Modul AjarPertemuan 2Bab 6Fase ESemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Mengidentifikasi Diksi dan Pengimajian dalam Teks Puisi

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 dengan topik "Mengidentifikasi Diksi dan Pengimajian dalam Teks Puisi". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Mengidentifikasi Diksi dan Pengimajian dalam Teks Puisi

Bahasa Indonesia - Kelas 10

Bab 6 - Pertemuan 2

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Mengidentifikasi Diksi dan Pengimajian dalam Teks Puisi

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikMengidentifikasi Diksi dan Pengimajian dalam Teks Puisi
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui kegiatan menyimak puisi yang dibacakan, murid dapat mengidentifikasi pilihan kata (diksi) yang bermakna konotatif dan kata konkret secara kritis dan reflektif.
  2. Melalui analisis teks puisi, murid dapat menemukan pengimajian/citraan yang digunakan penyair untuk memperkuat makna puisi.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian membaca atau mendengar sebuah puisi yang membuat kalian seolah-olah bisa melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu? Apa yang membuat puisi itu terasa begitu hidup?
  2. Mengapa penyair tidak langsung mengatakan 'aku sedih' tetapi memilih kata-kata seperti 'langit kelabu' atau 'hujan yang tak kunjung reda'? Apa tujuan pilihan kata seperti itu?
  3. Jika kalian ingin menggambarkan perasaan rindu kepada seseorang melalui puisi, kata-kata atau gambaran apa yang akan kalian pilih?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengajak murid melakukan 'momen hening' selama 60 detik: murid memejamkan mata dan membayangkan pemandangan alam favorit mereka, kemudian mendeskripsikannya dalam satu kalimat di buku catatan. (Berkesadaran — mengaktifkan indra dan imajinasi sebelum belajar)
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik pertama dan kedua, memberikan waktu 2–3 menit bagi murid untuk berpikir dan berbagi jawaban singkat secara lisan (think-pair-share cepat).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: murid menuliskan di sticky note atau kertas kecil — (1) apa yang mereka ketahui tentang diksi, dan (2) apa yang mereka ketahui tentang citraan/pengimajian dalam puisi. Guru mengumpulkan dan membaca cepat untuk memetakan pemahaman awal.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini (TP 10.6.2.1 dan 10.6.2.2) secara eksplisit dan menjelaskan alur kegiatan: Menyimak → Memahami konsep → Menganalisis → Merefleksi.
  • Guru menampilkan judul puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono di papan/layar dan meminta murid memprediksi: 'Kira-kira, gambaran apa yang akan muncul dalam puisi ini?'

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru atau rekaman audio membacakan puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono dengan penghayatan penuh. Murid menyimak dengan mata tertutup dan mencatat kesan pertama (perasaan, gambaran, atau kata yang paling berkesan) di buku catatan. (Berkesadaran — menyimak penuh perhatian tanpa distraksi)
  • Guru membacakan puisi untuk kedua kalinya. Kali ini murid mengikuti teks puisi yang dibagikan dan menandai kata-kata yang menurut mereka 'tidak biasa', 'indah', atau 'membangkitkan gambaran tertentu' dengan stabilo atau pensil.
  • Guru menjelaskan konsep diksi (pilihan kata) secara ringkas: definisi diksi, perbedaan kata denotatif dan konotatif, serta kata konkret. Penjelasan disertai contoh langsung dari larik-larik puisi yang baru disimak. Guru menggunakan papan tulis/slide untuk menampilkan tabel perbandingan: Kata → Makna Denotatif → Makna Konotatif.
  • Guru menjelaskan konsep pengimajian/citraan: definisi, jenis-jenis citraan (visual, auditif, taktil, olfaktori, gustatori, kinestetik), dan fungsinya dalam puisi. Setiap jenis citraan diilustrasikan dengan contoh larik dari puisi yang telah disimak. (Bermakna — konsep dikaitkan langsung dengan teks yang sudah dialami murid)
  • Guru memberikan kesempatan murid bertanya tentang konsep yang belum dipahami. Guru mengklarifikasi miskonsepsi umum: diksi bukan sekadar 'kata yang indah', melainkan pilihan kata yang tepat untuk menciptakan efek dan makna tertentu.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil (3–4 orang) secara heterogen. Setiap kelompok mendapatkan teks puisi 'Nelayan Tersesat' (atau puisi lain yang telah disiapkan guru) beserta lembar kerja analisis yang memuat tabel: (1) Tabel Kata Konotatif, (2) Tabel Kata Konkret, dan (3) Tabel Pengimajian/Citraan. (Menggembirakan — kerja kelompok kolaboratif)
  • Kelompok membaca puisi bersama-sama dengan nyaring (salah satu anggota membaca, yang lain menyimak), kemudian berdiskusi untuk mengisi tabel analisis. Setiap temuan harus disertai larik puisi sebagai bukti tekstual dan penjelasan singkat mengapa kata/larik tersebut termasuk kategori yang dipilih.
  • Guru berkeliling memantau proses diskusi kelompok, memberikan pertanyaan pancingan seperti: 'Mengapa kalian memilih kata itu sebagai konotatif? Apa makna tersiratnya?', 'Citraan apa yang paling dominan dalam puisi ini? Mengapa penyair memilihnya?' Guru mencatat temuan asesmen proses.
  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka secara singkat (2–3 menit per kelompok). Kelompok lain memberikan tanggapan atau tambahan. Guru memfasilitasi diskusi kelas dan meluruskan jika ada pemahaman yang kurang tepat. (Bermakna — murid mengaitkan analisis dengan makna keseluruhan puisi)
  • Guru memimpin diskusi kelas: 'Dari semua citraan yang ditemukan, citraan mana yang paling efektif memperkuat makna puisi? Mengapa?' Murid diajak berpikir kritis tentang hubungan antara pilihan diksi/citraan dengan pesan yang ingin disampaikan penyair.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri menuliskan refleksi singkat (5–7 menit) di buku catatan dengan panduan pertanyaan: (1) Apa yang paling menarik dari diksi dan citraan dalam puisi yang dianalisis hari ini? (2) Bagaimana pilihan kata penyair memengaruhi cara kalian memahami dan merasakan puisi tersebut? (Berkesadaran — merefleksi pengalaman belajar secara sadar dan personal)
  • Guru mengajak 3–4 murid berbagi refleksi mereka secara lisan. Guru merespons dengan apresiasi dan mengaitkan refleksi murid dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
  • Guru meminta murid mengisi 'Exit Ticket' (kartu keluar) berisi: (1) Satu kata konotatif dari puisi yang paling berkesan bagi mereka beserta alasannya, dan (2) Satu jenis citraan yang mereka temukan beserta larik buktinya. Exit ticket dikumpulkan sebagai asesmen akhir formatif.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: diksi (kata konotatif dan kata konkret) serta pengimajian/citraan adalah alat penyair untuk menciptakan efek estetis dan memperkuat makna puisi.
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap proses diskusi dan presentasi kelompok: mengapresiasi hal-hal positif yang terlihat dan memberikan catatan perbaikan secara konstruktif.
  • Guru mengumpulkan Exit Ticket dari murid sebagai bahan asesmen akhir dan pemetaan untuk pertemuan berikutnya.
  • Guru menyampaikan pratinjau pertemuan berikutnya (Bab 6, Pertemuan ke-3) dan memberikan tugas pengayaan opsional: membaca satu puisi pilihan sendiri dan menandai minimal 3 diksi konotatif serta 2 jenis citraan yang ditemukan.
  • Guru menutup pembelajaran dengan mengajak murid mengapresiasi karya sastra sebagai ekspresi keindahan bahasa, dan menutup dengan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan dukungan tambahan diberikan teks puisi yang lebih pendek dan sederhana (misalnya puisi anak-anak bertema alam) dengan kosakata yang lebih familiar, serta kartu bantuan berisi definisi singkat dan contoh masing-masing jenis diksi dan citraan. Murid yang sudah mahir dapat diberikan dua puisi berbeda untuk dibandingkan diksi dan citraannya.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan dapat bekerja dalam kelompok yang dipandu lebih intensif oleh guru atau teman sebaya (peer tutor). Murid yang cepat memahami dapat langsung menganalisis secara mandiri sebelum diskusi kelompok, kemudian berperan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
  • Produk: Murid yang membutuhkan dukungan cukup mengisi tabel analisis dengan minimal 2 temuan per kategori. Murid yang berkembang pesat dapat menyajikan hasil analisis dalam bentuk infografis sederhana atau peta konsep visual yang menghubungkan diksi, citraan, dan makna puisi secara keseluruhan.

ASESMEN

Awal:

  • Sebelum kegiatan inti dimulai, murid menuliskan di sticky note atau kertas kecil: (1) Apa yang kamu ketahui tentang diksi dalam puisi? (2) Apa yang kamu ketahui tentang citraan/pengimajian dalam puisi? Guru membaca cepat jawaban murid untuk memetakan pengetahuan awal dan menyesuaikan penekanan penjelasan konsep.

Proses:

  • Observasi langsung oleh guru saat murid berdiskusi kelompok: guru menggunakan lembar checklist untuk mencatat apakah murid mampu (a) menunjukkan kata konotatif dengan bukti larik, (b) membedakan kata konkret dari kata abstrak, dan (c) mengidentifikasi minimal dua jenis citraan dengan tepat.
  • Guru mengajukan pertanyaan pancingan kepada kelompok secara bergantian selama sesi diskusi untuk mengecek kedalaman pemahaman: 'Mengapa kata ini konotatif?', 'Citraan apa yang paling dominan dan apa efeknya terhadap pembaca?'
  • Kualitas presentasi kelompok dinilai secara informal: ketepatan identifikasi, kemampuan memberikan alasan, dan kemampuan merespons tanggapan kelompok lain.

Akhir:

  • Exit Ticket individual: murid menuliskan (1) satu contoh kata konotatif dari puisi yang dianalisis beserta makna konotatifnya dan alasan mengapa kata tersebut efektif, dan (2) satu jenis citraan beserta larik puisi sebagai buktinya. Exit Ticket dikumpulkan dan digunakan guru untuk menilai ketercapaian TP 10.6.2.1 dan 10.6.2.2 secara individual.
  • Lembar kerja analisis kelompok dikumpulkan dan dinilai menggunakan rubrik 4 level yang mencakup aspek ketepatan identifikasi diksi dan ketepatan identifikasi pengimajian.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui sticky note: murid menuliskan pemahaman awal tentang diksi dan citraan sebelum pembelajaran dimulai.
  • Observasi guru selama diskusi kelompok: guru mencatat kemampuan murid dalam mengidentifikasi diksi konotatif, kata konkret, dan jenis citraan menggunakan lembar observasi sederhana (checklist).
  • Kualitas pertanyaan dan tanggapan murid selama sesi presentasi kelompok dan diskusi kelas.
  • Exit Ticket di akhir kegiatan inti: murid menuliskan satu kata konotatif beserta alasan dan satu citraan beserta larik buktinya.

Sumatif:

  • Lembar kerja analisis puisi kelompok yang memuat tabel kata konotatif, kata konkret, dan pengimajian/citraan lengkap dengan bukti larik dan penjelasan.
  • Exit Ticket individual sebagai bukti pemahaman mandiri murid terhadap konsep diksi dan citraan.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi Diksi Konotatif dan Kata Konkret (TP 10.6.2.1)Murid belum mampu mengidentifikasi kata konotatif maupun kata konkret dalam puisi, atau identifikasi yang dilakukan tidak tepat dan tidak disertai bukti larik.Murid mampu mengidentifikasi 1–2 kata konotatif atau kata konkret dengan tepat, namun penjelasan makna konotatifnya masih sangat terbatas atau kurang akurat.Murid mampu mengidentifikasi 3–4 kata konotatif dan kata konkret dengan tepat disertai bukti larik dan penjelasan makna yang cukup memadai.Murid mampu mengidentifikasi lebih dari 4 kata konotatif dan kata konkret dengan tepat, disertai bukti larik yang akurat dan penjelasan mendalam tentang bagaimana pilihan diksi tersebut mendukung makna dan efek estetis puisi secara kritis dan reflektif.
Menemukan Pengimajian/Citraan dalam Puisi (TP 10.6.2.2)Murid belum mampu mengidentifikasi jenis citraan dalam puisi, atau identifikasi yang dilakukan keliru dan tidak disertai bukti larik.Murid mampu mengidentifikasi 1 jenis citraan dengan tepat disertai larik bukti, namun belum mampu menjelaskan fungsinya dalam memperkuat makna puisi.Murid mampu mengidentifikasi 2–3 jenis citraan dengan tepat disertai larik bukti dan penjelasan singkat tentang fungsi citraan dalam mendukung makna puisi.Murid mampu mengidentifikasi lebih dari 3 jenis citraan dengan tepat disertai larik bukti yang akurat, dan mampu menjelaskan secara mendalam bagaimana citraan yang dipilih penyair memperkuat makna, suasana, dan pesan keseluruhan puisi.
Kemampuan Berpikir Kritis dan AnalitisMurid hanya menyalin atau menebak tanpa memberikan alasan atau penjelasan atas temuan analisisnya.Murid memberikan alasan sederhana atas temuan analisisnya, meskipun masih bersifat umum dan belum terhubung dengan makna puisi secara keseluruhan.Murid memberikan alasan yang cukup logis dan mengaitkan temuan diksi/citraan dengan makna atau suasana puisi secara umum.Murid memberikan analisis kritis yang mendalam, mengaitkan pilihan diksi dan citraan dengan pesan penyair, konteks penciptaan, dan dampaknya terhadap pembaca/pendengar secara reflektif.
Kolaborasi dan Partisipasi dalam Diskusi KelompokMurid tidak aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan tidak memberikan kontribusi pada lembar kerja bersama.Murid berpartisipasi secara pasif dalam diskusi kelompok, sesekali memberikan pendapat jika diminta.Murid aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok, memberikan pendapat dan merespons pendapat teman dengan sopan.Murid sangat aktif dalam diskusi kelompok, memimpin atau memfasilitasi diskusi, memberikan argumen yang berdasar, merespons pendapat teman secara konstruktif, dan membantu anggota kelompok yang kesulitan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat menyimak puisi dengan penuh perhatian? Strategi apa yang efektif dan apa yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kualitas menyimak?
  • Apakah penjelasan konsep diksi dan pengimajian cukup jelas dan mudah dipahami oleh murid? Bagian mana yang masih membingungkan dan perlu dijelaskan ulang?
  • Seberapa efektif kegiatan diskusi kelompok dalam membantu murid mengidentifikasi diksi dan citraan? Apakah semua kelompok dapat menyelesaikan lembar kerja dengan baik?
  • Apakah diferensiasi yang diterapkan sudah cukup membantu murid dengan kebutuhan belajar yang berbeda? Apa yang perlu disesuaikan untuk pertemuan berikutnya?
  • Berdasarkan Exit Ticket yang dikumpulkan, berapa persen murid yang sudah mencapai TP 10.6.2.1 dan 10.6.2.2? Tindak lanjut apa yang perlu dilakukan?

Refleksi Murid:

  • Apa hal baru yang paling menarik yang kamu pelajari hari ini tentang diksi dan citraan dalam puisi?
  • Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling membantumu memahami cara penyair memilih kata dan menciptakan gambaran dalam puisi?
  • Apakah kamu sudah bisa membedakan kata konotatif dan kata konkret dalam puisi? Apa yang masih membuatmu bingung?
  • Bagaimana perasaanmu saat menyimak puisi dibacakan? Apakah kamu merasakan gambaran atau suasana tertentu? Citraan apa yang paling kamu rasakan?
  • Apa yang ingin kamu pelajari lebih lanjut tentang puisi setelah pembelajaran hari ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi) — Bab VI 'Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi', halaman 228–240
  2. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi)
  3. Teks puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono (dicetak atau ditampilkan di layar)
  4. Teks puisi 'Nelayan Tersesat' (dicetak sebagai bahan analisis kelompok)
  5. Rekaman audio pembacaan puisi (opsional, dapat menggunakan rekaman guru atau rekaman dari sumber terpercaya)
  6. Lembar Kerja Analisis Puisi (berisi tabel kata konotatif, kata konkret, dan pengimajian — disiapkan guru)
  7. Sticky note / kartu kecil untuk asesmen awal dan Exit Ticket
  8. Papan tulis / whiteboard dan spidol, atau proyektor dan slide presentasi
  9. Stabilo atau pensil warna untuk menandai teks puisi
  10. Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) Kurikulum Merdeka — Pembelajaran Mendalam 2025

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.