Modul AjarPertemuan 2Bab 2Fase ESemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Menentukan Struktur Teks Monolog Lawakan Tunggal sebagai Media Kritik

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 dengan topik "Menentukan Struktur Teks Monolog Lawakan Tunggal sebagai Media Kritik". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 10: Menentukan Struktur Teks Monolog Lawakan Tunggal sebagai Media Kritik

Bahasa Indonesia - Kelas 10

Bab 2 - Pertemuan 2

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Menentukan Struktur Teks Monolog Lawakan Tunggal sebagai Media Kritik

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikMenentukan Struktur Teks Monolog Lawakan Tunggal sebagai Media Kritik
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menentukan struktur teks monolog lawakan tunggal (orientasi, komplikasi, dan koda) dari rekaman atau tayangan yang disimak secara sistematis.
  2. Murid dapat mengevaluasi unsur intrinsik teks anekdot berbentuk teks aural, termasuk tema, tokoh, dan amanat kritik sosial yang disampaikan.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian tertawa saat menonton stand-up comedy, tetapi setelah dipikir ulang ternyata ada kritik sosial yang serius di balik lelucon itu? Apa yang membuat kritik itu terasa 'nyaman' disampaikan lewat humor?
  2. Jika sebuah lawakan tunggal diibaratkan sebuah bangunan, bagian-bagian apa yang menyusunnya agar bangunan itu kokoh dan pesannya sampai ke penonton?
  3. Menurut kalian, apakah semua lawakan tunggal pasti mengandung kritik sosial? Bagaimana cara kita membuktikannya?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai pembelajaran.
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan suasana kelas agar siap belajar.
  • Asesmen Awal (Diagnostik): Guru menampilkan dua cuplikan pendek (30–60 detik) lawakan tunggal yang berbeda karakter, lalu meminta murid menuliskan di secarik kertas: (a) apa yang mereka ketahui tentang 'struktur teks', dan (b) apakah menurut mereka lawakan tunggal memiliki struktur tertentu. Kertas dikumpulkan untuk dipetakan pemahaman awal.
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik secara lisan dan memberi waktu 2–3 menit bagi murid untuk berpikir dan berbagi pendapat singkat secara spontan.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: murid akan belajar menentukan struktur teks monolog lawakan tunggal (orientasi, komplikasi, koda) dan mengevaluasi unsur intrinsiknya (tema, tokoh, amanat kritik sosial) melalui kegiatan menyimak.
  • Guru menjelaskan alur kegiatan pembelajaran hari ini secara singkat agar murid memiliki gambaran utuh tentang apa yang akan dilakukan.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menayangkan infografis atau bagan sederhana di layar proyektor yang menjelaskan tiga bagian struktur teks monolog lawakan tunggal: Orientasi (pengenalan situasi/tokoh/latar), Komplikasi (perkembangan konflik atau kejadian yang membangun ketegangan menuju punchline), dan Koda (penutup berisi punchline atau pesan akhir yang mengandung kritik).
  • Guru menjelaskan secara singkat (±7 menit) perbedaan fungsi tiap bagian struktur tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai analogi: 'Orientasi itu seperti kita memperkenalkan 'dunia' cerita; Komplikasi adalah saat kita mulai bertanya-tanya 'lho, kok bisa begitu?'; dan Koda adalah momen 'jleb!' yang membuat kita tertawa sekaligus berpikir.'
  • Guru juga menjelaskan unsur intrinsik teks anekdot yang akan dievaluasi: tema (isu sosial yang diangkat), tokoh (siapa yang terlibat dalam cerita), dan amanat (pesan kritik sosial yang ingin disampaikan komika).
  • Murid diberikan Lembar Kerja Murid (LKPD) bagian pertama berisi tabel kosong dengan kolom: Bagian Struktur | Ciri-ciri | Contoh Kalimat/Adegan. Murid mengisi tabel ini berdasarkan penjelasan guru secara mandiri selama 5 menit sebagai bentuk konstruksi pengetahuan awal.
  • Guru memfasilitasi diskusi kelas singkat untuk menyamakan pemahaman hasil isian tabel LKPD bagian pertama, memberi kesempatan 2–3 murid berbagi jawabannya.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru meminta murid membentuk kelompok kecil (3–4 orang) secara heterogen berdasarkan hasil pemetaan asesmen awal.
  • Guru menayangkan rekaman video lawakan tunggal (stand-up comedy) berdurasi ±5–7 menit yang mengandung kritik sosial yang jelas, misalnya tayangan Didi Kempot atau komika lain dari platform resmi/buku siswa (tautan: https://buku.kemdikbud.go.id/s/didikomedi). Murid menyimak dengan penuh perhatian tanpa membaca teks tertulis terlebih dahulu.
  • Setelah tayangan selesai, guru meminta murid mendiskusikan dalam kelompok dan mengisi LKPD bagian kedua yang berisi: (1) tabel pemetaan struktur teks (orientasi/komplikasi/koda) dengan kutipan dialog atau adegan dari tayangan sebagai bukti, (2) identifikasi tema, tokoh utama, dan amanat/kritik sosial yang disampaikan komika.
  • Guru memutarkan tayangan untuk kedua kalinya agar murid dapat memverifikasi dan melengkapi jawaban kelompok mereka dengan lebih cermat.
  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya secara bergantian dalam format 'galeri berjalan' (gallery walk): hasil kerja kelompok ditempel di dinding/papan, dan satu anggota kelompok bertugas sebagai 'penjaga galeri' yang menjelaskan kepada kelompok lain yang berkunjung selama ±8 menit.
  • Guru berkeliling memantau, memberikan umpan balik lisan, dan mencatat temuan untuk asesmen proses. Guru mendorong murid menggunakan bukti konkret dari tayangan untuk mendukung argumen mereka.
  • Setelah gallery walk selesai, guru memfasilitasi diskusi kelas untuk menyimpulkan pemetaan struktur dan unsur intrinsik yang paling tepat, meluruskan miskonsepsi yang ditemukan.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid kembali ke tempat duduk masing-masing. Guru meminta setiap murid mengisi LKPD bagian ketiga secara mandiri: menulis paragraf singkat (5–7 kalimat) yang menjelaskan (a) bagian struktur mana yang paling mudah/sulit diidentifikasi dan mengapa, serta (b) apa amanat kritik sosial dari tayangan yang disimak dan apakah kritik tersebut masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
  • Guru memfasilitasi sesi berbagi refleksi: 3–4 murid secara sukarela membacakan paragraf refleksinya di depan kelas. Guru merespons dengan apresiasi dan pertanyaan lanjutan yang mendorong pendalaman berpikir kritis.
  • Guru mengajukan pertanyaan penutup refleksi kepada seluruh kelas: 'Setelah hari ini, apakah cara kalian menikmati lawakan tunggal akan berubah? Mengapa?' untuk menghubungkan pengalaman belajar dengan kehidupan nyata murid.
  • Murid menuliskan satu kata kunci atau satu kalimat yang paling berkesan dari pembelajaran hari ini pada sticky note atau kertas kecil, lalu menempelkannya di papan 'Pojok Refleksi' di kelas.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan materi pembelajaran: tiga bagian struktur teks monolog lawakan tunggal (orientasi, komplikasi, koda) dan tiga unsur intrinsik teks anekdot (tema, tokoh, amanat kritik sosial).
  • Guru memberikan asesmen akhir (sumatif) berupa kuis tertulis singkat: murid secara individu membaca transkrip pendek sebuah anekdot (±1 halaman) yang berbeda dari tayangan sebelumnya, lalu menentukan struktur dan unsur intrinsiknya dalam waktu 10 menit.
  • Guru mengumpulkan LKPD lengkap (bagian 1, 2, dan 3) sebagai portofolio bukti belajar murid.
  • Guru memberikan umpan balik umum atas proses pembelajaran hari ini dan menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif murid.
  • Guru menyampaikan gambaran materi pertemuan berikutnya (menilai akurasi kritik sosial dengan membandingkan beberapa isi teks) agar murid dapat mempersiapkan diri.
  • Guru menutup pembelajaran dengan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan dukungan lebih (lambat): guru menyediakan transkrip tertulis dari tayangan lawakan tunggal yang disimak, sehingga mereka dapat membaca sambil menyimak untuk memudahkan identifikasi struktur. Untuk murid yang sudah mahir (cepat): guru menyediakan dua tayangan lawakan tunggal dengan tema berbeda dan meminta mereka membandingkan struktur serta kedalaman kritik sosial dari kedua tayangan tersebut.
  • Proses: Untuk murid yang membutuhkan dukungan lebih: guru memberikan LKPD dengan panduan pertanyaan yang lebih terstruktur dan scaffolding berupa contoh jawaban parsial. Untuk murid yang sudah mahir: guru mendorong mereka untuk tidak hanya mengidentifikasi struktur, tetapi juga mengevaluasi efektivitas penggunaan humor sebagai media kritik sosial dengan memberikan penilaian dan alasan yang argumentatif.
  • Produk: Untuk murid yang membutuhkan dukungan lebih: produk berupa tabel pemetaan struktur dengan kutipan singkat dari tayangan sudah dianggap cukup. Untuk murid yang sudah mahir: produk berupa paragraf analisis kritis yang memuat penilaian terhadap relevansi dan ketajaman kritik sosial dalam lawakan tunggal yang disimak.

ASESMEN

Awal:

  • Guru meminta murid menuliskan di secarik kertas: (a) apa yang mereka ketahui tentang 'struktur teks', dan (b) apakah menurut mereka lawakan tunggal memiliki struktur tertentu. Hasil dikumpulkan dan dipetakan guru untuk menyesuaikan kedalaman penjelasan dan pengelompokan murid.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemantik secara lisan dan mengamati respons spontan murid untuk mengetahui sejauh mana mereka sudah memiliki pengetahuan awal tentang teks anekdot dan lawakan tunggal.

Proses:

  • Observasi guru selama kegiatan menyimak: apakah murid menyimak dengan fokus dan membuat catatan.
  • Pemantauan diskusi kelompok: guru berkeliling dan mencatat kemampuan tiap kelompok dalam mengidentifikasi struktur teks dan unsur intrinsik secara akurat menggunakan bukti dari tayangan.
  • Gallery walk: guru menilai hasil kerja kelompok yang dipajang menggunakan lembar observasi sederhana (checklist) dengan indikator: ketepatan identifikasi orientasi, komplikasi, koda; ketepatan identifikasi tema, tokoh, amanat; penggunaan bukti dari tayangan.
  • Pertanyaan lisan selama diskusi kelas pasca gallery walk untuk mengecek pemahaman dan meluruskan miskonsepsi.

Akhir:

  • Kuis tertulis individu (10 menit): murid membaca transkrip anekdot baru dan menjawab pertanyaan: (1) Tentukan bagian orientasi, komplikasi, dan koda dari teks tersebut beserta alasannya. (2) Identifikasi tema, tokoh utama, dan amanat kritik sosial yang disampaikan. (3) Jelaskan apakah kritik sosial dalam teks tersebut masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
  • LKPD bagian 3 (refleksi tertulis individu): dinilai berdasarkan kemampuan murid menghubungkan pengalaman menyimak dengan pemahaman konseptual dan konteks kehidupan nyata.

Formatif:

  • Observasi aktif guru selama diskusi kelompok: guru mencatat kemampuan murid dalam mengidentifikasi bagian struktur teks dan unsur intrinsik dengan menggunakan bukti dari tayangan.
  • Gallery walk: guru menilai hasil kerja kelompok yang dipajang berdasarkan ketepatan identifikasi struktur dan kedalaman analisis unsur intrinsik.
  • Pertanyaan lisan selama diskusi kelas: guru mengajukan pertanyaan terbuka untuk mengecek pemahaman dan mendorong penalaran kritis murid.
  • LKPD bagian 1 dan 2: dikumpulkan dan diperiksa guru sebagai bukti proses belajar.

Sumatif:

  • Kuis tertulis individu di akhir pertemuan: murid menentukan struktur (orientasi, komplikasi, koda) dan unsur intrinsik (tema, tokoh, amanat kritik sosial) dari transkrip anekdot baru yang belum pernah disimak sebelumnya.
  • LKPD bagian 3 (refleksi tertulis): dinilai berdasarkan kemampuan murid menghubungkan hasil analisis dengan konteks kehidupan nyata dan relevansi kritik sosial.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menentukan Struktur Teks (Orientasi, Komplikasi, Koda)Murid tidak dapat mengidentifikasi bagian-bagian struktur teks monolog lawakan tunggal, atau identifikasi yang diberikan tidak sesuai dengan isi tayangan.Murid dapat mengidentifikasi 1 dari 3 bagian struktur (orientasi/komplikasi/koda) dengan tepat, namun belum disertai bukti yang memadai dari tayangan.Murid dapat mengidentifikasi 2–3 bagian struktur dengan tepat dan menyertakan bukti berupa kutipan atau adegan dari tayangan, meskipun penjelasan alasannya masih kurang mendalam.Murid dapat mengidentifikasi ketiga bagian struktur (orientasi, komplikasi, koda) secara tepat dan sistematis, disertai bukti konkret dari tayangan serta penjelasan fungsi tiap bagian yang logis dan mendalam.
Mengevaluasi Unsur Intrinsik (Tema, Tokoh, Amanat Kritik Sosial)Murid tidak dapat mengidentifikasi unsur intrinsik teks anekdot, atau identifikasi yang diberikan tidak relevan dengan isi tayangan.Murid dapat mengidentifikasi 1 dari 3 unsur intrinsik (tema/tokoh/amanat) dengan tepat, namun belum mampu menghubungkannya dengan kritik sosial yang disampaikan.Murid dapat mengidentifikasi tema, tokoh, dan amanat dengan tepat, serta mampu menjelaskan kritik sosial yang disampaikan meskipun analisisnya masih bersifat permukaan.Murid dapat mengidentifikasi tema, tokoh, dan amanat secara akurat, mengevaluasi kritik sosial yang disampaikan dengan argumen yang kuat, dan menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata secara kritis dan reflektif.
Penggunaan Bukti dari TayanganMurid tidak menyertakan bukti dari tayangan dalam jawaban atau analisisnya.Murid menyertakan 1 bukti dari tayangan, namun bukti tersebut kurang relevan atau tidak mendukung argumen yang disampaikan.Murid menyertakan 2–3 bukti dari tayangan yang relevan untuk mendukung identifikasi struktur dan unsur intrinsik.Murid menyertakan lebih dari 3 bukti konkret dari tayangan yang sangat relevan, digunakan secara strategis untuk mendukung setiap klaim analisis struktur dan unsur intrinsik.
Kemampuan Refleksi dan Koneksi dengan Kehidupan NyataMurid tidak mampu menghubungkan hasil analisis dengan konteks kehidupan nyata atau tidak menuliskan refleksi.Murid menuliskan refleksi singkat namun koneksi dengan kehidupan nyata masih sangat umum dan tidak spesifik.Murid mampu menghubungkan amanat kritik sosial dari tayangan dengan isu nyata di masyarakat secara spesifik, meskipun argumennya belum sepenuhnya dikembangkan.Murid mampu merefleksikan pengalaman belajar secara mendalam, menghubungkan amanat kritik sosial dengan isu nyata yang spesifik di masyarakat, dan menyampaikan pendapat pribadi yang kritis dan berempati.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah tayangan lawakan tunggal yang dipilih sudah cukup representatif untuk membantu murid mengidentifikasi ketiga bagian struktur teks (orientasi, komplikasi, koda) secara jelas?
  • Apakah alokasi waktu untuk setiap tahap kegiatan (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah proporsional dan efektif? Bagian mana yang perlu disesuaikan pada pertemuan berikutnya?
  • Apakah strategi gallery walk berhasil mendorong kolaborasi dan komunikasi antar murid? Apa yang perlu diperbaiki dari pelaksanaannya?
  • Apakah diferensiasi yang diterapkan (konten, proses, produk) sudah menjangkau kebutuhan semua murid, termasuk yang membutuhkan dukungan lebih dan yang sudah mahir?
  • Seberapa efektif asesmen awal (diagnostik) membantu saya menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid?

Refleksi Murid:

  • Bagian struktur teks monolog lawakan tunggal mana (orientasi, komplikasi, atau koda) yang paling mudah kamu identifikasi? Mengapa?
  • Apakah kamu merasa cara komika menyampaikan kritik lewat humor lebih efektif dibandingkan cara lain? Jelaskan alasanmu!
  • Apa satu hal paling penting yang kamu pelajari hari ini tentang teks monolog lawakan tunggal sebagai media kritik sosial?
  • Apakah ada bagian dari pembelajaran hari ini yang masih membuatmu bingung atau ingin kamu pelajari lebih dalam?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X (Edisi Revisi), Kemdikbudristek — Bab II: Mengungkapkan Kritik Lewat Humor, halaman 44–48.
  2. Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas X (Edisi Revisi), Kemdikbudristek — Panduan Khusus Bab II.
  3. Rekaman video lawakan tunggal (stand-up comedy) Didi, Stand Up Kompas TV (2017) — dapat diakses melalui tautan: https://buku.kemdikbud.go.id/s/didikomedi atau kode QR di Buku Siswa.
  4. Lembar Kerja Murid (LKPD) yang disiapkan guru: berisi tabel pemetaan struktur teks, tabel identifikasi unsur intrinsik, dan kolom refleksi tertulis.
  5. Infografis/bagan struktur teks monolog lawakan tunggal (orientasi, komplikasi, koda) — dibuat guru dan ditayangkan melalui proyektor.
  6. Transkrip anekdot pendek untuk kuis akhir — disiapkan guru dari sumber yang relevan dan belum pernah disimak murid.
  7. Proyektor dan layar untuk menayangkan video dan infografis.
  8. Sticky note atau kertas kecil untuk kegiatan 'Pojok Refleksi'.
  9. Papan/dinding kelas untuk kegiatan gallery walk.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.