Modul AjarPertemuan 6Bab 4Fase ESemester 2

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Mengalihwahanakan Teks Negosiasi: dari Dialog ke Bentuk Naratif

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 dengan topik "Mengalihwahanakan Teks Negosiasi: dari Dialog ke Bentuk Naratif". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Mengalihwahanakan Teks Negosiasi: dari Dialog ke Bentuk Naratif

Bahasa Indonesia - Kelas 10

Bab 4 - Pertemuan 6

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Mengalihwahanakan Teks Negosiasi: dari Dialog ke Bentuk Naratif

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikMengalihwahanakan Teks Negosiasi: dari Dialog ke Bentuk Naratif
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui kegiatan menulis, murid dapat mengalihwahanakan teks negosiasi berbentuk dialog ke dalam teks naratif secara logis, kreatif, dan menggunakan alur yang runtut.
  2. Melalui kegiatan menulis teks naratif hasil alih wahana, murid dapat menuangkan gagasan, pesan, dan pandangan dari teks negosiasi ke dalam bentuk narasi yang koheren dengan memperhatikan unsur kebahasaan yang tepat.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian membaca cerita yang ternyata diangkat dari percakapan negosiasi sehari-hari?
  2. Menurut kalian, apa yang berubah jika sebuah dialog negosiasi diubah menjadi cerita naratif?
  3. Bagaimana cara menjaga agar pesan dan suasana negosiasi tetap hidup saat dialihwahanakan menjadi narasi?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, mengajak berdoa, dan memeriksa kehadiran murid.
  • Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali materi teks negosiasi bentuk dialog yang telah dipelajari, lalu menampilkan dua contoh pendek: satu teks dialog negosiasi dan satu teks naratif hasil alih wahana dari dialog tersebut.
  • Murid diminta mengamati kedua teks dan menyampaikan satu perbedaan yang mereka temukan secara lisan. (Asesmen Awal)
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pertanyaan pemantik, serta menjelaskan manfaat menguasai alih wahana dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk menulis cerita inspiratif atau laporan kejadian.

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid membaca dan membandingkan teks dialog negosiasi “Membeli Tas” dengan versi naratifnya (contoh dari Buku Siswa) secara berpasangan.
  • Bersama pasangan, murid mengisi tabel perbandingan: unsur struktur teks, kata ganti, keterangan waktu/tempat, dan alur pada kedua bentuk teks.
  • Guru memandu diskusi kelas untuk menyamakan persepsi tentang ciri khas teks naratif hasil alih wahana: penggunaan sudut pandang orang ketiga, penambahan deskripsi, dan urutan kronologis.
  • Guru menegaskan prinsip alih wahana yang logis, kreatif, dan runtut, serta menunjukkan contoh kesalahan umum (misalnya, kronologi terbalik) sebagai bentuk kesadaran proses.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Setiap murid memilih salah satu teks dialog negosiasi yang disediakan guru (pilihan: dialog pembelian di pasar, negosiasi jadwal piknik, atau negosiasi pinjaman bank) atau menggunakan dialog karya sendiri dari pertemuan sebelumnya.
  • Murid secara mandiri menyusun kerangka karangan: menentukan tokoh, latar, dan urutan kejadian berdasarkan dialog yang dipilih.
  • Murid menulis teks naratif lengkap (minimal tiga paragraf) yang mengalihwahanakan dialog tersebut, dengan memperhatikan kelengkapan struktur negosiasi (pembukaan, penawaran, kesepakatan), ejaan, koherensi, dan unsur kreativitas.
  • Guru berkeliling memberikan umpan balik singkat dan memotivasi murid yang mengalami kesulitan, serta memberikan contoh pengembangan kalimat yang menarik. (Asesmen Proses)

Merefleksi (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid bertukar hasil tulisan dengan teman satu kelompok kecil (3-4 orang) untuk saling membaca dan memberikan komentar menggunakan ceklis sederhana (fokus: kelengkapan struktur, keruntutan alur, dan ejaan).
  • Berdasarkan masukan teman, murid merevisi atau memperbaiki tulisannya secara langsung.
  • Murid menjawab pertanyaan refleksi tertulis: “Apa tantangan terbesarmu saat mengubah dialog menjadi narasi? Bagaimana kamu mengatasinya? Jika diminta menulis lagi, apa yang akan kamu lakukan agar hasilnya lebih baik?”
  • Beberapa murid secara sukarela membacakan hasil refleksinya di depan kelas untuk saling menginspirasi.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan langkah efektif mengalihwahanakan teks negosiasi menjadi narasi yang logis, kreatif, dan runtut.
  • Murid mengumpulkan teks naratif hasil alih wahana sebagai asesmen sumatif.
  • Guru memberikan apresiasi terhadap usaha seluruh murid dan menyampaikan rencana pertemuan selanjutnya tentang presentasi teks negosiasi.
  • Pembelajaran ditutup dengan refleksi singkat oleh guru dan doa.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan tantangan lebih dapat menggunakan contoh dialog negosiasi dari peristiwa nyata di masyarakat, sedangkan yang memerlukan dukungan menggunakan dialog pendek yang sudah dikenal (misalnya, tawar-menawar di kantin).
  • Proses: Membentuk kelompok heterogen dengan peran tutor sebaya; murid yang cepat menguasai alih wahana dapat membantu temannya menyusun kerangka karangan.
  • Produk: Durasi atau panjang teks naratif dapat disesuaikan: 2-3 paragraf untuk mayoritas, 1 paragraf plus poin-poin tambahan bagi yang lambat, atau cerita pendek utuh bagi yang cepat.

ASESMEN

Awal:

  • Guru melontarkan pertanyaan: 'Sebutkan satu ciri khas teks dialog dan satu ciri teks naratif!' untuk mengukur pemahaman awal murid tentang perbedaan kedua bentuk teks.

Proses:

  • Guru mengamati partisipasi murid saat membandingkan teks dan mengisi tabel, mencatat siswa yang masih kesulitan membedakan unsur teks.
  • Guru mengecek kerangka karangan dan sepenggal tulisan saat berkeliling, memberikan komentar lisan untuk perbaikan langsung.

Akhir:

  • Teks naratif hasil alih wahana dinilai menggunakan rubrik penilaian yang mencakup aspek kelengkapan struktur, ejaan, koherensi, dan kreativitas.

Formatif:

  • Observasi diskusi perbandingan teks
  • Ceklis umpan balik teman sebaya
  • Pertanyaan lisan saat apersepsi

Sumatif:

  • Teks naratif hasil alih wahana

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Struktur TeksStruktur negosiasi (pembukaan, isi, penutup) tidak lengkap; hanya satu bagian yang tampak.Ada dua bagian struktur negosiasi tampak, tetapi isi atau penutup belum jelas.Semua struktur negosiasi tersaji, tetapi salah satu bagian kurang rinci atau kurang padu.Struktur negosiasi lengkap (pembukaan, penawaran, kesepakatan) disajikan secara utuh dan runtut dalam narasi.
Ketepatan Ejaan dan Unsur KebahasaanLebih dari 10 kesalahan ejaan, tanda baca, dan pilihan kata yang mengganggu pemahaman.Terdapat 6–10 kesalahan ejaan, tanda baca, atau pilihan kata, tetapi masih bisa dipahami.Hanya terdapat 2–5 kesalahan kecil ejaan atau tanda baca; pilihan kata cukup tepat.Tidak ada kesalahan ejaan atau tanda baca; pilihan kata bervariasi dan sesuai konteks.
Koherensi dan Keruntutan AlurAlur cerita melompat-lompat, tidak runtut, sehingga pesan negosiasi hilang.Alur cukup runtut tetapi ada satu bagian yang tidak logis atau membingungkan.Alur runtut mengikuti kronologi dialog asli; isi teks koheren dan mudah diikuti.Alur cerita sangat runtut, koheren, dan dilengkapi transisi antarbagian yang memperkuat alur.
Kreativitas Pengembangan CeritaTidak ada pengembangan karakter atau latar; narasi sekadar menyalin dialog.Ada sedikit tambahan deskripsi, tetapi belum memperkaya latar atau suasana.Narasi diperkaya dengan deskripsi latar, watak tokoh, dan tambahan kalimat yang memperhidup cerita.Pengembangan kreatif sangat kentara; narasi memikat, mengandung sudut pandang yang konsisten, dan memberikan sentuhan orisinal yang membuat cerita lebih hidup dan menghibur.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah murid menunjukkan pemahaman yang baik tentang perbedaan teks dialog dan naratif?
  • Bagaimana tingkat keterlibatan murid saat menulis? Apakah ada yang masih kesulitan dan memerlukan bimbingan khusus?
  • Apakah strategi peer feedback berjalan efektif? Apa yang bisa ditingkatkan agar diskusi refleksi lebih mendalam?

Refleksi Murid:

  • Apa yang sudah kamu pahami tentang cara mengubah dialog negosiasi menjadi cerita naratif?
  • Bagian mana yang paling menantang saat menulis? Bagaimana kamu mengatasinya?
  • Setelah membaca cerita teman, apa hal baru yang kamu pelajari atau ingin kamu coba di tulisanmu sendiri?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), hlm. 149–162.
  2. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), hlm. 143, 172.
  3. Contoh teks dialog negosiasi dari buku siswa: 'Membeli Tas', 'Negosiasi Pinjaman Bank', 'Rencana Piknik'.
  4. Lembar Kerja Murid (LKPD) tabel perbandingan teks dialog dan naratif.
  5. Ceklis penilaian sejawat.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.