LKPDPertemuan 2Bab 4Fase CSemester 2

LKPD Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 6: Hati Nurani sebagai Hakim yang Baik dan Jujur dalam Diri Manusia

LKPD ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 6 dengan topik "Hati Nurani sebagai Hakim yang Baik dan Jujur dalam Diri Manusia". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN LKPD

LKPD Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 6: Hati Nurani sebagai Hakim yang Baik dan Jujur dalam Diri Manusia

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti - Kelas 6

Bab 4 - Pertemuan 2

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Hati Nurani sebagai Hakim yang Baik dan Jujur dalam Diri Manusia

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikHati Nurani sebagai Hakim yang Baik dan Jujur dalam Diri Manusia
Alokasi Waktu70 menit
Tipe Aktivitascampuran
Nama Murid.................................
Kelas.................................

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat membedakan hati nurani dalam arti luas (keinsafan akan kewajiban) dan arti sempit (penilaian tindakan konkret baik atau buruk) dengan menggunakan contoh nyata.
  2. Murid dapat menceritakan pengalaman pribadi ketika hati nurani bersuara pada saat menghadapi situasi yang mengharuskan mereka mengambil keputusan yang sulit.

PETUNJUK UMUM

  • Bacalah setiap petunjuk dengan seksama sebelum mengerjakan.
  • Kerjakan dengan jujur berdasarkan pengalaman dan pemahamanmu sendiri.
  • Kamu boleh berdiskusi dengan teman untuk kegiatan yang ditandai 'diskusi kelompok'.
  • Gunakan ruang jawaban yang disediakan. Jika kurang, gunakan kertas tambahan.
  • Ingat, tidak ada jawaban salah dalam menceritakan pengalaman pribadimu!

KEGIATAN

Kegiatan 1: Mengenal Dua Wajah Hati Nurani

Estimasi: 20 menit

Alat & Bahan:

  • Buku siswa (cerita Edo)
  • Alat tulis

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Bacalah cerita 'Jika Aku adalah Edo' dari buku siswa atau yang dibacakan guru.
  2. Perhatikan dua situasi dalam cerita: (1) Ketika Edo tahu ia harus jujur (keinsafan umum), (2) Ketika Edo harus memutuskan apakah memberitahu ibu tentang nilai ulangan (penilaian tindakan konkret).
  3. Lengkapi tabel untuk membedakan hati nurani dalam arti luas dan arti sempit.
  4. Kemudian buatlah contoh dari pengalamanmu sendiri.

Pertanyaan:

1. Lengkapi tabel berikut untuk membedakan hati nurani arti luas dan arti sempit berdasarkan cerita Edo dan pengalamanmu!

Ruang tabel jawaban

2. Menurutmu, mengapa penting membedakan kedua pengertian hati nurani ini? Jelaskan dengan kalimatmu sendiri!

Tabel dengan 4 kolom: 'Jenis Hati Nurani', 'Pengertian Singkat', 'Contoh dari Cerita Edo', 'Contoh dari Pengalamanku'. Dua baris untuk Arti Luas dan Arti Sempit. Untuk nomor 2, sediakan 5-7 baris untuk uraian.

Kegiatan 2: Ketika Hati Nuraniku Berbicara

Estimasi: 25 menit

Alat & Bahan:

  • Pensil dan pensil warna
  • Penghapus
  • Alat tulis

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Pikirkan satu pengalaman pribadi ketika kamu menghadapi situasi sulit dan harus mengambil keputusan.
  2. Ceritakan pengalaman tersebut dengan jujur: apa situasinya, apa kata hati nuranimu, apa keputusanmu, dan apa akibatnya.
  3. Buatlah komik sederhana (4-6 panel) atau cerita bergambar untuk menggambarkan pengalamanmu.
  4. Tulis dialog atau narasi singkat di setiap panel untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Pertanyaan:

1. Ceritakan pengalamanmu dalam bentuk komik atau cerita bergambar (minimal 4 panel): situasi sulit apa yang kamu hadapi?

Ruang gambar

2. Apa yang disuarakan oleh hati nuranimu saat itu?

3. Apakah kamu menaati atau mengabaikan hati nurani? Apa yang kamu rasakan setelahnya?

Sediakan kotak untuk 4-6 panel komik (kotak kosong untuk menggambar, ukuran sekitar 8x6 cm per panel). Di bawah setiap panel ada ruang untuk narasi 1-2 kalimat. Untuk nomor 2 dan 3, sediakan masing-masing 4-5 baris.

Kegiatan 3: Hati Nurani: Hakim yang Baik dan Jujur

Estimasi: 25 menit

Alat & Bahan:

  • Kertas karton atau kertas HVS ukuran besar
  • Spidol warna
  • Pensil warna
  • Alat tulis

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Bentuklah kelompok kecil (3-4 orang).
  2. Diskusikan bersama: mengapa hati nurani disebut 'hakim yang baik dan jujur dalam diri manusia'?
  3. Buatlah poster mini atau mind map yang menjelaskan peran hati nurani sebagai hakim dalam diri kita.
  4. Sertakan minimal 3 ciri 'hakim yang baik' dan bagaimana hati nurani menunjukkan ciri-ciri itu.
  5. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas (waktu presentasi 2-3 menit per kelompok).

Pertanyaan:

1. Sebutkan dan jelaskan minimal 3 ciri 'hakim yang baik dan jujur' yang ditunjukkan oleh hati nurani!

2. Bagaimana cara kita melatih hati nurani agar tetap tajam dan peka?

3. Buatlah satu komitmen konkret kelompokmu untuk menaati hati nurani dalam kehidupan sehari-hari di sekolah!

Sediakan satu halaman penuh untuk poster/mind map kelompok (dapat dibuat di kertas karton terpisah). Untuk pertanyaan 1 dan 2, format poin-poin (masing-masing 5-6 baris). Untuk nomor 3, kotak khusus 'Komitmen Kelompok' dengan ruang 3-4 baris dan tempat tanda tangan anggota kelompok.

REFLEKSI

1. Setelah mempelajari tentang hati nurani hari ini, apa hal paling penting yang kamu pelajari?

2. Pernahkah kamu mengabaikan suara hati nuranimu? Apa yang akan kamu lakukan berbeda jika menghadapi situasi serupa lagi?

3. Bagaimana kamu akan melatih diri untuk lebih peka dan taat pada hati nurani dalam kehidupanmu sehari-hari?

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka lkpd pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.