Modul AjarPertemuan 7Bab 2Fase ESemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Menampilkan Lawakan Tunggal sebagai Bentuk Kritik Sosial secara Santun

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 dengan topik "Menampilkan Lawakan Tunggal sebagai Bentuk Kritik Sosial secara Santun". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Menampilkan Lawakan Tunggal sebagai Bentuk Kritik Sosial secara Santun

Bahasa Indonesia - Kelas 10

Bab 2 - Pertemuan 7

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Menampilkan Lawakan Tunggal sebagai Bentuk Kritik Sosial secara Santun

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikMenampilkan Lawakan Tunggal sebagai Bentuk Kritik Sosial secara Santun
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat mempresentasikan teks monolog lawakan tunggal berisi kritik sosial secara sistematis, kreatif, dan santun di depan kelas dengan memperhatikan intonasi, ekspresi, dan sikap
  2. Murid dapat mengungkapkan kepedulian terhadap isu sosial melalui penampilan lawakan tunggal berbentuk monolog secara kreatif dengan menggunakan kaidah bahasa kritikan yang tepat

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian menonton lawakan tunggal yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial di sekitar kita?
  2. Bagaimana cara menyampaikan kritik sosial yang tajam namun tetap santun dan tidak menyinggung?
  3. Apa yang membuat penampilan lawakan tunggal efektif dalam menyampaikan pesan kritik kepada penonton?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam dan berdoa bersama
  • Guru mengecek kehadiran dan kesiapan murid
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: mampu menampilkan lawakan tunggal sebagai bentuk kritik sosial secara santun
  • Guru melakukan asesmen awal dengan menanyakan pengalaman murid menonton lawakan tunggal dan meminta mereka menyebutkan isu sosial yang sering diangkat dalam lawakan
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik untuk membangkitkan rasa ingin tahu murid
  • Guru menayangkan cuplikan video lawakan tunggal yang berisi kritik sosial melalui proyektor sebagai apersepsi

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati video lawakan tunggal yang ditayangkan dengan penuh perhatian, mencatat elemen-elemen penting seperti isu yang dikritik, cara penyampaian, intonasi, ekspresi wajah, dan sikap tubuh komedian
  • Guru memfasilitasi diskusi kelas tentang hasil pengamatan: Apa isu sosial yang dikritik? Bagaimana komedian menyampaikannya dengan santun namun tetap tajam? Teknik apa yang digunakan untuk membuat kritik terdengar lucu?
  • Guru menjelaskan komponen penting dalam menampilkan lawakan tunggal: struktur monolog (pembuka, isi kritik, penutup), penggunaan kaidah bahasa kritikan (sindiran halus, analogi, hiperbola), dan teknik penyampaian (intonasi bervariasi, ekspresi mendukung konten, sikap percaya diri namun santun)
  • Murid secara sadar menghubungkan materi ini dengan konteks kehidupan: pentingnya menyampaikan aspirasi dan kritik secara konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mempersiapkan naskah lawakan tunggal yang telah mereka susun sebelumnya (dari pertemuan sebelumnya) dengan menandai bagian yang memerlukan penekanan intonasi dan ekspresi
  • Murid berlatih secara mandiri selama 10 menit, mempraktikkan intonasi, ekspresi, dan sikap tubuh yang sesuai dengan isi naskah
  • Murid tampil secara bergantian di depan kelas menampilkan lawakan tunggal (durasi 3-5 menit per murid)
  • Murid lain menyimak dengan penuh perhatian dan mengisi lembar observasi sederhana tentang penampilan temannya (kesesuaian intonasi, ekspresi, kesantunan bahasa, kejelasan kritik sosial)
  • Setelah setiap penampilan, guru memberikan umpan balik langsung yang konstruktif dan meminta 2-3 murid memberikan apresiasi dan saran perbaikan

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memfasilitasi refleksi kelas dengan menanyakan: Apa tantangan terbesar saat tampil? Apa yang kalian pelajari dari penampilan teman-teman? Bagaimana perasaan kalian setelah berhasil menyampaikan kritik sosial dengan cara yang santun?
  • Murid menuliskan refleksi pribadi di buku catatan: kekuatan dan area perbaikan dalam penampilan mereka, pembelajaran yang didapat, dan komitmen untuk mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum
  • Murid saling memberikan penilaian sejawat (peer assessment) dengan menuliskan satu hal yang dikuasai dengan baik dan satu saran perbaikan untuk 2-3 teman
  • Guru mengapresiasi keberanian dan kreativitas semua murid, menekankan pentingnya terus berlatih untuk mengembangkan kemampuan komunikasi yang santun namun efektif

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: lawakan tunggal adalah media efektif untuk menyampaikan kritik sosial dengan santun, memerlukan persiapan naskah, penguasaan intonasi dan ekspresi, serta sikap percaya diri
  • Guru melakukan asesmen akhir dengan meminta murid mengisi lembar evaluasi diri tentang pencapaian tujuan pembelajaran
  • Guru memberikan penguatan terhadap pentingnya menyuarakan kepedulian sosial dengan cara yang kreatif, santun, dan bertanggung jawab
  • Guru menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya dan menutup pembelajaran dengan salam

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang kesulitan dapat memilih isu sosial yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Murid yang lebih cepat dapat mengangkat isu yang kompleks dengan analisis lebih mendalam
  • Proses: Murid yang memerlukan dukungan dapat berlatih bersama guru atau teman yang lebih mahir sebelum tampil. Murid yang mandiri dapat langsung berlatih sendiri dan bahkan membantu teman yang kesulitan
  • Produk: Murid yang memerlukan penyesuaian dapat menampilkan lawakan dengan durasi lebih singkat (2-3 menit) dengan fokus pada satu isu. Murid yang sudah mahir dapat menampilkan lawakan lebih panjang (5-7 menit) dengan beberapa isu yang saling terkait

ASESMEN

Awal:

  • Tanya jawab lisan tentang pengalaman murid menonton lawakan tunggal
  • Diskusi singkat tentang isu-isu sosial yang dikenal murid dan bagaimana cara menyampaikan kritik terhadap isu tersebut

Proses:

  • Observasi saat murid berlatih: kesiapan naskah, keseriusan berlatih intonasi dan ekspresi
  • Penilaian penampilan lawakan tunggal: sistematika penyampaian, kreativitas, kesantunan bahasa, kesesuaian intonasi dan ekspresi
  • Lembar observasi yang diisi oleh murid lain untuk menilai penampilan teman
  • Umpan balik langsung dari guru dan teman setelah setiap penampilan

Akhir:

  • Penilaian penampilan lawakan tunggal menggunakan rubrik dengan aspek: struktur monolog, kaidah bahasa kritikan, intonasi, ekspresi, sikap, dan kesantunan
  • Evaluasi diri murid: sejauh mana mereka mencapai tujuan pembelajaran dan apa yang perlu ditingkatkan
  • Penilaian sejawat: apresiasi dan saran dari teman
  • Refleksi tertulis murid tentang pembelajaran yang didapat

Formatif:

  • Observasi selama murid berlatih dan tampil
  • Penilaian sejawat menggunakan lembar observasi
  • Umpan balik lisan dari guru setelah setiap penampilan

Sumatif:

  • Penilaian penampilan lawakan tunggal menggunakan rubrik
  • Evaluasi diri murid tentang pencapaian tujuan pembelajaran
  • Penilaian naskah lawakan yang telah dipresentasikan

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Struktur dan Sistematika MonologMonolog tidak memiliki struktur jelas, tidak ada pembuka, isi, atau penutup yang sistematisMonolog memiliki struktur dasar tetapi transisi antar bagian kurang lancar dan kurang sistematisMonolog memiliki struktur yang jelas (pembuka, isi, penutup) dengan transisi yang cukup baikMonolog tersusun sangat sistematis dengan pembuka menarik, isi yang koheren, dan penutup yang mengesankan
Kaidah Bahasa KritikanKritik disampaikan secara langsung tanpa memperhatikan kesantunan, tidak menggunakan teknik bahasa yang tepatMenggunakan beberapa kaidah bahasa kritikan (sindiran, analogi) tetapi masih kurang halus dan kurang santunMenggunakan kaidah bahasa kritikan dengan baik (sindiran halus, analogi, hiperbola) dan cukup santunMenguasai berbagai kaidah bahasa kritikan, menyampaikan kritik tajam namun sangat santun dan tidak menyinggung
Intonasi dan EkspresiIntonasi datar, ekspresi wajah dan tubuh tidak mendukung isi monologIntonasi mulai bervariasi tetapi belum konsisten, ekspresi kurang mendukungIntonasi bervariasi sesuai isi, ekspresi wajah dan tubuh mendukung penyampaianIntonasi sangat bervariasi dan ekspresif, ekspresi wajah dan tubuh sangat mendukung dan memperkuat pesan
Kreativitas dan Kepedulian SosialIsi lawakan tidak menunjukkan kreativitas, isu sosial tidak jelas atau tidak relevanMenunjukkan kreativitas sederhana, isu sosial diangkat tetapi kurang mendalamCukup kreatif dalam mengemas kritik sosial, kepedulian terhadap isu sosial terlihat jelasSangat kreatif dan inovatif dalam menyampaikan kritik, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap isu sosial dengan sudut pandang yang menarik
Sikap dan KesantunanSikap kurang percaya diri, bahasa tubuh tertutup, kurang menghormati penontonSikap mulai percaya diri tetapi masih kaku, santun tetapi belum konsistenSikap percaya diri, bahasa tubuh terbuka, santun dalam berbicara dan bersikapSangat percaya diri, sikap sangat santun dan menghormati penonton, mampu berinteraksi dengan baik

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid mendapat kesempatan tampil dan berkembang?
  • Apakah umpan balik yang diberikan sudah konstruktif dan membangun kepercayaan diri murid?
  • Bagaimana cara meningkatkan kualitas penampilan murid yang masih kesulitan?
  • Apakah waktu pembelajaran sudah dialokasikan secara efektif?
  • Apa yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Apa tantangan terbesar yang saya hadapi saat menampilkan lawakan tunggal?
  • Apa yang sudah saya kuasai dengan baik dalam penampilan ini?
  • Apa yang perlu saya perbaiki untuk penampilan berikutnya?
  • Bagaimana perasaan saya setelah berhasil menyampaikan kritik sosial dengan santun?
  • Pembelajaran apa yang saya dapatkan dari penampilan teman-teman?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi)
  2. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi)
  3. Video lawakan tunggal dari komedian Indonesia (Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, atau komedian lokal)
  4. Naskah lawakan tunggal yang telah disusun murid
  5. Proyektor dan speaker untuk menayangkan video
  6. Lembar observasi penampilan lawakan tunggal
  7. Lembar evaluasi diri dan penilaian sejawat

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.