LKPD Bahasa Indonesia Kelas 5: Memahami Makna Konotasi dalam Teks Wirausaha Cilik
LKPD ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 5 dengan topik "Memahami Makna Konotasi dalam Teks Wirausaha Cilik". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.
MEJAGURU.ID - DOKUMEN LKPD
LKPD Bahasa Indonesia Kelas 5: Memahami Makna Konotasi dalam Teks Wirausaha Cilik
Bahasa Indonesia - Kelas 5
Bab 4 - Pertemuan 2
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) Bahasa Indonesia — Kelas 5 (Fase C) Topik: Memahami Makna Konotasi dalam Teks Wirausaha Cilik INFORMASI UMUM
TUJUAN PEMBELAJARAN
PETUNJUK UMUM
KEGIATANKegiatan 1: Detektif Kata — Memburu Makna TersembunyiEstimasi: 25 menit Alat & Bahan:
Petunjuk Pengerjaan:
Pertanyaan:1. Sebelum mengisi tabel, tuliskan dulu di kotak 'Pikirku': Menurutmu, apa bedanya makna konotasi dengan makna biasa (denotasi)? Tuliskan dengan kalimatmu sendiri! 2. Lengkapilah Tabel Detektif Kata berikut berdasarkan teks 'Stiker Lala'. Kalimat pertama sudah dicontohkan untukmu! Kalimat: (1) Pujian itu membuat hati Lala berbunga-bunga. | Kata konotasi: berbunga-bunga | Artinya: bahagia/sangat senang
Ruang tabel jawaban 3. Dari ketujuh kalimat di atas, pilih SATU kalimat yang paling berkesan bagimu. Jelaskan mengapa kalimat itu menarik dan bagaimana kalimat itu menggambarkan karakter atau situasi dalam cerita! Kotak 'Pikirku' untuk pertanyaan 1 (min. 3 kalimat). Tabel 3 kolom untuk pertanyaan 2: Kolom 1 = Kalimat Asli, Kolom 2 = Kata Konotasi, Kolom 3 = Artinya. Paragraf bebas untuk pertanyaan 3 (min. 3 kalimat). Kegiatan 2: Konotasi vs. Denotasi — Mana yang Mana?Estimasi: 20 menit Petunjuk Pengerjaan:
Pertanyaan:1. Perhatikan dua kalimat berikut: Kalimat mana yang mengandung makna konotasi? Jelaskan perbedaan makna kata 'tangan' pada kedua kalimat tersebut! 2. Ubahlah kalimat konotasi berikut menjadi kalimat denotasi (harfiah) tanpa mengubah informasi pokoknya! 3. Bersama teman sebangkumu, diskusikan pertanyaan ini: Mengapa penulis cerita 'Stiker Lala' memilih menggunakan kalimat konotasi, bukan kalimat denotasi? Apa efek atau perasaan yang ditimbulkan dari penggunaan kata konotasi dalam cerita? Catat hasil diskusimu! Jawaban uraian bebas untuk pertanyaan 1 (min. 2 kalimat). Dua baris isian untuk pertanyaan 2 (a dan b). Kotak diskusi berpasangan untuk pertanyaan 3 — tulis nama kedua peserta diskusi di pojok atas kotak, lalu catat kesimpulan bersama (min. 3 kalimat). Kegiatan 3: Aku Penulis Cilik — Ciptakan Kalimatmu Sendiri!Estimasi: 25 menit Alat & Bahan:
Petunjuk Pengerjaan:
Pertanyaan:1. Tuliskan 3 kata konotasi yang kamu pilih dan buatlah satu kalimat orisinal untuk masing-masing kata. Ikuti format: Kata Konotasi 2: ___ Kata Konotasi 3: ___ 2. Sekarang gabungkan ketiga kalimatmu menjadi sebuah paragraf pendek (3–5 kalimat) yang padu! Beri judul paragrafmu dan pastikan ceritanya mengalir dengan baik. 3. Bagikan paragrafmu kepada teman sebangku. Mintalah temanmu menemukan kata-kata konotasi dalam paragrafmu dan memberi tanda bintang (★) di sebelah kata tersebut. Setelah itu, tuliskan satu kalimat yang menggambarkan perasaanmu setelah berhasil membuat kalimat konotasi sendiri! Tiga blok isian berlabel 'Kata Konotasi + Kalimatku' untuk pertanyaan 1. Kotak menulis luas bergaris untuk pertanyaan 2 (paragraf lengkap + judul). Kotak kecil untuk pertanyaan 3 — beri ruang untuk tanda bintang teman dan satu kalimat refleksi perasaan. REFLEKSI1. Setelah belajar hari ini, satu kata konotasi mana yang paling berkesan bagimu? Mengapa kata itu terasa istimewa? 2. Pernahkah kamu tanpa sadar menggunakan kata konotasi dalam percakapan sehari-hari? Coba ingat-ingat satu contohnya! 3. Apa yang menurutmu membuat cerita 'Stiker Lala' menjadi lebih hidup dan menarik — dan apa hubungannya dengan kata-kata konotasi yang digunakan penulis? |
Lihat & unduh lengkap
Masuk pakai Google untuk membuka lkpd pertemuan ini secara penuh.
Apa isi pertemuan ini?
Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.
Cara pakai pertemuan ini
Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.