MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E) Topik: Bab 6 — Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase E / Kelas 10 |
|---|
| Topik | Bab 6 — Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi |
|---|
| Alokasi Waktu | 18 JP (18 x 45 menit = 810 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 6 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 10.6.1 Mengevaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks sastra puisi berbentuk teks aural
- TP 10.6.2 Mengevaluasi pesan dari teks puisi berwujud visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
- TP 10.6.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dari teks puisi visual secara kreatif
- TP 10.6.4 Menulis gagasan, pandangan, dan pesan dalam teks resensi buku antologi puisi secara logis dan kritis
- TP 10.6.5 Mengungkapkan kepedulian dari teks puisi secara kreatif berbentuk monolog pembacaan puisi
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana pilihan kata (diksi) dan majas dalam puisi yang kita dengar mampu membangun suasana dan perasaan pendengarnya?
- Mengapa latar belakang kehidupan penyair atau kondisi sosial zamannya dapat memengaruhi pesan yang tersirat dalam sebuah puisi aural?
- Bagaimana kita membedakan kata-kata yang maknanya langsung terbaca (tersurat) dengan maksud mendalam yang tersembunyi (tersirat) di balik baris puisi?
- Apakah pesan moral dalam puisi selalu tertulis secara gamblang, ataukah pembaca harus menilainya dari keterkaitan makna simbolik kata-katanya?
- Bagaimana sebuah teks puisi yang kita baca secara visual dapat membangkitkan rasa iba, simpati, atau kepedulian kita terhadap persoalan sosial di sekitar?
- Apa perbedaan mendasar antara sekadar memahami fakta kemalangan seseorang dengan menumbuhkan rasa empati saat membaca larik-larik puisi?
- Bagaimana cara kita menuangkan pertimbangan kritis terhadap kekuatan dan kelemahan sebuah kumpulan puisi ke dalam tulisan yang meyakinkan pembaca?
- Mengapa sebuah resensi buku antologi puisi harus menyajikan gagasan, pandangan, dan pesan secara logis serta berbasis bukti tekstual, bukan sekadar opini subjektif?
- Bagaimana sebuah teks puisi dapat digunakan untuk menyuarakan rasa kepedulian terhadap isu kemanusiaan atau lingkungan di sekitar kita?
- Bagaimana bentuk penyajian monolog pembacaan puisi yang kreatif agar pesan kepedulian dalam teks tersampaikan secara kuat kepada pendengar?
- Bagaimana kita membuktikan pemahaman menyeluruh terhadap puisi, baik saat menyimak, membaca maknanya, meresensinya, hingga menampilkannya dalam monolog?
- Mengapa sebuah puisi memerlukan penghayatan rasa kepedulian agar pesan di dalamnya tersampaikan secara utuh kepada pendengar?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengevaluasi Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Teks Sastra Puisi Berbentuk Teks Aural — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.6.1 Mengevaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks sastra puisi berbentuk teks aural
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan memimpin doa bersama (3 menit).
- Guru memberikan apersepsi mengenai pentingnya menyimak keindahan bahasa puisi dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengevaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks sastra puisi berbentuk teks aural (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat: memperdengarkan pembacaan bait pertama puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono: 'Pada suatu hari nanti / jasadku tak akan ada lagi / tapi dalam bait-bait sajak ini / kau takkan kurelakan sendiri'. Murid diminta secara lisan menjawab 2 pertanyaan pemetaan: (1) Sebutkan tema bait tersebut, (2) Sebutkan 1 majas/gaya bahasa yang terdengar. Acuan jawaban diagnostik: (1) Tema: kefanaan manusia/keabadian cinta melalui karya puisi; (2) Majas: personifikasi pada 'bait-bait sajak ini / kau takkan kurelakan sendiri' atau metafora/paradoks kefanaan vs keabadian (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru melalui pemodelan audio rekaman puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono secara saksama untuk mengidentifikasi unsur intrinsik (tema, diksi, majas, suasana/nada) dan unsur ekstrinsik (latar belakang penyair dan nilai kehidupan) (15 menit).
- Dalam suasana menggembirakan, murid mengikuti kuis interaktif cepat berpasangan 'Tebak Unsur Aural': Guru memutarkan 3 penggalan bait rekaman puisi secara aural, lalu tiap pasangan mengangkat kartu kode (D = Diksi, M = Majas, S = Suasana). Penggalan 1: 'Hujan bulan Juni / tak ada yang lebih tabah / dari hujan bulan Juni' (Acuan: M - Personifikasi ketabahan hujan); Penggalan 2: 'Ruang ini sunyi membeku, jarum jam berdetak menusuk sepi' (Acuan: S - Suasana sunyi/mencekam); Penggalan 3: 'Jasadku fana, aksaraku baka' (Acuan: D - Diksi bermakna konotatif/kontras kata fana dan baka) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membentuk kelompok beranggotakan 4 orang. Guru memperdengarkan teks aural rekaman pembacaan puisi 'Padamu Jua' karya Amir Hamzah sebanyak 2 kali pemutaran secara hening dan fokus (15 menit).
- Setiap kelompok berdiskusi mengevaluasi lembar kerja analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik berdasarkan puisi aural 'Padamu Jua' yang didengar. Lembar kerja memuat 4 aspek evaluasi dengan rincian acuan: (1) Tema: Ketuhanan/kerinduan dan kepasrahan hamba kepada Sang Pencipta; (2) Diksi dan Majas: Penggunaan diksi arkaik/klasik yang puitis dan majas metafora/personifikasi 'habis kikis / segala cintaku hilang terbang' serta 'serupa dara di balik tirai'; (3) Nada dan Suasana: Khusyuk, haru, rindu yang mendalam bercampur pasrah; (4) Unsur Ekstrinsik: Latar belakang religius penyair Amir Hamzah yang kental dengan budaya Melayu Islam dan pergulatan batinnya (15 menit).
- Perwakilan kelompok saling bertukar lembar kerja untuk melakukan pemeriksaan silang antarkelompok dengan mencocokkan ketepatan evaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik berdasarkan acuan telaah bersama guru (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri mengevaluasi proses menyimak aural yang telah dilakukan: menilai bagaimana kemampuan menangkap keindahan diksi dan rima secara lisan membantu penafsiran makna batin puisi (15 menit).
- Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap hasil evaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks sastra puisi aural yang telah diselesaikan kelompok (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan cara mengevaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik dari puisi yang diperdengarkan (aural) secara runtut (10 menit).
- Guru menyampaikan asesmen akhir singkat (cek pemahaman) dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya (membaca dan mengevaluasi pesan teks puisi visual) lalu menutup pembelajaran dengan doa (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Guru menyediakan rekaman aural pembacaan puisi dengan tempo pelan bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan pendengaran dan rekaman dengan modulasi vokal berkarakter bagi kelompok mahir.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan scaffolding diberikan panduan lembar telaah terstruktur dengan pemantik fokus per bait, sedangkan kelompok cepat diminta mengevaluasi keselarasan antara diksi arkaik Amir Hamzah dengan latar sosiokultural Melayu secara mandiri.
- Produk: Hasil analisis evaluasi dapat disajikan dalam bentuk bagan keterkaitan unsur intrinsik-ekstrinsik atau tabel matriks evaluasi unsur teks aural.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik berdasarkan bait aural puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono: (1) Menentukan tema bait puisi yang diperdengarkan (Acuan: kefanaan manusia/keabadian cinta lewat karya puisi), (2) Menentukan majas yang terkandung di dalamnya (Acuan: majas personifikasi pada sajak yang menemani pembaca/metafora kefanaan manusia).
Proses:- Observasi unjuk kerja diskusi kelompok dalam mengevaluasi 4 aspek unsur puisi aural 'Padamu Jua' karya Amir Hamzah: (1) Tema (Acuan: Ketuhanan/kepasrahan spiritual kepada Tuhan), (2) Diksi dan Majas (Acuan: diksi konotatif/arkaik Melayu dan majas metafora 'habis kikis / segala cintaku hilang terbang' atau simile 'serupa dara di balik tirai'), (3) Nada dan Suasana (Acuan: khusyuk, syahdu, rindu mendalam), (4) Unsur Ekstrinsik (Acuan: latar belakang religiositas penyair Melayu Islam dan pergolakan batin hidupnya).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis individu (2 butir singkat berdasarkan rekaman 1 bait puisi 'Aku' karya Chairil Anwar: 'Kalau sampai waktuku / Kumau tak seorang kan merayu / Tidak juga kau'): (1) Sebutkan nada/suasana yang terdengar (Acuan: tegas, lugas, penuh tekad/pemberontakan); (2) Sebutkan 1 unsur ekstrinsik yang melatarbelakangi semangat kemerdekaan individu Chairil Anwar dalam bait tersebut (Acuan: kondisi zaman revolusi kemerdekaan 1945 / semangat individualisme penyair Angkatan 45).
Formatif:- Kuis interaktif 'Tebak Unsur Aural' berpasangan untuk memantau ketepatan identifikasi unsur intrinsik
- Penilaian lembar kerja evaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks sastra puisi aural 'Padamu Jua' saat diskusi kelompok
- Pemeriksaan silang antarkelompok berpanduan rubrik evaluasi unsur puisi aural
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengevaluasi Unsur Intrinsik Puisi Aural (Tema, Diksi, Majas, Suasana) | Hanya mampu menyebutkan 1 unsur intrinsik secara tepat dari rekaman puisi aural. | Mampu mengevaluasi 2 unsur intrinsik secara tepat sesuai rekaman puisi aural. | Mampu mengevaluasi 3 unsur intrinsik secara tepat dan logis sesuai rekaman puisi aural. | Mampu mengevaluasi seluruh (4) unsur intrinsik (tema, diksi, majas, suasana) secara tepat, rinci, dan logis sesuai teks puisi aural. | | Mengevaluasi Unsur Ekstrinsik Puisi Aural (Latar Belakang Penyair dan Nilai) | Belum mampu mengaitkan rekaman puisi aural dengan unsur ekstrinsik (latar belakang penyair/nilai kehidupan). | Mampu mengidentifikasi latar belakang penyair namun belum mengaitkannya dengan isi teks puisi aural secara tepat. | Mampu mengevaluasi keterkaitan antara latar belakang penyair atau nilai kehidupan dengan isi teks puisi aural secara tepat. | Mampu mengevaluasi keterkaitan latar belakang penyair dan nilai kehidupan dengan isi teks puisi aural secara tepat, mendalam, dan kontekstual. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemutaran teks puisi berbentuk aural (rekaman audio) terdengar jelas oleh seluruh murid di dalam kelas?
- Bagaimana respons murid terhadap kegiatan kuis tebak unsur aural, apakah membantu membangkitkan kepekaan apresiasi mereka?
- Apakah scaffolding yang diberikan sudah memfasilitasi murid yang mengalami kendala dalam menyimak unsur ekstrinsik?
Murid:- Bagian mana dari unsur intrinsik puisi yang paling mudah dan paling menantang kamu evaluasi saat mendengarkan pembacaan puisi?
- Bagaimana latar belakang kehidupan penyair membantumu memahami pesan tersembunyi dari puisi yang kamu dengarkan tadi?
Pertemuan 2 — Mengevaluasi Pesan Teks Puisi Visual untuk Menemukan Makna Tersurat dan Tersirat — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.6.2 Mengevaluasi pesan dari teks puisi berwujud visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu mengevaluasi pesan teks puisi visual untuk menemukan makna tersurat dan tersirat (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan kutipan 2 baris puisi: 'Perahu tertambat di dermaga tua / Menanti camar membawa kabar pagi' lalu meminta murid menuliskan makna tersurat (fisik perahu terikat di pelabuhan tua menunggu burung camar) dan makna tersirat (seseorang yang setia menunggu harapan atau kepastian dalam kesunyian) pada lembar cepat (10 menit).
- Guru mengaitkan hasil diagnostik dengan tujuan pembelajaran serta pentingnya ketajaman berpikir kritis dalam membaca teks visual puisi secara mendalam (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati salinan teks puisi visual berjudul 'Nelayan Tersesat' karya Ilmi yang disajikan di lembar bacaan murid (10 menit).
- Guru memodelkan cara menelusuri pesan teks dengan membedakan makna tersurat (fakta tekstual konkret: layar robek, kompas patah, hempasan badai) dan makna tersirat (metafora perjuangan hidup, keputusasaan, serta keteguhan bertahan dalam cobaan hidup) (15 menit).
- Murid dalam kelompok kecil berpasangan memainkan kuis cepat 'Tersurat vs Tersirat': disajikan 4 kartu pernyataan puisi 'Nelayan Tersesat' untuk diklasifikasikan dengan cepat, yaitu: (1) 'Layar perahu robek diterjang angin malam' -> Tersurat; (2) 'Bintang utara adalah lentera kepasrahan kalbu' -> Tersirat; (3) 'Dayung patah dihantam karang' -> Tersurat; (4) 'Samudra adalah cermin keangkuhan manusia' -> Tersirat (acuan klasifikasi: kartu 1 dan 3 = Tersurat; kartu 2 dan 4 = Tersirat) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri membaca keseluruhan teks puisi visual 'Nelayan Tersesat' pada Lembar Kerja Evaluasi Pesan (10 menit).
- Murid menganalisis dan menuliskan pada lembar kerja 3 temuan makna tersurat disertai bukti larik teks (acuan: (1) layar robek diterjang badai, larik: 'layar robek dihempas badai'; (2) kompas rusak dan hilang haluan, larik: 'kompas tua pecah jarumnya'; (3) perahu terombang-ambing di laut gelap, larik: 'terapung sunyi di laut pekat') (5 menit).
- Murid menafsirkan 3 makna tersirat di balik simbol teks tersebut (acuan: (1) layar robek = hilangnya daya atau kekuatan dalam menghadapi krisis; (2) kompas pecah = kehilangan pedoman arah atau keyakinan dalam hidup; (3) terapung di laut pekat = fase keterpurukan dan ketidakpastian batin manusia) (20 menit).
- Murid menyusun evaluasi kritis terhadap pesan puisi berupa kesimpulan tertulis: apakah pesan puisi mengenai 'pentingnya mempertahankan harapan dan berserah diri di tengah badai kehidupan' tersampaikan secara utuh dan terhubung logis antara bukti tersurat dan tafsiran tersiratnya (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil evaluasi pesan masing-masing secara berkesadaran menggunakan lembar cek mandiri keselarasan antara bukti teks tersurat dengan inferensi makna tersirat (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan langkah mengevaluasi pesan teks puisi visual: bermula dari pembuktian data faktual tersurat, dilanjutkan penyingkapan makna tersirat simbolik, hingga perumusan simpulan pesan puisi secara utuh (10 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian target evaluasi pesan visual hari ini dan menginformasikan bahwa materi ini akan dilanjutkan dengan interpretasi sikap simpati dan empati pada pertemuan berikutnya, tanpa tugas rumah (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks puisi dengan penandaan visual larik kunci (bold/garis bawah) pada aspek tersurat; murid yang cepat diberikan teks puisi visual lengkap tanpa panduan visual larik.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dibimbing menggunakan panduan pertanyaan pemandu identifikasi fakta vs metafora; murid mahir menganalisis relasi antar-bait secara mandiri penuh.
- Produk: Format penulisan evaluasi pesan disesuaikan: murid reguler mengisi tabel analisis terstruktur; murid mahir menyusun evaluasi pesan dalam bentuk paragraf telaah kritis analitis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pembedaan makna tersurat dan tersirat melalui 2 baris puisi: 'Perahu tertambat di dermaga tua / Menanti camar membawa kabar pagi'. Kunci acuan: Makna tersurat = keberadaan fisik perahu yang diam/terikat di pelabuhan tua menunggu burung camar; Makna tersirat = kesendirian, penantian kabar/harapan seseorang dalam ketidakpastian hidup.
Proses:- Pemeriksaan keaktifan dan ketepatan pada permainan kartu 'Tersurat vs Tersirat' (4 kartu: (1) Layar perahu robek diterjang angin malam -> tersurat; (2) Bintang utara adalah lentera kepasrahan kalbu -> tersirat; (3) Dayung patah dihantam karang -> tersurat; (4) Samudra adalah cermin keangkuhan manusia -> tersirat).
- Observasi mandiri pengerjaan Lembar Kerja Evaluasi Pesan Puisi untuk menilai keselarasan bukti larik tekstual dengan penafsiran tersirat.
Akhir Pertemuan:- Cek ketercapaian akhir pada Lembar Kerja Evaluasi Pesan Puisi. Kriteria penerimaan: Murid tepat mengidentifikasi minimal 3 makna tersurat berbasis bukti larik, menafsirkan minimal 3 makna tersirat simbolik secara logis, serta merumuskan evaluasi simpulan pesan teks puisi secara padu.
Formatif:- Penilaian Lembar Kerja Evaluasi Pesan Puisi: menilai ketepatan identifikasi 3 makna tersurat, ketepatan interpretasi 3 makna tersirat, serta keutuhan perumusan simpulan pesan puisi 'Nelayan Tersesat'.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menemukan Makna Tersurat Berdasarkan Teks Puisi Visual | Menemukan kurang dari 2 makna tersurat dan belum menyertakan bukti larik teks yang tepat. | Menemukan 2 makna tersurat disertai kutipan larik teks yang sesuai acuan. | Menemukan 3 makna tersurat disertai kutipan larik teks yang sesuai acuan secara tepat. | Menemukan lebih dari 3 makna tersurat disertai seluruh kutipan larik teks yang akurat secara mandiri. | | Ketepatan Menemukan Makna Tersirat Berdasarkan Simbol Teks Puisi Visual | Menafsirkan makna tersirat secara keliru atau tidak relevan dengan makna konotatif/simbolik larik. | Menafsirkan 2 makna tersirat yang relevan dengan makna konotatif/simbolik larik sesuai acuan. | Menafsirkan 3 makna tersirat yang relevan dengan makna konotatif/simbolik larik sesuai acuan secara logis. | Menafsirkan lebih dari 3 makna tersirat secara mendalam, kritis, dan selaras penuh dengan simbol puisi secara mandiri. | | Mengevaluasi Keutuhan Pesan Puisi | Belum mampu merumuskan pesan teks puisi, atau pesan yang dirumuskan bertentangan dengan isi teks. | Merumuskan pesan teks puisi hanya bersumber dari makna tersurat saja tanpa mengaitkan makna tersirat. | Mengevaluasi pesan teks puisi secara padu dengan menghubungkan makna tersurat dan tersirat secara logis. | Mengevaluasi pesan teks puisi secara komprehensif, kritis, dan mendalam dengan argumentasi keterkaitan makna tersurat dan tersirat yang sangat runtut. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah perbandingan makna tersurat dan tersirat membantu murid memahami kedalaman pesan puisi visual secara mandiri?
- Bagian mana dari evaluasi pesan teks puisi yang paling memicu kesulitan berpikir kritis murid, dan bagaimana perbaikannya?
Murid:- Bagian mana dari larik puisi visual yang paling menantang bagiku saat membedakan makna nyata (tersurat) dan maksud tersembunyi (tersirat)?
- Bagaimana keterampilan mengevaluasi pesan tersirat dalam puisi ini membantuku lebih kritis dan peka dalam memahami pesan kehidupan sehari-hari?
Pertemuan 3 — Menginterpretasi Teks Puisi Visual untuk Mengungkapkan Perasaan Simpati, Peduli, dan Empati — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.6.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dari teks puisi visual secara kreatif
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan fokus kegiatan Pertemuan 3, yaitu menginterpretasi teks puisi visual untuk menemukan dan mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 kutipan larik bertema sosial di layar proyektor: (1) 'Gadis kecil berkaleng kecil / Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka', (2) 'Di sudut kota yang dingin ia meringkuk tanpa selimut', (3) 'Keringatnya menetes di aspal panas demi sesuap nasi anak-anaknya'. Murid diminta secara cepat mengidentifikasi nuansa perasaan kemanusiaan (simpati/peduli/empati) yang terpancar dari larik-larik tersebut (acuan: larik 1 memuat simpati/iba pada kepolosan anak miskin; larik 2 memuat empati/turut merasakan kedinginan fisik tunawisma; larik 3 memuat peduli/tergugah terhadap perjuangan nafkah buruh) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid membaca secara visual teks puisi 'Gadis Peminta-Minta' karya Toto S. Bachtiar yang dibagikan dalam lembar kerja cetak, dengan memusatkan perhatian penuh pada diksi dan citraan visual penggambaran nasib gadis kecil di kota besar (15 menit).
- Murid dengan bimbingan guru membedah konsep operasional interpretasi rasa: simpati (merasakan iba/kasihan), peduli (dorongan untuk memperhatikan/mengubah nasib), dan empati (menempatkan diri seolah mengalami penderitaan tokoh), lalu mengidentifikasi larik-larik yang memuat ketiga aspek tersebut dalam teks (acuan: simpati pada larik 'Gadis kecil berkaleng kecil / Kita berjalan rentang-rentang dinding dingin'; peduli pada larik kritik terhadap kota yang abai; empati pada larik 'Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka / Kau dan aku satu gembira') (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti tantangan berpasangan 'Detektif Empati Puisi': setiap pasangan diberikan teks puisi visual kedua berjudul 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' karya Taufiq Ismail (bait sosial) atau 'Pahlawan Tak Dikenal' karya Toto S. Bachtiar, lalu berlomba mengumpulkan 3 bukti tekstual konkret dan menafsirkan bagaimana teks membangkitkan rasa simpati, peduli, dan empati pembaca (25 menit).
- Murid secara mandiri menyusun lembar interpretasi kreatif: menuliskan tafsiran mendalam mengenai situasi tokoh dalam puisi 'Gadis Peminta-Minta', mengaitkan larik teks dengan ungkapan simpati, peduli, dan empati menggunakan metafora atau sudut pandang kreatif (sudut pandang saksi mata) sesuai format panduan interpretasi (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid meninjau kembali draf interpretasi yang telah dibuat, memeriksa keselarasan antara larik puisi visual yang dikutip dengan kedalaman perasaan simpati, peduli, dan empati yang diungkapkan (15 menit).
- Dua orang perwakilan murid membacakan hasil interpretasi tertulisnya, lalu guru memberikan umpan balik langsung berfokus pada ketepatan interpretasi informasi teks puisi dan keotentikan ungkapan rasa kemanusiaan yang dihasilkan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai cara menginterpretasi teks puisi visual guna menggugah simpati, peduli, dan empati pembaca (5 menit).
- Guru mengumpulkan lembar interpretasi murid untuk asesmen formatif proses, memberikan apresiasi atas keterlibatan murid, dan menginformasikan bahwa materi ini akan berlanjut ke penulisan resensi buku antologi puisi pada pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks puisi dengan penanda visual (garis bawah) pada bait-bait kunci pemicu empati; murid mahir diberikan teks puisi visual dengan gaya bahasa simbolik yang lebih kompleks tanpa penanda.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu dengan lembar pertanyaan pemandu terstruktur untuk mengurai bait per bait; murid mahir langsung menyusun interpretasi sintesis secara mandiri.
- Produk: Murid dapat memilih format pengungkapan interpretasi kreatif: esai mini sudut pandang orang pertama (empati langsung) atau catatan interpretatif dialogis antara pembaca dan penyair.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik identifikasi nuansa rasa kemanusiaan pada 3 larik puisi di proyektor: (1) 'Gadis kecil berkaleng kecil / Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka', (2) 'Di sudut kota yang dingin ia meringkuk tanpa selimut', (3) 'Keringatnya menetes di aspal panas demi sesuap nasi anak-anaknya'. Kriteria penerimaan: Murid mampu menentukan minimal 2 dari 3 nuansa rasa secara tepat (Acuan: larik 1 = simpati/iba; larik 2 = empati/merasakan dingin dan nestapa; larik 3 = peduli/tergugah terhadap kerja keras).
Proses:- Observasi formatif saat latihan 'Detektif Empati Puisi' dan penilaian produk tertulis lembar interpretasi mandiri terhadap puisi 'Gadis Peminta-Minta' karya Toto S. Bachtiar berdasarkan 3 aspek: ketepatan kutipan larik, ketajaman interpretasi simpati/peduli/empati, dan keaslian ungkapan kreatif.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (exit ticket) menjawab 1 pertanyaan reflektif: 'Berdasarkan puisi Gadis Peminta-Minta, tuliskan 1 larik visual yang paling menggugah rasa empatimu beserta 1 kalimat alasan tafsirannya!' (Acuan kriteria: larik yang dipilih berasal dari teks seperti 'Gadis kecil berkaleng kecil' atau 'Bumi yang kau injak, perempuan kecil', disertai penjelasan alasan bagaimana larik tersebut membuat pembaca membayangkan penderitaan tokoh secara emosional).
Formatif:- Penilaian Lembar Kerja Interpretasi Puisi Visual (mengukur ketepatan interpretasi larik untuk simpati, peduli, dan empati secara kreatif)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menginterpretasi Informasi Teks Puisi Visual | Hanya menyalin ulang larik puisi tanpa menginterpretasi maknanya untuk menemukan rasa simpati, peduli, atau empati. | Mampu menginterpretasi informasi teks puisi visual tetapi interpretasi simpati, peduli, dan empati masih bercampur aduk dan belum didukung bukti larik yang sesuai. | Mampu menginterpretasi informasi teks puisi visual secara tepat dengan menunjukkan bukti larik untuk membedakan ungkapan rasa simpati, peduli, dan empati. | Mampu menginterpretasi seluruh lapisan makna informasi teks puisi visual secara mendalam, kritis, dan tepat mengaitkan bukti larik dengan dimensi simpati, peduli, dan empati secara komprehensif. | | Pengungkapan Perasaan Simpati, Peduli, dan Empati secara Kreatif | Ungkapan perasaan terbatas pada kata sifat umum (misal: 'sedih', 'kasihan') tanpa uraian kreatif pendukung. | Mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dengan kalimat sederhana namun pilihan diksi dan sudut pandang kreatif masih terbatas. | Mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati secara kreatif menggunakan analogi, metafora, atau sudut pandang baru yang logis dan menyentuh. | Mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati secara sangat kreatif, otentik, dan menggugah kesadaran kemanusiaan dengan kedalaman diksi serta perspektif yang orisinal. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan teks puisi visual 'Gadis Peminta-Minta' efektif memantik kepekaan empati dan simpati murid kelas 10?
- Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas 'Detektif Empati Puisi', dan apakah scaffolding yang diberikan cukup membantu murid yang kesulitan mengurai makna tersirat puisi?
Murid:- Larik puisi mana yang paling berhasil menyentuh perasaan dan membangkitkan rasa pedulimu terhadap nasib sesama?
- Apa perbedaan yang kamu rasakan antara sekadar membaca kata-kata dalam puisi dengan menempatkan dirimu ke dalam situasi tokoh yang digambarkan penyair?
Pertemuan 4 — Menulis Gagasan, Pandangan, dan Pesan dalam Teks Resensi Buku Antologi Puisi — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.6.4 Menulis gagasan, pandangan, dan pesan dalam teks resensi buku antologi puisi secara logis dan kritis
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai penulisan gagasan, pandangan, dan pesan dalam teks resensi buku antologi puisi (5 menit).
- Guru memberikan asesmen diagnostik singkat: murid diminta mengidentifikasi 3 pernyataan berikut sebagai 'Tepat' atau 'Tidak Tepat' dalam penulisan resensi buku: (1) Resensi hanya berisi pujian tanpa menyebutkan kelemahan karya; (2) Pandangan dalam resensi wajib disertai bukti kutipan atau analisis elemen puisi; (3) Pesan resensator bertujuan memberi pertimbangan logis bagi calon pembaca (acuan kunci: 1=Tidak Tepat, 2=Tepat, 3=Tepat) (10 menit).
- Guru mengaitkan hasil diagnostik dengan pentingnya memadukan apresiasi sastra dan daya nalar kritis saat mengulas karya orang lain secara tertulis (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati model teks resensi antologi puisi 'Hujan Bulan Juni' karya Sapardi Djoko Damono yang disajikan guru untuk membedah 3 komponen inti isi resensi: (a) gagasan umum buku, (b) pandangan kritis atas kelebihan/kelemahan tematik atau diksi, dan (c) pesan rekomendasi bagi pembaca (15 menit).
- Secara berpasangan, murid mengikuti tantangan kilat 'Bedah Struktur Logis': menelaah cuplikan paragraf ulasan dan menentukan kalimat mana yang memuat gagasan pokok, pandangan evaluatif berdasar argumen, serta pesan penutup bagi pembaca berdasarkan teks model (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru menyelenggarakan aktivitas seru 'Estafet Draf Resensi': murid memilih satu buku antologi puisi (misalnya buku puisi yang telah dibaca di perpustakaan atau antologi terbitan Kemendikbudristek) lalu menyusun kerangka penulisan yang mencakup gagasan isi buku, pandangan kritis atas 2 puisi pilihan di dalamnya, serta pesan rekomendasi (15 menit).
- Murid secara mandiri menulis teks resensi buku antologi puisi utuh (minimal 3 paragraf: paragraf pengantar/gagasan, paragraf analisis/pandangan kritis berisi kelebihan dan kelemahan berbasis bukti teks puisi, serta paragraf simpulan/pesan rekomendasi) secara logis dan kritis (25 menit).
- Murid saling menukar draf resensi dengan teman sebangku untuk memeriksa kelogisan alur gagasan, ketajaman pandangan kritis, dan kejelasan pesan rekomendasi menggunakan daftar cek telaah silang (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid merevisi mandiri draf teks resensi masing-masing berdasarkan masukan telaah silang agar gagasan, pandangan, dan pesan yang ditulis semakin padu, runtut, dan kritis (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama dalam menulis resensi buku antologi puisi: argumen harus bertumpu pada bukti konkret isi puisi, penilaian kelebihan dan kekurangan harus berimbang, serta pesan rekomendasi disampaikan secara objektif (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil tulisan murid, memberikan apresiasi atas ketelitian analisis, dan mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri pada pertemuan berikutnya tanpa mengumumkan bab selesai (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan kerangka berpikir rumpang (format panduan kalimat pemantik gagasan, pandangan, dan pesan), sedangkan murid yang mahir memilih antologi puisi dengan tema metaforis/kompleks.
- Proses: Bimbingan individual intensif bagi murid yang kesulitan menghubungkan pandangan evaluatif dengan bukti bait puisi; pendampingan mandiri untuk murid yang telah lancar menyusun argumen.
- Produk: Kedalaman ulasan disesuaikan: draf pemula berfokus pada analisis satu puisi perwakilan dalam antologi dengan ulasan logis, sedangkan draf mahir menyintesis perbandingan gaya bahasa dan benang merah tema beberapa puisi dalam antologi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tertulis singkat menentukan Tepat/Tidak Tepat pada 3 butir prinsip resensi: (1) 'Resensi buku puisi hanya berfokus menceritakan riwayat hidup penyair tanpa membahas isi puisi' (Acuan: Tidak Tepat); (2) 'Pandangan kritis dalam resensi harus ditopang bukti kutipan diksi/tema puisi dari antologi' (Acuan: Tepat); (3) 'Pesan dalam resensi memberikan pertimbangan logis kepada pembaca mengenai kelayakan buku' (Acuan: Tepat). Kriteria: Menjawab minimal 2 butir tepat menunjukkan kesiapan memahami esensi penulisan resensi.
Proses:- Cek formatif penulisan draf: Pemeriksaan kerangka tulisan murid yang memuat 3 elemen wajib: gagasan pokok antologi, pandangan kritis (kelebihan dan kelemahan berbasis bukti kutipan), serta pesan simpulan/rekomendasi.
- Lembar pengamatan kelogisan penulisan: Memeriksa penalaran murid dalam mengaitkan keunggulan/kekurangan karya dengan bukti tekstual baris puisi secara logis tanpa lompatan logika.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir tertulis (tiket keluar): Murid menuliskan ringkasan 1 paragraf reflektif yang berisi (a) gagasan utama buku yang diresensi, (b) 1 pandangan kritis terkuatnya terhadap antologi tersebut, dan (c) 1 pesan rekomendasi bagi pembaca (kriteria: memuat ketiga unsur tersebut secara utuh dan koheren).
Formatif:- Penilaian diagnostik awal penulisan resensi (3 butir pernyataan benar/salah)
- Lembar cek telaah silang keruntutan draf penulisan gagasan, pandangan, dan pesan resensi
- Penilaian produk tulisan teks resensi buku antologi puisi dengan rubrik analitis logis-kritis
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penulisan Gagasan tentang Antologi Puisi | Gagasan tentang buku antologi puisi belum tertulis dengan jelas atau hanya menyalin identitas buku tanpa memaparkan gambaran umum isi antologi. | Menuliskan gagasan umum tentang isi buku antologi puisi namun penjelasannya masih kabur dan belum terhubung erat dengan isi antologi. | Menuliskan gagasan utama isi buku antologi puisi secara jelas, utuh, dan logis menggambarkan tema keseluruhan buku. | Menuliskan gagasan utama buku antologi puisi secara komprehensif, mendalam, dan terstruktur sangat logis dengan menghubungkan konteks antologi secara tepat. | | Penulisan Pandangan Kritis (Evaluasi Kelebihan dan Kekurangan) | Pandangan hanya berupa opini suka/tidak suka tanpa alasan rasional dan tanpa bukti kutipan puisi sama sekali. | Menuliskan pandangan kelebihan atau kekurangan karya, namun alasan pendukung masih lemah dan bukti tekstual kutipan puisi belum relevan. | Menuliskan pandangan kritis yang berimbang memuat kelebihan dan kekurangan buku secara logis dengan didukung bukti kutipan puisi yang relevan. | Menuliskan pandangan kritis yang tajam, berimbang, dan objektif terhadap kekuatan serta ruang perbaikan puisi, disertai analisis mendalam atas bukti kutipan teks secara logis dan kritis. | | Penulisan Pesan dan Rekomendasi Resensi | Belum menuliskan pesan atau pertimbangan rekomendasi bagi pembaca di bagian penutup resensi. | Menuliskan pesan rekomendasi pembaca, namun rumusannya terlalu umum dan belum dikaitkan dengan argumen penilaian sebelumnya. | Menuliskan pesan dan pertimbangan rekomendasi bagi sasaran pembaca secara logis berdasarkan keseluruhan ulasan yang telah dibuat. | Menuliskan pesan rekomendasi yang sangat persuasif, kritis, dan memberikan pertimbangan nilai guna buku secara logis dan meyakinkan bagi pembaca. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah permodelan teks resensi berhasil membantu murid membedakan opini subjektif dengan pandangan kritis berbasis bukti kutipan puisi?
- Bagian mana dari proses pembimbingan menulis yang memerlukan perancah (scaffolding) lebih intensif pada pertemuan penulisan berikutnya?
Murid:- Apakah saya sudah berhasil menyampaikan gagasan dan pandangan kritis terhadap antologi puisi dengan alasan yang masuk akal dan didukung kutipan puisi?
- Tantangan apa yang paling saya rasakan saat merumuskan kelemahan atau kelebihan puisi secara objektif ke dalam teks resensi?
Pertemuan 5 — Mengungkapkan Kepedulian dari Teks Puisi secara Kreatif Berbentuk Monolog Pembacaan Puisi — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.6.5 Mengungkapkan kepedulian dari teks puisi secara kreatif berbentuk monolog pembacaan puisi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu mengungkapkan kepedulian dari teks puisi secara kreatif berbentuk monolog pembacaan puisi (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 1 bait puisi bertema sosial: 'Di sudut lampu merah / tangan mungil menengadah / bukan pinta yang ia tumpahkan / melainkan asa yang tercecer di jalanan'. Guru meminta murid menuliskan 1 bentuk kepedulian yang terkandung dalam teks tersebut di secarik kertas (acuan jawaban: kepedulian terhadap anak jalanan/kemiskinan/hak anak mendapatkan masa depan yang layak) untuk memetakan kesiapan murid dalam menangkap isu kepedulian sebelum membacakannya (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati teks puisi bertema kepedulian sosial berjudul 'Pemberhentian Terakhir Pohon-Pohon Kota' untuk mengidentifikasi muatan rasa kepedulian (acuan: kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan penebangan liar) serta membedah konsep monolog pembacaan puisi sebagai sarana bersuara (15 menit).
- Murid mengikuti tantangan 'Gaya Berucap Monolog' secara berpasangan: murid mencoba membaca larik 'Jangan biarkan akar kami tercerabut' dengan memilih variasi kreatif penyampaian monolog (pilihan cara: gaya bersaksi/naratif, seruan gugatan, atau dialog batin yang hening) dan saling memberikan respons secara menyenangkan (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri memilih salah satu dari dua teks puisi kepedulian yang disediakan (Pilihan A: 'Tentang Buruh yang Pulang Larut' - kepedulian kesejahteraan pekerja; Pilihan B: 'Jerit Karang di Pesisir' - kepedulian kerusakan ekosistem laut) dan merancang konsep monolog pembacaan puisi secara kreatif (menentukan fokus bait penekanan kepedulian dan eksplorasi gaya bertutur monolog) (25 menit).
- Murid secara bergiliran tampil melakukan monolog pembacaan puisi di hadapan kelompok kecil untuk mengungkapkan rasa kepedulian dari teks puisi yang dipilih dengan penghayatan kreatif sesuai konsep yang dirancangnya (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mencatat refleksi diri di lembar kerja tentang sejauh mana rasa kepedulian dari teks puisi berhasil diungkapkan melalui bentuk monolog pembacaan puisi yang telah dilakukan (15 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bersama pembelajaran mengenai cara mengungkapkan pesan kepedulian dari teks puisi ke dalam sajian kreatif monolog pembacaan puisi (10 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap keberanian berekspresi murid, menjelaskan agenda pertemuan berikutnya (Asesmen Sumatif Bab 6), dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan dua pilihan teks puisi dengan ragam isu kepedulian (kemanusiaan/sosial pekerja vs lingkungan maritim) agar murid dapat memilih bahan sesuai kedekatan minat.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan penandaan fokus larik kepedulian sebelum membaca, sedangkan murid yang lebih mandiri langsung merancang variasi transisi monolog.
- Produk: Monolog pembacaan puisi dapat disajikan dengan variasi pendekatan kreatif monolog (misalnya monolog bergaya narasi kesaksian atau monolog gugatan retoris).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Menafsirkan isu kepedulian dari bait puisi uji: 'Di sudut lampu merah / tangan mungil menengadah / bukan pinta yang ia tumpahkan / melainkan asa yang tercecer di jalanan'. (Kriteria/acuan jawaban: murid menuliskan minimal 1 isu kepedulian yang sesuai, yaitu kepedulian terhadap kemiskinan anak jalanan, hilangnya hak anak untuk bersekolah/bermain, atau ketimpangan sosial di jalanan kota).
Proses:- Lembar observasi unjuk kerja monolog pembacaan puisi: menilai kesesuaian pengungkapan isu kepedulian teks dan kreativitas penyajian monolog selama praktik di kelompok kecil.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/refleksi penutup: menuliskan 1 larik puisi yang paling merepresentasikan kepedulian serta alasan memilih pendekatan monolog tertentu dalam menyampaikannya (Kriteria penerimaan: penjelasan logis mengaitkan makna larik kepedulian dengan cara pembawaan monolog).
Formatif:- Penilaian diagnostik awal penafsiran isu kepedulian dalam teks puisi
- Pengamatan unjuk kerja monolog pembacaan puisi mengungkapkan kepedulian menggunakan rubrik ketercapaian
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengungkapan Kepedulian dari Teks Puisi | Belum mampu mengungkapkan pesan kepedulian dari teks puisi dalam pembacaan monolog (pembacaan datar tanpa mencerminkan isi kepedulian teks). | Mulai mampu mengungkapkan kepedulian dari teks puisi, namun penekanan pada pesan kepedulian masih samar atau belum konsisten di sepanjang teks. | Mampu mengungkapkan kepedulian dari teks puisi secara tepat dan konsisten sesuai isu kemanusiaan/lingkungan yang ada pada teks puisi. | Mampu mengungkapkan kepedulian dari teks puisi secara mendalam, konsisten, dan berkesadaran penuh sehingga membangkitkan resonansi emosional pesan teks bagi pendengar. | | Kreativitas Bentuk Monolog Pembacaan Puisi | Menyajikan pembacaan tanpa bentuk monolog yang jelas atau hanya membaca teks secara harfiah. | Menyajikan pembacaan dalam bentuk monolog tetapi eksplorasi bentuk kreatifnya masih sangat terbatas atau monoton. | Menyajikan monolog pembacaan puisi secara kreatif dengan eksplorasi gaya tutur monolog yang selaras dengan pesan teks puisi. | Menyajikan monolog pembacaan puisi secara orisinal dan sangat kreatif dengan gaya tutur monolog yang variatif dan hidup mendukung keseluruhan isi teks. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan teks puisi kepedulian yang disediakan mampu menggugah keterlibatan emosional dan daya ungkap murid?
- Bagaimana memfasilitasi murid yang masih canggung dalam mengekspresikan monolog pembacaan puisi agar tampil lebih percaya diri?
Murid:- Bagian mana dari teks puisi yang paling kuat menyampaikan pesan kepedulian saat saya bacakan secara monolog?
- Apakah bentuk monolog kreatif yang saya pilih berhasil membantu saya menyuarakan kepedulian isi puisi tersebut?
Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.6.1 Mengevaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks sastra puisi berbentuk teks aural
- TP 10.6.2 Mengevaluasi pesan dari teks puisi berwujud visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat
- TP 10.6.3 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dari teks puisi visual secara kreatif
- TP 10.6.4 Menulis gagasan, pandangan, dan pesan dalam teks resensi buku antologi puisi secara logis dan kritis
- TP 10.6.5 Mengungkapkan kepedulian dari teks puisi secara kreatif berbentuk monolog pembacaan puisi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 6 (5 menit).
- Guru membacakan tata tertib asesmen sumatif kombinasi: pengerjaan tes tertulis aural-visual, penulisan teks resensi mandiri, serta mekanisme unjuk kerja monolog pembacaan puisi bertema kepedulian (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Sumatif Tertulis Bagian 1 dan Bagian 2 kepada seluruh murid, lalu menjelaskan instruksi teknis pengerjaan dan alokasi waktu tanpa membahas kunci jawaban (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1: Seluruh murid secara serentak dan mandiri menyimak rekaman audio puisi 'Ibu' karya D. Zawawi Imron yang diputar 2 kali, kemudian membaca teks puisi visual 'Gadis Peminta-minta' karya Toto Sudarto Bachtiar pada lembar soal, lalu menuliskan jawaban atas 3 butir evaluasi sastra aural-visual dan interpretasi empati [TP 10.6.1, TP 10.6.2, TP 10.6.3]. Butir 1: Evaluasi 2 unsur intrinsik (diksi konotatif 'gua garba' bermakna rahim/kasih ibu; nada takzim penuh hormat) dan 1 unsur ekstrinsik (latar sosial-budaya penghormatan mutlak anak kepada ibu dalam tradisi Nusantara) puisi aural 'Ibu'. Butir 2: Evaluasi pesan tersurat (kehidupan seorang gadis kecil peminta-minta di jalanan ibu kota dengan kaleng kecilnya) dan tersirat (martabat kemanusiaan yang rapuh akibat ketimpangan sosial) puisi visual 'Gadis Peminta-minta'. Butir 3: Uraian interpretasi perasaan simpati, peduli, dan empati terhadap martabat manusia dalam puisi visual tersebut (kriteria penerimaan: uraian memuat hubungan konkret antara penderitaan gadis kecil dengan dorongan batin pembaca untuk berpihak serta menjaga martabat sesama manusia) (40 menit).
- Tugas 2: Murid secara mandiri menulis teks resensi buku antologi puisi 'Hujan Bulan Juni' karya Sapardi Djoko Damono pada lembar tugas [TP 10.6.4]. Naskah resensi wajib memuat 4 bagian terstruktur: (a) identitas buku (judul, penulis, penerbit, tahun terbit, tebal halaman); (b) ringkasan gambaran isi antologi (tema cinta yang hening, ketabahan, dan metafora alam); (c) telaah gagasan, pandangan, dan pesan kritis (analisis kedalaman pesan ketabahan manusia di tengah kerinduan serta relevansi perenungan batin bagi pembaca modern); (d) penilaian kelebihan dan kekurangan buku secara logis (kelebihan: diksi sederhana namun sarat makna puitis; kekurangan: beberapa puisi memiliki asosiasi personal yang menuntut perenungan berulang bagi pembaca pemula) (40 menit).
- Tugas 3: Secara bergiliran dalam rotasi terstruktur di sudut ekspresi depan kelas (durasi maksimal 1,5 menit per murid), setiap murid menampilkan unjuk kerja monolog pembacaan satu bait/puisi kepedulian sosial 'Pahlawan Tak Dikenal' karya Toto Sudarto Bachtiar atau 'Gadis Peminta-minta' yang dinilai langsung oleh guru pada lembar observasi [TP 10.6.5] (kriteria penerimaan unjuk kerja: penghayatan rasa kepedulian yang selaras dengan isi teks, intonasi dan artikulasi vokal yang jelas, ekspresi wajah/sikap monolog yang mencerminkan empati, serta keutuhan penyampaian pesan teks dari awal hingga akhir bait) (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setelah seluruh berkas asesmen tertulis dikumpulkan dan unjuk kerja selesai, murid mengisi lembar refleksi proses belajar bab puisi mengenai pengalaman mengapresiasi dan berekspresi sastra (2 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban, lembar naskah resensi, dan lembar refleksi murid, lalu memberikan apresiasi atas kedisiplinan dan integritas seluruh murid selama asesmen berlangsung (2 menit).
- Guru menyampaikan ulasan umum pencapaian kompetensi Bab 6 serta memberikan gambaran singkat pengenalan materi pada bab pembelajaran berikutnya (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: naskah teks puisi visual dan instruksi tertulis disediakan dengan ukuran huruf lebih besar atau posisi duduk dekat pengeras suara bagi murid dengan hambatan sensori tanpa mengubah butir soal maupun teks puisi yang dinilai.
- Proses: Penyediaan urutan giliran monolog yang teratur dan jelas di papan tulis agar murid dapat mengelola kesiapan tampil secara mandiri tanpa mengurangi bobot asesmen.
- Produk: Format penulisan resensi disediakan dalam format bergaris standar dengan batas rubrik yang sama untuk seluruh murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis asesmen: guru memverifikasi kesiapan audio pemutar suara dan memastikan setiap meja murid hanya berisi alat tulis serta lembar asesmen resmi yang dibagikan.
Proses:- Observasi kepatuhan tata tertib, kemandirian pengerjaan tugas portofolio tertulis, dan pencatatan waktu penampilan monolog pembacaan puisi pada lembar observasi guru.
Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi portofolio tertulis serentak (evaluasi aural-visual, apresiasi empati, dan resensi antologi puisi) serta unjuk kerja monolog pembacaan puisi kepedulian secara rotasi terstruktur: Lembar kerja analisis simakan aural, telaah pesan visual, uraian apresiasi empati, teks resensi antologi puisi, serta rekaman/penampilan monolog pembacaan puisi dengan penghayatan dan ekspresi kepedulian
- Tes tertulis serentak berbasis simakan aural dan teks visual: Lembar jawaban murid yang memuat evaluasi unsur intrinsik-ekstrinsik dari audio pembacaan puisi yang diputar serentak, analisis pesan tersurat/tersirat puisi visual, dan uraian interpretasi pengungkapan rasa simpati/peduli/empati (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian analisis sastra dan pedoman penskoran uraian)
- Penilaian produk penulisan resensi: Naskah teks resensi buku antologi puisi yang memuat identitas, ringkasan/gambaran isi, telaah gagasan, pandangan, pesan kritis, serta kelebihan dan kekurangan buku secara logis dan runtut (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian teks resensi sastra)
- Unjuk kerja monolog pembacaan puisi: Penampilan pembacaan puisi monolog bertema kepedulian secara bergiliran di depan kelas/sudut ekspresi (durasi 1,5 menit per murid; 45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat melayani 28 murid satu kelas penuh) yang dinilai dari aspek penghayatan, intonasi, ekspresi, dan keutuhan penyampaian pesan kepedulian (45 menit; individual; instrumen: Rubrik unjuk kerja pembacaan puisi monolog)
Sumatif:- Asesmen kombinasi portofolio tertulis serentak (evaluasi aural-visual, apresiasi empati, dan resensi antologi puisi) serta unjuk kerja monolog pembacaan puisi kepedulian secara rotasi terstruktur: Lembar kerja analisis simakan aural, telaah pesan visual, uraian apresiasi empati, teks resensi antologi puisi, serta rekaman/penampilan monolog pembacaan puisi dengan penghayatan dan ekspresi kepedulian
- Tes tertulis serentak berbasis simakan aural dan teks visual: Lembar jawaban murid yang memuat evaluasi unsur intrinsik-ekstrinsik dari audio pembacaan puisi yang diputar serentak, analisis pesan tersurat/tersirat puisi visual, dan uraian interpretasi pengungkapan rasa simpati/peduli/empati (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian analisis sastra dan pedoman penskoran uraian)
- Penilaian produk penulisan resensi: Naskah teks resensi buku antologi puisi yang memuat identitas, ringkasan/gambaran isi, telaah gagasan, pandangan, pesan kritis, serta kelebihan dan kekurangan buku secara logis dan runtut (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian teks resensi sastra)
- Unjuk kerja monolog pembacaan puisi: Penampilan pembacaan puisi monolog bertema kepedulian secara bergiliran di depan kelas/sudut ekspresi (durasi 1,5 menit per murid; 45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat melayani 28 murid satu kelas penuh) yang dinilai dari aspek penghayatan, intonasi, ekspresi, dan keutuhan penyampaian pesan kepedulian (45 menit; individual; instrumen: Rubrik unjuk kerja pembacaan puisi monolog)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengevaluasi unsur intrinsik dan ekstrinsik teks puisi aural (TP 10.6.1) | Hanya menuliskan 1 unsur intrinsik atau ekstrinsik secara tepat sesuai acuan (acuan unsur intrinsik: diksi 'gua garba' bermakna rahim ibu dan nada takzim/hormat; acuan ekstrinsik: latar sosial-budaya tradisi penghormatan anak pada ibu di Nusantara). | Menuliskan 2 dari 3 unsur acuan (1 intrinsik dan 1 ekstrinsik) secara tepat sesuai acuan materi audio puisi 'Ibu'. | Mengevaluasi secara tepat 2 unsur intrinsik (diksi dan nada) dan 1 unsur ekstrinsik (latar budaya) audio puisi 'Ibu' secara mandiri sesuai acuan. | Mengevaluasi secara komprehensif dan mendalam 2 unsur intrinsik (diksi dan nada) serta 1 unsur ekstrinsik (latar budaya) audio puisi 'Ibu' disertai analisis hubungan antarelemen secara logis dan tepat sesuai acuan. | | Mengevaluasi pesan teks puisi visual tersurat dan tersirat (TP 10.6.2) | Hanya mampu menyebutkan pesan tersurat tanpa mampu menemukan makna tersirat dari puisi 'Gadis Peminta-minta' (acuan tersurat: kehidupan gadis kecil peminta-minta dengan kaleng kecilnya; acuan tersirat: kerapuhan martabat kemanusiaan akibat ketimpangan sosial). | Mampu menyebutkan pesan tersurat secara tepat, tetapi evaluasi makna tersirat belum tepat sesuai isi teks. | Mengevaluasi secara tepat pesan tersurat (potret gadis kecil di jalanan) dan makna tersirat (penegasan martabat kemanusiaan) puisi 'Gadis Peminta-minta' sesuai acuan. | Mengevaluasi secara mendalam dan kritis pesan tersurat serta pesan tersirat teks puisi disertai penunjukan bukti baris/bait teks yang relevan secara tepat. | | Menginterpretasi simpati, peduli, dan empati dari teks puisi visual (TP 10.6.3) | Uraian interpretasi belum menunjukkan pengungkapan rasa simpati, peduli, maupun empati terhadap isi teks puisi. | Uraian interpretasi hanya memuat simpati secara dangkal tanpa mengaitkannya dengan nilai kepedulian terhadap sesama. | Menginterpretasi teks puisi secara kreatif dengan menguraikan perasaan simpati, kepedulian, dan empati secara relevan sesuai konteks kemanusiaan dalam puisi. | Menginterpretasi teks puisi secara sangat kreatif, mendalam, dan orisinal dalam menyuarakan empati serta pembelaan terhadap martabat sesama manusia secara kontekstual. | | Menulis resensi buku antologi puisi secara logis dan kritis (TP 10.6.4) | Naskah resensi hanya memuat 1-2 struktur (identitas atau ringkasan) tanpa adanya telaah gagasan/pandangan serta kelebihan/kekurangan buku. | Naskah resensi memuat 3 struktur (identitas, ringkasan, dan pandangan umum), namun telaah kritis kelebihan dan kelemahan buku belum logis. | Menulis teks resensi secara lengkap dan runtut memuat identitas, ringkasan, telaah gagasan/pandangan/pesan, serta kelebihan dan kekurangan buku secara logis dan kritis. | Menulis teks resensi dengan struktur yang sangat utuh, analisis gagasan dan pesan yang sangat kritis, serta argumen kelebihan dan kekurangan buku yang tajam, logis, dan koheren. | | Mengungkapkan kepedulian berbentuk monolog pembacaan puisi (TP 10.6.5) | Membaca teks puisi tanpa penghayatan, intonasi datar, dan tidak mengekspresikan pesan kepedulian sosial. | Membaca puisi dengan intonasi yang cukup terdengar, namun ekspresi dan penghayatan kepedulian masih kaku dan belum menyatu dengan isi teks. | Menampilkan monolog pembacaan puisi secara kreatif dengan intonasi jelas, ekspresi tepat, dan penghayatan yang utuh dalam menyampaikan kepedulian sosial. | Menampilkan monolog pembacaan puisi secara sangat memukau, ekspresif, dan berkarakter, dengan modulasi vokal serta gestur yang secara kuat menularkan getar empati dan kepedulian kepada audiens. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pembagian 3 tugas sumatif (tes tertulis aural-visual, penulisan resensi, dan unjuk kerja monolog) telah berjalan efektif dan tepat waktu?
- Bagaimana tingkat objektivitas dan konsistensi penggunaan rubrik penilaian dalam mengukur seluruh capaian TP bab ini?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif puisi ini (menyimak, membaca visual, meresensi, atau monolog) yang paling menunjukkan kemampuan terbaik saya?
- Pelajaran berharga apa tentang empati dan kepedulian kemanusiaan yang saya peroleh setelah mempelajari karya puisi pada bab ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2023
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2023, Bab VI
- Rekaman audio pembacaan puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono, 'Padamu Jua' karya Amir Hamzah, dan 'Aku' karya Chairil Anwar
- Pengeras suara/speaker kelas dan lembar kerja evaluasi menyimak puisi aural
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut/Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2023)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X SMA/MA Bab VI 'Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi' (Kemendikbudristek 2023)
- Teks Puisi Visual 'Nelayan Tersesat' karya Ilmi
- Lembar Kerja Evaluasi Pesan Puisi (Tersurat dan Tersirat) dan Set Kartu Telaah Makna
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2023), Bab 6
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi (Kemendikbudristek 2023), Bab 6 'Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi' halaman 220-223
- Teks Puisi 'Gadis Peminta-Minta' karya Toto S. Bachtiar
- Lembar Kerja Siswa 'Interpretasi Empati Puisi Visual'
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut / Bahasa Indonesia Kelas X (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X (Edisi Revisi), Bab 6, Kemendikbudristek
- Buku Antologi Puisi pilihan (cetak perpustakaan atau antologi digital repositori Kemendikbudristek, misal: 'Hujan Bulan Juni' karya Sapardi Djoko Damono atau 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' karya Taufiq Ismail)
- Lembar Kerja Menulis Resensi Logis dan Kritis
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut/Fase E Revisi 2023, Kemendikbudristek
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi 2023, Kemendikbudristek
- Lembar teks puisi bertema kepedulian sosial dan lingkungan ('Pemberhentian Terakhir Pohon-Pohon Kota', 'Tentang Buruh yang Pulang Larut', 'Jerit Karang di Pesisir')
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut / Bahasa Indonesia Kelas X SMA/MA (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2023
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X SMA/MA (Edisi Revisi), Bab VI Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi, Kemendikbudristek 2023
- Rekaman audio pembacaan puisi 'Ibu' karya D. Zawawi Imron
- Teks puisi 'Gadis Peminta-minta' dan 'Pahlawan Tak Dikenal' karya Toto Sudarto Bachtiar
- Buku antologi puisi 'Hujan Bulan Juni' karya Sapardi Djoko Damono
- Lembar Asesmen Sumatif Gabungan dan Rubrik Penilaian Portofolio/Performa
|