Modul AjarPertemuan 6Bab 2Fase ASemester 1

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1: Menceritakan Kembali Isi Teks tentang Kegiatan Bermain

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 1 dengan topik "Menceritakan Kembali Isi Teks tentang Kegiatan Bermain". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1: Menceritakan Kembali Isi Teks tentang Kegiatan Bermain

Bahasa Indonesia - Kelas 1

Bab 2 - Pertemuan 6

MODUL AJAR

Bahasa Indonesia — Kelas 1 (Fase A)

Topik: Menceritakan Kembali Isi Teks tentang Kegiatan Bermain

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranBahasa Indonesia
Fase / KelasFase A / Kelas 1
TopikMenceritakan Kembali Isi Teks tentang Kegiatan Bermain
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui kegiatan menyimak teks tentang kegiatan bermain yang dibacakan guru, murid dapat menceritakan kembali isi teks tersebut secara lisan menggunakan kalimat sederhana dengan runtut.
  2. Melalui kegiatan berbagi cerita tentang pengalaman bermain, murid dapat mengungkapkan perasaan dan gagasan mengenai kegiatan bermain yang paling disukai secara lisan dengan atau tanpa bantuan gambar.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Permainan apa yang paling kalian sukai? Mengapa permainan itu menyenangkan?
  2. Pernahkah kalian bermain bersama teman? Apa yang terjadi saat kalian bermain?
  3. Jika kalian harus menceritakan kegiatan bermain kalian kepada teman, apa yang pertama kali ingin kalian ceritakan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru mengucapkan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai pembelajaran.
  • Guru memeriksa kehadiran dan kesiapan belajar murid (memastikan posisi duduk nyaman dan perhatian terarah).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan mengajukan pertanyaan lisan: 'Siapa yang pernah bermain di luar rumah? Apa yang kalian lakukan?' — guru mencatat respons murid untuk memetakan pengalaman dan kosakata awal.
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik: 'Permainan apa yang paling kalian sukai? Mengapa?' — biarkan 3–4 murid menjawab secara spontan.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan bahasa sederhana: 'Hari ini kita akan menyimak cerita tentang bermain, lalu kalian akan menceritakan kembali cerita itu dan berbagi tentang permainan kesukaan kalian.'
  • Guru mengajak murid melakukan tepuk semangat bersama sebagai pemantik suasana belajar yang menyenangkan.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru meminta murid duduk dengan tenang, tangan di atas meja, dan mata memandang ke depan — guru mengingatkan cara menjadi pendengar yang baik: diam, fokus, dan tidak mengganggu teman (berkesadaran).
  • Guru membacakan teks pendek tentang kegiatan bermain (±5–6 kalimat sederhana, misalnya teks narasi tentang anak-anak bermain di taman: siapa yang bermain, apa yang dimainkan, di mana, dan bagaimana perasaannya) dengan intonasi jelas, pelafalan lambat, dan ekspresi wajah yang ekspresif.
  • Setelah membaca, guru menampilkan atau menggambar 3–4 kartu gambar di papan tulis yang merepresentasikan urutan cerita (misalnya: gambar taman, gambar anak bermain bola, gambar anak tersenyum). Guru bertanya: 'Gambar mana yang muncul pertama dalam cerita tadi?'
  • Guru mengajukan 3 pertanyaan pemahaman lisan secara bergantian kepada murid: (1) 'Siapa yang ada dalam cerita?', (2) 'Apa yang mereka lakukan?', (3) 'Bagaimana perasaan mereka?' — murid menjawab dengan mengangkat tangan (bermakna: menghubungkan isi teks dengan pengetahuan nyata).
  • Guru membacakan kembali teks satu kali lagi sambil menunjuk kartu gambar yang sesuai, sehingga murid dapat mengonfirmasi urutan cerita secara visual.

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menjelaskan kegiatan: 'Sekarang kalian akan mencoba menceritakan kembali cerita tadi dengan kalimat kalian sendiri. Kita mulai dari awal cerita, tengah, lalu akhir.' Guru mencontohkan satu kalimat pembuka: 'Di cerita tadi, ada anak yang bermain di...'
  • Murid secara berpasangan (2 orang) saling menceritakan kembali isi teks secara lisan. Pasangan pertama bercerita, pasangan kedua mendengarkan, lalu bergantian. Guru berkeliling untuk mendengar dan memberikan dukungan verbal ('Bagus! Coba tambahkan apa yang terjadi selanjutnya?') — menggembirakan melalui interaksi teman sebaya.
  • Guru meminta 3–4 pasangan sukarela untuk menceritakan kembali isi teks di depan kelas secara bergantian. Teman-teman yang lain mendengarkan dan boleh bertepuk tangan setelah selesai.
  • Setelah kegiatan menceritakan kembali, guru beralih ke kegiatan berbagi pengalaman: 'Sekarang ceritakan permainan yang paling kalian sukai! Apa permainannya? Di mana? Bersama siapa? Bagaimana perasaan kalian?'
  • Guru membagikan satu lembar kertas kosong kepada setiap murid. Murid diminta menggambar permainan kesukaan mereka sebagai bantuan visual untuk bercerita (boleh digambar bebas, tidak harus rapi) — bermakna karena mengaitkan pengalaman nyata murid.
  • Murid secara bergantian berdiri dan menceritakan gambarnya kepada teman di kelompok kecil (4–5 orang per kelompok) menggunakan kalimat lisan minimal 2–3 kalimat. Guru memfasilitasi agar setiap anak mendapat giliran berbicara — menggembirakan melalui suasana berbagi yang akrab.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk melingkar (jika memungkinkan) dan bertanya secara lisan: 'Tadi kita sudah menyimak cerita dan menceritakan kembali. Apa yang mudah? Apa yang sulit?' — murid menjawab dengan tunjuk tangan.
  • Guru memandu refleksi diri dengan menggunakan 'jempol refleksi': jempol ke atas = 'Aku sudah bisa menceritakan kembali dengan runtut', jempol di tengah = 'Aku masih perlu belajar', jempol ke bawah = 'Aku belum bisa, aku butuh bantuan'. Guru mencatat hasil refleksi visual murid (berkesadaran).
  • Guru mengajukan pertanyaan bermakna: 'Apa yang kalian pelajari hari ini tentang bercerita? Apakah bercerita tentang pengalaman bermain itu penting? Mengapa?' — 2–3 murid menjawab secara lisan.
  • Guru memberi penguatan positif: 'Kalian semua hebat! Sudah berani bercerita di depan teman. Bercerita adalah cara kita berbagi dengan orang lain.' (bermakna: menghubungkan kegiatan belajar dengan nilai sosial).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: 'Hari ini kita belajar menyimak cerita dan menceritakan kembali dengan kalimat sendiri, serta berbagi cerita tentang permainan kesukaan kita.'
  • Guru melaksanakan asesmen akhir singkat: memanggil 3–5 murid secara acak untuk menceritakan kembali satu hal dari teks yang tadi didengar dalam satu kalimat — guru mencatat pada lembar observasi.
  • Guru memberikan tindak lanjut: 'Di rumah, coba ceritakan kepada ayah, ibu, atau kakak tentang permainan apa yang paling kalian sukai. Ceritakan dengan runtut ya!'
  • Guru mengajak murid melakukan refleksi akhir dengan mengisi/menunjuk emotikon perasaan hari ini (senang, biasa, sedih) di papan emoji kelas.
  • Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan terima kasih atas partisipasi murid dan mengakhiri dengan doa bersama.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum lancar menyimak dapat diberikan teks dengan kalimat lebih pendek (3–4 kalimat) dan gambar pendukung yang lebih banyak. Murid yang sudah mahir dapat diberikan teks yang sedikit lebih panjang (7–8 kalimat) dengan detail kejadian yang lebih banyak.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat menceritakan kembali dengan bantuan kartu gambar urutan cerita atau scaffolding kalimat pemula dari guru ('Pertama... kemudian... lalu...'). Murid yang lebih cepat dapat diminta menceritakan kembali tanpa bantuan gambar dan menambahkan pendapat pribadi tentang cerita tersebut.
  • Produk: Murid yang belum berkembang cukup menyampaikan 1–2 kalimat lisan tentang isi teks atau permainan kesukaan mereka. Murid yang sudah berkembang dapat menyampaikan 3–5 kalimat lisan dengan runtut, termasuk menyebutkan perasaan dan alasan mereka menyukai permainan tersebut.

ASESMEN

Awal:

  • Guru mengajukan pertanyaan lisan di awal pembelajaran: 'Siapa yang pernah bermain di luar rumah? Apa yang kalian lakukan saat bermain?' — untuk memetakan kosakata dan pengalaman awal murid terkait tema bermain.
  • Guru mengamati respons lisan murid terhadap pertanyaan pemantik: 'Permainan apa yang paling kalian sukai?' — untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri dan kemampuan berbicara awal murid sebelum pembelajaran dimulai.

Proses:

  • Observasi kemampuan menyimak: guru memperhatikan sikap dan respons murid saat teks dibacakan (apakah fokus, mampu menjawab pertanyaan pemahaman secara lisan).
  • Observasi kegiatan berpasangan: guru mencatat apakah murid mampu menceritakan kembali isi teks secara runtut menggunakan kalimat sederhana kepada pasangannya.
  • Observasi kegiatan kelompok kecil: guru mencatat apakah murid mampu mengungkapkan perasaan dan gagasan tentang permainan kesukaan secara lisan dengan atau tanpa bantuan gambar.
  • Umpan balik lisan langsung diberikan guru kepada murid selama kegiatan berlangsung untuk mengarahkan dan memperkuat pemahaman.

Akhir:

  • Asesmen lisan individual: guru memanggil 3–5 murid secara acak untuk menceritakan kembali isi teks yang didengar dalam minimal satu kalimat — dicatat pada lembar observasi guru menggunakan rubrik 4 level.
  • Penilaian produk gambar dan cerita lisan: guru menilai hasil gambar permainan kesukaan dan penjelasan lisan murid (minimal 2 kalimat) menggunakan rubrik aspek 'mengungkapkan gagasan dan perasaan'.

Formatif:

  • Observasi lisan: guru mengamati dan mencatat kemampuan murid menjawab pertanyaan pemahaman setelah teks dibacakan (siapa, apa, di mana, bagaimana perasaan tokoh).
  • Observasi saat berpasangan: guru berkeliling mengamati kemampuan murid menceritakan kembali kepada pasangannya — mencatat kelancaran, keruntutan, dan kosakata yang digunakan.
  • Jempol refleksi diri: murid menilai kemampuan diri sendiri secara visual (jempol ke atas/tengah/bawah) sebagai bentuk asesmen sebagai pembelajaran (assessment as learning).
  • Umpan balik verbal langsung dari guru saat murid bercerita di kelompok kecil maupun di depan kelas.

Sumatif:

  • Asesmen lisan individual di akhir pembelajaran: murid dipanggil satu per satu (3–5 orang sampel acak) untuk menceritakan kembali satu bagian dari teks yang didengar dalam minimal satu kalimat lengkap.
  • Penilaian hasil gambar dan cerita lisan: guru menilai kemampuan murid mengungkapkan perasaan dan gagasan tentang permainan kesukaan berdasarkan gambar yang dibuat dan penjelasan lisan yang disampaikan.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Kembali Isi Teks Secara LisanMurid belum mampu menceritakan kembali isi teks, diam, atau hanya mengulang satu kata saja meskipun sudah diberi banyak bantuan.Murid dapat menceritakan kembali satu bagian isi teks (misalnya hanya menyebut tokoh atau tempat) dalam satu kata atau frasa pendek, dengan bantuan penuh dari guru atau kartu gambar.Murid dapat menceritakan kembali beberapa bagian isi teks (tokoh, kegiatan, atau perasaan tokoh) dalam 1–2 kalimat sederhana, dengan sedikit bantuan guru atau kartu gambar.Murid dapat menceritakan kembali isi teks secara runtut (awal–tengah–akhir) dalam 3 kalimat atau lebih menggunakan kalimat sederhana yang jelas dan mudah dipahami, tanpa bantuan guru.
Mengungkapkan Perasaan dan Gagasan tentang Permainan KesukaanMurid belum mampu mengungkapkan perasaan atau gagasan tentang permainan kesukaan secara lisan, diam, atau tidak merespons meskipun sudah diberi dorongan.Murid menyebutkan nama permainan kesukaan dalam satu kata atau frasa, belum mampu menjelaskan perasaan atau alasannya, meskipun sudah diberi bantuan pertanyaan pancingan.Murid dapat menyebutkan permainan kesukaan dan mengungkapkan perasaannya (misalnya 'senang', 'suka') dalam 1–2 kalimat sederhana, dengan atau tanpa bantuan gambar.Murid dapat mengungkapkan permainan kesukaan, perasaan, dan alasannya dalam 3 kalimat atau lebih secara lancar dan jelas, menggunakan gambar sebagai pendukung atau bahkan tanpa bantuan gambar.
Kelancaran dan Keruntutan BerbicaraMurid tidak berbicara atau hanya mengucapkan kata-kata yang tidak berkaitan, sulit dipahami oleh pendengar.Murid berbicara dengan banyak jeda panjang dan kata yang terputus-putus, kalimat kurang dapat dipahami, memerlukan bantuan besar dari guru agar pesan tersampaikan.Murid berbicara dengan beberapa jeda tetapi kalimat dapat dipahami, urutan cerita cukup jelas meskipun belum sempurna.Murid berbicara dengan lancar, kalimat runtut dan mudah dipahami pendengar, suara cukup keras, dan menunjukkan kepercayaan diri saat berbicara di depan teman atau kelompok.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat menyimak teks dengan baik? Jika tidak, apa faktor penghambatnya dan bagaimana cara saya mengatasinya di pertemuan berikutnya?
  • Apakah kegiatan berpasangan dan kelompok kecil berjalan efektif dalam membantu murid menceritakan kembali isi teks? Perlu penyesuaian apa?
  • Murid mana yang masih memerlukan dukungan lebih dalam kemampuan berbicara lisan? Tindak lanjut apa yang perlu saya siapkan?
  • Apakah alokasi waktu 2x35 menit cukup untuk seluruh rangkaian kegiatan? Bagian mana yang perlu dipercepat atau diperlambat?

Refleksi Murid:

  • Apa yang paling kamu ingat dari cerita yang tadi dibacakan gurumu?
  • Bagaimana perasaanmu saat menceritakan kembali cerita kepada temanmu? Mudah atau sulit?
  • Apakah kamu sudah bisa menceritakan permainan kesukaan kamu dengan jelas? Apa yang ingin kamu ceritakan lebih banyak lagi?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa: Bahasa Indonesia 'Aku Bisa!' Kelas 1 SD/MI (Edisi Revisi), Sofie Dewayani, Kemdikbudristek 2023 — Bab 2 'Ayo, Bermain!'
  2. Teks narasi pendek buatan guru tentang kegiatan bermain (5–8 kalimat, disesuaikan dengan konteks murid)
  3. Kartu gambar urutan cerita (3–4 kartu bergambar yang merepresentasikan urutan kejadian dalam teks) — dapat dibuat sendiri oleh guru dari kertas karton
  4. Lembar kertas kosong A4 untuk kegiatan menggambar permainan kesukaan
  5. Papan tulis dan spidol/kapur untuk menempelkan kartu gambar dan menulis kata-kata kunci
  6. Papan emoji perasaan (3 emotikon: senang, biasa, sedih) untuk refleksi akhir murid
  7. Lembar observasi guru untuk mencatat perkembangan kemampuan berbicara lisan setiap murid

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.