MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 11 (Fase F) Topik: Bab 1 — Mengenalkan Produk Pangan Lokal Indonesia INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase F / Kelas 11 |
|---|
| Topik | Bab 1 — Mengenalkan Produk Pangan Lokal Indonesia |
|---|
| Alokasi Waktu | 17 JP (17 x 45 menit = 765 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 6 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 11.1.1 Mengevaluasi informasi berupa gagasan dan pandangan dari teks visual argumentasi bertema produk pangan lokal Indonesia berdasarkan kaidah logika berpikir
- TP 11.1.2 Merefleksi gagasan dan pandangan berdasarkan kaidah logika berpikir dari teks visual persuasi bertema ketahanan pangan lokal
- TP 11.1.3 Menulis gagasan dan pandangan dalam teks argumentasi bertema pangan lokal Indonesia secara logis dan kritis
- TP 11.1.4 Mempresentasikan gagasan dan kreativitas berbahasa melalui poster promosi produk pangan lokal Indonesia secara kritis dan kreatif sesuai dengan norma kesopanan dan budaya Indonesia
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana kita membuktikan bahwa sebuah pernyataan dalam teks argumentasi pangan lokal merupakan fakta teruji atau sekadar opini penulis?
- Mengapa gagasan utama dan gagasan pendukung dalam teks argumentasi harus saling bertaut secara logis tanpa adanya kekeliruan bernalar?
- Bagaimana sebuah teks visual persuasi dapat memengaruhi cara pandang kita terhadap ketahanan pangan lokal?
- Apakah setiap ajakan atau seruan dalam teks visual persuasi selalu didasari oleh logika berpikir yang masuk akal dan relevan dengan kehidupan kita?
- Bagaimana cara kita menyusun paragraf agar pembaca yakin bahwa pangan lokal seperti singkong atau sagu layak menjadi makanan pokok pengganti beras?
- Apa perbedaan mendasar antara membangun argumen dari gagasan umum ke bukti khusus (deduksi) dibandingkan merangkum bukti-bukti khusus menuju kesimpulan umum (induksi)?
- Bagaimana fakta data statistik dan temuan riil dapat memperkuat gagasan kritis kita dalam teks argumentasi tentang diversifikasi pangan lokal?
- Langkah perbaikan apa yang paling menentukan agar draf awal teks argumentasi menjadi tulisan utuh yang koheren, logis, dan bebas dari sesat pikir?
- Bagaimana cara meyakinkan orang lain agar tertarik mengonsumsi pangan lokal Indonesia melalui presentasi lisan yang santun?
- Mengapa kreativitas pemilihan slogan atau pilihan kata dalam poster perlu dijelaskan secara logis saat presentasi?
- Bagaimana ketepatan logika berpikir membedakan fakta yang valid dari opini subjektif dalam teks argumentasi pangan lokal?
- Bagaimana sebuah gagasan visual persuasi dan presentasi lisan poster mampu meyakinkan masyarakat untuk beralih mengonsumsi produk pangan lokal secara beradab dan santun?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengevaluasi Ide Pokok, Ide Pendukung, serta Kalimat Fakta dan Opini dalam Teks Visual Argumentasi Pangan Lokal Berdasarkan Kaidah Logika Berpikir — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.1.1 Mengevaluasi informasi berupa gagasan dan pandangan dari teks visual argumentasi bertema produk pangan lokal Indonesia berdasarkan kaidah logika berpikir
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memandu doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni mengevaluasi gagasan, pandangan, serta membedakan fakta dan opini dalam teks visual argumentasi pangan lokal berdasarkan kaidah logika berpikir (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan menayangkan 2 kutipan kalimat di papan tulis: (1) 'Sagu mengandung karbohidrat kompleks dan serat pangan yang tinggi' dan (2) 'Menurut saya, sagu merupakan satu-satunya makanan pokok pengganti beras paling lezat di Indonesia', lalu meminta murid secara mandiri menuliskan label fakta atau opini di selembar kertas cepat (acuan: kalimat 1 = Fakta, kalimat 2 = Opini) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid mencermati teks visual argumentasi berjudul 'Ketahanan Pangan Lokal' yang memuat diagram persentase konsumsi beras dan infografis sebaran komoditas pangan alternatif (sagu, ubi jalar, singkong) untuk mengidentifikasi letak gagasan pokok dan gagasan pendukung pada tiap paragraf (15 menit).
- Murid mempelajari konsep kaidah logika berpikir dalam argumentasi (premis-kesimpulan yang selaras serta perbedaan data faktual terverifikasi versus opini subyektif penulis) melalui telaah contoh paragraf deduktif dan induktif bertema pangan lokal (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid berpasangan mengikuti permainan cepat 'Detektif Logika Fakta-Opini' untuk mengklasifikasikan 4 kartu pernyataan pangan lokal berikut: (1) 'Konsumsi beras nasional tahun 2023 mencapai 94,9 kg per kapita per tahun' [Fakta], (2) 'Diversifikasi pangan berbasis umbi-umbian pasti berhasil mengatasi krisis pangan tanpa kendala' [Opini], (3) 'Kementerian Pertanian mengalokasikan program perbenihan ubi kayu di sepuluh provinsi pada tahun 2024' [Fakta], (4) 'Masyarakat perkotaan seharusnya merasa bersalah jika tidak beralih mengonsumsi tiwul setiap hari' [Opini] (20 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja Evaluasi Logika Argumentasi untuk mengevaluasi teks visual argumentasi 'Pangan Mandiri': menentukan 1 ide pokok paragraf utama, 2 ide pendukung, mengelompokkan 4 kalimat bernomor ke dalam tabel fakta atau opini, serta menuliskan telaah kritis atas kesahihan logika hubungan antara data fakta dengan kesimpulan penulis (acuan: Ide Pokok = Ketergantungan pada beras mengancam ketahanan pangan nasional sehingga diperlukan pemanfaatan pangan lokal; Ide Pendukung 1 = Produksi beras rentan terhadap perubahan iklim ekstrem; Ide Pendukung 2 = Indonesia memiliki ragam pangan lokal melimpah seperti sagu dan jagung; Kalimat Fakta = Kalimat 1 dan 3; Kalimat Opini = Kalimat 2 dan 4; Telaah Logika = Gagasan penarikan simpulan logis karena didukung data penurunan cadangan beras dan potensi luas lahan sagu) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara berpasangan saling memeriksa hasil evaluasi lembar kerja pasangannya berdasarkan acuan kunci logika berpikir, memberikan catatan klarifikasi jika terdapat ketidaktepatan pembedaan fakta-opini atau penentuan ide pokok (15 menit).
- Murid menyimpulkan kriteria logika berpikir dalam teks argumentasi: bagaimana fakta menjadi fondasi kokoh bagi opini dan gagasan yang dipertahankan oleh penulis (15 menit).
Penutup:- Murid bersama guru merangkum kompetensi yang telah dipelajari mengenai evaluasi gagasan, ide pokok-pendukung, dan pemilahan fakta-opini dalam teks argumentasi pangan lokal (10 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas performa evaluasi murid, mengingatkan persiapan materi teks visual persuasi untuk pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan teks argumentasi yang telah dilengkapi pemandu visual penanda paragraf (highlight warna untuk kalimat fakta dan garis bawah untuk kalimat opini), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan teks visual argumentasi dengan data infografis statistik yang lebih padat.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara bertahap dalam mengidentifikasi kata kunci penanda opini (seperti 'seharusnya', 'diyakini', 'terbaik'), sedangkan murid yang mahir mengevaluasi keterkaitan silogisme antara dua data premis fakta dengan klaim opini penulis secara mandiri.
- Produk: Semua murid menghasilkan evaluasi pada format lembar kerja yang sama, dengan kedalaman analisis telaah logika berpikir yang disesuaikan tingkat kesiapan murid (telaah tingkat dasar: kesesuaian fakta-opini; telaah tingkat lanjut: pengujian kesahihan hubungan sebab-akibat argumen).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid mengidentifikasi 2 kalimat singkat mengenai pangan lokal: (1) 'Sagu mengandung karbohidrat kompleks dan serat pangan yang tinggi' dan (2) 'Menurut saya, sagu merupakan satu-satunya makanan pokok pengganti beras paling lezat di Indonesia'. Kriteria/acuan jawaban benar: Kalimat (1) adalah Fakta karena memuat informasi kandungan nutrisi biologis yang terverifikasi; Kalimat (2) adalah Opini karena memuat frasa pandangan personal 'menurut saya' dan kata sifat subyektif 'paling lezat'.
Proses:- Observasi formatif saat latihan 'Detektif Logika Fakta-Opini' dengan 4 kartu pernyataan (acuan kunci: kartu 1 = Fakta, kartu 2 = Opini, kartu 3 = Fakta, kartu 4 = Opini).
- Pemeriksaan kemajuan pengisian Lembar Kerja Evaluasi Logika Argumentasi pada teks 'Pangan Mandiri' (acuan kunci: Ide pokok paragraf = Pemanfaatan pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan beras; Ide pendukung 1 = Kerentanan produksi beras terhadap iklim; Ide pendukung 2 = Kekayaan potensi sagu dan jagung; Pemilahan: nomor 1 dan 3 = Fakta, nomor 2 dan 4 = Opini; Evaluasi logika: penalaran valid karena konklusi didasarkan pada data faktual luasan panen dan konsumsi per kapita).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat di akhir sesi: Murid menentukan kevalidan argumen dari 1 premis teks: 'Fakta: Daerah Maluku dan Papua memiliki ribuan hektare pohon sagu alami. Opini Penulis: Indonesia timur tidak boleh dipaksa menanam padi sebagai satu-satunya pangan pokok.' Murid menjelaskan dalam 1 kalimat apakah simpulan opini tersebut logis berdasarkan fakta yang ada (kriteria penerimaan: murid menyatakan logis karena potensi agroekosistem lokal sagu di Maluku/Papua tidak sesuai bila dipaksakan monokultur padi tanpa memperhatikan daya dukung lahan alami).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengklasifikasikan 2 kalimat uji fakta dan opini tentang pangan lokal.
- Tantangan kuis pasangan 'Detektif Logika Fakta-Opini' terhadap 4 kartu pernyataan bahan ajar.
- Lembar Kerja Evaluasi Logika Argumentasi: penilaian ketepatan menentukan 1 ide pokok, 2 ide pendukung, pemilahan 4 kalimat fakta/opini, serta evaluasi kesahihan logika penalaran.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Mengevaluasi Ide Pokok dan Ide Pendukung Teks Argumentasi | Belum tepat menentukan ide pokok maupun ide pendukung dari teks visual argumentasi pangan lokal. | Tepat menentukan ide pokok teks argumentasi, tetapi belum tepat memilah ide-ide pendukungnya. | Tepat menentukan 1 ide pokok dan minimal 1 ide pendukung teks argumentasi secara mandiri sesuai isi teks. | Tepat menentukan 1 ide pokok dan seluruh (2) ide pendukung teks argumentasi secara komprehensif serta mampu menunjukkan letak kalimat pengembangnya. | | Ketepatan Memilah Kalimat Fakta dan Opini Berdasarkan Kaidah Logika | Tepat memilah maksimal 1 dari 4 kalimat fakta dan opini yang disediakan dalam teks. | Tepat memilah 2 dari 4 kalimat fakta dan opini yang disediakan dalam teks. | Tepat memilah 3 dari 4 kalimat fakta dan opini yang disediakan dalam teks sesuai acuan. | Tepat memilah seluruh (4 dari 4) kalimat fakta dan opini yang disediakan dalam teks (kartu 1=Fakta, kartu 2=Opini, kartu 3=Fakta, kartu 4=Opini) secara tepat dan mandiri. | | Evaluasi Logika Berpikir Hubungan Fakta dan Gagasan Penulis | Belum mampu mengevaluasi kesahihan penalaran antara data fakta dengan simpulan opini penulis. | Menyebutkan hubungan fakta dan opini penulis namun belum disertai penjelasan kaidah penalaran logis. | Mengevaluasi kesahihan penalaran antara data fakta dengan simpulan gagasan penulis menggunakan alasan logis yang terstruktur. | Mengevaluasi kesahihan penalaran antara data fakta dengan simpulan gagasan penulis secara mendalam, kritis, dan menunjukkan kekeliruan bernalar (fallacy) atau ketepatan silogisme yang digunakan penulis. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah permainan 'Detektif Logika Fakta-Opini' mampu memotivasi murid secara menggembirakan dalam membedakan data faktual dan opini subyektif?
- Bagian mana dari penjelasan logika berpikir (premis-konklusi) yang masih memerlukan penjelasan tambahan pada teks argumentasi pangan lokal?
Murid:- Apa tanda paling mudah yang kamu gunakan untuk memastikan bahwa sebuah kalimat dalam teks argumentasi merupakan fakta teruji, bukan sekadar opini penulis?
- Mengapa penting bagi kita untuk selalu memeriksa kebenaran data fakta sebelum mempercayai gagasan atau ajakan yang disampaikan penulis?
Pertemuan 2 — Merefleksi Gagasan, Pandangan, dan Daya Ajakan Teks Visual Persuasi Ketahanan Pangan Berdasarkan Kaidah Logika Berpikir — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.1.2 Merefleksi gagasan dan pandangan berdasarkan kaidah logika berpikir dari teks visual persuasi bertema ketahanan pangan lokal
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yakni merefleksi gagasan, pandangan, serta daya ajakan dari teks visual persuasi bertema ketahanan pangan lokal berdasarkan kaidah logika berpikir (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan 1 potongan poster ajakan pangan lokal bertuliskan 'Kenyang Tidak Harus Nasi: Konsumsi Singkong untuk Masa Depan Bumi', lalu meminta murid secara lisan mengidentifikasi gagasan utama dan daya ajakannya untuk memetakan kesiapan awal berpikir logis (acuan: gagasan utama = sumber karbohidrat alternatif selain beras demi ketahanan pangan; daya ajakan = imbauan beralih mengonsumsi singkong) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati bahan tayang teks visual persuasi bertema ketahanan pangan berjudul 'Pangan Lokal Berdaulat, Tubuh Sehat' yang memuat 3 elemen: infografik ketergantungan beras impor, visual olahan sagu dan ubi jalar, serta kalimat ajakan 'Mari Konsumsi Pangan Nusantara demi Kedaulatan Bangsa' (15 menit).
- Murid bersama bimbingan guru menganalisis hubungan sebab-akibat antara data visual ketahanan pangan dengan kalimat ajakan yang disajikan guna menguji kelogisan berpikir teks tersebut (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mengikuti tantangan berpasangan 'Uji Kelogisan Ajakan', yaitu secara aktif dan antusias mencocokkan kartu ajakan dengan telaah kelogisan argumen pendukungnya pada lembar kerja (kegiatan bernuansa permainan logika yang seru dan menantang) (20 menit).
- Secara mandiri, murid membaca dan memirsa teks visual persuasi kedua berjudul 'Sorgum: Jawaban Krisis Pangan Masa Depan' lalu mengisi lembar refleksi dengan menganalisis 3 butir: (1) gagasan teks visual, (2) pandangan penyusun terhadap pangan lokal, dan (3) daya ajakan serta kelogisan alasan pendukungnya (acuan analisis: butir 1 = sorgum alternatif bernutrisi tahan kering; butir 2 = diversifikasi pangan lokal solusi krisis iklim; butir 3 = ajakan menanam dan mengonsumsi sorgum logis karena didukung data agronomi adaptasi iklim) (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menghubungkan gagasan teks visual persuasi yang telah dianalisis dengan pola konsumsi pangan harian mereka serta menilai seberapa meyakinkan daya ajakan teks tersebut berdasarkan nalar mereka sendiri (15 menit).
- Murid menuliskan refleksi personal pada lembar jurnal bacaan tentang dampak pembacaan teks persuasi terhadap kesadaran mereka mengenai pentingnya diversifikasi pangan lokal (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan cara merefleksi gagasan dan daya ajakan teks persuasi berdasarkan kaidah logika berpikir yang valid (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja analisis yang telah diselesaikan serta menginformasikan rencana materi pertemuan berikutnya tentang menulis draf teks argumentasi (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks visual persuasi dengan tingkat kepadatan data grafis yang bervariasi (teks tunggal untuk pemula, infografik multi-grafis untuk murid mahir).
- Proses: Memberikan panduan pertanyaan pemandu (scaffolding logika berpikir) bagi murid yang membutuhkan pendampingan, serta memberikan tantangan penelaahan asumsi tersirat bagi murid yang telah mahir.
- Produk: Format refleksi tertulis dapat berupa tabel analisis logika berstruktur atau uraian paragraf reflektif kritis mendalam.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan berdasarkan teks visual 'Kenyang Tidak Harus Nasi': Murid mengidentifikasi gagasan dan daya ajakan poster (acuan: gagasan = ada sumber karbohidrat alternatif singkong; ajakan = beralih mengonsumsi singkong secara bijak).
Proses:- Tugas lembar refleksi teks visual 'Sorgum: Jawaban Krisis Pangan Masa Depan' dengan memeriksa kelengkapan dan ketepatan 3 aspek: identifikasi gagasan teks, pandangan penyusun, serta telaah daya ajakan berdasarkan logika berpikir (acuan: 3 butir terisi logis sesuai konten teks visual sorgum).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui penulisan satu simpulan reflektif singkat: Murid menuliskan penilaian kritis apakah ajakan diversifikasi pangan lokal pada poster berdasar logis atau sekadar persuasi emosional (kriteria: penilaian memuat alasan logis berbasis fakta yang tersaji pada visual).
Formatif:- Penilaian kinerja pengerjaan lembar kerja telaah logika dan refleksi teks visual persuasi pangan lokal
- Pengamatan keterlibatan murid dalam tantangan logika berpasangan 'Uji Kelogisan Ajakan'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merefleksi Gagasan dan Pandangan Teks Visual Persuasi Berdasarkan Kaidah Logika Berpikir | Belum mampu menemukan gagasan dan pandangan teks persuasi secara tepat serta belum dapat mengaitkan kelogisan daya ajakannya. | Mampu mengidentifikasi gagasan dan pandangan teks persuasi, namun analisis daya ajakan dan kelogisan berpikirnya masih belum relevan dengan isi teks. | Mampu merefleksi 3 butir (gagasan, pandangan, dan daya ajakan teks visual persuasi sorgum) secara tepat serta menilai kelogisannya sesuai kaidah berpikir yang runtut. | Mampu merefleksi 3 butir (gagasan, pandangan, dan daya ajakan) secara tepat, mandiri, serta memberikan tinjauan kritis mendalam terhadap validitas kaidah logika berpikir teks visual persuasi secara komprehensif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur kegiatan Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi efektif melatih nalar kritis murid dalam menelaah persuasi visual?
- Apakah aktivitas tantangan logika berpasangan berhasil menciptakan suasana belajar yang menggembirakan tanpa mengaburkan capaian TP?
Murid:- Bagian mana dari teks visual persuasi tadi yang paling meyakinkan nalarmu untuk mengonsumsi pangan lokal?
- Apakah kamu menemukan ajakan dalam teks visual yang kurang logis atau tidak didukung data yang jelas?
Pertemuan 3 — Menulis Draf Awal Teks Argumentasi Pangan Lokal Berpola Pengembangan Deduksi dan Induksi secara Logis — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.1.3 Menulis gagasan dan pandangan dalam teks argumentasi bertema pangan lokal Indonesia secara logis dan kritis
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini yaitu menulis draf awal teks argumentasi pangan lokal berpola deduksi dan induksi secara logis (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal dengan menampilkan 2 contoh paragraf singkat di layar proyektor untuk menguji pemahaman murid mengenai letak ide pokok: Paragraf A (ide pokok di awal: 'Ketahanan pangan lokal perlu diperkuat karena ketergantungan pada beras rentan memicu krisis...') dan Paragraf B (ide pokok di akhir: 'Sagu mengandung karbohidrat tinggi, ubi jalar kaya serat, dan sorgum tahan kekeringan. Oleh karena itu, komoditas pangan lokal memiliki potensi besar menggantikan beras.') (acuan: Paragraf A = deduksi; Paragraf B = induksi) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati bagan penalaran logika deduktif (pernyataan umum diikuti kalimat-kalimat fakta penjelas) dan logika induktif (fakta-fakta khusus dirangkum menjadi simpulan umum) yang disajikan guru pada konteks ketahanan pangan lokal (15 menit).
- Dalam format permainan cepat 'Tebak Alur Logika', murid berpasangan menerima 3 strip paragraf singkat bertema pangan lokal untuk ditentukan polanya secara tepat dan kompetitif: Strip 1 tentang keunggulan sorgum (ide di awal -> deduksi), Strip 2 tentang data panen ubi cilembu (ide di akhir -> induksi), dan Strip 3 tentang nilai gizi sagu papua (ide di awal -> deduksi) (acuan: Strip 1 = deduksi; Strip 2 = induksi; Strip 3 = deduksi) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memilih salah satu komoditas pangan lokal Indonesia (misalnya: sagu, singkong, ubi jalar, sorgum, atau jagung) lalu menyusun kerangka draf awal teks argumentasi yang memuat gagasan utama serta minimal 2 data fakta pendukung yang logis (20 menit).
- Murid secara mandiri menulis draf awal paragraf pertama menggunakan pola pengembangan deduksi (kalimat tesis/gagasan utama diletakkan di awal paragraf, lalu diikuti oleh kalimat-kalimat fakta penjelas yang koheren) (30 menit).
- Murid melanjutkan penulisan draf paragraf kedua menggunakan pola pengembangan induksi (menyajikan rincian fakta/bukti empiris potensi komoditas pangan di awal, lalu diakhiri kalimat kesimpulan penegas di akhir paragraf) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid membaca ulang draf tulisannya secara sadar untuk memeriksa apakah hubungan antara gagasan dan fakta pendukung sudah tersusun secara logis serta memeriksa ketepatan peletakan ide pokok sesuai pola deduksi dan induksi yang dipilih (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik umum terhadap struktur penalaran deduktif dan induktif yang telah dituangkan murid ke dalam draf awal (3 menit).
- Guru menginformasikan bahwa draf tulisan ini akan disempurnakan pada pertemuan berikutnya (Pertemuan 4) dan menutup pembelajaran dengan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan perancah (scaffolding) disediakan kartu bantuan penyusun alur kalimat pemantik deduksi dan induksi bertema ubi jalar, sedangkan murid yang mandiri langsung menyusun kerangka berbasis fakta komoditas pangan pilihannya.
- Proses: Guru memberikan bimbingan individual bagi murid yang masih kesulitan menempatkan kalimat topik di awal atau di akhir paragraf saat proses penulisan draf berlangsung.
- Produk: Draf awal tulisan argumentasi minimal terdiri dari dua paragraf terpisah (satu paragraf deduksi dan satu paragraf induksi) dengan kedalaman rincian fakta yang disesuaikan kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat berupa penentuan pola 2 contoh paragraf bertema pangan lokal: (1) Paragraf tentang urgensi memperkuat pangan lokal yang kalimat utamanya di awal (acuan: deduksi); (2) Paragraf tentang ragam nutrisi sagu, ubi, dan sorgum yang ditutup kalimat simpulan di akhir (acuan: induksi).
Proses:- Observasi ketercapaian draf awal: Memeriksa draf tulisan murid untuk memastikan paragraf 1 memuat gagasan utama di awal (pola deduksi) didukung fakta logis, dan paragraf 2 memuat deretan fakta khusus yang berujung pada simpulan umum di akhir (pola induksi).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman draf mandiri pada lembar draf tulisan: Memastikan murid berhasil menuliskan 2 paragraf draf awal teks argumentasi pangan lokal yang memenuhi kaidah logika berpikir deduktif dan induktif (kriteria penerimaan: paragraf deduksi menempatkan ide pokok di kalimat pertama; paragraf induksi menempatkan ide pokok di kalimat terakhir; kedua paragraf menyajikan fakta yang mendukung gagasan).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal klasifikasi pola deduksi dan induksi
- Penilaian proses penulisan draf awal paragraf argumentasi deduktif dan induktif bertema pangan lokal
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengembangan Paragraf Deduksi Bertema Pangan Lokal | Belum mampu menuliskan paragraf deduksi; letak gagasan utama tidak jelas dan tidak didukung oleh kalimat fakta penjelas. | Menuliskan paragraf dengan gagasan utama di awal, tetapi hubungan logis dengan fakta pendukungnya belum runtut. | Mampu menuliskan paragraf deduksi secara mandiri dengan gagasan utama di awal paragraf yang didukung oleh minimal 2 fakta penjelas bertema pangan lokal secara logis. | Mampu menuliskan paragraf deduksi secara mandiri dengan gagasan utama di awal paragraf yang didukung oleh fakta penjelas bertema pangan lokal secara mendalam, sangat koheren, dan logis. | | Pengembangan Paragraf Induksi Bertema Pangan Lokal | Belum mampu menuliskan paragraf induksi; rincian fakta tidak mengarah pada penarikan simpulan umum. | Menuliskan rincian fakta di awal, tetapi kalimat simpulan umum di akhir paragraf belum mencerminkan logika rangkuman yang utuh. | Mampu menuliskan paragraf induksi secara mandiri dengan memaparkan fakta-fakta khusus di awal dan diakhiri kalimat simpulan umum bertema pangan lokal secara logis. | Mampu menuliskan paragraf induksi secara mandiri dengan memaparkan bukti-bukti fakta khusus yang runtut dan diakhiri kalimat simpulan umum bertema pangan lokal yang kuat serta sangat logis. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu penulisan draf terbimbing dan mandiri sudah mencukupi bagi murid untuk menuangkan argumen deduktif dan induktif?
- Bagian mana dari kaidah logika berpikir deduksi dan induksi yang paling banyak memicu kesalahan nalar murid saat menyusun draf?
Murid:- Apakah saya sudah berhasil membedakan cara menyusun gagasan utama di awal paragraf (deduksi) dan di akhir paragraf (induksi) dalam draf saya?
- Fakta pendukung apa yang paling meyakinkan dalam draf teks argumentasi pangan lokal yang saya tulis hari ini?
Pertemuan 4 — Menulis dan Menyempurnakan Teks Argumentasi Bertema Pangan Lokal Indonesia Berdasarkan Fakta secara Kritis — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.1.3 Menulis gagasan dan pandangan dalam teks argumentasi bertema pangan lokal Indonesia secara logis dan kritis
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kesiapan belajar kelas, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengarahkan fokus belajar pada penyempurnaan penulisan teks argumentasi pangan lokal (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yakni menyempurnakan draf awal menjadi teks argumentasi utuh bertema pangan lokal Indonesia berdasarkan fakta secara logis dan kritis (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid membaca 2 kalimat di papan tulis untuk mengidentifikasi apakah kalimat tersebut berupa fakta terukur atau opini tanpa dasar (acuan: Kalimat 1 'Impor beras mencapai 2,25 juta ton pada 2018 berdasarkan data BPS' = fakta; Kalimat 2 'Semua orang pasti menyukai rasa sagu dibanding beras' = opini) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mencermati pemodelan telaah teks argumentasi pangan lokal yang disajikan guru, fokus pada cara menyelaraskan gagasan/pandangan dengan data fakta pendukung serta meniadakan sesat pikir/generalisasi tanpa bukti (10 menit).
- Secara berpasangan, murid memainkan mini tantangan cepat 'Detektif Fakta vs Klaim Lemah': murid meneliti 3 kartu kutipan dan menentukan bagian yang membutuhkan tambahan data fakta riil agar argumen menjadi kritis dan logis (acuan kartu: Kartu 1 'Singkong itu sehat' -> butuh fakta kadar serat/indeks glikemik; Kartu 2 'Sagu dapat menjadi sumber karbohidrat utama Maluku dan Papua' -> butuh data produksi/luas lahan sagu; Kartu 3 'Diversifikasi pangan memperkuat ketahanan pangan nasional' -> butuh data ketergantungan impor beras) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid membuka kembali draf awal teks argumentasi bertema pangan lokal (singkong, ubi jalar, sagu, jagung, atau sorgum) yang telah dirintis pada pertemuan sebelumnya untuk ditinjau kelogisan dan faktanya (10 menit).
- Murid melakukan penyuntingan dan penyempurnaan draf teks argumentasi secara mandiri dengan mengintegrasikan data fakta pendukung (angka, hasil riset, atau data rujukan pangan lokal) pada setiap paragraf argumen agar pandangan yang diusung berbobot kritis dan logis (25 menit).
- Murid saling menukarkan draf dengan rekan sebangku untuk melakukan penelaahan silang berbasis lembar periksa logika dan fakta, memberikan catatan perbaikan konkret bila ditemukan argumen yang belum didukung bukti fakta (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali draf akhir teks argumentasinya berdasarkan masukan telaah rekan dan memperbaiki bagian yang masih belum logis atau minim fakta (8 menit).
- Murid menuliskan refleksi singkat satu paragraf di bagian akhir lembar kerja mengenai perubahan kualitas tulisan setelah diperkuat dengan data fakta konkret (4 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan prinsip penting menulis teks argumentasi yang kuat, yaitu keselarasan gagasan pokok dengan fakta pendukung yang logis dan kritis tanpa asumsi subjektif belaka (2 menit).
- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap jalannya proses penyuntingan mandiri dan mengumpulkan hasil naskah teks argumentasi yang telah disempurnakan (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar bank data fakta pangan lokal (data BPS impor beras, kandungan gizi ubi/sagu/singkong); murid mahir mencari dan memverifikasi data fakta komparatif mandiri.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi dengan panduan struktur perenggangan argumen (klaim-alasan-fakta pembukti); murid mahir menyunting struktur rantai argumen majemuk secara mandiri.
- Produk: Seluruh murid menghasilkan produk akhir yang sama berupa naskah teks argumentasi pangan lokal utuh; murid mahir menyajikan minimal 3 fakta data terperinci, sedangkan murid tahap berkembang menyajikan minimal 1 data fakta rujukan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik identifikasi status kalimat di papan tulis: Kalimat 1 'Impor beras mencapai 2,25 juta ton pada 2018 berdasarkan data BPS' (acuan: Fakta); Kalimat 2 'Semua orang pasti menyukai rasa sagu dibanding beras' (acuan: Opini/klaim tanpa data)
Proses:- Pemeriksaan draf teks argumentasi saat murid menulis dan menyempurnakan teks: memeriksa keterpaduan gagasan utama dengan sekurang-kurangnya 1 fakta pendukung yang valid mengenai pangan lokal pada tiap paragraf argumen
- Observasi keterlibatan murid dalam aktivitas tantangan berpasangan 'Detektif Fakta vs Klaim Lemah' (acuan jawaban: tepat menentukan kebutuhan data fakta pada 3 kartu kutipan)
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/refleksi penutup: Murid menyerahkan draf akhir naskah teks argumentasi pangan lokal yang telah disempurnakan beserta 1 catatan refleksi tertulis mengenai perbaikan kelogisan argumen berbasis fakta (kriteria penerimaan: teks memuat gagasan pendirian yang jelas dan didukung fakta terverifikasi, bukan klaim emosional)
Formatif:- Penilaian proses penyuntingan draf penulisan teks argumentasi pangan lokal menggunakan lembar periksa logika berpikir dan dukungan fakta
- Catatan telaah silang antarmurid mengenai keselarasan gagasan dan kekuatan fakta pembukti
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelogisan Gagasan dan Pandangan | Gagasan yang dituliskan tidak saling bertautan, memuat pertentangan antarpernyataan, atau memuat sesat pikir (fallacy) | Gagasan yang dituliskan menunjukkan arah pandangan yang cukup jelas, tetapi hubungan sebab-akibat antarargumen masih rapuh | Menuliskan gagasan dan pandangan secara runtut, koheren, dan logis dari pengenalan isu hingga penegasan pendapat | Menuliskan gagasan dan pandangan yang sangat komprehensif, kritis, runtut tanpa celah logika, serta mampu mengantisipasi pandangan tandingan secara logis | | Ketepatan Integrasi Fakta Pendukung | Tulisan sama sekali tidak memuat data fakta riil, seluruh argumen didasarkan pada asumsi subjektif tanpa rujukan | Memuat fakta pendukung mengenai pangan lokal tetapi kurang relevan atau belum terhubung kuat dengan gagasan yang dipertahankan | Menyajikan fakta pendukung yang relevan dan terukur (data statistik, penelitian, atau kondisi riil) untuk memperkuat argumen secara kritis | Menyajikan beragam fakta pendukung yang akurat, terverifikasi, dan diolah secara mendalam untuk mendukung keseluruhan rantai argumen secara kritis dan meyakinkan |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit efektif memfasilitasi murid dalam menyelesaikan penyempurnaan draf teks argumentasi hingga tuntas?
- Bagian mana dari integrasi fakta yang paling sering mengalami kendala atau sesat pikir pada tulisan murid?
Murid:- Apakah fakta-fakta yang saya tambahkan sudah terbukti membuat argumen pangan lokal saya lebih meyakinkan dan logis?
- Bagian tulisan mana yang paling menantang untuk diperbaiki agar terbebas dari opini subjektif tanpa dasar?
Pertemuan 5 — Mempresentasikan Gagasan dan Kreativitas Poster Promosi Produk Pangan Lokal Indonesia secara Logis dan Santun — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.1.4 Mempresentasikan gagasan dan kreativitas berbahasa melalui poster promosi produk pangan lokal Indonesia secara kritis dan kreatif sesuai dengan norma kesopanan dan budaya Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kesiapan belajar murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu mempresentasikan gagasan dan kreativitas berbahasa poster promosi pangan lokal secara logis dan santun sesuai budaya Indonesia (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan berbicara santun dengan menayangkan 1 kalimat pembuka presentasi yang kurang santun: 'Kalian semua wajib dengar, poster saya ini paling hebat soal singkong!' dan meminta murid membetulkannya menjadi ragam santun berbahasa Indonesia (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pemodelan singkat guru mengenai 3 komponen presentasi poster: (1) penjelasan gagasan utama keunggulan produk pangan lokal, (2) penjelasan kreativitas berbahasa/slogan dalam poster, dan (3) penggunaan etika kesopanan berbahasa Indonesia seperti salam pembuka, kata sapaan takzim, dan penutup santun (15 menit).
- Murid dalam kelompok kecil mencermati draf lembar panduan presentasi poster masing-masing dan memeriksa keselarasan antara visual poster dengan alasan pemilihan kata promosi yang akan dipresentasikan (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid melakukan 'Tantangan 3 Menit Uji Coba Presentasi': berpasangan dengan rekan sebangku, saling mempraktikkan presentasi poster promosi pangan lokal dengan menggunakan sapaan santun dan penjelasan slogan secara ceria dan komunikatif (20 menit).
- Setiap perwakilan kelompok mempresentasikan poster promosi pangan lokal di hadapan kelas secara bergantian dengan durasi maksimal 5 menit per penampil, mencakup gagasan keunggulan pangan lokal, alasan pemilihan kata/slogan kreatif, dan penyampaian beretika santun (45 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dan guru memberikan apresiasi serta catatan umpan balik langsung terhadap kelogisan gagasan promosi dan kepatuhan pada norma kesopanan berbahasa Indonesia yang telah ditampilkan penampil (15 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan poin penting etika presentasi dan kreativitas penyampaian promosi produk pangan lokal (5 minit).
- Guru memberikan tindak lanjut penguatan untuk persiapan pertemuan 6 (asesmen sumatif) dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar bantu frasa sapaan santun pembuka dan penutup presentasi untuk murid yang membutuhkan perancah bahasa.
- Proses: Murid yang mahir diberikan tantangan untuk mempresentasikan poster dengan elaborasi perbandingan keunggulan pangan lokal secara lebih kritis dan komprehensif.
- Produk: Pilihan menyajikan presentasi poster secara langsung di papan display kelas atau memanfaatkan proyeksi digital bagi yang medianya digital.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pembenahan kesantunan berbahasa: Murid memperbaiki kalimat pembuka 'Kalian semua wajib dengar, poster saya ini paling hebat soal singkong!' menjadi kalimat pembuka presentasi yang logis dan santun. Acuan jawaban benar memuat: sapaan hormat (contoh: 'Selamat pagi Bapak/Ibu guru dan teman-teman'), pengantar maksud (contoh: 'Pada kesempatan ini saya ingin mempresentasikan gagasan dalam poster promosi pangan lokal olahan singkong'), serta menghindari klaim arogan (kriteria penerimaan: kalimat menggunakan kata sapaan baku, intonasi santun, dan struktur logis).
Proses:- Pengamatan keterlaksanaan presentasi poster: guru mencatat pemenuhan 3 indikator unjuk kerja murid: (1) kelogisan penyampaian gagasan pangan lokal, (2) kejelasan penjelasan kreativitas berbahasa pada poster, dan (3) penggunaan norma kesopanan berbahasa Indonesia (mengucapkan salam, kata sapaan santun, dan terima kasih).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman reflektif lisan di akhir sesi: murid menyebutkan 1 bukti kreativitas berbahasa pada posternya serta alasan pemilihannya (kriteria penerimaan: murid mampu menjelaskan makna slogan atau diksi persuasif yang dicantumkan pada poster secara rasional dan santun).
Formatif:- Unjuk kerja presentasi poster promosi produk pangan lokal dengan lembar observasi etika kesopanan dan kelogisan gagasan
- Umpan balik lisan langsung rekan sejawat dan guru saat sesi penampilan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelogisan Penyampaian Gagasan Poster Pangan Lokal | Menyampaikan informasi poster tanpa memuat alasan logis mengenai keunggulan produk pangan lokal yang dipromosikan. | Menyampaikan gagasan keunggulan produk pangan lokal pada poster dengan alasan pendukung yang masih terbatas. | Menyampaikan gagasan keunggulan produk pangan lokal pada poster secara logis dengan fakta dan alasan pendukung yang jelas. | Menyampaikan gagasan keunggulan produk pangan lokal pada poster secara sangat logis, runtut, dan kritis membandingkan potensi produk pangan dengan data pendukung yang kuat. | | Kreativitas Berbahasa dalam Poster | Belum mampu menjelaskan pilihan kata, rima, atau slogan kreatif yang digunakan pada poster promosi. | Mampu menyebutkan slogan/kata dalam poster namun belum dapat memaparkan daya pikat atau kreativitas pemilihannya. | Mampu menjelaskan maksud dan kreativitas berbahasa (daya persuasi slogan/pilihan kata) pada poster secara tepat. | Mampu menguraikan alasan kreativitas berbahasa pada poster secara orisinal, persuasif, dan mendalam kaitannya dengan ketertarikan sasaran pembaca. | | Kesesuaian Norma Kesopanan dan Budaya Indonesia | Mempresentasikan karya tanpa menggunakan etika kesopanan berbahasa (tidak ada salam, menyela, atau menggunakan ragam bahasa tidak santun). | Menggunakan salah satu etika kesopanan (misal salam pembuka saja) namun masih menggunakan ragam percakapan yang kurang formal/santun. | Konsisten menggunakan norma kesopanan berbahasa Indonesia (salam pembuka, sapaan takzim, bahasa santun, dan ucapan penutup) secara wajar. | Konsisten menunjukkan kesantunan berbahasa tingkat tinggi sesuai etika budaya Indonesia, menghargai audiens, dan menggunakan diksi santun yang terpelihara sepanjang presentasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu giliran presentasi poster tiap kelompok berjalan efektif dan tertib?
- Bagaimana respons dan kesantunan berbahasa murid saat menanggapi karya poster temannya?
Murid:- Bagian mana dari presentasiku yang paling berhasil meyakinkan teman-teman mengenai keunggulan pangan lokal?
- Apakah aku sudah sepenuhnya menggunakan ragam bahasa santun saat berbicara di depan kelas?
Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.1.1 Mengevaluasi informasi berupa gagasan dan pandangan dari teks visual argumentasi bertema produk pangan lokal Indonesia berdasarkan kaidah logika berpikir
- TP 11.1.2 Merefleksi gagasan dan pandangan berdasarkan kaidah logika berpikir dari teks visual persuasi bertema ketahanan pangan lokal
- TP 11.1.3 Menulis gagasan dan pandangan dalam teks argumentasi bertema pangan lokal Indonesia secara logis dan kritis
- TP 11.1.4 Mempresentasikan gagasan dan kreativitas berbahasa melalui poster promosi produk pangan lokal Indonesia secara kritis dan kreatif sesuai dengan norma kesopanan dan budaya Indonesia
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab yang mencakup tes tertulis individual serta unjuk kerja presentasi poster kelompok (5 menit).
- Guru menjelaskan tata tertib asesmen, durasi pengerjaan tes tertulis (70 menit), mekanisme giliran presentasi lisan poster (56 menit untuk 7 kelompok @ 8 menit), serta membagikan lembar tes sumatif tertulis kepada setiap murid secara tertib (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid mencermati instruksi pengerjaan lembar tes tertulis sumatif yang mencakup: Bagian 1 Evaluasi Teks Visual Argumentasi (analisis fakta vs opini serta kekeliruan logika); Bagian 2 Refleksi Gagasan Teks Visual Persuasi Ketahanan Pangan; dan Bagian 3 Penulisan Teks Argumentasi Utuh bertema diversifikasi pangan lokal (4 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Tugas 1 (Tes Tertulis Mandiri) selama 70 menit secara hening dan mandiri untuk menyelesaikan: (1) evaluasi 4 butir pernyataan fakta-opini teks visual argumentasi 'Sagu Maluku Pengganti Beras' [Butir 1: 'Sagu mengandung karbohidrat 84,7 gram per 100 gram' (Acuan: Fakta - data numerik empiris); Butir 2: 'Sagu adalah makanan paling lezat di Nusantara' (Acuan: Opini - kata sifat subjektif/penilaian); Butir 3: 'Produksi sagu nasional mencapai 500 ribu ton per tahun' (Acuan: Fakta - data statistik); Butir 4: 'Masyarakat kota pasti menolak sagu karena tidak bergengsi' (Acuan: Opini/Logical Fallacy - generalisasi terburu-buru/asumsi tanpa bukti)]; (2) refleksi kaidah logika berpikir dan daya ajakan poster persuasi ketahanan pangan [Acuan kriteria: mengidentifikasi hubungan logis sebab-akibat krisis beras dengan solusi pangan lokal, serta menganalisis efektivitas daya ajakan slogan]; (3) penulisan draf teks argumentasi utuh 3 paragraf (tesis, argumen berdasar data/fakta pangan lokal, simpulan/penegasan ulang) secara logis dan runtut (55 menit).
- Guru mengumpulkan lembar jawaban tes tertulis murid tepat waktu, lalu mempersiapkan rubrik unjuk kerja presentasi lisan poster promosi pangan lokal (1 menit).
- Murid melaksanakan Tugas 2 (Unjuk Kerja Presentasi Kelompok): sebanyak 7 kelompok (masing-masing 4 murid) secara bergiliran mempresentasikan poster promosi produk pangan lokal Indonesia yang telah disiapkan di depan kelas dengan alokasi 7 menit presentasi dan 1 menit transisi per kelompok (7 kelompok x 8 menit = 56 menit), dinilai guru menggunakan rubrik unjuk kerja mencakup artikulasi dan kesantunan berbahasa, kelogisan argumen promosi, daya persuasi, serta kerja sama tim (56 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara hening menuliskan refleksi mandiri 2-3 kalimat di lembar refleksi akhir terkait proses bernalar kritis yang dialami saat mengevaluasi teks, menulis argumentasi, serta kendala dan capaian saat mempresentasikan poster promosi produk pangan lokal (4 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan, kemandirian, kesantunan, dan kerja keras seluruh murid selama menuntaskan asesmen sumatif Bab 1 (3 menit).
- Guru menyampaikan simpulan umum pencapaian kompetensi Bab 1 'Mengenalkan Produk Pangan Lokal Indonesia', memberikan informasi tindak lanjut hasil asesmen (umpan balik, remedial, dan pengayaan), serta menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi format teks visual tes tertulis disediakan dalam versi cetak berhuruf standar dan versi berukuran font besar (large-print 14pt) bagi murid dengan hambatan penglihatan ringan tanpa mengubah isi butir soal.
- Proses: Akomodasi akses posisi berdiri/duduk saat presentasi poster bagi murid dengan kondisi fisik terbatas, serta urutan tampil kelompok yang diundi secara adil dan transparan tanpa mengubah kriteria dan durasi waktu penilaian.
- Produk: Format penyajian poster fisik dapat menggunakan media kertas karton manual atau tayangan digital melalui proyektor dengan kriteria penilaian presentasi lisan yang sama persis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan administrasi dan kelengkapan alat tulis serta karya poster promosi pangan lokal tiap kelompok sebelum tes sumatif dimulai (kriteria kesiapan: membawa alat tulis lengkap dan artefak poster siap tayang).
Proses:- Observasi ketertiban dan kemandirian pengerjaan tes tertulis individual oleh guru untuk memastikan kejujuran akademik dan fokus pengerjaan tanpa bantuan pihak lain.
Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi tes tertulis serentak (evaluasi teks, refleksi kritis, dan penulisan teks argumentasi pangan lokal) serta unjuk kerja presentasi kelompok (promosi produk pangan lokal): Lembar kerja tertulis berisi analisis logika dan draf teks argumentasi utuh, serta performa presentasi lisan poster promosi pangan lokal yang santun, logis, dan persuasif
- tes tertulis serentak: lembar kerja tertulis yang memuat evaluasi fakta-opini teks visual argumentasi, refleksi kaidah logika berpikir dari teks persuasi ketahanan pangan, dan tulisan teks argumentasi bertema pangan lokal Indonesia secara kritis dan runtut (75 menit; individual; instrumen: rubrik analitis penulisan argumentasi dan pedoman penskoran evaluasi-refleksi logika berpikir)
- unjuk kerja presentasi kelompok: penampilan presentasi lisan poster promosi produk pangan lokal Indonesia yang dinilai per kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing tampil 7 menit dan 1 menit transisi: 7 kelompok x 8 menit = 56 menit, muat 28 murid satu kelas) (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi lisan (kriteria: artikulasi dan kesantunan berbahasa, kelogisan argumen, daya persuasi, dan kerja sama tim))
Sumatif:- Asesmen kombinasi tes tertulis serentak (evaluasi teks, refleksi kritis, dan penulisan teks argumentasi pangan lokal) serta unjuk kerja presentasi kelompok (promosi produk pangan lokal): Lembar kerja tertulis berisi analisis logika dan draf teks argumentasi utuh, serta performa presentasi lisan poster promosi pangan lokal yang santun, logis, dan persuasif
- tes tertulis serentak: lembar kerja tertulis yang memuat evaluasi fakta-opini teks visual argumentasi, refleksi kaidah logika berpikir dari teks persuasi ketahanan pangan, dan tulisan teks argumentasi bertema pangan lokal Indonesia secara kritis dan runtut (75 menit; individual; instrumen: rubrik analitis penulisan argumentasi dan pedoman penskoran evaluasi-refleksi logika berpikir)
- unjuk kerja presentasi kelompok: penampilan presentasi lisan poster promosi produk pangan lokal Indonesia yang dinilai per kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing tampil 7 menit dan 1 menit transisi: 7 kelompok x 8 menit = 56 menit, muat 28 murid satu kelas) (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi lisan (kriteria: artikulasi dan kesantunan berbahasa, kelogisan argumen, daya persuasi, dan kerja sama tim))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Evaluasi Fakta, Opini, dan Logika Berpikir Teks Visual Argumentasi (TP 11.1.1) | Mengidentifikasi 0-1 butir fakta-opini secara tepat dari 4 butir yang tersedia; gagal menjelaskan alasan logika berpikir (Acuan 4 butir: 1=Fakta, 2=Opini, 3=Fakta, 4=Opini/Fallacy). | Mengidentifikasi 2 butir fakta-opini secara tepat dari 4 butir yang tersedia dengan penjelasan logika berpikir yang masih kurang tepat. | Mengidentifikasi 3 butir fakta-opini secara tepat dari 4 butir yang tersedia disertai penjelasan kaidah logika berpikir yang logis. | Mengidentifikasi seluruh 4 butir fakta-opini secara tepat (Butir 1=Fakta, 2=Opini, 3=Fakta, 4=Opini/Fallacy) disertai analisis kaidah logika berpikir yang komprehensif dan kritis. | | Refleksi Gagasan dan Daya Ajakan Teks Visual Persuasi (TP 11.1.2) | Belum mampu merefleksi gagasan teks persuasi; penjelasan daya ajakan tidak relevan dengan isu ketahanan pangan. | Merefleksi gagasan teks persuasi secara parsial; mengidentifikasi pesan ajakan namun belum mengaitkannya dengan kaidah logika berpikir ketahanan pangan. | Merefleksi gagasan dan pandangan teks persuasi secara tepat berdasar kaidah logika berpikir; menjelaskan efektivitas daya ajakan slogan poster secara logis. | Merefleksi gagasan dan pandangan secara mendalam, kritis, dan berkesadaran; menguraikan hubungan sebab-akibat pesan ketahanan pangan dan daya persuasi teks secara runtut. | | Penulisan Teks Argumentasi Pangan Lokal Indonesia (TP 11.1.3) | Menulis teks argumentasi kurang dari 3 paragraf; gagasan tidak logis dan tidak didukung fakta produk pangan lokal. | Menulis teks argumentasi 3 paragraf (tesis, argumen, simpulan) namun penalaran argumen belum logis dan fakta pendukung sangat terbatas. | Menulis teks argumentasi utuh 3 paragraf secara logis dan kritis; memuat argumen yang didukung fakta konkret produk pangan lokal Indonesia. | Menulis teks argumentasi utuh 3 paragraf secara sangat logis, kritis, dan kohesif; menggunakan pola pengembangan (deduksi/induksi) secara konsisten dan data fakta pangan lokal yang sahih. | | Presentasi Lisan Poster Promosi Produk Pangan Lokal (TP 11.1.4) | Penyampaian lisan tidak jelas; argumen promosi tidak logis; tidak memperhatikan norma kesantunan berbahasa. | Penyampaian lisan cukup jelas namun daya persuasif lemah; argumen promosi kurang runtut; kesantunan berbahasa cukup. | Mempresentasikan poster secara lisan dengan artikulasi jelas, logis, persuasif, serta mematuhi norma kesopanan dan budaya Indonesia. | Mempresentasikan poster secara kritis, sangat kreatif, logis, artikulatif, dan berdaya bujuk tinggi dengan kesantunan berbahasa dan etika budaya Indonesia yang sangat unggul. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 70 menit tes tertulis dan 56 menit unjuk kerja presentasi kelompok terlaksana secara presisi dan kondusif?
- Bagaimana ketercapaian kompetensi berpikir kritis dan logika murid dalam teks argumentasi serta daya persuasi poster promosi pangan lokal?
- Langkah tindak lanjut apa yang diperlukan untuk penguatan materi bagi murid yang belum mencapai ketuntasan minimum pada bab ini?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif ini (evaluasi logika, penulisan argumentasi, atau presentasi lisan) yang paling menantang bagi saya?
- Bagaimana pemahaman saya tentang pentingnya ketahanan pangan lokal Indonesia berkembang setelah menyelesaikan seluruh bab ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024: Teks 'Ketahanan Pangan Lokal' (hal. 5-7) dan Teks 'Pangan Mandiri'
- Lembar Kerja Siswa dan 4 Kartu Pernyataan 'Detektif Logika Fakta-Opini' bertema Pangan Lokal
- Infografis Data Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Pangan Nusantara
- Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMA Kelas XI Revisi 2024
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMA Kelas XI Revisi 2024
- Media visual infografik/poster promosi ketahanan pangan Kementerian Pertanian / Badan Pangan Nasional
- Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2024)
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2024)
- Lembar Kerja Draf Menulis Teks Argumentasi Deduksi-Induksi Pangan Lokal
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI SMA/MA/SMK, Kemendikbudristek 2024
- Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI, Kemendikbudristek 2024
- Artikel Opini/Editorial: 'Diversifikasi untuk Ketahanan Pangan' (Media Indonesia) dan 'Ketahanan Pangan Lokal' (Kompas)
- Lembar Periksa Silang Penulisan Argumentasi Berbasis Logika dan Fakta
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Bab 1 (Kemendikbudristek, 2024)
- Karya poster promosi pangan lokal hasil proyek kelompok murid
- Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, 2024
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, 2024
- Lembar Asesmen Sumatif Bab 1 (Teks Visual Argumentasi, Teks Visual Persuasi, dan Soal Esai Argumentasi)
- Karya Poster Promosi Produk Pangan Lokal Indonesia hasil penugasan kelompok
- Rubrik Penilaian Analitis Asesmen Sumatif Bahasa Indonesia Fase F Kelas XI
|