LKPDPertemuan 2Bab 2Fase DSemester 1

LKPD Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 7: Menghargai Tradisi Agama Buddha di Indonesia Melalui Penerimaan Keragaman Kanon dan Naskah Kitab Suci

LKPD ini disusun untuk satu pertemuan Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 7 dengan topik "Menghargai Tradisi Agama Buddha di Indonesia Melalui Penerimaan Keragaman Kanon dan Naskah Kitab Suci".

MEJAGURU.ID - DOKUMEN LKPD

LKPD Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 7: Menghargai Tradisi Agama Buddha di Indonesia Melalui Penerimaan Keragaman Kanon dan Naskah Kitab Suci

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 7

Bab 2 Pertemuan 2

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Menghargai Tradisi Agama Buddha di Indonesia Melalui Penerimaan Keragaman Kanon dan Naskah Kitab Suci

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase Fase D / Kelas 7
TopikMenghargai Tradisi Agama Buddha di Indonesia Melalui Penerimaan Keragaman Kanon dan Naskah Kitab Suci
Alokasi Waktu2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)
Tipe Aktivitascampuran
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1
Nama Murid.................................
Kelas.................................

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Menghargai tradisi agama Buddha di Indonesia melalui penerimaan keragaman kanon dan naskah kitab suci

PETUNJUK UMUM

  • Duduk hening sejenak dengan penuh kesadaran untuk mempersiapkan pikiran yang tenang dan jernih sebelum memulai belajar.
  • Bacalah instruksi pada setiap kegiatan dengan cermat dan saksama.
  • Kerjakan setiap lembar aktivitas dengan jujur, mandiri, dan penuh rasa saling menghargai.
  • Diskusikan hasil pemikiranmu dengan teman saat diminta, lalu tuliskan responmu pada ruang jawaban yang tersedia.

KEGIATAN

Kegiatan 1: Mengenal dan Menghargai Keragaman Kanon Kitab Suci

Estimasi: 25 menit

Alat & Bahan:

  • Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha Kelas 7
  • Alat tulis (pulpen/pensil)

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Cermati ringkasan informasi mengenai keragaman kanon kitab suci dalam tradisi agama Buddha di Indonesia berikut: Tradisi Theravada menggunakan Tipitaka berbahasa Pali, tradisi Mahayana menggunakan Tripitaka berbahasa Tionghoa/Sanskerta, dan tradisi Buddhayana/lainnya di Indonesia menjunjung keberagaman kanon tersebut sebagai warisan ajaran Buddha yang satu.
  2. Lengkapi tabel penerimaan dan sikap menghargai terhadap keragaman kanon dan naskah suci tersebut sesuai petunjuk kolom.
  3. Tuliskan wujud sikap menghargai terhadap keberadaan kanon yang berbeda dari yang biasa kamu baca/dengar di vihara setempat.

Pertanyaan:

1. Lengkapi tabel analisis keragaman kanon berikut dengan mencantumkan tradisi, bahasa naskah/kanon yang digunakan, serta wujud sikap menghargai tradisi tersebut di Indonesia!

Ruang tabel jawaban

2. Mengapa perbedaan bahasa dan bentuk naskah kitab suci tidak boleh membuat umat Buddha di Indonesia terpecah belah, melainkan harus saling dihargai?

Format tabel 3 kolom: Kolom 1 (Tradisi & Bahasa Kanon), Kolom 2 (Karakteristik Teks), Kolom 3 (Sikap Menghargai di Indonesia); disertai 4 baris kosong bergaris untuk jawaban uraian nomor 2.

Kegiatan 2: Menanggapi Situasi: Menghargai Perbedaan Praktik Pembacaan Kitab Suci

Estimasi: 30 menit

Alat & Bahan:

  • Lembar teks kasus
  • Alat tulis

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Bacalah studi kasus kontekstual tentang keberagaman tradisi peribadahan di sebuah vihara bersama di Indonesia.
  2. Kasus: 'Di sebuah vihara yang digunakan bersama oleh beberapa majelis tradisi Buddha di Indonesia, kelompok remaja Theravada sedang melantunkan Sutta berbahasa Pali, sementara kelompok Mahayana menyiapkan pembacaan Sutra berbahasa Sanskerta/Tionghoa. Seorang teman baru merasa bingung dan menganggap hanya tradisinya yang paling benar.'
  3. Diskusikan bersama teman sebangku atau rumuskan tanggapan pribadimu untuk menunjukkan sikap penerimaan dan penghargaan terhadap tradisi naskah yang berbeda.

Pertanyaan:

1. Berdasarkan kasus tersebut, tindakan dan perkataan apa yang dapat kamu sampaikan kepada teman baru itu agar ia dapat menghargai keragaman kanon dan tradisi pembacaan kitab suci tersebut?

2. Tentukan apakah pernyataan berikut mencerminkan sikap 'Menghargai' atau 'Tidak Menghargai' keragaman naskah/kanon tradisi Buddha di Indonesia beserta alasannya: 'Hanya mau berdana pada vihara yang memakai naskah kitab suci yang sama dengan tradisi keluarga sendiri.'

Ruang uraian 5 baris untuk tanggapan kasus (nomor 1), dan kotak pilihan sikap berserta 3 baris keterangan alasan (nomor 2).

Kegiatan 3: Komitmen Nyata Menghargai Keragaman Tradisi dan Naskah Suci

Estimasi: 25 menit

Alat & Bahan:

  • Alat tulis/spidol warna

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Rancanglah sebuah pernyataan komitmen pribadi berisi tindakan nyata untuk menghargai keragaman tradisi naskah/kanon kitab suci agama Buddha di lingkungan sekolah, vihara, atau komunitasmu.
  2. Komitmen harus memuat: sikap penerimaan terhadap perbedaan bahasa/naskah suci, keterbukaan hati dalam pergaulan lintas tradisi Buddhis, dan kesadaran menjaga kerukunan.
  3. Selesaikan kegiatan ini dan lanjutkan dengan menjawab pertanyaan refleksi serta doa/hening penutup.

Pertanyaan:

1. Tuliskan 3 (tiga) butir komitmen nyata yang akan kamu lakukan sehari-hari untuk menghargai keragaman kanon dan tradisi agama Buddha di Indonesia!

Kotak piagam komitmen berbingkai rapi dengan 3 baris bertombol butir (bullet points) dan tempat tanda tangan murid.

REFLEKSI

1. Setelah mempelajari keberagaman kanon kitab suci hari ini, apa perubahan sikap yang paling terasa dalam dirimu saat melihat teman mempraktikkan tradisi bacaan suci yang berbeda?

2. Mengapa sikap saling menghargai keragaman naskah kitab suci sangat penting bagi kerukunan umat Buddha di Indonesia?

3. Langkah sederhana apa yang akan langsung kamu praktikkan minggu ini saat berkunjung ke vihara atau berinteraksi dengan sesama teman Buddhis?

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka lkpd pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.