Modul AjarPertemuan 7Bab 4Fase BSemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 3: Menyusun cerita pendek bertema 'Ikut Berbelanja ke Pasar' dan mempresentasikannya

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 dengan topik "Menyusun cerita pendek bertema 'Ikut Berbelanja ke Pasar' dan mempresentasikannya". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 3: Menyusun cerita pendek bertema 'Ikut Berbelanja ke Pasar' dan mempresentasikannya

Bahasa Indonesia - Kelas 3

Bab 4 - Pertemuan 7

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Menyusun cerita pendek bertema 'Ikut Berbelanja ke Pasar' dan mempresentasikannya

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikMenyusun cerita pendek bertema 'Ikut Berbelanja ke Pasar' dan mempresentasikannya
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui kegiatan menulis mandiri, murid mampu menyusun teks cerita sederhana bertema berbelanja di pasar dengan rangkaian kalimat yang beragam dan kaidah kebahasaan yang benar.
  2. Melalui kegiatan mempresentasikan cerita yang ditulis, murid mampu menyajikan isi cerita dengan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks dengan percaya diri.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian ikut belanja ke pasar? Apa saja yang kalian lihat dan rasakan di sana?
  2. Kalau kalian ingin menceritakan pengalaman belanja ke pasar kepada teman, dari mana kalian mulai cerita?
  3. Bagaimana caranya agar teman yang mendengar cerita kita bisa ikut merasakan suasana pasar yang ramai?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru memberi salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai pelajaran.
  • Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar murid.
  • Asesmen awal: Guru menampilkan ilustrasi suasana pasar tradisional dan bertanya singkat, 'Siapa yang pernah ke pasar? Ceritakan satu hal yang kamu ingat dari pasar!' Murid menjawab secara lisan secara bergantian (2–3 orang) untuk mengetahui pengalaman dan kosakata awal murid.
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik satu per satu dan memberi waktu murid merespons secara spontan.
  • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini: murid akan menyusun cerita bertema belanja ke pasar, lalu mempresentasikannya di depan kelas.
  • Guru menyampaikan alur kegiatan secara singkat agar murid tahu apa yang akan dilakukan.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan kartu kata (bisa ditulis di papan tulis atau kartu kertas) berisi kata-kata dari cerita 'Ikut Berbelanja ke Pasar': hari, lagi, memasak, sekolah, diantar, kakak, pasar, sepeda, lupa, kantung, belanja.
  • Murid diminta mengamati kartu kata tersebut selama satu menit dengan tenang, lalu menebak kira-kira cerita apa yang akan disusun dari kata-kata itu. (Berkesadaran: murid diajak hadir dan fokus mengamati sebelum bergerak ke tahap berikutnya.)
  • Guru membacakan contoh satu kalimat lengkap, misalnya: 'Dua hari lagi ada acara memasak di sekolah.' Kemudian meminta murid memperhatikan: huruf kapital di awal kalimat, tanda titik di akhir kalimat, dan spasi antar kata.
  • Guru menjelaskan bahwa kalimat boleh disusun dengan urutan kata yang berbeda selama maknanya tetap benar, contoh: 'Ada acara memasak di sekolah dua hari lagi.' Murid mendiskusikan perbedaannya bersama guru. (Bermakna: murid memahami bahwa bahasa bersifat fleksibel dan terhubung dengan pengalaman nyata mereka.)
  • Guru memberikan contoh satu kalimat yang salah (huruf kapital kurang atau tanda baca hilang) dan meminta murid mengidentifikasi kesalahannya bersama-sama.
  • Murid dan guru menyepakati kriteria kalimat yang benar: diawali huruf kapital, diakhiri tanda baca yang tepat, ada spasi antar kata, dan maknanya jelas.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagikan lembar kerja berisi enam kelompok kata acak dari cerita 'Ikut Berbelanja ke Pasar' (sesuai buku siswa hal. 92). Murid diminta menyusun tiap kelompok kata menjadi kalimat yang tepat secara mandiri di buku tulis.
  • Selama mengerjakan, guru berkeliling untuk memantau dan memberikan bantuan scaffolding bagi murid yang membutuhkan. Untuk murid yang kesulitan, guru menomori kata-kata dan murid cukup menyalinnya berurutan. (Diferensiasi proses — lihat bagian diferensiasi.)
  • Setelah semua kalimat tersusun, murid diminta membaca ulang seluruh kalimat dari nomor 1 sampai 6 untuk memastikan ceritanya runtut dan logis. Guru mengingatkan: 'Bayangkan kalian yang pergi ke pasar itu — apakah ceritanya masuk akal?'. (Bermakna: murid menghubungkan teks dengan pengalaman nyata.)
  • Murid yang sudah selesai lebih cepat diminta melanjutkan cerita dengan kalimat tambahan versi mereka sendiri: misalnya apa yang akhirnya dibeli di pasar. (Pengayaan — lihat diferensiasi.)
  • Guru mengajak murid berbagi satu kalimat versi mereka yang unik kepada kelas. Guru merespons dengan antusias dan menunjukkan bahwa variasi kalimat adalah hal yang menarik. (Menggembirakan: suasana apresiasi dan tidak takut salah.)
  • Setelah cerita selesai ditulis, murid berlatih membacakan cerita mereka dalam hati sebanyak dua kali, memperhatikan bagian mana yang perlu dibacakan lebih pelan, lebih cepat, atau dengan penekanan tertentu.
  • Murid berpasangan dan bergantian membacakan cerita kepada pasangannya. Pasangan memberikan umpan balik sederhana menggunakan kartu ibu jari: ibu jari ke atas berarti suara sudah jelas dan intonasi pas, ibu jari ke samping berarti perlu sedikit diperkuat. (Menggembirakan: umpan balik bersifat positif dan tidak menghakimi.)
  • Beberapa murid dipilih secara sukarela (atau guru menunjuk dengan cara yang menyenangkan, misal tos tangan) untuk mempresentasikan cerita mereka di depan kelas dengan volume dan intonasi yang tepat.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk tenang sejenak dan meminta mereka melihat kembali hasil tulisan cerita mereka di buku tulis. (Berkesadaran: jedah sejenak untuk mengevaluasi karya sendiri.)
  • Murid mengisi lembar refleksi diri singkat (bisa lisan atau tertulis di buku tulis) dengan menjawab dua pertanyaan: (1) 'Kalimat mana dalam ceritaku yang paling aku suka dan mengapa?' (2) 'Apa satu hal yang ingin aku perbaiki dari cara aku mempresentasikan cerita tadi?'
  • Guru memfasilitasi sharing singkat: 2–3 murid menyebutkan jawaban refleksi mereka. Guru memberikan apresiasi spesifik, bukan sekadar 'bagus', misalnya: 'Kamu tadi memperkeras suara di bagian yang paling seru — itu membuat ceritamu hidup!'
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: apa yang sudah dipelajari tentang menyusun kalimat dan mempresentasikan cerita, serta apa gunanya kemampuan ini dalam kehidupan sehari-hari. (Bermakna: menghubungkan hasil belajar dengan konteks nyata.)

Penutup:

  • Guru mengajak murid mengisi tabel asesmen akhir diri (centang) sesuai kemampuan yang dirasakan: 'Saya mampu menyusun kalimat menjadi cerita yang runtut' dan 'Saya mampu mempresentasikan cerita dengan suara yang jelas.'
  • Guru memberikan umpan balik singkat terhadap penampilan kelas secara keseluruhan dan menyebut satu-dua contoh positif yang terlihat hari ini.
  • Guru menginformasikan kegiatan tindak lanjut: murid dapat menyempurnakan ceritanya di rumah dan membacakannya kepada anggota keluarga sebagai latihan tambahan.
  • Guru menutup pembelajaran dengan mengajak murid berdoa bersama dan memberi salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid dengan kemampuan membaca-menulis rendah diberikan kartu kata bergambar (misalnya gambar pasar, sepeda, kantung belanja) sebagai petunjuk visual untuk membantu memaknai kata sebelum menyusun kalimat.
  • Proses: Perancah (scaffolding) untuk murid yang kesulitan menyusun kalimat: guru menomori kata-kata dalam tiap kelompok sesuai urutan yang disarankan, sehingga murid cukup menyalin dengan urutan yang sudah ditunjukkan. Untuk murid yang sudah lancar, mereka langsung menyusun tanpa panduan urutan.
  • Produk: Murid yang menyelesaikan tugas lebih cepat diminta menambah minimal dua kalimat lanjutan cerita sesuai imajinasi mereka sendiri (misalnya apa yang akhirnya dibeli di pasar dan bagaimana perasaannya). Murid yang memerlukan dukungan lebih cukup menyusun enam kalimat dasar dan berlatih membacakannya dengan suara yang cukup keras.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan ilustrasi pasar dan mengajukan pertanyaan lisan: 'Siapa yang pernah ke pasar? Ceritakan satu hal yang kamu ingat!' untuk mengecek pengalaman dan kosakata awal murid sebelum kegiatan menulis dimulai.
  • Guru mengamati respons murid: apakah mereka memiliki kosakata yang cukup tentang pasar dan mampu menyusun kalimat sederhana secara lisan.

Proses:

  • Observasi langsung saat murid menyusun kalimat: guru mencatat murid yang sudah menggunakan huruf kapital dan tanda baca dengan benar, serta yang masih perlu bimbingan.
  • Umpan balik berpasangan (kartu ibu jari) saat latihan membacakan cerita: murid saling memberi masukan tentang volume dan intonasi.
  • Guru memberikan umpan balik lisan individual saat berkeliling, khususnya kepada murid yang membutuhkan scaffolding.

Akhir:

  • Penilaian hasil tulisan cerita di buku tulis menggunakan rubrik 4 level (aspek: keruntutan cerita, keberagaman kalimat, kaidah penulisan).
  • Penilaian presentasi lisan di depan kelas menggunakan rubrik 4 level (aspek: volume suara, intonasi, kepercayaan diri).
  • Lembar refleksi diri murid (centang mandiri) sebagai asesmen sebagai pembelajaran (assessment as learning).

Formatif:

  • Observasi guru selama murid menyusun kalimat: memperhatikan apakah huruf kapital dan tanda baca digunakan dengan benar.
  • Umpan balik berpasangan dengan kartu ibu jari saat latihan presentasi: murid saling menilai kejelasan suara dan intonasi.
  • Tanya jawab lisan saat tahap Memahami untuk mengecek pemahaman tentang kaidah penulisan kalimat.

Sumatif:

  • Hasil tulisan cerita enam kalimat di buku tulis dinilai menggunakan rubrik dengan aspek: keruntutan cerita, keberagaman kalimat, dan kaidah kebahasaan (huruf kapital, tanda baca, spasi).
  • Presentasi lisan cerita dinilai menggunakan rubrik dengan aspek: volume suara, intonasi, dan kepercayaan diri.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keruntutan CeritaKalimat-kalimat tidak membentuk cerita yang runtut; urutan peristiwa tidak dapat dipahami.Sebagian kalimat sudah runtut tetapi ada bagian yang loncat atau tidak logis.Kalimat-kalimat membentuk cerita yang runtut dan logis dari awal hingga akhir.Kalimat-kalimat membentuk cerita yang sangat runtut, logis, dan ditambah kalimat pengembangan sendiri yang memperkaya cerita.
Keberagaman KalimatSusunan kalimat seragam dan hanya menyalin tanpa variasi.Ada satu kalimat dengan susunan yang berbeda dari yang dicontohkan.Dua atau lebih kalimat disusun dengan variasi struktur yang benar (misalnya keterangan di awal kalimat).Sebagian besar kalimat menunjukkan variasi struktur yang benar dan kreatif; murid menambah kalimat sendiri.
Kaidah Kebahasaan (Huruf Kapital, Tanda Baca, Spasi)Banyak kesalahan huruf kapital, tanda baca, dan spasi (lebih dari 4 kesalahan).Ada beberapa kesalahan huruf kapital, tanda baca, atau spasi (3–4 kesalahan).Hanya ada 1–2 kesalahan kecil dalam penggunaan huruf kapital, tanda baca, atau spasi.Seluruh kalimat menggunakan huruf kapital, tanda baca, dan spasi dengan benar tanpa kesalahan.
Volume Suara saat PresentasiSuara sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh teman-teman di kelas.Suara terdengar oleh sebagian teman tetapi masih terlalu pelan di beberapa bagian.Suara jelas dan cukup keras sehingga seluruh kelas dapat mendengar dengan baik.Suara jelas, keras, dan disesuaikan volumenya pada bagian-bagian tertentu untuk membuat cerita lebih hidup.
Intonasi saat PresentasiMembacakan cerita dengan nada datar dari awal hingga akhir tanpa variasi intonasi.Ada sedikit variasi intonasi tetapi belum konsisten atau kurang sesuai konteks.Intonasi bervariasi dan sesuai dengan isi kalimat (misalnya nada bertanya pada kalimat tanya).Intonasi sangat tepat dan ekspresif, membuat cerita terasa hidup dan menarik bagi pendengar.
Kepercayaan Diri saat PresentasiMurid menolak tampil atau sangat gugup sehingga tidak dapat menyampaikan cerita.Murid tampil tetapi sering menunduk, bergumam, atau berhenti lama.Murid tampil dengan cukup percaya diri, kontak mata dengan pendengar, dan cerita tersampaikan tuntas.Murid tampil dengan sangat percaya diri, kontak mata baik, sikap tubuh tegap, dan menyampaikan cerita secara lancar.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid berhasil menyusun enam kalimat menjadi cerita yang runtut? Siapa yang masih perlu pendampingan lebih lanjut?
  • Apakah strategi scaffolding (penomoran kata) efektif membantu murid yang kesulitan? Apa yang perlu disesuaikan?
  • Apakah waktu yang dialokasikan cukup untuk kegiatan menulis dan presentasi? Bagian mana yang perlu dipercepat atau diperlambat?
  • Apakah semua murid mendapat kesempatan yang cukup untuk mempraktikkan presentasi lisan?

Refleksi Murid:

  • Kalimat mana dalam ceritamu yang paling kamu suka? Mengapa?
  • Apa satu hal yang ingin kamu perbaiki dari cara kamu mempresentasikan cerita tadi?
  • Apakah kamu merasa lebih mudah menulis cerita setelah melihat contoh kalimatnya? Apa yang membantumu?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia 'Kawan Seiring' Kelas III SD/MI (Penulis: Anna Farida K. & Helva Nurhidayah, Kemendikbudristek 2022), Bab 4 hal. 92
  2. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia 'Kawan Seiring' Kelas III SD/MI, Bab 4 hal. 128–129
  3. Kartu kata yang disiapkan guru (kata-kata kunci dari cerita 'Ikut Berbelanja ke Pasar')
  4. Kartu ibu jari (bisa digambar di kertas) untuk umpan balik berpasangan
  5. Ilustrasi atau gambar suasana pasar tradisional (dapat diprint atau ditampilkan di layar)
  6. Buku tulis murid
  7. Lembar kerja susunan kalimat acak (disiapkan guru berdasarkan buku siswa hal. 92)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.