Modul AjarBab 2Fase CSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 5 Bab 2: Buku Jendela Dunia

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 5 untuk Bab 2 "Buku Jendela Dunia", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 5 Bab 2: Buku Jendela Dunia

Bahasa Indonesia - Kelas 5

Bab 2

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 5 (Fase C)

Topik: Bab 2 — Buku Jendela Dunia

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase C / Kelas 5
TopikBab 2 — Buku Jendela Dunia
Alokasi Waktu38 JP (38 x 35 menit = 1330 menit)
Jumlah Pertemuan19
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku
  2. TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku
  3. TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun
  4. TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Dari mana seorang penulis biasanya mendapatkan ide awal sebelum menulis buku?
  2. Bagaimana kita mengenali informasi pokok ketika mendengarkan penjelasan tentang cara menemukan ide tulisan?
  3. Mengapa seorang penulis buku nonfiksi harus melakukan riset sebelum menulis?
  4. Apa saja rincian fakta yang perlu dicari penulis saat mengumpulkan bahan tulisan?
  5. Setelah penulis mengumpulkan ide dan riset, apa yang harus dilakukan agar ide tersebut berubah menjadi naskah utuh?
  6. Mengapa penulis perlu membuat kerangka karangan sebelum menulis kalimat pertama pada draf bukunya?
  7. Mengapa sebuah naskah cerita yang selesai ditulis oleh pengarang belum boleh langsung dicetak dan dijual?
  8. Apa perbedaan tugas penting antara penulis yang merevisi naskah dan editor/korektor yang menyunting naskah?
  9. Apa yang biasanya dilakukan seseorang ketika menemui kata yang sulit dipahami saat membaca buku?
  10. Mengapa sikap pantang menyerah dan tekun membaca sangat diperlukan untuk memahami isi buku cerita?
  11. Apa tanda seseorang memiliki rasa ingin tahu yang besar saat membaca buku?
  12. Bagaimana gambar ekspresi dan tindakan tokoh dalam cerita bergambar dapat menunjukkan rasa penasarannya terhadap isi buku?
  13. Apa yang biasanya kamu lakukan ketika memiliki buku cerita menarik dan melihat temanmu tidak memiliki bahan bacaan?
  14. Bagaimana kita bisa menemukan nilai kepedulian berbagi dari gambar dan balon kata dalam sebuah komik?
  15. Apa yang biasanya kamu teladani saat membaca cerita tentang seseorang yang sangat suka membaca buku?
  16. Bagaimana kita bisa menemukan nilai moral dari tindakan atau sikap tokoh dalam cerita bergambar?
  17. Sebelum seorang penulis mulai mengetik bab pertama, apa saja langkah perencanaan yang perlu ia siapkan terlebih dahulu?
  18. Bagaimana cara kita menyampaikan ide perencanaan buku secara runtut dan santun agar pendengar mudah memahaminya?
  19. Apa perbedaan tugas utama seorang penulis dan seorang ilustrator saat sebuah buku sedang dibuat?
  20. Bagaimana cara kita mempresentasikan gagasan mengenai tugas kedua tokoh penting pembuat buku tersebut agar mudah dipahami dan disampaikan secara santun?
  21. Mengapa sebuah naskah cerita tidak boleh langsung dicetak sebelum diperiksa oleh editor?
  22. Bagaimana cara menyampaikan gagasan tentang tugas editor dan korektor bahasa agar pendengar mudah memahaminya secara santun?
  23. Bagaimana urutan lengkap perjalanan sebuah ide hingga akhirnya menjadi buku cetak yang siap kita baca?
  24. Bagaimana cara kita menyampaikan seluruh rangkaian proses penulisan buku kepada orang lain agar runtut, jelas, dan santun?
  25. Apa saja unsur penting yang selalu kalian lihat pada sampul depan sebuah buku cerita?
  26. Mengapa sinopsis di sampul belakang buku harus menggunakan kata-kata yang jelas dan memiliki makna sebenarnya (denotatif)?
  27. Apa saja unsur penting yang tertulis di bagian punggung buku dan halaman judul buku?
  28. Bagaimana kita menggunakan kata bermakna kias atau konotatif untuk membuat deskripsi bagian buku menjadi lebih menarik?
  29. Apa fungsi bagian daftar isi dan kata pengantar saat kita membuka sebuah buku?
  30. Bagaimana cara kita membedakan kata yang bermakna sebenarnya (denotatif) dengan kata yang memiliki kiasan/makna tambahan (konotatif) saat menulis kata pengantar?
  31. Jika sebuah buku diibaratkan memiliki tubuh, bagian mana saja yang menyusun anatominya?
  32. Bagaimana kita menggambarkan sampul, punggung, atau isi buku menggunakan kata yang bermakna sebenarnya (denotatif) dan kata yang bermakna kiasan (konotatif)?
  33. Bagaimana ketekunan seorang pembaca buku berhubungan dengan ketekunan seorang penulis saat menyusun bukunya?
  34. Informasi penting apa saja yang harus kita cermati saat mendengarkan proses penulisan buku, dan nilai apa yang bisa kita temukan saat melihat kisah bergambar tentang membaca?
  35. Bagaimana cara kita menyampaikan tahapan pembuatan buku di hadapan teman agar mudah dipahami dan tetap santun?
  36. Bagaimana cara menguraikan pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kata bermakna denotatif dan konotatif secara tepat?
  37. Bagaimana kita membuktikan bahwa kita telah memahami seluruh proses di balik terciptanya sebuah buku?
  38. Apa bukti bahwa membaca buku dapat menumbuhkan nilai ketekunan dan rasa ingin tahu dalam diri kita?
  39. Bagaimana cara kita menjelaskan bagian-bagian buku serta proses penyusunannya dengan runtut dan santun kepada orang lain?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Informasi Pokok dari Teks Nonsastra Aural Mengenai Pencarian Ide Penulisan Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis informasi pokok dari teks aural nonsastra tentang pencarian ide penulisan buku (3 menit).
  • Guru membagikan lembar asesmen awal berisi 2 pertanyaan lisan: (1) Sebutkan 1 sumber datangnya ide cerita yang sering dialami penulis! (2) Dari kalimat yang didengar 'Pengalaman masa kecil sering menjadi inspirasi utama penulis cerita anak', apa informasi pokoknya? (acuan diagnostik: butir 1 menerima jawaban: pengalaman pribadi, membaca buku, mengamati lingkungan sekitar, atau obrolan sehari-hari; butir 2 acuan: pengalaman masa kecil sebagai inspirasi utama/ide penulisan buku anak) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan teks nonsastra aural berjudul 'Langkah Awal Penulis: Berburu Ide Cerita' secara lantang dan jelas sebanyak dua kali: 'Setiap buku berawal dari sebuah ide. Seorang penulis biasanya menemukan ide melalui tiga cara utama. Pertama, mengamati peristiwa sehari-hari di lingkungan sekitar. Kedua, menggali ingatan dari pengalaman masa kecil yang berkesan. Ketiga, rajin membaca berbagai buku bacaan lain untuk memicu inspirasi baru. Ide-ide tersebut kemudian dicatat dalam buku catatan khusus agar tidak terlupakan sebelum mulai dikembangkan.' Murid menyimak dengan saksama tanpa membuka catatan lain (10 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terarah untuk membedah perbedaan informasi pokok (gagasan inti teks) dan informasi pendukung berdasarkan teks yang baru diperdengarkan (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan aktivitas tantangan 'Detektif Ide Pokok' (permainan telaah aural berpasangan): guru membacakan 4 kartu pernyataan kutipan aural, lalu setiap murid secara mandiri menandai pada lembar kerja apakah pernyataan tersebut merupakan 'Informasi Pokok' atau 'Bukan Informasi Pokok': (1) 'Ide penulisan buku dapat ditemukan melalui pengamatan lingkungan, pengalaman masa kecil, dan banyak membaca buku' -> Informasi Pokok; (2) 'Buku catatan khusus berwarna biru sering dijual di toko alat tulis' -> Bukan Informasi Pokok; (3) 'Mencatat ide adalah cara penulis menjaga inspirasi agar tidak terlupakan' -> Informasi Pokok; (4) 'Kertas putih bergaris lebih mudah dipakai menulis tinta hitam' -> Bukan Informasi Pokok (15 menit).
  • Murid mengerjakan lembar kerja analisis teks aural mandiri berdasarkan rekaman aural kedua yang dibacakan guru: 'Penulis anak sering mencari ide dengan mengamati tingkah laku hewan peliharaan di rumah. Selain itu, mereka mencatat obrolan lucu adik atau teman sebaya. Semua catatan ide itu dikumpulkan menjadi bahan cerita yang menarik.' Murid menuliskan 2 informasi pokok dari teks aural tersebut (acuan jawaban: 1. Sumber pencarian ide penulis anak adalah tingkah laku hewan peliharaan; 2. Obrolan lucu adik atau teman sebaya dicatat dan dikumpulkan menjadi bahan cerita) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ketepatan analisis informasi pokok masing-masing berdasarkan kunci acuan yang dibacakan guru, lalu mengidentifikasi bagian informasi mana yang paling mudah atau sulit disaring saat menyimak teks lisan (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan cara menemukan informasi pokok dari teks aural nonsastra mengenai pencarian ide penulisan buku, memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan analisis murid, dan menutup sesi pertemuan pertama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, teks aural dibacakan per penggalan kalimat dengan jeda penanda; untuk murid mahir, teks aural dibacakan dengan tempo wajar tanpa pengulangan terpisah.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis dibantu dengan pertanyaan pemandu (misal: 'Apa hal paling penting yang dibahas dalam kalimat itu?'); murid cepat diminta mengidentifikasi kata kunci penentu informasi pokok secara mandiri.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan menganalisis minimal 1 informasi pokok tepat; murid mahir menganalisis 2 informasi pokok lengkap beserta kata kunci penandanya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan sebelum materi: (1) 'Sebutkan 1 sumber datangnya ide cerita yang sering dialami penulis!' (acuan: pengalaman pribadi, membaca buku, mengamati lingkungan, atau percakapan); (2) 'Dari kalimat: Pengalaman masa kecil sering menjadi inspirasi utama penulis cerita anak, sebutkan informasi pokoknya!' (acuan: pengalaman masa kecil sebagai inspirasi utama ide penulisan buku anak).

Proses:

  • Tantangan 4 kartu pernyataan aural (skor ketepatan klasifikasi Informasi Pokok vs Bukan Informasi Pokok, acuan: nomor 1 dan 3 = Informasi Pokok; nomor 2 dan 4 = Bukan Informasi Pokok).
  • Analisis mandiri lembar kerja teks aural: ketepatan menentukan 2 informasi pokok dari teks aural tentang ide hewan peliharaan dan obrolan lucu (acuan: 1. Sumber ide dari tingkah laku hewan peliharaan; 2. Sumber ide dari obrolan lucu adik/teman yang dicatat jadi bahan cerita).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menjawab 1 pertanyaan cek pemahaman dari teks aural penutup: 'Mengapa seorang penulis perlu mencatat ide segera setelah menemukannya?' (acuan: agar ide/inspirasi tersebut tidak terlupakan sebelum mulai ditulis/dikembangkan).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri analisis informasi pokok teks aural penulisan buku berdasarkan kunci acuan
  • Observasi ketepatan klasifikasi pernyataan pada tantangan Detektif Ide Pokok

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis informasi pokok dari teks nonsastra aural pencarian ide penulisan bukuBelum mampu menentukan informasi pokok dari teks aural yang didengar meski telah dibimbing (0 butir tepat dari acuan).Mampu menentukan 1 informasi pokok dari teks aural secara tepat dengan bimbingan guru (1 butir tepat dari acuan lembar kerja).Mampu menentukan 2 informasi pokok dari teks aural secara tepat dan mandiri sesuai acuan jawaban.Mampu menentukan seluruh 2 informasi pokok dari teks aural secara tepat, mandiri, dan mampu menyortir seluruh informasi pendukung/pengecoh pada tantangan kartu aural.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah artikulasi dan tempo pembacaan teks aural sudah cukup jelas bagi seluruh murid untuk menyimak informasi pokok?
  • Bagian mana dari langkah analisis informasi aural yang masih membuat sebagian murid kesulitan membedakan antara fakta pokok dan detail pendukung?

Murid:

  • Cara apa yang paling membantuku menangkap informasi penting saat guru membacakan teks tentang proses menemukan ide buku?
  • Apakah aku sudah bisa membedakan kalimat yang berisi gagasan pokok dengan kalimat yang hanya berupa rincian tambahan?

Pertemuan 2 — Menganalisis Rincian Fakta dari Teks Nonsastra Aural Mengenai Riset dan Pengumpulan Bahan Penulisan Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembiasaan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis rincian fakta dari teks nonsastra yang didengarkan mengenai tahap riset dan pengumpulan bahan penulisan buku (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan satu kalimat fakta: 'Penulis buku ensiklopedia anak mengunjungi perpustakaan daerah dan mewawancarai dokter hewan untuk mengumpulkan data tentang lumba-lumba' lalu meminta murid mengidentifikasi dua cara pengumpulan bahan yang dilakukan penulis (acuan: mengunjungi perpustakaan dan mewawancarai narasumber/dokter hewan) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan teks nonsastra aural berjudul 'Langkah Penulis Mengumpulkan Fakta': 'Sebelum menulis buku tentang satwa laut nusantara, Kak Danu melakukan riset mendalam. Pertama, Kak Danu membaca 5 buku referensi kelautan di perpustakaan nasional. Kedua, Kak Danu mewawancarai seorang ahli biologi kelautan dari Bunaken untuk mencatat data ukuran dan habitat ikan karang. Ketiga, Kak Danu melakukan observasi langsung dengan mendokumentasikan foto terumbu karang di laboratorium konservasi. Dari riset ini, Kak Danu berhasil mengumpulkan 15 catatan fakta penting tentang perilaku hiu paus dan penyu hijau.' Murid menyimak dengan berkesadaran tanpa membuka buku (8 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terbimbing untuk menegaskan konsep rincian fakta dalam teks aural yang mencakup: cara riset (membaca referensi perpustakaan, wawancara ahli, observasi/dokumentasi) dan hasil data faktual (catatan ukuran, habitat, perilaku hiu paus dan penyu hijau) (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid diajak memainkan tantangan menyimak menggembirakan 'Detektif Fakta Penulis': Guru membacakan 4 pernyataan aural berturut-turut, murid secara mandiri membubuhkan tanda Centang (Benar Sesuai Teks) atau Silang (Salah/Tidak Sesuai Teks) pada lembar detektif mereka: (1) Kak Danu membaca 5 buku referensi kelautan di perpustakaan nasional (Acuan: Benar); (2) Kak Danu mewawancarai dokter hewan dari Jakarta (Acuan: Salah, ahli biologi kelautan Bunaken); (3) Kak Danu melakukan observasi langsung di laboratorium konservasi (Acuan: Benar); (4) Kak Danu mengarang sendiri data habitat tanpa melakukan riset (Acuan: Salah, mencatat fakta riset) (12 menit).
  • Guru membacakan teks aural kedua berjudul 'Riset Pustaka dan Wawancara Penulis Biografi': 'Ibu Ratih menulis buku biografi tokoh pahlawan lokal. Tahap awal riset dilakukan dengan mencari arsip koran lama terbitan tahun 1945 di kantor arsip daerah. Selanjutnya, Ibu Ratih mewawancarai 3 orang saksi sejarah yang merupakan keluarga dekat sang tokoh guna memastikan tanggal kelahiran dan silsilah keluarga. Selain itu, Ibu Ratih mencatat 8 lokasi bersejarah tempat sang tokoh berjuang.' (8 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis teks aural kedua pada lembar kerja analisis fakta dengan menuliskan 3 rincian fakta pengumpulan bahan yang tercantum dalam teks: (1) Sumber arsip riset tertulis (Acuan: arsip koran lama terbitan tahun 1945 di kantor arsip daerah); (2) Sumber narasumber wawancara (Acuan: 3 orang saksi sejarah/keluarga dekat tokoh untuk memastikan tanggal kelahiran dan silsilah); (3) Hasil data tempat yang dikumpulkan (Acuan: catatan 8 lokasi bersejarah perjuangan tokoh) (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ketepatan hasil analisis rincian fakta mereka secara mandiri berdasarkan pembacaan kunci acuan oleh guru, menandai rincian fakta yang berhasil dianalisis dengan tepat (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali pentingnya menganalisis rincian fakta (metode riset, narasumber, arsip, dan data konkret) dari proses penulisan buku (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik capaian belajar murid, menjelaskan kegiatan pertemuan berikutnya tentang alur draf penulisan buku, lalu menutup kelas dengan doa (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Guru memberikan pengulangan intonasi penekanan pada frasa data fakta teks aural bagi murid yang membutuhkan pendampingan menyimak.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kata tanya pemandu (apa arsipnya? siapa narasumbernya? berapa lokasinya?), sedangkan murid berpencapaian tinggi menganalisis fakta langsung secara mandiri tanpa pemandu.
  • Produk: Semua murid menghasilkan analisis 3 rincian fakta yang sama dari teks aural kedua sesuai kriteria ketepatan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan menyimak di awal pelajaran: Guru membacakan 'Penulis buku ensiklopedia anak mengunjungi perpustakaan daerah dan mewawancarai dokter hewan untuk mengumpulkan data tentang lumba-lumba'. Murid diminta menyebutkan 2 cara pengumpulan bahan yang dilakukan penulis (Acuan jawaban: mengunjungi perpustakaan dan mewawancarai dokter hewan/narasumber).

Proses:

  • Kuis Detektif Fakta (Teks 1): Menentukan status kebenaran 4 pernyataan: (1) Kak Danu membaca 5 buku referensi di perpustakaan nasional [Benar]; (2) Kak Danu mewawancarai dokter hewan dari Jakarta [Salah]; (3) Melakukan observasi di laboratorium konservasi [Benar]; (4) Mengarang data habitat tanpa riset [Salah].
  • Lembar Kerja Analisis Fakta (Teks 2): Menganalisis 3 rincian fakta riset Ibu Ratih: Butir 1 (Arsip: koran lama tahun 1945 di kantor arsip daerah); Butir 2 (Wawancara: 3 saksi sejarah/keluarga dekat tentang tanggal lahir & silsilah); Butir 3 (Data tempat: 8 lokasi bersejarah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid mengonfirmasi secara tertulis/lisan 1 fakta utama tentang sumber data narasumber Ibu Ratih (Acuan: 3 orang saksi sejarah/keluarga dekat tokoh).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik di awal pembelajaran mengenai rincian cara pengumpulan data penulis.
  • Kuis detektif fakta (4 butir benar/salah) berdasarkan teks aural pertama.
  • Lembar analisis mandiri berisi 3 rincian fakta riset dan pengumpulan bahan dari teks aural kedua.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Rincian Fakta Teks Nonsastra AuralBelum mampu menemukan rincian fakta dari teks nonsastra aural yang diperdengarkan (0 rincian fakta tepat dari 3 acuan fakta Ibu Ratih).Mampu menemukan 1 rincian fakta dengan tepat dari teks nonsastra aural yang diperdengarkan (1 dari 3 acuan fakta Ibu Ratih tepat).Mampu menganalisis 2 rincian fakta dengan tepat dari teks nonsastra aural yang diperdengarkan secara mandiri (2 dari 3 acuan fakta Ibu Ratih tepat).Mampu menganalisis seluruh 3 rincian fakta dengan tepat dan lengkap dari teks nonsastra aural yang diperdengarkan secara mandiri (3 dari 3 acuan fakta Ibu Ratih: arsip koran 1945, wawancara 3 saksi sejarah, dan 8 lokasi bersejarah tepat).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks nonsastra aural yang dibacakan memiliki kejelasan artikulasi dan kecepatan bicara yang memadai untuk disimak seluruh murid?
  • Bagian mana dari rincian fakta teks aural yang paling menantang untuk ditangkap oleh murid yang memerlukan bimbingan?

Murid:

  • Fakta apa yang paling menarik yang kamu dengar mengenai cara penulis mencari bahan buku?
  • Apakah kamu dapat menangkap nama tempat, angka, dan narasumber saat mendengarkan teks tadi?

Pertemuan 3 — Menganalisis Alur dan Hubungan Antarinformasi dari Teks Nonsastra Aural Mengenai Tahapan Draf Penulisan Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang nyaman (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: menganalisis alur dan hubungan antarinformasi tahapan penyusunan draf buku berdasarkan teks aural yang didengarkan (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan satu kalimat aural: 'Sebelum menyusun kalimat cerita, penulis membuat bagan bab.' Murid diminta menjawab cepat tahap mana yang terjadi lebih dahulu: membuat bagan bab atau menulis kalimat cerita (acuan jawaban: membuat bagan bab) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membacakan teks nonsastra aural berjudul 'Merangkai Draf Buku' secara lantang dengan dua kali pembacaan: 'Teks Aural: Setelah bahan riset terkumpul, penulis memulai tahap pembuatan draf. Langkah pertama adalah menyusun kerangka bab agar alur cerita terarah. Langkah kedua, penulis menulis draf kasar tanpa memikirkan kesalahan kata terlebih dahulu, tujuannya menuangkan semua ide. Langkah ketiga, penulis membaca ulang draf untuk menghubungkan antarparagraf yang melompat. Karena kerangka bab sudah rapi, penulis dapat menyelesaikan draf pertama dengan lancar.' Murid menyimak dengan cermat (7 menit).
  • Murid secara mandiri mencatat kata-kata kunci penanda alur (seperti: setelah, langkah pertama, langkah kedua, langkah ketiga, karena) yang didengar dari teks aural (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan berpasangan 'Rantai Draf Alur': setiap pasangan menerima Lembar Analisis berisi 4 tahapan acak draf buku dari teks aural: [A] Membaca ulang draf untuk menghubungkan paragraf yang melompat; [B] Mengumpulkan bahan riset; [C] Menulis draf kasar tanpa memikirkan kesalahan kata; [D] Menyusun kerangka bab. Pasangan murid menyusun kartu urutan alur yang tepat (acuan urutan: B -> D -> C -> A) (12 menit).
  • Murid dalam pasangan menganalisis hubungan sebab-akibat antarinformasi pada 2 butir soal lembar analisis: Butir 1: 'Mengapa penulis membuat kerangka bab?' (acuan: agar alur cerita terarah); Butir 2: 'Apa akibat dari kerangka bab yang sudah rapi?' (acuan: penulis dapat menyelesaikan draf pertama dengan lancar) (10 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Perwakilan pasangan membacakan hasil analisis urutan alur dan hubungan sebab-akibat yang ditemukan, lalu guru memberikan konfirmasi serta penguatan atas bukti teks aural yang disimak (10 menit).
  • Murid memeriksa kembali ketepatan hasil analisis masing-masing dan menyimpulkan pentingnya urutan logis dalam menyusun draf tulisan (5 menit).

Penutup:

  • Guru membimbing murid merangkum temuan analisis alur tahapan draf buku (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir singkat secara lisan dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, guru membacakan ulang teks aural bagian kalimat transisi alur secara perlahan. Untuk murid yang mahir, teks diperdengarkan dalam kecepatan normal tanpa pengulangan kalimat per kalimat.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan diberikan kartu alur berpemandu warna pembeda, sedangkan murid mahir langsung menyusun dan menganalisis hubungan sebab-akibat secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menghasilkan laporan analisis urutan 4 tahap alur dan 2 hubungan sebab-akibat antarinformasi draf buku.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Dengarkan kalimat berikut: Sebelum menyusun kalimat cerita, penulis membuat bagan bab. Manakah tahapan yang dilakukan lebih dahulu?' (acuan jawaban: membuat bagan bab).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengurutan 4 kartu alur tahapan draf buku: [A] Membaca ulang draf untuk menghubungkan paragraf yang melompat; [B] Mengumpulkan bahan riset; [C] Menulis draf kasar tanpa memikirkan kesalahan kata; [D] Menyusun kerangka bab. (acuan urutan benar: B -> D -> C -> A).
  • Pemeriksaan ketepatan analisis 2 hubungan antarinformasi: Butir 1: 'Mengapa penulis membuat kerangka bab?' (acuan: agar alur cerita terarah); Butir 2: 'Apa akibat dari kerangka bab yang sudah rapi?' (acuan: penulis dapat menyelesaikan draf pertama dengan lancar).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: 'Berdasarkan teks aural yang tadi disimak, apa alasan penulis tidak memikirkan kesalahan kata saat menulis draf kasar?' (acuan jawaban: tujuannya untuk menuangkan semua ide terlebih dahulu).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal lisan terkait pemahaman alur dasar sebelum penulisan.
  • Asesmen formatif unjuk kerja berpasangan menganalisis urutan alur 4 tahap dan 2 hubungan sebab-akibat pada lembar kerja berdasarkan teks aural.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menganalisis Urutan Alur Tahapan Draf Buku dari Teks AuralTepat mengurutkan 0-1 dari 4 tahapan alur draf buku (acuan urutan: B -> D -> C -> A) dengan bimbingan penuh.Tepat mengurutkan 2 dari 4 tahapan alur draf buku (acuan urutan: B -> D -> C -> A).Tepat mengurutkan 3 dari 4 tahapan alur draf buku (acuan urutan: B -> D -> C -> A).Tepat mengurutkan seluruh 4 tahapan alur draf buku secara mandiri dan runtut (acuan urutan: B -> D -> C -> A).
Ketepatan Menganalisis Hubungan Antarinformasi Sebab-Akibat dari Teks AuralBelum mampu menjawab dengan tepat kedua hubungan sebab-akibat (Butir 1 acuan: agar alur cerita terarah; Butir 2 acuan: penulis dapat menyelesaikan draf pertama dengan lancar).Tepat menganalisis 1 dari 2 hubungan sebab-akibat antarinformasi draf buku sesuai teks aural.Tepat menganalisis kedua hubungan sebab-akibat (2 dari 2 butir) antarinformasi draf buku sesuai teks aural.Tepat menganalisis kedua hubungan sebab-akibat (2 dari 2 butir) secara lengkap dan mandiri tanpa keraguan sesuai teks aural.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pelafalan teks aural oleh guru sudah cukup jelas dan terdengar oleh seluruh murid di kelas?
  • Bagian tahapan draf manakah yang paling sering tertukar urutannya oleh murid saat menyimak teks aural?

Murid:

  • Kata penghubung apa yang paling membantumu mengenali urutan tahapan pembuatan draf saat menyimak?
  • Apakah kamu dapat menemukan alasan mengapa draf kasar perlu ditulis tanpa memikirkan kesalahan kata?

Pertemuan 4 — Menganalisis Informasi Kritis dari Teks Nonsastra Aural Mengenai Revisi dan Penyuntingan Naskah Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam dan memandu murid memfokuskan perhatian pada proses akhir penyiapan naskah buku (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan cuplikan singkat: 'Rani selesai menulis cerita petualangan, lalu langsung mencetaknya sebanyak 100 eksemplar tanpa dibaca ulang.' Guru mengajukan pertanyaan: 'Apa risiko yang terjadi jika Rani tidak melakukan revisi atau penyuntingan naskah?' (Acuan jawaban benar: naskah masih memiliki kesalahan isi, ketidakkonsistenan cerita, salah ketik, atau tata bahasa keliru sehingga membingungkan pembaca) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan teks nonsastra aural berjudul 'Tahap Kritis Menuju Buku Sempurna: Revisi dan Penyuntingan Naskah': 'Setelah draf selesai, naskah tidak langsung naik cetak. Penulis menerima catatan perbaikan dari editor redaksi. Tahap revisi berfokus pada substansi atau isi cerita, seperti memperbaiki logika alur, memperdalam karakter tokoh, dan menambahkan data hasil riset yang kurang lengkap. Setelah penulis memperbaiki isi, naskah masuk ke meja penyuntingan. Editor dan korektor bahasa memeriksa kesalahan ketik, tanda baca, dan keefektifan kalimat tanpa mengubah inti cerita. Kedua tahap ini sangat kritis karena memastikan buku yang sampai ke tangan pembaca akurat, mudah dipahami, dan berkualitas tinggi.' (8 menit).
  • Murid secara berkesadaran menyimak pemodelan guru dalam menganalisis perbedaan fokus kritis antara revisi (fokus substansi/isi oleh penulis) dan penyuntingan (fokus kebahasaan/keterbacaan oleh editor/korektor) (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menyelenggarakan aktivitas tantangan menggembirakan 'Detektif Kritis Naskah' di mana murid mendengarkan pembacaan 4 studi kasus mini aural dan menentukan dengan cepat apakah kasus tersebut memerlukan tindakan 'Revisi Isi' atau 'Penyuntingan Kebahasaan': (1) Tokoh utama tiba-tiba berubah nama di tengah cerita -> Tindakan: Revisi Isi; (2) Terdapat kata 'makan' yang tertulis keliru menjadi 'mkan' -> Tindakan: Penyuntingan Kebahasaan; (3) Alur cerita melompat tanpa ada alasan logis -> Tindakan: Revisi Isi; (4) Kalimat terlalu berbelit-belit dan tanda titik terlupakan -> Tindakan: Penyuntingan Kebahasaan (10 menit).
  • Guru membacakan teks aural kedua: 'Laporan Masalah Naskah Buku Sains Cilik: Tim redaksi menemukan 4 persoalan pada naskah terpilih: (A) Fakta jarak bumi ke bulan salah hitung; (B) Terdapat 15 kata serapan yang salah eja; (C) Bagian kesimpulan bab dua belum ditulis oleh pengarang; (D) Penggunaan huruf kapital pada nama kota belum seragam.' Murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis dengan mengelompokkan keempat persoalan tersebut ke dalam kategori tindakan kritis yang tepat (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memverifikasi ketepatan hasil analisis secara mandiri berdasarkan konfirmasi acuan dari guru: Kasus A dan C adalah 'Tindakan Revisi Isi oleh Penulis', sedangkan Kasus B dan D adalah 'Tindakan Penyuntingan Kebahasaan oleh Editor/Korektor' (10 menit).
  • Murid menyimpulkan fungsi kritis tahapan revisi dan penyuntingan dalam memastikan keakuratan dan kelayakan naskah buku nonsastra/sastra sebelum diterbitkan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kemampuan murid menyimak dan menganalisis informasi kritis dari teks aural (3 menit).
  • Guru memandu murid melakukan refleksi singkat mengenai ketelitian menyimak dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan pengulangan pembacaan butir persoalan dengan artikulasi dan jeda yang lebih lambat; murid yang mahir diberikan variasi butir persoalan teks aural yang lebih kompleks mencakup pertentangan argumen dalam naskah.
  • Proses: Scaffolding bertahap: murid reguler menganalisis secara mandiri setelah latihan berpasangan, murid berpencapaian tinggi langsung menganalisis hubungan sebab-akibat dampak kesalahan naskah terhadap pembaca.
  • Produk: Format penyampaian analisis dapat berupa lembar centang kategori kritis maupun tabel pemetaan uraian ringkas sesuai kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru mengajukan pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika seorang penulis menemukan bahwa ada bagian cerita yang ceritanya tidak masuk akal dan ada banyak kata yang salah ketik, langkah apa yang harus dilakukan penulis dan editor?' (Kriteria/Acuan jawaban benar: penulis harus merevisi isi ceritanya agar masuk akal, dan editor/korektor harus menyunting kata yang salah ketik).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja analisis teks aural 'Laporan Masalah Naskah Buku Sains Cilik' berisi 4 butir pernyataan masalah: (A) Fakta jarak bumi ke bulan salah hitung; (B) 15 kata serapan salah eja; (C) Bagian kesimpulan bab dua belum ditulis; (D) Huruf kapital nama kota belum seragam. Kunci acuan: Persoalan Revisi Substansi/Isi = A dan C; Persoalan Penyuntingan Kebahasaan/Koreksi = B dan D. Kriteria: Murid tepat mengkategorikan minimal 3 dari 4 persoalan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi berupa pertanyaan lisan reflektif: 'Sebutkan 2 perbedaan pokok antara tahap revisi dan tahap penyuntingan berdasarkan teks aural yang telah didengar!' (Acuan jawaban benar: (1) Revisi berfokus pada isi/alur/fakta oleh penulis, sedangkan penyuntingan berfokus pada ejaan/tata bahasa/tanda baca oleh editor; (2) Revisi bertujuan memperbaiki ketepatan substansi cerita, penyuntingan bertujuan memastikan keterbacaan dan kerapian bahasa).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik awal mengenai pemahaman konsep revisi dan penyuntingan naskah.
  • Tugas analisis mandiri mengidentifikasi dan mengelompokkan 4 informasi kritis naskah berdasarkan teks aural yang dibacakan guru.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis informasi kritis teks aural proses revisi dan penyuntingan naskahBelum mampu menganalisis informasi kritis dari teks aural; mengelompokkan masalah naskah dengan tepat paling banyak 1 dari 4 persoalan acuan (A, B, C, D) walau telah dibimbing.Mampu menganalisis sebagian informasi kritis dari teks aural; mengelompokkan masalah naskah dengan tepat 2 dari 4 persoalan acuan (A, B, C, D) dengan bantuan arahan guru.Mampu menganalisis sebagian besar informasi kritis dari teks aural; mengelompokkan masalah naskah dengan tepat 3 dari 4 persoalan acuan (A, B, C, D) secara mandiri.Mampu menganalisis seluruh informasi kritis dari teks aural secara tepat dan konsisten; mengelompokkan seluruh 4 dari 4 persoalan acuan (A: Revisi, B: Penyuntingan, C: Revisi, D: Penyuntingan) secara mandiri tanpa kesalahan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks aural yang dibacakan guru memiliki kecepatan, kejelasan intonasi, dan tingkat kesulitan yang sesuai dengan daya simak murid kelas 5?
  • Apakah murid sudah dapat membedakan secara kritis batas tanggung jawab revisi naskah (penulis) dan penyuntingan naskah (editor/korektor)?

Murid:

  • Bagian mana dari teks aural yang paling mudah dan paling sulit saya analisis informasinya hari ini?
  • Mengapa saya perlu memperhatikan perbedaan antara kesalahan isi dan kesalahan ejaan saat mendengarkan laporan naskah?

Pertemuan 5 — Menganalisis Nilai Ketekunan dalam Teks Sastra Cerita Pendek Visual Bertema Kecintaan Membaca Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: menganalisis nilai ketekunan dalam teks sastra cerita pendek visual bertema kecintaan membaca buku (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) 'Apa arti kata tekun dalam membaca?' (acuan: bersungguh-sungguh/pantang menyerah/terus berusaha meski sulit) dan (2) 'Sebutkan 1 tindakan tokoh yang menunjukkan rasa tidak mudah menyerah saat membaca buku' (acuan: membaca berulang kali/mencari arti kata sulit di kamus/bertanya kepada orang lain) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memirsa dan membaca teks cerita pendek visual berjudul 'Langkah Kecil Rian Menembus Cerita' yang memuat ilustrasi dan teks narasi tentang tokoh Rian yang membaca buku cerita tebal bertema petualangan (10 menit).
  • Guru memandu murid membedah wujud nilai ketekunan tokoh Rian melalui telaah 3 bukti visual dan tekstual: (1) Rian tetap membaca meski lampu kamar redup dan mengganti lilin, (2) Rian mencatat 4 kosakata sulit di buku kecil lalu memeriksa kamus, (3) Rian mengulang membaca bab 2 sebanyak 3 kali hingga mengerti jalan ceritanya (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan mengikuti permainan detektif nilai 'Jejak Ketekunan Rian' dengan menganalisis 4 kutipan tindakan tokoh berikut: (1) Rian menolak bermain bola di siang terik sebelum menyelesaikan bab 3 buku petualangannya; (2) Rian menyusun kembali halaman buku cerita pinjaman perpustakaan yang robek dengan selotip bening secara hati-hati; (3) Rian menabung uang sakunya selama dua pekan untuk membeli kamus kecil pembantu membaca; (4) Rian menyalin kalimat-kalimat indah dari buku cerita ke jurnal membaca setiap malam sebelum tidur (15 menit).
  • Setiap murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis untuk mengidentifikasi wujud nilai ketekunan serta bukti teks/visual dari ke-4 kutipan tersebut (acuan kunci: [1] ketekunan meluangkan waktu/fokus membaca buku hingga tuntas; [2] ketekunan merawat dan menjaga fisik buku bacaan; [3] ketekunan berkorban demi sarana penunjang membaca; [4] ketekunan mendokumentasikan hasil bacaan secara konsisten) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis lembar kerja terhadap 4 wujud nilai ketekunan tokoh Rian dan memeriksa ketepatan buktinya (5 menit).

Penutup:

  • Murid merangkum nilai ketekunan membaca yang ditemukan dalam cerita pendek visual (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil analisis nilai ketekunan dan menutup pertemuan (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan perancah diberikan teks cerita dengan penanda visual (warna sorot) pada kalimat tindakan tokoh, sedangkan murid yang siap diberikan teks cerita utuh tanpa penanda.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal didampingi guru membaca terbimbing untuk menemukan bukti tekstual, sementara murid yang mahir menganalisis bukti hubungan sebab-akibat tindakan tokoh secara mandiri.
  • Produk: Semua murid mengisi lembar analisis nilai ketekunan dengan kedalaman analisis sesuai tingkat kesiapannya (menyebutkan wujud nilai dan bukti kutipan teks).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes lisan diagnostik kesiapan analisis nilai ketekunan melalui 2 pertanyaan di awal sesi: (1) Apa arti tekun dalam kegiatan membaca buku? (acuan: terus berupaya, sungguh-sungguh, tidak putus asa saat menghadapi teks sukar); (2) Sebutkan contoh tindakan murid yang tekun membaca (acuan: membaca berulang, membaca sampai selesai, mengecek kata sukar di kamus).

Proses:

  • Lembar analisis mandiri menganalisis 4 kutipan/peristiwa teks sastra cerita visual 'Langkah Kecil Rian Menembus Cerita': Kutipan 1 (Rian menolak ajakan main bola sebelum menuntaskan bab 3); Kutipan 2 (Rian memperbaiki halaman robek buku cerita perpustakaan); Kutipan 3 (Rian menabung dua pekan untuk membeli kamus pendukung baca); Kutipan 4 (Rian menyalin kalimat indah buku cerita ke jurnal tiap malam). Kriteria tepat: murid tepat menganalisis wujud nilai ketekunan sesuai acuan kunci untuk keempat butir.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan 1 simpulan nilai ketekunan membaca dari tokoh Rian beserta 1 alasan bukti tekstualnya pada tiket keluar (acuan: nilai ketekunan pantang menyerah/fokus menyelesaikan buku dibuktikan dengan membaca ulang bab yang sulit atau menyisihkan waktu bermain).

Formatif:

  • Penilaian proses analisis lembar kerja 'Jejak Ketekunan Rian' yang memuat ketepatan menentukan 4 nilai ketekunan tokoh dan bukti tekstual/visualnya.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Nilai Ketekunan dalam Teks Cerita Pendek VisualBelum mampu menentukan wujud nilai ketekunan tokoh dan bukti pendukungnya (0-1 kutipan tepat dari 4 acuan).Mampu menentukan 2 wujud nilai ketekunan tokoh beserta bukti teks/visualnya secara tepat dari 4 acuan.Mampu menentukan 3 wujud nilai ketekunan tokoh beserta bukti teks/visualnya secara tepat dari 4 acuan.Mampu menentukan seluruh (4) wujud nilai ketekunan tokoh beserta bukti teks/visualnya secara tepat dan mandiri sesuai seluruh acuan kunci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks sastra cerita pendek visual yang disajikan mampu memandu murid menemukan bukti nilai ketekunan dengan jelas?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama permainan detektif nilai dalam menganalisis tindakan tokoh?

Murid:

  • Tindakan tekun membaca apa dari tokoh Rian yang paling ingin kamu tiru saat membaca buku cerita?
  • Bagian mana dari cerita bergambar tadi yang paling jelas menunjukkan bahwa Rian tidak mudah putus asa?

Pertemuan 6 — Menganalisis Nilai Rasa Ingin Tahu Tokoh dalam Teks Sastra Narasi Bergambar Bertema Kecintaan Membaca Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis nilai rasa ingin tahu tokoh dalam teks narasi bergambar bertema kecintaan membaca buku (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 1 panel visual: 'Seorang anak melihat buku tebal di rak dan langsung bertanya kepada pustakawan tentang misteri isi peta di buku itu'. Guru mengajukan pertanyaan lisan: 'Tindakan apa yang menunjukkan rasa ingin tahu anak tersebut?' Murid menjawab langsung (acuan jawaban benar: anak mendekati/melihat buku tebal dan aktif bertanya tentang isi peta yang belum diketahuinya) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memirsa teks sastra narasi bergambar berjudul 'Rahasia Peti Pustaka' yang ditampilkan di papan/lembar bacaan berisi 3 panel bergambar: Panel 1 memperlihatkan tokoh Bima mengamati ensiklopedia sains yang baru tiba di perpustakaan; Panel 2 memperlihatkan Bima mencatat istilah 'ekspedisi kutub' yang belum ia pahami; Panel 3 memperlihatkan Bima mencari tiga buku rujukan lain untuk menemukan jawaban atas arti kata tersebut (7 menit).
  • Guru memandu murid membedah wujud visual nilai rasa ingin tahu pada teks narasi bergambar tersebut, yakni melalui ekspresi wajah berbinar, tindakan mendekati bahan bacaan, dan upaya aktif mencari jawaban dari buku (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan aktivitas interaktif menyenangkan 'Detektif Rasa Ingin Tahu': murid menerima teks narasi bergambar 4 panel berjudul 'Penjelajah Kamar Buku' dan bertugas menemukan 3 bukti konkret tindakan rasa ingin tahu tokoh Tara beserta maknanya dalam tabel analisis (panel 1: Tara membuka peta bintang di buku astronomi; panel 2: Tara membawa kaca pembesar untuk membaca tulisan kecil pada diagram orbit; panel 3: Tara membandingkan foto planet di buku dengan langit malam; panel 4: Tara tertidur memeluk buku) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Analisis Nilai Rasa Ingin Tahu untuk menguraikan tindakan tokoh pada panel 1, 2, dan 3 yang mencerminkan kecintaan membaca buku (acuan: Panel 1 = membuka buku untuk mengetahui rahasia rasi bintang; Panel 2 = menggunakan kaca pembesar membuktikan ketelitian menggali fakta orbit; Panel 3 = membandingkan langsung teori buku dengan benda langit) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi pencocokan bersama atas bukti-bukti nilai rasa ingin tahu tokoh Tara yang ditemukan murid dalam teks visual (5 menit).
  • Murid menyimpulkan bagaimana teks sastra narasi bergambar menyampaikan nilai rasa ingin tahu pembaca melalui perpaduan teks narasi dan ilustrasi tindakan tokoh (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil analisis nilai rasa ingin tahu tokoh dalam teks visual yang telah dikerjakan murid (5 menit).
  • Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa penutup dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks narasi bergambar dengan fokus pada 2 panel paling kontras tindakannya; murid yang telah mahir menganalisis seluruh 4 panel hingga dampak rasa ingin tahu tokoh.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal didampingi menggunakan pertanyaan penuntun pada lembar kerja ('Apa yang dipegang tokoh?', 'Mengapa tokoh melakukan itu?'), sedangkan murid mahir menganalisis mandiri.
  • Produk: Seluruh murid menyajikan hasil analisis nilai rasa ingin tahu tokoh pada format tabel yang sama, dengan kedalaman bukti visual sesuai tingkat kesiapan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik menggunakan 1 panel bergambar anak yang mengamati buku tebal dan bertanya kepada pustakawan; murid menjawab bukti tindakan rasa ingin tahu tokoh (acuan: tokoh mendekati buku dan mengajukan pertanyaan tentang peta yang tidak ia ketahui).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Analisis Nilai Rasa Ingin Tahu berdasarkan teks narasi bergambar 4 panel 'Penjelajah Kamar Buku'. Guru memeriksa ketepatan analisis pada 3 bukti tindakan tokoh: (1) Panel 1: membuka peta bintang untuk mencari rahasia rasi bintang; (2) Panel 2: memakai kaca pembesar untuk membaca rincian diagram orbit; (3) Panel 3: membandingkan fakta buku astronomi dengan pengamatan langit malam nyata.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir): 'Sebutkan 1 tindakan tokoh Tara pada teks visual yang paling kuat menunjukkan rasa ingin tahu membaca buku dan jelaskan artinya!' (acuan: tindakan memakai kaca pembesar membaca diagram orbit menunjukkan kehausan memahami rincian fakta sains di buku).

Formatif:

  • Penilaian proses analisis nilai rasa ingin tahu tokoh dalam teks sastra narasi bergambar melalui lembar analisis tertulis dan rubrik ketercapaian

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Nilai Rasa Ingin Tahu Tokoh dalam Teks VisualBelum mampu menemukan tindakan tokoh yang menunjukkan rasa ingin tahu pada teks narasi bergambar secara tepat meski dibimbing guru.Mampu menemukan 1 bukti tindakan tokoh yang mencerminkan rasa ingin tahu membaca buku sesuai acuan (dari 3 bukti yang tersedia).Mampu menganalisis 2 hingga 3 bukti tindakan tokoh yang mencerminkan nilai rasa ingin tahu membaca buku sesuai acuan teks narasi bergambar secara mandiri.Mampu menganalisis seluruh 3 bukti tindakan tokoh yang mencerminkan nilai rasa ingin tahu membaca buku secara tepat lengkap disertai penjelasan keterkaitan antara ilustrasi visual dan teks narasi secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks sastra narasi bergambar yang digunakan cukup jelas memvisualisasikan nilai rasa ingin tahu tokoh?
  • Bagian mana dari langkah analisis nilai yang masih membingungkan bagi sebagian murid?

Murid:

  • Gambar atau tindakan tokoh mana dalam cerita bergambar tadi yang paling jelas menunjukkan rasa penasarannya terhadap isi buku?
  • Apakah kamu dapat menemukan bukti rasa ingin tahu tokoh tanpa bantuan teman atau guru?

Pertemuan 7 — Menganalisis Nilai Kepedulian Berbagi Bacaan dalam Teks Sastra Komik Visual Bertema Kecintaan Membaca Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan suasana belajar yang tertib serta menyenangkan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis nilai kepedulian berbagi bacaan dalam teks sastra komik visual bertema kecintaan membaca buku (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal dengan menampilkan 1 panel visual komik pembuka yang memperlihatkan tokoh Doni meminjamkan buku cerita kepada temannya yang sedang duduk bersedih, lalu meminta murid mengidentifikasi tindakan berbagi dan alasan tindakan tersebut (acuan jawaban: tindakan berbagi adalah Doni meminjamkan buku ceritanya; alasannya karena ia peduli agar temannya ikut merasakan kegembiraan membaca buku) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks sastra komik visual 4 panel berjudul 'Kotak Baca Sahabat': Panel 1 memperlihatkan Kartini menerima paket buku bacaan baru; Panel 2 memperlihatkan Kartini membaca buku dengan tekun di serambi; Panel 3 memperlihatkan Kartini melihat teman-temannya tidak memiliki buku bacaan; Panel 4 memperlihatkan Kartini mengumpulkan teman-temannya dan membagikan buku-buku tersebut untuk dibaca bersama di bawah pohon (7 menit).
  • Guru memodelkan cara menganalisis nilai kepedulian berbagi bacaan dengan mengamati petunjuk visual (ekspresi wajah tersenyum, gestur menyodorkan buku) dan teks pada balon kata ('Mari kita baca buku ini bersama-sama') pada Panel 4 (acuan: nilai kepedulian berbagi bacaan tampak dari kesediaan tokoh memberikan akses membaca kepada orang lain tanpa pamrih) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan analisis visual cepat berpasangan 'Tebak Bukti Kebaikan', yaitu mencocokkan potongan balon kata dan ekspresi tokoh komik dengan nilai kepedulian yang sesuai secara antusias dan tepat (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis teks sastra komik visual 4 panel berjudul 'Berbagi Cerita' pada Lembar Analisis Komik untuk mengidentifikasi 3 bukti nilai kepedulian berbagi bacaan berdasarkan panel: (1) Bukti Panel 2: Tokoh menyisihkan buku dongeng miliknya untuk dibawa ke sekolah; (2) Bukti Panel 3: Tokoh menawarkan buku pinjaman kepada teman yang tidak punya bacaan; (3) Bukti Panel 4: Tokoh duduk bersama teman mendampingi membaca kata-kata sulit (16 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisisnya dan menyimpulkan bagaimana gambar visual serta kata-kata tokoh komik saling melengkapi dalam memperlihatkan nilai kepedulian berbagi buku (acuan: gambar memperlihatkan tindakan fisik memberi/berdampingan, sedangkan teks memperkuat niat tulus mengajak membaca bersama) (7 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai cara menganalisis nilai kepedulian berbagi bacaan melalui visual dan teks pada komik (4 menit).
  • Murid mengerjakan cek pemahaman akhir 1 butir tertulis singkat untuk menentukan nilai kepedulian dari satu kutipan panel komik penutup (4 menit).
  • Guru memberikan penguatan apresiatif terhadap hasil analisis murid dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan komik dengan penanda visual khusus (lingkaran warna) pada panel yang memuat tindakan berbagi; murid mahir menganalisis komik tanpa tanda panduan dengan rincian interaksi visual yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru membaca ekspresi tokoh panel per panel; murid mahir menganalisis bukti hubungan antargambar dan balon kata secara mandiri.
  • Produk: Semua murid mengisi lembar analisis nilai kepedulian berbagi bacaan sesuai indikator ketepatan yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 1 panel visual komik Doni: Murid diminta mengidentifikasi tindakan tokoh dan nilai kepedulian yang tercermin (acuan jawaban: Doni meminjamkan buku ceritanya kepada teman yang bersedih; nilai kepedulian tampak dari kepeduliannya berbagi kegembiraan membaca buku).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar analisis komik 4 panel 'Berbagi Cerita' pada tahap aplikasi: Memeriksa ketepatan analisis murid pada 3 bukti nilai kepedulian berbagi bacaan: (1) Bukti Panel 2: menyisihkan buku bacaan milik sendiri; (2) Bukti Panel 3: menawarkan pinjaman buku kepada teman; (3) Bukti Panel 4: mendampingi teman membaca bersama (kriteria ketepatan: minimal menemukan 2 dari 3 bukti nilai kepedulian berbagi bacaan secara tepat sesuai teks visual).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat pada penutup: Diberikan 1 cuplikan panel komik berbalon kata 'Ini buku ensiklopedia untukmu, kita pelajari bab binatang bersama ya!'. Murid menuliskan analisis nilai kepedulian yang terkandung (acuan jawaban benar: nilai kepedulian berbagi bacaan ditunjukkan lewat kesediaan memberikan buku ensiklopedia miliknya dan mengajak teman belajar bersama).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja mandiri analisis nilai kepedulian berbagi bacaan pada teks sastra komik visual
  • Pengamatan ketercapaian analisis saat permainan berpasangan Tebak Bukti Kebaikan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis nilai kepedulian berbagi bacaan dalam teks sastra komik visualBelum mampu menemukan bukti nilai kepedulian berbagi bacaan dari teks visual komik (0 bukti tepat dari 3 bukti acuan).Mampu menemukan 1 bukti nilai kepedulian berbagi bacaan dari teks visual komik secara tepat sesuai acuan dengan bimbingan guru.Mampu menganalisis dan menemukan minimal 2 dari 3 bukti nilai kepedulian berbagi bacaan dari teks visual komik secara tepat dan mandiri.Mampu menganalisis seluruh 3 bukti nilai kepedulian berbagi bacaan dari teks visual komik secara lengkap, tepat, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan teks sastra komik visual efektif membantu murid membedah nilai kepedulian berbagi bacaan?
  • Bagian langkah pembelajaran manakah yang paling membantu murid memahami keterkaitan antara ilustrasi gambar dan teks dialog tokoh?

Murid:

  • Bagian gambar atau kalimat mana dalam komik yang paling mudah menunjukkan sikap peduli berbagi buku?
  • Apakah kamu kini dapat menemukan pesan kebaikan yang tersembunyi di balik gambar-gambar cerita komik?

Pertemuan 8 — Menganalisis Nilai-Nilai Moral dan Keteladanan Tokoh dalam Kutipan Teks Sastra Visual Bertema Kecintaan Membaca Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus belajar hari ini yaitu menganalisis nilai moral dan keteladanan tokoh dalam kutipan cerita bergambar bertema kecintaan membaca buku (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menampilkan 1 kutipan berilustrasi tentang tokoh bernama Danu yang menyisihkan uang sakunya selama sebulan demi membeli buku cerita di pameran buku, lalu mengajukan 1 pertanyaan pemantik lisan untuk mengecek kesiapan murid mengidentifikasi nilai moral dan sikap teladan tokoh (acuan: nilai moral berhemat/pengorbanan/pantang menyerah demi ilmu pengetahuan; sikap teladan tekun menabung dan tidak boros jajan demi buku) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan analisis nilai moral dan keteladanan pada layar/papan tulis melalui kutipan teks sastra visual 'Kotak Baca Kartini' yang menampilkan panel Kartini tekun membaca majalah De Hollandsche Lelie dan menuliskan gagasannya (8 menit).
  • Murid dipandu mengidentifikasi 2 unsur utama: tindakan tokoh (misalnya: rajin membaca warta luar negeri dan membagikan ide lewat tulisan) serta nilai moral/keteladanan yang terkandung di dalamnya (semangat belajar mandiri dan wawasan terbuka) (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Dalam aktivitas permainan berpasangan 'Tebak Kartu Teladan', murid mencocokkan 4 kartu kutipan tindakan tokoh dengan 4 kartu nilai moral/keteladanan secara bergiliran dan menyenangkan: Kartu 1 'Tio merawat buku pinjaman perpustakaan dengan sampul plastik dan tidak melipat halamannya' berpasangan dengan Nilai A 'Tanggung jawab terhadap amanah dan kepedulian menjaga fasilitas belajar'; Kartu 2 'Sita membuat jadwal membaca buku 15 menit setiap malam sebelum tidur walau hari sedang dingin' berpasangan dengan Nilai B 'Disiplin dan konsistensi dalam memperluas wawasan'; Kartu 3 'Rian membacakan dongeng cerita rakyat bergambar kepada adik-adiknya di pos baca sore' berpasangan dengan Nilai C 'Kepedulian berbagi kegembiraan literasi dan kasih sayang'; Kartu 4 'Mita tetap berusaha memahami istilah sulit di ensiklopedia dengan membuka kamus tanpa langsung menyerah' berpasangan dengan Nilai D 'Ketekunan dan daya juang dalam memecahkan rasa penasaran ilmiah' (acuan pasangan: Kartu 1-Nilai A, Kartu 2-Nilai B, Kartu 3-Nilai C, Kartu 4-Nilai D) (15 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan lembar analisis membaca dan memirsa kutipan teks sastra visual 'Perpustakaan Kakek Jati' yang memuat 2 panel kutipan teks visual: Panel 1 memperlihatkan tokoh Kakek Jati yang teliti menata kembali buku-buku lama yang hampir rusak agar tetap bisa dibaca anak-anak desa; Panel 2 memperlihatkan tokoh Bima yang sabar mengantre giliran membaca buku cerita bergambar tanpa berebut dengan temannya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisisnya secara berkesadaran dengan mencocokkan bukti tindakan tokoh pada panel dengan rumusan nilai moral yang ditulis (acuan: Panel 1 memuat nilai keteladanan kepedulian terhadap pemeliharaan buku dan dedikasi sosial; Panel 2 memuat nilai moral ketertiban, kesabaran, dan penghargaan terhadap hak orang lain) (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara menemukan nilai moral dan keteladanan dari kutipan cerita visual, yaitu dengan melihat tindakan nyata tokoh dan alasan di balik perbuatannya saat berinteraksi dengan buku (3 menit).
  • Murid menjawab 1 pertanyaan cek pemahaman singkat lisan penutup dan guru memberikan umpan balik atas ketercapaian analisis murid sebelum menutup pembelajaran (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks visual dengan teks narasi pendukung yang lebih ringkas dan petunjuk fokus tindakan tokoh, sedangkan murid yang siap pengayaan diberikan teks visual tanpa teks pendukung yang menuntut pemaknaan visual murni.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing langkah demi langkah menghubungkan tindakan fisik tokoh dengan label nilai moral, sedangkan murid mahir langsung menganalisis secara mandiri.
  • Produk: Semua murid mengisi lembar analisis nilai moral dan keteladanan tokoh dengan standar kompetensi analisis yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik berdasarkan 1 ilustrasi kutipan Danu menabung demi buku (acuan jawaban: nilai berhemat/pengorbanan demi ilmu pengetahuan, keteladanan tekun menyisihkan uang saku untuk buku bacaan).

Proses:

  • Pengamatan ketercapaian saat permainan tebak kartu berpasangan: ketepatan menjodohkan 4 kartu tindakan tokoh dengan 4 nilai moral (acuan: Kartu 1-Nilai A tanggung jawab, Kartu 2-Nilai B disiplin, Kartu 3-Nilai C kepedulian berbagi, Kartu 4-Nilai D ketekunan).
  • Pemeriksaan lembar analisis kutipan visual 'Perpustakaan Kakek Jati' untuk 2 panel (acuan: Panel 1 memuat nilai keteladanan merawat buku/dedikasi literasi sosial; Panel 2 memuat nilai moral kesabaran/ketertiban/menghargai giliran membaca sesama teman).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: menyebutkan nilai moral utama dari tokoh Bima pada teks visual yang dibaca (acuan: nilai moral kesabaran dan ketertiban mengantre membaca buku).

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja mencocokkan kartu nilai teladan
  • Lembar analisis tertulis nilai moral dan keteladanan dari kutipan teks sastra visual 'Perpustakaan Kakek Jati'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Nilai Moral dan Keteladanan Tokoh dalam Teks Sastra VisualBelum mampu menemukan tindakan tokoh maupun merumuskan nilai moral dari kutipan teks sastra visual.Mampu mengidentifikasi tindakan tokoh pada kutipan teks sastra visual, namun belum tepat merumuskan nilai moral atau keteladanannya (kurang dari 2 panel tepat).Mampu menganalisis tindakan tokoh serta merumuskan nilai moral dan keteladanannya secara tepat pada 2 panel teks sastra visual sesuai acuan dengan sedikit bimbingan.Mampu menganalisis tindakan tokoh serta merumuskan nilai moral dan keteladanan tokoh secara mandiri, lengkap, dan tepat pada seluruh panel teks sastra visual sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah kutipan teks sastra visual yang disajikan mampu memantik murid mengenali nilai-nilai moral kecintaan membaca secara jelas?
  • Bagian mana dari langkah analisis nilai keteladanan yang paling membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?

Murid:

  • Apa nilai keteladanan dari tokoh pembaca buku hari ini yang paling ingin kamu tiru dalam kehidupan sehari-hari?
  • Apakah kamu merasa mudah menemukan pesan kebaikan dari gambar dan tindakan tokoh dalam cerita tadi?

Pertemuan 9 — Mempresentasikan Gagasan Tahap Perencanaan dari Teks Nonsastra Proses Kreatif Penyusunan Buku dengan Efektif dan Santun — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-9, yaitu mempresentasikan gagasan tahap perencanaan buku secara efektif dan santun (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang 3 langkah perencanaan buku (menentukan ide/tema, menentukan sasaran pembaca, dan membuat kerangka garis besar isi) untuk memetakan kesiapan berbicara murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati infografik/teks nonsastra alur penulisan buku pada buku siswa dan menyimak pemodelan guru tentang cara mempresentasikan gagasan perencanaan dengan kalimat pembuka santun, penyampaian poin inti yang jelas, serta kalimat penutup yang santun (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan memainkan tantangan menggembirakan 'Estafet Juru Bicara Penulis': setiap murid menyusun 3 poin gagasan perencanaan buku impian (ide/tema, pembaca sasaran, kerangka bab), lalu secara bergantian mempresentasikannya kepada pasangan selama 2 menit dengan kalimat efektif dan santun (15 menit).
  • Beberapa perwakilan murid maju ke depan kelas untuk mempresentasikan gagasan tahap perencanaan bukunya di hadapan seluruh kelas, sementara murid lain menyimak dan memberikan apresiasi menggunakan kalimat yang santun (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan jalannya presentasi: murid mengevaluasi apakah seluruh gagasan tahap perencanaan sudah tersampaikan secara runtut serta apakah tutur kata yang digunakan sudah santun dan efektif (8 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan unsur-unsur penting dalam mempresentasikan tahap perencanaan penulisan buku (ide/tema, sasaran pembaca, kerangka isi) secara efektif dan santun (4 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas keberanian murid berbicara di depan kelas serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu panduan berisikan kata kunci alur presentasi: pembuka santun, 3 poin perencanaan (tema, pembaca, kerangka), dan penutup santun. Bagi murid mahir, disediakan kartu tantangan untuk menambahkan rincian latar belakang pemilihan tema.
  • Proses: Murid yang belum percaya diri berlatih terlebih dahulu dengan berbisik terarah kepada pasangannya sebelum presentasi di depan kelas, sedangkan murid mahir langsung mempresentasikan gagasan tanpa kartu panduan kata kunci.
  • Produk: Semua murid mempresentasikan gagasan tahap perencanaan buku secara lisan dengan pemenuhan 3 gagasan pokok (tema, sasaran pembaca, kerangka bab) serta etika santun.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan berbicara lisan melalui tanya jawab singkat di awal pelajaran: Murid diminta menyebutkan apa saja yang direncanakan penulis sebelum menulis buku. Kriteria penerimaan operasional: Murid mampu menyebutkan minimal 2 dari 3 unsur perencanaan berikut: (1) menentukan tema/ide cerita, (2) menentukan sasaran pembaca (misal anak-anak/remaja), (3) membuat kerangka bab/garis besar cerita.

Proses:

  • Formatif unjuk kerja presentasi gagasan tahap perencanaan penulisan buku saat aktivitas mandiri/berpasangan di depan kelas, dinilai berdasarkan kelengkapan 3 gagasan perencanaan (tema, pembaca sasaran, kerangka buku), efektivitas kalimat (langsung pada inti, tidak berbelit), dan kesantunan bahasa (menggunakan kata sapaan/permisi/terima kasih).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Murid secara acak menyampaikan 1 kalimat santun penutup presentasi yang tepat (acuan jawaban: 'Sekian presentasi dari saya mengenai rencana buku ini, terima kasih atas perhatian teman-teman' atau kalimat bersinonim santun).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja presentasi lisan menggunakan lembar amatan ketercapaian efektivitas gagasan dan kesantunan berbahasa.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Gagasan Tahap PerencanaanHanya mempresentasikan 1 gagasan perencanaan penulisan buku secara terbimbing.Mempresentasikan 2 gagasan perencanaan penulisan buku secara mandiri.Mempresentasikan 3 gagasan perencanaan penulisan buku (tema, sasaran pembaca, dan kerangka isi) secara tepat.Mempresentasikan 3 gagasan perencanaan penulisan buku secara tepat dan memberikan uraian rinci pendukung gagasan secara mandiri.
Efektivitas Penyampaian GagasanMenyampaikan gagasan dengan kalimat berbelit-belit dan sulit ditangkap maknanya.Menyampaikan gagasan dengan kalimat yang sebagian besar efektif namun masih terdapat keraguan/pengulangan gagasan.Menyampaikan seluruh gagasan dengan kalimat yang efektif, jelas, dan lugas.Menyampaikan seluruh gagasan dengan runtut, kalimat sangat efektif, padat, dan langsung pada inti materi secara konsisten.
Kesantunan BerbicaraBelum menggunakan ungkapan santun saat membuka, memaparkan, maupun menutup presentasi.Menggunakan ungkapan santun hanya pada bagian pembuka atau penutup saja.Menggunakan ungkapan santun (salam sapaan, permohonan izin/permisi, ucapan terima kasih) secara konsisten dari pembuka hingga penutup.Menggunakan pilihan kata yang sangat santun, menghargai audiens secara konsisten tanpa perlu diingatkan guru.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 70 menit cukup memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk mempresentasikan gagasannya?
  • Apakah media alur teks nonsastra perencanaan buku membantu murid menyusun bahan presentasinya dengan sistematis?

Murid:

  • Apakah kamu merasa percaya diri saat menyampaikan gagasan rencana bukumu di depan teman-teman?
  • Bagian mana dari caramu mempresentasikan gagasan yang menurutmu sudah santun dan jelas?

Pertemuan 10 — Mempresentasikan Gagasan Peran Penulis dan Ilustrator dari Teks Nonsastra Proses Kreatif Penyusunan Buku secara Santun — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mempresentasikan gagasan mengenai peran penulis dan ilustrator dalam pembuatan buku secara efektif dan santun (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan dua pertanyaan pemantik kesiapan: (1) Siapa yang bertugas menulis cerita naskah buku? (acuan: penulis), dan (2) Siapa yang bertugas menggambar visual cerita? (acuan: ilustrator) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks nonsastra komik proses pembuatan buku pada Buku Siswa halaman 28-29, berfokus pada dua peran utama: Penulis (menghasilkan ide cerita, menyusun draf naskah, merevisi naskah) dan Ilustrator (membuat gambar/visual pendukung cerita berdasarkan arahan pengarah visual) (8 menit).
  • Guru membagikan Lembar Bagan Gagasan yang memuat panduan struktur presentasi efektif (pembuka salam, uraian peran penulis, uraian peran ilustrator, penutup santun) dan memodelkan cara menyampaikan gagasan dengan pilihan kata lugas serta kalimat santun (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain tantangan berpasangan 'Estafet Suara Penulis-Ilustrator': setiap pasangan menyusun poin ringkas gagasan lalu berlatih bergantian mempresentasikan peran penulis dan ilustrator secara efektif dan santun (15 menit).
  • Secara bergiliran, perwakilan pasangan mempresentasikan gagasan peran penulis dan ilustrator di depan kelas menggunakan panduan poin: (1) Peran Penulis: membuat naskah dan memperbaiki naskah, (2) Peran Ilustrator: menggambar ilustrasi naskah, disertai kalimat pembuka dan penutup yang santun (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan keberhasilan presentasi yang telah disampaikan, mendiskusikan bagian penjelasan yang sudah efektif (jelas tanpa bertele-tele) dan kesantunan bahasa yang digunakan (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa penulis bertanggung jawab atas teks naskah dan ilustrator bertanggung jawab atas keindahan gambar visual dalam buku (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap efektivitas dan kesantunan penyampaian presentasi murid, serta menutup pelajaran dengan salam dan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci peran (penulis: draf naskah; ilustrator: gambar visual), sedangkan murid yang sudah mahir mempresentasikan teks nonsastra dengan uraian detail interaksi antara penulis dan ilustrator.
  • Proses: Pada latihan berpasangan, murid yang belum percaya diri berlatih dengan bimbingan langsung guru, sementara murid yang mahir berlatih mandiri dengan pasangannya.
  • Produk: Semua murid mempresentasikan gagasan secara lisan; murid dapat memilih mempresentasikan dengan bantuan catatan poin kecil atau mempresentasikannya secara langsung tanpa kartu bantuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat pemahaman peran: Guru bertanya (1) 'Siapa yang bertugas menulis draf cerita?' (acuan: penulis), dan (2) 'Siapa yang bertugas menggambar visual karakter?' (acuan: ilustrator).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid mempresentasikan gagasan peran penulis dan ilustrator secara berpasangan/di depan kelas dengan kriteria: kelengkapan 2 peran (penulis dan ilustrator), efektivitas penyampaian (gagasan jelas, runtut), dan kesantunan (bahasa sopan, menyapa, berterima kasih).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta 2 murid menyebutkan kembali secara singkat fungsi utama penulis (acuan: menyusun cerita/teks) dan fungsi ilustrator (acuan: membuat gambar/ilustrasi naskah) secara santun.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja presentasi lisan gagasan peran penulis dan ilustrator menggunakan lembar observasi efektivitas dan kesantunan berbahasa.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Efektivitas Gagasan (Kelengkapan & Kejelasan Peran)Mempresentasikan gagasan dengan tidak lengkap (hanya menyebut 1 peran tanpa penjelasan tugas) dan penyampaian berbelit-belit.Mempresentasikan gagasan mengenai 2 peran (penulis dan ilustrator) namun penjelasan tugas masih tertukar atau kurang jelas.Mempresentasikan gagasan peran penulis (penyusun naskah) dan peran ilustrator (pembuat gambar visual) secara jelas, tepat, dan runtut.Mempresentasikan gagasan peran penulis dan ilustrator secara lengkap, sangat jelas, runtut, serta mampu menguraikan keterkaitan tugas keduanya secara mandiri.
Kesantunan PresentasiMempresentasikan gagasan tanpa menggunakan salam pembuka, kata santun, atau ucapan penutup.Mempresentasikan gagasan dengan menggunakan salam pembuka, namun belum menggunakan ungkapan penutup atau bahasa yang santun secara konsisten.Mempresentasikan gagasan secara santun dengan menyertakan salam pembuka, pilihan kata sopan, dan ucapan terima kasih pada penutup.Mempresentasikan gagasan secara konsisten sangat santun, menggunakan salam pembuka, pilihan kata yang sangat sopan dan apresiatif, serta penutup dengan percaya diri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid berani dan mampu mempresentasikan gagasan mengenai peran penulis dan ilustrator secara lisan?
  • Bagaimana efektivitas permainan berpasangan 'Estafet Suara Penulis-Ilustrator' dalam melatih kesantunan dan kelancaran berbicara murid?

Murid:

  • Bagian mana dari peran penulis dan ilustrator yang paling mudah saya jelaskan kepada teman?
  • Apakah saya sudah berbicara dengan bahasa yang santun saat menyampaikan gagasan tadi?

Pertemuan 11 — Mempresentasikan Gagasan Tahap Penyuntingan Naskah dari Teks Nonsastra Proses Kreatif Penyusunan Buku dengan Efektif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan pemantik mengenai tugas tahap penyuntingan dalam proses kreatif penyusunan buku (acuan jawaban: editor memeriksa keterpaduan cerita dan memberi catatan perbaikan; korektor bahasa membetulkan salah ketik dan tata bahasa) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempresentasikan gagasan mengenai tahap penyuntingan naskah (peran editor dan korektor bahasa) dari teks nonsastra proses kreatif penyusunan buku secara efektif dan santun (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati bagan teks nonsastra infografik proses pembuatan buku pada Buku Siswa halaman 27-28 yang memuat 3 gagasan pokok tahap penyuntingan: (1) Naskah dibaca oleh editor untuk menilai kelayakan isi cerita, (2) Naskah dibahas dalam rapat redaksi lalu editor membuat catatan perbaikan untuk direvisi penulis, (3) Korektor bahasa memeriksa dan memperbaiki kesalahan ketik serta tata bahasa (10 menit).
  • Murid menyusun kerangka kartu tutur presentasi berdasarkan 3 gagasan pokok tahap penyuntingan tersebut dengan memperhatikan susunan kalimat yang efektif dan pilihan kata yang santun (seperti menggunakan kata sapaan pembuka 'Selamat pagi teman-teman' dan penutup 'Terima kasih atas perhatiannya') (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan berpasangan 'Tantangan Kurir Berita Naskah' di mana secara bergantian setiap murid mempresentasikan gagasan tahap penyuntingan naskah kepada pasangannya menggunakan kartu tutur selama 2 menit secara efektif tanpa berbelit-belit dan dengan tutur kata yang santun (15 menit).
  • Perwakilan murid mempresentasikan gagasan tahap penyuntingan naskah (tugas editor dalam memeriksa isi dan tugas korektor bahasa memperbaiki ejaan/salah ketik) secara mandiri di depan kelas dengan bahasa yang efektif dan sikap berbicara yang santun (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan penyampaian presentasi yang telah dilakukan dengan memeriksa ketercakupan 3 gagasan pokok tahap penyuntingan serta kesantunan ungkapan tutur yang digunakan saat berbicara (5 menit).

Penutup:

  • Murid menjawab pertanyaan cek pemahaman singkat mengenai fungsi penyuntingan naskah dalam penerbitan buku (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kelancaran dan kesantunan presentasi murid serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu alur bantu berisi kata kunci 3 tahap penyuntingan bagi murid yang membutuhkan panduan alur bicara.
  • Proses: Memberikan latihan pengulangan simulasi presentasi berpasangan terbimbing bagi murid yang ragu berbicara, serta kesempatan berbicara langsung tanpa kartu catatan bagi murid yang sudah mahir.
  • Produk: Bagi murid mahir mempresentasikan gagasan tahap penyuntingan secara lengkap disertai contoh konkret kesalahan naskah yang diperbaiki editor/korektor bahasa; bagi murid pemula mempresentasikan minimal 2 gagasan pokok tahap penyuntingan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Apa tugas editor dan korektor bahasa saat menerima naskah dari penulis?' (acuan: editor memeriksa dan mengoreksi alur/isi tulisan serta memberi catatan perbaikan; korektor bahasa memperbaiki kesalahan ketik dan kaidah tata bahasa).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja saat murid mempresentasikan gagasan tahap penyuntingan naskah pada aktivitas 'Tantangan Kurir Berita Naskah' dan presentasi kelas dengan indikator: memuat 3 gagasan pokok penyuntingan (evaluasi naskah oleh editor, revisi naskah bersama penulis, perbaikan salah ketik oleh korektor) serta menggunakan bahasa tutur yang efektif dan kalimat santun.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: 'Sebutkan secara ringkas 2 hal utama yang dikerjakan pada tahap penyuntingan naskah sebelum buku dicetak!' (acuan jawaban: [1] Pemeriksaan kelayakan isi naskah dan pembuatan catatan revisi oleh editor; [2] Pemeriksaan serta pembenahan kesalahan ketik dan tata bahasa oleh korektor bahasa).

Formatif:

  • Unjuk kerja presentasi lisan gagasan tahap penyuntingan naskah menggunakan lembar observasi berbicara efektif dan santun.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Efektivitas Gagasan Tahap PenyuntinganMenyampaikan kurang dari 2 gagasan tahap penyuntingan naskah atau penjelasan berbelit-belit dan tidak runtut.Menyampaikan 2 gagasan pokok tahap penyuntingan naskah (evaluasi naskah oleh editor dan perbaikan oleh korektor bahasa) dengan kalimat yang cukup jelas namun masih ada pengulangan kata yang tidak perlu.Menyampaikan seluruh 3 gagasan pokok tahap penyuntingan naskah (evaluasi naskah oleh editor, koordinasi revisi dengan penulis, dan pembenahan salah ketik oleh korektor bahasa) secara efektif, runtut, dan jelas.Menyampaikan seluruh 3 gagasan pokok tahap penyuntingan naskah secara efektif, sangat runtut, padat, dan disertai elaborasi detail peran editor serta korektor bahasa secara mandiri.
Kesantunan Berbicara dalam PresentasiMenyampaikan gagasan tanpa menggunakan salam pembuka/penutup dan memakai kata-kata yang kurang sopan kepada pendengar.Menyampaikan gagasan dengan menggunakan salam pembuka atau penutup saja, serta intonasi bicara terkadang terkesan menuntut atau tergesa-gesa.Menyampaikan gagasan secara santun menggunakan salam pembuka, kata sapaan ramah, dan salam penutup yang tepat.Menyampaikan gagasan dengan tutur kata yang sangat santun, menggunakan salam pembuka dan penutup, ungkapan apresiasi kepada pendengar secara konsisten dan wajar tanpa diingatkan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapatkan giliran dan berani mempresentasikan gagasan tahap penyuntingan naskah?
  • Apakah aktivitas berpasangan 'Tantangan Kurir Berita Naskah' efektif melatih keberanian dan efektivitas tutur murid?

Murid:

  • Gagasan apa saja mengenai tahap penyuntingan naskah yang berhasil aku sampaikan kepada teman?
  • Bagian mana dari caraku mempresentasikan gagasan yang menurutku sudah santun dan mudah dipahami teman?

Pertemuan 12 — Mempresentasikan Gagasan Rangkaian Utuh dari Teks Nonsastra Proses Kreatif Penyusunan Buku secara Efektif dan Santun — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-12, yaitu mempresentasikan gagasan rangkaian utuh dari teks nonsastra tentang proses kreatif pembuatan buku secara efektif dan santun (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan untuk mengecek kesiapan murid mengingat urutan proses pembuatan buku: 'Sebutkan 4 tahapan besar pembuatan buku secara berurutan mulai dari ide hingga terbit!' (acuan jawaban: 1. Penemuan ide dan riset; 2. Penulisan draf; 3. Penyuntingan/revisi oleh editor dan korektor; 4. Ilustrasi/tata letak dan percetakan/penerbitan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memirsa dan mencermati bagan infografik teks nonsastra 'Bagaimana Buku Dibuat' yang memuat alur utuh 4 tahapan (ide/riset, draf, penyuntingan/revisi, percetakan) di layar kelas (5 menit).
  • Murid bersama guru membedah kriteria presentasi gagasan yang efektif (gagasan disampaikan runtut dari awal sampai akhir tanpa melompat dan kalimat jelas langsung pada inti) serta santun (menggunakan kata sapaan pembuka dan penutup yang sopan seperti 'Selamat pagi teman-teman, hari ini saya akan menyampaikan...' dan 'Terima kasih atas perhatian teman-teman') (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain tantangan berpasangan 'Estafet Kurir Buku' (Game Edukatif Menggembirakan): secara berpasangan, murid bergantian menyusun kartu alur dan mempraktikkan presentasi kilat saling menguji keruntutan tahapan pembuatan buku secara menyenangkan (10 menit).
  • Setiap murid secara mandiri menyiapkan kartu panduan presentasi ringkas yang memuat poin-poin gagasan 4 tahapan utuh proses kreatif penulisan buku (10 menit).
  • Murid secara bergiliran mempresentasikan gagasan rangkaian utuh proses kreatif penyusunan buku di depan kelas atau kelompok kecil dengan efektif (alur runtut 4 tahap) dan santun (kalimat pembuka dan penutup sopan) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memberikan tanggapan apresiasi terhadap presentasi rekan berpasangan berdasarkan kriteria keruntutan alur dan kesantunan berbahasa (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik formatif langsung terhadap kelengkapan dan keefektifan presentasi alur proses kreatif yang disampaikan murid (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali poin-poin penting dalam mempresentasikan alur utuh proses kreatif pembuatan buku secara runtut dan santun (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas keberanian murid berbicara dan menyampaikan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu panduan alur bergambar dengan kata kunci tahapan, sedangkan murid yang sudah mahir menyajikan presentasi menggunakan bagan alur teks nonsastra yang lebih detail.
  • Proses: Murid yang memerlukan perancah berlatih terlebih dahulu satu kali bersama guru sebelum tampil, sedangkan murid mahir langsung mempresentasikan gagasan secara mandiri.
  • Produk: Variasi format lembar panduan presentasi (skema rantai ide sederhana atau peta konsep rinci proses penerbitan).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: 'Sebutkan 4 tahapan besar pembuatan buku secara berurutan mulai dari ide hingga terbit!' (Acuan jawaban benar: 1. Penemuan ide dan riset; 2. Penulisan draf; 3. Penyuntingan/revisi oleh editor dan korektor; 4. Ilustrasi/desain dan pencetakan/penerbitan).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid mempresentasikan rangkaian utuh proses pembuatan buku. Indikator yang diamati: (1) Keefektifan gagasan: menyajikan 4 tahapan alur secara lengkap dan runtut; (2) Kesantunan: menggunakan kalimat sapaan pembuka dan penutup yang sopan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: 'Apa yang membuat presentasi rangkaian proses pembuatan buku terdengar efektif dan santun bagi pendengar?' (Acuan jawaban: Efektif jika tahapan disampaikan runtut dan jelas dari ide sampai cetak tanpa tertukar; santun jika menggunakan kata pembuka, penyampaian yang hormat, dan kata penutup terima kasih).

Formatif:

  • Unjuk kerja presentasi lisan gagasan rangkaian utuh proses kreatif pembuatan buku dinilai dengan rubrik pengamatan efektivitas dan kesantunan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keefektifan Gagasan (Kelengkapan dan Keruntutan Alur)Menyampaikan kurang dari 2 tahapan proses penulisan buku dan alur tidak berurutan.Menyampaikan 2-3 tahapan proses penulisan buku tetapi urutan alur belum sepenuhnya tepat.Menyampaikan 4 tahapan utuh proses pembuatan buku (ide/riset, draf, revisi/penyuntingan, percetakan) secara berurutan dan runtut.Menyampaikan seluruh 4 tahapan utuh proses pembuatan buku secara runtut, sangat jelas, terstruktur, dan mandiri tanpa bantuan.
Kesantunan PresentasiTidak menggunakan ungkapan santun pembuka maupun penutup saat presentasi.Hanya menggunakan salah satu ungkapan santun (pembuka saja atau penutup saja).Menggunakan ungkapan santun pembuka dan penutup yang sopan saat mempresentasikan gagasan.Secara konsisten menggunakan pilihan kata santun, bersahabat, dan sangat sopan sepanjang pembukaan, isi, hingga penutup presentasi secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah percaya diri dan mampu menyampaikan 4 tahapan proses penulisan buku secara runtut?
  • Bagian tahapan mana dalam presentasi yang masih sering terlewatkan oleh murid saat berbicara di depan kelas?

Murid:

  • Apakah aku sudah berhasil menyampaikan urutan pembuatan buku dari ide sampai dicetak secara runtut kepada teman?
  • Kalimat santun apa saja yang sudah berhasil aku gunakan saat membuka dan menutup presentasiku hari ini?

Pertemuan 13 — Menulis Draf Teks Sederhana Bagian Sampul Depan dan Belakang Buku Menggunakan Kosakata Bermakna Denotatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan memandu doa singkat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menulis draf teks sederhana yang berisi deskripsi bagian sampul depan dan sampul belakang buku dengan memilih kosakata bermakna denotatif (makna sebenarnya) (3 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan kuis diagnostik singkat berupa 2 kalimat untuk memeriksa pemahaman murid mengenai makna denotatif: (1) 'Adit menjadi kutu buku di kelasnya' dan (2) 'Adit membaca buku ensiklopedia tebal di perpustakaan'. Murid mengidentifikasi kalimat mana yang menggunakan kata 'buku' dengan makna sebenarnya/denotatif (acuan jawaban benar: kalimat 2, karena merujuk pada benda fisik lembaran kertas berjilid, sedangkan kalimat 1 bermakna kiasan/suka membaca) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati 1 contoh fisik buku fiksi/nonfiksi yang disediakan guru dan membedah unsur-unsur pada sampul depan (judul, nama penulis, nama ilustrator, penerbit) serta sampul belakang (sinopsis/ringkasan isi, nomor ISBN, testimoni singkat) (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan konsep tentang penulisan teks deskripsi bagian buku menggunakan kosakata bermakna denotatif (kata lugas/makna kamus sebenarnya, seperti: tebal, memuat, lembar, ringkasan, penulis) agar pembaca mendapatkan gambaran yang akurat mengenai fisik sampul buku (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Tantangan 'Detektif Kosakata Denotatif' (permainan bahasa berpasangan yang menggembirakan): murid berpasangan memilih 4 kartu kata denotatif yang disediakan untuk mendeskripsikan sampul: kartu (1) 'tebal', (2) 'kertas', (3) 'sinopsis', (4) 'warna'. Pasangan yang paling cepat memasangkan kata dengan bagian sampul yang sesuai mendapatkan apresiasi bintang belajar (acuan: 'tebal' -> jumlah halaman/ketebalan; 'kertas' -> bahan sampul; 'sinopsis' -> ringkasan di sampul belakang; 'warna' -> tampilan sampul depan) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menulis draf teks deskripsi sederhana (1-2 paragraf, minimal 4-5 kalimat) yang mendeskripsikan hasil pengamatan mereka terhadap sampul depan dan sampul belakang salah satu buku bacaan pilihan di meja mereka, dengan wajib menyertakan minimal 3 kosakata bermakna denotatif (misalnya: memuat, judul, penulis, sinopsis, ilustrasi) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang draf teks yang baru ditulisnya secara hening untuk memeriksa apakah informasi sampul depan (judul dan penulis) serta sampul belakang (sinopsis) telah dideskripsikan menggunakan kata-kata bermakna denotatif yang tepat (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap beberapa draf tulisan murid serta mengklarifikasi kata-kata yang masih bermakna ambigu atau kiasan agar diubah menjadi denotatif (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini mengenai unsur penting sampul depan dan belakang serta penggunaan kosakata denotatif dalam menulis teks pengamatan buku (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas ketelitian murid menulis draf dan mengingatkan bahwa draf ini akan dilanjutkan pada bagian anatomi buku lainnya di pertemuan berikutnya, diakhiri dengan doa penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format draf berbingkai (lembar panduan isian rumpang bagian sampul depan dan belakang), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan buku dengan variasi desain sampul yang lebih padat teks.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan membedakan denotatif didampingi guru dengan daftar kosakata denotatif terarah; murid yang mahir menulis draf secara mandiri penuh.
  • Produk: Draf tulisan sederhana mencakup deskripsi sampul depan dan belakang; murid mahir menyusun minimal 6 kalimat deskripsi dengan variasi kosakata denotatif yang lebih kaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik 2 butir kalimat untuk membedakan kata bermakna denotatif dan kiasan: Kalimat (1) 'Adit menjadi kutu buku di kelasnya' vs Kalimat (2) 'Adit membaca buku ensiklopedia tebal di perpustakaan'. (Kriteria penerimaan: Murid mampu memilih kalimat 2 sebagai kalimat dengan kata 'buku' yang bermakna denotatif/makna sebenarnya).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menulis draf teks pengamatan: memeriksa ketercakupan unsur sampul depan (judul, penulis) dan sampul belakang (sinopsis), serta memverifikasi pemakaian minimal 3 kosakata denotatif yang tepat (acuan kata denotatif yang diterima: judul, penulis, gambar, warna, tebal, sinopsis, penerbit, halaman, tulisan).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan akhir draf teks sederhana tulisan murid: kriteria penerimaan operasional adalah draf teks memuat deskripsi tertulis mengenai bagian sampul depan dan sampul belakang buku secara faktual serta memuat minimal 3 kosakata bermakna denotatif yang sesuai makna sebenarnya tanpa pergeseran arti kiasan.

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja menulis draf teks sederhana deskripsi sampul depan dan belakang buku menggunakan rubrik penilaian
  • Pemeriksaan lembar kerja draf tulisan terkait ketepatan penggunaan kosakata bermakna denotatif

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Deskripsi Bagian Sampul Depan dan BelakangMenulis draf teks yang hanya memuat sebagian kecil pengamatan sampul depan saja atau belum mencantumkan unsur sampul depan dan belakang.Menulis draf teks pengamatan yang hanya memuat salah satu bagian (hanya sampul depan atau hanya sampul belakang).Menulis draf teks pengamatan yang memuat informasi bagian sampul depan (judul/penulis) dan sampul belakang (sinopsis) secara terpadu.Menulis draf teks pengamatan yang memuat seluruh rincian bagian sampul depan (judul, penulis, penerbit) dan sampul belakang (sinopsis) secara lengkap, runtut, dan mandiri.
Ketepatan Penggunaan Kosakata Bermakna DenotatifBelum menggunakan kosakata bermakna denotatif, tulisan masih didominasi kata kiasan atau kalimat belum bermakna lugas.Menggunakan 1-2 kosakata bermakna denotatif secara tepat dalam mendeskripsikan bagian sampul buku.Menggunakan minimal 3 kosakata bermakna denotatif secara tepat sesuai makna aslinya dalam mendeskripsikan bagian sampul buku.Menggunakan lebih dari 3 kosakata bermakna denotatif secara tepat, variatif, dan konsisten tanpa ada percampuran makna kiasan dalam teks deskripsi pengamatan buku.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas observasi langsung terhadap fisik buku berhasil membantu murid memahami unsur sampul depan dan belakang secara konkret?
  • Bagaimana efektivitas permainan berpasangan 'Detektif Kosakata Denotatif' dalam memudahkan murid membedakan kata bermakna sebenarnya dalam draf tulisan?

Murid:

  • Unsur apa pada sampul depan atau belakang buku yang paling mudah dan paling menantang untuk kutuliskan dalam teks deskripsi?
  • Bagaimana caraku memastikan bahwa kata-kata yang kupakai dalam teks draf ini benar-benar memiliki makna sebenarnya (denotatif)?

Pertemuan 14 — Menulis Teks Sederhana Bagian Punggung dan Halaman Judul Buku Menggunakan Kosakata Baru Bermakna Konotatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus belajar, yaitu mengamati bagian punggung serta halaman judul buku lalu menuliskan teks deskripsi sederhana menggunakan kosakata bermakna konotatif (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan perbedaan makna denotatif dan konotatif pada kalimat: (1) 'Buku ini memiliki sampul tebal' (denotatif: ukuran fisik tebal) dan (2) 'Buku ini menyimpan gudang ilmu yang luas' (konotatif: sumber pengetahuan yang sangat banyak) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati contoh fisik buku bacaan pada bagian punggung buku (judul, nama penulis, logo penerbit) dan halaman judul (judul utama, subjudul, nama penulis, penerbit, kota terbit) (10 menit).
  • Murid bersama guru membedah 4 kosakata baru bermakna konotatif yang dapat menggambarkan fungsi dan keindahan punggung serta halaman judul buku: (1) 'urat nadi' (penopang utama jilidan lembaran), (2) 'jembatan' (penghubung pembaca dengan isi buku), (3) 'gerbang' (pintu pembuka bacaan), dan (4) 'cahaya' (pemberi kejelasan informasi) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan pasangan cepat 'Tebak Konotasi Punggung dan Judul': murid secara berpasangan menjodohkan 3 ungkapan konotatif dengan bagian buku yang tepat dalam kartu tantangan: (a) 'Punggung buku menjadi tiang kokoh penjaga lembaran naskah', (b) 'Halaman judul menyapa laksana gerbang emas ilmu pengetahuan', (c) 'Deretan huruf di halaman muka menjadi lentera pengantar cerita' (acuan pasangan: a = punggung buku, b = halaman judul, c = halaman judul) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menulis teks sederhana (3-4 kalimat) berdasarkan pengamatan nyata terhadap punggung buku dan halaman judul dari buku bacaan masing-masing, wajib memuat identifikasi informasi bagian buku tersebut serta menyematkan minimal 2 kosakata baru bermakna konotatif secara tepat (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa draf teks sederhananya menggunakan lembar cek mandiri untuk memastikan keterpenuhan rincian punggung buku, rincian halaman judul, serta ketepatan penggunaan minimal 2 kosakata bermakna konotatif (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali informasi yang ada pada punggung buku dan halaman judul serta ketepatan fungsi kosakata konotatif dalam tulisan pengamatan (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas ketuntasan penulisan mandiri murid dan menyampaikan bahwa hasil tulisan akan dilanjutkan ke pengamatan bagian daftar isi pada pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan panduan kata konotatif pilihan (urat nadi, gerbang, lentera) beserta artinya; murid mahir menggunakan buku referensi tebal dengan bagian halaman judul yang lebih lengkap.
  • Proses: Murid yang kesulitan menulis diberikan kerangka kalimat rumpang berstruktur; murid yang mandiri menulis langsung secara utuh berdasarkan pengamatan.
  • Produk: Murid bebas mendeskripsikan buku fiksi maupun nonsastra yang diamati selama memuat punggung buku, halaman judul, dan 2 kosakata konotatif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik membedakan makna denotatif dan konotatif: Guru membacakan kalimat (1) 'Punggung buku ini dijahit dengan benang tebal' (denotatif: benang fisik) dan (2) 'Punggung buku ini adalah tiang penyangga ilmu' (konotatif: penopang utama). Murid mengidentifikasi jenis makna pada kedua kalimat tersebut (acuan: kalimat 1 bermakna denotatif/sebenarnya, kalimat 2 bermakna konotatif/kiasan).

Proses:

  • Penilaian performa menulis teks sederhana pengamatan bagian punggung dan halaman judul buku. Kriteria penerimaan operasional: teks memuat rincian identifikasi bagian punggung (judul/penulis/penerbit), bagian halaman judul (judul/penulis/penerbit/tahun), dan menyematkan minimal 2 kosakata bermakna konotatif (misal: tiang, gerbang, urat nadi, lentera, jembatan) yang berterima dalam konteks kalimat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menandai dan menuliskan arti dari 2 kosakata konotatif yang mereka pakai dalam teks hasil pengamatannya sendiri pada lembar kerja (kriteria penerimaan: murid mampu menjelaskan makna kias kata konotatif yang digunakannya sesuai konteks teks pengamatan yang dibuat).

Formatif:

  • Pemeriksaan teks sederhana hasil pengamatan punggung buku dan halaman judul berdasarkan rubrik ketepatan informasi bagian buku dan penggunaan kosakata bermakna konotatif

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Informasi Pengamatan Bagian Buku (Punggung & Halaman Judul)Belum memuat informasi bagian punggung buku maupun halaman judul buku secara benar.Hanya memuat rincian informasi salah satu bagian saja (punggung buku saja atau halaman judul saja).Memuat rincian informasi kedua bagian buku (punggung dan halaman judul) secara lengkap sesuai hasil pengamatan.Memuat rincian informasi kedua bagian buku (punggung dan halaman judul) secara sangat lengkap, rinci, dan mendalam sesuai hasil pengamatan nyata.
Penggunaan Kosakata Baru Bermakna KonotatifBelum menggunakan kosakata bermakna konotatif dalam teks deskripsi pengamatan.Menggunakan 1 kosakata bermakna konotatif secara tepat konteks, atau 2 kata konotatif tetapi belum tepat konteks kalimat.Menggunakan minimal 2 kosakata baru bermakna konotatif secara tepat sesuai konteks teks pengamatan.Menggunakan 3 atau lebih kosakata baru bermakna konotatif yang variatif dan tepat secara konsisten dalam teks pengamatan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 70 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk mengamati fisik buku dan menuliskan teks secara mandiri?
  • Apakah ragam kosakata konotatif yang diperkenalkan sudah dapat dipahami dan digunakan dengan tepat oleh murid tanpa tertukar dengan makna denotatif?

Murid:

  • Kosakata konotatif apa saja yang paling menarik dan berhasil aku gunakan dalam mendeskripsikan punggung dan halaman judul buku?
  • Bagian mana dari punggung buku atau halaman judul yang paling mudah dan paling sulit aku deskripsikan?

Pertemuan 15 — Menulis Teks Sederhana Bagian Daftar Isi dan Kata Pengantar Buku Menggunakan Kosakata Denotatif dan Konotatif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati contoh bagian daftar isi dan kata pengantar buku, lalu menulis teks sederhana untuk kedua bagian tersebut menggunakan kosakata bermakna denotatif dan konotatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat dengan menampilkan dua kalimat di papan tulis: Kalimat 1 'Buku ini memuat lima bab cerita petualangan.' dan Kalimat 2 'Penulis menumpahkan keringat dingin saat merangkai kisah ini.' Murid diminta mengidentifikasi kata/ungkapan yang bermakna denotatif (sebenarnya) dan konotatif (makna kiasan/tambahan) [acuan: Kalimat 1 bermakna denotatif karena 'lima bab cerita petualangan' merujuk pada arti sebenarnya; Kalimat 2 memuat 'keringat dingin' yang bermakna konotatif yaitu rasa cemas/susah payah] (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengamati lembar peraga yang memuat struktur bagian daftar isi (judul bab, subbab, nomor halaman) dan kata pengantar (ucapan syukur/sapaan, gambaran isi buku, harapan penulis) dari sebuah buku cerita anak (7 menit).
  • Secara berpasangan dalam aktivitas 'Tebak Makna Kata', murid memainkan tantangan mencocokkan 4 kartu kata/frasa dengan jenis maknanya pada papan tempel: (1) 'halaman buku' -> denotatif; (2) 'jendela dunia' -> konotatif (sumber wawasan); (3) 'daftar judul' -> denotatif; (4) 'buah pena' -> konotatif (karya tulis) [acuan jawaban: kartu 1 dan 3 denotatif; kartu 2 dan 4 konotatif] (8 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima lembar kerja penulisan draf dan merancang draf bagian Daftar Isi buku sederhana yang terdiri atas minimal 3 judul bab beserta nomor halaman rekaan menggunakan kosakata denotatif [kriteria: format daftar isi teratur, memuat judul bab dan nomor halaman, menggunakan istilah berpadanan sebenarnya] (12 menit).
  • Murid menulis teks sederhana bagian Kata Pengantar (panjang 3-5 kalimat) berdasarkan hasil pengamatan anatomi buku, dengan menyertakan minimal 1 kosakata bermakna denotatif (seperti: buku, bab, membaca, halaman) dan minimal 1 kosakata/ungkapan bermakna konotatif (seperti: jendela dunia, buah pena, menimba ilmu, haus bacaan) [kriteria: memuat teks pengantar utuh, memuat minimal 1 kata denotatif tepat guna, dan memuat minimal 1 ungkapan konotatif sesuai konteks tulisan] (18 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil tulisannya secara mandiri menggunakan daftar cek kebahasaan: menandai garis bawah lurus untuk kata denotatif dan garis gelombang untuk kata konotatif yang telah ditulisnya pada lembar kerja (8 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali ciri penulisan teks daftar isi dan peran kosakata denotatif serta konotatif dalam menghidupkan teks kata pengantar buku (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap ketepatan pemilihan kata murid pada lembar kerja, mengingatkan aktivitas pertemuan berikutnya mengenai penulisan anatomi buku secara menyeluruh, dan menutup sesi pembelajaran dengan doa (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kerangka kalimat rumpang untuk kata pengantar beserta bank kata pilihan (denotatif: membaca, tulisan; konotatif: buah pena, jendela dunia). Murid yang mahir diberikan tantangan menulis kata pengantar menggunakan variasi minimal 2 kosakata konotatif secara mandiri.
  • Proses: Guru memberikan pendampingan terfokus pada murid yang masih ragu membedakan makna denotatif dan konotatif saat penyusunan draf, sementara murid yang telah paham langsung menyusun draf secara mandiri.
  • Produk: Murid dengan kecepatan belajar lebih lambat cukup menuliskan 3 bab pada daftar isi dan 3 kalimat kata pengantar dengan 1 kata denotatif serta 1 kata konotatif; murid yang mahir menuliskan 4 bab pada daftar isi dan 5 kalimat kata pengantar dengan pilihan kosakata yang lebih kaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman klasifikasi makna kata sebelum menulis teks: Murid mengidentifikasi jenis makna dari 2 contoh kalimat di papan tulis: Kalimat 1 'Buku ini memuat lima bab cerita petualangan.' dan Kalimat 2 'Penulis menumpahkan keringat dingin saat merangkai kisah ini.' (Acuan jawaban benar: Kalimat 1 bermakna denotatif/makna sebenarnya; Kalimat 2 bermakna konotatif/makna kiasan pada ungkapan 'keringat dingin').

Proses:

  • Pemeriksaan draf penulisan daftar isi: memastikan format memuat minimal 3 judul bab beserta nomor halaman dengan kosakata denotatif.
  • Pemeriksaan teks kata pengantar: memeriksa keterpenuhan minimal 3 kalimat yang memuat minimal 1 kata bermakna denotatif (acuan: kata lugas seperti halaman, buku, bab, penulis) dan minimal 1 kata bermakna konotatif (acuan: kiasan seperti jendela dunia, buah pena, menimba ilmu, haus bacaan) yang digunakan secara tepat konteks.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan hasil akhir teks sederhana murid pada lembar kerja: memastikan draf daftar isi rapi dan teks kata pengantar memuat identifikasi mandiri kata denotatif dan konotatif yang digarisbawahi dengan tepat (Kriteria keberhasilan: draf daftar isi memuat 3 bab berhalaman teratur; teks kata pengantar terdiri atas 3-5 kalimat dengan minimal 1 kata denotatif tepat dan 1 kata konotatif tepat).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja menulis draf daftar isi dan teks kata pengantar pada lembar kerja murid.
  • Cek pemahaman diagnostik awal klasifikasi makna kata (denotatif vs konotatif).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menulis Draf Bagian Daftar IsiMenulis draf daftar isi kurang dari 3 bab atau tidak menyertakan nomor halaman, serta pilihan kata belum menunjukkan makna denotatif yang jelas.Menulis draf daftar isi memuat 3 bab tetapi penomoran halaman belum berurutan atau pilihan kata denotatif masih terbatas dengan bimbingan guru.Menulis draf daftar isi memuat minimal 3 bab beserta nomor halaman yang berurutan menggunakan kosakata denotatif yang tepat secara mandiri.Menulis draf daftar isi memuat 4 bab atau lebih beserta subbab dan nomor halaman yang terstruktur rapi menggunakan kosakata denotatif yang sangat tepat dan variatif secara mandiri.
Menulis Teks Kata Pengantar dengan Kosakata Denotatif dan KonotatifMenulis teks kata pengantar kurang dari 3 kalimat, belum menggunakan kosakata konotatif, atau penggunaan kosakata denotatif belum sesuai makna.Menulis teks kata pengantar 3 kalimat, menggunakan kosakata denotatif secara tepat namun kosakata konotatif belum tepat maknanya atau masih memerlukan bantuan penuh.Menulis teks kata pengantar 3-5 kalimat menggunakan minimal 1 kosakata denotatif dan 1 kosakata konotatif secara tepat sesuai konteks kalimat secara mandiri.Menulis teks kata pengantar 5 kalimat atau lebih menggunakan lebih dari 1 kosakata denotatif dan 2 kosakata konotatif secara tepat, padu, dan kreatif sesuai konteks kalimat secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi membedakan kosakata denotatif dan konotatif dalam penulisan kata pengantar cukup jelas dan dipahami oleh seluruh murid?
  • Bagian mana dari draf penulisan daftar isi atau kata pengantar yang paling banyak memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Kosakata konotatif apa yang berhasil kamu gunakan di dalam teks kata pengantarmu hari ini?
  • Apakah kamu merasa mudah atau sulit menyusun daftar isi buku rekaanmu sendiri? Jelaskan alasannya!

Pertemuan 16 — Menulis Teks Deskripsi Sederhana Berdasarkan Pengamatan Anatomi Buku dengan Kaidah Kebahasaan yang Tepat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: menulis teks deskripsi sederhana berdasarkan pengamatan bagian-bagian (anatomi) buku dengan memadukan kosakata bermakna denotatif dan konotatif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat membedakan makna pada 3 kalimat contoh di papan tulis: (1) 'Punggung buku ini dijahit benang tebal' (acuan: denotatif), (2) 'Buku ini adalah jendela ilmu yang membuka wawasan' (acuan: konotatif), dan (3) 'Sampul depan buku berwarna merah' (acuan: denotatif) untuk mengelompokkan kesiapan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang anatomi buku fisik (sampul depan, punggung buku, halaman judul, daftar isi, kata pengantar, dan sampul belakang) serta perbedaan penggunaan kosakata bermakna denotatif (makna lugas/sebenarnya, contoh: tebal, mengilap, kertas, judul) dan konotatif (makna kias/kiasan, contoh: jendela ilmu, harta karun kata, pelita) dalam teks deskripsi (10 menit).
  • Murid memainkan permainan tebak kartu kata 'Denotatif vs Konotatif': guru menunjukkan 4 kartu kata secara bergantian: kartu 1 'tulang punggung' (makna kias penyangga utama), kartu 2 'kertas karton' (makna sebenarnya), kartu 3 'gudang ilmu' (makna kias), kartu 4 'lembar halaman' (makna sebenarnya); murid mengangkat kartu hijau jika bermakna denotatif atau kartu kuning jika bermakna konotatif (acuan: kartu 1 konotatif, kartu 2 denotatif, kartu 3 konotatif, kartu 4 denotatif) (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Setiap murid mengamati satu buku fisik yang dipegangnya secara mendalam, mencatat fakta fisik pada minimal 3 bagian buku (misalnya sampul depan, punggung buku, dan halaman judul) (10 menit).
  • Murid menulis draf teks deskripsi sederhana sebanyak 1–2 paragraf (minimal 5 kalimat) berdasarkan hasil pengamatannya, dengan ketentuan wajib mencantumkan minimal 3 kosakata bermakna denotatif (misalnya: tebal, biru, kertas, judul, penulis) dan minimal 2 kosakata bermakna konotatif (misalnya: jendela dunia, sahabat setia, lautan ilmu, pelita pengetahuan) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang teks deskripsi buatannya secara mandiri, melingkari kosakata denotatif dengan pensil hitam dan menggarisbawahi kosakata konotatif dengan pensil warna untuk memastikan kesesuaian kaidah kebahasaan dan kelengkapan target (5 menit).

Penutup:

  • Guru membimbing murid merangkum cara mendeskripsikan anatomi buku dengan memadukan unsur denotatif dan konotatif secara tepat (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil tulisan murid, menyampaikan topik pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan daftar kosakata denotatif (tebal, tipis, halus, lebar) dan konotatif (jendela ilmu, pelita pikiran, harta karun kata), sedangkan murid yang mahir mengamati buku dengan elemen anatomi yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang memerlukan bantuan mendapat bimbingan perancah (scaffolding) kalimat rumpang dari guru saat menulis draf, sedangkan murid yang mandiri langsung menulis deskripsi secara bebas sesuai fakta pengamatan.
  • Produk: Murid dengan kesiapan belajar dasar menulis minimal 4 kalimat deskripsi memuat 2 kata denotatif dan 1 kata konotatif; murid dengan kesiapan reguler/tinggi menulis minimal 5-7 kalimat memuat minimal 3 kata denotatif dan 2 kata konotatif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik klasifikasi makna: Murid menentukan jenis makna pada 3 kalimat yang dibaca: (1) 'Punggung buku ini dijahit benang tebal' (acuan: denotatif), (2) 'Buku ini adalah jendela ilmu yang membuka wawasan' (acuan: konotatif), dan (3) 'Sampul depan buku berwarna merah' (acuan: denotatif). Kriteria: Murid yang menjawab minimal 2 dari 3 benar dinilai siap masuk tahap penulisan mandiri.

Proses:

  • Pemeriksaan draf tulisan deskripsi saat murid mengaplikasikan hasil pengamatan: Guru memverifikasi bahwa teks mendeskripsikan bagian fisik buku (sampul, punggung, judul, isi) dengan menyertakan minimal 3 kata bermakna denotatif (acuan: kata merujuk sifat fisik nyata seperti tebal, halus, kertas, warna) dan minimal 2 kata bermakna konotatif (acuan: ungkapan kiasan seperti jendela ilmu, sahabat sunyi, pelita).

Akhir Pertemuan:

  • Cek identifikasi mandiri pada draf akhir: Murid melingkari kata denotatif dan menggarisbawahi kata konotatif pada teks deskripsi yang disusun. Kriteria ketercapaian: Teks terdiri atas minimal 5 kalimat deskripsi hasil pengamatan bagian buku, memuat minimal 3 kata denotatif yang tepat dan minimal 2 kata konotatif yang tepat.

Formatif:

  • Penilaian kinerja menulis teks deskripsi anatomi buku menggunakan lembar ceklis pemenuhan kaidah kebahasaan kosakata denotatif dan konotatif.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Deskripsi Hasil Pengamatan Anatomi BukuTeks belum memuat deskripsi bagian-bagian buku berdasarkan pengamatan nyata (kurang dari 2 kalimat yang relevan).Teks mendeskripsikan 1 bagian buku berdasarkan pengamatan secara sederhana (2–3 kalimat relevan).Teks mendeskripsikan minimal 2–3 bagian buku berdasarkan hasil pengamatan fisik secara tepat dan berurutan (4–5 kalimat relevan).Teks mendeskripsikan lebih dari 3 bagian buku secara mendalam, terperinci, dan runtut berdasarkan hasil pengamatan langsung (lebih dari 5 kalimat relevan).
Penggunaan Kosakata Bermakna DenotatifBelum menggunakan kosakata bermakna denotatif yang sesuai konteks pengamatan fisik buku.Menggunakan 1–2 kosakata bermakna denotatif dengan tepat sesuai konteks fisik buku.Menggunakan minimal 3 kosakata bermakna denotatif secara tepat sesuai ciri fisik bagian buku yang diamati.Menggunakan lebih dari 4 kosakata bermakna denotatif secara tepat, variatif, dan akurat menggambarkan objek buku.
Penggunaan Kosakata Bermakna KonotatifBelum memunculkan kosakata bermakna konotatif dalam teks deskripsi yang ditulis.Menggunakan 1 kosakata bermakna konotatif namun penempatannya dalam konteks kalimat masih belum sepenuhnya pas.Menggunakan minimal 2 kosakata bermakna konotatif secara tepat dan memperindah teks deskripsi buku.Menggunakan lebih dari 2 kosakata bermakna konotatif secara tepat, kreatif, dan memperkaya makna teks deskripsi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi pengamatan fisik buku dan contoh kosakata denotatif-konotatif cukup jelas sehingga memandu murid menulis secara mandiri?
  • Bagian mana dari bimbingan menulis teks deskripsi yang masih dirasa sulit oleh murid yang memerlukan perancah?

Murid:

  • Bagian buku mana yang paling mudah dan paling menarik untuk kamu gambarkan dalam tulisanmu?
  • Dapatkah kamu membedakan kapan menggunakan kata bermakna sebenarnya dan kata bermakna kiasan saat mendeskripsikan sesuatu?

Pertemuan 17 — Menganalisis Keterpaduan Informasi Teks Aural Penulisan Buku dan Nilai Teks Sastra Visual Kecintaan Membaca Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku
  • TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan kesiapan belajar murid (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memadukan analisis informasi dari teks proses pembuatan buku yang didengarkan dan analisis nilai dalam teks visual tentang kecintaan membaca buku (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: membacakan satu kalimat aural 'Penulis mencatat ide di buku harian sebelum menulis draf' dan memperlihatkan satu ilustrasi tokoh anak memegang buku tebal dengan wajah tersenyum di bawah pohon. Guru mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Apa informasi pokok yang didengar?' (acuan: penulis mencatat ide sebelum membuat draf); (2) 'Nilai apa yang tampak pada gambar?' (acuan: nilai ketekunan/kegemaran membaca) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak teks nonsastra aural yang dibacakan guru berjudul 'Jejak Kata Seorang Penulis' yang berisi 3 tahapan penulisan: pencarian ide dari membaca, penyusunan draf awal, dan perbaikan naskah berulang kali (7 menit).
  • Murid memirsa teks sastra visual berupa komik 4 panel berjudul 'Kotak Baca Dira' yang menampilkan tokoh Dira menyisihkan uang jajan demi buku (panel 1), tekun membaca hingga tuntas meski sulit (panel 2), rasa ingin tahu mencari arti kata sukar di kamus (panel 3), dan meminjamkan buku pada teman (panel 4) (8 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Secara berpasangan, murid memainkan permainan detektif literasi 'Cocok Taut' untuk menghubungkan 3 butir informasi aural teks penulisan buku dengan 3 butir nilai dari teks sastra visual: (1) Informasi aural: 'Penulis banyak membaca untuk menggali ide' dihubungkan dengan Nilai visual: 'Rasa ingin tahu tokoh Dira mencari informasi baru'; (2) Informasi aural: 'Penulis berkali-kali merevisi naskah agar sempurna' dihubungkan dengan Nilai visual: 'Ketekunan Dira membaca buku tebal hingga tuntas'; (3) Informasi aural: 'Buku diterbitkan agar pengetahuan tersebar luas' dihubungkan dengan Nilai visual: 'Kepedulian berbagi bacaan Dira kepada teman' (15 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Analisis Keterpaduan untuk menuliskan hasil analisis: mengidentifikasi 3 fakta tahapan proses penulisan dari teks aural serta mengidentifikasi 3 nilai moral kecintaan membaca dari komik visual beserta bukti tindakannya sesuai acuan materi (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama pasangannya saling bertukar lembar kerja untuk memeriksa kecocokan identifikasi informasi aural dan nilai visual berdasarkan lembar kunci kendali yang dibacakan guru (5 menit).
  • Murid mengevaluasi kesadaran belajarnya: menyimpulkan keterpaduan bahwa menjadi penulis buku yang baik berakar dari kebiasaan menjadi pembaca yang tekun dan penuh rasa ingin tahu (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik terhadap hasil analisis keterpaduan informasi aural dan nilai visual yang telah dikerjakan murid (3 menit).
  • Guru mengajak murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menyampaikan gambaran kegiatan pada pertemuan berikutnya mengenai presentasi proses penulisan dan bagian buku, lalu menutup kelas dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan rekaman audio teks aural yang dapat diputar ulang secara mandiri dengan gawai bagi murid yang memerlukan pengulangan menyimak, serta kartu komik visual berukuran besar.
  • Proses: Memberikan panduan tabel analisis rumpang bagi murid yang membutuhkan perancah (scaffolding), sementara murid yang cepat diminta menganalisis keterkaitan sebab-akibat antar-informasi aural dan nilai visual secara mandiri tanpa bantuan tabel rumpang.
  • Produk: Format penulisan analisis keterpaduan dapat berupa tabel pasangan matriks atau bagan alur keterkaitan konsep.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik aural dan visual: Guru membacakan kalimat 'Penulis mencatat ide di buku harian sebelum menulis draf' dan menampilkan gambar anak tekun membaca buku di bawah pohon. Murid menjawab 2 pertanyaan pemetaan. Acuan jawaban: (1) Informasi teks: penulis mencatat ide sebelum draf; (2) Nilai gambar: ketekunan/kegemaran membaca.

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja pengerjaan mandiri: Murid mengisi 3 informasi proses penulisan dari teks aural (acuan: 1. Penulis mengumpulkan ide dari membaca; 2. Penulis merevisi naskah berulang kali; 3. Naskah dicetak untuk disebarkan) dan 3 nilai kecintaan membaca dari teks visual komik (acuan: 1. Nilai rasa ingin tahu dibuktikan dengan membuka kamus; 2. Nilai ketekunan dibuktikan dengan membaca hingga tuntas; 3. Nilai kepedulian dibuktikan dengan meminjamkan buku).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup (exit ticket lisan/tulis): Sebutkan 1 hubungan nyata antara proses penulisan buku yang didengar dengan nilai kecintaan membaca yang diamati pada gambar! Acuan jawaban: Membaca memberikan bahan ide untuk menulis naskah, atau ketekunan membaca melatih ketekunan menulis.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja analisis keterpaduan (akurasi identifikasi 3 informasi aural proses penulisan buku dan 3 nilai sastra visual kecintaan membaca)
  • Observasi unjuk kerja saat berpasangan menyelesaikan tantangan mencocokkan informasi aural dan nilai visual

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis informasi teks nonsastra aural penulisan bukuBelum mampu menganalisis informasi proses penulisan dari teks aural (0 informasi tepat dari 3 target acuan).Menganalisis 1 dari 3 informasi proses penulisan dari teks aural secara tepat sesuai acuan (ide/revisi/publikasi).Menganalisis 2 dari 3 informasi proses penulisan dari teks aural secara tepat sesuai acuan (ide/revisi/publikasi).Menganalisis seluruh 3 informasi proses penulisan dari teks aural secara tepat dan lengkap sesuai acuan (ide, revisi, dan publikasi) secara mandiri.
Menganalisis nilai-nilai teks sastra visual kecintaan membaca bukuBelum mampu menganalisis nilai kecintaan membaca dari teks visual (0 nilai tepat dari 3 target acuan).Menganalisis 1 dari 3 nilai kecintaan membaca dari teks visual secara tepat sesuai acuan (rasa ingin tahu/ketekunan/kepedulian).Menganalisis 2 dari 3 nilai kecintaan membaca dari teks visual secara tepat sesuai acuan (rasa ingin tahu/ketekunan/kepedulian).Menganalisis seluruh 3 nilai kecintaan membaca dari teks visual secara tepat dan lengkap beserta bukti tindakan panelnya sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi menggabungkan teks aural dan teks sastra visual memudahkan murid memahami keterpaduan kedua kompetensi?
  • Apakah alokasi waktu 70 menit mencukupi bagi seluruh murid dalam menganalisis informasi dan nilai moral secara mendalam?

Murid:

  • Bagian mana yang paling mudah: mendengarkan proses penulisan buku atau mengamati nilai membaca dalam gambar komik?
  • Sikap apa dari tokoh Dira dan sosok penulis yang ingin kamu tiru dalam kebiasaan belajarmu sehari-hari?

Pertemuan 18 — Mempresentasikan Gagasan Proses Penyusunan Buku serta Menguraikan Hasil Tulisan Pengamatan Bagian-Bagian Buku — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun
  • TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-18, yaitu mempresentasikan gagasan proses penyusunan buku serta menguraikan teks pengamatan bagian buku dengan kosakata bermakna denotatif dan konotatif (2 menit).
  • Guru memberikan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan 2 kalimat di papan tulis: (1) 'Penulis mencari ide' dan (2) 'Sampul buku adalah wajah bacaan', lalu meminta murid mengidentifikasi makna sebenarnya (denotatif) atau kiasan (konotatif) dari kata 'ide' dan 'wajah' (acuan: 'ide' = gagasan/denotatif; 'wajah' = tampak depan/konotatif) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati kembali 4 urutan tahap proses kreatif penyusunan buku (perencanaan ide, penulisan draf, penyuntingan naskah, dan penerbitan) serta 4 bagian buku yang telah diamati pada sesi sebelumnya (sampul depan, punggung buku, halaman judul, dan daftar isi) (8 menit).
  • Murid menyimak panduan guru mengenai kriteria presentasi gagasan yang efektif (urutan proses runtut, gagasan jelas) dan santun (menggunakan sapaan santun seperti 'Selamat pagi teman-teman', 'Terima kasih atas perhatiannya') serta penggunaan kosakata denotatif dan konotatif dalam menguraikan bagian buku (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara mandiri menyempurnakan tulisan draf singkat (4-5 kalimat) yang menguraikan hasil pengamatan anatomi buku menggunakan minimal 1 kata bermakna denotatif dan 1 kata bermakna konotatif (misal: denotatif 'halaman', konotatif 'jendela ilmu') (10 menit).
  • Murid berpasangan memainkan tantangan simulasi 'Presenter Cilik' di mana secara bergantian murid mempresentasikan gagasan proses penyusunan buku dan membacakan hasil uraian pengamatan bagian buku menggunakan bahasa santun, sementara pasangannya memverifikasi kelengkapan gagasan menggunakan lembar ceklis sederhana (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Beberapa perwakilan murid mempresentasikan gagasan proses penyusunan buku dan menguraikan hasil tulisan pengamatan bagian buku di depan kelas secara efektif dan santun (10 menit).
  • Murid mengevaluasi kesesuaian penyampaian gagasan dan ketepatan pilihan kata denotatif-konotatif yang disajikan oleh rekan serta mencatat saran perbaikan pada lembar refleksi mandiri (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan presentasi gagasan dan ketepatan kaidah kebahasaan kosakata denotatif/konotatif dalam teks deskripsi murid (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran pertemuan ini mengenai keterpaduan presentasi proses penulisan buku dan penulisan pengamatan bagian buku, serta mengingatkan persiapan untuk asesmen sumatif pada pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan kerangka rincian proses buku bagi murid yang membutuhkan panduan alur, serta teks rujukan dengan variasi majas konotatif bagi murid mahir.
  • Proses: Memberikan scaffolding bertahap berupa kalimat pemantik presentasi santun untuk murid yang ragu, sedangkan murid mahir langsung menyajikan presentasi mandiri tanpa teks pembuka berlebih.
  • Produk: Uraian tulisan pengamatan bagian buku minimal memuat 1 pasangan kata denotatif-konotatif untuk murid yang berkembang, dan minimal 2 pasangan kata untuk murid yang sangat mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: Murid menentukan makna kata 'ide' pada kalimat 'Penulis mencari ide' dan kata 'wajah' pada kalimat 'Sampul buku adalah wajah bacaan' (acuan kunci: kata 'ide' bermakna denotatif/rancangan yang tersusun di pikiran; kata 'wajah' bermakna konotatif/tampilan terdepan).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja presentasi gagasan proses kreatif penyusunan buku dengan kriteria: (1) Menyajikan urutan tahapan penyusunan buku secara runtut dari perencanaan hingga penerbitan, (2) Menggunakan ungkapan santun dalam pembukaan dan penutupan presentasi.
  • Pemeriksaan hasil tulisan teks pengamatan bagian buku dengan kriteria ketepatan: (1) Memuat uraian minimal 2 bagian buku (pilihan: sampul depan, punggung, halaman judul, daftar isi), (2) Menggunakan minimal 1 kata bermakna denotatif sesuai makna kamus/sebenarnya (contoh: sampul, tebal, halaman, judul), (3) Menggunakan minimal 1 kata bermakna konotatif sesuai makna kiasan (contoh: jendela, tulang punggung, wajah, lentera).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu di akhir sesi: Murid menuliskan 1 kalimat penutup presentasi yang santun dan 1 kalimat yang memadukan kata denotatif 'buku' serta kata konotatif 'jendela dunia' (kriteria penerimaan: kalimat penutup santun memuat kata terima kasih/permohonan maaf/salam penutup; kalimat deskripsi memuat kata 'buku' dalam makna fisik sebenarnya dan 'jendela dunia' dalam makna kiasan sarana melihat pengetahuan luar).

Formatif:

  • Lembar observasi unjuk kerja presentasi gagasan proses penyusunan buku secara efektif dan santun
  • Pemeriksaan teks sederhana hasil pengamatan bagian-bagian buku berdasarkan ketepatan penggunaan kosakata denotatif dan konotatif

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mempresentasikan gagasan proses kreatif penyusunan buku (TP 5.2.3)Menyajikan gagasan proses penyusunan buku kurang dari 2 tahapan, penyampaian belum efektif/terputus-putus, dan belum menunjukkan ungkapan santun.Menyajikan 2 tahapan proses penyusunan buku secara berurutan dan mulai menggunakan kalimat santun dengan bantuan guru.Menyajikan minimal 3 tahapan proses penyusunan buku secara runtut dan efektif serta menggunakan ungkapan sapaan dan penutup yang santun secara mandiri.Menyajikan seluruh 4 tahapan proses penyusunan buku (perencanaan, penulisan draf, penyuntingan, penerbitan) secara runtut, sangat jelas/efektif, dan konsisten santun secara mandiri.
Menulis teks pengamatan bagian buku dengan kosakata denotatif dan konotatif (TP 5.2.4)Teks belum memuat deskripsi bagian buku yang jelas dan belum memuat kosakata bermakna denotatif maupun konotatif secara tepat.Menuliskan pengamatan 1 bagian buku dengan menggunakan 1 kata bermakna denotatif yang tepat, namun belum memuat kosakata bermakna konotatif.Menuliskan teks deskripsi sederhana mengenai minimal 2 bagian buku dengan tepat menggunakan minimal 1 kata bermakna denotatif dan 1 kata bermakna konotatif secara tepat.Menuliskan teks deskripsi lengkap mengenai lebih dari 2 bagian buku dengan kaidah kebahasaan yang tepat, memadukan lebih dari 2 kosakata denotatif dan konotatif secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 70 menit memfasilitasi setiap murid untuk berlatih presentasi dan menyempurnakan tulisan pengamatannya secara seimbang?
  • Apakah variasi kosakata bermakna denotatif dan konotatif yang digunakan murid sudah sesuai konteks pengamatan anatomi buku?

Murid:

  • Bagian mana dari presentasi proses penyusunan buku yang paling mudah dan paling menantang untuk saya sampaikan?
  • Apakah saya sudah bisa membedakan kata bermakna denotatif dan kata bermakna konotatif dalam teks deskripsi yang saya buat?

Pertemuan 19 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.2.1 Menganalisis informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural mengenai proses kreatif penulisan buku
  • TP 5.2.2 Menganalisis nilai-nilai dalam teks sastra berwujud teks visual bertema kecintaan membaca buku
  • TP 5.2.3 Mempresentasikan gagasan dari teks nonsastra tentang proses kreatif penyusunan buku dengan efektif dan santun
  • TP 5.2.4 Menulis teks sederhana berdasarkan hasil pengamatan terhadap bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif dan konotatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran 28 murid, dan menyampaikan bahwa pertemuan ini adalah sesi Asesmen Sumatif Bab 2 untuk mengukur ketercapaian empat Tujuan Pembelajaran melalui tes tertulis individual dan unjuk kerja presentasi kelompok (2 menit).
  • Guru membagikan Lembar Asesmen Sumatif Tertulis kepada seluruh murid dan menjelaskan alokasi waktu pengerjaan tes tertulis selama 43 menit secara mandiri dan hening (1 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak arahan petunjuk teknis pengerjaan tes tertulis yang terdiri atas tiga bagian: (1) Menyimak teks aural proses kreatif penulisan buku yang dibacakan guru dua kali, (2) Menganalisis nilai sastra visual dari kutipan komik/cerita Kartini yang tercetak pada lembar soal, dan (3) Menulis teks deskripsi bagian-bagian buku anatomi menggunakan kosakata denotatif dan konotatif (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru membacakan teks nonsastra aural berjudul 'Jejak Kata Menjadi Buku' sebanyak dua kali secara jelas dengan teks sebagai berikut: 'Proses kreatif penulisan buku dimulai dari tahap perencanaan yaitu penemuan ide dan penentuan tema tulisan. Tahap kedua adalah pengumpulan bahan atau riset fakta pendukung dari berbagai sumber tepercaya. Tahap ketiga adalah penyusunan draf awal naskah secara berurutan. Tahap keempat adalah revisi dan penyuntingan naskah bersama editor untuk menyempurnakan alur dan ejaan sebelum dicetak.' Murid menyimak dengan saksama tanpa membuka catatan (5 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Bagian 1 Tes Tertulis: mengisi 4 rincian tahapan proses kreatif penulisan buku berdasarkan teks aural yang didengarnya (Acuan jawaban: 1. Penemuan ide dan penentuan tema; 2. Riset bahan/pengumpulan fakta pendukung; 3. Penyusunan draf awal naskah; 4. Revisi dan penyuntingan naskah bersama editor) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Bagian 2 Tes Tertulis: menganalisis kutipan teks sastra visual kisah Kartini dan mengisi tabel analisis nilai (Acuan jawaban: Nilai ketekunan terbukti dari tindakan Kartini rutin membaca majalah De Hollandsche Lelie dan tekun menulis surat/catatan; Nilai rasa ingin tahu terbukti dari keinginan mendalam Kartini mempelajari kemajuan pendidikan anak perempuan di Eropa; Nilai kepedulian berbagi bacaan terbukti dari tindakan Kartini berbagi wawasan kotak bacaan kepada kaumnya) (12 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Bagian 3 Tes Tertulis: menulis teks deskripsi sederhana sepanjang 4-5 kalimat mengenai anatomi buku (sampul, punggung, daftar isi) menggunakan kaidah kebahasaan kalimat baku serta memanfaatkan minimal 2 kosakata bermakna denotatif (Acuan: 'sampul' = pelindung luar buku; 'halaman' = lembar kertas bernomor) dan minimal 2 kosakata bermakna konotatif (Acuan: 'jendela dunia' = sarana melihat wawasan luas; 'gudang ilmu' = sumber limpahan pengetahuan; atau 'santapan rohani' = pemuas kebutuhan batin) (14 menit).
  • Guru mengumpulkan seluruh lembar asesmen tertulis murid, lalu mengatur giliran 7 kelompok (masing-masing 4 murid) untuk unjuk kerja presentasi lisan di depan kelas (2 menit).
  • Sebanyak 7 kelompok tampil bergiliran mempresentasikan gagasan proses kreatif penyusunan buku (masing-masing kelompok tampil 3 menit; alokasi waktu: 7 x 3 menit = 21 menit, murid 1: tahap perencanaan ide, murid 2: pengumpulan riset, murid 3: pembuatan draf, murid 4: penyuntingan naskah) dengan kejelasan vokal, gagasan runtut, dan bahasa santun; guru menilai performa individual setiap murid menggunakan lembar observasi analitik (19 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara hening memeriksa kembali rekam ketercapaian belajarnya pada Bab 2 dengan menandai secara mental proses yang telah dilalui: menyimak proses kreatif buku, memetik nilai kecintaan membaca, menyusun deskripsi anatomi buku, dan memaparkan gagasan di depan kelas (1 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan apresiasi atas kedisiplinan serta kejujuran seluruh murid selama pelaksanaan asesmen tertulis dan presentasi kelompok (1 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran menyeluruh Bab 2 bahwa buku adalah jendela dunia yang lahir melalui kerja keras proses kreatif dan membawa nilai-nilai kebermanfaatan hidup, lalu menutup pelajaran dengan doa dan salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses tata letak teks dan lembar isian dengan ukuran huruf lebih besar atau pembacaan teks aural dengan artikulasi bibir yang terlihat jelas bagi murid yang memiliki hambatan visual atau pendengaran ringan, tanpa mengubah isi naskah, soal, maupun rubrik penilaian.
  • Proses: Penataan posisi tempat duduk di barisan depan saat menyimak pembacaan teks aural dan pembagian urutan tampil presentasi yang terstruktur bagi murid yang memerlukan kesiapan lebih tenang, tanpa mengurangi durasi 3 menit per kelompok dan kewajiban bicara setiap anggota.
  • Produk: Seluruh murid menghasilkan produk bukti yang setara sesuai standar ACUAN SUMATIF: lembar kerja tertulis individual (3 bagian isian/uraian) dan performa presentasi lisan individual dalam kelompok dengan instrumen rubrik yang identik.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru memeriksa kesiapan alat tulis dan pemahaman murid terhadap tata tertib pengerjaan asesmen sumatif mandiri dan giliran presentasi (Acuan kesiapan: murid telah duduk rapi, lembar asesmen tertutup sebelum aba-aba mulai, dan memahami urutan kelompok tampil 1 sampai 7).

Proses:

  • Observasi keterlibatan dan kemandirian pengerjaan lembar tertulis secara hening serta pencatatan ketertiban alur giliran kelompok saat unjuk kerja presentasi di depan kelas.

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi tes tertulis terpadu dan unjuk kerja presentasi kelompok: Lembar kerja tertulis individual berisi analisis teks aural, analisis nilai teks sastra visual, dan penulisan teks deskripsi bagian buku dengan kosakata denotatif-konotatif, serta performa presentasi proses kreatif penyusunan buku dalam kelompok kecil dengan rubrik kontribusi individual
  • tes tertulis serentak: Lembar asesmen individual yang dikerjakan serentak oleh 28 murid berisi: (1) jawaban isian rincian tahapan proses kreatif penulisan buku setelah menyimak pembacaan teks aural oleh guru, (2) tabel kutipan teks dan uraian nilai keteladanan mencintai buku dari teks sastra visual, serta (3) draf tulisan teks deskripsi bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata bermakna denotatif serta konotatif (45 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik analitik menulis)
  • unjuk kerja presentasi kelompok: Pemaparan lisan gagasan proses kreatif penyusunan buku yang dilakukan oleh 7 kelompok (4 murid per kelompok) secara bergiliran di depan kelas (masing-masing 3 menit per kelompok; 7 x 3 = 21 menit, sisa 4 menit transisi), di mana setiap murid berbicara memaparkan satu tahapan dengan kejelasan vokal dan kesantunan berbahasa yang dicatat pada lembar observasi individual per anggota (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi dengan catatan observasi individual)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi tes tertulis terpadu dan unjuk kerja presentasi kelompok: Lembar kerja tertulis individual berisi analisis teks aural, analisis nilai teks sastra visual, dan penulisan teks deskripsi bagian buku dengan kosakata denotatif-konotatif, serta performa presentasi proses kreatif penyusunan buku dalam kelompok kecil dengan rubrik kontribusi individual
  • tes tertulis serentak: Lembar asesmen individual yang dikerjakan serentak oleh 28 murid berisi: (1) jawaban isian rincian tahapan proses kreatif penulisan buku setelah menyimak pembacaan teks aural oleh guru, (2) tabel kutipan teks dan uraian nilai keteladanan mencintai buku dari teks sastra visual, serta (3) draf tulisan teks deskripsi bagian-bagian buku menggunakan kaidah kebahasaan dan kosakata bermakna denotatif serta konotatif (45 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik analitik menulis)
  • unjuk kerja presentasi kelompok: Pemaparan lisan gagasan proses kreatif penyusunan buku yang dilakukan oleh 7 kelompok (4 murid per kelompok) secara bergiliran di depan kelas (masing-masing 3 menit per kelompok; 7 x 3 = 21 menit, sisa 4 menit transisi), di mana setiap murid berbicara memaparkan satu tahapan dengan kejelasan vokal dan kesantunan berbahasa yang dicatat pada lembar observasi individual per anggota (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi dengan catatan observasi individual)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Informasi Teks Nonsastra Aural (TP 5.2.1)Menuliskan 1 tahapan proses kreatif penulisan buku secara tepat dari 4 tahapan acuan (1. Perencanaan ide/tema, 2. Pengumpulan bahan/riset, 3. Penyusunan draf, 4. Revisi/penyuntingan).Menuliskan 2 tahapan proses kreatif penulisan buku secara tepat dari 4 tahapan acuan.Menuliskan 3 tahapan proses kreatif penulisan buku secara tepat dari 4 tahapan acuan.Menuliskan seluruh 4 tahapan proses kreatif penulisan buku secara lengkap dan runtut sesuai acuan.
Analisis Nilai Teks Sastra Visual (TP 5.2.2)Menganalisis tidak tepat atau hanya menemukan 1 bukti nilai keteladanan tanpa menghubungkannya dengan kutipan tindakan tokoh Kartini.Menganalisis 1 dari 3 nilai acuan (ketekunan, rasa ingin tahu, kepedulian berbagi bacaan) disertai kutipan tindakan tokoh secara tepat.Menganalisis 2 dari 3 nilai acuan (ketekunan, rasa ingin tahu, kepedulian berbagi bacaan) disertai kutipan tindakan tokoh secara tepat.Menganalisis seluruh 3 nilai acuan (ketekunan, rasa ingin tahu, kepedulian berbagi bacaan) secara tepat dan logis disertai kutipan tindakan tokoh pada teks visual.
Presentasi Gagasan Proses Kreatif Buku (TP 5.2.3)Memaparkan gagasan tahapan penulisan buku terputus-putus, vokal tidak terdengar jelas oleh audiens, dan belum menunjukkan pilihan kata santun.Memaparkan 1 tahapan penulisan buku dengan vokal cukup jelas, namun alur gagasan belum runtut atau kesantunan berbahasa masih perlu diingatkan.Memaparkan 1 tahapan penulisan buku secara efektif dengan vokal jelas, gagasan runtut, serta menggunakan bahasa Indonesia yang santun.Memaparkan 1 tahapan penulisan buku secara sangat efektif, vokal lantang dan artikulatif, gagasan terpadu runtut, serta menunjukkan tata krama kesantunan berbahasa secara konsisten.
Menulis Teks Deskripsi Anatomi Buku dan Kosakata Denotatif-Konotatif (TP 5.2.4)Menulis teks deskripsi kurang dari 3 kalimat, belum menggunakan kaidah kalimat baku, dan memuat kurang dari 1 kata denotatif serta tanpa kata konotatif.Menulis teks deskripsi 3-4 kalimat tentang anatomi buku dengan kaidah kalimat baku, memuat 1 kata bermakna denotatif dan 1 kata bermakna konotatif secara tepat.Menulis teks deskripsi 4-5 kalimat tentang anatomi buku dengan kaidah kalimat baku runtut, memuat minimal 2 kata bermakna denotatif dan minimal 2 kata bermakna konotatif sesuai konteks.Menulis teks deskripsi lengkap (5 kalimat atau lebih) tentang anatomi buku dengan susunan kalimat kompleks yang padu, serta menempatkan lebih dari 2 kata denotatif dan 2 kata konotatif secara sangat tepat dan kaya makna.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 43 menit untuk tes tertulis dan 21 menit untuk giliran 7 kelompok presentasi telah berjalan efektif dan proporsional?
  • Bagian asesmen mana (analisis aural, analisis nilai sastra, presentasi lisan, atau penulisan kosakata denotatif-konotatif) yang menunjukkan capaian tertinggi dan bagian mana yang memerlukan penguatan remedi?
  • Bagaimana keterandalan rubrik penilaian individual dalam merekam kontribusi nyata setiap murid pada saat unjuk kerja presentasi kelompok?

Murid:

  • Tahapan proses pembuatan buku mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kuingat dan kujelaskan?
  • Nilai keteladanan apa dari kisah kegemaran membaca Kartini yang paling ingin aku terapkan dalam kebiasaan belajarku sehari-hari?
  • Bagaimana perasaanku saat memaparkan bagian proses buku di depan teman-teman sekelas dan menuliskan deskripsi anatomi buku dengan kata denotatif dan konotatif?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD (Kemendikbudristek 2024)
  2. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD (Bab 2: Buku Jendela Dunia)
  3. Naskah teks aural nonsastra 'Langkah Awal Penulis: Berburu Ide Cerita' dan lembar kerja detektif informasi aural
  4. Naskah Teks Nonsastra Aural Riset Penulis ('Langkah Penulis Mengumpulkan Fakta' dan 'Riset Pustaka dan Wawancara Penulis Biografi') susunan guru.
  5. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024.
  6. Lembar Kerja Detektif Fakta dan Lembar Analisis Rincian Fakta Aural.
  7. Naskah teks nonsastra aural 'Merangkai Draf Buku' yang dibacakan guru.
  8. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V.
  9. Lembar Analisis Alur dan Hubungan Antarinformasi Draf Buku.
  10. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2024)
  11. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V Bab 2 'Buku Jendela Dunia' (Kemendikbudristek, 2024)
  12. Naskah teks aural 'Tahap Kritis Menuju Buku Sempurna: Revisi dan Penyuntingan Naskah' dan teks studi kasus 'Laporan Masalah Naskah Buku Sains Cilik' karya guru
  13. Lembar Analisis Kritis Masalah Naskah Buku
  14. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V
  15. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V Bab 2
  16. Teks sastra cerita pendek bergambar 'Langkah Kecil Rian Menembus Cerita'
  17. Lembar Analisis Nilai 'Jejak Ketekunan Rian'
  18. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Kemendikbudristek 2024) Bab 2
  19. Teks sastra narasi bergambar 'Rahasia Peti Pustaka' dan 'Penjelajah Kamar Buku'
  20. Lembar Kerja Analisis Nilai Rasa Ingin Tahu Tokoh
  21. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024
  22. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD (Edisi Revisi), Bab 2 'Buku Jendela Dunia'
  23. Lembar teks sastra komik visual 4 panel 'Kotak Baca Sahabat' dan 'Berbagi Cerita'
  24. Kartu permainan berpasangan 'Tebak Bukti Kebaikan'
  25. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024
  26. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Bab 2 'Buku Jendela Dunia'
  27. Set kartu kutipan tindakan tokoh dan kartu nilai keteladanan
  28. Lembar Kerja Analisis Teks Visual 'Perpustakaan Kakek Jati'
  29. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD, Kemendikbudristek 2024
  30. Buku Siswa Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD, Bab 2 'Buku Jendela Dunia', Kemendikbudristek 2024 (teks & infografik 'Bagaimana Buku Dibuat')
  31. Kartu panduan alur presentasi 'Gagasan Rencana Buku'.
  32. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD/MI (Edisi Revisi 2024), Bab 2 Halaman 28-30.
  33. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD/MI.
  34. Bagan alur proses pembuatan buku dan Lembar Gagasan Presentasi.
  35. Buku Siswa Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD Halaman 27-28 (Komik 'Bagaimana Buku Dibuat')
  36. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas V SD
  37. Kartu tutur presentasi naskah proses kreatif penulisan buku
  38. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD/MI (Kemendikbudristek 2024)
  39. Buku Siswa Bahasa Indonesia Bergerak Bersama Kelas V SD/MI (Kemendikbudristek 2024, Bab 2 hlm. 27-28)
  40. Bagan Infografik Alur 'Bagaimana Buku Dibuat'
  41. Kartu Alur Tahapan Proses Kreatif Penulisan Buku
  42. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
  43. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
  44. Contoh ragam buku bacaan fiksi dan nonfiksi anak sebagai objek pengamatan
  45. Kartu kata denotatif untuk permainan bahasa berpasangan
  46. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas V: Bergerak Bersama (Edisi Revisi 2024), Bab 2: Buku Jendela Dunia.
  47. Berbagai contoh buku bacaan cetak (fiksi/nonsastra) di perpustakaan/pojok baca kelas untuk diamati langsung bagian punggung dan halaman judulnya.
  48. Kartu tantangan 'Tebak Konotasi Punggung dan Judul'.
  49. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V, Kemendikbudristek 2024.
  50. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V, Kemendikbudristek 2024 (Bab 2: Buku Jendela Dunia).
  51. Contoh fisik buku bacaan/cerita anak yang memuat daftar isi dan kata pengantar lengkap.
  52. Kartu permainan kata 'Tebak Makna Kata' dan Lembar Kerja Murid (LKPD) penulisan bagian buku.
  53. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V SD, Bab 2 'Buku Jendela Dunia'
  54. Buku bacaan anak/buku cerita fisik beragam jenis sebagai objek pengamatan
  55. Kartu kata denotatif dan konotatif untuk aktivitas permainan
  56. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama Kelas V (Bab 2: Buku Jendela Dunia)
  57. Naskah teks aural 'Jejak Kata Seorang Penulis'
  58. Lembar komik visual 4 panel 'Kotak Baca Dira'
  59. Kartu pasangan tantangan 'Cocok Taut' dan Lembar Analisis Keterpaduan
  60. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama SD/MI Kelas V, Kemendikbudristek 2024
  61. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama SD/MI Kelas V, Kemendikbudristek 2024 Bab 2 'Buku Jendela Dunia'
  62. Contoh fisik buku bacaan/cerita untuk pengamatan bagian-bagian buku
  63. Lembar pengamatan anatomi buku dan lembar panduan presentasi santun
  64. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 2 Buku Jendela Dunia
  65. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi 2024), Bab 2 Buku Jendela Dunia
  66. Naskah teks aural nonsastra 'Jejak Kata Menjadi Buku' yang disiapkan guru
  67. Lembar Asesmen Sumatif Bab 2 (memuat soal isian aural, tabel kutipan teks sastra visual, dan ruang draf penulisan deskripsi anatomi buku)
  68. Contoh fisik buku cetak beraneka ragam (sebagai objek amatan anatomi buku: sampul, punggung, daftar isi)
  69. Lembar Observasi dan Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Presentasi Kelompok

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.