MODUL AJAR Bahasa Indonesia — Kelas 10 (Fase E) Topik: Bab 2 — Mengungkapkan Kritik Lewat Senyuman INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Indonesia |
|---|
| Fase / Kelas | Fase E / Kelas 10 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Mengungkapkan Kritik Lewat Senyuman |
|---|
| Alokasi Waktu | 18 JP (18 x 45 menit = 810 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 6 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 10.2.1 Mengevaluasi pesan dari teks nonsastra berbentuk teks aural berupa lawakan tunggal
- TP 10.2.2 Mengevaluasi gagasan dan pandangan dari teks nonsastra berbentuk teks aural untuk mengidentifikasi struktur lawakan tunggal
- TP 10.2.3 Membandingkan isi teks visual dan audiovisual untuk menilai akurasi kritik sosial
- TP 10.2.4 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dari tipe teks berwujud teks visual
- TP 10.2.5 Menulis gagasan dan pandangan dalam tipe teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana secara logis dan kritis
- TP 10.2.6 Menulis gagasan dan imajinasi dalam tipe teks visual berupa komik potongan secara kreatif
- TP 10.2.7 Mempresentasikan gagasan dan pesan berbentuk monolog lawakan tunggal secara kritis dan kreatif
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa sebuah lelucon atau lawakan tunggal dapat membuat kita tertawa sekaligus menyadarkan kita akan suatu masalah di sekitar?
- Bagaimana kita mengenali pesan kritik sosial yang tersembunyi di balik kelucuan tuturan seorang komika saat menyimak lawakan tunggal?
- Bagaimana kita membuktikan bahwa sebuah sindiran atau kritik sosial dalam komik benar-benar akurat dan berdasarkan fakta di dunia nyata?
- Mengapa sebuah teks visual tentang kritik sosial perlu memunculkan perasaan simpati, peduli, dan empati bagi pembacanya?
- Mengapa kritik sosial yang kita sampaikan perlu didukung oleh data dan hasil survei nyata, bukan sekadar opini pribadi?
- Bagaimana cara menyusun teks eksposisi laporan agar fakta hasil penelitian dan gagasan kritis kita tersaji secara logis dan runtut?
- Bagaimana sebuah gambar dan dialog singkat dalam komik potongan dapat menyampaikan kritik terhadap masalah di sekitar kita?
- Mengapa humor dan imajinasi membuat pesan kritik sosial lebih mudah diterima oleh pembaca?
- Bagaimana cara menyajikan gagasan kritik sosial melalui monolog lawakan tunggal tanpa menyinggung SARA?
- Teknik apa yang membuat pesan dalam lawakan tunggal dapat tersampaikan secara tajam sekaligus menghibur?
- Bagaimana evaluasi kritis terhadap teks lawakan tunggal dan komik potongan dapat membuktikan pemahamanmu mengenai fungsi kritik sosial yang bertanggung jawab?
- Mengapa keakuratan data dalam teks eksposisi dan ketepatan penyampaian monolog humor menjadi penentu keberhasilan sebuah kritik sosial?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengevaluasi Pesan, Gagasan, dan Pandangan dari Teks Aural Lawakan Tunggal untuk Mengidentifikasi Struktur Teks — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.2.1 Mengevaluasi pesan dari teks nonsastra berbentuk teks aural berupa lawakan tunggal
- TP 10.2.2 Mengevaluasi gagasan dan pandangan dari teks nonsastra berbentuk teks aural untuk mengidentifikasi struktur lawakan tunggal
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengevaluasi pesan, gagasan, dan pandangan serta mengidentifikasi struktur teks monolog lawakan tunggal yang diperdengarkan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: memperdengarkan rekaman monolog lawakan tunggal 1 menit berjudul 'Tertib Antre': 'Kemarin saya ikut antre beli tiket kereta. Sudah rapi berbaris 30 menit, tiba-tiba ada bapak-bapak nyelonong langsung ke depan loket sambil bilang cuma mau nanya. Pas di depan loket, nanyanya sambil beli 10 tiket rombongan. Luar biasa, nanyanya niat banget ya!' Murid diminta menuliskan pesan kritik dan bagian lucunya pada secarik kertas (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak rekaman audio teks aural lawakan tunggal 'Liburan Murah' (transkrip: 'Katanya kalau mau healing murah, jalan kaki saja keliling kompleks perumahan. Saya coba kemarin jalan kaki santai. Bukannya tenang, baru sepuluh meter sudah dikejar tiga ekor anjing penjaga, diserempet gerobak bakso, dan dicegat tetangga ditagih iuran kas RT yang nunggak dua bulan. Pulang-pulang bukannya sembuh stresnya, malah langsung masuk angin dan tekanan darah naik.') secara saksama (10 menit).
- Murid mencermati pemodelan guru dalam membedah gagasan dasar pembentuk lawakan tunggal, yaitu bagian pengantar pengantar situasi (set up) dan bagian letak kelucuan yang membalikkan ekspektasi pendengar (punchline), serta mengevaluasi pandangan komika tentang fenomena 'healing' hemat (15 menit).
- Murid memainkan kuis tantangan cepat 'Detektif Punchline': guru memperdengarkan 3 potongan aural pendek berikut: (1) 'Sekolah daring bikin pintar teknologi... buktinya adik saya sekarang pintar bikin alasan kuota habis padahal lagi mabar game'; (2) 'Pemerintah pasang jembatan penyeberangan biar pejalan kaki selamat... tapi warga lebih milih nyeberang di bawah kolong jembatan adu nyali sama truk tronton'; (3) 'Beli helm SNI mahal-mahal demi keselamatan kepala... tapi pas naik motor helmnya dicantolkan di siku tangan, mungkin sikunya yang punya masa depan.' Murid menandai titik balik kelucuan (punchline) pada lembar kerja (acuan: punchline (1) ada pada klausa 'adik saya sekarang pintar bikin alasan kuota habis padahal lagi mabar game'; punchline (2) ada pada klausa 'tapi warga lebih milih nyeberang di bawah kolong jembatan adu nyali sama truk tronton'; punchline (3) ada pada klausa 'tapi pas naik motor helmnya dicantolkan di siku tangan, mungkin sikunya yang punya masa depan') (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak rekaman audio teks aural lawakan tunggal 'Jalan Rusak di Kotaku': 'Pemerintah daerah kami sangat peduli kesehatan warganya. Buktinya, jalan utama sengaja dibiarkan berlubang ribuan titik. Katanya itu bukan jalan rusak, melainkan fasilitas pijat refleksi alami untuk pengendara motor. Kalau lewat situ, semua sendi bergetar, ginjal berpindah tempat, dan jantung berdegup kencang tanpa perlu bayar instruktur senam. Lebih hebat lagi, lubangnya bisa multifungsi. Pas musim hujan, warga tidak perlu pergi ke waterpark, cukup berenang di tengah jalan aspal yang sudah jadi kolam lele.' (15 menit).
- Secara mandiri, murid menganalisis lembar kerja evaluasi untuk menentukan struktur teks aural tersebut: (a) Set up: pengantar tentang pemerintah daerah yang peduli kesehatan lewat jalan berlubang; (b) Punchline: pembalikan fakta bahwa jalan berlubang disebut wahana pijat refleksi yang mengocok sendi dan kolam renang/kolam lele saat hujan (15 menit).
- Murid mengevaluasi pesan, gagasan, dan pandangan komika: mengidentifikasi gagasan utama (kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah dan tidak kunjung diperbaiki), mengevaluasi pandangan komika (sindiran tajam terhadap alasan lambatnya perbaikan fasilitas publik yang merugikan keselamatan warga), dan menyimpulkan pesan kritik sosialnya (pemerintah daerah wajib segera memperbaiki infrastruktur jalan demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat) (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa ketepatan hasil analisis struktur (set up dan punchline) serta ketajaman pesan kritik sosial dengan mencocokkan pada rubrik evaluasi teks aural (10 menit).
- Murid menuliskan refleksi kesadaran berpikir pada lembar catatan: bagian tuturan aural mana yang paling efektif menyampaikan kritik terselubung dan bagaimana struktur punchline membantu menonjolkan pesan sosial tersebut (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari materi evaluasi teks lawakan tunggal: struktur lawakan tunggal dibangun oleh set up (pengantar konteks) dan punchline (puncak kelucuan/pembalik ekspektasi), sedangkan pesan kritik dapat dievaluasi dari kontras humor yang menyuarakan masalah sosial di kehidupan nyata (10 menit).
- Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya (membandingkan isi teks visual dan audiovisual untuk menilai akurasi kritik sosial) serta menutup sesi dengan doa dan salam (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan rekaman audio dengan opsi jeda per kalimat bagi murid yang membutuhkan waktu menyimak lebih lama, serta materi audio monolog dengan lapis kritik lebih berbelit bagi murid berkecepatan belajar tinggi.
- Proses: Bagi murid yang kesulitan mengidentifikasi struktur teks, guru memberikan panduan berupa kartu petunjuk identifikasi set up (latar ekspektasi) dan punchline (kejutan lelucon). Bagi murid mahir, murid langsung mengevaluasi keselarasan antara pandangan komika dan relevansi fakta sosial secara mandiri tanpa kartu panduan.
- Produk: Semua murid menghasilkan laporan analisis tertulis yang mengidentifikasi set up, punchline, gagasan, pandangan, serta evaluasi pesan kritik sosial sesuai standar kompetensi menyimak yang sama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Simak monolog aural 1 menit 'Tertib Antre'. Tuliskan: (1) Apa pesan kritik yang disampaikan penutur? (2) Manakah bagian tuturan yang membalikkan ekspektasi/kelucuan? (Acuan: (1) Kritik terhadap orang yang tidak berbudaya antre dan menyerobot barisan dengan dalih pura-pura bertanya; (2) Bagian lucu/pembalik ekspektasi: 'Pas di depan loket, nanyanya sambil beli 10 tiket rombongan. Luar biasa, nanyanya niat banget ya!').
Proses:- Cek pemahaman kuis 'Detektif Punchline' pada 3 audio tuturan komika. Kriteria ketepatan: tepat menunjukkan bagian punchline pada seluruh 3 butir (Acuan: (1) punchline: adik beralasan kuota habis padahal mabar game; (2) punchline: warga memilih menyeberang di bawah kolong jembatan adu nyali dengan truk tronton; (3) punchline: helm SNI dicantolkan di siku tangan seolah sikunya yang punya masa depan).
- Pengerjaan lembar kerja analisis teks aural 'Jalan Rusak di Kotaku': murid mengisi tabel identifikasi bagian set up dan punchline, gagasan komika, pandangan komika, serta simpulan pesan kritik sosial. (Acuan: Set up: pernyataan pemda peduli kesehatan warganya lewat jalan berlubang; Punchline: jalan berlubang jadi wahana pijat refleksi alami pengocok sendi dan kolam lele gratis; Gagasan/pandangan: menyindir pemda yang lambat membenahi infrastruktur publik dengan retorika pembelaan semu; Pesan: pemerintah daerah harus bertanggung jawab segera memperbaiki jalan berlubang demi keselamatan pengendara).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menjawab 2 pertanyaan reflektif-evaluatif berdasarkan teks aural: (1) Mengapa sindiran pada punchline teks 'Jalan Rusak di Kotaku' dinilai efektif menyampaikan pesan kritik sosial? (Kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan kontras antara kenyataan bahaya jalan rusak dengan banyolan pijat refleksi/kolam lele yang memperjelas ironi kelalaian pemerintah); (2) Jelaskan hubungan antara struktur set up dan punchline dalam membentuk keutuhan teks lawakan tunggal! (Kriteria penerimaan: set up membangun ekspektasi awal atau premis situasi, sedangkan punchline menjatuhkan ekspektasi tersebut secara mengejutkan sehingga menimbulkan tawa sekaligus menghantarkan pesan kritik).
Formatif:- Tes diagnostik menyimak teks aural singkat pada pendahuluan
- Kuis cepat 'Detektif Punchline' mengidentifikasi struktur kelucuan dari 3 tuturan aural
- Lembar kerja analisis teks aural 'Jalan Rusak di Kotaku' (mengidentifikasi struktur set up dan punchline serta mengevaluasi gagasan, pandangan, dan pesan kritik sosial)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengevaluasi Pesan Teks Aural Lawakan Tunggal | Belum mampu mengevaluasi pesan kritik sosial dari teks aural lawakan tunggal (pesan yang diuraikan keliru atau tidak sesuai konteks sindiran pada teks). | Mampu menyebutkan kritik sosial dari teks aural secara harfiah, namun belum mengevaluasi makna tersirat dan pesan mendalam di balik lelucon penutur. | Mampu mengevaluasi pesan kritik sosial dari teks aural lawakan tunggal secara tepat dan logis sesuai makna tersirat di balik lelucon penutur. | Mampu mengevaluasi pesan kritik sosial dari teks aural lawakan tunggal secara tepat, mendalam, dan logis disertai penilaian kritis terhadap relevansi masalah sosial yang disuarakan secara mandiri. | | Mengevaluasi Gagasan dan Pandangan untuk Mengidentifikasi Struktur Teks Aural Lawakan Tunggal | Belum mampu mengevaluasi gagasan/pandangan komika serta keliru menentukan bagian set up dan punchline teks aural lawakan tunggal. | Mampu mengidentifikasi struktur teks aural (set up dan punchline) secara parsial (hanya salah satu yang tepat) atau gagasan komika masih ditafsirkan sebatas banyolan tanpa pandangan kritis. | Mampu mengevaluasi gagasan dan pandangan komika serta tepat mengidentifikasi struktur teks aural lawakan tunggal (set up dan punchline) secara utuh sesuai acuan teks. | Mampu mengevaluasi gagasan dan pandangan komika secara komprehensif serta mengidentifikasi struktur teks aural (set up dan punchline) secara tepat, runut, dan mandiri tanpa kekeliruan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks aural yang diperdengarkan sudah cukup jelas kualitas audionya dan mudah dipahami konteks sindirannya oleh murid?
- Bagaimana respons murid saat mengidentifikasi letak punchline pada teks aural? Apakah ada murid yang mengalami kendala membedakan fakta harfiah dan ironi humor?
- Langkah scaffolding apa yang perlu ditingkatkan untuk membantu murid yang belum mampu mengaitkan lelucon dengan evaluasi pesan kritik sosial?
Murid:- Bagian mana dari kegiatan menyimak lawakan tunggal tadi yang paling membantumu memahami letak kelucuan dan pesan kritik?
- Apakah kamu dapat membedakan dengan jelas mana bagian set up (pengantar) dan mana bagian punchline (pemberi tawa) saat menyimak rekaman monolog?
- Kesulitan apa yang kamu temui saat mengevaluasi pesan yang tersembunyi di balik lelucon seorang komika?
Pertemuan 2 — Membandingkan Isi Teks Visual dan Audiovisual untuk Menilai Akurasi Kritik Sosial serta Menginterpretasi Rasa Empati — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.2.3 Membandingkan isi teks visual dan audiovisual untuk menilai akurasi kritik sosial
- TP 10.2.4 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dari tipe teks berwujud teks visual
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi suasana kelas yang nyaman serta berkesadaran (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-2 mengenai pembandingan isi teks visual dan audiovisual untuk menilai akurasi kritik sosial serta penginterpretasian simpati, peduli, dan empati (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid membaca satu komik strip 3 panel bertema 'Antrean Layanan Publik' dan satu cuplikan video berita 1 menit tentang 'Kerusakan Sistem Antrean Puskesmas', lalu menjawab 2 pertanyaan pemetaan kesiapan membandingkan data dan mengenali empati (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati konsep perbandingan akurasi kritik sosial antara teks visual (komik/karikatur) dan teks audiovisual (video berita reportase) serta pemaknaan konsep simpati, peduli, dan empati (15 menit).
- Dalam format permainan tebak kategori 'Kartu Perasaan & Fakta' yang menggembirakan, murid secara berpasangan mencocokkan 4 kartu kutipan visual dengan kategori emosi/sikap: (1) 'Kasihan sekali lansia itu harus berdiri dua jam' -> Simpati; (2) 'Mari sediakan bangku lipat khusus untuk mereka' -> Peduli; (3) 'Saya merasakan betapa letih dan putus asanya mereka menghadapi birokrasi ini' -> Empati; (4) 'Sistem loket manual sudah tidak relevan dan harus diganti sistem digital' -> Pro/Kontra (acuan: pasangan 1-4 tepat) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Murid memirsa teks visual (komik potongan 4 panel bertema 'Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki') dan teks audiovisual (video berita dokumenter pendek 2 menit tentang 'Dampak Jalan Rusak bagi Pengendara dan Truk Sayur') (15 menit).
- Murid mengisi Tabel Identifikasi Perbandingan Isi dan Akurasi Kritik Sosial pada lembar kerja: membandingkan 3 poin isi antara teks visual dan audiovisual (data kerusakan, dampak bagi warga, dan respons dinas terkait) serta menilai tingkat akurasinya berdasarkan fakta di video berita (25 menit).
- Murid menuliskan interpretasi perasaan simpati, peduli, dan empati yang ditemukan dari detail visual teks komik potongan (ekspresi tokoh pengendara motor yang terjatuh dan beban petani sayur yang dagangannya tumpah) ke dalam tabel klasifikasi (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri memeriksa ulang hasil tabel pembandingan dan interpretasi empatinya dengan lembar ceklis akurasi data serta indikator pemaknaan rasa (10 menit).
- Murid menuliskan refleksi kesadaran kritis mengenai pentingnya memverifikasi fakta di balik lelucon/komik sindiran sosial sebelum mempercayai atau membagikannya (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan cara membandingkan teks visual dan audiovisual serta cara menginterpretasikan rasa simpati, peduli, dan empati dalam kritik sosial (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar perbandingan murid dan menginformasikan fokus pertemuan ke-3 (menulis teks eksposisi laporan penelitian sederhana kritik sosial) tanpa memberikan penutupan bab (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks komik visual dengan keterangan panel pendukung dan panduan kata kunci perbandingan, sedangkan murid mahir membandingkan teks visual dengan video berita investigasi berdurasi lebih panjang dan data statistik yang lebih padat.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan panduan pertanyaan bertahap untuk membedakan rasa simpati dan empati, sedangkan murid yang mahir menganalisis secara mandiri.
- Produk: Seluruh murid menyusun tabel pembandingan isi, akurasi, dan klasifikasi empati yang sama sesuai indikator target pembelajaran.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemetaan kesiapan: Murid membaca komik 3 panel 'Antrean Layanan Publik' dan menyimak video berita 1 menit 'Kerusakan Sistem Antrean Puskesmas', lalu menjawab 2 pertanyaan berikut:
1. Sebutkan perbedaan fakta utama antara sindiran komik (loket ditutup petugas yang makan siang) dan fakta video berita! (Acuan: komik menyindir kelalaian oknum petugas, sedangkan berita menjelaskan gangguan server jaringan pusat antrean).
2. Kalimat 'Kasihan kakek itu pusing menunggu giliran' mencerminkan perasaan apa? (Acuan: Simpati/Iba).
Proses:- Formatif 1 (Membandingkan Akurasi): Pemeriksaan pengisian tabel perbandingan isi komik jalan rusak dan video dokumenter, dengan kriteria ketepatan verifikasi 3 poin fakta (poin 1: lokasi kerusakan jalan; poin 2: kerugian ekonomi pengemudi; poin 3: konfirmasi dari dinas terkait) (acuan: komik menggambarkan lubang ekstrem sebagai kolam lele buatan, video membuktikan lubang sedalam 30 cm merusak as roda 5 truk sayur dan dinas berjanji perbaikan bulan depan).
Formatif 2 (Interpretasi Empati): Pemeriksaan tabel klasifikasi interpretasi emosi/sikap dari komik visual yang memuat minimal: 1 temuan simpati, 1 temuan peduli, dan 1 temuan empati (acuan: simpati = ekspresi iba pada nasib petani sayur; peduli = aksi warga memasang tanda pohon di lubang jalan agar tidak ada korban; empati = keterlibatan batin pembaca yang merasakan beban kerugian finansial petani).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan jawaban singkat atas 2 butir pernyataan pengecekan:
1. 'Apakah kritik pada komik jalan rusak tersebut akurat jika dibandingkan dengan video fakta berita?' (Acuan jawaban: Akurat pada pokok masalah lambatnya penanganan dan bahaya bagi pengendara, namun hiperbolis/berlebihan pada penggambaran kolam lele).
2. 'Sebutkan 1 bukti visual dari komik yang memicu rasa empati pembaca!' (Acuan kriteria: menyebutkan visual ekspresi wajah tokoh petani yang terpukul melihat dagangannya hancur, memposisikan diri pembaca pada beban berat sang petani).
Formatif:- Penilaian diagnostik awal berupa identifikasi perbedaan informasi komik dan video pendek
- Penilaian lembar kerja perbandingan isi teks visual-audiovisual untuk akurasi kritik sosial
- Penilaian lembar interpretasi klasifikasi simpati, peduli, dan empati pada teks visual
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Membandingkan Isi Teks Visual dan Audiovisual untuk Menilai Akurasi Kritik Sosial | Hanya mampu menemukan 1 poin perbandingan isi antara teks visual dan audiovisual serta belum mampu menilai akurasi kritik sosial. | Mampu membandingkan 2 poin isi antara teks visual dan audiovisual, namun penilaian akurasi kritik sosial belum disertai bukti fakta pendukung. | Mampu membandingkan 3 poin isi antara teks visual dan audiovisual secara tepat dan menilai akurasi kritik sosial berdasarkan bukti fakta berita secara mandiri. | Mampu membandingkan lebih dari 3 poin isi antara teks visual dan audiovisual secara tepat, mendalam, dan terperinci dalam menguji akurasi setiap elemen kritik sosial. | | Menginterpretasi Informasi Visual untuk Mengungkapkan Simpati, Peduli, dan Empati | Hanya mampu menginterpretasikan 1 unsur perasaan (simpati saja) dari informasi teks visual dan belum tepat membedakannya. | Mampu menginterpretasikan 2 unsur perasaan (misal simpati dan peduli) dari teks visual, tetapi unsur empati belum terinterpretasi dengan tepat. | Mampu menginterpretasikan informasi teks visual secara tepat untuk mengungkapkan ketiga unsur: simpati, peduli, dan empati sesuai konteks gambar. | Mampu menginterpretasikan informasi teks visual secara mendalam dan komprehensif pada ketiga unsur (simpati, peduli, empati) disertai elaborasi detail visual (ekspresi, gestur, simbol grafis). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mampu membedakan dengan jelas batas antara rasa simpati (merasa iba) dan empati (turut merasakan secara mendalam) melalui teks visual?
- Apakah media komik visual dan video audiovisual yang disajikan cukup kontekstual dan efektif melatih daya kritis murid dalam menguji akurasi kritik?
Murid:- Hal apa yang paling membantu saya ketika membandingkan kebenaran sebuah komik kritik sosial dengan fakta berita video?
- Apakah saya sudah mampu merasakan empati terhadap masalah yang dialami tokoh dalam teks visual kritik sosial?
Pertemuan 3 — Menulis Gagasan dan Pandangan dalam Teks Eksposisi Laporan Hasil Penelitian Sederhana Kritik Sosial secara Logis dan Kritis — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.2.5 Menulis gagasan dan pandangan dalam tipe teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana secara logis dan kritis
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka secara khidmat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni menulis gagasan dan pandangan kritik sosial dalam bentuk teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana secara logis dan kritis (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menganalisis 2 pasangan kalimat (Pernyataan A dan Pernyataan B) pada papan tulis untuk membedakan kritik berbasis opini tanpa data dengan kritik berbasis data/fakta penelitian (4 menit).
- Guru mengaitkan hasil asesmen awal dengan pentingnya teks eksposisi laporan sebagai sarana kritik sosial yang bertanggung jawab, santun, dan objektif (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati model teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana bertopik 'Kedisiplinan Memilah Sampah di Lingkungan Sekolah' yang memuat 3 bagian struktur: pernyataan pendapat (tesis), argumen/hasil penelitian berbasis data survei 30 responden, dan penegasan ulang/simpulan (12 menit).
- Dalam format permainan kelompok cepat 'Detektif Logika Teks', murid menerima 3 potongan paragraf acak dari teks model di atas dan ditantang menyusunnya kembali menjadi urutan logis teks eksposisi laporan (acuan urutan benar: 1. Pernyataan pendapat mengenai masalah sampah; 2. Argumen berisi persentase survei pemilahan sampah; 3. Simpulan rekomendasi tindakan) serta menentukan kalimat data pendukungnya (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Secara berpasangan, murid merancang draf penelitian sederhana pada lembar kerja Tabel 2.5 dengan memilih salah satu dari 2 pilihan data survei kontekstual sekolah yang disiapkan guru: Pilihan Topik 1 'Penggunaan Gawai Saat Jam Istirahat' atau Pilihan Topik 2 'Kebiasaan Antre di Kantin Sekolah' (15 menit).
- Murid mengolah data temuan survei (angka persentase dan fakta temuan) ke dalam kerangka argumen logis yang membedakan fakta temuan dengan pandangan/analisis kritis penulis (15 menit).
- Secara mandiri, setiap murid menulis teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana kritik sosial secara utuh (minimal 3 paragraf: tesis, argumen berbasis data, penegasan ulang) yang menuangkan gagasan serta kritik secara logis dan kritis berdasarkan data yang telah diolah (37 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling bertukar draf teks eksposisi dengan rekan sebangku untuk melakukan peninjauan berpasangan (peer-review) menggunakan daftar cek kelogisan relasi antara data temuan survei dengan simpulan kritik yang dituliskan (10 menit).
- Murid memperbaiki dan memfinalisasi tulisan teks eksposisi laporannya berdasarkan masukan rekan sebelum dikumpulkan kepada guru (8 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama dalam menulis teks eksposisi laporan, yaitu membangun gagasan kritis di atas landasan data penelitian yang valid dan alur penalaran yang runtut (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas ketekunan murid dan menyampaikan arahan untuk kegiatan pertemuan berikutnya tanpa mengumumkan akhir materi bab (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format lembar kerja berstruktur dengan pemantik kalimat rumpang pada bagian tesis dan penegasan ulang, sedangkan murid yang mahir diberikan opsi untuk menganalisis data survei dengan variabel data yang lebih kompleks.
- Proses: Murid yang belum terbiasa merumuskan argumen berbasis data didampingi guru secara bertahap saat menyusun kaitan data dan opini, sedangkan murid yang siap bekerja secara mandiri menyelesaikan teks secara utuh.
- Produk: Semua murid menulis teks eksposisi laporan penelitian sederhana 3 bagian; murid yang mahir didorong menyajikan data dalam bentuk tabel ringkasan data pendukung di dalam teksnya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pembedaan kritik berbasis data vs opini murni: Murid diminta menentukan manakah dari 2 kalimat berikut yang merupakan dasar kritik logis berbasis data: Pernyataan 1: 'Kantin sekolah sangat kotor dan pelayanannya buruk sekali karena penjualnya malas.' vs Pernyataan 2: 'Berdasarkan survei terhadap 40 siswa, 75% responden menyatakan waktu tunggu antrean kantin melebihi 15 menit akibat minimnya pemisahan kasir.' (Kriteria/kunci jawaban: Pernyataan 2 tepat sebagai dasar kritik eksposisi laporan karena memuat data empiris dan fakta terukur, sedangkan Pernyataan 1 adalah opini subjektif tanpa data).
Proses:- Observasi ketercapaian saat murid menyusun kerangka teks pada lembar kerja Tabel 2.5: Memeriksa apakah data survei yang dipilih (Topik 1 gawai atau Topik 2 antrean kantin) dirumuskan menjadi minimal 2 argumen logis yang mendukung tesis kritik sosial.
- Pemeriksaan draf tulisan eksposisi laporan: Guru memberikan umpan balik langsung pada ketepatan penulisan bagian tesis, integrasi data hasil penelitian pada bagian argumen, dan ketajaman simpulan penegasan ulang.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan satu kalimat refleksi logis yang menjelaskan kaitan langsung antara data temuan penelitian yang mereka pakai dengan simpulan kritik yang diajukan (kriteria keterterimaan: kalimat secara eksplisit menyebutkan angka/fakta data penelitian dan menarik benang merah logis terhadap usulan perbaikan/kritik sosial yang ditawarkan, bukan sekadar opini lepas).
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja perancangan penelitian sederhana Tabel 2.5 (perumusan topik, data survei, dan gagasan argumen)
- Penilaian produk tulisan teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana kritik sosial menggunakan rubrik analitik kelogisan dan kekritisan teks
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelogisan Struktur Gagasan Teks Eksposisi Laporan | Gagasan yang ditulis tidak runtut; bagian tesis, argumen hasil penelitian, dan simpulan belum saling terhubung secara logis. | Menuliskan gagasan dalam teks eksposisi yang memuat tesis, argumen, dan simpulan, tetapi hubungan penalaran antarpagaraf masih melompat dan kurang padu. | Menuliskan gagasan dan pandangan secara logis dengan struktur teks eksposisi laporan yang runtut (tesis, argumen berlandaskan data, dan penegasan ulang saling terhubung). | Menuliskan gagasan dan pandangan secara sangat logis, runtut, dan kohesif; transisi penalaran antarbagian (tesis, argumen data, penegasan ulang) mengalir padu dan meyakinkan. | | Kekritisan Pandangan Berbasis Data Penelitian Sederhana | Belum menyertakan fakta/data hasil penelitian sederhana ke dalam teks, atau isi tulisan masih sebatas kritik emosional/opini tanpa bukti. | Menyertakan data hasil penelitian sederhana, tetapi pandangan kritik yang ditulis belum memanfaatkan data tersebut secara tepat untuk memperkuat argumen. | Menuliskan pandangan kritik sosial secara kritis dengan memanfaatkan data temuan penelitian sederhana secara akurat sebagai penguat argumen teks. | Menuliskan pandangan kritik sosial secara kritis, objektif, dan mendalam; mampu menginterpretasi data hasil penelitian secara tajam untuk memberikan solusi konstruktif pada simpulan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 40 menit menulis mandiri mencukupi bagi seluruh murid untuk menuangkan hasil olah data survei ke dalam teks eksposisi laporan?
- Bagian struktur teks eksposisi laporan manakah (tesis, penyajian data survei, atau penegasan ulang) yang paling banyak membutuhkan bimbingan intensif?
Murid:- Bagian mana dari penulisan teks eksposisi laporan hasil penelitian ini yang menurutmu paling menantang: mengolah data survei menjadi kalimat atau merumuskan simpulan kritis?
- Bagaimana penyertaan data penelitian mengubah caramu memandang dan menyampaikan suatu kritik sosial?
Pertemuan 4 — Menulis Gagasan dan Imajinasi Berbalut Humor dalam Tipe Teks Visual Berupa Komik Potongan secara Kreatif — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.2.6 Menulis gagasan dan imajinasi dalam tipe teks visual berupa komik potongan secara kreatif
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan pertemuan 4, yaitu menulis gagasan dan imajinasi kritik berbalut humor ke dalam teks visual komik potongan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mendiagnosis kesiapan murid: murid diminta membaca draf teks anekdot singkat 3 baris: 'Antrean loket mengular. Seseorang menyela sambil tersenyum ramah dan berkata: Permisi, saya titip sandal dulu ya biar dapat nomor satu!' lalu menuliskan 1 gagasan kritik dan 1 unsur humor/kejutan dari situasi tersebut pada lembar catatan (acuan: gagasan kritik = menyindir perilaku menyerobot antrean/tidak tertib; unsur humor = menitipkan sandal sebagai penanda antrean nomor satu) (10 menit).
- Guru mengaitkan jawaban murid dengan cara menuangkan gagasan kritik dan imajinasi humor tersebut ke dalam media visual berupa panel komik potongan (comic strip) serta menyampaikan target produk 4 panel yang akan dibuat (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati contoh komik potongan 4 panel bertema sosial di layar/lembaran dan membedah keterpaduan teks visualnya: Panel 1 (orientasi/situasi awal), Panel 2 (krisis/munculnya gagasan persoalan sosial), Panel 3 (reaksi tokoh dengan imajinasi dialog), Panel 4 (punchline/kejutan humor penutup yang menyentil masalah) (15 menit).
- Murid mengikuti permainan cepat 'Cocok Balon Kata' secara berpasangan: murid memasangkan 3 draf adegan gambar visual dengan 3 pilihan teks balon kata humor-kritik yang tersedia: (1) Gambar anak menatap layar HP saat makan bersama keluarga -> dipasangkan dengan teks kritik: 'Wah, sinyal internetnya lebih gurih daripada ayam goreng!'; (2) Gambar tumpukan sampah di samping rambu larangan -> dipasangkan dengan teks kritik: 'Mungkin sampahnya butuh tempat berteduh di bawah papan larangan!'; (3) Gambar pengendara motor naik ke trotoar jalan -> dipasangkan dengan teks kritik: 'Motornya sedang belajar jalan kaki di trotoar!' (acuan: pasangan 1-A, 2-B, 3-C sesuai deskripsi) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri merancang draf skenario visual 4 panel pada lembar perencanaan kerja: menuliskan gagasan kritik sosial yang dipilih (misal: kecanduan gawai, budaya antre, buang sampah, atau fasilitas publik), merumuskan imajinasi situasi berbalut humor, serta mendeskripsikan adegan visual dan balon kata untuk Panel 1 hingga Panel 4 (25 menit).
- Murid menulis dan menggambar komik potongan 4 panel secara kreatif pada lembar kertas kerja komik (Comic Strip Sheet): menuangkan deskripsi visual tokoh/ekspresi, menyusun teks narasi/balon kata yang memuat kritik sosial, serta menyematkan punchline humor imajinatif di panel penutup (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan evaluasi diri (self-assessment) terhadap karya komik potongannya dengan mencentang daftar periksa keterpaduan gagasan kritik sosial dan unsur humor imajinatif pada 4 panel yang telah diselesaikan (10 menit).
Penutup:- Murid mengumpulkan lembar karya komik potongan dan guru memberikan umpan balik formatif terhadap keterpaduan gagasan kritik serta kreativitas humor dalam panel visual murid (10 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai cara menyuarakan kritik secara kreatif dan persuasif melalui teks visual komik potongan, lalu menutup sesi pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan templat panduan alur 4 panel yang memuat petunjuk adegan terstruktur; murid yang mahir diberikan kebebasan mengeksplorasi sudut pandang visual (misal: perspektif benda mati atau sindiran simbolis).
- Proses: Murid yang memerlukan bantuan mendapatkan bimbingan bertahap saat menyusun teks balon kata humor; murid yang cepat dapat langsung menyelesaikan detail gambar dan dialog tanpa bantuan.
- Produk: Murid bebas menentukan gaya visualisasi komik potongan (sketsa figur sederhana/stickman, kartun ekspresif, atau komik realistis) asalkan gagasan kritik dan imajinasi humor tertuang utuh dalam teks visual 4 panel.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis: Murid menuliskan gagasan kritik dan unsur humor berdasarkan teks draf situasi antrean loket (acuan: gagasan kritik = menolak/menyindir perilaku menyela antrean demi keadilan sosial; unsur humor = penitipan sandal sebagai pengganti fisik manusia dalam antrean).
Proses:- Observasi draf skenario visual murid saat merancang Panel 1-4 untuk memastikan muatan kritik sosial dan logika humor telah terintegrasi sebelum digambar utuh.
- Pemeriksaan teks balon kata pada komik potongan murid untuk menilai ketepatan gagasan kritik dan keaslian imajinasi humor.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman formatif penutup melalui lembar evaluasi diri: Murid memeriksa apakah komik potongannya telah memenuhi 2 kriteria penerimaan operasional: (1) Mengandung gagasan kritik terhadap fenomena sosial nyata; (2) Memiliki punchline/humor imajinatif pada panel akhir yang menyentil masalah tersebut secara kreatif.
Formatif:- Penilaian proses penulisan draf skenario adegan komik potongan
- Penilaian produk teks visual komik potongan 4 panel menggunakan rubrik analitis
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Gagasan Kritik Sosial dalam Komik | Gagasan kritik sosial belum tampak dalam teks visual komik potongan; cerita hanya berisi lelucon tanpa isu sosial. | Menuliskan gagasan kritik sosial dalam komik potongan, tetapi maksud kritikan masih kabur dan belum terhubung jelas antarpanel. | Menuliskan gagasan kritik sosial secara jelas dan terarah pada persoalan nyata melalui rangkaian panel komik potongan. | Menuliskan gagasan kritik sosial secara tajam, lugas, dan kontekstual yang tersampaikan secara padu melalui teks visual seluruh panel komik. | | Imajinasi dan Kreativitas Humor | Belum menampilkan unsur imajinasi humor; adegan dan dialog bersifat datar atau sekadar paparan informasi. | Menampilkan unsur humor dalam balon kata, tetapi imajinasi humor klise dan belum menyatu dengan pesan kritik. | Menuliskan imajinasi humor yang kreatif dengan menghadirkan kejutan/punchline yang mendukung pesan kritik pada panel akhir. | Menuliskan imajinasi humor yang sangat orisinal, segar, dan kreatif dengan perpaduan teks serta visual yang memikat pembaca. | | Keterpaduan Teks Visual Komik Potongan | Teks narasi/balon kata dan ilustrasi visual tidak saling berhubungan dalam susunan panel komik potongan. | Teks narasi/balon kata dan visual mulai terhubung, namun susunan 4 panel belum membentuk alur cerita yang utuh. | Teks narasi/balon kata dan visual terpadu secara runut membentuk cerita komik potongan 4 panel yang utuh. | Teks narasi/balon kata dan visual berpadu sangat harmonis, ekspresif, dan saling memperkuat efek kritik serta humor di setiap panel. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 135 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk menyelesaikan penulisan teks visual komik potongan 4 panel?
- Bagaimana variasi diferensiasi produk membantu murid yang kurang percaya diri dalam menggambar agar tetap mampu menuangkan gagasan kritik dan imajinasi humor secara kreatif?
Murid:- Bagian mana dari pembuatan komik potongan ini yang paling menantang dalam meramu antara kritik sosial dan unsur lucu?
- Apakah pesan kritik yang kamu tuangkan dalam komik potongan sudah dapat dipahami orang lain dengan mudah dan tersenyum?
Pertemuan 5 — Mempresentasikan Gagasan dan Pesan Berbentuk Monolog Lawakan Tunggal secara Kritis dan Kreatif — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.2.7 Mempresentasikan gagasan dan pesan berbentuk monolog lawakan tunggal secara kritis dan kreatif
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mempresentasikan gagasan dan pesan monolog lawakan tunggal secara kritis dan kreatif (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta membaca satu cuplikan bit lawakan tunggal bertema kantin sekolah: 'Kantin sekolah kita itu menjunjung tinggi kesabaran. Mau beli mi goreng jam istirahat pertama, jadinya pas istirahat kedua, itu pun bumbunya masih di mimpi koki.' Guru mengajukan pertanyaan: (1) Apa gagasan kritik sosial dalam bit tersebut? (2) Apa pesan yang disampaikan komika? Kriteria penerimaan operasional: Murid tepat menyebutkan bahwa gagasan kritik adalah pelayanan kantin yang sangat lambat/antrean tidak teratur, dan pesannya adalah pengelola kantin perlu meningkatkan kecepatan atau perbaikan manajemen pelayanan (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemodelan presentasi monolog lawakan tunggal singkat yang diperagakan guru/audio berdurasi 1 menit bertema kebiasaan menunda tugas sekolah, lalu membedah cara menyajikan gagasan (masalah nyata) dan pesan (ajakan/solusi tersirat) secara kritis (kebenaran fenomena sosial) dan kreatif (kemasan kelucuan/kejutan punchline) (15 menit).
- Dalam aktivitas 'Tebak Punchline Seru' yang menggembirakan, murid secara berpasangan melengkapi bagian punchline dari naskah setup rumpang yang disediakan guru: Setup 1: 'Pemerintah bikin aplikasi layanan publik serba digital biar cepat...' -> Opsi punchline: '...tapi pas mau login, disuruh fotokopi KTP 3 lembar'; Setup 2: 'Sekolah kita ramah lingkungan banget, serba paperless...' -> Opsi punchline: '...tapi tugas rangkuman tetap wajib ditulis tangan 10 halaman folio bergaris' (acuan jawaban: punchline yang membalikkan ekspektasi setup dan memuat kritik logis terhadap inefisiensi birokrasi atau inkonsistensi aturan) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyiapkan dan mematangkan teks monolog lawakan tunggal mandiri berdurasi 1-2 menit yang memuat gagasan kritik sosial di lingkungan sekitar (sekolah, fasilitas umum, atau media sosial) beserta pesan moral/sosial secara kritis dan kreatif (20 menit).
- Secara bergantian di depan kelas/panggung mini 'Open Mic Kelas 10', murid mempresentasikan gagasan dan pesan berbentuk monolog lawakan tunggal secara mandiri, kritis (mengangkat fakta kritik nyata secara santun dan logis), serta kreatif (menggunakan pelintiran punchline yang segar) (50 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan proses presentasi monolog: mengidentifikasi sejauh mana pesan kritik sosial berhasil diterima oleh audiens tanpa mengurangi unsur humor dan kesantunan (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap ketajaman kritik (kritis) dan orisinalitas kemasan humor (kreatif) yang disajikan murid saat mempresentasikan monolog lawakan tunggal (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya adalah Asesmen Sumatif Bab 2 (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kerangka bit berupa tabel perumusan gagasan kritik dan variasi pesan; murid yang telah mahir dapat menggunakan tema kritik sosial yang lebih luas dan kompleks (misalnya literasi digital atau transportasi publik).
- Proses: Murid yang kurang percaya diri diperkenankan membawa kartu catatan kecil berisi poin gagasan saat tampil; murid yang sudah mahir tampil mandiri tanpa bantuan catatan naskah.
- Produk: Variasi durasi presentasi monolog lawakan tunggal disesuaikan antara 1 hingga 2 menit dengan tetap menjaga keutuhan gagasan dan pesan kritik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes lisan pemetaan kesiapan: Murid mengidentifikasi gagasan dan pesan dari satu contoh bit monolog: 'Kantin sekolah kita itu menjunjung tinggi kesabaran. Mau beli mi goreng jam istirahat pertama, jadinya pas istirahat kedua, itu pun bumbunya masih di mimpi koki.' Kriteria penerimaan operasional: Jawaban diterima tepat apabila menyebutkan gagasan kritik terkait lamanya antrean/pelayanan kantin sekolah dan pesan perbaikan manajemen/kecepatan layanan kantin.
Proses:- Pengamatan unjuk kerja saat murid mempresentasikan monolog lawakan tunggal di depan kelas dengan instrumen lembar amatan yang menilai: (1) penyajian gagasan kritik sosial secara kritis (faktual dan logis), dan (2) penyampaian pesan secara kreatif (kemasan punchline orisinal dan menarik).
Akhir Pertemuan:- Umpan balik formatif akhir sesi: Cek ketercapaian individual berdasarkan catatan keterpaduan gagasan dan pesan dalam monolog lawakan tunggal yang dipresentasikan murid, apakah kritik sosial tersampaikan secara tajam dan kreatif tanpa unsur kebencian/SARA.
Formatif:- Penilaian kinerja (unjuk kerja presentasi monolog lawakan tunggal)
- Lembar observasi penyampaian gagasan dan pesan secara kritis dan kreatif
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penyajian Gagasan Monolog Lawakan Tunggal secara Kritis | Mempresentasikan lawakan tunggal tetapi gagasan kritik sosial belum tampak atau tidak memuat fakta persoalan nyata. | Mempresentasikan gagasan kritik sosial dalam monolog lawakan tunggal, namun alur gagasan belum logis atau kritik masih bersifat umum tanpa fokus masalah yang jelas. | Mempresentasikan gagasan kritik sosial secara kritis, logis, dan berpijak pada fakta fenomena nyata di lingkungan secara santun. | Mempresentasikan gagasan kritik sosial secara mendalam, sangat kritis, berpijak kuat pada data/fakta nyata, serta disajikan dengan logika yang sangat tajam dan santun. | | Penyampaian Pesan Monolog Lawakan Tunggal secara Kreatif | Pesan dalam monolog belum tersampaikan atau kemasan humor bersifat klise/menjiplak tanpa kreativitas pengolahan. | Pesan dalam monolog tersampaikan namun kemasan humor/punchline masih kaku dan kurang variatif. | Pesan dalam monolog tersampaikan secara jelas dan dikemas secara kreatif melalui teknik pelintiran humor/punchline orisinal yang menghibur. | Pesan dalam monolog tersampaikan secara kuat, menggugah audiens, dan dikemas secara sangat kreatif dengan variasi punchline orisinal yang segar dan berdampak luas. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan yang setara untuk mempresentasikan monolog lawakan tunggal di depan kelas?
- Bagaimana respons dan efektivitas suasana kelas dalam mendukung rasa percaya diri murid saat menyajikan kritik sosial secara kreatif?
Murid:- Bagian mana dari monolog lawakan tunggal saya yang paling berhasil menyampaikan pesan kritik sosial kepada teman-teman?
- Tantangan apa yang saya hadapi dalam menyajikan gagasan kritik agar terdengar lucu sekaligus kritis dan santun?
Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.2.1 Mengevaluasi pesan dari teks nonsastra berbentuk teks aural berupa lawakan tunggal
- TP 10.2.2 Mengevaluasi gagasan dan pandangan dari teks nonsastra berbentuk teks aural untuk mengidentifikasi struktur lawakan tunggal
- TP 10.2.3 Membandingkan isi teks visual dan audiovisual untuk menilai akurasi kritik sosial
- TP 10.2.4 Menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan perasaan simpati, peduli, dan empati dari tipe teks berwujud teks visual
- TP 10.2.5 Menulis gagasan dan pandangan dalam tipe teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana secara logis dan kritis
- TP 10.2.6 Menulis gagasan dan imajinasi dalam tipe teks visual berupa komik potongan secara kreatif
- TP 10.2.7 Mempresentasikan gagasan dan pesan berbentuk monolog lawakan tunggal secara kritis dan kreatif
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik dan psikis murid, serta menegaskan integritas akademik dalam asesmen sumatif bab (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif akhir Bab 2 dan alur pengerjaan 3 rincian tugas: tes tertulis reseptif (50 menit), tugas penulisan eksposisi dan komik potongan (45 menit), serta unjuk kerja monolog lisan sampling terstruktur (35 menit) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak pembacaan petunjuk teknis lembar asesmen sumatif tertulis reseptif (TP 10.2.1, 10.2.2, 10.2.3, 10.2.4) dan mengecek kelengkapan instrumen soal (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Tugas 1 Tes Tertulis Reseptif secara mandiri: menyimak 1 rekaman aural lawakan tunggal 'Antrean Faskes' lalu mengevaluasi pesan tersirat (acuan: kritik atas diskriminasi layanan pasien BPJS vs umum) dan struktur (acuan: Set up = pengantar antrean pagi hari; Punch line = giliran dipanggil saat penyakit sudah sembuh sendiri; Rule of three = berkas fotokopi rangkap tiga, materai dua, dan surat keterangan sehat padahal sedang berobat), membandingkan infografik visual 'Laju Inflasi Pangan' dengan video komedi situasi audiovisual 'Belanja Tanggal Tua' untuk menilai akurasi kritik (acuan: kritik borosnya belanja sesuai data statistik kenaikan harga cabai dan beras), serta menguraikan simpati/empati atas komik 'Keluarga Prasejahtera' (acuan: empati atas keterbatasan akses gizi anak) (40 menit).
- Murid mengerjakan Tugas 2 Penugasan Tertulis dan Visual secara mandiri: menyelesaikan naskah teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana kritik sosial (struktur acuan: tesis memuat isu sosial nyata, minimal 2 argumen berbasis data faktual penelitian kelas, dan rekomendasi logis) serta menuntaskan lembar komik potongan anekdot 4 panel (panel 1 orientasi, panel 2 krisis/peristiwa, panel 3 reaksi berbalut humor imajinatif, panel 4 koda tersirat kritik santun) (40 menit).
- Murid melaksanakan Tugas 3 Unjuk Kerja Monolog Lawakan Tunggal Kritik Sosial berdurasi 3-4 menit per murid menggunakan sistem sampling terstruktur untuk 10 murid terpilih di hadapan guru (sementara murid lain merapikan portofolio mandiri), dengan kriteria penilaian: kejelasan artikulasi/vokal tanpa gumam, kesesuaian pesan kritik sosial dengan fenomena nyata, serta ketepatan timing kelucuan/punch line (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengumpulkan seluruh artefak lembar jawaban tes tertulis reseptif, bundel naskah eksposisi, dan komik potongan anekdot ke meja guru secara tertib (5 menit).
Penutup:- Murid melakukan refleksi mandiri secara singkat pada lembar rekapitulasi capaian bab mengenai proses penyusunan kritik santun yang telah mereka pelajari sepanjang Bab 2 (3 menit).
- Guru memberikan konfirmasi penutupan asesmen sumatif bab, mengumumkan jadwal tindak lanjut penilaian/umpan balik, dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Tidak ada modifikasi konten atau materi uji guna menjaga standardisasi sumatif; naskah aural disediakan teks transkrip alternatif khusus bagi murid dengan hambatan pendengaran.
- Proses: Pemberian perpanjangan waktu pengerjaan 10 menit bagi murid berkebutuhan khusus tanpa mengubah bobot atau kriteria soal sumatif.
- Produk: Format penyajian komik potongan dapat menggunakan media gambar manual di kertas bergaris/kertas gambar atau media digital kanvas cetak dengan batas panel yang setara (4 panel).
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- kombinasi tes tertulis individual komprehensif, penugasan portofolio penulisan teks eksposisi dan komik potongan anekdot, serta unjuk kerja penampilan monolog lawakan tunggal dengan sistem sampling terstruktur: lembar jawaban analisis reseptif (pesan, struktur, komparasi isi, dan interpretasi empati), bundel dokumen teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana beserta lembar komik potongan anekdot 4 panel, dan rekaman penilaian performa monolog lawakan tunggal kritik sosial
- tes tertulis serentak: lembar jawaban individual hasil evaluasi rekaman audio lawakan tunggal (pesan dan struktur bagian: set up, punch line, rule of three), tabel perbandingan isi teks visual-audiovisual kritik sosial, serta uraian interpretasi rasa empati dan kepedulian sosial yang dikerjakan mandiri oleh setiap murid (50 menit; individual; instrumen: soal tes tertulis terstruktur dan pedoman penskoran analitis)
- tugas tertulis dan penugasan karya visual: naskah teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana kritik sosial (tesis, rangkaian argumen data, rekomendasi) dan lembar karya komik potongan anekdot 4 panel yang memuat kritik tersirat secara kreatif yang diselesaikan secara mandiri oleh tiap murid (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian menulis teks eksposisi dan rubrik karya komik potongan)
- unjuk kerja monolog lisan: penampilan monolog lawakan tunggal kritik sosial berdurasi 3-4 menit per murid dinilai menggunakan sistem sampling terstruktur 10 murid terpilih pada sesi ini (skor individual murid lainnya diakumulasi dari rekaman formatif dan dilanjutkan bergiliran pada sesi pengayaan/kokurikuler) (40 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja monolog (kriteria: kejelasan artikulasi/vokal, kesesuaian pesan kritik sosial, dan ketepatan timing kelucuan/punchline))
Sumatif:- kombinasi tes tertulis individual komprehensif, penugasan portofolio penulisan teks eksposisi dan komik potongan anekdot, serta unjuk kerja penampilan monolog lawakan tunggal dengan sistem sampling terstruktur: lembar jawaban analisis reseptif (pesan, struktur, komparasi isi, dan interpretasi empati), bundel dokumen teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana beserta lembar komik potongan anekdot 4 panel, dan rekaman penilaian performa monolog lawakan tunggal kritik sosial
- tes tertulis serentak: lembar jawaban individual hasil evaluasi rekaman audio lawakan tunggal (pesan dan struktur bagian: set up, punch line, rule of three), tabel perbandingan isi teks visual-audiovisual kritik sosial, serta uraian interpretasi rasa empati dan kepedulian sosial yang dikerjakan mandiri oleh setiap murid (50 menit; individual; instrumen: soal tes tertulis terstruktur dan pedoman penskoran analitis)
- tugas tertulis dan penugasan karya visual: naskah teks eksposisi laporan hasil penelitian sederhana kritik sosial (tesis, rangkaian argumen data, rekomendasi) dan lembar karya komik potongan anekdot 4 panel yang memuat kritik tersirat secara kreatif yang diselesaikan secara mandiri oleh tiap murid (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian menulis teks eksposisi dan rubrik karya komik potongan)
- unjuk kerja monolog lisan: penampilan monolog lawakan tunggal kritik sosial berdurasi 3-4 menit per murid dinilai menggunakan sistem sampling terstruktur 10 murid terpilih pada sesi ini (skor individual murid lainnya diakumulasi dari rekaman formatif dan dilanjutkan bergiliran pada sesi pengayaan/kokurikuler) (40 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja monolog (kriteria: kejelasan artikulasi/vokal, kesesuaian pesan kritik sosial, dan ketepatan timing kelucuan/punchline))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Evaluasi Pesan dan Struktur Teks Aural Lawakan Tunggal (TP 10.2.1 & 10.2.2) | Keliru mengevaluasi pesan dan hanya mampu mengidentifikasi 1 bagian struktur (set up/punch line/rule of three) pada teks aural secara tepat. | Mampu mengevaluasi pesan secara umum namun belum mendalam, serta tepat mengidentifikasi 2 dari 3 bagian struktur teks lawakan tunggal. | Mampu mengevaluasi pesan tersirat kritik sosial dengan tepat (acuan: ketimpangan layanan faskes) dan tepat mengidentifikasi seluruh 3 bagian struktur (set up, punch line, rule of three). | Mampu mengevaluasi pesan tersirat kritik sosial secara komprehensif, tepat mengidentifikasi seluruh 3 bagian struktur secara rinci beserta kutipan buktinya secara mandiri. | | Komparasi Teks dan Interpretasi Empati Teks Visual (TP 10.2.3 & 10.2.4) | Belum mampu membandingkan isi teks visual dan audiovisual serta interpretasi rasa simpati/empati tidak relevan dengan isu gambar. | Mampu membandingkan kesamaan tema teks visual dan audiovisual tetapi belum menilai akurasi kritik data, serta interpretasi empati masih dangkal. | Mampu membandingkan isi teks visual dan audiovisual untuk menilai akurasi kritik secara tepat (acuan: inflasi pangan) dan menginterpretasi empati sosial secara logis. | Mampu membandingkan akurasi kritik kedua tipe teks secara tajam berdasarkan keselarasan data fakta dan mengungkapkan interpretasi empati yang mendalam serta kontekstual. | | Penulisan Teks Eksposisi dan Komik Potongan (TP 10.2.5 & 10.2.6) | Teks eksposisi tidak memuat struktur lengkap (hanya opini tanpa data fakta penelitian) dan komik potongan kurang dari 4 panel tanpa muatan humor kritik. | Teks eksposisi memuat tesis dan 1 argumen data, komik potongan 4 panel memuat humor namun kritik sosial belum tersirat jelas. | Teks eksposisi memuat tesis, minimal 2 argumen berbasis data fakta penelitian, dan rekomendasi logis; komik potongan 4 panel memuat humor dan kritik sosial tersirat secara kreatif. | Teks eksposisi disusun sangat logis-kritis dengan analisis data mendalam serta rekomendasi solutif; komik potongan 4 panel sangat kreatif, proporsional, dengan kritik humor yang tajam dan santun. | | Presentasi Monolog Lawakan Tunggal (TP 10.2.7) | Vokal tidak jelas/bergumam, materi monolog tidak mengandung kritik sosial, dan timing punch line tidak terbentuk. | Vokal terdengar cukup jelas, materi kritik sosial ada tetapi penyampaian humor kaku sehingga punch line kurang berhasil memicu tawa/senyum. | Mempresentasikan monolog dengan artikulasi vokal jelas, muatan pesan kritik sosial relevan dan santun, serta timing punch line tepat. | Mempresentasikan monolog dengan artikulasi dan proyeksi vokal sangat prima, kritik sosial kritis dan elegan, serta penguasaan panggung dan timing punch line sangat tepat memikat audiens. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 135 menit mencukupi untuk mengumpulkan ketiga bukti asesmen sumatif (tes tertulis, naskah/karya visual, dan unjuk kerja monolog)?
- Bagaimana ketercapaian murid secara keseluruhan pada Bab 2 berdasarkan hasil evaluasi reseptif dan karya ekspresi kritik humor?
Murid:- Dari seluruh tugas asesmen sumatif hari ini, bagian manakah yang paling menunjukkan kemampuan terbaikmu dalam menyampaikan kritik secara santun?
- Tantangan apa yang kamu hadapi saat memadukan fakta hasil penelitian ke dalam teks eksposisi dan mengubahnya menjadi karya humor (komik/lawakan tunggal)?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023
- Buku Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Bab II: Mengungkapkan Kritik Lewat Humor, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023
- Rekaman audio teks monolog lawakan tunggal 'Tertib Antre', 'Liburan Murah', dan 'Jalan Rusak di Kotaku'
- Lembar Kerja Murid (LKPD) Analisis Struktur dan Evaluasi Pesan Lawakan Tunggal
- Perangkat pemutar audio/pengeras suara (speaker)
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023
- Buku Teks Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Halaman 50-56
- Media visual: Komik strip 4 panel 'Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki'
- Media audiovisual: Rekaman video reportase berita pendek 2 menit tentang infrastruktur jalan rusak
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Tabel Perbandingan Isi dan Klasifikasi Simpati-Peduli-Empati
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
- Buku Panduan Siswa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek (Bab 2, Bagian E, Tabel 2.5 Rancangan Penelitian Sederhana)
- Lembar Peraga Contoh Teks Eksposisi Laporan Hasil Penelitian Sederhana dan Lembar Kerja Siswa Tabel 2.5
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Bab II Mengungkapkan Kritik Lewat Humor
- Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Lembar Kerja Komik Potongan (Comic Strip Template 4 Panel)
- Contoh-contoh komik potongan strip bertema sosial dari media massa/digital
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi (Kemendikbudristek, 2023)
- Rekaman audio monolog lawakan tunggal bertema sosial karya komika santun
- Papan tulis/proyektor dan lembar kerja telaah bit
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut / Fase E Kelas X, Kemendikbudristek 2023.
- Buku Siswa Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas X SMA, Kemendikbudristek 2023.
- Rekaman audio teks aural monolog lawakan tunggal 'Antrean Faskes'.
- Lembar infografik 'Laju Inflasi Pangan' dan cuplikan video komedi situasi 'Belanja Tanggal Tua'.
- Lembar Asesmen Sumatif Bab 2 (Soal Uji Tertulis Reseptif, Format Naskah Eksposisi, dan Blanko Komik Potongan 4 Panel).
|