Modul AjarBab 3Fase BSemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 3 Bab 3: Pribadi yang Hebat

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 3 untuk Bab 3 "Pribadi yang Hebat", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 3 Bab 3: Pribadi yang Hebat

Bahasa Indonesia - Kelas 3

Bab 3

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Bab 3 — Pribadi yang Hebat

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikBab 3 — Pribadi yang Hebat
Alokasi Waktu54 JP (54 x 35 menit = 1890 menit)
Jumlah Pertemuan27
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 3.3.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural tentang tokoh dan peristiwa cerita inspiratif
  2. TP 3.3.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan cerita inspiratif
  3. TP 3.3.3 Menemukan ide pokok dan pesan dalam teks sastra cetak tentang pribadi inspiratif
  4. TP 3.3.4 Menceritakan kembali isi teks sastra yang dibaca tentang keteladanan tokoh secara runtut
  5. TP 3.3.5 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita
  6. TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Siapakah tokoh yang ada dalam cerita yang kamu dengarkan tadi?
  2. Bagaimana sifat atau watak yang ditunjukkan oleh tokoh tersebut dari perkataan dan perbuatannya?
  3. Di mana saja tempat terjadinya peristiwa dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' yang kamu dengar?
  4. Peristiwa penting apa yang membuat Ken akhirnya mencari Alif ke rumahnya?
  5. Bagaimana kita mengetahui kejadian mana yang terjadi lebih dulu dalam sebuah cerita yang kita dengarkan?
  6. Mengapa kita perlu memperhatikan urutan kejadian saat mendengarkan kisah perjuangan seorang tokoh?
  7. Bagaimana cara kita mengetahui apa saja yang dialami tokoh dalam cerita yang dibacakan guru?
  8. Pertanyaan apa saja yang bisa kita ajukan untuk memahami isi cerita secara lengkap?
  9. Bagaimana caramu membaca kata panjang yang memiliki awalan atau akhiran agar terdengar lancar?
  10. Apa yang kamu lakukan ketika menemukan kata baru berimbuhan di dalam cerita inspiratif?
  11. Bagaimana caramu melafalkan kata yang baru pertama kali kamu jumpai saat membaca kalimat?
  12. Mengapa kita perlu membaca setiap kata dalam kalimat dengan jelas dan lancar?
  13. Bagaimana caramu membaca kalimat saat melihat ada tanda titik, koma, tanda tanya, atau tanda seru?
  14. Mengapa kita perlu membaca kata baru dengan lancar dan tidak tersendat-sendat saat membaca cerita?
  15. Bagaimana cara kita membaca kata yang panjang atau belum pernah kita dengar agar lancar dan tidak tersendat?
  16. Apa yang kalian rasakan ketika berhasil membaca seluruh paragraf cerita secara mandiri tanpa mengeja?
  17. Saat kita membaca satu paragraf cerita, bagaimana cara kita mengetahui hal terpenting yang sedang dibahas?
  18. Apa yang membedakan kalimat utama yang memuat ide pokok dengan kalimat lain yang hanya menjelaskan?
  19. Bagaimana cara kita membedakan kalimat yang menjadi gagasan utama dengan kalimat yang hanya menjelaskan?
  20. Mengapa dalam satu paragraf kita memerlukan ide pokok dan kalimat-kalimat pendukung?
  21. Apa pelajaran baik yang bisa kita teladani setelah membaca kisah seseorang yang pantang menyerah?
  22. Bagaimana cara kita menemukan pesan atau nasihat kebaikan yang tersimpan dalam bacaan cerita?
  23. Bagaimana cara kita mengetahui inti atau hal terpenting yang dibicarakan dalam satu paragraf cerita?
  24. Pelajaran baik apa yang bisa kita temukan setelah membaca kisah tokoh yang pantang menyerah?
  25. Siapa saja tokoh yang kalian temukan pada bagian awal cerita 'Buku untuk Bintang'?
  26. Bagaimana urutan kejadian ketika tokoh utama pertama kali diperkenalkan dalam cerita tersebut?
  27. Masalah apa yang dihadapi Bintang dalam cerita 'Buku untuk Bintang' saat ingin membaca buku?
  28. Sikap teladan apa yang ditunjukkan oleh Bintang ketika menghadapi masalah tersebut?
  29. Bagaimana akhir kisah Bintang setelah ia rajin membaca buku-buku bekas di pinggir jalan?
  30. Keteladanan apa yang ditunjukkan oleh tokoh Bintang dan Pak Sahala yang dapat kita tiru?
  31. Jika kamu diminta menceritakan kisah Bintang kepada temanmu, peristiwa apa yang pertama kali kamu ceritakan?
  32. Bagaimana urutan ceritanya agar temanmu paham tindakan terpuji apa yang dilakukan tokoh?
  33. Apa kata yang sebaiknya kita ucapkan saat ingin menyampaikan ketidaksetujuan pada tindakan teman agar terdengar santun?
  34. Bagaimana posisi badan kita saat berbicara menyampaikan pendapat agar orang lain merasa dihargai?
  35. Bagaimana sikap tubuhmu saat menyampaikan pendapat agar teman-teman kelompok mendengarkan dengan baik?
  36. Mengapa kita perlu menggunakan gestur tangan yang sopan ketika berbicara tentang tindakan tokoh dalam cerita?
  37. Bagaimana caramu menyampaikan pendapat agar temanmu mau mendengarkan dengan baik?
  38. Mengapa saat menyampaikan pendapat kita perlu bersuara jelas dan tidak berbicara terlalu pelan atau berteriak?
  39. Bagaimana sikap tubuh yang baik saat kita menyampaikan pendapat di depan teman-teman?
  40. Kata apa yang sebaiknya kita gunakan agar pendapat kita terdengar sopan dan santun saat menilai tindakan seorang tokoh?
  41. Pengalaman pantang menyerah atau berbuat kebaikan apa yang pernah kalian alami dan paling membanggakan?
  42. Bagaimana urutan membuat rencana (kerangka) sebelum kita menulis cerita pengalaman diri secara lengkap?
  43. Bagaimana caramu memulai cerita tentang pengalaman pribadimu agar orang lain tahu siapa dan di mana kejadian itu berlangsung?
  44. Bagian apa saja yang harus kita tuliskan pada bagian awal sebuah cerita narasi?
  45. Tantangan atau kesulitan apa yang paling seru saat kamu berusaha mencapai sesuatu?
  46. Bagaimana caramu menceritakan rintangan itu agar ceritamu terdengar hidup dan tidak membosankan?
  47. Bagaimana caramu menutup cerita pengalaman agar pembaca mengetahui akhir dari peristiwa yang kamu alami?
  48. Apa hal berharga atau perasaan yang kamu rasakan setelah peristiwa penting itu selesai terjadi?
  49. Bagaimana cara merangkai catatan bagian awal, tengah, dan akhir pengalamanmu menjadi satu cerita yang utuh?
  50. Mengapa kita perlu merangkai kalimat dengan bentuk yang beragam saat menulis cerita pengalaman diri?
  51. Bagaimana cara kita membuat tulisan cerita pengalaman diri kita menjadi lebih bervariasi dan enak dibaca?
  52. Mengapa kita perlu memeriksa kembali kalimat-kalimat yang sudah kita tulis sebelum menyalinnya menjadi naskah akhir?
  53. Bagaimana kita menunjukkan pemahaman terbaik kita terhadap cerita keteladanan yang telah dipelajari?
  54. Mengapa kita perlu bersikap tertib, percaya diri, dan mandiri saat mengerjakan asesmen akhir bab?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengidentifikasi Tokoh dan Perwatakan dalam Cerita Inspiratif Aural 'Ada Apa dengan Alif?' — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural tentang tokoh dan peristiwa cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mengidentifikasi tokoh dan perwatakannya dalam cerita aural 'Ada Apa dengan Alif?' (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan satu cuplikan kalimat cerita: 'Toni selalu membagi bekal rotinya kepada teman yang lupa membawa makanan.' lalu mengajukan dua pertanyaan lisan: 'Siapa tokohnya?' (acuan: Toni) dan 'Bagaimana watak tokoh Toni?' (acuan: suka berbagi / dermawan / baik hati) untuk memetakan kesiapan murid dalam mengenali tokoh dan watak (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan teks cerita inspiratif 'Ada Apa dengan Alif?' secara jelas sementara murid menyimak isi cerita dengan saksama (10 menit).
  • Guru membimbing tanya jawab terarah mengenai isi cerita aural untuk mengenali tokoh dan perwatakan melalui 3 pertanyaan panduan: (1) Siapa saja tokoh dalam cerita? (acuan: Alif, Ken, Kayla/adik Alif, Ibu Alif); (2) Bagaimana tindakan Alif saat disuruh menjaga adiknya? (acuan: patuh/bertanggung jawab mengutamakan menjaga adik daripada bermain); (3) Bagaimana sikap Ken saat mengetahui Alif tidak bisa bermain ke rumahnya? (acuan: pengertian/setia kawan mau menemani Alif di rumahnya) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan tebak peran berpasangan 'Siapakah Aku?' di mana guru membacakan 4 kartu kutipan perilaku tokoh dan murid bersama pasangan mengangkat kartu nama tokoh yang sesuai (menggembirakan): Kartu 1 'Memilih pulang ke rumah demi menjaga adik' -> Alif; Kartu 2 'Mencari temannya dan membawakan mainan ke teras rumah teman' -> Ken; Kartu 3 'Bermain gembira bersama kakaknya di teras' -> Kayla; Kartu 4 'Meminta tolong kepada anaknya untuk menemani si kecil saat ada keperluan' -> Ibu Alif (acuan pasangan: 1-Alif, 2-Ken, 3-Kayla, 4-Ibu Alif) (12 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Identifikasi Tokoh dan Perwatakan yang memuat 4 butir soal isian berdasarkan cerita yang didengar: (1) Tokoh utama yang bertanggung jawab menjaga adik adalah ... (acuan: Alif); (2) Watak Alif adalah ... (acuan: bertanggung jawab / patuh pada ibu / sayang adik); (3) Sahabat Alif yang setia kawan dan peduli adalah ... (acuan: Ken); (4) Bukti watak Ken yang setia kawan dari isi cerita adalah ... (acuan: mencari Alif ke rumahnya dan ikut bermain di teras Alif) (13 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid memeriksa kembali hasil pekerjaannya dan mencocokkan jawaban bersama acuan yang dibacakan guru untuk menyadari ketepatan pemahamannya tentang tokoh dan watak (5 menit).
  • Murid menyebutkan hal yang paling mudah dan hal yang masih menantang saat menyimak dan menentukan watak tokoh dari cerita yang didengarkan (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa watak tokoh dalam cerita yang disimak dapat dikenali melalui tindakan dan perkataan tokoh (3 menit).
  • Guru memberikan tindak lanjut singkat untuk pertemuan berikutnya (mengidentifikasi latar dan peristiwa cerita) dan menutup sesi dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diperdengarkan kembali penggalan dialog khusus tokoh Alif dan Ken, sedangkan murid yang cepat mengidentifikasi disajikan cuplikan tindakan tokoh pendukung (Ibu dan Kayla).
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar rendah mendapat perancah berupa pilihan kata sifat watak (misal: bertanggung jawab, peduli, penyayang), sedangkan murid yang mandiri langsung menuliskan watak dan buktinya secara bebas.
  • Produk: Murid yang belum lancar menulis diperbolehkan menjodohkan nama tokoh dengan label watak yang disediakan, sementara murid lainnya menuliskan nama tokoh, watak, beserta bukti tindakannya secara lengkap.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan berdasarkan 1 kalimat aural: 'Toni selalu membagi bekal rotinya kepada teman yang lupa membawa makanan.' Pertanyaan 1: 'Siapakah nama tokoh dalam kalimat?' (acuan jawaban: Toni). Pertanyaan 2: 'Bagaimana watak atau sifat Toni?' (acuan jawaban: suka berbagi / baik hati / peduli / dermawan).

Proses:

  • Tantangan tebak tokoh 'Siapakah Aku?' dengan 4 kartu kutipan: (1) 'Memilih pulang ke rumah demi menjaga adik' (acuan: Alif); (2) 'Mencari temannya dan membawakan mainan ke teras rumah teman' (acuan: Ken); (3) 'Bermain gembira bersama kakaknya di teras' (acuan: Kayla); (4) 'Meminta tolong kepada anaknya untuk menemani si kecil saat ada keperluan' (acuan: Ibu Alif). Kriteria: ketepatan mencocokkan kutipan dengan nama tokoh minimal 3 dari 4 kartu tepat.
  • Lembar Kerja Murid berisi 4 butir isian: (1) Tokoh utama yang bertanggung jawab menjaga adik (acuan: Alif); (2) Watak Alif (acuan: bertanggung jawab / patuh / sayang adik); (3) Sahabat Alif yang setia kawan (acuan: Ken); (4) Tindakan Ken yang membuktikan ia setia kawan (acuan: menyusul ke rumah Alif / bermain bersama di teras Alif). Kriteria: ketepatan mengisi minimal 3 dari 4 butir tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru membacakan satu tindakan dari cerita 'Alif tidak jadi pergi ke rumah Ken karena harus menjaga adiknya di rumah' dan meminta murid menyebutkan watak yang tecermin dari tindakan itu (acuan jawaban: bertanggung jawab / patuh kepada orang tua / mendahulukan kewajiban keluarga).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri identifikasi tokoh dan perwatakan (4 butir isian)
  • Observasi ketepatan jawaban murid pada tantangan permainan kartu aural 'Siapakah Aku?'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi Tokoh dalam Cerita AuralBelum mampu menyebutkan tokoh dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' dengan tepat meski dengan bimbingan penuh guru (0 atau 1 tokoh benar). Acuan tokoh: Alif, Ken, Kayla, Ibu Alif.Mampu menyebutkan 2 tokoh (misal: Alif dan Ken) dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' dengan bimbingan guru.Mampu menyebutkan minimal 3 tokoh (Alif, Ken, Kayla, atau Ibu Alif) dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' secara tepat dan mandiri.Mampu menyebutkan seluruh 4 tokoh (Alif, Ken, Kayla, dan Ibu Alif) dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' secara tepat, lengkap, dan mandiri.
Mengidentifikasi Perwatakan Tokoh dalam Cerita AuralBelum mampu mengidentifikasi watak tokoh dari cerita yang didengar sesuai acuan (acuan watak Alif: bertanggung jawab/patuh; acuan watak Ken: setia kawan/peduli) meskipun dibimbing guru.Mampu mengidentifikasi 1 watak tokoh utama (Alif atau Ken) secara tepat dengan bantuan kata pilihan dari guru.Mampu mengidentifikasi watak kedua tokoh utama (Alif: bertanggung jawab/patuh; Ken: peduli/setia kawan) secara tepat berdasarkan cerita aural secara mandiri.Mampu mengidentifikasi watak kedua tokoh utama (Alif dan Ken) beserta bukti tindakannya dalam cerita secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks aural yang dibacakan terdengar jelas oleh seluruh murid di kelas?
  • Apakah murid dapat membedakan antara nama tokoh dan sifat/watak tokoh dari cerita yang disimak?
  • Langkah apa yang perlu disesuaikan pada pertemuan berikutnya untuk murid yang belum mampu mengenali watak tokoh?

Murid:

  • Siapa tokoh dalam cerita tadi yang wataknya paling kamu sukai?
  • Bagian mana yang paling mudah saat menebak sifat tokoh dari cerita yang dibacakan guru?

Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Latar dan Peristiwa Penting dalam Cerita Aural 'Ada Apa dengan Alif?' — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural tentang tokoh dan peristiwa cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, serta mengondisikan kesiapan belajar (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi latar tempat dan peristiwa penting dalam cerita aural 'Ada Apa dengan Alif?' (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat secara lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 1 tempat bermain Ken dan Alif di sekolah dan 1 alasan mengapa Alif bergegas pulang?' (acuan: tempat di sekolah = lapangan basket/halaman sekolah; alasan pulang = harus menjaga adiknya yang bernama Kayla) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak kembali pembacaan rekaman aural cerita 'Ada Apa dengan Alif?' oleh guru yang memfokuskan pada rincian tempat kejadian dan urutan kejadian penting (10 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi unsur latar tempat dalam cerita: (1) Halaman/lapangan sekolah saat Ken mengajak bermain robot, (2) Jalan menuju rumah saat Alif bergegas pergi, dan (3) Teras rumah Alif saat Ken mendapati Alif sedang menemani adiknya (Kayla) (acuan latar: sekolah, perjalanan pulang, rumah Alif) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan tebak peristiwa 'Detektif Latar': guru membacakan 4 kartu cuplikan narasi aural, lalu murid mengangkat kartu simbol tempat yang sesuai (sekolah, jalan, rumah Alif) secara interaktif dan serentak (12 menit).
  • Secara mandiri pada lembar kerja, murid mengerjakan 4 butir latihan mengidentifikasi latar dan peristiwa penting dari teks aural yang telah diperdengarkan: Butir 1: Di mana Ken mengajak Alif bermain robot baru? (acuan: sekolah/lapangan sekolah); Butir 2: Apa peristiwa yang membuat Ken bingung dan merasa kecewa? (acuan: Alif tiba-tiba pamit pulang terburu-buru/menolak ajakan main); Butir 3: Di mana Ken akhirnya menemukan Alif? (acuan: rumah Alif/teras rumah Alif); Butir 4: Apa peristiwa penting yang sedang terjadi di rumah Alif? (acuan: Alif sedang menjaga dan menemani adiknya, Kayla, karena ibunya sedang repot) (13 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mencocokkan hasil identifikasi lembar kerjanya dengan panduan acuan bersama guru serta menandai bagian peristiwa penting yang berhasil ditemukan secara tepat (7 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan bersama unsur latar dan rangkaian peristiwa penting dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar murid dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya (urutan peristiwa dalam cerita inspiratif aural 'Kartini Pejuang Perempuan') tanpa rangkuman bab, lalu menutup kelas dengan doa dan salam (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan ulang kutipan cerita pendek per adegan yang memuat kata kunci tempat/peristiwa; bagi murid yang cepat memahami, teks aural diperdengarkan sekali secara utuh tanpa pengulangan frasa kunci.
  • Proses: Murid yang membutuhkan perancah dipandu dengan pertanyaan arahan langsung pada butir peristiwa, sedangkan murid yang mandiri langsung mengidentifikasi latar dan peristiwa penting pada lembar kerja secara individual.
  • Produk: Murid dapat mengidentifikasi jawaban dengan menuliskan kata kunci ringkas atau kalimat lengkap pada lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 tempat Ken mengajak Alif bermain dan apa alasan Alif langsung pulang?' (acuan: tempat = sekolah/lapangan sekolah; alasan = menjaga adiknya, Kayla).

Proses:

  • Observasi ketepatan murid dalam kuis 'Detektif Latar' saat mencocokkan 4 cuplikan peristiwa dengan latar tempat: Kartu 1: Ken memamerkan robot -> Lapangan sekolah; Kartu 2: Alif berlari meninggalkan Ken -> Jalan pulang; Kartu 3: Ken mengetuk pintu -> Teras rumah Alif; Kartu 4: Alif menyuapi dan mengajak bermain boneka -> Rumah Alif (acuan: pencocokan 4 pasangan tepat).
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri 4 butir identifikasi isi teks aural: Butir 1 (Latar sekolah), Butir 2 (Peristiwa Alif bergegas pulang meninggalkan Ken), Butir 3 (Latar rumah Alif), Butir 4 (Peristiwa Alif menjaga adiknya Kayla) (acuan: minimal 3 butir teridentifikasi tepat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir lisan/tulis singkat: 'Di mana puncak rasa penasaran Ken terjawab dan apa yang sebenarnya dilakukan Alif?' (acuan: di rumah/teras rumah Alif; Alif sedang menjalankan tanggung jawab menjaga adiknya Kayla sehingga tidak bisa bermain robot).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik awal mengenai latar dan peristiwa dasar cerita aural
  • Kuis permainan 'Detektif Latar' mencocokkan cuplikan adegan dengan latar tempat
  • Penilaian lembar kerja mandiri 4 butir identifikasi latar dan peristiwa penting teks aural

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi latar tempat dalam teks auralBelum mampu mengidentifikasi latar tempat dalam cerita 'Ada Apa dengan Alif?' meski diberi bimbingan langsung.Mampu mengidentifikasi 1 dari 3 latar tempat dalam cerita aural secara tepat dengan bimbingan guru (acuan: sekolah, jalan pulang, rumah Alif).Mampu mengidentifikasi 2 hingga 3 latar tempat dalam cerita aural secara tepat (acuan: sekolah, jalan pulang, rumah Alif) dengan sedikit arahan.Mampu mengidentifikasi seluruh 3 latar tempat dalam cerita aural (sekolah, jalan pulang, rumah Alif) secara tepat dan mandiri.
Mengidentifikasi peristiwa penting dalam teks auralBelum mampu mengidentifikasi peristiwa penting dalam cerita aural meski dipandu.Mampu mengidentifikasi 1 butir peristiwa penting dalam cerita aural (acuan: ajakan main ditolak/Alif bergegas pulang/Alif menjaga adiknya Kayla) dengan bimbingan.Mampu mengidentifikasi 2 hingga 3 butir peristiwa penting dalam cerita aural secara tepat (acuan: Ken mengajak bermain di sekolah, Alif terburu-buru pamit pulang, Ken mendatangi rumah Alif dan melihat Alif menjaga Kayla).Mampu mengidentifikasi seluruh 4 butir peristiwa penting cerita aural secara lengkap dan tepat tanpa kekeliruan (acuan sesuai 4 butir lembar kerja mandiri).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pelafalan dan kecepatan membaca teks aural guru sudah memfasilitasi seluruh murid untuk menangkap detail latar dan peristiwa penting?
  • Bagian cerita mana yang paling sering terlewat oleh murid ketika mengidentifikasi peristiwa penting?

Murid:

  • Bagian cerita mana yang paling mudah kamu ingat tempat terjadinya?
  • Apakah kamu dapat menemukan alasan mengapa Alif tidak langsung ikut bermain ke rumah Ken?

Pertemuan 3 — Mengidentifikasi Urutan Peristiwa dalam Cerita Inspiratif Aural 'Kartini Pejuang Perempuan' — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural tentang tokoh dan peristiwa cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, menyapa murid, dan memandu doa pembiasaan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi urutan peristiwa dalam cerita inspiratif aural 'Kartini Pejuang Perempuan' (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan teks mikro 2 kalimat: 'Siti menyiapkan buku tulis di meja belajar. Setelah itu, ia mulai membaca buku cerita hingga selesai.' Lalu mengajukan pertanyaan lisan: 'Peristiwa mana yang terjadi lebih dahulu?' (acuan jawaban: Siti menyiapkan buku tulis di meja belajar) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru membacakan nyaring cerita aural 'Kartini Pejuang Perempuan' dengan lafal yang jelas sementara murid menyimak isi urutan kejadiannya secara seksama (8 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terarah untuk menelaah isi dan kronologi kejadian berdasarkan cerita yang didengarkan (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Aktivitas berisi 4 kartu peristiwa acak dari cerita yang didengarkan: Kartu A: Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan; Kartu B: Kartini gemar membaca buku dan menulis surat kepada teman-temannya di Belanda; Kartu C: Kartini dilarang melanjutkan sekolah oleh adat saat berusia 12 tahun; Kartu D: Kartini lahir di Jepara dari keluarga bangsawan (5 menit).
  • Dalam suasana kuis berpasangan 'Tantangan Detektif Urutan', murid bersama pasangannya menyusun keempat kartu peristiwa sesuai urutan kejadian sebenarnya dalam cerita (acuan urutan benar: 1-D, 2-C, 3-B, 4-A) (15 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid mengerjakan lembar asesmen formatif dengan memberi nomor urut 1 sampai 4 pada 4 kalimat peristiwa cerita 'Kartini Pejuang Perempuan': (1) Kartini kecil gemar belajar di sekolah; (2) Kartini dipingit dan tidak boleh bersekolah lagi; (3) Kartini membaca banyak buku dan mengirim surat tentang hak belajar; (4) Kartini membuka sekolah bagi anak perempuan (acuan urutan: 1-2-3-4) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil pengurutan kartu dan lembar mandiri dengan bukti kronologis cerita yang telah disimak (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara mengenali urutan peristiwa cerita aural melalui penanda kata urutan waktu (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap ketelitian menyimak urutan peristiwa, lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, kartu peristiwa dilengkapi gambar petunjuk sederhana.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan didampingi guru membaca ulang kalimat peristiwa secara perlahan, sedangkan murid yang cepat mengurutkan diberikan lembar mandiri langsung.
  • Produk: Semua murid menghasilkan urutan peristiwa 1 sampai 4 yang tepat pada lembar kerja masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan berdasarkan teks mikro 2 kalimat: 'Siti menyiapkan buku tulis di meja belajar. Setelah itu, ia mulai membaca buku cerita hingga selesai.' Pertanyaan: 'Peristiwa mana yang terjadi lebih dahulu?' (acuan jawaban benar: Siti menyiapkan buku tulis di meja belajar).

Proses:

  • Observasi pengerjaan kuis berpasangan menyusun 4 kartu peristiwa acak dari cerita 'Kartini Pejuang Perempuan' dengan acuan urutan benar: 1-D (Kartini lahir di Jepara dari keluarga bangsawan), 2-C (Kartini dilarang melanjutkan sekolah oleh adat saat berusia 12 tahun), 3-B (Kartini gemar membaca buku dan menulis surat kepada teman-temannya di Belanda), 4-A (Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri memberi nomor 1-4 pada 4 kalimat peristiwa cerita aural 'Kartini Pejuang Perempuan': Peristiwa 1: Kartini kecil gemar belajar di sekolah; Peristiwa 2: Kartini dipingit dan tidak boleh bersekolah lagi; Peristiwa 3: Kartini membaca banyak buku dan mengirim surat tentang hak belajar; Peristiwa 4: Kartini membuka sekolah bagi anak perempuan (acuan kunci jawaban benar: nomor urut tepat 1, 2, 3, 4).

Formatif:

  • Penugasan mandiri mengurutkan 4 peristiwa cerita aural 'Kartini Pejuang Perempuan'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi urutan peristiwa dalam teks cerita auralMengurutkan paling banyak 1 dari 4 peristiwa cerita aural secara tepat sesuai acuan kronologi.Mengurutkan 2 dari 4 peristiwa cerita aural secara tepat sesuai acuan kronologi dengan bimbingan guru.Mengurutkan 3 dari 4 peristiwa cerita aural secara tepat sesuai acuan kronologi cerita.Mengurutkan seluruh 4 peristiwa cerita aural secara lengkap dan tepat (1-2-3-4) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks aural yang dibacakan terdengar jelas oleh seluruh murid sehingga mempermudah mereka menangkap urutan cerita?
  • Bagian cerita mana yang paling sering membuat murid tertukar urutannya?

Murid:

  • Peristiwa apa dari cerita Ibu Kartini yang paling mudah kamu ingat urutannya?
  • Apa tanda atau kata yang membantumu mengetahui bahwa suatu kejadian terjadi setelah kejadian lain?

Pertemuan 4 — Mengidentifikasi Isi Cerita Inspiratif Aural melalui Tanya Jawab Terbimbing — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural tentang tokoh dan peristiwa cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengajak murid berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi isi cerita inspiratif yang didengar melalui kegiatan tanya jawab terbimbing (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan 1 kutipan pendek: 'Pagi itu Danu berlatih lari di lapangan desa meski kakinya lecet karena ingin menolong adiknya.' lalu menanyakan 2 pertanyaan diagnostik: (1) Siapa tokohnya? (acuan: Danu); (2) Di mana peristiwa terjadi? (acuan: di lapangan desa) untuk memetakan kesiapan murid menyimak isi (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan teks cerita inspiratif aural berjudul 'Semangat Alif Meraih Cita' secara jelas dengan teks: 'Alif adalah anak yang gigih berlatih menggambar di balai desa setiap sore. Suatu hari, pensil warnanya patah dan Alif hampir menyerah. Sahabatnya, Ken, meminjamkan pensil cadangan dan menyemangati Alif. Alif pun menyelesaikan gambarnya hingga meraih penghargaan' (8 menit).
  • Guru memandu pemahaman murid tentang unsur isi cerita melalui 4 kata tanya kunci: siapa tokohnya, di mana peristiwanya, apa masalah yang dihadapi, dan bagaimana penyelesaian peristiwanya (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Tanya Jawab Terbimbing berisi 4 pertanyaan isi cerita: (1) Siapa tokoh utama dan sahabat yang membantunya? (acuan: Alif dan Ken); (2) Di mana dan kapan peristiwa latihan berlangsung? (acuan: di balai desa pada sore hari); (3) Peristiwa apa yang membuat tokoh hampir menyerah? (acuan: pensil warnanya patah); (4) Bagaimana peristiwa penyelesaiannya? (acuan: Ken meminjamkan pensil cadangan dan Alif menyelesaikan gambarnya) (10 menit).
  • Murid bermain tantangan permainan tanya jawab 'Estafet Menyimak Hebat': guru melempar bola kain ke murid, murid yang menangkap memilih dan menjawab 1 dari 4 nomor pertanyaan isi cerita sesuai acuan, lalu melempar ke teman berikutnya hingga seluruh 4 butir terjawab tepat (12 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan jawaban identifikasi isi cerita pada 4 nomor di lembar kerja masing-masing berdasarkan teks yang telah disimak (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru bersama murid memeriksa bersama kesesuaian jawaban tertulis pada lembar kerja dengan 4 acuan kunci identifikasi isi cerita (5 menit).
  • Murid mengevaluasi hasil kerjanya sendiri dengan menghitung jumlah jawaban yang tepat dan mengidentifikasi bagian isi cerita mana yang paling mudah atau sulit disimak (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan murid dalam mengidentifikasi isi teks sastra aural (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan bahwa isi cerita aural dapat dikenali melalui identifikasi tokoh, latar, kejadian masalah, dan cara penyelesaiannya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, guru membacakan ulang bagian kalimat kunci cerita; bagi murid cepat, disediakan 1 pertanyaan isi cerita tambahan tentang alasan Alif tetap berlatih.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dengan panduan kata tanya penuntun; murid mandiri menjawab lembar kerja langsung setelah menyimak.
  • Produk: Murid yang belum lancar menulis diperbolehkan menjawab pertanyaan isi cerita secara lisan langsung kepada guru; murid lain menuliskan jawaban pada lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan menyimak kutipan: (1) Siapa tokoh dalam cerita pendek yang dibacakan guru? (acuan: Danu); (2) Di mana peristiwa cerita tersebut terjadi? (acuan: di lapangan desa).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja 4 butir tanya jawab terbimbing isi cerita aural: Butir 1 (tokoh: Alif dan Ken); Butir 2 (latar tempat dan waktu: balai desa, sore hari); Butir 3 (kejadian masalah: pensil warna patah dan hampir menyerah); Butir 4 (penyelesaian: dipinjami pensil oleh Ken dan menyelesaikan gambar hingga dapat penghargaan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan satu hal inti yang dialami Alif dalam cerita yang didengar (acuan: Alif sempat patah pensil warnanya namun berhasil menyelesaikan gambarnya berkat bantuan pensil Ken).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik pada pendahuluan
  • Unjuk kerja tertulis menjawab 4 pertanyaan isi teks aural pada lembar tanya jawab terbimbing

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Isi Cerita Inspiratif Aural (Tokoh, Latar, Masalah, dan Penyelesaian Peristiwa)Mengidentifikasi dengan tepat 1 dari 4 butir isi cerita aural (acuan: tokoh Alif & Ken; latar balai desa sore hari; masalah pensil patah; penyelesaian dipinjami Ken dan selesai).Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 butir isi cerita aural sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 butir isi cerita aural sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 4 butir isi cerita aural secara lengkap sesuai daftar acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks aural yang dibacakan dapat didengar dengan jelas oleh seluruh murid?
  • Bagaimana respons murid saat menjawab pertanyaan identifikasi isi cerita melalui permainan tanya jawab?

Murid:

  • Bagian cerita mana yang paling mudah kamu ingat ketika mendengarkan bacaan guru tadi?
  • Apakah kamu dapat menjawab semua pertanyaan tentang isi cerita dengan tepat?

Pertemuan 5 — Membaca Kata-Kata Baru Berimbuhan dengan Fasih pada Teks Cerita Inspiratif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal membaca fasih secara lisan dengan meminta perwakilan murid membaca 3 kata berimbuhan dasar di papan tulis: (1) bermain, (2) melihat, (3) makanan untuk mengidentifikasi kelancaran pelafalan tanpa mengeja (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan kutipan bacaan cerita inspiratif 'Ada Apa dengan Alif?' di papan tulis yang memuat 5 kata baru berimbuhan: (1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan (7 menit).
  • Guru memberikan pemodelan membaca fasih kelima kata baru berimbuhan tersebut kata demi kata secara langsung, lancar, tanpa jeda ragu, dan tanpa mengeja suku kata, kemudian murid menirukan secara serempak dengan penuh kesadaran pelafalan (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi berpasangan untuk memainkan tantangan membaca cepat 'Kartu Kata Meluncur', di mana setiap pasangan saling menyimak dan bergantian membaca kartu berisi 5 kata baru berimbuhan target: (1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan dengan lancar tanpa mengeja (15 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid membaca nyaring 5 kata baru berimbuhan pada lembar bacaan di hadapan guru secara bergiliran untuk dinilai kefasihannya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan proses membaca kata-kata berimbuhan tadi, mengidentifikasi kata mana yang paling mudah dibaca langsung dan kata mana yang masih membutuhkan latihan kelancaran (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian kefasihan membaca seluruh murid dan menyampaikan penguatan pentingnya kelancaran membaca kata baru (7 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan membaca kata berimbuhan dengan bantuan pemenggalan morfem visual sementara (ber-sa-ha-bat), sedangkan murid yang sudah mahir membaca daftar tambahan 5 kata berimbuhan yang lebih panjang: (1) memperhatikan, (2) menyelesaikan, (3) memperjuangkan, (4) keberhasilan, (5) membanggakan.
  • Proses: Bimbingan langsung perorangan oleh guru saat membaca mandiri untuk murid yang masih terbata-bata, sementara murid mahir membaca mandiri secara bergantian berpasangan.
  • Produk: Kriteria ketercapaian disesuaikan berdasarkan jumlah kata yang mampu dibaca fasih secara langsung tanpa mengeja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan membaca cepat 3 kata berimbuhan sederhana di papan tulis: (1) bermain, (2) melihat, (3) makanan. Indikator kesiapan: murid mampu melafalkan kata langsung secara utuh dan lancar tanpa mengeja suku kata.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja membaca lisan 5 kata baru berimbuhan dari bacaan cerita inspiratif: (1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan. Acuan kefasihan: dibaca lancar langsung seketika, tanpa mengeja, tanpa jeda ragu lebih dari 3 detik, dan tanpa pengulangan kata.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman membaca di akhir sesi: murid membaca ulang secara acak 2 kata yang ditunjuk guru dari daftar 5 kata target: (1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan. Acuan keberhasilan: kedua kata yang ditunjuk dibaca tepat dan fasih tanpa mengeja.

Formatif:

  • Unjuk kerja membaca nyaring 5 kata baru berimbuhan pada bacaan cerita inspiratif menggunakan lembar observasi kefasihan membaca.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan Membaca Kata Baru BerimbuhanMembaca 0–1 dari 5 kata target ((1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan) secara fasih, masih mengeja suku kata terbata-bata.Membaca 2–3 dari 5 kata target ((1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan) secara fasih tanpa mengeja.Membaca 4 dari 5 kata target ((1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan) secara fasih langsung tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu.Membaca seluruh (5) kata target ((1) bersahabat, (2) mendekati, (3) merawat, (4) kesulitan, (5) membagikan) secara fasih seketika, lancar tanpa mengeja, tanpa pengulangan, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 70 menit mencukupi bagi setiap murid untuk unjuk kerja membaca lisan secara bergiliran?
  • Metode pemodelan apa yang paling efektif membantu murid yang masih mengeja kata berimbuhan?

Murid:

  • Kata berimbuhan mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu baca langsung?
  • Apa yang membantumu bisa membaca kata-kata baru tadi dengan lancar?

Pertemuan 6 — Membaca Nyaring Kata-Kata Baru dalam Kalimat Cerita Inspiratif secara Terbimbing — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membaca nyaring kata-kata baru dalam kalimat cerita inspiratif secara terbimbing (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menunjukkan 2 kartu kata target yaitu 'bersemangat' dan 'kegagalan', lalu meminta 3 orang perwakilan murid melafalkannya secara bergantian (acuan: pelafalan lancar tanpa terbata-bata/mengeja: 'bersemangat', 'kegagalan') (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memodelkan membaca nyaring 4 kalimat kutipan cerita inspiratif dengan artikulasi jelas dan lancar pada kata-kata baru yang dicetak tebal: (1) Alif merasa bersemangat mencoba membuat layang-layang; (2) Ia menghadapi rintangan saat talinya putus di udara; (3) Pengalaman itu memberinya keberanian untuk mencoba lagi; (4) Usahanya berhasil berkat ketekunan setiap sore (10 menit).
  • Murid menyimak permodelan guru secara berkesadaran dan menirukan pelafalan 4 kata baru tersebut ('bersemangat', 'rintangan', 'keberanian', 'ketekunan') secara bersama-benar tanpa mengeja (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid bermain tantangan 'Estafet Kalimat Inspiratif' secara berpasangan: setiap meja menerima lembar berisi 4 kalimat yang memuat kata baru: (1) Alif tidak putus asa melewati rintangan; (2) Rani menunjukkan keberanian saat tampil; (3) Ketekunan berlatih membuat Ken makin mahir; (4) Anak yang bersemangat pasti pantang menyerah. Murid bergiliran membaca nyaring tiap kalimat tersebut dengan bimbingan dan koreksi langsung dari guru bila terjadi keraguan membaca (15 menit).
  • Guru berkeliling membimbing murid satu per satu untuk membaca nyaring kalimat uji mandiri yang memuat 4 kata baru: (1) 'bersemangat', (2) 'rintangan', (3) 'keberanian', dan (4) 'ketekunan' (acuan kefasihan: terbaca lancar, tanpa mengeja suku kata, tanpa terhenti lebih dari 3 detik) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan kata-kata baru mana yang paling mudah dibaca nyaring dan kata mana yang masih membutuhkan bantuan bimbingan (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan kegiatan hari ini bahwa membaca kata-kata baru dalam kalimat menjadi lebih lancar jika dilatih secara teratur (5 menit).
  • Guru memberikan tindak lanjut untuk terus melatih membaca kalimat di rumah dan menutup pelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu kalimat dengan penandaan warna pemenggalan suku kata pada 4 kata baru ('ber-se-ma-ngat', 'rin-ta-ngan', 'ke-be-ra-ni-an', 'ke-te-ku-nan') bagi murid yang membutuhkan pendampingan membaca.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung (guided reading) secara bertahap bagi murid yang masih terbata-bata, sedangkan murid yang sudah lancar diberikan kesempatan membaca kalimat tantangan tambahan yang memuat variasi kata berimbuhan tersebut secara mandiri.
  • Produk: Unjuk kerja lisan membaca nyaring 4 kalimat cerita inspiratif secara langsung di hadapan guru.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes lisan diagnostik di awal pembelajaran: Murid melafalkan 2 kata target pada kartu: (1) 'bersemangat', (2) 'kegagalan'. Acuan ketercapaian: murid melafalkan kedua kata secara utuh tanpa mengeja.

Proses:

  • Observasi unjuk kerja membaca nyaring 4 kalimat pada lembar aktivitas terbimbing. Target 4 kata baru yang diamati kefasihannya: (1) 'bersemangat', (2) 'rintangan', (3) 'keberanian', (4) 'ketekunan'. Acuan penilaian: fasih = dilafalkan tepat tanpa jeda ragu, tanpa mengeja suku kata, dan tanpa mengulang pelafalan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman membaca mandiri di akhir kegiatan: Murid membaca 1 kalimat pilihan guru: 'Ketekunan dan keberanian Alif melenyapkan semua rintangan' (acuan: kata 'ketekunan', 'keberanian', dan 'rintangan' dibaca fasih dan benar tanpa mengulang).

Formatif:

  • Unjuk kerja lisan membaca nyaring kalimat cerita inspiratif dengan fokus kefasihan melafalkan 4 kata baru target ('bersemangat', 'rintangan', 'keberanian', 'ketekunan').

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan membaca kata-kata baru dalam kalimatMembaca dengan mengeja per suku kata atau terhenti lebih dari 3 detik pada seluruh kata baru target ('bersemangat', 'rintangan', 'keberanian', 'ketekunan').Mampu membaca 1-2 kata baru target dalam kalimat dengan fasih tanpa mengeja, namun masih terbata-bata pada kata lainnya.Mampu membaca 3 kata baru target dalam kalimat dengan fasih (lancar, tanpa mengeja, tanpa jeda ragu).Mampu membaca seluruh (4 dari 4) kata baru target ('bersemangat', 'rintangan', 'keberanian', 'ketekunan') dalam kalimat secara fasih, lancar, dan mandiri tanpa mengulang.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Bagian kata baru mana yang paling sering membuat murid mengeja saat membaca kalimat?
  • Apakah bimbingan membaca terbimbing berjalan efektif meningkatkan kelancaran membaca murid?

Murid:

  • Kata baru apa yang paling lancar kamu baca dalam kalimat tadi?
  • Apakah kamu merasa terbantu ketika membaca bersama teman sebangku?

Pertemuan 7 — Membaca Kata-Kata Baru Bertanda Baca secara Fasih dengan Intonasi Tepat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kelancaran membaca kata-kata baru dalam kalimat bertanda baca dari cerita inspiratif (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjuk 2 kartu kata baru bertanda baca di papan tulis: 'bertekad,' dan 'bersemangat!' lalu meminta murid membacanya secara langsung tanpa mengeja (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memodelkan cara membaca 4 kalimat cerita inspiratif yang memuat 4 kata baru bertanda baca: (1) 'Alif bertekad, ia tidak akan menyerah.' (2) 'Mengapa Ken merasa terharu?' (3) 'Murid-murid bersorak gembira!' (4) 'Ibu guru bangga melihat perjuangannya.' Guru mencontohkan pelafalan kata baru secara fasih, jelas, tanpa tersendat atau mengeja (10 menit).
  • Murid bersama-sama menirukan pelafalan 4 kata baru tersebut secara serempak: 'bertekad,' (dengan jeda koma), 'terharu?' (tanya), 'bersorak' (seru), 'perjuangannya.' (titik) dengan artikulasi yang tepat (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru membagikan lembar bacaan cuplikan cerita inspiratif yang memuat 5 kata baru bertanda baca: (1) 'bertekad,' (2) 'terharu?' (3) 'bersorak!' (4) 'perjuangannya.' (5) 'mengagumi,' (5 menit).
  • Murid memainkan tantangan 'Estafet Membaca Fasih' secara berpasangan: murid bergantian membaca nyaring kalimat yang memuat kelima kata baru bertanda baca tersebut secara langsung, lancar, tanpa mengeja suku kata, dan tanpa mengulang (15 menit).
  • Guru berkeliling melakukan asesmen proses dengan menyimak setiap murid membaca kelima kata baru target tersebut pada teks cerita secara langsung (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan pengalaman membaca kata baru: kata mana yang paling mudah dibaca langsung dan kata mana yang tadi sempat membuat ragu saat dibaca (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan apresiasi atas kemandirian murid dalam melafalkan kata-kata baru secara fasih (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen akhir berupa cek cepat kefasihan membaca 1 kata baru acak kepada perwakilan murid sebelum kelas diakhiri (5 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks dengan cetak tebal pada 5 kata baru target; murid yang sudah mahir membaca teks cerita lengkap tanpa penanda visual.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan membaca secara berulang bersama guru sebelum membaca mandiri; murid mahir langsung membaca kalimat beruntun dalam sekali coba.
  • Produk: Semua murid menunjukkan kefasihan membaca lisan 5 kata baru bertanda baca pada teks cerita.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik membaca lisan 2 kartu kata baru bertanda baca di papan tulis: (1) 'bertekad,' dan (2) 'bersemangat!' (Acuan ketercapaian: murid langsung membaca utuh kata tersebut tanpa mengeja suku kata b-e-r-t-e-k-a-d dan tanpa jeda ragu lebih dari 3 detik).

Proses:

  • Pengamatan membaca lisan 5 kata baru bertanda baca dalam lembar bacaan cuplikan cerita: (1) 'bertekad,' (2) 'terharu?' (3) 'bersorak!' (4) 'perjuangannya.' (5) 'mengagumi,' (Acuan fasih: melafalkan kata secara langsung, utuh, tanpa mengulang, dan tanpa jeda mengeja).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir membaca lisan cepat 1 kalimat yang memuat kata baru: 'Ken mengagumi ketekunan sahabatnya.' (Acuan jawaban benar: kata 'mengagumi' dilafalkan fasih dan tepat tanpa terbata-bata).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja membaca lisan 5 kata baru bertanda baca pada teks cerita secara individu/berpasangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan Membaca Kata BaruMembaca 5 kata baru bertanda baca ('bertekad,', 'terharu?', 'bersorak!', 'perjuangannya.', 'mengagumi,') masih mengeja suku demi suku kata dan banyak jeda ragu.Membaca 2-3 dari 5 kata baru bertanda baca target secara fasih tanpa mengeja, namun masih dibimbing guru pada kata lainnya.Membaca 4 dari 5 kata baru bertanda baca target secara fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu secara mandiri.Membaca seluruh (5 dari 5) kata baru bertanda baca target ('bertekad,', 'terharu?', 'bersorak!', 'perjuangannya.', 'mengagumi,') secara fasih, lancar tanpa mengeja, dan tanpa mengulang secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah mampu melafalkan kelima kata baru bertanda baca tanpa mengeja suku katanya?
  • Bagian mana dari aktivitas estafet membaca yang paling efektif meningkatkan kelancaran membaca murid?

Murid:

  • Kata baru mana yang menurutmu paling mudah dibaca secara langsung tanpa tersendat?
  • Apakah kamu merasa lebih lancar membaca setelah berlatih bersama pasanganmu hari ini?

Pertemuan 8 — Membaca Fasih Paragraf Cerita Inspiratif yang Memuat Kata-Kata Baru secara Mandiri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan cerita inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama serta memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kemandirian membaca fasih paragraf cerita inspiratif yang memuat kata-kata baru (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik membaca cepat 3 kata sasaran di papan tulis secara individual bergantian: 'kegigihan', 'keteladanan', 'pantang' (acuan kefasihan: dibaca langsung tanpa mengeja suku kata, tanpa jeda ragu lebih dari 3 detik) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan teks paragraf inspiratif di layar/papan tulis: 'Alif menunjukkan kegigihan yang luar biasa saat berlatih. Sikap pantang menyerah membuatnya mampu mengatasi kesulitan. Sikap Alif menjadi keteladanan bagi teman-temannya di sekolah.' (5 menit).
  • Guru mendemonstrasikan pelafalan fasih pada 3 kata baru berimbuhan/kata serapan ('kegigihan', 'pantang', 'keteladanan') di dalam alur kalimat paragraf, lalu murid mengamati pelafalan yang utuh tanpa jeda mengeja (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memainkan permainan 'Kartu Detektif Kata': secara bergantian murid mengambil satu kartu acak dari 4 kartu yang disediakan ('kegigihan', 'keteladanan', 'pantang', 'mengatasi') dan membacanya seketika dengan fasih dalam hitungan 3 detik di hadapan kelas (10 menit).
  • Guru membagikan lembar bacaan mandiri berisi paragraf cerita inspiratif: 'Rani memiliki kegigihan luar biasa dalam merawat buku tua milik kakek. Ia pantang berputus asa meski halaman buku mulai robek. Rani berusaha mengatasi setiap kerusakan dengan hati-hati. Tindakan Rani memberikan keteladanan nyata tentang kepedulian.' (5 menit).
  • Setiap murid secara mandiri membaca nyaring paragraf tersebut satu per satu di meja masing-masing atau di depan guru, sementara guru mencatat kefasihan membaca 4 kata baru sasaran: 'kegigihan', 'pantang', 'mengatasi', 'keteladanan' (acuan ketercapaian: dibaca fasih, tanpa mengeja suku kata, tanpa jeda ragu, dan tanpa mengulang kata) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menandai kartu kontrol membaca pribadi dengan memberi tanda centang hijau jika sudah membaca keempat kata baru secara fasih dan lancar tanpa mengeja (5 menit).
  • Murid menceritakan pengalaman belajarnya mengenai strategi mengenali bentuk kata panjang agar tidak tersendat saat membaca paragraf secara mandiri (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian membaca fasih seluruh murid secara mandiri (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan teks paragraf dengan penandaan visual (penebalan huruf) pada kata-kata baru, sedangkan murid yang mahir membaca paragraf dengan ukuran teks standar.
  • Proses: Murid yang masih mengeja diberikan kesempatan latihan membaca suku kata terbimbing sebelum membaca utuh, sementara murid yang sudah fasih langsung membaca mandiri dengan tempo yang wajar.
  • Produk: Seluruh murid dinilai dari kefasihan membaca kata-kata baru pada paragraf (keberhasilan membaca tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Membaca cepat 3 kata tunggal sasaran di papan tulis: (1) 'kegigihan', (2) 'pantang', (3) 'keteladanan' (acuan ketercapaian: murid mampu membaca kata tersebut seketika tanpa mengeja suku kata per suku kata dan tanpa jeda ragu lebih dari 3 detik).

Proses:

  • Unjuk kerja membaca paragraf mandiri untuk menilai kefasihan 4 kata baru sasaran: (1) 'kegigihan', (2) 'pantang', (3) 'mengatasi', (4) 'keteladanan' (acuan penskoran: dibaca benar sesuai bentuk kata, tanpa mengeja fonem/suku kata, tanpa mengulang kata, dan tanpa jeda ragu).

Akhir Pertemuan:

  • Cek kefasihan mandiri membaca kalimat penutup: 'Keteladanan Alif dan Rani pantang kita lupakan karena kegigihan mereka patut dicontoh.' (acuan ketercapaian: seluruh 3 kata sasaran yaitu 'keteladanan', 'pantang', dan 'kegigihan' dilafalkan fasih tanpa mengeja).

Formatif:

  • Kuis membaca cepat kartu kata individual
  • Pengamatan unjuk kerja membaca fasih paragraf mandiri menggunakan rubrik kefasihan kata baru

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kefasihan Membaca Kata-Kata Baru dalam ParagrafMembaca 4 kata sasaran ('kegigihan', 'pantang', 'mengatasi', 'keteladanan') dengan mengeja suku kata per suku kata dan jeda ragu panjang pada lebih dari 2 kata.Membaca 2 dari 4 kata sasaran ('kegigihan', 'pantang', 'mengatasi', 'keteladanan') secara fasih tanpa mengeja, namun 2 kata lainnya masih dieja atau diulang.Membaca 3 dari 4 kata sasaran ('kegigihan', 'pantang', 'mengatasi', 'keteladanan') secara fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu.Membaca seluruh (4 dari 4) kata sasaran ('kegigihan', 'pantang', 'mengatasi', 'keteladanan') secara fasih tanpa mengeja, tanpa jeda ragu, dan tanpa mengulang secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah mencapai kemandirian dalam melafalkan kata-kata baru tanpa mengeja saat membaca paragraf?
  • Bagian kata manakah yang paling sering menimbulkan keraguan atau jeda saat dibaca oleh murid?

Murid:

  • Kata baru mana yang menurutmu paling mudah dibaca dengan lancar hari ini?
  • Apakah kamu merasa lebih percaya diri membaca paragraf panjang secara mandiri tanpa bantuan guru?

Pertemuan 9 — Menemukan Ide Pokok pada Paragraf Awal Teks Sastra Cetak 'Rani dan Buku Tua' — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.3 Menemukan ide pokok dan pesan dalam teks sastra cetak tentang pribadi inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menemukan ide pokok pada paragraf awal teks sastra cetak berjudul 'Rani dan Buku Tua' (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menampilkan contoh paragraf pemodelan di papan tulis: 'Setiap hari Minggu pagi, keluarga Danu selalu bergotong royong membersihkan rumah. Ayah mencabut rumput liar di halaman depan. Ibu sibuk menyapu lantai ruang tamu. Danu dan adiknya bertugas merapikan mainan di kamar.' Murid diminta menunjuk kalimat mana yang menjadi inti bahasan paragraf tersebut (acuan jawaban: Kalimat pertama, yaitu 'Setiap hari Minggu pagi, keluarga Danu selalu bergotong royong membersihkan rumah') (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membuka Buku Siswa membaca teks sastra cetak 'Rani dan Buku Tua' paragraf 1 yang berbunyi: 'Sore itu, Rani membantu kakek membersihkan gudang rumahnya yang berdebu. Di pojok ruangan, ia menemukan sebuah buku tua bersampul cokelat. Saat membuka halamannya, Rani menemukan tulisan tangan nenek tentang kisahnya saat masih muda. Di dalam buku tersebut tertulis pengalaman nenek yang selalu senang membantu tetangganya.' (8 menit).
  • Guru memandu pemahaman murid tentang konsep ide pokok sebagai gagasan utama yang mendasari seluruh isi paragraf, dan menunjukkan bagaimana kalimat-kalimat lain bertindak sebagai penjelas kegiatan Rani di gudang (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan 'Detektif Ide Pokok': murid dibagikan lembar kartu kerja berisi 3 pilihan pernyataan mengenai paragraf 1 'Rani dan Buku Tua': (A) Kakek Rani memiliki gudang berdebu; (B) Rani membantu kakek membersihkan gudang rumahnya; (C) Buku tua nenek bersampul warna cokelat. Murid bertugas memilih 1 pernyataan yang tepat menjadi ide pokok paragraf 1 tersebut beserta alasannya (acuan jawaban benar: B — Rani membantu kakek membersihkan gudang rumahnya, karena memuat inti seluruh aktivitas Rani di paragraf 1) (15 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan lembar latihan menemukan ide pokok paragraf awal teks sastra cetak serupa: 'Bintang sangat gemar membaca buku cerita di perpustakaan sekolah. Setiap jam istirahat tiba, ia selalu bergegas ke sana. Ia meminjam buku petualangan dan membacanya dengan tenang di sudut ruang baca.' Murid menuliskan ide pokok paragraf tersebut pada lembar kerja (acuan jawaban benar: Bintang sangat gemar membaca buku cerita di perpustakaan sekolah / Bintang gemar membaca buku cerita di perpustakaan) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil latihan mandiri dan mengidentifikasi bagian mana yang masih membuat ragu dalam membedakan ide pokok dengan rincian penjelas (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian murid dalam menemukan ide pokok teks sastra cetak (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa ide pokok adalah inti cerita dalam sebuah paragraf yang didukung oleh kalimat-kalimat penjelas, lalu menutup pelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu teks dengan kalimat utama yang diberi garis bawah samar bagi murid yang membutuhkan panduan visual.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung pada murid yang kesulitan membedakan rincian kalimat penjelas dengan ide pokok; murid yang sudah mahir diberikan paragraf teks sastra cetak tambahan tanpa petunjuk visual.
  • Produk: Murid dapat menuliskan ide pokok secara lengkap atau menyalin frasa kunci yang mewakili ide pokok paragraf awal teks.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik menemukan kalimat yang menjadi inti bahasan pada paragraf pemodelan keluarga Danu (acuan: Kalimat pertama: 'Setiap hari Minggu pagi, keluarga Danu selalu bergotong royong membersihkan rumah')

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan memilih ide pokok paragraf 1 teks 'Rani dan Buku Tua' pada kartu tantangan berpasangan/mandiri (acuan: Pilihan B — Rani membantu kakek membersihkan gudang rumahnya)
  • Pemeriksaan lembar latihan mandiri menemukan ide pokok paragraf cerita Bintang (acuan: Bintang sangat gemar membaca buku cerita di perpustakaan sekolah)

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat lisan/tulis di akhir sesi: menentukan inti bahasan paragraf penutup singkat 'Rani berjanji dalam hati untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun.' (acuan jawaban: Janji Rani untuk selalu berbuat baik)

Formatif:

  • Tes tertulis objektif menemukan ide pokok dari pilihan yang disediakan pada tantangan 'Detektif Ide Pokok'
  • Kinerja mandiri menemukan dan menuliskan kalimat ide pokok pada paragraf awal teks sastra cetak

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan ide pokok paragraf teks sastra cetakBelum mampu menemukan ide pokok pada paragraf teks sastra cetak (salah memilih/menuliskan rincian penjelas sebagai ide pokok).Mampu menemukan ide pokok pada paragraf teks sastra cetak dengan bimbingan penuh guru.Mampu menemukan ide pokok pada paragraf teks sastra cetak secara tepat dan mandiri sesuai acuan jawaban.Mampu menemukan ide pokok pada paragraf awal teks sastra cetak secara mandiri, tepat, konsisten pada teks utama maupun teks latihan pengayaan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi pemodelan dan permainan 'Detektif Ide Pokok' membantu murid membedakan gagasan utama dan rincian penjelas secara efektif?
  • Berapa persen murid yang telah mampu menemukan ide pokok paragraf awal secara mandiri tanpa bimbingan?

Murid:

  • Apa yang aku lakukan untuk menemukan kalimat yang menjadi ide pokok dalam sebuah paragraf?
  • Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling membantuku memahami isi cerita?

Pertemuan 10 — Menemukan Ide Pokok dan Ide Pendukung dalam Paragraf Teks Sastra Cetak — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.3 Menemukan ide pokok dan pesan dalam teks sastra cetak tentang pribadi inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memimpin doa pembuka (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menampilkan 1 paragraf pendek di papan tulis: 'Kita harus selalu bangun pagi. Kita selalu merapikan tempat tidur. Setelah itu, kita berolahraga.' lalu meminta murid menunjukkan mana kalimat gagasan utama dan mana kalimat penjelas (acuan: ide pokok = 'Kita harus selalu bangun pagi'; ide pendukung = 'Kita selalu merapikan tempat tidur' dan 'Setelah itu, kita berolahraga') (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menemukan ide pokok dan ide pendukung dari paragraf teks cerita cetak (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati pemodelan guru tentang konsep ide pokok (pikiran utama paragraf) dan ide pendukung (kalimat yang menerangkan atau memperjelas pikiran utama) pada paragraf teks cerita cetak 'Kartini Pejuang Perempuan' (7 menit).
  • Murid bersama guru menganalisis paragraf teladan: 'Kartini adalah anak yang tekun belajar. Setiap hari ia membaca banyak buku di kamarnya. Ia juga rajin mencatat hal-hal baru di buku tulis.' untuk menemukan ide pokok dan 2 ide pendukungnya (acuan: ide pokok = Kartini anak yang tekun belajar; ide pendukung 1 = Setiap hari ia membaca banyak buku di kamarnya; ide pendukung 2 = Ia juga rajin mencatat hal-hal baru di buku tulis) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan kartu detektif ide 'Temukan Pasanganku': murid menerima lembar paragraf cerita cetak tentang Alif: 'Alif adalah anak yang tidak mudah putus asa. Saat sepedanya rusak, ia terus mencoba memperbaikinya sendiri. Walaupun tangannya kotor terkena oli, ia tetap tersenyum dan tidak berhenti mencoba.' lalu murid menempelkan kartu label 'Ide Pokok' pada kalimat utama dan kartu label 'Ide Pendukung' pada kalimat penjelas (acuan: kartu Ide Pokok pada kalimat 1; kartu Ide Pendukung pada kalimat 2 dan 3) (10 menit).
  • Murid secara mandiri membaca kutipan teks cetak 'Rani dan Buku Tua' pada LKPD yang memuat 1 paragraf: 'Rani sangat menyayangi buku tua pemberian kakeknya. Ia membungkus sampul buku itu dengan plastik bening yang rapi. Rani selalu meletakkan buku itu di rak paling atas agar tidak rusak.' lalu menuliskan tepat 1 ide pokok dan 2 ide pendukung pada bagan yang disediakan (acuan: ide pokok = Rani sangat menyayangi buku tua pemberian kakeknya; ide pendukung 1 = Ia membungkus sampul buku itu dengan plastik bening yang rapi; ide pendukung 2 = Rani selalu meletakkan buku itu di rak paling atas agar tidak rusak) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil pekerjaannya secara mandiri dengan memeriksa apakah kalimat yang dipilih sebagai ide pendukung benar-benar menjelaskan ide pokok yang telah ditentukan (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap langkah-langkah menemukan ide pokok dan ide pendukung dalam paragraf teks sastra cetak (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan cara membedakan ide pokok dan ide pendukung dalam paragraf teks cetak (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat (2 menit).
  • Guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya (menemukan pesan moral teks cetak) dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks paragraf dengan kalimat ide pokok yang sudah diberi garis bawah panduan, sedangkan murid mahir diberikan teks paragraf tanpa tanda bantu visual.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu menemukan ide pendukung dengan pertanyaan penuntun 'kalimat mana yang membuktikan ide pokok tersebut?', sedangkan murid mahir langsung menuliskan temuan secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menuliskan ide pendukung dalam bagan peta pikiran sederhana atau melengkapi kolom tabel isian yang disediakan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Guru menampilkan paragraf: 'Kita harus selalu bangun pagi. Kita selalu merapikan tempat tidur. Setelah itu, kita berolahraga.' Murid diminta menunjuk kalimat gagasan utama dan kalimat penjelas. Acuan jawaban benar: Ide pokok = 'Kita harus selalu bangun pagi'; Ide pendukung = 'Kita selalu merapikan tempat tidur' dan 'Setelah itu, kita berolahraga'.

Proses:

  • Observasi pengerjaan mandiri LKPD teks 'Rani dan Buku Tua'. Acuan penilaian LKPD: (1) Ide pokok tepat jika menuliskan 'Rani sangat menyayangi buku tua pemberian kakeknya' atau intinya; (2) Ide pendukung 1 tepat jika menuliskan 'Ia membungkus sampul buku itu dengan plastik bening yang rapi'; (3) Ide pendukung 2 tepat jika menuliskan 'Rani selalu meletakkan buku itu di rak paling atas agar tidak rusak'.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Guru membacakan satu kalimat: 'Budi anak yang rajin merawat tanaman.' Guru bertanya apakah kalimat tersebut lebih cocok menjadi ide pokok atau ide pendukung jika kalimat berikutnya berbunyi 'Setiap sore ia menyiram bunga mawar di halaman.' (Acuan jawaban benar: Kalimat pertama adalah ide pokok, kalimat kedua adalah ide pendukung).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan LKPD menemukan ide pokok dan ide pendukung pada teks sastra cetak menggunakan rubrik analitis

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan Ide Pokok dalam Paragraf Teks Sastra CetakBelum mampu menemukan kalimat ide pokok pada paragraf teks sastra cetak 'Rani dan Buku Tua' (jawaban salah atau kosong).Menemukan bagian kalimat ide pokok tetapi masih tercampur dengan kalimat pendukung.Menemukan ide pokok paragraf dengan tepat sesuai acuan ('Rani sangat menyayangi buku tua pemberian kakeknya') dengan sedikit bantuan guru.Menemukan ide pokok paragraf secara tepat sesuai acuan ('Rani sangat menyayangi buku tua pemberian kakeknya') secara mandiri tanpa bantuan.
Menemukan Ide Pendukung dalam Paragraf Teks Sastra CetakBelum mampu menemukan kalimat ide pendukung pada paragraf teks sastra cetak (tidak ada kalimat pendukung yang tepat).Hanya mampu menemukan 1 dari 2 ide pendukung yang tepat sesuai acuan.Mampu menemukan seluruh (2 dari 2) ide pendukung sesuai acuan ('Ia membungkus sampul buku itu dengan plastik bening yang rapi' dan 'Rani selalu meletakkan buku itu di rak paling atas agar tidak rusak') dengan sedikit bimbingan.Mampu menemukan seluruh (2 dari 2) ide pendukung sesuai acuan secara tepat dan mandiri tanpa bimbingan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks paragraf cetak yang dipilih sudah memiliki struktur ide pokok dan ide pendukung yang jelas bagi murid kelas 3?
  • Bagian mana dari langkah bimbingan yang paling membantu murid membedakan ide utama dan kalimat penjelas?

Murid:

  • Apa tanda yang paling mudah membantumu menemukan ide pokok dalam sebuah paragraf?
  • Apakah kamu sudah bisa membedakan mana kalimat utama dan mana kalimat penjelas?

Pertemuan 11 — Menemukan Pesan Moral dalam Teks Sastra Cetak Cerita Pribadi Inspiratif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.3 Menemukan ide pokok dan pesan dalam teks sastra cetak tentang pribadi inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menemukan pesan moral (pelajaran baik) dari teks cerita sastra cetak tentang tokoh inspiratif (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik awal dengan membacakan satu kutipan cerita pendek: 'Meskipun kakinya sakit sehabis terjatuh, Wayan tetap bangkit dan mengantar adiknya pulang dengan selamat.' Guru mengajukan pertanyaan: 'Pelajaran baik apa yang bisa kita petik dari sikap Wayan?' (Acuan jawaban benar: Kita harus bertanggung jawab / pantang menyerah / peduli menolong sesama walau menghadapi kesulitan) untuk memetakan kesiapan murid dalam menangkap pesan cerita (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca dalam hati teks sastra cetak pendek berjudul 'Kegigihan Made si Perajin Cilik' yang dibagikan guru (teks menceritakan Made yang berulang kali gagal menganyam bambu, namun terus mencoba hingga berhasil membuat keranjang yang kuat dan membantu orang tuanya) (8 menit).
  • Guru memberikan penjelasan konsep bahwa pesan moral adalah ajaran atau nasihat kebaikan dalam cerita yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat ditemukan dengan mencermati tindakan terpuji tokoh dan akibat baiknya (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tebak Tepat Pesan Cerita' di mana setiap pasangan menerima 4 kartu pernyataan pesan moral berikut: (1) 'Kita harus mudah putus asa jika karya pertama rusak', (2) 'Kita perlu tekun berlatih dan tidak menyerah saat menghadapi kesulitan', (3) 'Kita sebaiknya membantu pekerjaan orang tua dengan tulus', (4) 'Kita tidak perlu memedulikan nasihat orang tua'. Pasangan murid memilih 2 kartu yang merupakan pesan moral tepat sesuai teks Made (Acuan: kartu 2 dan 3 adalah pesan yang sesuai; kartu 1 dan 4 tidak sesuai) (10 menit).
  • Secara mandiri, murid membaca teks sastra cetak kedua berjudul 'Langkah Pasti Nurul' (teks menceritakan Nurul yang rajin meminjam buku ensiklopedia di perpustakaan desa dan sabar mengajari teman-temannya yang kesulitan membaca) lalu mengerjakan Lembar Kerja Menemukan Pesan Moral berisi 4 butir pernyataan untuk ditentukan kesesuaiannya: (1) 'Rajin membaca menambah pengetahuan kita' [Sesuai], (2) 'Membantu teman belajar adalah perbuatan terpuji' [Sesuai], (3) 'Menyimpan buku perpustakaan untuk diri sendiri tanpa dikembalikan' [Tidak Sesuai], (4) 'Mudah bosan ketika belajar bersama teman' [Tidak Sesuai] (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis pesan moral pada teks 'Langkah Pasti Nurul' dan menyadari pentingnya meneladani tindakan positif tokoh cerita (12 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru merangkum cara menemukan pesan moral dari teks sastra cetak, yaitu dengan mengamati perilaku terpuji tokoh dan hasil baik yang didapatkannya (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar murid hari ini, menyampaikan rencana pembelajaran membaca pertemuan berikutnya, dan menutup pelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks cetak dengan kalimat inti tindakan tokoh yang telah digarisbawahi; murid yang lebih cepat diberikan teks cerita cetak dengan alur peristiwa yang lebih panjang.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menentukan pesan didampingi langsung oleh guru dengan memandu pertanyaan penuntun 'Apa perbuatan baik tokoh?', sedangkan murid yang sudah mahir menganalisis lembar kerja secara mandiri.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan mencentang pilihan pesan moral yang sesuai pada tabel, sedangkan murid mahir menuliskan kembali kalimat pesan moral hasil temuannya secara lengkap.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Pelajaran baik apa yang bisa kita petik dari sikap Wayan yang tetap bangkit mengantar adiknya meski kakinya sakit?' (Acuan jawaban: Bertanggung jawab, pantang menyerah, atau peduli menolong adik/orang lain walau sedang sakit/sulit).

Proses:

  • Penilaian performa lembar kerja mandiri teks 'Langkah Pasti Nurul' yang terdiri atas 4 butir penentuan kesesuaian pesan moral: (1) 'Rajin membaca menambah pengetahuan kita' -> Sesuai; (2) 'Membantu teman belajar adalah perbuatan terpuji' -> Sesuai; (3) 'Menyimpan buku perpustakaan untuk diri sendiri tanpa dikembalikan' -> Tidak Sesuai; (4) 'Mudah bosan ketika belajar bersama teman' -> Tidak Sesuai. Murid dinilai berdasarkan jumlah ketepatan menentukan status ke-4 butir tersebut.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan akhir pemahaman secara tertulis singkat: Murid menentukan 1 pesan utama dari teks 'Kegigihan Made si Perajin Cilik' dari 2 pilihan yang disediakan: A. Menyerah saat anyaman pertama gagal, B. Terus berusaha dan tekun hingga anyaman berhasil (Acuan kunci: Pilihan B).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik pesan moral di awal pembelajaran
  • Observasi unjuk kerja permainan berpasangan mencocokkan kartu pesan moral
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri penentuan kesesuaian pesan moral teks 'Langkah Pasti Nurul'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menemukan Pesan Moral dalam Teks Sastra CetakTepat menentukan 1 dari 4 butir pernyataan pesan moral sesuai acuan lembar kerja teks 'Langkah Pasti Nurul'.Tepat menentukan 2 dari 4 butir pernyataan pesan moral sesuai acuan lembar kerja teks 'Langkah Pasti Nurul'.Tepat menentukan 3 dari 4 butir pernyataan pesan moral sesuai acuan lembar kerja teks 'Langkah Pasti Nurul'.Tepat menentukan seluruh 4 dari 4 butir pernyataan pesan moral sesuai acuan lembar kerja teks 'Langkah Pasti Nurul' secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks bacaan sastra cetak yang dipilih memudahkan murid mengenali pesan moral tokoh inspiratif?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama permainan mencocokkan kartu pesan moral berpasangan?

Murid:

  • Apa hal baru yang kamu pelajari tentang cara menemukan pesan kebaikan dari sebuah cerita?
  • Pesan moral mana dari tokoh cerita hari ini yang ingin kamu lakukan di rumah atau sekolah?

Pertemuan 12 — Menemukan Ide Pokok dan Pesan Cerita Cetak secara Komprehensif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.3 Menemukan ide pokok dan pesan dalam teks sastra cetak tentang pribadi inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru mengecek kesiapan belajar dan melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 1 kalimat paragraf pendek: 'Made rajin berlatih bulu tangkis setiap sore tanpa mengeluh walau lelah.' Murid diminta menentukan inti kalimat dan pelajaran baiknya (acuan jawaban: ide pokok = Made rajin berlatih bulu tangkis; pesan = kita harus tekun dan pantang menyerah saat berlatih) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menemukan ide pokok tiap paragraf dan pesan moral secara utuh (komprehensif) dalam teks cerita sastra cetak 'Buku untuk Bintang' (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks sastra cetak cerita inspiratif 'Buku untuk Bintang' yang terdiri atas 3 paragraf pada lembar bacaan masing-masing (5 menit).
  • Guru memandu murid menelaah Paragraf 1 untuk membedakan kalimat utama yang memuat gagasan pokok dan kalimat penjelas (acuan Paragraf 1: teks menceritakan Bintang yang setiap pulang sekolah singgah mengamati buku di kios pasar karena gemar membaca; ide pokok = Bintang memiliki kegemaran membaca yang kuat) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan tantangan seru 'Detektif Ide dan Pesan': murid menerima kartu petunjuk tantangan dan secara berpasangan menandai kalimat inti pada Paragraf 2 serta Paragraf 3 pada teks cetak (acuan Paragraf 2: Bintang tekun menabung uang sakunya selama dua bulan untuk membeli buku ensiklopedia impian -> ide pokok = Perjuangan Bintang menabung demi membeli buku impian; Paragraf 3: Penjual buku memberi potongan harga karena kagum pada kegigihan Bintang -> ide pokok = Kegigihan Bintang mendapat penghargaan dari penjual buku) (10 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid menuliskan ide pokok ketiga paragraf dan menemukan 2 pesan cerita secara komprehensif pada Lembar Analisis Cerita (acuan pesan cerita yang dapat diterima: (1) Kita harus tekun berusaha dan berhemat untuk meraih hal yang diinginkan; (2) Kejujuran dan kegigihan akan dihargai serta dibantu oleh orang lain) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan hasil temuan ide pokok dan pesan ceritanya dengan acuan konfirmasi di papan tulis untuk mengukur ketepatan pemahamannya sendiri (7 menit).
  • Murid menandai aspek mana yang paling mudah dan paragraf mana yang membutuhkan ketelitian lebih saat menemukan ide pokok (3 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan cara menemukan ide pokok (mencari gagasan utama yang dijelaskan kalimat lain) dan pesan (menemukan nasihat/pelajaran baik dari tindakan tokoh) dalam teks cerita sastra cetak (5 menit).
  • Guru menyampaikan umpan balik umum terhadap hasil lembar kerja murid, menginformasikan agenda pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks dengan cetak tebal pada kalimat utama setiap paragraf; murid yang sudah mahir membaca teks tanpa bantuan penanda visual.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan didampingi guru dengan panduan pertanyaan penuntun ('Paragraf ini membicarakan tentang apa?'); murid yang cepat bekerja mandiri menganalisis hubungan sebab-akibat antar-ide pokok.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan dapat menuliskan ide pokok dalam frasa ringkas sesuai kalimat teks; murid mahir merumuskan ide pokok dan pesan cerita menggunakan kalimat efektif sendiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 1 paragraf mini: 'Made rajin berlatih bulu tangkis setiap sore tanpa mengeluh walau lelah.' Murid diminta mengidentifikasi inti paragraf dan pesan baiknya (acuan jawaban: ide pokok = Made rajin berlatih bulu tangkis; pesan = ketekunan dan pantang menyerah dalam berusaha).

Proses:

  • Observasi formatif saat tantangan 'Detektif Ide dan Pesan' serta pemeriksaan langsung Lembar Analisis Cerita murid: ketepatan menandai ide pokok Paragraf 1 (Bintang gemar membaca buku), Paragraf 2 (perjuangan Bintang menabung uang saku), Paragraf 3 (kegigihan Bintang dihargai penjual buku), serta penemuan 2 pesan cerita (berhemat/tekun demi cita-cita dan sikap pantang menyerah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup pada Lembar Analisis Cerita: murid mengumpulkan lembar yang memuat 3 ide pokok paragraf dan 2 pesan moral teks 'Buku untuk Bintang' dengan acuan penskoran kunci jawaban.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja tertulis mandiri: ketepatan menemukan 3 ide pokok paragraf dan 2 pesan cerita dalam teks cetak 'Buku untuk Bintang'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan Ide Pokok Paragraf Teks Sastra CetakBelum mampu menemukan ide pokok paragraf secara tepat atau hanya menyalin seluruh kalimat tanpa menemukan gagasan utamanya (0-1 ide pokok tepat dari 3 paragraf: Paragraf 1 kegemaran membaca Bintang; Paragraf 2 perjuangan Bintang menabung; Paragraf 3 kegigihan Bintang diapresiasi).Mampu menemukan 2 dari 3 ide pokok paragraf dengan tepat sesuai acuan teks cerita cetak.Mampu menemukan seluruh 3 ide pokok paragraf (Paragraf 1: kegemaran membaca Bintang; Paragraf 2: perjuangan menabung; Paragraf 3: kegigihan Bintang diapresiasi) dengan tepat sesuai acuan isi cerita cetak.Mampu menemukan seluruh 3 ide pokok paragraf secara mandiri, tepat, dan merumuskannya dengan bahasa sendiri yang ringkas dan padat.
Menemukan Pesan dalam Teks Sastra CetakBelum mampu menemukan pesan moral dalam cerita atau menyebutkan hal yang tidak berkaitan dengan tindakan tokoh (0 pesan tepat).Mampu menemukan 1 pesan moral cerita dengan tepat sesuai acuan (acuan: ketekunan/berhemat demi tujuan, atau kegigihan berbuah kebaikan).Mampu menemukan 2 pesan moral cerita secara tepat dan komprehensif sesuai acuan tindakan tokoh dalam teks sastra cetak.Mampu menemukan 2 pesan moral cerita secara tepat, utuh, serta mengaitkan alasan pesan tersebut berdasarkan rangkaian peristiwa dalam cerita secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks 'Buku untuk Bintang' memberikan tingkat keterbacaan yang sesuai bagi murid kelas 3 untuk menemukan ide pokok dan pesan secara mandiri?
  • Apakah bimbingan bertahap (Memahami-Mengaplikasi-Merefleksi) efektif membantu murid yang masih kesulitan memisahkan ide pokok dari ide penjelas?

Murid:

  • Bagian mana yang paling mudah: mencari ide pokok tiap paragraf atau menyimpulkan pesan cerita?
  • Apa langkah yang akan kamu lakukan jika menemukan paragraf cerita yang kalimat utamanya sulit dicari?

Pertemuan 13 — Menceritakan Kembali Bagian Awal dan Pengenalan Tokoh Teks Sastra secara Runtut — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.4 Menceritakan kembali isi teks sastra yang dibaca tentang keteladanan tokoh secara runtut

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali bagian awal dan pengenalan tokoh dari teks cerita yang dibaca secara runtut (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan singkat dengan menanyakan: 'Pada cerita pendek Rani yang memungut sampah di halaman sekolah sebelum bel berbunyi, siapa tokoh utamanya dan apa kejadian awalnya?' (acuan jawaban benar: tokoh utama adalah Rani; kejadian awal adalah Rani memungut sampah di halaman sekolah sebelum bel berbunyi) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid membaca dalam hati teks cerita 'Buku untuk Bintang' paragraf 1 dan 2: 'Di sudut pasar yang ramai, seorang anak laki-laki bernama Bintang sering berdiri memandangi deretan buku di kios Pak Sahala. Bintang sangat gemar membaca, meskipun buku-buku itu sudah lusuh dan ia tidak memiliki uang untuk membelinya.' (7 menit).
  • Guru memandu murid membedah unsur bagian awal dan pengenalan tokoh melalui 3 pertanyaan kunci: (1) Siapa nama anak yang diperkenalkan? (acuan: Bintang), (2) Bagaimana watak atau keteladanan awalnya? (acuan: gemar membaca dan tidak memaksakan diri meski tidak punya uang), (3) Di mana kejadian awal berlangsung? (acuan: di sudut pasar / depan kios Pak Sahala) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid melakukan permainan berpasangan 'Tantangan Kartu Runtut': setiap pasangan menerima 3 kartu alur pengenalan dan mengurutkannya secara tepat: Kartu A: 'Bintang berdiri memandangi deretan buku di kios Pak Sahala di pasar ramai', Kartu B: 'Bintang sangat gemar membaca buku cerita', Kartu C: 'Bintang menyadari ia belum punya uang untuk membeli buku' (acuan urutan benar: Kartu A -> Kartu B -> Kartu C) (10 menit).
  • Secara bergantian dalam pasangan, setiap murid menceritakan kembali secara lisan bagian awal dan pengenalan tokoh 'Buku untuk Bintang' kepada pasangannya secara runtut berdasarkan urutan 3 kartu tersebut (15 menit).
  • Guru meminta 3 perwakilan murid menceritakan kembali bagian awal dan pengenalan tokoh di depan kelas secara runtut tanpa mengubah alur peristiwa (acuan: menyebut tokoh Bintang dan Pak Sahala, latar pasar/kios, kegemaran membaca Bintang, serta keadaan tidak punya uang secara berurutan) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mengevaluasi kelengkapan dan keruntutan penceritaan kembali bagian awal: apakah pengenalan tokoh sudah disampaikan sebelum peristiwa selanjutnya (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik penutup terkait keberhasilan murid menceritakan kembali pengenalan tokoh secara runtut sesuai urutan bacaan (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan bahwa menceritakan bagian awal cerita harus dimulai dari nama tokoh, keadaan tokoh, lalu kejadian awal yang dialaminya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan visual berisi kata kunci alur bagi murid yang membutuhkan bantuan urutan peristiwa.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih menceritakan kembali dengan bantuan 3 kartu terurut, sedangkan murid yang sudah mahir menceritakan kembali secara mandiri tanpa melihat kartu.
  • Produk: Penceritaan kembali lisan: murid bertahap menceritakan minimal 2 kejadian pengenalan secara berurutan, murid mahir menceritakan seluruh 3 detail kejadian awal secara runtut dan utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan: Guru membacakan cuplikan mini 'Rani memungut sampah di halaman sekolah sebelum bel berbunyi' lalu meminta murid menyebutkan tokoh dan peristiwa awal (acuan: tokoh utama adalah Rani; peristiwa awal adalah memungut sampah di halaman sekolah sebelum bel).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja menceritakan kembali bagian awal cerita 'Buku untuk Bintang' dengan acuan 3 butir penceritaan terurut: (1) Bintang di pasar memandangi kios Pak Sahala, (2) Bintang sangat gemar membaca, (3) Bintang tidak memiliki uang untuk membeli buku.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: Murid secara acak diminta menyebutkan urutan 2 hal yang wajib diceritakan saat membuka cerita narasi (acuan: menyebutkan nama tokoh/pengenalan tokoh dan situasi/kejadian awal).

Formatif:

  • Unjuk kerja lisan menceritakan kembali bagian awal dan pengenalan tokoh teks sastra 'Buku untuk Bintang' secara berpasangan dan individu.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keruntutan Menceritakan Bagian Awal dan Pengenalan TokohMenceritakan kembali bagian awal secara melompat atau terbalik urutannya dan belum memuat tokoh cerita.Menceritakan kembali bagian awal dengan menyebutkan tokoh, namun urutan 3 peristiwa pengenalan masih tertukar atau membutuhkan panduan penuh guru.Menceritakan kembali bagian awal dan pengenalan tokoh secara runtut mencakup minimal 2 dari 3 peristiwa awal (acuan: Bintang di kios pasar, gemar membaca, keterbatasan dana) secara mandiri.Menceritakan kembali bagian awal dan pengenalan tokoh secara utuh dan runtut mencakup seluruh 3 peristiwa awal (acuan: Bintang di kios pasar, gemar membaca, keterbatasan dana) secara mandiri tanpa ada alur yang terlewat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu mengurutkan kejadian pengenalan tokoh sebelum menceritakannya kembali?
  • Apakah media kartu alur efektif membantu murid menyusun jalan cerita secara runtut?

Murid:

  • Bagian mana dari pengenalan tokoh Bintang yang paling mudah kamu ingat dan ceritakan kembali?
  • Apakah kamu terbantu dengan urutan kartu saat menceritakan bagian awal cerita?

Pertemuan 14 — Menceritakan Kembali Bagian Konflik dan Keteladanan Tokoh Cerita secara Terbimbing — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.4 Menceritakan kembali isi teks sastra yang dibaca tentang keteladanan tokoh secara runtut

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid dan menyampaikan tujuan belajar menceritakan kembali bagian konflik dan keteladanan tokoh secara runtut berdasarkan teks cerita 'Buku untuk Bintang' (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menanyakan: 'Apa kesulitan yang dialami Bintang untuk mendapatkan buku bacaan?' (Acuan jawaban benar: Bintang tidak memiliki uang untuk membeli buku cerita di kios buku) (4 menit).
  • Guru bersama murid membuat kesepakatan bahwa saat menceritakan kembali, fokus yang diceritakan adalah masalah (konflik) yang dihadapi tokoh dan keteladanan sikap tokoh dalam menghadapi masalah tersebut (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid membaca kembali paragraf 1 dan 2 teks cerita 'Buku untuk Bintang' secara hening terfokus pada peristiwa saat Bintang melihat buku-buku rusak dibuang oleh pemilik kios (5 menit).
  • Guru membimbing murid mengidentifikasi 2 hal pokok menggunakan bagan alur cerita di papan tulis: bagian konflik (Bintang tidak punya uang untuk membeli buku dan harus membaca buku rusak yang dibuang di pinggir jalan) dan bagian keteladanan tokoh (semangat membaca yang pantang menyerah serta tidak malu membaca buku lusuh yang rusak demi menuntut ilmu) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan tantangan estafet berpasangan 'Tongkat Pencerita': murid memegang tongkat kertas lalu bergantian menceritakan kembali konflik tokoh, dilanjutkan pasangannya menceritakan kembali keteladanan tokoh dengan runtut (12 menit).
  • Murid secara individu dengan panduan kartu kata kunci alur (kartu 1: 'Kios Pak Sahala & ketiadaan uang'; kartu 2: 'Buku rusak yang dibuang'; kartu 3: 'Semangat pantang menyerah membaca di pinggir jalan') menceritakan kembali bagian konflik dan keteladanan tokoh di hadapan guru atau pasangannya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya memeriksa keruntutan cerita menggunakan daftar cek: (1) Apakah masalah ketiadaan uang dan buku rusak sudah diceritakan? (2) Apakah sikap pantang menyerah Bintang sudah diceritakan secara runtut? (8 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik terhadap ketepatan serta keruntutan murid dalam menceritakan kembali konflik dan keteladanan tokoh (5 menit).
  • Guru melakukan cek pemahaman akhir dan menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya murid akan melanjutkan menceritakan bagian penyelesaian cerita sebelum kelas ditutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan alur bergambar yang memuat kutipan teks konflik dan keteladanan tokoh secara langsung, sedangkan murid mahir menggunakan 3 kartu kata kunci alur.
  • Proses: Guru memberikan scaffolding berupa pertanyaan penuntun ('Apa masalahnya?', 'Lalu apa yang dilakukan Bintang?') bagi murid yang ragu, sementara murid mahir langsung menceritakan secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menghasilkan penceritaan lisan tentang konflik dan keteladanan tokoh secara runtut sesuai acuan teks.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Apa masalah yang dialami oleh tokoh Bintang dalam teks Buku untuk Bintang?' (Acuan jawaban benar: Bintang ingin membaca buku tetapi tidak memiliki uang untuk membelinya sehingga memungut buku rusak yang dibuang di pinggir jalan).

Proses:

  • Pengamatan performa berbicara saat menceritakan kembali konflik dan keteladanan tokoh secara runtut. Acuan cerita runtut memuat: (1) Konflik: Bintang ingin membaca tetapi tidak punya uang untuk membeli buku cerita, (2) Respon konflik: Bintang melihat buku rusak dibuang lalu memungutnya, (3) Keteladanan: Bintang pantang menyerah dan membaca buku tersebut di pinggir jalan dengan penuh semangat walau halamannya robek.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: 'Sebutkan 1 keteladanan tokoh Bintang saat menghadapi kesulitannya yang tadi kamu ceritakan!' (Acuan jawaban benar: Sikap pantang menyerah/semangat membaca yang tinggi walau buku sudah rusak dan tidak mampu membeli).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang konflik tokoh pada teks 'Buku untuk Bintang'
  • Pengamatan unjuk kerja menceritakan kembali bagian konflik dan keteladanan tokoh secara runtut menggunakan rubrik analitis

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan kembali bagian konflik dan keteladanan tokoh secara runtutMenceritakan kembali isi cerita namun belum memuat bagian konflik (ketiadaan uang/buku rusak) maupun keteladanan tokoh (semangat pantang menyerah membaca).Menceritakan kembali isi teks dengan memuat bagian konflik atau keteladanan tokoh, tetapi urutan peristiwanya belum runtut dan membutuhkan bimbingan penuh.Menceritakan kembali isi teks yang memuat bagian konflik (tidak punya uang untuk beli buku) dan keteladanan tokoh (pantang menyerah membaca buku rusak) secara runtut dengan sedikit bimbingan.Menceritakan kembali isi teks yang memuat bagian konflik dan keteladanan tokoh secara runtut dan lengkap tanpa bantuan guru.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kartu kata kunci alur efektif membantu murid menyusun urutan konflik dan keteladanan tokoh secara runtut?
  • Berapa persen murid yang sudah mampu membedakan bagian konflik dengan keteladanan tokoh dalam cerita?

Murid:

  • Bagian mana dari cerita Bintang yang paling mudah kamu ceritakan kembali?
  • Apakah kamu terbantu dengan adanya kartu kata kunci untuk menceritakan masalah yang dihadapi Bintang secara runtut?

Pertemuan 15 — Menceritakan Kembali Penyelesaian dan Keteladanan Tokoh Teks Sastra secara Utuh — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.4 Menceritakan kembali isi teks sastra yang dibaca tentang keteladanan tokoh secara runtut

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan memimpin doa pembuka (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali bagian penyelesaian cerita dan keteladanan tokoh dari teks 'Buku untuk Bintang' secara utuh dan runtut (2 menit).
  • Guru melakukan diagnostik awal lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan diagnostik kepada beberapa murid: (1) 'Siapa yang mengajak Bintang masuk membaca di kios?' (acuan: Pak Sahala); (2) 'Bagaimana perasaan Bintang saat membaca buku baru?' (acuan: matanya berbinar / penuh semangat) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca kembali paragraf akhir teks cerita 'Buku untuk Bintang' secara hening dan berkesadaran untuk mencermati peristiwa penyelesaian serta sikap tokoh (5 menit).
  • Guru memandu murid menelusuri 3 poin penyelesaian dan keteladanan tokoh dari teks: (1) Penyelesaian: Pak Sahala memanggil Bintang dan menawarkannya membaca di dalam kios setiap hari sepulang sekolah; (2) Keteladanan Bintang: tekun, bersemangat membaca, dan pantang menyerah meski tidak memiliki uang; (3) Keteladanan Pak Sahala: peduli, murah hati, dan mau mendukung mimpi anak lain (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menyelenggarakan permainan alur berpasangan 'Estafet Cerita Utuh': berpasangan dengan teman sebangku, murid secara bergantian menceritakan kembali peristiwa penyelesaian cerita dan menyebutkan keteladanan tokoh secara runtut sesuai acuan 3 poin yang telah dipelajari (10 menit).
  • Setiap murid secara bergantian menceritakan kembali penyelesaian dan keteladanan tokoh teks 'Buku untuk Bintang' secara utuh di hadapan pasangan atau kelompok kecilnya menggunakan bahasa sendiri dengan runtut mencakup awal penyelesaian hingga keteladanan tokoh (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling mengecek apakah penceritaan kembali telah memuat unsur penyelesaian (ajakan Pak Sahala) dan keteladanan kedua tokoh (Bintang dan Pak Sahala) secara runtut (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik langsung terhadap kelengkapan dan keruntutan penceritaan kembali murid tanpa menilai gestur atau volume suara (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali bagian akhir penyelesaian cerita 'Buku untuk Bintang' dan keteladanan tokoh yang terkandung di dalamnya (3 menit).
  • Guru menyampaikan asesmen akhir singkat lisan kepada 2 murid untuk memastikan pemahaman alur penyelesaian dan keteladanan tokoh (4 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu pengingat alur 3 poin (penyelesaian Pak Sahala, keteladanan Bintang, keteladanan Pak Sahala); murid yang mahir langsung menceritakan kembali tanpa kartu pengingat.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, penceritaan dilakukan dengan bantuan pemantik pertanyaan alur dari guru; murid yang cepat bercerita secara mandiri dan utuh.
  • Produk: Semua murid menceritakan kembali isi penyelesaian dan keteladanan secara lisan; kedalaman uraian keteladanan dapat lebih kaya bagi murid mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat kesiapan isi teks: (1) Siapa yang mengajak Bintang masuk membaca di kios? (acuan: Pak Sahala); (2) Bagaimana perasaan Bintang saat membaca buku baru? (acuan: matanya berbinar / penuh semangat).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid menceritakan kembali kepada pasangannya menggunakan acuan 3 poin keberhasilan: (1) menyebutkan tindakan Pak Sahala menawarkan Bintang membaca di kios; (2) menyebutkan keteladanan Bintang (tekun/semangat membaca tanpa menyerah); (3) menyebutkan keteladanan Pak Sahala (peduli/murah hati berbagi tempat dan buku).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir pertemuan: 'Sebutkan satu tindakan Pak Sahala di akhir cerita dan satu sifatnya yang patut kita teladani!' (acuan: tindakan = mengizinkan/menawarkan Bintang membaca buku di kiosnya setiap hari sepulang sekolah; sifat teladan = peduli/baik hati/murah hati).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja menceritakan kembali penyelesaian dan keteladanan tokoh secara lisan menggunakan rubrik keruntutan dan kelengkapan isi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Penyelesaian dan Keteladanan TokohMenceritakan kembali isi teks tetapi belum memuat bagian penyelesaian maupun keteladanan tokoh.Menceritakan kembali penyelesaian cerita (ajakan Pak Sahala), namun belum memuat keteladanan tokoh Bintang maupun Pak Sahala.Menceritakan kembali penyelesaian cerita serta menyebutkan minimal 1 keteladanan tokoh (Bintang atau Pak Sahala) secara tepat sesuai isi teks.Menceritakan kembali seluruh penyelesaian cerita dan menyebutkan keteladanan kedua tokoh (Bintang yang pantang menyerah serta Pak Sahala yang peduli) secara utuh dan tepat sesuai isi teks.
Keruntutan Penceritaan KembaliMenceritakan kembali isi peristiwa secara melompat-lompat dan terbalik urutannya.Menceritakan kembali isi peristiwa dengan urutan yang sebagian terbalik antara peristiwa penyelesaian dan simpulan keteladanan tokoh.Menceritakan kembali isi peristiwa secara runtut mulai dari tindakan penyelesaian tokoh hingga uraian keteladanan tokoh dengan sedikit bimbingan.Menceritakan kembali isi peristiwa penyelesaian hingga keteladanan tokoh secara runtut, utuh, dan mandiri tanpa bimbingan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu menemukan peristiwa penyelesaian cerita dan menangkap keteladanan dari tokoh Bintang dan Pak Sahala?
  • Bagaimana efektivitas permainan berpasangan dalam melatih kelancaran murid menceritakan kembali secara runtut tanpa terbebani atribut di luar capaian TP?

Murid:

  • Bagian mana dari cara Bintang atau Pak Sahala yang paling kamu sukai dan ingin kamu tiru?
  • Apakah kamu dapat menceritakan bagian akhir cerita tadi secara runtut kepada temanmu?

Pertemuan 16 — Menceritakan Kembali Isi Teks Sastra Keteladanan Tokoh secara Mandiri dan Runtut — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.4 Menceritakan kembali isi teks sastra yang dibaca tentang keteladanan tokoh secara runtut

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama sebelum memulai pembelajaran (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan kembali seluruh isi teks sastra keteladanan tokoh secara mandiri dan runtut (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan diagnostik cepat tentang urutan alur cerita 'Buku untuk Bintang' yang telah dibaca pada pertemuan sebelumnya (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca kembali dalam hati teks sastra 'Buku untuk Bintang' untuk mengingat 3 bagian alur utama dan keteladanan tokoh (teks memuat: Bagian Awal = Bintang anak yang gemar membaca tetapi tidak mampu membeli buku; Bagian Tengah = Bintang memungut buku rusak di kios Pak Sahala dan membacanya dengan tekun walau rusak; Bagian Akhir = Pak Sahala tersentuh lalu mengizinkan Bintang membaca buku di kiosnya setiap hari) (8 menit).
  • Murid bersama guru mencermati 3 kartu alur runtut di papan tulis: Kartu 1 (Awal: Bintang ingin membaca buku tapi tak punya uang), Kartu 2 (Tengah: Bintang memungut buku rusak di pinggir jalan dan membacanya dengan tekun), Kartu 3 (Akhir: Pak Sahala terharu dan mengajak Bintang membaca di kiosnya) guna memahami struktur penceritaan yang runtut (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid mengikuti permainan estafet cerita 'Tiga Langkah Kisah' secara berpasangan: murid A menceritakan bagian awal dan tengah, murid B melanjutkan bagian akhir dan keteladanan tokoh secara bergantian sebagai pemanasan bercerita runtut (10 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid menceritakan kembali seluruh isi teks cerita 'Buku untuk Bintang' secara lisan di depan guru/kelompok kecil sesuai urutan alur (awal, tengah, akhir) dan memuat keteladanan tokoh (semangat membaca dan pantang menyerah) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi penceritaan dirinya sendiri dengan menjawab panduan refleksi: apakah urutan awal-tengah-akhir sudah runtut dan keteladanan tokoh sudah tersampaikan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh mengenai keruntutan penceritaan murid (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa menceritakan kembali secara runtut memudahkan pendengar memahami keteladanan tokoh cerita, lalu menutup sesi dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata kunci urutan (Awal - Tengah - Akhir), sedangkan murid yang sudah mahir bercerita langsung tanpa bantuan kartu kata kunci.
  • Proses: Murid yang masih ragu dapat berlatih menceritakan satu bagian terlebih dahulu kepada teman sebelum menceritakan keseluruhan secara mandiri, sedangkan murid mahir menceritakan utuh sekaligus.
  • Produk: Semua murid menghasilkan penceritaan kembali secara lisan yang runtut, murid mahir menceritakan secara mandiri dan utuh tanpa jeda pengingat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik kesiapan alur cerita: (1) Apa yang terjadi di awal cerita 'Buku untuk Bintang'? (Acuan jawaban: Bintang ingin membaca buku tetapi tidak mampu membelinya); (2) Apa tindakan keteladanan yang dilakukan Bintang di tengah cerita? (Acuan jawaban: Bintang tekun memungut dan membaca buku rusak dari tempat sampah tanpa menyerah).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja penceritaan kembali mandiri teks 'Buku untuk Bintang'. Kriteria pengamatan: mencakup 3 bagian runtut (awal: keterbatasan Bintang; tengah: usaha membaca buku rusak; akhir: kebaikan Pak Sahala mengajak ke kios) dan menyebutkan keteladanan tokoh (kegigihan/semangat membaca tanpa menyerah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta 2 murid secara acak menyebutkan secara berurutan: bagian awal, tengah, dan akhir dari keteladanan tokoh Bintang (Acuan: Awal = tidak mampu beli buku; Tengah = tekun membaca buku rusak; Akhir = mendapat kesempatan membaca di kios Pak Sahala).

Formatif:

  • Unjuk kerja menceritakan kembali isi teks sastra secara lisan dengan rubrik pengamatan keruntutan dan muatan keteladanan tokoh.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keruntutan Penceritaan AlurMenceritakan kembali isi teks melompat-lompat atau hanya menyebutkan 1 bagian peristiwa tanpa urutan logis.Menceritakan kembali isi teks dengan memuat 2 bagian peristiwa (awal-tengah atau tengah-akhir) secara berurutan.Menceritakan kembali isi teks secara runtut mencakup 3 bagian peristiwa (awal, tengah, dan akhir) dengan bantuan sedikit arahan guru.Menceritakan kembali isi teks secara runtut mencakup seluruh bagian peristiwa (awal, tengah, dan akhir) secara mandiri tanpa arahan guru.
Muatan Keteladanan TokohBelum menyebutkan tindakan atau keteladanan tokoh dalam cerita yang disampaikan.Menyebutkan tindakan tokoh tetapi belum mengaitkannya dengan sikap keteladanan tokoh.Menceritakan kembali dengan menyebutkan sikap keteladanan tokoh (semangat membaca/pantang menyerah) dalam rangkaian peristiwa.Menceritakan kembali dengan menyertakan sikap keteladanan tokoh (semangat membaca dan pantang menyerah) secara utuh dan tepat dalam alur cerita secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah mampu menceritakan kembali isi cerita secara mandiri tanpa bergantung pada teks bacaan?
  • Bagian alur mana (awal, tengah, atau akhir) yang paling sering terlewat oleh murid saat menceritakan kembali?

Murid:

  • Apakah aku sudah berhasil menceritakan cerita Bintang dari awal sampai akhir secara berurutan?
  • Keteladanan tokoh apa yang berhasil aku ceritakan kepada teman dan guru hari ini?

Pertemuan 17 — Menyajikan Pendapat Lisan dengan Pilihan Kata Santun tentang Tindakan Tokoh Cerita — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.5 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan tempat duduk agar siap beraktivitas (2 menit).
  • Guru melakukan diagnostik awal lisan dengan membacakan 2 kalimat: (1) 'Menurut saya, tindakan Alif sudah tepat karena membantu temannya' dan (2) 'Alif payah dan salah besar!', lalu meminta murid memilih kalimat mana yang menggunakan pilihan kata santun (acuan: kalimat 1 santun karena menggunakan kata pembuka sopan 'menurut saya' tanpa mencela, kalimat 2 tidak santun karena mencela dengan kata 'payah') (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyajikan pendapat secara lisan tentang tindakan tokoh cerita dengan pilihan kata santun dan sikap tubuh/gestur yang sesuai (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak cuplikan tindakan tokoh dari cerita 'Ada Apa dengan Alif?': 'Alif tetap berlatih mengikat tali sepatu sendiri meskipun sempat diejek dan gagal beberapa kali' (4 menit).
  • Guru memodelkan cara menyajikan pendapat lisan menggunakan pilihan kata santun (seperti 'Saya setuju...', 'Menurut pendapat saya...', 'Alangkah baiknya...') serta memperagakan sikap tubuh tegak santun dan gestur tangan terbuka menghargai lawan bicara (6 menit).
  • Murid menelaah 3 contoh ungkapan pendapat di papan tulis untuk membedakan pilihan kata santun dan tidak santun: Ungkapan A ('Menurut saya, tindakan Alif sangat gigih dan patut dicontoh'), Ungkapan B ('Tindakan Alif bodoh karena buang-buang waktu'), Ungkapan C ('Saya kurang sependapat bila Alif menyerah, sebaiknya ia tetap mencoba') (acuan: Ungkapan A dan C santun; Ungkapan B tidak santun karena memuat ejekan) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid berpasangan dan menggelar tantangan peran ceria 'Estafet Pendapat Cilik': setiap pasangan mengambil 1 dari 3 kartu tindakan tokoh: Kartu 1 (Alif menolak dibantu saat tali sepatunya lepas karena ingin mandiri), Kartu 2 (Teman Alif menertawakan Alif saat terjatuh), Kartu 3 (Ken menyemangati Alif agar terus mencoba) (5 menit).
  • Secara bergantian dalam pasangan, murid menyajikan pendapat lisan masing-masing mengenai tindakan tokoh pada kartu yang dipilih menggunakan kalimat pembuka santun ('Menurut saya...', 'Saya sependapat...') disertai sikap tubuh tegak dan gestur tangan yang wajar tanpa menunjuk-nunjuk kasar (13 menit).
  • Guru berkeliling mengamati dan menilai unjuk kerja murid menggunakan lembar observasi berbicara santun dan sikap tubuh sesuai (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling memberikan tanggapan balik sederhana mengenai apakah kata-kata yang diucapkan sudah terdengar santun dan apakah sikap tubuh temannya sudah berdiri/duduk tegak menghargai (5 menit).
  • Perwakilan 2 murid maju ke depan kelas secara sukarela memperagakan cara menyajikan pendapat santun di depan kelas dan diapresiasi oleh seluruh murid (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya menggunakan pilihan kata santun (seperti kata 'menurut saya', 'sebaiknya') serta sikap tubuh tegak dan gestur sopan saat berpendapat tentang tindakan orang lain (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas keberanian murid berpendapat, menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (sikap tubuh dalam diskusi kelompok), dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan frasa pembuka santun ('Menurut saya...', 'Saya setuju karena...'), sedangkan murid yang lebih mahir diberikan kartu situasi tindakan tokoh dengan dilema pilihan sikap.
  • Proses: Murid yang belum percaya diri berlatih berpendapat berbisik dengan teman sebangku terlebih dahulu sebelum bersuara jelas, sedangkan murid yang percaya diri langsung berlatih menyajikan pendapat di depan pasangan tanpa teks.
  • Produk: Semua murid menghasilkan bukti yang sama yaitu penyajian pendapat lisan dengan pilihan kata santun dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Guru meminta murid memilih mana ungkapan yang santun antara Kalimat A: 'Menurut saya, tindakan Alif sudah tepat karena membantu temannya' dan Kalimat B: 'Alif payah dan salah besar!' (acuan jawaban: Kalimat A adalah ungkapan santun karena menggunakan kata pembuka 'menurut saya' dan alasan positif tanpa mencela; Kalimat B tidak santun karena menggunakan kata celaan 'payah').

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja lisan saat murid menyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita Alif/Ken pada aktivitas berpasangan, dengan kriteria: (1) Menggunakan pilihan kata santun seperti 'menurut saya', 'saya sependapat', 'sebaiknya' tanpa kata celaan; (2) Menunjukkan sikap tubuh tegak dan gestur tangan terbuka santun.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menyebutkan satu tindakan tokoh ('Ken membantu merapikan sepatu Alif') dan meminta murid secara acak menyebutkan 1 kalimat pendapat lisan yang santun (acuan kriteria penerimaan: murid mengawali dengan frasa santun seperti 'Menurut saya/Saya rasa tindakan Ken sangat baik/membantu' dengan posisi duduk/berdiri tegak santun).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penyajian pendapat lisan dengan pilihan kata santun dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pilihan Kata Santun dalam Menyajikan PendapatMenyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita menggunakan kata-kata kasar atau celaan tanpa kata pembuka santun.Menyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita dengan kata pembuka santun tetapi masih membutuhkan dorongan dan bimbingan penuh dari guru.Menyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita dengan pilihan kata santun (seperti 'menurut saya', 'saya sependapat', 'alangkah baiknya') secara mandiri.Menyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita dengan pilihan kata santun yang sangat beragam dan tepat konteks secara konsisten dan mandiri.
Sikap Tubuh dan Gestur Saat Menyajikan PendapatMenyajikan pendapat dengan sikap tubuh membungkuk/berbaring di meja dan gestur menunjuk-nunjuk kasar.Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh tegak namun gestur masih kaku atau berlebihan setelah diingatkan guru.Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh tegak santun dan gestur tangan terbuka yang wajar dan sesuai.Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh tegak santun, tenang, dan gestur yang sangat luwes menghargai pendengar secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain peran 'Estafet Pendapat Cilik' efektif melatih pilihan kata santun dan sikap tubuh murid?
  • Bagaimana respons murid yang awalnya pemalu dalam menyampaikan pendapat lisannya?

Murid:

  • Bagian mana dari cara berbicara santun yang paling mudah dan paling menantang bagiku?
  • Bagaimana perasaanku saat temanku mendengarkan pendapatku dengan sikap yang sopan?

Pertemuan 18 — Menyajikan Pendapat dengan Sikap Tubuh dan Gestur yang Sesuai dalam Diskusi Kelompok — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.5 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memimpin doa bersama sebelum memulai pembelajaran (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa kuis peragaan cepat: Guru memperagakan 2 gaya penyampaian, yaitu (A) badan membungkuk, kepala menunduk ke lantai, tangan dimasukkan ke saku celana; dan (B) badan tegak santun, pandangan memandang teman, tangan rileks terbuka di atas meja. Murid diminta memilih mana sikap tubuh yang tepat saat berpendapat (acuan jawaban: sikap B karena badan tegak, tatapan menghargai teman, dan gestur tangan terbuka santun) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih cara menyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita dengan sikap tubuh dan gestur tangan yang sesuai dalam diskusi kelompok (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan guru tentang sikap tubuh dan gestur yang sesuai: duduk/berdiri tegak santun (tidak membungkuk atau bertopang dagu malas), kontak mata diarahkan ke teman kelompok, serta gestur tangan terbuka yang mengarah secara wajar (tidak menunjuk-nunjuk wajah teman atau mengepalkan tangan) (7 menit).
  • Murid bersama guru membahas satu tindakan tokoh Selem dalam cerita, yaitu 'Selem meminjamkan buku catatannya kepada teman yang sakit'. Guru memodelkan cara menyajikan pendapat: duduk tegak, tangan kanan terbuka santun, dan berkata: 'Menurut saya, tindakan Selem sangat baik karena ia suka menolong teman.' (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (berisi 3-4 anak) dan menerima kartu tantangan berisi 2 tindakan tokoh: Tindakan 1: 'Alif merapikan kembali buku perpustakaan yang berantakan'; Tindakan 2: 'Kartini mengajari anak-anak perempuan membaca tanpa meminta bayaran' (5 menit).
  • Permainan Menggembirakan 'Cermin Pendapat': Dalam kelompok, setiap murid secara bergiliran menyajikan pendapatnya terhadap salah satu tindakan tokoh tersebut. Teman sekelompok memegang kartu tanda bintang dan bertindak sebagai 'cermin' yang mengamati apakah penyaji duduk tegak santun, memandang teman, dan menggunakan gestur tangan terbuka santun (tidak menunjuk agresif). Bila memenuhi sikap tubuh dan gestur yang tepat, teman memberikan tanda bintang (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok memilih satu anggota untuk membagikan pengalaman di hadapan kelas tentang rasanya berpendapat dengan sikap tubuh tegak dan gestur santun dibandingkan dengan sikap lesu atau gelisah (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru merangkum ciri-ciri sikap tubuh dan gestur yang sesuai dalam berpendapat: badan tegak santun, kontak mata terarah, serta gestur tangan terbuka (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap praktik diskusi kelompok dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu pengingat visual sikap tubuh (gambar siluet duduk tegak dan gestur tangan terbuka) untuk kelompok yang membutuhkan panduan visual konkret.
  • Proses: Murid yang sudah luwes diberi kesempatan menyajikan pendapat untuk kedua tindakan tokoh sekaligus dengan gestur yang dinamis, sedangkan murid yang masih ragu didampingi guru berlatih mengatur posisi punggung dan posisi tangan sebelum mulai berbicara.
  • Produk: Penyajian pendapat dinilai secara langsung melalui performa sikap tubuh dan gestur saat mengemukakan pendapat di kelompok masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis peragaan cepat sikap tubuh: Guru memeragakan 2 pilihan sikap: Sikap A (membungkuk, menunduk, tangan di saku) dan Sikap B (badan tegak santun, tatapan ramah ke arah lawan bicara, tangan terbuka santun). Kriteria kesiapan: Murid tepat memilih Sikap B disertai alasan sederhana bahwa sikap B menunjukkan rasa hormat dan kesiapan berdiskusi (acuan: Sikap B).

Proses:

  • Lembar observasi penyajian pendapat dalam diskusi kelompok: Guru mengamati ketercapaian 2 indikator: (1) Sikap tubuh tegak santun (tidak bersandar malas, membungkuk, atau membelakangi teman) dan (2) Gestur tangan sesuai dan sopan (tangan terbuka wajar, tidak menunjuk wajah teman, tidak mengetuk-ngetuk meja secara agresif) saat menyampaikan pendapat tentang tindakan Alif atau Kartini.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Menjawab secara lisan/cepat 2 pertanyaan acuan: (1) Bagaimana posisi punggung saat menyampaikan pendapat dalam kelompok? (acuan: tegak santun, tidak membungkuk/rebahan di meja) dan (2) Bagaimana gerakan tangan yang sopan saat berpendapat? (acuan: tangan rileks terbuka di atas meja/dada, tidak menunjuk-nunjuk muka teman).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menyajikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita di dalam kelompok, berfokus pada kesesuaian sikap tubuh dan gestur yang ditampilkan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Sikap Tubuh saat Menyajikan PendapatMenyajikan pendapat dengan sikap tubuh belum tegak (membungkuk, bertopang dagu, atau membelakangi teman) selama berbicara di kelompok.Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh tegak santun hanya di awal pembicaraan, namun kembali membungkuk atau menunduk saat melanjutkan kalimat.Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh tegak santun secara konsisten dan memandang teman kelompok dari awal hingga selesai berpendapat.Menyajikan pendapat dengan sikap tubuh tegak santun secara mandiri, luwes, dan sepenuhnya terarah menghargai seluruh anggota kelompok tanpa perlu diingatkan.
Gestur saat Menyajikan PendapatGestur belum sesuai (tangan dimasukkan saku, mengetuk meja terus-menerus, atau menunjuk teman secara agresif) saat menyampaikan pendapat.Gestur tangan masih kaku atau sesekali muncul gerakan yang kurang sesuai saat menyampaikan pendapat tentang tindakan tokoh cerita.Menyajikan pendapat dengan gestur tangan yang sesuai, rileks, dan terbuka santun dalam mendukung gagasan tentang tindakan tokoh.Menyajikan pendapat dengan gestur tangan yang sangat luwes, wajar, dan santun secara konsisten mendukung penyampaian gagasan di kelompoknya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu permainan 'Cermin Pendapat' cukup memberikan kesempatan bagi semua murid untuk mempraktikkan sikap tubuh dan gestur yang sesuai?
  • Apakah murid yang awalnya pasif menjadi lebih percaya diri menunjukkan sikap tubuh yang tegak setelah mendapatkan dukungan kartu visual?

Murid:

  • Bagian mana dari sikap tubuhmu yang paling mudah kamu jaga saat berpendapat hari ini?
  • Bagaimana perasaanmu ketika teman mendengarkan pendapatmu yang disampaikan dengan sikap tegak dan sopan?

Pertemuan 19 — Menyajikan Pendapat Disertai Alasan Menggunakan Volume dan Intonasi yang Tepat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.5 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-19, yaitu melatih penyampaian pendapat secara lisan tentang tindakan tokoh cerita dengan menyertakan alasan serta mengatur volume suara dan intonasi yang pas (3 menit).
  • Asesmen awal: Guru membacakan satu tindakan tokoh pendek: 'Alif tetap berlatih sepeda roda dua meskipun kakinya lecet karena terjatuh.' Guru meminta 2-3 perwakilan murid menyampaikan secara lisan apakah tindakan Alif tersebut baik atau tidak disertai satu alasan sederhana. Acuan diagnostik: murid mampu mengutarakan kalimat pendapat yang memiliki kata penanda alasan (misalnya: 'karena', 'sebab') dan terdengar jelas oleh seisi kelas tanpa berbisik atau berteriak (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memodelkan penyajian pendapat dengan membandingkan dua cara berbicara tentang tindakan tokoh Vino yang meminjamkan pensil: Cara 1 (volume berbisik, menunduk, tanpa intonasi tegas) vs Cara 2 (volume terdengar jelas sampai bangku belakang, intonasi mantap di kata penjelas: 'Menurut saya, tindakan Vino sangat terpuji karena ia rela menolong teman yang kesulitan'). Murid mengamati perbedaan kejelasan pesan dari pengaturan volume dan intonasi (8 menit).
  • Guru bersama murid membedah unsur penyajian pendapat yang baik: (1) pernyataan sikap ('Saya setuju/kurang setuju...'), (2) kata hubung alasan ('karena/sebab...'), (3) volume cukup terdengar di ruangan tanpa berteriak, dan (4) intonasi yang memberi penekanan pada alasan tindakan tokoh (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Aktivitas 'Tantangan Mikrofon Emas' berpasangan: Guru membagikan 3 kartu skenario tindakan tokoh cerita inspiratif kepada setiap pasangan. Skenario 1: 'Rani menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku bacaan tua di pasar loak.' Skenario 2: 'Alif menolak diajak bermain gawai demi menyelesaikan tugas merakit kincir angin.' Skenario 3: 'Kartini mengajari anak-anak perempuan membaca di serambi rumahnya meskipun ada orang yang mencelanya.' (15 menit).
  • Setiap murid bergantian memegang 'mikrofon emas' (replika kertas/spidol) dan menyajikan pendapat lisan mereka tentang salah satu tindakan tokoh tersebut disertai alasan, dengan mengatur volume suara agar terdengar pas oleh pasangannya dan menggunakan intonasi penekanan yang wajar (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru meminta dua pasangan menampilkan penyajian pendapat mereka di depan kelas. Teman-teman sekelas bersama guru memberikan konfirmasi terhadap keterpenuhan alasan, keterdengaran volume, dan ketepatan intonasinya (5 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya menyertakan alasan yang logis serta menjaga intonasi dan volume suara yang wajar agar pendapat kita mudah dipahami orang lain (3 menit).

Penutup:

  • Asesmen akhir: Guru memberikan kuis lisan kilat pada 3 murid dengan skenario singkat: 'Jesika meminta maaf setelah tidak sengaja menumpahkan air minum Fahmi.' Murid menyajikan pendapat satu kalimat beserta alasan dengan intonasi dan volume tepat (acuan: pendapat setuju/memuji tindakan Jesika disertai alasan kata hubung 'karena/sebab', disampaikan dengan volume terdengar seisi kelas dan intonasi tegas santun) (4 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif murid, mengingatkan murid untuk selalu berbicara sopan dan jelas dalam kehidupan sehari-hari, lalu menutup kelas dengan doa dan salam (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu tindakan tokoh dengan kalimat yang lebih ringkas dan berhuruf tebal untuk murid yang butuh bimbingan membaca skenario.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru menyediakan panduan kerangka lisan rumpang: 'Menurut saya, tindakan tokoh ... (baik/kurang baik) karena ...'. Bagi murid yang sudah mahir, ditantang memberikan dua alasan penguat dengan variasi penekanan intonasi yang mantap.
  • Produk: Semua murid menghasilkan bukti belajar yang setara berupa penyajian pendapat lisan disertai alasan dengan volume dan intonasi yang tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid menanggapi tindakan Alif yang tetap berlatih sepeda meski lecet. Kriteria kesiapan: murid mampu menyampaikan pendapat setuju/tidak setuju disertai kata 'karena' dan volume suara terdengar jelas oleh guru (acuan respon minimal: 'Saya setuju dengan Alif karena dia anak yang pantang menyerah', volume suara stabil tidak berbisik).

Proses:

  • Lembar observasi berbicara formatif saat aktivitas Tantangan Mikrofon Emas pada 3 skenario tokoh (Rani, Alif, Kartini). Kriteria pengamatan: penyebutan alasan yang logis, keterdengaran volume di tingkat pasangan/kelompok (tidak berbisik dan tidak berteriak), serta ketepatan intonasi (nada naik-turun yang wajar pada kata kunci alasan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: Penyajian pendapat terhadap tindakan Jesika yang meminta maaf. Acuan ketercapaian: murid menyatakan persetujuan ('Tindakan Jesika benar/bagus'), menyertakan alasan ('karena berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab'), dengan volume terdengar jelas di kelas serta intonasi yang meyakinkan tanpa berteriak.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja berbicara saat membacakan dan menyajikan pendapat dalam aktivitas Tantangan Mikrofon Emas.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Pendapat dan AlasanMenyampaikan pendapat singkat tanpa menyertakan alasan pendukung.Menyampaikan pendapat disertai alasan, namun alasan belum berhubungan langsung dengan tindakan tokoh.Menyampaikan pendapat disertai alasan logis yang relevan dengan tindakan tokoh cerita inspiratif.Menyampaikan pendapat disertai alasan logis yang mendalam dan terelaborasi secara runtut.
Kesesuaian Volume dan IntonasiSuara terlalu lirih/berbisik atau berteriak, dan intonasi datar tanpa jeda penekanan.Volume suara mulai terdengar namun intonasi masih monoton atau kurang tepat dalam memberi penekanan pada alasan.Volume suara pas terdengar jelas oleh lawan bicara dan intonasi tepat memberi penekanan pada alasan yang disampaikan.Volume suara sangat stabil dan jelas di seluruh ruangan dengan intonasi yang luwes, meyakinkan, serta sangat santun.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas berpasangan Tantangan Mikrofon Emas efektif meningkatkan keberanian murid dalam menyajikan pendapat dengan suara lantang?
  • Bagian mana dari pengelolaan kelas yang perlu disesuaikan agar murid tidak saling mendominasi saat berbicara?

Murid:

  • Apakah suaramu sudah terdengar jelas dan tidak berbisik saat menyampaikan alasan kepada temanmu tadi?
  • Apa yang kamu rasakan saat memegang mikrofon dan menyampaikan pendapatmu sendiri?

Pertemuan 20 — Menyajikan Pendapat secara Mandiri dengan Pilihan Kata dan Gestur Tegak Santun — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.5 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama dengan khidmat (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyajikan pendapat secara mandiri mengenai tindakan tokoh cerita dengan menggunakan pilihan kata santun dan sikap tubuh/gestur yang tegak dan sopan (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat: meminta 2 orang perwakilan murid berdiri untuk mencontohkan cara menyampaikan persetujuan/ketidaksetujuan terhadap tindakan tokoh 'Alif yang rajin berlatih sepeda' menggunakan pilihan kata santun (acuan: menggunakan kata santun seperti 'Menurut saya...', 'Saya setuju karena...', serta berdiri tegak menghadap teman) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati pemodelan guru tentang dua peragaan sikap berbicara: (1) sikap membungkuk, menunduk, dan menggunakan kata kasar/ketus, serta (2) sikap berdiri tegak, pandangan tertuju ke teman, tangan terbuka santun, dan menggunakan pilihan kata sopan ('Menurut pendapat saya...', 'Saya setuju/kurang setuju dengan tindakan tokoh...') (5 menit).
  • Murid bersama guru membedah unsur penyajian pendapat yang santun: penggunaan kata pengantar santun dan gestur tegak rileks tanpa bertopang dagu atau menyilangkan tangan secara tertutup (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan gembira 'Kotak Tokoh Misteri', di mana murid secara acak mengambil 1 dari 3 kartu tindakan tokoh cerita berikut: Kartu A (Tindakan Ken yang meminjamkan buku catatan kepada Alif yang sakit), Kartu B (Tindakan Vino yang memotong pembicaraan teman saat berdiskusi), atau Kartu C (Tindakan Jesika yang mendengarkan penjelasan teman sampai selesai) (10 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid menyusun 1 kalimat pendapat lisan tentang tindakan tokoh pada kartu yang didapat menggunakan pola santun: 'Menurut saya, tindakan tokoh [nama tokoh] [baik/kurang tepat] karena [alasan ringkas]' (10 menit).
  • Setiap murid secara mandiri maju ke depan kelas atau berdiri di hadapan kelompoknya untuk menyajikan pendapat lisan tersebut dengan sikap tubuh tegak, pandangan ke arah pendengar, dan gestur tangan yang sopan santun tanpa dituntun guru (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memberikan umpan balik berpasangan mengenai sikap tubuh temannya saat menyajikan pendapat (apakah sudah berdiri tegak dan santun) (5 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan penting nya membiasakan sikap tubuh tegak dan pilihan kata santun ketika menyatakan pendapat tentang tindakan orang lain atau tokoh cerita (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap keberanian seluruh murid yang telah menyajikan pendapat secara mandiri di depan kelas (5 menit).
  • Guru dan murid menutup pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu tindakan tokoh dengan tingkat kerumitan situasi berbeda (situasi sederhana: menolong teman; situasi dilematis: menegur teman yang salah).
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru menyediakan kartu pengingat pilihan kata santun di atas meja; bagi murid yang sudah mahir, murid menyajikan pendapat secara mandiri tanpa kartu bantuan.
  • Produk: Penyajian pendapat lisan dinilai berdasarkan kemandirian penggunaan pilihan kata santun serta sikap tubuh/gestur yang sesuai.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta memperagakan cara menyatakan setuju/tidak setuju terhadap tindakan Alif yang berlatih sepeda tanpa menyerah (Acuan ketercapaian: murid menyebutkan kata pembuka santun seperti 'Menurut saya tindakan Alif sangat baik' dengan posisi tubuh menghadap ke arah guru/teman).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid tampil mandiri menyajikan pendapat dari kartu situasi tindakan tokoh (Kartu A: Ken meminjamkan catatan; Kartu B: Vino memotong pembicaraan; Kartu C: Jesika mendengarkan teman). Kriteria: kesantunan pilihan kata ('Menurut saya...', 'tindakan tersebut baik/kurang tepat karena...') dan kesesuaian gestur (berdiri tegak, tangan tidak dimasukkan ke saku, pandangan ramah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek refleksi mandiri di akhir pertemuan: Murid menyebutkan kembali 2 contoh kata santun saat berpendapat ('Menurut saya', 'Saya berpendapat') dan mendemonstrasikan 1 sikap tubuh tegak santun saat berbicara.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penyajian pendapat lisan secara mandiri menggunakan rubrik pengamatan pilihan kata santun dan sikap tubuh/gestur.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pilihan Kata SantunMenyampaikan pendapat tanpa kata santun pembuka dan menggunakan ungkapan yang kurang sopan.Menyampaikan pendapat dengan bantuan guru untuk memilih kata santun pembuka ('Menurut saya...').Menyajikan pendapat secara mandiri menggunakan pilihan kata santun ('Menurut saya...', 'kurang tepat karena...') dengan tepat.Menyajikan pendapat secara mandiri menggunakan variasi pilihan kata yang sangat santun dan runtut tanpa bantuan guru sama sekali.
Sikap Tubuh dan GesturPosisi tubuh membungkuk, bersandar, membelakangi pendengar, atau gestur tidak terkontrol.Menunjukkan sikap tubuh tegak hanya setelah diingatkan oleh guru.Menunjukkan sikap tubuh tegak, pandangan ke arah pendengar, dan gestur santun secara mandiri sepanjang penyajian pendapat.Menunjukkan sikap tubuh tegak sempurna, rileks, pandangan menyeluruh ke audiens, dan gestur tangan terbuka yang sangat santun secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah percaya diri menyajikan pendapatnya secara mandiri di depan kelas/kelompok?
  • Bagian mana dari pengelolaan waktu peragaan mandiri yang perlu disesuaikan pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu ketika menyampaikan pendapatmu sendiri di depan teman-teman?
  • Apakah kamu tadi sudah berhasil berdiri tegak dan menggunakan kata-kata santun?

Pertemuan 21 — Menulis Kerangka Teks Narasi Sederhana tentang Pengalaman Diri yang Inspiratif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu merancang kerangka teks narasi sederhana tentang pengalaman diri yang inspiratif (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta menjawab secara lisan/tunjuk jari memilih 1 tema pengalaman diri yang paling inspiratif dari 3 pilihan yang diberikan (belajar naik sepeda sampai bisa, menolong teman yang terjatuh, atau merapikan kamar sendiri tanpa disuruh) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati bagan kerangka narasi sederhana di papan tulis yang memuat 3 bagian runtut: (1) Awal: pengenalan diri, waktu, dan tempat; (2) Tengah: peristiwa tantangan atau perbuatan baik; (3) Akhir: hasil usaha atau perasaan bangga (10 menit).
  • Guru memodelkan cara menuliskan ide pokok kalimat pada tiap bagian bagan kerangka menggunakan contoh pengalaman nyata 'Belajar Mengikat Tali Sepatu Sendiri' (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan tantangan mini 'Kotak Ide Inspiratif': murid mengambil satu kartu pemantik ide pengalaman diri lalu secara bergantian menentukan satu kalimat inti untuk bagian awal ceritanya (10 menit).
  • Secara mandiri pada Lembar Kerja Kerangka Cerita, setiap murid menuliskan kerangka teks narasi sederhana tentang pengalaman diri masing-masing yang memuat 3 bagian (Awal, Tengah, Akhir) menggunakan kalimat-kalimat rencana yang jelas (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali lembar kerangka tulisannya untuk memastikan ketiga bagian (Awal, Tengah, Akhir) sudah terisi rencana peristiwa yang saling berkaitan dan runtut (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan manfaat menyusun kerangka tulisan sebelum menulis cerita utuh agar jalan cerita terarah dan runtut (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap draf kerangka yang telah ditulis murid serta menginformasikan kegiatan menulis kalimat awal narasi pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan pertanyaan pemandu (siapa, kapan, di mana, apa masalahnya, bagaimana akhirnya) pada lembar kerja bagi murid yang membutuhkan bantuan ide.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pendampingan langsung oleh guru dalam merumuskan kalimat peristiwa pada bagan kerangka, sedangkan murid yang mandiri langsung mengembangkan detail peristiwa pada tiap bagian kerangka.
  • Produk: Kerangka teks narasi dapat berupa 3 poin kalimat utama terpisah atau bagan alur narasi sederhana dengan rincian kata kunci peristiwa.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan menentukan topik pengalaman diri inspiratif melalui pemilihan 1 dari 3 opsi tema: (1) Belajar keterampilan baru sampai bisa (misal: naik sepeda/sepatu roda); (2) Membantu orang lain saat kesusahan; (3) Mandiri menyelesaikan tugas tanpa disuruh (acuan ketercapaian: murid mampu memilih satu topik nyata yang pernah dialaminya sendiri dan menyebutkan satu kejadian utamanya).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menulis kerangka teks narasi: memeriksa ketersediaan dan keruntutan 3 bagian kerangka narasi sederhana (Awal: pengenalan diri/latar; Tengah: peristiwa/tantangan inspiratif; Akhir: penyelesaian/perasaan) pada lembar kerja masing-masing murid.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan produk kerangka teks narasi sederhana dengan kriteria penerimaan: lembar kerja memuat tulisan rencana bagian Awal (siapa dan di mana), bagian Tengah (peristiwa usaha/inspirasi), dan bagian Akhir (hasil atau perasaan) yang saling bertautan sebagai rencana penulisan teks narasi.

Formatif:

  • Penilaian kinerja penulisan kerangka teks narasi sederhana (memuat bagian awal, tengah, akhir) menggunakan lembar observasi dan rubrik analitis.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Bagian Kerangka Narasi Pengalaman DiriBelum menuliskan kerangka atau hanya menuliskan 1 bagian kerangka secara acak.Menuliskan 2 bagian kerangka narasi pengalaman diri (misal hanya bagian awal dan tengah) dengan bimbingan guru.Menuliskan lengkap 3 bagian kerangka narasi pengalaman diri (awal, tengah, dan akhir) yang saling berkaitan secara runtut.Menuliskan lengkap 3 bagian kerangka narasi pengalaman diri (awal, tengah, dan akhir) secara mandiri dengan rincian peristiwa yang jelas dan runtut.
Kesesuaian Isi Rencana Cerita dengan Pengalaman InspiratifRencana cerita belum menunjukkan peristiwa pengalaman diri yang nyata.Rencana cerita menuliskan pengalaman diri namun belum memuat unsur tindakan/usaha pantang menyerah atau kebaikan inspiratif.Rencana cerita secara tepat memuat peristiwa pengalaman diri yang memiliki unsur inspiratif (usaha, kerja keras, atau perbuatan terpuji).Rencana cerita sangat jelas memuat peristiwa pengalaman diri yang inspiratif disertai gambaran tindakan nyata dan hasil positif pada kerangka.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi dan pemodelan bagan kerangka teks narasi mudah dipahami dan diikuti oleh seluruh murid kelas 3?
  • Bagian mana dari penyusunan kerangka cerita (awal, tengah, atau akhir) yang paling banyak membutuhkan bimbingan guru?

Murid:

  • Pengalaman inspiratif apa yang paling membuatmu bersemangat untuk diceritakan?
  • Apakah kamu merasa terbantu menulis rencana cerita dengan menggunakan bagan awal, tengah, dan akhir?

Pertemuan 22 — Menulis Bagian Awal Teks Narasi Pengalaman Diri Menggunakan Rangkaian Kalimat Tunggal — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan meminta murid membaca dua kalimat acak di papan tulis: Kalimat 1: 'Aku belajar sepeda di lapangan desa.' dan Kalimat 2: 'Sepeda lapangan sangat seru.' lalu murid diminta memilih mana yang merupakan kalimat tunggal berpola utuh (acuan: Kalimat 1 benar memiliki subjek 'Aku', predikat 'belajar', objek 'sepeda', keterangan 'di lapangan desa'; Kalimat 2 bukan kalimat utuh yang tepat) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menulis bagian awal teks narasi pengalaman diri yang inspiratif menggunakan rangkaian 3 sampai 4 kalimat tunggal (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan contoh bagian awal narasi di papan tulis yang tersusun atas 3 kalimat tunggal: (1) 'Aku berlatih berenang di kolam umum.' (S-P-Pel-K), (2) 'Ayah menemani langkahku.' (S-P-O), (3) 'Udara pagi terasa sangat dingin.' (S-P-Pel) (5 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan 'Tebak Unsur Kalimat Awal' secara bergembira: guru membacakan 3 kartu contoh kalimat awal: Kartu A 'Rani mencuci sepatu di teras.', Kartu B 'Kemarin sore hujan turun deras.', Kartu C 'Adit merapikan buku gambar di meja.' lalu perwakilan murid berlomba menunjuk kartu yang mengenalkan tokoh dan latar kejadian (acuan: Kartu A mengenalkan tokoh Rani dan latar teras; Kartu B mengenalkan latar waktu kemarin sore; Kartu C mengenalkan tokoh Adit dan latar tempat meja) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membuka kembali catatan kerangka pengalaman diri yang telah dibuat sebelumnya, lalu memilih fokus pengenalan bagian awal (siapa yang terlibat, waktu kejadian, dan tempat kejadian) (5 menit).
  • Murid menuliskan draf bagian awal teks narasi pengalaman diri masing-masing secara mandiri yang terdiri atas minimal 3 rangkaian kalimat tunggal dengan variasi pola (misal: S-P, S-P-O, atau S-P-K) sesuai pengalaman inspiratifnya di lembar kerja menulis (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa tulisan mandirinya menggunakan panduan ceklis diri: (1) Apakah sudah ada kalimat pengenal tokoh? (2) Apakah sudah ada kalimat pengenal tempat atau waktu? (3) Apakah tersusun dari minimal 3 kalimat tunggal yang lengkap? (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik klasikal terhadap draf bagian awal teks narasi yang telah ditulis murid, menegaskan keberhasilan menyusun kalimat tunggal pembuka yang jelas (5 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran menulis bagian awal narasi, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan formula kalimat pembuka (Siapa + Sedang apa + Di mana), sedangkan murid yang mandiri langsung menyusun kalimat dari ide pengalaman pribadinya.
  • Proses: Guru memberikan scaffolding terbimbing bagi murid yang kesulitan menyusun kalimat tunggal lengkap, sementara murid yang mahir menulis secara mandiri.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan menyusun minimal 3 kalimat tunggal sederhana, sedangkan murid yang cepat menyusun 4 sampai 5 kalimat tunggal dengan variasi keterangan waktu dan tempat yang lebih kaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi kalimat tunggal pembuka cerita: Murid menentukan kalimat yang memiliki struktur subjek, predikat, dan keterangan dari 2 pilihan di papan: (1) 'Aku belajar sepeda di lapangan desa.' vs (2) 'Sepeda lapangan sangat seru.' (acuan jawaban benar: kalimat 1).

Proses:

  • Observasi dan pemeriksaan draf menulis bagian awal teks narasi: Murid menulis draf bagian awal narasi pengalaman diri (kriteria penerimaan: minimal terdiri dari 3 kalimat tunggal yang mengenalkan tokoh dan latar kejadian, dengan struktur minimal Subjek dan Predikat di tiap kalimat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman formatif penutup: Murid menunjukkan minimal 3 kalimat tunggal bagian awal narasi yang telah ditulis kepada guru (kriteria penerimaan: setiap kalimat memuat minimal unsur S-P dan keseluruhan rangkaian kalimat mengenalkan tokoh serta latar pengalaman diri).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar menulis bagian awal teks narasi pengalaman diri berdasarkan ketepatan pola kalimat tunggal dan pengenalan unsur awal cerita.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Rangkaian Kalimat Tunggal Pembuka NarasiMenulis kurang dari 2 kalimat tunggal atau kalimat yang ditulis belum memiliki unsur subjek dan predikat yang utuh.Menulis 2 kalimat tunggal yang memuat subjek dan predikat namun belum mengenalkan unsur tokoh dan latar secara jelas.Menulis 3 kalimat tunggal lengkap (memuat subjek dan predikat) yang berhasil mengenalkan tokoh serta latar pengalaman diri secara jelas.Menulis 4 kalimat tunggal atau lebih secara mandiri dengan variasi pola kalimat (S-P, S-P-O, S-P-K) yang mengenalkan tokoh, latar waktu, dan latar tempat secara lengkap dan runtut.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi penulisan kalimat tunggal pembuka narasi dapat dipahami dengan mudah oleh seluruh murid?
  • Bagian mana dari pendampingan menulis yang masih memerlukan bimbingan tambahan pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Apakah aku sudah bisa menuliskan 3 kalimat tunggal untuk membuka cerita pengalamanku?
  • Apa hal yang paling mudah dan paling menantang saat merangkai kalimat pembuka ceritaku hari ini?

Pertemuan 23 — Menulis Bagian Tengah Teks Narasi Menggunakan Kosakata Baru dan Kalimat yang Beragam — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan menyiapkan murid dalam suasana belajar yang nyaman (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: menulis bagian tengah teks narasi pengalaman diri dengan kosakata baru dan kalimat yang bervariasi (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta memilih variasi kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan rintangan dari 2 contoh di papan tulis (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati model paragraf bagian tengah narasi berisi rintangan/usaha: 'Tiba-tiba ban sepedaku gembos di tengah tanjakan. Aku merasa panik dan cemas. Dengan gigih, aku menuntun sepedaku sampai ke bengkel terdekat.' Guru menunjukkan fungsi kosakata baru seperti 'cemas' dan 'gigih' serta variasi kalimat pendek-panjang (10 menit).
  • Murid bersama guru membedah 4 kosakata baru bertema kegigihan beserta maknanya: gigih (pantang menyerah), cemas (khawatir/takut), rintangan (halangan), dan tekun (sungguh-sungguh) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan cepat 'Rantai Kalimat Rintangan' secara berpasangan: murid pertama menyebutkan satu kalimat rintangan dan pasangannya membalas dengan kalimat tindakan memakai salah satu kata baru (gigih/cemas/rintangan/tekun) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menulis draf bagian tengah teks narasi pengalaman diri (minimal 3-4 kalimat) yang memuat masalah/rintangan yang dihadapi, menggunakan minimal 2 kosakata baru dari daftar acuan, serta memadukan variasi kalimat pendek dan kalimat berpanjang (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang draf bagian tengahnya sendiri dan menandai kosakata baru yang berhasil digunakan serta memeriksa apakah kalimat yang disusun sudah bervariasi (berbeda panjang dan susunan) (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan cara membuat bagian tengah cerita menjadi menarik melalui rincian kesulitan dan pilihan variasi kalimat (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses menulis murid, mengumpulkan lembar tulisan bagian tengah, dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu bantuan kata (gigih, cemas, rintangan, tekun) beserta contoh kalimat pemandu.
  • Proses: Murid yang sudah mahir diarahkan menulis minimal 5 kalimat dengan memadukan lebih dari 2 kosakata baru dan variasi kalimat tunggal berpola inversi atau pelengkap.
  • Produk: Panjang draf bagian tengah dapat disesuaikan: minimal 3 kalimat untuk murid yang perlu pendampingan dan minimal 4-5 kalimat untuk murid mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi variasi kalimat rintangan: Murid memilih dari 2 opsi kalimat: (A) 'Aku jatuh. Lalu aku bangun. Lalu aku jalan.' vs (B) 'Saat kakiku tersandung batu, rasa cemas mulai muncul, namun aku tetap gigih melangkah.' Murid diminta menunjukkan mana yang memiliki kalimat beragam dan memuat kosakata rintangan (acuan kunci: opsi B).

Proses:

  • Penilaian performa menulis draf bagian tengah teks narasi: Murid menuliskan bagian rintangan/perjuangan pengalaman diri dengan acuan kriteria: (1) Menuliskan rincian kesulitan/rintangan dalam 3-4 kalimat; (2) Memuat minimal 2 kosakata baru dari 4 kata acuan: gigih, cemas, rintangan, tekun; (3) Menggunakan rangkaian kalimat yang beragam (memadukan kalimat pendek dan panjang, tidak menggunakan pola kata awal yang monoton).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir kegiatan: Murid melingkari kosakata baru yang digunakan pada tulisannya dan menuliskan jumlah kalimat yang berhasil disusun pada sudut lembar kerja (acuan ketercapaian: minimal 3 kalimat dengan minimal 2 kosakata baru dari daftar acuan: gigih, cemas, rintangan, tekun yang digunakan secara tepat makna).

Formatif:

  • Uji cepat diagnostik pada pembuka pembelajaran
  • Pemeriksaan draf tulisan bagian tengah teks narasi pengalaman diri (fokus: variasi kalimat dan pemakaian kosakata baru)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keragaman Rangkaian KalimatMenulis bagian tengah narasi dengan kalimat yang seragam dan berpola sama seluruhnya (monoton).Menulis bagian tengah narasi dengan 1-2 variasi bentuk/panjang kalimat, namun sebagian besar masih monoton.Menulis bagian tengah narasi dengan memadukan kalimat pendek dan panjang yang bervariasi secara runtut.Menulis bagian tengah narasi dengan rangkaian kalimat yang sangat beragam strukturnya dan mengalir padu secara mandiri.
Penggunaan Kosakata BaruBelum menggunakan kosakata baru dari daftar acuan (gigih, cemas, rintangan, tekun) dalam tulisan.Menggunakan 1 kosakata baru dari daftar acuan secara tepat makna dalam tulisan.Menggunakan minimal 2 kosakata baru dari daftar acuan secara tepat makna dalam tulisan.Menggunakan 3 atau lebih kosakata baru dari daftar acuan secara tepat makna dan variatif dalam tulisan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu menulis mandiri selama 20 menit memadai bagi murid kelas 3 untuk merangkai kalimat bagian tengah?
  • Apakah murid mengalami kesulitan dalam memadukan kosakata baru ke dalam konteks pengalaman mereka sendiri?

Murid:

  • Kata baru apa yang paling kamu sukai saat menulis ceritamu tadi?
  • Bagian mana dari ceritamu yang menurutmu paling seru untuk dibaca teman?

Pertemuan 24 — Menulis Bagian Akhir Teks Narasi Sederhana tentang Pengalaman Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menyusun dan menulis bagian akhir (penyelesaian peristiwa dan ungkapan perasaan/pelajaran diri) pada teks narasi pengalaman diri (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menampilkan 2 pilihan kalimat penutup narasi di papan tulis: (A) 'Sejak saat itu, aku semakin rajin berlatih sepeda setiap sore dan merasa sangat bangga.' vs (B) 'Tiba-tiba sepedaku melaju kencang sekali dan menabrak pohon.' Murid diminta menunjukkan kartu huruf A atau B untuk memilih kalimat yang paling tepat menutup cerita pengalaman (acuan jawaban: A, karena memuat penyelesaian akhir dan ungkapan hasil/perasaan, sedangkan B adalah konflik/peristiwa tengah) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memodelkan cara menulis bagian akhir narasi pengalaman diri melalui contoh cerita inspiratif sederhana di papan tulis: memperlihatkan bagaimana sebuah cerita dituntaskan dengan menyebutkan hasil akhir tindakan ('Akhirnya, kue buatanku matang dengan harum.') dan perasaan/kesimpulan diri ('Aku merasa sangat senang karena usahaku berhasil.') (7 menit).
  • Guru memfasilitasi aktivitas interaktif 'Tebak Ujung Cerita' yang menggembirakan: murid berpasangan membaca kartu potongan peristiwa tengah yang disiapkan guru: 'Lani kesulitan menghafal bait puisi untuk lomba.' Setiap pasangan berlomba memilih 1 dari 2 kartu penutup yang tepat: Kartu X ('Lani menangis lalu pulang ke rumah.') atau Kartu Y ('Akhirnya, Lani berhasil tampil lancar dan menerima piala dengan penuh rasa bangga.') (acuan jawaban: Kartu Y, karena menunjukkan akhir peristiwa yang tuntas dan inspiratif) (8 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyiapkan kembali lembar tulisan draf bagian awal dan tengah pengalaman diri yang telah ditulis pada pertemuan sebelumnya (3 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan bagian akhir teks narasi pengalaman diri masing-masing minimal 3 kalimat dengan pola kalimat yang beragam (memuat penyelesaian kejadian nyata yang dialami, hasil usaha, serta perasaan/makna berharga yang diperoleh) pada lembar kerja narasi (22 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali bagian akhir narasinya menggunakan panduan cek mandiri: apakah akhir cerita sudah menceritakan kesudahan peristiwa dan bagaimana perasaan atau pelajaran diri yang diperoleh (5 menit).
  • Dua orang perwakilan murid secara sukarela membacakan tulisan bagian akhir ceritanya, dan guru memberikan umpan balik langsung terkait keberagaman variasi kalimat penutup yang dibuat (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa bagian akhir teks narasi berfungsi menyelesaikan rangkaian peristiwa serta menyampaikan perasaan atau kesan mendalam dari pengalaman diri (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kemandirian menulis murid, menyampaikan bahwa draf utuh akan disempurnakan pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar panduan penuntun kalimat akhir (misal: 'Akhirnya, peristiwa itu selesai saat ...', 'Saya merasa sangat ... karena ...').
  • Proses: Guru memberikan pendampingan terfokus bagi murid yang masih kesulitan merangkai variasi kalimat penutup, sementara murid yang sudah mahir menulis secara mandiri.
  • Produk: Murid yang sudah mahir ditantang menuliskan variasi penutup minimal 4 hingga 5 kalimat dengan memuat beragam ekspresi perasaan dan hikmah pengalaman diri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik singkat pada pendahuluan: murid memilih 1 dari 2 alternatif kalimat di papan tulis yang berfungsi sebagai bagian akhir cerita narasi pengalaman diri. Pilihan A: 'Sejak saat itu, aku semakin rajin berlatih sepeda setiap sore dan merasa sangat bangga.' Pilihan B: 'Tiba-tiba sepedaku melaju kencang sekali dan menabrak pohon.' (Kunci acuan: Pilihan A, karena menyatakan penyelesaian peristiwa dan hasil/perasaan diri, sedangkan B adalah peristiwa tengah).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menyusun draf bagian akhir narasi pengalaman diri: memeriksa pemenuhan isi akhir narasi (ada penyelesaian kejadian dan ungkapan perasaan/makna diri) serta penggunaan rangkaian kalimat yang beragam (minimal 3 kalimat naratif).

Akhir Pertemuan:

  • Cek hasil kerja draf bagian akhir narasi murid pada lembar tulisan. Kriteria penerimaan operasional: tulisan bagian akhir memuat minimal 3 kalimat dengan variasi susunan kalimat yang menceritakan akhir kejadian dari draf sebelumnya dan menyebutkan perasaan atau hikmah yang dirasakan murid.

Formatif:

  • Penilaian proses menulis bagian akhir teks narasi pengalaman diri menggunakan lembar observasi tulisan murid.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penulisan Bagian Akhir Narasi Pengalaman DiriBelum mampu menuliskan bagian akhir cerita narasi, atau tulisan penutup belum menunjukkan penyelesaian peristiwa pengalaman diri.Mampu menuliskan bagian akhir cerita narasi yang memuat penyelesaian peristiwa, namun hanya terdiri dari 1-2 kalimat dengan pola kalimat yang seragam serta belum memuat ungkapan perasaan/makna diri secara jelas.Mampu menuliskan bagian akhir teks narasi pengalaman diri secara mandiri dengan minimal 3 kalimat yang memuat penyelesaian peristiwa serta ungkapan perasaan/kesan diri menggunakan rangkaian kalimat yang beragam.Mampu menuliskan bagian akhir teks narasi pengalaman diri secara mandiri dan runtut lebih dari 3 kalimat dengan rangkaian kalimat yang sangat bervariasi, memuat penyelesaian peristiwa secara utuh, serta refleksi perasaan/makna diri yang mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu menulis mandiri selama 22 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk merangkai kalimat akhir narasi?
  • Bagaimana variasi kalimat yang disusun murid dalam menggambarkan perasaan atau penyelesaian akhir ceritanya?

Murid:

  • Bagian mana dari akhir ceritamu yang paling kamu sukai saat kamu menuliskannya?
  • Apakah kamu merasa terbantu dengan adanya pemodelan kalimat penutup di awal pelajaran?

Pertemuan 25 — Menulis Draf Lengkap Teks Narasi Sederhana dengan Variasi Kalimat dan Tanda Baca Tepat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-25, yaitu merangkai draf lengkap cerita narasi pengalaman diri menggunakan variasi susunan kalimat (2 menit).
  • Asesmen Awal: Guru menampilkan 2 contoh kalimat di papan tulis: (1) 'Aku berlatih sepeda.' dan (2) 'Di lapangan sore hari, aku tekun mengayuh sepeda roda dua milik kakak.' Murid diminta menunjukkan kalimat mana yang lebih beragam dan lengkap unsurnya (acuan jawaban benar: kalimat 2 karena memuat keterangan tempat, waktu, subjek, keterangan sifat, predikat, dan objek) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati pemodelan penggabungan 3 bagian kerangka yang sudah ditulis pada pertemuan sebelumnya (awal, tengah, akhir) menjadi satu draf narasi utuh (7 menit).
  • Murid menelaah contoh penggabungan kalimat pendek menjadi kalimat dengan rangkaian yang beragam (variasi S-P-O, K-S-P-O, serta penggabungan antarkalimat menggunakan kata penghubung seperti 'lalu', 'ketika', 'tetapi') yang dicontohkan guru di papan tulis (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Permainan Menghias Kalimat: Murid berpasangan memainkan tantangan memperkaya 1 kalimat dasar sederhana menjadi kalimat dengan susunan bervariasi (misal dari 'Saya gagal melompat' divariasikan menjadi 'Kemarin sore, saya sempat gagal melompat tali karena tersandung') sebagai pemanasan kreatif (10 menit).
  • Murid secara mandiri menulis draf lengkap teks narasi pengalaman diri yang inspiratif pada lembar kerja, menggabungkan bagian awal, tengah, dan akhir dengan merangkai minimal 6 kalimat yang memiliki variasi susunan kalimat (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca kembali draf narasi yang telah ditulisnya secara berkesadaran dan menandai variasi kalimat yang telah berhasil dirangkai (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya menggunakan rangkaian kalimat yang beragam agar draf cerita pengalaman diri menjadi lebih menarik dibaca (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kemandirian murid menyusun draf cerita dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar bantu berupa daftar variasi kata penghubung (misal: 'ketika', 'tiba-tiba', 'akhirnya') bagi murid yang membutuhkan inspirasi pengait kalimat.
  • Proses: Memberikan bimbingan terfokus pada murid yang masih kesulitan menyambungkan bagian awal dan tengah, sementara murid yang lancar dipersilakan memperkaya variasi struktur kalimat secara mandiri.
  • Produk: Draf narasi sederhana minimal terdiri dari 6 kalimat dengan susunan yang bervariasi; murid yang mahir dapat menuliskan draf narasi yang lebih panjang (8-10 kalimat) dengan keragaman struktur yang lebih kaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik cepat memilih kalimat beragam dari 2 kalimat contoh: (1) 'Aku berlatih sepeda.' dan (2) 'Di lapangan sore hari, aku tekun mengayuh sepeda roda dua milik kakak.' Kriteria ketercapaian: Murid tepat memilih kalimat nomor (2) dengan alasan memuat keterangan yang memperjelas peristiwa.

Proses:

  • Formatif penulisan draf: Pemeriksaan lembar draf teks narasi murid berdasarkan kriteria penerimaan: (1) memuat alur cerita pengalaman diri yang utuh (awal, tengah, akhir), dan (2) menggunakan minimal 6 kalimat dengan susunan pola dan panjang kalimat yang bervariasi (tidak monoton berpola S-P berulang).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir kegiatan: Murid menghitung dan mencatat jumlah kalimat serta variasi kata sambung/keterangan yang berhasil digunakan pada draf narasi masing-masing (kriteria ketercapaian: draf selesai ditulis memuat minimal 6 kalimat beragam).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja draf narasi: Mengamati keterpenuhan struktur cerita (awal, tengah, akhir) dan keragaman susunan kalimat yang dirangkai murid.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keragaman Rangkaian Kalimat dalam Draf NarasiMenulis draf narasi pengalaman diri kurang dari 6 kalimat dan seluruhnya menggunakan pola kalimat tunggal yang monoton dan berulang.Menulis draf narasi pengalaman diri dengan minimal 6 kalimat, namun variasi rangkaian kalimat masih sangat terbatas (hanya 1-2 kalimat bervariasi) dengan bantuan guru.Menulis draf narasi pengalaman diri minimal 6 kalimat dengan rangkaian kalimat yang beragam (menggunakan variasi keterangan waktu/tempat dan kata sambung antarkalimat) secara mandiri.Menulis draf narasi pengalaman diri lebih dari 6 kalimat secara mandiri dengan rangkaian kalimat yang sangat beragam dan mengalir harmonis antarkalimat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 20 menit menulis mandiri cukup bagi seluruh murid menyelesaikan draf lengkap cerita pengalaman mereka?
  • Bagian mana dari draf narasi murid yang paling banyak memperlihatkan variasi pola kalimat?

Murid:

  • Apakah aku sudah berhasil menyatukan bagian awal, tengah, dan akhir ceritaku menjadi satu draf yang lengkap?
  • Bentuk kalimat mana yang paling aku sukai saat menceritakan pengalaman inspiratifku hari ini?

Pertemuan 26 — Menyunting dan Menulis Kembali Teks Narasi Sederhana Pengalaman Diri yang Inspiratif — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyunting draf tulisan agar memiliki variasi kalimat dan menuliskannya kembali menjadi teks narasi pengalaman diri yang utuh (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: guru menuliskan 2 kalimat seragam di papan tulis: (1) 'Aku bangun pagi' dan (2) 'Aku membersihkan kasur'. Guru menantang murid mengubah kalimat kedua agar polanya bervariasi (kriteria penerimaan: kalimat kedua tidak diawali kata 'Aku', misalnya 'Kasur segera kubersihkan' atau 'Setelah itu, kubersihkan kasur') (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemodelan cara menyunting kalimat pada teks contoh di papan tulis: kalimat yang berulang polanya ('Saya rajin belajar. Saya membaca buku.') disunting menjadi rangkaian kalimat beragam ('Saya rajin belajar. Buku cerita kubaca setiap sore.') (5 menit).
  • Murid secara berkesadaran mengidentifikasi panduan menyunting kalimat beragam, yaitu memperhatikan variasi awal kalimat (tidak semua dimulai dengan kata 'Aku/Saya') serta variasi panjang-pendek kalimat (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan seru 'Tantangan Kalimat Variatif' berpasangan: satu murid menyebutkan satu kalimat berpola Subjek-Predikat-Objek, pasangannya wajib mengubah kalimat tersebut dengan urutan kata atau variasi yang berbeda tanpa mengubah maknanya secara riang gembira (8 menit).
  • Murid memeriksa draf teks narasi pengalaman diri masing-masing (yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya) dan menandai kalimat-kalimat yang masih monoton atau polanya berulang (7 menit).
  • Murid menyunting draf dengan mengubah kalimat-kalimat yang monoton menjadi rangkaian kalimat yang beragam (10 menit).
  • Murid menulis kembali draf yang telah disunting menjadi teks narasi pengalaman diri yang rapi dan utuh secara mandiri (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menghitung dan mencatat berapa banyak variasi kalimat yang berhasil mereka tulis kembali pada teks narasi pengalaman diri mereka (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya memvariasikan susunan kalimat agar cerita narasi pengalaman diri menarik dan dinamis untuk dibaca (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses penyuntingan mandiri yang dilakukan murid serta menutup pertemuan dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Disediakan daftar kata penghubung dan contoh variasi awal kalimat bagi murid yang memerlukan panduan tambahan.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan memvariasikan kalimat mendapatkan bimbingan perancah (scaffolding) langsung dari guru, sedangkan murid yang sudah mahir menyunting dan menulis secara mandiri.
  • Produk: Murid yang berkembang sangat pesat menghasilkan teks narasi dengan variasi kalimat yang lebih kaya (panjang, pendek, susun balik), sedangkan murid yang berkembang menuliskan minimal 3 variasi pola kalimat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji diagnostik singkat di pendahuluan: Mengubah kalimat kedua dari pasangan kalimat 'Aku bangun pagi' dan 'Aku membersihkan kasur' agar susunan katanya bervariasi. Kriteria ketercapaian: kalimat kedua tidak diawali kata 'Aku' (contoh jawaban yang diterima: 'Kasur segera kubersihkan', 'Segera kubersihkan tempat tidurku', atau 'Lalu tempat tidur kubersihkan').

Proses:

  • Observasi keaktifan dan ketepatan murid dalam permainan berpasangan 'Tantangan Kalimat Variatif'.
  • Pemeriksaan berkala saat murid menyunting draf: mengecek apakah murid mengubah minimal 2 kalimat monoton menjadi variasi kalimat yang berbeda.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan teks narasi final yang ditulis kembali murid dengan kriteria: (1) memuat topik pengalaman diri yang inspiratif, (2) memuat minimal 3 variasi pola kalimat (misal: kalimat diawali subjek, kalimat diawali kata keterangan waktu/tempat, dan kalimat susun balik/predikat mendahului objek).

Formatif:

  • Pemeriksaan draf suntingan teks narasi pengalaman diri murid untuk melihat perbaikan pola kalimat yang monoton menjadi variatif.
  • Penilaian produk tulisan hasil menulis kembali teks narasi sederhana berdasarkan keragaman susunan kalimat.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keragaman Rangkaian KalimatMenulis kembali teks narasi dengan pola kalimat yang seluruhnya seragam dan monoton (semua kalimat berstruktur sama/berulang).Menulis kembali teks narasi dengan 1 pola variasi kalimat, namun sebagian besar kalimat masih berpola seragam dan membutuhkan bimbingan guru.Menulis kembali teks narasi secara mandiri dengan rangkaian kalimat yang memuat minimal 3 variasi susunan pola kalimat.Menulis kembali teks narasi secara mandiri dengan rangkaian kalimat yang sangat beragam (variasi panjang-pendek, posisi keterangan, dan susunan kata) di sepanjang teks.
Kesesuaian Isi Narasi Pengalaman DiriTeks yang ditulis kembali belum memuat cerita pengalaman diri yang bermakna inspiratif.Teks yang ditulis kembali memuat pengalaman diri namun bagian inspiratif atau perubahan sikap diri belum tampak jelas.Teks yang ditulis kembali menceritakan pengalaman diri secara runtut dan memuat tindakan inspiratif/keteladanan secara jelas.Teks yang ditulis kembali menggambarkan pengalaman diri yang inspiratif secara utuh, rinci, dan mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu mengidentifikasi kalimat yang monoton dalam draf tulisannya?
  • Bagian mana dari kegiatan variasi kalimat yang paling efektif membantu murid menyunting teks mereka secara mandiri?

Murid:

  • Perubahan kalimat mana yang membuat ceritamu terasa jauh lebih menarik setelah disunting?
  • Apa kesulitan yang kamu hadapi saat mencoba membuat awal kalimat yang tidak berulang?

Pertemuan 27 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.3.1 Mengidentifikasi isi teks sastra berbentuk teks aural tentang tokoh dan peristiwa cerita inspiratif
  • TP 3.3.2 Membaca kata-kata baru dengan fasih dari bacaan cerita inspiratif
  • TP 3.3.3 Menemukan ide pokok dan pesan dalam teks sastra cetak tentang pribadi inspiratif
  • TP 3.3.4 Menceritakan kembali isi teks sastra yang dibaca tentang keteladanan tokoh secara runtut
  • TP 3.3.5 Menyajikan pendapat dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang sesuai tentang tindakan tokoh cerita
  • TP 3.3.6 Menulis teks narasi sederhana dengan rangkaian kalimat yang beragam tentang pengalaman diri yang inspiratif

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan mengondisikan ruang kelas agar tertib dan tenang untuk asesmen sumatif akhir Bab 3 (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif terpadu yang mencakup tes tertulis dan unjuk kerja bergiliran mengenai cerita inspiratif, serta mengingatkan nilai kejujuran dan kemandirian (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Asesmen Tertulis kepada seluruh murid dan membacakan petunjuk pengerjaan bagian 1 (teks aural yang akan diperdengarkan), bagian 2 (membaca teks sastra cetak), dan bagian 3 (menulis narasi pengalaman diri) (3 menit).
  • Guru membacakan teks aural 'Kegigihan Alif Berlatih' secara jelas sebanyak 2 kali: 'Alif adalah anak yang tekun. Setiap sore di lapangan desa, ia terus berlatih operan bola meskipun kakinya sering lelah. Berkat kerja keras dan pantang menyerah, Alif akhirnya terpilih menjadi kapten regu sepak bola sekolah.' (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Seluruh murid secara mandiri mengerjakan Lembar Asesmen Tertulis Bagian 1, 2, dan 3: (1) Isian aural: menentukan tokoh utama (kunci: Alif), latar tempat dan waktu (kunci: lapangan desa, sore hari), dan peristiwa penting/alur (kunci: Alif giat berlatih operan bola pantang menyerah hingga terpilih jadi kapten); (2) Menemukan ide pokok teks cetak 'Rani dan Buku Tua' Paragraf 1 (kunci: Rani gemar membaca buku cerita di sudut perpustakaan) dan pesan moral teks (kunci: ketekunan membaca membuka banyak pengetahuan berharga); (3) Menulis draf karangan narasi sederhana 1-2 paragraf tentang pengalaman diri inspiratif dengan variasi kalimat dan kosakata denotatif (35 menit).
  • Secara paralel saat murid lain fokus menulis mandiri di meja, guru memanggil murid satu per satu ke meja guru secara bergiliran (alokasi 1 menit per murid untuk 28 murid) untuk melaksanakan Asesmen Unjuk Kerja Lisan: murid melafalkan 3 kata baru dari kartu ('gigih', 'teladan', 'bertekad') secara fasih tanpa mengeja; menceritakan kembali inti keteladanan tokoh secara runtut (awal-tengah-akhir); dan menyajikan 1 kalimat pendapat lisan tentang tindakan tokoh dengan sikap tubuh tegak serta pilihan kata santun (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja asesmen tertulis murid yang telah selesai dan memastikan semua murid telah menempuh unjuk kerja lisan (3 menit).

Penutup:

  • Guru memandu murid melakukan refleksi singkat mengenai proses pengerjaan asesmen: apa bagian yang terasa paling menantang dan bagaimana mereka mengelola rasa percaya diri saat unjuk kerja lisan (1 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kerja keras, kejujuran, dan ketertiban seluruh murid selama menyelesaikan asesmen akhir Bab 3, lalu menutup pertemuan dengan doa dan salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan penyesuaian tata letak teks cetak berukuran huruf lebih besar bagi murid dengan hambatan visual tanpa mengurangi isi butir soal.
  • Proses: Memberikan perpanjangan jeda pembacaan teks aural untuk murid yang membutuhkan konsentrasi lebih tanpa mengubah naskah yang dibacakan.
  • Produk: Format penyampaian unjuk kerja lisan tetap seragam (pelafalan kata, menceritakan alur runtut, dan pendapat bergestur santun) dengan pemanggilan individual yang tenang.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan alat tulis dan pemahaman petunjuk lembar kerja asesmen sumatif sebelum teks aural dibacakan oleh guru.

Proses:

  • Pengamatan keteraturan dan ketenangan kelas selama sesi pengerjaan tertulis mandiri dan pemanggilan unjuk kerja individual.

Sumatif Bab:

  • kombinasi tes tertulis terpadu dan unjuk kerja terpadu (berbicara-membaca): lembar tugas tertulis pemahaman teks sastra dan penulisan narasi, serta lembar pengamatan unjuk kerja lisan menceritakan kembali dan berpendapat secara terstruktur
  • tes tertulis serentak: lembar asesmen tertulis yang dikerjakan seluruh murid serentak memuat: jawaban isian identifikasi isi cerita aural yang dibacakan guru (tokoh, latar, alur), jawaban identifikasi ide pokok paragraf dan pesan moral teks cetak, serta produk karangan narasi sederhana 1-2 paragraf tentang pengalaman diri inspiratif dengan variasi kalimat dan kosakata denotatif (40 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik penulisan narasi (skala 1-4 dengan indikator struktur awal-tengah-akhir, variasi kalimat, dan ketepatan kosakata))
  • unjuk kerja bergiliran: kinerja lisan individual berdurasi 1 menit per murid dipanggil bergantian ke meja guru (28 murid x 1 menit = 28 menit, menyisakan 2 menit transisi): murid melafalkan 2-3 kalimat berisi kata baru dengan fasih, menceritakan kembali inti alur keteladanan tokoh secara runtut (awal-tengah-akhir), dan menyampaikan pendapat lisan 1 kalimat tentang tindakan tokoh dengan gestur tegak serta intonasi santun, sementara murid lain menyelesaikan penulisan narasi mandiri di mejanya (30 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja analitik dengan skala capaian (Perlu Bimbingan, Cukup, Baik, Sangat Baik) pada 3 kriteria jelas: (1) kefasihan pelafalan kata baru, (2) keruntutan alur penceritaan, dan (3) kesesuaian pilihan kata serta gestur/sikap tubuh saat berpendapat)

Sumatif:

  • kombinasi tes tertulis terpadu dan unjuk kerja terpadu (berbicara-membaca): lembar tugas tertulis pemahaman teks sastra dan penulisan narasi, serta lembar pengamatan unjuk kerja lisan menceritakan kembali dan berpendapat secara terstruktur
  • tes tertulis serentak: lembar asesmen tertulis yang dikerjakan seluruh murid serentak memuat: jawaban isian identifikasi isi cerita aural yang dibacakan guru (tokoh, latar, alur), jawaban identifikasi ide pokok paragraf dan pesan moral teks cetak, serta produk karangan narasi sederhana 1-2 paragraf tentang pengalaman diri inspiratif dengan variasi kalimat dan kosakata denotatif (40 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik penulisan narasi (skala 1-4 dengan indikator struktur awal-tengah-akhir, variasi kalimat, dan ketepatan kosakata))
  • unjuk kerja bergiliran: kinerja lisan individual berdurasi 1 menit per murid dipanggil bergantian ke meja guru (28 murid x 1 menit = 28 menit, menyisakan 2 menit transisi): murid melafalkan 2-3 kalimat berisi kata baru dengan fasih, menceritakan kembali inti alur keteladanan tokoh secara runtut (awal-tengah-akhir), dan menyampaikan pendapat lisan 1 kalimat tentang tindakan tokoh dengan gestur tegak serta intonasi santun, sementara murid lain menyelesaikan penulisan narasi mandiri di mejanya (30 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja analitik dengan skala capaian (Perlu Bimbingan, Cukup, Baik, Sangat Baik) pada 3 kriteria jelas: (1) kefasihan pelafalan kata baru, (2) keruntutan alur penceritaan, dan (3) kesesuaian pilihan kata serta gestur/sikap tubuh saat berpendapat)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Teks Aural dan Cetak (TP 1 & TP 3)Menjawab tepat kurang dari 2 butir dari 5 target acuan (tokoh: Alif; latar: lapangan desa/sore; peristiwa: berlatih hingga jadi kapten; ide pokok: Rani gemar membaca; pesan: ketekunan membaca membuka pengetahuan).Menjawab tepat 2-3 butir dari 5 target acuan teks aural dan teks cetak yang ditetapkan.Menjawab tepat 4 butir dari 5 target acuan teks aural dan teks cetak yang ditetapkan.Menjawab tepat seluruh 5 target acuan teks aural dan teks cetak secara lengkap dan mandiri.
Menulis Teks Narasi Sederhana (TP 6)Karangan belum membentuk narasi utuh, kalimat tunggal seragam tanpa variasi, dan banyak kosakata tidak sesuai makna denotatif.Karangan memuat 1 paragraf pengalaman diri, variasi pola kalimat masih terbatas, dan terdapat sebagian kosakata denotatif yang tepat.Karangan memuat 1-2 paragraf pengalaman diri dengan struktur awal-tengah-akhir, menggunakan rangkaian variasi kalimat, serta kosakata bermakna denotatif tepat.Karangan memuat 2 paragraf padu yang runtut dan jelas, variasi kalimat sangat kaya dan mengalir, serta seluruh kosakata denotatif digunakan dengan tepat secara mandiri.
Kefasihan Membaca Kata Baru (TP 2)Membaca 3 kata baru target ('gigih', 'teladan', 'bertekad') dengan mengeja terbata-bata dan banyak jeda ragu.Membaca 1-2 dari 3 kata baru target secara lancar, namun masih mengeja pada kata lainnya.Membaca seluruh 3 kata baru target ('gigih', 'teladan', 'bertekad') secara fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu.Membaca seluruh 3 kata baru target dengan sangat fasih, tepat, tenang, dan tanpa pengulangan secara mandiri.
Menceritakan Kembali & Berpendapat Lisan (TP 4 & TP 5)Menceritakan alur terputus-putus/tidak runtut dan berpendapat tanpa sikap tegak santun.Menceritakan alur dengan menyebutkan sebagian peristiwa tokoh, pendapat disampaikan namun gestur masih ragu/menunduk.Menceritakan kembali keteladanan tokoh secara runtut (awal-tengah-akhir) serta menyajikan pendapat lisan 1 kalimat dengan pilihan kata santun dan sikap tubuh tegak.Menceritakan kembali keteladanan tokoh secara sangat runtut, jelas, percaya diri, serta menyampaikan pendapat dengan pilihan kata santun dan gestur tegak sempurna.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pengelolaan waktu tes tertulis serentak dan unjuk kerja lisan bergiliran (1 menit per murid) berjalan efektif dan tertib?
  • Bagaimana ketercapaian murid secara keseluruhan terhadap 6 TP pada Bab 3 ini sebagai dasar tindak lanjut pembelajaran berikutnya?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen hari ini (menulis, menyimak, membaca kata, atau bercerita lisan) yang berhasil saya kerjakan dengan paling baik?
  • Sikap hebat apa yang sudah saya tunjukkan selama menyelesaikan tugas evaluasi hari ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), 2023
  2. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3 Halaman 97-101
  3. Teks aural cerita 'Ada Apa dengan Alif?'
  4. Kartu kutipan tantangan 'Siapakah Aku?' dan Lembar Kerja Murid
  5. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3
  6. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3 Halaman 98-101
  7. Naskah cerita aural 'Ada Apa dengan Alif?'
  8. Kartu simbol tempat (sekolah, jalan, rumah) untuk permainan 'Detektif Latar'
  9. Lembar Kerja Murid (LKPD) identifikasi latar dan peristiwa penting
  10. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025) Bab 3
  11. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring Kelas III Bab 3
  12. Teks aural cerita 'Kartini Pejuang Perempuan'
  13. Set kartu urutan peristiwa cerita
  14. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025)
  15. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025)
  16. Naskah cerita inspiratif aural 'Semangat Alif Meraih Cita'
  17. Lembar Kerja Tanya Jawab Terbimbing Isi Cerita Aural
  18. Bola kain untuk permainan estafet tanya jawab
  19. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025) Bab 3 Subbab A
  20. Kartu Kata Berimbuhan ('bersahabat', 'mendekati', 'merawat', 'kesulitan', 'membagikan')
  21. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III Bab 3
  22. Kartu kalimat dan kartu kata cerita 'Ada Apa dengan Alif?'
  23. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Bab 3 Subbab A
  24. Kartu kata baru bertanda baca dan lembar cuplikan teks cerita inspiratif
  25. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025) Bab 3
  26. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III Bab 3 'Pribadi yang Hebat'
  27. Kartu kata bertuliskan kata-kata baru cerita inspiratif ('kegigihan', 'keteladanan', 'pantang', 'mengatasi')
  28. Lembar bacaan paragraf mandiri cerita inspiratif
  29. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2023
  30. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2023
  31. Kartu tantangan 'Detektif Ide Pokok' teks Rani dan Buku Tua
  32. Lembar kerja latihan mandiri menemukan ide pokok
  33. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2025)
  34. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2025) Bab 3
  35. Kartu label 'Ide Pokok' dan 'Ide Pendukung' untuk permainan 'Temukan Pasanganku'
  36. Lembar Kerja Murid (LKPD) paragraf teks cetak 'Rani dan Buku Tua'
  37. Buku Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025)
  38. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025) Bab 3
  39. Lembar teks sastra cetak 'Kegigihan Made si Perajin Cilik' dan 'Langkah Pasti Nurul'
  40. Set kartu pesan moral untuk permainan berpasangan
  41. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2025) Bab 3
  42. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2025) Bab 3 Subbab C: Bintang Inspirasiku
  43. Lembar teks sastra cetak cerita 'Buku untuk Bintang' dan Lembar Analisis Cerita (format isian ide pokok 3 paragraf dan pesan moral)
  44. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring Kelas III SD Bab 3 Subbab C (Teks 'Buku untuk Bintang')
  45. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas III SD Bab 3
  46. Kartu Alur Cerita 'Buku untuk Bintang'
  47. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Teks 'Buku untuk Bintang' halaman 118
  48. Kartu kata kunci alur konflik dan keteladanan tokoh
  49. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3 Halaman 118 teks 'Buku untuk Bintang'
  50. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III, Bab 3
  51. Kartu alur bantu penceritaan cerita 'Buku untuk Bintang'
  52. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2024)
  53. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2024), teks 'Buku untuk Bintang' hlm. 118
  54. Kartu alur runtut (Awal, Tengah, Akhir) cerita 'Buku untuk Bintang'
  55. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring SD Kelas III
  56. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring SD Kelas III
  57. Kartu tindakan tokoh cerita 'Ada Apa dengan Alif?'
  58. Papan tulis dan lembar observasi guru
  59. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek 2023) Bab 3
  60. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek 2023) Bab 3 Halaman 121-122
  61. Kartu tantangan tindakan tokoh cerita (Alif dan Kartini)
  62. Kartu tanda bintang untuk aktivitas umpan balik sebaya
  63. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3 'Pribadi yang Hebat'
  64. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3
  65. Kartu Skenario Tindakan Tokoh Inspiratif (Rani, Alif, Kartini, Jesika)
  66. Mikrofon replika kertas untuk simulasi berbicara
  67. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi)
  68. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi)
  69. Kartu Tindakan Tokoh (A: Ken meminjamkan catatan; B: Vino memotong pembicaraan; C: Jesika mendengarkan teman)
  70. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
  71. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3 'Pribadi yang Hebat'
  72. Bagan kerangka teks narasi dan kartu pemantik ide pengalaman inspiratif
  73. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring Kelas III SD
  74. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring Kelas III SD Bab 3
  75. Papan tulis dan kartu contoh kalimat pembuka narasi
  76. Buku Siswa: Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III
  77. Buku Panduan Guru: Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III
  78. Kartu kosakata baru (gigih, cemas, rintangan, tekun)
  79. Lembar draf narasi bergaris
  80. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3: Pribadi yang Hebat
  81. Draf teks narasi bagian awal dan tengah milik murid dari pertemuan sebelumnya
  82. Kartu permainan 'Tebak Ujung Cerita'
  83. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III
  84. Lembar draf menulis cerita narasi pengalaman diri
  85. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi) Bab 3.
  86. Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas III Bab 3.
  87. Draf teks narasi pengalaman diri murid dari Pertemuan 25.
  88. Papan tulis dan spidol untuk pemodelan menyunting kalimat.
  89. Naskah cerita aural 'Kegigihan Alif Berlatih'
  90. Lembar Asesmen Tertulis Sumatif Bab 3
  91. Kartu Kata Baru ('gigih', 'teladan', 'bertekad') dan Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Lisan

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.