MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E) Topik: Menginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase E / Kelas 10 |
|---|
| Topik | Menginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan |
|---|
| Alokasi Waktu | 2x45 menit |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- Murid mampu menginterpretasi informasi dari teks visual (komik strip) bertema kritik sosial untuk mengungkapkan gagasan serta rasa empati dan kepedulian secara kreatif.
- Murid mampu mengidentifikasi dan menggunakan kaidah bahasa kritikan, termasuk pertanyaan retoris dan ungkapan pro/kontra, dalam menyampaikan kritik secara santun melalui tulisan singkat.
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Pernahkah kamu membaca komik yang mengkritik kebiasaan masyarakat? Apa yang membuat komik itu lucu tapi sekaligus menusuk?
- Mengapa banyak orang lebih suka menyampaikan kritik melalui humor atau sindiran daripada langsung?
- Menurutmu, apa bedanya mengkritik dengan menyakiti perasaan orang lain?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam dan menyapa murid, menciptakan suasana gembira dan berkesadaran.
- Guru menampilkan satu komik strip pendek tentang kritik sosial (misal: perilaku buang sampah sembarangan di tempat wisata) melalui proyektor.
- Murid diminta mengamati dan merespons spontan: apa yang kalian lihat? Apa pesan yang tersirat?
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: menginterpretasi informasi dari teks visual dan menggunakan kaidah bahasa kritikan secara santun.
- Asesmen diagnostik awal: guru memberikan dua pertanyaan singkat secara lisan: (1) Sebutkan ciri-ciri kalimat kritikan yang pernah kamu dengar; (2) Apa yang dimaksud dengan pertanyaan retoris? Jawaban murid dicatat guru untuk mengetahui pemahaman awal.
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membagikan LKPD berisi dua buah komik strip bertema kritik sosial (satu tentang kemacetan, satu tentang budaya instan).
- Murid secara berpasangan membaca dan mengamati komik, lalu mendiskusikan isi komik: apa isu yang dikritik, bagaimana perasaan tokoh, dan pesan tersirat yang ingin disampaikan.
- Guru memperkenalkan kaidah bahasa kritikan melalui slide: pertanyaan retoris, ungkapan pro/kontra, dan contoh kalimatnya.
- Murid mengidentifikasi kalimat-kalimat dalam komik yang mengandung pertanyaan retoris atau ungkapan pro/kontra dengan menggunakan tabel sederhana di LKPD.
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Murid tetap dalam pasangan, berdiskusi untuk memilih satu fenomena sosial di sekitar (misal: kebiasaan terlambat, penggunaan medsos berlebihan).
- Murid membuat dua panel komik strip sederhana (sketsa di kertas) yang berisi kritik terhadap fenomena tersebut, dengan memasukkan setidaknya satu pertanyaan retoris dan satu ungkapan pro/kontra.
- Guru berkeliling memberi bimbingan dan memastikan prinsip kesantunan dan kreativitas tetap dijaga.
- Tiap pasangan mempresentasikan komiknya secara singkat di depan kelas, menjelaskan isu, kritik, dan unsur bahasa yang mereka gunakan.
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memandu diskusi reflektif: bagaimana perasaan kalian saat menyampaikan kritik lewat komik tadi? Apakah cara ini terasa lebih santun?
- Murid menuliskan refleksi singkat di kertas post-it tentang: satu hal baru yang dipelajari, satu tantangan saat membuat kritik santun, dan satu komitmen untuk menggunakan bahasa santun dalam kritik.
- Post-it ditempel di papan 'Pohon Kesadaran Kelas' sebagai bentuk berkesadaran bersama.
Penutup:- Guru mengajak murid merangkum poin penting pembelajaran: interpretasi teks visual dan kaidah bahasa kritikan.
- Asesmen sumatif: murid menjawab pertanyaan lisan/guru memberikan satu komik baru dan meminta mereka menjelaskan isu, perasaan tokoh, dan kalimat kritik yang digunakan secara tertulis selama 5 menit.
- Guru memberikan apresiasi atas karya dan partisipasi, lalu menyampaikan rencana pertemuan berikutnya (menyusun teks eksposisi sebagai sumber kritik).
- Murid dan guru mengakhiri dengan yel-yel penyemangat untuk merayakan pembelajaran.
Diferensiasi:- Konten: Murid yang masih kesulitan mendapatkan komik dengan teks yang lebih sederhana dan jumlah dialog terbatas; murid yang cepat diberikan komik yang lebih kompleks dengan metafora.
- Proses: Murid lambat didampingi secara intensif saat identifikasi kaidah bahasa dengan memberikan daftar contoh kalimat retoris/pro-kontra; murid cepat ditantang membuat komik tiga panel atau menambahkan narasi.
- Produk: Murid lambat boleh hanya mengidentifikasi dan menuliskan ulang dialog yang sudah ada; murid cepat menghasilkan komik orisinal dengan dialog kritik yang bernas.
ASESMENAwal:- Diagnostik lisan: guru bertanya tentang ciri-ciri kalimat kritikan dan pengertian pertanyaan retoris, mencatat jawaban untuk memetakan pengetahuan awal.
Proses:- Ceklis pemahaman interpretasi: mampu menyebutkan isu, perasaan tokoh, dan pesan moral komik.
- Ceklis identifikasi kaidah bahasa: mampu menandai pertanyaan retoris dan ungkapan pro/kontra dengan benar.
- Catatan anekdotal tentang kreativitas dan kolaborasi saat membuat komik.
Akhir:- Tes tulis singkat: menganalisis sebuah komik strip baru (tidak ada dalam LKPD) untuk menentukan isu, simpati/empati, dan dua kalimat kritik beserta jenisnya.
- Penilaian produk komik strip dan presentasi berdasarkan rubrik yang telah disiapkan.
Formatif:- Observasi saat diskusi dan presentasi menggunakan ceklis partisipasi dan kemampuan mengidentifikasi unsur
- Tanya jawab lisan selama tahap memahami dan mengaplikasi
Sumatif:- Penilaian hasil komik strip dan presentasi (produk)
- Tes tertulis singkat di akhir: menganalisis komik baru
RUBRIK PENILAIAN| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Interpretasi Informasi dari Teks Visual | Murid belum dapat menyebutkan isu atau pesan yang dikritik dalam komik; tidak dapat mengaitkan gambar dengan perasaan tokoh. | Murid mampu menyebutkan isu secara umum tanpa rincian, dan kurang jelas dalam mengidentifikasi perasaan tokoh atau pesan. | Murid mampu menjelaskan isu yang dikritik, mengidentifikasi perasaan tokoh (simpati/empati), dan menyebutkan pesan moral dengan cukup tepat. | Murid mampu menganalisis isu secara mendalam, menghubungkan ekspresi visual dengan empati, dan mengungkapkan kritik yang lebih bermakna secara kreatif. | | Penggunaan Kaidah Bahasa Kritikan | Murid tidak mampu mengenali atau menggunakan pertanyaan retoris atau ungkapan pro/kontra dalam konteks kritik. | Murid mampu mengenali salah satu ciri (retoris atau pro/kontra) namun belum tepat dalam penggunaan; atau menulis kalimat kritik tanpa kaidah. | Murid mampu menggunakan minimal satu pertanyaan retoris dan satu ungkapan pro/kontra dengan benar dalam komik buatan, serta menunjukkan kesantunan. | Murid mampu menggunakan lebih dari dua kaidah bahasa kritikan secara variatif, tepat konteks, dan sangat santun; bahkan mampu memadukan dengan gaya humor yang cerdas. |
REFLEKSIRefleksi Guru:- Apakah murid antusias dan terlibat aktif dalam kegiatan menginterpretasi komik?
- Sejauh mana murid mampu membedakan kritik santun dan tidak santun melalui kaidah bahasa?
- Apakah strategi berpasangan dan proyek komik strip efektif untuk mencapai tujuan? Perlu penyesuaian apa untuk pertemuan mendatang?
Refleksi Murid:- Apa yang kamu pahami tentang hubungan antara gambar dan kata-kata dalam menyampaikan kritik?
- Apakah membuat komik tadi membantumu berlatih menyampaikan pendapat tanpa menyakiti?
- Kaidah bahasa mana yang paling sulit kamu terapkan? Mengapa?
SUMBER BELAJAR- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Kemdikbudristek, 2023.
- Tayangan komik strip ‘Kartun Mingguan’ dari koran nasional (cetak/digital).
- Slide interaktif tentang kaidah bahasa kritikan (pertanyaan retoris, ungkapan pro/kontra).
- LKPD interpretasi komik dan tabel identifikasi bahasa.
- Alat tulis, kertas gambar, spidol warna, dan papan ‘Pohon Kesadaran’.
|