Modul AjarPertemuan 4Bab 2Fase ESemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Menginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 dengan topik "Menginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Menginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan

Bahasa Indonesia - Kelas 10

Bab 2 - Pertemuan 4

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Menginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikMenginterpretasi Informasi dan Menggunakan Kaidah Bahasa Kritikan
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu menginterpretasi informasi dari teks visual (komik strip) bertema kritik sosial untuk mengungkapkan gagasan serta rasa empati dan kepedulian secara kreatif.
  2. Murid mampu mengidentifikasi dan menggunakan kaidah bahasa kritikan, termasuk pertanyaan retoris dan ungkapan pro/kontra, dalam menyampaikan kritik secara santun melalui tulisan singkat.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu membaca komik yang mengkritik kebiasaan masyarakat? Apa yang membuat komik itu lucu tapi sekaligus menusuk?
  2. Mengapa banyak orang lebih suka menyampaikan kritik melalui humor atau sindiran daripada langsung?
  3. Menurutmu, apa bedanya mengkritik dengan menyakiti perasaan orang lain?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan menyapa murid, menciptakan suasana gembira dan berkesadaran.
  • Guru menampilkan satu komik strip pendek tentang kritik sosial (misal: perilaku buang sampah sembarangan di tempat wisata) melalui proyektor.
  • Murid diminta mengamati dan merespons spontan: apa yang kalian lihat? Apa pesan yang tersirat?
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: menginterpretasi informasi dari teks visual dan menggunakan kaidah bahasa kritikan secara santun.
  • Asesmen diagnostik awal: guru memberikan dua pertanyaan singkat secara lisan: (1) Sebutkan ciri-ciri kalimat kritikan yang pernah kamu dengar; (2) Apa yang dimaksud dengan pertanyaan retoris? Jawaban murid dicatat guru untuk mengetahui pemahaman awal.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan LKPD berisi dua buah komik strip bertema kritik sosial (satu tentang kemacetan, satu tentang budaya instan).
  • Murid secara berpasangan membaca dan mengamati komik, lalu mendiskusikan isi komik: apa isu yang dikritik, bagaimana perasaan tokoh, dan pesan tersirat yang ingin disampaikan.
  • Guru memperkenalkan kaidah bahasa kritikan melalui slide: pertanyaan retoris, ungkapan pro/kontra, dan contoh kalimatnya.
  • Murid mengidentifikasi kalimat-kalimat dalam komik yang mengandung pertanyaan retoris atau ungkapan pro/kontra dengan menggunakan tabel sederhana di LKPD.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid tetap dalam pasangan, berdiskusi untuk memilih satu fenomena sosial di sekitar (misal: kebiasaan terlambat, penggunaan medsos berlebihan).
  • Murid membuat dua panel komik strip sederhana (sketsa di kertas) yang berisi kritik terhadap fenomena tersebut, dengan memasukkan setidaknya satu pertanyaan retoris dan satu ungkapan pro/kontra.
  • Guru berkeliling memberi bimbingan dan memastikan prinsip kesantunan dan kreativitas tetap dijaga.
  • Tiap pasangan mempresentasikan komiknya secara singkat di depan kelas, menjelaskan isu, kritik, dan unsur bahasa yang mereka gunakan.

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu diskusi reflektif: bagaimana perasaan kalian saat menyampaikan kritik lewat komik tadi? Apakah cara ini terasa lebih santun?
  • Murid menuliskan refleksi singkat di kertas post-it tentang: satu hal baru yang dipelajari, satu tantangan saat membuat kritik santun, dan satu komitmen untuk menggunakan bahasa santun dalam kritik.
  • Post-it ditempel di papan 'Pohon Kesadaran Kelas' sebagai bentuk berkesadaran bersama.

Penutup:

  • Guru mengajak murid merangkum poin penting pembelajaran: interpretasi teks visual dan kaidah bahasa kritikan.
  • Asesmen sumatif: murid menjawab pertanyaan lisan/guru memberikan satu komik baru dan meminta mereka menjelaskan isu, perasaan tokoh, dan kalimat kritik yang digunakan secara tertulis selama 5 menit.
  • Guru memberikan apresiasi atas karya dan partisipasi, lalu menyampaikan rencana pertemuan berikutnya (menyusun teks eksposisi sebagai sumber kritik).
  • Murid dan guru mengakhiri dengan yel-yel penyemangat untuk merayakan pembelajaran.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang masih kesulitan mendapatkan komik dengan teks yang lebih sederhana dan jumlah dialog terbatas; murid yang cepat diberikan komik yang lebih kompleks dengan metafora.
  • Proses: Murid lambat didampingi secara intensif saat identifikasi kaidah bahasa dengan memberikan daftar contoh kalimat retoris/pro-kontra; murid cepat ditantang membuat komik tiga panel atau menambahkan narasi.
  • Produk: Murid lambat boleh hanya mengidentifikasi dan menuliskan ulang dialog yang sudah ada; murid cepat menghasilkan komik orisinal dengan dialog kritik yang bernas.

ASESMEN

Awal:

  • Diagnostik lisan: guru bertanya tentang ciri-ciri kalimat kritikan dan pengertian pertanyaan retoris, mencatat jawaban untuk memetakan pengetahuan awal.

Proses:

  • Ceklis pemahaman interpretasi: mampu menyebutkan isu, perasaan tokoh, dan pesan moral komik.
  • Ceklis identifikasi kaidah bahasa: mampu menandai pertanyaan retoris dan ungkapan pro/kontra dengan benar.
  • Catatan anekdotal tentang kreativitas dan kolaborasi saat membuat komik.

Akhir:

  • Tes tulis singkat: menganalisis sebuah komik strip baru (tidak ada dalam LKPD) untuk menentukan isu, simpati/empati, dan dua kalimat kritik beserta jenisnya.
  • Penilaian produk komik strip dan presentasi berdasarkan rubrik yang telah disiapkan.

Formatif:

  • Observasi saat diskusi dan presentasi menggunakan ceklis partisipasi dan kemampuan mengidentifikasi unsur
  • Tanya jawab lisan selama tahap memahami dan mengaplikasi

Sumatif:

  • Penilaian hasil komik strip dan presentasi (produk)
  • Tes tertulis singkat di akhir: menganalisis komik baru

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Interpretasi Informasi dari Teks VisualMurid belum dapat menyebutkan isu atau pesan yang dikritik dalam komik; tidak dapat mengaitkan gambar dengan perasaan tokoh.Murid mampu menyebutkan isu secara umum tanpa rincian, dan kurang jelas dalam mengidentifikasi perasaan tokoh atau pesan.Murid mampu menjelaskan isu yang dikritik, mengidentifikasi perasaan tokoh (simpati/empati), dan menyebutkan pesan moral dengan cukup tepat.Murid mampu menganalisis isu secara mendalam, menghubungkan ekspresi visual dengan empati, dan mengungkapkan kritik yang lebih bermakna secara kreatif.
Penggunaan Kaidah Bahasa KritikanMurid tidak mampu mengenali atau menggunakan pertanyaan retoris atau ungkapan pro/kontra dalam konteks kritik.Murid mampu mengenali salah satu ciri (retoris atau pro/kontra) namun belum tepat dalam penggunaan; atau menulis kalimat kritik tanpa kaidah.Murid mampu menggunakan minimal satu pertanyaan retoris dan satu ungkapan pro/kontra dengan benar dalam komik buatan, serta menunjukkan kesantunan.Murid mampu menggunakan lebih dari dua kaidah bahasa kritikan secara variatif, tepat konteks, dan sangat santun; bahkan mampu memadukan dengan gaya humor yang cerdas.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah murid antusias dan terlibat aktif dalam kegiatan menginterpretasi komik?
  • Sejauh mana murid mampu membedakan kritik santun dan tidak santun melalui kaidah bahasa?
  • Apakah strategi berpasangan dan proyek komik strip efektif untuk mencapai tujuan? Perlu penyesuaian apa untuk pertemuan mendatang?

Refleksi Murid:

  • Apa yang kamu pahami tentang hubungan antara gambar dan kata-kata dalam menyampaikan kritik?
  • Apakah membuat komik tadi membantumu berlatih menyampaikan pendapat tanpa menyakiti?
  • Kaidah bahasa mana yang paling sulit kamu terapkan? Mengapa?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Kemdikbudristek, 2023.
  2. Tayangan komik strip ‘Kartun Mingguan’ dari koran nasional (cetak/digital).
  3. Slide interaktif tentang kaidah bahasa kritikan (pertanyaan retoris, ungkapan pro/kontra).
  4. LKPD interpretasi komik dan tabel identifikasi bahasa.
  5. Alat tulis, kertas gambar, spidol warna, dan papan ‘Pohon Kesadaran’.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.