Modul AjarBab 5Fase FSemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 11 Bab 5: Mengenal Indonesia Melalui Pertunjukan Drama

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Bahasa Indonesia kelas 11 untuk Bab 5 "Mengenal Indonesia Melalui Pertunjukan Drama", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 11 Bab 5: Mengenal Indonesia Melalui Pertunjukan Drama

Bahasa Indonesia - Kelas 11

Bab 5

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 11 (Fase F)

Topik: Bab 5 — Mengenal Indonesia Melalui Pertunjukan Drama

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase F / Kelas 11
TopikBab 5 — Mengenal Indonesia Melalui Pertunjukan Drama
Alokasi Waktu18 JP (18 x 45 menit = 810 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 11.5.1 Mengapresiasi teks sastra berbentuk teks aural melalui pertunjukan drama tentang kehidupan masyarakat Indonesia
  2. TP 11.5.2 Mengevaluasi informasi berupa gagasan, perasaan, pandangan, dan pesan dari naskah teks visual pertunjukan drama untuk menemukan makna tersurat dan tersirat
  3. TP 11.5.3 Menulis gagasan, pandangan, dan imajinasi dalam tipe teks drama secara logis, kritis, dan kreatif
  4. TP 11.5.4 Menyajikan karya sastra secara kreatif dan menarik melalui peragaan pertunjukan drama bertema pengenalan Indonesia

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana sebuah rekaman suara dialog drama mampu menggambarkan suasana batin dan konflik kehidupan sosial masyarakat Indonesia?
  2. Pernahkah kalian merasakan emosi yang mendalam atau terhubung dengan nilai tradisi hanya dengan mendengarkan pertunjukan drama audio?
  3. Bagaimana kita mengenali gagasan dan pandangan hidup masyarakat Indonesia hanya dari membaca dialog serta petunjuk panggung dalam naskah drama?
  4. Apa perbedaan utama antara informasi yang tersurat langsung dalam dialog tokoh dengan simpulan evaluatif pembaca terhadap isi naskah?
  5. Bagaimana kita bisa mengetahui suasana batin atau perasaan seorang tokoh drama jika hal tersebut tidak diucapkan secara terang-terangan dalam dialog?
  6. Mengapa pesan atau amanat dalam naskah drama sering kali tersembunyi di balik tindakan simbolis dan petunjuk pemanggungan (kramagung)?
  7. Bagaimana sebuah gagasan atau isu keberagaman masyarakat Indonesia dapat diwujudkan ke dalam bentuk percakapan dan petunjuk lakuan dalam teks drama?
  8. Mengapa penulisan alur dan konflik dalam naskah drama memerlukan penalaran yang logis dan sudut pandang kritis terhadap realitas sosial?
  9. Bagaimana cara menyajikan dialog dalam adegan drama agar karakter tokoh tampak hidup, kreatif, dan memikat bagi penonton?
  10. Pilihan kreatif apa saja yang dapat kita tambahkan dalam peragaan adegan drama bertema pengenalan budaya Indonesia agar suasana ceritanya terasa berkesan?
  11. Bagaimana sebuah pertunjukan drama dan naskahnya mampu mencerminkan nilai kehidupan serta keberagaman budaya masyarakat Indonesia?
  12. Apa tantangan terbesar saat mentransformasikan gagasan dan imajinasi menjadi dialog drama yang hidup serta menyajikannya di atas panggung secara memikat?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengapresiasi Teks Sastra Berbentuk Teks Aural Melalui Rekaman Dialog Pertunjukan Drama Bertema Kehidupan Masyarakat Indonesia — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.5.1 Mengapresiasi teks sastra berbentuk teks aural melalui pertunjukan drama tentang kehidupan masyarakat Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan ruang lingkup pembelajaran menyimak apresiatif terhadap teks sastra aural pertunjukan drama (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan memutar cuplikan audio drama pendek (30 detik) bertema interaksi pasar tradisional, lalu menanyakan 2 hal: (1) Siapa tokoh yang berdialog? (2) Apa suasana sosial yang tergambar? (acuan: Tokoh adalah penjual jamu keliling dan pembeli; Suasana guyub dan kekeluargaan khas masyarakat pedesaan) (10 menit).
  • Guru mengaitkan hasil diagnostik dengan tujuan pembelajaran, yaitu mengapresiasi dialog drama bertema kehidupan masyarakat Indonesia berdasarkan keindahan bahasa, penjiwaan watak, dan nilai kehidupan masyarakat (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mendengarkan dengan penuh kesadaran rekaman aural cuplikan dialog pertunjukan drama adaptasi cerpen bertema kehidupan masyarakat (rekaman adegan musyawarah adat penentuan mas kawin/belis di Nusa Tenggara Timur berdurasi 3 menit) tanpa teks visual (10 menit).
  • Murid bersama bimbingan guru mengidentifikasi unsur estetika aural teks sastra drama: intonasi dialog, nada suara yang mencerminkan watak/emosi tokoh adat, serta pilihan ungkapan kearifan lokal yang terdengar (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid memainkan kuis tantangan aural interaktif bertajuk 'Tebak Rasa & Makna Bunyi': guru memperdengarkan 3 rekaman dialog drama pendek berdurasi masing-masing 15 detik bertema keragaman masyarakat (Kutipan 1: dialog tetua desa Toraja; Kutipan 2: perdebatan nelayan pesisir Pantura; Kutipan 3: obrolan pemuda di gardu ronda Jawa). Murid secara seru menuliskan kesan penghayatan emosi dan latar sosial yang terdengar (acuan: Kutipan 1 = nuansa sakral/kehormatan tradisi leluhur; Kutipan 2 = kegelisahan ekonomi/tegas menghadapi badai laut; Kutipan 3 = keakraban/guyub rukun gotong royong warga) (20 menit).
  • Murid mendengarkan rekaman aural drama utuh berdurasi 7 menit bertema dinamika sosial masyarakat kepulauan Indonesia, lalu secara mandiri mengisi Lembar Apresiasi Teks Sastra Aural yang mencakup 3 butir apresiasi: (1) Penghayatan karakter dan emosi tokoh lewat suara; (2) Keindahan pilihan kata/dialog sastra yang menyentuh perasaan; (3) Nilai kearifan sosial/kehidupan masyarakat Indonesia yang tecermin (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meninjau kembali catatan apresiasi masing-masing, memeriksa sejauh mana kepekaan batin dan penalarannya terbangun saat mendengarkan konflik kemasyarakatan dalam dialog tersebut (15 menit).
  • Perwakilan murid membacakan apresiasi pribadinya terhadap teks sastra aural tersebut, mengulas mengapa dialog audio mampu membangkitkan empati terhadap realitas kehidupan suku/daerah lain di Indonesia (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil lembar apresiasi murid serta mengonfirmasi keselarasan penilaian estetika dan nilai kehidupan yang disimak (10 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran apresiasi teks sastra aural hari ini dan mengingatkan agenda pertemuan berikutnya yaitu mengevaluasi naskah drama dalam bentuk teks visual (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan diberikan rekaman berkecepatan normal dengan artikulasi vokal yang sangat jelas; untuk murid cepat diberikan rekaman dengan ragam dialek kedaerahan yang lebih berlapis dan kompleks.
  • Proses: Murid lambat diperkenankan menyimak rekaman ulang sebanyak dua kali pada bagian dialog yang padat nilai; murid cepat langsung mengapresiasi dengan sekali simakan terfokus.
  • Produk: Semua murid mengisi lembar apresiasi teks aural yang sama, dengan kedalaman elaborasi apresiasi nilai budaya disesuaikan dengan kesiapan masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemberian 1 cuplikan rekaman audio drama (30 detik) bertema pasar tradisional dengan 2 pertanyaan pemantik apresiasi lisan: (1) Siapa tokoh yang berdialog? (2) Apa suasana sosial yang tergambar? (acuan jawaban: (1) Penjual jamu keliling dan pembeli; (2) Suasana guyub dan kekeluargaan khas masyarakat pedesaan).

Proses:

  • Penilaian lembar apresiasi sastra aural drama: mengukur ketepatan menangkap emosi tokoh, estetika dialog, dan keterkaitan nilai kehidupan masyarakat Indonesia (acuan: (1) Tokoh Pak Kades berkarakter bijak tetapi cemas terhadap banjir; (2) Bahasa metaforis 'tanah air tempat pusaka terendam air mata'; (3) Nilai gotong royong dan ketabahan warga).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: murid menuliskan 1 paragraf tanggapan apresiatif mengenai nilai budaya yang paling membekas dari rekaman drama yang disimak (kriteria: memuat nama nilai yang ditemukan, relevansinya dengan kehidupan masyarakat Indonesia, serta alasan estetis dari dialog yang didengar).

Formatif:

  • Kuis tebak apresiasi rasa dan emosi dialog aural
  • Lembar Apresiasi Teks Sastra Aural Drama (penghayatan emosi dialog, keindahan pilihan kata, dan nilai kehidupan masyarakat)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Apresiasi Penghayatan Emosi dan Karakter Tokoh dalam Teks AuralBelum mampu mengidentifikasi emosi maupun karakter tokoh dari dialog aural yang didengarkan.Mampu mengidentifikasi emosi tokoh namun belum mampu mengaitkannya dengan karakter penokohan secara tepat.Mampu mengapresiasi dan menjelaskan hubungan antara nada/intonasi vokal tokoh dengan emosi dan perwatakan tokoh secara tepat.Mampu mengapresiasi seluruh ragam emosi, perubahan nada vokal, dan kedalaman karakter tokoh dari dialog aural secara mendalam dan terperinci.
Apresiasi Nilai Kehidupan Masyarakat Indonesia dalam Teks Drama AuralBelum mampu menangkap nilai kehidupan atau kearifan sosial yang terkandung dalam dialog drama aural.Mampu menyebutkan nilai kehidupan yang terdengar namun belum mengaitkannya dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia.Mampu mengapresiasi nilai kearifan sosial budaya yang terkandung dalam dialog dan menguraikan keterkaitannya dengan kehidupan masyarakat Indonesia secara logis.Mampu mengapresiasi dan merefleksikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia secara kritis, komprehensif, dan menyentuh kesadaran kewargaan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan materi teks sastra aural drama mampu memantik empati dan apresiasi murid terhadap realitas kehidupan masyarakat Indonesia?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama menyimak audio murni tanpa bantuan stimulus visual, dan apakah aktivitas tantangan aural berhasil menciptakan suasana menggembirakan?

Murid:

  • Apa hal baru yang saya rasakan ketika menikmati karya sastra drama murni dari aspek pendengaran/aural?
  • Nilai kehidupan masyarakat Indonesia mana yang paling menyentuh batin saya dari rekaman dialog pertunjukan drama tadi?

Pertemuan 2 — Mengevaluasi Gagasan, Pandangan, dan Makna Tersurat dalam Naskah Teks Visual Pertunjukan Drama Bertema Pengenalan Indonesia — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.5.2 Mengevaluasi informasi berupa gagasan, perasaan, pandangan, dan pesan dari naskah teks visual pertunjukan drama untuk menemukan makna tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memimpin doa bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengevaluasi gagasan, pandangan, dan makna tersurat dalam naskah drama bertema pengenalan Indonesia (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat membedakan makna tersurat pada 2 kutipan dialog naskah drama pendek (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati salinan teks visual kutipan naskah drama bertema kebinekaan Indonesia, yaitu petikan naskah drama 'Matahari di Balik Bukit' karya sastrawan lokal yang memuat interaksi dialog antarwarga dari latar suku berbeda (15 menit).
  • Guru memodelkan teknik mengevaluasi teks visual naskah drama: melacak gagasan pokok dalam dialog, membedakan tuturan eksplisit (makna tersurat), serta mengidentifikasi pandangan tokoh berdasarkan petunjuk lakuan (kramagung) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Detektif Dialog' untuk menandai kalimat teks yang memuat informasi tersurat mengenai konflik antartokoh dan menyimpulkan gagasan utama adegan (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid bekerja dalam kelompok kecil (3-4 orang) menerima Lembar Kerja Evaluasi Teks Drama yang berisi teks naskah drama 3 babak pendek bertema gotong royong warga desa lintas latar belakang (10 menit).
  • Setiap kelompok mengevaluasi naskah dengan menyelesaikan 4 tugas analisis tertulis: (1) menentukan 2 gagasan utama naskah; (2) menentukan 2 pandangan hidup tokoh utama; (3) mencatat 3 informasi makna tersurat dalam dialog; dan (4) memberikan penilaian evaluatif mengenai keselarasan gagasan naskah dengan nilai persatuan masyarakat Indonesia (20 menit).

Merefleksi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Perwakilan kelompok menempelkan lembar hasil evaluasi di dinding kelas dan saling meninjau (window shopping) untuk membandingkan temuan gagasan dan data makna tersurat yang ditemukan kelompok lain (15 menit).
  • Murid bersama guru merefleksikan proses evaluasi naskah: bagaimana ketelitian membaca petunjuk panggung dan dialog tertulis mempermudah pemahaman gagasan dan pandangan pengarang (10 menit).

Penutup:

  • Murid mengerjakan asesmen akhir singkat berupa lembar cek pemahaman evaluasi makna tersurat dan gagasan naskah (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas pemahaman murid hari ini, menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya akan mendalami makna tersirat dan pesan naskah, lalu menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan teks naskah drama dengan penandaan warna pada dialog kunci; kelompok mahir menerima naskah narasinya utuh tanpa panduan penandaan.
  • Proses: Guru memberikan scaffolding terstruktur bagi murid yang kesulitan mengekstrak gagasan pokok dialog, sedangkan murid yang cepat diarahkan mengevaluasi konsistensi pandangan tokoh antarbabak.
  • Produk: Format penyajian lembar kerja evaluasi dapat berupa bagan matriks analitis ataupun narasi poin terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik singkat tertulis (2 butir): (1) Diberikan kutipan: 'Pak Raden: (meletakkan cangkul di teras balai) Kita harus kumpulkan warga RT 01 dan RT 02 sebelum senja tiba agar perbaikan jembatan bambu selesai hari ini.' Pertanyaan: Tuliskan informasi tersurat lokasi dan tujuan Pak Raden! (Acuan kunci: Lokasi = di teras balai; Tujuan = mengumpulkan warga RT 01 dan RT 02 sebelum senja untuk menyelesaikan perbaikan jembatan bambu). (2) Diberikan kutipan: 'Siti: Tenanglah Wayan, walau kita berbeda adat perkawinan, di tanah rantau ini kita tetap satu saudara sekampung.' Pertanyaan: Tuliskan gagasan pokok tuturan Siti! (Acuan kunci: Persaudaraan dan kerukunan perantau tetap dijunjung tinggi walau berbeda latar adat).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja kelompok mengevaluasi teks drama naskah 'Matahari di Balik Bukit'. Target tugas dan acuan kunci: (1) Gagasan utama naskah: Kebersamaan warga lintas suku dalam membangun balai desa di tengah krisis (acuan: tepat mengidentifikasi tema gotong royong dan kesatuan warga); (2) Pandangan hidup tokoh: Tokoh Wayan memandang perbedaan tradisi sebagai kekayaan bersama, Tokoh Joko memandang kerja bakti sebagai kewajiban moral (acuan: mencantumkan pandangan tokoh sesuai dialog pendukung); (3) Makna tersurat: Tiga kutipan eksplisit tentang waktu kejadian, jumlah warga yang hadir, dan keputusan musyawarah (acuan: kutipan dialog tepat menyajikan fakta langsung teks tanpa asumsi pembaca).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir individu (2 butir): (1) Murid menentukan 1 makna tersurat dari cuplikan adegan penutup naskah: 'Pak RT: Mulai besok, giliran warga Banjar dan Paguyuban Pasundan yang berjaga di pos ronda.' (Acuan kunci: Warga Banjar dan Paguyuban Pasundan mendapat jadwal tugas ronda mulai besok); (2) Murid merumuskan 1 evaluasi kritis tentang pandangan pengarang mengenai keharmonisan sosial yang tersaji dalam teks tersebut (Acuan kunci: Evaluasi memuat penerimaan bahwa pengarang memandang kerja sama antarorganisasi masyarakat sebagai pilar kerukunan warga desa).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi fakta tersurat dari 2 kutipan dialog.
  • Asesmen proses: observasi keterlibatan kelompok dan penilaian kinerja lembar evaluasi teks drama (analisis gagasan, pandangan, dan makna tersurat).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Makna Tersurat dalam Naskah DramaBelum mampu menemukan informasi tersurat dari teks naskah drama secara tepat.Mampu menemukan sebagian informasi tersurat dari dialog naskah drama namun masih mencampurkannya dengan tafsiran pribadi.Mampu menemukan dan mengevaluasi seluruh informasi makna tersurat dalam naskah drama sesuai fakta tekstual dialog dan petunjuk panggung.Mampu menemukan, memverifikasi, dan mengevaluasi seluruh makna tersurat secara tepat dan presisi berdasarkan rujukan kutipan adegan naskah.
Mengevaluasi Gagasan dan Pandangan Tokoh/NaskahBelum mampu mengidentifikasi gagasan utama dan pandangan tokoh dalam naskah drama.Mampu mengidentifikasi gagasan pokok adegan naskah tetapi evaluasi terhadap pandangan tokoh masih kurang relevan.Mampu mengevaluasi gagasan pokok naskah dan pandangan hidup tokoh secara logis berdasarkan bukti teks drama.Mampu mengevaluasi gagasan pokok naskah serta pandangan hidup tokoh secara komprehensif, kritis, dan logis dengan bukti tekstual yang kuat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk kegiatan membedah naskah drama visual sudah cukup memfasilitasi daya nalar kritis murid?
  • Bagian mana dari langkah evaluasi makna tersurat dan gagasan yang paling membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?

Murid:

  • Apakah saya dapat membedakan secara tegas antara apa yang tertulis nyata (makna tersurat) dan penilaian evaluatif saya terhadap gagasan drama?
  • Strategi membaca apa yang paling membantu saya memahami pandangan hidup tokoh dalam naskah drama tadi?

Pertemuan 3 — Mengevaluasi Perasaan, Pesan, dan Makna Tersirat Berdasarkan Kaidah Logika Berpikir dalam Naskah Teks Visual Drama — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.5.2 Mengevaluasi informasi berupa gagasan, perasaan, pandangan, dan pesan dari naskah teks visual pertunjukan drama untuk menemukan makna tersurat dan tersirat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu mengevaluasi perasaan tokoh, pesan, serta makna tersirat dalam naskah teks visual drama berdasarkan kaidah logika berpikir (5 menit).
  • Asesmen Awal Diagnostik: Guru membagikan cuplikan dialog pendek: 'Pak Raden: (Menatap amplop cokelat di meja, tangannya bergetar, lalu ia membuang muka ke jendela) Bawa pergi ini, Danu. Aku masih ingin tidur nyenyak malam ini.' Murid diminta menuliskan perasaan tokoh Pak Raden dan makna tersirat dari permintaannya (10 menit). (Acuan jawaban diagnostik: Perasaan = gelisah/takut/bimbang/resah; Makna tersirat = amplop berisi uang suap/gratifikasi yang dapat merusak integritas/ketenangan jiwanya sehingga ia menolaknya).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemaparan konsep tentang cara mengevaluasi perasaan tokoh dan pesan tersirat melalui petunjuk lakuan (kramagung), diksi dialog, serta hubungan sebab-akibat antarperistiwa menggunakan logika berpikir induktif dan deduktif (15 menit).
  • Game Detektif Dialog (Prinsip Menggembirakan): Murid berpasangan memecahkan '3 Kotak Misteri Dialog' untuk mencocokkan kutipan dengan label perasaan dan makna tersirat yang tepat. Kutipan 1: 'Siti: (Tersenyum getir sambil menatap piring kosong) Tenang anak-anak, ibu baru saja kenyang melihat kalian makan' -> Perasaan: sedih/haru mendalam; Makna tersirat: Ibu rela menahan lapar demi anak-anaknya. Kutipan 2: 'Bahar: (Membanting map di meja pimpinan) Kalau kejujuran sudah berharga murah di kantor ini, jangan heran jika kantor ini runtuh perlahan!' -> Perasaan: marah/kecewa; Makna tersirat: terjadi korupsi/kecurangan sistemik yang merusak integritas lembaga. Kutipan 3: 'Laras: (Memeluk erat tas lusuhnya di tengah hiruk pikuk kota) Aku tidak akan menjual tanah pusaka bapak, apa pun yang terjadi' -> Perasaan: gigih/teguh; Makna tersirat: komitmen menjaga martabat keluarga dan warisan leluhur dari godaan materi (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca secara mandiri naskah teks visual petikan drama 'Lentera di Balik Kabut' yang memuat dialog antara Tokoh Wayan dan Hendra mengenai pembangunan dermaga adat di pesisir desa (15 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Analisis Evaluasi yang berisi 4 tugas evaluatif: (1) Mengevaluasi perasaan Tokoh Wayan berdasarkan dialog dan kramagung (Acuan: Wayan merasa cemas dan gundah karena khawatir tradisi maritim leluhur tergusur industri); (2) Mengevaluasi perasaan Tokoh Hendra (Acuan: Hendra merasa optimis namun kurang peka terhadap kekhawatiran kultural masyarakat lokal); (3) Mengevaluasi pesan naskah (Acuan: pembangunan ekonomi modern harus berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal, bukan memusnahkannya); (4) Mengevaluasi makna tersirat dari simbol 'lentera minyak yang dipadamkan saat lampu listrik menyala' (Acuan: pergeseran nilai-nilai luhur dan kearifan lokal oleh modernitas yang tidak terkendali) (20 menit).
  • Murid memeriksa kembali ketepatan argumentasi logis pada hasil analisisnya dengan mencocokkan bukti tekstual (dialog dan lakuan) sebelum menyerahkan hasil kerja (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi refleksi bersama dengan meminta murid mengevaluasi tingkat ketelitian logika berpikir mereka dalam menarik simpulan makna tersirat yang tidak tertulis langsung di dalam naskah (15 menit).
  • Murid menuliskan satu kesimpulan pribadi tentang bagaimana perasaan dan pesan tersirat dalam sebuah karya drama mampu menggambarkan realitas sosial masyarakat secara tajam (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil lembar kerja evaluasi perasaan, pesan, dan makna tersirat yang telah diselesaikan murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 4) mengenai penulisan draf teks drama bertema pengenalan Indonesia, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan naskah drama dengan glosarium istilah budaya untuk murid yang memerlukan pendampingan pemahaman konteks.
  • Proses: Murid yang mahir diberikan tantangan untuk mengevaluasi koherensi logis antara motif tersembunyi tokoh dengan perkembangan konflik babak naskah secara mandiri, sedangkan murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pertanyaan pemandu berjenjang pada Lembar Analisis Evaluasi.
  • Produk: Format penulisan evaluasi dapat berupa tabel analisis logika berkolom terstruktur atau uraian esai analitis terarah.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes tertulis diagnostik singkat 1 butir soal: Mengevaluasi perasaan tokoh dan makna tersirat dari petikan dialog: 'Pak Raden: (Menatap amplop cokelat di meja, tangannya bergetar, lalu ia membuang muka ke jendela) Bawa pergi ini, Danu. Aku masih ingin tidur nyenyak malam ini.' Kriteria ketuntasan awal: murid tepat menyebutkan minimal 1 perasaan (gelisah/takut/bimbang) dan 1 makna tersirat (menolak uang suap demi ketenangan batin/moral).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Analisis Evaluasi murid yang memuat 4 aspek ketepatan: (1) evaluasi perasaan Tokoh Wayan (acuan: cemas/gundah terhadap punahnya kearifan lokal), (2) evaluasi perasaan Tokoh Hendra (acuan: optimis/ambisius tetapi kurang empati kultural), (3) evaluasi pesan naskah (acuan: modernisasi harus selaras dengan nilai kearifan lokal), (4) evaluasi makna tersirat simbol lentera padam (acuan: keterpinggiran tradisi oleh modernitas tanpa kendali).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup berupa lembar evaluasi mandiri: Murid menuliskan rumusan pesan tersirat dan alasan logisnya berdasarkan hubungan sebab-akibat antara tindakan tokoh dan dampak konflik dalam naskah drama yang telah dianalisis. Kriteria penerimaan operasional: simpulan pesan dinyatakan secara logis dan didukung minimal satu bukti dialog atau petunjuk lakuan yang relevan.

Formatif:

  • Penilaian Lembar Analisis Evaluasi Perasaan, Pesan, dan Makna Tersirat Naskah Drama

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi perasaan tokoh naskah dramaBelum mampu mengevaluasi perasaan tokoh; hanya menyalin teks dialog harfiah tanpa simpulan perasaan.Mengevaluasi 1 perasaan tokoh secara tepat sesuai bukti tekstual naskah.Mengevaluasi 2 perasaan tokoh secara tepat berdasarkan bukti dialog dan kramagung naskah.Mengevaluasi 2 perasaan tokoh secara tepat dan komprehensif disertai analisis hubungan sebab-akibat munculnya perasaan tersebut secara logis dan mandiri.
Mengevaluasi pesan dan makna tersirat naskah dramaBelum mampu mengevaluasi pesan dan makna tersirat naskah; penafsiran tidak logis atau melenceng dari konteks naskah.Mengevaluasi pesan atau makna tersirat naskah secara tepat pada salah satu unsur saja.Mengevaluasi pesan naskah dan makna tersirat (simbolik) secara tepat berdasarkan kaidah logika berpikir.Mengevaluasi pesan naskah dan makna tersirat secara tepat, mendalam, serta membuktikan keterkaitan logis antara unsur tersurat dan tersirat secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas 'Game Detektif Dialog' efektif membantu murid mengasah logika berpikir untuk menemukan makna tersirat?
  • Apakah instrumen naskah drama yang disajikan memberikan tingkat tantangan analisis makna yang sesuai bagi seluruh murid?

Murid:

  • Bagian mana dari petunjuk pemanggungan (kramagung) atau dialog yang paling membantumu memahami perasaan tokoh yang tidak terucap?
  • Strategi berpikir apa yang paling membantumu merumuskan pesan tersirat dalam naskah drama hari ini?

Pertemuan 4 — Menulis Gagasan, Pandangan, dan Imajinasi ke dalam Draf Teks Drama Bertema Pengenalan Indonesia secara Logis, Kritis, dan Kreatif — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.5.3 Menulis gagasan, pandangan, dan imajinasi dalam tipe teks drama secara logis, kritis, dan kreatif

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan memfasilitasi murid melakukan hening sejenak untuk memusatkan kesadaran belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menulis draf teks drama bertema pengenalan Indonesia yang memuat gagasan, pandangan, dan imajinasi secara logis, kritis, dan kreatif (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta melengkapi 1 kutipan dialog rumpang pada papan tulis agar memuat petunjuk lakuan (kramagung) dan respons karakter yang logis berdasarkan situasi: 'Situasi: Wayan dan Joko berbeda pendapat saat merencanakan festival budaya desa. Wayan: "Kita harus tampilkan tarian tradisional daerah kita dulu!" -> Joko: [isi lakuan dan dialog tanggapan]'. Guru memetakan kesiapan murid menyusun struktur dialog drama (kriteria operasional: lakuan menggambarkan emosi/tindakan karakter secara relevan, dan dialog berisi argumen/gagasan yang menyambung logis dengan ujaran Wayan) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati model struktur penulisan draf teks drama bertema pengenalan Indonesia yang memuat prolog/latar, dialog antartokoh, petunjuk lakuan (kramagung), dan resolusi gagasan kritis (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Sambung Dialog Logis': guru memberikan 3 premis konflik realitas budaya (Premis 1: Pelestarian tenun ikat lokal vs kain pabrik; Premis 2: Pemilihan bahasa daerah vs bahasa gaul di kalangan remaja rantau; Premis 3: Kolaborasi kuliner tradisional antardaerah), lalu setiap pasangan secara bergantian dan spontan menuliskan 2 baris dialog berbalas yang menunjukkan pandangan kritis masing-masing tokoh terhadap isu tersebut (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri merancang kerangka penulisan draf teks drama satu babak bertema pengenalan Indonesia dengan menetapkan gagasan utama (isu keberagaman/sosial budaya Indonesia), pandangan kritis tokoh, dan imajinasi latar suasana (15 menit).
  • Murid menulis draf teks drama satu babak secara logis, kritis, dan kreatif dengan memenuhi komponen wajib: latar adegan pembuka, dialog antartokoh yang memuat konflik gagasan, petunjuk lakuan (kramagung), dan penyelesaian konflik yang masuk akal (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca ulang draf naskah dramanya secara berkesadaran, memeriksa apakah gagasan dan imajinasi tertuang secara logis serta hubungan sebab-akibat antardialog terbangun runtut tanpa lompatan logika nalar (15 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan prinsip penulisan draf naskah drama yang logis, kritis, dan berakar pada pengenalan keragaman budaya Indonesia (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses menulis murid, menyampaikan bahwa draf naskah ini akan digunakan untuk sesi olah peran pada pertemuan berikutnya, dan menutup sesi dengan doa serta salam (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar panduan draf dengan templat struktur (tokoh, latar masalah budaya, pemicu konflik dialog, dan penyelesaian logis); murid yang mahir diberikan tantangan menuliskan naskah dengan konflik pandangan yang lebih kompleks dan multitokoh.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan intensif pada penyusunan jalinan sebab-akibat dialog bagi murid yang mengalami hambatan logika alur, sementara murid yang telah lancar didorong memperkaya detail imajinasi latar dan kedalaman pandangan kritis tokoh.
  • Produk: Draf naskah drama murid dapat berupa naskah berdurasi singkat 1 adegan utuh (bagi yang perlu bimbingan) hingga naskah 1 babak utuh dengan eksplorasi beberapa variasi lakuan (bagi murid mahir).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik melengkapi dialog rumpang pada papan tulis: Diberikan stimulus situasi perselisihan ide festival budaya antara tokoh Wayan dan Joko. Murid menuliskan lakuan dan respons dialog Joko. Kriteria penerimaan operasional: lakuan mencerminkan emosi/sikap tokoh secara kontekstual, dan dialog memuat gagasan tanggapan yang terhubung secara runtut dan masuk akal terhadap ujaran Wayan (acuan: lakuan menunjukkan sikap berpikir/menegaskan, dialog memberikan alternatif atau sanggahan berbasis alasan logis, misalnya: Joko: [menghela napas, menatap peta desa] 'Kalau hanya tarian daerah kita, teman-teman dari suku lain tidak merasa diajak terlibat. Bagaimana jika kita gabungkan dalam pawai bersama?').

Proses:

  • Pemeriksaan draf tulisan drama murid saat tahap Mengaplikasi dengan acuan kriteria: (1) gagasan bertema pengenalan keberagaman Indonesia terartikulasi jelas, (2) alur konflik terbangun secara logis lewat hubungan sebab-akibat dialog, (3) pandangan tokoh diuraikan secara kritis tanpa memaksakan konklusi, dan (4) imajinasi lakuan (kramagung) memperkuat karakterisasi tokoh.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir draf mandiri: Murid memeriksa naskah dramanya dengan lembar ceklis logika penulisan teks drama. Kriteria penerimaan operasional: naskah memuat sekurang-kurangnya 1 judul, keterangan latar tempat/suasana Indonesia, minimal 2 tokoh berdialog dengan konflik gagasan yang logis, dan petunjuk lakuan (kramagung) yang menyertai percakapan.

Formatif:

  • Penilaian proses menulis melalui lembar observasi keterpaduan draf naskah teks drama (kelogisan alur konflik, kedalaman pandangan/gagasan kritis bertema pengenalan Indonesia, dan daya cipta imajinasi dialog/kramagung).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelogisan Alur Percakapan dan Konflik DramaAlur dialog antartokoh melompat-lompat tanpa hubungan sebab-akibat yang jelas; penyelesaian konflik terjadi secara tiba-tiba tanpa penalaran logis.Alur dialog mulai menunjukkan hubungan sebab-akibat, namun perpindahan konflik gagasan antartokoh masih kurang runtut.Alur dialog tersusun secara logis; hubungan sebab-akibat pemicu konflik hingga penyelesaian tersaji secara runtut dan masuk akal.Alur dialog tersusun sangat runtut dan ketat secara logika; dinamika konflik gagasan berkembang secara kausalitas mendalam dari awal hingga penyelesaian.
Pandangan Kritis terhadap Gagasan Pengenalan IndonesiaGagasan seputar masyarakat/keberagaman Indonesia hanya menjadi tempelan nama tanpa menunjukkan pandangan kritis tokoh dalam dialog.Dialog memuat gagasan bertema keberagaman Indonesia, tetapi sudut pandang kritis tokoh masih dangkal dan terbatas pada pernyataan umum.Dialog memuat pandangan kritis yang jelas dari tokoh terhadap isu keragaman/kehidupan masyarakat Indonesia yang diangkat secara logis.Dialog mengeksplorasi pandangan kritis yang tajam, orisinal, dan mendalam mengenai dinamika sosial budaya masyarakat Indonesia.
Kreativitas Imajinasi Lakuan dan Karakterisasi Teks DramaTeks hanya berupa percakapan tanpa petunjuk lakuan (kramagung) imajinatif; karakterisasi tokoh tidak tampak.Teks memuat petunjuk lakuan (kramagung) yang bersifat mekanis dasar dan imajinasi situasi latar masih sangat terbatas.Teks memadukan dialog dengan petunjuk lakuan (kramagung) yang imajinatif dan kreatif sehingga membangun karakter tokoh dan latar suasana Indonesia secara hidup.Teks menampilkan kebaruan dan daya imajinasi kreatif yang sangat kaya pada rincian petunjuk lakuan (kramagung), menciptakan karakterisasi yang hidup dan latar suasana yang kuat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 50 menit menulis mandiri cukup memfasilitasi murid dalam menuangkan gagasan dan imajinasinya secara logis?
  • Bagian mana dari draf teks drama murid yang paling banyak mengalami kesulitan dalam penalaran kritis dan hubungan sebab-akibat dialog?

Murid:

  • Apakah gagasan dan pesan mengenai keragaman Indonesia yang ingin saya sampaikan sudah tersalurkan secara logis melalui percakapan antartokoh dalam draf drama saya?
  • Strategi apa yang paling membantu saya ketika menciptakan petunjuk lakuan (kramagung) yang menghidupkan imajinasi pembaca?

Pertemuan 5 — Menyajikan Karya Sastra Melalui Latihan Peragaan Petikan Adegan Pertunjukan Drama Bertema Pengenalan Indonesia secara Kreatif dan Menarik — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.5.4 Menyajikan karya sastra secara kreatif dan menarik melalui peragaan pertunjukan drama bertema pengenalan Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan ruang lingkup kegiatan peragaan petikan adegan naskah drama bertema pengenalan Indonesia (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: meminta 2 perwakilan murid secara bergiliran membaca kutipan dialog naskah berikut: 'Laras: Tanah ini bukan sekadar hamparan sawah, Buyung. Ini warisan leluhur kita yang mengajarkan rasa syukur dan persaudaraan.' dengan kriteria kesiapan penyajian: (1) penghayatan karakter tokoh Laras yang bangga/tegas dan (2) pemanfaatan blocking/gerak sederhana saat berucap (acuan diagnostik: murid dikategorikan siap jika memenuhi kedua kriteria tersebut tanpa ragu) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid dalam kelompok mengamati demonstrasi pemodelan penyajian petikan adegan drama berdurasi 3 menit dari guru mengenai cara menyajikan dialog naskah dengan sentuhan kreatif (penggunaan tata gerak yang menghidupkan ruang panggung dan adaptasi kekhasan budaya Nusantara sesuai naskah) (15 menit).
  • Murid berdiskusi di dalam kelompok masing-masing (4-5 orang) untuk membedah petikan naskah drama bertema pengenalan Indonesia yang telah disiapkan pada pertemuan sebelumnya, menentukan pembagian peran, serta menyepakati detail kreasi peragaan adegan (blocking panggung, tempo dialog tokoh, dan ekspresi panggung) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid melakukan pemanasan olah gerak dan tebak ekspresi karakter nusantara dalam 'Permainan Tablo Karakter': setiap kelompok secara bergiliran menampilkan pose beku selama 10 detik yang menggambarkan suasana budaya/tokoh dalam naskah drama mereka, lalu kelompok lain menebak situasi emosi tokoh tersebut secara riang dan bersemangat (15 menit).
  • Setiap kelompok melaksanakan latihan intensif peragaan petikan adegan drama (durasi 5-7 menit per adegan) sesuai naskah bertema pengenalan Indonesia, mempraktikkan kreativitas penyajian adegan melalui keselarasan dialog tokoh, dinamika tata gerak di ruang pentas, dan interaksi antartokoh (35 menit).
  • Masing-masing kelompok menampilkan simulasi latihan peragaan petikan adegan drama di area panggung kelas secara bergiliran, sementara kelompok lain menyimak penyajian tersebut dengan menggunakan lembar pengamatan latihan (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Kelompok penonton dan guru memberikan umpan balik langsung terhadap aspek penyajian kreatif dan kemenarikan peragaan adegan dari kelompok penampil dengan acuan: kesesuaian penjiwaan karakter naskah serta kejelasan dan daya pikat interaksi panggung (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan prinsip-prinsip penting dalam menyajikan karya drama secara kreatif dan menarik di atas pentas (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kemajuan seluruh kelompok dalam latihan peragaan dan mengarahkan murid untuk mempersiapkan kelengkapan naskah serta performa adegan untuk asesmen sumatif pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan kutipan petikan adegan yang lebih ringkas (1 babak/1 situasi konflik tunggal), sedangkan kelompok yang sudah mahir menyajikan adegan dengan variasi perpindahan fokus dialog dan pergantian suasana emosi yang lebih kompleks.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan langsung (scaffolding) pada kelompok yang kesulitan mengatur blocking dan tempo dialog adegan, sementara kelompok mandiri melakukan eksplorasi gerak kreatif secara mandiri.
  • Produk: Penyajian latihan peragaan adegan disesuaikan dengan tingkat kesiapan kelompok; kelompok berkembang menampilkan adegan inti berfokus pada dialog 2 tokoh, kelompok mahir memperagakan adegan kolosal/kelompok penuh dengan ornamen gerak pendukung.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Unjuk kerja pembacaan cuplikan naskah drama bertema nusantara secara berpasangan. Teks: 'Laras: Tanah ini bukan sekadar hamparan sawah, Buyung. Ini warisan leluhur kita yang mengajarkan rasa syukur dan persaudaraan.' Acuan penilaian: (1) pemenuhan ekspresi bangga/tegas tokoh Laras, (2) keberanian melakukan gerak tubuh/blocking minimal satu langkah terarah saat berbicara. Murid yang memenuhi kedua indikator dikelompokkan sebagai kelompok mandiri; murid yang belum memenuhi diberikan pendampingan terarah saat latihan.

Proses:

  • Observasi latihan peragaan adegan kelompok menggunakan lembar cek pengamatan unjuk kerja. Indikator yang diamati: (1) Keutuhan penyajian dialog petikan adegan naskah secara kreatif sesuai karakter peran (acuan: tokoh diperagakan dengan konsistensi mimik wajah dan kesesuaian watak naskah bertema Indonesia), (2) Kemenarikan tata gerak panggung (acuan: pemain bergerak secara wajar memanfaatkan ruang pentas tanpa membelakangi audiens dan terjadi kontak mata/respons antarpemain).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi performa adegan di akhir pertemuan melalui umpan balik terstruktur: Murid menuliskan 1 hal kreatif yang berhasil mereka sajikan dan 1 hal teknis tata gerak panggung yang perlu dimatangkan untuk pertunjukan mendatang pada kartu evaluasi diri (acuan kriteria: catatan menyebutkan aspek konkret peragaan adegan diri sendiri).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Pengamatan diagnostik pembacaan kutipan dialog berkarakter untuk memetakan kesiapan murid dalam berekspresi dan bergerak.
  • Asesmen Proses: Lembar observasi performa peragaan adegan drama kelompok mencakup aspek kreativitas penyajian (penjiwaan karakter naskah) dan kemenarikan peragaan (dinamika gerak panggung dan interaksi antartokoh).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kreativitas Penyajian Adegan Drama (Penjiwaan Karakter Bertema Indonesia)Menyajikan peragaan adegan naskah drama tanpa ekspresi karakter yang sesuai, dialog diucapkan secara monoton tanpa penjiwaan watak tokoh cerita nusantara.Menyajikan peragaan adegan naskah drama dengan penjiwaan karakter pada sebagian dialog, namun belum konsisten menghidupkan watak tokoh sepanjang adegan.Menyajikan peragaan adegan naskah drama secara kreatif dengan penjiwaan karakter tokoh yang meyakinkan dan konsisten sesuai naskah bertema Indonesia.Menyajikan peragaan adegan naskah drama secara sangat kreatif, menghidupkan karakter tokoh naskah secara mendalam, ekspresif, dan berkarakter kuat sepanjang adegan secara mandiri.
Kemenarikan Peragaan Adegan (Tata Gerak Panggung dan Interaksi Pertunjukan)Peragaan adegan belum menarik; pemain pasif berdiam di satu titik panggung (blocking kaku) dan tidak membangun interaksi dengan lawan main.Peragaan adegan cukup menarik; sudah ada variasi tata gerak sederhana tetapi transisi antartokoh masih terlihat canggung dan ragu-ragu.Peragaan adegan berlangsung menarik; tata gerak panggung dinamis, perpindahan posisi teratur, dan terbangun interaksi yang hidup antartokoh.Peragaan adegan berlangsung sangat menarik dan memikat; blocking panggung sangat harmonis, pemanfaatan ruang pentas efektif, serta interaksi dan tempo permainan antartokoh sangat hidup dan padu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi pemodelan dan permainan tablo karakter efektif membangkitkan rasa percaya diri murid dalam memperagakan adegan drama?
  • Bagian mana dari proses latihan adegan kelompok yang memerlukan pendampingan lebih intensif dari guru?
  • Apakah alokasi waktu latihan dan simulasi peragaan cukup memadai bagi seluruh kelompok untuk mengeksplorasi kreativitas panggung?

Murid:

  • Bagian adegan mana yang menurutmu paling berhasil kamu sajikan secara kreatif bersama kelompokmu hari ini?
  • Tantangan apa yang paling kamu rasakan saat menyelaraskan dialog dan gerakan panggung bersama teman kelompok?
  • Apa perbaikan utama yang ingin kamu lakukan agar penampilan peragaan dramamu semakin memikat penonton pada pertunjukan berikutnya?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.5.1 Mengapresiasi teks sastra berbentuk teks aural melalui pertunjukan drama tentang kehidupan masyarakat Indonesia
  • TP 11.5.2 Mengevaluasi informasi berupa gagasan, perasaan, pandangan, dan pesan dari naskah teks visual pertunjukan drama untuk menemukan makna tersurat dan tersirat
  • TP 11.5.3 Menulis gagasan, pandangan, dan imajinasi dalam tipe teks drama secara logis, kritis, dan kreatif
  • TP 11.5.4 Menyajikan karya sastra secara kreatif dan menarik melalui peragaan pertunjukan drama bertema pengenalan Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan fisik serta kehadiran 28 murid di ruang kelas/panggung (3 menit).
  • Guru menyampaikan tata tertib, prosedur, dan pembagian waktu pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 5 yang mencakup tiga bagian: pengumpulan naskah produk (TP 3), tes menyimak aural dan evaluasi naskah visual (TP 1 dan TP 2), serta unjuk kerja peragaan adegan drama kelompok (TP 4) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mendengarkan pengarahan teknis pengumpulan naskah individual adaptasi cerpen bertema Indonesia, lalu 28 murid secara tertib menyerahkan bundel naskah drama masing-masing untuk diverifikasi kelengkapan strukturnya (tokoh, latar, dialog bertema pengenalan Indonesia, kramagung/petunjuk laku) oleh guru menggunakan rubrik penilaian produk teks drama (12 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak rekaman aural pementasan drama 'Harmoni Desa Nelayan' (durasi 10 menit) yang diperdengarkan serentak melalui pengeras suara, berisi konflik perbedaan pandangan pelestarian tradisi melaut dan penggunaan alat tangkap modern (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan tes tertulis pada lembar asesmen individual selama 40 menit yang memuat 4 butir soal evaluasi dan apresiasi: Butir 1 (TP 1) mengapresiasi konflik dan pesan dalam rekaman dialog aural; Butir 2 (TP 1) mengapresiasi karakterisasi tokoh Pak Budi dan Jaya berdasarkan dialog lisan; Butir 3 (TP 2) mengevaluasi makna tersurat dari kutipan naskah visual drama 'Kidung Tanah Seberang' mengenai latar belakang kepindahan tokoh; Butir 4 (TP 2) mengevaluasi gagasan dan makna tersirat dari silang pandang budaya antargenerasi dalam kutipan naskah visual drama; kemudian seluruh lembar jawaban 28 murid dikumpulkan (40 menit).
  • Murid secara berkelompok (7 kelompok, masing-masing 4 murid) melaksanakan unjuk kerja peragaan petikan adegan naskah drama bertema pengenalan Indonesia di area pentas kelas secara bergiliran. Setiap kelompok tampil selama tepat 7 menit dengan transisi serta penilaian rubrik oleh guru selama 3 menit (total 10 menit per kelompok × 7 kelompok = 70 menit untuk seluruh 28 murid) (60 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama guru merefleksikan seluruh proses pengerjaan rangkaian asesmen sumatif (penulisan naskah, ketajaman apresiasi aural, evaluasi kritis naskah visual, serta kekompakan peragaan drama), memaknai capaian belajar secara mandiri, dan mengidentifikasi kekuatan ekspresi diri yang telah ditampilkan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas integritas, kedisiplinan, dan sportivitas murid selama pelaksanaan seluruh sesi asesmen sumatif Bab 5 (2 menit).
  • Guru memberikan gambaran umum ketercapaian bab dan menutup pembelajaran semester dengan doa bersama serta salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan salinan naskah visual drama dengan ukuran huruf lebih besar atau tata letak lebih renggang bagi murid dengan hambatan penglihatan tanpa mengubah substansi isi teks yang diuji.
  • Proses: Menyediakan posisi tempat duduk di barisan depan dekat pengeras suara saat pemutaran teks aural bagi murid yang membutuhkan kejelasan pendengaran maksimal, dengan durasi dan tugas yang tetap setara.
  • Produk: Format penilaian unjuk kerja dan lembar tes tertulis tetap seragam mengacu pada rubrik sumatif yang telah ditetapkan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan administrasi dan fisik artefak naskah individual murid serta kesiapan teknis audio dan ruang peragaan pementasan.

Proses:

  • Pengamatan keteraturan dan kedisiplinan murid selama menyimak audio serentak serta kepatuhan pada alokasi waktu pementasan tiap kelompok.

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi produk naskah, telaah apresiasi dan evaluasi tertulis, serta unjuk kerja peragaan adegan drama: Naskah drama adaptasi cerpen bertema Indonesia, lembar telaah apresiasi drama aural dan evaluasi naskah drama, serta rekaman observasi peragaan petikan dialog adegan drama secara kreatif
  • penilaian produk teks drama: Naskah teks drama hasil transformasi cerita pendek yang disusun secara individual, memuat struktur naskah utuh (tokoh, latar, dialog bertema pengenalan Indonesia, petunjuk laku/kramagung). Diserahkan dan diperiksa guru menggunakan rubrik produk setelah pembelajaran (durasi 15 menit pada slot sumatif digunakan untuk instruksi, pengumpulan akhir, dan pengecekan kelengkapan artefak individual 28 murid). (15 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk penulisan naskah drama)
  • tes tertulis serentak menyimak aural dan evaluasi naskah visual: 28 murid serentak mendengarkan rekaman aural pementasan drama (10 menit) lalu secara mandiri mengisi lembar telaah apresiasi dialog, konflik, dan pesan (TP 1) serta mengevaluasi naskah drama visual untuk menemukan makna tersurat dan tersirat (TP 2) selama 40 menit. Total 50 menit kerja serentak di kelas diawasi guru. Lembar artefak bernama dikumpulkan dan dinilai sesudah sesi. (50 menit; individual; instrumen: lembar tes tertulis dan pedoman penskoran analitis)
  • unjuk kerja peragaan pertunjukan drama kelompok: Peragaan petikan adegan naskah bertema pengenalan Indonesia dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid). Setiap kelompok tampil memperagakan adegan berdurasi 7 menit dengan pelafalan dialog, ekspresi, dan blocking yang sesuai naskah. Perhitungan kapasitas guru: 7 kelompok × 7 menit = 49 menit, ditambah transisi dan pencatatan rubrik 7 kelompok × 3 menit = 21 menit. Total waktu observasi: 49 + 21 = 70 menit <= 70 menit alokasi slot sumatif. Seluruh 28 murid dalam 7 kelompok selesai diamati pada slot sumatif akhir ini. (70 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan drama)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi produk naskah, telaah apresiasi dan evaluasi tertulis, serta unjuk kerja peragaan adegan drama: Naskah drama adaptasi cerpen bertema Indonesia, lembar telaah apresiasi drama aural dan evaluasi naskah drama, serta rekaman observasi peragaan petikan dialog adegan drama secara kreatif
  • penilaian produk teks drama: Naskah teks drama hasil transformasi cerita pendek yang disusun secara individual, memuat struktur naskah utuh (tokoh, latar, dialog bertema pengenalan Indonesia, petunjuk laku/kramagung). Diserahkan dan diperiksa guru menggunakan rubrik produk setelah pembelajaran (durasi 15 menit pada slot sumatif digunakan untuk instruksi, pengumpulan akhir, dan pengecekan kelengkapan artefak individual 28 murid). (15 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk penulisan naskah drama)
  • tes tertulis serentak menyimak aural dan evaluasi naskah visual: 28 murid serentak mendengarkan rekaman aural pementasan drama (10 menit) lalu secara mandiri mengisi lembar telaah apresiasi dialog, konflik, dan pesan (TP 1) serta mengevaluasi naskah drama visual untuk menemukan makna tersurat dan tersirat (TP 2) selama 40 menit. Total 50 menit kerja serentak di kelas diawasi guru. Lembar artefak bernama dikumpulkan dan dinilai sesudah sesi. (50 menit; individual; instrumen: lembar tes tertulis dan pedoman penskoran analitis)
  • unjuk kerja peragaan pertunjukan drama kelompok: Peragaan petikan adegan naskah bertema pengenalan Indonesia dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid). Setiap kelompok tampil memperagakan adegan berdurasi 7 menit dengan pelafalan dialog, ekspresi, dan blocking yang sesuai naskah. Perhitungan kapasitas guru: 7 kelompok × 7 menit = 49 menit, ditambah transisi dan pencatatan rubrik 7 kelompok × 3 menit = 21 menit. Total waktu observasi: 49 + 21 = 70 menit <= 70 menit alokasi slot sumatif. Seluruh 28 murid dalam 7 kelompok selesai diamati pada slot sumatif akhir ini. (70 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan drama)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengapresiasi Teks Sastra Aural Drama (TP 11.5.1) — Acuan Butir 1 (Konflik pelestarian tradisi versus modernisasi alat tangkap; Pesan perlunya keseimbangan antara menjaga ekosistem laut dan kesejahteraan ekonomi nelayan) & Butir 2 (Tokoh Pak Budi: teguh berprinsip, bijaksana menjaga kearifan lokal; Tokoh Jaya: kritis, terbuka pada inovasi, realistis terhadap kebutuhan zaman)Mengapresiasi kurang dari 2 elemen acuan (hanya menjawab 1 atau tidak ada yang sesuai acuan Butir 1 dan 2).Mengapresiasi 2 dari 4 elemen acuan secara tepat pada butir telaah dialog aural.Mengapresiasi 3 dari 4 elemen acuan secara tepat pada butir telaah dialog aural.Mengapresiasi seluruh 4 elemen acuan (konflik, pesan, karakter Pak Budi, karakter Jaya) secara tepat dan lengkap berdasarkan rekaman dialog drama aural.
Mengevaluasi Informasi Makna Tersurat dan Tersirat Naskah Visual Drama (TP 11.5.2) — Acuan Butir 3 (Makna tersurat: Alasan kepindahan tokoh Sekar karena penugasan ayahnya sebagai tenaga medis di wilayah pedalaman Maluku) & Butir 4 (Makna tersirat: Gagasan silang pandang budaya menunjukkan bahwa keberagaman adat memerlukan kerendahan hati dan empati untuk saling memahami, bukan menghakimi kebiasaan setempat)Belum mampu mengevaluasi makna tersurat maupun tersirat sesuai acuan teks naskah visual (0 jawaban tepat).Mengevaluasi makna tersurat secara tepat (Butir 3), tetapi belum mampu menemukan makna tersirat (Butir 4 salah).Mengevaluasi makna tersurat secara tepat dan mengevaluasi makna tersirat mendekati substansi acuan secara tepat.Mengevaluasi informasi gagasan, perasaan, dan pesan naskah visual secara mendalam dan tepat pada kedua butir acuan makna tersurat (Butir 3) dan tersirat (Butir 4).
Menulis Gagasan, Pandangan, dan Imajinasi dalam Naskah Drama (TP 11.5.3) — Acuan Kriteria: (1) Keselarasan alur dan tema pengenalan Indonesia; (2) Kelengkapan struktur teks drama (tokoh/penokohan, latar sosial-budaya); (3) Rangkaian dialog yang logis, kritis, dan komunikatif; (4) Ketepatan petunjuk laku/kramagungMemenuhi hanya 1 dari 4 kriteria acuan struktur dan penulisan naskah drama.Memenuhi 2 dari 4 kriteria acuan struktur dan penulisan naskah drama.Memenuhi 3 dari 4 kriteria acuan struktur penulisan naskah drama secara logis dan kreatif.Memenuhi seluruh 4 kriteria acuan struktur penulisan naskah drama dengan gagasan, pandangan, dan imajinasi yang tertata sangat utuh, logis, kritis, dan kreatif.
Menyajikan Karya Sastra Melalui Peragaan Pertunjukan Drama (TP 11.5.4) — Acuan Kriteria Peragaan: (1) Pelafalan dialog vokal jelas dan sesuai watak; (2) Ketepatan ekspresi mimik dan penghayatan emosi tokoh; (3) Kesesuaian blocking/pergerakan panggung dengan petunjuk naskah; (4) Kreativitas penyajian petikan adegan bertema pengenalan Indonesia yang harmonis dan menarikMemenuhi hanya 1 dari 4 kriteria peragaan pementasan adegan drama.Memenuhi 2 dari 4 kriteria peragaan pementasan adegan drama.Memenuhi 3 dari 4 kriteria peragaan pementasan adegan drama secara kompak dan menarik.Memenuhi seluruh 4 kriteria peragaan pementasan adegan drama dengan pelafalan dialog yang hidup, ekspresi matang, blocking rapi, dan penyajian panggung yang sangat kreatif serta memukau penonton.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 135 menit mencukupi secara efektif untuk mengeksekusi penilaian tiga bentuk tugas sumatif tanpa mengurangi ketelitian penskoran?
  • Bagaimana ketercapaian komprehensif murid pada kompetensi aural, visual, penulisan, dan peragaan drama di Bab 5 ini sebagai dasar perbaikan pembelajaran bab berikutnya?

Murid:

  • Bagian mana dari rangkaian asesmen drama hari ini (menyimak, mengevaluasi teks, menulis naskah, atau memeragakan adegan) yang paling menunjukkan potensi terbaik dirimu?
  • Pelajaran berharga apa mengenai keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia yang kamu dapatkan setelah menyelesaikan seluruh proyek drama ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2024)
  2. Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2024)
  3. Rekaman aural pertunjukan drama/sandiwara radio lakon kehidupan masyarakat Indonesia (arsip sastra audio)
  4. Speaker/pengeras suara dan lembar kerja apresiasi teks aural
  5. Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMA Kelas XI, Kemendikbudristek, 2024.
  6. Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMA Kelas XI, Bab V, Kemendikbudristek, 2024.
  7. Teks naskah drama adaptasi lakon bertema kebinekaan Indonesia ('Matahari di Balik Bukit').
  8. Lembar Kerja Siswa: Matriks Evaluasi Naskah Teks Visual Drama.
  9. Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi), Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2024
  10. Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, 2024
  11. Lembar Kerja Siswa: Petikan Naskah Drama 'Lentera di Balik Kabut'
  12. Kartu Aktivitas 'Game Detektif Dialog'
  13. Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI (2024).
  14. Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI, Bab 5, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI (2024).
  15. Lembar Kerja Penulisan Draf Teks Drama Satu Babak Bertema Keberagaman Indonesia.
  16. Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2024)
  17. Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2024)
  18. Naskah petikan adegan drama bertema kehidupan masyarakat Indonesia karya kelompok murid
  19. Area ruang kelas/panggung mini untuk simulasi blocking pertunjukan teater
  20. Rekaman audio dialog drama 'Harmoni Desa Nelayan'
  21. Lembar teks naskah visual drama 'Kidung Tanah Seberang' dan lembar tes tertulis sumatif
  22. Ruang panggung kelas dan properti dasar peragaan petikan adegan drama

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.