MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 4 (Fase B) Topik: Bab 1 — Sudah Besar INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase B / Kelas 4 |
|---|
| Topik | Bab 1 — Sudah Besar |
|---|
| Alokasi Waktu | 26 JP (26 x 35 menit = 910 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 13 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 4.1.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita Tak Muat Lagi
- TP 4.1.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan teks Fobia
- TP 4.1.3 Menemukan informasi dalam teks nonsastra berbentuk cetak tentang fobia
- TP 4.1.4 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks tentang hubungan kakak-adik
- TP 4.1.5 Menceritakan kembali isi dan/atau informasi dari berbagai tipe teks yang dibaca pada cerita Suka dan Tidak Suka
- TP 4.1.6 Menulis berbagai tipe teks sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Siapa saja yang biasanya ada di dalam sebuah cerita saat kita mendengarkannya?
- Bagaimana kita tahu apa yang terjadi pertama kali pada tokoh dalam cerita yang dibacakan?
- Mengapa Lala tiba-tiba merasa kesal saat melihat baju yang dipakai oleh Kiki?
- Apa kejadian yang akhirnya membuat pertengkaran antara Lala dan Kiki berhenti?
- Pernahkah kalian melihat kata yang panjang dan sulit diucapkan saat membaca buku?
- Bagaimana cara kita membaca kata baru agar terdengar lancar dan tidak terbata-bata?
- Bagaimana caramu melafalkan kata-kata baru yang panjang atau asing agar terdengar lancar dan tidak tersendat?
- Apa yang kamu lakukan jika menemukan kata baru yang sulit saat membaca bacaan mandiri?
- Apa perbedaan antara rasa takut biasa dan fobia dalam bacaan?
- Informasi penting apa saja yang dapat kita temukan saat membaca teks tentang fobia?
- Bagaimana ciri fisik atau gejala seseorang saat mengalami ketakutan luar biasa (fobia)?
- Tindakan apa saja yang tertulis di buku untuk menolong orang yang sedang ketakutan karena fobia?
- Bagaimana caramu berbicara saat ingin menyampaikan pendapat kepada kakak atau adik agar tidak bertengkar?
- Mengapa sikap tubuh yang tegak dan sopan membantu orang lain mendengarkan pendapat kita dengan baik?
- Bagaimana pengaturan volume suara kita agar pendapat kita dapat didengar dengan jelas oleh seluruh teman di kelas?
- Mengapa intonasi yang tenang dan ramah lebih tepat digunakan saat kita mengemukakan pendapat tentang hubungan kakak dan adik?
- Siapa saja tokoh yang berkumpul dalam cerita 'Suka dan Tidak Suka' yang kita baca?
- Di mana dan dalam suasana apa peristiwa dalam cerita tersebut terjadi?
- Peristiwa apa saja yang dialami Ardi dan sepupu-sepupunya dari awal sampai akhir dalam cerita Suka dan Tidak Suka?
- Bagaimana urutan kejadian ketika Bobi, Lita, Tara, dan Rio menceritakan kesukaan serta ketidaksukaan mereka?
- Peristiwa berkesan apa yang pernah kamu alami saat kamu bertambah besar?
- Bagaimana caramu merangkai berbagai kalimat agar ceritamu tentang pengalaman itu terasa hidup dan tidak membosankan?
- Bagaimana cara membuat cerita pengalamanmu menjadi lebih seru dan tidak membosankan saat dibaca?
- Apakah ceritamu sudah memuat kalimat yang membutuhkan objek dan kalimat yang bisa berdiri sendiri tanpa objek?
- Bagaimana cara kita menunjukkan pemahaman terbaik kita terhadap bacaan fobia dan cerita yang telah kita pelajari di Bab 1?
- Mengapa kita perlu menuliskan pengalaman pribadi menggunakan variasi kalimat secara rapi dan mandiri?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengidentifikasi Tokoh dan Alur Awal pada Teks Aural Cerita Tak Muat Lagi — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita Tak Muat Lagi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyimak pembacaan cerita 'Tak Muat Lagi' untuk mengenali siapa tokoh di dalamnya dan apa kejadian awal yang dialami tokoh (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan dengan memperdengarkan 2 kalimat penggalan cerita pendek: 'Budi baru saja tiba di lapangan. Sepedanya tiba-tiba kempes sehingga ia terpaksa menuntunnya.' Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik: (1) 'Siapa tokoh dalam kalimat tersebut?' (acuan: Budi); (2) 'Apa kejadian yang dialami tokoh pada awal kalimat?' (acuan: Budi baru tiba di lapangan / sepedanya kempes) untuk memetakan kesiapan menyimak isi teks aural (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru membacakan nyaring bagian awal teks narasi 'Tak Muat Lagi' dengan artikulasi jelas: 'Lala baru saja pulang sekolah. Cuaca panas membuatnya buru-buru masuk rumah. Segelas air dingin, itulah yang diinginkannya. "Kakak pasti haus. Ini, minum dulu." Kiki menyodorkan segelas air. Adiknya itu memang baik. "Waaah, terima ka ...." Lala menghentikan ucapannya begitu melihat baju yang dipakai Kiki. Itu baju biru polkadot favoritnya! "Kenapa kamu memakai bajuku?" Lala bertanya dengan kesal.' (acuan bacaan Buku Siswa hal. 4) sementara murid menyimak secara saksama (10 menit).
- Guru memandu tanya-jawab terarah untuk mengidentifikasi tokoh dan alur pembuka: menanyakan siapa nama kakak, siapa nama adik, dan apa yang sedang dilakukan tokoh saat cerita baru dimulai (acuan: tokoh Lala dan Kiki; peristiwa awal: Lala pulang sekolah kehausan dan Kiki menyodorkan air minum) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Permainan Menyimak Gembira 'Tangkap Kartu Tokoh': Guru membacakan kembali 4 kalimat acak dari teks aural, lalu murid secara cepat mengangkat kartu nama tokoh yang tepat ('LALA' atau 'KIKI') sesuai tindakan yang dibacakan guru: (1) Pulang sekolah kehausan (acuan: LALA); (2) Menyodorkan segelas air putih dingin (acuan: KIKI); (3) Memakai baju biru polkadot (acuan: KIKI); (4) Terkejut dan kesal melihat bajunya dipakai (acuan: LALA) (10 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja pengidentifikasian tokoh dan alur awal cerita yang berisi 4 butir soal isian singkat berdasarkan teks aural: (1) Nama tokoh utama yang baru pulang sekolah (acuan: Lala); (2) Tokoh adik yang memberikan segelas air dingin (acuan: Kiki); (3) Hal yang diinginkan Lala saat baru tiba di rumah karena cuaca panas (acuan: segelas air dingin); (4) Benda milik Lala yang dipakai Kiki di awal cerita (acuan: baju biru polkadot / baju favorit Lala) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama murid mencocokkan hasil lembar kerja dengan membahas kunci jawaban secara terbuka, lalu murid memeriksa sendiri ketepatan identifikasi tokoh dan alur awal yang telah ditulisnya (8 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap materi isi teks yang disimak bahwa tokoh cerita adalah Lala dan Kiki dengan alur awal kepulangan Lala dan pemberian air oleh Kiki sebelum melihat baju polkadot (4 menit).
- Guru memandu murid melakukan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman langsung: (1) 'Siapa pemilik baju biru polkadot?' (acuan: Lala); (2) 'Siapa yang memakai baju itu ketika menyodorkan minum?' (acuan: Kiki) serta menutup pelajaran dengan salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Teks aural dibacakan dengan jeda yang lebih lambat dan penekanan nada pada nama tokoh bagi kelompok murid yang membutuhkan dukungan pemahaman menyimak.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan dapat mencocokkan gambar ilustrasi tokoh Lala dan Kiki sebelum menulis jawaban, sedangkan murid cepat dapat langsung mengidentifikasi rincian benda dan urutan kejadian awal secara mandiri tanpa bantuan perulangan bacaan.
- Produk: Murid yang masih berkembang diperbolehkan menuliskan nama tokoh saja (Lala/Kiki) pada lembar kerja, sementara murid mahir melengkapi seluruh rincian nama tokoh dan 2 peristiwa awal secara lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik lisan menyimak 2 kalimat cerita pendek untuk menentukan kesiapan murid mengidentifikasi tokoh dan peristiwa awal (soal: Siapa tokohnya? Apa yang dialami di awal? Acuan: tokoh Budi; peristiwa baru tiba di lapangan / sepedanya kempes).
Proses:- Observasi ketepatan mengangkat kartu tokoh (Lala/Kiki) pada 4 butir pernyataan teks aural (acuan: 1=Lala, 2=Kiki, 3=Kiki, 4=Lala).
- Penilaian lembar kerja mandiri identifikasi isi teks aural berisi 4 butir soal (acuan: 1=Lala; 2=Kiki; 3=segelas air dingin; 4=baju biru polkadot favorit Lala).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan lisan cepat pemahaman isi teks aural pada penutup: (1) Siapa pemilik baju biru polkadot? (acuan: Lala); (2) Siapa yang memakai baju itu saat menyodorkan minum? (acuan: Kiki).
Formatif:- Pemeriksaan lembar kerja mandiri identifikasi tokoh dan alur awal cerita Tak Muat Lagi
- Observasi respon murid dalam permainan mencocokkan tokoh teks aural
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi tokoh teks aural cerita Tak Muat Lagi | Belum mampu mengidentifikasi tokoh (0 dari 2 tokoh tepat; tidak dapat menyebutkan Lala maupun Kiki dari cerita yang diperdengarkan). | Mampu mengidentifikasi 1 dari 2 tokoh secara tepat (hanya menyebutkan Lala atau Kiki) berdasarkan cerita yang diperdengarkan. | Mampu mengidentifikasi kedua tokoh (Lala dan Kiki) secara tepat dari teks aural yang diperdengarkan dengan sedikit bantuan guru. | Mampu mengidentifikasi kedua tokoh (Lala dan Kiki) secara tepat, lengkap beserta perannya dalam cerita aural secara mandiri. | | Mengidentifikasi alur awal peristiwa teks aural cerita Tak Muat Lagi | Belum mampu mengidentifikasi peristiwa awal cerita (0 dari 2 butir rincian kejadian awal tepat). | Mampu mengidentifikasi 1 dari 2 rincian kejadian awal (hanya tepat menyebutkan haus/minta minum ATAU baju polkadot dipakai Kiki). | Mampu mengidentifikasi kedua rincian kejadian awal (Lala haus pulang sekolah diberi minum Kiki DAN melihat baju biru polkadotnya dipakai Kiki) secara tepat. | Mampu mengidentifikasi seluruh rincian kejadian pembuka cerita secara runtut dan tepat tanpa ada kesalahan fakta cerita aural. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pelafalan dan tempo pembacaan teks cerita aural sudah cukup jelas didengar oleh seluruh murid?
- Bagian mana dari isi awal cerita yang paling sulit diidentifikasi oleh murid saat menyimak?
Murid:- Apakah kamu dapat mengenali nama-nama tokoh dalam cerita yang dibacakan tadi?
- Peristiwa apa yang paling kamu ingat saat Lala baru saja sampai di rumah?
Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Peristiwa dan Konflik pada Teks Aural Cerita Tak Muat Lagi — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita Tak Muat Lagi
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, serta menyampaikan tujuan pembelajaran menyimak peristiwa dan konflik dalam cerita 'Tak Muat Lagi' (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik menyimak isi teks secara lisan dengan memberikan pertanyaan singkat: 'Berdasarkan cerita Tak Muat Lagi yang disimak sebelumnya, mengapa Lala kesal kepada adiknya, Kiki?' Murid menjawab langsung secara lisan (acuan: Lala kesal karena Kiki memakai baju biru polkadot favoritnya yang dikira Lala diambil tanpa izin) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membacakan kembali bagian tengah cerita 'Tak Muat Lagi' dengan saksama, sementara murid menyimak secara berkesadaran untuk mengenali apa yang memicu pertengkaran (konflik) antara Lala dan Kiki (8 menit).
- Guru memberikan penguatan konsep isi teks narasi mengenai peristiwa (apa yang terjadi) dan konflik (masalah/pertentangan yang dihadapi tokoh) melalui tanya jawab terbimbing tentang kejadian saat Kiki menyodorkan air minum dan respons Lala ketika melihat baju polkadotnya dipakai (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan kuis gerak menggembirakan 'Detektif Kejadian': guru membacakan 4 pernyataan aural terkait peristiwa dan konflik dalam teks, lalu murid berdiri jika pernyataan benar dan menyilangkan tangan jika salah (15 menit). Pernyataan yang dibacakan: (1) Lala kesal karena Kiki menumpahkan air minum [Salah, acuan: Kiki menyodorkan air dengan baik, Lala kesal karena bajunya dipakai Kiki]; (2) Konflik terjadi karena Lala merasa Kiki mengambil baju favoritnya tanpa izin [Benar, acuan: isi teks Lala marah bajunya dipakai Kiki]; (3) Kiki langsung membuang baju itu ke lantai saat Lala marah [Salah, acuan: Kiki mengalah dan mengembalikan baju itu kepada Lala]; (4) Pertengkaran selesai setelah Lala menyadari bajunya memang sudah kekecilan dan memberikannya kepada Kiki [Benar, acuan: Lala mencoba baju itu sampai robek lalu memberikannya kepada Kiki].
- Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja 'Peristiwa & Konflik' yang memuat 3 butir pertanyaan identifikasi isi teks aural berdasarkan cerita yang didengarkan: (1) Peristiwa apa yang memicu kemarahan Lala?; (2) Apa alasan Kiki memakai baju tersebut?; (3) Bagaimana peristiwa penyelesaian konflik saat Lala mencoba memakai baju tersebut? (acuan: (1) Lala melihat Kiki memakai baju polkadot favoritnya; (2) Ibu mengatakan baju itu untuk Kiki karena Lala tidak pernah lagi memakainya; (3) Baju sobek saat dipakai Lala karena sudah kekecilan, sehingga Lala sadar lalu memberikannya pada Kiki) (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memfasilitasi murid mengevaluasi hasil lembar kerja dengan mengonfirmasi isi peristiwa dan konflik yang tepat dari cerita secara klasikal (7 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali rangkaian peristiwa penting dan konflik utama dalam cerita 'Tak Muat Lagi' (3 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas ketelitian murid dalam menyimak dan mengingatkan kesiapan menyimak untuk giliran asesmen pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan ulang kutipan dialog kunci antara Lala dan Kiki secara perlahan; bagi murid yang cepat, teks penggalan peristiwa diberikan tanpa bantuan pengulangan pembacaan.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu menemukan kata kunci peristiwa melalui pertanyaan penuntun (siapa yang bertengkar dan apa yang diperebutkan); murid yang mahir langsung mengidentifikasi sebab-akibat konflik secara mandiri.
- Produk: Semua murid menjawab 3 butir identifikasi peristiwa dan konflik; murid yang cepat menuliskan jawaban secara lengkap dan mandiri, sedangkan murid yang membutuhkan bantuan diperbolehkan menjawab dengan frasa inti peristiwa.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan sebelum materi: 'Berdasarkan cerita Tak Muat Lagi yang disimak, mengapa Lala kesal kepada Kiki?' (Acuan jawaban benar: Lala kesal karena Kiki memakai baju biru polkadot favoritnya yang Lala kira diambil tanpa izin).
Proses:- Pengamatan keterlibatan murid dalam kuis gerak 'Detektif Kejadian' (4 butir pernyataan benar/salah mengenai alur peristiwa dan konflik cerita Tak Muat Lagi).
- Pemeriksaan lembar kerja mandiri identifikasi peristiwa dan konflik (3 butir isian: pemicu kemarahan, alasan Kiki memakai baju, dan penyelesaian konflik).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menyebutkan secara singkat penyebab utama konflik berakhir (Acuan: baju sobek/kekecilan saat dicoba Lala di depan cermin sehingga Lala sadar tubuhnya sudah bertambah besar dan merelakan baju itu untuk Kiki).
Formatif:- Kuis gerak aural 'Detektif Kejadian' (4 butir pernyataan aural tentang peristiwa dan konflik)
- Lembar kerja tertulis mandiri identifikasi peristiwa dan konflik (3 butir soal pemahaman isi cerita)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi Konflik Cerita | Belum mampu mengidentifikasi pemicu konflik antara Lala dan Kiki walau telah dibacakan ulang teksnya (0 jawaban tepat dari 2 pertanyaan konflik). | Mampu mengidentifikasi 1 dari 2 hal terkait konflik (hanya pemicu kemarahan Lala atau alasan Kiki) dengan bimbingan guru. | Mampu mengidentifikasi 2 hal terkait konflik (pemicu kemarahan Lala dan alasan Kiki memakai baju) secara tepat sesuai isi cerita. | Mampu mengidentifikasi secara lengkap dan mandiri seluruh rincian konflik (pemicu kemarahan, alasan Kiki, serta sikap kedua tokoh saat berselisih) secara tepat sesuai isi cerita. | | Mengidentifikasi Peristiwa Penyelesaian Masalah | Belum mampu mengidentifikasi peristiwa yang menyelesaikan perselisihan antara Lala dan Kiki (jawaban salah atau tidak sesuai teks). | Mampu menyebutkan akhir cerita bahwa baju diberikan kepada Kiki, namun belum tepat mengidentifikasi peristiwa penyebabnya (baju sobek/kekecilan). | Mampu mengidentifikasi peristiwa penyelesaian masalah secara tepat (Lala menyadari baju sobek/tidak muat lagi saat dicoba sehingga memberikannya kepada Kiki). | Mampu mengidentifikasi rangkaian peristiwa penyelesaian masalah secara lengkap dan runtut (mulai dari Lala mencoba di cermin, baju robek, hingga kerelaan Lala menyerahkan baju) secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pembacaan aural bagian konflik cerita sudah cukup jelas dan dapat ditangkap dengan baik oleh semua murid?
- Apakah kegiatan kuis gerak efektif membantu murid membedakan peristiwa pemicu konflik dan penyelesaiannya?
Murid:- Bagian mana dari cerita Tak Muat Lagi yang paling mudah kamu ingat peristiwanya?
- Apakah kamu dapat menemukan alasan mengapa Lala akhirnya mau mengalah kepada Kiki?
Pertemuan 3 — Membaca Nyaring Kata-Kata Baru Berbimbingan dari Bacaan Teks Fobia serta Penilaian Menyimak Tak Muat Lagi (Giliran 11 Murid) — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita Tak Muat Lagi
- TP 4.1.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan teks Fobia
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu berlatih membaca nyaring kata-kata baru berbimbingan dari teks Fobia secara lancar, serta menyelesaikan giliran penilaian menyimak cerita Tak Muat Lagi bagi 11 murid (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik cepat dengan menunjukkan 2 kata pada kartu: 'fobia' dan 'gejala', lalu meminta 3 orang perwakilan murid melafalkannya tanpa mengeja (acuan ketepatan: 'fo-bi-a' dan 'ge-ja-la' dibaca lancar tanpa tersendat) untuk memetakan kesiapan awal membaca kata baru (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak guru memodelkan cara membaca nyaring 5 kata baru dari teks 'Fobia' di papan tulis dengan pelafalan utuh tanpa mengeja: (1) fobia, (2) berkonsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala (5 menit).
- Murid secara klasikal menirukan pelafalan kelima kata baru tersebut mengikuti bimbingan guru secara berulang hingga terdengar fasih dan kompak (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil untuk memainkan 'Tantangan Kartu Kata Melompat': setiap murid bergantian mengambil salah satu dari 5 kartu kata target ((1) fobia, (2) berkonsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala) dan membacanya dengan lantang serta fasih tanpa jeda ragu kepada teman sekelompoknya (15 menit).
- Bersamaan dengan aktivitas membaca mandiri/kelompok, guru memanggil 11 murid (giliran sesi ini) satu per satu ke meja guru untuk penilaian menyimak teks aural 'Tak Muat Lagi' dengan menjawab 3 pertanyaan isi: (1) Mengapa baju Lala tidak muat lagi? (acuan: karena tubuh Lala sudah bertambah besar); (2) Siapa yang akhirnya memakai baju biru polkadot tersebut? (acuan: Kiki / adik Lala); (3) Bagaimana perasaan Lala pada akhir cerita? (acuan: senang / tersenyum / rela memberikan bajunya kepada Kiki) (15 menit).
- Guru berkeliling ke meja-meja kelompok untuk membimbing murid yang masih terbata-bata melafalkan kata berkonsultasi dan psikolog (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mengevaluasi kata mana dari kelima kata baru teks Fobia yang paling menantang untuk diucapkan secara lancar dan mempraktikkannya kembali secara serempak (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya mengenali bentuk kata agar dapat membacanya langsung tanpa mengeja suku katanya satu per satu (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas kefasihan membaca kata murid hari ini, menginformasikan bahwa latihan membaca mandiri akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu kata dengan pemenggalan warna suku kata berbeda bagi murid yang membutuhkan panduan visual pelafalan.
- Proses: Murid yang sudah lancar berlatih membaca kelima kata secara acak dengan tempo lebih cepat, sedangkan murid yang masih mengeja dibimbing membaca suku kata per suku kata terlebih dahulu oleh guru sebelum digabung utuh.
- Produk: Semua murid menunjukkan kefasihan membaca lisan kelima kata target sesuai kesiapan kelancarannya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik membaca cepat 2 kata sampel: 'fobia' dan 'gejala' di awal sesi. Acuan: murid mampu melafalkan kedua kata secara langsung tanpa mengeja huruf satu per satu.
Proses:- Pengamatan kefasihan membaca 5 kata baru teks Fobia: (1) fobia, (2) berkonsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala. Indikator: kata dibaca utuh tanpa jeda ragu, tanpa salah pelafalan, dan tanpa mengulang.
- Tes lisan penilaian menyimak teks aural cerita Tak Muat Lagi untuk 11 murid: (1) Penyebab baju tidak muat (acuan: tubuh Lala bertambah besar); (2) Tokoh yang memakai baju (acuan: Kiki); (3) Perasaan akhir Lala (acuan: senang/ikhlas/tersenyum).
Akhir Pertemuan:- Cek kefasihan akhir: guru menunjuk cepat salah satu dari kata target ('psikolog' atau 'berkonsultasi') secara acak kepada kelas, murid serentak membaca tanpa mengeja (acuan: pelafalan lancar dan tepat).
Formatif:- Unjuk kerja membaca nyaring 5 kata baru dari teks Fobia secara terbimbing (TP 4.1.2)
- Tes lisan identifikasi isi teks aural Tak Muat Lagi untuk 11 murid giliran Pertemuan 3 (TP 4.1.1)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kefasihan Membaca Kata Baru Teks Fobia (TP 4.1.2) | Membaca kata baru dengan mengeja huruf demi huruf dan terbata-bata pada lebih dari 3 kata dari 5 kata target. | Membaca 2-3 kata baru dari 5 kata target dengan fasih, selebihnya masih mengeja atau mengulang. | Membaca 4 kata baru dari 5 kata target ((1) fobia, (2) berkonsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala) dengan fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu. | Membaca seluruh (5) kata baru target ((1) fobia, (2) berkonsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala) dengan fasih tanpa mengeja, tanpa jeda ragu, secara mandiri. | | Mengidentifikasi Isi Teks Aural Tak Muat Lagi (TP 4.1.1) | Belum dapat menjawab dengan tepat 3 pertanyaan isi teks aural cerita Tak Muat Lagi. | Menjawab dengan tepat 1 dari 3 pertanyaan isi teks aural Tak Muat Lagi sesuai acuan. | Menjawab dengan tepat 2 dari 3 pertanyaan isi teks aural Tak Muat Lagi sesuai acuan kunci. | Menjawab dengan tepat seluruh (3) pertanyaan isi teks aural Tak Muat Lagi sesuai acuan: (1) tubuh Lala membesar, (2) Kiki, (3) senang/ikhlas. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu antara aktivitas kelompok membaca kata dan penilaian lisan 11 murid berjalan efektif?
- Kata mana yang paling banyak membutuhkan bimbingan artikulasi fonetik bagi murid?
Murid:- Kata baru mana yang menurutmu paling mudah dibaca hari ini?
- Bagaimana perasaanmu saat mencoba membaca kata yang sebelumnya terasa asing atau sulit?
Pertemuan 4 — Membaca Mandiri Kata-Kata Baru dengan Fasih dari Bacaan Teks Fobia — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan teks Fobia
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membaca mandiri kata-kata baru dari bacaan teks Fobia dengan fasih, lancar, tanpa mengeja (3 menit).
- Guru melakukan diagnostik awal kefasihan membaca cepat terhadap 4 kata target dasar di papan tulis: 'fobia', 'panik', 'terapi', 'gejala' secara bergiliran cepat pada perwakilan murid (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperlihatkan daftar 6 kata-kata baru dari teks Fobia di papan tulis: (1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) psikolog, (5) konsultasi, (6) arakhnofobia, lalu murid mencermati pola kombinasi huruf dan suku kata pada masing-masing kata tersebut secara berkesadaran (7 menit).
- Guru memberikan contoh membaca fasih (lancar langsung tanpa jeda mengeja) untuk keenam kata tersebut dan murid menirukannya bersama-sama untuk memantapkan pola pelafalan (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan tantangan berpasangan 'Tangkas Baca Kata': secara bergantian setiap murid memegang set kartu berisi 6 kata baru teks Fobia [(1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) psikolog, (5) konsultasi, (6) arakhnofobia] dan membacakan tiap kata secara mandiri dan fasih kepada pasangannya (15 menit).
- Setiap murid menerima lembar bacaan mandiri teks 'Fobia' dan membaca mandiri secara nyaring di mejanya masing-masing, melatih kefasihan saat menemukan keenam kata baru tersebut di dalam konteks kalimat bacaan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menandai sendiri pada lembar daftar kata pribadi: kata mana dari ke-6 kata baru yang sudah dapat dibaca lancar seketika dan kata mana yang masih memerlukan jeda atau pengulangan (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya latihan pengenalan suku kata secara mandiri agar semakin fasih membaca kata-kata baru yang panjang (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian membaca mandiri seluruh murid dan menginformasikan kegiatan membaca informasi pokok teks fobia pada pertemuan berikutnya, lalu menutup kelas dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu kata dengan pemenggalan suku kata (fo-bi-a, pa-nik, te-ra-pi, psi-ko-log, kon-sul-ta-si, a-rakh-no-fo-bi-a) bagi murid yang membutuhkan panduan visual pola huruf.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih membaca kata per kata dengan bantuan ketukan suku kata, sedangkan murid yang sudah mahir membaca mandiri 6 kata dalam bentuk kartu acak secara cepat.
- Produk: Semua murid membaca keenam kata target secara mandiri dengan tingkat kelancaran/kemandirian sesuai rubrik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes lisan diagnostik membaca 4 kata dasar di papan tulis secara cepat: (1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) gejala. Acuan ketepatan: murid melafalkan kata secara langsung tanpa mengeja huruf satu per satu (indikator: terbaca utuh seketika).
Proses:- Penilaian formatif performa membaca mandiri 6 kata-kata baru dari bacaan teks Fobia: (1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) psikolog, (5) konsultasi, (6) arakhnofobia. Kriteria operasional fasih: kata dibaca tepat sesuai bunyinya, lancar, tanpa mengeja, tanpa jeda ragu lebih dari 3 detik, dan tanpa mengulang.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman membaca cepat di akhir sesi: murid membaca mandiri secara acak 3 kata yang ditunjuk guru dari daftar 6 kata target [(1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) psikolog, (5) konsultasi, (6) arakhnofobia] secara fasih (acuan ketercapaian: melafalkan ketiga kata yang ditunjuk tanpa tersendat).
Formatif:- Observasi unjuk kerja membaca mandiri 6 kata-kata baru teks Fobia menggunakan daftar cek kefasihan saat kegiatan 'Tangkas Baca Kata' dan membaca mandiri teks.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kefasihan Membaca Mandiri Kata-Kata Baru Teks Fobia [Daftar 6 target: (1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) psikolog, (5) konsultasi, (6) arakhnofobia; kriteria fasih: tanpa mengeja, tanpa jeda ragu, tanpa mengulang] | Membaca mandiri dengan fasih maksimal 1-2 kata baru dari daftar 6 kata target, masih mengeja sebagian besar kata secara terbata-bata. | Membaca mandiri dengan fasih 3-4 kata baru dari daftar 6 kata target, sesekali masih ada jeda ragu atau pengulangan. | Membaca mandiri dengan fasih minimal 5 kata baru dari daftar 6 kata target secara lancar tanpa mengeja. | Membaca mandiri dengan fasih seluruh 6 kata baru dari daftar kata target secara lancar, tepat seketika tanpa ragu maupun pengulangan secara konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah strategi permainan kartu kata berpasangan efektif melatih kemandirian murid membaca kata-kata baru teks Fobia secara fasih?
- Kata baru mana dari keenam kata target yang paling banyak menimbulkan jeda/keraguan pada murid saat dibaca mandiri?
Murid:- Kata baru mana dari teks Fobia yang menurutmu paling mudah dibaca lancar?
- Bagaimana caramu agar bisa membaca kata yang panjang seperti 'arakhnofobia' atau 'konsultasi' tanpa tersendat?
Pertemuan 5 — Menemukan Informasi Pokok dalam Teks Nonsastra Cetak tentang Fobia serta Penilaian Membaca Kata Baru Teks Fobia (Giliran 11 Murid) — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan teks Fobia
- TP 4.1.3 Menemukan informasi dalam teks nonsastra berbentuk cetak tentang fobia
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menemukan informasi pokok dalam teks nonsastra cetak bertema fobia serta mengambil penilaian membaca fasih kata baru untuk giliran 11 murid (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 kata baru di papan tulis ('fobia', 'konsultasi') lalu meminta 2-3 perwakilan murid membaca kata tersebut secara langsung tanpa mengeja untuk memetakan kesiapan kelancaran membaca (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati teks nonsastra cetak 'Fobia' pada Buku Siswa halaman 22-23 dan menandai kalimat yang memuat pengertian serta informasi pokok fobia (10 menit).
- Murid berpasangan memainkan permainan bahasa cepat 'Tunjuk Kata Cepat' dengan saling menunjukkan dan membaca secara bergantian 5 kata baru dalam kartu kata: (1) fobia, (2) konsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala secara bergantian (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri membaca teks cetak dan menemukan informasi pokok dengan menjawab 3 butir pertanyaan informasi teks: (1) Apa arti fobia menurut teks? (acuan: ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan pengidapnya); (2) Sebutkan 2 contoh fobia yang tertulis dalam teks! (acuan: dua di antara ofidiofobia/koulrofobia/arakhnofobia); (3) Apa yang membedakan fobia dari rasa takut biasa menurut teks? (acuan: fobia sangat berlebihan dan menghambat kehidupan pengidapnya) (10 menit).
- Bersamaan dengan kerja mandiri kelas, guru memanggil satu per satu giliran 11 murid ke meja guru untuk melakukan penilaian unjuk kerja membaca 5 kata baru secara fasih dari kartu kata teks Fobia: (1) fobia, (2) konsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala (kriteria fasih: dibaca tepat, lancar, tanpa mengeja, tanpa jeda ragu) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil penemuan informasi pokok dari teks cetak berdasarkan bukti kalimat yang ada di teks (5 menit).
- Murid menandai sendiri pada lembar kerjanya apakah informasi pokok yang ditemukannya sudah lengkap dan tepat sesuai isi teks (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan penemuan informasi pokok dan kelancaran membaca kata baru yang telah dinilai pada giliran 11 murid (3 menit).
- Guru menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (menemukan informasi rinci tentang gejala dan penanganan fobia) lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks cetak dengan penanda garis bawah pada kalimat informasi pokok; murid yang cepat membaca teks cetak fobia tambahan yang memuat jenis-jenis fobia lainnya.
- Proses: Pada penilaian membaca kata baru, murid yang ragu diberikan kesempatan jeda 3 detik sebelum melafalkan kata secara utuh tanpa mengeja; murid yang mahir langsung membaca kartu acak.
- Produk: Semua murid menemukan 3 informasi pokok yang sama pada lembar kerja cetak sesuai teks.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Uji petik membaca cepat 2 kata baru ('fobia' dan 'konsultasi') di papan tulis tanpa mengeja untuk memeriksa kesiapan kelancaran pelafalan kata nonsastra (acuan: kata dibaca langsung tanpa terbata-bata/mengeja huruf per huruf: 'fo-bi-a' dibaca langsung 'fobia'; 'kon-sul-ta-si' dibaca langsung 'konsultasi').
Proses:- Unjuk kerja membaca lisan 5 kata baru teks Fobia untuk giliran 11 murid: (1) fobia, (2) konsultasi, (3) psikolog, (4) terapi, (5) gejala. Kriteria fasih: dibaca utuh tanpa mengeja, tanpa mengulang, dan tanpa jeda ragu.
- Pemeriksaan lembar penemuan informasi pokok dalam teks cetak dengan 3 butir: (1) Pengertian fobia (acuan: ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang menghambat kehidupan); (2) Dua contoh jenis fobia (acuan: ofidiofobia, koulrofobia, atau arakhnofobia); (3) Perbedaan fobia dan takut biasa (acuan: fobia bersifat sangat berlebihan dan menghambat kehidupan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat lisan di penutup: Murid menyebutkan kembali 1 kalimat kunci informasi pokok dari teks fobia yang dibaca (acuan: fobia adalah ketakutan sangat berlebihan yang menghambat kehidupan pengidapnya).
Formatif:- Tes lisan/unjuk kerja membaca fasih 5 kata baru dari teks Fobia untuk giliran 11 murid.
- Tes tertulis/penugasan menemukan 3 informasi pokok dalam teks nonsastra cetak 'Fobia'.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Membaca kata-kata baru dengan fasih dari teks Fobia (TP 4.1.2) | Membaca 0-1 kata baru dengan fasih (masih mengeja huruf per huruf atau terhenti pada sebagian besar kata dari daftar: fobia, konsultasi, psikolog, terapi, gejala). | Membaca 2-3 kata baru dari 5 kata target dengan fasih tanpa mengeja. | Membaca 4 kata baru dari 5 kata target dengan fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu. | Membaca seluruh 5 kata baru target (fobia, konsultasi, psikolog, terapi, gejala) dengan fasih tanpa mengeja, tanpa mengulang, dan tanpa jeda ragu. | | Menemukan informasi pokok dalam teks nonsastra cetak tentang fobia (TP 4.1.3) | Menemukan 0 informasi pokok dengan tepat sesuai teks nonsastra cetak. | Menemukan 1 dari 3 informasi pokok dengan tepat sesuai acuan teks nonsastra cetak. | Menemukan 2 dari 3 informasi pokok dengan tepat sesuai acuan teks nonsastra cetak. | Menemukan seluruh 3 informasi pokok (pengertian, 2 contoh fobia, dan perbedaan fobia dengan takut biasa) dengan tepat sesuai acuan teks nonsastra cetak. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu untuk menilai 11 murid membaca kata baru secara individual berjalan efektif tanpa mengganggu ketertiban kelas yang sedang mengerjakan tugas menemukan informasi?
- Bagian teks mana yang paling mudah atau paling sulit ditemukan informasi pokoknya oleh murid?
Murid:- Kata baru mana yang paling mudah dan paling menantang untuk saya baca secara fasih tanpa mengeja?
- Apakah saya dapat menemukan kalimat yang memuat pengertian fobia di dalam teks cetak secara mandiri?
Pertemuan 6 — Menemukan Informasi Rinci Gejala dan Penanganan dalam Teks Nonsastra Cetak tentang Fobia — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.3 Menemukan informasi dalam teks nonsastra berbentuk cetak tentang fobia
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan belajar: menemukan informasi rinci tentang gejala fisik dan cara penanganan dari teks cetak 'Fobia' (2 menit).
- Guru melakukan diagnostik awal dengan meminta murid membaca cepat satu paragraf cuplikan teks cetak 'Fobia' di meja masing-masing lalu menjawab satu pertanyaan panduan: 'Sebutkan 1 gejala fobia yang tertulis di teks!' (acuan jawaban: jantung berdebar keras, leher terasa tercekik, sesak napas, tubuh gemetar, mual, sakit kepala hebat, menangis, atau selalu ingin buang air kecil) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid mencermati kembali teks cetak 'Fobia' pada Buku Siswa halaman 23-24 dan memperhatikan dua bagian informasi rinci: daftar gejala fobia dan cara menolong teman yang mengalami gejala fobia (10 menit).
- Guru memodelkan cara menandai (menggarisbawahi) kata kunci informasi rinci gejala (tanda-tanda tubuh) dan penanganan (tindakan bantuan) pada teks cetak agar murid memahami letak informasi yang dicari (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti aktivitas interaktif 'Detektif Informasi Fobia': murid secara berpasangan berlomba mencocokkan 6 kartu informasi acak ke dalam dua kolom bagan di meja ('Gejala Fobia' vs 'Cara Penanganan'). Enam kartu yang digunakan: (1) Jantung berdebar keras -> Gejala; (2) Memeluknya agar tenang -> Penanganan; (3) Tubuh gemetar -> Gejala; (4) Mengajak menjauh dari benda pemicu -> Penanganan; (5) Selalu ingin buang air kecil -> Gejala; (6) Mengalihkan perhatian ke hal lain -> Penanganan (acuan: pengelompokan tepat 6 kartu tersebut) (12 menit).
- Murid secara mandiri membaca teks cetak dan mengisi lembar kerja 'Informasi Rinci Teks Fobia' yang memuat tabel 2 kolom: menemukan dan mencatat minimal 4 gejala fobia dan 3 cara penanganan langsung dari teks (acuan gejala: jantung berdebar keras, leher terasa tercekik, sesak napas, tubuh gemetar, mual, sakit kepala hebat, menangis, selalu ingin buang air kecil; acuan penanganan: memeluknya agar tenang, mengajaknya menjauh dari benda yang membuatnya takut, mengalihkan perhatiannya ke hal lain) (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru memeriksa kesesuaian catatan informasi dengan teks cetak, memeriksa apakah ada informasi yang terlewat atau tertukar antara gejala dan cara penanganan (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan menemukan informasi tersurat dalam teks cetak secara mandiri (3 menit).
- Murid menjawab lembar cek pemahaman singkat akhir (2 butir) untuk mengonfirmasi penemuan informasi rinci (acuan: butir 1 gejala = sesak napas/mual/tubuh gemetar; butir 2 penanganan = memeluk/menjauhkan dari pemicu/mengalihkan perhatian) dan guru menutup sesi (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks cetak dengan petunjuk visual (blok warna pada subbagian) bagi murid yang membutuhkan panduan menemukan bagian teks.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru menemukan kata kunci di teks; murid yang sudah mahir menemukan seluruh 8 gejala dan 3 penanganan yang tertera pada teks tanpa bantuan.
- Produk: Format pencatatan informasi dapat berupa tabel sederhana atau diagram cabang pengelompokan informasi rinci.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan/tulis singkat berbasis teks cetak: 'Berdasarkan teks Fobia yang kamu baca sepintas, sebutkan 1 gejala tubuh yang dialami pengidap fobia!' (Acuan jawaban benar: salah satu dari jantung berdebar keras, leher tercekik, sesak napas, tubuh gemetar, mual, sakit kepala hebat, menangis, atau ingin buang air kecil).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja mandiri murid: menemukan informasi rinci dari teks nonsastra cetak 'Fobia' dengan kriteria menemukan minimal 4 gejala fobia dan 3 cara penanganan yang tertulis pada teks. (Daftar acuan lengkap teks: Gejala = [1] jantung berdebar keras, [2] leher terasa tercekik, [3] sesak napas, [4] tubuh gemetar, [5] mual, [6] sakit kepala hebat, [7] menangis, [8] selalu ingin buang air kecil; Penanganan = [1] memeluknya, [2] mengajaknya menjauh dari benda yang membuatnya takut, [3] mengalihkan perhatiannya ke hal lain).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir pada penutup: (1) Tuliskan 2 gejala fobia menurut teks! (Acuan: menyebutkan 2 dari 8 gejala fobia pada teks); (2) Tuliskan 1 cara penanganan jika teman mengalami fobia! (Acuan: menyebutkan 1 dari 3 cara penanganan pada teks).
Formatif:- Penilaian kinerja menemukan informasi melalui lembar kerja tabel informasi rinci gejala dan penanganan teks Fobia.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menemukan Informasi Rinci Gejala Fobia | Belum mampu menemukan gejala fobia dari teks cetak secara tepat meski dibimbing guru. | Menemukan 1-2 informasi rinci gejala fobia dari teks cetak secara tepat dengan bantuan guru. | Menemukan minimal 4 informasi rinci gejala fobia dari teks cetak secara tepat dan mandiri. | Menemukan seluruh (8) informasi rinci gejala fobia dari teks cetak secara lengkap, tepat, dan mandiri. | | Ketepatan Menemukan Informasi Rinci Penanganan Fobia | Belum mampu menemukan cara penanganan fobia dari teks cetak secara tepat. | Menemukan 1 informasi rinci cara penanganan fobia dari teks cetak secara tepat. | Menemukan 2-3 informasi rinci cara penanganan fobia dari teks cetak secara tepat sesuai acuan teks. | Menemukan seluruh (3) cara penanganan fobia dari teks cetak secara lengkap, tepat, dan mandiri tanpa kekeliruan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mampu membedakan bagian teks yang memuat gejala dengan bagian teks yang memuat penanganan?
- Bagian teks mana yang paling sering membuat murid kesulitan menemukan informasi rinci?
Murid:- Bagian mana dari teks fobia yang paling mudah kamu temukan informasinya?
- Apakah kamu dapat menemukan perbedaan antara tanda-tanda fobia (gejala) dan tindakan bantuan (penanganan) dalam bacaan tadi?
Pertemuan 7 — Menyajikan Pendapat tentang Hubungan Kakak-Adik dengan Pilihan Kata dan Sikap Tubuh yang Sesuai — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.4 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks tentang hubungan kakak-adik
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik dengan pilihan kata yang santun dan sikap tubuh/gestur yang sesuai (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: guru memperagakan 2 contoh cara berpendapat (Contoh A: bersedekap sambil cemberut dan membentak; Contoh B: berdiri tegak, memandang teman, dan berkata ramah: 'Menurut saya, meminjam barang adik sebaiknya izin dulu'), lalu meminta murid mengidentifikasi sikap tubuh dan pilihan kata yang tepat (acuan jawaban: Contoh B tepat karena sikap tubuh tegak/ramah dan pilihan kata santun/memakai kata 'menurut saya' dan 'izin dulu', sedangkan Contoh A salah karena membentak dan bersedekap defensif) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memodelkan cara menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik melalui situasi konflik Lala dan Kiki (saat Lala kesal bajunya dipakai Kiki): guru memperagakan sikap tubuh tegak, kontak mata bersahabat, tangan terbuka (gestur santun), serta menggunakan pilihan kata yang santun: 'Menurut pendapat saya, Lala sebaiknya berbicara tenang kepada Kiki tanpa membentak, karena Kiki tidak sengaja' (10 menit).
- Murid bersama guru membedah 2 aspek penting dalam menyajikan pendapat: (1) Pilihan kata santun (menggunakan pembuka: 'Menurut saya...', 'Saya berpendapat...', 'Alasannya karena...'), dan (2) Sikap tubuh/gestur yang sesuai (berdiri tegak, pandangan ke arah pendengar, tangan rileks atau gestur terbuka tidak menunjuk-nunjuk kasar) (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memberikan tantangan permainan berpasangan 'Cermin Pendapat Santun': setiap pasangan murid menerima 1 dari 2 kartu situasi hubungan kakak-adik berikut: Kartu 1: 'Adik menumpahkan air di meja belajarmu saat kamu sedang menggambar'; Kartu 2: 'Kakak menyalakan radio dengan kencang saat adik sedang tidur siang' (5 menit).
- Secara bergantian dalam pasangan, murid A berlatih menyajikan pendapatnya terhadap situasi tersebut dengan menerapkan pilihan kata santun dan sikap tubuh yang tegak serta gestur terbuka, sementara murid B bertindak sebagai 'cermin' yang mengamati keterpenuhan pilihan kata dan sikap tubuh pasangannya, lalu bergantian peran (prinsip joyful melalui saling memberi acungan jempol dan koreksi ramah) (15 menit).
- Guru berkeliling mengamati penampilan murid berpasangan dan mengambil sampel formatif menggunakan lembar observasi pilihan kata dan sikap tubuh (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Perwakilan 2 pasang murid maju ke depan kelas untuk menyajikan pendapat mereka secara singkat, lalu kelas bersama guru merefleksikan kesesuaian pilihan kata yang digunakan serta sikap tubuh/gestur yang ditunjukkan (5 menit).
- Murid diajak merenungkan pentingnya menyajikan pendapat dengan santun dan bersikap tenang dalam menyelesaikan masalah sehari-hari dengan saudara di rumah (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran: menyajikan pendapat yang baik membutuhkan pilihan kata santun dan sikap tubuh/gestur yang sopan (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap latihan hari ini, menginformasikan bahwa latihan berpendapat akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya dengan penekanan pada pengaturan volume dan intonasi suara, lalu menutup pembelajaran dengan salam dan doa (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu situasi dengan kalimat bantuan pemandu pembuka pendapat ('Menurut saya...', 'Sebaiknya...') bagi murid yang memerlukan scaffolding, serta kartu situasi terbuka tanpa kalimat bantuan bagi murid yang sudah siap.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu bersikap tubuh tegak dan memilih kata santun, guru memberikan pendampingan langsung dan memberi contoh frasa kata per kata. Bagi murid yang cepat, diberikan tantangan menyajikan pendapat dengan memberikan minimal dua alasan logis dalam situasi kartu.
- Produk: Murid menyajikan pendapat secara lisan berpasangan; murid yang belum percaya diri diperbolehkan menyampaikan pendapat dalam kelompok berpasangan kecil di mejanya sebelum tampil di depan kelas.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat di awal pelajaran dengan meminta murid mengamati 2 peragaan guru (Contoh A: bersedekap, cemberut, membentak; Contoh B: berdiri tegak, ramah, berkata 'Menurut saya...') dan memilih peragaan yang tepat beserta alasannya (acuan jawaban: Contoh B tepat karena menggunakan sikap tubuh tegak/ramah dan pilihan kata santun).
Proses:- Penilaian performa menyajikan pendapat secara berpasangan pada Kartu Situasi 1 (Adik menumpahkan air di meja gambar) atau Kartu Situasi 2 (Kakak menyalakan radio kencang saat adik tidur) dengan kriteria: (1) Pilihan kata santun (memuat frasa pembuka pendapat seperti 'Menurut saya...' atau 'Sebaiknya...', tidak ada kata kasar/membentak); (2) Sikap tubuh dan gestur (posisi tubuh tegak, kontak mata terarah pada lawan bicara, tangan rileks/terbuka, tidak berkacak pinggang atau menunjuk kasar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan dua hal: (1) Sebutkan 1 contoh pilihan kata santun saat membuka pendapat (kriteria penerimaan: menyebutkan frasa seperti 'Menurut saya...', 'Saya berpendapat...', atau 'Sebaiknya...'), (2) Peragakan sikap tubuh yang baik saat menyampaikan pendapat (kriteria penerimaan: berdiri tegak, pandangan ke depan, tangan tidak bersedekap/berkacak pinggang).
Formatif:- Observasi unjuk kerja menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik saat kegiatan berpasangan 'Cermin Pendapat Santun' dengan fokus pada pilihan kata dan sikap tubuh/gestur.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pilihan Kata | Menyajikan pendapat dengan pilihan kata yang belum santun, menggunakan kata-kata menuduh atau kasar tanpa kalimat pembuka pendapat. | Menyajikan pendapat menggunakan kalimat pembuka pendapat namun masih menggunakan kata-kata yang kurang santun atau terkesan menyalahkan sepenuhnya. | Menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik dengan pilihan kata yang santun (memuat frasa pembuka seperti 'Menurut saya...' atau 'Sebaiknya...') secara tepat. | Menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik dengan variasi pilihan kata yang sangat santun, persuasif, dan runtut secara konsisten dan mandiri. | | Sikap Tubuh dan Gestur | Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh membungkuk/gelisah, membelakangi lawan bicara, atau gestur negatif (berkacak pinggang/menunjuk kasar). | Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh mulai tegak namun kontak mata masih sering menghindar dan gestur tangan masih kaku. | Menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik dengan sikap tubuh tegak, menjaga kontak mata wajar dengan lawan bicara, dan gestur tangan terbuka/rileks. | Menyajikan pendapat tentang hubungan kakak-adik dengan sikap tubuh tegak percaya diri, gestur tangan terbuka yang sangat mendukung penyampaian pesan secara alami dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemodelan sikap tubuh dan pilihan kata santun yang saya contohkan cukup jelas dipahami oleh seluruh murid?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas berpasangan 'Cermin Pendapat Santun', dan siapa saja yang masih membutuhkan bimbingan gestur dan pemilihan kata santun?
Murid:- Bagian mana yang paling mudah: memilih kata-kata yang sopan atau menjaga tubuh tetap tegak dan tersenyum saat berbicara?
- Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyampaikan pendapat dengan sopan kepada teman pasanganmu?
Pertemuan 8 — Menyajikan Pendapat tentang Hubungan Kakak-Adik Menggunakan Volume dan Intonasi yang Tepat serta Penilaian Berpendapat (Giliran 11 Murid) — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.4 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks tentang hubungan kakak-adik
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kelas dalam suasana belajar yang menyenangkan (3 menit).
- Guru memandu asesmen awal dengan menampilkan 1 kartu peragaan volume dan intonasi di papan tulis: kalimat 'Sebaiknya kakak meminjamkan mainan kepada adik'. Guru memodelkan 2 cara penyampaian: (A) Berbisik lirih sambil menunduk dan datar; (B) Volume cukup terdengar ke seluruh kelas dengan intonasi ramah, santun, dan menatap teman. Murid diminta menentukan cara penyampaian yang tepat (acuan: Pilihan B tepat karena volume terdengar jelas di ruang kelas, intonasi ramah dan santun, serta gestur tegak menatap pendengar; sedangkan Pilihan A salah karena volume terlalu pelan, intonasi datar, dan sikap tubuh menunduk) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Guru memberikan penguatan konsep penyajian pendapat dengan mendemonstrasikan variasi volume (terdengar jelas dari meja paling belakang tanpa berteriak) dan intonasi (tekanan kata yang wajar dan bersahabat, bukan intonasi membentak atau datar) saat menyampaikan pendapat mengenai hubungan kakak-adik (10 menit).
- Murid secara serempak dan bergiliran berpasangan melakukan permainan menyenangkan 'Atur Tombol Suara': murid melatih 3 tingkatan volume (level 1: bisik meja, level 2: suara kelompok, level 3: volume presentasi kelas) pada kalimat pendapat: 'Menurut saya, kakak dan adik harus saling menyayangi agar rumah selalu damai' (8 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memandu pelaksanaan penilaian unjuk kerja berbicara bagi giliran 11 murid terpilih hari ini (murid ke-12 sampai ke-22 dari daftar presensi), di mana setiap murid secara bergantian maju ke depan kelas untuk menyajikan pendapatnya selama 1-2 menit dengan memilih 1 dari 2 topik situasi hubungan kakak-adik: (Topik 1) 'Bagaimana sebaiknya sikap kakak ketika adik merusak mainan kesayangannya?' atau (Topik 2) 'Apakah adik wajib meminta izin terlebih dahulu sebelum meminjam barang milik kakak? Jelaskan alasanmu!'. Guru mencatat ketercapaian volume, intonasi, pilihan kata, dan sikap tubuh pada lembar observasi (25 menit).
- Siswa lain yang belum mendapat giliran tampil (telah dinilai di Pertemuan 7 atau giliran berikutnya) berlatih mandiri secara berpasangan di bangku masing-masing menyajikan pendapat menggunakan topik yang sama dengan saling mengamati ketepatan volume dan intonasi teman (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mengevaluasi praktik penyajian pendapat yang baru dilakukan: murid menyebutkan bagaimana perasaan mereka saat mengatur volume suara agar pas di ruangan dan bagaimana intonasi ramah membantu pendapat mereka diterima dengan baik (4 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik formatif spesifik terhadap 11 murid yang unjuk kerja dan mengapresiasi seluruh murid atas latihan pengaturan volume dan intonasi yang tepat (2 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya volume yang cukup dan intonasi yang santun dalam berpendapat, lalu menutup pertemuan dengan salam (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid disediakan kartu panduan visual berisi pengingat simbol intonasi naik-turun dan pengukur tingkat volume suara.
- Proses: Murid yang masih ragu atau suaranya terlalu pelan diberi kesempatan berdiri lebih dekat atau mempraktikkan pengucapan satu kalimat pemantik terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapat lengkap; murid yang sudah mahir ditantang menyajikan pendapat dengan memberikan alasan tambahan yang runtut.
- Produk: Penyajian pendapat dinilai berdasarkan kemampuan menggunakan volume yang jelas dan intonasi yang sesuai konteks hubungan kakak-adik secara lisan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik identifikasi ketepatan volume dan intonasi melalui peragaan 2 cara penyampaian kalimat pendapat hubungan kakak-adik: 'Sebaiknya kakak meminjamkan mainan kepada adik' (acuan: Pilihan B tepat karena suara terdengar jelas ke seluruh ruangan, intonasi santun dan ramah, serta gestur tegak menatap pendengar; sedangkan Pilihan A keliru karena suara berbisik tidak terdengar, intonasi datar, dan sikap tubuh menunduk).
Proses:- Observasi unjuk kerja berpendapat giliran 11 murid berdasarkan 2 pilihan topik: (1) Sikap kakak ketika adik merusak mainan; (2) Kewajiban adik meminta izin sebelum meminjam barang kakak. Kriteria keberhasilan: volume terdengar jelas di seluruh kelas tanpa berteriak, intonasi santun dan wajar sesuai konteks, pilihan kata santun (misal: 'menurut saya', 'sebaiknya', 'karena'), dan sikap tubuh tegak menghadap pendengar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan singkat di akhir kegiatan: 'Sebutkan 2 ciri intonasi dan volume yang baik ketika menyampaikan pendapat di depan teman-teman kelas!' (acuan kriteria penerimaan: murid menyebutkan volume cukup terdengar jelas oleh seluruh audiens/teman di kelas tanpa berteriak, dan intonasi ramah/santun/wajar sesuai kalimat yang diucapkan).
Formatif:- Unjuk kerja lisan berpendapat untuk giliran 11 murid menggunakan lembar observasi ketercapaian volume, intonasi, pilihan kata, dan sikap tubuh/gestur.
- Cek pengamatan berpasangan saat latihan 'Atur Tombol Suara'.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Volume dan Intonasi dalam Menyajikan Pendapat | Menyajikan pendapat dengan volume suara sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh audiens dan intonasi monoton atau tidak sesuai konteks secara terus-menerus. | Menyajikan pendapat dengan volume suara yang sesekali kurang terdengar dan intonasi yang masih kaku/datar, membutuhkan pengingat guru untuk berbicara lebih jelas. | Menyajikan pendapat dengan volume suara yang cukup terdengar jelas di seluruh kelas dan intonasi santun yang tepat sesuai konteks hubungan kakak-adik secara konsisten. | Menyajikan pendapat dengan volume suara yang sangat mantap dan terdengar jelas di seluruh kelas serta intonasi yang sangat luwes, ekspresif, dan santun secara mandiri tanpa ragu. | | Pilihan Kata dan Sikap Tubuh/Gestur | Belum menggunakan pilihan kata santun dan sikap tubuh menunduk atau membelakangi audiens saat berbicara. | Menggunakan pilihan kata santun yang terbatas dan sikap tubuh sesekali tegak namun masih canggung atau gelisah. | Menggunakan pilihan kata yang santun dan tepat serta menampilkan sikap tubuh tegak dengan gestur wajar menghadap audiens. | Menggunakan pilihan kata yang sangat variatif dan santun serta menampilkan sikap tubuh tegak, percaya diri, dan gestur yang sangat mendukung penyampaian pendapat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 25 menit mencukupi untuk menilai unjuk kerja giliran 11 murid dengan cermat dan adil?
- Bagaimana respons murid terhadap latihan permainan 'Atur Tombol Suara' dalam membantu mereka mengontrol volume dan intonasi?
Murid:- Apakah suaramu sudah terdengar jelas oleh teman-teman di bangku belakang saat kamu berpendapat tadi?
- Bagian mana yang menurutmu paling menantang: mengatur intonasi agar terdengar ramah atau menjaga sikap tubuh tetap tegak?
Pertemuan 9 — Menceritakan Kembali Tokoh dan Latar Cerita Suka dan Tidak Suka yang Dibaca — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.5 Menceritakan kembali isi dan/atau informasi dari berbagai tipe teks yang dibaca pada cerita Suka dan Tidak Suka
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menceritakan kembali tokoh serta latar cerita 'Suka dan Tidak Suka' yang dibaca (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal secara lisan dengan menanyakan: 'Siapa nama tokoh yang menunggui sepupu-sepupunya datang dalam cerita?' dan 'Kapan peristiwa itu terjadi?' (acuan jawaban: tokoh adalah Ardi; latar waktu saat arisan keluarga) untuk memetakan kesiapan awal murid (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca kembali dalam hati teks cerita 'Suka dan Tidak Suka' pada Buku Siswa halaman 10 dengan cermat untuk menemukan tokoh-tokoh (Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara) beserta latar cerita (tempat: rumah saat arisan keluarga; waktu/suasana: hari arisan keluarga yang ramai dan menyenangkan) (10 menit).
- Murid bersama guru membahas 5 tokoh dalam teks beserta kesukaannya masing-masing: (1) Rio suka kartu permainan, (2) Lita suka membaca buku, (3) Bobi suka mengumpulkan kaus kaki, (4) Tara suka menggambar, (5) Ardi suka berkumpul bersama sepupu; serta mengidentifikasi latar tempat berkumpulnya para sepupu saat arisan keluarga (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan bahasa 'Lempar Bola Tokoh': guru menggelindingkan bola busa kepada murid secara acak, dan murid yang menerima bola menceritakan kembali satu tokoh beserta latar tempat/waktu cerita secara lisan di tempat duduknya (acuan cerita: menyebutkan minimal 1 nama tokoh nyata dari teks dan latar arisan keluarga) (15 menit).
- Secara berpasangan, murid bergantian menceritakan kembali tokoh-tokoh (Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara) dan latar cerita 'Suka dan Tidak Suka' secara lengkap kepada pasangan bangkunya menggunakan bahasa sendiri tanpa menambahi unsur di luar teks (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menyampaikan bagian informasi tokoh atau latar yang paling mudah diingat dan apa yang membantu mereka mengingat informasi tersebut dari teks yang dibaca (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan isi cerita yang difokuskan pada pengenalan tokoh-tokoh keluarga Ardi dan latar peristiwa arisan keluarga (5 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman singkat lisan dan menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya murid akan menceritakan rangkaian peristiwa secara lengkap (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu pengingat visual berisi nama 5 tokoh (Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara) bagi murid yang memerlukan dukungan ingatan teks.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan menceritakan kembali tokoh dan latar dengan bantuan pertanyaan pemandu guru, sedangkan murid cepat menceritakan kelima tokoh lengkap beserta latar tempat dan suasana secara mandiri.
- Produk: Penceritaan kembali lisan dapat berfokus pada minimal 3 tokoh dan 1 latar (bimbingan) atau mencakup seluruh 5 tokoh dan detail latar (mandiri/mahir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 tokoh utama yang menunggu kedatangan sepupu dan latar waktu berkumpulnya keluarga dalam cerita Suka dan Tidak Suka!' (acuan: tokoh Ardi; latar waktu saat hari arisan keluarga).
Proses:- Observasi penceritaan kembali lisan berpasangan tentang tokoh dan latar cerita Suka dan Tidak Suka (acuan 5 tokoh: Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara; acuan latar tempat: rumah/ruang keluarga tempat berkumpul; latar waktu/suasana: hari arisan keluarga yang ramai/menyenangkan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir pertemuan: murid menyebutkan kembali secara lisan minimal 3 dari 5 tokoh (Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara) dan latar tempat/waktu cerita Suka dan Tidak Suka (acuan: rumah saat acara arisan keluarga).
Formatif:- Tanya jawab lisan pada asesmen awal tentang tokoh dan latar
- Pengamatan unjuk kerja menceritakan kembali tokoh dan latar cerita secara berpasangan dan saat permainan Lempar Bola Tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Tokoh Cerita | Belum mampu menyebutkan tokoh cerita Suka dan Tidak Suka secara tepat meski dengan bimbingan guru. | Menceritakan kembali 1-2 tokoh dari cerita Suka dan Tidak Suka (dari acuan: Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara) dengan bantuan pemantik guru. | Menceritakan kembali 3-4 tokoh dari cerita Suka dan Tidak Suka secara tepat dan mandiri. | Menceritakan kembali seluruh 5 tokoh cerita Suka dan Tidak Suka (Ardi, Rio, Lita, Bobi, Tara) beserta karakteristik hobinya secara tepat dan mandiri. | | Menceritakan Latar Cerita | Belum mampu menceritakan latar cerita Suka dan Tidak Suka secara tepat. | Menceritakan latar cerita secara parsial (hanya latar tempat atau hanya latar suasana arisan) dengan bimbingan guru. | Menceritakan latar tempat (rumah berkumpul) dan waktu/suasana (hari arisan keluarga) secara tepat dan mandiri. | Menceritakan latar tempat, waktu, dan suasana acara arisan keluarga secara lengkap, rinci, dan mandiri sesuai isi teks. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan bola membantu murid aktif menceritakan tokoh dan latar tanpa rasa cemas?
- Apakah seluruh murid sudah dapat mengidentifikasi kelima tokoh dan latar arisan keluarga dari teks yang dibaca?
Murid:- Tokoh mana dalam cerita 'Suka dan Tidak Suka' yang paling kamu sukai dan apa alasannya berdasarkan bacaan?
- Apakah kamu dapat menceritakan kembali suasana arisan keluarga Ardi kepada temanmu dengan lancar?
Pertemuan 10 — Menceritakan Kembali Rangkaian Peristiwa Cerita Suka dan Tidak Suka serta Penilaian Menceritakan Kembali (Giliran 11 Murid) — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.5 Menceritakan kembali isi dan/atau informasi dari berbagai tipe teks yang dibaca pada cerita Suka dan Tidak Suka
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kelas agar tertib (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali rangkaian peristiwa dalam cerita Suka dan Tidak Suka secara runtut, serta menginformasikan penilaian performa lisan untuk giliran 11 murid (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal berupa kuis cepat lisan mengurutkan 3 potongan peristiwa acak dari cerita 'Suka dan Tidak Suka': (A) Mereka menceritakan kesukaan dan hobi masing-masing, (B) Ardi berkumpul bersama para sepupu saat arisan keluarga, (C) Ardi mengetahui fobia atau ketidaksukaan sepupunya (acuan urutan benar: B - A - C) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Guru memodelkan cara merangkai alur cerita 'Suka dan Tidak Suka' menggunakan panduan 4 bagian kronologis: (1) Awal: Ardi menyambut acara arisan keluarga dan berkumpul bersama sepupu; (2) Tengah Bagian 1: Rio mengeluarkan kartu permainan dan bercerita tentang hobinya; (3) Tengah Bagian 2: Sepupu lain (Lita gemar membaca, Bobi mengoleksi kaus kaki, Tara gemar menggambar) menceritakan hobi mereka; (4) Akhir: Muncul percakapan tentang hal-hal yang ditakuti atau tidak disukai hingga memahami perbedaan kesukaan masing-masing (acuan alur cerita) (8 menit).
- Dalam aktivitas menggembirakan 'Estafet Tongkat Cerita', guru memutar musik riang dan memutar sebuah bola spons kecil; murid yang memegang bola saat musik berhenti menyebutkan satu peristiwa kelanjutan dari peristiwa sebelumnya secara berurutan sesuai alur cerita yang telah dimodelkan (7 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Seluruh murid duduk berpasangan untuk berlatih menceritakan kembali seluruh rangkaian peristiwa cerita 'Suka dan Tidak Suka' secara bergantian dari awal hingga akhir dengan menggunakan bahasa sendiri (10 menit).
- Guru memanggil 11 murid yang terjadwal untuk dinilai menceritakan kembali isi teks dan rangkaian peristiwa cerita 'Suka dan Tidak Suka' secara bergiliran di meja guru (masing-masing sekitar 2 menit per murid), sementara murid lainnya menyelesaikan lembar garis linimasa peristiwa mandiri untuk mengonfirmasi kelengkapan cerita mereka (22 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memberikan umpan balik langsung kepada murid mengenai kelengkapan peristiwa dan ketepatan kronologis alur cerita 'Suka dan Tidak Suka' yang telah diceritakan (5 menit).
- Murid menandai kartu kendali refleksi diri dengan memberi tanda centang jika sudah berhasil menyampaikan 4 bagian alur peristiwa (awal, hobi sepupu, ketidaksukaan/fobia, dan akhir cerita) tanpa melompati urutan (3 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali urutan peristiwa pokok dalam cerita 'Suka dan Tidak Suka' (3 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas kelancaran penceritaan 11 murid hari ini, menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya akan beralih ke kegiatan menulis draf teks sederhana tentang pengalaman diri, serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang masih memerlukan bantuan, guru menyediakan kartu bantuan visual berisi gambar 4 kata kunci alur (Arisan -> Kartu Rio -> Hobi Sepupu -> Suka & Tidak Suka). Bagi murid yang telah mahir, disediakan teks tanpa gambar pembantu.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dengan pertanyaan penuntun ('Setelah Rio menunjukkan kartu, siapa yang ganti bercerita?'). Murid mahir menceritakan alur secara mandiri penuh.
- Produk: Murid berkembang menceritakan minimal 3 peristiwa pokok dengan urutan runtut; murid mahir menceritakan seluruh 4 bagian alur peristiwa cerita secara lengkap dan rinci.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta menyusun urutan kronologis 3 cuplikan peristiwa acak dari teks 'Suka dan Tidak Suka': (A) Mereka menceritakan kesukaan dan hobi masing-masing, (B) Ardi berkumpul bersama para sepupu saat arisan keluarga, (C) Ardi mengetahui fobia atau ketidaksukaan sepupunya. Acuan jawaban benar: Urutan B -> A -> C.
Proses:- Penilaian performa lisan menceritakan kembali rangkaian peristiwa cerita 'Suka dan Tidak Suka' untuk 11 murid dengan acuan ketercakupan 4 tahapan peristiwa: (1) kedatangan keluarga di arisan dan pertemuan para sepupu, (2) hobi Rio bermain kartu, (3) ragam hobi Lita, Bobi, dan Tara, (4) perbincangan tentang ketidaksukaan/fobia dan penerimaan perbedaan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir berupa verifikasi lisan acak: 'Peristiwa mana yang menjadi penutup dalam cerita Suka dan Tidak Suka?' (Acuan jawaban benar: Munculnya pemahaman bahwa setiap anak memiliki hal yang disukai dan tidak disukai/fobia yang berbeda-beda setelah mereka saling bercerita).
Formatif:- Unjuk kerja lisan: Menceritakan kembali rangkaian peristiwa cerita 'Suka dan Tidak Suka' (fokus giliran 11 murid)
- Observasi unjuk kerja berpasangan saat simulasi latihan menceritakan alur
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Peristiwa yang Diceritakan | Hanya menyebutkan 1 peristiwa dari cerita 'Suka dan Tidak Suka'. (Acuan 4 peristiwa: 1. Arisan keluarga & kumpul sepupu; 2. Rio & koleksi kartu; 3. Hobi Lita, Bobi, Tara; 4. Percakapan hal yang disukai/ditakuti). | Menyebutkan 2 peristiwa dari cerita 'Suka dan Tidak Suka' sesuai acuan peristiwa. | Menyebutkan 3 peristiwa dari cerita 'Suka dan Tidak Suka' sesuai acuan peristiwa. | Menyebutkan seluruh 4 peristiwa dari cerita 'Suka dan Tidak Suka' secara lengkap sesuai acuan peristiwa. | | Keruntutan Alur Penceritaan Kembali | Menceritakan kembali peristiwa secara melompat-lompat atau terbalik urutannya sehingga alur cerita berubah. | Menceritakan kembali peristiwa dengan alur yang sebagian besar melompat (hanya 1 bagian peristiwa yang posisinya runtut). | Menceritakan kembali rangkaian peristiwa secara berurutan dari awal hingga akhir dengan bantuan arahan urutan dari guru. | Menceritakan kembali rangkaian seluruh peristiwa secara berurutan dan runtut (awal, tengah, akhir) secara mandiri tanpa bantuan arahan guru. | | Kesesuaian Isi Cerita | Sebagian besar isi cerita yang disampaikan tidak sesuai dengan teks 'Suka dan Tidak Suka'. | Isi cerita yang disampaikan memuat sedikit fakta yang sesuai dengan teks 'Suka dan Tidak Suka', tetapi masih banyak fakta keliru. | Sebagian besar fakta dan isi informasi peristiwa yang diceritakan sesuai dengan isi teks bacaan 'Suka dan Tidak Suka'. | Seluruh fakta, nama tokoh, dan detail peristiwa yang diceritakan tepat serta akurat sesuai isi teks bacaan 'Suka dan Tidak Suka'. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu untuk giliran penilaian lisan 11 murid berjalan efektif dan tertib?
- Bagian rangkaian peristiwa mana yang paling sering terlewat oleh murid saat menceritakan kembali?
Murid:- Peristiwa mana dalam cerita 'Suka dan Tidak Suka' yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu ceritakan kembali?
- Apakah kamu berhasil menceritakan urutan kejadian dari awal sampai akhir tanpa melompati peristiwa?
Pertemuan 11 — Menulis Draf Teks Sederhana tentang Pengalaman Diri dengan Kalimat Beragam — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.6 Menulis berbagai tipe teks sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kelas siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran bahwa hari ini murid akan berlatih menulis draf teks sederhana tentang pengalaman diri menggunakan rangkaian kalimat yang beragam (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal: murid diberikan 2 pasang kalimat tunggal untuk digabungkan menjadi kalimat yang bervariasi secara lisan/tulisan mini (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati contoh draf teks pengalaman diri di papan tulis dan menganalisis perbedaan kalimat pendek, kalimat berpredikat tindakan, dan kalimat dengan keterangan tambahan agar kalimat bervariasi (10 menit).
- Murid mengikuti permainan menggembirakan 'Roda Variasi': murid berlatih secara interaktif menyusun kalimat alternatif dari satu ide pengalaman sederhana (misal: ide 'naik sepeda' diubah menjadi kalimat aksi, kalimat keadaan, dan kalimat berketerangan) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid merencanakan satu topik pengalaman diri yang paling berkesan terkait proses tumbuh besar (misal: pertama kali berani tidur sendiri, merawat hewan peliharaan, atau membantu orang tua) (5 menit).
- Murid secara mandiri menulis draf teks sederhana tentang pengalaman dirinya minimal 5 kalimat dengan memvariasikan susunan kalimat (memadukan kalimat berpola sederhana S-P, S-P-O, dan S-P-K) pada lembar kerja draf (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid membaca ulang draf buatannya secara berkesadaran, lalu memberi tanda garis bawah pada bentuk kalimat yang bervariasi untuk mengecek apakah kalimatnya masih monoton atau sudah beragam (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap draf penulisan pengalaman diri yang telah dirancang murid (5 menit).
- Murid dan guru menutup pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan panduan kerangka pertanyaan pemicu pengalaman diri bagi murid yang memerlukan dukungan ide.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan memvariasikan kalimat, sementara murid yang mahir didorong menyusun lebih dari 7 kalimat beragam.
- Produk: Draf teks sederhana pengalaman diri dengan panjang draf minimal 5 kalimat untuk standar dan lebih dari 7 kalimat untuk murid mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tugas singkat menggabungkan 2 pasang kalimat sederhana di papan tulis: (1) 'Aku berlatih sepeda.' + 'Ayah memegangi dari belakang.' (Kriteria acuan penerimaan: Murid mampu menyatukan/memvariasikan menjadi satu kalimat padu, misalnya: 'Aku berlatih sepeda sambil dipegangi Ayah dari belakang'); (2) 'Adik menangis.' + 'Mainannya rusak.' (Kriteria acuan penerimaan: 'Adik menangis karena mainannya rusak'). Guru memetakan kesiapan murid dalam memvariasikan kalimat.
Proses:- Observasi saat penulisan draf teks pengalaman diri: memeriksa draf murid untuk memastikan terpenuhinya topik pengalaman diri serta adanya variasi pola kalimat (minimal memuat kalimat berstruktur S-P, S-P-O, dan kalimat dengan keterangan S-P-K atau gabungan bertingkat).
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan produk draf akhir pertemuan 11: Murid menghasilkan draf teks sederhana tentang pengalaman diri minimal 5 kalimat. Kriteria penerimaan operasional: (1) Isi teks murni menceritakan peristiwa pengalaman diri; (2) Teks memuat variasi susunan kalimat (tidak seragam/monoton berpola sama persis pada semua kalimat).
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja draf teks sederhana pengalaman diri dengan ceklis keragaman kalimat
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Teks Pengalaman Diri | Belum menuliskan peristiwa pengalaman diri (isi tulisan di luar pengalaman pribadi). | Menuliskan pengalaman diri namun belum tersusun menjadi rangkaian peristiwa yang utuh (masih berupa kata atau frasa terputus). | Menuliskan pengalaman diri dalam bentuk draf teks sederhana minimal 5 kalimat yang membentuk peristiwa padu. | Menuliskan pengalaman diri dalam draf teks sederhana secara mendalam, runut, dan lebih dari 5 kalimat secara mandiri. | | Keragaman Rangkaian Kalimat | Seluruh kalimat dalam draf menggunakan pola yang sama persis/monoton. | Menunjukkan sedikit variasi kalimat, namun sebagian besar kalimat masih berpola sama dan berulang. | Menyusun draf teks dengan rangkaian kalimat yang beragam (memadukan kalimat berpola sederhana S-P, S-P-O, dan kalimat berketerangan S-P-K). | Menyusun draf teks dengan variasi rangkaian kalimat yang sangat beragam, luwes, dan variatif di sepanjang draf secara konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu menulis draf cukup bagi semua murid untuk menyelesaikan draf mandirinya?
- Bagian mana dari variasi rangkaian kalimat yang masih membutuhkan bimbingan intensif pada pertemuan berikutnya?
Murid:- Hal menarik apa yang kamu ceritakan dalam draf tulisan pengalaman dirimu hari ini?
- Apakah kamu merasa kalimat-kalimat yang kamu buat sudah beragam dan menarik untuk dibaca?
Pertemuan 12 — Menulis Final Teks Sederhana tentang Pengalaman Diri dengan Variasi Rangkaian Kalimat Transitif dan Intransitif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.6 Menulis berbagai tipe teks sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar murid (3 menit).
- Guru melakukan diagnostik awal singkat dengan menuliskan 2 kalimat di papan tulis: Kalimat A 'Lala merapikan lemari' dan Kalimat B 'Kiki tertawa lepas'. Murid diminta menentukan kalimat mana yang memiliki objek dan mana yang tidak (acuan: Kalimat A memiliki objek 'lemari'/transitif; Kalimat B tidak memerlukan objek/intransitif) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyempurnakan draf menjadi tulisan final teks sederhana pengalaman diri dengan variasi rangkaian kalimat transitif dan intransitif (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati 2 contoh rangkaian paragraf di papan tulis: Paragraf 1 yang monoton (hanya berpola Subjek-Predikat: 'Saya bangun. Saya mandi. Saya makan. Saya berangkat.') dan Paragraf 2 yang bervariasi rangkaian kalimatnya ('Pagi tadi saya merapikan tempat tidur. Ibu tersenyum bangga. Saya mencuci piring sarapan sendiri. Jam dinding berdentang tepat pukul enam.') (acuan: Paragraf 2 memadukan kalimat berobjek dan tanpa objek sehingga alur lebih hidup) (6 menit).
- Murid bersama guru menganalisis unsur kalimat pada Paragraf 2 untuk mengenali variasi kalimat yang memerlukan objek dan tidak memerlukan objek secara berkesadaran (4 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan tantangan ceria 'Kartu Ajaib Kalimat' secara berpasangan: setiap meja menerima 2 kartu tantangan yaitu Kartu A 'Tulis 1 kalimat berobjek tentang baju kecil' dan Kartu B 'Tulis 1 kalimat tanpa objek tentang perasaanmu', lalu saling menukar kartu untuk memastikan keberagaman pola kalimat secara menggembirakan (acuan contoh: Kartu A 'Saya memberikan baju kecil kepada adik'; Kartu B 'Saya tersenyum gembira') (8 menit).
- Murid membuka kembali lembar draf teks pengalaman diri yang telah ditulis pada Pertemuan 11 mengenai kebiasaan terhadap barang-barang/pakaian yang sudah tidak muat lagi saat bertambah besar (5 menit).
- Murid memeriksa draf masing-masing dan menambahkan/memodifikasi kalimat agar teks memuat rangkaian kalimat yang beragam (minimal memuat variasi 2 kalimat transitif dan 2 kalimat intransitif) (12 menit).
- Murid menuliskan naskah final teks sederhana pengalaman diri secara mandiri dan rapi pada lembar kerja bergaris yang disediakan guru (8 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan swaperiksa mandiri (self-assessment) pada teks finalnya menggunakan lembar centang variasi kalimat: menandai garis bawah satu untuk kalimat berobjek dan garis bawah dua untuk kalimat tanpa objek (acuan kriteria: teks memuat minimal 2 kalimat dengan objek dan 2 kalimat tanpa objek) (6 menit).
- Murid memaknai proses belajarnya dengan menandai bagian tulisan yang paling berhasil diubah menjadi lebih bervariasi dan mengungkapkan rasa puas atas hasil karya tulis mandirinya (4 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya variasi rangkaian kalimat dalam menyusun teks pengalaman agar tulisan enak dibaca dan jelas (4 menit).
- Guru mengumpulkan seluruh lembar tulisan final murid untuk dinilai serta menyampaikan apresiasi atas ketekunan murid menyempurnakan tulisan hari ini (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh teks pemodelan dengan variasi kalimat yang diberi penanda warna berbeda bagi murid yang membutuhkan panduan visual.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan pola kalimat (S-P dan S-P-O); murid yang cepat diarahkan menambah variasi keterangan waktu/tempat dalam rangkaian kalimatnya.
- Produk: Murid dapat menuliskan teks final minimal 4 kalimat bervariasi hingga satu paragraf utuh yang kaya ragam kalimat tentang pengalaman diri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Identifikasi awal melalui tanya jawab cepat 2 kalimat di papan tulis: (1) 'Lala merapikan lemari' dan (2) 'Kiki tertawa lepas'. (Kriteria/Acuan ketepatan: Murid tepat mengenali kalimat 1 memiliki objek 'lemari'/transitif dan kalimat 2 tidak memiliki objek/intransitif).
Proses:- Pemeriksaan draf dan naskah final saat pengerjaan mandiri: mengamati kemampuan murid menyusun minimal 2 kalimat transitif dan 2 kalimat intransitif dalam teks pengalaman dirinya (Kriteria acuan: Kalimat transitif memuat Subjek-Predikat-Objek seperti 'Ibu menyumbangkan baju lama'; kalimat intransitif memuat Subjek-Predikat seperti 'Adik melompat gembira').
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan bukti tulisan final pada lembar kerja teks pengalaman diri: memastikan naskah final memuat rangkaian kalimat sederhana bertema pengalaman diri dengan variasi kalimat transitif dan intransitif (Kriteria penerimaan: Naskah runtut menceritakan pengalaman diri bertambah besar/barang tidak muat, memuat minimal 2 kalimat transitif dan 2 kalimat intransitif yang gramatikal).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja menulis teks final pengalaman diri melalui penelaahan variasi susunan kalimat (transitif dan intransitif)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Keragaman Rangkaian Kalimat (Transitif dan Intransitif) | Menulis teks pengalaman diri hanya menggunakan satu pola kalimat yang sama (seluruhnya intransitif atau seluruhnya transitif) tanpa ada variasi. | Menulis teks pengalaman diri dengan memuat variasi kalimat, namun baru memuat 1 kalimat transitif dan/atau 1 kalimat intransitif yang tepat. | Menulis teks pengalaman diri dengan rangkaian kalimat yang beragam, memuat minimal 2 kalimat transitif dan 2 kalimat intransitif secara tepat dan mandiri. | Menulis teks pengalaman diri dengan rangkaian kalimat yang sangat beragam, memuat lebih dari 3 kalimat transitif dan 3 kalimat intransitif yang terangkai padu dan luwes secara mandiri. | | Kesesuaian Isi Teks Pengalaman Diri | Teks belum memuat cerita pengalaman diri nyata tentang pertumbuhan/kebiasaan terhadap barang lama. | Teks memuat pengalaman diri secara parsial/terputus-putus dengan gagasan yang belum utuh. | Teks memuat cerita pengalaman diri tentang pertumbuhan/barang lama secara runtut dan utuh. | Teks memuat cerita pengalaman diri tentang pertumbuhan/barang lama secara runtut, mendalam, dan terinci dengan alur yang padu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah mampu membedakan dan menerapkan kalimat yang membutuhkan objek serta kalimat tanpa objek dalam tulisan mandirinya?
- Bagian mana dari kegiatan menulis final ini yang paling membantu murid dalam memvariasikan susunan kalimatnya?
Murid:- Apakah kamu merasa tulisan pengalamanmu hari ini lebih menarik setelah menambahkan variasi jenis kalimat?
- Kalimat mana dalam ceritamu yang paling kamu sukai saat kamu membacanya kembali?
Pertemuan 13 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.1.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural melalui cerita Tak Muat Lagi
- TP 4.1.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan teks Fobia
- TP 4.1.3 Menemukan informasi dalam teks nonsastra berbentuk cetak tentang fobia
- TP 4.1.4 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks tentang hubungan kakak-adik
- TP 4.1.5 Menceritakan kembali isi dan/atau informasi dari berbagai tipe teks yang dibaca pada cerita Suka dan Tidak Suka
- TP 4.1.6 Menulis berbagai tipe teks sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif akhir Bab 1 dengan menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kelas agar tenang dan siap mengerjakan asesmen secara mandiri (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif hari ini, yaitu mengukur pemahaman teks nonsastra fobia, keterampilan menulis pengalaman diri, serta pengambilan sisa unjuk kerja lisan untuk 6 murid terakhir yang belum dinilai pada pertemuan sebelumnya (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Sumatif Tertulis kepada seluruh 28 murid dan menjelaskan petunjuk pengerjaan bagian 1 (membaca teks cetak fobia dan menjawab 3 pertanyaan informasi rinci) serta bagian 2 (menuliskan teks pengalaman diri minimal 4 kalimat dengan variasi kalimat transitif dan intransitif) (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Sebanyak 28 murid secara serentak dan mandiri mengerjakan Lembar Asesmen Sumatif Tertulis yang berisi teks cetak 'Mengenal Fobia' beserta 3 butir soal informasi: (1) Apa arti fobia? [acuan kunci: ketakutan sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang menghambat kehidupan pengidapnya]; (2) Sebutkan 2 gejala fisik saat fobia kambuh! [acuan kunci: jantung berdebar keras, gemetar, sesak napas, atau keringat dingin]; (3) Bagaimana cara membantu penderita fobia mengatasi kecemasan? [acuan kunci: mengajak relaksasi/tarik napas dalam atau berkonsultasi ke ahli medis/psikolog], dilanjutkan menulis teks pengalaman diri bertema 'Pengalamanku Menghadapi Hal yang Kutakuti atau Kusukai' sebanyak 4-5 kalimat berkalimat transitif dan intransitif (30 menit).
- Bersamaan saat seluruh kelas mengerjakan tes tertulis dengan hening dan tertib, guru memanggil secara bergiliran 6 murid tersisa ke meja guru di sudut kelas untuk unjuk kerja lisan terpadu menyimak dan membaca nyaring teks Fobia: tiap murid menjawab 2 pertanyaan isi teks aural Tak Muat Lagi [acuan kunci: tokoh utama adalah Lala dan Kiki; konflik terjadi karena Lala kesal bajunya dipakai Kiki hingga robek] serta membaca nyaring 3 kartu kata baru: 'ofidiofobia', 'koulrofobia', 'konsultasi' [acuan kunci: dibaca lancar tanpa mengeja, tanpa jeda ragu] dengan alokasi 2 menit per murid ditambah pencatatan lembar observasi (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memanggil kembali 6 murid tersebut untuk unjuk kerja berbicara akhir: masing-masing murid menyajikan pendapat singkat tentang hubungan kakak-adik dengan pilihan kata dan gestur yang sesuai, serta menceritakan kembali secara ringkas alur cerita Suka dan Tidak Suka (tokoh Ardi dan Hana, perbedaan kesukaan mereka, serta cara saling menghargai) selama 2 menit per murid (12 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban asesmen tertulis dari 28 murid, memverifikasi kelengkapan artefak, serta mengapresiasi kerja keras dan kejujuran seluruh murid selama menyelesaikan asesmen Bab 1 (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Memberikan format teks cetak dengan ukuran huruf yang lebih besar bagi murid yang memiliki hambatan penglihatan tanpa mengubah isi dan butir soal.
- Proses: Pengondisian waktu transisi yang tenang saat pemanggilan 6 murid unjuk kerja lisan agar tidak mengganggu konsentrasi murid yang sedang menulis.
- Produk: Semua murid menghasilkan produk asesmen yang setara sesuai instrumen acuan ATP (lembar tes tertulis pemahaman teks, karangan pengalaman diri, dan rekaman penilaian observasi lisan).
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- kombinasi tes tertulis dan penugasan menulis serentak serta unjuk kerja berbicara/membaca bertahap: lembar jawaban tertulis pemahaman teks fobia dan karangan pengalaman diri berkalimat transitif-intransitif, rekaman lembar observasi lisan isi teks Tak Muat Lagi dan kefasihan membaca kata baru teks Fobia, serta lembar rubrik performa lisan berpendapat hubungan kakak-adik dan menceritakan kembali cerita Suka dan Tidak Suka
- tes tertulis dan penugasan menulis serentak: 28 murid mengerjakan secara serentak lembar tertulis mandiri selama 40 menit: menemukan rincian informasi penyebab dan gejala fobia dari teks cetak serta menulis teks narasi/deskripsi pengalaman diri sederhana yang memuat variasi kalimat transitif dan intransitif. Guru mengawasi kelas secara serentak; artefak tulisan tiap murid dinilai sesudah kegiatan menggunakan pedoman penskoran dan rubrik menulis. (40 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian menulis narasi/deskripsi)
- unjuk kerja terpadu menyimak lisan dan membaca nyaring: Pengumpulan bukti terencana 2 TP: menjawab lisan isi teks sastra aural Tak Muat Lagi (tokoh, peristiwa, konflik) dan membaca nyaring kata-kata baru teks Fobia secara fasih. Alokasi amatan: 28 murid × 2 menit = 56 menit amatan individu + pencatatan. Dilaksanakan bertahap pada 2 sesi pembelajaran latihan TP terkait sebelumnya untuk 22 murid (sesi 3: 11 murid × 2 menit = 22 menit; sesi 5: 11 murid × 2 menit = 22 menit saat murid lain latihan mandiri), dan 6 murid sisanya dinilai pada slot sumatif akhir: 6 murid × 2 menit per murid = 12 menit + 3 menit pencatatan dan transisi = 15 menit. (15 menit; individual; instrumen: lembar observasi ketercapaian menyimak teks sastra dan daftar cek kefasihan pelafalan kata baru)
- unjuk kerja berbicara menyampaikan pendapat dan menceritakan kembali: Pengumpulan bukti terencana 2 TP: penyampaian lisan pendapat hubungan kakak-adik (pilihan kata, gestur, volume, intonasi) dan penuturan lisan menceritakan kembali isi teks Suka dan Tidak Suka (tokoh, latar, peristiwa). Alokasi amatan: 28 murid × 2 menit = 56 menit amatan individu + pencatatan. Dilaksanakan bertahap pada 2 sesi pembelajaran latihan TP terkait sebelumnya untuk 22 murid (sesi 8: 11 murid × 2 menit = 22 menit; sesi 10: 11 murid × 2 menit = 22 menit saat murid lain membaca hening/latihan mandiri), dan 6 murid sisanya dinilai pada slot sumatif akhir: 6 murid × 2 menit per murid = 12 menit + 3 menit pencatatan dan transisi = 15 menit. (15 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja berbicara (kriteria: pilihan kata dan gestur berpendapat, keruntutan menceritakan kembali))
Sumatif:- kombinasi tes tertulis dan penugasan menulis serentak serta unjuk kerja berbicara/membaca bertahap: lembar jawaban tertulis pemahaman teks fobia dan karangan pengalaman diri berkalimat transitif-intransitif, rekaman lembar observasi lisan isi teks Tak Muat Lagi dan kefasihan membaca kata baru teks Fobia, serta lembar rubrik performa lisan berpendapat hubungan kakak-adik dan menceritakan kembali cerita Suka dan Tidak Suka
- tes tertulis dan penugasan menulis serentak: 28 murid mengerjakan secara serentak lembar tertulis mandiri selama 40 menit: menemukan rincian informasi penyebab dan gejala fobia dari teks cetak serta menulis teks narasi/deskripsi pengalaman diri sederhana yang memuat variasi kalimat transitif dan intransitif. Guru mengawasi kelas secara serentak; artefak tulisan tiap murid dinilai sesudah kegiatan menggunakan pedoman penskoran dan rubrik menulis. (40 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian menulis narasi/deskripsi)
- unjuk kerja terpadu menyimak lisan dan membaca nyaring: Pengumpulan bukti terencana 2 TP: menjawab lisan isi teks sastra aural Tak Muat Lagi (tokoh, peristiwa, konflik) dan membaca nyaring kata-kata baru teks Fobia secara fasih. Alokasi amatan: 28 murid × 2 menit = 56 menit amatan individu + pencatatan. Dilaksanakan bertahap pada 2 sesi pembelajaran latihan TP terkait sebelumnya untuk 22 murid (sesi 3: 11 murid × 2 menit = 22 menit; sesi 5: 11 murid × 2 menit = 22 menit saat murid lain latihan mandiri), dan 6 murid sisanya dinilai pada slot sumatif akhir: 6 murid × 2 menit per murid = 12 menit + 3 menit pencatatan dan transisi = 15 menit. (15 menit; individual; instrumen: lembar observasi ketercapaian menyimak teks sastra dan daftar cek kefasihan pelafalan kata baru)
- unjuk kerja berbicara menyampaikan pendapat dan menceritakan kembali: Pengumpulan bukti terencana 2 TP: penyampaian lisan pendapat hubungan kakak-adik (pilihan kata, gestur, volume, intonasi) dan penuturan lisan menceritakan kembali isi teks Suka dan Tidak Suka (tokoh, latar, peristiwa). Alokasi amatan: 28 murid × 2 menit = 56 menit amatan individu + pencatatan. Dilaksanakan bertahap pada 2 sesi pembelajaran latihan TP terkait sebelumnya untuk 22 murid (sesi 8: 11 murid × 2 menit = 22 menit; sesi 10: 11 murid × 2 menit = 22 menit saat murid lain membaca hening/latihan mandiri), dan 6 murid sisanya dinilai pada slot sumatif akhir: 6 murid × 2 menit per murid = 12 menit + 3 menit pencatatan dan transisi = 15 menit. (15 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja berbicara (kriteria: pilihan kata dan gestur berpendapat, keruntutan menceritakan kembali))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menemukan Informasi Teks Nonsastra Fobia (TP 4.1.3) | Belum mampu menjawab atau hanya menjawab tepat 1 informasi dari 3 pertanyaan (arti fobia, gejala fobia, cara penanganan) berdasarkan teks cetak. | Menjawab tepat 2 dari 3 informasi (arti fobia, gejala fobia, atau cara penanganan) berdasarkan teks cetak. | Menjawab dengan tepat seluruh 3 informasi (arti fobia, gejala fisik fobia, dan cara penanganan) sesuai teks cetak yang disediakan. | Menjawab dengan tepat dan lengkap seluruh 3 informasi disertai rincian penjelasan yang jelas sesuai teks cetak. | | Menulis Teks Pengalaman Diri Berkalimat Transitif dan Intransitif (TP 4.1.6) | Menulis kurang dari 3 kalimat sederhana dan belum menunjukkan penggunaan variasi kalimat transitif maupun intransitif secara tepat. | Menulis minimal 3 kalimat pengalaman diri, namun hanya memuat satu jenis kalimat (hanya transitif atau hanya intransitif). | Menulis minimal 4 kalimat pengalaman diri sederhana yang memuat variasi kalimat transitif (berobjek) dan kalimat intransitif (tanpa objek) secara tepat. | Menulis 5 kalimat atau lebih tentang pengalaman diri dengan variasi kalimat transitif dan intransitif yang kaya, runtut, dan tepat konteks. | | Mengidentifikasi Teks Aural Tak Muat Lagi dan Membaca Nyaring Kata Baru (TP 4.1.1 & TP 4.1.2) | Belum tepat menjawab isi cerita Tak Muat Lagi dan membaca 3 kata baru dengan banyak mengeja atau terhenti. | Tepat menjawab 1 pertanyaan isi cerita Tak Muat Lagi dan membaca fasih 1-2 kata baru dari teks Fobia tanpa mengeja. | Tepat menjawab 2 pertanyaan isi cerita Tak Muat Lagi (tokoh dan konflik) serta membaca fasih seluruh 3 kata baru teks Fobia tanpa mengeja. | Tepat dan lancar menjawab seluruh pertanyaan isi cerita Tak Muat Lagi secara mandiri serta membaca seluruh kata baru dengan sangat fasih dan percaya diri. | | Menyajikan Pendapat dan Menceritakan Kembali Cerita Suka dan Tidak Suka (TP 4.1.4 & TP 4.1.5) | Belum mampu menyampaikan pendapat hubungan kakak-adik dan belum dapat menceritakan kembali peristiwa cerita Suka dan Tidak Suka. | Menyampaikan pendapat dengan kata sederhana tetapi gestur/volume belum sesuai, dan menceritakan kembali cerita dengan peristiwa yang melompat/belum lengkap. | Menyampaikan pendapat hubungan kakak-adik dengan pilihan kata santun, gestur wajar, volume tepat, serta menceritakan kembali tokoh dan rangkaian peristiwa cerita Suka dan Tidak Suka secara runtut. | Menyajikan pendapat dengan pilihan kata sangat santun, gestur mantap, intonasi jelas, serta menceritakan kembali seluruh peristiwa dan penyelesaian cerita Suka dan Tidak Suka secara lengkap dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu selama 70 menit efektif dalam memadukan tes tertulis serentak dan giliran unjuk kerja lisan 6 murid?
- Bagaimana ketercapaian seluruh murid pada Bab 1 berdasarkan analisis hasil tes tertulis dan instrumen observasi lisan?
Murid:- Bagian mana dari tugas asesmen hari ini yang dapat saya kerjakan dengan paling lancar dan mandiri?
- Apa hal paling berharga yang sudah saya pelajari selama mempelajari Bab 1 'Sudah Besar'?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023) Bab 1
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023) teks 'Tak Muat Lagi' hal. 4
- Kartu nama tokoh (LALA dan KIKI) untuk permainan menyimak
- Lembar kerja identifikasi isi teks aural
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Kemendikbudristek 2023 (Teks narasi Tak Muat Lagi)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Kemendikbudristek 2023
- Lembar Kerja Murid: Identifikasi Peristiwa dan Konflik
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023) teks Fobia halaman 22-23
- Kartu kata bertuliskan: fobia, berkonsultasi, psikolog, terapi, gejala
- Lembar catatan penilaian lisan guru untuk cerita Tak Muat Lagi
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD Bab 1 Teks Fobia (Kemendikbudristek, 2023)
- Set kartu kata kosakata baru teks Fobia [(1) fobia, (2) panik, (3) terapi, (4) psikolog, (5) konsultasi, (6) arakhnofobia]
- Lembar teks bacaan cetak 'Fobia'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV Revisi (Kemendikbudristek, 2023).
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV Revisi (Kemendikbudristek, 2023), Bab 1 Halaman 22-23 teks 'Fobia'.
- Kartu kata baru cetak berisi 5 kata: fobia, konsultasi, psikolog, terapi, gejala.
- Lembar kerja menemukan informasi pokok teks cetak.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD Halaman 23-24
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD Halaman 60
- Kartu informasi 'Detektif Informasi Fobia' dan Lembar Kerja Siswa
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Kemendikbudristek 2023, Bab 1 (hlm. 7)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Kemendikbudristek 2023, Bab 1 (hlm. 59)
- Kartu situasi hubungan kakak-adik (Kartu 1: Adik menumpahkan air di meja gambar; Kartu 2: Kakak menyalakan radio kencang saat adik tidur)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi, 2023), Bab 1 'Sudah Besar'.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi, 2023), Bab 1 'Sudah Besar'.
- Kartu situasi topik hubungan kakak-adik dan kartu visual tingkatan volume suara.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Bab 1 Halaman 10 (Cerita 'Suka dan Tidak Suka')
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD
- Bola busa kecil untuk permainan Lempar Bola Tokoh
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Cerita 'Suka dan Tidak Suka', halaman 10-12
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD, Bab I
- Kartu visual pengingat urutan peristiwa cerita 'Suka dan Tidak Suka'
- Bola spons kecil untuk permainan alur estafet
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas IV SD: Lihat Sekitar (2023)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IV SD: Lihat Sekitar (2023)
- Lembar Kerja Draf Menulis Pengalaman Diri
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi)
- Lembar draf tulisan murid dari Pertemuan 11
- Kartu Ajaib Kalimat untuk tantangan berpasangan
- Lembar kerja menulis bergaris untuk naskah final
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD/MI (Kemendikbudristek, 2021/2023 revisi)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar Kelas IV SD/MI (Kemendikbudristek, 2021)
- Lembar Asesmen Sumatif Tertulis Bab 1 (Teks cetak 'Mengenal Fobia' dan lembar menulis pengalaman diri)
- Kartu kata bacaan Fobia ('ofidiofobia', 'koulrofobia', 'konsultasi')
- Lembar Observasi dan Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Bab 1
|