MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 2 (Fase A) Topik: Bab 1 — Mengenal Perasaan INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase A / Kelas 2 |
|---|
| Topik | Bab 1 — Mengenal Perasaan |
|---|
| Alokasi Waktu | 38 JP (38 x 35 menit = 1330 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 19 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 2.1.1 Menyebutkan pesan teks sastra berbentuk teks aural tentang perasaan diri
- TP 2.1.2 Membaca kata-kata sederhana dengan fasih dari bacaan tentang perasaan diri
- TP 2.1.3 Menunjukkan isi bacaan tentang perasaan diri
- TP 2.1.4 Merespons dengan menjawab komentar orang lain dengan baik dan santun dalam suatu percakapan tentang diri
- TP 2.1.5 Mengungkapkan perasaan secara lisan dengan bantuan gambar
- TP 2.1.6 Menceritakan kembali isi berbagai tipe teks yang dibaca tentang diri
- TP 2.1.7 Menulis berbagai tipe teks sederhana tentang diri dengan beberapa kalimat sederhana
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana perasaan kalian saat berhasil menyelesaikan tugas atau dipuji guru?
- Nasihat atau pesan apa yang kita dapatkan ketika hati kita merasa sangat senang dan bangga?
- Apa yang biasanya kamu lakukan saat merasa marah pada teman?
- Pernahkah kamu merasa takut saat mendengar petir atau berada di tempat gelap, dan nasihat apa yang membantumu tenang?
- Apa yang biasanya kamu lakukan ketika merasa sedih?
- Pesan apa yang bisa kita ambil saat mendengar cerita atau puisi tentang orang yang sedang bersedih?
- Bagaimana caramu membunyikan kata bertuliskan huruf s-u-k-a jika suku katanya dipisah?
- Apakah kamu bisa langsung membaca kata dua suku kata tentang perasaan tanpa mengeja satu per satu hurufnya?
- Bagaimana caramu membaca kata 'senang' jika diberi awalan 'me-' atau akhiran '-kan'?
- Apa yang kamu lakukan agar dapat membaca kata-kata panjang tentang perasaan dengan lancar dan tepat?
- Dapatkah kamu membaca kata tentang perasaan secara langsung tanpa mengeja suku katanya?
- Bagaimana caramu melatih diri agar membaca kata-kata perasaan terasa lancar dan cepat?
- Siapa saja nama tokoh yang ada di dalam cerita bergambar yang kita baca bersama?
- Apa yang sedang dialami oleh tokoh di dalam cerita tersebut?
- Mengapa perasaan tokoh Mimi di dalam cerita bisa berubah dari marah menjadi malu?
- Peristiwa apa di dalam bacaan yang membuat perasaan Kiki berubah menjadi senang?
- Apa yang terjadi pada gambar saat Mimi dan Kiki berebut boneka?
- Bagaimana perasaan Mimi dan Kiki setelah saling memaafkan dan bermain bersama?
- Apa hal yang membuatmu merasa sangat bahagia di sekolah atau di rumah?
- Bagaimana caramu menjawab dengan ramah dan santun saat teman bertanya tentang hal yang membuatmu bahagia?
- Bagaimana caramu menjawab jika ada teman yang berkata bahwa kamu terlihat sedih?
- Mengapa kita perlu menjawab komentar teman tentang perasaan sedih kita dengan kata-kata yang santun?
- Apa yang kamu katakan jika guru memujimu karena berhasil tenang saat merasa kesal?
- Bagaimana caramu menjawab komentar teman yang menanyakan cara kamu meredakan marah?
- Apa yang kamu rasakan saat bermain bersama teman atau saat berada di tempat yang gelap?
- Bagaimana caramu memberi tahu orang lain bahwa kamu sedang merasa senang atau merasa takut dengan bantuan gambar wajah?
- Apa yang biasanya membuatmu merasa marah?
- Bagaimana caramu membuat hati kembali tenang saat merasa marah?
- Apa yang terjadi pada awal cerita saat Mimi dan Kiki sedang bermain boneka?
- Masalah apa yang membuat Mimi merasa marah dan berteriak?
- Bagaimana urutan cerita perasaan Mimi dari awal sampai akhir?
- Apa yang terjadi setelah Mimi merasa marah dan bagaimana akhirnya?
- Peristiwa apa yang pernah membuat hatimu merasa sangat senang?
- Bagaimana kita menuliskan rasa senang itu dalam kalimat yang diawali huruf kapital dan diakhiri tanda titik?
- Apa yang biasanya kalian lakukan ketika merasa sedih, takut, atau marah agar merasa lebih tenang?
- Bagaimana menceritakan pengalaman menenangkan perasaan itu ke dalam tiga kalimat tulisan?
- Apa saja perasaan yang pernah kamu rasakan saat belajar dan bermain di sekolah?
- Bagaimana caramu menunjukkan rasa tenang dan bercerita dengan baik kepada teman?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menyebutkan Pesan Teks Sastra Aural tentang Perasaan Senang dan Bangga — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.1 Menyebutkan pesan teks sastra berbentuk teks aural tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyimak cerita yang dibacakan lalu menyebutkan pesan tentang perasaan senang dan bangga (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal dengan membacakan satu bait fabel singkat: 'Kancil melompat gembira karena berhasil menyeberang sungai. Namun, Kancil tetap berterima kasih kepada buaya dan tidak menyombongkan kecerdikannya.' Guru menanyakan: 'Apa pesan cerita ini saat kita merasa senang?' (acuan jawaban: kita harus bersyukur/berterima kasih dan tidak boleh sombong) untuk memetakan kesiapan murid (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid dengan penuh kesadaran menyimak guru membacakan teks sastra aural berjudul 'Layang-Layang Gilang': 'Gilang tersenyum lebar dan melompat girang. Hari ini, layang-layang buatannya terbang paling tinggi di lapangan. Dadanya berdebar penuh rasa bangga. Teman-teman bertepuk tangan memujinya. Ibu menghampiri Gilang dan mengelus pundaknya sambil berkata, Gilang hebat sekali hari ini. Boleh merasa bangga dan gembira atas usahamu, tetapi ingat, jangan mengejek layang-layang kawan yang putus, ya. Tetaplah ramah dan bantu teman yang kesulitan.' (7 menit).
- Murid dibimbing menelaah isi dan menemukan pesan cerita melalui pertanyaan terarah: 'Apa yang dirasakan Gilang?', 'Nasihat apa yang diberikan Ibu saat Gilang merasa senang dan bangga?' (acuan: Gilang merasa senang dan bangga; pesan Ibu adalah boleh bangga tetapi tidak boleh sombong/mengejek kawan dan harus mau membantu teman) (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tepuk Kotak Pesan': Guru membacakan fabel pendek kedua 'Kelinci Juara Lari': 'Kiko Kelinci melompat riang karena menjadi juara lari. Hatinya sangat senang dan bangga. Ayah Kiko tersenyum lalu berpesan: Hebat Kiko, banggalah pada kerja kerasmu, namun tetaplah rendah hati dan ajak kura-kura berlatih bersama.' Ketika guru berkata 'Buka Pesan!', setiap pasangan saling bergantian menyebutkan pesan dari teks tersebut (acuan: bangga atas kerja keras diri sendiri, tetap rendah hati, dan peduli/membantu teman) (15 menit).
- Murid secara mandiri menyimak fabel pendek ketiga yang dibacakan guru berjudul 'Burung Kenari Bersuara Merdu': 'Riri si Kenari bersiul merdu di dahan pohon. Semua hewan memuji kicauannya. Riri merasa bangga sekali. Kakek Burung Hantu berkata: Kicauanmu indah Riri, nikmatilah perasaan bahagiamu, tapi teruslah berlatih bernyanyi dan jangan menyombongkan suaramu kepada burung lain.' Setiap murid kemudian menyebutkan pesan cerita tersebut pada lembar cek lisan individu secara bergantian (acuan: menikmati kebahagiaan/prestasi, tidak boleh menyombongkan kelebihan, dan tetap rajin berlatih) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid diajak merenungkan pentingnya menyimak pesan cerita sastra: 'Mengapa ketika mendengar cerita kita perlu mencari pesan atau nasihatnya?' untuk menghubungkan perasaan senang dan bangga dengan sikap sehari-hari (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa saat merasa senang dan bangga, pesan yang harus kita ingat adalah tetap rendah hati, bersyukur, dan tidak boleh sombong (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir cek pemahaman cepat, menyampaikan apresiasi atas usaha menyimak murid, dan menutup pelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, teks sastra aural dibacakan dengan tempo lebih lambat dan penekanan khusus pada bagian ujaran tokoh yang memuat pesan. Bagi murid mahir, teks sastra aural memuat dialog yang lebih kaya.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pertanyaan pemandu bertahap (misal: 'Apa nasihat kakek burung hantu?'), sedangkan murid mahir langsung menyebutkan pesan inti secara mandiri.
- Produk: Semua murid menyebutkan pesan teks sastra secara lisan, dengan target murid bimbingan menyebutkan minimal 1 pesan inti, sedangkan murid mahir menyebutkan pesan inti beserta alasan terjadinya perasaan senang/bangga tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik setelah guru membacakan fabel singkat Kancil. Soal: 'Sebutkan pesan cerita tersebut saat Kancil merasa senang!' (acuan jawaban: harus bersyukur/berterima kasih dan tidak boleh menyombongkan diri).
Proses:- Observasi saat aktivitas kelompok berpasangan 'Tepuk Kotak Pesan' (teks 'Kelinci Juara Lari') dan tugas mandiri lisan (teks 'Burung Kenari Bersuara Merdu'). Indikator: ketepatan menyebutkan pesan teks aural tentang perasaan senang dan bangga (acuan pesan: bersyukur atas hasil, tetap rendah hati/tidak sombong, dan terus berlatih/membantu kawan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan cepat di penutup: Murid menyebutkan 1 pesan moral utama yang dipelajari hari ini jika sedang merasa senang atau bangga (acuan: tetap rendah hati, tidak boleh sombong/mengejek teman, dan bersyukur).
Formatif:- Penilaian kinerja lisan menyebutkan pesan teks sastra aural pada aktivitas mandiri cerita 'Burung Kenari Bersuara Merdu' dengan lembar observasi.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan Pesan Teks Sastra Aural tentang Perasaan Diri (Senang dan Bangga) | Belum mampu menyebutkan pesan dari teks sastra aural yang diperdengarkan meskipun telah diberi pertanyaan pemantik berulang. | Mampu menyebutkan sebagian pesan teks sastra aural dengan bantuan dan bimbingan penuh dari guru (acuan: menyebutkan tidak boleh sombong setelah dituntun). | Mampu menyebutkan pesan teks sastra aural tentang perasaan senang dan bangga secara tepat dan mandiri sesuai acuan teks (acuan: tetap rendah hati, tidak menyombongkan kelebihan, dan terus berlatih). | Mampu menyebutkan pesan teks sastra aural tentang perasaan senang dan bangga secara lengkap, runtut, dan mandiri pada seluruh teks yang diperdengarkan tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks sastra aural yang dibacakan cukup menarik dan mudah dipahami murid kelas 2?
- Apakah seluruh murid aktif dan mampu menangkap pesan yang tersirat dalam teks aural?
Murid:- Bagian cerita mana yang paling membuatmu merasa senang hari ini?
- Pesan apa yang paling kamu ingat saat kamu merasa bangga dengan dirimu sendiri?
Pertemuan 2 — Menyebutkan Pesan Teks Sastra Aural tentang Perasaan Marah dan Takut — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.1 Menyebutkan pesan teks sastra berbentuk teks aural tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan: membacakan cerita 2 kalimat 'Doni kesal karena mainannya direbut adiknya. Ibu menasihati Doni agar tidak berteriak dan memaafkan adiknya.' lalu meminta murid menyebutkan pesan yang didengar (acuan jawaban benar: nasihat ibu agar tidak berteriak dan mau memaafkan adik) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyimak cerita yang dibacakan guru untuk menyebutkan pesan cerita tentang rasa marah dan takut (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak guru membacakan Teks Dongeng Fabel 1: 'Kiki Kelinci sedang menyusun ranting untuk rumahnya. Tiba-tiba, Kera menabrak tumpukan ranting itu hingga berserakan. Kiki merasa dadanya panas dan ingin memukul Kera. Kakek Kelinci memegang pundak Kiki lalu berbisik: Bila marah membakar dadamu, tariklah napas perlahan dan bicaralah baik-baik, jangan membalas dengan amukan.' (8 menit).
- Murid bersama guru mengidentifikasi pesan teks aural tersebut melalui tanya jawab terbimbing tentang apa nasihat Kakek Kelinci saat Kiki marah (acuan: bila marah, tarik napas dan bicaralah baik-baik, jangan mengamuk/membalas) (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid menyimak teks fabel aural kedua yang dibacakan guru: Teks Fabel 2: 'Mimi Kancil berjalan di hutan malam yang gelap gulita. Angin berdesir kencang membuat bulu kuduknya berdiri. Mimi gemetar ketakutan karena merasa ada monster di balik pohon. Ibu Kancil tersenyum dan berkata: Rasa takut itu wajar ada di dalam hatimu, genggamlah tanganku erat-erat dan nyalakan sentermu, mari kita hadapi gelap bersama.' (8 menit).
- Permainan Tebak Pesan Fabel: Guru membagikan lembar kerja pilihan berpasangan. Guru membacakan kembali 2 teks pendek bertema marah dan takut, lalu murid secara mandiri memilih/menjodohkan pesan cerita yang tepat: (1) Teks Marah: 'Boni menendang pintu karena kalah bermain kelereng. Ayah menasihatinya agar minum air putih dan belajar menerima kekalahan.' -> Pesan yang benar: Belajar menerima kekalahan dan tenangkan diri saat kalah permainan; (2) Teks Takut: 'Sita takut suara guntur. Nenek merangkulnya dan berbisik bahwa guntur hanya suara alam yang tidak melukai jika kita di dalam rumah.' -> Pesan yang benar: Jangan panik menghadapi suara alam yang tidak melukai (12 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menyebutkan kembali secara lisan pesan dari cerita Mimi Kancil atau Kiki Kelinci di depan teman sebangku (acuan: Kiki = jangan membalas dengan amukan/bicara baik-baik; Mimi = rasa takut wajar dan harus dihadapi bersama) (9 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan bahwa setiap cerita sastra memiliki pesan kebaikan yang dapat dipetik untuk mengelola rasa marah dan rasa takut kita (6 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran tentang pesan cerita dalam teks aural (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap kegiatan belajar murid dan menutup pelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks aural dengan kalimat yang lebih ringkas bagi murid yang memerlukan dukungan pemahaman menyimak.
- Proses: Memberikan bimbingan langsung berupa pembacaan ulang kalimat pesan cerita bagi murid yang kesulitan, serta memberikan tantangan menyimak teks fabel ketiga bagi murid yang sudah cepat memahami.
- Produk: Murid boleh menyebutkan pesan teks secara lisan langsung kepada guru atau dengan mencentang pilihan rumusan pesan pada lembar aktivitas bergambar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: Guru membacakan cerita pendek 2 kalimat: 'Doni kesal karena mainannya direbut adiknya. Ibu menasihati Doni agar tidak berteriak dan memaafkan adiknya.' Murid diminta menyebutkan pesan cerita (acuan jawaban: nasihat agar tidak berteriak dan memaafkan orang lain).
Proses:- Observasi lembar kerja menyimak pesan teks fabel aural. Butir target: (1) Pesan teks Kiki Kelinci (acuan: tarik napas dan bicara baik-baik saat marah); (2) Pesan teks Mimi Kancil (acuan: rasa takut wajar dan dihadapi bersama); (3) Teks Boni (acuan: tenangkan diri dan terima kekalahan); (4) Teks Sita (acuan: jangan panik terhadap suara alam).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru membacakan satu kalimat penutup cerita 'Rino merasa takut saat mati lampu, ibu mengingatkan Rino untuk berdoa dan menyalakan lilin.' Murid diminta menyebutkan pesan dari ucapan ibu (acuan jawaban: berdoa dan tenang/menyalakan lilin saat merasa takut di kegelapan).
Formatif:- Tes lisan dan unjuk kerja menyimak: Murid menyebutkan pesan teks sastra aural yang dibacakan guru tentang mengelola rasa marah dan takut.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan pesan teks sastra aural tentang perasaan marah dan takut | Belum mampu menyebutkan pesan dari teks sastra aural yang dibacakan guru tentang rasa marah maupun takut meskipun telah dibimbing secara intensif. | Menyebutkan 1-2 pesan dari 4 teks sastra aural tentang perasaan marah dan takut secara tepat dengan bimbingan guru. | Menyebutkan 3 pesan dari 4 teks sastra aural tentang perasaan marah dan takut secara tepat dan mandiri. | Menyebutkan seluruh (4 dari 4) pesan teks sastra aural tentang perasaan marah dan takut secara tepat, runtut, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks aural yang dibacakan memiliki tingkat kesulitan bahasa yang sesuai untuk murid kelas 2?
- Apakah variasi kegiatan permainan tebak pesan fabel berhasil memotivasi murid dalam menyimak pesan cerita?
Murid:- Bagian cerita mana yang paling kamu ingat saat Kiki merasa marah atau Mimi merasa takut?
- Pesan kebaikan apa yang paling ingin kamu lakukan ketika kamu merasa marah atau takut di rumah atau sekolah?
Pertemuan 3 — Menyebutkan Pesan Teks Sastra Aural tentang Menenangkan Diri Saat Bersedih — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.1 Menyebutkan pesan teks sastra berbentuk teks aural tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan: membacakan satu bait pantun pendek: 'Pagi hari memetik selasih, selasih layu di atas tikar. Jangan larut dalam rasa sedih, tarik napas dan tenangkan pikiran.' Murid diminta menyebutkan pesan dari pantun tersebut (acuan: pesan agar tidak larut bersedih dan menenangkan pikiran/menarik napas) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membacakan puisi anak berjudul 'Saat Hatiku Mendung':
'Air mataku menetes perlahan,
Boneka kesayanganku robek di tangan.
Hatiku sedih tak terkira,
Ingin menangis sepuasnya.
Kutarik napas panjang dan pelan,
Kupeluk ibu yang memberi pelukan.
Bercerita membuat sedih berkurang,
Hatiku pun kembali tenang.'
Murid menyimak teks puisi yang dibacakan secara saksama (10 menit).
- Guru membimbing murid mengidentifikasi isi dan pesan puisi secara terbimbing melalui tanya jawab terarah mengenai apa pesan puisi saat bersedih (acuan: ketika bersedih, kita dapat menenangkan diri dengan menarik napas panjang, memeluk orang tua, atau bercerita) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid dibagi berpasangan untuk memainkan 'Tantangan Detektif Pesan': guru memperdengarkan rekaman/pembacaan 2 fabel aural singkat bertema mengelola kesedihan secara bergantian:
Fabel 1: 'Kelinci Mimi kehilangan wortel kesukaannya. Ia duduk menangis di bawah pohon. Burung Pipit datang dan berkata, "Minumlah air hangat dan tarik napas dalam-dalam, Mimi." Mimi mengikuti saran itu hingga hatinya tenang.'
Fabel 2: 'Gajah Tobi sedih karena tidak bisa memanjat pohon seperti Monyet. Ibu Gajah mengelus punggung Tobi dan berkata, "Setiap hewan punya kelebihan, bersabarlah dan bersyukur." Tobi tersenyum kembali.' (12 menit).
- Setiap murid dalam pasangan secara bergantian menyebutkan pesan teks aural yang didengarnya kepada pasangannya, lalu guru memanggil perwakilan murid untuk menyebutkan pesan teks aural tersebut di depan kelas (acuan pesan Fabel 1: cara menenangkan diri saat sedih adalah minum air hangat dan menarik napas dalam-dalam; acuan pesan Fabel 2: saat sedih jangan putus asa, sabar dan syukuri kelebihan diri) (13 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dipandu merefleksikan cara mereka menangkap dan menyebutkan pesan dari teks sastra aural yang telah didengarkan (acuan refleksi: menyimak bagian nasihat atau tindakan tokoh dalam meredakan rasa sedih) (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran tentang cara menemukan dan menyebutkan pesan teks sastra aural mengenai perasaan sedih dan menenangkan diri (5 menit).
- Guru memberikan penguatan, menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif murid, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan variasi teks sastra aural (pantun/fabel pendek bersuara jelas dan berulang) bagi murid yang memerlukan bimbingan auditori.
- Proses: Murid yang masih kesulitan diberikan bimbingan perancah (scaffolding) dengan pemantik kalimat panduan, sedangkan murid yang mahir menyebutkan pesan langsung secara mandiri.
- Produk: Penyebutan pesan teks sastra aural dilakukan secara lisan mandiri atau lisan terbimbing kata kunci.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik lisan pada pendahuluan: Murid mendengarkan pantun: 'Pagi hari memetik selasih, selasih layu di atas tikar. Jangan larut dalam rasa sedih, tarik napas dan tenangkan pikiran.' Murid diminta menyebutkan pesan teks tersebut. Acuan jawaban: pesan agar tidak berlarut-larut dalam rasa sedih dan segera menenangkan diri (menarik napas).
Proses:- Penilaian formatif performa lisan pada tahap Mengaplikasi: Murid mendengarkan Fabel 1 dan Fabel 2, lalu menyebutkan pesan teks aural tersebut. Acuan jawaban: (1) Pesan Fabel 1: jika bersedih, tenangkan diri dengan minum air hangat dan bernapas dalam; (2) Pesan Fabel 2: saat merasa sedih/kecewa, tenangkan diri dengan bersabar dan mensyukuri kelebihan yang dimiliki.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir sesi: Guru memperdengarkan teks aural pendek 1 bait syair: 'Hati cemas hati berduka, jangan menangis tersedu-sedu. Curahkan isi hati pada keluarga, beban terasa hilang berlalu.' Murid menyebutkan pesan syair tersebut. Acuan jawaban: pesan untuk menenangkan diri saat berduka/sedih dengan menceritakan atau mencurahkan perasaan kepada keluarga.
Formatif:- Asesmen proses melalui unjuk kerja lisan menyebutkan pesan dari 2 teks sastra aural saat kegiatan berpasangan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan pesan teks sastra aural tentang perasaan diri (menenangkan diri saat bersedih) | Belum mampu menyebutkan pesan dari teks sastra aural tentang menenangkan diri saat bersedih meskipun telah diberikan bimbingan penuh. | Mampu menyebutkan pesan teks sastra aural tentang menenangkan diri saat bersedih secara sebagian atau kurang tepat sesuai acuan dengan bantuan bimbingan guru. | Mampu menyebutkan pesan dari kedua teks sastra aural (Fabel 1 dan Fabel 2) tentang menenangkan diri saat bersedih secara tepat sesuai acuan secara mandiri. | Mampu menyebutkan pesan dari kedua teks sastra aural (Fabel 1 dan Fabel 2) serta bait syair cek akhir tentang menenangkan diri saat bersedih secara lengkap, tepat sesuai acuan, dan lancar secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks sastra aural yang dibacakan memiliki tingkat kesulitan bahasa yang sesuai dengan kesiapan menyimak murid kelas 2?
- Apakah metode permainan berpasangan efektif memotivasi seluruh murid untuk menyebutkan pesan teks secara percaya diri?
Murid:- Apakah kamu dapat menemukan pesan tentang cara menenangkan diri saat sedih dari cerita yang dibacakan guru tadi?
- Bagian mana dari cerita fabel yang paling membantumu memahami pesan teks?
Pertemuan 4 — Membaca Kata-Kata Sederhana Dua Suku Kata tentang Perasaan Diri secara Terbimbing — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.2 Membaca kata-kata sederhana dengan fasih dari bacaan tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, mengondisikan murid untuk siap belajar, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu berlatih membaca kata-kata sederhana dua suku kata tentang perasaan diri secara terbimbing (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal dengan menunjukkan 2 kartu kata dua suku kata di papan tulis: 'le-ga' dan 'se-dih' (acuan baca: 'lega' dan 'sedih' dibaca tepat tanpa jeda ragu) untuk memetakan kesiapan membaca murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memodelkan cara membaca kata-kata sederhana dua suku kata tentang perasaan diri dari penggalan suku kata hingga menjadi kata utuh secara terbimbing: 'se-nang' -> 'senang', 'ma-rah' -> 'marah', 'ta-kut' -> 'takut', 'se-dih' -> 'sedih', 'ma-lu' -> 'malu' (10 menit).
- Murid bersama guru menyimak dan menirukan pembacaan kelima kata dua suku kata tersebut secara klasikal dengan cermat dan berkesadaran penuh terhadap bentukan bunyinya (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid bermain permainan 'Tepuk Kata Emosi' secara berpasangan: satu murid membuka kartu suku kata dan pasangannya menggabungkan serta membaca kata utuh secara langsung dan fasih bergantian untuk 4 kartu target: (1) 'ke-sal' -> 'kesal', (2) 'pu-as' -> 'puas', (3) 'ha-ru' -> 'haru', (4) 'ce-mas' -> 'cemas' (15 menit).
- Secara terbimbing dalam kelompok kecil, setiap murid membaca lembar baca berisi 5 kata dua suku kata tentang perasaan diri di hadapan guru: (1) senang, (2) marah, (3) takut, (4) sedih, (5) malu (acuan keterbacaan: kelima kata dibaca tepat tanpa mengeja bunyi huruf per huruf) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru menyadari kata dua suku kata mana yang sudah dapat dibaca secara langsung dengan lancar dan kata mana yang masih membutuhkan bantuan pemenggalan suku kata (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kegiatan membaca kata dua suku kata tentang perasaan diri (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kelancaran membaca murid serta menutup pertemuan dengan salam dan doa (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata dengan pemenggalan warna berbeda per suku kata (misal: ma-rah), sedangkan murid yang sudah lancar membaca kata langsung utuh tanpa pemenggalan.
- Proses: Bimbingan langsung secara intensif (scaffolding) diberikan guru kepada murid yang masih terbata-bata mengeja, sementara murid yang telah fasih membaca secara mandiri dalam tantangan berpasangan.
- Produk: Semua murid menunjukkan bukti unjuk kerja membaca kata sederhana dua suku kata tentang perasaan diri, dengan batas toleransi pemenggalan suku kata bagi murid tahap awal.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes lisan diagnostik keterbacaan 2 kartu kata dua suku kata: (1) 'le-ga' dibaca 'lega', (2) 'se-dih' dibaca 'sedih' (acuan ketepatan: murid mampu membunyikan kedua kata secara tepat, baik melalui penggabungan suku kata maupun langsung).
Proses:- Penilaian performa membaca terbimbing terhadap 5 kata target dua suku kata tentang perasaan: (1) senang, (2) marah, (3) takut, (4) sedih, (5) malu. Aturan penskoran kefasihan: dibaca tepat, tanpa mengeja huruf satu per satu, dan tanpa jeda ragu lebih dari 3 detik.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman membaca lisan mandiri di akhir kegiatan inti pada 4 kata target: (1) kesal, (2) puas, (3) haru, (4) cemas (acuan ketepatan: minimal 3 dari 4 kata dibaca tepat dan fasih tanpa mengeja).
Formatif:- Observasi unjuk kerja membaca kata-kata sederhana dua suku kata tentang perasaan diri menggunakan lembar ceklis keterbacaan dan kefasihan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Membaca kata sederhana dua suku kata tentang perasaan diri | Membaca kurang dari 2 kata dari 5 kata target (senang, marah, takut, sedih, malu) dengan tepat dan masih mengeja huruf per huruf. | Membaca 2 sampai 3 kata dari 5 kata target (senang, marah, takut, sedih, malu) secara tepat dengan mengeja per suku kata. | Membaca 4 sampai 5 kata dari 5 kata target (senang, marah, takut, sedih, malu) secara tepat dan lancar dengan bimbingan minimal. | Membaca seluruh 5 kata target (senang, marah, takut, sedih, malu) dengan fasih seketika tanpa mengeja dan sepenuhnya mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan kartu suku kata efektif memfasilitasi murid membaca kata dua suku kata tentang perasaan diri secara fasih?
- Murid mana saja yang masih memerlukan latihan artikulasi pemenggalan suku kata pada sesi membaca berikutnya?
Murid:- Kata perasaan mana yang paling mudah kamu baca tadi?
- Apakah kamu merasa senang saat berhasil membaca kata dua suku kata tanpa mengeja?
Pertemuan 5 — Membaca Kata-Kata Sederhana Bermuatan Imbuhan Dasar tentang Perasaan Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.2 Membaca kata-kata sederhana dengan fasih dari bacaan tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid dan memandu doa bersama secara tertib (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kemampuan membaca kata-kata sederhana yang bermuatan imbuhan dasar tentang perasaan diri dengan fasih (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menunjukkan 2 kartu kata dasar emosi, yaitu 'senang' dan 'takut', lalu meminta 2-3 murid membaca nyaring langsung tanpa mengeja untuk memeriksa kesiapan membaca kata dasar emosi (acuan: terbaca tepat dan langsung tanpa mengeja: 'senang' dan 'takut') (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menampilkan 4 kartu kata bermuatan imbuhan dasar terkait perasaan diri di papan tulis: (1) 'merasa', (2) 'bersedih', (3) 'senangkan', (4) 'menakutkan' (5 menit).
- Guru memodelkan cara membaca keempat kata tersebut secara fasih (langsung, tanpa mengeja suku demi suku, dan tanpa jeda ragu), lalu murid menirukan membaca bersama-sama dengan penuh kesadaran fonik (acuan lafal tepat: me-ra-sa dibaca 'merasa', ber-se-dih dibaca 'bersedih', se-nang-kan dibaca 'senangkan', me-na-kut-kan dibaca 'menakutkan') (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru membagikan lembar permainan berpasangan 'Tantangan Kartu Loncat Kata', yang memuat daftar 4 kata berimbuhan: (1) 'merasa', (2) 'bersedih', (3) 'senangkan', (4) 'menakutkan' (5 menit).
- Dalam suasana menggembirakan, setiap murid secara bergantian menunjuk dan membaca nyaring 4 kata target tersebut di hadapan pasangannya secara cepat dan lancar tanpa mengeja (15 menit).
- Guru berkeliling mengamati setiap murid membaca mandiri kartu daftar 4 kata target tersebut untuk mengambil data asesmen proses (acuan ketuntasan: murid mampu membaca keempat kata 'merasa', 'bersedih', 'senangkan', 'menakutkan' secara fasih tanpa jeda ragu) (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menandai kartu refleksi simbolik (senyum jika merasa sudah membaca dengan lancar tanpa mengeja, atau datar jika masih tersendat pada kata berimbuhan tertentu) (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa membaca kata berimbuhan menjadi mudah jika diperhatikan bunyi suku katanya secara utuh (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kelancaran membaca murid dan menutup pertemuan dengan doa serta salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata berimbuhan dengan pemisahan warna antar-suku kata (misal: 'ber-sedih'), sedangkan murid yang sudah mahir membaca kata tanpa tanda bantu pemisah.
- Proses: Murid yang masih mengeja didampingi guru dengan bimbingan membaca bertahap, sedangkan murid yang lancar berlatih membaca cepat mandiri.
- Produk: Semua murid menunjukkan unjuk kerja membaca lisan 4 kata target; murid yang berkembang membaca dengan tempo mandiri lebih cepat dan tanpa pengulangan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes membaca lisan 2 kartu kata dasar emosi: (1) 'senang', (2) 'takut'. (Acuan: murid membaca tepat secara langsung tanpa mengeja suku kata demi suku kata).
Proses:- Unjuk kerja membaca lisan 4 kata sederhana bermuatan imbuhan dasar tentang perasaan diri: (1) 'merasa', (2) 'bersedih', (3) 'senangkan', (4) 'menakutkan'. Kriteria fasih: terbaca tepat sesuai kata tertulis, tanpa mengeja huruf/suku kata, tanpa mengulang, dan tanpa jeda ragu.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman membaca cepat: guru menunjuk acak 2 dari 4 kata target ('bersedih', 'menakutkan') dan murid membacanya secara langsung dalam waktu maksimal 3 detik per kata (acuan: terbaca tepat 'bersedih' dan 'menakutkan' tanpa mengeja).
Formatif:- Kuis lisan membaca nyaring daftar kata berimbuhan dasar
- Lembar observasi unjuk kerja kefasihan membaca kata
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kefasihan Membaca Kata Sederhana Bermuatan Imbuhan Dasar tentang Perasaan Diri | Membaca 0–1 dari 4 kata target ('merasa', 'bersedih', 'senangkan', 'menakutkan') dengan benar, masih mengeja huruf demi huruf dan terbata-bata. | Membaca 2–3 dari 4 kata target ('merasa', 'bersedih', 'senangkan', 'menakutkan') dengan benar, tetapi masih mengeja suku kata atau terdapat pengulangan. | Membaca seluruh 4 kata target ('merasa', 'bersedih', 'senangkan', 'menakutkan') secara tepat dan fasih tanpa mengeja dengan sedikit bantuan koreksi mandiri. | Membaca seluruh 4 kata target ('merasa', 'bersedih', 'senangkan', 'menakutkan') secara tepat, fasih, lancar tanpa mengeja, tanpa pengulangan, dan sepenuhnya mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan kartu kata berimbuhan mempermudah murid membaca kata tanpa mengeja?
- Berapa persen murid yang sudah mampu membaca kata bermuatan imbuhan dasar secara fasih dan mandiri?
Murid:- Kata berimbuhan mana yang paling mudah kamu baca dengan lancar?
- Apakah kamu masih perlu mengeja saat membaca kata yang memiliki awalan atau akhiran?
Pertemuan 6 — Membaca Kata-Kata Sederhana tentang Perasaan Diri dengan Fasih secara Mandiri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.2 Membaca kata-kata sederhana dengan fasih dari bacaan tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membaca kata-kata sederhana tentang perasaan secara mandiri dan fasih tanpa mengeja (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menunjukkan 2 kartu kata 'sedih' dan 'marah' kepada kelas, lalu meminta 2 murid bergiliran membaca kata tersebut langsung (acuan ketepatan: kata 1 dibaca 'sedih' dan kata 2 dibaca 'marah' secara langsung tanpa terbata-bata) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menempelkan 5 kartu kata tentang perasaan di papan tulis: (1) senang, (2) takut, (3) kaget, (4) malu, (5) bangga, lalu menjelaskan bahwa membaca fasih berarti membunyikan kata secara utuh tanpa mengeja huruf per huruf atau terjeda ragu (acuan membaca fasih: membaca langsung kata secara utuh 'senang', 'takut', 'kaget', 'malu', 'bangga') (7 menit).
- Guru memodelkan cara membaca kelima kata tersebut satu per satu dengan lancar, lalu meminta seluruh murid membaca bersama-sama mengikuti tunjukan guru (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan lembar baca mandiri berisi daftar 5 kata target tentang perasaan: (1) gembira, (2) cemas, (3) kesal, (4) lega, (5) tenang (acuan membaca tepat dan fasih: membunyikan kelima kata tersebut tanpa mengeja dan tanpa mengulang) (10 menit).
- Permainan 'Tantangan Kata Kilat' (menggembirakan): murid berlatih membaca mandiri dalam hati, kemudian satu per satu murid maju mengambil giliran membaca 5 kata pada lembar bacaan di meja guru secara mandiri dan langsung tanpa mengeja (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa catatan hasil baca mandiri bersama guru untuk melihat kata mana yang sudah dibaca sangat lancar dan kata mana yang masih sempat terbata-bata (acuan refleksi: mengenali kelancaran membaca 5 kata target: gembira, cemas, kesal, lega, tenang) (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian murid yang sudah berhasil membaca kata-kata perasaan secara mandiri dan fasih tanpa bantuan ejaan (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan mengajak murid merapikan lembar bacaan dan mengakhiri kegiatan dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang masih mengeja, disediakan kartu kata dengan pemenggalan suku kata tipis sebagai jembatan sebelum membaca utuh; untuk murid mahir, disediakan daftar tambahan 5 kata perasaan yang lebih panjang: kecewa, khawatir, gelisah, terharu, bangga.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih membaca bersama guru secara bergantian, sedangkan murid yang sudah lancar langsung melakukan pembacaan mandiri.
- Produk: Semua murid menunjukkan unjuk kerja membaca lisan kata-kata perasaan secara langsung sesuai tingkat kemandirian dan kefasihan masing-masing.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes lisan diagnostik singkat di awal pembelajaran dengan membaca 2 kartu kata perasaan: (1) sedih, (2) marah (acuan: terbaca tepat 'sedih' dan 'marah' secara langsung tanpa mengeja).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja membaca mandiri daftar 5 kata target: (1) gembira, (2) cemas, (3) kesal, (4) lega, (5) tenang (acuan penskoran: dihitung jumlah kata yang dibaca tepat dan fasih tanpa mengeja, tanpa jeda ragu, dan tanpa mengulang dari total 5 kata).
Akhir Pertemuan:- Cek kefasihan membaca cepat mandiri 3 kata acak di akhir sesi: (1) senang, (2) takut, (3) kaget (acuan ketercapaian: murid membunyikan ketiga kata tersebut dengan tepat dan langsung tanpa terbata-bata).
Formatif:- Unjuk kerja membaca lisan mandiri 5 kata sederhana tentang perasaan diri menggunakan lembar bacaan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kefasihan Membaca Kata Perasaan secara Mandiri | Membaca 1-2 kata dari 5 kata target (gembira, cemas, kesal, lega, tenang) dan masih mengeja per suku kata dengan bantuan penuh guru. | Membaca 3 kata dari 5 kata target (gembira, cemas, kesal, lega, tenang) secara langsung tanpa mengeja, namun masih memerlukan bantuan sesekali. | Membaca 4 kata dari 5 kata target (gembira, cemas, kesal, lega, tenang) dengan tepat dan fasih tanpa mengeja secara mandiri. | Membaca seluruh 5 kata target (gembira, cemas, kesal, lega, tenang) dengan tepat, fasih, tanpa mengeja, dan tanpa jeda ragu secara mandiri penuh. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Berapa banyak murid yang sudah mampu membaca kata tentang perasaan secara langsung tanpa mengeja suku katanya?
- Langkah latihan apa yang paling efektif membantu murid yang masih terbata-bata saat membaca mandiri?
Murid:- Kata perasaan mana yang paling mudah kamu baca secara langsung?
- Apakah kamu merasa lebih percaya diri membaca kata-kata perasaan tanpa bantuan guru?
Pertemuan 7 — Menunjukkan Tokoh dan Peristiwa pada Bacaan tentang Perasaan Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.3 Menunjukkan isi bacaan tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengajak murid berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membaca cerita bergambar tentang perasaan diri serta menunjukkan tokoh dan peristiwa di dalamnya (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan dengan memperlihatkan cerita 2 kalimat di papan tulis: 'Beni tersenyum lebar. Beni mendapat hadiah pensil warna baru dari Ibu.' lalu bertanya: 'Siapa tokoh dalam kalimat ini dan peristiwa apa yang dialaminya?' (acuan jawaban: tokoh = Beni; peristiwa = mendapat hadiah pensil warna baru dari Ibu) untuk memetakan kesiapan murid menunjukkan tokoh dan peristiwa (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memirsa teks bacaan bergambar 'Mimi Marah' di Buku Siswa halaman 5-6 yang ditayangkan guru: 'Akhirnya, tangan boneka jadi putus. Mimi kesal dan marah sekali. Dia masuk ke kamarnya, berteriak, lalu menangis. Tok, tok, tok! Siapa yang mengetuk pintu kamar Mimi? Ternyata Kiki yang mengetuk pintu. Mimi melihat Kiki sedih dan takut padanya. Kiki ingin memperbaiki tangan boneka yang patah. Mimi jadi malu karena tidak mau mengalah. Mimi akan membantu Kiki memperbaiki boneka. Bermain bersama membuat hati senang dan bahagia.' (7 menit).
- Guru memodelkan cara menemukan unsur isi teks dengan membaca kalimat demi kalimat lalu menandai tokoh (Mimi, Kiki) dan peristiwa (tangan boneka putus, Mimi menangis di kamar, Kiki mengetuk pintu kamar Mimi untuk memperbaiki boneka) (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain tantangan 'Detektif Cerita' secara berpasangan: murid membaca kembali teks 'Mimi Marah' di buku masing-masing untuk menemukan tokoh dan peristiwa (10 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Berpikir Kritis berisi 4 butir pertanyaan isi bacaan 'Mimi Marah': (1) Siapa saja tokoh dalam cerita? (acuan: Mimi dan Kiki); (2) Peristiwa apa yang terjadi pada mainan mereka? (acuan: tangan boneka putus / boneka rusak saat berebut); (3) Di mana peristiwa Mimi menangis terjadi? (acuan: di dalam kamar Mimi); (4) Peristiwa apa yang dilakukan Kiki saat mengetuk pintu kamar Mimi? (acuan: ingin memperbaiki tangan boneka yang patah) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memandu murid memeriksa kembali jawabannya dengan mencocokkan langsung kalimat penjelas pada teks bacaan 'Mimi Marah' di buku masing-masing (5 menit).
- Murid menandai bagian lembar kerjanya secara jujur mengenai kemudahan atau kesulitan dalam menemukan nama tokoh dan peristiwa dalam bacaan (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap isi bacaan tentang bagaimana tokoh Mimi dan Kiki menghadapi peristiwa boneka yang putus (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran bahwa isi bacaan dapat diketahui dengan mengenali tokoh yang ada dalam cerita dan peristiwa yang terjadi pada tokoh tersebut, kemudian menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks 'Mimi Marah' dengan penandaan warna khusus (stabilo) pada nama tokoh dan peristiwa kunci, sedangkan murid yang mandiri membaca teks standar dari Buku Siswa.
- Proses: Murid yang masih berkembang didampingi guru dengan teknik membaca terbimbing kalimat per kalimat, sedangkan murid mahir langsung membaca mandiri dan menjawab pertanyaan isi.
- Produk: Murid yang belum lancar menulis diperbolehkan menunjukkan tokoh dan peristiwa dengan melingkari kata jawaban pada teks atau menyalin kata kunci, sedangkan murid reguler menuliskan jawaban kalimat sederhana secara lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat di pendahuluan dengan teks stimulus: 'Beni tersenyum lebar. Beni mendapat hadiah pensil warna baru dari Ibu.' Murid diminta menyebutkan tokoh dan peristiwa pada teks. Acuan jawaban benar: Tokoh = Beni; Peristiwa = Beni tersenyum / Beni mendapat hadiah pensil warna baru dari Ibu.
Proses:- Observasi pengerjaan Lembar Kerja 4 butir isi teks 'Mimi Marah': Butir 1: Tokoh dalam cerita (acuan: Mimi dan Kiki); Butir 2: Peristiwa yang terjadi pada boneka (acuan: tangan boneka putus/rusak); Butir 3: Peristiwa tempat Mimi menangis (acuan: kamar Mimi); Butir 4: Peristiwa yang dilakukan Kiki mengetuk pintu (acuan: ingin memperbaiki tangan boneka yang patah).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan hasil lembar kerja dan konfirmasi lisan cepat: 'Sebutkan 1 peristiwa di akhir cerita Mimi Marah!' (Acuan jawaban: Mimi dan Kiki bekerja sama memperbaiki boneka / Mimi dan Kiki bermain bersama dengan senang).
Formatif:- Penilaian kinerja berupa lembar kerja tertulis mandiri mengenai penunjukan tokoh dan peristiwa berdasarkan teks bacaan 'Mimi Marah'.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan Tokoh dalam Bacaan | Belum mampu menunjukkan nama tokoh dari teks bacaan 'Mimi Marah' meskipun telah dibimbing guru. | Menunjukkan 1 nama tokoh secara tepat dari teks bacaan 'Mimi Marah' dengan bantuan/arahan guru (acuan: Mimi atau Kiki). | Menunjukkan kedua nama tokoh secara tepat dari teks bacaan 'Mimi Marah' secara mandiri (acuan: Mimi dan Kiki). | Menunjukkan kedua nama tokoh (Mimi dan Kiki) beserta peranannya dalam peristiwa bacaan secara tepat dan mandiri tanpa keraguan. | | Menunjukkan Peristiwa dalam Bacaan | Belum mampu menunjukkan peristiwa yang terjadi dalam bacaan 'Mimi Marah' (0 butir benar dari 3 butir pertanyaan peristiwa). | Menunjukkan 1 peristiwa dalam teks bacaan 'Mimi Marah' secara tepat dari 3 butir pertanyaan peristiwa (acuan butir: tangan boneka putus, Mimi menangis di kamar, atau Kiki datang memperbaiki boneka). | Menunjukkan 2 sampai 3 peristiwa dalam teks bacaan 'Mimi Marah' secara tepat sesuai teks bacaan. | Menunjukkan seluruh (3) peristiwa dalam teks bacaan 'Mimi Marah' secara lengkap, tepat sesuai bukti kalimat pada teks, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks bacaan 'Mimi Marah' efektif membantu murid mengidentifikasi tokoh dan peristiwa cerita?
- Apakah scaffolding visual membantu murid yang belum lancar membaca dalam menunjukkan isi bacaan?
Murid:- Apakah kamu dapat menemukan nama tokoh dan peristiwa pada cerita Mimi Marah dengan mudah?
- Bagian cerita mana yang paling kamu sukai saat membaca tadi?
Pertemuan 8 — Menunjukkan Penyebab Perubahan Emosi Tokoh pada Bacaan tentang Perasaan Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.3 Menunjukkan isi bacaan tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan isi bacaan cerita 'Mimi Marah': 'Pada awal cerita, mengapa Mimi merasa marah dan kesal?' (acuan jawaban: karena bonekanya ditarik/berebut boneka hingga tangan bonekanya putus/rusak) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menemukan dan menunjukkan peristiwa penyebab perubahan perasaan tokoh Mimi dan Kiki pada bacaan (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama guru membaca kembali teks bacaan 'Mimi Marah' pada Buku Siswa halaman 5-6 (fokus pada alur perubahan emosi: Mimi marah karena tangan boneka putus, Kiki takut/sedih melihat Mimi marah, Mimi malu karena sadar tidak mau mengalah, lalu mereka senang karena bekerja sama memperbaiki boneka) (10 menit).
- Guru memandu murid menelusuri kalimat demi kalimat dalam teks untuk menemukan kalimat penanda penyebab perubahan emosi tokoh, misalnya kalimat 'Mimi kesal dan marah sekali' disebabkan kalimat sebelumnya 'Akhirnya, tangan boneka jadi putus' (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru membagikan Lembar Pasangan Emosi dan Peristiwa yang memuat 4 butir peristiwa penyebab perubahan emosi tokoh dari bacaan: (1) Perasaan Mimi berubah menjadi marah -> Pasangan penyebab: Tangan boneka putus karena berebut; (2) Perasaan Kiki berubah menjadi takut dan sedih -> Pasangan penyebab: Mimi masuk ke kamar, berteriak, lalu menangis; (3) Perasaan Mimi berubah menjadi malu -> Pasangan penyebab: Menyadari dirinya sendiri tidak mau mengalah; (4) Perasaan Mimi dan Kiki berubah menjadi senang -> Pasangan penyebab: Bermain bersama dan saling membantu memperbaiki boneka (12 menit).
- Murid bermain tantangan 'Detektif Sebab-Akibat' secara berpasangan dengan saling mencocokkan kartu emosi tokoh dan kartu penyebabnya sesuai kalimat dalam bacaan, lalu secara mandiri menarik garis jodoh pada lembar kerja masing-masing (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama bimbingan guru memeriksa kesesuaian hasil pasangan lembar kerjanya langsung dengan mencocokkan letak kalimat pada teks bacaan halaman 5-6 (acuan: butir 1 pasangan tangan boneka putus; butir 2 pasangan Mimi berteriak/menangis; butir 3 pasangan Mimi tidak mau mengalah; butir 4 pasangan bermain bersama dan memperbaiki boneka) (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan kegiatan hari ini bahwa setiap perubahan perasaan tokoh pada bacaan selalu memiliki peristiwa penyebab yang tertulis di dalam isi teks (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan murid dalam menunjukkan penyebab perubahan emosi tokoh, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan teks bacaan dengan penanda warna kuning pada kalimat peristiwa penyebab perubahan emosi; murid yang sudah mahir membaca teks tanpa penanda warna.
- Proses: Murid yang membutuhkan pendampingan dibimbing guru membaca ulang kalimat tepat sebelum dan sesudah perubahan emosi tokoh; murid mahir menunjuk langsung kalimat penyebab secara mandiri.
- Produk: Murid menunjukkan penyebab perubahan emosi melalui penarikan garis jodoh pada 4 butir lembar kerja terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: 'Mengapa Mimi merasa marah pada cerita yang dibaca sebelumnya?' (Acuan jawaban benar: karena bonekanya rusak/tangan bonekanya putus saat berebut).
Proses:- Observasi saat murid mengerjakan Lembar Pasangan Emosi dan Peristiwa: ketepatan murid menunjukkan 4 penyebab perubahan emosi tokoh berdasarkan isi bacaan. Butir target: (1) Mimi marah -> tangan boneka putus; (2) Kiki takut/sedih -> Mimi berteriak dan menangis di kamar; (3) Mimi malu -> Mimi sadar tidak mau mengalah; (4) Mimi dan Kiki senang -> bermain bersama dan memperbaiki boneka.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan hasil kerja mandiri pada Lembar Pasangan Emosi dan Peristiwa dengan kunci acuan: Butir 1 berpasangan dengan tangan boneka putus; Butir 2 berpasangan dengan Mimi berteriak dan menangis; Butir 3 berpasangan dengan Mimi tidak mau mengalah; Butir 4 berpasangan dengan bermain bersama dan memperbaiki boneka.
Formatif:- Penilaian kinerja berupa penugasan tertulis menjodohkan 4 butir perubahan emosi tokoh dengan peristiwa penyebabnya berdasarkan isi teks bacaan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan menunjukkan peristiwa penyebab perubahan emosi tokoh pada bacaan | Belum mampu menunjukkan peristiwa penyebab perubahan emosi tokoh pada bacaan (0 atau 1 butir tepat dari 4 acuan: Mimi marah -> tangan boneka putus; Kiki takut/sedih -> Mimi berteriak dan menangis; Mimi malu -> Mimi tidak mau mengalah; Senang -> bermain bersama dan memperbaiki boneka) meski telah dibimbing. | Mampu menunjukkan 2 butir peristiwa penyebab perubahan emosi tokoh pada bacaan dengan tepat sesuai 4 acuan peristiwa dengan bimbingan guru. | Mampu menunjukkan 3 butir peristiwa penyebab perubahan emosi tokoh pada bacaan dengan tepat sesuai 4 acuan peristiwa secara mandiri. | Mampu menunjukkan seluruh 4 butir peristiwa penyebab perubahan emosi tokoh pada bacaan dengan tepat sesuai 4 acuan peristiwa secara tepat dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks bacaan dan penanda visual yang disiapkan membantu murid menemukan hubungan sebab-akibat perubahan emosi tokoh?
- Bagian mana dari langkah bimbingan yang paling efektif membantu murid memahami alasan tokoh mengalami perubahan emosi?
Murid:- Peristiwa mana yang paling mudah kamu temukan penyebabnya di dalam cerita Mimi?
- Apakah kamu bisa tahu mengapa perasaan Mimi berubah dari marah menjadi senang?
Pertemuan 9 — Menunjukkan Isi Bacaan Cerita Bergambar tentang Berbagai Perasaan Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.3 Menunjukkan isi bacaan tentang perasaan diri
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid dengan ramah (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan isi bacaan cerita bergambar tentang berbagai perasaan diri yang dialami tokoh (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperlihatkan satu gambar Mimi menangis dan bertanya: 'Berdasarkan gambar ini, apa yang sedang dialami Mimi dan apa perasaannya?' (acuan: Mimi menangis di kamar karena sedih/marah bonekanya rusak) (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memirsa dan mencermati teks cerita bergambar 'Mimi Marah' (berisi 4 panel gambar: panel 1 Mimi dan Kiki berebut boneka hingga putus; panel 2 Mimi menangis di kamar dengan perasaan marah dan sedih; panel 3 Kiki datang mengetuk pintu membawa boneka dengan rasa takut dan ingin memperbaiki; panel 4 Mimi dan Kiki tersenyum memperbaiki boneka bersama dengan rasa senang) (10 menit).
- Guru memandu murid membedah isi bacaan dengan menunjukkan detail peristiwa dan jenis perasaan tokoh pada setiap panel cerita bergambar secara seksama (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan 'Detektif Gambar Emosi', di mana murid secara antusias mencocokkan 4 kartu potongan adegan dengan panel cerita yang tepat di papan pajang (kartu 1: tangan boneka lepas; kartu 2: Mimi teriak di kasur; kartu 3: Kiki memegang lem perekat; kartu 4: Mimi memeluk boneka bersama Kiki) (10 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja 'Menunjukkan Isi Cerita Bergambar' dengan menjawab 4 butir pertanyaan isi bacaan bergambar: (1) Apa yang diperebutkan Mimi dan Kiki? (acuan: boneka); (2) Perasaan apa yang dirasakan Mimi saat tangannya boneka patah? (acuan: marah/kesal); (3) Mengapa Kiki merasa takut saat mengetuk pintu kamar Mimi? (acuan: takut Mimi masih marah karena bonekanya rusak); (4) Apa yang membuat perasaan Mimi dan Kiki kembali senang di akhir cerita? (acuan: memperbaiki boneka bersama dan bermain bersama) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali kecocokan jawaban lembar kerjanya bersama guru untuk mengonfirmasi kebenaran isi peristiwa dan perasaan tokoh yang ditunjukkan (5 menit).
- Murid menyimpulkan kemampuannya dalam menemukan isi bacaan dan berbagai perasaan tokoh melalui panduan gambar cerita (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid dalam menunjukkan isi bacaan cerita bergambar tentang perasaan diri (3 menit).
- Guru menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran pertemuan berikutnya dan menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks cerita bergambar dengan teks kalimat pendukung yang lebih sederhana, sedangkan murid yang mahir diberikan cerita bergambar lengkap dengan detail ekspresi wajah tokoh.
- Proses: Murid yang belum lancar membaca dibimbing guru secara langsung dengan menunjuk gambar visual adegan, sedangkan murid yang sudah lancar mengerjakan lembar kerja secara mandiri.
- Produk: Murid dapat menunjukkan isi bacaan dengan cara menuliskan jawaban kata kunci atau melingkari pilihan gambar adegan yang sesuai dengan isi teks.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 1 gambar cuplikan Mimi menangis: Murid diminta menunjukkan isi kejadian dan perasaan tokoh pada gambar tersebut (acuan: Mimi menangis di dalam kamar karena sedih/marah setelah bonekanya rusak).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengerjaan 4 butir pertanyaan isi bacaan bergambar pada Lembar Kerja: Butir 1 (acuan: boneka), Butir 2 (acuan: marah/kesal), Butir 3 (acuan: takut Mimi masih marah karena boneka rusak), Butir 4 (acuan: memperbaiki boneka bersama dan bermain bersama).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan satu pertanyaan penegasan isi teks: 'Berdasarkan cerita bergambar tadi, apa tanda bahwa perasaan Mimi dan Kiki sudah kembali senang?' (acuan: keduanya tersenyum dan bekerja sama memperbaiki/memainkan boneka).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal lisan tanya jawab pemahaman gambar di pendahuluan
- Observasi unjuk kerja permainan 'Detektif Gambar Emosi' dan hasil pengerjaan Lembar Kerja mandiri menunjukkan isi bacaan bergambar
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menunjukkan Isi Bacaan Cerita Bergambar tentang Perasaan Diri | Hanya mampu menunjukkan 1 dari 4 butir isi bacaan cerita bergambar dengan tepat dan masih memerlukan bimbingan penuh dari guru (daftar acuan: butir 1 boneka, butir 2 marah/kesal, butir 3 takut dimarahi, butir 4 memperbaiki/bermain boneka bersama). | Mampu menunjukkan 2 dari 4 butir isi bacaan cerita bergambar tentang perasaan diri secara tepat dengan sedikit arahan guru (daftar acuan: butir 1 boneka, butir 2 marah/kesal, butir 3 takut dimarahi, butir 4 memperbaiki/bermain boneka bersama). | Mampu menunjukkan 3 dari 4 butir isi bacaan cerita bergambar tentang perasaan diri secara tepat dan mandiri (daftar acuan: butir 1 boneka, butir 2 marah/kesal, butir 3 takut dimarahi, butir 4 memperbaiki/bermain boneka bersama). | Mampu menunjukkan seluruh 4 butir isi bacaan cerita bergambar tentang perasaan diri secara tepat dan mandiri tanpa keraguan (daftar acuan: butir 1 boneka, butir 2 marah/kesal, butir 3 takut dimarahi, butir 4 memperbaiki/bermain boneka bersama). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah media cerita bergambar membantu seluruh murid memahami isi bacaan dan perasaan tokoh secara jelas?
- Bagian mana dari kegiatan menunjukkan isi bacaan yang masih memerlukan pendampingan intensif bagi murid?
Murid:- Apakah kamu dapat menemukan perasaan Mimi dan Kiki dari gambar-gambar dalam cerita?
- Gambar adegan mana yang paling mudah kamu pahami isinya?
Pertemuan 10 — Merespons Pertanyaan Teman dengan Jawaban Santun dalam Percakapan tentang Perasaan Bahagia — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.4 Merespons dengan menjawab komentar orang lain dengan baik dan santun dalam suatu percakapan tentang diri
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa singkat, dan mengecek kehadiran murid secara hangat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar merespons pertanyaan teman tentang perasaan bahagia menggunakan kata-kata yang baik dan santun (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 1 pertanyaan pembuka kepada 3 murid sampel: 'Apa yang kamu rasakan saat bermain bersama teman?' (Kriteria penerimaan: jawaban santun memuat kata rasa senang/bahagia, misalnya 'Saya merasa senang sekali, Bu' atau 'Saya bahagia karena bisa bermain bersama') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak peragaan percakapan singkat antara guru dan salah satu boneka tangan mengenai perasaan bahagia: Boneka bertanya, 'Mengapa kamu tersenyum bahagia hari ini?' dan guru merespons dengan santun, 'Aku bahagia karena hari ini bisa membaca buku cerita baru bersama teman-teman' (5 menit).
- Guru membimbing murid mengidentifikasi ciri respons yang santun dalam percakapan, yaitu menjawab langsung isi pertanyaan tentang diri sendiri dengan pilihan kata santun (misalnya: 'Iya, aku senang...', 'Terima kasih sudah bertanya, aku bahagia karena...') tanpa memotong pembicaraan teman (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid diajak bermain 'Lempar Bola Bahagia' secara berpasangan: murid A melempar bola kain kecil sambil membacakan 1 dari 3 kartu pertanyaan yang disediakan guru: Kartu 1 ('Kapan kamu merasa paling bahagia?'), Kartu 2 ('Apa mainan yang membuatmu bahagia saat memainkannya?'), atau Kartu 3 ('Siapa yang membuatmu bahagia saat di rumah dan mengapa?') (10 menit).
- Murid B merespons pertanyaan tersebut secara santun mengenai perasaan bahagianya sesuai kartu yang dibacakan temannya, lalu bertukar peran secara bergantian (acuan respons yang diterima: Kartu 1 dijawab dengan waktu/situasi bahagia diri seperti 'Aku merasa paling bahagia saat pergi ke pantai bersama ayah dan ibu'; Kartu 2 dijawab dengan nama mainan dan alasan bahagia seperti 'Aku bahagia saat bermain balok karena bisa membuat gedung'; Kartu 3 dijawab dengan sosok anggota keluarga dan rasa bahagia seperti 'Ibu membuatku bahagia karena sering memelukku') (10 menit).
- Guru berkeliling mengamati dan mencatat respons lisan murid dalam lembar observasi formatif proses (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan bersama guru merefleksikan bagaimana perasaan mereka saat menjawab dan mendengarkan jawaban santun dari teman (5 menit).
- Murid menyebutkan kembali 1 contoh kalimat jawaban santun tentang perasaan bahagia yang baru saja mereka praktikkan bersama pasangannya (acuan kriteria: menyebutkan kalimat respons santun yang memuat alasan perasaan bahagia diri) (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini mengenai pentingnya menjawab pertanyaan orang lain dengan bahasa yang baik dan santun saat bercerita tentang perasaan bahagia (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi kepada seluruh murid atas kerja sama yang baik saat berpasangan dan menutup pembelajaran dengan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu pertanyaan bertuliskan teks sederhana disertai simbol gambar senyum untuk memudahkan murid yang masih dalam tahap awal kelancaran membaca.
- Proses: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan frasa awal merespons lisan ('Aku merasa bahagia saat... karena...'), sedangkan murid yang sudah mahir diberikan kesempatan menjawab secara mandiri dengan menambahkan rincian cerita bahagianya.
- Produk: Respons percakapan disampaikan secara lisan dalam interaksi berpasangan dengan panjang respons 1 hingga 2 kalimat santun.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Guru bertanya kepada murid, 'Apa yang kamu rasakan saat bermain bersama teman?' (Kriteria penerimaan respons: murid menjawab dengan sopan dan menyebut perasaan senang/bahagia diri, contoh: 'Saya merasa senang sekali, Bu' atau 'Aku bahagia bisa main bersama teman').
Proses:- Observasi formatif saat aktivitas 'Lempar Bola Bahagia' berpasangan: Mengamati kemampuan murid merespons 3 kartu pertanyaan: (1) 'Kapan kamu merasa paling bahagia?', (2) 'Apa mainan yang membuatmu bahagia saat memainkannya?', (3) 'Siapa yang membuatmu bahagia saat di rumah dan mengapa?' (Acuan penerimaan: jawaban santun, relevan dengan pertanyaan tentang perasaan diri, memuat alasan rasa bahagia tanpa kata kasar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Murid menyampaikan 1 contoh kalimat jawaban santun tentang pengalaman bahagia dirinya saat ditanya teman (Kriteria penerimaan: jawaban relevan dengan perasaan bahagia diri dan menggunakan pilihan kata yang santun, misalnya 'Aku senang saat menggambar bersama adik').
Formatif:- Observasi unjuk kerja percakapan berpasangan (merespons pertanyaan teman tentang perasaan bahagia secara santun).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Merespons Pertanyaan Teman tentang Perasaan Bahagia | Belum mampu menjawab pertanyaan teman atau jawaban tidak berkaitan dengan topik perasaan bahagia diri meskipun telah dibimbing guru. | Mampu menjawab pertanyaan teman tentang perasaan bahagia diri namun masih memerlukan bantuan pancingan kata dari guru agar sesuai isi pertanyaan. | Mampu merespons pertanyaan teman tentang perasaan bahagia diri secara tepat dan mandiri sesuai isi kartu pertanyaan. | Mampu merespons seluruh pertanyaan teman tentang perasaan bahagia diri secara runtut, tepat, dan memberikan rincian alasan bahagia secara mandiri. | | Kesantunan Berbahasa dalam Percakapan | Belum menggunakan kata-kata santun saat menjawab pertanyaan teman (mengabaikan teman atau menjawab dengan nada ketus). | Merespons teman dengan kata-kata santun setelah diingatkan atau diberi contoh oleh guru. | Merespons pertanyaan teman dengan pilihan kata yang baik dan santun secara konsisten selama percakapan berlangsung. | Merespons pertanyaan teman dengan pilihan kata yang sangat santun, ramah, dan bersikap menghargai mitra bicara tanpa perlu diingatkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan merespons pertanyaan teman dalam aktivitas percakapan berpasangan?
- Bagaimana tingkat kesantunan berbahasa murid saat menyampaikan perasaan bahagia kepada temannya?
Murid:- Bagaimana perasaanmu saat teman mendengarkan jawabanmu dengan ramah?
- Kata santun apa yang paling kamu sukai saat menjawab pertanyaan teman hari ini?
Pertemuan 11 — Merespons Komentar Teman dengan Kalimat Santun dalam Percakapan tentang Perasaan Sedih — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.4 Merespons dengan menjawab komentar orang lain dengan baik dan santun dalam suatu percakapan tentang diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengondisikan suasana belajar yang hangat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar merespons komentar teman tentang perasaan sedih diri kita menggunakan kata-kata yang baik dan santun (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan dengan memperdagakan satu komentar: 'Kamu tampak murung dan sedih hari ini, ada apa?' lalu meminta 2 murid merespons secara langsung (acuan respons santun: memuat ungkapan terima kasih atau pengakuan perasaan diri tanpa kata kasar/membentak, misalnya: 'Iya, aku sedih pensilku hilang. Terima kasih sudah bertanya') (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak peragaan guru tentang perbedaan respons santun dan tidak santun ketika teman mengomentari perasaan sedih diri (5 menit).
- Murid mengidentifikasi ciri respons santun berdasarkan 3 contoh kalimat guru: (1) 'Iya, aku sedang sedih karena mainanku tertinggal. Terima kasih ya sudah peduli', (2) 'Betul, aku merasa sedih nilaiku kurang baik, tapi aku akan belajar lagi', (3) 'Maaf, aku memang sedang sedih hari ini, terima kasih sudah menemaniku' (acuan ciri: memuat kata terima kasih/maaf, menyebutkan alasan sedih diri secara tenang, tidak membentak) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain peran interaktif berpasangan 'Kotak Sahabat Berbicara' di mana teman melontarkan kartu situasi komentar sedih, lalu murid merespons dengan kalimat santun (10 menit).
- Setiap murid berlatih merespons secara lisan 3 komentar teman tentang perasaan sedih: Komentar 1: 'Wajahmu kelihatan sedih sekali hari ini', Komentar 2: 'Kamu sedih ya karena jatuh saat lari tadi?', Komentar 3: 'Jangan menangis terus, kamu terlihat sedih sekali' (acuan respons santun yang diterima: Komentar 1 dijawab dengan mengakui perasaan sedih dan berterima kasih atas perhatiannya; Komentar 2 dijawab dengan membenarkan dan menyebutkan kondisi lutut/kakinya dengan santun; Komentar 3 dijawab dengan santun menerima dukungan teman) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama pasangan bergantian memberi masukan sederhana tentang kesantunan respons yang telah diucapkan temannya saat latihan (8 menit).
- Murid menyimpulkan bahwa merespons perhatian teman dengan santun membuat diri merasa lebih tenang dan dihargai saat sedang sedih (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid mengulas kembali contoh respons santun terbaik yang dipraktikkan hari ini (4 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap praktik komunikasi santun murid dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan frasa santun (seperti 'Terima kasih sudah bertanya...', 'Iya, aku merasa sedih karena...') bagi murid yang membutuhkan bantuan formulasi kalimat.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih merespons komentar terpandu bersama guru, sedangkan murid yang mahir berlatih merespons komentar spontan bersama pasangan secara mandiri.
- Produk: Respons lisan santun disampaikan dengan variasi kalimat pilihan murid sendiri berdasarkan situasi perasaan sedih yang dihadapi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: Guru memberikan komentar 'Kamu kelihatan sedih sekali pagi ini, kenapa?' dan meminta murid memberikan respons lisan (acuan respons santun: menyatakan perasaan sedih diri dan menyertakan ucapan terima kasih/kata santun, misal: 'Iya, aku sedih karena bukuku tertinggal di rumah. Terima kasih sudah bertanya').
Proses:- Pengamatan langsung saat aktivitas berpasangan merespons 3 komentar teman: (1) 'Wajahmu kelihatan sedih sekali hari ini', (2) 'Kamu sedih ya karena jatuh saat lari tadi?', (3) 'Jangan menangis terus, kamu terlihat sedih sekali' (acuan penilaian: ketepatan isi jawaban terhadap perasaan sedih diri dan penggunaan kata santun seperti 'terima kasih', 'maaf', atau 'iya' tanpa nada kasar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menguji acak 2 murid dengan komentar 'Kamu tampak sedih, ada yang bisa kubantu?', murid merespons dengan kalimat santun (kriteria penerimaan operasional: jawaban memuat respons terhadap kondisi sedih diri dan ungkapan santun/terima kasih).
Formatif:- Observasi unjuk kerja berpasangan merespons komentar teman tentang perasaan sedih dengan kalimat santun menggunakan lembar amatan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merespons komentar teman dengan santun tentang perasaan sedih diri | Belum mampu merespons komentar teman tentang perasaan sedih diri secara lisan walau dengan bimbingan penuh guru. | Mampu merespons komentar teman tentang perasaan sedih diri secara lisan, namun belum memuat pilihan kata santun (hanya menggeleng, menjawab ketus, atau butuh dorongan berulang). | Mampu merespons 3 komentar teman tentang perasaan sedih diri secara lisan dengan kalimat yang baik dan santun secara tepat. | Mampu merespons seluruh komentar teman tentang perasaan sedih diri secara lisan dengan kalimat yang sangat santun, jelas, dan percaya diri tanpa bantuan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan merespons komentar teman secara lisan?
- Bagian latihan mana yang paling efektif membantu murid memilih kata santun saat merasa sedih?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah belajar membalas komentar teman dengan kata-kata santun hari ini?
- Kata santun apa yang paling kamu sukai saat menjawab perhatian teman yang menanyakan kesedihanmu?
Pertemuan 12 — Merespons Komentar Guru dan Teman secara Santun dalam Percakapan Pengelolaan Emosi Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.4 Merespons dengan menjawab komentar orang lain dengan baik dan santun dalam suatu percakapan tentang diri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar memberikan jawaban yang santun ketika menerima komentar dari guru atau teman tentang cara mengelola perasaan diri (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan: Guru memberikan komentar pemodelan 'Ibu perhatikan kamu bisa tenang saat mainanmu dipinjam teman tadi' lalu meminta 2-3 murid mencoba memberikan jawaban (acuan respons santun: memuat kata santun seperti 'Terima kasih, Bu' atau 'Iya Bu, saya tadi menarik napas panjang') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai ciri respons jawaban yang santun dalam percakapan: menggunakan kata terima kasih, bahasa yang ramah, dan menyampaikan alasan cara menenangkan diri tanpa berteriak atau membantah kasar (5 menit).
- Murid mengamati 3 contoh komentar dan respons santun yang dibacakan guru: (1) Komentar guru: 'Bagus sekali kamu tidak berteriak saat pensilmu patah.' -> Respons santun: 'Terima kasih Bu, saya tadi minum air putih supaya tenang.' (2) Komentar teman: 'Kamu hebat bisa sabar saat antre cuci tangan.' -> Respons santun: 'Terima kasih, aku mencoba mengingat pesan Ibu Guru.' (3) Komentar guru: 'Bapak senang kamu mau berbagi krayon.' -> Respons santun: 'Sama-sama Pak, saya senang bisa berbagi.' (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid diajak melakukan permainan berpasangan 'Kotak Komentar Sahabat': setiap pasangan murid mengambil 1 dari 4 kartu komentar terarah, lalu murid yang mendapat giliran merespons memberikan jawaban santun tentang cara pengelolaan emosi dirinya secara langsung (15 menit).
- Daftar 4 kartu komentar dalam permainan: Kartu 1 (Komentar teman: 'Wah, kamu tadi hebat tidak menangis waktu terjatuh.'), Kartu 2 (Komentar guru: 'Ibu bangga kamu bisa menarik napas dalam-dalam saat kesal.'), Kartu 3 (Komentar teman: 'Kamu tampak tenang sekali saat menunggu giliran membaca.'), Kartu 4 (Komentar guru: 'Bagus, kamu bisa mengajak teman berbaikan setelah berselisih.') (acuan respons santun: memuat ungkapan terima kasih atau konfirmasi santun serta menyebutkan cara pengelolaan emosi, misal Kartu 1: 'Terima kasih, aku mencoba menahan diri'; Kartu 2: 'Terima kasih Bu, napas dalam membuat saya lega'; Kartu 3: 'Iya, aku belajar bersabar'; Kartu 4: 'Terima kasih Pak, berbaikan membuat hati nyaman') (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama pasangannya menceritakan bagaimana perasaan mereka ketika saling memberikan dan menjawab respons dengan santun selama latihan (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap respons-respons santun yang telah dipraktikkan oleh murid dan menegaskan pentingnya bertutur kata baik saat membicarakan perasaan diri (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara merespons komentar orang lain dengan santun dalam mengelola emosi diri (3 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan apresiasi atas partisipasi murid dan doa penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata santun (misal: 'Terima kasih...', 'Iya Bu/Pak, saya...'), sedangkan murid mahir merespons skenario komentar tanpa kartu bantuan kalimat pemandu.
- Proses: Pada latihan berpasangan, murid yang masih ragu didampingi guru untuk mempraktikkan respons, sedangkan murid yang sudah lancar berlatih mandiri bergantian peran.
- Produk: Respons lisan santun disampaikan dalam 1 kalimat sederhana bagi murid berkembang, dan 2 kalimat sederhana yang menjelaskan cara menenangkan diri bagi murid sangat berkembang.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: Murid merespons 1 komentar guru ('Ibu perhatikan kamu bisa tenang saat mainanmu dipinjam teman tadi'). Acuan respons: Murid menjawab santun dengan ucapan terima kasih atau kalimat ramah terkait menenangkan diri ('Terima kasih Bu, saya tadi bersabar').
Proses:- Observasi unjuk kerja berpasangan saat murid merespons 4 kartu komentar: (1) Komentar tidak menangis saat jatuh -> acuan: 'Terima kasih, aku mencoba menahan diri'; (2) Komentar napas dalam saat kesal -> acuan: 'Terima kasih Bu, napas dalam membuat saya tenang'; (3) Komentar tenang saat antre -> acuan: 'Iya, aku belajar bersabar'; (4) Komentar mengajak berbaikan -> acuan: 'Terima kasih Pak, berbaikan membuat hati nyaman'. Kriteria: ketepatan isi jawaban dan kesantunan tutur kata.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Guru memberikan satu komentar penutup secara acak kepada murid ('Bapak senang kamu tetap tersenyum saat harus menunggu') dan murid memberikan respons santun langsung (acuan jawaban: mengandung ungkapan santun seperti 'Terima kasih Pak' dan jawaban yang relevan tentang kesabaran diri).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja lisan merespons komentar guru dan teman dengan santun menggunakan lembar observasi percakapan berpasangan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merespons Komentar dengan Santun dalam Percakapan tentang Pengelolaan Emosi Diri | Belum mampu menjawab komentar orang lain atau respons belum memuat kata santun meskipun telah dibimbing penuh oleh guru. | Mampu menjawab komentar orang lain tentang pengelolaan emosi diri dengan santun namun masih memerlukan bimbingan dan contoh kata dari guru/teman. | Mampu menjawab 4 komentar guru dan teman tentang pengelolaan emosi diri dengan santun dan tepat secara mandiri (memuat ungkapan terima kasih/bahasa ramah serta alasan pengelolaan diri). | Mampu menjawab seluruh komentar guru dan teman tentang pengelolaan emosi diri secara santun, tepat, lancar, dan konsisten memberikan respons timbal balik yang ramah tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah percaya diri menjawab komentar guru dan teman secara lisan?
- Apakah skenario komentar yang diberikan relevan dengan pengalaman murid mengelola emosinya di kelas?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menjawab komentar teman dengan santun?
- Kata santun apa yang paling sering kamu gunakan hari ini saat menjawab komentar?
Pertemuan 13 — Mengungkapkan Perasaan Senang dan Takut secara Lisan dengan Bantuan Kartu Emosi — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.5 Mengungkapkan perasaan secara lisan dengan bantuan gambar
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama untuk mengawali kegiatan belajar (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan memperlihatkan 2 kartu emosi bergambar wajah: (1) Kartu Gambar Wajah Tersenyum Lebar dan (2) Kartu Gambar Wajah Menangis Ketakutan, lalu menanyakan perasaan apa yang ditunjukkan masing-masing kartu (acuan jawaban: kartu 1 = perasaan senang/gembira/bahagia; kartu 2 = perasaan takut/ngeri) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar mengungkapkan perasaan senang dan takut secara lisan dengan bantuan kartu emosi bergambar (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperkenalkan 2 kartu emosi bergambar utama kepada seluruh murid di depan kelas: Kartu A (gambar wajah anak tersenyum lebar dengan pipi berseri bertuliskan 'Senang') dan Kartu B (gambar wajah anak dengan mata membelalak dan bibir gemetar bertuliskan 'Takut') (5 menit).
- Guru memodelkan cara mengungkapkan perasaan diri secara lisan menggunakan bantuan kartu tersebut dengan kalimat terstruktur sederhana: 'Saya merasa senang saat diajak ayah ke taman' sambil menunjukkan Kartu A, dan 'Saya merasa takut saat mendengar petir keras' sambil menunjukkan Kartu B (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Guru membagikan masing-masing 1 set kartu emosi (Kartu Senang dan Kartu Takut) kepada setiap murid untuk kegiatan 'Tebak dan Cerita Kartuku' (5 menit).
- Dalam suasana yang menggembirakan, guru mengadakan permainan 'Angkat Kartu': guru menyebutkan satu situasi konkret, murid mengangkat kartu yang sesuai, lalu 2-3 perwakilan murid mengungkapkan perasaan lisannya secara bergantian (Situasi 1: 'Mendapat hadiah buku baru' -> acuan kartu: Senang; Situasi 2: 'Mati lampu dan ruangan gelap gulita' -> acuan kartu: Takut) (10 menit).
- Secara berpasangan dengan teman sebangku, setiap murid bergantian mengambil Kartu Senang lalu mengungkapkan 1 pengalaman merasa senang secara lisan (contoh kriteria: mengungkapkan peristiwa yang membuatnya senang menggunakan kata 'senang' dan bantuan Kartu Senang) (10 menit).
- Masih secara berpasangan, setiap murid bergantian mengambil Kartu Takut lalu mengungkapkan 1 pengalaman merasa takut secara lisan (contoh kriteria: mengungkapkan peristiwa yang membuatnya takut menggunakan kata 'takut' dan bantuan Kartu Takut) (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru membimbing murid melakukan refleksi singkat bersama: murid memikirkan betapa kartu gambar emosi dapat membantu mereka menjelaskan isi hati kepada teman secara jelas (5 menit).
- Dua orang perwakilan murid secara sukarela maju ke depan kelas memilih salah satu kartu emosi dan mengungkapkan perasaan tersebut di depan kelas (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa perasaan senang dan perasaan takut adalah perasaan wajar yang bisa kita ungkapkan kepada orang lain dengan bantuan gambar emosi (3 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa umpan balik langsung kepada murid tentang keberhasilan mereka mengungkapkan perasaan secara lisan hari ini dan menutup pelajaran dengan doa serta salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu emosi dengan gambar ekspresi yang lebih besar dan jelas, sedangkan murid cepat diberikan kartu dengan variasi gambar situasi pemicu senang dan takut.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan perancah pola kalimat lisan ('Saya merasa ... saat ...') dari guru, sementara murid cepat langsung mengungkapkan perasaan secara mandiri dengan menambahkan alasan lengkap.
- Produk: Semua murid mengungkapkan perasaan senang dan takut secara lisan dengan bantuan kartu gambar; murid cepat mengungkapkan 2 situasi pemicu untuk masing-masing perasaan senang dan takut.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik identifikasi visual emosi lisan di awal pembelajaran menggunakan 2 kartu emosi: (1) Kartu Wajah Tersenyum Lebar dan (2) Kartu Wajah Menangis Ketakutan. Murid diminta menyebutkan jenis perasaan pada masing-masing kartu. Acuan jawaban: Kartu 1 = Senang/Gembira/Bahagia; Kartu 2 = Takut/Ngeri.
Proses:- Pengamatan performa lisan saat latihan berpasangan dan permainan 'Angkat Kartu': Guru mencatat kemampuan murid mengungkapkan perasaan senang menggunakan Kartu Senang (acuan kriteria: menyebutkan kata 'senang' dan peristiwa penyebabnya secara lisan sambil menunjukkan kartu) dan perasaan takut menggunakan Kartu Takut (acuan kriteria: menyebutkan kata 'takut' dan peristiwa penyebabnya secara lisan sambil menunjukkan kartu).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir: Guru menunjukkan Kartu Takut dan menunjuk 2 murid secara acak untuk mengungkapkan 1 kalimat perasaan takut secara lisan (acuan kriteria: menyatakan 'Saya merasa takut saat ...' dengan konteks yang logis tentang rasa takut, misalnya saat melihat ular atau saat sendirian di tempat gelap).
Formatif:- Unjuk kerja lisan: Murid mengungkapkan perasaan senang dan perasaan takut secara lisan dengan memperlihatkan kartu emosi yang sesuai.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengungkapkan Perasaan Senang secara Lisan dengan Bantuan Gambar | Belum mampu mengungkapkan perasaan senang secara lisan meskipun telah ditunjukkan kartu emosi senang dan diberi contoh kalimat oleh guru. | Mampu mengungkapkan perasaan senang secara lisan dengan bantuan kartu emosi senang, namun masih memerlukan panduan kata demi kata dari guru. | Mampu mengungkapkan perasaan senang secara lisan menggunakan kalimat sendiri dengan menunjukkan kartu emosi senang secara tepat. | Mampu mengungkapkan perasaan senang secara lisan dengan sangat lancar dan mandiri menggunakan kartu emosi senang disertai penjelasan situasi pemicunya secara rinci. | | Mengungkapkan Perasaan Takut secara Lisan dengan Bantuan Gambar | Belum mampu mengungkapkan perasaan takut secara lisan meskipun telah ditunjukkan kartu emosi takut dan diberi contoh kalimat oleh guru. | Mampu mengungkapkan perasaan takut secara lisan dengan bantuan kartu emosi takut, namun masih memerlukan panduan kata demi kata dari guru. | Mampu mengungkapkan perasaan takut secara lisan menggunakan kalimat sendiri dengan menunjukkan kartu emosi takut secara tepat. | Mampu mengungkapkan perasaan takut secara lisan dengan sangat lancar dan mandiri menggunakan kartu emosi takut disertai penjelasan situasi pemicunya secara rinci. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan kartu emosi bergambar efektif membantu murid mengungkapkan perasaan senang dan takut secara lisan?
- Bagian mana dari kegiatan berpasangan yang paling menarik perhatian dan memotivasi murid untuk berbicara?
- Apakah ada murid yang masih ragu atau malu dalam mengungkapkan perasaan takutnya?
Murid:- Apakah kartu bergambar wajah senang dan takut membantumu menceritakan apa yang kamu rasakan?
- Perasaan mana yang paling mudah kamu ceritakan kepada temanmu hari ini: senang atau takut?
Pertemuan 14 — Mengungkapkan Perasaan Marah dan Cara Meredakannya secara Lisan dengan Bantuan Gambar Berseri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.5 Mengungkapkan perasaan secara lisan dengan bantuan gambar
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru melakukan apersepsi dan asesmen awal lisan dengan memperlihatkan satu gambar anak berwajah cemberut mengepalkan tangan dan satu gambar anak tersenyum menarik napas panjang, lalu meminta 2-3 murid menyebutkan perasaan dan tindakan pada gambar (kriteria acuan diagnostik: gambar 1 menunjukkan perasaan marah/kesal; gambar 2 menunjukkan tindakan menenangkan diri/menarik napas) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar mengungkapkan perasaan marah dan cara meredakannya secara lisan dengan bantuan media gambar berseri (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperlihatkan media gambar berseri 3 panel di papan tulis: Panel 1 (seorang anak marah karena mainan baloknya roboh tersenggol), Panel 2 (anak tersebut memilih menepi dan menarik napas dalam-dalam), dan Panel 3 (anak merasa tenang dan tersenyum kembali) (6 menit).
- Guru memberikan pemodelan cara mengungkapkan perasaan marah dan cara meredakannya secara lisan dengan berpatokan pada gambar berseri tersebut: 'Aku merasa marah saat mainanku rusak atau roboh. Agar tenang, aku menarik napas dalam-dalam sampai hatiku merasa lega' (6 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan lembar gambar berseri 'Cara Meredakan Marah' yang memuat 3 panel berurutan: Panel A (penyebab marah: pensil patah/mainan direbut), Panel B (pilihan tindakan meredakan: menarik napas dalam, membasuh muka, atau menyendiri sejenak), dan Panel C (perasaan kembali tenang/tersenyum) kepada setiap murid (5 menit).
- Murid bermain tantangan berpasangan 'Bercerita Gambar Emosiku': secara bergantian bersama teman sebangku, setiap murid menunjuk gambar pada lembar gambarnya dan mengungkapkan secara lisan perasaan marah yang pernah dialami serta cara meredakannya sesuai alur gambar berseri (17 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Beberapa perwakilan murid secara mandiri mengungkapkan perasaan marah dan cara meredakannya secara lisan di depan kelas sambil menunjukkan panel gambar berseri yang dipilihnya (16 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa perasaan marah adalah hal wajar yang dialami setiap orang, dan penting untuk mengungkapkan cara meredakannya secara sehat dan tepat (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik dan penguatan lisan terhadap kemampuan murid dalam mengungkapkan perasaan marah dan cara meredakannya dengan panduan gambar (3 menit).
- Guru bersama murid mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar gambar berseri dengan pilihan cara meredakan marah yang konkret (menarik napas, minum air putih, atau berdiam sejenak) untuk mempermudah identifikasi.
- Proses: Bagi murid yang masih memerlukan bimbingan, guru memberikan panduan frasa pangkal 'Saya merasa marah saat... dan saya menenangkan diri dengan cara...'; bagi murid yang cepat, murid dipersilakan mengungkapkan dua alur cara meredakan marah secara mandiri.
- Produk: Ungkapan lisan murid mencakup minimal 1 penyebab rasa marah dan 1 cara meredakannya dengan mengacu pada gambar berseri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan saat pendahuluan: Guru menunjukkan 2 gambar (Gambar A: anak cemberut mengepalkan tangan karena mainan jatuh; Gambar B: anak menarik napas panjang dengan mata terpejam). Murid diminta menyebutkan apa perasaan pada Gambar A dan tindakan apa pada Gambar B. (Acuan jawaban: Gambar A = perasaan marah/kesal; Gambar B = menenangkan diri/menarik napas dalam).
Proses:- Pengamatan performa berbicara murid saat latihan berpasangan dan unjuk kerja mandiri menggunakan lembar gambar berseri 3 panel (Panel A: penyebab marah, Panel B: cara meredakan marah, Panel C: perasaan kembali tenang). Indikator: (1) Menyebutkan perasaan marah beserta penyebabnya sesuai gambar; (2) Menyebutkan cara meredakan rasa marah sesuai gambar (acuan pilihan tindakan: menarik napas dalam, minum air, atau menyendiri).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir tahap unjuk kerja: Setiap murid secara lisan menyelesaikan kalimat pengungkapan perasaan: 'Aku merasa marah saat [menyebutkan pemicu pada gambar] dan aku menenangkan diri dengan [menyebutkan 1 cara meredakan marah pada gambar]' (Kriteria penerimaan: ungkapan lisan memuat kata 'marah', pemicu marah yang sesuai gambar, serta minimal satu tindakan nyata meredakan marah yang sesuai gambar panel B).
Formatif:- Observasi unjuk kerja pengungkapan perasaan marah dan cara meredakannya secara lisan dengan bantuan gambar berseri.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengungkapan Perasaan Marah dan Cara Meredakannya secara Lisan | Belum mampu mengungkapkan perasaan marah maupun cara meredakannya secara lisan meski dibimbing penuh menggunakan gambar berseri. | Mampu mengungkapkan perasaan marah atau cara meredakannya secara lisan dengan bantuan bimbingan pertanyaan pemandu guru berdasarkan gambar berseri. | Mampu mengungkapkan perasaan marah dan cara meredakannya secara lisan secara runtut sesuai alur gambar berseri secara mandiri. | Mampu mengungkapkan perasaan marah dan beragam cara meredakannya secara lisan dengan runtut, lengkap, dan lancar sesuai alur gambar berseri secara mandiri tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah media gambar berseri efektif membantu murid mengungkapkan perasaan marah dan cara meredakannya secara lisan?
- Bagaimana keterlibatan murid selama kegiatan berpasangan mengungkapkan emosi?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah belajar mengungkapkan rasa marah hari ini?
- Cara menenangkan diri mana pada gambar yang paling kamu sukai saat sedang merasa marah?
Pertemuan 15 — Menceritakan Kembali Peristiwa Awal dan Konflik pada Teks Bacaan tentang Perasaan Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.6 Menceritakan kembali isi berbagai tipe teks yang dibaca tentang diri
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menanyakan: 'Pada cerita Mimi yang kita baca, siapa yang bermain bersama di awal cerita dan apa masalah yang terjadi?' (acuan: tokoh awal adalah Mimi dan Kiki; masalahnya mereka berebut boneka sampai tangannya putus) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali peristiwa awal dan konflik (masalah) pada bacaan 'Mimi Marah' (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca kembali teks bacaan 'Mimi Marah' secara mandiri di buku siswa halaman 5-6 (8 menit).
- Guru membimbing murid mengidentifikasi 2 bagian cerita melalui tanya jawab terarah: peristiwa awal cerita (Mimi dan Kiki bermain boneka bersama) dan konflik cerita (Mimi dan Kiki berebut boneka hingga tangan boneka putus, lalu Mimi marah) (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru menyelenggarakan permainan berpasangan 'Tongkat Bercerita': murid berpasangan saling melempar gulungan kertas kecil bergantian untuk menentukan giliran menceritakan bagian awal atau bagian konflik secara bergantian dengan gembira (10 menit).
- Secara bergantian, setiap murid menceritakan kembali secara lisan isi teks khusus bagian peristiwa awal dan konflik cerita 'Mimi Marah' kepada pasangannya, lalu beberapa perwakilan menceritakan kembali di depan kelas dengan acuan isi: (1) Peristiwa awal: Mimi dan Kiki sedang bermain boneka bersama; (2) Konflik: Keduanya berebut boneka sehingga tangan boneka putus dan Mimi menjadi sangat marah (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan penceritaan kembali yang disampaikan dengan teks asli untuk memeriksa apakah peristiwa awal dan konflik sudah diceritakan dengan tepat sesuai isi bacaan (8 menit).
- Murid menyampaikan bagian mana yang paling mudah atau menantang saat mengingat dan menceritakan kembali masalah (konflik) tokoh dalam cerita (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap penceritaan kembali peristiwa awal dan konflik yang telah dilakukan murid (4 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini serta menutup pertemuan dengan doa bersama (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks bacaan yang telah diberi penanda warna khusus pada bagian kalimat peristiwa awal (kuning) dan konflik (merah), sedangkan murid yang sudah mahir membaca teks tanpa bantuan warna penanda.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dengan pertanyaan penuntun ('Siapa yang bermain dulu? Apa yang rusak?'), sedangkan murid yang mahir menceritakan kembali secara mandiri langsung dalam 2-3 kalimat runtut.
- Produk: Semua murid menceritakan kembali secara lisan; murid cepat menceritakan peristiwa awal dan konflik dengan menambahkan detail penyebab kemarahan Mimi secara lengkap dan mandiri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Pada cerita yang pernah kita baca, siapa saja tokoh yang bermain di awal cerita dan apa masalah yang membuat boneka rusak?' (acuan: tokoh awal adalah Mimi dan Kiki yang bermain boneka; masalahnya adalah berebut boneka hingga putus tangannya)
Proses:- Observasi unjuk kerja menceritakan kembali peristiwa awal dan konflik bacaan 'Mimi Marah' secara lisan dengan acuan 2 butir isi: (1) Peristiwa awal: Mimi dan Kiki bermain boneka bersama; (2) Konflik: Mimi dan Kiki berebut boneka sampai tangannya putus dan Mimi marah
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid menyebutkan kembali secara singkat 1 peristiwa awal dan 1 konflik cerita 'Mimi Marah' (acuan jawaban: awal = Mimi dan Kiki bermain bersama; konflik = boneka diperebutkan hingga tangan boneka putus dan Mimi kesal/marah)
Formatif:- Unjuk kerja lisan menceritakan kembali peristiwa awal dan konflik pada teks bacaan 'Mimi Marah' menggunakan lembar observasi ketercapaian isi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Peristiwa Awal dan Konflik Bacaan | Belum mampu menceritakan peristiwa awal maupun konflik bacaan secara tepat walau telah diberikan bimbingan penuh oleh guru (acuan: awal = Mimi dan Kiki bermain bersama; konflik = berebut boneka hingga tangan boneka putus dan Mimi marah). | Menceritakan salah satu unsur saja secara tepat (hanya peristiwa awal atau hanya konflik bacaan) dengan bantuan pertanyaan penuntun guru. | Mampu menceritakan kembali kedua unsur (peristiwa awal dan konflik bacaan) secara tepat sesuai isi bacaan dengan sedikit arahan guru. | Mampu menceritakan kembali kedua unsur (peristiwa awal dan konflik bacaan) secara lengkap, tepat sesuai isi bacaan, dan runtut secara mandiri tanpa bantuan arahan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah dapat membedakan mana peristiwa awal dan mana masalah/konflik dalam bacaan?
- Bagaimana efektivitas permainan berpasangan Tongkat Bercerita dalam memotivasi murid berbicara menceritakan kembali isi teks?
Murid:- Apakah kamu bisa menceritakan kembali peristiwa awal dan masalah yang dialami Mimi dalam cerita?
- Bagian cerita mana yang paling kamu ingat saat menceritakannya kepada teman?
Pertemuan 16 — Menceritakan Kembali Isi Keseluruhan Teks Bacaan tentang Perasaan Diri secara Runtut — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.6 Menceritakan kembali isi berbagai tipe teks yang dibaca tentang diri
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran bahwa hari ini murid akan menceritakan kembali keseluruhan isi teks cerita tentang perasaan diri secara runtut (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal dengan menanyakan 3 urutan alur cerita Mimi Marah: (1) Apa yang terjadi di awal? (2) Mengapa Mimi marah di bagian tengah? (3) Bagaimana perasaan Mimi di bagian akhir? (acuan diagnostik: awal = Mimi bermain boneka; tengah = boneka Mimi rusak ditarik adik sehingga Mimi marah; akhir = Mimi menarik napas dalam-dalam dan kembali tenang) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memajang teks cerita bergambar 'Mimi Marah' di papan tulis lalu membacanya bersama murid per alur: peristiwa awal (Mimi bermain boneka kesayangan), peristiwa tengah (adik menarik boneka sampai robek sehingga Mimi berteriak marah), dan peristiwa akhir (ibu memeluk Mimi, Mimi menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan memaafkan adik) (8 menit).
- Guru memodelkan cara menceritakan kembali keseluruhan isi cerita secara runtut menggunakan 3 kata penghubung alur: 'Awalnya...', 'Lalu...', dan 'Akhirnya...' (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid bermain tantangan berpasangan 'Estafet Cerita Runtut': Murid A menceritakan bagian awal, Murid B menyambung bagian tengah, lalu bergantian menceritakan bagian akhir cerita 'Mimi Marah' sesuai urutan peristiwa secara menyenangkan (15 menit).
- Secara mandiri, setiap murid menceritakan kembali isi keseluruhan cerita 'Mimi Marah' secara utuh dan runtut (awal, tengah, akhir) kepada guru atau pasangannya (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi kemampuannya dalam menyebutkan ketiga urutan peristiwa cerita secara runtut tanpa ada bagian alur yang terbalik (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terkait kelengkapan dan keruntutan alur peristiwa yang telah diceritakan murid (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi dan memimpin doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu pengingat 3 bingkai alur visual (awal-tengah-akhir), sedangkan murid yang sudah mahir menceritakan kembali langsung dari teks.
- Proses: Scaffolding bertahap: murid yang membutuhkan bimbingan dipandu menyebutkan kalimat kunci awal-tengah-akhir secara terbimbing berpasangan; murid mahir menceritakan secara langsung dan mandiri.
- Produk: Murid menceritakan kembali secara lisan dengan tingkat keruntutan 3 alur (awal, tengah, akhir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik alur cerita teks 'Mimi Marah': (1) Apa yang dilakukan Mimi di awal cerita? (acuan: bermain boneka kesayangan), (2) Apa peristiwa yang membuat Mimi marah di bagian tengah? (acuan: adik menarik boneka hingga robek), (3) Bagaimana Mimi menenangkan perasaannya di bagian akhir? (acuan: Mimi menarik napas panjang lalu tenang dan memaafkan adik)
Proses:- Pengamatan lisan saat murid menceritakan kembali isi keseluruhan teks 'Mimi Marah'. Acuan 3 bagian alur yang wajib dimuat: (1) Awal: Mimi sedang bermain boneka kesayangannya; (2) Tengah/Konflik: Adik menarik boneka hingga robek sehingga Mimi merasa sangat marah; (3) Akhir/Penyelesaian: Mimi menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan memaafkan adiknya
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menunjuk murid secara acak untuk menyebutkan kata kunci 3 urutan cerita (acuan: Awal = boneka, Tengah = marah boneka robek, Akhir = menarik napas/tenang)
Formatif:- Unjuk kerja lisan menceritakan kembali isi keseluruhan teks secara runtut menggunakan rubrik keruntutan dan kelengkapan alur peristiwa
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan dan Keruntutan Penceritaan Kembali Isi Teks | Menceritakan kembali isi teks hanya 1 bagian peristiwa atau urutan alur terbalik sepenuhnya | Menceritakan kembali isi teks dengan memuat 2 bagian peristiwa (misalnya awal dan tengah saja) secara berurutan | Menceritakan kembali isi keseluruhan teks secara runtut mencakup 3 bagian peristiwa (awal, tengah, dan akhir) sesuai teks | Menceritakan kembali isi keseluruhan teks secara runtut (awal, tengah, akhir) secara mandiri dan lancar tanpa bantuan stimulus guru |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur cerita awal-tengah-akhir yang disajikan cukup konkret dan mudah dipahami oleh murid kelas 2?
- Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas permainan lisan berpasangan menceritakan kembali?
Murid:- Bagian cerita mana yang paling mudah kamu ingat dan ceritakan?
- Apakah kamu sudah bisa menceritakan urutan kejadian dari awal, tengah, sampai akhir?
Pertemuan 17 — Menulis Kalimat Sederhana tentang Pengalaman Merasa Senang Menggunakan Huruf Kapital dan Tanda Titik — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.7 Menulis berbagai tipe teks sederhana tentang diri dengan beberapa kalimat sederhana
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru melakukan diagnostik singkat dengan menuliskan 2 kalimat tanpa huruf kapital dan tanpa tanda titik di papan tulis: (1) aku senang bermain sepeda (2) beni mendapat hadiah buku. Murid diminta menunjukkan huruf yang harus diganti huruf kapital di awal kalimat dan tanda baca yang wajib ditaruh di akhir kalimat (acuan: huruf pertama 'a' diganti 'A', 'b' diganti 'B', dan tanda titik '.' diletakkan di akhir setiap kalimat) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati pemodelan dari guru tentang cara menulis kalimat sederhana tentang pengalaman merasa senang yang memenuhi kaidah huruf kapital di awal serta tanda titik di akhir melalui contoh: 'Saya senang saat berlibur ke rumah nenek.' (8 menit).
- Murid bersama guru menganalisis posisi huruf kapital (awal kalimat) dan tanda titik (akhir kalimat) pada contoh kalimat pengalaman senang tersebut (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Secara bergembira, murid mengikuti permainan kuis 'Detektif Titik dan Kapital': guru menunjukkan 3 kalimat di papan tulis yaitu (1) ibu membelikan es krim rasa cokelat, (2) kami tertawa gembira di taman bermain, (3) lani senang bisa bernyanyi bersama teman; murid secara bergantian maju melingkari huruf pertama untuk dijadikan kapital dan membubuhkan tanda titik di ujung kalimat (acuan perbaikan: 'Ibu membelikan es krim rasa cokelat.', 'Kami tertawa gembira di taman bermain.', 'Lani senang bisa bernyanyi bersama teman.') (10 menit).
- Murid secara mandiri menuliskan 2 kalimat sederhana di lembar kerja tentang pengalaman pribadi yang membuat merasa senang dengan menggunakan huruf kapital di awal dan tanda titik di akhir kalimat (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid meneliti kembali (swasunting) hasil tulisannya sendiri untuk memastikan apakah huruf kapital di awal dan tanda titik di akhir kalimat sudah terpasang dengan tepat pada kedua kalimat yang ditulis (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan aturan penting dalam menulis kalimat: memulai dengan huruf kapital dan mengakhiri dengan tanda titik (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid serta menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya tentang menulis tiga kalimat pengalaman mengelola perasaan (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan pola kalimat rumpang tentang perasaan senang ('Aku merasa senang saat ... .'), sedangkan murid yang mahir langsung menulis tanpa panduan pola.
- Proses: Guru memberikan scaffolding perorangan dalam penulisan bentuk huruf kapital dan penempatan tanda titik bagi murid yang masih ragu.
- Produk: Murid yang memerlukan bimbingan cukup menuliskan 1 kalimat sederhana dengan huruf kapital dan tanda titik yang tepat, sedangkan murid mahir menuliskan 2 hingga 3 kalimat sederhana.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Identifikasi awal perbaikan 2 kalimat sederhana di papan tulis: (1) aku senang bermain sepeda, (2) beni mendapat hadiah buku (kriteria penerimaan: murid dapat mengidentifikasi huruf pertama 'a' diganti 'A', 'b' diganti 'B', serta menambahkan tanda titik '.' pada akhir kalimat).
Proses:- Pengamatan langsung saat aktivitas permainan kuis 'Detektif Titik dan Kapital' pada 3 kalimat acuan: (1) 'ibu membelikan es krim rasa cokelat' -> 'Ibu membelikan es krim rasa cokelat.', (2) 'kami tertawa gembira di taman bermain' -> 'Kami tertawa gembira di taman bermain.', (3) 'lani senang bisa bernyanyi bersama teman' -> 'Lani senang bisa bernyanyi bersama teman.'; dinilai berdasarkan ketepatan menandai huruf kapital di awal dan tanda titik di akhir.
- Pemeriksaan lembar kerja menulis mandiri 2 kalimat sederhana tentang pengalaman senang (kriteria: memuat pengalaman merasa senang, diawali huruf kapital, dan diakhiri tanda titik).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan hasil swasunting murid pada 2 kalimat sederhana tentang pengalaman merasa senang yang telah ditulis di lembar kerja dengan kriteria kelengkapan: (1) isi kalimat memuat peristiwa rasa senang diri secara masuk akal, (2) huruf kapital tepat di awal kalimat, dan (3) tanda titik tepat di akhir kalimat.
Formatif:- Penilaian kinerja menulis kalimat sederhana tentang pengalaman merasa senang menggunakan huruf kapital dan tanda titik melalui lembar kerja mandiri.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Isi Kalimat tentang Pengalaman Merasa Senang | Belum mampu menuliskan kalimat yang menceritakan pengalaman merasa senang. | Menuliskan 1 kalimat tentang pengalaman merasa senang namun gagasan belum tuntas. | Menuliskan 2 kalimat tentang pengalaman merasa senang secara jelas dan bermakna. | Menuliskan lebih dari 2 kalimat tentang pengalaman merasa senang secara runtut, jelas, dan bermakna mandiri. | | Penggunaan Huruf Kapital di Awal Kalimat | Belum menggunakan huruf kapital pada awal kalimat yang ditulis. | Menggunakan huruf kapital pada awal kalimat namun baru tepat pada 1 kalimat dengan bantuan guru. | Menggunakan huruf kapital pada awal kalimat dengan tepat pada seluruh kalimat yang ditulis. | Menggunakan huruf kapital pada awal kalimat secara tepat dan konsisten pada seluruh kalimat tanpa bantuan sama sekali. | | Penggunaan Tanda Titik di Akhir Kalimat | Belum membubuhkan tanda titik pada akhir kalimat yang ditulis. | Membubuhkan tanda titik di akhir kalimat namun baru tepat pada 1 kalimat. | Membubuhkan tanda titik di akhir kalimat secara tepat pada seluruh kalimat yang ditulis. | Membubuhkan tanda titik di akhir kalimat secara tepat, konsisten, dan rapi pada seluruh kalimat yang ditulis secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi mengenai penggunaan huruf kapital dan tanda titik sudah dapat dipahami secara konkret oleh seluruh murid kelas 2?
- Bagian mana dari kegiatan menulis pengalaman senang yang membutuhkan bimbingan individual lebih intensif?
Murid:- Apakah kamu sudah mengingat untuk memberi huruf besar di awal kalimatmu?
- Apakah kamu sudah memberi tanda titik di ujung setiap kalimatmu?
Pertemuan 18 — Menulis Teks Sederhana Tiga Kalimat tentang Pengalaman Mengelola Perasaan Diri — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.7 Menulis berbagai tipe teks sederhana tentang diri dengan beberapa kalimat sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru melakukan apersepsi dan asesmen awal diagnostik: guru memperlihatkan satu kartu contoh bertuliskan 'Saya merasa sedih. Saya memeluk boneka kesayangan. Hati saya menjadi tenang kembali.' lalu menanyakan kepada murid apakah teks tersebut sudah terdiri atas tiga kalimat yang menceritakan pengalaman mengelola perasaan diri (acuan: ya, teks terdiri atas 3 kalimat berurutan tentang emosi sedih, tindakan memeluk boneka, dan hasil tenang) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menulis teks sederhana tiga kalimat tentang pengalaman mengelola perasaan diri (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru di papan tulis tentang kerangka teks sederhana tiga kalimat pengalaman mengelola perasaan: Kalimat 1 menyebutkan perasaan yang dialami dan pemicunya (contoh: 'Saya merasa marah saat mainan saya direbut.'), Kalimat 2 menyebutkan tindakan menenangkan diri yang dilakukan (contoh: 'Saya menarik napas dalam-dalam.'), dan Kalimat 3 menyebutkan kondisi perasaan setelah menenangkan diri (contoh: 'Perasaan saya menjadi lega kembali.') (10 menit).
- Murid mencermati bersama guru 3 pilihan cara menenangkan diri yang dipajang di papan: (1) Menarik napas dalam-dalam, (2) Menggambar atau mewarnai, (3) Bercerita kepada ibu atau teman (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan menggembirakan 'Roda Putar Kata Penenang': murid bergantian memutar roda berisikan 4 kartu kata tindakan mengelola perasaan ((1) memeluk bantal, (2) minum air putih, (3) menarik napas, (4) mendengarkan musik), lalu bersama pasangan sebangku menyusun lisan 3 kalimat sebelum menulisnya (10 menit).
- Murid secara mandiri menulis teks sederhana tiga kalimat tentang pengalaman nyata mengelola perasaan diri di lembar kerja yang dibagikan (acuan kriteria penulisan: memuat tepat 3 kalimat sederhana tentang diri; Kalimat 1 = perasaan yang dialami, Kalimat 2 = cara menenangkan diri, Kalimat 3 = perasaan setelah tenang) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil tulisan sendiri menggunakan daftar centang mandiri 3 butir: (1) Apakah ada kalimat tentang perasaan yang dialami?, (2) Apakah ada kalimat tentang cara menenangkan diri?, (3) Apakah ada kalimat tentang perasaan setelah tenang? (5 menit).
- Dua perwakilan murid secara sukarela membacakan hasil tulisannya di tempat duduk sebagai bentuk konfirmasi ketercapaian teks tiga kalimat (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran bahwa pengalaman menenangkan diri dapat dituliskan menjadi teks sederhana tiga kalimat yang runtut (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kemandirian murid dalam menulis teks tentang diri, lalu menutup pertemuan dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar kerja berbingkai dengan panduan awal kalimat ('Saya merasa...', 'Lalu saya...', 'Sekarang saya...'). Murid yang sudah mahir menulis pada kertas bergaris polos tanpa panduan pemantik.
- Proses: Guru memberikan bimbingan individual bagi murid yang masih kesulitan merangkai kalimat kedua dan ketiga, sedangkan murid yang lancar dipersilakan menyelesaikan secara mandiri.
- Produk: Murid dengan hambatan menulis diperbolehkan menulis 3 kalimat berstruktur sangat ringkas (subjek-predikat-keterangan sederhana), sedangkan murid yang lebih cepat dapat menuliskan 3 kalimat dengan variasi kosakata pengelolaan emosi yang lebih kaya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan memahami struktur teks tiga kalimat melalui telaah bersama satu teks contoh di papan tulis: 'Saya merasa sedih. Saya memeluk boneka kesayangan. Hati saya menjadi tenang kembali.' (acuan verifikasi: murid dapat mengonfirmasi bahwa teks memuat 3 kalimat berurutan yang menceritakan emosi, tindakan menenangkan diri, dan hasil setelah tenang).
Proses:- Observasi keterlibatan murid saat merangkai lisan pada permainan 'Roda Putar Kata Penenang' dan pemantauan penulisan lembar kerja mandiri teks 3 kalimat tentang pengalaman mengelola emosi (acuan kriteria: Kalimat 1 = perasaan diri yang dialami, Kalimat 2 = tindakan menenangkan diri, Kalimat 3 = kondisi perasaan akhir).
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan produk teks sederhana tiga kalimat pada lembar kerja murid (acuan kriteria penerimaan produk tulisan: (1) Teks terdiri atas tepat 3 kalimat sederhana; (2) Kalimat 1 memuat identifikasi perasaan diri; (3) Kalimat 2 memuat tindakan konkret mengelola perasaan; (4) Kalimat 3 memuat hasil atau perubahan perasaan menjadi lebih tenang/lega).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja menulis teks sederhana tiga kalimat tentang pengalaman mengelola perasaan diri menggunakan lembar kerja mandiri
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan dan Kesesuaian Isi Teks Tiga Kalimat tentang Pengalaman Mengelola Perasaan Diri | Menulis kurang dari 2 kalimat, atau isi tulisan belum memuat pengalaman perasaan dan cara menenangkan diri meskipun dengan bimbingan penuh guru. | Menulis 2 kalimat sederhana yang baru memuat perasaan diri atau cara mengelola perasaan dengan bimbingan guru. | Menulis teks sederhana tepat 3 kalimat tentang pengalaman mengelola perasaan diri (memuat perasaan, tindakan penenang, dan perasaan akhir) secara mandiri. | Menulis teks sederhana 3 kalimat tentang pengalaman mengelola perasaan diri secara lengkap, runtut, dan menggunakan pilihan kosakata pengelolaan emosi yang variatif secara mandiri tanpa bantuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 20 menit untuk menulis mandiri mencukupi bagi seluruh murid kelas 2?
- Bagian mana dari struktur 3 kalimat (perasaan, cara meredakan, hasil akhir) yang paling sering membutuhkan pendampingan guru?
Murid:- Apakah kamu berhasil menuliskan tiga kalimat tentang caramu menenangkan diri hari ini?
- Kalimat mana yang paling kamu sukai saat kamu tulis di bukumu?
Pertemuan 19 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.1.1 Menyebutkan pesan teks sastra berbentuk teks aural tentang perasaan diri
- TP 2.1.2 Membaca kata-kata sederhana dengan fasih dari bacaan tentang perasaan diri
- TP 2.1.3 Menunjukkan isi bacaan tentang perasaan diri
- TP 2.1.4 Merespons dengan menjawab komentar orang lain dengan baik dan santun dalam suatu percakapan tentang diri
- TP 2.1.5 Mengungkapkan perasaan secara lisan dengan bantuan gambar
- TP 2.1.6 Menceritakan kembali isi berbagai tipe teks yang dibaca tentang diri
- TP 2.1.7 Menulis berbagai tipe teks sederhana tentang diri dengan beberapa kalimat sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif, mengajak murid berdoa, serta memeriksa kesiapan fisik dan alat tulis murid di meja masing-masing (2 menit).
- Guru menjelaskan tata tertib asesmen sumatif akhir Bab 1 yang terdiri atas dua bagian: tes tertulis serentak (35 menit) dan unjuk kerja lisan terpadu berpasangan (30 menit) (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Tertulis kepada seluruh murid dan membacakan petunjuk teknis 3 bagian tes tertulis: Bagian I (menyimak pesan puisi), Bagian II (memilih isi cerita bergambar), dan Bagian III (menulis 3 kalimat pengalaman perasaan) (2 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Tugas 1 Tes Tertulis Serentak selama 34 menit:
a) Guru membacakan puisi aural 'Hati yang Tenang': 'Saat sedih datang melanda / Aku duduk diam sejenak / Menarik napas dalam dan perlahan / Hatiku kini damai dan tenang'. Murid memilih 1 dari 3 pilihan pesan teks: [A] Berteriak saat marah, [B] Menenangkan diri dengan menarik napas saat bersedih, [C] Menangis terus di kamar. (Acuan kunci: B).
b) Murid membaca teks cerita pendek bergambar 'Sepeda Baru Bimo': 'Bimo tersenyum lebar. Ayah membelikan Bimo sepeda roda dua warna merah. Bimo merasa sangat senang dan bangga karena sudah berani belajar mengayuh.' Murid mencentang 2 pernyataan yang benar dari 3 pilihan: (1) Bimo merasa sedih karena sepedanya rusak, (2) Ayah membelikan Bimo sepeda merah, (3) Bimo merasa senang dan bangga. (Acuan kunci centang: 2 dan 3).
c) Murid menuliskan 3 kalimat sederhana tentang pengalaman perasaan diri secara mandiri menggunakan huruf kapital di awal kalimat dan tanda titik di akhir kalimat pada lembar kerja (Kriteria penerimaan: teks memuat tepat 3 kalimat tentang pengalaman perasaan diri, contoh acuan: 'Saya merasa senang kemarin. Ibu mengajak saya pergi ke taman. Kami bermain ayunan bersama.') (32 menit).
- Murid melaksanakan Tugas 2 Unjuk Kerja Terpadu Per Stasiun Berpasangan (14 pasang murid dinilai secara bergiliran, masing-masing 2 menit per pasang sementara pasangan lain menyelesaikan pembacaan senyap mandiri di meja):
1) Membaca kata (TP 2): Tiap murid membaca nyaring 1 kartu kata perasaan dari 4 pilihan kartu: 'se-nang', 'se-dih', 'ma-rah', 'ta-kut' (Acuan ketepatan: dibaca fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu).
2) Mengungkapkan perasaan dengan gambar (TP 5): Tiap murid memilih 1 kartu ekspresi emosi (gambar tersenyum atau gambar menangis) lalu mengungkapkan perasaannya secara lisan (Kriteria penerimaan: murid melisankan emosi sesuai gambar, contoh: 'Gambar ini tersenyum, saya merasa senang saat bermain bola').
3) Menceritakan kembali (TP 6): Tiap murid menceritakan kembali 1 peristiwa dari cerita 'Sepeda Baru Bimo' secara lisan (Kriteria penerimaan: menyebutkan peristiwa Bimo mendapat sepeda merah dari ayah atau peristiwa Bimo belajar mengayuh sepeda).
4) Merespons santun (TP 4): Murid A melontarkan komentar 'Wah, ceritamu bagus sekali!' dan Murid B merespons dengan santun (Kriteria penerimaan: menjawab santun seperti 'Terima kasih, Budi' atau 'Sama-sama, saya senang kamu mendengarkannya'), lalu bergantian (28 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kelengkapan identitas pada lembar kerja tertulis dan meletakkan kartu performa lisan di meja stasiun asesmen (1 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar tugas tertulis dan lembar pencatatan observasi unjuk kerja dari seluruh murid (2 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas ketertiban, kemandirian, dan kejujuran seluruh murid dalam menyelesaikan Asesmen Sumatif Bab 1 serta berdoa bersama (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: naskah puisi aural dibacakan dengan artikulasi jelas dan diulang tepat dua kali untuk seluruh kelas; teks bacaan dicetak dengan ukuran huruf 16 pt dan spasi longgar.
- Proses: Akomodasi akses: murid yang memerlukan pendampingan visual dapat melihat kartu panduan ekspresi berukuran besar saat giliran unjuk kerja lisan di stasiun.
- Produk: Bentuk bukti sumatif terstandar dan seragam bagi seluruh murid sesuai acuan: lembar kerja tertulis (TP 1, 3, 7) dan performa lisan berpasangan (TP 2, 4, 5, 6).
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- kombinasi tes tertulis serentak dan unjuk kerja terstruktur: lembar kerja tertulis pemahaman bacaan dan menulis kalimat perasaan, lembar respon simakan terbimbing serentak, serta performa lisan bercerita dan merespons percakapan perasaan
- tes tertulis serentak: lembar tugas murid yang diselesaikan bersamaan oleh seluruh kelas: memilih gambar/kalimat isi pesan puisi simakan aural yang dibacakan guru (TP 1), mencentang pilihan benar isi bacaan cerita perasaan (TP 3), dan menuliskan 3 kalimat sederhana tentang pengalaman perasaan diri menggunakan huruf tegak bersambung atau lepas dengan tanda baca titik tepat (TP 7) (35 menit; kelompok; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penskoran menulis kalimat sederhana)
- unjuk kerja terpadu per stasiun berpasangan: performa lisan 14 pasang murid (28 murid) yang dinilai bergiliran selama 2,5 menit per pasang: tiap murid membaca nyaring 1 kartu kata perasaan dengan fasih (TP 2), memilih 1 kartu ekspresi emosi lalu mengungkapkan perasaannya secara lisan (TP 5), menceritakan kembali 1 peristiwa cerita bacaan (TP 6), serta menjawab komentar teman pasangannya dengan santun (TP 4) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik lembar observasi ketercapaian 4 indikator lisan)
Sumatif:- kombinasi tes tertulis serentak dan unjuk kerja terstruktur: lembar kerja tertulis pemahaman bacaan dan menulis kalimat perasaan, lembar respon simakan terbimbing serentak, serta performa lisan bercerita dan merespons percakapan perasaan
- tes tertulis serentak: lembar tugas murid yang diselesaikan bersamaan oleh seluruh kelas: memilih gambar/kalimat isi pesan puisi simakan aural yang dibacakan guru (TP 1), mencentang pilihan benar isi bacaan cerita perasaan (TP 3), dan menuliskan 3 kalimat sederhana tentang pengalaman perasaan diri menggunakan huruf tegak bersambung atau lepas dengan tanda baca titik tepat (TP 7) (35 menit; kelompok; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penskoran menulis kalimat sederhana)
- unjuk kerja terpadu per stasiun berpasangan: performa lisan 14 pasang murid (28 murid) yang dinilai bergiliran selama 2,5 menit per pasang: tiap murid membaca nyaring 1 kartu kata perasaan dengan fasih (TP 2), memilih 1 kartu ekspresi emosi lalu mengungkapkan perasaannya secara lisan (TP 5), menceritakan kembali 1 peristiwa cerita bacaan (TP 6), serta menjawab komentar teman pasangannya dengan santun (TP 4) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik lembar observasi ketercapaian 4 indikator lisan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan pesan teks sastra aural (TP 1) | Belum mampu memilih opsi pesan puisi aural yang tepat (memilih A atau C). | Memilih opsi pesan puisi aural dengan ragu-ragu dan memerlukan pengulangan pembacaan lebih dari dua kali. | Tepat memilih opsi B (Menenangkan diri dengan menarik napas saat bersedih) sesuai puisi aural 'Hati yang Tenang'. | Tepat memilih opsi B secara mandiri dan cepat pada pembacaan puisi pertama. | | Membaca kata-kata sederhana dengan fasih (TP 2) | Membaca kartu kata perasaan ('senang', 'sedih', 'marah', 'takut') dengan mengeja huruf demi huruf dan terbata-bata. | Membaca kartu kata perasaan dengan mengeja suku kata atau mengulang satu kali. | Membaca 1 kartu kata perasaan target dengan fasih tanpa mengeja dan tanpa jeda ragu. | Membaca kartu kata perasaan target dengan sangat lancar dan fasih secara langsung begitu kartu ditunjukkan. | | Menunjukkan isi bacaan tentang perasaan diri (TP 3) | Tidak mencentang atau salah mencentang semua pernyataan isi bacaan 'Sepeda Baru Bimo'. | Hanya mencentang tepat 1 pernyataan yang benar dari 2 pernyataan target (pernyataan 2 atau 3). | Tepat mencentang 2 pernyataan yang benar sesuai bacaan (pernyataan 2: 'Ayah membelikan Bimo sepeda merah' dan pernyataan 3: 'Bimo merasa senang dan bangga'). | Tepat mencentang 2 pernyataan benar dan tidak menandai pernyataan yang salah secara mandiri. | | Merespons komentar teman dengan santun (TP 4) | Belum memberikan jawaban lisan atas komentar teman pasangannya. | Menjawab komentar teman tetapi hanya dengan satu kata singkat tanpa kata santun. | Merespons komentar teman menggunakan kalimat santun (misalnya: 'Terima kasih, teman' atau 'Sama-sama'). | Merespons komentar teman dengan kalimat santun yang lengkap dan ramah secara spontan. | | Mengungkapkan perasaan secara lisan dengan bantuan gambar (TP 5) | Belum mampu mengungkapkan perasaan secara lisan meskipun telah ditunjukkan kartu gambar emosi. | Menyebutkan nama emosi pada gambar tetapi belum melisankan ungkapan perasaan diri yang bermakna. | Mengungkapkan perasaan diri secara lisan sesuai dengan kartu gambar emosi yang dipilih (tersenyum/menangis) secara jelas. | Mengungkapkan perasaan diri secara lisan sesuai kartu gambar emosi disertai alasan singkat secara mandiri. | | Menceritakan kembali isi teks yang dibaca (TP 6) | Belum mampu menceritakan peristiwa dari teks bacaan 'Sepeda Baru Bimo'. | Menceritakan kembali tetapi peristiwa yang disampaikan tidak sesuai dengan isi bacaan. | Menceritakan kembali minimal 1 peristiwa dari teks bacaan secara tepat (peristiwa ayah membelikan sepeda merah atau Bimo belajar mengayuh). | Menceritakan kembali 1 peristiwa bacaan secara lengkap dan runtut sesuai alur cerita. | | Menulis teks sederhana tentang diri beberapa kalimat (TP 7) | Menulis kurang dari 2 kalimat atau isi tulisan tidak berkaitan dengan pengalaman perasaan diri. | Menulis 2 kalimat tentang pengalaman perasaan diri, namun penggunaan huruf kapital dan tanda titik belum tepat. | Menulis teks sederhana tepat 3 kalimat tentang pengalaman perasaan diri dengan huruf kapital di awal kalimat dan tanda titik di akhir kalimat. | Menulis teks sederhana tepat 3 kalimat tentang pengalaman perasaan diri secara runtut, rapi, dengan huruf kapital dan tanda titik yang seluruhnya tepat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit tes tertulis dan 35 menit unjuk kerja lisan terpadu berpasangan terlaksana secara tertib dan mencukupi bagi seluruh 28 murid?
- Bagaimana ketercapaian murid kelas 2 secara umum pada ketujuh TP Bab 1 berdasarkan analisis hasil asesmen sumatif hari ini?
Murid:- Bagian tugas mana yang paling mudah kamu selesaikan hari ini, apakah tes tertulis atau bercerita lisan?
- Bagaimana perasaanmu setelah menyelesaikan seluruh tugas asesmen pada bab ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek, 2024)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek, 2024)
- Naskah teks fabel/sastra anak bertema perasaan senang dan bangga ('Layang-Layang Gilang', 'Kelinci Juara Lari', dan 'Burung Kenari Bersuara Merdu')
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II Bab 1 Mengenal Perasaan
- Naskah teks aural fabel bertema emosi (Kiki Kelinci dan Mimi Kancil)
- Kartu gambar ekspresi emosi marah dan takut
- Naskah teks sastra aural (puisi anak 'Saat Hatiku Mendung', Fabel Kelinci Mimi, dan Fabel Gajah Tobi)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Bab 1 Mengenal Perasaan.
- Kartu kata dan kartu suku kata dua suku kata tentang perasaan (senang, marah, takut, sedih, malu, lega, kesal, puas, haru, cemas).
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia SD Kelas II (Edisi Revisi 2024)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik SD Kelas II
- Kartu kata bermuatan imbuhan dasar ('merasa', 'bersedih', 'senangkan', 'menakutkan')
- Lembar tantangan membaca kartu kata pasangan
- Set kartu kata perasaan diri (senang, takut, kaget, malu, bangga, sedih, marah, gembira, cemas, kesal, lega, tenang)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II Halaman 5-6 (Kemendikbudristek, 2024)
- Lembar Kerja Murid 'Detektif Cerita Mimi Marah'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024, Halaman 5-6 (Teks 'Mimi Marah').
- Lembar Kerja Siswa: Lembar Pasangan Emosi dan Peristiwa serta kartu kata bergambar emosi tokoh.
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek 2024)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek 2024) Bab 1
- Papan pajang cerita bergambar 'Mimi Marah' 4 panel
- Kartu potongan gambar adegan dan Lembar Kerja Siswa
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2024
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2024
- Kartu pertanyaan percakapan perasaan bahagia (3 variasi pertanyaan)
- Bola kain kecil untuk permainan giliran berbicara
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek 2024)
- Kartu situasi komentar teman tentang perasaan sedih
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
- Kartu Komentar Pengelolaan Emosi Diri
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi 2024), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi 2024), Bab 1 Mengenal Perasaan
- Set Kartu Emosi Bergambar Wajah (Kartu Senang dan Kartu Takut)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Bab 1 Halaman 48
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Bab 1 Halaman 11-12
- Media Gambar Berseri 'Berbagai Cara Menenangkan Diri' (3 panel peraga)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), 2024, Bab 1 Halaman 5-6
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), 2024
- Teks bacaan 'Mimi Marah' dan gulungan kertas untuk aktivitas Tongkat Bercerita
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), 2024
- Gambar berseri cerita 'Mimi Marah'
- Buku Siswa Bahasa Indonesia | Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi 2024), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Papan tulis, spidol warna, dan Lembar Kerja Menulis Kalimat Perasaan Senang
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek, 2024)
- Media Roda Putar Kata Penenang dan kartu kata tindakan mengelola perasaan
- Lembar kerja menulis bergaris bergradasi panduan
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024.
- Buku Siswa Bahasa Indonesia: Keluargaku Unik untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Bab 1 Mengenal Perasaan, Kemendikbudristek 2024.
- Lembar Asesmen Tertulis Sumatif Bab 1 (memuat puisi simakan aural 'Hati yang Tenang', teks cerita bergambar 'Sepeda Baru Bimo', dan kolom menulis 3 kalimat).
- Kartu kata perasaan target ('senang', 'sedih', 'marah', 'takut') dan kartu gambar emosi (ekspresi tersenyum dan menangis).
|