MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 5 (Fase C) Topik: Bab 5 — Cinta Indonesia INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 5 |
|---|
| Topik | Bab 5 — Cinta Indonesia |
|---|
| Alokasi Waktu | 36 JP (36 x 35 menit = 1260 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 18 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
- TP 5.5.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang etika berkunjung ke tempat bersejarah dengan efektif dan santun
- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana cara kita mengetahui fakta pasti dari sebuah cerita tempat bersejarah yang dibacakan oleh orang lain?
- Informasi apa saja yang dapat kita temukan secara langsung dari teks yang kita dengarkan?
- Apa tanda atau kata penghubung yang biasa kita dengar ketika seseorang menjelaskan alasan terjadinya suatu peristiwa bersejarah?
- Mengapa sebuah benteng pertahanan masa lalu dipindahkan atau dialihfungsikan fungsinya oleh penguasa zaman dahulu?
- Bagaimana cara kita mengetahui apakah suatu pernyataan tentang fakta sejarah benar atau salah saat kita hanya mendengarkan bacaan?
- Mengapa kita perlu memeriksa kembali angka dan rincian fakta dari teks yang dibacakan orang lain?
- Apa makna istilah bersejarah seperti 'benteng pertahanan' atau 'asrama' ketika kita mendengar kisah tempat bersejarah?
- Bagaimana cara kita menemukan rincian fakta angka, tahun, atau nama khusus saat menyimak teks yang dibacakan?
- Informasi apa saja yang biasanya tercantum dalam sebuah brosur museum selain gambar?
- Bagaimana cara menemukan informasi pokok seperti lokasi dan jenis koleksi secara cepat dari teks visual brosur?
- Bagaimana kita bisa mengetahui jenis benda bersejarah apa saja yang dipamerkan di sebuah museum sebelum kita datang ke sana?
- Mengapa keterangan hari dan jam buka museum sangat penting diperiksa sebelum merencanakan kunjungan?
- Mengapa aturan di museum sering disajikan menggunakan gambar atau simbol, bukan hanya deretan kalimat panjang?
- Apa pesan yang ingin disampaikan oleh gambar kamera dengan garis silang merah yang terpasang di ruang pameran museum?
- Informasi apa saja yang biasanya tercantum pada tiket masuk tempat wisata atau museum?
- Bagaimana sebuah denah visual membantu kita menemukan ruangan tertentu di dalam museum?
- Bagaimana cara kita menyampaikan aturan berkunjung ke tempat bersejarah agar dipatuhi pengunjung lain tanpa menyinggung perasaan mereka?
- Mengapa gagasan tentang etika di museum perlu dipresentasikan dengan jelas dan santun?
- Mengapa fasilitas umum di museum atau benteng bersejarah seperti bangku taman, papan informasi, dan pagar pembatas tidak boleh dirusak?
- Bagaimana cara menyampaikan gagasan ajakan merawat fasilitas tempat bersejarah di depan teman-teman secara efektif dan menggunakan kata-kata yang santun?
- Mengapa kita dilarang mencoret dinding atau meraba artefak kuno saat mengunjungi tempat bersejarah?
- Bagaimana cara menyampaikan teguran atau larangan merusak fasilitas sejarah secara santun agar orang lain mau mematuhinya?
- Bagaimana cara kita menyampaikan gagasan tentang aturan di situs sejarah agar orang lain memahaminya dengan baik?
- Mengapa kita harus menggunakan bahasa yang santun saat mempresentasikan aturan berkunjung ke tempat bersejarah?
- Bagaimana kita menyusun urutan peristiwa berkunjung ke suatu tempat agar catatan pengalaman kita runtut?
- Mengapa penggunaan kalimat kompleks membuat cerita perjalanan menjadi lebih jelas dan menarik untuk dibaca?
- Bagaimana kata hubung seperti 'karena' atau 'sehingga' membuat cerita pengalamanmu lebih jelas dan menarik?
- Mengapa suatu peristiwa saat kita berkunjung ke tempat wisata atau bersejarah selalu memiliki sebab dan akibat?
- Bagaimana cara menuliskan waktu berkunjung dan jumlah tiket yang benar pada teks pengalaman agar pembaca memahaminya?
- Mengapa penulisan nama tempat bersejarah dan waktu kunjungan harus menggunakan huruf kapital dan tanda pemisah yang tepat?
- Bagaimana cara merangkai kalimat kompleks agar cerita pengalaman kunjunganmu terasa hidup dan menarik saat dibaca?
- Mengapa penggunaan kalimat kompleks yang bervariasi dapat membuat sebuah teks narasi pengalaman menjadi lebih enak dibaca dibandingkan kalimat tunggal pendek?
- Bagaimana cara kita memastikan kembali kebenaran informasi yang kita dengar dan lihat tentang tempat bersejarah?
- Bagaimana mengubah kalimat tunggal yang sederhana menjadi kalimat kompleks agar cerita pengalaman kunjungan kita menjadi lebih menarik dibaca?
- Bagaimana cara kita menyampaikan aturan dan etika berkunjung ke tempat bersejarah secara santun agar orang lain mudah memahaminya?
- Bagaimana kita menuangkan pengalaman mengunjungi suatu tempat ke dalam tulisan yang tersusun rapi menggunakan kalimat kompleks?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menganalisis Informasi Tersurat dari Teks Nonsastra Aural tentang Gedung Djoeang '45 — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan fokus kegiatan menyimak informasi tersurat dari teks tempat bersejarah (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik cepat dengan membacakan teks aural pembuka berupa 2 kalimat: 'Rani berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta pada hari Minggu pukul sembilan pagi. Tiket masuk museum seharga tiga ribu rupiah.' lalu mengajukan 2 pertanyaan lisan: (1) Di kota mana Museum Benteng Vredeburg berada? (acuan: Yogyakarta), (2) Berapa harga tiket masuknya? (acuan: tiga ribu rupiah) untuk memetakan kesiapan murid menemukan fakta tersurat teks aural (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menganalisis fakta tersurat dari teks nonsastra aural berjudul 'Berkunjung ke Gedung Djoeang 45 Solo' (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan singkat guru mengenai pengertian informasi tersurat, yaitu fakta nyata yang tertulis langsung di dalam teks dan dapat didengar secara jelas seperti waktu, jarak, tempat, dan alasan yang disebutkan terang-terangan (5 menit).
- Guru membacakan nyaring teks nonsastra 'Berkunjung ke Gedung Djoeang 45 Solo' paragraf 1 dan 2 secara perlahan dan jelas sementara murid menyimak fokus mencatat kata kunci data tersurat (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan kuis cepat 'Teka-Teki Fakta Djoeang' berpasangan untuk menguji daya ingat aural terhadap teks yang baru disimak secara menggembirakan dengan saling melempar tebakan kartu fakta teks (8 menit).
- Guru membacakan kembali teks secara utuh satu kali lagi agar murid dapat melengkapi rincian fakta secara tepat (5 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan lembar analisis informasi tersurat berisi 4 pertanyaan fakta teks nonsastra aural: (1) Kapan penulis cerita berkunjung ke Gedung Djoeang '45? (acuan: hari Sabtu), (2) Berapa jarak dari rumah penulis cerita ke Gedung Djoeang '45? (acuan: 20 km), (3) Mengapa pada masa penjajahan Belanda Gedung Djoeang '45 juga difungsikan sebagai asrama tentara? (acuan: karena Benteng Vastenburg di bagian utara tidak sanggup lagi menampung jumlah tentara), (4) Mengapa tokoh 'aku' merasa senang berkunjung ke Gedung Djoeang '45 Solo pada sore hari? (acuan: karena suasana sore hari sangat menyenangkan dan pendaran lampu membuat arsitektur gedung terlihat lebih indah) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama murid membahas kunci jawaban keempat butir soal dan murid mencocokkan hasil analisis informasi tersurat mereka untuk melihat ketepatan fakta yang telah disimak (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan cara efektif menemukan informasi tersurat dari teks yang didengar (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian menyimak murid hari ini serta menutup kegiatan pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, guru membacakan teks dengan jeda lebih pelan pada bagian kalimat kunci yang memuat angka dan waktu; untuk murid mahir, teks dibacakan dengan kecepatan wajar alami satu kali.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja dengan petunjuk kata tanya penuntun (kapan, berapa, mengapa); murid mahir langsung menganalisis secara mandiri.
- Produk: Semua murid menghasilkan analisis jawaban tersurat untuk 4 pertanyaan yang sama sesuai acuan teks aural.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik berdasarkan 2 kalimat aural tentang Benteng Vredeburg: Butir 1: 'Di mana letak Benteng Vredeburg?' (acuan: Yogyakarta); Butir 2: 'Berapa harga tiket masuknya?' (acuan: tiga ribu rupiah)
Proses:- Observasi partisipasi saat kuis pasangan 'Teka-Teki Fakta Djoeang' dan pemeriksaan lembar analisis informasi tersurat 4 butir: Butir 1 (acuan: hari Sabtu), Butir 2 (acuan: 20 km), Butir 3 (acuan: karena Benteng Vastenburg tidak sanggup lagi menampung tentara), Butir 4 (acuan: karena suasana sore menyenangkan dan pendaran lampu membuat arsitektur gedung terlihat lebih indah)
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir: Murid menyebutkan kembali 1 fakta tersurat tentang fungsi Gedung Djoeang '45 pada masa pendudukan Jepang (acuan: barak militer tentara Jepang)
Formatif:- Pemeriksaan ketepatan jawaban 4 butir pertanyaan analisis informasi tersurat dari teks aural Gedung Djoeang '45
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menganalisis informasi tersurat dari teks aural | Tepat menganalisis 1 dari 4 rincian informasi tersurat teks aural Gedung Djoeang '45 sesuai acuan kunci jawaban. | Tepat menganalisis 2 dari 4 rincian informasi tersurat teks aural Gedung Djoeang '45 sesuai acuan kunci jawaban. | Tepat menganalisis 3 dari 4 rincian informasi tersurat teks aural Gedung Djoeang '45 sesuai acuan kunci jawaban. | Tepat menganalisis seluruh (4 dari 4) rincian informasi tersurat teks aural Gedung Djoeang '45 secara mandiri sesuai acuan kunci jawaban (waktu kunjungan: hari Sabtu; jarak: 20 km; alasan asrama Belanda: Benteng Vastenburg tak cukup menampung tentara; alasan senang sore: suasana menyenangkan dan pendaran lampu memperindah gedung). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah kecepatan pembacaan teks aural sudah tepat dan membantu murid menangkap fakta tersurat?
- Berapa persen murid yang mampu menjawab minimal 3 pertanyaan tersurat dengan benar?
Murid:- Bagian teks mana yang paling mudah kamu ingat informasinya saat mendengarkan pembacaan tadi?
- Apa kesulitan yang kamu hadapi saat mencatat informasi berupa angka atau alasan dari teks yang dibacakan?
Pertemuan 2 — Menganalisis Hubungan Sebab-Akibat dari Teks Nonsastra Aural tentang Benteng Vastenburg — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan menyampaikan fokus menyimak informasi hubungan sebab-akibat dari teks tempat bersejarah (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal dengan membacakan satu kalimat sebab-akibat pendek: 'Benteng Vastenburg didirikan di pusat kota Surakarta agar pemerintah kolonial Belanda dapat mengawasi pergerakan keraton.' Guru menanyakan: 'Apa penyebab Benteng didirikan di pusat kota?' (acuan: agar/karena Belanda ingin mengawasi pergerakan keraton) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperdengarkan teks nonsastra aural berjudul 'Benteng Vastenburg dan Jejak Sejarahnya' yang dibacakan secara runtut: 'Benteng Vastenburg dibangun pada tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Benteng ini dibangun karena Belanda ingin memantau penguasa Keraton Kasunanan Surakarta. Di sekeliling benteng terdapat parit pertahanan yang dalam sehingga musuh tidak mudah menerobos masuk. Seiring waktu, jumlah prajurit Belanda terus bertambah melampaui daya tampung benteng, akibatnya asrama militer dipindahkan ke Gedung Djoeang 45 di sebelah selatannya. Setelah masa kemerdekaan, benteng ini sempat terbengkalai sebab tidak ada perawatan rutin dari instansi terkait. Namun, pemerintah daerah kini memugarnya kembali agar kawasan bersejarah ini menjadi ruang publik edukatif bagi masyarakat.' (10 menit).
- Murid bersama bimbingan guru menganalisis kata penanda hubungan sebab-akibat (karena, sehingga, akibatnya, sebab, agar) yang terdengar dalam paparan teks aural tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berpasangan memainkan tantangan menggembirakan 'Pasangan Logika Sejarah': murid menyimak kembali pembacaan teks oleh guru, lalu memasangkan 4 kartu sebab dengan 4 kartu akibat yang dibagikan guru di meja: (1) Sebab: 'Belanda ingin memantau penguasa Keraton Surakarta' dipasangkan dengan Akibat: 'Benteng Vastenburg didirikan di Surakarta pada tahun 1745'; (2) Sebab: 'Di sekeliling benteng dibuat parit pertahanan yang dalam' dipasangkan dengan Akibat: 'Musuh tidak mudah menerobos masuk benteng'; (3) Sebab: 'Jumlah prajurit Belanda bertambah melampaui daya tampung benteng' dipasangkan dengan Akibat: 'Asrama militer dipindahkan ke Gedung Djoeang 45'; (4) Sebab: 'Benteng sempat tidak mendapat perawatan rutin pascakemerdekaan' dipasangkan dengan Akibat: 'Kondisi benteng sempat terbengkalai' (acuan pasangan: 1-1, 2-2, 3-3, 4-4) (15 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan lembar analisis hubungan sebab-akibat berdasarkan teks aural yang dibacakan ulang oleh guru, menentukan hubungan sebab-akibat untuk 4 butir peristiwa sejarah secara tepat sesuai isi simakan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa ketepatan analisis pasangan hubungan sebab-akibat bersama arahan konfirmasi guru dan menyimpulkan pentingnya menangkap relasi sebab-akibat saat menyimak teks sejarah (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan menyimak relasi kausalitas pada teks tempat bersejarah dan menginformasikan topik simakan pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan menyimak teks aural dengan pembacaan guru berkecepatan lebih lambat serta penekanan pada kata hubung kausalitas.
- Proses: Murid yang sudah cepat langsung menganalisis hubungan sebab-akibat tanpa bantuan kartu bantu petunjuk, sedangkan murid yang berkembang didukung kartu potongan kalimat.
- Produk: Semua murid menghasilkan lembar analisis hubungan sebab-akibat yang sama tingkat ketepatannya sesuai teks aural.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan singkat untuk mengidentifikasi kesiapan menganalisis sebab-akibat aural: Guru membacakan kalimat 'Benteng Vastenburg didirikan di pusat kota Surakarta agar pemerintah kolonial Belanda dapat mengawasi pergerakan keraton.' Pertanyaan: 'Apa penyebab benteng didirikan di pusat kota?' (acuan: keinginan pemerintah kolonial Belanda mengawasi pergerakan keraton).
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan murid saat tantangan berpasangan mencocokkan 4 kartu sebab dan akibat dari teks simakan 'Benteng Vastenburg dan Jejak Sejarahnya' (acuan pasangan: [1] Belanda ingin memantau keraton -> Benteng dibangun di Surakarta; [2] Parit pertahanan dalam -> Musuh tidak mudah menerobos; [3] Prajurit melebihi kapasitas benteng -> Asrama dipindah ke Gedung Djoeang 45; [4] Tidak ada perawatan rutin pascakemerdekaan -> Kondisi benteng sempat terbengkalai).
Akhir Pertemuan:- Pengerjaan lembar analisis mandiri menentukan pasangan sebab-akibat dari 4 butir peristiwa teks aural Benteng Vastenburg: (1) Peristiwa: Pembangunan Benteng Vastenburg di Surakarta (Sebab acuan: Belanda ingin memantau penguasa Keraton Kasunanan Surakarta); (2) Peristiwa: Musuh sulit menerobos pertahanan benteng (Sebab acuan: Terdapat parit pertahanan yang dalam di sekeliling benteng); (3) Peristiwa: Pemindahan asrama militer ke Gedung Djoeang 45 (Sebab acuan: Jumlah prajurit Belanda melampaui daya tampung benteng); (4) Peristiwa: Benteng Vastenburg sempat terbengkalai setelah masa kemerdekaan (Sebab acuan: Tidak adanya perawatan rutin dari instansi terkait).
Formatif:- Unjuk kerja berpasangan mencocokkan kartu sebab-akibat dari teks aural
- Tes tertulis formatif berupa lembar analisis menentukan 4 pasangan sebab-akibat dari teks nonsastra aural
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menganalisis hubungan sebab-akibat dari teks nonsastra aural | Belum mampu menentukan pasangan sebab-akibat dengan tepat (0-1 butir tepat dari 4 butir acuan). | Mampu menentukan 2 butir pasangan sebab-akibat dari teks nonsastra aural secara tepat dari 4 butir acuan. | Mampu menentukan 3 butir pasangan sebab-akibat dari teks nonsastra aural secara tepat dari 4 butir acuan. | Mampu menentukan seluruh 4 butir pasangan sebab-akibat dari teks nonsastra aural secara tepat dan mandiri sesuai acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah artikulasi dan tempo pembacaan teks nonsastra aural memudahkan murid menangkap informasi hubungan sebab-akibat?
- Apakah murid dapat membedakan secara jelas antara peristiwa yang menjadi sebab dengan peristiwa yang menjadi akibat?
Murid:- Kata hubung apa yang paling membantuku menemukan alasan atau akibat terjadinya suatu peristiwa dalam teks tadi?
- Bagian mana dari sejarah Benteng Vastenburg yang paling mudah kupahami hubungan sebab-akibatnya?
Pertemuan 3 — Menganalisis Kebenaran Pernyataan dari Teks Nonsastra Aural tentang Monumen Kapal Selam — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kelas agar siap menyimak teks nonsastra aural (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis kebenaran pernyataan berdasarkan teks aural tentang tempat bersejarah Monumen Kapal Selam (2 menit).
- Asesmen Awal: Guru membacakan secara lisan 2 pernyataan uji singkat: (1) 'Monumen Kapal Selam berada di kota Semarang' dan (2) 'KRI Pasopati 410 adalah kapal selam bersejarah'. Murid merespons benar/salah secara lisan untuk memetakan kemampuan dasar memvalidasi informasi simakan (acuan kunci: pernyataan 1 Salah/Palsu karena di Surabaya; pernyataan 2 Benar) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak dengan saksama pembacaan teks nonsastra aural oleh guru berjudul 'Monumen Kapal Selam' yang memuat rincian: peran KRI Pasopati 410 dalam pembebasan Irian Barat tahun 1963, ukuran panjang 76,6 meter, lebar 6,3 meter, berat 1.300 ton, kecepatan 18,3 knot di atas permukaan laut dan 13,6 knot di bawah permukaan laut, muatan 12 torpedo uap gas panjang 7 meter, kapasitas 63 awak kapal termasuk kapten, alamat di Jalan Pemuda 39 Surabaya, tiket masuk Rp15.000 per orang, serta waktu kunjung Selasa—Minggu (10 menit).
- Guru memberikan pemodelan cara menganalisis kebenaran suatu pernyataan aural dengan mencocokkan fakta rincian angka, nama tempat, dan peristiwa sejarah yang baru saja disimak (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan Cepat 'Detektif Fakta': Guru membacakan satu per satu 4 pernyataan uji cepat, murid mengangkat kartu hijau (Benar) atau kartu merah (Salah) secara serentak dengan penuh antusias: (1) 'KRI Pasopati 410 memiliki panjang 76,6 meter' (Benar), (2) 'Kapasitas kapal dapat memuat 100 awak kapal' (Salah, acuan: 63 awak), (3) 'Monumen Kapal Selam beralamat di Jalan Pemuda 39, Surabaya' (Benar), (4) 'Tiket masuk museum seharga 50.000 rupiah' (Salah, acuan: 15.000 rupiah) (10 menit).
- Murid mengerjakan Lembar Kerja Mandiri 'Menganalisis Kebenaran Pernyataan' berisi 5 butir pernyataan berdasarkan teks aural yang telah dibacakan: (1) 'KRI Pasopati 410 pernah terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat pada tahun 1963', (2) 'Berat kapal selam KRI Pasopati 410 adalah 2.000 ton', (3) 'Kapal selam ini dilengkapi dengan 12 torpedo uap gas berukuran panjang tujuh meter', (4) 'Pengunjung dapat mengunjungi Monumen Kapal Selam pada hari Senin', (5) 'Kecepatan KRI Pasopati 410 mencapai 18,3 knot di atas permukaan laut' (acuan kunci: 1 = Benar, 2 = Salah [seharusnya 1.300 ton], 3 = Benar, 4 = Salah [seharusnya Selasa—Minggu], 5 = Benar) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis lembar kerja berdasarkan teks simakan dan memeriksa bukti letak kebenaran atau kesalahan masing-masing pernyataan (acuan: butir 1, 3, 5 Benar; butir 2 dan 4 Salah) (5 menit).
- Murid mengevaluasi strategi menyimak yang digunakannya dalam menangkap rincian angka dan fakta teks aural (5 menit).
Penutup:- Asesmen Akhir: Guru memberikan 1 butir cek pemahaman lisan penutup: 'KRI Pasopati 410 memiliki berat 1.300 ton, apakah pernyataan ini Benar atau Salah sesuai teks aural tadi?' Murid menjawab serentak/tertulis cepat (acuan kunci: Benar) (5 menit).
- Guru menyampaikan simpulan kegiatan analisis informasi teks aural, mengapresiasi ketelitian murid dalam menyimak rincian fakta sejarah, dan menginformasikan fokus pertemuan berikutnya (menganalisis kosakata khusus dan rincian fakta) tanpa menutup bab (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, guru membacakan ulang teks bagian spesifik (data teknis kapal atau data operasional kunjungan). Untuk murid mahir, teks hanya dibacakan satu kali secara utuh dengan kecepatan wajar.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan fokus kata kunci angka sebelum menganalisis; murid mahir menganalisis mandiri seluruh butir pernyataan beserta pembetulan informasi yang salah.
- Produk: Murid reguler dan bimbingan menentukan tanda Benar/Salah pada 5 butir pernyataan; murid mahir menambahkan perbaikan fakta yang benar pada butir yang bernilai salah.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik pada awal pembelajaran: guru membacakan 2 pernyataan singkat tentang Monumen Kapal Selam: (1) 'Monumen Kapal Selam berada di kota Semarang' (acuan kunci: Salah/Palsu, seharusnya Surabaya), (2) 'KRI Pasopati 410 adalah kapal selam bersejarah' (acuan kunci: Benar). Murid dinilai kesiapannya dalam memverifikasi kebenaran informasi aural.
Proses:- Formatif pada kegiatan inti: Lembar Kerja Menganalisis Kebenaran 5 Pernyataan teks aural 'Monumen Kapal Selam'. Butir soal dan acuan kunci: (1) 'KRI Pasopati 410 pernah terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat pada tahun 1963' (Benar); (2) 'Berat kapal selam KRI Pasopati 410 adalah 2.000 ton' (Salah, seharusnya 1.300 ton); (3) 'Kapal selam ini dilengkapi dengan 12 torpedo uap gas berukuran panjang tujuh meter' (Benar); (4) 'Pengunjung dapat mengunjungi Monumen Kapal Selam pada hari Senin' (Salah, museum buka Selasa—Minggu); (5) 'Kecepatan KRI Pasopati 410 mencapai 18,3 knot di atas permukaan laut' (Benar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir pembelajaran: Guru membacakan 1 pernyataan konfirmasi: 'KRI Pasopati 410 memiliki berat 1.300 ton, Benar atau Salah sesuai teks yang kalian simak?' (acuan kunci: Benar).
Formatif:- Tes lisan diagnostik kesiapan memvalidasi pernyataan aural pada pendahuluan
- Observasi unjuk kerja permainan respon cepat 'Detektif Fakta'
- Penilaian kinerja tertulis lembar kerja menganalisis 5 butir pernyataan Benar/Salah berdasarkan teks aural
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menganalisis kebenaran pernyataan dari teks nonsastra aural | Menganalisis kebenaran pernyataan dengan tepat paling banyak 1 dari 5 pernyataan berdasarkan teks aural Monumen Kapal Selam. | Menganalisis kebenaran pernyataan dengan tepat sebanyak 2 sampai 3 dari 5 pernyataan berdasarkan teks aural Monumen Kapal Selam. | Menganalisis kebenaran pernyataan dengan tepat sebanyak 4 dari 5 pernyataan berdasarkan teks aural Monumen Kapal Selam secara mandiri. | Menganalisis kebenaran pernyataan dengan tepat pada seluruh (5 dari 5) pernyataan berdasarkan teks aural Monumen Kapal Selam secara mandiri dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah artikulasi dan intonasi pembacaan teks aural sudah cukup jelas didengar oleh seluruh murid di ruang kelas?
- Bagian data rincian teks mana (angka spesifikasi teknis atau jadwal/lokasi) yang paling banyak memicu keraguan murid saat menganalisis kebenaran pernyataan?
Murid:- Bagian mana dari rincian Monumen Kapal Selam yang paling mudah atau paling menantang untuk kamu ingat saat menyimak?
- Cara apa yang membantumu lebih teliti membedakan pernyataan yang benar dan yang salah dari teks yang dibacakan guru?
Pertemuan 4 — Menganalisis Kosakata Khusus dan Rincian Fakta dari Teks Nonsastra Aural Tempat Bersejarah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu menyimak teks aural untuk menganalisis kosakata khusus dan rincian fakta sejarah (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan satu kalimat: 'Benteng pertahanan itu dibangun pada abad ke-18 oleh arsitek Belanda' lalu meminta murid menentukan makna kata 'benteng' dan fakta angka abad (acuan: benteng = bangunan tempat bertahan dari serangan musuh; fakta abad = abad ke-18) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta alur kegiatan menyimak terbimbing dan tantangan analisis kosakata (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membacakan teks aural nonsastra berjudul 'Kompleks Bersejarah Benteng Pendem Cilacap': 'Benteng Pendem di Cilacap merupakan benteng peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1861 hingga 1876. Kata pendem berasal dari bahasa Jawa yang berarti terpendam atau tertimbun tanah. Kompleks pertahanan seluas 6,5 hektare ini memiliki fasilitas berupa barak prajurit, parit perlindungan, dan benteng pengintai' (7 menit).
- Murid menyimak dan mencatat rincian fakta serta menemukan kosakata khusus yang terdengar dengan panduan pertanyaan fokus guru (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan tantangan menyimak 'Teka Rincian dan Kosakata': guru membacakan 4 butir fakta rumpang dan 4 kosakata khusus dari teks aural, kemudian murid secara mandiri melengkapi lembar kerja (15 menit).
- Murid menganalisis dan memasangkan 4 kosakata khusus berikut dengan maknanya: (1) Kolonial -> pemerintah penjajahan; (2) Barak -> gedung/asrama tentara; (3) Parit -> selokan besar penahan musuh di sekitar benteng; (4) Pengintai -> tempat mengamati gerak musuh (acuan: pasangan makna tepat tersebut) (10 menit).
- Murid menganalisis 4 rincian fakta dari teks yang diperdengarkan: (1) Tahun awal pembangunan benteng (acuan: 1861); (2) Tahun selesai pembangunan benteng (acuan: 1876); (3) Luas kompleks benteng (acuan: 6,5 hektare); (4) Arti kata pendem dalam bahasa Jawa (acuan: terpendam atau tertimbun tanah) (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa ketepatan hasil analisis kosakata khusus dan rincian fakta berdasarkan kunci verifikasi yang dibacakan kembali oleh guru (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya ketelitian menangkap makna kosakata khusus dan data rincian fakta saat menyimak teks nonsastra tempat bersejarah (3 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa satu pertanyaan cek pemahaman singkat dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan menyimak teks yang dibacakan dengan tempo lebih lambat dan penekanan jeda pada kosakata target, sedangkan murid mahir menyimak teks dengan kecepatan wajar satu kali pembacaan.
- Proses: Murid dengan kesiapan belajar rendah diberikan glosarium bantuan bertaraf parsial untuk mencocokkan makna kosakata, sedangkan murid berkemampuan tinggi langsung menganalisis arti kata berdasarkan konteks kalimat aural.
- Produk: Semua murid menghasilkan analisis 4 kosakata khusus dan 4 rincian fakta pada lembar kerja.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik menyimak singkat: Guru membacakan satu kalimat 'Benteng pertahanan itu dibangun pada abad ke-18 oleh arsitek Belanda'. Murid menjawab lisan arti kata 'benteng' (acuan: bangunan pertahanan dari serangan) dan fakta waktu pembangunan (acuan: abad ke-18).
Proses:- Formatif lembar tugas menganalisis teks aural 'Kompleks Bersejarah Benteng Pendem Cilacap': (A) Menjodohkan 4 kosakata khusus: (1) Kolonial -> pemerintah penjajahan; (2) Barak -> gedung/asrama tentara; (3) Parit -> selokan besar penahan musuh di sekitar benteng; (4) Pengintai -> tempat mengamati gerak musuh. (B) Mengisi 4 rincian fakta: (1) Tahun awal bangun (acuan: 1861); (2) Tahun selesai (acuan: 1876); (3) Luas kompleks (acuan: 6,5 hektare); (4) Arti kata pendem (acuan: terpendam atau tertimbun tanah).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan: Murid menjawab satu rincian fakta spesifik yang disimak: 'Sebutkan salah satu fasilitas yang terdapat di Benteng Pendem sesuai teks aural!' (acuan: barak prajurit, parit perlindungan, atau benteng pengintai).
Formatif:- Tes tertulis objektif isian rincian fakta dan menjodohkan kosakata khusus berdasarkan teks aural yang disimak
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menganalisis makna kosakata khusus dari teks aural | Menganalisis 0-1 makna kosakata khusus secara tepat dari 4 target (acuan: kolonial, barak, parit, pengintai). | Menganalisis 2 makna kosakata khusus secara tepat dari 4 target (acuan: kolonial, barak, parit, pengintai). | Menganalisis 3 makna kosakata khusus secara tepat dari 4 target (acuan: kolonial, barak, parit, pengintai). | Menganalisis seluruh (4) makna kosakata khusus secara tepat (acuan: kolonial -> pemerintah penjajahan; barak -> gedung/asrama tentara; parit -> selokan besar penahan musuh; pengintai -> tempat mengamati musuh). | | Ketepatan menganalisis rincian fakta dari teks aural | Menganalisis 0-1 rincian fakta secara tepat dari 4 butir target fakta teks Benteng Pendem. | Menganalisis 2 rincian fakta secara tepat dari 4 butir target fakta teks Benteng Pendem. | Menganalisis 3 rincian fakta secara tepat dari 4 butir target fakta teks Benteng Pendem. | Menganalisis seluruh (4) rincian fakta secara tepat (acuan: 1861, 1876, 6,5 hektare, terpendam/tertimbun tanah). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah artikulasi dan tempo pembacaan teks aural sudah memfasilitasi murid dalam mencatat rincian fakta angka dan nama tempat?
- Apakah murid mengalami kesulitan dalam menganalisis kosakata khusus yang belum lazim didengar dalam keseharian?
Murid:- Bagian rincian fakta mana yang paling mudah kamu temukan saat mendengarkan teks tadi?
- Kosakata khusus apa yang baru kamu ketahui artinya setelah menyimak bacaan tentang benteng bersejarah?
Pertemuan 5 — Menganalisis Informasi Pokok dalam Teks Visual Brosur Museum Negeri Provinsi Papua — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran, menyapa murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menampilkan satu contoh cuplikan poster mini museum lalu meminta murid menjawab 2 pertanyaan diagnostik untuk memetakan kemampuan membaca teks visual: (1) Apa nama tempat pada poster? (2) Di mana lokasinya? (acuan: poster contoh bertuliskan 'Museum Bahari, Jl. Pasar Ikan No. 1 Jakarta'; jawaban tepat: (1) Museum Bahari, (2) Jl. Pasar Ikan No. 1 Jakarta) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis 4 informasi pokok dalam teks visual brosur Museum Negeri Provinsi Papua (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati teks visual brosur 'Museum Negeri Provinsi Papua' yang memuat: Judul Brosur ('Museum Negeri Provinsi Papua'), Alamat ('Jalan Raya Sentani, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Jayapura'), Ciri Bangunan ('Menyerupai rumah adat Kariwari dengan atap cokelat kemerahan'), dan Jenis Koleksi Utama ('Lukisan, patung, alat musik tradisional, dan perlengkapan upacara adat Papua') (7 menit).
- Guru memodelkan cara menganalisis teks visual dengan teknik memindai bagian judul, teks keterangan, dan gambar pendukung untuk menemukan informasi pokok (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan tantangan berpasangan 'Detektif Visual Cepat Tepat': guru menyebutkan satu kategori informasi (misalnya: jenis koleksi), pasangan murid berlomba menemukan dan menunjuk letak informasi tersebut pada brosur dalam hitungan 10 detik (10 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Analisis Brosur dengan menuliskan 4 informasi pokok yang terdapat dalam brosur teks visual: (1) Nama Museum, (2) Alamat/Lokasi Lengkap, (3) Bentuk Arsitektur/Bangunan, dan (4) Koleksi Budaya yang Dipamerkan (acuan: (1) Museum Negeri Provinsi Papua; (2) Jalan Raya Sentani, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Jayapura; (3) Menyerupai rumah adat Kariwari / beratap cokelat kemerahan; (4) Lukisan, patung, alat musik tradisional, dan perlengkapan upacara adat Papua) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis informasi pokok dengan kunci acuan pada brosur untuk mengevaluasi ketepatan pemahaman membaca teks visual secara mandiri (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan 4 informasi pokok yang berhasil dianalisis dari teks visual brosur Museum Negeri Provinsi Papua (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas ketepatan analisis informasi murid dan menutup pembelajaran dengan salam serta doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan brosur dengan penanda warna visual pada bagian teks kunci, sedangkan murid yang mahir menganalisis brosur tanpa penanda.
- Proses: Murid yang masih kesulitan membaca teks visual dipandu dengan pertanyaan penuntun per bagian brosur, sedangkan murid yang cepat langsung menganalisis keempat poin secara mandiri.
- Produk: Murid menuliskan 4 informasi pokok; murid yang memerlukan bimbingan boleh melengkapi format isian terstruktur, murid yang mahir menuliskan analisis dalam tabel mandiri secara lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik menganalisis teks visual poster mini Museum Bahari: (1) Apa nama tempat pada poster? (2) Di mana lokasinya? (acuan: (1) Museum Bahari; (2) Jl. Pasar Ikan No. 1 Jakarta. Kriteria: murid siap jika mampu menemukan minimal 1 informasi teks visual dengan tepat)
Proses:- Pemeriksaan hasil pengerjaan Lembar Analisis Brosur berisi 4 informasi pokok teks visual brosur Museum Negeri Provinsi Papua: (1) Nama museum, (2) Alamat/lokasi, (3) Ciri bangunan, (4) Jenis koleksi (acuan kunci: (1) Museum Negeri Provinsi Papua; (2) Jalan Raya Sentani, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Jayapura; (3) Menyerupai rumah adat Kariwari/beratap cokelat kemerahan; (4) Lukisan, patung, alat musik tradisional, dan perlengkapan upacara adat Papua)
Akhir Pertemuan:- Pengecekan mandiri pada akhir pembelajaran terhadap ketepatan 4 informasi pokok teks visual brosur yang telah dianalisis (acuan: keterpenuhan 4 butir informasi pokok sesuai kunci Lembar Analisis Brosur)
Formatif:- Penilaian proses unjuk kerja analisis informasi pokok dari teks visual brosur menggunakan lembar tugas mandiri dan rubrik ketercapaian
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis informasi pokok dalam teks visual brosur museum | Menganalisis dengan tepat 1 dari 4 informasi pokok dalam teks visual brosur (acuan: (1) Museum Negeri Provinsi Papua; (2) Jalan Raya Sentani, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Jayapura; (3) Menyerupai rumah adat Kariwari/atap cokelat kemerahan; (4) Lukisan, patung, alat musik tradisional, dan perlengkapan upacara adat Papua) | Menganalisis dengan tepat 2 dari 4 informasi pokok dalam teks visual brosur sesuai acuan kunci | Menganalisis dengan tepat 3 dari 4 informasi pokok dalam teks visual brosur sesuai acuan kunci secara mandiri | Menganalisis dengan tepat seluruh 4 informasi pokok dalam teks visual brosur sesuai acuan kunci secara mandiri dan lengkap |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan teks visual brosur efektif membantu murid memahami cara menganalisis informasi pokok?
- Bagian mana dari teks visual yang paling menantang bagi murid untuk diidentifikasi secara tepat?
Murid:- Informasi pokok apa yang paling mudah dan paling sulit kamu temukan pada brosur tadi?
- Bagaimana cara teks visual membantumu mengenali Museum Negeri Provinsi Papua?
Pertemuan 6 — Menganalisis Keterangan Koleksi dan Jadwal Kunjung dalam Teks Visual Profil Museum — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menganalisis keterangan koleksi dan jadwal kunjung dari teks visual profil museum (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan potongan infografik mini bertuliskan 'Museum Bahari: Koleksi Perahu Tradisional & Alat Navigasi | Buka: Selasa-Minggu 09.00-15.00 WIB' lalu meminta murid menuliskan hari tutup museum dan salah satu koleksinya pada secarik kertas kecil (acuan: hari tutup = Senin; koleksi = perahu tradisional atau alat navigasi) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati teks visual lembar profil Museum Negeri Provinsi Papua yang ditayangkan di papan tulis atau dibagikan per meja, memuat informasi: Ruang Koleksi Etnografi (alat musik tifa, pakaian kulit kayu), Ruang Koleksi Arkeologi (kapak lonjong, fosil kerang), serta Jadwal Kunjung: Selasa s.d. Sabtu pukul 08.30 - 14.30 WIT, Minggu pukul 10.00 - 15.00 WIT, Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP (10 menit).
- Guru memandu murid membedah posisi tata letak teks visual, mengidentifikasi ikon kalender/jam untuk jadwal operasional serta kolom galeri foto untuk keterangan jenis koleksi (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti tantangan permainan berpasangan 'Detektif Jadwal & Koleksi' secara ceria dan bersemangat, yaitu mencocokkan 4 kartu skenario pengunjung dengan informasi teks visual: (1) Rombongan ingin melihat pakaian adat kulit kayu -> menuju Ruang Koleksi Etnografi; (2) Kunjungan pada hari Senin pukul 09.00 -> museum TUTUP; (3) Kunjungan hari Minggu pukul 11.00 -> museum BUKA; (4) Peneliti ingin melihat fosil kerang prasejarah -> menuju Ruang Koleksi Arkeologi (10 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Analisis Teks Visual yang berisi 4 pertanyaan analisis: (1) Sebutkan 2 ruang pameran beserta jenis benda yang disimpan di dalamnya! (acuan: Ruang Etnografi berisi alat musik tifa/pakaian kulit kayu; Ruang Arkeologi berisi kapak lonjong/fosil kerang); (2) Pada hari apa saja masyarakat umum tidak dapat berkunjung ke museum? (acuan: hari Senin dan Hari Libur Nasional); (3) Jika siswa tiba di museum hari Minggu pukul 09.00 WIT, apakah sudah bisa masuk? Jelaskan alasannya berdasarkan teks! (acuan: belum bisa masuk, karena pada hari Minggu museum baru buka pukul 10.00 WIT); (4) Apa perbedaan jam buka operasional museum antara hari kerja (Selasa-Sabtu) dan hari Minggu? (acuan: Selasa-Sabtu buka mulai 08.30 WIT tutup 14.30 WIT / durasi 6 jam, sedangkan hari Minggu buka mulai 10.00 WIT tutup 15.00 WIT / durasi 5 jam) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis lembar kerja secara teliti dengan menandai rincian visual yang menjadi rujukan jawaban pada teks profil (7 menit).
- Murid menyimpulkan fungsi penataan visual (pemakaian tabel jadwal dan pembagian ruang koleksi) dalam mempermudah pembaca menemukan informasi penting secara cepat (3 menit).
Penutup:- Murid dan guru merangkum poin penting analisis teks visual keterangan koleksi dan jadwal kunjung museum (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap ketelitian murid dalam membaca bagan/tabel visual dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual dengan penandaan warna pembeda antara blok koleksi dan blok jam kunjung; murid cepat diberikan teks visual profil museum tambahan dengan format tabel multi-zona.
- Proses: Murid yang masih kesulitan membaca tabel jadwal didampingi guru membaca baris demi baris; murid yang sudah mahir menganalisis langsung secara mandiri.
- Produk: Semua murid mengisi 4 butir pertanyaan analisis teks visual dengan rincian bukti sesuai teks profil museum.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tertulis singkat sebelum kegiatan inti: murid membaca potongan kartu visual infografik mini ('Museum Bahari: Koleksi Perahu Tradisional & Alat Navigasi | Buka: Selasa-Minggu 09.00-15.00 WIB') lalu menuliskan hari tutup operasional dan salah satu koleksi yang dipamerkan (acuan jawaban: Hari tutup = Senin; Koleksi yang dipamerkan = perahu tradisional atau alat navigasi).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan 4 jawaban pada Lembar Analisis Teks Visual profil Museum Negeri Provinsi Papua selama tahap Mengaplikasi dengan acuan: (1) Ruang Etnografi (alat musik tifa / pakaian kulit kayu) dan Ruang Arkeologi (kapak lonjong / fosil kerang); (2) Hari Senin dan Hari Libur Nasional; (3) Belum bisa masuk karena museum baru buka pukul 10.00 WIT pada hari Minggu; (4) Selasa-Sabtu buka pukul 08.30-14.30 WIT sedangkan Minggu buka pukul 10.00-15.00 WIT.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri di akhir pertemuan melalui 1 butir pertanyaan telaah cepat: 'Berdasarkan teks visual yang dipelajari, jika seorang turis hanya punya waktu berkunjung hari Selasa pukul 14.00 WIT, apakah dia masih diizinkan berkunjung dan ruang apa yang dapat ia temukan?' (acuan: Ya, masih diizinkan karena museum buka hingga pukul 14.30 WIT; ia dapat menemukan Ruang Etnografi dan/atau Ruang Arkeologi).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal membaca cepat potongan jadwal dan koleksi
- Observasi unjuk kerja pencocokan kartu skenario berpasangan
- Pemeriksaan lembar analisis teks visual keterangan koleksi dan jadwal kunjung museum
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Keterangan Koleksi Museum pada Teks Visual | Belum mampu mengidentifikasi nama ruang maupun jenis benda koleksi dari teks visual profil museum (0 dari 2 rincian tepat). | Mampu mengidentifikasi 1 ruang atau 1 jenis benda koleksi dari teks visual profil museum secara tepat sesuai acuan teks. | Mampu menganalisis 2 nama ruang beserta benda koleksinya (Ruang Etnografi dan Ruang Arkeologi) dari teks visual secara tepat dengan sedikit bimbingan guru. | Mampu menganalisis 2 nama ruang beserta seluruh jenis benda koleksinya dari teks visual secara tepat, lengkap, dan mandiri tanpa bimbingan. | | Menganalisis Jadwal Kunjung Museum pada Teks Visual | Belum mampu menemukan keterangan hari operasional dan jam kunjung pada teks visual profil museum secara tepat. | Mampu menemukan jam buka kunjung pada hari kerja, namun keliru menentukan jam buka hari libur atau hari tutup museum. | Mampu menganalisis jadwal kunjung (hari buka, hari tutup, dan perbedaan jam operasional hari kerja serta Minggu) dengan tepat sesuai acuan teks visual. | Mampu menganalisis jadwal kunjung secara komprehensif, tepat, dan mandiri serta mampu menjelaskan konsekuensi waktu kunjungan berdasarkan rincian jadwal pada teks visual. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks visual profil museum yang disajikan cukup terbaca jelas dan menarik minat murid dalam menelaah informasi koleksi dan jadwal?
- Bagian mana dari analisis jadwal kunjung (membaca jam atau hari libur) yang paling sering menimbulkan kekeliruan pada murid?
- Apakah strategi permainan berpasangan efektif membantu murid memahami cara membaca data visual?
Murid:- Informasi apa yang paling mudah kamu temukan saat membaca teks visual profil museum tadi?
- Mengapa kamu harus teliti memperhatikan keterangan jam buka dan hari libur pada profil museum sebelum berangkat berkunjung?
Pertemuan 7 — Menganalisis Simbol dan Tata Tertib Visual Kunjungan di Museum — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu membaca dan memirsa simbol tata tertib visual di museum (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar simbol umum di papan tulis: (1) simbol lingkaran merah dengan garis silang di atas gambar es krim/makanan, dan (2) simbol tangan menyentuh benda di dalam lingkaran merah bersilang; murid diminta menuliskan makna dari kedua simbol visual tersebut pada secarik kertas kecil (acuan jawaban: 1 = larangan makan/minum; 2 = larangan menyentuh koleksi/benda pameran) untuk memetakan kesiapan murid dalam membaca informasi visual (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati teks visual tata tertib museum yang memuat 4 simbol visual: (1) ikon kamera disilang merah, (2) ikon tempat sampah dengan gambar orang membuang kertas, (3) ikon pengeras suara/orang berteriak disilang merah, dan (4) ikon hewan peliharaan disilang merah (7 menit).
- Guru memodelkan cara menganalisis makna simbol dan alasan di balik aturan visual tersebut: mengidentifikasi gambar utama, menafsirkan arti tanda larangan/perintah, dan menemukan tujuannya bagi kenyamanan serta pelestarian museum (acuan: ikon kamera disilang = dilarang memotret agar cahaya lampu kilat tidak merusak pigmen benda kuno) (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tebak Makna Simbol Museum': setiap pasangan menerima lembar tantangan berisi 4 simbol tata tertib visual museum: Simbol A (tangan menyentuh arca dengan lingkaran garis silang merah), Simbol B (es krim dan gelas minuman disilang merah), Simbol C (ponsel berdering disilang merah), dan Simbol D (orang berjalan dengan tanda panah searah jalur pameran) (10 menit).
- Secara mandiri, murid menganalisis dan menuliskan informasi makna serta alasan aturan dari keempat simbol pada lembar kerja analisis teks visual (13 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama murid membahas kunci jawaban analisis 4 simbol: Simbol A = dilarang memegang arca/koleksi agar tidak kotor/rusak; Simbol B = dilarang makan dan minum di ruang pameran agar ruangan bersih dan terhindar dari tumpahan; Simbol C = dilarang menggunakan ponsel/dering telepon agar suasana museum tetap tenang; Simbol D = wajib berjalan mengikuti arah jalur kunjungan agar alur pengunjung tertib dan tidak bertabrakan (10 menit).
- Murid memeriksa ketepatan pekerjaannya sendiri, mencatat simbol mana yang sudah dianalisis dengan tepat dan simbol mana yang masih keliru diartikan (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap analisis informasi visual tata tertib museum dan membimbing murid menyimpulkan pentingnya memahami simbol visual ruang publik (3 menit).
- Murid menyelesaikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat tertulis mengenai makna dan konsekuensi simbol visual museum, lalu guru menutup pembelajaran (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan teks visual dengan simbol tata tertib yang disertai petunjuk kata kunci bergambar (misal: tulisan 'dilarang' di dekat garis silang), sedangkan murid yang sudah mahir diberikan teks visual poster infografik tata tertib museum yang memadukan 4 simbol utama dengan teks keterangan pendukung.
- Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru dengan panduan langkah bertahap dalam mengamati elemen visual simbol sebelum menyimpulkan aturan, sedangkan murid mahir menganalisis mandiri langsung pada lembar kerja.
- Produk: Seluruh murid menyajikan hasil analisis berupa lembar kerja identifikasi makna dan alasan aturan dari 4 simbol visual museum.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat memirsa 2 gambar simbol visual: (1) simbol es krim disilang merah dan (2) simbol tangan menyentuh benda disilang merah. Kriteria kesiapan: Menjawab tepat kedua makna simbol visual (acuan jawaban: 1 = larangan makan/minum; 2 = larangan menyentuh koleksi/benda pameran).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja analisis teks visual tata tertib museum yang memuat 4 simbol: (1) Simbol A (tangan menyentuh arca disilang), (2) Simbol B (makanan/minuman disilang), (3) Simbol C (ponsel bersuara disilang), dan (4) Simbol D (tanda panah arah pengunjung). Acuan jawaban: Simbol A = larangan menyentuh benda koleksi; Simbol B = larangan membawa/mengonsumsi makanan dan minuman; Simbol C = larangan menyalakan suara ponsel/membuat kegaduhan panggilan; Simbol D = petunjuk arah alur pengunjung.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir soal: Butir 1 = Tuliskan makna dari simbol gambar kamera dengan garis silang merah di dalam ruang pameran museum (acuan jawaban: pengunjung dilarang memotret koleksi); Butir 2 = Mengapa simbol tata tertib visual lebih mudah dipahami oleh berbagai pengunjung museum dibandingkan teks tertulis panjang? (kriteria penerimaan: murid menyebutkan bahwa gambar/simbol bersifat universal, cepat dikenali mata, dan dapat dipahami tanpa harus membaca kalimat panjang).
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja analisis 4 simbol dan tata tertib visual museum.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menganalisis informasi simbol tata tertib visual museum | Mampu menganalisis makna dan maksud aturan dari 1 simbol visual dengan tepat sesuai acuan jawaban. | Mampu menganalisis makna dan maksud aturan dari 2 simbol visual dengan tepat sesuai acuan jawaban. | Mampu menganalisis makna dan maksud aturan dari 3 simbol visual dengan tepat sesuai acuan jawaban. | Mampu menganalisis seluruh makna dan maksud aturan dari 4 simbol visual museum (Simbol A, B, C, dan D) secara lengkap dan tepat sesuai acuan jawaban. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks visual dan kartu simbol tata tertib yang disajikan cukup jelas dan mudah dipirsa oleh seluruh murid?
- Bagaimana keterlibatan murid selama permainan tebak simbol dan analisis mandiri berlangsung?
Murid:- Simbol tata tertib visual museum mana yang paling mudah dan paling sulit kamu pahami artinya hari ini?
- Mengapa kita perlu mematuhi simbol aturan visual saat berada di tempat umum seperti museum?
Pertemuan 8 — Menganalisis Rincian Informasi Tiket dan Denah Lokasi pada Infografik Museum — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu membaca dan menganalisis informasi visual pada tiket serta denah infografik museum (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperlihatkan potongan gambar tiket museum sederhana di papan tulis dan meminta murid menjawab 2 pertanyaan rincian tiket: (1) 'Berapa harga tiket anak-anak?' (acuan: Rp5.000); (2) 'Pukul berapa loket tiket ditutup?' (acuan: Pukul 15.30 WIB) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati bahan teks visual infografik 'Museum Dirgantara Mandiri' yang memuat panel tiket masuk (kategori pengunjung, tarif dewasa Rp15.000, tarif anak Rp10.000, jam buka loket 08.00–15.00) dan panel denah lantai (ruang pamer 1: Pesawat Perintis di sisi barat, ruang pamer 2: Helikopter Penyelamat di sisi utara, loket tiket di dekat pintu masuk gerbang selatan, toilet di sebelah timur pintu masuk) (10 menit).
- Guru memodelkan cara menelusuri rincian data angka pada tiket serta membaca arah dan posisi ruangan pada denah infografik dengan teknik memindai visual (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Sebagai aktivitas tantangan berpasangan yang menggembirakan ('Detektif Tiket dan Denah'), murid menerima lembar infografik baru 'Museum Bahari Nusantara' dan berlomba menyelesaikan 4 misi analisis data visual: (1) Berapa selisih harga tiket akhir pekan (Rp20.000) dengan hari kerja (Rp15.000)? (acuan: Rp5.000); (2) Hari apa loket tiket libur/tutup? (acuan: Hari Senin); (3) Ruang Koleksi Kapal Tradisional terletak di sebelah mana dari Pintu Masuk Utama? (acuan: Sebelah utara); (4) Di ruang pamer manakah pengunjung dapat melihat replika jangkar raksasa menurut keterangan denah? (acuan: Ruang Koleksi Navigasi dan Alat Laut) (15 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis teks visual infografik yang berisi 4 butir soal analisis rincian tiket dan navigasi denah museum: Soal 1: Menghitung total biaya tiket untuk 2 pengunjung dewasa jika per orang Rp15.000 (acuan: Rp30.000); Soal 2: Menentukan batas akhir penukaran tiket elektronik (acuan: Pukul 14.30); Soal 3: Menentukan posisi Ruang Diorama Sejarah dari arah Loket Tiket (acuan: Belok ke kanan/sebelah timur); Soal 4: Menemukan fasilitas umum yang berada paling dekat dengan Ruang Diorama Sejarah (acuan: Toilet barat/ruang informasi) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencocokkan hasil analisis lembar mandirinya bersama konfirmasi guru, mengecek ketepatan pembacaan data angka tiket dan navigasi denah, serta mengidentifikasi bagian infografik mana yang paling mudah atau paling rumit dianalisis (10 menit).
Penutup:- Guru dan murid menyimpulkan cara efektif menganalisis teks visual infografik, yaitu memperhatikan label teks, rincian angka biaya/waktu, dan tanda arah orientasi denah (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas ketepatan kerja murid serta menutup pelajaran dengan doa dan salam tanpa memberikan rangkuman bab karena materi bab masih berlanjut (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan infografik dengan penanda warna kontras pada rincian tiket dan denah bagi murid yang membutuhkan bantuan visual.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langkah terstruktur untuk membaca denah per kuadran; murid yang cepat menyelesaikan 2 soal analisis komparasi harga rombongan pada infografik yang sama.
- Produk: Hasil analisis dituangkan pada tabel isian terstruktur yang disediakan pada lembar analisis teks visual.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Menjawab 2 pertanyaan diagnostik dari potongan gambar tiket: (1) Berapa harga tiket anak-anak? (acuan tepat: Rp5.000); (2) Pukul berapa loket tiket ditutup? (acuan tepat: Pukul 15.30 WIB).
Proses:- Pengamatan keterlibatan murid dalam menemukan 4 misi analisis visual pada tantangan berpasangan 'Museum Bahari Nusantara' (acuan: 1. Rp5.000; 2. Hari Senin; 3. Sebelah utara; 4. Ruang Koleksi Navigasi dan Alat Laut).
- Pemeriksaan hasil kerja mandiri 4 butir soal analisis teks visual infografik tiket dan denah (acuan: 1. Rp30.000; 2. Pukul 14.30; 3. Belok ke kanan/sebelah timur; 4. Toilet barat/ruang informasi).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman 2 butir penutup: (1) Sebutkan 1 data penting yang harus dicari saat membaca rincian tiket museum! (kriteria penerimaan: menyebutkan harga/tarif tiket, jam operasional loket, hari buka/tutup, atau syarat kunjungan); (2) Sebutkan fungsi legenda/simbol arah pada denah museum! (kriteria penerimaan: menunjukkan petunjuk arah/lokasi ruangan atau mempermudah menemukan tempat pameran).
Formatif:- Pemeriksaan lembar kerja analisis rincian tiket dan denah lokasi pada teks visual infografik museum menggunakan daftar kunci acuan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis rincian informasi tiket pada teks visual museum | Menganalisis 0-1 rincian informasi tiket secara tepat dari 2 target soal rincian tiket. | Menganalisis 1 rincian informasi tiket secara tepat dari 2 target soal rincian tiket (acuan: total biaya Rp30.000; batas waktu penukaran pukul 14.30) dengan bantuan guru. | Menganalisis 2 rincian informasi tiket secara tepat dari 2 target soal rincian tiket (acuan: total biaya Rp30.000; batas waktu penukaran pukul 14.30) secara mandiri. | Menganalisis 2 rincian informasi tiket secara tepat dari 2 target soal rincian tiket (acuan: total biaya Rp30.000; batas waktu penukaran pukul 14.30) secara mandiri serta tepat menyelesaikan rincian tiket tambahan. | | Menganalisis informasi denah lokasi pada teks visual museum | Menganalisis 0-1 informasi posisi/ruangan pada denah secara tepat dari 2 target soal denah. | Menganalisis 1 informasi posisi/ruangan pada denah secara tepat dari 2 target soal denah (acuan: posisi sebelah timur/kanan; fasilitas terdekat adalah toilet barat/ruang informasi) dengan bantuan panduan arah. | Menganalisis 2 informasi posisi/ruangan pada denah secara tepat dari 2 target soal denah (acuan: posisi sebelah timur/kanan; fasilitas terdekat adalah toilet barat/ruang informasi) secara mandiri. | Menganalisis 2 informasi posisi/ruangan pada denah secara tepat dari 2 target soal denah (acuan: posisi sebelah timur/kanan; fasilitas terdekat adalah toilet barat/ruang informasi) secara mandiri dan cepat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membaca dan menafsirkan data visual berupa denah serta rincian angka tiket dengan tepat?
- Bagian mana dari infografik visual yang paling membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?
Murid:- Apakah aku bisa menemukan letak ruangan di museum dengan melihat denah visual secara tepat?
- Bagian informasi tiket mana yang menurutku paling mudah dibaca?
Pertemuan 9 — Mempresentasikan Gagasan Etika Kunjungan di Tempat Bersejarah Berdasarkan Panduan Tertulis — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang etika berkunjung ke tempat bersejarah dengan efektif dan santun
Pendahuluan:- Guru mengkondisikan kelas, menyapa murid, dan memimpin doa bersama sebelum memulai pembelajaran (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menunjuk murid menjawab contoh penyampaian gagasan etika yang efektif dan santun berdasarkan teks panduan tertulis 'Tata Tertib Museum' (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempresentasikan gagasan etika kunjungan di tempat bersejarah berdasarkan panduan tertulis secara efektif dan santun (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati teks panduan tertulis berjudul 'Panduan Kunjungan Gedung Bersejarah' yang memuat 3 butir etika: (1) Menjaga ketenangan dan tidak membuat kegaduhan di ruang pamer; (2) Tidak menyentuh benda koleksi bersejarah agar tidak rusak; (3) Membuang sampah pada tempat pembuangan yang disediakan (5 menit).
- Guru memodelkan cara mempresentasikan gagasan etika secara efektif (langsung pada inti gagasan dan tujuan aturannya) serta santun (menggunakan kata ajakan seperti 'mari', 'mohon', atau 'hendaknya' tanpa membentak) (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam aktivitas menggembirakan 'Estafet Duta Etika', murid secara berpasangan saling berlatih mempresentasikan 3 gagasan etika berdasarkan teks panduan tertulis dengan saling memberikan umpan balik kelengkapan gagasan dan kesantunan bahasa (15 menit).
- Setiap murid secara mandiri tampil ke depan kelas mempresentasikan 3 gagasan etika kunjungan di tempat bersejarah berdasarkan panduan tertulis secara efektif dan santun sesuai kriteria target (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan keberhasilan presentasi lisan yang telah dilakukan, menelaah apakah seluruh butir gagasan telah tersampaikan secara efektif dan menggunakan pilihan kata yang santun (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan umpan balik langsung terhadap ketercapaian presentasi gagasan etika murid (3 menit).
- Guru menutup pertemuan pembelajaran dengan mengajak murid bersyukur atas kelancaran latihan presentasi dan mengucap salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu bantuan kata kunci panduan etika, sedangkan murid yang mahir menggunakan teks panduan tertulis lengkap tanpa kata bantu.
- Proses: Murid yang masih ragu diberi kesempatan berlatih satu putaran tambahan bersama guru pendamping sebelum presentasi mandiri.
- Produk: Semua murid mempresentasikan gagasan etika kunjungan secara lisan dengan pembeda pada kedalaman penjelasan alasan di balik etika tersebut.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat: Guru membacakan satu aturan dari panduan tertulis 'Dilarang menyentuh benda pameran', lalu meminta 2 murid menyampaikan aturan tersebut secara santun dan efektif kepada pengunjung. (Acuan jawaban yang diterima: memuat larangan menyentuh benda demi merawat koleksi dengan bahasa santun seperti 'Bapak/Ibu, mohon tidak menyentuh koleksi agar benda bersejarah ini tetap terjaga keasliannya').
Proses:- Pengamatan langsung selama unjuk kerja presentasi lisan di depan kelas berdasarkan teks 'Panduan Kunjungan Gedung Bersejarah' yang memuat 3 gagasan etika: (1) Menjaga ketenangan; (2) Tidak menyentuh koleksi; (3) Membuang sampah pada tempatnya. (Acuan penskoran: Efektif = menyampaikan inti gagasan dan tujuan 3 etika tersebut tanpa bertele-tele; Santun = menggunakan kata ajakan sopan seperti 'mohon', 'harap', atau 'silakan' tanpa kata kasar/memerintah dengan ketus).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir sesi: Guru meminta murid menyebutkan 2 ciri penyampaian presentasi gagasan yang efektif dan santun. (Acuan jawaban: (1) Efektif: gagasan aturan disampaikan runtut dan langsung pada inti maksud; (2) Santun: menggunakan kata penghormatan/ajakan yang ramah seperti mohon/silakan).
Formatif:- Observasi unjuk kerja presentasi lisan gagasan etika berdasarkan panduan tertulis menggunakan lembar pengamatan keefektifan dan kesantunan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Keefektifan Penyampaian Gagasan Etika | Mempresentasikan kurang dari 2 gagasan etika dari teks panduan tertulis dan penjelasannya berbelit-belit. | Mempresentasikan 2 gagasan etika dari 3 teks panduan tertulis secara jelas dan langsung pada inti. | Mempresentasikan seluruh 3 gagasan etika dari teks panduan tertulis secara efektif dan langsung pada inti. | Mempresentasikan seluruh 3 gagasan etika dari teks panduan tertulis beserta tujuan logisnya secara lengkap, padat, dan sangat efektif secara mandiri. | | Kesantunan Presentasi | Menyampaikan gagasan dengan gaya bicara ketus, memerintah secara kasar, atau tanpa pilihan kata sopan. | Menyampaikan gagasan dengan bahasa netral tetapi belum konsisten menggunakan kata ajakan santun. | Menyampaikan gagasan etika secara santun menggunakan pilihan kata ajakan yang ramah (seperti mohon, harap, silakan) sepanjang presentasi. | Menyampaikan gagasan etika secara sangat santun, konsisten menggunakan kata ajakan yang menghargai pendengar tanpa diingatkan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mendapatkan giliran dan berani mempresentasikan gagasan etika di depan kelas?
- Bagian mana dari pemodelan penyampaian santun dan efektif yang paling membantu murid memahami kriteria presentasi?
Murid:- Bagian etika mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu presentasikan dengan santun?
- Apa kata ajakan santun yang paling kamu sukai saat mengajak orang lain menjaga tempat bersejarah?
Pertemuan 10 — Mempresentasikan Gagasan Menjaga Fasilitas Publik di Tempat Bersejarah dengan Efektif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang etika berkunjung ke tempat bersejarah dengan efektif dan santun
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menyusun dan mempresentasikan gagasan menjaga fasilitas publik di tempat bersejarah secara efektif dan santun (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta 3 murid secara bergantian mempraktikkan cara menyampaikan satu kalimat imbauan menjaga fasilitas museum secara santun berdasarkan situasi 'melihat teman hendak mencoret papan informasi' (acuan: memuat kata santun seperti 'tolong'/'mohon'/'sebaiknya' dan alasan menjaga fasilitas, misal: 'Tolong jangan mencoret papan info agar tetap bisa dibaca pengunjung lain') (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid membaca teks nonsastra panduan 'Menjaga Fasilitas Publik di Kawasan Sejarah' yang memuat 3 fasilitas utama: (1) Papan Informasi Sejarah, (2) Pagar Pengaman Benda Kuno, dan (3) Tempat Sampah Terpilah (7 menit).
- Murid bersama guru membedah cara menyajikan presentasi gagasan yang efektif (langsung pada inti gagasan dan runut: sebutkan fasilitasnya, cara menjaganya, dan manfaatnya) serta santun (menggunakan salam pembuka, kata ajakan santun seperti 'mari'/'sebaiknya', dan salam penutup) (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid memilih salah satu dari 3 topik kartu fasilitas: Kartu A 'Papan Informasi Sejarah', Kartu B 'Pagar Pembatas Artefak', atau Kartu C 'Bangku dan Jalur Pengunjung Taman Sejarah', lalu menuliskan poin inti presentasi pada lembar catatan ringkas (10 menit).
- Permainan Tantangan 'Duta Fasilitas Sejarah': murid secara bergiliran dalam kelompok berpasangan atau di depan kelas mempresentasikan gagasan menjaga fasilitas publik yang dipilih selama 1-2 menit secara efektif (runut menjelaskan nama fasilitas, tindakan menjaga, dan manfaatnya) dan santun (dibuka dan ditutup salam, memakai kata ajakan sopan) (17 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling memberikan umpan balik apresiatif berpasangan mengenai keefektifan penyampaian gagasan dan kesantunan pilihan kata yang digunakan rekannya saat presentasi (5 menit).
- Murid mengidentifikasi hal apa yang sudah berhasil disampaikan dengan lugas serta bagian kalimat ajakan mana yang terasa paling santun dan mengena (3 menit).
Penutup:- Guru dan murid menyimpulkan bersama prinsip utama mempresentasikan gagasan: pesan harus fokus, mudah dipahami (efektif), serta disampaikan dengan bahasa yang menghargai pendengar (santun) (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap praktik presentasi murid, menginformasikan agenda pertemuan berikutnya mengenai etika larangan perilaku merusak di tempat bersejarah, lalu menutup dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan berisi kerangka kalimat pemantik presentasi (salam - masalah fasilitas - cara menjaga - ajakan santun - penutup); murid yang cepat diarahkan menyajikan presentasi gagasan untuk kombinasi 2 fasilitas publik sekaligus.
- Proses: Murid yang belum percaya diri dapat berlatih mempresentasikan gagasan di depan satu teman dekat terlebih dahulu sebelum tampil di depan kelompok atau kelas; murid yang mahir langsung mempresentasikan gagasan secara mandiri tanpa membaca catatan.
- Produk: Penyampaian presentasi lisan gagasan berfokus pada efektivitas alur penyampaian dan kesantunan bahasa sesuai topik fasilitas publik yang dipilih.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemberian simulasi lisan 1 situasi singkat: Murid diminta menyampaikan kalimat imbauan santun kepada pengunjung yang bersandar pada pagar pengaman artefak. Kriteria penerimaan operasional: Murid menggunakan kata santun ('mohon'/'tolong'/'mari') dan menyebutkan alasan menjaga fasilitas (acuan: 'Mohon tidak bersandar pada pagar pengaman agar artefak tetap terlindungi dan pagar tidak rusak').
Proses:- Pengamatan unjuk kerja saat murid mempresentasikan gagasan menjaga fasilitas publik menggunakan 3 pilihan kartu fasilitas: Kartu A (Papan Informasi: tidak dicoret, dibaca bergantian), Kartu B (Pagar Pembatas: tidak dipanjat, tidak disandari), Kartu C (Bangku dan Jalur Kunjungan: tidak diinjak, dijaga kebersihannya). Kriteria: efektivitas (ide tersampaikan runut dan fokus) dan kesantunan (bahasa sopan dan menyertakan kata ajakan santun).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Menanyakan kepada murid 2 indikator presentasi gagasan yang efektif dan santun (acuan jawaban: efektif berarti gagasan disampaikan secara jelas, runut, dan fokus pada cara menjaga fasilitas; santun berarti diawali/diakhiri salam dan menggunakan pilihan kata ajakan sopan seperti tolong, mari, mohon, atau silakan).
Formatif:- Unjuk kerja presentasi lisan gagasan menjaga fasilitas publik di tempat bersejarah dinilai berdasarkan efektivitas penyampaian ide dan kesantunan berbahasa.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Efektivitas Penyampaian Gagasan Menjaga Fasilitas Publik | Gagasan yang disampaikan belum jelas, berbelit-belit, dan tidak menyebutkan tindakan konkret menjaga fasilitas publik di tempat bersejarah. | Menyampaikan gagasan menjaga fasilitas publik tetapi belum runut atau gagasan pokok masih terputus-putus. | Mempresentasikan gagasan menjaga fasilitas publik secara runtut, jelas, dan fokus pada tindakan menjaga serta manfaatnya secara mandiri. | Mempresentasikan gagasan menjaga fasilitas publik secara sangat runtut, sangat jelas, fokus pada detail tindakan dan manfaatnya, serta mengaitkannya secara mendalam dengan pelestarian kawasan sejarah secara mandiri. | | Kesantunan Berbahasa dalam Mempresentasikan Gagasan | Penyampaian gagasan belum menggunakan salam, tidak menyertakan kata ajakan santun, dan intonasi terkesan menuntut/memerintah. | Menggunakan salam pembuka/penutup tetapi belum konsisten menyertakan pilihan kata ajakan yang santun selama mempresentasikan gagasan. | Mempresentasikan gagasan dengan bahasa yang santun secara konsisten, dibuka dan ditutup salam, serta memakai kata ajakan sopan (seperti tolong/mari/mohon). | Mempresentasikan gagasan dengan bahasa yang sangat santun secara konsisten, pilihan kata ajakan sangat menghargai audiens, serta menggunakan struktur tuturan yang elok dan santun dari awal hingga akhir presentasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan contoh mempresentasikan gagasan yang efektif dan santun dipahami dengan jelas oleh seluruh murid?
- Bagaimana keterlibatan murid selama permainan tantangan 'Duta Fasilitas Sejarah' dalam menunjukkan kesantunan berbicara?
Murid:- Apakah aku sudah berhasil menyampaikan ide cara menjaga fasilitas tempat bersejarah dengan jelas dan runut?
- Kata ajakan santun apa saja yang sudah berhasil kugunakan saat berbicara di depan teman-teman tadi?
Pertemuan 11 — Mempresentasikan Gagasan Larangan Perilaku Merusak di Tempat Bersejarah secara Santun — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang etika berkunjung ke tempat bersejarah dengan efektif dan santun
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mempresensi kehadiran (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempresentasikan gagasan larangan perilaku merusak di tempat bersejarah secara efektif dan santun (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan: guru membacakan kalimat larangan kasar 'Hei, jangan pegang-pegang patung itu, nanti rusak!', lalu meminta 2 orang murid mengubahnya menjadi tuturan yang santun dan efektif (acuan perubahan santun: menggunakan kata tolong/mohon/silakan, menyebutkan larangan menyentuh, serta menyebutkan alasan menjaga keutuhan koleksi, misalnya 'Mohon maaf, teman-teman dimohon untuk tidak menyentuh patung agar koleksi bersejarah ini tidak rusak') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca teks nonsastra panduan ringkas 'Etika Menjaga Kelestarian Cagar Budaya' yang berisi 3 poin larangan perilaku merusak: (1) Larangan vandalisme/mencoret-coret dinding situs, (2) Larangan memanjat atau menyentuh relief/benda cagar budaya rapuh, dan (3) Larangan membuang sampah sembarangan atau meninggalkan sisa makanan pada area cagar budaya (8 menit).
- Guru memodelkan cara menyusun dan mempresentasikan gagasan larangan tersebut secara efektif (gagasan larangan dan alasannya runtut serta jelas) dan santun (menggunakan pilihan kata ajakan persuasif seperti 'mohon untuk tidak', 'mari kita jaga bersama', tanpa kalimat bentakan) (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan peran berpasangan 'Tantangan Duta Etika Budaya': murid memilih salah satu dari 3 skenario perilaku merusak yang disediakan: Skenario A (pengunjung mencoret dinding benteng dengan spidol), Skenario B (pengunjung menaiki arca batu untuk berswafoto), atau Skenario C (pengunjung menyelipkan bungkus permen di celah batuan candi) (10 menit).
- Setiap murid secara bergantian mempresentasikan gagasan larangan perilaku merusak sesuai skenario yang dipilihnya di hadapan pasangannya secara lisan dan langsung, dengan menyampaikan gagasan larangan secara efektif serta tutur kata yang santun (15 menit).
- Beberapa perwakilan murid mempresentasikan gagasan larangan perilaku merusak tersebut di depan kelas di hadapan guru dan teman-teman (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama pasangannya saling memeriksa ketepatan presentasi gagasan larangan berdasarkan 2 kriteria: efektivitas penyampaian gagasan larangan dan kesantunan bahasa yang digunakan (5 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai pentingnya menyampaikan larangan perilaku merusak secara efektif dan santun demi kelestarian cagar budaya (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik umum terhadap penampilan presentasi murid dan menutup pembelajaran dengan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kalimat pemantik santun (misalnya: 'Mohon perhatian rekan-rekan, demi menjaga...'), sedangkan murid yang mahir diberikan skenario dengan situasi penonton yang lebih ramai.
- Proses: Murid yang masih ragu dapat berlatih mempresentasikan gagasan dengan membaca catatan kerangka gagasan terlebih dahulu, sementara murid mahir langsung mempresentasikan gagasan secara lisan spontan tanpa teks.
- Produk: Semua murid mempresentasikan gagasan secara lisan; murid yang memerlukan bimbingan mempresentasikan 1 poin larangan, sedangkan murid mahir mempresentasikan larangan komprehensif yang mencakup 2 hingga 3 poin larangan sekaligus.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik lisan di awal pembelajaran: Murid diminta mengubah tuturan larangan kasar 'Hei, jangan sentuh patung itu!' menjadi tuturan yang efektif dan santun. Acuan ketercapaian: memuat kata santun (mohon/tolong/silakan), menyebutkan larangan menyentuh, dan menyebutkan alasan menjaga koleksi (contoh: 'Mohon maaf, pengunjung dimohon tidak menyentuh patung agar benda bersejarah ini tetap lestari').
Proses:- Observasi unjuk kerja presentasi lisan saat murid mempresentasikan larangan perilaku merusak sesuai salah satu dari 3 skenario: Skenario A (mencoret dinding), Skenario B (menaiki arca), atau Skenario C (menyelipkan sampah di batu candi). Acuan ketercapaian: (1) Efektif (menyampaikan tindakan larangan secara jelas disertai alasan pelestarian) dan (2) Santun (menggunakan diksi persuasif yang sopan dan tidak bernada menyerang).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Setiap murid menyebutkan 1 kalimat larangan perilaku merusak situs sejarah yang paling santun dan efektif menurut versinya sendiri (Kriteria penerimaan operasional: kalimat memuat kata santun permohonan/ajakan, menyebutkan objek tindakan yang dilarang, dan alasan kelestarian cagar budaya).
Formatif:- Unjuk kerja presentasi lisan mempresentasikan gagasan larangan perilaku merusak di tempat bersejarah dinilai berdasarkan efektivitas gagasan dan kesantunan berbahasa.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Efektivitas Penyampaian Gagasan Larangan | Gagasan larangan perilaku merusak belum tersampaikan dengan jelas dan tidak memuat alasan larangan. | Menyampaikan gagasan larangan perilaku merusak secara jelas namun belum menyertakan alasan perlindungan cagar budaya. | Mempresentasikan gagasan larangan perilaku merusak secara efektif, jelas, dan disertai alasan perlindungan cagar budaya secara runtut. | Mempresentasikan gagasan larangan perilaku merusak secara sangat efektif, runtut, logis, dan mengaitkan dampak kerusakan terhadap kelestarian sejarah masa depan secara mandiri. | | Kesantunan Berbahasa dalam Mempresentasikan | Menggunakan bahasa yang bernada memerintah kasar atau menghakimi dalam mempresentasikan larangan. | Menggunakan bahasa netral dalam mempresentasikan larangan namun belum menyertakan pilihan kata santun (seperti mohon, silakan, tolong). | Mempresentasikan gagasan larangan secara santun menggunakan pilihan kata persuasif, sopan, dan menghargai audiens. | Mempresentasikan gagasan larangan secara konsisten sangat santun, menggunakan tutur kata persuasif yang membujuk dan memuliakan pendengar tanpa celaan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas bermain peran 'Tantangan Duta Etika Budaya' efektif mendorong murid berbicara dengan santun?
- Bagian mana dari bimbingan mempresentasikan gagasan yang paling membutuhkan penguatan untuk murid yang pendiam?
Murid:- Apa kesulitan yang kamu rasakan saat harus menegur atau menyampaikan larangan kepada orang lain secara santun?
- Mengapa bahasa yang santun lebih mudah diterima orang lain saat kita melarang perbuatan merusak di tempat bersejarah?
Pertemuan 12 — Mempresentasikan Gagasan Penerapan Aturan Berkunjung ke Situs Sejarah dalam Diskusi Terbimbing — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang etika berkunjung ke tempat bersejarah dengan efektif dan santun
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu mempresentasikan gagasan penerapan aturan berkunjung ke situs sejarah dalam diskusi terbimbing (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan mengenai efektivitas dan kesantunan kalimat presentasi gagasan aturan (4 menit).
- Guru mengaitkan materi dengan pertanyaan pemantik dan menjelaskan alur kegiatan presentasi terbimbing yang akan dilakukan (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak teks nonsastra panduan aturan berkunjung ke Situs Sejarah Candi Muaro Jambi yang dibagikan guru, memuat 3 aturan: (1) Larangan memanjat stupa/batu candi kuno demi keselamatan dan kelestarian struktur batu bata, (2) Larangan membuang sampah makanan di pelataran candi demi menjaga kebersihan lingkungan cagar budaya, dan (3) Larangan mencoret-coret dinding candi (vandalisme) agar keaslian warisan sejarah tetap terjaga (7 menit).
- Murid mencermati contoh pemodelan dari guru mengenai cara mempresentasikan gagasan penerapan aturan tersebut secara efektif (langsung pada inti gagasan dan alasan logis) serta santun (menggunakan kata ajakan sopan seperti 'sebaiknya', 'mari', 'mohon hindari') (6 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) berdiskusi terbimbing menyusun gagasan penerapan 3 aturan Situs Sejarah Candi Muaro Jambi tersebut ke dalam format kartu presentasi: Aturan yang dipilih, Gagasan penerapan nyata oleh pengunjung, dan Alasan pendukungnya (9 menit).
- Guru menyelenggarakan simulasi 'Estafet Gagasan Cagar Budaya' di mana perwakilan tiap kelompok secara bergiliran mempresentasikan gagasan penerapan aturan berkunjung secara lisan di depan kelompok lain dengan kriteria efektif dan santun (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid dan guru memberikan tanggapan balik terhadap ketepatan isi gagasan, efektivitas penyampaian, dan kesantunan bahasa yang telah dipresentasikan oleh setiap pembicara (8 menit).
- Murid menyimpulkan unsur utama dalam mempresentasikan gagasan etika: kejelasan maksud aturan dan kesantunan pilihan kata ajakan (4 menit).
Penutup:- Guru membimbing murid melakukan cek pemahaman akhir mengenai penyusunan kalimat presentasi gagasan aturan secara santun dan efektif (4 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar murid dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan frasa santun (misal: 'Menurut kelompok kami, pengunjung sebaiknya... karena...'), sedangkan murid mahir langsung menyusun kalimat gagasan mandiri secara variatif.
- Proses: Murid yang belum percaya diri diberikan kesempatan latihan berpasangan terlebih dahulu sebelum mempresentasikan di forum kelompok terbimbing.
- Produk: Penyampaian gagasan penerapan aturan dapat berupa presentasi lisan singkat terstruktur (minimal 1 gagasan aturan untuk kelompok bimbingan, dan 3 gagasan aturan lengkap untuk kelompok mahir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru mengajukan 2 contoh kalimat presentasi gagasan aturan kepada murid: (A) 'Kalian dilarang keras naik ke atas candi, awas kalau melanggar!' dan (B) 'Sebaiknya kita tidak memanjat stupa candi agar struktur batu bata kuno tidak rapuh dan tetap lestari.' Murid diminta menentukan kalimat mana yang efektif dan santun dalam presentasi gagasan (acuan: Kalimat B adalah pilihan tepat karena menyampaikan gagasan dan alasan secara jelas serta menggunakan pilihan kata santun 'sebaiknya' dan 'agar').
Proses:- Penilaian unjuk kerja saat murid mempresentasikan gagasan penerapan 3 aturan Situs Candi Muaro Jambi: (1) Larangan memanjat stupa candi (acuan gagasan: mengajak pengunjung menikmati dari jalur pejalan kaki agar batu bata kuno tidak rusak), (2) Larangan membuang sampah sembarangan (acuan gagasan: menganjurkan membawa botol minum sendiri dan memasukkan bungkus bekal ke tempat sampah agar area cagar budaya tetap bersih), dan (3) Larangan vandalisme/coret-coret (acuan gagasan: mengajak mengabadikan keindahan candi melalui foto tanpa merusak keaslian dinding sejarah). Kriteria observasi: gagasan relevan dengan aturan teks, disampaikan secara efektif (fokus pada solusi), dan menggunakan kata santun.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir: Murid diminta mengubah pernyataan larangan kasar 'Jangan buang puntung rokok atau sampah di candi!' menjadi kalimat presentasi gagasan yang efektif dan santun (kriteria penerimaan: memuat inti ajakan menjaga kebersihan lingkungan candi dan menggunakan kata santun seperti 'mohon', 'mari', atau 'sebaiknya', contoh acuan: 'Mari kita jaga kebersihan situs bersejarah ini dengan tidak membuang sampah sembarangan di area candi').
Formatif:- Observasi unjuk kerja presentasi lisan gagasan penerapan aturan berkunjung ke situs sejarah dengan lembar amatan efektivitas dan kesantunan berbahasa.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Efektivitas Penyampaian Gagasan Aturan | Gagasan yang disampaikan tidak fokus pada penerapan aturan atau menyimpang dari teks nonsastra cagar budaya yang dibahas. | Menyampaikan gagasan penerapan aturan dari teks nonsastra, namun belum memuat alasan logis yang mendukung aturan tersebut. | Mempresentasikan gagasan penerapan aturan dari teks nonsastra secara efektif dengan memuat solusi nyata dan alasan logis pendukungnya secara mandiri. | Mempresentasikan gagasan penerapan 3 aturan secara menyeluruh, sangat lugas, padat, dan runtut tanpa berbelit-belit. | | Kesantunan Berbahasa dalam Presentasi | Menggunakan ungkapan yang bernada menggurui, kasar, atau berupa larangan sepihak tanpa tata krama berbicara. | Mempresentasikan gagasan aturan dengan kata-kata santun hanya jika diarahkan dan diingatkan oleh guru. | Mempresentasikan gagasan aturan secara konsisten menggunakan pilihan kata santun (ajakan persuasif seperti sebaiknya, mari, mohon) secara mandiri. | Mempresentasikan seluruh gagasan aturan dengan pilihan kata yang sangat santun, apresiatif terhadap audiens, dan menghargai tata krama komunikasi secara konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur diskusi terbimbing efektif dalam memfasilitasi murid mempresentasikan gagasannya?
- Bagaimana ketercapaian murid dalam membedakan bahasa penyampaian yang santun dibanding kalimat perintah biasa?
Murid:- Bagian mana dari caraku mempresentasikan aturan yang sudah terdengar santun dan jelas bagi teman-teman?
- Apa hal baru yang aku pelajari tentang cara mengajak orang lain menaati tata tertib di situs bersejarah?
Pertemuan 13 — Menulis Kerangka Teks Sederhana Pengalaman Mengunjungi Suatu Tempat dengan Kalimat Kompleks — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyusun kerangka teks pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan merancang kalimat kompleks pada setiap bagiannya (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid membaca 2 kalimat tunggal di papan tulis ('Kami tiba di Monumen Kapal Selam pagi hari' dan 'Petugas tiket belum membuka loket pembayaran') lalu diminta menggabungkannya menjadi 1 kalimat kompleks menggunakan konjungsi yang tepat (acuan: 'Ketika kami tiba di Monumen Kapal Selam pagi hari, petugas tiket belum membuka loket pembayaran' atau 'Kami tiba di Monumen Kapal Selam pagi hari, tetapi petugas tiket belum membuka loket pembayaran') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid mencermati bagan kerangka teks pengalaman yang terdiri dari 3 bagian: bagian awal (waktu, tempat, tujuan), bagian inti (kegiatan yang dilakukan dan hal menarik yang disaksikan), serta bagian akhir (kesan dan suasana saat pulang) (5 menit).
- Murid membedah contoh kalimat kompleks yang dirancang untuk masing-masing bagian kerangka tersebut serta mengidentifikasi minimal dua klausa (subjek-predikat) yang saling terhubung oleh kata hubung (misal: 'ketika', 'karena', 'sehingga', 'meskipun') (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan tantangan bahasa berpasangan 'Sambung Rantai Kalimat Perjalanan': pasangan murid mengambil 1 kartu situasi (tersedia 4 kartu situasi: [1] Membeli tiket antre panjang, [2] Masuk ke ruang pameran museum yang redup, [3] Melihat benda peninggalan sejarah yang unik, [4] Berfoto bersama di halaman depan monumen) lalu secara bergantian menyusun 1 kalimat kompleks yang sesuai situasi tersebut (acuan: memuat minimal dua klausa dan satu kata hubung antarklausa) (10 menit).
- Secara mandiri, murid menentukan satu pengalaman berkunjung ke suatu tempat (seperti museum, cagar budaya, taman kota, atau tempat wisata edukasi) yang pernah dialami (5 menit).
- Murid menuliskan kerangka teks pengalaman kunjungan pada lembar kerja yang memuat 3 bagian pokok (awal, inti, akhir), di mana setiap bagian wajib dirancang menggunakan minimal 1 kalimat kompleks (total minimal 3 kalimat kompleks dalam kerangka) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali rancangan kerangka teks miliknya secara cermat untuk memastikan setiap bagian (awal, inti, akhir) sudah terisi ide pokok pengalaman dan telah memuat kalimat kompleks berstruktur minimal dua klausa (5 menit).
- Murid menandai kata hubung yang digunakan pada kalimat kompleks rancangannya dengan garis bawah untuk memastikan adanya hubungan logis antarklausa (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya merancang kerangka tulisan berbasis kalimat kompleks agar tulisan pengalaman tersusun padu dan menarik (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian target kerangka tulisan hari ini serta menyampaikan tindak lanjut untuk sesi berikutnya, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar bantu pemantik ide rincian tempat/kegiatan bagi murid yang memerlukan dukungan, serta daftar konjungsi bertingkat yang lebih variatif bagi murid cepat.
- Proses: Memberikan bimbingan terstruktur per bagian kerangka bagi murid yang membutuhkan pendampingan, sementara murid yang telah mahir merancang kerangka mandiri dengan 2 atau lebih kalimat kompleks pada bagian inti.
- Produk: Murid menuangkan kerangka dalam bentuk tabel alur tiga bagian atau peta konsep peristiwa kunjungan, dengan tetap memenuhi kriteria minimal 3 kalimat kompleks (bagian awal, inti, dan akhir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat menggabungkan 2 kalimat tunggal ('Kami tiba di Monumen Kapal Selam pagi hari' dan 'Petugas tiket belum membuka loket pembayaran') menjadi 1 kalimat kompleks. Kriteria penerimaan: menggabungkan kedua klausa secara logis dengan kata hubung antarklausa yang sesuai (acuan kunci: 'Ketika kami tiba di Monumen Kapal Selam pagi hari, petugas tiket belum membuka loket pembayaran' atau 'Kami tiba di Monumen Kapal Selam pagi hari, sehingga kami menunggu karena petugas tiket belum membuka loket pembayaran' atau variasi konjungsi koordinatif/subordinatif yang setara).
Proses:- Observasi pengerjaan LKPD Menulis Kerangka: Guru memeriksa ketepatan struktur kalimat kompleks pada draf kerangka murid (bagian awal memuat latar waktu/tempat dengan konjungsi; bagian inti memuat peristiwa/objek dengan konjungsi; bagian akhir memuat simpulan kesan dengan konjungsi).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menunjukkan lembar kerangka yang telah selesai dibuat. Guru memverifikasi bahwa kerangka memuat minimal 3 bagian alur (awal, inti, akhir) dan masing-masing bagian memuat minimal 1 kalimat kompleks yang tepat (acuan: setiap kalimat kompleks memiliki minimal 2 klausa yang dihubungkan konjungsi secara bermakna).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja penyusunan kerangka teks sederhana pengalaman berkunjung dengan indikator kelengkapan 3 bagian kerangka dan ketepatan konstruksi kalimat kompleks.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Bagian Kerangka Teks Pengalaman | Hanya menuliskan ide untuk 1 bagian kerangka teks kunjungan. | Menuliskan ide untuk 2 bagian kerangka teks kunjungan (misal: hanya awal dan inti). | Menuliskan ide lengkap untuk 3 bagian kerangka teks kunjungan (awal, inti, akhir). | Menuliskan ide lengkap untuk 3 bagian kerangka teks kunjungan (awal, inti, akhir) dengan rincian peristiwa kunjungan yang sangat jelas dan terinci secara mandiri. | | Ketepatan Perancangan Kalimat Kompleks dalam Kerangka | Belum mampu menyusun kalimat kompleks (seluruh rancangan masih berupa kalimat tunggal sederhana tanpa konjungsi antarklausa). | Menyusun 1 kalimat kompleks yang tepat (memiliki minimal 2 klausa dan 1 konjungsi) pada kerangka teks. | Menyusun minimal 3 kalimat kompleks yang tepat dan tersebar pada bagian awal, inti, dan akhir kerangka teks. | Menyusun lebih dari 3 kalimat kompleks dengan variasi konjungsi antarklausa yang tepat, padu, dan menarik di setiap bagian kerangka secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 15 menit untuk menulis draf kerangka mandiri mencukupi bagi seluruh murid?
- Apakah permainan 'Sambung Rantai Kalimat Perjalanan' efektif membantu murid memahami cara mengaitkan dua klausa dalam kalimat kompleks?
Murid:- Bagian kerangka mana (awal, inti, atau akhir) yang paling mudah kamu tuliskan kalimat kompleksnya?
- Konjungsi apa saja yang berhasil kamu gunakan untuk menghubungkan kejadian dalam cerita pengalamanmu?
Pertemuan 14 — Menulis Draf Teks Pengalaman Mengunjungi Suatu Tempat Menggunakan Konjungsi Sebab-Akibat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memimpin doa bersama untuk memulai pembelajaran (3 menit).
- Guru memberikan asesmen diagnostik cepat dengan menampilkan 2 pasang klausa di papan tulis: (1) 'Hujan turun sangat deras' dan 'Kami berteduh di teras museum'; (2) 'Jalanan menuju benteng macet' dan 'Bus kami tiba terlambat'. Murid diminta menuliskan kata konjungsi sebab-akibat yang tepat untuk menghubungkan masing-masing pasangan klausa tersebut pada papan mini/buku tulis (acuan: pasangan 1 menggunakan 'sehingga/maka/karena', contoh kalimat: 'Hujan turun sangat deras sehingga kami berteduh di teras museum' atau 'Kami berteduh di teras museum karena hujan turun sangat deras'; pasangan 2 menggunakan 'sehingga/karena', contoh kalimat: 'Bus kami tiba terlambat karena jalanan menuju benteng macet') (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menulis draf teks narasi pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan merangkai kalimat kompleks yang memanfaatkan konjungsi sebab-akibat (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemodelan kalimat kompleks berkonjungsi sebab-akibat yang disajikan guru di papan tulis: 'Kami bangun pagi-pagi sekali karena loket masuk Monumen Nasional ditutup pukul dua siang.' dan 'Pemandu wisata menerangkan sejarah benteng dengan sangat gamblang sehingga semua pengunjung terkesima.' (5 menit).
- Dalam aktivitas permainan menggembirakan 'Rantai Sebab-Akibat Berpasangan', murid bekerja berpasangan saling melempar klausa sebab dan klausa akibat secara bergiliran menggunakan kartu pemicu berisi 3 situasi peristiwa kunjungan: (1) 'Tiket museum habis' -> pasangan menyambung 'sehingga kami harus mengantre kloter berikutnya'; (2) 'Pemandu membawa pengeras suara' -> pasangan menyambung 'karena ruangan museum sangat luas'; (3) 'Koleksi senjata kuno dirawat rapi' -> pasangan menyambung 'sehingga benda-benda itu terlihat berkilau' (acuan ketepatan: hubungan klausanya logis menyatakan sebab atau akibat dan dihubungkan oleh konjungsi 'karena', 'sebab', 'sehingga', atau 'akibatnya') (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyiapkan kerangka karangan pengalaman kunjungan yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya untuk dikembangkan menjadi draf teks utuh (5 menit).
- Secara mandiri dan sadar penuh (berkesadaran), murid menulis draf teks pengalaman mengunjungi suatu tempat minimal 3 paragraf sederhana dengan target wajib memuat minimal 4 kalimat kompleks yang menggunakan konjungsi sebab-akibat (seperti 'karena', 'sebab', 'sehingga', atau 'akibatnya') secara runtut dan menarik (20 menit).
- Murid menandai (menggarisbawahi) konjungsi sebab-akibat yang telah ditulis dalam draf karangannya untuk memastikan pemakaiannya tepat menghubungkan klausa klausa kejadian (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali draf teks yang ditulisnya dengan memverifikasi apakah hubungan klausa dalam kalimat sebab-akibat sudah logis dan runtut menceritakan alur pengalaman berkunjung (7 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik umum terhadap draf yang ditulis murid dan mengecek ketercapaian target penulisan kalimat kompleks berkonjungsi sebab-akibat (5 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran menulis draf hari ini serta menutup kegiatan pembelajaran dengan doa (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan daftar panduan berisi 4 kata konjungsi sebab-akibat pilihan ('karena', 'sebab', 'sehingga', 'maka') beserta contoh pola kalimat sederhana; murid yang mahir diberikan tantangan menggunakan variasi posisi anak kalimat (anak kalimat mendahului induk kalimat).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes tertulis cepat menyambung 2 pasang klausa terpisah menggunakan konjungsi sebab-akibat yang tepat pada awal sesi. Pasangan 1: 'Hujan turun sangat deras' dan 'Kami berteduh di teras museum'. Pasangan 2: 'Jalanan menuju benteng macet' dan 'Bus kami tiba terlambat'. Acuan jawaban benar: Pasangan 1 dihubungkan dengan 'sehingga'/'maka'/'karena' membentuk kalimat logis; Pasangan 2 dihubungkan dengan 'karena'/'sebab'/'sehingga' membentuk kalimat logis.
Proses:- Pemeriksaan kemandirian dan ketepatan penulisan saat murid menyusun draf teks pengalaman, mencakup keberadaan minimal 4 kalimat kompleks yang menggunakan konjungsi sebab-akibat ('karena', 'sebab', 'sehingga', 'akibatnya') dan kelogisan hubungan klausanya.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan akhir draf teks pengalaman: Memastikan draf sederhana memuat minimal 4 kalimat kompleks berkonjungsi sebab-akibat yang ditulis tepat (acuan kriteria penerimaan: draf menceritakan pengalaman kunjungan, memuat minimal 4 kalimat yang masing-masing terdiri atas klausa utama dan klausa bawahan yang dihubungkan secara logis oleh konjungsi sebab-akibat seperti 'karena', 'sebab', 'sehingga', atau 'akibatnya').
Formatif:- Pemeriksaan draf tulisan teks pengalaman murid menggunakan daftar cek keterpenuhan kalimat kompleks berkonjungsi sebab-akibat.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Rangkaian Kalimat Kompleks Berkonjungsi Sebab-Akibat | Draf teks memuat kurang dari 2 kalimat kompleks dengan konjungsi sebab-akibat, atau hubungan antar-klausa belum logis. | Draf teks memuat 2 sampai 3 kalimat kompleks dengan konjungsi sebab-akibat yang logis, namun ragam konjungsi masih terbatas pada satu jenis. | Draf teks memuat minimal 4 kalimat kompleks dengan konjungsi sebab-akibat yang logis dan runtut menceritakan pengalaman. | Draf teks memuat lebih dari 4 kalimat kompleks dengan konjungsi sebab-akibat yang variatif dan struktur klausa yang dirangkai secara menarik dan mandiri. | | Pengembangan Teks Pengalaman Mengunjungi Suatu Tempat | Draf teks hanya berisi gagasan lepas yang belum membentuk cerita pengalaman kunjungan yang utuh. | Draf teks menceritakan pengalaman kunjungan secara singkat namun alur peristiwanya belum tersusun dengan jelas. | Draf teks menceritakan pengalaman kunjungan secara runtut dalam paragraf-paragraf yang saling terhubung. | Draf teks menceritakan pengalaman kunjungan secara runtut, lengkap, dan menyajikan rincian peristiwa yang menarik. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu menulis mandiri selama 20 menit memadai bagi sebagian besar murid untuk menyelesaikan draf?
- Apakah pemodelan kalimat kompleks berkonjungsi sebab-akibat di awal kegiatan efektif membantu murid merangkai ide cerita?
Murid:- Berapa banyak kalimat kompleks berkonjungsi sebab-akibat yang berhasil saya tuliskan dalam draf cerita hari ini?
- Bagian mana dari pengalaman berkunjung yang paling jelas sebab-akibatnya saat saya tuliskan?
Pertemuan 15 — Menulis Teks Pengalaman Berkunjung dengan Penulisan Angka, Bilangan, dan Huruf Kapital yang Tepat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyempurnakan tulisan teks pengalaman berkunjung menggunakan penulisan angka, bilangan, dan huruf kapital secara tepat dalam rangkaian kalimat kompleks (3 menit).
- Asesmen Awal: Guru menampilkan 3 kalimat di papan tulis: (1) 'kami tiba di museum pukul 09 00 wib.', (2) 'ada 3 buah arca kuno di ruang pameran utama.', (3) 'gedung djoeang dibangun pada tahun seribu delapan ratus tujuh puluh enam.' Murid diminta menuliskan perbaikan cepat pada secarik kertas (acuan perbaikan: (1) 'Kami tiba di museum pukul 09.00 WIB.', (2) 'Ada tiga buah arca kuno di ruang pameran utama.' [karena satu kata dan awal kalimat ditulis dengan huruf], (3) 'Gedung Djoeang dibangun pada tahun 1876.' [angka tahun ditulis lambang angka]) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mencermati panduan kaidah penulisan pada materi 'Bahas Bahasa' di layar/buku: (a) penulisan waktu/jam menggunakan tanda titik sebagai pemisah (contoh: pukul 08.30 WIB), (b) penulisan bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali untuk penomoran/tabel/tahun, dan (c) penulisan huruf kapital untuk huruf pertama awal kalimat, nama diri geografi/tempat, serta singkatan zona waktu (WIB, WITA, WIT) (8 menit).
- Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tebak Tepat Ejaan': Setiap pasangan menganalisis 3 kartu kalimat bertema kunjungan museum: Kartu 1: 'pada hari minggu beni membeli 2 tiket' -> perbaikan acuan: 'Pada hari Minggu Beni membeli dua tiket'; Kartu 2: 'bus rombongan berangkat pukul 07 30 wib' -> perbaikan acuan: 'Bus rombongan berangkat pukul 07.30 WIB'; Kartu 3: 'kami melihat 500 artefak di museum nasional' -> perbaikan acuan: 'Kami melihat 500 artefak di Museum Nasional' (murid saling mencocokkan kartu dan bersorak jika jawabannya sesuai acuan) (7 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid membuka kembali draf tulisan teks pengalaman berkunjung yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya, lalu menandai kata-kata penunjuk nama tempat, waktu kunjungan, jumlah barang/orang/tiket, dan angka tahun (10 menit).
- Murid menulis ulang dan mengembangkan draf tersebut menjadi teks sederhana pengalaman berkunjung (minimal 3 kalimat kompleks bertingkat) dengan menerapkan kaidah penulisan huruf kapital, tanda titik pada penulisan jam, serta bilangan angka/huruf secara cermat (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali teks tulisannya sendiri menggunakan lembar cek mandiri berfokus pada 3 indikator: (1) huruf kapital awal kalimat dan nama tempat, (2) format penulisan jam (titik pemisah), (3) penulisan bilangan satu-dua kata menggunakan huruf (7 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kaidah utama penulisan huruf kapital pada nama tempat dan tanda pemisah angka jam dalam teks pengalaman (4 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap kerapian tulisan murid serta menginformasikan kegiatan pertemuan berikutnya yaitu menyelesaikan naskah akhir pengalaman kunjungan secara utuh (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan mini berisi contoh penulisan waktu dan nama tempat; murid mahir diberikan tantangan memasukkan penulisan angka bertingkat dan rincian harga tiket/waktu tempuh.
- Proses: Murid yang masih kesulitan menulis kalimat kompleks dengan ejaan tepat didampingi guru secara bertahap (scaffolding), sedangkan murid mahir menulis secara mandiri.
- Produk: Tulisan murid berfokus pada pengalaman berkunjung nyata maupun imajinatif terpandu dengan panjang minimal 3 kalimat kompleks bagi murid reguler dan 5 kalimat kompleks bagi murid mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tertulis 3 butir di pendahuluan untuk memetakan kemampuan dasar penulisan ejaan: (1) penulisan jam dan huruf awal kalimat pada kalimat 'kami tiba di museum pukul 09 00 wib.' (acuan tepat: 'Kami tiba di museum pukul 09.00 WIB.'), (2) penulisan huruf kapital dan bilangan pada 'ada 3 buah arca kuno di ruang pameran utama.' (acuan tepat: 'Ada tiga buah arca kuno di ruang pameran utama.'), (3) penulisan nama tempat dan tahun pada 'gedung djoeang dibangun pada tahun seribu delapan ratus tujuh puluh enam.' (acuan tepat: 'Gedung Djoeang dibangun pada tahun 1876.').
Proses:- Observasi formatif saat murid menulis teks pengalaman: memeriksa penerapan tanda titik pada waktu kunjungan (format JJ.MM), penggunaan huruf kapital pada nama geografi/tempat bersejarah, serta penggunaan huruf untuk bilangan 1-2 kata dalam kalimat kompleks.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan produk teks pengalaman berkunjung murid berdasarkan kriteria pemenuhan minimal 3 kalimat kompleks yang memuat penulisan huruf kapital nama tempat, penulisan waktu jam bertanda titik, dan penulisan bilangan yang tepat sesuai kaidah.
Formatif:- Penilaian kinerja menulis teks sederhana pengalaman berkunjung dengan fokus penulisan huruf kapital, angka jam, dan penulisan bilangan menggunakan rubrik analitis.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Penulisan Huruf Kapital | Belum menggunakan huruf kapital pada awal kalimat dan nama tempat bersejarah. | Menggunakan huruf kapital pada awal kalimat, namun penulisan nama diri tempat/geografi masih keliru. | Sebagian besar huruf kapital pada awal kalimat dan seluruh nama diri tempat bersejarah ditulis secara tepat. | Seluruh huruf kapital pada awal kalimat, nama tempat bersejarah, dan singkatan waktu ditulis tepat secara konsisten. | | Ketepatan Penulisan Angka, Bilangan, dan Waktu | Belum menerapkan tanda pemisah titik pada jam dan menulis seluruh bilangan dengan lambang angka tanpa aturan. | Menulis jam menggunakan tanda titik namun penulisan bilangan satu atau dua kata masih berupa angka. | Menulis jam dengan tanda pemisah titik secara tepat dan menuliskan bilangan satu-dua kata dengan huruf pada sebagian besar kalimat. | Menulis jam dengan format titik yang tepat serta menerapkan penulisan bilangan satu-dua kata dengan huruf dan angka tahun/jumlah besar secara tepat dan konsisten. | | Penyusunan Rangkaian Kalimat Kompleks | Menulis teks hanya berupa kalimat tunggal sederhana tanpa konjungsi penghubung. | Menulis 1-2 kalimat kompleks namun hubungan antarklausa belum padu. | Menulis minimal 3 kalimat kompleks yang padu menceritakan pengalaman berkunjung. | Menulis lebih dari 3 kalimat kompleks yang tersusun runtut, padu, dan menarik dalam menggambarkan pengalaman berkunjung. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi mengenai aturan penulisan angka jam dan bilangan dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh murid?
- Bagian mana dari draf tulisan murid yang masih sering memunculkan kekeliruan penggunaan huruf kapital?
Murid:- Bagian mana dari aturan penulisan huruf kapital dan angka jam yang menurutmu paling mudah dipraktikkan dalam tulisanmu?
- Apakah kamu sudah berhasil memeriksa dan memperbaiki kesalahan penulisan pada draf ceritamu sendiri?
Pertemuan 16 — Menulis Teks Sederhana Pengalaman Kunjungan Lengkap Menggunakan Rangkaian Kalimat Kompleks secara Menarik — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, menyapa murid, dan memeriksa kehadiran secara tertib (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menulis teks sederhana pengalaman berkunjung yang lengkap dan menarik dengan rangkaian kalimat kompleks (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta mengubah pasangan kalimat tunggal di papan tulis ('Kami tiba di museum.' dan 'Pintu gerbang museum masih tertutup rapat.') menjadi 1 kalimat kompleks menggunakan konjungsi bertingkat (acuan jawaban benar: 'Ketika kami tiba di museum, pintu gerbang museum masih tertutup rapat.' atau 'Kami tiba di museum saat pintu gerbangnya masih tertutup rapat.') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemodelan sebuah paragraf pengalaman kunjungan yang monoton (tersusun hanya dari kalimat tunggal pendek) dibandingkan dengan paragraf yang menarik (menggunakan rangkaian kalimat kompleks dengan konjungsi seperti 'karena', 'ketika', 'meskipun', 'sehingga') (5 menit).
- Murid bermain 'Tantangan Sambung Kalimat Menarik': secara berpasangan, murid mengambil satu kartu kalimat tunggal awal lalu menyambungnya dengan klausa kedua menggunakan konjungsi hubungan waktu, syarat, atau sebab-akibat sehingga membentuk kalimat kompleks yang menarik (5 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyiapkan draf dan catatan kerangka pengalaman berkunjung yang telah disusun sebelumnya untuk dikembangkan menjadi teks utuh (5 menit).
- Murid secara mandiri menulis teks narasi sederhana pengalaman mengunjungi suatu tempat sebanyak 2-3 paragraf lengkap yang memuat minimal 4 kalimat kompleks yang saling terangkai secara menarik (25 menit).
- Murid memeriksa tulisan pribadinya dengan menandai konjungsi dan klausa pembentuk kalimat kompleks untuk memastikan keterpaduan rangkaian kalimat dan daya tarik penyajian cerita (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menandai kalimat kompleks terbaik yang mereka buat dan membaca dalam hati untuk merasakan kelancaran alur teks tulisan mereka (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan merangkai kalimat kompleks dalam tulisan pengalaman pribadi agar tetap runtut dan menarik dibaca (3 menit).
- Murid dan guru menyimpulkan teknik penyusunan teks pengalaman berkalimat kompleks, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan daftar konjungsi bertingkat (seperti 'ketika', 'karena', 'sehingga', 'meskipun', 'setelah') sebagai panduan bagi murid yang memerlukan dukungan kosakata penghubung.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan menggabungkan dua klausa menjadi kalimat kompleks, sedangkan murid yang mahir didorong memvariasikan posisi klausa terikat di awal atau akhir kalimat.
- Produk: Panjang teks tulisan minimal 2 paragraf untuk kelompok reguler dan dapat dikembangkan hingga 4 paragraf dengan variasi kalimat kompleks yang lebih kaya bagi kelompok mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tulis singkat di papan tulis: Murid menggabungkan 2 klausa tunggal ('Kami tiba di museum.' dan 'Pintu gerbang museum masih tertutup rapat.') menjadi 1 kalimat kompleks menggunakan konjungsi bertingkat yang tepat. Kriteria penerimaan/acuan: kalimat mengandung konjungsi subordinatif penanda waktu atau pertentangan yang menghubungkan kedua klausa dengan logis (contoh jawaban benar: 'Ketika kami tiba di museum, pintu gerbang masih tertutup rapat.' atau 'Kami tiba di museum, tetapi pintu gerbang masih tertutup rapat.').
Proses:- Pemeriksaan teks tulisan mandiri murid selama proses penulisan: Memeriksa keberadaan minimal 4 kalimat kompleks yang menghubungkan klausa utama dan klausa bawahan secara logis, serta penggunaan variasi pilihan kata/konjungsi yang membuat teks pengalaman menarik dan mengalir lancar.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan akhir draf teks lengkap pengalaman berkunjung murid: Memastikan terpenuhinya kriteria penulisan teks sederhana pengalaman tempat dengan minimal 4 kalimat kompleks terangkai secara utuh dan menarik (acuan penerimaan: teks berupa cerita pengalaman nyata/kunjungan, memuat minimal 4 kalimat majemuk bertingkat yang gramatikal dengan konjungsi seperti ketika, karena, sehingga, setelah, walaupun, dan alur teks tidak terputus).
Formatif:- Uji awal penggabungan dua kalimat tunggal menjadi kalimat kompleks
- Penilaian produk tulisan teks pengalaman berkunjung menggunakan rubrik ketepatan kalimat kompleks dan daya tarik teks
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penggunaan Rangkaian Kalimat Kompleks | Teks hanya memuat kalimat-kalimat tunggal dan belum memuat kalimat kompleks yang tepat. | Teks memuat 1-2 kalimat kompleks, namun hubungan antarklausa masih kaku atau konjungsi yang digunakan belum tepat. | Teks memuat minimal 3-4 kalimat kompleks dengan hubungan antarklausa yang logis dan penggunaan konjungsi yang tepat. | Teks memuat lebih dari 4 kalimat kompleks yang bervariasi penempatan klausanya serta terangkai harmonis di seluruh paragraf. | | Kemenarikan dan Kelengkapan Teks Pengalaman | Cerita pengalaman belum utuh dan penyampaian gagasan terasa terputus-putus. | Menceritakan pengalaman kunjungan secara garis besar, namun detail peristiwa belum disajikan secara memikat. | Menceritakan pengalaman kunjungan secara runtut dan menarik dengan rincian peristiwa yang jelas. | Menceritakan pengalaman kunjungan secara sangat menarik, hidup, mengalir runtut, dan kaya akan penggambaran suasana yang berkesan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi mengenai penggabungan klausa menjadi kalimat kompleks dapat dipahami murid secara mandiri saat menulis?
- Bagian mana dari kegiatan penulisan pengalaman ini yang paling membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?
Murid:- Bagian cerita pengalaman mana dalam tulisanmu yang menurutmu paling menarik dibaca?
- Apakah kamu merasa mudah merangkai kalimat panjang (kompleks) menggunakan kata hubung yang tepat?
Pertemuan 17 — Menganalisis Kembali Informasi Teks Nonsastra dan Menulis Perbaikan Kalimat Kompleks — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengkaji ulang analisis informasi teks aural dan visual, serta menyempurnakan tulisan pengalaman kunjungan dengan rangkaian kalimat kompleks (3 menit).
- Asesmen Awal: Guru membacakan satu kalimat aural pendek ('Benteng Vastenburg didirikan pada abad ke-18 untuk mengawasi penguasa Surakarta.') lalu menayangkan infografik visual mini bertuliskan 'Museum Sonobudoyo: Buka Selasa-Minggu pukul 08.00-15.30 WIB, Tiket Rp10.000'. Murid secara lisan menjawab 2 pertanyaan diagnostik cepat: (1) Apa fungsi Benteng Vastenburg berdasarkan teks yang didengar? (acuan: mengawasi penguasa Surakarta) dan (2) Hari apa Museum Sonobudoyo tutup berdasarkan infografik? (acuan: hari Senin) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak teks aural yang dibacakan guru tentang Gedung Djoeang '45: 'Gedung Djoeang '45 didirikan tahun 1876 sebagai rumah sakit militer Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini beralih fungsi menjadi markas militer Dai Nippon.' (5 menit).
- Murid memirsa teks visual brosur Museum Negeri Papua yang ditayangkan guru, memuat rincian: 'Museum Negeri Papua memamerkan 3.000 koleksi etnografi, buka hari kerja pukul 08.00-15.00 WIT, biaya masuk Rp5.000, pengunjung dilarang menyentuh benda pameran tanpa izin.' (5 menit).
- Murid bersama guru membedah contoh kalimat tunggal menjadi kalimat kompleks bertingkat: 'Saya berkunjung ke museum. Saya ingin melihat benda bersejarah.' digabung menjadi 'Saya berkunjung ke museum karena ingin melihat benda bersejarah secara langsung.' (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Tantangan Menyenangkan 'Detektif Fakta': Murid berpasangan memainkan kuis cepat mencocokkan 3 kartu fakta teks aural dan 3 kartu fakta teks visual pada lembar kerja (acuan aural: [1] Tahun berdiri Gedung Djoeang '45 -> 1876; [2] Fungsi awal -> rumah sakit militer; [3] Penguasa saat menjadi markas Dai Nippon -> Jepang; acuan visual: [1] Jumlah koleksi -> 3.000 koleksi etnografi; [2] Jam buka hari kerja -> 08.00-15.00 WIT; [3] Aturan sentuh -> dilarang menyentuh benda pameran tanpa izin) (10 menit).
- Murid secara mandiri menganalisis teks draf pengalaman kunjungan yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya, lalu menuliskan kembali teks perbaikan minimal 1 paragraf (4-5 kalimat) yang memadukan rangkaian kalimat kompleks bertingkat menggunakan konjungsi penghubung (seperti karena, sehingga, ketika, meskipun) agar teks tersusun secara runtut dan menarik (10 menit).
- Murid menukarkan draf teks perbaikan dengan teman sebangku untuk saling memeriksa apakah kalimat yang dibuat sudah berupa kalimat kompleks dan menarik untuk dibaca berdasarkan kriteria keterbacaan (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menandai bagian kalimat kompleks terbaik yang berhasil mereka tulis dan menuliskan catatan kecil tentang hal yang perlu diperbaiki dari teks nonsastra yang mereka analisis (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran hari ini mengenai ketepatan memverifikasi informasi teks aural dan visual serta keunggulan menggunakan kalimat kompleks dalam teks cerita pengalaman (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas kemandirian belajar murid dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar teks visual berfitur pembesar teks/ikon jelas untuk murid yang membutuhkan bantuan visual.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata hubung bertingkat (karena, saat, agar, sehingga); murid yang mahir diberikan tantangan menulis perbaikan dengan variasi lebih dari 2 klausa anak kalimat.
- Produk: Murid dapat memilih menuliskan perbaikan teks pengalamannya dalam bentuk paragraf jurnal kunjungan bertema museum atau situs bersejarah lokal.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan singkat teks aural: 'Fungsi Benteng Vastenburg berdasarkan teks yang didengar?' (acuan jawaban: mengawasi penguasa Surakarta).
- Tanya jawab lisan singkat teks visual: 'Hari tutup Museum Sonobudoyo berdasarkan infografik mini?' (acuan jawaban: hari Senin).
Proses:- Lembar Kerja Detektif Fakta: mencocokkan 3 rincian fakta aural Gedung Djoeang '45 (Tahun berdiri -> 1876; Fungsi awal -> rumah sakit militer; Penguasa Jepang -> Dai Nippon) dan 3 rincian fakta visual Museum Papua (Jumlah koleksi -> 3.000 etnografi; Jam operasional -> 08.00-15.00 WIT; Aturan -> dilarang menyentuh tanpa izin).
- Pemeriksaan draf tulisan mandiri: Murid menulis teks pengalaman kunjungan dengan rangkaian kalimat kompleks bertingkat minimal memuat 3 konjungsi bertingkat (seperti: ketika/karena/sehingga/agar) yang memadukan klausa secara padu dan menarik.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (1 soal): Menggabungkan 2 kalimat tunggal ('Saya datang terlambat ke museum.' dan 'Bus yang saya tumpangi mengalami mogok di jalan.') menjadi satu kalimat kompleks yang padu (acuan kriteria penerimaan: klausa digabung dengan konjungsi sebab-akibat seperti 'karena/sebab', contoh: 'Saya datang terlambat ke museum karena bus yang saya tumpangi mengalami mogok di jalan').
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja analisis fakta teks aural dan visual 'Detektif Fakta'.
- Penilaian kinerja menulis perbaikan kalimat kompleks pada draf teks pengalaman kunjungan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Informasi Teks Aural Tempat Bersejarah | Belum mampu menemukan rincian informasi tersurat dari teks aural Gedung Djoeang '45 yang dibacakan. | Mampu menemukan 1-2 rincian informasi fakta dari teks aural Gedung Djoeang '45 dengan bantuan guru. | Mampu menganalisis dan menemukan 3 rincian fakta dari teks aural Gedung Djoeang '45 secara mandiri dan tepat. | Mampu menganalisis seluruh rincian fakta dari teks aural Gedung Djoeang '45 secara tepat, mandiri, dan cepat. | | Menganalisis Informasi Teks Visual Museum | Belum mampu mengidentifikasi rincian informasi pada teks visual brosur Museum Papua. | Mampu mengidentifikasi 1-2 informasi pada teks visual brosur Museum Papua dengan bimbingan. | Mampu menganalisis dan mencocokkan 3 rincian informasi (koleksi, jam buka, tata tertib) pada teks visual secara tepat. | Mampu menganalisis seluruh rincian teks visual secara lengkap, cermat, dan tepat tanpa kekeliruan. | | Menulis Teks Pengalaman dengan Rangkaian Kalimat Kompleks secara Menarik | Hanya menulis kalimat-kalimat tunggal lepas tanpa konjungsi bertingkat dalam menceritakan pengalaman. | Menulis teks pengalaman dengan 1-2 kalimat kompleks bertingkat, namun keterpaduan antar-klausa masih canggung. | Menulis teks pengalaman sederhana dengan rangkaian minimal 3 kalimat kompleks bertingkat yang padu dan menarik. | Menulis teks pengalaman sederhana secara utuh dengan rangkaian kalimat kompleks bertingkat yang bervariasi, padu, dan sangat menarik dibaca. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk menyimak teks aural, memirsa visual, dan menulis perbaikan kalimat kompleks sudah terlaksana seimbang?
- Apakah bimbingan pembentukan kalimat kompleks bertingkat sudah efektif membantu murid yang masih sering menulis kalimat tunggal pendek?
Murid:- Bagian mana yang paling mudah: menganalisis informasi yang didengar, yang dilihat, atau merangkai kalimat kompleks?
- Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyusun tulisan pengalaman kunjungan dengan kalimat yang lebih panjang dan menarik?
Pertemuan 18 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.5.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural tentang tempat bersejarah di Indonesia
- TP 5.5.2 Menganalisis informasi dalam teks nonsastra berwujud teks visual mengenai museum di Indonesia
- TP 5.5.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang etika berkunjung ke tempat bersejarah dengan efektif dan santun
- TP 5.5.4 Menulis teks sederhana berdasarkan pengalaman mengunjungi suatu tempat dengan rangkaian kalimat kompleks secara menarik
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan alat tulis seluruh murid (3 menit).
- Guru membacakan petunjuk teknis pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 5 yang mencakup dua sesi utama: unjuk kerja presentasi lisan (Tugas 1) dan tes tertulis analisis teks visual serta menulis narasi pengalaman berkunjung (Tugas 2) (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Sumatif dan membacakan satu kali teks aural tentang tempat bersejarah 'Benteng Fort de Kock': 'Benteng Fort de Kock didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada masa Perang Padri. Benteng ini menjadi saksi sejarah pertahanan dan kini difungsikan sebagai cagar budaya yang terhubung dengan Kebun Binatang Kinantan melalui Jembatan Limpapeh. Seluruh pengunjung wajib menjaga kebersihan, dilarang mencoret dinding benteng, dan dilarang memanjat meriam kuno demi kelestarian peninggalan sejarah.' Murid menyimak dengan saksama tanpa membuka catatan (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1 (Unjuk Kerja Presentasi Lisan - TP 1 dan TP 3): Murid secara bergiliran dalam kelompok kecil (4-5 orang) mempresentasikan di hadapan guru gagasan etika berkunjung dan hasil analisis informasi dari teks aural Benteng Fort de Kock dengan acuan: (1) Menyebutkan fakta sejarah Benteng Fort de Kock (didirikan Kapten Bauer tahun 1825 pada Perang Padri di Bukittinggi); (2) Menyampaikan minimal 2 gagasan etika berkunjung secara santun dan efektif (acuan: menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dilarang mencoret-coret dinding cagar budaya, serta tidak memanjat meriam kuno agar artefak tidak rusak) (30 menit).
- Tugas 2 (Tes Tertulis Mandiri - TP 2 dan TP 4): Secara serentak dan mandiri, murid mengerjakan lembar tes tertulis yang memuat: Bagian A - Analisis Teks Visual Brosur 'Museum Transportasi TMII' (TP 2) yang memuat teks visual dengan 3 pertanyaan: (1) 'Berapa harga tiket masuk dan hari operasional museum?' (Kunci: Rp10.000,00 per orang; buka Selasa sampai Minggu); (2) 'Sebutkan 2 zona koleksi yang dipamerkan berdasarkan denah visual!' (Kunci: Zona Kereta Api dan Zona Penerbangan/Dirgantara); (3) 'Jelaskan arti simbol kamera dicoret pada ruang pameran indoor!' (Kunci: Larangan memotret menggunakan lampu kilat/blitz di dalam ruangan pameran). Bagian B - Menulis Pengalaman (TP 4): Menulis teks 1-2 paragraf pengalaman berkunjung ke suatu tempat dengan menggunakan minimal 2 kalimat kompleks bertingkat yang dihubungkan konjungsi sebab-akibat (karena, sehingga, atau sebab) secara padu dan menarik (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali kelengkapan identitas dan jawaban lembar kerja masing-masing, kemudian mengumpulkannya secara tertib ke meja guru (3 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan, kejujuran, dan kemandirian seluruh murid selama menempuh asesmen sumatif Bab 5 (1 menit).
- Guru merangkum capaian pembelajaran Bab 5 'Cinta Indonesia' serta menutup kegiatan dengan doa penutup dan salam (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses visual berupa ukuran huruf yang lebih besar pada teks brosur bagi murid dengan kendala penglihatan ringan tanpa mengubah isi teks dan bobot soal.
- Proses: Pemberian kesempatan mengulang pembacaan teks aural maksimal 1 kali bagi murid dengan hambatan pemrosesan pendengaran tanpa menurunkan standar penilaian.
- Produk: Murid dengan hambatan motorik halus menulis diperbolehkan menuliskan jawaban draf narasi dengan format huruf cetak renggang pada lembar bergaris khusus.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi performa lisan terpadu dan lembar kerja integratif (menyimak, membaca visual, serta menulis): Penyampaian lisan tentang informasi tempat bersejarah dan etika berkunjung secara santun dalam kelompok, serta lembar kerja analisis teks visual museum dan draf tulisan narasi pengalaman berkunjung dengan kalimat kompleks
- unjuk kerja presentasi lisan kelompok: Penyampaian lisan gagasan etika berkunjung serta hasil analisis informasi tempat bersejarah dari teks aural yang didengarkan bersama, disampaikan secara bergantian dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 murid secara santun dan terstruktur (7 kelompok x 5 menit = 35 menit) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi lisan)
- tes tertulis dan penilaian produk serentak: Lembar kerja tertulis murid yang dikerjakan serentak berisi rincian jawaban analisis teks visual brosur/infografik museum serta teks sederhana 1-2 paragraf tentang pengalaman berkunjung ke suatu tempat menggunakan rangkaian kalimat kompleks (35 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian produk tulisan)
Sumatif:- Asesmen kombinasi performa lisan terpadu dan lembar kerja integratif (menyimak, membaca visual, serta menulis): Penyampaian lisan tentang informasi tempat bersejarah dan etika berkunjung secara santun dalam kelompok, serta lembar kerja analisis teks visual museum dan draf tulisan narasi pengalaman berkunjung dengan kalimat kompleks
- unjuk kerja presentasi lisan kelompok: Penyampaian lisan gagasan etika berkunjung serta hasil analisis informasi tempat bersejarah dari teks aural yang didengarkan bersama, disampaikan secara bergantian dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 murid secara santun dan terstruktur (7 kelompok x 5 menit = 35 menit) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi lisan)
- tes tertulis dan penilaian produk serentak: Lembar kerja tertulis murid yang dikerjakan serentak berisi rincian jawaban analisis teks visual brosur/infografik museum serta teks sederhana 1-2 paragraf tentang pengalaman berkunjung ke suatu tempat menggunakan rangkaian kalimat kompleks (35 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian produk tulisan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Teks Aural Tempat Bersejarah (TP 5.5.1) | Belum mampu menyebutkan fakta pendirian maupun fungsi cagar budaya Benteng Fort de Kock secara tepat. | Menyebutkan 1 fakta sejarah secara tepat (hanya menyebutkan nama pendiri Kapten Bauer atau tahun 1825). | Menyebutkan 2 fakta sejarah teks aural secara tepat (pendiri Kapten Bauer pada 1825 saat Perang Padri dan fungsi cagar budaya). | Menyebutkan seluruh rincian fakta sejarah Benteng Fort de Kock (pendiri Kapten Bauer, tahun 1825, lokasi Bukittinggi/Perang Padri, dan fungsi cagar budaya) secara lengkap dan tepat. | | Menganalisis Informasi Visual Brosur Museum (TP 5.5.2) | Menjawab dengan tepat maksimal 1 dari 3 butir soal analisis teks visual brosur. | Menjawab dengan tepat 2 dari 3 butir soal analisis teks visual brosur. | Menjawab dengan tepat seluruh 3 butir soal teks visual brosur (tiket/jadwal, zona koleksi, dan arti simbol visual) sesuai kunci jawaban. | Menjawab seluruh 3 butir soal teks visual brosur dengan tepat, terperinci, dan memberikan uraian makna simbol secara komprehensif. | | Mempresentasikan Gagasan Etika Berkunjung (TP 5.5.3) | Menyampaikan gagasan etika berkunjung secara tidak runtut dan belum menunjukkan etika berbahasa yang santun. | Menyampaikan 1 gagasan etika berkunjung dengan santun namun gagasan belum terstruktur efektif. | Mempresentasikan minimal 2 gagasan etika berkunjung (menjaga kebersihan dan tidak merusak cagar budaya) secara efektif dan santun. | Mempresentasikan seluruh gagasan etika berkunjung (kebersihan, larangan mencoret, larangan memanjat meriam) dengan pilihan kata yang sangat efektif, jelas, dan santun. | | Menulis Teks Pengalaman dengan Kalimat Kompleks (TP 5.5.4) | Menulis teks pengalaman berkunjung namun hanya menggunakan kalimat tunggal sederhana tanpa konjungsi sebab-akibat. | Menulis teks pengalaman berkunjung dengan 1 kalimat kompleks bersebab-akibat namun hubungan antarklausa belum padu. | Menulis teks pengalaman berkunjung 1-2 paragraf dengan menyertakan minimal 2 kalimat kompleks bersebab-akibat (karena/sehingga/sebab) secara padu. | Menulis teks pengalaman berkunjung yang menarik, tersusun atas lebih dari 2 kalimat kompleks dengan variasi konjungsi sebab-akibat yang tepat dan padu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit untuk presentasi lisan kelompok kecil dan 35 menit untuk tes tertulis mandiri berjalan efektif?
- Bagaimana capaian murid secara keseluruhan terhadap 4 Tujuan Pembelajaran pada Bab 5 ini?
- Kompetensi apa yang masih memerlukan tindak lanjut remedial sebelum melangkah ke bab berikutnya?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini yang paling mudah dan paling menantang bagiku?
- Apakah aku sudah mampu menyampaikan gagasan secara santun dan menulis pengalaman menggunakan kalimat kompleks dengan baik?
SUMBER BELAJAR- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas V SD: Bergerak Bersama (Bab 5 'Cinta Indonesia', halaman 93-95)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas V SD (Bab 5 'Cinta Indonesia', halaman 117 & 125)
- Naskah teks aural 'Berkunjung ke Gedung Djoeang 45 Solo'
- Lembar Kerja Analisis Informasi Tersurat
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024
- Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024
- Naskah teks nonsastra aural 'Benteng Vastenburg dan Jejak Sejarahnya'
- Set kartu berpasangan sebab-akibat
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5 Halaman 100
- Naskah teks nonsastra profil Monumen Kapal Selam Surabaya
- Kartu respon hijau (Benar) dan merah (Salah)
- Lembar Kerja Murid: Menganalisis Kebenaran Pernyataan Teks Aural
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V
- Naskah teks nonsastra aural 'Kompleks Bersejarah Benteng Pendem Cilacap'
- Lembar Kerja Analisis Kosakata dan Rincian Fakta
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), 2024
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), 2024
- Brosur teks visual profil Museum Negeri Provinsi Papua
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5
- Lembar Teks Visual Profil Museum Negeri Provinsi Papua (memuat bagan ruangan koleksi dan jadwal operasional)
- Kartu Skenario Pengunjung 'Detektif Jadwal & Koleksi'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5 Halaman 117-120.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5 Aktivitas Memaknai Tanda Halaman 109-110.
- Kartu dan lembar peraga simbol visual tata tertib museum (ikon kamera, larangan menyentuh, larangan makan-minum, ponsel hening, arah pengunjung).
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Edisi Revisi 2024)
- Contoh lembar teks visual infografik Museum Dirgantara Mandiri dan Museum Bahari Nusantara
- Lembar kerja analisis teks visual tiket dan denah lokasi museum
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024 Bab 5 'Cinta Indonesia' halaman 109-110.
- Lembar Teks Panduan Tertulis 'Panduan Kunjungan Gedung Bersejarah'.
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Bab 5 'Cinta Indonesia', Kemendikbudristek, 2024
- Teks panduan tata tertib dan kartu situasi 'Fasilitas Publik di Kawasan Sejarah'
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5 Halaman 109-110
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5 'Cinta Indonesia'
- Lembar Teks Nonsastra Panduan Ringkas 'Etika Menjaga Kelestarian Cagar Budaya'
- Kartu Skenario Tantangan Duta Etika Budaya
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024, Bab 5
- Lembar Teks Panduan Aturan Kunjungan Situs Percandian Muaro Jambi
- Kartu Alur Gagasan Presentasi (Aturan - Penerapan - Alasan)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 5 'Cinta Indonesia'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas V
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Bagan Kerangka Teks Pengalaman Kunjungan
- Set Kartu Situasi 'Sambung Rantai Kalimat Perjalanan'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024.
- Kerangka karangan pengalaman kunjungan yang dibuat murid pada pertemuan sebelumnya.
- Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), 2024 (Bab 5 'Bahas Bahasa' hlm. 97)
- Papan tulis/lembar peraga kartu kalimat 'Tebak Tepat Ejaan'
- Buku tulis dan draf tulisan pengalaman berkunjung milik murid
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD Edisi Revisi 2024 (Bab 5 'Cinta Indonesia')
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD Edisi Revisi 2024
- Lembar Kerja Menulis Kreatif Pengalaman Pribadi
- Kartu Kalimat Pemantik Konjungsi Bertingkat
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Kemendikbudristek, 2024)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Kemendikbudristek, 2024) Bab 5
- Brosur profil dan infografik visual museum (Museum Papua/Sonobudoyo)
- Rekaman audio/naskah baca guru tentang tempat bersejarah Gedung Djoeang '45 dan Benteng Vastenburg
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD Bab 5 'Cinta Indonesia', Kemendikbudristek 2024
- Naskah teks aural 'Benteng Fort de Kock' dan Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bab 5 (memuat teks visual brosur Museum Transportasi TMII)
|