LKPDPertemuan 5Bab 4Fase FSemester 2

LKPD Antropologi Kelas 11: Menganalisis Fenomena Variasi Dialek Bahasa Daerah dengan Pendekatan Relativisme Budaya

LKPD ini disusun untuk satu pertemuan Antropologi kelas 11 dengan topik "Menganalisis Fenomena Variasi Dialek Bahasa Daerah dengan Pendekatan Relativisme Budaya".

MEJAGURU.ID - DOKUMEN LKPD

LKPD Antropologi Kelas 11: Menganalisis Fenomena Variasi Dialek Bahasa Daerah dengan Pendekatan Relativisme Budaya

Antropologi - Kelas 11

Bab 4 Pertemuan 5

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Antropologi — Kelas 11 (Fase F)

Topik: Menganalisis Fenomena Variasi Dialek Bahasa Daerah dengan Pendekatan Relativisme Budaya

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranAntropologi
Fase / KelasFase F / Kelas 11
TopikMenganalisis Fenomena Variasi Dialek Bahasa Daerah dengan Pendekatan Relativisme Budaya
Alokasi Waktu3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)
Tipe Aktivitascampuran
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2
Nama Murid.................................
Kelas.................................

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Menganalisis fenomena keanekaragaman bahasa dengan mengintegrasikan prinsip relativisme budaya secara kontekstual

PETUNJUK UMUM

  • Bacalah setiap pengantar kasus variasi dialek kebahasaan dengan cermat dan seksama.
  • Gunakan kacamata relativisme budaya dalam membedah fenomena kebahasaan: tidak ada dialek yang lebih unggul, lebih murni, atau lebih rendah dibanding dialek lainnya; setiap variasi bahasa memiliki logika kultural, sistem, dan fungsinya masing-masing dalam konteks komunitas penuturnya.
  • Diskusikan pertanyaan analisis bersama rekan kelompok secara kritis dan tuliskan hasil analisis pada format yang disediakan.

KEGIATAN

Kegiatan 1: Dekomposisi Fenomena Variasi Dialek Bahasa Daerah

Estimasi: 35 menit

Alat & Bahan:

  • Teks studi kasus variasi dialek
  • Alat tulis / kertas kerja

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Cermati teks studi kasus perbandingan variasi dialek bahasa Jawa berikut: 'Masyarakat penutur bahasa Jawa dialek Banyumasan (Banyumas, Cilacap, Purwokerto) menggunakan vokal akhir /a/ yang diucapkan tegas (fonem glotal/ngapak, misal "bocah", "sega"), serta kosakata khas seperti "inye" (saya) dan "rika" (kamu). Di sisi lain, dialek Jawa Standar/Surakarta-Yogyakarta melafalkan vokal /a/ terbuka sebagai /ɔ/ (misal "sego"). Sebagian masyarakat di luar Banyumasan terkadang secara stereotipikal melabeli dialek Banyumasan sebagai dialek yang kasar, medok, atau lucu.'
  2. Lakukan dekomposisi data kebahasaan tersebut ke dalam tabel perbandingan unsur variasi dan pandangan penilaian masyarakat terhadap dialek tersebut.

Pertanyaan:

1. Berdasarkan studi kasus di atas, uraikan perbedaan unsur kebahasaan (fonologi dan kosakata) antara dialek Banyumasan dan dialek Solo-Yogya ke dalam tabel pemetaan, serta identifikasi prasangka/penilaian nilai (value judgment) yang muncul terhadap salah satu dialek tersebut!

Ruang tabel jawaban

Format tabel 3 kolom: Kolom 1 (Unsur Kebahasaan: Fonologi & Kosakata), Kolom 2 (Karakteristik Dialek Banyumasan vs Dialek Solo-Yogya), Kolom 3 (Bentuk Pelabelan/Penilaian Sosial yang Muncul).

Kegiatan 2: Analisis Kritis Fenomena Etnosentrisme Bahasa Berbasis Relativisme Budaya

Estimasi: 50 menit

Alat & Bahan:

  • Lembar kerja analisis antropologi

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Pelajari kembali prinsip relativisme budaya dalam antropologi, yaitu cara pandang yang menilai kebudayaan atau praktik sosial (termasuk bahasa) berdasarkan konteks internal sistem nilai pemiliknya sendiri, bukan dihakimi memakai standar kebudayaan lain.
  2. Analisis kasus pelabelan hierarki dialek pada Kegiatan 1 secara mendalam dengan menjawab dua pertanyaan analitis.

Pertanyaan:

1. Mengapa anggapan bahwa dialek keraton/standar 'lebih halus dan beradab' sedangkan dialek pedalaman/pesisir 'lebih kasar dan tertinggal' tergolong sebagai bentuk etnosentrisme kebahasaan? Analisis akar terjadinya bias tersebut!

2. Bagaimanakah fenomena dialek Banyumasan dijelaskan bila dianalisis menggunakan prinsip relativisme budaya? Analisis bagaimana fungsi sosial dan keabsahan dialek tersebut dalam kehidupan masyarakat penuturnya!

Tuliskan uraian analisis pada bidang teks bergaris (masing-masing 1-2 paragraf berargumen logis berbasis data kultural).

Kegiatan 3: Analisis Perbandingan Kontekstual Variasi Bahasa di Lingkungan Sekitar

Estimasi: 50 menit

Alat & Bahan:

  • Lembar diskusi / infografis mini
  • Buku referensi Antropologi Kelas 11

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Identifikasi satu fenomena variasi bahasa atau dialek lain yang ada di Indonesia (misalnya: variasi dialek bahasa Melayu [dialek Jakarta/Betawi, dialek Medan, dialek Ambon], atau dialek bahasa Sunda [dialek Priangan vs dialek Banten/Krawang], atau dialek bahasa daerah setempat murid).
  2. Lakukan analisis kritis mengenai variasi tersebut dengan mengintegrasikan prinsip relativisme budaya: tunjukkan perbedaan konteks geografis/sosial, hindari hierarki superioritas dialek, serta simpulkan nilai kesetaraannya.

Pertanyaan:

1. Sajikan analisis kontekstual atas variasi dialek yang Anda pilih: jelaskan konteks sosial/ekologis kemunculannya, serta buktikan bahwa tidak adanya hierarki 'superior-inferior' di antara variasi tersebut sejalan dengan prinsip relativisme budaya!

Tuliskan laporan analisis singkat kelompok berstruktur 3 bagian: (1) Fenomena Variasi Dialek yang Dipilih, (2) Konteks Sosio-Kultural Pemunculan Variasi, (3) Analisis Kesetaraan Berbasis Relativisme Budaya.

REFLEKSI

1. Setelah menganalisis fenomena variasi dialek dengan prinsip relativisme budaya, asumsi atau prasangka pribadi apa yang selama ini Anda miliki tentang dialek tertentu yang kini berhasil Anda koreksi?

2. Bagaimana penerapan sudut pandang relativisme budaya dalam melihat perbedaan dialek membantu Anda bersikap adil dan menghargai keragaman teman-teman di sekolah yang berasal dari latar bahasa berbeda?

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka lkpd pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.