulitan?

Murid:

  • Kosakata konotatif mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu buatkan kalimatnya hari ini?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menggambarkan perasaan tokoh cerita rakyat menggunakan kata kiasan?

Pertemuan 18 — Menyusun Rangkaian Kalimat Kompleks Bertingkat Hubungan Waktu dan Sebab-Akibat untuk Cerita Rakyat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan menanyakan kesiapan murid untuk belajar menyusun kalimat cerita (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-18, yaitu menulis rangkaian kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat untuk narasi cerita rakyat (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menayangkan dua klausa: (A) 'Kancil melompati pagar' dan (B) 'petani sedang tertidur lelap', lalu meminta murid memilih konjungsi waktu atau sebab-akibat yang paling tepat untuk menggabungkannya beserta penjelasannya (acuan jawaban tepat: konjungsi waktu 'ketika/saat/waktu' sehingga menjadi 'Kancil melompati pagar ketika petani sedang tertidur lelap'; atau konjungsi sebab 'karena/sebab' sehingga menjadi 'Kancil melompati pagar karena petani sedang tertidur lelap') (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan kalimat kompleks bertingkat yang ditayangkan guru pada papan tulis, membedakan klausa utama dan klausa bawahan menggunakan konjungsi hubungan waktu ('ketika', 'setelah', 'sebelum') dan hubungan sebab-akibat ('karena', 'sehingga', 'sebab') (10 menit).
  • Murid dalam permainan kuis cepat 'Tebak Konjungsi Tepat' mengidentifikasi jenis hubungan bertingkat pada 3 kalimat contoh di papan tulis: 1) 'Pendekar Sakti berangkat bertapa setelah fajar menyingsing' (hubungan waktu); 2) 'Tanaman di desa itu layu karena kemarau panjang melanda' (hubungan sebab-akibat); 3) 'Raksasa murka sehingga tanah bergetar hebat' (hubungan sebab-akibat) (5 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Latihan Menulis Rangkaian Kalimat Kompleks berisi 4 pasang klausa imajinasi cerita rakyat: Pasang 1: [Penduduk desa bersorak gembira] + [naga pelindung kembali ke sarangnya]; Pasang 2: [Sungai di kaki bukit meluap] + [hujan deras mengguyur tanpa henti]; Pasang 3: [Putri Jelita menyembunyikan selendang emas] + [raksasa datang mencarinya]; Pasang 4: [Pohon beringin tua tumbang] + [angin puting beliung menerjang hutan rimba] (5 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan penggabungan ke-4 pasang klausa tersebut menjadi kalimat kompleks bertingkat: 2 kalimat dengan konjungsi waktu ('ketika'/'setelah'/'sebelum') dan 2 kalimat dengan konjungsi sebab-akibat ('karena'/'sebab'/'sehingga') sesuai kriteria ketepatan logika cerita (15 menit).
  • Murid menulis sebuah paragraf narasi imajinasi cerita rakyat sederhana sepanjang 3-4 kalimat kompleks bertingkat yang memadukan peristiwa hubungan waktu dan sebab-akibat secara kreatif berdasarkan imajinasi masing-masing (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil tulisan kalimat kompleks bertingkat miliknya dengan panduan daftar cek mandiri: ketepatan konjungsi hubungan waktu, ketepatan konjungsi sebab-akibat, dan kelogisan hubungan antarklausa (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan fungsi konjungsi bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat dalam membangun alur cerita rakyat yang padu dan masuk akal (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil tulisan murid serta menginformasikan materi pertemuan berikutnya mengenai penyusunan kalimat kompleks hubungan pertentangan dan syarat (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan daftar kata hubung bertingkat waktu (ketika, setelah, sebelum) dan sebab-akibat (karena, sebab, sehingga) beserta contoh letak klausanya; murid mahir diberikan stimulus situasi cerita rakyat bertingkat dengan hubungan ganda (waktu sekaligus sebab-akibat).
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan arahan langsung dari guru dalam menentukan klausa sebab versus akibat; murid mahir bekerja secara mandiri menyusun paragraf cerita langsung tanpa bantuan daftar kata bantu.
  • Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan minimal menghasilkan 4 kalimat kompleks bertingkat tunggal; murid mahir menghasilkan 4 kalimat kompleks bertingkat yang saling terangkai menjadi satu alur adegan cerita utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman konjungsi bertingkat: Murid menentukan kata hubung yang tepat untuk menggabungkan klausa 'Kancil melompati pagar' dan 'petani sedang tertidur lelap'. Acuan jawaban benar: menggunakan konjungsi waktu (ketika/saat/sewaktu) atau sebab-akibat (karena/sebab).

Proses:

  • Formatif tugas menulis: Pemeriksaan ketepatan penggabungan 4 pasang klausa menjadi kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat. Acuan pasangan target: Pasang 1 (waktu/sebab): 'Penduduk desa bersorak gembira setelah/ketika naga pelindung kembali ke sarangnya' atau 'karena naga pelindung...'; Pasang 2 (sebab): 'Sungai di kaki bukit meluap karena/sebab hujan deras mengguyur tanpa henti' atau 'Hujan deras mengguyur tanpa henti sehingga sungai...'; Pasang 3 (waktu): 'Putri Jelita menyembunyikan selendang emas sebelum/ketika raksasa datang mencarinya'; Pasang 4 (sebab/waktu): 'Pohon beringin tua tumbang karena angin puting beliung menerjang...' atau 'Pohon beringin tua tumbang ketika angin puting beliung...'. Kriteria: minimal 3 dari 4 penggabungan tepat secara hubungan makna dan konjungsi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan 1 contoh kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan 1 contoh kalimat kompleks bertingkat hubungan sebab-akibat buatan sendiri. Kriteria penerimaan operasional: kalimat memuat klausa utama dan klausa bawahan yang dihubungkan secara logis oleh konjungsi waktu (seperti ketika/setelah/sebelum) dan konjungsi sebab-akibat (seperti karena/sebab/sehingga).

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja menulis rangkaian kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat pada lembar kerja mandiri.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyusunan Rangkaian Kalimat Kompleks Hubungan Waktu dan Sebab-AkibatBelum mampu menyusun klausa menjadi kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu maupun sebab-akibat secara tepat (0-1 kalimat tepat dari 4 target latihan).Mampu menyusun sebagian kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat dengan tepat namun masih tertukar konjungsinya atau kurang logis (2 kalimat tepat dari 4 target latihan).Mampu menyusun kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat secara tepat dan logis pada sebagian besar butir (3 kalimat tepat dari 4 target latihan).Mampu menyusun seluruh kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat secara tepat, logis, dan kreatif tanpa kesalahan (seluruh 4 kalimat tepat dari 4 target latihan).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu dan pemodelan kalimat kompleks bertingkat hubungan waktu dan sebab-akibat memudahkan murid memahami struktur kalimat?
  • Bagian mana dari hubungan kalimat bertingkat (waktu vs sebab-akibat) yang paling sering membingungkan murid dalam menulis narasi cerita?

Murid:

  • Apakah kamu sudah dapat membedakan penggunaan kata hubung waktu (seperti 'setelah/ketika') dan kata hubung sebab-akibat (seperti 'karena/sehingga')?
  • Kalimat kompleks bertingkat mana yang menurutmu paling menarik yang berhasil kamu tulis hari ini?

Pertemuan 19 — Menyusun Rangkaian Kalimat Kompleks Hubungan Pertentangan dan Syarat dalam Narasi Imajinatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan menyampaikan topik pembelajaran menyusun kalimat kompleks hubungan pertentangan dan syarat dalam narasi imajinatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: Murid diminta menentukan konjungsi yang tepat untuk 2 kalimat narasi berikut: (1) 'Pangeran ingin menyelamatkan desa ... ia tidak memiliki senjata sakti' (pilihan: tetapi / jika; kunci: tetapi), (2) 'Pintu gua ajaib akan terbuka ... sang pemuda mampu menjawab teka-teki raksasa' (pilihan: jika / padahal; kunci: jika). Guru memetakan kesiapan murid dari jawaban tertulis di papan mini/kertas (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan kalimat kompleks hubungan pertentangan (menggunakan konjungsi: tetapi, sedangkan, namun, padahal) dan hubungan syarat (menggunakan konjungsi: jika, jikalau, apabila, asalkan) pada penggalan narasi imajinatif cerita rakyat di papan tulis (10 menit).
  • Murid menganalisis 4 contoh klausa dan menentukan jenis hubungannya: (1) 'Raksasa berbadan besar, sedangkan kurcaci bertubuh mungil' (pertentangan), (2) 'Kutukan pohon terlarang akan sirna asalkan air suci disiramkan ke akarnya' (syarat), (3) 'Pendekar maju tanpa rasa takut, padahal musuhnya membawa panah beracun' (pertentangan), (4) 'Apabila rembulan tertutup awan hitam, gerbang istana bayangan akan lenyap' (syarat) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan menggembirakan 'Roda Konjungsi Cerita': Murid secara bergiliran mengambil kartu tantangan yang memuat 2 klausa terpisah lalu memilih konjungsi pertentangan atau syarat yang tepat secara cepat (10 menit).
  • Murid secara mandiri menyusun 4 kalimat kompleks untuk narasi imajinatif cerita rakyat pada lembar kerja: 2 kalimat dengan hubungan pertentangan (menggunakan kata hubung tetapi/sedangkan/padahal) dan 2 kalimat dengan hubungan syarat (menggunakan kata hubung jika/apabila/asalkan) berdasarkan ide imajinasi masing-masing (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali 4 kalimat kompleks yang telah ditulis menggunakan daftar centang mandiri: memastikan klausa pertama dan klausa kedua terhubung logis serta konjungsi pertentangan atau syarat digunakan secara tepat (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan fungsi konjungsi pertentangan dan syarat dalam membangun dinamika konflik dan alur pada cerita narasi imajinatif (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid dan menginformasikan bahwa kemampuan menyusun kalimat kompleks ini akan digunakan pada pertemuan berikutnya untuk menulis bagian awal teks cerita rakyat (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu bantu pilihan konjungsi (tetapi, sedangkan, padahal vs jika, apabila, asalkan) beserta contoh struktur klausa bagi murid yang membutuhkan perancah.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan menyusun kalimat kompleks dengan bantuan potongan klausa yang tinggal dipadukan, sedangkan murid yang mahir langsung menyusun kalimat kompleks secara bebas dengan variasi letak klausa sematan.
  • Produk: Murid menyusun variasi kalimat kompleks imajinatif dengan tingkat kerumitan klausa yang disesuaikan dengan kesiapan masing-masing (minimal 4 kalimat kompleks: 2 pertentangan dan 2 syarat).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes tertulis cepat 2 butir soal melengkapi kalimat narasi rumpang dengan konjungsi yang tepat: Butir 1: 'Pangeran ingin menyelamatkan desa ... ia tidak memiliki senjata sakti' (Acuan jawaban benar: 'tetapi'). Butir 2: 'Pintu gua ajaib akan terbuka ... sang pemuda mampu menjawab teka-teki raksasa' (Acuan jawaban benar: 'jika').

Proses:

  • Pemeriksaan lembar latihan mandiri menyusun 4 kalimat narasi imajinatif: Butir 1 & 2 wajib berupa kalimat kompleks hubungan pertentangan (memuat klausa berlawanan dan konjungsi 'tetapi'/'sedangkan'/'padahal'/'namun'); Butir 3 & 4 wajib berupa kalimat kompleks hubungan syarat (memuat klausa prasyarat dan hasil dengan konjungsi 'jika'/'apabila'/'jikalau'/'asalkan'). Kriteria penerimaan operasional: setiap kalimat memiliki minimal dua klausa (subjek-predikat pada tiap klausa), konjungsi yang dipilih sesuai dengan fungsi relasinya, dan konteks narasi bernuansa cerita imajinatif rakyat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis 2 butir identifikasi pada akhir sesi: (1) Murid menentukan fungsi konjungsi pada kalimat: 'Matahari telah terbit, padahal kabut sihir di lembah belum juga memudar' (Acuan jawaban benar: Hubungan Pertentangan); (2) Murid menentukan fungsi konjungsi pada kalimat: 'Harta karun itu boleh diambil asalkan kalian tidak serakah' (Acuan jawaban benar: Hubungan Syarat).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja mandiri menyusun 4 kalimat kompleks bertingkat hubungan pertentangan dan syarat dalam narasi imajinatif

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Rangkaian Kalimat Kompleks Hubungan PertentanganBelum mampu menyusun kalimat kompleks pertentangan; kedua klausa tidak menunjukkan relasi pertentangan atau konjungsi pertentangan tidak digunakan.Menyusun 1 kalimat kompleks pertentangan secara tepat dengan memuat dua klausa dan konjungsi pertentangan yang sesuai (tetapi/sedangkan/padahal).Menyusun 2 kalimat kompleks pertentangan secara tepat dengan memuat relasi pertentangan yang logis dan konjungsi yang sesuai konteks narasi imajinatif.Menyusun 2 kalimat kompleks pertentangan atau lebih secara mandiri dengan variasi konjungsi pertentangan (tetapi, sedangkan, padahal) serta keterpaduan antarklausa naratif yang sangat padu dan kreatif.
Ketepatan Rangkaian Kalimat Kompleks Hubungan SyaratBelum mampu menyusun kalimat kompleks syarat; klausa tidak memuat prasyarat dan hasil yang logis atau konjungsi syarat tidak digunakan.Menyusun 1 kalimat kompleks syarat secara tepat dengan memuat dua klausa dan konjungsi syarat yang sesuai (jika/apabila/asalkan).Menyusun 2 kalimat kompleks syarat secara tepat dengan memuat hubungan syarat-akibat yang logis dalam narasi imajinatif.Menyusun 2 kalimat kompleks syarat atau lebih secara mandiri dengan variasi letak klausa syarat (di awal maupun di tengah) secara kreatif dan bermakna.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemodelan contoh klausa pertentangan dan syarat sudah cukup jelas membedakan fungsi kedua jenis konjungsi tersebut bagi murid?
  • Bagian mana dari langkah menyusun kalimat kompleks naratif yang masih membutuhkan scaffolding lebih intensif bagi murid yang belum berkembang?

Murid:

  • Konjungsi pertentangan dan syarat mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu gunakan dalam kalimat cerita imajinasimu?
  • Bagaimana penggunaan kalimat kompleks hubungan pertentangan dan syarat membuat peristiwa dalam ceritamu terasa lebih seru?

Pertemuan 20 — Menulis Bagian Awal (Pengenalan Tokoh dan Latar) Teks Cerita Rakyat Berdasarkan Imajinasi dengan Kalimat Kompleks — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak murid memfokuskan perhatian pada pembelajaran menulis bagian awal cerita rakyat (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-20: menulis bagian awal cerita rakyat (pengenalan tokoh dan latar) berdasarkan imajinasi dengan menggunakan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen awal berupa kuis cepat tertulis 2 butir pada papan tulis untuk memetakan kesiapan murid dalam menulis pengenalan tokoh dan latar menggunakan konjungsi kalimat kompleks bertingkat: (1) Mengidentifikasi konjungsi bertingkat penanda waktu/sebab pada kalimat pengenalan; (2) Menggabungkan 2 klausa sederhana menjadi 1 kalimat kompleks pengenalan tokoh dan latar (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati dan menganalisis 2 contoh paragraf bagian awal cerita rakyat pada lembar bacaan: Paragraf A (menggunakan kalimat tunggal pendek yang terputus-putus) dan Paragraf B (menggunakan rangkaian kalimat kompleks bertingkat dengan konjungsi ketika, karena, meskipun, sehingga yang memadukan tokoh dan latar secara deskriptif) (7 menit).
  • Murid mengeksplorasi ciri pembuka cerita yang kreatif, yaitu memperkenalkan siapa tokohnya (nama dan karakter imajinatif) serta di mana dan kapan peristiwa berlangsung (latar tempat dan waktu imajinatif) yang dirangkai menggunakan kalimat bertingkat (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memainkan permainan berpasangan 'Tantangan Kartu Imajinasi Tokoh & Latar': setiap murid memilih 1 dari 4 set kartu imajinasi yang disediakan guru (Set 1: Tokoh Raka si Pemahat Awan, Latar Puncak Gunung Embun; Set 2: Tokoh Putri Nilam Penjaga Karang, Latar Teluk Kaca; Set 3: Tokoh Kakek Baruna si Pawang Ombak, Latar Pantai Karang Hitam; Set 4: Tokoh Dara si Penenun Angin, Latar Lembah Seribu Bunga) lalu membuat 1 kalimat kompleks pembuka secara lisan bersama teman sebangku (8 menit).
  • Secara mandiri, murid menulis bagian awal cerita rakyat imajinasi masing-masing (minimal 1 paragraf, 4-5 kalimat) yang wajib memuat pengenalan tokoh imajinasi, latar tempat dan waktu imajinasi, serta dirangkai dengan minimal 3 kalimat kompleks bertingkat (22 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang draf bagian awal yang telah ditulisnya dan menandai secara mandiri unsur pengenalan tokoh, unsur latar tempat/waktu, serta konjungsi kalimat kompleks yang digunakannya dengan memberi garis bawah (7 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan cara merangkai kalimat kompleks untuk membuka cerita rakyat yang menarik melalui penyatuan tokoh dan latar (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap draf penulisan awal cerita rakyat murid serta mengingatkan bahwa draf ini akan dilanjutkan ke bagian tengah (konflik) pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kerangka rumpang dengan pilihan konjungsi bertingkat (ketika, karena, sehingga), sedangkan murid yang cepat diberikan kebebasan merancang variasi latar mitologis yang lebih luas.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan merangkai klausa didampingi guru dengan pemodelan penggabungan dua ide kalimat sederhana menjadi satu kalimat kompleks bertingkat, sementara murid mahir menulis secara mandiri penuh.
  • Produk: Murid yang butuh bimbingan menuliskan minimal 1 paragraf pembuka dengan 3 kalimat kompleks; murid mahir menuliskan 1-2 paragraf pembuka dengan lebih dari 4 kalimat kompleks bertingkat yang kaya variasi klausa.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis awal 2 butir di papan tulis sebelum materi: (1) Sebutkan konjungsi bertingkat dalam kalimat: 'Ketika fajar menyingsing di atas Bukit Bintang, Elang perkasa penjaga hutan mulai membentangkan sayapnya.' (Acuan jawaban benar: 'Ketika'); (2) Gabungkan dua klausa berikut menjadi satu kalimat kompleks bertingkat: [Klausa A: Putri Lembayung tinggal di tepi Danau Sunyi] dan [Klausa B: Ia ingin menjaga mata air suci] (Kriteria penerimaan operasional: Menggunakan konjungsi tujuan atau sebab-akibat seperti 'karena', 'supaya', atau 'untuk', menghasilkan kalimat kompleks bertingkat yang logis dan padu, contoh: 'Putri Lembayung tinggal di tepi Danau Sunyi karena ia ingin menjaga mata air suci').

Proses:

  • Pemeriksaan draf menulis bagian awal cerita rakyat selama tahap Mengaplikasi menggunakan lembar observasi guru dengan kriteria: (1) Keberadaan nama dan ciri tokoh imajinasi; (2) Keberadaan latar tempat dan waktu imajinasi; (3) Keberadaan minimal 3 kalimat kompleks bertingkat (mengandung klausa utama dan klausa bawahan yang dihubungkan konjungsi bertingkat seperti ketika, saat, karena, sehingga, meskipun, agar).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir kegiatan: Murid menuliskan daftar 3 konjungsi bertingkat yang berhasil digunakan dalam paragraf pembuka cerita rakyat buatannya beserta 1 kalimat kompleks terbaik dari drafnya (Kriteria penerimaan: 3 konjungsi yang ditulis benar-benar tergolong konjungsi bertingkat dan kalimat yang dikutip memuat minimal dua klausa dengan hubungan gramatikal bertingkat yang logis).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: Kuis 2 butir mengidentifikasi dan merangkai kalimat kompleks pengenalan tokoh/latar
  • Penilaian unjuk kerja menulis: Lembar kerja penulisan bagian awal (pengenalan tokoh dan latar) cerita rakyat imajinasi dengan rubrik 4 level

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengenalan Tokoh dan Latar ImajinasiBelum memunculkan pengenalan tokoh maupun latar imajinasi, atau hanya menyebutkan salah satu unsur tanpa rincian imajinatif.Menuliskan pengenalan tokoh dan latar imajinasi secara terpisah dan masih sangat terbatas (hanya menyebutkan nama tokoh dan nama tempat tanpa gambaran keadaan/waktu).Menuliskan pengenalan tokoh (nama dan karakter imajinatif) serta latar (tempat dan waktu imajinatif) secara jelas dan terpadu dalam paragraf pembuka.Menuliskan pengenalan tokoh imajinatif yang unik serta latar tempat dan suasana waktu imajinatif secara sangat rinci, hidup, dan memikat sejak kalimat pertama.
Penggunaan Rangkaian Kalimat KompleksSeluruh draf masih menggunakan kalimat tunggal sederhana dan belum menggunakan konjungsi bertingkat.Menggunakan 1-2 kalimat kompleks bertingkat, tetapi hubungan antarklausa masih belum padu atau konjungsi bertingkat kurang tepat.Menggunakan minimal 3 kalimat kompleks bertingkat dengan konjungsi yang tepat sehingga membentuk rangkaian kalimat yang padu dan logis.Menggunakan 4 kalimat kompleks bertingkat atau lebih dengan variasi konjungsi bertingkat yang kaya dan rangkaian antarkalimat tersusun sangat mengalir serta kreatif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan Kartu Imajinasi Tokoh & Latar efektif membantu murid yang kesulitan menemukan ide cerita?
  • Apakah seluruh murid sudah mampu memahami struktur kalimat kompleks bertingkat dalam menghubungkan pengenalan tokoh dengan latarnya?

Murid:

  • Bagian mana dari tokoh dan latar imajinasiku yang paling menarik untuk diceritakan?
  • Apakah aku sudah berhasil merangkai minimal 3 kalimat kompleks bertingkat dalam paragraf pembuka ceritaku?

Pertemuan 21 — Menulis Bagian Tengah (Konflik dan Puncak Masalah) Teks Cerita Rakyat Berdasarkan Imajinasi dengan Kosakata Konotatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif
  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyusun bagian tengah (konflik dan puncak masalah) dari draf cerita rakyat yang telah dimulai pada pertemuan sebelumnya dengan memanfaatkan rangkaian kalimat kompleks dan kosakata konotatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid membaca satu kutipan kalimat lalu mengidentifikasi makna kata konotatif di dalamnya: 'Ketika raksasa itu melihat telaga mengering, api amarahnya membakar dadanya.' Murid diminta menuliskan arti kiasan dari 'api amarah' pada lembar cepat (acuan: api amarah bermakna kemarahan/emosi yang sangat besar dan meluap-luap) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan teks bagian tengah cerita rakyat di papan tulis: 'Ketika kabut hitam mulai menyelimuti desa, sang pendekar merasakan firasat buruk karena serigala siluman yang bermata merah darah telah mengasah kuku dendamnya untuk menyerang penduduk.' (5 menit).
  • Guru membedah bagaimana kalimat kompleks bertingkat (hubungan waktu: 'ketika...', hubungan sebab: 'karena...') dipadukan dengan kosakata konotatif ('firasat buruk', 'bermata merah darah', 'kuku dendam') untuk membangun ketegangan konflik hingga klimaks (5 menit).
  • Murid memainkan permainan kilat 'Dadu Konotasi Konflik': secara berpasangan, murid melempar dadu berisi 6 pilihan kata konotatif target: (1) api amarah, (2) gelap mata, (3) kuku dendam, (4) membatu, (5) badai kegelisahan, (6) mata elang, lalu berlatih merangkainya ke dalam satu kalimat berkonjungsi hubungan pertentangan atau pengandaian (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membuka kembali draf bagian awal cerita rakyat imajinasi masing-masing yang telah ditulis pada Pertemuan 20 (2 menit).
  • Murid merancang dan menulis bagian tengah teks cerita rakyat berdasarkan imajinasinya sendiri, yang memuat pergerakan dari munculnya masalah hingga puncak ketegangan (klimaks) menggunakan minimal 3 rangkaian kalimat kompleks secara kreatif (13 menit).
  • Murid secara mandiri menyisipkan minimal 2 kosakata baru bermakna konotatif yang tepat untuk memperkuat gambaran emosi tokoh atau situasi gawat dalam konflik cerita tersebut (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca kembali draf bagian tengah yang baru ditulis secara berkesadaran, lalu menandai garis bawah pada setiap kalimat kompleks dan melingkari kosakata konotatif yang digunakan (5 menit).
  • Murid memeriksa apakah ketegangan konflik sudah terasa memuncak dan kosakata konotatif yang dipilih sudah tepat konteksnya (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa bagian tengah cerita menjadi menarik dan mengaduk emosi jika dilengkapi kalimat bertingkat dan kosakata konotatif yang menghidupkan konflik (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap draf yang telah disusun, mengingatkan murid untuk menyimpan draf ini dengan baik guna dilanjutkan ke bagian penyelesaian (akhir) pada pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan konjungsi kalimat kompleks (karena, ketika, meskipun, jika) dan bank kosakata konotatif (api kemarahan, bermuka masam, langkah gontai), sedangkan murid yang sudah mahir diarahkan menggunakan variasi konotasi yang lebih kaya dan metaforis.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menulis kalimat kompleks didampingi langsung oleh guru dengan teknik scaffolding pemicu kalimat bersambung, sementara murid yang mahir menulis secara mandiri.
  • Produk: Draf tulisan bagian tengah cerita rakyat minimal terdiri dari 1 paragraf padu yang memuat minimal 3 kalimat kompleks bertingkat dan minimal 2 kosakata konotatif yang sesuai konteks konflik.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman makna konotatif: Menentukan arti kiasan frasa 'api amarah' dalam kalimat narasi singkat: 'Ketika raksasa itu melihat telaga mengering, api amarahnya membakar dadanya.' (Acuan jawaban benar: api amarah = emosi/kemarahan yang sangat memuncak/meluap-luap).

Proses:

  • Pengecekan draf tulisan bagian tengah (konflik dan puncak masalah) milik murid: (1) Adanya minimal 3 kalimat kompleks dengan konjungsi yang tepat; (2) Penggunaan minimal 2 kosakata bermakna konotatif yang relevan untuk melukiskan ketegangan/konflik tokoh secara kreatif.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri: Murid menyebutkan 2 kosakata konotatif yang berhasil mereka sematkan ke dalam tulisan bagian tengah beserta makna kiasan yang dimaksudkan dalam cerita mereka (Kriteria penerimaan: kosakata benar-benar bermakna konotatif dan maknanya mendukung situasi konflik tokoh).

Formatif:

  • Pemeriksaan draf tulisan bagian tengah cerita rakyat menggunakan instrumen rubrik analitik berfokus pada keragaman kalimat kompleks dan ketepatan penerapan kosakata konotatif.
  • Observasi diagnostik awal mengenai identifikasi makna konotatif pada kalimat rintisan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Rangkaian Kalimat Kompleks dalam Bagian Tengah CeritaMenulis bagian tengah cerita rakyat hanya menggunakan kalimat-kalimat tunggal tanpa konjungsi kalimat kompleks.Menulis bagian tengah cerita rakyat dengan memuat 1-2 kalimat kompleks bertingkat, tetapi hubungan antarklausa belum sepenuhnya padu.Menulis bagian tengah cerita rakyat dengan memuat minimal 3 rangkaian kalimat kompleks secara tepat dan kreatif dalam membangun konflik.Menulis bagian tengah cerita rakyat dengan memuat lebih dari 3 rangkaian kalimat kompleks yang bervariasi (hubungan waktu, sebab, pertentangan, syarat) secara padu dan runtut membangun puncak masalah.
Penggunaan Kosakata Konotatif dalam Situasi KonflikBelum menggunakan kosakata konotatif dalam tulisan konflik cerita rakyat (semua kata bermakna harfiah/denotatif biasa).Menggunakan 1 kosakata konotatif dalam tulisan bagian tengah cerita, namun maknanya kurang selaras dengan situasi konflik yang diceritakan.Menggunakan minimal 2 kosakata konotatif baru secara tepat sesuai dengan konteks ketegangan atau puncak masalah tokoh.Menggunakan lebih dari 2 kosakata konotatif baru secara tepat, indah, dan sangat kreatif dalam menghidupkan nuansa dramatis puncak masalah.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur pembelajaran berhasil membimbing murid menghubungkan draf awal dengan bagian konflik dan puncak masalah secara berkesinambungan?
  • Bagaimana respons murid saat menerapkan kosakata konotatif dalam tulisan imajinatif mereka, apakah pilihan katanya sudah kontekstual?

Murid:

  • Apakah aku sudah berhasil membuat bagian konflik ceritaku menjadi tegang dan menarik melalui kalimat kompleks?
  • Kosakata konotatif apa yang paling aku sukai saat menggambarkan kemarahan, ketakutan, atau tantangan tokoh ceritaku?

Pertemuan 22 — Menulis Bagian Akhir (Penyelesaian Cerita) Teks Cerita Rakyat Berdasarkan Imajinasi dengan Kosakata Denotatif dan Konotatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif
  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengondisikan kesiapan belajar menulis (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-22, yaitu menulis bagian akhir (penyelesaian cerita) teks cerita rakyat imajinasi dengan merangkaikan kalimat kompleks serta memadukan kosakata denotatif dan konotatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan kepada seluruh murid dengan meminta mengidentifikasi sifat makna pada 2 kalimat penyelesaian berikut: (1) 'Pendekar itu kembali ke desa setelah mengalahkan raksasa' (acuan: denotatif/lugas), (2) 'Kedamaian akhirnya bersemi di tanah leluhur setelah badai amarah mereda' (acuan: konotatif/kiasan) untuk memetakan kesiapan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak dan menganalisis contoh paragraf penyelesaian cerita rakyat di papan tulis: 'Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, Ki Rangga menyerahkan keris pusaka kepada tetua desa sehingga api permusuhan yang berkobar selama bertahun-tahun akhirnya padam dan penduduk kembali hidup rukun.' Guru membimbing murid membedah unsur penyelesaian, 2 klausa kalimat kompleks bertingkat yang dihubungkan konjungsi ('ketika', 'sehingga'), serta membedakan kosakata denotatif ('menyerahkan keris pusaka', 'fajar menyingsing') dan konotatif ('api permusuhan', 'padam') (10 menit).
  • Guru mengadakan tantangan interaktif menggembirakan 'Tebak Pasangan Kata Akhir Cerita', di mana perwakilan murid memilih kartu kata denotatif lalu memasangkan dengan padanan konotatifnya untuk penyelesaian cerita: (1) 'pemberian maaf' -> 'berlapang dada', (2) 'berdamai/rukun' -> 'menautkan kembali tali persaudaraan', (3) 'kemenangan/kebaikan' -> 'terbitnya cahaya harapan', sambil murid lain bertepuk tangan memberikan afirmasi positif (5 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyiapkan draf cerita rakyat imajinasi yang telah mereka buat bagian awal (Pertemuan 20) dan bagian tengahnya (Pertemuan 21), kemudian merancang ide penyelesaian cerita masing-masing secara berkesadaran (5 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan bagian akhir (penyelesaian cerita) cerita rakyat imajinasi mereka minimal 1 paragraf (terdiri atas minimal 3 kalimat kompleks) yang memadukan minimal 1 kosakata bermakna denotatif dan 1 kosakata bermakna konotatif pada lembar penulisan cerita (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang paragraf akhir yang ditulisnya, memeriksa secara cermat apakah masalah dalam cerita sudah tuntas terselesaikan, apakah konjungsi penghubung kalimat kompleks sudah terpasang, serta memberi tanda garis bawah pada kosakata denotatif dan lingkaran pada kosakata konotatif (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik langsung terhadap draf bagian akhir yang telah berhasil diselesaikan oleh murid (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas ketekunan murid dan menyampaikan rencana pertemuan ke-23 untuk menyempurnakan keseluruhan teks cerita rakyat, diakhiri dengan doa bersama dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan daftar kata bantu denotatif (misal: 'kembali', 'berjabat tangan') dan konotatif (misal: 'berlapang dada', 'benang kusut terurai') beserta templat penghubung kalimat kompleks ('Meskipun ..., akhirnya ... sehingga ...'); murid mahir menyusun penyelesaian yang memadukan lebih dari 2 kalimat kompleks dengan ragam konotasi yang lebih kaya.
  • Proses: Guru memberikan pendampingan terfokus bagi murid yang masih kesulitan merangkai konjungsi antarklausa, sedangkan murid yang sudah lancar menulis secara mandiri.
  • Produk: Produk akhir berupa paragraf bagian penyelesaian cerita rakyat imajinatif dengan panjang minimal 3 kalimat kompleks bagi reguler, atau 4-5 kalimat kompleks dengan kosakata konotatif yang lebih variatif bagi murid mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat mengenali makna denotatif dan konotatif pada kalimat penyelesaian cerita: Guru membacakan kalimat (1) 'Pendekar itu kembali ke desa setelah mengalahkan raksasa' dan meminta murid menyebut jenis maknanya (acuan: denotatif/makna lugas/sebenarnya); lalu membacakan kalimat (2) 'Kedamaian akhirnya bersemi di tanah leluhur setelah badai amarah mereda' (acuan: konotatif/makna kiasan).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menulis bagian akhir cerita: memeriksa apakah paragraf yang disusun memuat penyelesaian cerita, terdiri dari minimal 3 kalimat kompleks bertingkat, serta memuat minimal 1 kosakata denotatif (misal: 'pulang', 'menyerahkan', 'membangun') dan minimal 1 kosakata konotatif (misal: 'berlapang dada', 'bersemi', 'dingin hati').

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi berupa pemeriksaan hasil tulisan bagian akhir cerita rakyat pada lembar kerja murid berdasarkan dua kriteria: (1) Menuliskan penyelesaian konflik imajinasi dengan minimal 3 kalimat kompleks, dan (2) Memadukan minimal 1 kosakata denotatif dan 1 kosakata konotatif yang tepat konteksnya.

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja menulis bagian akhir cerita rakyat imajinasi menggunakan instrumen rubrik penilaian kalimat kompleks dan ketepatan kosakata denotatif serta konotatif.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Rangkaian Kalimat Kompleks dalam Menulis Akhir Cerita (TP 6.2.5)Belum mampu menulis bagian akhir cerita dengan kalimat kompleks (hanya menulis kalimat tunggal/sederhana tanpa konjungsi penghubung antarklausa).Menulis bagian akhir cerita dengan 1-2 kalimat kompleks bertingkat, namun keterkaitan penyelesaian cerita masih belum runtut dengan bimbingan guru.Menulis bagian akhir cerita imajinasi secara mandiri dengan minimal 3 rangkaian kalimat kompleks bertingkat yang memuat penyelesaian masalah secara logis dan runtut.Menulis bagian akhir cerita imajinasi secara mandiri dengan 4 atau lebih rangkaian kalimat kompleks bertingkat yang variatif, runtut, dan menyelesaikan cerita secara tuntas.
Penggunaan Kosakata Denotatif dan Konotatif dalam Tulisan (TP 6.2.6)Belum menggunakan kosakata bermakna denotatif maupun konotatif dalam tulisan bagian akhir cerita secara tepat.Menggunakan kosakata denotatif secara tepat, namun belum memadukan kosakata konotatif, atau sebaliknya.Menggunakan minimal 1 kosakata denotatif dan 1 kosakata konotatif secara tepat konteks dalam tulisan bagian akhir cerita rakyat.Menggunakan 2 atau lebih kosakata denotatif dan 2 atau lebih kosakata konotatif secara tepat konteks dan padu dalam tulisan bagian akhir cerita rakyat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit mandiri mencukupi bagi seluruh murid untuk menyelesaikan paragraf akhir cerita mereka?
  • Bagian mana dari perangkaian kalimat kompleks bertingkat yang masih membingungkan murid dalam menuntaskan alur cerita?

Murid:

  • Apakah masalah yang dihadapi tokoh utama dalam ceritamu sudah berhasil terselesaikan dengan jelas di bagian akhir ini?
  • Kata kiasan (konotatif) apa yang paling kamu sukai saat menggambarkan akhir kisah ceritamu?

Pertemuan 23 — Menyempurnakan Teks Sederhana Cerita Rakyat Hasil Imajinasi dengan Rangkaian Kalimat Kompleks dan Kosakata Pilihan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif
  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan memfasilitasi doa singkat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-23, yaitu menyatukan dan menyempurnakan draf cerita rakyat imajinasi (bagian awal, tengah, dan akhir) menggunakan rangkaian kalimat kompleks serta kosakata bermakna denotatif dan konotatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid membaca 2 kalimat pada papan tulis lalu menentukan kalimat mana yang merupakan kalimat kompleks bertingkat serta mengidentifikasi makna konotatif di dalamnya (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan contoh penyuntingan paragraf cerita di papan tulis yang membandingkan kalimat tunggal monoton menjadi kalimat kompleks bertingkat yang kreatif dengan sisipan kata bermakna denotatif dan konotatif (acuan contoh: kalimat 'Raksasa itu marah. Dia menghancurkan hutan.' diubah menjadi 'Ketika kemarahan raksasa itu membakar hatinya, ia memorak-porandakan pepohonan rindang di hutan belantara.') (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan cepat 'Klinik Kata Ajaib': secara berpasangan murid saling menukar draf bagian cerita (awal, tengah, akhir) yang telah ditulis pada pertemuan sebelumnya untuk saling menandai apakah sudah memuat kalimat kompleks (hubungan waktu/sebab/syarat/pertentangan) dan kosakata bermakna denotatif serta konotatif (12 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan kembali dan menyempurnakan teks cerita rakyat imajinasinya secara utuh menjadi satu naskah padu dengan memperkaya rangkaian kalimat kompleks dan memastikan ketepatan penggunaan kosakata baru bermakna denotatif serta konotatif (23 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan swa-evaluasi terhadap naskah utuhnya menggunakan lembar cek mandiri berfokus pada dua aspek: keterpaduan rangkaian kalimat kompleks dan variasi kosakata denotatif-konotatif (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan fokus kegiatan penyempurnaan teks cerita rakyat imajinasi yang telah disatukan secara utuh (2 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kemandirian murid dalam merevisi karya tulisan sastra dan memberikan arahan singkat mengenai persiapan kegiatan asesmen di pertemuan berikutnya tanpa menutup bab (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan konjungsi kalimat kompleks (karena, ketika, meskipun, jika) dan daftar kosakata denotatif-konotatif bagi murid yang memerlukan perancah tambahan.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dalam menghubungkan antarkalimat pada draf awal-tengah-akhir, sedangkan murid mahir diarahkan memvariasikan jenis hubungan antarklausa.
  • Produk: Murid dapat memilih panjang teks minimal 3 paragraf utuh (awal, tengah, akhir) dengan sebaran variasi kalimat kompleks dan kosakata konotatif-denotatif yang proporsional.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman kalimat kompleks dan makna konotatif: Murid membaca 2 kalimat pada papan tulis: (1) 'Pohon itu tumbuh tinggi di tepi danau.' dan (2) 'Meskipun malam telah menyelimuti lembah, pemuda berhati baja itu tetap melangkah menuju goa.' Murid diminta menunjuk mana kalimat kompleks bertingkat dan mana kata bermakna konotatif. Acuan kunci: Kalimat (2) adalah kalimat kompleks bertingkat (hubungan pertentangan dengan konjungsi 'meskipun'), dan kata 'berhati baja' memiliki makna konotatif pantang menyerah/sangat berani.

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menyempurnakan tulisan teks cerita rakyat utuh: memeriksa apakah naskah mencakup minimal 3 kalimat kompleks dengan variasi konjungsi serta minimal 2 kosakata bermakna denotatif dan 2 kosakata bermakna konotatif yang digunakan secara tepat dalam alur imajinasi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman/refleksi penutup: Murid menuliskan pada secarik kertas satu contoh kalimat kompleks terbaik dari naskah ceritanya beserta satu kata bermakna konotatif dan satu kata bermakna denotatif yang ada di dalam kalimat tersebut (kriteria penerimaan: kalimat memuat klausa bertingkat dengan konjungsi yang tepat, kata konotatif dipakai dalam makna kiasan yang logis, dan kata denotatif dipakai sesuai makna lugasnya).

Formatif:

  • Pemeriksaan draf tulisan utuh cerita rakyat saat murid menyempurnakan rangkaian kalimat kompleks dan kosakata denotatif/konotatif menggunakan lembar observasi proses menulis.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyusunan Rangkaian Kalimat Kompleks dalam Cerita Rakyat Imajinasi (TP 6.2.5)Menyusun teks cerita rakyat dengan kalimat tunggal sederhana dan belum memadukan klausa menjadi kalimat kompleks secara tepat.Menyusun teks cerita rakyat dengan 1-2 kalimat kompleks sederhana namun hubungan antarklausa masih terbatas atau kurang padu.Menyusun teks cerita rakyat dengan minimal 3 kalimat kompleks yang bervariasi secara padu dan kreatif dalam menghubungkan alur cerita.Menyusun seluruh bagian teks cerita rakyat dengan rangkaian kalimat kompleks yang variatif, runtut, luwes, dan sangat kreatif secara mandiri.
Penggunaan Kosakata Bermakna Denotatif dan Konotatif dalam Tulisan (TP 6.2.6)Belum menggunakan kosakata bermakna konotatif dalam tulisan, atau penggunaan kosakata denotatif belum sesuai konteks kalimat.Menggunakan 1 kosakata bermakna konotatif dan kosakata bermakna denotatif, namun penerapannya dalam kalimat narasi masih kaku.Menggunakan minimal 2 kosakata bermakna konotatif dan kosakata bermakna denotatif secara tepat sesuai konteks situasi emosi dan deskripsi cerita.Menggunakan beragam kosakata bermakna konotatif dan denotatif secara konsisten, tepat konteks, dan memperkaya keindahan sastra dalam cerita secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk menyatukan dan merevisi draf cerita rakyat sudah mencukupi bagi seluruh kelompok kemampuan murid?
  • Bagaimana ketercapaian murid dalam memadukan kalimat kompleks bertingkat dengan pilihan kosakata konotatif pada naskah imajinasinya?

Murid:

  • Bagian mana dari teks cerita rakyat imajinasiku yang berhasil aku buat lebih menarik menggunakan kalimat kompleks?
  • Kosakata denotatif dan konotatif apa saja yang paling berkesan saat aku pakai untuk menyempurnakan ceritaku hari ini?

Pertemuan 24 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menganalisis isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita rakyat yang didengarkan
  • TP 6.2.2 Membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari teks sastra cerita rakyat
  • TP 6.2.3 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra cerita rakyat berwujud teks visual
  • TP 6.2.4 Menyampaikan perasaan berdasarkan imajinasi secara indah dan menarik dalam bentuk teks sastra cerita rakyat dengan penggunaan kosakata secara kreatif
  • TP 6.2.5 Menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif
  • TP 6.2.6 Menggunakan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif dalam tulisan cerita rakyat

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan alat tulis seluruh murid di kelas (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif akhir Bab 2 yang mencakup tiga bagian tugas: tes tertulis menyimak-membaca, unjuk kerja berpasangan serentak, dan penulisan naskah cerita rakyat (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan tata tertib asesmen sumatif, format lembar kerja, dan alokasi waktu pengerjaan untuk setiap bagian tugas secara tertib dan berkesadaran (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • TUGAS 1 (Tes Tertulis Menyimak dan Membaca Visual): Murid menyimak pembacaan teks aural cerita rakyat 'Kupu-Kupu Mira' oleh guru sebanyak dua kali, kemudian secara mandiri menjawab 3 butir soal analisis isi (tokoh, latar, pesan pokok), dilanjutkan membaca teks visual cerita rakyat 'Lembah Apapuhang' untuk menjawab 1 butir telaah nilai budi pekerti beserta kutipan kalimat pembukti pada lembar jawaban (24 menit). Butir Soal & Kunci Jawaban Acuan: (1) Siapa tokoh utama dan wataknya? Acuan: Mira, watak pantang menyerah dan penyayang; (2) Di mana dan kapan latar peristiwa terjadi? Acuan: Di Hutan Bakau Maros, waktu pagi/fajar; (3) Apakah pesan pokok dari cerita tersebut? Acuan: Kerja keras dan ketulusan hati akan mengatasi keterbatasan fisik; (4) Nilai budi pekerti apa yang terdapat dalam teks 'Lembah Apapuhang' beserta kutipan pembuktinya? Acuan: Nilai kepatuhan/bakti kepada orang tua atau persatuan warga; Kutipan: 'Penduduk lembah bahu-membahu menanam kembali pepohonan tanpa mengeluh demi keselamatan anak cucu mereka.'
  • TUGAS 2 (Unjuk Kerja Berpasangan Serentak - Membaca Nyaring dan Presentasi Lisan Perasaan): Dalam 14 pasang murid (28 murid) yang duduk berdampingan, Murid A membaca nyaring teks cerita rakyat 'Lembah Apapuhang' yang memuat pola konsonan bergabung (kl-, pr-, tr-) dan diftong/vokal rangkap secara fasih, lalu menyampaikan perasaan imajinatif tokoh (misal: rasa haru, takjub, atau berani) secara lisan menggunakan kosakata puitis/kiasan; setelah itu Murid B bergantian melakukan hal yang sama pada bagian teks kedua, sementara guru berkeliling melakukan observasi sampling penilaian unjuk kerja secara serentak (18 menit). Acuan Kata Kombinasi Huruf Teks: 'kelompok', 'prakarsa', 'tragedi', 'sungai', 'danau', 'berdaulat'; Acuan Kriteria Lisan: Murid mengungkapkan minimal 2 kata kiasan/puitis (contoh: 'hancur berkeping-keping', 'berlapang dada', 'matahari menyingsing penuh asa').
  • TUGAS 3 (Produk Menulis Narasi Cerita Rakyat): Murid secara mandiri menulis teks sederhana cerita rakyat berdasarkan imajinasi masing-masing minimal 3 paragraf (bagian awal, tengah, dan akhir) yang dirangkai menggunakan kalimat kompleks bertingkat (hubungan waktu, sebab-akibat, pertentangan, atau syarat) serta memuat minimal 2 kosakata bermakna denotatif dan 2 kosakata bermakna konotatif secara tepat konteks (17 menit). Kriteria Acuan Penerimaan: (a) Kalimat kompleks memuat konjungsi bertingkat (contoh: 'Ketika malam menjelang, ...', 'Meskipun rintangan menghadang, ...', 'Jika warga bersatu, ...'); (b) Kosakata denotatif dipakai sesuai makna kamus/lugas (contoh: 'batu karang', 'hutan belantara'); (c) Kosakata konotatif dipakai sesuai konteks kiasan (contoh: 'rendah hati', 'panjang tangan', 'berkepala dingin', 'lapang dada').

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali kelengkapan identitas dan jawaban pada seluruh lembar kerja, lalu mengumpulkan berkas asesmen kepada guru di meja depan secara berkesadaran (2 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi penutupan rangkaian Bab 2, mengapresiasi integritas dan kemandirian seluruh murid dalam menyelesaikan asesmen sumatif, serta menutup pertemuan dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: murid yang memerlukan dukungan keterbacaan diberikan naskah cetak teks visual berukuran huruf lebih besar (font 14 pt) dan posisi duduk di baris depan tanpa mengurangi jumlah butir soal, alokasi waktu, ataupun kriteria penilaian standar.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis asesmen: guru memverifikasi kesiapan alat tulis, lembar soal-jawaban terdistribusi, serta memastikan murid siap menyimak tuturan aural.

Sumatif Bab:

  • kombinasi tes tulis menyimak-membaca, unjuk kerja membaca nyaring dan lisan berpasangan, serta produk menulis cerita rakyat: lembar jawaban analisis isi tuturan aural dan telaah nilai teks visual, catatan rubrik unjuk kerja membaca nyaring dan presentasi lisan perasaan tokoh secara berpasangan, serta lembar naskah cerita rakyat dengan kalimat kompleks dan kosakata bermakna denotatif-konotatif
  • tes tertulis serentak (menyimak dan membaca visual): lembar jawaban tertulis yang memuat hasil analisis isi tuturan cerita rakyat yang dibacakan guru (tokoh, latar, pesan pokok) dan hasil telaah nilai budi pekerti disertai kutipan kalimat pembukti dari teks cerita rakyat visual yang dibaca mandiri (25 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan kunci jawaban analisis teks cerita rakyat)
  • unjuk kerja berpasangan serentak (membaca nyaring dan presentasi lisan): penampilan murid membaca nyaring teks cerita rakyat dengan lafal tepat serta penyampaian perasaan imajinatif tokoh cerita secara lisan dengan kosakata kreatif yang dinilai guru menggunakan teknik sampling observasi berkeliling pada 14 pasang murid (28 murid) yang tampil simultan bergiliran dalam pasangannya (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja membaca nyaring dan penyampaian lisan ekspresif)
  • penilaian produk menulis serentak: naskah cerita rakyat sederhana karya murid berdasarkan imajinasi yang disusun menggunakan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif serta memuat kata-kata baru bermakna denotatif dan konotatif secara tepat konteks (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian produk menulis narasi cerita rakyat (struktur kalimat kompleks, kohesi imajinatif, ketepatan diksi denotatif-konotatif))

Sumatif:

  • kombinasi tes tulis menyimak-membaca, unjuk kerja membaca nyaring dan lisan berpasangan, serta produk menulis cerita rakyat: lembar jawaban analisis isi tuturan aural dan telaah nilai teks visual, catatan rubrik unjuk kerja membaca nyaring dan presentasi lisan perasaan tokoh secara berpasangan, serta lembar naskah cerita rakyat dengan kalimat kompleks dan kosakata bermakna denotatif-konotatif
  • tes tertulis serentak (menyimak dan membaca visual): lembar jawaban tertulis yang memuat hasil analisis isi tuturan cerita rakyat yang dibacakan guru (tokoh, latar, pesan pokok) dan hasil telaah nilai budi pekerti disertai kutipan kalimat pembukti dari teks cerita rakyat visual yang dibaca mandiri (25 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan kunci jawaban analisis teks cerita rakyat)
  • unjuk kerja berpasangan serentak (membaca nyaring dan presentasi lisan): penampilan murid membaca nyaring teks cerita rakyat dengan lafal tepat serta penyampaian perasaan imajinatif tokoh cerita secara lisan dengan kosakata kreatif yang dinilai guru menggunakan teknik sampling observasi berkeliling pada 14 pasang murid (28 murid) yang tampil simultan bergiliran dalam pasangannya (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja membaca nyaring dan penyampaian lisan ekspresif)
  • penilaian produk menulis serentak: naskah cerita rakyat sederhana karya murid berdasarkan imajinasi yang disusun menggunakan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif serta memuat kata-kata baru bermakna denotatif dan konotatif secara tepat konteks (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian produk menulis narasi cerita rakyat (struktur kalimat kompleks, kohesi imajinatif, ketepatan diksi denotatif-konotatif))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Isi Teks Aural dan Nilai Teks Visual (TP 6.2.1, TP 6.2.3)Menjawab tepat 1 unsur dari 4 butir acuan (tokoh, latar, pesan pokok, dan nilai budi pekerti beserta kutipan).Menjawab tepat 2 unsur dari 4 butir acuan (tokoh, latar, pesan pokok, dan nilai budi pekerti beserta kutipan).Menjawab tepat 3 unsur dari 4 butir acuan (tokoh, latar, pesan pokok, dan nilai budi pekerti beserta kutipan).Menjawab tepat seluruh 4 unsur acuan secara lengkap dan disertai kutipan pembukti yang persis sesuai teks.
Membaca Fasih Kata Pola Huruf dan Menyampaikan Perasaan Tokoh (TP 6.2.2, TP 6.2.4)Membaca kata pola konsonan bergabung dan diftong dengan banyak mengeja/terbata-bata (kurang dari 3 kata tepat dari 6 kata target: kelompok, prakarsa, tragedi, sungai, danau, berdaulat), serta belum menggunakan kosakata puitis/kiasan saat menyampaikan perasaan tokoh.Membaca 3-4 kata target dengan fasih tanpa mengeja, dan menyampaikan perasaan tokoh dengan 1 kosakata kiasan/puitis.Membaca 5 kata target dengan fasih tanpa mengeja atau jeda ragu, dan menyampaikan perasaan tokoh secara indah menggunakan minimal 2 kosakata kiasan/puitis secara tepat.Membaca seluruh 6 kata target dengan sangat fasih dan lancar mandiri, serta menyampaikan perasaan tokoh secara indah menggunakan lebih dari 2 kosakata kiasan/puitis secara kreatif.
Menulis Cerita Rakyat dengan Kalimat Kompleks dan Kosakata Denotatif-Konotatif (TP 6.2.5, TP 6.2.6)Tulisan cerita belum utuh 3 bagian, belum memuat kalimat bertingkat yang benar, dan penggunaan kata denotatif/konotatif belum sesuai konteks.Tulisan cerita memuat bagian awal-tengah-akhir, menggunakan minimal 1 kalimat kompleks bertingkat, serta memuat 1 kata denotatif dan 1 kata konotatif yang tepat konteks.Tulisan cerita utuh (awal, tengah, akhir), menggunakan minimal 2 kalimat kompleks bertingkat secara logis, serta memuat tepat minimal 2 kosakata denotatif dan 2 kosakata konotatif sesuai konteks makna.Tulisan cerita utuh dan runtut, seluruh paragraf dibangun dengan variasi kalimat kompleks bertingkat secara kreatif, serta memuat lebih dari 2 kosakata denotatif dan konotatif yang sangat variatif dan tepat makna.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pada masing-masing tugas asesmen sumatif (tulis, lisan berpasangan, dan produk menulis) berjalan efektif sesuai target waktu 70 menit?
  • Bagaimana capaian ketuntasan murid kelas 6 pada indikator analisis teks aural, pembacaan kata kompleks, dan penyusunan kalimat bertingkat Bab 2?

Murid:

  • Bagian mana dari tes sumatif cerita rakyat hari ini yang paling menantang untuk saya selesaikan?
  • Seberapa yakin saya telah menggunakan kalimat kompleks dan kata bermakna denotatif serta konotatif dengan tepat dalam cerita yang saya tulis?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2022)
  2. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD Kelas VI Bab 2
  3. Naskah Cerita Aural 'Kupu-Kupu Mira' karya Darwanto
  4. Kartu respon A-B-C-D untuk kuis menyimak
  5. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI SD (Kemendikbudristek 2022, Bab 2)
  6. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI SD (Kemendikbudristek 2022, Bab 2 Halaman 45-49)
  7. Teks aural cerita bergambar 'Kupu-Kupu Mira' karya Darwanto
  8. Set strip kalimat peristiwa alur cerita
  9. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI SD (Kemendikbudristek 2025)
  10. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI SD Bab 2 (Kemendikbudristek 2025)
  11. Rekaman audio/pembacaan teks cerita rakyat 'Doa-Doa dalam Sumur Tua' karya Darwanto
  12. Lembar analisis 'Detektif Pesan Cerita'
  13. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI SD/MI (Kemendikbudristek 2025)
  14. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI SD/MI
  15. Kartu kata berpola konsonan gabung (klan, prajurit, tradisi, klasik, pribadi, tragedi)
  16. Lembar teks cerita rakyat 'Prajurit Klan Teratai'
  17. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi), Bab 2 'Nusantara Berjuta Cerita'
  18. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VI: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi)
  19. Lembar kutipan teks cerita rakyat 'Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil'
  20. Kartu kata berpola diftong dan vokal rangkap
  21. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI SD/MI (Edisi Revisi 2025)
  22. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI SD/MI (Edisi Revisi 2025), Bab 2: Nusantara Berjuta Cerita
  23. Kartu kata berpola kompleks tiga suku kata atau lebih
  24. Lembar kutipan kalimat teks cerita rakyat Nusantara
  25. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Kemendikdasmen, 2025)
  26. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI Bab 2 Teks "Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil" halaman 50-51
  27. Lembar Kerja Analisis Nilai Budi Pekerti Cerita Rakyat
  28. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Edisi Revisi 2025)
  29. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI Bab 2 Halaman 70-71
  30. Buku pengayaan 'Jagapati Bumi' oleh Anna Farida (Kemendikdasmen)
  31. Set kartu permainan 'Cocok Kartu Nilai Lingkungan' dan Lembar Kerja Aktivitas 2.11
  32. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI Bab 2 Nusantara Berjuta Cerita
  33. Teks sastra cerita rakyat visual 'Kisah Petani Jujur dan Peri Hutan'
  34. Set kartu kutipan tindakan tokoh 'Detektif Nilai'
  35. Kartu Skenario Cerita Rakyat (A, B, C, D)
  36. Papan tulis dan daftar bank kata puitis
  37. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi 2025), Bab 2 Nusantara Berjuta Cerita
  38. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI (Edisi Revisi 2025)
  39. Kartu Kotak Kata Sakti berisi daftar kosakata kiasan dan skenario imajinatif cerita rakyat
  40. Buku Guru dan Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi, 2025)
  41. Kartu Skenario Cerita Rakyat (Skenario Nelayan Terhempas Ombak & Skenario Penemuan Telaga Ajaib)
  42. Kartu Bank Kosakata Kreatif Emosi Tokoh
  43. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Kemendikbudristek, Edisi Revisi 2024, Bab 2 Subbab E hlm. 104-105, 116)
  44. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI Bab 2 Aktivitas 2.15 hlm. 77-78
  45. Set kartu kata dan kartu makna denotatif-konotatif
  46. Lembar Kerja Murid (LKPD) Identifikasi Kalimat Denotatif dan Konotatif
  47. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Kemendikbudristek 2025) Bab 2
  48. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI Bab 2 Subbab E (Teks 'Legenda Telaga Pasir / Legenda Telaga Sarangan')
  49. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
  50. Set kartu kata 'Tebak Makna Kata'
  51. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI SD (Kemendikbudristek)
  52. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI SD, Bab 2 Subbab E
  53. Kartu Huruf D dan K untuk respons cepat
  54. Lembar kerja konteks kalimat narasi denotatif dan konotatif
  55. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Edisi Revisi), Bab 2
  56. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Edisi Revisi), Bab 2 Subbab E dan Kosakata Baru (halaman 82)
  57. Kartu kosakata bergambar (kata 'masyhur', 'bilik', 'cangkang', 'lubuk')
  58. Lembar Kerja Murid (LKPD) Menulis Kalimat Deskripsi Tokoh
  59. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI SD (Kemendikbudristek 2025, Bab 2)
  60. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI SD (Kemendikbudristek 2025, Bab 2: Nusantara Berjuta Cerita)
  61. Kartu Kata Permainan 'Tangga Emosi Kata' berisikan kosakata bermakna konotatif
  62. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi 2025)
  63. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi 2025), Bab 2
  64. Lembar Latihan Menulis Kalimat Kompleks Bertingkat
  65. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi 2025)
  66. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi 2025)
  67. Kartu Permainan Konjungsi 'Roda Konjungsi Cerita'
  68. Lembar Kerja Menulis Kalimat Kompleks Narasi Imajinatif
  69. Contoh teks perbandingan paragraf pembuka cerita rakyat (Paragraf A kalimat sederhana vs Paragraf B kalimat kompleks bertingkat)
  70. Set Kartu Imajinasi Tokoh & Latar (4 pilihan set inspirasi imajinatif)
  71. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi) Kelas VI SD/MI, Kemendikbudristek 2025.
  72. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi) Kelas VI SD/MI, Bab 2 Nusantara Berjuta Cerita.
  73. Draf Bagian Awal Cerita Rakyat karya murid (hasil Pertemuan 20).
  74. Kartu/Dadu Kosakata Konotatif Pembelajaran.
  75. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas VI SD/MI (Kemendikbudristek 2025)
  76. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI SD/MI (Kemendikbudristek 2025)
  77. Contoh kutipan teks cerita rakyat nusantara bagian penyelesaian
  78. Buku catatan dan lembar kerja penulisan cerita rakyat murid
  79. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2025). Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia (Edisi Revisi) untuk SD/MI Kelas VI.
  80. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VI SD/MI, Bab 2: 'Nusantara Berjuta Cerita'.
  81. Draf tulisan cerita rakyat bagian awal, tengah, dan akhir karya murid dari pertemuan sebelumnya.
  82. Papan tulis, lembar kerja periksa mandiri kalimat kompleks dan kosakata konotatif-denotatif.
  83. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI (Kemendikbudristek, 2025)
  84. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Anak-Anak yang Mengubah Dunia Kelas VI Bab 2 (Kemendikbudristek, 2025)
  85. Naskah teks cerita rakyat aural 'Kupu-Kupu Mira' dan teks visual 'Lembah Apapuhang'
  86. Lembar Soal dan Jawaban Asesmen Sumatif Bab 2

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.